I'm Not Four Years Old Anymore, Hyung!

.

Author : syubsyubchim

.

Cast :

Park Jimin X Min Yoongi

Slight!BTS

.

Rate : M

.

NOTE :

YAOI! BOYXBOY! TYPOs! Review Juseyo


.

.

.

Yoongi melajukan mobilnya dengan kalap saat Seokjin menghubunginya, mengabarkan Jimin ditemukan babak belur tidak sadarkan diri di lapangan parkir dan dilarikan kerumah sakit. Pikirannya kacau saat ini, hanya ada satu nama pelaku yang berputar dipikirannya. Hyunseung, siapa lagi kalau bukan berandalan tidak bermoral satu itu?

Yoongi meremas roda kemudi, rasa kesal, khawatir dan bersalah memenuhi dirinya. Kalau Jimin tidak menyelamatkannya hari itu, ia pasti tidak akan babak belur hari ini. Rasanya Yoongi ingin menangis saat ini.

Yoongi keluar dari mobilnya dengan terburu-buru setelah memarkirkannya asal. Saat Yoongi membuka pintu ruang rawat Jimin dan melihat kekasihnya terbaring dengan perban yang membalut tubuhnya dibeberapa bagian. Yoongi menghela nafas lega saat melihat Jimin sudah sadarkan diri dan mendudukan dirinya menghadap keluar jendela.

"Jimin.."

Yoongi memanggil pelan, menghampiri Jimin dan mendudukan dirinya dipinggir ranjang Jimin. Yang dipanggil menoleh dan memasang senyum menenangkan melihat ekspresi khawatir yang begitu jelas pada wajah Yoongi. "Ya, hyungie?"

Yoongi mengusap lembut memar dipipi Jimin, irisnya kembali memanas, "Apa ini sakit?"

Jimin hanya menggeleng, meskipun sebenarnya pukulan-pukulan yang diterimanya tidak bisa dibilang pelan, tapi dirinya tidak mau membuat Yoongi semakin khawatir. "Maaf.." suara Yoongi mulai serak. Sungguh, sekasar apapun Yoongi memperlakukan Jimin, Yoongi tetap tidak akan tega melihat kondisi Jimin yang seperti ini. Apalagi penyebab utama wajah berantakan Jimin adalah dirinya.

Jimin menarik Yoongi kedalam dekapannya dan mengusap surai kekasihnya, mencoba menenangkan Yoongi, "Tidak, hyung. Jangan minta maaf karena ini bukan salahmu." Yoongi ikut melingkarkan lengannya dipinggang Jimin, "Tidak, Jimin. Ini salahku. Kalau kau tidak menolongku waktu itu, kalau kau tidak menghajar Hyunseung untukku, kalau-"

"Sstt..." Jimin meletakan telunjuknya diatas bibir Yoongi. "Kalau aku tidak datang waktu itu, hal yang lebih buruk akan terjadi padamu, hyung." Melihat namja didekapannya mulai tenang, Jimin menjauhkan telunjuknya dari bibir Yoongi. "Lihat, aku baik-baik saja sekarang."

Yoongi mengerut lucu, baik-baik apanya, ini adalah kondisi terburuk Jimin dalam empat belas tahun mereka bersama. "Kau tidak baik-baik saja, bocah bodoh!"

Jimin meringis, baru beberapa detik lalu Yoongi terlihat begitu lembut dan khawatir padanya, tetapi sekarang kalimat pedas dan tajam dengan nada seruan kembali Yoongi lontarkan kepadanya. Mungkin hyung manisnya ini benar-benar menderita gangguan psikis tingkat akut. Oh, ingatkan Jimin untuk tidak menyuarakan pikirannya yang satu ini, bisa-bisa Yoongi membencinya setengah mati kalau namja manis itu tau Jimin mengatainya bipolar.

"Baiklah, aku tidak baik-baik saja tapi kau juga harus bekerja, hyungie." Jimin mencubit gemas hidung Yoongi. Bagaimana bisa guru muda ini melupakan magang yang akan menjadi penentu kelulusannya?

Yoongi menepuk keningnya pelan, lalu melirik jam tangannya, jam sembilan lewat tiga puluh empat, Yoongi tidak akan sempat kembali kerumahnya untuk sekedar berbenah dengan seragamnya dan mengambil tas kerjanya. "Ini salahmu, aku sudah terlambat sekarang."

