LOVE MY DEVIL SIDE

Cast: Sehun, Luhan, Baekhyun, Chanyeol, Kai, Kyungsoo and other cast

Genre: Boys Love, Mystery, Supranatural, Romance, Hurt-Confort

Rate: T – M

Length: Chaptered

Note: Alur berantakan, typos bertebaran.

Don't Like Don't Read!

Enjoy ^^


"Perang melawan malaikat takkan pernah sesingkat itu Sehun, dibutuhkan banyak pengorbanan dan ribuan dari jumlah bangsa kita akan lenyap"

Chapter 6

Who are you ?

"Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….."

Sebuah teriakan sontak membangunkan Yixing dari tidur lelapnya. Ia segera berlari keluar dan mencari sumber teriakan tersebut yang ternyata mengarah pada kamar tidur salah satu anak lelakinya, Chanyeol. Ia masuk dan perlahan mendekati ranjang Chanyeol , duduk tepat disamping anak itu lalu mulai mengelus pelan surai hitam keriting milik sang anak. Yixing cukup lega karena Chanyeol berteriak karena mengalami sebuah mimpi buruk bukan karena hal lain. Ia sangat panik saat mendengar suara teriakan –teriakan siapapun itu- Seolah teriakan itu akan menenggelamkannya, menghancurkannya dan membawanya pada kejadian yang betahun-tahun lalu yang ingin dia hapuskan. Masalalu menyedihkan yang tidak ingin dia ceritakan pada orang lain, bahkan anak-anaknya sekalipun.

"Huaaa…"

"Huaaa… Eommaa…"

"Eomma … hikss.. hikss"

Teriakan Chanyeol mengembalikan Yixing dari khayalan masa lalunya. Ia menatap Chanyeol, mengelus rambutnya, berusaha menenangkan si kecil.

"Chanyeolii, Eomma disini hmm .." Yixing terus mengelus rambut Chanyeol. "tidak apa-apa sayang, eomma disini" Yixing terus menggumamkan kata kata sayang yang akan menenangkan Chanyeol.

Perlahan manik kecil itu terbuka dan Chanyeol langsung memeluk eommanya. Yixing mengusap punggung Chanyeol dengan pelan . Menatap Chanyeol yang mengusap matanya lucu, menunggunya siap bercerita tentang mimpinya.

"eomma, tadi Chanyeolii belmimpi aneh cekali tapi juga celam cekali. Chanyeolli takut eomma hikss.. hikss " Chanyeol langsung mengadu. Menceritakan mimpi buruk yang ia alami, seorang pria tua berbadan tinggi dan besar datang menghampirinya. Pria tua itu berbaju seba putih, berkumis dan memiliki janggut panjang berwarna senada dengan bajunya, putih terang. Entah pria itu tersenyum atau menyeringai namun hal itu sangat menakutkan bagi Chanyeol hingga membuatnya ingin menangis. kemudian pria itu menyentuh kulit Chanyeol, sentuhan itu terasa seperti tersengat listrik dengan ribuan bahkan jutaan volt. Chanyeol pun menangis dan berteriak kesakitan karenanya. Chanyeol ingin melepaskan diri namun ia tidak dapat menggerakkan seujung jaripun lalu ia mendadak terbangun mendapati wajah teduh milik eommanya ada di hadapannya, ia mulai menangis dan memeluk Yixing.

"Aneh cekali kan eomma. Hikksss… Chanyeolli tidak pelnah beltemu olang itu cebelumnya. Chanyeolli takut cekali eomma.."

"Tidak apa apa sayang, itu hanya sebuah mimpi buruk. Kau dan Baekhyun habis menonton film horror ya?"

"Ne eomma, tapi kenapa tidak mimpi hantu caja? Kenapa halus mimpi kakek tua itu eomma. Menyelamkan"

Yixing hampir terkekeh mendengar pertanyaan Chanyeol. Chanyeol bahkan sudah sangat pintar walaupun masih kecil. "Tidak apa apa sayang. Lagipula itu hanya mimpi, jangan kau pikirkan nee. Kembalilah tidur Chanyeolli , eomma akan menemanimu otthe?"

