LOVE MY DEVIL SIDE
Cast: Sehun, Luhan, Baekhyun, Chanyeol, Kai, Kyungsoo and other cast
Genre: Boys Love, Mystery, Supranatural, Romance, Hurt-Confort
Rate: T – M
Note: Alur berantakan, typos bertebaran.
Don't Like Don't Read!
Enjoy^^
-Jangan menyuruhku menjauh, karena aku hanya akan semakin mendekatimu-
Chapter 5
Leave you
"Sshh.. Ahh.."
Luhan sudah mencapai klimaksnya berkali-kali namun nampaknya namja tampan diatasnya masih semangat menggenjot lubangnya tanpa ampun.
"Sebuthkannhh namakuhh" Namja itu terus melakukan kegiatan meng-in dan out-kan penis besarnya pada lubang ketat Luhan.
"Sehunhh ahh Sehunnhh"
Sehun semakin menggila. Ia menambah kecepatan menusuk hotspot milik Luhan yang membuat Luhan terus mendesah. Ia sudah akan mengalami klimaks saat Sehun menutup penis mungilnya dengan jari.
"Lepasshh ahh aku tidak tahannn"
"Bersama Luhannn ahh"
Luhan merasa benda panjang itu membesar dilubangnya dan iapun ikut mengetatkan lubangnya membuat Sehun menjadi lebih cepat menggenjot untuk menjemput klimaksnya.
"Ahhh Luhannhh"
"Ahh Sehunnhh"
Kemudian semua menggelap.
Luhan mencoba membuka matanya perlahan. Berusaha menetralkan detak jantung tak beraturan yang tiba-tiba menderanya. Ia duduk bersandar pada headbed dan mengingat mimpinya. Mimpi yang hampir selama sebulan ini menghantuinya.
Mimpi itu lagi. Aku bermimpi bercinta dengannya lagi. SEHUN? Siapa dia sebenarnya.
.
.
Anak kecil itu bersenandung merdu saat tengah berjalan ke arah kelasnya, melafalkan lagu favoritnya yang berjudul tender Love. Dia melihat sekelilingnya kemudian tersenyum riang. Baginya saat-saat sekolah adalah saat yang begitu menggembirakan, dimana ia bisa bertemu dengan teman-teman yang menyayanginya, berjumpa dengan guru kesayangannya dan yang paling penting adalah ia bisa menikmati waktu paginya bersama kakaknya, Luhan hyung.
Seperti tadi pagi, Saat Luhan hyung mengantarnya ke sekolah. Ia merasa sangat senang karena hyungnya menjadi lebih peduli dan penuh kasih sayang kepadanya.
Flashback ON
"Hyung, kenapa leher hyung bilu cepelti ini?" Baekhyun bertanya dengan polos dalam gendongan sang kakak. Luhan tengah berada dalam perjalanan mengantar Baekhyun kesekolah dan menolak tawaran Yizing untuk menebeng supir yang mengantar Chanyeol dengan alasan ingin banyak bercerita dengan Baekhyun.
Luhan menghela nafas. Ia bahkan tidak tahu bagaimana leher dan dadanya bisa penuh dengan bercak biru.
"Itu.. Mungkin digigit nyamuk tadi malam Baekhyunii" Jawab Luhan asal.
"Kenapa Baekhyunii cidak digigit hyung?"
"Karena hyung melindungi Baekhyunii agar tidak digigit oleh nyamuk-nyamuk nakal itu Sayang. Memangnya Baekhyunii mau digigit hmm?" tanya Luhan pada si bungsu dan Baekhyun refleks membulatkan matanya kaget lalu menggelengkan kepalanya cepat sehingga terlihat sangat menggemaskan bagi Luhan. Luhan terkikik melihat reaksi Baekhyun.
"Hyung,.."
"Ada apa sayang?" Luhan mengusap lembut kepala Baekhyun.
Entah apa yang ingin anak kecil itu sampaikan, namun yang Baekhyun lakukan hanyalah memeluk Luhan dengan erat. Ia terus memeluk Luhan dan membenamkan wajahnya pada perpotongan leher sang kakak.
Luhan mengerti. Walaupun Baekhyun anak yang ceria namun tetap ia tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya dihadapan Luhan. Baekhyun mengalami masa kecil yang benar-benar buruk. Diusianya yang masih sangat kecil ini ia harus kehilangan kedua orangtuanya dan parahnya Luhan sempat ingin bunuh diri meninggalkan Baekhyun sendirian didunia ini. Saat itu Baekhyun bahkan tidak menangis, ia hanya menatap sendu kearah Luhan yang berusaha menyayat pergelangan tangannya sendiri. Beruntung seorang sahabat kakaknya -Laogao langsung menghentikan Luhan. Jika saat itu Luhan meninggal ia akan hidup sebatang kara didunia yang baru sebentar ia huni.
