.

SPECIAL CHAPTER :

I'm Not Four Years Old Anymore, Hyung!

.

Author : syubsyubchim

.

Cast :

Park Jimin X Min Yoongi

Slight!BTS

.

Rate : T

.

NOTE :

YAOI! BOYXBOY! TYPOs! Review Juseyo

Park Jimin - 5 y.o

Min Yoongi - 10 y.o


.

.

.

Pagi itu, Jimin kecil melompat semangat diatas kasur Yoongi yang masih bergelung didalam selimut hangatnya. Ini hari Minggu pagi, keluarga Park dan Min berencana untuk melewatkan akhir pekan mereka bersama. Tentu saja Jimin kecil sangat semangat karena akan menghabiskan harinya berjalan-jalan dengan hyung kesayangannya.

"Putri tidur Chimchim ayo bangun.." Jimin kembali mengguncang tubuh Yoongi dan mencoba merebut Kumamon yang ada didalam pelukan Yoongi. Kalau memusnahkan benda kesayangan Yoongi secara paksa itu legal, maka akan dipastikan boneka Kumamon kesayangan namja gula itu akan hilang dari muka bumi ini. Jimin selalu cemburu berat dengan Kumamon yang menjadi kesayangan Yoongi. Kan harusnya Jimin yang menjadi kesayangan Yoongi, kenapa malah benda mati berwarna hitam bertampang bodoh itu yang menempati tempatnya.

"Pergilah bocah," Yoongi semakin mengeratkan pelukannya pada Kumamon dan menenggelamkan tubuhnya dalam balutan selimutnya. Jimin memajukan bibirnya beberapa senti, dirinya sudah mengecup bibir namja itu beberapa kali tapi Yoongi tidak kunjung bangun juga. Jimin sudah kehilangan akal bagaimana cara membangunkan hyung kesayangannya agar Jimin bisa memulai harinya dengan Yoongi.

"Tapi hyung, kalau kita pergi ke kebun binatang, nanti hyung bisa melihat Kumamon yang asli loh."

Yoongi menerjap pelan, mencoba mencerna yang baru saja dikatakan tetangga bocahnya. Bangun pagi dan pergi ke kebun binatang untuk melihat Kumamon raksasa tidak terdengar buruk. Setidaknya waktu tidurnya yang berkurang terbayar setimpal kalau bisa memeluk beruang hitam favoritnya. Perlahan, Yoongi memunculkan kepalanya dari balik selimut, "Benarkah, Jimin?"

Senyum sumringah tidak dapat lepas dari bibir Jimin saat akhirnya wajah yang lebih tua terlihat juga. Dengan semangat Jimin menganggukkan kepalanya, "Hyung tidak lihat di televisi kalau Kumamon akan datang ke kebun binatang hari ini?"

Yoongi mencoba berfikir sejenak, lalu mengangguk setelah mengingat berita yang beberapa hari belakangan ini selalu muncul di channel anak-anak kesukaannya dengan Jimin tiap sore. "Baiklah, aku bangun. Ayo kita pergi melihat Kumamon!"

.

.

.

Dengan langkah kecil yang dipercepat, Jimin mencoba mengejar yang lebih tua. "Hyungie tunggu Chimchimmm~" Jimin merengek sambil terus berusaha menyesuaikan langkah kaki kecilnya dengan langkah kaki Yoongi yang lebih lebar. Setelah sampai di kebun binatang dan masuk kedalamnya, Yoongi langsung saja melupakan Jimin dan melangkah riang kedalam kebun binatang, sampai Tuan dan Nyonya Min sibuk mengingatkan agar Yoongi tidak melangkah begitu jauh dari pengawasan mereka. Yang ada dipikiran Yoongi saat ini hanyalah mencari versi besar dari beruang hitam berwajah bodoh yang selalu menemani tidurnya tiap malam.

"Eomma, Yoongi ingin bertemu Kumamon!" Yoongi kecil melompat-lompat semangat sambil menarik-narik tangan sang ibu untuk mencari karakter kesukaannya itu Nyonya Min hanya terkekeh gemas dengan sikap Yoongi yang aktif hari ini. Biasa putra satu-satunya itu selalu berwajah malas, bermata sayu dan bertingkah seperti tidak ada tenaga yang tersisa di dalam tubuh mungilnya, namun karena sebuah Kumamon raksasa yang akan melakukan parade di kebun binatang siang ini, Yoongi terlihat begitu semangat dan antusias.