Chanyeol justru berubah senang mendengar eomma akan menemaninya tidur. Tidak ada hal yang lebih baik ketika eomma tidur disebelahnya lalu menceritakan dongeng sebelum tidur dan menyanyikan lagu kesukaannya.

"Ne eomma" Ucap Chanyeol Riang.

Yixing memperhatikan wajah damai Chanyeol saat ia tidur. Mengelus rambut dan mengecup sayang pipi tembem milik Chanyeol berkali kali sebelum ia beranjak kembali ke kamarnya. Setengah jalan Ia berhenti, lebih tepatnya berfikir. Tidak ada yang aneh bagi sebagian orang jika kau bermimpi tentang seseorang dengan pakaian serba putih. Namun bagi Yixing ini justru sebuah pertanda seperti apa yang selalu ia yakini selama ini. Akan ada sesuatu yang akan terjadi, entah itu hal baik ataupun malah sebaliknya hal buruk.

Samar samar Yixing mendengar sebuah rintihan saat ia melewati kamar Luhan dan Baekhyun. Bimbang dengan segala pertimbangannya ia memutuskan masuk ke kamar itu. Yixing Membuka perlahan pintu kamar dan betapa terkejutnya ia melihat sesosok bayangan hitam tepat di depan wajah Luhan.

Sesosok bayangan itu dengan tenang menatapi wajah Luhan, membelai pipi putih Luhan dan menyusuri surai kecoklatan milik Luhan seolah menikmatinya. Yixing mencoba mendekat walaupun ia tau kehadirannya jelas dirasakan juga oleh makhluk dihadapannya ini. Yixing tidak takut, ia hanya khawatir apa yang akan dilakukan makhluk itu terhadap Luhan. Luhan begitu kecil dan terlihat sangat rapuh saat ini. Ia tidak ingin terjadi hal yang buruk pada namja itu. Luhan sudah banyak merasakan kehilangan. Perasaan Yixing begitu ingin menjaga dan melindungi kedua kakak beradik itu.

"Apa yang kau lakukan dirumahku?" Yixing berkata dengan suara tegas dan menantang.

"Seperti yang kau lihat, aku menemukan mainanku" jawab makhluk itu santai tanpa melirik Yixing dan masih melanjutkan sesi membelainya.

"Pergilah, jangan pernah kau menganggu keluargaku! Enyah kau dari sini ! Jangan pernah kau menyentuh anak-anakku dengan tangan kotormu itu!" Yixing dibuat geram oleh ketidaksopanan yang makhluk ini tunjukkan. Yixing mendekat hendak menjauhkannya dari Luhan.

Makhluk itu mendadak bangkit jelas dari ekspresinya terlihat kesal , Yixing tekesiap pula memperhatikannya. Perlahan makhluk itu berjalan menuju jendela yang terbuka, membentangkan sayap sehitam arang dan kilat terpantul cahaya bulan purnama lalu terbang melesat melewati malam.

Yixing menghampiri Luhan yang nampaknya masih terlelap dalam mimpi. Ia menyesalkan bagaimana mungkin Iblis itu bisa masuk kerumahnya dan ia tidak mengetahuinya, ia bahkan tidak mampu merasakannya. Apakah mimpi Chanyeol ada hubungannya dengan kedatangan makhuk itu ? jelas ia bukanlah iblis sembarangan pikir Yixing. Sosok itu pasti iblis keturunan ningrat Yixing dapat melihatnya dari keangkuhan serta bentuk sayapnya yang begitu kokoh nan megah.

.

.

BUGH

Kai hampir terlempar dari kursinya saat sebuah atau lebih tepatnya seseorang melemparkan dirinya ke tempat tidur di sebelah meja bacanya. Sehun mendarat dengan nyaman dikasur namun hampir menghempaskan semua benda dikamar akibat goncangan pendaratannya. Dari raut wajahnya Kai tau sang pangeran sedang dalam mood yang buruk, ia tidak ingin bertanya dan memilih melanjutkan membaca buku tentang "Tujuan manusia diciptakan di bumi".

Sehun sudah hendak mengamuk sesaat ia mendengar suara bergema di kepalanya.

"SEHUN ! APA YANG KAU LAKUKAN?" suara sang ayah terasa seperti halilintar dikepalanya, menggemparkan sekujur tubuhnya, menyentuh setiap kulit dalamnya dan mengalir melalui nadinya. Kali ini Sehun benar benar dibuat kaget olehnya.

