.
I'm Not Four Years Old Anymore, Hyung!
.
Author : syubsyubchim
.
Cast :
Park Jimin X Min Yoongi
Slight!BTS
.
Rate : T
.
NOTE :
YAOI! BOYXBOY! TYPOs! Review Juseyo
.
.
.
Sudah kesekian kalinya Yoongi memutar tubuhnya didepan cermin kamarnya. Dan sudah kesekian kalinya juga Yoongi menghela nafas kasar, tidak puas dengan busana yang sedang dikenakannya. Yoongi melirik frustasi kearah setumpuk pakaian yang tergeletak berantakan hasil pencarian dari lemarinya satu jam yang lalu. Dan Yoongi tidak yakin lemarinya masih meninggalkan pakaian yang pantas untuk dikenakannya hari ini. Yoongi butuh pakaian baru.
Yoongi menoleh saat pintu kamarnya terbuka dan memunculkan sosok Jimin yang bersandar di pintu kamarnya sambil melipat lengan didepan dada. Jimin tersenyum sangat maskulin dengan gaya menyebalkannya, membuat Yoongi mendengus kesal tidak suka.
"Jadi, apakah Min Yoongi yang manis sudah menentukan apa yang akan dikenakannya?"
Yoongi berdecak tidak suka saat Jimin memanggilnya manis, "Entahlah, Jimin. Aku tidak tahu harus memakai apa. Dan, aku tidak manis!"
Oh, katakan itu pada orang yang sedang menghentakan kakinya kesal dan mengerucutkan bibirnya lucu. Jimin yakin harinya sudah diberkati karena menyaksikan pemandangan seindah ini di pagi hari. Jimin tidak bisa menghentikan kekehan gemasnya dan mulai melangkah menghampiri Yoongi.
"Mari kita lihat," Jimin memegang kedua bahu Yoongi dan memutar tubuhnya. Lagi-lagi Jimin tersenyum saat melihat Yoongi yang begitu mungil dalam balutan kemeja navy blue dan celana bahanya. "Kau sudah tampan, hyung," Jimin menangkup kedua belah pipi gempil Yoongi dan menekannya, membuat bibir Yoongi mengerucut maju, "Dan sangat manis." Jimin menghujani bibir Yoongi yang mengerucut maju dengan banyak ciuman. Membuat yang diciumi harus mendorong dada Jimin kuat agar Jimin berhenti menghujaninya dengan ciuman menyebalkan yang sialnya Yoongi nikmati itu.
"Aku tidak manis, Jimin!" Yoongi menyilangkan kedua lengannya di depan dada. Mencoba membuat pose yang menunjukan kalau dirinya tidak manis. Jimin hanya tersenyum gemas sambil mengangguk mengiyakan. Meskipun Jimin tahu apapun yang Yoongi lakukan tidak akan jauh dari kata indah, menggemaskan, membanggakan dan manis.
"Baiklah Min Yoongi yang tampan, mari kita turun kebawah karena sarapan sudah selesai. Kau juga tidak mau terlambat untuk interviewmu pagi ini, bukan?" Jimin meraih pinggang Yoongi mendekat.
Yoongi hendak membuka mulutnya mengucapkan sesuatu sebelum menutupnya kembali hanya untuk bergumam "Sebentar," dan berkeliaran di sekitar kamar untuk mengambil barang yang dibutuhkannya.
"CV, check." Yoongi memasukan sebuah map berwarna coklat tua kedalam tas hitamnya.
"Identitas diri, check." Setelah memastikan identitas dirinya tersimpan rapi didalam dompetnya, Yoongi beralih mengecek benda lainnya.
"CD, ah! Dimana rekaman laguku?" Yoongi mulai panik saat tidak menemukan kepingan CD hasil rekaman lagu yang menjadi salah satu persyaratan pendaftaran di tempat kerja barunya dimanapun. Yoongi yakin sudah meletakannya diatas nakas di samping tempat tidurnya tadi malam agar Yoongi tidak lupa membawanya pagi ini.
Jimin yang belum beranjak dari meja rias Yoongi terkekeh kecil dengan sekeping CD yang sedang dicari si pucat di tangan kanannya. "Hyung," Jimin memanggil pelan, membuat yang lebih tua menoleh dengan ekspresi tidak suka. Yoongi sedang berusaha mencari CD penentu masa depannya yang menghilang enah kemana dan Jimin mencoba untuk menggangunya sekarang.
Namun ekspresi Yoongi berubah saat melihat sekeping CD yang Jimin lambaikan ke udara dengan senyum kurang ajarnya. Bibir Yoongi tertarik lebar menunjukan gigi kecil serta gusi lucunya saat menghampiri Jimin. "Ya, Jimin! Berikan CD itu padaku."
Jimin menganggkat lengannya tinggi-tinggi, membuat Yoongi kesulitan meraih CDnya. Menikmati bagaimana Yoongi terlihat begitu lucu sedang melompat-lompat dengan bertumpu pada kedua bahunya berusaha meraih CDnya. "Tidak semudah itu, hyungie sayang."
Yoongi berdecak tidak suka, "Ini bukan waktunya untuk bermain-main, bocah. Aku butuh CD itu segera."
Jimin menunjukan seringai menyebalkannya, lalu melingkarkan lengannya di sekeliling pinggang Yoongi dan memajukan wajahnya kearah Yoongi. Wajah Jimin dan Yoongi hanya terpaut beberapa senti saat ini, dan semakin diminimalisir dengan bibir Jimin yang dimajukan. "Berikan aku satu ciuman."
Decakan Yoongi terdengar semakin keras. Kali ini ditambah dorongan tidak suka pada dada Jimin, "Tidak mau. Teruslah bermimpi!"