Jimin terkekeh pelan, bagaimana bisa ini menjadi salahnya. Dia bahkan hanya seorang korban yang wajahnya babak belur karena berandalan tidak bermoral yang menghajarnya. Oh, lebih tepatnya berandalan bayaran si brengsek Hyunseung. Mengingat Hyunseung, rahang Jimin mengeras, lalu menarik pinggang Yoongi semakin merapat pada tubuhnya, "Tidak, minta izin saja hari ini. Jangan pergi ke sekolah tanpa aku!" titahnya final.

Yoongi mengerutkan alis bingung, siapa tadi yang menyuruhnya pergi ke sekolah? Park Jimin. Dan sekarang siapa yang dengan seenak jidat berkapasitas minim melarangnya pergi ke sekolah? Park Jimin juga. Dasar bocah kurang asupan gizi idiot!

"Memangnya kenapa aku tidak boleh pergi ke sekolah tanpamu, huh?"

Dahi Jimin mengerut tidak suka, menghasilkan beberapa lipatan yang tampak jelas disana. "Kalau murid tidak punya moral itu kembali menyerangmu, bagaimana? Tidak akan ada aku yang bisa melindungimu kali ini. Aku tidak mau kau terluka dan diperlakukan seperti itu untuk kedua kalinya, apalagi oleh orang yang sama."

Jimin mengangkup kedua pipi Yoongi dan menyatukan dahi mereka, "Kau terlalu berharga untukku, Min Yoongi," suara rendah Jimin terdengar begitu menggelitik Yoongi, baik secara fisik maupun batinnya. Oh Tuhan, kenapa Jimin terlihat begitu berbeda saat ini. Yoongi siap meleleh dan luluh kedalam dekapannya untuk yang kesekian kalinya lagi.

Yoongi tersenyum kecil dan ikut menangkup kedua pipi chubby Jimin yang tidak berubah meskipun tubuh namja itu sudah berotot. "Baiklah, biarkan aku meminta izin sebentar dan aku akan menemanimu seharian ini, okay?"

Jimin tidak bisa menahan untuk tidak menarik kedua sudut bibirnya saat ini. Yoongi akan menemaninya seharian, tanpa Jimin minta duluan, tanpa paksaan dari Jimin, murni dari keinginan Yoongi. Tampar Jimin sekarang untuk membuktikan kalau ini bukan mimpi. Yoongi benar-benar akan menemaninya. Oh! Jimin merasa rasa sakit akibat luka memar pada tubuhnya menghilang begitu saja.

"Hyung, kau serius akan menemaniku seharian ini?"

Yoongi mengangguk lucu.

Jimin menerjap pelan.

"Sepertinya aku sudah sembuh, ayo kita pergi kencan!"

"YA! Kau masih harus diperiksa sekali lagi, bocah bodoh!"

.

.

.

Setelah kejadian hari itu, Yoongi tidak pernah membiarkan Jimin mengendarai motornya sendiran lagi kesekolah, bahkan saat Yoongi tidak punya jadwal mengajar Yoongi akan tetap mengantar Jimin sampai sekolah. Jimin sendiri tentu dengan senang hati mendapat fasilitas antar-jemput eksklusif dari kekasihnya. Kan Jimin jadi bisa lebih sering berdua dan bermesraan dengan Yoongi.

Hyunseung, bocah kurang ajar tidak punya moral itu pindah ke luar negeri begitu saja. Tidak ada yang melaporkan perihal dirinya yang melecehkan Yoongi atau membuktikan kejadian yang terjadi pada Jimin adalah ulahnya. Jimin dan Yoongi bukan tipikal makhluk pengadu. Tapi, namja itu menghilang begitu saja. Kabarnya pelanggaran yang dilakukannya sudah terlalu banyak, menyebabkan dirinya tidak bisa diluluskan dari sekolah pada tahun itu, tidak peduli nilainya mencapai skor tertinggi pada semua bidang sekalipun atau statusnya sebagai anak dari donatur terbesar sekaligus pemilik sekolah. Meskipun pada kenyataannya nilai dan sikapnya itu berbanding lurus.

Tentu saja Jimin kesal. Emosinya memuncak dan dirinya bersumpah akan mencari Hyunseung ke 'luar negeri' yang dimaksud dan membalaskan kekesalannya. Tapi hanya dianggap dengan gelengan kecil dan gumaman "Dasar bocah, tidak penting!" dari Yoongi yang membuat Jimin semakin kesal. Tidak sadarkan guru muda itu kalau mereka berdua sama-sama menjadi korban Hyunseung disini? Bahkan luka memar diwajah Jimin belum sepenuhnya menghilang.

