Naruto punya Om Masashi #jelaas
Story by Anzu
Pair : SasuFemNaru slight ItaFemKyuu, SasoFemDei
Rating : M #Maksa #plakk
Genre : Romance, hurt/comfort, crime -saya masih bingung -_-
Warn : OOC, ranjau typos, femNaru, gaje, cerita pasaran
.
ini fict pertama saya minaa~ jadi maklumi jika gaje, abal dan lain sejenisnya :*
ada yang sadar gak kalo di summary saya nulis ItaFemNaru tapi di saya nulis ItaFemKyuu? O.o hahaha~ gomeeen _ dan arigato bwt Sivanya anggarada yang secara langsung maupun gak langsung udah mengingatkan saya :D
Juga buat reader lain yang udah ngasih saran arigatoooo~ /ketchup basah/
.
Thank's to : Atarashi383, ghighichan twinsangels, Aiko Michishige, .faris, Arum Junnie, Riena Okazaki, , Fuji Ai Chan
Naruto : 16 thn
Kyuubi : 18 thn
Deidara : 22 thn
Sasuke : 25 thn
Itachi : 27 thn
Sasori : 25 thn
.
Yuk mariii kita lanjuut~~ semoga berkenan ;-)
.
.
"Naru, bangun sayang...kau tak ingin terlambat kan?" Kushina mengguncang tubuh Naruto dengan pelan.
Ya, hari ini adalah hari pertama Naruto masuk ke sekolah tanpa setelah perusahaan ayahnya bangkrut.
"Nnggh...sebentar lagi kaa-chan, Naru masih ngantuk." Naruto mengibaskan tangan Kushina dengan pelan lalu kembali bergelung nyaman.
"Tidak bisa sayang." Kushina terus memaksa Naruto untuk segera bangun. "Apa Naru lupa kalau Naru harus berangkat pagi untuk ke sekolah? Naru bisa terlambat loh..." Naruto hanya menggelengkan kepalanya tidak mau mendengar penjelasan sang kaa-san. Kushina menghela nafas berat. "Jika Naru tidak bangun, nanati nee-san mu akan marah lo, mau – " belum selesai berbicara pintu kamar Naruto langsung terbuka dengan debuman yang sangat keras sampai-sampai membuat Naruto terlonjak dari tidurnya.
"Mau sampai kapan mau terus-terusan bergelung di tempat tidur ha?" bentak Kyuubi sambil berjalan ke ranjang Naruto.
Naruto mengerucutkan bibirnya kesal. "Nande? Kita tidak perlu bangun pagi untuk berangkat ke sekolah. Akan ada Iruka-san yang mengantar dengan mobil."
Kyuubi mendengus kesal. Ia meminta sang kaa-san untuk kembali ke dapur, mengambil alih tugasnya untuk membangunkan adik semata wayangnya itu. Kushina mengangguk. "Jangan di marahi ya," pesannya sebelum meninggalkan kamar Naruto.
"Kau lupa jika kita sudah tidak bisa berangkat ke sekolah naik mobil?" tanya Kyuubi sambil mendudukkan tubuhnya di ranjang sang adik. Naruto mengerutkan keningnya bingung. "Kita harus naik kereta untuk pergi ke sekolah. Kita sudah tidak punya mobil lagi."
Naruto menghela nafas kecewa. "Yang benar saja, nee-chan! Naru tidak mau naik kereta, sempit! Berdesak-desakkan! Dan sudah pasti Naru tak akan dapat tempat duduk."
"Namanya juga naik kereta, pasti seperti itu!" Kyuubi mendeathglare sang adik namun tak dihiraukan.
"Tapi Naru tidak mau..."
"Kalau begitu kau maunya bagaimana? Tidak sekolah? Jangan manja!" Kyuubi yang mulai habis kesabarannya tak sadar telah membentak adiknya.
"Naru tidak manja! Naru hanya tidak mau naik kereta yang akan membuat Naru tidak betah!" Naruto balas membentak. Ia tidak suka jika ada yang berteriak padanya.
"Kalau begitu kau jalan kaki saja! Biar aku dan Dei-nee yang berangkat naik kereta!
"Jangan membentak Naru!" Naruto melempar bantal yang ada di sebelahnya dan dengan cepat di tangkap oleh Kyuubi yang langsung membuang bantal itu ke lantai.
"Kalau begitu jangan buat aku marah! Hidup kita yang sekarang tidak sama lagi dengan yang dulu, belajarlah untuk mandiri. Mau sampai kapan kau akan begini terus ha?"
Naruto tak menjawab. Ia hanya menatap Kyuubi dengan pandangan yang berkaca-kaca, sekuat tenaga ia menggigit bibir bawahnya agar tidak bergetar. Tangan kanannya menggenggam sprei di bawahnya dengan kuat. Antara marah dan takut bercampur menjadi satu. Ia tidak tahu bagaimana harus membalas perkataan sang kakak karna ia tahu kehidupannya yang sekarang tak akan sama lagi dengan yang dulu.
