I'm Not Four Years Old Anymore, Hyung!

.

Author : syubsyubchim

.

Cast :

Park Jimin X Min Yoongi

Slight!BTS

.

Rate : M

.

NOTE :

Tahun I flashback (Jim 14, Yoong 19)

Sekarang (Jim 18, Yoong 23)

YAOI! BOYXBOY! TYPOs! Review Juseyo


.

.

.

"Yoongi hyung, ayo bangun~" Jimin kembali merengek, mengguncang tubuh kurus Yoongi yang masih bergelung didalam selimut tebal nan fluffynya. Namja bantet itu sekarang sudah tidak bantet lagi. Panjang tubuhnya sudah berada beberapa senti diatas Yoongi dengan otot-otot yang terbentuk apik akibat latihan Taekwondo dan gym yang ditekuninya. Sudah empat tahun berlalu semenjak Jimin melakukan french kiss pertamanya dengan Yoongi, dan Jimin pun menganggap hubungannya dengan Yoongi sudah berjalan selama empat tahun, meskipun belum genap empat tahun.

Tahun pertama menjadi kekasih Yoongi -dalam sudut pandang Jimin- sangatlah sulit. Yoongi menolak jika Jimin menciumnya. Jangankan mencium, bahkan Yoongi tidak membiarkan Jimin mengecup bibirnya lagi. Yoongi akan memukul Jimin keras-keras saat namja itu mengecupnya. Bahkan saat hari jadi mereka yang pertama -menurut Jimin lagi- Yoongi melupakannya begitu saja.

"Hyung, kau tau hari ini hari apa?" Jimin menyender manja pada Yoongi yang sedang menonton televisi di ruang tengah rumah kediaman Min. "Minggu," Yoongi bergumam malas sambil terus menyendokan snack kedalam mulutnya.

"Selain hari Minggu? Masa hyungie lupa ini hari apa~" Jimin kembali merengek, lalu mengguncang lengan Yoongi, berusaha membuat si gula kembali berpikir. Tetapi yang Jimin dapatkan hanya gumaman 'molla' dari Yoongi.

Jimin mengerucutkan bibirnya, "Hyungie sayang kekasih Park Jimin yang paling tampan, hari ini itu hari jadi kita yang pertama. Masa' hyungie lupa?"

Yoongi mendelik tidak suka kearah Jimin, kedua alisnya bertaut dan raut wajahnya melempar ekspresi hentikan-omong-kosongmu-itu-bocah kepada Jimin yang membuat Jimin semakin memajukan bibir seksinya. "Yoongi hyu-"

"Sejak kapan aku sudi menjadi kekasihmu bocah?"

"Sejak kau menolak Zhoumi sunbae dan menerima french kiss yang kita lakukan satu tahun yang lalu," dengan polosnya Jimin membalas sarkasme yang Yoongi keluarkan. Yoongi menjitak puncak kepala Jimin keras. Wajahnya sudah merona parah saat Jimin dengan begitu frontalnya mengingatkan Yoongi pada kejadian memalukan itu.

"Jaga ucapanmu, Park Jimin!"

"Tapi ini tetap hari jadi kita dan sebagai kekasih yang baik kau harus menciumku sebagai hadiah."

"KAU BUKAN KEKASIHKU, BODOH!" wajah Yoongi memerah, setelah memberikan dorongan keras pada dada Jimin, Yoongi meninggalkan Jimin sendirian di ruang tengah dengan wajah terkejutnya yang bodoh.

.

Tahun kedua juga bukanlah tahun keberuntungan Jimin. Yoongi masih bersikeras menolaknya. Meskipun dirinya berhasil mencuri beberapa kecupan dan lumatan dari bibir kissable sang hyung gula karena tubuhnya yang sudah bertumbuh lebih besar dari tubuh mungil Yoongi, tetapi tetap saja Yoongi masih belum menerimanya.

Jimin mengajak Yoongi berjalan-jalan ke theme park hari itu. Dirinya mengajak Yoongi menaiki beberapa wahana yang membuat Yoongi beberapa kali memeluk lengan kekarnya dan berteriak kencang, atau menggengam -meremas- jemarinya saat rollercoaster yang mereka naiki melaju turun dan berputar tiga ratus enam puluh derajat. Jimin membuat Yoongi menunjukan senyum gulanya terlalu sering hari itu yang membuat Jimin gemas.

Dan saat Yoongi menunjukan wajah bingung menggemaskannya karena terjebak oleh jalan buntu di dalam rumah kaca, Jimin dengan kasar menyudutkan tubuh Yoongi diantara dirinya dan cermin yang memantulkan refleksi mereka, mempertemukan bibir tebalnya dengan bibir Yoongi.

Awalnya Yoongi memberontak keras dan memukul dada berotot Jimin kuat-kuat sampai Jimin meraih jemari Yoongi, menautkannya dengan jemarinya dan meletakkannya disamping kepala yang lebih tua. Yoongi menyerah, dirinya membiarkan lumatan lembut Jimin pada bibirnya. Merasakan bibir tebal itu melumat bibir atas dan bawahnya bergantian, sesekali menggigit gemas. Sampai Jimin memberinya kode untuk membuka mulutnya yang dilakukan Yoongi dengan ragu, dan benda tak bertulang itu masuk begitu saja kedalam goa hangat Yoongi. Mengabsen deretan gigi rapi Yoongi, menekan dan melilit lidah Yoongi dengan lidahnya, mengeksploitasi dan mengobrak-abrik isinya sesuka hati.

