I'm Not Four Years Old Anymore, Hyung!
.
Author : syubsyubchim
.
Cast :
Park Jimin X Min Yoongi
Slight!BTS
.
Rate : T
.
NOTE :
YAOI! BOYXBOY! TYPOs! Review Juseyo
.
.
.
Yoongi mengunci pintu kamarnya, mengabaikan eommanya yang memanggil dan bertanya padanya apa yang salah. Pasalnya Yoongi melempar dan membanting asal seluruh barang-barangnya semenjak pulang kerumah, bahkan pintu kamarnya.
"ARGHH! PARK JIMIN SIALAN!"
Yoongi tidak mengerti, mengapa dirinya merasa begitu kecewa melihat Jimin terlihat begitu intim dengan namja lain, kenapa dadanya sesak dan sesuatu seakan menghantam ulu hatinya kuat-kuat. Kenapa cairan bening yang terasa asin mengalir dari irisnya melewati kedua pipinya. Yoongi tidak mengerti kenapa dirinya menjadi seberantakan ini hanya karena seorang bocah kurang ajar bernama Park Jimin.
Yoongi terdiam sejenak saat mendengar suara ketukan pintu dari luar, disusul dengan suara penuh nada khawatir dari eommanya.
"Yoongi.. Apa yang terjadi, sayang? Hei, buka pintunya."
Oh, Yoongi bahkan tidak ingin bertemu dengan siapapun termasuk yeoja paling berarti dalam hidupnya saat ini. Dirinya begitu berantakan dan pikirannya sedang dalam keadaan kacau, mana mungkin Yoongi menunjukan sosoknya yang seperti ini didepan orang lain, tidak peduli orang lain itu adalah perempuan yang melahirkannya sekalipun.
Ibu Yoongi menggedor pintu kamarnya lagi, mencoba meminta Yoongi membuka dan menceritakan masalahnya. Yoongi segera menghapus jejak airmata yang mengalir dipipinya dengan kasar dan berjalan dengan ragu kearah pintu kamarnya. Yoongi berdehem sebentar, mencoba mengatur suaranya yang serak beberapa saat lalu.
"A-Aku tidak apa-apa, eomma."
Terdengar helaan nafas berat dibalik daun pintu kamar Yoongi.
"Eomma tau ada yang salah denganmu, Yoong. Ayo buka pintunya."
Yoongi terdiam dibalik pintu kamarnya. Pendiriannya masih tetap sama meskipun ibunya mengeluarkan nada suara khawatir yang memelas dari balik pintu kamarnya. Setidaknya Yoongi butuh waktu untuk menenangkan dan menjernihkan pikirannya. Yoongi butuh waktu untuk mengatur dirinya yang sempat berantakan karena kekasih bocahnya.
"Aku butuh waktu sendiri, eomma."
Lagi, Yoongi mendengar sang eomma menghela nafas berat di balik sana. "Baiklah, tenangkan dirimu, Yoongi. Eomma akan selalu ada disini untukmu."
Yoongi hanya tersenyum mendengar pengertian sang eomma dan mengangguk, lalu buru-buru menjawab 'Ya' saat menyadari sang eomma yang tidak dapat melihatnya dari balik pintu.
Yoongi membaringkan tubuhnya diatas kasur empuknya, memandang figura foto Park Jimin dan dirinya yang diletakan secara paksa oleh bocah itu dimeja nakas sebelah kasurnya. Foto yang dilapisi bingkai hitam itu cukup memalukan sebenarnya, foto masa kecil mereka dimana Jimin yang mengecup pipi Yoongi dari samping dan Yoongi yang tersenyum manis menghadap kamera. Seharusnya foto itu diambil dengan mereka yang sama-sama tersenyum manis menghadap kamera dengan icecream ditangan mereka, tapi saat ibu Jimin menghitung diangka dua, Jimin segera menoleh kearah Yoongi dan mengecup pipi namja manis itu.
'Agar kau selalu mengingat diriku dan cintaku kepadamu, hyung.' Jimin menjawab dengan senyum yang ditarik dari telinga sampai telinga yang lain saat Yoongi mengoceh soal foto memalukan itu.