Namun dada bidang Jimin yang didorong Yoongi tidak menunjukan perubahan jarak. Jimin tidak bergeming bahkan saat Yoongi memukul dadanya pelan. Dengan helaan nafas pasrah, Yoongi menangkup kedua pipi Jimin dan memberikan sebuah kecupan singkat pada bibir Jimin, "Sudah, sekarang menjauhlah dan berikan-"
Belum selesai Yoongi menyuarakan maksudnya, tangan kurang ajar Jimin sudah menahan tengkuknya dan menindih bibir Yoongi dengan bibir tebalnya. Yoongi memberontak, tentu saja. Menerima perlakuan Jimin dengan sukarela tentu saja sangat bukan dirinya sekali.
Namun saat lumatan Jimin berubah menjadi jilatan penuh pada bibirnya dan lidah Jimin yang mendorong masuk, lenguhan Yoongi terdengar pasrah. Dorongan pada dada Jimin berubah menjadi remasan submisif pada kaos berbalut kemeja flanel Jimin. Jimin menyeringai saat menyadari Yoongi yang sudah luluh pada ciumannya.
Jimin mengakhiri ciuman basah dan panas mereka dengan kecupan manis pada sudut bibir Yoongi. Menghasilkan semburat menggemaskan pada pipi si pucat. Dan Jimin menyukainya. Wajah Yoongi tampak semakin indah dengan sedikit warna pada wajahnya.
"Ayo sarapan, hyung!"
.
.
.
"Jangan terlalu gugup, eomma yakin kau akan melakukan yang terbaik, sayang." Nyonya Min mengusap lembut surai pirang Yoongi dan meninggalkan sebuah kecupan pada puncak kepalanya saat mengantarkan putra kesayangannya sampai ke pintu depan setelah sarapan.
Yoongi memberikan senyum terbaiknya untuk meyakinkan sang eomma bahwa dirinya adalah putra yang pantas untuk dibanggakan dan dapat diandalkan. Sang appa hanya meninggalkan sebuah tepukan di bahunya dan senyuman penuh wibawa seperti biasa. Yoongi tahu meskipun tanpa kata-kata yang berarti, sang appa akan selalu mendukung dan mendoakan yang terbaik untuk jalan yang telah dipilihnya.
"Baiklah, Yoongi pamit dulu, appa, eomma."
Yoongi meninggalkan sebuah kecupan di masing-masing pipi sang ayah dan ibu, lalu menyusul Jimin yang sudah siap di mobil pada posisi kemudi. "Hati-hati, sayang. Jaga Yoongi baik-baik, Jimin!" Sebelum mobil itu menjauh, Ny. Min kembali berteriak, membuat sepasang kekasih itu menurunkan kaca mobil dan melambai pada sang ibu. Menandakan bahwa mereka mendengarnya dan jangan khawatirkan mereka.
.
.
.
Yoongi duduk di salah satu kursi di ruang tunggu sambil meremas kesepuluh jari-jarinya yang basah dengan gugup. Jimin sendiri duduk di sampingnya dan terlihat sangat santai dengan ponselnya. Yoongi mendongak setiap kali suara pintu terbuka ataupun tertutup. Membuat debaran gugup di dalam dadanya semakin nyata. Ini hanya sebuah interview kerja di salah satu entertaiment musik di Korea sebagai salah satu song writer dan Yoongi merasa dirinya seperti dirinya akan divonis hukuman mati. Maklum, ini interview kerja Yoongi yang pertama diatas nama dirinya sendiri. Tidak akan ada nama sekolah ataupun universitas yang akan membackupnya kali ini.
Helaan nafas kasar kembali Yoongi keluarkan demi menormalkan deru nafasnya. Jimin yang melihat kerisauan sang kekasih menarik Yoongi mendekat. Sebelah tangan Jimin menyusup diantara kesepuluh jemari Yoongi yang lembab. Memberikan remasan menenangkan disana saat Yoongi membalasnya dengan remasan gugup. Sebelah tangan Jimin menarik pinggang Yoongi mendekat dan menyandarkan kepala yang lebih tua pada dada bidangnya.
"Hei, jangan gugup begitu. Kau pasti akan diterima dengan baik oleh mereka. Mereka bukan orang buta yang tidak dapat melihat potensi bakat yang ada dalam dirimu. Atau orang tuli yang tidak dapat mendengarkan seberapa indah lagu ciptaanmu, sayang. Percayalah padaku."
Yoongi memejamkan matanya saat merasakan Jimin yang mendaratkan sebuah ciuman lama pada puncak kepalanya. Yoongi menghirup aroma maskulin yang menguar dari Jimin. Perlakuan Jimin kali ini benar-benar membuatnya nyaman dan Yoongi benar-benar menikmatinya.
Saat Jimin merasakan Yoongi yang mulai dapat mengendalikan dirinya, Jimin melepas pelukannya pada pinggang Yoongi. Meskipun sebelah tangannya tetap terpaut erat dengan kesepuluh jemari Yoongi.
Pintu ruangan kembali terbuka, menampakaan seorang pria yang sama setiap kali daun pintu itu bergerak. "Nomor urut ke dua puluh satu, Min Yoongi-ssi."
Yoongi berdiri saat namanya dipanggil. Orang tadi memberikan arahan pada Yoongi untuk segera menuju ruangan interviewnya. Yoongi mengangguk mengiyakan pada orang tersebut, merapikan pakaiannya memastikan dirinya terlihat meyakinkan. Terakhir, Yoongi melihat Jimin yang melemparkan senyum menenangkan penuh rasa percaya pada dirinya yang membuat Yoongi ikut tersenyum, "Doakan aku, Jimin." "Ya, semangat, hyung."
.
.
.
Yoongi mengetuk beberapa kali terlebih dahulu sebelum masuk kedalam ruang yang diyakininya sebagai ruang interview. Terlihat tiga orang berpakaian rapi yang duduk tegap menghadap pada sebuah kursi tunggal kosong ditengah. Yoongi yakin itu kursi untuk dirinya. Yoongi berdehem pelan dan sedikit membungkuk sopan sebelum mendudukan dirinya pada kursi kosong itu.