Saat Jimin merasa Yoongi menerima dirinya, Jimin melepaskan jemari Yoongi dan memeluk pinggang Yoongi mesra, merematnya lembut dan menariknya mendekat mengeliminasi jarak diantara mereka. Yoongi sendiri memposisikan tangannya pada dada bidang Jimin, mendorongnya menjauh sambil meremas fabrik kemejanya malu-malu. Yoongi merasa nyaman dan menikmati ciuman Jimin yang hangat dan penuh cinta, tetapi dirinya masih tidak menerima kenyataan yang ada.

Saat Yoongi merasa kapasitas oksigen yang menipis, Yoongi kembali memukul dada Jimin keras-keras. Jimin melepaskan tautan bibir mereka dan tersenyum sangat lembut, "Happy second anniversary, hyungie," dan memberi kecupan sayang pada kening Yoongi lama.

Tapi kecupan dan pelukan Jimin kembali terlepas saat Yoongi mendorongnya lagi. "Sudah berapa kali kukatakan, aku bukan kekasihmu."

Yoongi berjalan melewati Jimin, meninggalkan sosok Jimin yang terdiam tanpa mau repot-repot membalikkan tubuhnya untuk mengecek kondisi Jimin sekali lagi. Bahkan Yoongi lagsung meminta pulang saat mereka keluar dari rumah kaca dan mendiamkan Jimin selama perjalanan pulang. Oh, ralat, Yoongi mendiamkan Jimin selama seminggu atau lebih, Jimin tidak mau menghitunganya apalagi mengingatnya. Yang jelas, Jimin ditolak, lagi.

.

Tahun ketiga, Jimin masih belum menyerah dengan statusnya yang mengklaim dirinya sebagai kekasih Min Yoongi. Meskipun mendapatkan penolakan yang menurut orang-orang berlebihan, Jimin tetap memperlakukan dengan lembut dan penuh kehangatan.

Hari jadi mereka yang ketiga, Jimin menemukan Yoongi yang tertidur kelelahan di atas meja belajarnya. Rumah kediaman Min kosong kala itu. Kedua orang tua Yoongi menjenguk sang nenek yang dikabarkan sakit di Daegu, meninggalkan Yoongi sendirian di Seoul yang sedang berada di semester akhir perkuliahan.

Jimin hanya berdecak pelan dengan kelakuan hyung gulanya yang selalu memaksakan dirinya. Dengan pelan, Jimin mengangkat tubuh Yoongi, memindahkan tubuh mungil itu ke tempat tidur Yoongi dan menyelimutinya.

"Selamat hari jadi ketiga, hyungie. Mimpi indah," dan mengecup kening Yoongi lalu membaringkan tubuhnya disamping Yoongi dan memeluk tubuh namja itu.

Paginya, Jimin mendapati dirinya ditendang ke lantai oleh Yoongi dengan teriakan, "DASAR BOCAH MESUM! APA YANG KAU LAKUKAN DI KASURKU?!"

Ck, seperti baru pertama kali tidur bersama Jimin saja. Padahal Jimin sudah baik hati memindahkan tubuh mungilnya dari meja belajar yang keras ke kasur dengan selimut yang nyaman, ditambah pelukan hangat dari tubuh maskulinnya. Sungguh, reaksi Yoongi terlalu berlebihan, seperti gadis perawan yang ditiduri pertama kali.

.

Dan sekarang, Jimin berada di tahun terakhirnya di senior high sedangkan Yoongi juga berada pada tahun terakhirnya di perkuliahan. Jimin ingat, dirinya menangis dengan begitu dramanya di hari kelulusan Yoongi. Dirinya kesal sekaligus sedih masa-masa sekolahnya tidak akan dilewati bersama Yoongi lagi. Apalagi saat Zhoumi datang, memeluk tubuh Yoongi, memberikan sebuket mawar yang dirangkai indah dengan boneka dirinya dan Yoongi diantara mawar-mawar itu.

Sungguh, rasanya Jimin ingin menendang sunbae yang tiga belas senti lebih tinggi dari dirinya itu. Tetapi tubuh Jimin terlalu kecil dan hadiah kelulusan yang ia berikan kepada Yoongi tidak seberapa dengan sepatu basket mahal dan karangan bunga mawar mewah yang diberikan oleh Zhoumi. Jimin hanya memberikan syal yang Yoongi bilang bagus beberapa minggu lalu, itupun dengan menghemat uang jajannya mati-matian.

Saat Yoongi memulai kehidupan universitasnya, Jimin dan Yoongi menjadi begitu jarang bertemu. Selain karena letak universitas Yoongi dan sekolah Jimin yang berbeda arah, membuat mereka tidak bisa berangkat bersama apalagi dengan jadwal kelas Yoongi yang acak, kesibukan Yoongi dan bimbingan belajar Jimin untuk menghadapi ujian akhir junior high benar-benar mempersulit pertemuannya dengan Yoongi.

Yoongi sih senang-senang saja dengan kehidupan universitas tanpa Jiminnya, tetapi Jimin tersiksa setengah mati. Sampai-sampai Jimin bersikeras menginap dikamar Yoongi kalau jadwalnya sedang kosong, meskipun sesekali berakhir dengan dirinya yang tidur dilantai ataupun sofa kamar Yoongi. Tetapi terkadang Yoongi membiarkannya tidur sekasur, 'kok. Yoongi kan tidak sekejam ibu tiri juga.

.

Yoongi mengerang malas, "Jam berapa?" tanyanya serak.

Jimin tersenyum cerah, akhirnya putri tidurnya bangun juga, "Jam enam lewat dua puluh tujuh menit, hyung."