"Ayah, berilah tanda jika kau ingin berteriak di kepalaku. Jangan seenaknya begini, kau ingin menghancurkan aku menjadi buih?" Sehun balas berteriak sambil mengusap telinganya. Ia melirik sang panglima yang nampaknya masih tetap tenang membaca buku yang tebalnya hampir seperti kitab di sebelahnya. Itu menandakan hanya Sehun sajalah yang ayahnya ajak bicara.

"Aku tanya sekali lagi padamu. Apa yang kau lakukan Sehun?" Sehun tau benar apa maksud ayahnya. Tapi masuk kerumah manusia harusnya tidak akan pernah menjadi masalah kan bagi Kris.

"Aku masuk kesana bukan untuk mencari masalah ayah, aku hanya ingin mengambil barangku yang tertinggal." Sehun menjawab sesantai mungkin.

"Kau fikir aku bodoh? Kau anggap disana taman bermain ? Pulanglah jika kau hanya main main Sehun. Aku sedang menyiapkan pasukan untuk memulai perang yang akan kita menangkan dan aku ingin kau memimpin pasukanku." Ucap Kris tegas kemudian memutuskan kontak batin mereka.

Fiuhhhh

"Kau menarik nafas panjang pangeran?" Kai akhirnya mengalihkan perhatiannya dari buku tebal berdebu itu.

"Apa kau bahkan menyadari kehadiranku disini?" Tanya Sehun balik yang jelas itu adalah sindiran bagi Kai.

"Tentu saja, aku menyadari kehadiranmu bahkan di radius 50 mil jauhnya." Kai menutup buku tebalnya tentang asal usul manusia dibumi dan tujuan penciptaannya. Sehun mengira Kai pasti begitu terobsesi dengan manusia. Namun Kai bukan tipe pria yang mudah berterus terang, Kai cenderung tertutup dan berwajah datar dan dingin. Menegaskan bahwa ia adalah sesosok pemimpin yang patut dihargai.

"Ayahku menyuruhku pulang Kai, aku…"

"Aku dengar" Memotong pembicaraan Sehun.

"Kau dengar ?" Sontak itu mengejutkan Sehun. "Bagaimana kau bahkan tidak berlonjak kaget mendengar suaranya yang tiba-tiba begitu Kai? Wahh kau pasti sudah sangat terbiasa." Sehun menyinyir kearah Kai.

"Raja tidak pernah berbicara kepada kami, beliau hanya sedikit sekali menggunakan kata kata. Selebihkan akan disampaikan oleh juru bicara neraka, pangeran. Baik perintah maupun pengumuman perang Raja tidak akan pernah menyampaikannya langsung. Aku baru beberapa kali mendengar suaranya saat menjadi pengawalmu saja. Selebihnya tidak pernah."

"Wah itu kalimat terpanjang yang kau ucapkan kai" Sehun tersenyum riang. Selama ini Kai sangat jarang berbicara. Ia selalu diam dan bicara seperlunya. "Kau begitu mengagumi ayahku"

"Siapapun akan mengagumi kegigihan dan kekuasaan ayahmu, pangeran. Beliau adalah pemimpin perang terbaik yang pernah ada" Kai berjalan mendekati Sehun. "Dan seperti itulah beliau ingin kau dipandang oleh rakyatmu. Di hormati dan dihargai selayaknya ia di perlakukan."

"Mereka memperlakukan aku sama seperti ayah. Membungkuk hormat saat aku melewati mereka dan mereka menuruti apapun keinginanku" Sehun duduk dan menatap pengawalnya.

"Mereka seperti itu karena ayahmu masih berkuasa, bayangkan posisinya diambil alih? Apa mereka akan memperlakukanmu dengan cara yang sama?"

Kai menatap Sehun "Kau tau mengapa ayahmu menyuruhku mengawalmu? Sementara akan ada perang yang seharusnya lebih baik aku berada disana untuk meningkatkan peluang menang?"

"Karena bangsa iblis akan tetap menang sekalipun kau tidak disana Kai" Jawab Sehun merendahkan.