Salah seorang dari tiga orang di depan Yoongi tersenyum, "Selamat pagi, Yoongi-ssi. Pertama-tama kami ucapkan selamat karena telah berhasil melewati saringan online perekrutan pegawai yang diadakan perusahaan kami. Perkenalkan, saya Han Seungyeon salah satu anggota personalia yang akan menginterview anda pagi ini. Di samping saya adalah CEO dari perusahaan ini, Park Chanyeol-ssi dan dipaling ujung adalah staff personalia yang lain, Jessica Jung-ssi. Sekarang, silahkan perkenalkan diri anda."
Yoongi berdehem pelan, memastikan suaranya dalam keadaan baik-baik saja sebelum menjawab pertanyaan Seungyeon. "Ah, nama saya Min Yoongi, umur 23 tahun, lulusan K University."
Yoongi menjawab beberapa pertanyaan dari kedua staff personalia di depannya. Beberapa kali menunduk risih saat sang CEO tampan sama sekali tidak kelihatan lelah menatap intens kearahnya. Yoongi meremas kesepuluh jarinya gugup dan merapalkan nama Jimin dalam hati, mendadak ingin kekasih bocahnya berada di sampingnya san memeluknya posesif penuh sayang saat ini.
"Baiklah, terima kasih karena telah menyempatkan waktu untuk datang ke interview kami. Kami akan menghubungi anda dalam beberapa hari untuk hasilnya. Senang bekerja sama dengan anda," Jessica berdiri, hendak mengulurkan tangan sebagai tanda interview mereka telah selesai sebelum Chanyeol memotong.
"Tunggu sebentar," suara tenang namun penuh kharisma itu terdengar. Membuat Seungyeon dan Jessica bertatapan bingung satu sama lain. Melihat arahan dari sang rekan kerja, Jessica memilih kembali mendudukan dirinya. Yoongi yang tadinya bersiap berdiri pun mendudukan dirinya kembali, lalu melihat heran kearah Chanyeol yang bertopang dagu dan menatapnya intens.
Yoongi kembali menunduk dan merapalkan nama Jimin banyak kali dalam benaknya. Berharap kekasih bocahnya muncul dan menyelamatkannya dari tatapan tajam Chanyeol yang seolah dapat menembus tubuh mungilnya.
"Anda diterima, Yoongi-ssi."
Sebuah pernyataan terlontar yang membuat tiga pasang mata lainnya dalam ruangan itu membelak kaget. "Maaf, sajangnim. Tapi apakah anda serius?" Seungyeon bertanya pelan, takut menyinggung perasaan sang CEO.
Namun yang mereka dapatkan hanya anggukan singkat dari Chanyeol. Yoongi mengedipkan maniknya beberapa kali dengan mulut yang terbuka lucu. Membuat Chanyeol mengeluarkan kekehan pelan, "Tapi biarkan aku bertanya satu hal padamu, Yoongi-ssi."
Yoongi buru-buru menutu mulutnya dan menegakan posisi duduknya, "Oh, ya. Silahkan, sajangnim."
Chanyeol melipat kedua tangannya di depan dada, "Apakah kau masih single?"
Seungyeon dan Jessica kembali mengerutkan alis bingung. Ini pertama kalinya mereka melihat sang CEO bersikap begitu mudah pada calon pegawai di kantor mereka. Dan sekarang sang CEO sedang menanyakan status hubungan pria pucat itu? Apakah pegawai pucat itu begitu menarik hingga Chanyeol yang begitu kaku jatuh hati padanya begitu saja?
Yoongi kembali berkedip beberapa kali, "Ah, itu.." lalu menggaruk pipinya dengan jari telunjuknya, "Aku sudah memiliki seorang kekasih."
"Ah, bocah bantet yang datang bersamamu tadi?"
Yoongi membelakan matanya tidak percaya. 'Yang datang bersamamu tadi?'. Sejak kapan eksistensinya merebut perhatian Chanyeol? Dan apa-apaan nada mengejek yang dilontarkan Chanyeol terhadap kekasihnya. Yoongi boleh saja memanggil Jimin dengan sebutan bocah bantet mesum menyebalkan berkali-kali. Yoongi juga boleh saja bersikap seenaknya kepada Jimin. Tapi mendengar seseorang yang tidak dikenalnya menyebut Jimin 'bocah bantet' dengan nada mengejek membuat Yoongi sangat tersinggung. Chanyeol boleh saja menjadi calon atasannya. Tapi Yoongi tidak suka kalau calon atasannya merendahkan kekasihnya seperti itu.
Melihat tidak ada balasan dari si calon pegawai, Chanyeol menambahkan, "Dia terlihat lebih cocok menjadi adik kecilmu dari pada kekasihmu, Yoongi-ssi ."
"Maaf, sajangnim. Tapi tolong jangan menyebutnya dengan panggilan seperti itu. Kekasihku memiliki nama. Namanya Park Jimin. Tolong sebut dia dengan layak," Yoongi mengepalkan tangannya menahan emosi. Kalau saja pria yang mengeluarkan seringai tampan di depannya ini bukan calon atasannya, mungkin Yoongi sudah melayangkan sebuah tinju pada wajah tampannya.
Chanyeol terdengar terkekeh geli, lalu mendaratkan punggungnya pada sandaran kursi yang nyaman, "Apakah kau marah karena aku terdengar seperti menghina kekasih bocahmu, Yoongi-ssi?"
Yoongi kembali membuka bibirnya, berniat melontarkan protes pada Chanyeol yang melempar seringai menghina kepadanya. Namun ucapannya tertelan kembali saat melihat Chanyeol bangkit dari duduknya dan melangkah kearahnya.
Tubuh Yoongi menjadi kaku, apalagi saat Chanyeol berdiri di depan kursinya dengan tubuh yang ditundukan. Membuat jarak wajahnya dan Yoongi hanya terpisah beberapa senti. Yoongi menyilangkan lengannya di depan dadanya. Membuat penghalang diantara dirinya dan Chanyeol. Juga menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, membuat jarak semaksimal mungkin dengan tubuh kekar Chanyeol di depannya.