"Cinta?" Yoongi tersenyum sinis, tanpa terasa irisnya kembali memanas, dengan kasar Yoongi menelungkupkan figura foto itu. "Your bullshit, Park Jimin."
.
.
.
Jimin berlari dengan terburu-buru setelah turun dari bus yang mengantarkannya pada halte terdekat kerumahnya. Tidak peduli pada teriakan dan umpatan beberapa orang yang hampir dan sempat tertabrak olehnya. Yang penting Jimin bisa sampai dirumah kekasihnya secepat mungkin. Kalau bisa Jimin ingin terbang saja kerumah Yoongi, teleportasi juga boleh, terdengar lebih efisien malah.
Setelah mendapat tamparan keras dari Yoongi yang mendapatinya pulang dengan Jungkook dan meninggalkannya dengan iris basah dan sorot mata kekecewaan, rasa bersalah terus melingkupi Jimin selama perjalanan pulang dan bayangan Yoongi yang kecewa dengannya terus terbayang dalam benaknya. Yoongi bahkan tidak mengeluarkan teriakan maupun umpatan apapun kepada Jimin. Hal itu membuat Jimin semakin merasa hyung kesayangannya tersakiti didalam. Silent treatment is the worst thing in this world, isn't it?
Tamparan dari Yoongi tidak main-main. Meskipun bertubuh mungil, tapi tenaga yang Yoongi keluarkan untuk mendaratkan telapak tangannya pada pipi Jimin tidak bisa dianggap remeh. Jimin bahkan masih merasakan denyutan nyeri pada pipinya, tapi dia mencoba menepis semuanya. Yang ada di pikiran Jimin saat ini hanyalah bertemu dan menjelaskan semuanya kepada kekasih gulanya, termasuk minta maaf karena sudah membohongi namja gula tersebut.
Jimin mengetuk pintu rumah Yoongi dengan tergesa-gesa, bahkan tidak berniat untuk pulang kerumahnya yang hanya berjarak dua puluh satu langkah dari pintu rumah Yoongi. Kekasihnya adalah yang terpenting saat ini. Saat ibu Yoongi membukakan pintu dengan senyum yang hangat dan mempersilahkan Jimin masuk, Jimin langsung melangkahkan kakinya kearah kamar Yoongi di lantai dua. Mengenal keluarga Min selama empat belas tahun bahkan sudah dianggap anak sendiri oleh sang ibu membuat Jimin dapat sesuka hati menginjakan kakinya kemana saja dirumah itu, bahkan kamar pribadi ayah dan ibu Yoongi sekalipun.
Jimin mencoba menetralkan nafasnya yang sempat putus-putus sehabis berlari dari hatle bus sampai rumah Yoongi, setelahnya mengetuk lembut pintu kamar bertuliskan 'SUGA" di depannya.
"Yoongi hyung," Jimin memanggil lembut, berharap mendapatkan balasan dari dalam sana, tetapi meskipun detik sudah berganti menit, Jimin masih belum mendapatkan balasan dari Yoongi. Sekali lagi Jimin mencoba mengetuk pintu kamar Yoongi, dan memanggil namja manis kesayangannya.
"Pergi, Park."
Bukan balasan manis yang Jimin dapatkan, tetapi Yoongi yang mengusir dirinya dengan suara dingin yang ia dapatkan. Okay, Jimin yakin setelah tamparan keras yang Yoongi berikan padanya, sungguh mustahil bagi Jimin untuk mendapatkan balasan manis dari kekasihnya. Jimin sadar seratus persen akan hal itu. Tetapi mendapatkan usiran juga bukanlah hal yang melintas dala benaknya.
"Hyung, buka pintuknya dan biarkan aku menjelaskan semuanya."
"Kubilang pergi, Park."