"Cih Kau tau, Ayahmu begitu takut kau akan digangu oleh iblis lain yang lebih kuat darimu Sehun, karena itulah dia menyuruhku mengawalmu. Jika aku disampingmu takkan ada iblis manapun yang akan berani mendekatimu." Kai berbalik merendahkan Sehun. Jawaban Kai sontak membuat Sehun terdiam.

Kai melanjutkan "Perang melawan malaikat takkan pernah sesingkat itu Sehun, dibutuhkan banyak pengorbanan dan ribuan dari jumlah bangsa kita akan lenyap. Karena itu, jika kau main main, kau bukan hanya kehilangan waktu, namun juga orang orang yang kau sayangi."

"Perang melawan malaikat?" Sehun merasa tertarik dengan yang satu ini. Ia tidak pernah berperang dengan malaikat. Lebih tepatnya ia belum pernah berperang sekalipun. Perang tidak dilakukan setiap saat. Perang hanya akan terjadi dalam beberapa abad sekali. Seperti itulah perjanjian yang tertulis di buku pelajaran kejahatan di sekolahnya dulu.

"Kau bahkan tidak bisa menyadari keberadaan mereka, Sehun. Kau berada dirumah yang penuh malaikat dan kau tidak merasakannya?" Kai kembali ke kursi tempatnya membaca tadi.

Sehun terdiam.

Ya dia tidak menyadarinya di awal. Tapi saat Yixing masuk dan mendekat ia dapat merasakan aura putih mengelilinginya, Karena itulah dia beranjak pergi. Iblis tidak akan tahan berada terlalu dekat dengan malaikat, begitu pula sebaliknya.

"Karena itulah Raja begitu marah, kau masih belum bisa mendeteksi keberadaan malaikat di sekelilingmu yang justru itu akan membahayakan dirimu sendiri. Biasanya iblis kecil akan lari ketakutan jika berada sangat dekat dengan malaikat. Seperti yang kau lakukan barusan" Kai tersenyum kecil penuh arti pada Sehun.

"Cih harusnya kau memperingatkan aku, menjagaku. Kau kan pengawalku. Tapi sejak kapan kau tau ? kau kan tidak pernah mengunjungi rumah itu?" Tanya Sehun Penasaran.

"Aku tidak sepenuhnya yakin. Saat kita ke café, namja bermata besar itu menggunakan kalung dengan lapisan penjagaan surga. Aku tidak merasakan dia adalah malaikat, namun justru aku tidak merasakan apapun pada Luhan. Aku tahu ada yang menjaga mereka dan itu pasti para malaikat. Aku mengikutimu tadi kerumah besar mereka dan ternyata aku benar, rumah itu di selubungi penjagaan mesti tidak terlalu kuat hingga kau yang tergolong iblis muda dapat keluar masuk dengan leluasa."

"Sebenarnya Iblis dan malaikat takkan bisa saling berdekatan. Ada semacam gejolak dalam diri masing masing yang akan membuat mereka secara otomatis saling menjauh. Semacam itulah perjanjiannya sejak berabad abad silam. Tapi ketika perang berlangsung perjanjian akan dihapuskan untuk menentukan perjanjian perjanjian berikutnya." Terang Kai panjang lebar.

"Aku mengerti sekarang mengapa kau hidup lama Kai, selain kuat kau juga sangat pintar. Aku bangga padamu." Ucap Sehun dengan bangga.

"Bukan saatnya kau bangga padaku. Mulai sekarang kau harus lebih giat belajar dan berlatih, Pangeran"

"Berhentilah memanggilku pangeran, aku benci panggilan itu" Sehun bangkit dan beranjak keluar dari kamar Kai.

.

.

Baekhyun terlambat bangun pagi ini. Luhan sudah hampir kehilangan akal membangunkannya namun anak itu tetap saja kembali keranjang dan meringkuk.

"Yaaa Baekhyuni, bangunlah.. jika tidak kau akan terlambat kesekolah" Luhan menggoncang pelan tubuh mungil di hadapannya itu.

Namun Baekhyun sepertinya tak bergeming "Ummm Hyung, Mata Baekhyunii cidak mau telbuka.."

"Yaampun Bagaimana ini, kau bisa terlambat sayang. Lain kali hyung tidak akan mngizinkanmu menonton film horror lagi ne." ini akibat mereka menonton film horror hingga Baekhyun lama tertidur dan terlambat bangun seperti sekarang.