Yoongi mengangguk dan menggumamkan 'terima kasih', lalu melangkahkan tubuhnya kedalam kamar mandi. Yoongi harus bersiap di hari pertamanya magang. Yoongi sengaja memilih magang dan skripsi sebagai tugas akhir universitasnya. Yoongi mengambil jurusan seni di sala satu universitas ternama Seoul bersama Namjoon dan memutuskan untuk menjadi guru di salah satu sekolah di Seoul. Dirinya berpikir mungkin mengajar bocah-bocah menggemaskan akan menyenangkan.

Yoongi berharap dirinya diterima di salah satu sekolah dasar di Seoul, tetapi dengan sialnya dirinya diterima di salah satu sekolah tingkat akhir yang merupakan sekolahnya dulu. Alasannya tentu saja karena dirinya alumni dari sekolah itu. Dan, Yoongi menyesali keputusannya untuk memilih magang mejadi guru sebagai tugas akhirnya. Dirinya akan berurusan dengan Park-Mesum-Jimin lagi.

Tentu saja Yoongi belum memberi tahu Jimin soal sekolah yang menerimanya. Meskipun namja bantet itu terus saja meributi Yoongi dengan pertanyaan yang sama setiap ada kesempatan, tetapi Yoongi enggan menjawabnya. 'Diam atau pulang kerumahmu?' adalah senjata paling ampuh yang Yoongi keluarkan yang sukses membuat Jimin bungkan dengan bibir yang maju beberapa senti.

.

.

.

Yoongi memarkirkan mobilnya pada lapangan parkir sekolahnya. Dengan berat hati, Yoongi melangkah keluar dari mobilnya menuju ruang kepala sekolah yang sudah dihapalnya diluar kepala. Jimin sudah berangkat duluan menggunakan motor kesayangannya, hadiah ulang tahun ke tujuh belas dari orang tuanya.

Yoongi memperhatikan sekeliling dengan perasaan hangat, tidak banyak yang berubah semenjak empat tahun lalu, hanya beberapa bagian memiliki warna cat yang baru. Yoongi juga berhenti sebentar didepan lapangan basket yang sudah dianggap rumah keduanya itu. Oh, Yoongi mendadak merindukan sosok dirinya dengan jersey sekolahnya tengah berlatih basket ditengah lapangan itu.

Buru-buru Yoongi menggelengkan kepalanya, dirinya harus tiba di ruang kepala sekolah sebelum bel masuk berbunyi. Yoongi tidak boleh memberikan kesan jelek pada hari magang pertamanya. Dirinya harus mendapatkan feedback yang baik agar dapat lulus dengan mudah dari universitasnya. Yoongi lelah kuliah terus, man.

.

.

.

"Baiklah anak-anak, hari ini kalian akan kedatangan guru baru yang akan mengantikan Kang Seongsaenim untuk beberapa waktu kedepan. Min Seongsaenim silahkan masuk."

Yoongi melangkah kedalam kelas 3-2 itu, memandang dengan penasaran wajah-wajah murid yang akan diajarnya pada mata pelajaran musik beberapa waktu kedepan. Yoongi melempar senyum terbaiknya sebelum memperkenalkan diri, "Annyeonghaseyo anak-anak, perkenalkan namaku-"

"YOONGI HYUNG?!" Itu Park Jimin.

Jimin bangkit dari duduknya di baris paling sudut belakang dan berlari kedepan kelas dimana Yoongi berdiri, menghiraukan tabrakan tubuhnya dengan tas dan meja teman sekelas yang dilewatinya.

"J-Jimin.." Yoongi berbisik pelan dan menerjapkan maniknya sebelum Jimin melempar tubuhnya kearah tubuh mungil Yoongi. Memeluk sang hyung yang akan menjadi gurunya beberapa waktu kedepan. Menghasilkan bunyi berisik dari seisi kelas, seperti teriakan para siswi fujoshi yang langsung menjadikan Jimin dan Yoongi sebagai OTPnya, atau siulan iseng menjurus kurang ajar dari siswa laki-laki, terlebih teriakan kecewa murid-murid perempuan yang mengidolakan Jimin karena sang pangeran kelas tidak juga melepaskan pelukan dengan sang guru meskipun sang guru sudah mengeluarkan penolakan.

"WOAH! TERNYATA KEKASIH PARK JIMIN TIDAK FIKTIF. DAEBAK!" Itu Kim Taehyung, makhluk 4D sahabat sehidup semati Jimin.

.

.

.

Setelah jam pelajaran selesai, Yoongi merapikan bukunya dan berjalan keluar dari kelas Jimin. Sungguh, dirinya merasa malu dengan pelukan yang Jimin berikan diawal pertemuan. Mau ditaruh dimana kewibawaannya sebagai seorang guru kalau di pertemuan pertama dengan murid-murdinya Jimin malah memeluknya seerat itu. Ditambah dengan teriakan Kim Taehyung yang abstrak itu. Yoongi merasa kepalanya sakit memikirkan harus mengajar kelas dengan murid tidak jelas itu selama beberapa waktu kedepan. Dirinya merutuki keputusannya untuk magang sebagai seorang guru.

Yoongi memuka pintu ruangannya dan meletakan barang-barangnya pada meja kerjanya. Seokjin -kekasih Namjoon- yang berada pada ruangan yang sama dengannya menghentikan pergerakan jemarinya pada keyboard laptop dan memandang Yoongi dengan alis bertaut. Seokjin mengambil jurusan kependidikan di universitas yang sama dengannya dan Namjoon, dan diterima untuk magang disekolah yang sama dengan dirinya -sebagai alumni-.

"Kau baik-baik saja, Yoong?"

Yoongi menggeleng dan mengacak frustasi surainya. Ruangan mereka kecil, hanya ada dirinya dan Seokjin. Sekolah ini memberikan ruangan sendiri-sendiri bagi guru senior dan ruangan yang dibagi berdua atau bertiga bagi guru baru atau guru magang.