Dengan jarak sedekat ini, Yoongi bahkan bisa merasakan deru nafas Chanyeol yang menerpa wajahnya. Juga aroma maskulin dari tubuh gagah Chanyeol yang terbalut jas mahal. Membuat wajah Yoongi sedikit merona, mengingat dirinya tidak pernah berjarak sedekat ini dengan orang lain kecuali kekasih bocahnya, Jimin.
Ah, mengingat Jimin membuat Yoongi semakin tidak nyaman dengan posisinya dan Chanyeol yang terlihat begitu intim. Yoongi ingin Chanyeol menjauh dari tubuhnya dan membiarkan Yoongi bernafas dengan bebas. Tubuh gagah Chanyeol yang berada di depannya membuat nafas Yoongi menipis drastis. Belum lagi tatapan intens Chanyeol yang mengarah langsung kedalam bola matanya. Yoongi tidak suka keadaan seperti ini. Yoongi butuh jarak.
"S-Sajangnim.." Yoongi memanggil dengan suara bergetar, berharap Chanyeol akan memundurkan tubuhnya yang hampir menindih tubuh mungil Yoongi.
"Menarik.." Chanyeol terlihat berbisik pelan sambil menjilat bibirnya yang terasa kering. Lalu memundurkan tubuhnya hingga menciptakan jarak yang wajar baginya dan Yoongi. Terdengar helaan nafas cukup keras dari Yoongi yang terlihat seperti menahan nafas sejak tadi. Membuat Chanyeol mengulum senyum penuh makna di bibirnya.
"Anda diterima Min Yoongi-ssi. Senang bekerja sama dengan anda. Saya harap anda bersedia hadir besok pagi untuk menandatangani kontak diantara kita." Chanyeol mengulurkan sebelah tangannya kearah Yoongi dengan sebelah tangan lagi yang tersimpan di dalam saku celana bahan mahalnya.
Yoongi berkedip beberapa kali, lalu dengan ragu berdiri dan menerima uluran tangan Chanyeol. "Terima kasih, sajangnim. Kalau begitu saya permisi dulu."
Chanyeol hanya mengangguk sekilas sebelum Yoongi membungkukan badannya kearah tiga orang di dalam ruangan itu dan melangkah keluar. Sebelum Yoongi benar-benar menghilang dari pintu ruangan itu, Yoongi membalikan tubuhnya hanya untuk mendapati Chanyeol yang belum melepaskan tatapan tajamnya darinya. Membuat Yoongi meneguk ludah kaku dan segera berbalik untuk menghilang di balik pintu ruangan tersebut.
Yoongi menyandarkan tubuhnya yang melemas pada pintu ruangan yang sudah dia tutup sebelumnya. Menetralkan deru nafasnya yang tidak normal di dalam ruang keramat tadi. Saat Yoongi menegakan tubuhnya, Yoongi melihat Jimin yang sudah menunggunya dengan senyum menenangkannya di ujung lorong. Yoongi ikut tersenyum melihat Jimin yang sudah menunggunya. Dengan segera, Yoongi melangkahkan kakinya menghampiri Jimin.
Namun, senyum di bibir Yoongi hilang saat mengingat ucapan Chanyeol di dalam ruangan tadi. Apakah Jimin benar-benar lebih cocok menjadi adiknya daripada kekasihnya? Apakah bocah mesum menyebalkan yang sedang tersenyum dengan bodohnya sambil menantinya di ujung sana tidak pantas menjadi kekasihnya?
Yoongi menggelengkan kepalanya dengan cepat saat perasaan tidak enak dan pikiran buruk menghampiri dirinya, lalu mempercepat langkah kaki kearah Jimin. Yoongi bahkan nyaris berlari sebelum menabrakkan tubuhnya pada tubuh Jimin dan memeluk kekasih bocahnya begitu erat. Yoongi menenggelamkan wajahnya pada dada Jimin, menghirup aroma maskulin yang dapat menenangkan dirinya.
Jimin mengerutkan alisnya bingung saat Yoongi tiba-tiba memeluk tubuhnya dan begitu erat. Ini tempat umum dan Yoongi tidak pernah memeluk dirinya seerat ini kecuali ada sesuatu janggal yang terjadi. Perlahan, Jimin melingkarkan sebelah lengannya pada pinggang Yoongi dan mengusap helaian pirang Yoongi lembut dengan lengannya yang lain.
"Hey, sayang. Bagaimana interviewmu?"
Yoongi memejamkan maniknya, menikmati kecupan yang Jimin daratkan pada puncak kepalanya. Setelah Yoongi rasa cukup, dirinya mendongak dan menemukan Jimin yang menatapnya dengan tatapan memuja seperti biasa. Yoongi memberikan senyum terbaik yang bisa lakukan, "Aku diterima, tentu saja."
Jimin ikut tersenyum saat Yoongi memberikan berita bagus itu pada dirinya. Lalu mendaratkan satu ciuman singkat pada keningnya lagi, "Kekasihku memang yang terbaik."
Jimin melepaskan pelukannya pada Yoongi dan menggandeng tangan putih itu, "Baiklah, mari kita rayakan ini, hyung. Kau ingin makan apa? Aku akan membayar kali ini."
Yoongi terlihat berfikir sebentar, lalu menggeleng, "Entahlah, Jimin. Mungkin berjalan-jalan disekitar sini lumayan menarik. Kau tahu, aku harus mengetahui kondisi di sekitar ruang kerjaku."
Jimin mengangguk mengiyakan, "Tentu saja, ayo kita melihat-lihat"
Kedua sejoli itu berjalan beriringan dengan jari yang terpaut satu sama lain di sekitar gedung tempat Yoongi akan bekerja nantinya. Dan Yoongi tidak mau berbohong dengan mengatakan bahwa Yoongi tidak menyukai lingkungan di sekitar tempat kerjanya karena sungguh, tempat ini begitu nyaman. Yoongi dapat menemukan banyak restoran elite maupun cafe cozy yang cocok untuk menemani makan siangnya. Atau beberapa coffee shop kalau Yoongi butuh tempat mencari inspirasi untuk lagunya.