Jimin mendadak ciut saat lagi-lagi Yoongi membalasnya dengan nada menusuk, Yoongi bahkan tidak mau menyebut namanya. Tapi Jimin sadar, ia tidak boleh menyerah saat ini. Kalau Jimin benar-benar pergi mengikuti kemauan Yoongi, bisa-bisa statusnya dengan Yoongi berubah menjadi mantan kekasih keesokan harinya. Jimin menggeleng keras saat pemikirannya menjelajah kearah yang negatif. Maaf saja, dirinya baru resmi menjadi kekasih seorang namja super manis seperti Min Yoongi seminggu yang lalu. Lagipula mau dikemanakan empat belas tahun perjuangan Jimin meresmikan statusnya dengan Yoongi? Masa hancur hanya karena kesalahpahaman yang kekanakan?
"Aku tidak akan pergi sebelum menjelaskan semuanya kepadamu hyung. Jungkook-"
"BERHENTI MENYEBUT NAMA ITU, PARK!"
Jimin tersentak kaget saat Yoongi memotong penjelasannya dengan teriakan yang cukup keras. Bahkan eomma Yoongi yang sedang menyiapkan makan malam di dapur hampir menjatuhkan toples garam yang didalam genggamannya.
"Baiklah, hyung. Tapi biarkan aku menjelaskan semuanya, okay?"
Diam.
Jimin tidak mendapatkan balasan apapun meskipun dirinya mengetuk pintu kamar Yoongi berulang kali sambil memanggil nama kesayangannya. Min Yoongi memang keras kepala, tapi Park Jimin juga sama keras kepalanya dengan Yoongi. Ditambah Jimin yang teguh pada pendiriannya, membawa Yoongi yang menyerah dari aksi silent treatmentnya dan membukakan pintu untuk Jimin setelah menghapus jejak airmata dari pipinya.
Senyum Jimin yang tercipta karena Yoongi yang membukakan pintu untuknya hilang berganti dengan raut khawatir saat melihat iris basah Yoongi dan juga hidungnya yang memerah. Oh, seberapa lama Yoongi menangisi dirinya? Jimin bahkan merasa dirinya tidak pantas untuk ditangisi Yoongi.
Jimin menangkup kedua pipi Yoongi, lalu mengusapya lembut dengan ibu jarinya, "Kau menangis, hyungie? Apakah aku membuatmu menangis? Maafkan aku."
Yoongi menepis kasar tangan Jimin yang menangkup pipinya. Sebenarnya Yoongi menyukainya saat Jimin menangkupkan tangan besarnya pada pipi Yoongi ditambah usapan dari ibu jari Jimin yang menenangkannya, tetapi Yoongi masih dalam keadaan kesal dan kecewa pada Jimin, ingat?
"Aku hanya flu, jangan terlalu percaya diri."
Yoongi merutuki alasan bodoh yang diberikannya sedetik setelah kalimat tidak masuk akal itu keluar dari bibirnya. Flu, eh? Alasan yang sangat bagus, Min Yoongi.
Jimin hanya tersenyum gemas melihat sisi tsundere kekasihnya kembali muncul. Dengan lengan yang melingkar mesra pada pinggang sempit Yoongi sambil menariknya mendekat, Jimin mengecup puncak kepala Yoongi lama yang mengosongkan pikiran Yoongi sejenak dan memejamkan matanya menikmati perlakuan Jimin terhadapnya, "Baiklah, apapun itu, maafkan aku."
.
"Maaf karena sudah membohongimu," Jimin mendaratkan sebuah kecupan lagi pada helaian rambut Yoongi.
.
"Maaf karena sudah pulang dengan namja lain tanpa sepengetahuanmu," satu kecupan lagi dan Jimin terkekeh kecil saat mendengar Yoongi yang mengumpat dalam nafasnya.
.
"Maaf karena aku sudah membuatmu menangis," Jimin mengecup kedua kelopak mata Yoongi yang tertutup secara bergantian dan tersenyum gemas saat kekasihnya berbisik 'Sudah dibilang juga, aku flu.'
.
"Maaf karena aku membuatmu kecewa," kecupan terakhir berakhir pada bibir Yoongi dan berlangsung cukup lama. Tidak ada lumatan, tidak ada permainan lidah yang meminta lebih, hanya bibir yang menempel pada bibir lain sambil menyalurkan perasaan hangat dan sayang yang kentara.