Sebab itulah Baekhyun jadi memendam banyak hal. Sejak saat itu Ia berubah menjadi lebih diam dan pemurung. Kondisi Luhan pun tak kalah menyedihkan, ia tidak memiliki semangat hidup dan terus saja memikirkan bagaimana caranya untuk mati. Ia seperti hidup dengan kerangkanya sendiri yang hidup menyertainya.
"Maafkan hyung Baekhyunii" ucap Luhan lirih.
Baekhyun mendongak menatap hyungnya dengan heran. "Kenapa hyung meminta maaf?"
"Karena hyung bersalah padamu. Tidak seharusnya hyung menelantarkanmu dulu. Hyung hanya sangat takut.. Hyung takut menjalani kehidupan tanpa mama dan baba.. Hikss.. Hyung tidak sanggup hikss"
Baekhyun mendaratkan kecupan kecil di wajah Luhan. Membuat Luhan merasa tenang seketika. Tangan mungilnya itu kemudian mengusap airmata Luhan.
"Baekhyunii cayang Luhan hyung. Cidak apa-apa kalau mama dan baba meninggalkan Baekhyunii, kalena Baekhyunii masih punya Luhan hyung yang akan celalu menjaga dan melindungi Baekhyunii. Luhan hyung cidak akan meninggalkan Baekhyunii. Benalkan hyung?"
Ucapan sikecil begitu menyentuh sanubari Luhan. Disaat Luhan begitu kejam ingin meninggalkannya, Baekhyun masih saja menguatkannya, memaafkannya, ia masih memberikan ruang bagi Luhan untuk kembali.
Luhan mengangguk yakin "Tentu sayang, hyung tidak akan pernah meninggalkanmu. Hyung berjanji akan menjaga dan melindungi Baekhyunii.. Karena hyung juga sayang Baekhyunii.." kemudian Luhan menggelitik perut si kecil dan memeluk erat Baekhyun.
"Ahahahaa.. Hyung belhenti.. Geli cekali hyung..hahaha"
Tawa riang Baekhyun mememasuki indra pendengarannya membuat Luhan berjanji pada dirinya sendiri bahwa Baekhyun adalah satu-satunya harta yang akan ia jaga selamanya.
Flashback OFF
.
.
"Celamat pagiii Chen-ahhhh! Apa yang cedang Chen lakukan didepan pintu cepelti ini? Dan mengapa Chen memandang ke alah Xiumin?"
Sapa bocah pendek itu dengan suara yang menggelegar. Membuat si pendengar-Chen-yang kepergok sedang mengintip bocah lain yang ditaksirnya menjadi menunduk malu.
"A-aku cidak lakukan a-apun kog..Baekhyunii balu datang?" tanya Chen yang gugup mengalihkan pembicaraan.
"Eum.. Ayo macuk kelath" Bocah pendek itu mengangguk lucu kemudian menarik tangan Chen memasuki kelas kecil mereka.
Namun nampaknya genggaman erat Baehyun pada tangan mungil Chen menarik perhatian bocah lain. Bocah itu memandang tidak suka kearah keduanya yang tengah berjalan melewati mejanya. Bocah yang seumuran dengan Baekhyun itu langsung mengerucutkan bibirnya lucu. Dengan pipi bakpao gendut seperti itu, siapa yang tidak akan menyukainya.
"Celamat pagi Xiu-xiu" Sapa Baekhyun riang sambil melambai kearah Xiumin.
"Celamat pagi" jawab Xiumin masih dengan cemberut mode onnya sedang menatap intens genggaman Baekhyun pada jemari Chen.
Kemudian seorang bocah tinggi datang memasuki kelas. Dan langsung berteriak heboh saat melihat Baekhyun.
"Baekhyuniiiii.."
Ia menerjang dan langsung menghamburkan pelukannya pada Baekhyun. Baekhyun hanya pasrah menerima pelukan erat nan mematikan dari bocah tinggi itu.
"Chan..nyeolii.. Cecaak"
Sadar bahwa Baekhyun merasa sesak, Chanyeol pun melepaskan pelukannya.
"Ahhaha mianhae Baekhyunii, Chanyeoli lindu cekali pada Baekhyuni"
Namun senyuman Chanyeol hanya berlangsung beberapa menit seketika berubah menjadi heran saat melihat jari-jari Baekhyun menggenggam tangan Chen.