Yoongi juga menemukan banyak remaja yang berkumpul di sekitar gedung entertaimentnya untuk menunjukan bakat mereka. Ada yang memetik gitar iseng di bawah pohon, atau sekelompok remaja yang bernyanyi bersama, freestyle rap dan kebanyakan yang menunjukan bakat menari mereka. Melihat sekelompok remaja itu menari Yoongi mengingat kekasih bocahnya. Dan benar saja, saat Yoongi menoleh kearah Jimin, Jimin terlihat memperhatikan sekumpulan remaja yang sedang melakukan battle dance diantara kerumunan banyak orang dengan manik berbinar lucu. Yoongi yakin dirinya akan terlihat seperti itu kalau melihat Kumamon raksasa sedang melakukan battle dance di hadapannya.
Dengan lembut, Yoongi menepuk pundak Jimin, membuat si kekasih bocah menoleh. Yoongi melemparkan senyum lembut dan menunjuk kearah kumpulan remaja penari itu dengan dagunya, "Ikutlah kalau kau mau."
Jimin terlihat menggeleng sejenak, lalu mengeratkan jemarinya pada jemari Yoongi, "Tidak, hyung. Aku tidak mau membuatmu menunggu. Ayo kita cari makanan untuk perut kecilmu."
Namun saat Jimin melangkah menjauh, Yoongi tetap diam pada tempatnya, membuat Jimin menghentikan langkahnya. "Aku tidak akan keberatan menghabiskan waktuku demi menonton kekasihku yang akan beradu tarian kerennya dengan para remaja itu."
Jimin terkekeh kecil, tanpa disadarinya, rona samar muncul di pipinya. "Tarianku tidak keren, hyung."
Yoongi berdecak kecil melihat gelagat aneh kekasihnya. Biasanya Jimin akan dengan senang hati melakukan battle dance dengan Jungkook dan Hoseok. Tidak jarang Hoseok mengundang beberapa teman undergroundnya untuk ikut menari bersama tiga bocah penggila dance itu. Jadi Yoongi menarik paksa lengan Jimin sampai kekasih bocahnya kewalahan mengikuti langkahnya.
Yoongi mengucapkan 'permisi' pelan saat menerobos kerumunan penonton yang melingkari battle dance itu. Saat Yoongi dan Jimin sudah sampai pada barisan paling depan, dengan sangat tidak berperikemanusiaan, Yoongi mendorong tubuh Jimin sampai Jimin maju di tengah-tengah lingkaran. Seorang remaja laki-laki yang sedang melakukan break dance menghentikan tariannya dan menatap Jimin, lalu mengangkat dagunya seolah menyuruh Jimin menunjukan kemampuannya.
Jimin menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya dan menatap kearah remaja tadi dan Yoongi bergantian. Yoongi mengangguk singkat sambil menunjukan senyum kemenangannya karena berhasil menarik Jimin masuk ke dalam lingkaran battle dance. Sedangkan remaja tadi melipat kedua lengannya di depan dada, menunggu Jimin menunjukan kemampuan menarinya.
Jimin menghela nafas pasrah saat melihat tidak ada pilihan lain selain terlibat dalam battle dance kali ini. Jimin melepaskan kemeja flanel yang digunakannya dan mengikatnya ke pinggangnya. Meninggalkan kaos putih polos yang menempel di tubuhnya. Beberapa teriakan histeris terdengar saat Jimin melepaskan kemejanya membuat Yoongi mendelik tidak suka. Apalagi yang menjerit terdengar seperti noona-noona yang mengincar brondong tidak jelas.
Jimin memulai tariannya dengan pemanasan kecil, lalu langkah basic dalam bboy. Gerakan selanjutnya, Jimin melakukan beberapa gerakan popping dan wacking, disusul dengan wave di seluruh tubuhnya sambil bergerak mendekat kearah Yoongi yang dari tadi menontonnya dengan manik berbinar senang. Saat tubuh Jimin sudah sampai di depan Yoongi, Jimin mengedipkan sebelah matanya dan memberikan flying kiss kearah Yoongi yang mengundah teriakan heboh dari seluruh penonton lainnya.
Tanpa menunggu reaksi Yoongi, Jimin kembali ke tengah lingakaran dan melakukan beberapa trick bboy rumit yang memerlukan banyak latihan. Sedangkan Yoongi yang mendapat perlakuan seperti itu dari Jimin memerah padam. Apalagi kedipan yang Jimin berikan padanya terlihat begitu nakal dan menggoda. Yoongi mengumpat kecil sambil menangkup kedua pipinya yang terasa panas dan menepuk-nepuknya pelan, "Oh, sadarlah Min Yoongi!"
Saat Jimin kembali memberikan kedipan seksi dan menjulurkan bibirnya menggoda dari tengah lingkaran, Yoongi kehilangan tenaga pada kedua lututnya. Wajahnya benar-benar panas dan debaran di dalam dadanya kemungkinan dapat membunuh dirinya. Yoongi berjongkok dan menutup seluruh wajahnya dengan telapak tangannya. Malu dengan apa yang baru saja Jimin lakukan padanya.
"Park Jimin sialan!" Yooni mengumpat. Yoongi tidak lagi menghiraukan Jimin yang meliukan tubuh lenturnya di tengah lapangan, atau teriakan heboh para penonton saat Jimin melakukan trick bboy yang keren. Yoongi hanya ingin menghilang sekarang juga saat ini.
Jimin menyelesaikan tariannya dengan airflip yang mengundang tepukan heboh di sekelilingnya. Setelah melakukan high-five dengan remaja yang tidak dia ketahui namanya, Jimin menghampiri Yoongi yang masih berjongkok sambil menutup wajahnya. Jimin terkekeh pelan saat melihat kekasihnya begitu lucu dan mungil sedang berjongkok menahan malu. Jimin tahu Yoongi suka dengan tarian dan servicenya barusan, tapi Yoongi hanya terlalu malu karena Jimin melakukannya di depan umum.