Jimin mengakhir kecupannya saat merasakan Yoongi yang membalas pelukannya, menarik tubuh mungil Yoongi masuk ke dalam kamarnya dan mendudukannya ditepi ranjang Yoongi.
"Jadi?" Yoongi menaikan sebelah alisnya.
Jimin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dirinya bingung harus memulai dari mana. "Sebenarnya aku sedang kerja sambilan tanpa sepengetahuanmu, hyung."
Yoongi semakin menaikan sebelah alisnya, untuk apa Jimin kerja sambilan dibelakangnya?
"Sebentar lagi kelulusanmu dari universitas, jadi aku berniat membelikanmu sesuatu yang lebih spesial, atau mungkin mengajakmu liburan, dengan uangku sendiri," Jimin menjeda penjelasannya, melempar senyum terbaiknya sambil menggenggam sebelah tangan Yoongi. "Dan keluarga Jungkook membuka sebuah cafe yang tidak begitu jauh dari sekolah dan memperbolehkanku bekerja disana."
Rona samar tercipta dikedua pipi Yoongi setelah mendengar penjelasan Jimin, dirinya merasa spesial secara mendadak. Namun bayangan Jimin yang merangkul dan mengusak surai Jungkook secara intim membuat emosi yang sempat hilang beberapa saat sebelumnya kembali muncul kedalam benak Yoongi.
"Lalu, kenapa kalian terlihat begitu dekat?" Yoongi bertanya dengan bibir yang dimajukan beberapa senti dan nada tidak senang yang sangat kentara didalamnya.
Jimin terkekeh gemas melihat hyungnya yang dibutakan oleh rasa cemburu, "Kau cemburu pada Jungkook, hm?"
Yoongi mendelik tidak suka, "Dalam mimpimu, bodoh!"
Kekehan geli sukses lolos dari bibir Jimin. Sungguh, sifat tsundere Yoongi benar-benar sudah mengalir secara alami didalam sarah kekasihnya. "Dia hanya juniorku di klub menari, hyung. Lagipula Jungkook itu milik Taehyung. Park Jimin ini hanya milikmu, Yoongi-ah."
Mendadak Yoongi mengalihkan pandangannya dari Jimin, rona samar terbentuk di wajahnya. Sungguh, Jimin hobi sekali membuatnya merona dengan gombalan receh yang dilakukannya. Lagipula, apa-apaan banmal yang digunakannya tadi? Oh, sepertinya Yoongi benar-benar lemah kalau Jimin sudah menggunakan banmal kepadanya.
"Jadi," Jimin membawa wajah Yoongi untuk mengahadap kearahnya, "Hyung sudah tidak marah kepadaku lagi, kan?". Yoongi mengangguk malu-malu sambil meremas lengan Jimin yang masih menggengam lengannya. Kekasih bocahnya benar-benar mengetahui dengan jelas kelemahannya dan menggunakannya sebaik mungkin, sial.
"Boleh aku menciummu, hyung?"
"Apa kau perlu izinku untuk menciumku?"
Jimin hanya tersenyum geli mendengar jawaban Yoongi. Lalu menarik tengkuk namja yang lebih tua dan mendekatkan bibirnya kearah bibir Yoongi, berbisik "Aku mencintaimu," sebelum merasakan bibir yang tidak ia lumat beberapa hari ini.
Yoongi mengalungkan lengannya manja di sekeliling leher Jimin, menikmati bagaimana Jimin melumat bibirnya dengan lembut dan hati-hati, seolah takut merobek bibirnya kalau Jimin melumatnya sedikit lebih kasar. Saat Jimin meminta akses lebih dengan mengetukan lidahnya kearah bibir Yoongi, Yoongi dengan senang hati membuka mulutnya agar lidah Jimin dapat menemukan teman bermainnya didalam mulut Yoongi dan mengajaknya bergulat. Tangan Jimin tidak tinggal diam, sebelah tangannya meremas nakal pinggang Yoongi dan sebelah lagi mengusap tengkuk Yoongi sambil sesekali mendorongnya mendekat dan memperdalam ciuman panas yang sedang mereka lakukan.