"Kenapa Baekhyunii genggam tangan Chen?"
"Ahh itu.. Kalena hali ini Baekhyuni cangaaaaat cenang.. Baekhyuni jadi ingin telus telusan menggenggam tangan ceceolang" Ucap Baekhyun dengan polos yang membuat Chanyeol dan bocah bakpao sweetdrop.
Bagi keduanya tidak apa-apa sih kalau Baekhyun senang dan ingin menggenggam tangan seseorang, tapi kalau itu tangan Chen? Ada sedikit rasa tidak suka mendengarnya.
"Baekhyuni bica genggam tangan Chanyeoli kalau mau" usul Chanyeol menyodorkan tangannya sekalian menjauhkan tangan Chen.
Baekhyun menggeleng. "Tapi tangan Chen lebih telaca enak digenggam"
"Baekhyunii genggam tangan Chanyeolii caja, bukankah cama becal" Xiumin ikut menawarkan.
"Cidak mau.. Cidak mau.. Pokoknya Baekhyunii Cuma mau pegang tangan Chen!" Baekhyun terus memegang tangan Chen sambil melompat-lompat kesal.
"Lepackan tangan Chen Baekhyunii!" Xiumin langsung menarik kasar Chen hingga genggaman mungil Baekhyun terputus kemudian membawa Chen ke meja mereka.
Baekhyun yang terkejut dengan perlakuan tiba-tiba dari Xiumin tak kuasa menahan airmatanya. Ia pun menangis sedih.
"hiks hiks.. Chanyeolii.. " adunya pada Chanyeol.
"Baekhyunii cudahlah, ayo kita duduk caja.. Bu gulu cudah datang"
Baekhyun mengangguk menuruti Chanyeol dan duduk dalam diam di kursi mereka. Tapi keterdiaman Baekhyun itu membuat Chanyeol tidak nyaman. Ia mengajak Baekhyun bicara tapi hanya dibalas anggukan kecil dari Baekhyun.
Chanyeol perlahan menggapai jemari mungil Baekhyun dan menggenggamnya erat membuat Baekhyun jelas bereaksi karenanya.
"Jangan cedih Baekhyunii, Chanyeolii akan celalu melindungimu. Baekhyunii boleh kog pegang tangan Chanyeolii cehalian ini" kata Chanyeol sangat lembut.
Baekhyun seolah membisu, ia terdiam sekaligus terharu mendengar penuturan tulus Chanyeol padanya. Mata polosnya berkaca-kaca dan air matanya sudah siap akan keluar.
"Huaaaa Chanyeolii" Kemudian ia menghamburkan dirinya pada Chanyeol dan memeluk erat bocah yang jauh lebih tinggi darinya itu. Ia bahkan tidak peduli jika saat ini bu guru dan seisi kelas sedang menatapnya heran. Ia begitu menyanyangi Chanyeol, yang terus saja menjaga dan melindunginya, Seperti Luhan hyung.
.
.
Luhan tengah berkonsentrasi membuat ukiran cream putih diatas cappucino panas saat dirasanya ada yang tengah mengawasi setiap pergerakannya. Membuat konsentrasinya harus berkali-kali terganggu namun ia tetap berusaha melanjutkan pekerjaannya.
Sudah hampir sebulan terakhir ini ia menumpang tinggal dirumah Kyungsoo. Dan selama sebulan pulalah ia di gandrungi oleh mimpi-mimpi aneh tentang bercinta dengan seseorang yang ia ingat dengan nama Sehun. Hingga di setiap pagi ia menemukan banyak bercak di dada dan merasakan ngilu pada bagian belakangnya membuatnya terus kelelahan saat bangun tidur yang malah menimbulkan kantong mata yang menebal.
"Lu.." Luhan terhenyak dari lamunannya.
"Ya Kyungsoo?" Ia memandang wajah khawatir sahabatnya.
"Apa yang mengganggumu? Aku lihat kau terus saja melirik kesana kemari. Ada seseorang yang kau cari?" tanya Kyungsoo penasaran.
"Entahlah Kyung, aku merasa ada mengawasiku. Seperti ada sepasang mata yang selalu menatap kearahku. Hal itu sangat mengangguku" Luhan ingin sekali mengatakan semuanya pada Kyungsoo tapi lagi-lagi ia mengurungkan niatnya.
Kyungsoo mengedarkan pandangan mata bulatnya pada pengunjung café, tapi ia tidak bisa menemukan seseorang seperti yang Luhan maksud sedang menatap kearahnya.
