I'm Not Four Years Old Anymore, Hyung!

.

Author : syubsyubchim

.

Cast :

Park Jimin X Min Yoongi

Slight!BTS

.

Rate : M

.

NOTE :

YAOI! BOYXBOY! TYPOs! Review Juseyo


.

.

.

Yoongi menggeliatkan tubuhnya dan menerjap beberapa kali. Merasa tidak ada lengan Jimin yang lingkar di tubuhnya, Yoongi meraba sebelah kasurnya. "Jimin.." Yoongi memanggil pelan, berharap Jimin tidak meninggalkannya sendirian. Merasa tidak mendapatkan jawaban, Yoongi mencoba memanggil Jimin sekali lagi, "Jimin.."

Yoongi menoleh saat pintu kamar mandi terbuka, menampakkan Jimin dengan surai hitamnya yang meneteskan air. "Mencariku, hyungie?" Jimin mengusak rambut basahnya dengan handuk kecil yang menggantung di lehernya.

Yoongi hanya mengangguk, "Jangan tinggalkan aku sendirian."

Jimin hanya tersenyum kecil dan mengangguk. Yoongi masih dalam mode shocknya sepertinya. Jimin mendudukan diri disamping ranjang Yoongi dan mengusap pelan memar di pipi pucat yang lebih tua, takut menyakiti kesayangannya. Jimin mendesis tajam saat wajah Hyunseung kembali terlintas dibenaknya. "Apa masih sakit?"

Yoongi mengangguk pelan. Hyunseung sempat menampar pipi pucat Yoongi beberapa kali saat Yoongi memberontak. "Mau menceritakannya padaku?" Jimin kembali bertanya dengan nada lembut. Yoongi menggeleng pelan, "A-Aku.. Mungkin nanti Jimin."

Jimin mengangguk mengerti, ia tidak ingin mendesak Yoongi, Jimin akan menunggu sampai Yoongi siap menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Dan kalau Yoongi tidak juga membuka suara mungkin Jimin akan menghajar makhluk tidak bermoral itu sekali lagi dan memaksanya untuk menjelaskan hal keji apa yang telah ia perbuat kepada Yoongi.

"Keberatan menemaniku ke Busan besok?"

Yoongi mengerutkan alisnya bingung. Kenapa Jimin tiba-tiba ingin ke Busan? Memang, besok adalah hari Sabtu dan Yoongi tidak punya jadwal apa-apa, tapi tetap saja angin apa yang membuat Jimin tiba-tiba ingin ke Busan.

Jimin terkekeh kecil melihat ekspresi bingung Yoongi, sebelah tangannya dibawa mengusak rambut Yoongi, "Berlibur, hyungie. Sepertinya aku mulai melihat kerutan di wajahmu karena mengajar di kelasku." Sedikit menggoda Yoongi tidak ada salahnya, 'kan?

"YA!" Yoongi menggembungkan pipinya kesal, melepaskan tangan Jimin yang mengusak rambutnya, "Aku tidak menua secepat itu!"

Dan malam itu mereka lewati dengan Jimin yang tidak bosan-bosannya menggoda Yoongi dan diakhiri dengan Yoongi yang mengusir Jimin kembali ke rumahnya,. Meskipun Jimin menolak mati-matian tetapi ancaman Yoongi cukup ampuh untuk membuatnya melangkahkan kaki dengan berat hati kembali ke rumahnya. "Pulang atau tidak ada liburan ke Busan besok," begitulah kira-kira ancaman Yoongi. Dasar naif, padahal siapa coba tadi yang minta ditemani dan jangan ditinggalkan.

.

.

.

Pagi itu, Jimin sudah rapi dengan kaos hitam, jeans biru kesayangannya dan juga ransel yang berisi perlengkapan mereka selama di Busan nanti. Jimin berencana mengajak Yoongi menginap semalam di Busan, atau setidaknya bermain air di pantai Busan seharian.

"Putri tidur Chimchim masih belum bangun, eoh?"