"Ehem!"
Suara deheman dari arah pintu kamar Yoongi menyadarkan kedua sejoli yang sibuk menautkan bibir satu sama lain. Yoongi yang merespon duluan segera mendorong bahu Jimin dan mengusap saliva entah milik siapa yang berceceran di sekitar bibirnya dan mengalir ke dagunya, wajar saja karena Jimin begitu agresif dalam permainan bibir mereka. Sedangkan Jimin memberikan senyum terbaiknya saat menemukan ekhem-calon-ekhem-mertuanya pada pintu kamar Yoongi yang lupa mereka tutup.
"Maaf kalau menggangu acara kalian, tuan muda. Tapi makan malam sudah siap, turunlah makan sebelum kalian memakan satu sama lain."
Lalu berlalu begitu saja meninggalkan Yoongi yang merona semakin pekat, bahkan sampai ke telinganya dan Jimin yang terkekeh geli sekaligus senang karena sudah mendapatkan restu secara tidak langsung dari ibu kekasihnya.
"EOMMA APA-APAAN, SIH?!"
.
.
.
Setelah kejadian salah paham dan marah-marah Yoongi yang tidak jelas, Yoongi selalu menyempatkan dirinya mengantar Jimin ke cafe tempat Jimin bekerja. Terkadang Jimin akan pergi berdua dengan Jungkook setelah mendapatkan izin dari sang kekasih. Yoongi sih mengiyakan saja setelah mengetahui semuanya secara jelas. Lagipula namja bergigi kelinci itu benar-benar milik Taehyung seperti yang dikatakan oleh Jimin. Ditambah lagi Jungkook yang sering membully Jimin membuat Yoongi entah bagaimana menjadi akrab dengan bocah kelinci itu. Yoongi dan Jungkook sama-sama setuju kalau Jimin memang harus dibully dimana saja, kapan saja.
"Ingin aku bawakan apa nanti malam?" Jimin berdiri didepan pintu mobil Yoogi yang terbuka, mengamati sosok yang lebih tua sedang membereskan barang-barangnya pada kursi penumpang disamping kemudi.
Yoongi menoleh kearah Jimin, memasang pose berfikir yang menggemaskan. Tanpa sadar Jimin menggerakan tangannya, mengusap surai yang lebih tua, menghasilkan protes dari kekasihnya. "Ish! Apa-apaan sih, Jimin," Yoongi mendorong tangan Jimin menjauh dari surainya, lalu merapikan beberapa bagian yang berantakan karena usapan Jimin.
Jimin hanya menggeleng, "Jangan memasang pose imut seperti itu. Aku jadi ingin menciummu."
Yoongi mendelik tidak suka, "Itu sih kau saja yang mesum!"
Jimin terkekeh pelan mendengar komentar pedas kekasihnya. Ya, dirinya memang mesum, tapi Yoongi juga menggoda, jadi siapa yang harus disalahkan disini? Oh, sepertinya tidak ada karena jika yang mesum dan menggoda dipadukan menjadi satu, bukankah akan menghasilkan pasangan yang sangat cocok?
"Aku mau cheesecake."
Permintaan Yoongi membuyarkan pikiran Jimin yang mulai berkelana liar. "Baiklah, satu cheesecake untuk putri tidur Chim- ADUH! Hyung jangan meninju perutku begitu," rengek Jimin sambil mengusap perut kotak-kotaknya yang baru saja menjadi samsak baru Yoongi.
"Jangan memanggilku seperti itu didepan umum!"
"Kalau begitu, aku boleh memanggilmu begitu dirumah?" sambil menaik turunkan alisnya, Jimin kembali menggoda Yoongi yang menghasilkan satu tinju lagi mendarat pada perutnya. Jimin terkekeh gemas saat melihat kekasihnya mengumpat kecil.
"Sudahlah, Jim. Nanti kau telat bekerja."