"Aku mengajar dikelas Jimin, hyung."

Seokjin tidak dapat menahan tawanya saat Yoongi mengeluarkan tatapan tersiksa dengan surai berantakan begitu. Dirinya kenal betul dengan siapa Jimin yang Yoongi maksud. Berteman dengan Yoongi lewat Namjoon membuat Seokjin paham dengan sifat dan kehidupan pribadi Yoongi. Terutama bocah chubby berisik yang tergila-gila pada Yoongi itu. Seokjin sudah menjadi saksi kisah cinta Jimin yang selalu bertepuk sebelah tangan. Kasihan memang, tapi Yoongi masih belum mau mengakui perasaannya, bagaimana dong?

"Kau mengajar kelas kekasihmu?"

Yoongi mendelik tidak suka kearah Seokjin, mengusak surainya menjadi semakin berantakan. "Sudah kubilang berapa kali, Jimin bukan kekasihku!"

Oh! Oh! Lihatlah bibir yang mengerucut maju beberapa senti itu, membuat Seokjin makin senang menggoda Yoongi. Sungguh, Yoongi akan berubah menjadi menggemaskan didepan Seokjin. Seokjin jadi merasa sedang menggoda adik kecilnya yang menggemaskan kalau Yoongi sedang dalam mode manjanya.

"Kekasihmu mencarimu," Seokjin mengarahkan dagunya menunjuk kedepan pintu kaca ruangan mereka, menampakkan sosok Jimin yang sedang melambai semangat kearah Yoongi dengan senyum lebar dan wajah super bodohnya. Yoongi jadi ingin melempar wajah Jimin dengan gitarnya di sudut ruangan.

"Apa?" tanya Yoongi ketus saat menemui Jimin didepan ruangan. Dirinya membuang tatapan kearah lain, mengabaikan Jimin yang memandangnya dari atas, mengingat pertumbuhan Jimin yang cukup baik sehingga memiliki panjang tubuh sedikit diatasnya.

"Aku senang kau mengajar dikelasku, hyung. Aku akan menjadi semangat belajar," Jimin mengusap puncak kepala Yoongi, merapikan suari Yoongi yang sempat berantakan karena usakan frustasi Yoongi beberapa saat lalu. Yoongi hanya berdecih kecil dan menyingkirkan tangan Jimin dari rambutnya. Ini masih di dalam lingkungan sekolah. Cukup pelukan Jimin di pagi hari yang mempermalukannya, dirinya masih mau menjalankan tugas magangnya dengan baik tanpa tatapan aneh makhluk di dalam sekolah tempatnya mengajar.

"Kembalilah kekelasmu, Jim."

"Tidak mau, ayo makan bersama, hyung."

"Aku sudah berjanji untuk makan bersama Seokjin hyu-"

"Kalau begitu aku akan makan bersama kalian," Jimin memotong ucapan Yoongi dengan senyum lima jarinya sampai maniknya menyipit membentuk garis yang begitu manis. "Terserah," Yoongi membalik tubuhnya, masuk kembali ke ruangannya dengan Jimin yang mengekori dari belakang. Jam makan siang masih tersisa tiga puluh menit lagi. Waktu yang cukup lama bagi Jimin untuk menemani Yoongi didalam ruangannya dan memandangi wajah semanis gulanya itu.

Yoongi sendiri yang sudah terlalu biasa dengan Jimin hanya membiarkan Jimin melakukan kemauannya. Selama Yoongi merasa Jimin tidak menggangu pekerjaannya, Yoongi tidak akan mencoba mengusir Jimin lagi, karena hal itu akan berakhir sia-sia.

"Halo Seokjin hyung!"

"Halo, Jiminie."

Yoongi memutar bola matanya malas.. Sekarang dirinya menyesal ditempatkan pada satu ruangan dengan Seokjin. Kalau saja teman seruangannya bukan Seokjin, mungkin Yoongi akan dengan mudahnya mengusir dan tidak memperbolehkan Jimin mengunjungi ruangannya. Selanjutnya, Jimin hanya duduk didepan meja kerja Yoongi, membiarkan tangannya menopang wajahnya dan memandangi setiap gerak-gerik yang dilakukan Yoongi.

Yoongi menatap nyalang kearah Jimin yang menurut Jimin malah terlihat menggemaskan. Meskipun sudah sering ditatap oleh Jimin, tetapi tetap saja Yoongi merasa tidak nyaman. Siapa juga yang akan nyaman kalau ada sepasang manik gelap memandangmu tajam dan mengikuti setiap pergerakan yang kau lakukan?

"Berhentilah menatapku sebelum bolpen ini tenggelam di bola matamu."

Jimin terkekeh pelan, "Jangan melakukan tindakan kejam pada muridmu, Min saem."

Yoongi mendelik tajam kearah Jimin. Sungguh, panggilan yang keluar dari bibir Jimin terdengar begitu menggelikan bagi Yoongi. Jimin terdengar menggodanya habis-habisan dengan panggilan menjengkelkan itu. Rasanya Yoongi ingin memplester mulut Jimin dan menguburnya hidup-hidup di taman belakang sekolah. "Hentikan panggilan menjijikan itu."

"Kenapa, seongsaenim? Apakah ada yang salah dengan panggilan saem?"

"YA!" Yoongi menunjuk-nunjuk emosi kewajah Jimin yang sedang tersenyum kurang ajar kearahnya. "Kembali kekelasmu, Park. Jangan ganggu pekerjaanku."