Jimin sedikit berdecak saat melihat Yoongi masih bergelung nyaman didalam selimut tebalnya. Wajah pucat Yoongi mengintip lucu dari dalam selimutnya yang menambah kesan menggemaskan pada namja berumur dua puluh tiga tahun itu. Jimin mendekat menghampiri ranjang Yoongi, mengecup bibir Yoongi dan berbisik, "Selamat pagi putri tidur Chimchim."

Yoongi hanya menggeliat sebentar dan selanjutnya menyembunyikan seluruh tubuhnya didalam selimut. Jimin benar-benar menggangu tidur cantiknya di hari libur. Lupakan liburan ke Busan atau wajahnya yang memiliki kerutan karena mengajar di kelas Jimin. Tidur adalah hal paling penting saat ini.

Jimin hanya menghela nafas melihat kelakuan hyung gulanya. Iseng, Jimin menyelipkan kedua lengannya dibawah tubuh Yoongi dan mengangkat tubuh mungil itu ala ala bridal style yang sukses menimbulkan pekikan kaget dari Yoongi.

"YA! YA! Park Jimin apa yang kau lakukan?! Turunkan aku!"

Yoongi terus memberontak yang membuat Jimin semakin mengeratkan pegangannya pada tubuh Yoongi "Hey putri tidur Chimchim jangan banyak bergerak, nanti jatuh."

"Siapa yang kau panggil putri, huh?!" Yoongi berhenti memberontak dan menatap nyalang kearah Jimin. Meskipun sudah dipanggil dengan panggilan yang sama selama bertahun-tahun, tetap saja Yoongi tidak suka dan tidak terbiasa dengan panggilan 'putri tidur Chimchim'.

"Siapa lagi?" Jimin mendekatkan wajahnya dengan wajah Yoongi sampai hidung mereka bersentuhan. Ia memainkan alisnya naik turun dengan kurang ajarnya, berniat menggoda Yoongi.

"YA! Bocah!" Yoongi meletakan kedua tangannya di bahu Jimin, berusaha mendorong bocah yang lebih muda lima tahun darinya menjauh. "Jauhkan wajahmu!"

Jimin hanya terkekeh melihat semburat merona yang muncul dikedua pipi pucat namja gula itu. Sepertinya Yoongi sudah sepenuhnya terbangun. Lalu mendudukan Yoongi kembali ke tempat tidur. "Kau bisa mandi sendiri kan, hyung? Atau perlu aku mandikan?" Jimin kembali mengeluarkan senyum miring mesum menyebalkannya.

PUK!

Dengan tidak berpri-kebantalan Yoongi menghantam wajah mesum bocah itu dengan bantal tidurnya. "BOCAH MESUM MATI SAJA KAU!"

.

.

.

Setelah berpamitan dengan orangtua Yoongi, kedua teman masa kecil itu pun memulai rencana yang sudah Jimin buat. Mereka berangkat cukup pagi dari Seoul karena Jimin bilang ingin menghabiskan seharian penuh bermain dengan Yoongi di laut Busan. Yoongi hanya mengguman 'terserah' dan membiarkan bocah bantet itu menyetir mobil pick-up yang dipinjam dari haraboji yang tinggal didepan rumah mereka. Meskipun Jimin belum genap dua puluh tahun, tapi Jimin sempat belajar menyetir dan bahkan lebih mahir menyetir daripada Yoongi.

Jimin mengajak Yoongi ke salah satu pantai di Busan dan menghabiskan hari mereka disana. Tapi tetap saja, apapun yang dilakukan mereka tidak luput dari Jimin yang menggombali Yoongi.

Seperti saat mereka berlomba untuk membangun istana pasir. Jimin memenangkan duel tidak penting itu karena bocah yang menilai hasil karya mereka mengatakan wajah datar Yoongi yang terlalu seram. Alasan yang terlalu polos yang membuat Yoongi emosi seketika. "Lihat hyung, membangun istana pasir saja aku hebat, apalagi membangun rumah tangga kita kelak" Jimin menggombali Yoongi dan mencolek dagu si pucat yang dihadiahi dengan lemparan pasir dari yang lebih tua. Selanjutnya, namja bantet itu berteriak-teriak perih saat matanya kemasukan pasir. "Rasakan! Dasar bocah sialan!"