Soal hari terindah Jimin karena Yoongi yang bersedia menemaninya seharian tanpa paksaan sama sekali dalam empat belas tahun mereka bersama dihabiskan Jimin dengan menggoda Yoongi habis-habisan. Kerap kali Jimin juga mencuri berbagai kecupan dan lumatan yang menghasilkan rona samar dan umpatan dari yang lebih tua. Yoongi tidak mendaratkan pukulan padanya hari itu karena memar pada tubuhnya, makanya Jimin bisa dengan leluasa mencuri ciuman dari Yoongi. Mungkin Jimin harus sedikit berterima kasih pada pukulan anak buah sewaan Hyunseung. Ingat! Hanya 'sedikit' dan sedikit dengan tanda kutip pada awal dan akhirnya yang Jimin maksud benar-benar-sedikit-jadi-lupakan-saja. Egomu, Park Jimin.

Setelah melakukan check-upnya sekali lagi, Jimin diperbolahkan pulang tetapi dengan beberapa resep dan juga peringatan untuk merawat lukanya. Jimin hanya mengangguk mengiyakan dan menikmati bagaimana ekspresi serius Yoongi yang mendengarkan setiap arahan dari perawat yang mengajarkannya cara mengganti perban dan merawat luka yang benar. Jimin merasa benar-benar dicintai Yoongi saat itu melihat bagaimana Yoongi dengan telaten dan hati-hati mengganti perban lukanya untuk pertama kali saat mereka tiba dirumah. Dan jangan lupa kecupan 'semoga cepat sembuh' yang Yoongi berikan pada lukanya. Oh! Rasanya Jimin ingin mimisan saat itu juga.

.

.

.

Hari-hari Jimin berjalan seperti biasa, dengan hubungannya dan Yoongi yang semakin dekat. Meskipun sekarang Yoongi sering menolak saat Jimin ingin menginap dikamarnya. Wajah Yoongi akan merona parah sampai ketelinganya dan terus mengumpati Jimin. Sedangkan namja yang diumpati hanya melempar tatapan menggoda dengan senyum miring yang terlihat begitu seksi dimata Yoongi dan Yoongi kembali menggumpati senyuman itu.

"Waeyo hyung? Bukankah kita sudah sering tidur bersama, hum?" Jimin melangkahkan kakinya mendekat kearah Yoongi yang semakin berjalan mundur, menghindari jarak yang menyempit diantaranya dan Jimin. "T-Tapi itu kan berbeda!"

"Berbeda?" Seringai Jimin kembali muncul, kali ini dengan melonggarkan dasi seragamnya dan melempar asal blazernya. Jimin mendorong lembut tubuh mungil Yoongi sampai berbaring di ranjangnya. Lalu mengecupi tiap inchi wajah manis itu, dan berakhir dengan menjilat cuping telinga Yoongi. "Maksudmu berbeda bagaimana?"

Bisikan rendah dan hembusan nafas Jimin pada telinganya terasa menggelitik seluruh syaraf tubuhnya dan menghentikan fungsi otak Yoongi sejenak. "J-Jimin.." Yoongi mencicit kecil sambil mencoba mendorong tubuh kekar Jimin yang menindihnya. "K-Kau mau apa?"

Jimin terkekeh gemas. "Menurutmu, hyung?" Jimin kembali berbisik dengan suara rendahnya. Kali ini menurunkan sebelah tangannya menyusup kedalam kaos Yoongi dan mengusap perut datar Yoongi.

Yoongi mendesah tertahan dan segera mengigit bibir bawahnya, mencegah suara-suara aneh keluar dari bibirnya saat tangan Jimin mulai nakal dan merayap makin naik keatas. "J-Jimhhh.." Jantungnya berdetak berantakan, tubuhnya panas dan wajahnya merona. Yoongi meremas seragam sekolah Jimin sambil mendorongnya menjauh, berharap namja yang lebih muda itu memindahkan tubuhnya dari atas tubuh mungil Yoongi.

Merasa puas menggoda sang kekasih, Jimin tersenyum jahil dan menjauhkan tubuhnya, melihat seberapa berantakannya Yoongi saat ini membuat Jimin tersenyum menang. "Memangnya kau berharap aku melakukan apa padamu kalau kita tidur seranjang, hyung?" mengedipkan sebelah matanya nakal kearah Yoongi.