Kyuubi menatap Naruto tanpa mengurangi pandangan tajam nya lalu tak berapa lama kemudian isakan kecil mulai terdengar di indera pendengaran Kyuubi. Kyuubi terbelalak ketika menyadari apa yang baru saja ia lakukan.
Oh! Kami sama! Apa yang baru saja aku lakukan? Kyuubi mengutuk dalam hati karena tak bisa menahan emosinya.
"Na-naru..."
"Nee-chan jahat! Naru benci nee-chan! Benci!"
Dan Naruto pun langsung berlari keluar kamar meninggalkan Kyuubi yang terpaku menatap ranjang kosong di hadapannya.
BRAKK!
Kyuubi tersentak. Ia segera menoleh ke belakang dan mendapati pintu sudah tertutup. Tak memikirkan hal lain, Kyuubi segera berlari membuka pintu dan langsung berlari mengejar Naruto.
"Naru, tunggu! Naru! Nee-chan tidak bermaksud membentak mu. Naru..."
DRAP
DRAP
DRAP
Suara-suara langkah kaki menuruni tangga terdengar hingga ke ruang makan. Deidara yang tengah membantu Kushina menata piring langsung menoleh ke lantai dua dan mendapati kedua adiknya berlarian turun ke bawah.
"Kyuubi...Naru...ada ap – "
BRUK
Tubuh Deidara langsung terdorong ke belakang ketika Naruto dengan keras menabrakkan tubuhnya pada sang kakak.
"Naru?" tanya Deidara bingung. Ia segera mengalihkan pandangan pada Kyuubi yang masih terengah-engah di tangga dasar sambil sesekali mengatur nafas. "Apa kalian bertengkar?"
"Tidak/Iya"
Kyuubi dan Naruto menjawab bersamaan. Deidara mengangkat sebelah alisnya ketika mendapati jawaban yang berbeda dari kedua adiknya. Secara bergantian ia tatap kedua adiknya yang masih terdiam tidak memberikan penjelasan sama sekali.
"Haaah." Deidara menghela nafas. "Sebenarnya ada apa, un? Kenapa lari-lari di dalam rumah, un?" tanya Deidara pada si bungsu.
"Kyuu-nee membentak Naru, nee-chan," adu Naruto sambil menatap Deidara dengan pandangan berkaca-kaca.
Ugh! Tatapan itu... siapa pun yang melihat tatapan itu pasti akan langsung terpesona. Sekalipun itu Deidara, saudara perempuannya sendiri. Melihat adiknya masih menatapnya dengan pandangan berkaca-kaca yang setengahnya meminta pembelaan cepat-cepat Deidara mengalihkan pandangan ke arah Kyuubi yang sudah berjalan ke arah mereka.
"Benarkah itu Kyuu?"
"Iie, aku tidak – "
"Kyuu-nee membentak Naru tadi!" Naruto menatap Kyuubi dengan kesal sambil mengerucutkan bibir mungilnya.
"Nee-chan tidak bermaksud membentak Naru." Kyuubi membela diri. "Kalau Naru mau cepat-cepat bangun nee-chan tidak mungkin membentak Naru."
"Oh-oh, jadi Naru mau bermalas-malasan, un?" Naruto cepat-cepat menggeleng masih dengan bibir mengerucut imut. "Tidak boleh berbohong, Naru-chan..."
"Ugh!" Naruto melepaskan pelukan pada kakaknya lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Naru masih ngantuk, nee-chan. Lagipula jarak rumah ke sekolah tidak jauh, kita bisa sampai di sekolah kurang dari setengah jam..."
"Itu kalau kita naik mobil, sekarang kita tidak punya mobil, un. Kita harus naik kereta, un."
Naruto menatap kakaknya dengan kesal. "Naik kereta akan butuh waktu lama. Naru tidak mau terlambat."
"Maka dari itu nee-chan membangunkan mu sepagi ini supaya kita tidak terlambat." Kali ini Kyuubi yang angkat bicara dan tak lama kemudian Minato dan Kushina tiba di ruang makan dan segera duduk di kursi masing-masing.
"Ada apa ini? Apa ada masalah?" tanya Minato.
"Kyuu-nee membentak Naru, tou-chan." Adu Naruto. Lagi.
Minato mengangkat kedua alisnya. Persis seperti yang dilakukan Deidara. "Benarkah itu Kyuu?" tanyanya pada Kyuubi.
Kyuubi menghela nafas panjang. "Kyuubi tidak sengaja membentak Naru, tou-san. Kyuubi khilaf," katanya dengan menyesal.
"Apa yang membuat mu membentak Naru, Kyuu?"