Atau saat Yoongi dan Jimin menikmati dinginnya semangka setelah makan siang. Yoongi berkali-kali memuja nikmatnya saat buah yang mereka makan menyejukan dirinya dihari yang terik. "Mungkin semangka bosa menyejukan tubuhku, hyung. Tapi hanya dirimu yang bisa menyejukan hatiku." Dan lagi-lagi Yoongi memberikan tepukan penuh kasih sayang di kepala yang lebih muda. "Enyahlah kau, bocah!"

Sore itu mereka lewati dengan bermain air dipinggir pantai yang awalnya ditentang keras oleh Yoongi. Tapi saat tubuh mungilnya diangkat dengan begitu mudahnya oleh Jimin dan diceburkan kedalam air, Yoongi tidak punya pilihan lain selain membalas perbuatan Jimin. Dan diakhiri dengan berjalan dipinggir pantai sambil menikmati sunset dengan jemari yang bertaut satu sama lain. Dasar Min Yoongi, awalnya saja menolak, akhirnya luluh juga.

"Setelah ini kita pulang?" Yoongi yang sudah selesai membersihkan dirinya menghampiri Jimin yang sudah rapi didalam mobil. Jimin menggeleng, "Keberatan kalau kita tidur di outdoor hari ini? Ayo berkemah!"

Yoongi hanya mengerutkan alisnya bingung. Berkemah? Terbentur dimana kepala bocah jelek ini?

Jimin terkekeh gemas melihat reaksi lucu yang dikeluarkan hyung kesayangannya. "Aku ingin mengajakmu star gazzing, hyung. Menurut berita malam ini akan menjadi malam terbaik untuk melihat bintang. Aku membawa tenda, kok. Kita bisa membangunnya di perkemahan dekat sini," seolah mengerti dengan kerutan alis Yoongi, Jimin memberikan penjelasan.

Yoongi hanya mengangguk mengiyakan. Melihat bintang bukanlah kegiatan yang buruk. Lagipula sepertinya Jimin sudah mempersiapkan hal ini dengan matang untuknya. Tidak ada salahnya menghargai kerja keras bocah bantet itu, kan?

Jimin mulai menyusun berlapis-lapis selimut tebal pada box dibagian belakang pick-up mereka dengan dua buah bantal dan boneka kumamon kesayangan Yoongi sedemikian rupa nyamannya, lalu mengajak Yoongi untuk berbaring bersamanya dengan selapis selimut yang menutupi tubuh keduanya.

"Kau mengambil Kumamon tanpa sepengetahuanku?" Yoongi mendelik tajam kearah Jimin saat Jimin menyerahkan boneka kesayangannya padanya. Jimin dengan santainya mengangguk, lalu menarik yang lebih tua kedalam dekapannya. Dan bukan Yoongi namanya kalau menerima Jimin tanpa penolakan. Tapi Jimin kelihatan tidak mau melepaskan tubuh mungilnya, jadi Yoongi hanya mendengus kesal dan menyamankan tubuh mungilnya didalam lengan Jimin.

"Kau kenapa?" Yoongi membuka suara terlebih dahulu. Kalau Jimin sudah dalam mode seperti ini, pasti ada yang menggangu pikiran bocah jelek yang berkapasitas minim itu. Jimin menggeleng, "Bukan aku," lalu membawa Yoongi untuk bertemu pandang dengannya. "Aku tidak apa-apa, masalahnya ada padamu, hyung."

Yoongi mengerutkan alis bingung, ia tidak merasa memiliki masalah apapun disini, kenapa namja bantet ini sok tahu seka-

Oh, masalahnya dengan Jang Hyunseung.