"Aku tidak melihat apapun Lu. Istirahatlah, mungkin kau lelah. Kau sepertinya kurang tidur" Kyungsoo menaruhkan telapak tangannya pada dahi Luhan.
Ya, mungkin juga ia lelah. Badannya terasa remuk saat bangun tadi pagi dan secara ajaib memiliki banyak tanda keunguan di beberapa titik.
"Baiklah aku akan istirahat sebentar Kyung"
"Eum pergilah, aku akan menggantikanmu. Sana sanaa"
Luhan berjalan gontai kearah belakang counter tepatnya menuju ruang ganti dan istirahat. Ia duduk sambil memijat pelan dahinya. Ia mencoba mengingat mimpi anehnya tadi malam yang berujung dengan kondisi nyatanya saat ini.
Tanpa Luhan sadari entah mengapa matanya tiba-tiba memberat dan tubuhnya melemas. Luhan memaksa berdiri namun kakinya tak mampu menahan berat tubuhnya, membuatnya jatuh terduduk dilantai. Samar samar ia melihat seseorang berjalan kearahnya. Orang itu terlihat sama dengan yang selama ini ia ingat. Wajah datar dan senyum menakutkan namun kali ini sebuah sayap hitam keemasan bertengger di punggung orang itu, membuat Luhan takut dan sedikit beringsut walau pergerakannya tak berarti. Luhan membisikkan sebuah nama yang terlintas begitu saja di benakknya.
"Sehun"
.
Senyuman hangat tak pernah lepas dari wajahnya saat ia tengah melakukan pekerjaannnya. Dijam-jam seperti inilah biasanya suasana café terasa lebih lenggang, membuat ia bisa beristirahat. Ia memperhatikan seluruh ruangan namun tetap tidak ada tanda-tanda orang yang mencurigakan menatap kearahnya ataupun sekelilingnya, seperti yang Luhan katakan.
Namun mata bulat besarnya langsung dapat menangkap jelas sosok tampan yang tengah berjalan kearah counter coffeenya.
"Satu Americano tidak perlu pakai cream" Pesan namja tampan itu tanpa basa basi. Kyungsoo diam tak bergerak dengan mata yang tetap terpaku menikmati wajah mempesona di hadapannya.
"Apa kau mendengarku?" Namja itu bertanya setengah kesal.
"Ahh.. Baik.. Tunggu sebentar"
Tampan. Tampan sekali. Yaampun aku pasti bermimpi melihat namja setampan dia.
Sehun yang mendengar suara hati Kyungsoo hanya tersenyum mencibir. Sudah sangat biasa baginya jika setiap manusia mengelu-elukan ketampanannya. Semua manusia sama saja, selalu bisa dia perdaya dengan mudah. Ia bahkan bisa meminta apapun hanya dengan mengandalkan wajah tampannya itu. Cih.. Dasar manusia-manusia rendahan.
"Pangeran, kau disini?"
Pertanyaan itu sontak membuat Sehun berbalik dan menatap tajam pada sang penanya yaitu pengawal pribadinya – Kai.
Sadar dirinya melakukan kesalahan, namja berkulit tidak putih itu cepat-cepat mengalihkan pembicaraan sebelum sang pangeran kegelapan mengamuk ditempat.
"Kau memesan coffee kesukaanku? Wah kau baik sekali kawan" Kai langsung merangkul bahu Sehun mencoba berakting selayaknya seorang sahabat. Bukan pengawal pribadi namja albino itu.
"Pangeran?" Tanya Kyungsoo sedikit geli mendengar namja berkulit tan itu memanggilnya dengan sebutan pangeran.
"Tentu saja. Aku memang seorang pangeran. Kau tidak percaya? Hah?" Sahut Sehun angkuh.
"Dia sangat tampan jadi banyak wanita yang memanggilnya pangeran. Dan entah kapan menjadi kebiasaanku juga memanggilnya pangeran" Bantah Kai sebelum sang pangeran yang sombong ini membeberkan dengan bodoh siapa dirinya.
Ya walaupun umurnya baru seratus tahun tapi tetap saja bagi bangsa iblis Sehun masih sangat kecil dengan emosi labil dan tingkat kesombongan yang super tinggi membuatnya tidak ingin dihina ataupun direndahkan oleh siapapun.
"Begitu ya, tentu saja kalian berdua seperti pangeran. Sangat tampan" Kyungsoo langsung menyodorkan pesanan Sehun dan pergi kebelakang sambil menunduk malu.
"Dia lucu sekali" Kai bergumam pelan.
"Apa kau bilang?" Tanya Sehun sinis.