Dengan perlahan, Jimin meraih kedua tangan Yoongi yang menghalangi wajahnya. Jimin menarik kedua lengan itu menjauh, dan mengecupnya bergantian dengan lama. Saat Yoongi membuka matanya, Yoongi melihat Jimin dengan senyum bocahnya memandang penuh arti kearah dirinya. Dan Yoongi benar-benar kesal bagaimana Jimin masih bisa tersenyum seperti bocah berumur empat tahun yang Yoongi temui empat belas tahun yang lalu sekarang saat Jimin dengan begitu profesionalnya menggoda Yoongi dengan tariannya beberapa saat lalu. Jimin bahkan terlihat seperti penari striptease profesional beberapa saat lalu. Membuat Yoongi sedikit menyesal telah membiarkan Jimin menari dan di tonton secara gratis oleh orang-orang disekitar mereka.
"Suka melihat kekasihmu menari dengan kerennya, hyung?" Jimin bertanya sambil menggoda. Yoongi mengerucutkan bibirnya kesal, lalu memukul dada Jimin dengan sebelah tangannya, "Aku menyuruhmu menari, bodoh! Bukan menggodaku!"
Jimin kembali terkekeh, lalu menyisirkan rambutnya kebelakang dengan kelima jarinya. "Jadi, kau tergoda, hyung?"
Yoongi mendelik tidak percaya pada kekasihnya saat ini, "Ya! Park Jimin bodoh!" Dengan kasar, Yoongi mendorong tubuh Jimin sampai terjatuh dan berdiri dari posisi jongkoknya. Dengan kesal Yoongi menerobos keluar diantara kerumunan penonton dengan kaki yang dihentak-hentakan.
Jimin sukses tergelak saat melihat kekasihnya yang kembali galak dengan begitu manisnya. Buru-buru Jimin bangkit dan mengejar Yoongi yang sudah berjalan menjauhinya, "Yah! Tunggu aku, sayang!"
Yoongi menyatukan alisnya kesal dan membalikan tubuhnya cepat saat mendengar Jimin yang memanggilnya 'sayang' dengan suara keras di depan umum. Yoongi masih malu dengan kejadian tadi dan Yoongi tidak ingin menambah rona merah dan debaran menyesakan di dalam dadanya.
Jimin tersenyum lebar seperti bocah saat dirinya berada di depan Yoongi, lalu menarik pinggang ramping si pucat mendekat. "Hei, kau tidak marah kan, hyung?"
Yoongi mengumpat pelan dalam nafasnya lalu mengalihkan pandangannya dari Jimin, "Aku marah kau menari seperti itu di depan orang lain."
Jimin berkedip beberapa kali dan terkekeh senang saat menyadari maksud kecemburuan Yoongi. Dengan cepat, Jimin melingkarkan lengannya pada pinggul Yoongi dan mengangkat tubuh mungilnya ke udara. Yoongi refleks meremas pundak Jimin dan mendelik kaget, "YA! Ya! Apa yang kau lakukan Jimin! Turun-"
Belum selesai Yoongi mengeluarkan protesnya, Jimin mencium Yoongi di bibirnya dan menekan kuat disana. Tidak ada lumatan ataupun permainan lidah. Hanya bibir Jimin yang menekan kuat kearah bibir Yoongi yang menatapnya tidak percaya dengan manik membola. Jimin melepaskan ciumannya setelah beberapa saat dan tersenyum begitu menawan kearah Yoongi. Sorot mata Jimin memancarkan cinta yang begitu besar mengarah langsung pada kedua manik karamel Yoongi. Membuat Yoongi menelan kembali segala bentuk protes yang hendak dia keluarkan saat itu juga.
"Aku mencintaimu, hyung. Benar-benar mencintaimu sampai dadaku rasanya sesak karena perasaan bahagia yang begitu membuncah."
Tatapan Yoongi melembut, begitu juga senyuman pada bibirnya yang melengkung begitu cantik. "Kau berlebihan, Jimin."
Jimin tidak membantah apapun yang Yoongi katakan. Jimin tahu dirinya dan Yoongi sama-sama menyadari apa yang Jimin katakan barusan adalah kenyataan. Tidak ada yan dilebih-lebihkan. Perlahan, Jimin menurunkan tubuh mungil Yoongi dan memberikan sebuah kecupan singkat pada puncak kepalanya sebelum deheman seseorang menarik perhatian Jimin.
Jimin membalikan tubuhnya dan menemukan seseorang dengan setelan mahalnya berdiri di depannya dan Yoongi. Tersenyum dengan begitu tampannya yang Jimin yakin sudah melukai banyak hati diluar sana. "Maaf, ada yang bisa saya bantu?" Jimin bertanya sopan.
Yoongi yang penasaran mengintip dari balik bahu Jimin. Dan tubuh Yoongi menegang saat melihat Chanyeol berdiri di hadapannya dan Jimin. Dengan perasaan tidak enak yang bercampur, Yoongi meremas kaos Jimin di bagian dadanya. Jimin yang menyadari kekasihnya merasa tidak nyaman segera melingkarkan lengannya posesif pada pinggang Yoongi dan memberikan usapan menenangkan disana. Yoongi sendiri meremas jemari Jimin yang bertengger pada pinggang rampingnya.
Senyum menawan Chanyeol tidak lepas bahkan setelah disuguhkan pemandangan romantis sepasang kekasih di hadapannya. Dengan sebelah tangan yang dimasukan kedalam saku celana bahan mahal, Chanyeol mengulurkan sebelah tangan lagi kearah Jimin, "Ah, perkenalkan namaku Park Chanyeol, CEO tempat Yoongi akan bekerja kelak."
Jimin menerima uluran tangan Chanyeol, "Oh, sajangnim. Perkenalkan nama saya Park Jimin."
Chanyeol terkekeh pelan saat menyadari marganya yang sama dengan Jimin, "Tidak perlu terlalu formal denganku, Jimin-ssi. Aku disini karena aku menyaksikanmu menari beberapa saat yang lalu."
Jimin hanya mengangguk kecil, "Ah, begitu." Jimin menjawab singkat, belum menangkap arah pembicaraan Chanyeol saat ini. Jimin masih bingung kenapa Chanyeol menghampirinya dan Yoongi. Apakah Chanyeol ada perlu dengan Yoongi atau Chanyeol ada perlu dengan dirinya?