Yoongi mengalihkan pandangannya, menolak untuk bertemu pandang dengan Jimin. Entahlah, Yoongi sendiri bingung, merasa takut dan cemas kalau Jimin sudah menyinggung soal masalah yang satu ini.

"Tidak berniat menceritakannya?"

Jimin mengusap surai Yoongi, mencoba menenangkan dan memberikan kepercayaan kepada yang lebih tua. "Kau tahu kan hyung, aku akan melindungimu. Aku sudah bukan bocah berumur empat tahun lagi," bibir Jimin menyunggingkan senyum yang sangat menenangkan.

Perlahan Yoongi mengangguk, mempersiapkan dirinya untuk bercerita pada Jimin. Bocah itu, entah bagaimana caranya Yoongi merasa Jimin akan melindunginya. Tidak peduli apapun yang terjadi atau apapun yang harus dikorbankan.

Yoongi mengajak Jimin mendudukan diri mereka dan bersandar badan mobil pick-up tersebut. "Hyunseung, dia muridku seperti yang kau ketahui."

.

.

.

Yoongi berjalan keluar dari kelas 3-1 saat jam pelajarannya selesai. Saat ini sedang waktu makan siang dan ia meminta dibuatkan bekal pada Seokjin semalam, cacing-cacing diperutnya sudah berlomba-lomba mengeluarkan bunyi aneh didalam sana, tentu saja Yoongi ingin cepat-cepat sampai ke ruangannya dan menagih makan siang dari Seokjin.

Tapi sepertinya cacing-cacing diperutnya harus menunggu karena salah seorang muridnya, Jang Hyunseung menghampirinya. Awalnya Hyunseung masih mengobrol ringan dengan Yoongi, dan Yoongi pikir anak ini lumayan menyenangkan dari caranya berbicara. Tetapi saat mereka melewati sudut yang sepi, Hyunseung menarik -menyeret- Yoongi dengan kasar ke arah atap sekolah.

Yoongi memberontak awalnya, bahkan sempat berteriak sebelum Hyunseung dengan begitu lancang menampar pipi pucatnya. Guru muda itu terkejut, terdiam mengikuti tarikan kasar murid kurang ajarnya. Hyunseung menarik Yoongi keatap sekolah dan menguncinya dari dalam. Yoongi bahkan terlalu takut untuk mengangkat kepalanya saat ini, ia hanya menunduk menatap pantofelnya dan mencoba melangkah mundur.

Yoongi kembali memberontak saat Hyunseung mendorong tubuh mungilnya kearah dinding disebelah pintu dan mengurung dirinya diantara kedua lengannya.

Hyunseung menarik senyum miringnya, membawa sebelah tangannya mengusap bibir Yoongi yang bergetar ketakutan, "Jadi, Min saem, aku penasaran dengan rasa bibirmu sejak pertama kali kau masuk kekelasku."

Yoongi dapat melihat tatapan merendahkan yang menertawakan dirinya dari manik Hyunseung, tapi saat ini Yoongi benar-benar takut untuk melawan. Dirinya sempat mendengar rumor tentang reputasi Hyunseung yang benar-benar buruk. Bahkan Yoongi tidak bisa mendeskripsikan seberapa buruk 'benar-benar' yang dibicarakan guru-guru lainnya.

Tanpa menunggu jawaban dari Yoongi, Hyunseung langsung mempertemukan bibirnya dengan bibir Yoongi yang membuat si mungil meronta kasar. Yoongi membawa kedua kepalan tangannya memukul erat kearah dada Hyunseung yang berakhir dengan cengkraman erat pada telapak tangannya dikunci didepan dadanya sendiri.

Yoongi takut, sungguh, apalagi saat Hyunseung meminta akses lebih dengan mengigit bibir bawahnya. Yoongi bahkan bisa merasakan aroma amis darah yang ikut masuk saat Hyunseung melesakan lidahnya kedalam mulut Yoongi. Saat merasa Yoongi mulai kewalahan dengan ciumannya, Hyunseung menyudahi ciuman paksanya dengan jilatan pada bibir Yoongi.