Yoongi merasa wajahnya semakin memerah dan mendorong Jimin sekuat tenaga dari atas tubuhnya sampai terjatuh dari ranjangnya. "YA! Dasar bocah mesum! Aku membencimu!"

.

.

.

Tapi, akhir-akhir ini Jimin jarang pulang bersama Yoongi. Memang terkadang jadwal klub menari Jimin yang sampai malam membuat Yoongi malas menunggu bocah bantet itu sendirian. Kadang Yoongi menunggu Jimin dengan menghabiskan waktunya di lapangan basket sekolah, berlatih bersama beberapa teman lamanya dan adik-adik kelas yang sekarang menjadi muridnya. Kadang Yoongi menunggu Jimin dengan memperhatikan bocah itu menari dari sudut ruangan, menyerahkan handuk dan botol minum saat Jimin menghampirinya sesudah latihan.

Yoongi jadi ingat bagaimana Jimin selalu menunggunya berlatih basket sampai larut malam beberapa tahun lalu, apalagi perihal bocah kurang asupan gizi itu yang cemburu berat pada Zhoumi. Bahkan saat Yoongi berlatih basket dengan Zhoumi yang masih melatih para atlet di sekolahnya, Jimin akan menekuk wajahnya dan mengamit lengan Yoongi posesif dihadapan Zhoumi. Padahal pria tinggi berdarah Chinese itu sudah bertunangan dengan namja mungil seputih tofu, Henry. Dasar kekanakan.

Hari ini, Jimin juga tidak pulang bersama Yoongi, katanya ingin belajar bersama Taehyung di salah satu tempat bimbingan belajar di dekat rumah alien abstrak itu, mengingat ini sudah tahun terakhirnya dan ia akan menjalani ujian akhir beberapa bulan kedepan. Rasanya Jimin si bocah bantet kekanakan yang akan kuliah sebentar lagi terdengar mustahil. Yoongi bahkan masih mengingat dengan jelas bagaimana sosok yang pernah lebih pendek darinya itu merengekkan segala hal pada Yoongi. Oh, kenapa Yoongi mendadak merindukan sosok mungil Jimin kali ini? Padahal Yoongi ingin sekali memusnahkan eksistensi Jimin saat mereka masih kecil dulu. Tolong benturkan kepala Yoongi agar pikirannya kembali normal.

Jimin mengintip dari pintu ruang kerja Yoongi, melihat kekasihnya yang sedang membereskan barang-barangnya dan bersiap pulang. Dengan langkah pelan, Jimin menghampiri Yoongi dan memeluk si manis dari belakang, "Hyungie sayang."

"Jauhkan tubuhmu dan hentikan panggilan menjijikan itu."

Bibir Jimin maju beberapa senti mendengar jawaban sarkastik Yoongi. Tapi memang dasar Jimin yang menjadi masokis semejak mencintai Yoongi, jadi Jimin tidak mengindahkan sarkasme yang dilemparkan kepadanya dan masih memeluk pinggang ramping Yoongi erat, "Aku kangen."

Yoongi memutar tubuhnya kasar, bersamaan dengan bola matanya yang berputar malas. "Kita baru bertemu saat makan siang kalau kau lupa, Park."

Yang menjadi lawan bicaranya hanya mengeluarkan senyuman yang membuat matanya menjadi segaris. "Tetap saja aku merindukanmu. Ayo aku antar ke parkiran, hyung."

"Tidak perlu Ji-"

"Aku memaksa."

Yoongi mengela nafas dan membiarkan Jimin membawa tas kerjanya untuknya. "Hm, terserah.."

Jimin membukakan pintu kemudi untuk Yoongi dan mengecup keningnya sebelum Yoongi masuk kedalam. "Hati-hati dijalan, hyung. Kabari aku kalau sudah sampai rumah."

"Hm.. Kau juga jangan pulang terlalu malam."

"Kau mengkhawatirkanku, hyung?" Jimin memainkan alisnya naik-turun usil, lalu mencolek dagu Yoongi yang mendapat tumbukan keras pada perutnya. "Jangan terlalu percaya diri, bocah."

Setelahnya, Yoongi mengambil tas kerjanya dan menutup pintu mobilnya, lalu menjalankan mobilnya meninggalkan Jimin yang masih melambaikan tangannya seperti bocah bodoh dibelakang sana.

