I'm Not Four Years Old Anymore, Hyung!
...
Author : syubsyubchim
.
Cast :
Park Jimin X Min Yoongi
Slight!BTS
.
NOTE :
YAOI! BOYXBOY! TYPOs! Review Juseyo
.
.
.
Yoongi mengemasi barangnya setelah sesi latihannya selesai untuk hari ini. Jimin benar-benar tidak kembali setelah pergi saat istirahat tadi. Yoongi kan jadi khawatir juga, tapi apa pedulinya, paling-paling Jimin juga sudah pulang.
"Yoongi, ayo pulang, kuantar" Zhoumi menepuk pelan pundak Yoongi, menawarkan ajakan pulang bersama. "Eh? Tidak perlu, hyung. Lagipula rumah kita kan berbeda arah."
"Ayolah, tidak baik seorang namja manis sepertimu pulang sendiri malam-malam begini. Lagipula aku tidak melihat bodyguardmu yang biasanya bersamamu hari ini." Yoongi terlihat menimang kembali, tapi sebelum Yoongi menjawab, Zhoumi sudah menarik Yoongi keluar dari tempat latihan.
"Latihanmu sudah selesai, hyu-" itu Jimin, berjongkok didepan ruang latihannya, menunggunya. "Oh, kalian pulang bersama ya?" lagi, Yoongi melihat sorot mata itu lagi dari Jimin, kali ini lebih gelap. Saat Yoongi sadar dengan tangannya yang masih bertaut dengan Zhoumi, Yoongi segera menariknya agar terlepas.
"Ti-"
"Begitulah, Jimin. Tidak apa-apa kan kalau aku mengantarnya pulang malam ini?"
Yoongi menatap tidak percaya kearah Zhoumi, "Jimin tidak boleh pulang sendirian, ini sudah malam, aku akan pulang dengan Jimin, hyung." Yoongi menarik lengan bocah bantet itu, tapi ditepis oleh Jimin. "Aku mengerti, kalau begitu aku duluan," oh, Jimin bahkan tidak menyebut namanya atau memandang kearahnya seperti biasa. Entah kenapa, Yoongi merasa dadanya seperti tercubit kecil.
"Jim-" Yoongi mengigit bibir bawahnya, lidahnya terasa kelu untuk memanggil nama bocah bantet itu. Padahal biasanya Yoongi akan dengan lancar mengeluarkan umpatan serta sumpah serapah kepada Jimin. Dirinya merasa ditolak oleh Jimin, beginikah rasanya ditolak oleh seseorang? Kenapa Yoongi merasa dadanya sesak? Tidak, Yoongi bukan makhluk sempurna yang tidak pernah mendapatkan penolakan. Tapi dirinya tidak pernah merasa seburuk ini saat ditolak oleh orang lain. Jimin benar-benar lancang berani menolaknya dan membuat perasaan dan pikirannya seberantakan ini.
.
.
.
"Aku pulang," Yoongi melepaskan sepatunya dan mengganti dengan sandal rumah. "Selamat datang Yoongi, Ji-" Ny. Min memandang aneh kearah Yoongi yang pulang sendiri hari ini, tidak ada bocah berisik yang selalu mengikuti Yoongi seperti anak ayam. "Dimana Jimin? Kau pulang sendiri, Yoong?"
Yoongi mengerutkan alisnya bingung, Yoongi pikir Jimin akan pulang kerumahnya dan makan malam dirumahnya seperti biasa. Apa bocah tengil itu benar-benar marah kepadanya, huh?
"Aku pulang dengan teman basketku, eomma. Mungkin Jimin pulang kerumahnya hari ini," jawab Yoongi cuek, lalu menaruh tasnya asal dan berjalan ke meja makan. "Aku lapar, eomma. Ayo makan!"