Dengan siulan kurang ajar, Hyunseung mengusap bibir basah Yoongi, "Ternyata bibirmu lebih manis dari yang kukira, saem."

"L-Lepaskan aku, brengsek!" Yoongi kembali merontakan tangannya yang digenggam erat oleh Hyunseung.

Hyunseung kembali mengeluarkan seringainya, "Lepas?" dan mencengram pergelangan Yoongi lebih erat lagi yang menghasilkan erangan kesakitan dari sang guru muda. "Maaf, aku belum puas menikmati dirimu."

Selanjutnya Hyunseung melesakan wajahnya kearah leher Yoongi, menghirup aroma yang menguar dari sana dan menjilatnya, "Aku ingin menandai ini, boleh kan?" lalu mulai menandai leher si namja gula.

Yoongi menggigit bibir bawahnya, nafasnya putus-putus. Tanpa sadar airmatanya mengalir, Yoongi terisak pelan ketakutan. "J-Jiminhh.." Yoongi mendesahkan nama Jimin, dirinya ingin Jimin datang dan menyelamatkannya saat ini. Memeluknya, membisikan kata menenangkan dan memberikan kecupan kupu-kupu pada puncak kepalanya.

Setelah Hyunseung menandai lehernya, Yoongi tidak ingin mengingat apa-apa lagi. Bahkan Yoongi tidak ingin mengingat sedikitpun tentang kejadian hari itu. Saat Hyunsung menurunkan celananya, menyuruh Yoongi berjongkok didepannya dan memaksanya mengoral miliknya. Saat Hyunsung menarik kasar surainya dan membentaknya. Saat Hyunseung memperlakukannya dengan begitu kasar. Saat Hyunseung melecehkannya.

Yang Yoongi tahu, Yoongi ingin Jimin datang saat itu. Dan Jimin benar-benar datang meskipun terlambat, menghajar Hyunseung untuknya dan memeluk tubuh bergetarnya. Menenangkan Yoongi yang begitu takut saat itu.

.

.

.

Jimin menarik tubuh Yoongi yang kembali bergetar, "Maaf" Jimin mengecup puncak kepala Yoongi, mencoba menenangkan yang lebih tua.

.

"Maaf karena aku tidak datang lebih cepat."

.

"Maaf karena aku tidak menjemputmu di kelas."

.

"Maaf karena kau harus mengalami hal seburuk itu."

.

"Maaf karena aku gagal melindungimu."

.

"Berhenti minta maaf, Jimin. Itu bukan salahmu. Terima kasih karena sudah menyelamatkanku waktu itu."

.

Jimin menyatukan keningnya dengan Yoongi, menggesekan kedua hidung mereka dan menatap lurus kedalam iris karamel Yoongi. Yoongi menerima semua perlakuan manis Jimin yang selalu mampu menangkannya dengan mata terpejam, dan membuka matanya saat Jimin menyatukan kening mereka.

"Min Yoongi."

Jimin mengangkup kedua pipi Yoongi dan mengusapnya lembut menggunakan ibu jarinya. "Kau tahu, seharusnya hari ini adalah hari jadi kita yang keempat."

Yoongi mengerutkan alisnya dan hampir mengeluarkan protes atas klaim Jimin, namun Jimin memotong protesnya terlebih dahulu, "Aku tahu, kita tidak pernah berhubungan secara resmi, oleh karena itu hari ini aku akan melakukannya sekali lagi. Aku akan menyatakan perasaanku sekali lagi, mendeskripsikan seberapa besar aku mencintaimu, setulus apa aku menyayangimu dan sekuat apa keinginanku untuk mengklaim dirimu sebagai milikku."

Yoongi menunggu dan Jimin menarik nafas dalam, menjauhkan wajah mereka dengan masih menangkup pipi Yoongi. "Min Yoongi, maukah kau menjadi kekasihku?"