"Aku tidak menggangumu, saem. Aku hanya menatapmu. Bahkan kau yang mengajakku berbicara duluan, Min saem," dengan sengaja Jimin memanggil Yoongi dengan sebutan 'saem' lagi. Reaksi Yoongi dengan rona merah muda pada pipinya hanya terlalu sayang untuk dilewati.

"Tapi kau menatapku, dan aku tidak suka!" Yoongi mengerucutkan bibirnya, dan Yoongi benar-benar harus berterima kasih atas entitas Seokjin di ruangan itu karena kalau Yoongi hanya berdua dengan hyung gulanya, dirinya menjamin Yoongi akan melanjukan harinya dengan bibir yang sedikit membengkak.

"Hentikan pikiran mesummu, Park!" Yoongi yang menyadari arti tatapan Jimin segera memberikan tepukan 'penuh kasih sayang' kearah kening Jimin yang terpampang jelas karena poninya yang dibelah dua. Jimin mengusap keningnya yang terkena tepukan 'penuh kasih sayang' Yoongi dengan senyuman yang belum lepas dari bibirnya. Dasar masokis!

.

.

.

Yoongi merebahkan dirinya pada kasur kamarnya tanpa mau repot-repot berganti baju atau membersihkan dirinya terlebih dahulu. Hari magang pertamanya benar-benar berat. Yoongi benar-benar menyesal dengan pilihannya mengambil magang menjadi tenaga pendidik. Siapa sangka dirinya akan diterima di sekolahnya dulu? Dikelas Jimin pula. Sungguh, nasib Yoongi benar-benar buruk.

"Yoongi hyung~"

Yoongi kembali menghela napas kasar dan membalik tubuhnya memunggungi pintu masuk. Dirinya menutup maniknya dan berpura-pura tidur, mungkin Jimin akan meninggalkannya karena mengira dirinya kelelahan.

Pintu kamar Yoongi dibuka dan Jimin masuk dengan perlahan. Ditatapnya punggung Yoongi yang bahkan masih mengenakan pakaian mengajarnya. Jimin berjalan menghampiri ranjang Yoongi dan memposisikan dirinya dihadapan Yoongi. Jimin membawa jemarinya mengusap wajah Yoongi dengan gerakan lembut, takut membangunkan hyung gulanya. "Hyung pasti lelah," Jimin mendaratkan sebuah kecupan di pipi Yoongi. Selanjutnya, kecupannya berpindah ke bibir Yoongi, "Selamat atas hari pertama magangmu, hyung."

Yoongi diam di posisinya. Tidak berniat bergerak atau membuka maniknya saat ini. Dirinya merasa begitu nyaman dengan sentuhan yang diberikan Jimin. Saat jemari Jimin menelusuri wajahnya, merapikan helaian rambutnya, menyisipkannya dibelakang telinga Yoongi, mengusap halus surai Yoongi dan mendaratkan kecupan kecil pada pipinya. Yoongi terlalu menikmati sentuhan Jimin tapi tidak mau mengakuinya. Min Yoongi memang naif.

Saat Yoongi merasakan pergerakan di kasurnya, Yoongi segera membuka matanya dan menatap nyalang kearah Jimin. "Ya! Kau mau apa, bocah?"

"Hyung sudah bangun?" Jimin mengurungkan niatnya untuk ikut berbaring dan terlelap disamping Yoongi. Jimin melempar senyum terbaiknya dan mengusap sebelah pipi Yoongi, "Apa hari ini benar-benar melelahkan, hyung?"

Yoongi mendengus, Jimin sedang dalam mode gentlemannya yang selalu sukses melemahkan Yoongi. Sungguh, Jimin akan berubah dari bocah menyebalkan bermental empat tahun menjadi pria dewasa yang begitu pengertian. Siapa yang tidak akan lemah kalau sudah begitu? Jangan lupakan cara Jimin yang memperlakukan Yoongi kelewat lembut. Sungguh, terkadang Yoongi ingin meleleh.

Yoongi hanya mengangguk, menikmati usapan Jimin pada pipinya. "Mau mandi, hyung? Biar aku siapkan air hangat untuk berendam," Jimin bersiap bangkit menuju kamar mandi di kamar Yoongi. Lihat? Lihat? Kalau sudah dibeginikan makhluk mana yang tidak akan luluh dengan pesonamu, Park?

"Terima kasih, Jim." Yoongi turun dari kasurnya, menyiapkan piyama yang akan dipakainya setelah berendam nanti. Orangtuanya sedang pergi selama seminggu, jadi ia tinggal sendirian dirumahnya. Sebenarnya Jimin bersikeras menemaninya, tetapi bukan Yoongi namanya kalau menerima Jimin begitu saja. Dan bukan Jimin namanya kalau menerimana tolakan Yoongi begitu saja. Tetapi dengan sedikit ancaman dan mode diam, Yoongi berhasil membuat Jimin tidak jadi menginap dirumahnya.

.

.

.

Yoongi keluar dari kamar mandinya dengan piyama motif kumamon kesayanannya. Meskipun sudah dua puluh tiga tahun, Yoongi tetap senang menggunakan piyama bermotif yang membuat tubuh mungilnya semakin terlihat menggemaskan.

"Hyung, aku membelikan pizza, ayo makan." Jimin duduk di lantai samping ranjang Yoongi dan membuka sekotak besar pizza serta dua kotak chicken wings. Yoongi senang-senang saja Jimin sudah membelikan makan malam untuk mereka jadi Yoongi tidak perlu repot-repot keluar rumah untuk membeli makan malam atau memesan lewat delivery service. Lagipula, siapa yang tidak suka makanan gratis?