Selesai makan malam, Yoongi naik ke kamarnya dan membersihkan diri seperti biasanya. Rasanya sudah lama sekali hidupnya tidak setenang ini. Biasanya Jimin selalu saja merecokinya dengan celotehan tidak pentingnya. Rasanya kalau har-hari Yoongi begini terus, Yoongi bisa hidup lima puluh tahun lebih lama lagi tanpa bocah bantet menyebalakan itu.
.
.
.
"EOMMA! KENAPA TIDAK MEMBANGUNKAN YOONGIII~" Pagi itu, rumah kediaman Min sudah dihebohkan dengan putra semata wayang mereka. Lagi-lagi Min Yoongi bangun kesiangan. "Jimin juga, kenapa tidak membangunkanku, eoh? Awas saja bocah bantet itu! Tidak kuizinkan sarapan baru tahu rasa!" Yoongi terus mengomel sepanjang langkahnya dari lantai dua menuju dapur.
Saat mendapati dapur hanya terisi oleh kedua orang tuanya, lagi-lagi Yoongi mendengus kesal, "Ya! Park Jimin keluar kau, bersembunyi dimana bocah itu?"
"Jimin tidak ada mengunjungi kita hari ini, Yoongi. Eomma juga bingung, kemana kekasih bocahmu itu. Tidak biasanya dia tahan tidak menempel denganmu, kkk~"
Mendengar penjelasan ibunya, kening Yoongi kembali berkerut bingung. Ya, ibunya benar, tumben sekali kekasih- "JIMIN BUKAN KEKASIHKU!"
.
.
.
"Wassup, Yoongi hyung!" sapa Namjoon saat Yoongi memasuki kelasnya, sedirian, tidak ada si penggemar berat berisik Yoongi yang mengikutinya dari belakang. "Hm, selamat pagi, Namjoon. Aku pinjam tugasmu," setelah meletakan tasnya, Yoongi kembali mengobrak-abrik isi tas Namjoon, mencari buku tugas untuk disalinnya. Rutinitas sebelum kelas dimulai.
"Dimana kekasih bocahmu, hyung?"
Lagi, entah sudah berapa kali orang-orang disekitar Yoongi menanyakan eksisitensi Jimin. Mana Yoongi tahu akan keberadaan bocah bantet mesum kurang ajar itu. Sudah menolak Yoongi dengan lancangnya semalam, tidak membangunkannya di pagi hari, dan sekarang membuat semua orang bertanya-tanya pada Yoongi akan keberadaannya. Ditambah lagi saat orang-orang menyebalkan menyebut Jimin sebagai kekasihnya. Heol, mana mau Yoongi punya kekasih bermental empat tahun seperti Jimin.
"Entahlah, Namjoon. Dan dia bukan kekasihku, berhenti menyebutnya kekasihku."
"Tapi kalian terlihat cocok seperti sepasang keka-" Namjoon menjeda kalimatnya saat Yoongi melempar tatapan enyah-saja-kau-Kim-Namjoon. "Baiklah, kalian tidak terlihat seperti ksepasang kekasih. Lebih kepada penggermar berat yang pantang menyerah mengejar-ngejar cinta idolanya yang sangat tidak peka dengan perasaan tulusnya."
"Tutup mulutmu, Kim!"
.
.
.
Jam makan siang sudah hampir berakhir, tapi Jimin belum juga memunculkan wajah bodohnya dari balik pintu kelas Yoongi. Yoongi sudah hampir mati kebosanan menunggu namja bantet itu. Biasanya Jimin akan memunculkan wajah bodohnya dalam lima menit, tapi sampai saat ini Jimin masih belum menunjukan tanda-tanda eksistensinya. Yoongi kan juga kelaparan, 'man.
"Yoongi hyung, kau tidak makan siang?" Namjoon yang baru saja kembali dari kantin menghampiri Yoongi. Keadaan si gula masih sama seperti terakhir kali Namjoon meninggalkannya untuk makan siang bersama Seokjin - sang kekasih. Yoongi masih diam ditempatnya dengan kedua telinga yang tersumpal headset kesayangannya dan mencoret kertas putih didepannya - menulis lirik.