"Kumamon baru akan muncul siang nanti, Yoong. Sekarang ayo kita berkeliling melihat binatang yang lain dulu," Nyonya Min menggandeng tangan kecil Yoongi kearah suami dan tetangganya berada.

Jimin yang melihat tetangga kesayangannya mendekat segera menghampiri Yoongi dan mengamit tangan yang tidak digandeng oleh Nyonya Min. "Hyung jangan meninggalkan Chimchim, Chimchim kan jadi khawatir."

Yoongi hanya memutar bola matanya malas saat Jimin memasang tampang memelas dengan bibir yang tertekuk kebawah. Apa yang bisa dikhawatirkan oleh bocah berumur lima tahun dari bocah berumur sepuluh tahun? Dasar, sudah bantet, tukang modus pula.

Yoongi mendorong tubuh Jimin pelan, "Menjauhlah, Jimin. Aku mau bersama eomma."

Dorongan Yoongi sukses membuat manik Jimin basah, Jimin hampir saja menangis kalau ibunya tidak datang dan menggendong tubuh mungilnya, lalu menenangkannya dengan menepuk-nepuk bokongnya dan membisikan kalimat sayang. Bocah bantet itu sensitif sekali hari ini. Mungkin sakit hati dan cemburu melihat hyung kesayangannya melupakannya dan hanya mengingat giant Kumamon.

Ibu Yoongi yang melihat penolakan anaknya hanya geleng-geleng maklum dengan sifat Yoongi yang tidak bisa menerima Jimin. "Tidak boleh begitu kepada Jimin, sayang. Lihat kau hampir membuatnya menangis," Ibu Yoongi mensejajarkan tingginya dengan Yoongi, lalu mengusap surai putra semata wayangnya sambil mencoba memberi pengertian.

Yoongi hanya mengangguk mengiyakan. Sebagai anak yang baik tentu Yoongi tidak mau membantah eommanya, meskipun dirinya tetap akan menolak Jimin nanti.

"Minta maaf pada Jimin, hm?" Itu ayahnya.

Yoongi mendelik tidak suka, "Untuk apa aku minta maaf pada Jimin?"

Jimin yang mendengarnya buru-buru menolehkan tubuhnya kearah Yoongi, lalu meronta kecil di gendongan sang eomma, "Yoongi hyung jahat sekaliiiii~" dan terus merengek.

Dan kedua pasang orang tua itu hanya menggelengkan kepala mereka maklum, gemas melihat interaksi kedua bocah menggemaskan itu. Love hate relationship sekali.

.

.

.

Tidak terasa sudah setengah hari kedua keluarga berbeda marga itu berkeliling kebun binatang. Yoongi sudah mengeluh kaki kecilnya lelah sedari tadi, tak jarang Yoongi minta piggy back ride dari ayahnya. Jimin sih anteng-anteng saja selama Yoongi tidak menolaknya. Bahkan sesekali Jimin akan mengamit lengan Yoongi manja, meskipun mendapat decakan tidak suka dari Yoongi, bocah berpipi chubby itu berusaha tidak mengindahkan kekesalan yang lebih tua.

Tidak peduli kemana pun Yoongi melangkah, Jimin kecil akan dengan antusias mengikutinya dari belakang, persis seperti anak ayam yang mengikuti induknya kemana-mana. Sayangnya tidak ada anak ayam semenggemaskan Jimin dan induk ayam seketus Yoongi.

Saat ini, kedua keluarga itu sedang makan siang di salah satu restoran di dalam kebun binatang. Restoran tersebut sangat ramai, wajar saja karena saat ini sedang jam makan siang. Keluarga Min dan Park memilih meja dipojok ruangan yang tidak terlalu ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang.