Jimin melirik arloji yang melingkar manis di pergelangan kirinya, lalu mengangguk singkat. Sebentar lagi pukul lima sore dan shiftnya akan dimulai. Jimin sedikit menundukan tubuhnya dan mengecup kening Yoongi lama, "Hm, pulanglah, hyung. Hati-hati dijalan."
.
.
.
Yoongi memarkirkan mobilnya di parkiran yang disediakan oleh cafe tempat Jimin bekerja. Ini sudah pukul sembilan malam, Jimin akan pulang satu jam lagi dan Yoongi menyempatkan diri untuk menjemput kekasih bocahnya pulang hari ini. Entahlah, Yoongi juga bingung kenapa dirinya rela repot-repot meninggalkan kasurnya yang nyaman dan hangat, mengeluarkan mobilnya dari garasi dan menyetir sampai ke cafe orang tua Jungkook hanya demi menjemput Jimin. Yoongi hanya berfikir sesekali menyenangkan kekasih bocahnya tidak ada salahnya, kan?
Yoongi masuk kedalam cafe, ini pertama kalinya Yoongi mengunjungi cafe ini ngomong-ngomong. Selama ini Yoongi hanya menurunkan Jimin didepan cafe saat mengantarkannya dan menunggu didalam mobil saat menjemput Jimin. Yoong tidak berencana untuk memesan dan Yoongi juga tidak berniat untuk berkunjung sekedar melihat-lihat.
"Selamat datang," Jimin membalikan tubuhnya saat bunyi lonceng diatas pintu cafe berbunyi yang artinya ada tamu baru yang datang. Dan Jimin tidak bisa menyembunyikan wajah bodoh beserta senyum bodohnya saat melihat Yoongi yang datang dan berdiri dengan canggung didepan pintu cafe. Jimin hanya terlalu senang saat melihat kekasihnya mau repot-repot datang dan mengunjung tempatnya bekerja.
Jimin menghampiri Yoongi dan menuntunnya kearah meja disudut ruangan. Yoongi menunduk, menyembunyikan rona samar yang muncul dikedua pipinya. Pasalnya Jimin terlihat benar-benar tampan dengan seragamnya saat ini. Dengan kemeja polos yang lengannya digulung sampai siku, celana kain hitam dan apron hitam-putih yang terikat dipinggangnya, Yoongi merasa kalau Jimin terlihat err- seksi. Oh, jangan lupakan dua kancing yang terlepas dan juga rambut hitam Jimin yang berantakan. Yoongi rasa dirinya sudah gila saat ini.
Jimin mendudukan tubuhnya didepan Yoongi. Keadaan cafe cukup sepi yang mengingat jam makan malam sudah berakhir membuat Jimin dapat lebih santai menemani kekasih mungilnya. "Mau pesan apa, hyung?"
"Kalau pesan Park Jimin bisa tidak?"
Oh, lihatlah tampang bodoh dan terkejut Jimin saat mendengar sederet kalimat yang Jimin rasa mustahil untuk keluar dari bibir Yoongi, bahkan dalam mimpi terliarnya sekalipun. Tawa Yoongi pecah saat melihat ekspresi bodoh di wajah Jimin, lalu menyentil kening Jimin, membawa namja bantet itu pada kesadarannya lagi.
"Aku meu cheesecake yang kau janjikan tadi sore."
Jimin mengusap pelan keningnya, "Siap tuan putr- AW!"
Kali ini Jimin mengusap lengannya yang baru saja dicubit Yoongi, "Ish! Sudah kubilang jangan memanggilku seperti itu."
Jimin terkekeh pelan melihat pipi hyungnya yang dihiasi warna merah jambu samar. Dasar, sudah tsundere, kaku, kasar, berlidah tajam pula. Untung Jimin sayang.
"Maaf, hyung. Tunggu sebentar, aku ambilkan," Jimin bangkit dari duduknya menuju counter penyimpanan kue, mengambil sepotong cheesecake dan melakukan pembayaran di meja kasir yang mendapatkan siulan usil dari Jungkook yang bertugas menjaga kasir hari itu.
"Senangnya mendapat kunjungan dari pujaan hati." Begitulah kira-kira Jungkook menggoda Jimin.