"Hm, Jimin belum datang," balas Yoongi seadanya. Namjoon melempar senyum mengejek kearah Yoongi yang untungnya tidak ditangkap oleh pengelihatan namja gula itu. Bisa habis Namjoon kalau ketahuan melempar senyum mengejek kepada Yoongi.
Selama ini Yoongi menolak keberadaan Jimin disampingnya habis-habisan. Mengabaikan seluruh atensi dan cinta yang diberikan Jimin olehnya. Mengumpatinya, meneriakinya, membentaknya, berusaha mendorongnya menjauh. Tapi lihatlah sekarang, seorang Min Yoongi dengan tidak sadarnya sedang menunggu kedatangan seorang Park Jimin untuk mengajaknya makan siang bersama.
"Hyung," Namjoon memposisikan dirinya didepan Yoongi, menarik headset Yoongi agar perhatian Yoongi teralikhkan sepenuhnya kepadanya yang menghasilkan decakan sebal Yoongi. "Apa sih?" balasnya ketus. Liriknya masih belum selesai dan dia sedang memiliki segudang inspirasi untuk menulis liriknya, jadi menurutnya Namjoon saat ini sangat menggangu.
"Kau galak sekali sih, pantas saja Jimin menghindarimu begini."
Yoongi berdecak sebal, "Menghindar apanya, dia hanya bocah labil karena emosinya belum stabil yang sedang ngambek, paling sebentar lagi juga kembali mengekoriku." Oh, lihatlah dirimu Min Yoongi, pintar sekali membohongi dirimu sendiri. Meskipun bibirmu mengatakan hal sepedas itu, tapi lihat saja seberapa galau lirik yang sedang kau tulis.
"Apakah kau sadar kau sedang menunggu Jimin saat ini, hyung?"
"MWO?!" Yoongi menatap tajam kearah Namjoon, seakan-akan berniat mengulitinya saat itu juga. "Kau sudah gila? Kepalamu habis terbentur dimana? Perlu kubenturkan sekali lagi? Jangan bicara sembarangan, bodoh!"
Meskipun Yoongi membalas Namjoon dengan kasar, tetapi kalimat terakhir Namjoon sebelum kelas dimulai sukses membuat fokus Yoongi hancur. Tubuh Yoongi memang sedang berada dikelasnya, duduk manis seolah-olah sedang mendengarkan Cho seongsaenim yang sedang menjelaskan tentang omong kosong seberapa penting aljabar dalam kehidupan sehari-hari. Tapi yang ada di pikiran Yoongi saat ini hanyalah Jimin. Apa Yoongi benar-benar menunggu Jimin untuk menjemputnya makan siang sejak tadi tanpa ia sadari?
Yoongi kembali menatap kosong kearah lirik yang baru saja ditulisnya. Biasanya, setiap lirik Yoongi akan selalu menjelaskan perasaannya saat itu. Ugh, kenapa Yoongi baru sadar liriknya saat ini sedang menjelaskan tentang seorang pemuda yang sedang merindukan sosok kekasihnya? Seorang pemuda yang perasaannya sedang buruk karena kekasihnya tidak lagi menghubunginya seperti biasa, menghilang secara tiba-tiba. Perasaan khawatir, rindu, sedih dan amarah dideskripsikan dengan apik pada setiap kalimat lirik Yoongi.
Ucapan Namjoon kembali berputar-putar didalam pikiran Yoongi. Apa Yoongi benar-benar menunggu Jimin? Yoongi sadar dirinya menikmati harinya tanpa Jimin yang terasa begitu tenang, tapi tanpa Yoongi sadari juga dirinya mencari-cari keberadaan bocah bantet itu, tanpa Yoongi sadari Yoongi membiarkan dirinya menunggu Jimin menemuinya, menghampirinya seperti biasa. Tanpa Yoongi sadari. sehari tanpa Jimin suskes membuat Yoongi mulai merindukan atensi yang selalu Jimin limpahkan kepadanya.