Jimin segera mendudukan bokongnya pada kursi disebelah Yoongi. Sedangkan yang didempeti tidak henti-hentinya berdecak kesal. Tapi mau bagaimana lagi, bocah bantet jelek satu ini hobi sekali menempeli dirinya, kalau ditolak sedikit saja nanti menangis. Apalagi hari ini Jimin terlihat begitu sensitif. Dasar, sudah bantet, jelek, cengeng lagi. Ugh, Yoongi benar-benar kesal dengan Jimin hari ini.

"Hyung mau makan apa?"

"Bukan urusanmu."

Bibir Jimin maju beberapa senti karena lagi-lagi mendengar jawaban super ketus dari hyung kesayangannya. "Kalau Chimchim mau makan naengmyeon, hyung mau samaan dengan Chimchim tidak?"

"Tentu saja tidak mau, aku mau bento."

Bibir Jimin semakin maju, lalu menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi "Ih, Yoongi hyung jahat sekali pada Chimchim."

"Bodo."

Lagi-lagi kedua pasang orangtua itu hanya bisa terkekeh gemas dengan interaksi buah hati mereka. Sungguh, Yoongi yang selalu menolak Jimin dan Jimin yang tidak pernah menyerah menarik perhatian Yoongi terlihat sangat menggemaskan. Apalagi reaksi yang akan Jimin berikan kalau Yoongi menolaknya mentah-mentah. Oh, kedua ibu berbeda suami itu ingin sekali menarik pipi chubby Jimin setiap pipi itu menggembung kesal.

Makan siang dua tetangga itu dilewati dengan perbincangan ringan kedua kepala keluarga, gosip hangat kedua istri dan juga celotehan tidak bermutu Jimin yang didiamkan oleh Yoongi.

Selesai makan, ibu Yoongi dan Jimin meninggalkan meja, berniat pergi ke toilet bersama. Dasar wanita, tidak pernah mau pergi ke toilet sendirian. Ayah Jimin sedang melakukan pembayaran di kasir dan ayah Yoongi yang bertugas menjaga meja dan kedua anak mereka.

"Appa, Yoongi ingin mencuci tangan dulu."

"Chimchim ikut hyunggg~"

Jimin melangkahkan kaki pendeknya cepat-cepat, berusaha mengejar Yoongi yang sudah meninggalkan meja makan sambil melambaikan tangan gemuknya kearah ayah Yoongi yang menunggu di meja makan. Saat Yoongi dan Jimin sedang mencuci tangan mereka, terdengar bunyi riuh dari arah luar restoran. Kedua bocah itu sontak menoleh kearah jendela di dekat wastafel. Manik Yoongi berbinar ceria, tujuan utamanya bangun pagi hari ini akhrinya menampakkan wujudnya.

"KUMAMON!"

Teriakan antusias Yoongi tertutup dengan suara riuh parade di luar restoran. Banyak orang yang sudah berebaris di sisi kanan dan kiri jalan sehingga pemandangan Yoongi akan Kumamonnya sedikit terhalang. Yoongi segera mencuci tangannya asal dan berlari keluar, meninggalkan Jimin yang sibuk menyuruhnya berhenti sambil mengejarnya dengan kaki-kaki pendeknya. Yoongi hanya ingin melihat Kumamon dan memeluk beruang berwajah bodoh kesayangnnya itu.

Saat Yoongi sampai diantara kerumunan penonton, saat itu jugalah Jimin berhasil mengejarnya dan menggenggam tangan Yoongi erat-erat, takut kehilangan hyung kesayangannya ditengah padatnya penonton. Yoongi berusaha maju lebih depan diantara para penonton lainnya. Pandangannya terhalang oleh tubuh-tubuh tinggi penonton yang lainnya. Dengan sedikit menyelinap kesana kemari, sekarang Yoongi berada di barisan paling depan diantara para penonton dan berdecak kagum dapat melihat karakter favoritnya secara dekat. Dalam ukuran super besar.

"Hyung ayo kembali," Jimin mengguncang lengan Yoongi sambil mencoba mengalihkan pandangannya dari beruang jelek berwajah bodoh di hadapan mereka dan menariknya masuk kembali ke dalam restoran. Yoongi tidak mengindahkan panggilan Jimin. Kaki kecilnya terus membawa dirinya melangkah mengikuti Kumamon yang berjalan meninggalkan parade yang dilihatnya, "Yah! Kumamon tunggu aku!". Yoongi belum memeluk Kumamon super besar itu dan Yoongi tidak mau menyia-nyakan kesempatan kali ini.