"Tidak.. Tidak ada. Kau ingin bertemu Luhan? Dia ada dibelakang"
"Ya aku sudah menemuinya. Dia kelihatan lelah, jadi aku membuatnya tidur lebih Lama. Dan lain kali perhatikan ucapanmu bodoh. Kau menyebutku pangeran didepan namja burung hantu itu"
"Aku tidak sengaja pangeran. Ahh..maksudku Se.. Sehun"
"Ya saat dibumi kau tidak perlu memanggilku pangeran. Panggil aku Sehun saja"
"Baiklah Sehun. Aku ingin menyampaikan sesuatu, raja Kris memanggilmu pulang keistana"
"Bilang padanya aku tidak mau"
Kemudian Sehun pergi meninggalkan Kai yang masih terdiam menatap kepergian sang pangeran.
"Dasar dia itu, selalu saja sesukanya. Merepotkan sekali" keluh Kai sambil memijat pelan pelipisnya dan tetap mengikuti Sehun keluar café.
Bagaimana tidak lelah jika ia harus menghadapi dua orang egois dan keras kepala sekaligus. Raja dan pangeran sama-sama tidak mau mengalah. Keduanya hanya bersikeras dengan keinginannya sendiri. Jika sang raja menginginkan pendidikan kejahatan yang terbaik bagi Sehun, lain lagi Sehun. Ia lebih menginginkan kebebasan tanpa adanya larangan dari siapapun tak terkecuali ayah dan ibunya. Membuatnya memberontak setiap aturan kejahatan yang telah di tetapkan sang raja.
.
Samar-samar Luhan mendengar rintihan seseorang memanggil namanya.
"Lu.."
"Luhan"
"Astaga Luhan, bangunlah aku mohon"
Luhan pun perlahan membuka matanya. Ia melihat wajah panik Kyungsoo dihadapannya. Luhan yakin Kyungsoolah yang memanggilnya sedari tadi.
"Yaampun Luhan syukurlah. Aku tidak tahu harus apa jika kau tidak bangun" Kyungsoo langsung memeluk Luhan yang masih setengah sadar.
"Ahh.. Berapa lama aku tidur Kyung? Aku harus menjemput Baekhyun"
"Baekhyun sudah pulang dari tadi Lu. Ini bahkan sudah jam 9 malam"
"Mwo? Jam 9? Mengapa aku bisa tidur selama itu?"
"Mana aku tau Luhan. Disaat aku datang kau malah tertidur dilantai seperti orang mati dan sekuat tenaga aku mengangkatmu naik keranjang ini dan kau tetap tidak bangun. Aku sangat panik kau tahu" Kesal Kyungsoo pada Luhan dan memeluk erat Luhan.
"Terimakasih Kyungi dan aku minta maaf membuatmu khawatir" Luhan balas memeluk Kyungsoo dan mengusap pelan punggung sahabatnya itu.
"Baiklah. Aku ingin pulang sekarang" Rengek Kyungsoo
"Ya ayoo"
.
Malam adalah saat yang paling dinantikan keluarga kecil Yixing. Selain dapat berkumpul dengan seluruh anggota keluarga, mereka juga selalu berbagi cerita tentang kegiatan mereka seharian. Seperti malam ini rumah Xiying sangat ramai dengan hadirnya Baekhyun dan Chanyeol yang terus bertengkar tanpa ada yang mau mengalah. Menyebabkan ketiga orang dewasa yang melihatnya terkekeh. Pasalnya Chanyeollah yang menjadi pemenang di setiap permainan yang dimainkan keduanya, lalu berakhir dengan Baekhyun yang menangis kencang karena merasa iri. Luhan dengan sabar mengelus punggung si kecil dan menenangkannya. Kemudian Chanyeol akan datang dan memberikan satu buah stawberry segar untuk Baekhyun. Selanjutnya kedua bocah itu akan bermain bersama lagi.
Luhan sangat mengenal adiknya. Baekhyun menangis hanya untuk mendapatkan perhatian Chanyeol. Karena Chanyeol adalah malaikat pelindung bagi Baekhyun. Hanya Chanyeol yang mampu mengembalikan setiap senyum pada wajah Baekhyun. Chanyeol akan mampu memberikan warna bagi hari hari Baekhyun.
Sebulan tinggal dirumah ini cukup membuat Luhan semakin mengingat semua kenangan bersama orang tuanya dulu saat saat mereka masih bersama, Kedua orang tuanya akan menghabiskan setiap malam bersamanya dan Baekhyun yang saat itu masih sangat kecil. Mamanya akan menyuapi si kecil yang penuh dengan bekas noda makanan dibaju dan hampir diseluruh wajahnya. lalu Luhan akan duduk dipangkuan babanya, menertawakan Baekhyun dan menonton acara tv favoritnya bersama baba. Kenangan indah itulah yang tidak ingin Luhan ingat. Terlalu menyakitkan baginya.