"Umm Hyungg.."

BRAKK

Gebrakan pintu hampir membuat copot jantung mungil Luhan. Chanyeol yang sudah berseragam rapi berdiri di depan pintu kamarnya. Berlari kecil menghampiri Luhan dan Baekhyun yang masih di tempat tidur.

"Baekhyunii tidak ke cekolah eoh, Kenapa macih tidul?" satu pertanyaan polos Chanyeol menggelitik Luhan. Lucu sekali pikirnya, Chanyeol kecil namun begitu pintar.

"Baekhyun bilang matanya tidak bisa terbuka Chanyeol, seperti ada lem dimatanya" Sahut Luhan.

Chanyeol membelalak lucu, dan naik ke ranjang mendekati Baekhyun "Benalkah? Coba cini Chanyeolli lihat" ia mendekatkan wajahnya pada wajah Baekhyun dan mengusap mata Baekhyun pelan. Lalu mencium kedua mata tertutup Baekhyun.

"Tuh, Lemnya cudah hilang kan? Ayo kita ke cekolah Baekhyunii" Baekhyun mengerjapkan matanya perlahan dan memang benar matanya terasa sangat terang sekarang.

"Umm neee" Baekhyun segera menyambar handuknya dan masuk ke kamar mandi.

Luhan mendadak speechless "Dasar Baekhyun"

Sepuluh menit kemudian Baekhyun sudah sangat rapi dengan seragam TK kebanggannya. Luhan sudah akan mengantar Baekhyun saat Yixing memanggilnya.

"Luhan, Baekhyun berangkat dengan Chanyeol saja hari ini, jika kau mengantarnya dengan bus mungin akan terlambat." Luhan melirik Baekhyun sejenak, Baekhyun mengangguk kecil dan sepertinya ia tidak keberatan.

"Nee eomma"

Yixing menghampiri Luhan yang sedang mengantar Baekhyun ke mobil "Luhan, ada yang ingin aku bicarakan denganmu"

Bicara denganku ? tentang apa ? apakah ia melakukan kesalahan? Atau Bakehyun membuat keributan?

Oh tuhan, aku tidak ingin diusir dari rumah ini,, jebal.. jeball…

Selepas kepergian dua happy virus itu Luhan menghapiri Yixing.

"Duduklah Luhan, Aku penasaran dengan lebam biru di tubuhmu yang kau ceritakan kemarin"

"Ahh itu eomma, aku .. sebenarnya.. aku sangat malu mengatakannya" kata Luhan menunduk ragu.

"Anio, katakanlah semua Luhan. Aku ingin tahu" Luhan sedikit terpaksa harus menceritakannya lagi. Ia bahkan tidak ingin mengingat kejadian beberapa malam yang lalu, dimana ia bermimpi bercinta dengan seseorang bernama Sehun tiap malam dan keesokan paginya selalu ada bercak baru ditubuhnya. Seolah ia telah di nodai oleh seseorang yang bahkan ia tidak ketahui siapa.

Yixing mendengarkan dengan seksama setiap kata yang diucap Luhan. Membuatnya semakin penasaran apakah memang sosok tadi malam yang dimimpikan Luhan selama ini. Yixing menutup mata membayangkan seperti apa perawakan makhluk itu. Namun ia tidak dapat mengingatnya dengan jelas karena malam itu sangat gelap.

"Luhan, aku ingin kau berhati hati mulai saat ini, aku hanya tidak ingin kau terluka. Jika ada orang yang mencurigakan segera saja laporkan pada Kyungsoo. Dia itu atlet bela diri, dia pasti bisa melindungimu. Arraseo?"

"Ne eomma" Luhan langsung mendekap Yixing. Senang rasanya ada yang memperhatikanmu selayaknya seorang ibu. Ibu yang tidak akan ada hentinya mengkhawatirkanmu. Tak heran hati Kyungsoo dan Chanyeol sangat perhatian dan menenangkan, karena segala kebaikan di diri mereka diturunkan oleh sang ibu.