Yoongi mendudukan dirinya disamping Jimin, menarik dua potong pizza dari kotaknya dan menyatukannya didalam mulutnya. Jimin kembali tersenyum dengan cara makan Yoongi, lalu menarik tungkai kurus Yoongi dan mulai memijatnya.

"Bagaimana kelasmu yang lain, hyung?"

"Lebih baik dari kelasmu."

Jawaban Yoongi sontak membuat ekspresi Jimin berubah. Sudut bibirnya melengkung turun beberapa senti meski tangannya tidak berhenti memberikan pijatan pada kaki Yoongi. Yoongi mengajar tiga kelas di sekolahnya, dua kelas tingkat tiga dan satu kelas tingkat satu.

"Kau jahat sekali, hyung."

Yoongi menghiraukan rengekan Jimin, mengambil sepotong pizza, menggulungnya menjadi gulungan besar dan menyendokan seluruhnya ke dalam mulut Jimin sampai Jimin kewalahan mengunyah. Jimin awalnya kesal, dirinya ingin berteriak protes kearah Yoongi tetapi diurungkan begitu saja saat Yoongi tertawa dan memperlihatkan gusi manisnya. Perasaan Jimin menghangat begitu saja saat Yoongi tertawa lepas. Setidaknya Min Yoongi yang dikenal sedingin es batu itu bisa mencair dihadapannya, karena dirinya.

.

.

.

Hari-hari Yoongi mengajar disekolah Jimin berjalan normal, meskipun tidak luput dari eksisitensi Jimin disekitarnya. Terkadang namja bantet itu bersikeras menumpang mobil Yoongi agar dapat berangkat bersama ke sekolah. Hal itu juga menjadi alasan yang sama agar bisa pulang bersama Yoongi dengan alasan tidak membawa motornya. Jimin juga sering mengunjungi ruangannya dengan Seokjin. Seokjin sih tenang-tenang saja karena Park Jimin yang membuntuti Min Yoongi layaknya anak ayam bukanlah pemandangan asing lagi bagina. Seokjin sudah menyaksikan kejadian serupa semenjak dirinya mengenal Yoongi dari Namjoon di Senior High.

Saat makan siang, Jimin akan mengajak Yoongi makan bersama, entah itu di ruangannya, di kantin sekolah ataupun diatap sekolah. Jimin akan dengan senang hati mengiyakan kemanapun yang Yoongi mau asal hyung yang berstatus gurunya itu mau makan siang dengannya. Bahkan sekarang pemandangan Jimin yang dekat dengan Yoongi sudah menjadi makanan sehari-hari makhluk di sekolah Jimin. Tidak jarang beberapa siswi disekolah Jimin yang mengidolakannya melempar tatapan sinis, benci dan cemburu bercampur pada satu sorot mata yang sama kepada Yoongi. Kadang Yoongi risih juga, tetapi memang dasar sifat Yoongi yang kelewat cuek membuatnya masa bodo dengan sikap tidak jelas siswi-siswi itu.

Ada juga beberapa siswa dan siswi yang mengidolakan Yoongi. Tidak jarang Yoongi menemukan surat, coklat, bunga atau sejenisnya diatas meja kerjanya. Ayolah, ada guru baru yang masih muda dan manis mengajar disekolahmu, siapa juga yang akan melewatkan kesempatan menarik perhatian seongsaenim satu ini? Tetapi Yoongi tetaplah Yoongi yang tidak mau repot-repot mengurusi hal itu, sedangkan Jimin akan selalu marah-marah dengan sikap bocahnya kalau Yoongi menerima pemberian dari entah-siapa-itu dengan santai. Yoongi hanya boleh menerima kado pemberiannya. Dasar bocah posesif!

"Yoongi hyung!"

Jimin mendorong pintu kaca ruangannya, dirinya terlalu sering mengunjungi ruangannya dan Seokjin sampai-sampai tidak perlu repot-repot mengetuk pintu terlebih dahulu. Iris gelapnya mengedar pada ruang kerja Yoongi, "Seokjin hyung, Yoongi hyung dimana?" tanyanya saat tidak menemukan namja mungil berkulit pucat kesayangannya.

Seokjin mengalihkan pandangannya dari layar monitor laptop, terlhat berfikir sebentar dan mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, dia belum kembali sejak jadwal mengajarnya tadi. Mungkin ada urusan sebentar Jim."

Jimin hanya mangut-mangut sok mengerti. Dia ingin makan siang bersama namja gula kesayangannya seperti biasa, bahkan menolak tawaran traktiran Taehyung karena berhasil mengajak sang pujaan hati pergi berkencan, Jeon Jungkook.

Jimin mendudukan dirinya pada kursi kerja Yoongi dan memainkan ponselnya, mencoba menghubungi Yoongi menanyakan dimana posisi seongsaenim muda itu. Namun sudah hampir setengah jam Jimin menunggu, Yoongi belum menunjukan tanda-tanda akan kembali keruangannya. Yoongi bahkan tidak membalas pesannya. Jangankan membalas, dibaca saja tidak. Jimin menarikan jemarinya pada layar touchscreen ponselnya, mengetik nomor ponsel Yoongi yang sudah dihapal diluar kepala.

"Nomor yang anda tuju sedang-"

Jimin segera memutuskan panggilannya dengan Yoongi dan mengerutkan kening aneh. "Hyung, aku cari Yoongi hyung dulu, ya?" Jimin bangkit dari posisinya dan keluar dari ruangan dua guru magang muda itu setelah berpamitan pada Seokjin.

Jimin mencari Yoongi ke seluruh penjuru sekolah yang mungkin dan biasa dikunjungi oleh namja manis itu. Ruang kepala sekolah, kantin, lapangan basket, taman belakang sekolah, parkiran mobil Yoongi, dimanapun. Jimin bahkan sudah kehilangan akal mencari Yoongi.