"Luhan"
Sebuah suara mengagetkan Luhan yang terhanyut dengan pikirannya. Ia tengah berada di taman belakang rumah besar Yixing.
"Eommonim"
"Apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau belum tidur?" Yixing bertanya dengan Lembut.
"Aku belum mengantuk eommonim" Jawab Luhan.
"Apa yang sedang kau pikirkan? Ceritakanlah!"Tanya Yixing penuh kelembutan.
"Tidak.. Aku tidak memikirkan apa-apa eommonim. Aku baik-baik saja" Luhan tersenyum berusaha meyakinkan Yixing.
"Jangan berbohong padaku Luhan, apa yang menganggu pikiranmu? Kau sama seperti Kyungsoo, dia akan berdiam diri dikamarnya jika sedang memikirkan sesuatu." Yixing kembali bertanya dengan kelembutan yang tak lekang di nadanya.
"Aku.. Aku hanya merindukan orangtuaku eommonim. Aku sangat merindukan mereka.. Hikss.. Aku tidak sanggup jika menangis didepan Baekhyun. Ia akan bersedih karena aku.. Hikss hikss.."
Yixing langsung memeluk Luhan. Mendekap erat Luhan yang saat ini begitu rapuh karena merindukan orangtuanya. Yixing merasa pilu saat mendengar semua pengakuan Luhan saat namja mungil itu pertama kali datang kerumahnya. Tubuh kurus dan wajah lelah menanggung beban hidup yang harus ia penuhi demi kelangsungan hidupnya dan adik kecilnya.
"Ssstt Luhan, tenanglah sayang. Orang tuamu akan ikut bersedih jika kau menangis seperti ini. Mereka sudah tenang disana. Aku dengan senang hati menerimamu dan Baekhyun, kalian sudah aku anggap sebagai anakku sendiri. Karena itulah Luhan, kau harus tetap tegar menghadapi segala cobaan dan membuat orangtuamu bangga. Kau mengerti?" Penuturan lembut Yixing tentu membangkitkan semangat Luhan.
"Tentu eomma. Aku akan membuat orangtuaku dan kau bangga.. " Kemudian keduanya tertawa bersama.
"Begitu, mulai sekarang panggil saja aku eomma" Luhan mengangguk. Yixing kembali memeluk Luhan dengan sayang. Luhan mengingatkannya pada sesuatu tapi bahkan sampai saat ini ia tidak tahu ingatan apa itu. Tiap kali pandangannya bertemu dengan manik coklat Luhan, ia seolah kembali pada ingatan dimana ia pernah memandang seseorang dengan manik mata yang sama. Tapi entah kapan atau dimana ingatan itu berlangsung ia sama sekali tidak dapat mengingatnya.
Ia tengah menelusuri wajah Luhan mencoba menggali ingatannya tentang sesuatu itu, namun matanya terhenti saat melihat sebuah bercak keunguan di leher putih Luhan. Ia tahu bekas apa itu, persis seperti sebuah tanda cinta.
"Luhan, apa ini? Apa kau mempunyai kekasih?" Tanya Yixing penasaran sambil membuka kerah baju Luhan.
"Ahh ini.. Tiba-tiba saja bekas ini timbul saat aku bangun tidur eomma. Aku bermimpi buruk setiap malam dan keesokan paginya badanku terasa sangat pegal lalu bercak ini ada di leher juga dadaku" Adu Luhan pada ibu angkatnya ini.
"Apa yang kau mimpikan?" Yixing semakin dibuat penasaran. Pasalnya bercak ini takkan muncul selain jika kau bercinta dengan seseorang.
"Aku… " Luhan terdiam sejenak, memikirkan kata-kata yang tepat untuk mengutarakan mimpi buruknya.
"Apa kau mimpi… eumm.. bercinta dengan seseorang?" Tanya Yixing yang berada dalam klimaks penasarannya.
"Ne eomma.. Aku tidak tahu mengapa tapi hampir setiap malam aku selalu memimpikannya dan memiliki bekas ini besok paginya. Hal ini membuatku sangat lelah eomma.. Aku ingin sekali mimpi buruk ini hilang" Luhan mengacak rambutnya yang tidak berantakan.
"Itu alasanmu selalu tidur larut malam? Agar kau tidak bermimpi buruk lagi?"