.
.
.
Seminggu berlalu begitu saja semenjak kejadian Jimin yang menolak pulang bersama dengan Yoongi. Selama seminggu juga hubungan Jimin dan Yoongi mulai merenggang, tidak ada kecupan Jimin yang membangunkan Yoongi dipagi hari, tidak ada Jimin yang mengikuti Yoongi kemana saja seperi anak ayam, tidak ada Jimin yang akan mengajak Yoongi makan siang bersama, tidak ada Jimin yang akan berangkat dan pulang bersama Yoongi, tidak ada Jimin yang akan makan malam bersama keluarganya, tidak ada Jimin dalam hari-hari Yoongi lagi.
Bocah bantet itu seolah-olah menghilang dari kehidupan Yoongi. Bahkan orang tua Yoongi sempat bingung melihat hubungan putra mereka dengan tetangga sebelah yang sudah mereka anggap anak sendiri itu. Setiap ditanya dimana Jimin, Yoogi akan menjawab dengan gerakan bahu yang mengartikan ketidaktahuannya, terkadang Yoongi juga menjawab "Mungkin Jimin masih ngambek denganku, biarkan saja."
Sebenarnya Yoongi sangat jengah dengan pertanyaan "Dimana Jimin? Kenapa hari ini kau sendirian?" yang dilontarkan dari entah siapa saja kepadanya. Karena Yoongi benar-benar tidak tahu dimana bocah jelek itu. Yoongi bahkan tidak peduli. Ralat, maksudnya ekhem-berusaha-ekhem tidak peduli.
Jadwal Yoongi semakin padat, dirinya harus berlatih basket untuk pertandingan yang sudah didepan mata. Yoongi berlatih basket dari jam pulang sekolah sampai malam setiap hari, dan langsung pulang kerumah untuk makan malam, membersihkan diri dan mengistrahatkan tubuhnya begitu sesi latihan selesai. Yoongi tidak mau repot-repot memikirkan Jimin meskipun terkadang Yoongi tidak bisa tidur pada malam hari karena wajah bodoh dan suara cempreng Jimin muncul begitu saja didalam pikirannya mengusik acara tidur cantiknya.
Yoongi bahkan lupa tentang permintaan Zhoumi yang mengajaknya menjadi sepasang kekasih kalau mereka memenangkan pertandingan minggu ini. Meskipun sekarang Zhoumi sering sekali mengantarnya pulang dengan alasan 'akan sangat berbahaya bagi namja manis sepertimu untuk pulang sendirian dimalam hari' tetapi Yoongi tidak mau ambil pusing soal Zhoumi. Cukup Jimin yang sedang berusaha dienyahkan dari pikirannya saja yang menghancurkan fokusnya.
"TEAM, AYO BERKUMPUL!"
Panggilan Zhoumi sukses memecah lamunan Yoongi. Yoongi baru sadar dirinya akan bertanding dalam lima belas menit. Bagaimanapun fokusnya tidak boleh terpecah. Bola oranye yang sedang diperebutkan untuk dilempar masuk kedalam net harus menjadi fokus satu-satunya selama pertandingan. Singkirkan Jimin dari fokusmu, enyahkan bocah mesum kurang ajar itu dari pikiranmu.
"Aku harap kalian memberikan yang terbaik untuk pertandingan kali ini. Kalian tahu sendiri seberapa penting pertandingan ini untuk nama baik tim basket sekolah kita. Jangan buat aku dan pelatih yang lain kecewa. Bertandinglah dengan serius, kalian mengerti?"
"YEAH SIR!"
"Bagus! Ayo ke pinggir lapangan sekarang, pertandingannya akan dimulai sebentar lagi."