Merasa mobil Yoongi sudah hilang dibalik tikungan, Jimin membalikkan tubuhnya kearah gedung sekolah menemui seorang namja bergigi kelinci. Jeon Jungkook, adik kelas sekaligus teman satu klub menarinya. Hari ini sebenarnya Jimin tidak memiliki janji dengan Taehyung atau bimbingan belajar apapun. Dia hanya punya janji keluar dengan Jungkook yang dirahasiakan dari Yoongi.

"Kookie.." Jimin menepuk bahu Jungkook yang sedang duduk didalam ruang klub, menunggunya. Yang dipanggil menoleh dan menampilkan deretan gigi rapinya, juga gigi kelinci menggemaskan yang merupakan ciri khasnya. "Hyung sudah selesai? Ayo pergi.." dan menarik lengan Jimin kearah gerbang sekolah.

.

.

.

"Aku pulang.." Yoongi melepaskan sepatunya dan menyusunnya di rak seperti biasa. Lalu menemui sang eomma yang sedang bergelut didapur, memeluknya dari belakang dan mengintip dari celah bahu. Nyonya Min mengecup pipi putra tunggalnya, berbisik selamat datang. "Eomma sedang memasak apa?"

"Makanan kesukaan Jimin."

Yoongi mengerut kesal dan melepaskan pelukannya, "Kenapa masakan kesukaan Jimin, sih? Putra eomma kan aku, bukan Jimin." Dan menghentak-hentakan kakinya kesal ke lantai. Sungguh, Yoongi terlihat seperti bocah sepuluh tahun yang tidak dibelikan mainan oleh orangtuanya dan merengek manja di supermarket. Nyonya Min hanya terkekeh kecil, "Tapi dia calon menantu eomma, Yoongie."

Rona samar tercipta di pipi Yoongi, "Y-Yah, baru juga pacaran seminggu, masa sudah di klaim jadi calon menantu, eomma apa-apaan sih." Yoongi memalingkan wajahnya dari sang eomma, bersikap seolah-olah dirinya tidak menyukai pendapat sang ibu tapi Yoongi tidak bisa menghindari kalau ada rasa hangat yang menjalar didalam hatinya. Dan Yoongi benci kalau harus mengakui hal itu.

"Tapi eomma berharap kalian akan menikah secepatnya."

"Ayolah, eomma, Jimin bahkan belum lulus SMA."

"Jimin tidak pulang bersamamu hari ini?" Nyonya Min tidak mengindahkan protesan Yoongi, berdebat dengan anak tunggalnya tidak akan membuahkan hasil, jadi Nyonya Min mencoba mengalihkan topik pembicaraan mereka.

Yoongi menggeleng, mendudukan dirinya di kursi meja makan melihat masakan eommanya yang sudah matang, "Dia ada bimbingan belajar hari ini."

Alis Nyonya Min bertaut bingung, "Bimbingan belajar?" lalu mencoba mengingat kembali, "Sejak kapan anak itu mengikuti bimbingan belajar?"

Yoongi hanya mengangkat bahunya acuh, "Entahlah mungkin baru saja, aku lapar eomma."

.

.

.

Yoongi mengecek ponselnya sambil mengusap rambutnya yang basah, ia baru saja mandi dan meninggalkan ponselnya begitu saja. Tidak ada pesan dari Jimin, tumben sekali bocah itu tidak meributi ponselnya dengan pesan-pesan tidak penting atau rengekan kekanakan karena Yoongi tidak mengirim pesan kepadanya atau mengabarinya sama sekali. Yoongi menyibak gorden kamarnya yang menampilkan langsung jendela kamar Jimin. Ruangan diseberang sana masih gelap, menandakan pemiliknya belum kembali.

Yoongi mengerutkan alisnya bingung, ini sudah jam 9 malam, bimbingan belajar apa yang berlangsung selama lima jam? Atau mungkin bocah bantet itu pergi bermain sebentar dengan Taehyung? Entahlah, Yoongi mencoba tidak memikirkannya, ia masih punya setumpuk kertas hasil ulangan siswa yang masih harus dikoreksinya dan beberapa lagu hasil aransemennya dengan Namjoon yang harus diperiksa kembali.

Yoongi menggeluarkan setumpuk kertas yang dibawanya dari sekolah, merenggangkan otot-ototnya yang diyakini akan kebas nantinya. Selama menjadi guru magang, sebenarnya pekerjaan Yoongi tidak begitu berat, hanya mengajar tiga kelas dan memberikan materi, tugas dan ulangan sesuai dengan kurikulum yang sudah tersedia. Tetapi tetap saja mengecek delapan butir soal teori yang dikerjakan oleh tiga puluh siswa dengan ciri khas mereka masing-masing dapat menjadi hal yang benar-benar membosankan, menyenangkan sekaligus melelahkan disaat yang sama.