"Ne eomma"
"Kau mengurangi jam tidurmu hanya untuk menghindari mimpi itu. Tapi dampaknya kau menjadi kelelahan. Seperti hari ini, kau jatuh pingsan di café"
"Ne eomma aku sangat lelah karena mimpi itu" Yixing dapat melihat lipatan tebal dibawah mata Luhan yang disebabkan oleh kurang tidur.
"Baiklah tenangkan dirimu Luhan. Cobalah tidur malam ini dan katakan padaku apa yang kau mimpikan besok. Arraseo?" Yixing menuntun Luhan memasuki rumah mereka.
"Ne eomma"
.
.
"AKU MEMERINTAHKAN KAU PULANG SEKARANG JUGA SEHUN!"
Sudah beberapa kali ia mendengar teriakan menggemparkan milik sang ayah. Namun tidak ada satu makianpun yang ia gubris. Pangeran itu hanya duduk dengan tenang memandang kearah jendela luar yang menampilkan kerlap kerlip lampu khas pemandangan kota disaat malam. Mengabaikan setiap kata yang ayahnya katakan.
"SEHUN APA KAU MENDENGARKU? ASTAGA AKU BISA MATI LEBIH CEPAT GARA-GARA KELAKUANMU!"
Sehun hanya memutar matanya malas. Karena para iblis berkomunikasi dengan pikiran, sudah pasti ia mendengar secara jelas apa yang ayahnya ucapkan. Namun ia hanya terlalu malas menanggapi perkataan ayahnya yang menurutnya hanya berisi tentang peraturan dan peraturan. Ia benar-benar benci diatur.
"Ayah, bangsa iblis hidup selamanya. Kita tidak akan mati sampai kapanpun" Kata Sehun akhirnya buka suara.
"Baguslah kalau kau mendengarkan. Sehun jadilah anakku yang patuh dan penurut. Aku sudah tua dan aku menginginkan penerus untuk kerajaanku" Kris mencoba mengatur ketinggian nada bicaranya. Ia menghela nafas sejenak.
"JADI KEMBALILAH DAN BERHENTI BERMAIN-MAIN ANAK KURANG AJAR!"
"Aku tidak main-main ayah. Aku hanya mencoba menjalankan perintahmu. Dulu kau menyuruhku kebumi untuk belajar menghancurkan umat manusia lalu sekarang kau menginginkan aku pulang untuk memimpin kerajaan. Aku muak mengikuti peraturanmu. Aku ingin hidup bebas tanpa aturan. Seperti itu bukan bangsa kita? Kemudian ia memutuskan kontak dengan ayahnya.
"Aku benci padanya. Aku benar-benar muak diperlakukan seperti ini" Sehun menggerutu setelah berbicara dengan ayahnya tadi. Sementara Kai yang merupakan pengawalnya hanya bisa menghela nafas berat menanggapi sang pangeran.
"Apa yang kau pikirkan Kai? Kenapa kau menghela nafas seperti itu?" Tanya Sehun pada Kai yang berdiri sambil ikut memandang kearah luar jendela.
"Tidak ada pangeran" Jawab Kai singkat.
Setelah itu hening.
Keduanya sama-sama tidak berbicara beberapa menit hingga Sehun kembali berucap pelan.
"Kai.."
"Aku tidak ingin pulang ke neraka" tutur Sehun.
"Apa?" Penuturan Sehun sontak menarik perhatian Kai.
"Aku bilang aku tidak ingin kembali kerumah. Aku muak dengan peraturan ayah. Aku ingin berada disini lebih lama lagi" Sehun memejamkan matanya. Ia ingin sekali menikmati kehidupan mudanya tanpa peraturan yang mengekangnya.
"Aku tidak tahu kau tertarik dengan bumi pangeran?" Sindir Kai.
"Aku tidak bilang aku tertarik, aku hanya ingin tinggal lebih lama" Sehun tetap tidak mau mengaku.
"Sudah sepantasnya seorang pangeran berada di kerajaannya bukan?" Tanya Kai balik pada Sehun. Membuatnya mendapatkan tatapan tajam dari Sehun.
"Tapi tidak masalah jika kau ingin mengunjungi bumi lebih lama. Aku akan membicarakannya lagi dengan raja Kris" Imbuh Kai setelahnya lalu beranjak pergi.
Tentu Sehun sangat senang mendengarnya sekalipun wajahnya tetap datar namun hatinya mengucapkan kata terimakasih pada Kai.