Kaki kecil Yoong melangkah cepat, berusaha menerobos orang-orang tinggi yang berdiri dipinggir jalan parade. Jimin kecil dengan kaki bantet dan tangan yang masih terpaut erat dengan Yoongi mencoba menyemakan langkahnya dengan Yoongi. Sesekali mencoba memanggil Yoongi untuk kembali ke dalam restoran tempat mereka makan siang. Tapi sepertinya perhatian Yoongi tidak bisa dialihkan kali ini. Iris karamelnya hanya terfokus pada satu objek didepannya, Kumamon.

Dengan kaki yang lebih pendek dan tubuh lebih gemuk, sulit bagi Jimin untuk mengikuti langkak kaki antusias Yoongi. Apalagi Yoongi terus menerus menariknya dan menabrak beberapa penonton lain yang bertubuh lebih besar dari mereka. Alhasil, Jimin terjatuh karena menyandung kakinya sendiri.

"AW! Hyungie appo~" Jimin terduduk dilantai dengan lulut lecet dan manik berkaca-kaca, menatap Yoongi penuh sarat kesakitan dan siap menangis kapan saja.

Yoongi menolehkan kepalanya kebelakang, siap memarahi Jimin yang menggangunya melihat Kumamon. Tapi Yoongi mendadak panik saat menyadari Jimin jatuh terduduk dengan lutut yang lecet. Pandangannya mengedar ke sekitar dan menyadari daerah yang asing dalam memorinya. Yoongi tidak mengenal tempat ini, Yoongi juga tidak mengenal siapapun di dekat mereka. Dimana restoran tempat mereka makan siang? Dimana eomma dan appanya? Dimana eomma dan appa Jimin?

"J-Jiminn.." Yoongi menundukan tubuhnya, mensejajarkan tingginya dengan Jimin. Perasaan takut dan panik karena terpisah dari orang tuanya mulai Yoongi rasakan dan semakin panik melihat Jimin yang mulai menangis. "Y-Yaa! Uljima Jimin.." Yoongi mencoba mengusap luka lecet di lutut Jimin, tapi perbuatannya malah menghasilkan teriakan kesakitan dari yang lebih kecil.

Yoongi kembali mengedarkan pandangannya, melihat petunjuk toilet di dekat mereka dan mencoba menuntun Jimin ke dalamnya. Tapi saat Jimin berjalan dengan tertatih, Yoongi mengambil inisiatif untuk mengangkat tubuh Jimin di punggungnya, "Kita bersihkan lukamu dulu, okay. Jangan menangis lagi, setelah ini kita cari eomma dan appa."

Yoongi kecil yang masih berumur sepuluh tahun mulai mendudukan Jimin di dekat wastafel, meraih beberapa lembar tissue dan membasahinya, lalu dengan perlahan mengusapkan pada luka lecet Jimin. Jimin kecil hanya duduk dengan mata memerah sehabis menangis dan pipi chubby yang basah akan air mata. Sesekali Jimin memekik sakit dan terus meniup-niup lukanya, Yoongi juga ikut meniup luka Jimin, mencoba meredakan perih yang dirasakan oelh yang lebih muda.

"Maafkan hyung karena berlari seperti tadi," Yoongi merasa bersalah kali ini. Hanya karena ingin melihat Kumamon, dirinya dan Jimin jadi terpisah dari kedua orang tua mereka dan sekarang Jimin jadi terluka karenanya.

Jimin tersenyum senang melihat hyungnya yang memperlakukannya dengan baik kali ini. Sebuah ide cemerlang tiba-tiba melintas di otak berkapastias minimnya. "Tapi hyung, lukanya masih sakit," Jimin memasang mimik wajah sesedih mungkin dengan bibir tertekuk dan mata yang berkaca-kaca.

Yoongi kembali tergagap, ia bingung bagaimana harus mengobati luka Jimin.

"Coba hyungie cium luka Chimchim, mungkin lukanya akan sembuh," Jimin menarik sebuah senyum lebar sampai matanya menyipit menjadi segaris.