Jimin kembali kemeja Yoongi dan menemukan kekasihnya yang sedang menopang dagu bosan sambil menatap kearahnya. Saat iris gelapnya bertemu pandang dengan iris karamel Yoongi, detak jantung Jimin menjadi tidak teratur. Oh, rasanya Jimin jatuh cinta lagi untuk yang kesekian kalinya pada Yoongi. Padahal yang dilakukan oleh namja gula itu hanya duduk diam sambil menopang dagu, menunggu cheesecake pesannya.
Jimin meletakan cheesecake pesanan Yoongi dan kembali mendudukan dirinya didepan Yoongi, lalu menopang dagunya mengamati kekasih mungilnya yang mulai menyendokkan cheesecakenya dengan semangat setelah membisikan 'selamat makan' pada dirinya sendiri. Jemari Jimin terulur kedepan, mengusap noda krim yang tertinggal belepotan disudut bibir Yoongi, terkekeh melihat hyungnya yang terlalu menikmati cheesecakenya. "Kau terlihat menggemaskan, hyung. Seperti bocah SD."
Yoongi menggembungkan pipinya kesal sambil mengunyak cheesecake yang masih berada didalam mulutnya. Setelah Yoongi menelan cheesecakenya, Yoongi menunjuk-nujuk wajah Jimin dengan sendok cakenya, "Aku tidak menggemaskan dan aku bukan bocah SD. Aku bahkan akan lulus universitas beberapa bulan lagi."
Omelan Yoongi membuat Jimin kembali terkekeh gemas. Bagaimana bisa seseorang yang akan wisuda beberapa bulan lagi bertingkah yang bahkan lebih imut daripada bocah berumur lima tahun? Kalau tidak mengingat dimana mereka berada, Jimin akan akan dengan senang hati menggigit gemas pipi Yoongi yang menggembung lucu.
"Habiskan cheesecakemu, hyung. Cafe akan tutup sebentar lagi."
.
.
.
Saat ini, Yoongi sedang menyenderkan tubuhnya malas pada lengan Jimin yang sedang menyetir. Jimin bersikeras ingin menyetirkan mobil Yoongi pulang. Alasannya mudah saja, karena dia ingin Yoongi beristirahat sejenak dan balasan karena sudah repot-repot mengunjunginya ditempat kerja. Lagipula Yoongi juga tidak keberatan kalau Jimin dengan senang hato menyetirkan mobilnya. Itu berarti Yoongi dapat bermalas-malasan selama perjalanan, memainkan ponselnya, menyenderkan tubunya kearah Jimin, atau bahkan tidur selama perjalanan.
Yoongi menegakkan tubuhnya saat merasakan mobilnya berhenti, lalu mengerutkan alisnya bingung sambil melempar tatapan penuh tanya pada Jimin. Jimin hanya tersenyum sekilas dan segera turun, memutari mobil Yoongi dan membukakan pintu untuknya, "Ayo turun, hyung."
"Kenapa tidak pulang?"
"Berjalan-jalan sebentar tidak apa-apa kan?" Jimin menarik lengan Yoongi untuk turun dari mobilnya setelah melepas sabuk pengamannya. Yoongi hanya mengikuti tarikan tangan dan langkah Jimin, pasrah dengan kekasih bocahnya yang membawanya entah kemana. Yoongi tahu dimana mereka sekarang, sungai Han. Tetapi Yoongi tidak tau apa maksud bocah bantet satu ini mengajaknya kemari.
Jimin berhenti saat mereka sudah berada ditepi sunggai, memenjarakan tubuh Yoongi diantara pagar pembatas dan dirinya. Jimin meletakan sebelah lengannya berpegangan pada besi pembatas dan sebelahnya melingkar dipinggang Yoongi. Yang dipeluk hanya balas menggengam lengan Jimin yang melingkar dipinggangnya, "Kau kenapa, bocah?"
Jimin mengangkat kedua bahunya, lalu melesakan kepalanya diantara potongan leher Yoongi, "Kau ingin apa untuk hadiah kelulusan, hyung?"