"Min saem? Aku tadi melihat Hyunseung bersamanya. Mereka mengarah ke atap sekolah."

Rahang Jimin mengeras mendengar jawaban salah seorang murid yang kebetulan lewat. Jang Hyunseung, putra pemilik sekolah yang terkenal dengan kelakuan tanpa moralnya. Murid bermasalah yang namanya sudah terlukis apik pada setiap lembar buku hitam di ruang konseling. Bahkan kepala yayasan sendiri sudah angkat tangan dengan kelakuan putra tunggal sekaligus pewaris mereka. Sial! Apa yang diinginkan si brengsek itu dengan Yoongi?

Bel tanda jam makan siang sudah berbunyi saat Jimin melangkahkan kakinya lebar-lebar menaiki tangga menuju atap sekolah. Tapi apa peduli Jimin? Kesayangannya sedang bersama murid paling brengsek satu sekolah. Tidak ada yang lebih penting daripada memastikan keadaan kesayangannya baik-baik saja.

Jimin mencoba membuka pintu atap yang dikunci dari luar. Sial! Jang Hyunseung sialan! Apa-apaan dirinya mengunci pintu atap dari luar begitu?

DUK DUK DUK

"YOONGI HYUNG! MIN YOONGI KAU DIDALAM?"

Jimin memukulkan kepalan tangannya beberapa kali pada pintu atap, mencoba menggedor sambil meneriakkan nama Yoongi. Samar Jimin dapat mendengar erangan dari balik pintu. Itu suara Yoongi. Empat belas tahun bersama si manis tidak akan membuat Jimin tidak mengenali suara khasnya itu. Suara Yoongi terdengar serak dan lemah. Brengsek, apa yang dilakukan bedebah itu pada Yoongi-nya?

Jimin mencoba mendobrak pintu atap dengan bahunya sambil terus meneriakkan nama Yoongi, menanyakan keadaan hyung kesayangannya. Pada dorongan ketiga, Jimin berhasil mendobrak pintu atap yang memang sudah tua itu. Saat Jimin melangkahkan kakinya melewati pintu yang sudah roboh itu, dirinya seakan kehilangan kata-kata dan ingin menebas habis tubuh Hyunseung itu.

Keadaan Yoonginya benar-benar menyedihkan. Yoongi berlutut dilantai semen dengan wajah yang mengarah ke selangkangan Hyunseung yang sudah menurunkan celananya sebatas paha, surai Yoongi ditarik keras dan terlihat dipaksa mengoral milik Hyunseung. Manik sayunya memerah dan basah, pipinya yang biasa pucat kini memiliki memar dengan bibir membengkak yang robek disudutnya. Bahkan kemeja kerja Yoongi sudah robek disana-sini meskipun masih menempel pada tubuhnya. Oh! Jangan lupakan bercak kemerahan pada sekitar leher dan bahu Yoongi.

"Brengsek.." desis Jimin sambil berjalan kearah Hyunseung.

Hyunseung mengalihkan pandangannya dari Yoongi kearah Jimin dan tersenyum remeh, pangeran berkuda putih Yoongi sudah datang ternyata. "Oh, halo Park Ji-"

BUGH

Jimin menghantamkan tinjunya ke rahang Hyunseung sampai namja itu jatuh tersungkur kebelakang. Selanjutnya, Jimin menduduki dada Hyunseung dan kembali menghantamkan tinjunya ke wajah tampan Hyunseung sambil mengucapkan sumpah-serapah kearah namja dibawah tubuhnya itu. Jimin bahkan menghiraukan teriakan Yoongi yang menyuruhnya berhenti. Jimin seakan buta oleh emosi, menghantam Hyunseung karena telah menyentuh kesayangannya adalah satu-satunya yang ada dipikirannya saat ini.

"J-Jimin, hentikan.. Hentikan!" Yoongi mencoba menarik tubuh kekar Jimin dengan kedua tangannya yang bergetar takut, mencoba memisahkan tubuh Jimin yang sedang menghajar salah satu murid penting di sekolah itu.

Jimin mengalihkan pandangannya kearah Yoongi dan sorot matanya langsung melembut saat melihat keadaan Yoongi yang benar-benar berantakan. Jimin rasanya ingin menangis saat mengetahui dirinya gagal melindungi namja yang paling disayanginya itu. Meskipun Jimin belum puas menghajar si brengsek Hyunseung yang sudah terkapar babak belur, ia segera menyingkir dan menarik Yoongi kedalam pelukannya.

Tangis Yoongi pecah, Jimin merasakan lengan bergetar Yoongi memeluknya erat dan meremas seragam sekolahnya dibagian punggung. Jimin mengecupi puncak kepala Yoongi berulang-ulang, sebelah tangannya mengusap surai dan punggung Yoongi bergantian dan yang lainnya memeluk erat pinggang Yoongi.

"Aku sudah disini, hyung. Kau sudah aman.."

Jimin terus membisikan kalimat menenangkan kepada Yoongi. Beharap hyung manisnya berhenti bergetar dan ketakutan. Mereka tetap pada posisi yang sama, sampai isakan Yoongi mereda, mereka bahkan menghiraukan keberadaan Hyunseung yang berada diantara mereka.

"Sudah selesai drama kalian?" Hyunseung meludahkan darah dari mulutnya dan mencoba mendudukan dirinya. Sial, pukulan Jimin cukup telak juga.

Jimin membalik tubuhnya, menatap nyalang pada Hyunseung dengan sebelah tangan yang masih memeluk pinggang Yoongi posesif. Yoongi sendiri menyembunyikan tubuhnya dibalik punggung Jimin, masih takut untuk melihat sosok yang melakukan kekerasan dan hampir melecehkan dirinya beberapa saat lalu. "Enyahlah Jang Hyunseung."