Kai adalah pengawal yang sangat setia padanya juga selalu berada di sisinya dan menemaninya. Wajar jika Kai sudah sangat hafal keinginan Sehun bahkan tanpa ia mengucapkannya. Karena bagi Sehun Kai adalah seorang kakak yang selalu menjaganya.
.
.
Disinilah dia sekarang. Di kediaman Yixing sedang menatap jendela kamar Luhan yang tertutup. Ia melayang diudara dan perlahan membuka jendela yang tidak pernah terkunci itu.
Namun malam ini sungguh berbeda. Ia menatap wajah damai Luhan yang tengah tertidur sambil menghadap kepada bocah mungil yang Sehun ketahui sebagai adiknya. Luhan nampak kelelahan, wajahnya jauh lebih pucat dari hari-hari sebelumnya saat mereka bercinta.
Sehun tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Awalnya ia hanya ingin menakuti Luhan dengan teror bercinta didalam mimpi sebagai pembalasan dendam karena Luhan pernah merendahkannya, tapi perlahan teror yang ingin dia ciptakan justru menjadi candu tersendiri baginya. Ia hampir menculik Luhan setiap malam hanya untuk merasakan tubuh namja mungil itu dibawahnya, mendengarkan bibir tipis itu mendesahkan namanya. Sehun sangat menikmati waktu malam saat saat mereka menyatu. Tapi malam ini berbeda. Sehun merasa tidak bergairah, ia mendatangi kamar namja mungil itu hanya untuk melihatnya. Melihat Luhan yang entah sejak kapan ia klaim adalah miliknya.
Ia menatap Luhan dengan seksama, memperhatikan tiap hembusan nafas yang namja itu keluarkan. Mendengar setiap detakan jantung yang berdenyut dalam nadinya. Menyentuh tiap inci kulit wajah Luhan yang lembut. Memilin tiap helai rambut coklat madu yang dimilikinya. Pergerakan kecilnya ternyata membuat Luhan sedikit terusik. Namja itu bergerak-gerak dalam tidurnya dan berbalik mengadap tepat didepan Sehun. Membuat Sehun akan langsung melenyapkan diri jika saja tiba-tiba Luhan membuka matanya.
Namun sepertinya perkiraan Sehun tidak tepat. Nyatanya Luhan masih terlalu lelap dalam tidurnya hingga tidak menyadari Sehun di sebelahnya. Sehun pun kembali melanjutkan aktivitasnya menelaah wajah cantik Luhan. Mata, hidung, bibir semua sempurna bagi Sehun.
Ia perlahan mendekatkan bibirnya pada Luhan.
CUP
Sehun mengecup bibir Luhan. Masih sama seperti kemarin, lembut. Sehun menginginkannya lagi.
Ia kembali mendekatkan bibirnya pada bibir Luhan sesaat sebelum Luhan menggumam pelan dalam tidurnya.
"Sehun"
Dia memimpikanku?
Sehun senang ia berada dalam mimpi Luhan tanpa perlu menculiknya. Tangannya mengelus wajah Luhan, berusaha menenangkan rusa kecil yang sedang terlelap itu.
"Sehun"
Sehun terdiam. Ia memandang wajah Luhan yang berubah menjadi sendu penuh ketakutan.
"Sehun"
..
"Sehun"
..
"Hentikan"
Sehun diam menatap namja mungil itu dihadapannya. Luhan memimpikannya dan memintanya untuk berhenti.
Apa yang harus aku hentikan Luhan?
.
.
.
TBC
Hufft apalah ini ceritanya -_-
Berhubung aku galau gegara tugas yang menggunung, Jadilah ff ini terabaikan #nangisdipojokan #abaikan
So, disini Sehun merasakan sedikit perasaan berbeda terhadap Luhan lohh.. Tapi Luhannya malah pengen Sehun berhenti dan pergi. Ditambah lagi Sehun harus matuhi semua perintah yg ayahnya suruh, ngebuat dia ngerasa sedih plus galau gitu..
Nah buat yang penasaran siapa yang mengingatkan Yixing sama Luhan ditunggu di chapter berikutnya..
Ceritanya gakan terlalu panjang kog cumannya updetan pasti lama berhubung aku lagi banyak tugas #soksibuk hehhehee
Mohon pengertiannya readernim )
Kritik dan saran sangat diterima .. wanna be close with me? Just chat ig & twitter augstn_ad
See you next chapter..
Salam rusa ^^
Thanks for review :
Arifahohse,BigSehun'sjunior, .taoris,BijinYJS,ElisYeHet,Xandeer,NoonaLu,Seravin509-,parkNada, Xiuxiumin,Meliarizky7,Yousee
Mind to review again?