Yoongi mengikuti instruksi Zhoumi dan berdiri dipinggir lapangan bersama dengan anggota timnya, bersiap sebelum opening ceremony dimulai. Pandangannya mengedar pada stadion yang lumayan besar. Pertandingan kali ini benar-benar heboh.
Diantara kerumunan yang sedang menonton itu, Yoongi menemukan Jimin. Dengan hoodie hitam dan baseball cap putih yang menutupi surainya, Jimin ikut menonton diantara sesaknya pengunjung yang lain. Yoongi sadar, Jimin memperhatikannya sedari tadi, karena begitu Yoongi menangkap sosok Jimin diatas sana, Jimin langusng mengalihkan pandangannya, menunduk lesu.
"Menangkan pertandingan ini dan temui aku setelah kita selesai, Yoongi," Zhoumi menepuk bahu Yoongi lembut, lalu mengusak surainya. Yoongi lupa, dirinya masih harus berurusan dengan Zhoumi kalau sekolah mereka berhasil memenangkan pertandingan kali ini. Yoongi hanya mengangguk kaku, lalu mencuri pandang pada Jimin yang lagi-lagi menatapnya dari atas sana. Dengan sorot mata yang lagi-lagi tidak dapat Yoongi jabarkan dengan baik.
.
.
.
"PERTANDINGAN BERAKHIR DENGAN SKOR 58-53! BENAR-BENAR PERTANDINGAN MENEGANGKAN! SEKALI LAGI SELAMAT KEPADA BANGTAN HIGHSCHOOL YANG KEMBALI MENANG PADA TAHUN KETIGA!"
Yoongi dan anggota timnya melakukan celebration ditengah lapangan. Setelah latihan berat yang mereka lalui, sekolah mereka kembali memenangkan pertandingan penting ini. Bahkan ada beberapa dari anggota tim Yoongi yang bertukar jersey dengan tim lawan yang membuat para penonton wanita bersorak heboh diatas sana. Yoongi menyalami satu per satu tim lawan, menunjukan optimisme yang terjalin kuat diantara mereka.
Selanjutnya, Yoongi merasa tubuhnya diangkat oleh anggota timnya untuk dilemparkan keudara. Wajar saja, karena Yoongilah MVP hari ini. Yoongi mencetak skor terbanyak dari total skor yang mereka peroleh. Yoongi hanya tertawa kecil dan ikut bersorak mengikuti anggota timnya, membiarkan tubuh mungilnya terlempar kecil keudara.
Saat anggota timnya menurunkan tubuhnya, Yoongi segera mengedarkan pandangannya, mencari sosok Jimin dilapangan dan juga diatas podium penonton. Biasanya Jimin akan menjadi sosok paling heboh kalau Yoongi berhasil melakukan sesuatu, bahkan hal kecil sekalipun. Apalagi saat seperti ini dimana tim Yoongi menang dan dirinya berhasil menjadi MVP, pasti Jimin akan bersorak heboh meneriaki namanya dan membrikan kecupan selamat kepadanya.
Tetapi kali ini sepertinya Yoongi tidak akan menerima perlakukan seperti itu lagi. Irisnya tidak menemukan sosok Jimin dimanapun, bahkan setelah stadium mulai sepi karena banyak penonton yang sudah pulang dan anggota tim yang kembali kedalam ruang ganti, sosok Jimin belum juga muncul. Entah kenapa, Yoongi merasa kecewa. Dadanya serasa tercubit kecil dan perasaan senangnya karena timnya berhasil menang menguap begitu saja. Dengan langkah lemah, Yoongi mengikuti anggota timnya kembali kedalam ruang ganti.
"Selamat atas keberhasilan kalian memenangkan pertandingan ini anak-anak! Untuk merayakannya ayo kita pergi makan daging, aku akan membuat sekolah membayar ini demi atlit-atlit tangguh kita!" Itu Siwon, salah satu pelatih mereka yang dikenal paling garang tapi juga paling mampu menaklukkan kepala sekolah. Setelahnya terdengar sorakan heboh anggota tim Yoongi yang mengelu-elukan nama Siwon.