Hyunseung tersenyum miring, lalu melangkahkan kaki panjangnya keluar atap. "Kau tau, ternyata Min seongsaenim rasanya manis juga."

"Bajingan.." Jimin menggeram, kalau saja bukan remasan Yoongi pada seragamnya menahanya, dia akan mengejar Hyunseung dan memberikan beberapa pukulan lagi pada makhluk tak bermoral itu.

"P-Pulang, aku mau pulang Jim."

Suara Yoongi terdengar begitu putus asa yang membuat Jimin kembali merasa gagal melindungi hyung kesayangannya. Jimin melepaskan blazernya, memakaikannya pada Yoongi, dan memberikan kecupan sayangnya ke kening Yoongi, "Kita pulang, hyungie."

.

.

.

Jimin mendudukan Yoongi di ranjangnya, lalu menyiapkan baju ganti untuk Yoongi. Yoongi hanya mengeratkan blazer Jimin yang masih dipakainya dan memperhatikan setiap gerak gerik Jimin. Tubuhnya masih bergetar meskipun sudah tidak seheboh tadi. Pelukan dan kecupan Jimin cukup ampun untuk menenangkannya, membuatnya merasa terlindungi.

"Kau mau mandi, hyung?" Jimin mengusap pipi Yoongi yang memar. Sial, apa Jang Hyunseung itu memukul Yoongi?

Yoongi menggeleng, "Aku mau tidur."

Jimin hanya mengiyakan, dan menggantikan baju Yoongi karena yang lebih tua terlihat tidak mau bergerak sedikit pun. Sedikit mendesis tajam saat melihat noda kemerahan pada leher dan bahu Yoongi. Setelah Jimin selesai menggantikan pakaian Yoongi, Jimin membaringkan tubuh Yoongi dan menyelimutinya sebatas leher.

"Selamat tidur, hyungie."

Jimin mengecup kening Yoongi, lalu beranjak meninggalkan Yoongi agar si manis dapat mengistirahatkan tubuhnya dengan baik. Yoongi menarik seragam sekolah Jimin, "J-Jangan tinggalkan aku, Jimin."

Jimin mengurungkan niatnya untuk meninggalkan Yoongi sendirian. Dirinya ikut masuk kedalam selimut Yoongi dan menarik tubuh mungil Yoongi kedalam pelukannya, menjadikan sebelah lengannya sebagai bantalan Yoongi. "Aku disini, hyung. Aku tidak akan meninggalkanmu," bisik Jimin lembut.

Yoongi menyamankan posisinya pada pelukan Jimin lalu memejamkan matanya, mencoba mengistirahatkan tubuhnya dalam dekapan hangat si bocah bantet. Jimin hanya diam saja saat merasakan nafas Yoongi pada lehernya mulai stabil, mungkin Yoongi harus menjelaskan banyak hal padanya saat bangun nanti.

.

.

.

TBC

.

.

.

INFIRES !

Annyeong semuanyaaaaaa, syubsyubchim balik lagi bawain updatean baru. Pertama-tama, syubchim mau minta maaf kalo updateannya lama, ini sengaja syubchim panjangin atas balasan penantian yang terjadi. Kedua, maaf kalo udah nunggu lama tapi isinya malah ga sesuai dengan harapan, semacam alur kecepetan atau alurnya malah lari(._.). Ketiga, typos (hehe) soalnya syubchim gasempet baca ulang. Keempat, syubchim bukan orang yang menjalankan puasa, jadi maaf kalo misalnya ada isi cerita yang bertentangn bagi yang menjalankan. Kelima, semangat puasanya bagi yang menjalankan.

Disini syubchim mau tegasin, pas Jimin nembak Yoongi diumur tiga belas tahun, Yoongi belum nerima Jimin, tapi dalam sudut pandang Jimin dia sama Yoongi itu udah pacaran. Syubchim juga merasa aneh kok anak umur tiga belas tahun pacaran hehe, makanya syubchim cepetin alurnya. Cuma ya emng Jimin bocah mesum kurang ajar jadi mikirnya udah pacaran aja sama Yoongi.

Maaf juga kalo hitungan tahunnya ga tepat atau ada kesalahan dengan alur waktunya. Soalnya syubchim udah ga sekolah lagi jadi udah lupa umur berapa kelas berapa (wkwkwk) padahal baru lulus tahun lalu juga. Dan tolong jangan membenci cast Hyunseung disini ya, syubchim hanya meminjam nama Hyunseung karena dia termaksud bias syubchim berparas bangshad.

TERUS MAKASIH BANGET YANG UDAH REPOT REPOT MAU NINGGALIN REVIEW, FAVORITE DAN FOLLOW. APALAGI YANG REVIEWNYA PANJANG BANGET KAYA KERETA API. ITU MOOD BOOSTER BANGET TAU NGAK SIHHHH! NGEGEMESIN BUAT SYUBCHIM JADI SENYUM-SENYUM SENDIRI. APALAGI PAS SYUBCHIM DINOTIS BEBERAPA SENPAI FFN (apaan dah). POKOKNYA SYUBCHIM SENENG DAN TERHARU BANGET ATAS DUKUNGAN YANG KALIAN KASIH, JADI MAKIN SEMANGAT NGETIKNYA MESKIPUN SIBUK.

Terakhir, makasih banget yang udah ngerelain luangin waktunya buat ngebaca fanfic gajelas ini, apalagi sampai meninggalkan review (bow 90 degrees).

Terima Kasih.

Salam, INFIRES !