"Jadi," Chanyeol mengeluarkan selembar kartu nama dari dalam dompetnya dan menyerahkannya kepada Jimin. Jimin menerimanya dengan alis berkerut dan tatapan penuh tanya kearah Chanyeol. "Aku tertarik dengan tarianmu. Berniat bergabung dengan entrertaiment kami?"
Jimin dan Yoongi sama-sama menjatuhkan rahang mereka tidak percaya. Yang benar saja, CEO dari entertaiment Yoongi turun tangan sendiri merekrut Jimin yang hanya iseng menari karena paksaan Yoongi? Jimin masih tidak percaya realita yang terjadi padanya. Jimin tidak merasa tariannya sebagus itu kalau dibandingkan dengan orang-orang lainnya. Bahkan Jimin yakin masih banyak remaja yang menari iseng disekitar sini yang memiliki bakat melebihi dirinya.
"Maaf, anda pasti sedang bercanda, sajangnim." Jimin mengusap tengkuknya kaku. Berusaha meyakinkan dirinya bahwa CEO muda di depannya sedang bercanda.
Chanyeol hanya tertawa pelan dan menggeleng. "Tidak, Jimin-ssi . Aku akan sangat senang kalau kau memilih bergabung dengan entertaiment kami. Entertaiment kami akan menjadi sangat beruntung kalau ada bibit dengan bakat menakjubkan seperti dirimu."
Jimin hanya membungkuk dan mengucapkan terima kasih dengan pelan. "Ah, mungkin saya akan memikirkannya terlebih dahulu, sajangnim."
Chanyeol mengangguk mengerti, lalu mengalihkan pandangannya kearah Yoongi, "Baiklah, aku akan menunggu panggilan darimu segera, Jimin-ssi. Dan aku berharap melihatmu di kantorku besok pagi, Yoongi-ssi. Kalau begitu aku pamit dulu."
Chanyeol sedikit membungkukkan tubuhnya dibalas dengan bungkukkan cepat Jimin dan Yoongi. Saat tubuh tinggi Chanyeol menghilang diantara kerumunan remaja, Yoongi menarik lengan baju Jimin pelan. Mencoba mengalihkan perhatian kekasihnya yang masih tersenyum senang sedari tadi. Yoongi yakin Jimin sangat senang saat ini. Apalagi sampai di tawari untuk bergabung dengan entertaimentnya begitu. Dan Yoongi ingin memastikan apakah kekasihnya akan menerima tawaran langka itu.
"Jadi Jimin, apa keputusanmu?"
Jimin menggeleng kecil, lalu menatap kembali kartu nama Chanyeol ditangannya, "Entahlah hyung. Aku begitu menginginkan hal ini terjadi. Tapi aku akan membicarakannya dengan eomma dan appa terlebih dahulu."
Yoongi menyunggingkan senyum lembutnya, "Ambillah kesempatan ini kalau kau memang menginginkannya, Jimin. Kau tahu aku akan selalu mendukung pilihanmu, kan?"
Jimin ikut tersenyum melihat kekasihnya yang terlihat begitu supportif, lalu mendaratkan sebuah kecupan pada hidung Yoongi, "Ya, aku tahu hyung. Sekarang, ayo kita cari daging domba kesukaanmu
Mendengar daging domba kesukaannya, manik Yoongi berbinar semangat. Dengan cepat, Yoongi menarik tangan Jimin untuk berjalan mencari restoran yang menjual daging domba di sekitar mereka. "Tentu saja! Ayo makan daging domba untuk merayakan ini!"
.
.
.
TBC
.
.
.
INFIRES!
Annyeong readers-nim sekalian. Syubsyubchim balik bawain lanjutan fanfic gajelas ini. Akhirnya setelah bertarung dengan waktu dan ide yang mampet fanfic ini kelar juga. Dan lebih panjang dari yang syubysub ekspektasikan. Jadi sebenarnya syubsyub cukup senang dan puas dengan chapter kali ini. Namun kalo ada yang kurang, kritik dan sarannya akan sangat diterima sekali. Maaf juga kalo ada yang merasa alurnya kecepetan. Ditulis di review saja kritik dan sarannya, jadi fanfic ini dapat menjadi lebih baik lagi.
Sebenarnya, syubsyub sedikit kecewa karena review yang semakin sedikir di chapter lalu. Syubsyub sadar syubsyub updatenya kelamaan, tapi mau bagaimana lagi, jadwal syubsyub yang padat dan tugas kuliah gabisa ditunda. Mau ga mau syubsyub harus menyelesaikan kewajiban yang itu dulu, baru menyelesaikan kewajiban yang ini.
Lalu, ada yang bilang kalo konfiknya kurang. Syubsyub belum nemu konflik yang pas untuk dimasukan pada cerita di chapter-chapter sebelumnya dan syubsyub bukan penggemar konflik yang terlalu berat. Daripada jatuhnya telal dibuat-buat dan drama jadi syubsyub memilih konflik yang ringan untuk setiap fanfic syubsyub. Tapi d chapter ini awal-mula konflik akan terjadi, kok. Karena syubsyub tahu cerita tanpa konflik seperti sayur tanpa garam (apasih).
Terus syubsyub juga belum tahu kapan fanfic ini bakalan berakhir. Soalnya syubsyub berencana buat sampe mereka nikah sih. Tapi pada bosen ga? Kalo pada bosen mungkin syubsyub bakal end fanfic ini dalam beberapa chapter kedepan. Tapi kalo banyak yang mendukung, syubsyub bakal lanjutin fanfic ini sebisa syubsyub. Jadi, sebenarnya kelanjutan fanfic ini tuh ada di tangan readers-nim sekalian. Hehehe.
Terakhir, terima kasih untuk semua yang sudah bersedia membaca, memfollow, memfavorite bahkan sampai mereview fanfic yang sangat tidak jelas asal-usulnya ini. Maaf kalau mengecewakan.