"Maaf hyung, kurasa hari ini aku dan Yoongi absen dulu, kami masih ada urusan lain. Kalian bersenang-senanglah," Zhoumi meminta izin pamit dari tim. Tentu saja dirinya harus menagih janji sepihak yang dibuatnya dengan Yoongi.
"Ya! Jangan memacari anak kecil, Zhoumi," canda Siwon yang mengundang tawa seluruh anggota tim, kecuali Yoongi. Dirinya mendadak gugup mengingat pernyataan Zhoumi minggu lalu.
Zhoumi hanya tertawa renyah membalas Siwon dan menarik Yoongi ke parkiran. Setelah membukakan pintu untuk Yoongi, Zhoumi memutari mobilnya dan mendudukkan dibelakang kemudi. "Kau mau makan dimana, Yoongi?" Zhoumi menatap Yoongi sambil menyalakan mesin mobilnya.
Yoongi balas menatap Zhoumi, "Aku mau pulang, hyung. Eomma pasti memasak banyak."
Zhoumi tertawa renyah, "Apa aku ditolak secepat ini?"
Yoongi mengalihkan pandangannya, tidak berniat membalas Zhoumi. Meskipun Yoongi sedikit berterima kasih karena Zhoumi berhasil menariknya keluar dari acara makan malam itu, karena saat ini pikiran Yoongi kembali penuh dengan Jimin. Yoongi muak dengan rasa bersalah yang muncul dan membuat dadanya sesak dan susah tidur. Dirinya harus menemui dan berbicara bocah bantet itu malam ini juga.
"Apa ini karena Jimin?"
Tepat sasaran. Yoongi membolakan matanya kaget saat menoleh kearah Zhoumi yang menghasilkan kekehan geli dari ekspresi lucu Yoongi. "Benar, kan? Pantas saja seminggu ini kau terlihat berbeda tanpa Jimin disekitarmu. Bocah bantet jelek itu ternyata berhasil mengacaukan pikiranmu, ya?"
"Tidak.." Yoongi bergumam pelan, mencoba menolak seluruh asumsi tepat sasaran Zhoumi.
"Cobalah jujur pada dirimu sendiri, Min Yoongi. Tidak masalah kalau kau menolakku, tapi pastikan dirimu bahagia bersama bocah jelek itu." Zhoumi mengusak sayang surai Yoongi yang masih basah karena keringat itu. "Jja, aku harus mengantarkanmu pulang sekarang."
.
.
.
"Aku pulang, eomma," Yoongi melempar asal sepatu dan barang bawaannya yang lain, lalu menggantinya dengan sandal santainya. "Aku pergi dulu, eomma," dan tanpa menunggu balasan sang ibu, Yoongi sudah berlari keluar kearah rumah kediaman Park. Tujuannya hanya satu, menemui Park-Bocah-Mesum-Kurang Ajar-Jimin.
"Ya! Min Yoongi kau mau kemana? Jangan asal meletakan barangmu!" bahkan teriak sang ibu tidak lagi didengar oleh Yoongi.
"Annyeong Ahjumma, Jimin ada?" sapa Yoongi begitu ibu Jimin membukakan pintu untuknya. Senyum lebar ibu Jimin menyambut Yoongi dan mempersilahkannya masuk. "Jimin dikamarnya, Yoongi. Tumben sekali kau datang mencarinya."
Yoongi hanya balas tersenyum dan berpamitan menuju kamar Jimin. Tentu saja tumben, jarang-jarang Yoongi mau duluan menghampiri Jimin. Apalagi ini didasari oleh keinginannya sendiri.
"Ya! Park Jimin!" Yoongi tidak mengetuk pintu kamar Jimin. Dirinya langsung membuka -mendobrak- pintu kamar Jimin dan menemukan bocah tengik itu sedang berbaring memunggunginya.