Jemari Yoongi terhenti saat kertas ulangan dengan nama Park Jimin muncul, dirinya meneliti satu per satu jawaban Jimin dan hanya empat butir dari delapan butir yang berhasil dijawabnya dengan benar oleh Jimin, itupun dengan penuh belas kasihan yang Yoongi berikan mengingat kekasihnya yang satu ini memiliki kapasitas yang minim di dalam kepalanya.

Tapi, yang membuat alis Yoongi mengerut kesal dan wajahnya yang merona parah adalah Jimin yang menyatakan perasaannya disetiap nomor jawabannya, tidak peduli apa yang ditanyakan, Jimin akan menuliskan 'Park Jimin mencintai Min Yoongi'. Apa-apaan bocah bantet ini, ingin menggoda Yoongi dengan gombalan recehnya, huh?

Dengan pipi yang masih merona, Yoongi menyingkirkan kertas ulangan Jimin dan meraih ponselnya, berniat menghubungi kekasih bocahnya.

.

To : Bocah Kekurangan Asupan Gizi

Ya, sudah pulang?

.

Singkat, padat dan jelas. Yoongi terlalu lelah dan malas mengetik pesan singkat yang sebenarnya dapat diungkapkan intinya dengan dua kata saja. Lagipula, bukankah hal itu disebut pesan singkat karena kontennya yang pendek?

Yoongi meletakan ponselnya kembali dan melanjutkan pekerjaannya mengecek ulangan murid-muridnya, menunggu balasan pesan dari Jimin. Biasanya Jimin akan membalas pesannya dalam lima menit, maksimal lima belas menit kalau namja itu sedang melakukan hal lain. Jimin selalu mengabari Yoongi kalau sedang tidak bisa membalas pesan Yoongi, meskipun mereka sedang tidak mengirim pesan satu sama lain waktu itu.

Tetapi sudah setengah jam terlewat dan Yoongi tidak merasa ponselnya yang bergetar atau berbunyi. Yoongi mengecek ponselnya sekali lagi, takut kalau pesannya tidak terkirim. Tapi tanda centang pada pemberitahuan menandakan pesannya terkirim dengan benar kepada Jimin. Yoongi bangkit dari duduknya, menyibak kembali gorden kamarnya dan kamar Jimin masih dalam keadaan gelap.

Pukul sepuluh malam dan bocah itu belum pulang. Bagus Park Jimin, bermainlah diluar dan jangan kabari kekasihmu yang sedang kesal denganmu ini. Lupakan saja Yoongi saat dirimu sedang bersenang-senang dengan Taehyung diluar sana sampai selarut ini, bahkan tidak mengabari Yoongi sama sekali. Jangan salahkan Yoongi kalau dirinya mendiamkanmu beberapa hati kedepan.

Min Yoongi sedang ngambek rupanya.

Dengan kesal, Yoongi menutup kembali gordennya dan masuk kedalam selimutnya, membiarkan tumpukan kertas diatas meja kerjanya berantakan begitu saja. Yoongi tidak berniat merapikannya atau melanjutkan pekerjaanya. Keadaan hati Yoongi sedang buruk membuat namja gula itu malas melakukan apapun. Dirinya sedang kesal dan ingin tidur untuk mengakhiri hari ini.

.

.

.

Yoongi membuka maniknya dan menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam irisnya. Tubuhnya terasa diguncang membuat Yoongi kesal "Jangan mengguncangku, Jimin."

"Tidak ada Jimin pagi ini, sayang."

Yoongi menerjapkan maniknya beberapa kali, itu suara eommanya. Rasanya sudah lama sekali eommanya tidak membangunkannya. "Eomma, selamat pagi, dimana Jimin?"

"Apakah putra eomma terlalu merindukan kekasihnya sampai-sampai itu menjadi pertanyaan pertamamu dipagi hari, huh? Padahal jarang-jarang eomma membangunkanmu. " Nyonya Min membuat suaranya terdengar sedih, sekaligus menggoda putra kesayangannya.

Yoongi mendengus sebal, "Bukan itu, hanya saja tidak biasanya bocah berisik itu tidak membangunkanku."