Yoongi mendelik tidak suka mendengar usul penuh makna tersirat dari yang lebih muda, "Itu sih maumu saja, bocah!", lalu beranjakn meninggalkan Jimin yang masih diam disudut toilet.

"Hyung tapi ini sungguhan sakit, Chimchim tidak bisa berjalaaaannn~"

Yoongi memutar bola matanya sambil menghela nafas kesal. Dengan ogah-ogahan, Yoongi kembali menghampiri Jimin dan berjongkok didepan bocah bantet itu. Jimin tersenyum penuh makna melihat wajah tertekuk hyung kesayangannya yang kembali untuk melihat kondisinya. Yoongi mendekatkan wajahnya pada luka Jimin, berbisik "Cepat sembuh, Jimin," lalu mengecupnya singkat yang menghasilkan pekikan puas dari yang dikecup. Kalau saja bocah bantet itu bukan terluka karenanya, mana sudi Yoongi memperlakukannya seperti ini.

Setelah selesai mengurus luka Jimin, Yoongi menggenggam tangannya erat dan mengajaknya keluar toilet. Sebenarnya bukan Yoongi juga sih yang menggengam tangan Jimin, tapi Jiminnya yang enggan melepas tangan Yoongi. Mereka terpisah dari kedua orang tua mereka saat ini, ingat? Dan Jimin tidak mau terpisah dengan hyungnya dan berakhir sendirian. Dasar bocah penakut!

Yoongi membawa Jimin kecil berkeliling mencari eomma dan appa mereka. Sebenarnya Yoongi juga takut dan hampir menangis pasrah saat kaki kecilnya kelelahan tapi belum menemukan tanda-tanda akan bertemu dengan orang tua mereka. Tapi, melihat Jimin yang begitu bergantung padanya dan merasa bertanggung jawab sebagai yang lebih tua, Yoongi berusaha menahan air matanya yang siap lolos kapan saja.

Sampai sepasang pasangan cukup tua melihat gelagat aneh kedua bocah menggemaskan tersebut, menanyakan keberadaan orang tua mereka dan Yoongi dengan takut-takut hampir menangis menjawab mereka terpisah dari appa dan eommanya. Dengan aura keibuan yang masih sangat kuat, sang nenek mencoba menenangkan Jimin dan Yoongi, lalu membawa kedua bocah itu menuju pusat informasi, mengabarkan keadaan mereka lewat pengantar suara di kebun binatang.

Yoongi dan Jimin kecil terduduk di sudut ruangan dengan lengan yang terpaut satu sama lain, menggoyangkan kaki kiri dan kanan bergantian yang tidak menyentuh lantai, sesekali membalas pertanyaan dari pasangan yang menolong mereka sambil menunggu kedatangan eomma dan appa yang akan menjemput mereka.

Luka lecet di kaki Jimin sudah mendapatkan perawatan yang lebih layak dengan plster bermotif kartun yang melapisinya. Jimin kecil hanya berteriak, meronta dan menangis dan meminta Yoongi meniup lukanya saat sang perawat meneteskan obat merah. Bahkan wajah Jimin masih memerah dan jejak air mata di pipi chubbynya belum mengering sampai sekarang. Ternyata kecupan Yoongi tidak bisa mengalahkan rasa sakit obat merah yang diberikan perawat cantik tadi.

"Yoongi~!/Jimin~!"

Yoongi dan Jimin sontak mengalihkan pandangan mereka kearah pintu masuk saat mendengar suara yang begitu familiar di telinga mereka. "EOMMA!" Yoongi melepas tautan jarinya dengan Jimin dan berlari kearah eommanya, menerjangnya dan memeluknya erat. Raut khawatir kedua ibu beranak tunggal itu hilang begitu saja tergantikan dengan raut lega, dibelakang dua wanita cantik itu terdapat suami mereka yang sama khawatirnya dengan putra mereka satu-satunya.

"U-Ukhh~ Yoongi takut... Hikss.. Eomma Yoongi takut.." tangis Yoongi pecah saat sang eomma balas memeluknya dan mengusap surainya. Pertahannya sebagai yang lebih tua selama ini hancur begitu saja menjadi putra semata wayang kesayangan keluarga Min. Ibu Yoongi berkali-kali mengecup puncak kepala Yoongi, berusaha menenangkan putra kecilnya sambil terus merapalkan "Eomma sudah disini sayang."