"Oh, Yoongi hyung," Jimin berbalik, menatap Yoongi dengan manik basah dan hidung memerah. Apa Jimin baru saja menangis?
"Kau menangis, bocah? Apa masalahmu sebenarnya?" Dengan tidak sabaran Yoongi melangkah menghampiri Jimin, lalu mencengram kedua bahu bocah itu sampai Jimin sedikit meringis.
"Selamat atas kemenanganmu hari ini, hyung," Jimin mengecup bibir Yoongi. "Selamat atas gelar MVP yang kau dapatkan," sekali lagi, Jimin mengecup bibir Yoongi. "Dan selamat karena sudah menjadi kekasih Zhoumi sunbae," Jimin mengecup bibir Yoongi untuk terakhir kalinya, melumatnya lembut yang membuat Yoongi sukses mendorong kasar bahu Jimin.
"Ya! Apa yang baru saja kau lakukan?" Yoongi mengusap kasar bibirnya dengan punggung tangannya. Jimin sudah gila! Apa-apaan lumatan pada bibirnya itu. Selama ini Yoongi membiarkan Jimin mengecup bibirnya begitu saja, tetapi jangan harap Yoongi akan membiarkan Jimin berbuat lebih.
Jimin tertawa miris, menatap Yoongi dengan pandangan tersakitinya, "Setidaknya biarkan aku melakukannya untuk yang terakhir kalinya sebelum bibir itu menjadi milik Zhoumi sunbae dan tidak bisa-"
"Aku tidak berpacaran dengan Zhoumi hyung, bodoh!"
"MWO?!"
Rahang Jimin jatuh begitu saja, membiarkan pikirannya melayang kemana-mana. "T-Tapi, tapi, Zhoumi sunbae menyatakan perasaannya pada hyung minggu lalu. Kalian bahkan pulang bersama. Kau sudah menolakku, hyung."
Yoongi membolakan maniknya, "APA KAU BILANG BOCAH? MENOLAKMU?" emosinya keluar begitu saja.
"Enak saja, jelas-jelas kau yang menolak ajakanku untuk pulang bersama malam itu! Lagipula kapan aku menerima tawaran Zhoumi hyung untuk menjadi kekasihnya? Dan kau!" Yoongi menunjuk-nunjuk emosi ke wajah Jimin, "Kau kira siapa dirimu yang dengan lancangnya membuatku menunggu dirimu selama seminggu ini, eoh? Dan kenapa kau tidak menghampiriku setelah pertandingan selesai tadi? Kau memang bocah menyebalkan, Park Jimin!" tanpa Yoongi sadari, dirinya sedang mengungkapkan perasaannya dalam satu tarikan nafas.
Rahang Jimin semakin jatuh, dan membentuk seringai usil setelahnya. "Kau merindukanku, hyung? Mengharapkanku menghampirimu?" Jimin melingkarkan lengannya ke pinggang Yoongi dan menarik pemuda yang lebih tua lima darinya itu mendekat.
"Tidak! Siapa yang bilang aku merindukanmu? Bermimpilah, bocah!" setelah menepuk keras kepala Jimin, Yoongi berusaha mendorong bahu Jimin menjauh. Tetapi Jimin semakin mengeratkan pelukannya, mengabaikan tepukan keras pada kepalanya, "Kau mendeskripsikan perasaanmu dengan sangat jelas, hyung. Kau tahu, aku benar-benar mencintaimu."
Tanpa menunggu reaksi Yoongi, Jimin kembali mengunci bibir Yoongi dengan bibirnya sendiri. Awalnya Yoongi memberontak, namun dengan tangan Jimin yang menahan tengkuk Yoongi dan lidah Jimin yang mulai berani membelai bibir Yoongi, Yoongi luluh juga. Saat Jimin mengigit pelan bibir bawahnya, Yoongi membuka mulutnya begitu saja dan lidah Jimin dengan begitu pintarnya menyeruak masuk kedalam rongga mulut Yoongi, mengabsen barisan gigi rapi Yoongi dan menyapa lidah Yoongi, mengajak benda kenyal didalam mult Yoongi berkenalan.