Diberi pertanyaan seperti itu oleh Kushina mau tak mau membuat Kyuubi harus menatap sang adik yang tengah menggigit bibir bawahnya. Takut jika Kyuubi mengadu permasalahan yang sebenarnya dan akan membuat Naruto di marahi.
"Tidak ada, kaa-san. Lupakan saja." Akhirnya Kyuubi menjawab dan setelah itu Deidara langsung meminta si bungsu untuk duduk di meja makan. Meski terlihat Kushina kurang puas dengan jawaban yang diberikan oleh Kyuubi. Naruto menatap nee-chan nya dengan pandangan berterimakasih meski Kyuubi tidak menatapnya.
.
.
"Dei."
Sebuah suara baritone menyapa indera pendengaran Deidara ketika ia sibuk menata buku di dalam lokernya. Dengan gerakan pelan ia menutup pintu loker dan menolehkan kepalanya ke samping dan mendapati seorang pria berwajah baby face berambut merah bata tengah menatapnya.
"Sasori senpai?" tanyanya tak percaya.
Pria bernama Sasori itu mengangguk lalu mengintruksikan Deidara untuk mengikutinya dengan mengedikkan kepalanya.
"Tapi, setelah ini aku ada kelas, un." Deidara menggigit bibir bawahnya ragu. " aku tidak bisa pergi lama-lama, un."
Sasori yang sudah berjalan terlebih dahulu langsung berhenti dan menengok ke belakang. "Hanya sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu. Penting." Dan tanpa menunggu jawaban pria yang tiga tahun lebih tua dari Deidara itu pun kembali berjalan meninggalkan Deidara yang tengah memberenggut kesal.
"Dasar otoriter, un!" kesal Deidara sambil menendang lokernya dengan keras hingga menimbulkan suara debuman keras yang dapat menarik perhatian orang di sekitar. Deidara mengacuhkannya, ia segera menyusul pria otoriter yang telah membuatnya kesal setengah mati.
"Senpai! Tunggu! Tunggu!"
Meski langkah Deidara tidak bisa di bilang lambat tapi tetap saja sosok di depannya itu hampir tak terkejar jika Deidara tidak hafal dengan rambut merah batanya yang menyala diantara ratusan orang yang tengah hilir mudik di koridor kampus.
"Mau kemana sih, un? Apa tidak bisa bicara di sekitar sini saja, un? Aku kan capek kalau harus lari-lari seperti ini, un," gerutu Deidara. Nafasnya yang tersengal-sengal karena berlari membuatnya harus beberapa kali berhenti di tengah jalan.
"Aaaargh...kemana perginya dia, un?" Deidara menoleh ke kanan dan kiri setelah ia kehilangan jejak si pria baby face. "Aish, dasar pria pemaksa, un! Kenapa malah meninggalkan ku?" lagi-lagi dengan kakinya Deidara menendang udara dengan kesal. Bibirnya mengerucut persis yang biasa dilakukan oleh si bungsu.
"Siapa yang kau maksud pria pemaksa?"
Deidara tersentak. Ia segera menoleh ke belakang dan...
Bugh!
Wajahnya sukses mencium dada bidang Sasori dengan keras. Ternyata tanpa di ketahui oleh si pirang Sasori telah berdiri di belakangnya sejak Deidara menghentikan langkahnya yang otomatis membuatnya dapat mendengar keluh kesah si pirang.
"Kenapa tiba-tiba berdiri di belakang ku, un?" tanya Deidara setengah membentak.
Sasori mengangkat sebelah alisnya. "Dari tadi aku berdiri disana." Sasori menunjuk bangku di salah satu taman dengan ibu jarinya. Deidara sweatdrop.
Kenapa aku tidak melihatnya? Oh, Kami sama...
"Oooh, maafkan aku senpai. Aku benar-benar tidak melihat senpai, un."
"Hmm. Ayo kita kesana." Dan tanpa di duga, Sasori meraih tangan Deidara dan menuntunnya ke bangku taman. Dengan lembut Sasori mendorong tubuh mungil Deidara untuk duduk. Deidara bergerak-gerak gelisah. Ia tidak terbiasa diperlakukan seperti ini, apalagi oleh seseorang seperti Sasori. Salah satu mahasiswa yang paling populr di Universitas Konoha.
"Apa yang mau senpai katakan, un?"
"Aku – "
.
.
TBC
Nah minaa~ sekian dulu ne ... :D
Sumpah karena saya gak terbiasa menulis fict jadi susah sekali untuk membuat ide cerita _
Saya benar-benar kagum dengan para author lain yang bisa menulis fict berchapter-chapter bahkan sampai ada yang sudah mempunyai fict belasan bahkan puluhan. #Curcol
Saya acungi jempol untuk bakat dan imajinasi para author :D
Saya harap saya juga bisa menjadi author seperti kalian
.
Nah, terkahir...review please ^_^
Kritik dan saran sangat saya butuhkan untuk memperbarui tulisan saya #bow