Yixing senang Luhan berada dalam pelukannya. Entah mengapa batinnya percaya ada sesuatu di diri Luhan yang membuatnya penasaran. Yixing mengusap rambut Luhan namun matanya terarah pada bekas luka di bahu belahang Luhan. Itu bekas Luka yang cukup parah, dalam dan mengoyak kulit halusnya. Membentuk lingkaran kecil berwarna perak dikelilingi pendar kemerahan

"Lu, bagaimana kau mendapatkan luka ini?" Yixing menyentuh pelan luka di bahu Luhan.

"Entahlah eomma, Aku tidak bisa mengingatnya. Mama bilang itu sudah ada disana sejak aku lahir"

"JInjja? harusnya luka dari masa kecil akan hilang saat kau tumbuh dewasa Luhan." Yixing sudah akan menyentuh luka itu lagi saat suara sorakan girang milik Kyungsoo mengalihkannya.

"APPAAAAA! Appa sudah pulang?" Kyungsoo berteriak ketika melihat ayahnya masuk melalui pintu utama.

Pria itu tersenyum pada Kyungsoo, menyambut hangat pelukan anak kesayangannya. Kemudian berlalu menuju Yixing dan mencumnya sekilas . Kemudian pandangannya beralih pada seorang anak yang duduk dihadapan Yixing.

"Namanya Luhan appa, dia dan adiknya akan tinggal disini" Kyungsoo begitu senang memperkenalkan Luhan. Senang ia akan main dengan teman seumuran, setidaknya bukan dengan anak TK seperti Chanyeol.

"Aku Suho" Suho menjulurkan tangannya yang langsung di jabat oleh Luhan.

"Luhan imnida" Ucap Luhan sopan.

DEG

DEG

Jantung Suho berderap kencang, wajahnya memerah dan darahnya terasa mendidih. Ia merasa terserang arus listrik disekujur tubuhnya seolah ada halilintar menjalar di setiap inci pembuluh darahnya. Jika Luhan tidak menarik paksa tangannya Suho mungkin sudah pingsan.

Yixing langsung mendekati Suho yang melemas "Suho ada apa denganmu?"

"Appaa.." Kyungsoo pun mendekati ayahnya khawatir.

"Kau.."

"K-kau.. Kau siapa?" Tanya Suho terbata bata.

"Suho ada apa denganmu sebenarnya?" Yixing makin bingung.

"Kau putranya Yesha ?" Tanya Suho pada Luhan. Luhan dan Kyungsoo saling tatap, menyatakan kebingungan masing-masing.

"Yesha?" Yixing membeo. "Yesha Siapa?"

"Yesha Saudara kembarmu" jawab Suho.

Yixing terdiam tak bergeming.

.

.

.

TBC


Yesha..?

Yesha..?

kau dimana..?

Yixing berlari mencari saudara kembarnya kesana kemari. Hampir empat jam dia memutari kawasan ini namun tetap tidak menemukan Yesha disana. Kemudian sidengarnya Suho berteriak.

"Yixing, Yesha disini!"

Yixing berlari sekuat tenaga yang tersisa menghampiri saudaranya. Yesha, tubuh itu lemas tak berdaya dibawah timbunan bangunan kerajaan yang runtuh dan hancur. Yixing mencoba mengambil dan mengangkat puing bangunan tersebut namun ia tak sanggup. Suho pun sama lelahnya dengan dirinya, setelah apa yang mereka lalui, Perang yang berkepanjangan. Namun Yesha tak membuka matanya wajah porselinnya dipenuhi dengan luka dan darah. Yesha mencoba mengutarakan sebuah kalimat "O gios mou"

Yesha !

YESHA !

JAWAB AKU YESHA !

Namun Yesha tak pernah membuka matanya lagi.


Annyeong readernim... long time no see hehe #sok inggris #peluksatusatu

setelah setahun fakum akhirnya diriku kembali.. biasa gw mah orang sibuk gilaaa wkwkwk

masih ada yang penasaran gak sama ceritanya?

mungkin di chapter ini dan kedepan ada perubahan karena mimpi aku dulu tuh sempet kepetok dan sekarang susah banget buat gali lagi mimpi yang lama. sorry klo ada yang ga suka XD

please comment... karena komentar kalian sangat dibuthkan untuk mengembalikan semua imajinasi saya hihiihii #soklebay akhh