SPECIAL THANKS :
07 : Babynya Minyoon masih dalam proses yang sangat lama karena membutuhkan umur yang cukup dan waktu yang tepat (nahloh). Jadi ditunggu aja ya saatnya untuk baby Minyoon muncul. Kkkk~ Btw, thankyou buat reviewnya! | ravoletta : Iyanih semangat kok! (yoshh) Terimakasih juga buat reviewnya. | LittleKwon : Ini nextnya, semoga suka! Btw, thankyou udah mau review. | Cupid : Tenang yang END cuma special chapternya aja kok. Jimin ama Yoongi memang selalu unyu setiap saat! Btw, thankyou udah mau review. | CandytoPuppy : Tenang yang END cuma special chapternya aja kok. Hehehe. Btw, makasih udah mau ninggalin review. | rossadilla17 : Iya Yoongi kalo senyum manisnya kebangetan. Bikin diabetes. Bahaya XD Btw, thankyou udah mau ninggalin review. | SyugarMint : Iya yang END cuma special storynya doang. Soalnya chapter itu menunjukan betapa besar cintanya Jimin ke Yoongi jadi cuma ada Jiminnya doang. Hehe. Maaf kalo mengecewakan. Btw, thankyou udah mau ninggalin review. | exoinmylove : Iyapp! Yang end cuma special chapternya aja. Btw thankyou buat reviewnya. | Cho Ryeomi : Aduh thankyou banget udah mau jadi reader setia syubsyub yang tak lebih dari serpihan ketombenya Holly. Btw ini belum end loh, yang end cuma special chapternya doang. Naenanya mungkin lain waktu. Entar diburu Yoongi loh kalo isi ceritanya cuma naena mulu. Hehehe. Btw, thankyou banget udah mau ninggalin review. | HyunShine : Jimin emang cowok penuh cheesyness. Bikin mau (nahloh) XD Btw, thankyou udah mau ninggalin review. | XiayuweLiu : Cari gih satu yang gombalnya kaya Jimin XD Iya, Yoongi selalu bikin ngiri punya cowo kaya Jimin. Btw, makasih udah mau ninggalin review. | ym : Iya yang end special chapter doang kok. Ini masih ada lanjutannya hehehe. Hayo yang baperr, sini di pukpukpuk. Btw, thankyou udah mau ninggalin review. | applecrushx : Dari segi mananya kamu korban kemesuman syubsyub. Syubsyub bahkan baru nulis naena sekali. Dasar kamu mesum XD Btw, thankyou buat reviewnya. | Wiro Sableng819 : Jimin fix milik Yoongi gabisa dipisahkan apalagi disisakan XD Btw, thankyou udah ninggalin review. | glowrie : Sini reviewan kamunya minta dicium balik banget. Memang chim itu terlalu material boyfriend. Hanya bisa ditemukan di fiksi dan imajinasi (nangis di pojokan). Dan Yoongi terlalu imut untuk kehidupan yang kejam ini (apadeh) (ngedrama) XD Btw, makasih buat reviewannya. Sini ketjup basah dulu. | Park RinHyun-Uchiha : Kata-kata gombal chimin ga kelebihan gula kok. Hanya kelebihan keju XD Btw, thankyou udah ninggalin review. | Fujimoto Yumi : Hai senpai! Hidup ini memang kejam dengan tugas menumpuk. But luckily syubsyub survive dengan kehidupan kejam kuliah dan menyelam dalam kehidupan manis Chimin sama Yungi. Chim memang terlahir narsis dan mesum ya XD Btw, kalo Mpregnya sekarang entar Chimin ngasih makan dede bayi pake apa XD Biarkan Jimin bekerja dan menjadi appa yang baik dulu (eheeeeyy) Btw, thankyou banget buat reviewannya senpai. Sini ketjup basah dulu. | minyoonlovers : Aduh kamunya perhatian bangett! Gemes deh jadinya. Yungi emang selalu bikin ngiri dengan perhatian yang Jimin kasih ke dia (ikut nangis di pojokan) Btw, thankyou buat reviewnya. | gbrlchnerklhn : Noooooo, ini belum end kok. Hehehe. Btw, thankyou udah ninggalin review. | sooindri09 : Karena semua hal yang ada di Yoongi emang imut jadi ngedeskripsiinya cuma bisa imut. Dan Tsundere (digeplak) Iya nih nulisnya selalu curi-curi waktu. Btw, thankyou udah ninggalin review. | jojow2213 : Aduh maaf banget udah nunggu lama. Btw, makasih juga udah ngereview. | BornSinger : Masih lanjut kok. Jimin emang kalo laki laki banget. Bikin pengen (nahloh). Btw, thankyou udah ninggalin review. | anunyajimin : Kalo mau mimisan mimisan aja. Syubsyub jualan tisu kok. Lumayan siapa tahu laku. Hehehe. Kalo pacarnya kaya Jimin ga dibolehin keluar rumah. Suruh jaga anak aja XD Btw, thankyou udah mau review. | michaelchildhood : Wah kamu baru baca marathon ya? Belum end kok, ini lanjutannya. Btw, thankyou buat reviewnya. | viiii : Reader mah gitu, baperan semua. Kurang belaian ya (eheeeyyy) (dikeroyok massa). Btw, thankyou udah mau review. | Hanami96 : Ini lanjutannya, selamat menikamati (dkira makanan). Btw, thankyou udha mau ninggalin review. | etissunaryop : Iya syubsyub juga tahu kok realitanya kalo jari chim itu unyu-unyu banget. Tapi karena ini hanya sekedar fiksi jadi syubsyub buat jari-jari Yoongi yang lebih kecil ^^ Btw, thankyou buat reviewnya. | Phylindan : Uah senpai yang lain hadir! Kalo versi Yoongi ke Jiminnya entar isinya kebohongan semua. Yoongi mah tsundere akut (dilempar ke laut). Kalo ini difilmkan para fujoshi bakalan mimisan masal XD Btw, thankyou udah mau ninggalin review, senpai! Sini ketjup basah dulu.
.
Terima Kasih.
.
Salam, INFIRES!