"Jimin mampir tadi pagi, berpamitan dan mengingatkan eomma untuk membangunkanmu. Dia bilang ada yang harus dikerjakannya disekolah, jadi Jimin berangkat duluan." Nyonya Min merapikan kasur putranya, "Eomma sudah menyiapkan sarapan dibawah, sana temani appamu sarapan."

.

.

.

Yoongi memarkirkan mobilnya dan melangkah menuju kantornya dengan Seokjin, masih ada beberapa hal yang masih harus diambilnya sebelum mengajar dikelas Jimin. Pagi ini Yoongi memiliki jadwal mengajar dikelas kekasih bocahnya.

Sebelum Yoongi menaiki tangga menuju lantai tiga, irisnya menemukan Taehyung dengan secangkir kopi ditangannya. "Kim Taehyung," Yoongi memanggil, mengisyaratkan Taehyung untuk menghampirinya dengan tangannya.

Taehyung mengalihkan pandangannya kearah Yoongi "Oh, saem!" balasnya riang sambil melambai semangat kearah Yoongi, lalu menghampirinya, "Ada apa, saem?"

"Kemarin kalian pergi kemana setelah bimbingan belajar?"

"Huh?" alis Taehyung bertaut, "Kalian? Bimbingan belajar?"

"Bimbingan belajarmu dan Jimin."

Taehyung semakin mengerutkan alisnya bingung, "Aku? Dan seorang Park Jimin ikut bimbingan belajar?" Tawa Taehyung pecah, bocah dengan rambut berbentuk jamur itu mengibaskan tangannya didepan Yoongi, "Itu adalah hal yang paling tidak mungkin terjadi, saem."

Yoongi menerjap beberapa kali, "Jadi, kalian tidak mengikuti bimbingan belajar?"

Taehyung menggeleng.

"Tidak berpergian bersama juga kemarin?"

Taehyung menggeleng lagi.

Dan Yoongi merasa emosinya memuncak saat itu. Banyak hal yang harus Jimin jelaskan disini. Jimin membohonginya. Untuk pertama kalinya dalam empat belas tahun mereka bersama, Jimin membohonginya dan entah mengapa Yoongi merasa sesuatu menghantam ulu hatinya telak dan rasanya menyakitkan. Yoongi kecawa dengan kekasih bocahnya.

.

.

.

Selama pelajaran berlangsung, Yoongi mencoba untuk tidak mengindahkan Jimin, meskipun kekasih bocahnya itu menopang dagunya dan tersenyum layaknya bocah idiot sambil memberikan atensi penuh kepada Yoongi yang sedang mengajar didepan kelas. Sesekali Yoongi melirik kearah Jimin, tapi bocah itu tetap menatapnya dengan mata riangnya dan senyum yang tidak pernah pudar. Hell, setelah berbohong dengan Yoongi, bagaimana bisa bocah bantet masih tersenyum selebar itu. Tidakkah dirinya merasa bersalah? Yoongi semakin sebal dengan Jimin.

Saat kelas selesai, Yoongi buru-buru membereskan barang-barangnya dan keluar dari kelas Jimin. Dia tidak ingin menemui Jimin dengan perasaan seperti ini, sungguh rasanya sangat tidak nyaman.

"Yoongi hyung."

Suara cempreng itu lagi. Oh, tolong tinggalkan Yoongi sendirian, Park Jimin. Yoongi mencoba menghiraukan Jimin dan kembali memasukan barang-barangnya ke dalam tas kerjanya. Jimin yang merasa dihiraukan oleh Yoongi mengerucutkan bibirnya sebal.

"Min saem~"

Yoongi bergidik ngeri, apa-apaan panggilan dengan nada menjijikan seperti itu. Yoongi melirik sekilas kearah Jimin, memberikan pandangan paling tajam yang bisa disalurkannya lewat manik sayunya. Oh, apakah bocah bodoh ini tidak merasa bersalah sedikitpun sudah membohongi Yoongi?

"Kau kenapa, hyung? Tidak kangen dengan kekasihmu ini?" Jimin merentangkan kedua lengannya, mengundang Yoongi untuk memeluknya.

Yoongi memutar bola matanya malas, membawa barang-barangnya keluar meninggalkan Jimin, berusaha tidak menghiraukan bocah idiot tidak peka berstatus kekashnya itu. Jimin yang ditinggalkan begitu saja mengerutkan alisnya bingung, masih belum menurunkan dua tangannya yang membentang lebar menunggu pelukan Yoongi.