Yoongi hanya berkedip, ia tidak tahu harus merespon bagaimana. Dirinya hanya terlalu tidak siap dengan pernyataan cinta Jimin kali ini. Begitu serius dan tulus, Yoongi dapat merasakannya. Seperti terhipnotis dengan tatapan Jimin, perlahan Yoongi mengangguk, membuat namja didepannya tersenyum senang dan memeluk Yoongi erat, menggumamkan 'Terima Kasih' dan 'Aku Mencintaimu' banyak kali.

Yoongi ikut tersenyum dan membalas pelukan Jimin. Dirinya merasa hangat mendadak. Perlahan, Yoongi ikut membisikan 'Aku juga mencintaimu'. Sepertinya ini saat yang tepat untuk jujur pada dirinya sendiri. Yoongi lelah membohongi perasaannya dan menolak Jimin berkali-kali.

Dan Jimin? Jangan tanyakan bagaimana perasaan Jimin saat ini. Anggukan Yoongi saja sudah lebih dari cukup untuknya, apalagi saat Yoongi membalas pernyataan cintanya.

Jimin melonggarkan pelukannya dnegan Yoongi, kembali membawa iris karamel itu bertemu dengan manik gelapnya. "Hyung, sekali lagi. Kumohon."

"Aku juga mencintaimu."

"Lagi."

"Aku mencintaimu, Park Jimin."

"Lagi, hyungie."

"Mati saja kau, bocah!"

Jimin terkekeh pelan, Yoonginya tetap Yoongi yang kaku dan galak. Kemudian mengecup bibir Yoongi dan berbisik, "Terima Kasih, hyung. Aku mencintaimu."

Malam itu, mereka habiskan dengan saling berpelukan didalam selimut tebal yang Jimin bawa dibawah hamparan bintang. Berbagi kehangatan lewat sentuhan kulit masing-masing dengan tambahan kecupan ringan Jimin untuk Yoongi. Mereka bahkan lupa dengan ajakan 'berkemah' Jimin dan terlelap didalam dekapan lengan satu sama lain. Dan malam itu Min Yoongi resmi menjadi milik Park Jimin yang disetujui oleh kedua belah pihak.

.

.

.

Hari Senin kembali datang, dan Jimin menjalankan rutinitasnya seperti biasa, tidak banyak yang berubah meskipun mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih sekarang. Membangunkan Yoongi, sarapan bersama keluarga Min, merengek untuk menumpang di mobil Yoongi. Tetapi mungkin Jimin kurang beruntung hari ini karena jadwal mengajar Yoongi baru dimulai pukul sepuluh pagi yang artinya Yoongi tidak akan berangkat kesekolah pukul tujuh pagi bersama Jimin seperti biasa. Jadi hari ini Jimin kembali mengendarai motor kesayangannya ke sekolah.

Setelah menghabiskan sarapannya, Yoongi mengantar Jimin sampai ke depan pintu. Sebenarnya Yoongi tidak mau, tapi daripada mendengar rengekan Jimin yang berkelanjutan dan juga ancaman membolosnya, jadi Yoongi dengan ogah-ogahan mengantarkan kekasih bantetnya sampai kedepan pintu. Ah, mereka sudah menjadi sepasang kekasih sekarang.

"Ciuman perpisahan untukku mana, hyung?" Jimin memajukan bibirnya beberapa senti dan memasang pose seimut mungkin, yang membuat Yoongi mengerutkan alis tidak suka dan memandang penuh cela kearahnya. "Cium tembok saja sana!"

Jimin hanya mendengus kesal. Untung manis, kalau tidak mana sudi Jimin-

-eh, ralat, Jimin bahkan sudi melakukan apapun untung hyungnya yang satu ini.

"Baiklah, aku pergi dulu Yoongi hyung." Jimin mencuri sebuah kecupan dipipi dari Yoongi yang menghasilkan pekikan semangat ibu Yoongi dari arah belakang. Oh, ternyata wanita paruh baya yang selalu mengidamkan Jimin menjadi menantunya sedang mengintip anaknya penasaran.

Yoongi hanya memutar bola matanya malas, "Hm, hati-hati, Jim."

.

.

.