Saat merasakan pukulan pada bahunya, Jimin melepaskan tautan bibirnya dengan Yoongi yang menciptakan benang saliva tipis. Jimin tersenyum menang melihat wajah hyung kesayangannya memerah dengan bibir basah yang terbuka, mengais udara untuk mengisi paru-parunya dengan rakus. Jimin mengusap bibir bawah Yoongi dengan jarinya. Sial, rasa bibir Yoongi benar-benar manis, Jimin jadi nagih, 'kan. Dasar Jimin mesum.
"Yoongi Hyung, jadilah kekasihku."
Kesadaran Yoongi seakan kembali saat mendengar suara Jimin. Dengan kasar Yoongi mendorong Jimin sampai tubuh Jimin terjatuh di tempat tidurnya dan melepaskan dirinya dari Jimin. Yoongi baru menyadari ciuman basah yang baru saja dilakukannya dengan Jimin, dan sialnya Yoongi begitu menikmatinya.
"DASAR BOCAH MESUM, AKU MEMBENCIMU!"
"Aku juga mencintaimu, hyung. Kekasihku."
"SEJAK KAPAN AKU MENJADI KEKASIHMU, BOCAH?! AKU TIDAK SUDI PUNYA KEKASIH BERUMUR EMPAT TAHUN!"
"Hyung aku sudah tiga belas tahun, sebentar lagi-"
"DIAM! AKU MAU PULANG!"
Setelahnya terdengar bantingan pintu kamar Jimin yang ditutup kasar oleh Yoongi. Jimin terkekeh geli melihat bagaimana reaksi Yoongi yang sangat menggemaskan. Jangan lupakan rona pekat yang tidak juga menghilang dari wajah Yoongi. Oh, rasanya Jimin senang sekali hari ini. Dirinya berhasil menaklukan hyung gulanya selangkah lebih jauh.
Jimin berjalan menuju jendela kamarnya yang berhadapan langsung dengan jendela kamar Yoongi. Lampu kamar Yoongi sudah menyala yang menandakan namja manis pecinta Kumamon itu sudah tiba dikamarnya. Cepat juga.
Iseng, Jimin membuka jendela kamarnya, lalu mengambil kertas untuk dibentuk menjadi gumpalan bola. "Aku. Benar-benar. Mencintaimu. Min Yoongi!" Jimin melempar gumpalan kertas yang dibuatnya kearah jendela kamar Yoongi ada setiap penggalan katanya yang menghasilkan suara 'tuk' pelan.
"ENYAHLAH PARK JIMIN!"
.
.
.
TBC/END
.
.
.
INFIRES !
Annyeong, syubsyubchim balik lagi! Sesuai janji syubchim bakal update kilat kalau banyak yang respon. Dan, TARAAAAA~ syubchim bawain chapter keduanya. Syubchim ganyangka ternyata banyak yang follow, favorite dan review. Makasih banget loh, syubchim asli terharu (nangis kejer) (lebay).
Kalau misalnya ceritanya mengecewakan mohon dimaafkan (bows 90 degrees). Syubchim berencana ngelanjutin fanfic ini kalo banyak yang tertarik, tapi mungkin di chapter selanjutnya alur waktunya bakal dipercepat sampai Chim kuliah, biar ga dianggap bocah terus sama Yoongi. Kalau menurut kalian gimana?
Terakhir, makasih banget yang udah ngerelain luangin waktunya buat ngebaca fanfic gajelas ini, apalagi sampai meninggalkan review (bow 90 degrees).
Terima Kasih.
Salam, INFIRES !