"Yah! Hyungie tunggu akuuuu~"

.

.

.

Jam makan siang dilewati Yoongi tanpa sepatah katapun yang ia berikan untuk Jimin yang terus mengoceh disebelahnya. Yoongi bahkan menyumpal kedua telinganya dengan headset agar Jimin merasa tersinggung dan berhenti mengoceh, tetapi bocah kurang ajar itu malah menarik headsetnya begitu saja dan mengeluarkan rengekan manja yang memuakan. Yoongi masih kesal dengan Jimin disini, tetapi egonya yang terlalu besar membuatnya tidak mau membuka mulutnya untuk menanyakan hal-hal yang menganggu pikirannya sejak kemarin.

Kemana saja Jimin sampai pulang begitu larut?

Kenapa Jimin berbohong kepadanya soal bimbingan belajar?

Kalau Jimin tidak pergi dengan Taehyung lalu Jimin pergi dengan siapa?

Tapi Yoongi tetaplah Yoongi, mana mau namja kaku keras kepala satu ini menurunkan egonya demi seorang Park Jimin. Lagipula Jimin sepertinya masih memainkan peran berbohongnya dengan baik dan enggan menjelaskan apapun kepada Yoongi. Jadi, mari kita lihat siapa yang akan menyerah duluan disini.

"Hyung, malam ini aku akan pergi bimbingan belajar lagi, jadi pulanglah duluan."

Yoongi mendelik tajam kearahnya. Bagus Park Jimin, mari kita lihat dengan siapa kau sebenarnya pergi 'bimbingan belajar'. Yoongi hanya mengangguk dan berdehem singkat, dirinya sudah merencanakan acara ayo-kita-buntuti-bocah-sialan-ini.

.

.

.

Sore itu, Yoongi pulang seperti biasa, diantar Jimin sampai ke mobilnya dengan kecupan perpisahan yang singkat namun hangat, melajukan mobilnya menjauhi kawasan sekolah. Tetapi hari ini Yoongi kembali memutar mobilnya kearah gerbang sekolah, berhenti beberapa meter dibelakang gerbang sekolah dengan iris yang memandang tajam, menanti sosok bocah sialan yang sudah menganggu pikirannya seharian ini.

Dan, subjek yang Yoongi tunggu akhirnya menampakan dirinya, dengan manik menyipit dan bibir yang tersenyum cerah, kekasih bocahnya berjalan keluar gerbang sekolah dengan seorang murid dengan senyuman kelinci yang sangat khas. Yoongi kenal siapa bocah yang berjalan disamping kekasihnya, yang dirangkul akrab dan diusak surainya oleh Jimin. Emosi Yoongi memuncak, dadanya terasa dihantam keras oleh sesuatu dan Yoongi merasa irisnya panas. Oh, Yoongi benci mengakuinya.

Tapi seorang Min Yoongi sedang patah hati.

Karena seorang Park Jimin.

.

.

.

INFIRES!

Halo halo semuanyaaaaaaa~ Syubsyubchim balik bawain updatean terbaruuuuu dan MAAF BANGET KARENA GABISA FAST UPDATE SESUAI JANJI (bow bow bow). Soalnya dua minggu terakhir ini syubsyub beneran sibuk banget. Diluar jadwal kuliah, syubsyub juga ikut beberapa organisasi dan syubsyub juga ikut berkecimpung didunia dance cover dan tanggal 19 kemarin syubsyub baru saja tampil di acara KPOPERS NGABUBURIT yang di Mangdu (pada tau ga?). Makanya syubsyub harus latihan dance dan ga ada waktu buat ngetik (huhuhu). MAAFIN AUTHOR YANG GABISA MEMANAGE WAKTU INI.

Maaf juga kalo misalnya hasilnya kurang memuaskan, karena syubsyub merasa ekspektasi readers semua kayanya tinggi banget kalau dilihat dari review yang sebelum-sebelumnya. Hyunseung sebenarnya ga berniat memiliki Yoongi, dia hanya berniat 'mencoba' Yoongi, maaf kalau ekspektasi readers tidak sesuai dengan alur cerita yang syubsyub buat. Syubsyub hanya takut mengecewakan.

Diluar itu, syubsyub berterimakasih dengan semua yang sudah mau membaca, memfavorite, memfollow bahkan meninggalkan review yang sangat membantu membangun mood untuk mengetik ditengah kesibukan syubsyub.

Terima Kasih

Salam INFIRES !