Jimin yang berjalan tertatih-tatih karena luka di lututnya kembali mengeluarkan air matanya. Sang eomma segera berlari menghampiri buah hatinya dan menggendongnya, menepuk bokongnya menenangkan sambil mengusap surai hitam Jimin. "Eomma lutut Chimchim sakit.. Hikss..." Jimin mengelap ingusnya pada bahu sang ibu, lalu merengek manja disana.

Ayah Jimin datang mendekat dan ikut mengusap surai keturunan satu-satunya, "Hei jagoan, appa dan eomma sudah disini. Jangan menangis lagi."

Jimin yang mendengar suara appa segera mendongak, lalu mencoba meredakan tangisnya. Dirinya tidak boleh terlihat lemah dihadapan sang ayah karena sang ayah selalu berkata bahwa anak laki-laki harus kuat agar bisa melindungi yang mereka sayangi. "Chimchim sudah tidak menangis kok," Jimin mengusap air mata dan ingus di wajahnya asal dengan lengan bajunya yang menghasilkan kekehan gemas dari kedua orang tuanya. "Begitu dong baru jagoan appa."

.

.

.

Setelah berterima kasih dengan pasangan kakek-nenek yang menolong Jimin dan Yoongi, kedua keluarga itu memutuskan untu pulang. Hari libur kelurga Min dan Park diakhiri dengan makan malam di rumah keluarga Park. Yoongi kecil terus meminta maaf karena sudah pergi tanpa izin dari restoran. Tentu saja kedua orang tua itu hanya tersenyum maklum. Yoongi tidak pernah terlihat bersemangat seperti hari ini dan lari menemui Kumamon begitu saja tentu menjad hal yang wajar bagi bocah seperti Yoongi.

Yoongi merutuki kebodohannya hari ini. Sudah tidak bisa memeluk Kumamon, hilang ditengah kebun binatang ditambah membuat Jimin terluka karena tarikannya. Sungguh, Yoongi merasa hari yang seharusnya membahagiakan malah menjadi berantakan karena kecintaannya pada beruang hitam berwajah bodoh itu.

Jimin menghampiri Yoongi yang tidur memunggungi pintu. Dirinya sudah selesai bersih-bersih dan memutuskan untuk menginap dikamar Yoongi hari ini. Jimin merangkak naik keatas tempat tidur Yoongi, lalu menusukan jarinya ke pipi yang lebih tua, "Yoongi hyung~"

Yoongi membuka matanya, lalu membalikan tubuhnya menghadap Jimin, "Ada apa Jimin? Apa lukamu masih sakit?"

Jimin menggelengkan kepalanya lucu, lalu membaringkan tubuhnya disebelah Yoongi dan memeluk tubuh hyung kesayangannya meskipun terhalang oleh boneka ternista di dunia ini. Apa lagi kalau bukan Kumamon yang menyebabkan Yoongi hilang kendali tadi saing?

"Hyung, apa hyung dan Kumamon berkencan?"

Yoongi mengerutkan alisnya bingung mendengar pertanyaan kelewat polos Jimin, "Tidak, tapi kalau bisa aku mau berkencan dengan Kumamon." Yoongi terkekeh sendiri mendengar jawabannya yang mustahil.

Jimin mengerucutkan bibirnya lucu, "Kalau Chimchim menjadi Kumamon, apa hyung mau berkencan dengan Chimchim?"

Yoongi terlihat berikir sebentar, lalu mengangguk. "Boleh saja kalau kau benar-benar menjadi Kumamon."

Jimin tersenyum senang, apapun itu, meskipun menjadi Kumamon akan Jimin lakukan asal Yoongi mau berkencan dengannya. "Dimengerti hyung. Chimchim akan menjadi Kumamon saat besar nanti dan kita akan berkencan! Selamat tidur hyung!" Jimin mengecup pipi Yoongi dan kembali menyamankan posisinya memeluk yang lebih tua.