Jimin melepas helmnya setelah memarkirkan motornya diantara motor-motor siswa lainnya. Dia datang cukup telat yang membuatnya kesulitan mendapatkan tempat parkir dan harus tiba dikelasnya dalam lima menit kalau tidak mau telat.

Jimin melangkah cepat menyusuri lapangan parkir menuju areal sekolah, namun langkahnya terhenti saat dirinya dihadang oleh beberapa orang bertubuh lebih besar darinya. Seperti berandalan jalanan, tapi mengenakan seragam yang sama dengan dirinya. Jimin menaikan sebelah alisnya, tidak berniat bertanya atau duluan mengeluarkan suaranya.

"Tck!" Salah satu dari berandalan itu meludah kearah Jimin. Tidak mengenainya, tapi tersirat maksud tidak bersahabat didalamnya. "Habisi dia."

Dan yang Jimin rasakan selanjutnya adalah hantaman cukup keras pada perutnya yang membuatnya jatuh tersungkur, semuanya terjadi begitu cepat, meskipun Jimin memperlajari bela diri tapi dikeroyok secara tiba-tiba membuatnya tidak bisa berbuat banyak. Jimin mencoba melawan tapi berakhir dengan dirinya kembali tersungkur dilantai dengan beberapa lebam.

Jimin hanya bisa menggulung dirinya dan melindungi kepalanya dengan kedua tangannya, mencoba menahan seluruh pukulan dan tendangan dari berandalan diatasnya. Meskipun ia dapat merasakan rasa darah dari indra pengecapnya, tetapi sakit fisik yang dihasilkan dari hantaman berandalan itu membuat tubuhnya kebas dan tidak merasakan sakit lagi.

Pandangannya memburam, tapi sekuat tenaga Jimin menjaga kesadarannya. Pukulan terakhir dirasakan Jimin dibagian punggungnya yang membuatnya kehilangan pengelihatannya dan juga kesadarannya.

.

.

.

TBC

.

.

.

INFIRES!

Annyeong syubsyubchim is back dengan updatean terbaru. Maaf kalo pendek banget, soalnya sempat kehilangan feel untuk menulis, meskipun kembali lagi setelah beberapa hari. Tapi aku akan usahakan untuk melakukan fast update untuk updatean selanjutnya karena udah ada ide ceritanya. Oh iya, perihal penname, aku memutuskan untuk tidak mengganti pennameku. Aku minta maaf untuk semua reader syubchim dan juga syubchim-nimnya sendiri kalau aku mendadak egois seperti ini. Dan juga aku memutuskan untuk tidak memperdulikan apa kata guest dengan nama Yoongi itu lagi.

Lalu di updatean sebelumnya, sebenarnya yang berniat aku hapus hanya postingan ANNOUNCEMENT saja, bukan the entire story, kenapa semua nangkepnya aku bakalan hapus fanfic ini (heheee).

Aku mau berterimakasih untuk semua yang menunjukan dukungannya saat aku memposting ANNOUNCEMENT. Sungguh aku merasa sangat tersentuh dan merasa begitu dihargai dengan semua dukungan dan pembelaan yang kalian berikan, oleh karena itu aku memutuskan untuk tidak menghapus postingan ANNOUNCEMENT. Bukan berniat menjadi drama queen atau attention seeker, tetapi kalau aku menghapus postingan itu, maka semua review pada chapter itu juga akan terhapus yang berarti dukungan kalian terhapus begitu saja. Dukungan kalian itu sumber semangat loh buat aku, makanya aku berniat untuk tetap membiarkannya dan menghargai setiap support tersebut.

Terus makasih juga semua buat readers yang udah follow, favorite dan review. Kalau aku melakukan balasan review ada yang keberatan? Tapi balasan reviewnya di setiap akhir chapter. Soalnya kalian terlalu imut to be true (gemes).

Terakhir, makasih banget yang udah ngerelain luangin waktunya buat ngebaca fanfic gajelas ini (bow 90 degrees).

Terima Kasih.

Salam, INFIRES !