Yoongi terdiam sejenak, tidak pernah terpikir olehnya untuk meminta hadiah kelulusan dari Jimin. Bahkan setelah menyetujui Jimin untuk kerja sambilan, tidak pernah terlintas dibenak Yoongi apa yang diharapkannya untuk hadiah kelulusan.
"Aku boleh meminta apapun?"
Jimin mengecup ringan leher Yoongi dan mengangguk, "Ya, apapun."
Yoongi kembali terdiam, memikirkan apa yang akan dimintanya kepada Jimin. Lalu Yoongi memutar tubuhnya sampai wajah Jimin terangkat dari lehernya, lalu mendongak menatap yang lebih muda, "Apa boleh aku menyimpannya untuk nanti?"
Jimin tersenyum, lalu mengangguk, "Tentu saja, kau boleh menyimpannya untuk kapan saja, dan meminta apa saja. Aku akan melakukan yang terbaik yang aku bisa untuk mengabulkannya, hyung."
Kini giliran Yoongi yang tersenyum, lalu melingkarkan lengannya disekeliling pinggang Jimin, memeluk tubuh berotot didepannya. "Terima Kasih, Jimin."
Jimin balas memeluk Yoongi dan menghujani surai yang lebih tua dengan kecupan kupu-kupu. Tak lupa mengusap sayang punggung sempit Yoongi, menghantarkan kehangatan mengingat mereka sedang berada dipinggir sungai ditengah malam.
Malam itu mereka lewati dengan berjalan santai dengan lengan bertaut disepanjang sungai Han, mencoba beberapa snack pinggir jalan yang mereka temui, berbagi canda tawa yang entah mengapa sangat Yoongi nikmati malam itu. Padahal biasanya Yoongi akan memukulkan tangannya pada Jimin saat merasa candaan Jimin terlalu garing. Tapi tidak, Yoongi merasa benar-benar dicintai malam itu, meskipun faktanya Jimin selalu mencintainya selama ini.
.
.
.
TBC
.
.
.
INFIRES!
Annyeong~ syubsyubchim balik lagi bawain updatean fanfic ini. Meskipun dengan imajinasi seadaanya, syubsyub mencoba mengetik kelanjutan fanfic ini. Mungkin setelah ini syubsyub bakal update sedikit lebih lama dari biasanya, karena kehabisan ide untuk melanjutkan fanfic ini (tolong dimaafkan). Kalau ada yang punya ide atau mau berpartisipasi dalam kelanjutan fanfic ini boleh-boleh saja. Silahkan dm syubsyub atau tulis di review juga boleh. Syubsyub sangat terbuka dengan ide-ide yang kalian berikan (kecupbasah).
Mungkin selanjutnya syubsyub bakalan update special chapter untuk fanfic ini, yang menceritakan cerita oneshot pas mereka masih kecil. Tapi masih rencana karena belum mulai diketik, jadi bisa dibatalkan kapan saja (muehehe)
Maafkan typo yang berebaran tiap radius satu meter(?) di fanfic ini, karena syubsyub selalu ngetik fanfic dipagi buta. Ide akan mengalir dengan cepat diatas jam duabelas malam makanya syubsyub selalu mengetik pada jam segitu dan typo akan bertebaran seiring dengan kesadaran yang menipis (eh).
Terakhir, terima kasih untuk semua yang sudah bersedia membaca, memfollow, memfavorite bahkan sampai mereview fanfic yang sangat tidak jelas asal-usulnya ini. Maaf kalau mengecewakan.
SPECIAL THANKS :
Hozi Kwon | glowrie | vanilla kim | tryss | XiayuweLiu | applecrushx | 07 | wulancho95 | MinJiSu | GithaAC | Dedee5671 | minyoonlovers | indriwin175 | Dessy574 | BornSinger | YoonMin Shippers | HamirohLangen | EmaknyaJimin | kyuminmi | Chimchimy | HyunShine | Fanfan19 | Min819 |Dan beberapa guest tanpa nama
Terima Kasih.
Salam, INFIRES!