Sedangkan Yoongi? Ia ingin marah saat Jimin kembali dengan lancang mengecup pipinya dan memeluk tubuhnya begitu saja, namun mengurungkan niatnya saat melihat Jimin yang tertidur begitu pulas disampingnya. "Selamat tidur, Jimin."

Dan malam itu, Jimin kecil berumur lima tahun mempunyai cita-cita untuk menjadi Kumamon agar bisa mengencani hyung kesayangannya. Oh, tahu apa kau soal berkencan wahai bocah berumur lima tahun?

.

.

.

END

.

.

.

INFIRES!

Annyeong~ Syubsyub balik bawain special chapter oneshot sesuai janji. Kalau boleh jujur menurut syubsyub jalan ceritanya sedikit aneh dan tidak jelas sih, hehe (garuk-garuk) (garuk apa coba). Apalagi yang bagian Jimin sama Yoongi nangis mulu. Tapi maklum ya masih bocah, ilang di kebun binatang, gimana ga nangis coba. Tapi tetep aja aja lucu bayanginnya, apalagi pas bagian Jimin nangis terus ngelap ingusnya, ADUH KYEOPTAAAA~ syubsyub sampe cekikikan sendiri pas ngetik (kkk~).

Mungkin setelah ini syubysyub bakal post fanfic NamJin yang gak kalah gak jelas (ehe). Tapi masih dalam proses pengetikan sih, jadi gatau deh kapan baru dipulish. Oh iya, sebentar lagi kan lebaran tuh, meskipun syubsyub tidak merayakannya, tapi syubysyub mau ngucapin buat para readers yang merayakannya.

.

Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir Dan Batin.

.

Yang mudik hati-hati yaaa, semoga selamat sampai tujuan. Jangan sampe kecopetan juga, soalnya mbak syubsyub sering kecopetan kalo mau pulang kampung (hiks).

Terakhir, terima kasih untuk semua yang sudah bersedia membaca, memfollow, memfavorite bahkan sampai mereview fanfic yang sangat tidak jelas asal-usulnya ini. Maaf kalau mengecewakan dan tidak sesuai harapan (bow 90 degrees).

SPECIAL THANKS :

GithaAC : ntar begituannya sama Hobie kalo Hobienya udah peka (eh). | Viyomi : Tapi cincin kawin mahal, gimana dong? ;( | glowrie : SINGA BUNTING ADUH KENAPA SYUBSYUB NGAKAK. | vanilla kim | chimabs | Yessi94esy | MinJiSu : Jangan diabetes mulu aduuuhh. Baythewey, ini oneshotnya. | Min819 | fckbyeolous : Jangan dibawa pulang nanti kena amukan singa bunting (lho?) | BornSinger | Dedee5671 | Dessy574 | 07 : Permintaan Yoongi menjurus kemana? Hayolo, ketahuan lo (eh)(apaan dah). Btw, di chapter kemarin namanye cuma keluar 07 doang, tolong dimaafkan (sujud) | cupidd | Vhand17Seventeen-EXOtics | XiayuweLiu : (BGM - I Believe I Can Fly) | tryss : Kaum kelelawar dan vampire memang beda ya jam kerjanya (tos) | minyoonlovers | HyunShine : Syubsyub tersentuh(?) ada yang suka bagian mereka di HanGang, padahal iseng doang nambahin part itu. Terima Kasih (sujud) | yug93 | HamirohLangen | BabyByunie : Naenanya tunggu lebaran taun depan, kalo Jimin udah legal (eh)(keburu basi). Ada rencana buat M-Preg sih, hmm. Ditunggu saja kedepannyaaaa~ | applecrushx : SYUBSYUB JUGA SENENG KAMU REVIEW LAGI ADUHH! Yoongi kapan sih ga gemesin, syubsyub bingung. | exoinmylove : Ini oneshotnya. Selamat membacaa~ | wulancho95 : Diperawanin Jimin mungkin hadiah yang bagus (senyum nista)(ga deng). Tunggu aja saatnya Jimin merawanin tsundere satu ini (muehuehuee) | yourhope : Anak kecil gabole naena, jadi harus nanggung (eh) | Dan beberapa Guesttanpa nama yang sebenarnya reviewnya sangat menghibur.

Terima Kasih.

Salam, INFIRES!