.

I'm Not Four Years Old Anymore, Hyung!

.

Author : syubsyubchim

.

Cast :

Park Jimin X Min Yoongi

Slight!BTS

.

Rate : T

.

NOTE :

YAOI! BOYXBOY! TYPOs! Review Juseyo


.

.

.

Yoongi menggandeng -menarik paksa- Jimin memasuki salah satu restoran daging domba di dekat gedung entertaimentnya. Manik Yoongi berbinar antusias saat melihat papan nama yang digantungkan didepan pintu restoran tadi dan menarik lengan Jimin dengan begitu brutal saat menghirup aroma daging domba yang menguar dari dalam restoran tersebut. Yoongi sangat lapar dan butuh asupan makanan saat ini. Apalagi makanan yang berada di depannya adalah daging domba kesukaannya.

TRING~!

Lonceng kecil diatas pintu berbunyi nyaring saat Yoongi mendorongnya terbuka dengan semangat. Suasana restoran tidak begitu ramai karena jam makan siang sudah berlalu beberapa saat yang lalu. Hanya ada beberapa pasangan dan kumpulan remaja yang sedang menikmati makanan dan waktu mengobrol mereka. Yoongi memilih tempat di samping jendela besar yang menghadap keluar restoran. Yoongi menyukai suasana di sekitar tempat kerjanya. Dan makan daging domba ditemani pemandangan seperti itu bukanlah ide yang buruk.

"Pelan-pelan, hyungie sayang. Tidak akan ada orang yang mengambil daging dombamu." Jimin tersenyum gemas saat melihat Yoongi yang sedari tadi begitu gesit menariknya masuk dan mendudukan dirinya di tempat duduk pilihannya.

Yoongi hanya menunjukan senyum gusinya lebar-lebar, "Tapi aku sangat lapar dan ingin makan daging domba, Jiminie."

Jimin tergelak kecil saat mendengar Yoongi yang menyebut namanya dengan begitu manis. Tipe Yoongi sekali saat ingin mendapatkan sesuatu. Dengan gemas Jimin mengacak surai Yoongi dan mendudukan diri didepannya. "Ya, ayo kita pesan daging domba kesukaanmu yang banyak."

Yoongi memanggil salah satu pramusaji dengan semangat dan memesan makanannya. Sedangkan Jimin hanya duduk menopang dagu melihat Yoongi yang begitu semangat kalau sudah berhubungan dengan daging domba. Jimin tidak perlu repot-repot untuk memesan. Jimin yakin Yoongi sudah memesan porsi yang lebih dari cukup untuk mereka berdua.

"Jadi hyung pesan berapa porsi, huh?"

Jimin bertanya sesaat setelah sang pramusaji meninggalkan meja mereka. Sebelah tangannya menopang di pipi dan sebelahnya lagi terulur untuk merapikan surai Yoongi yang sedikit berantakan. Yang ditanya kembali menunjukan senyum gusi kekanakannya, "Lima!" jawabnya semangat dengan kelima jari yang diarahkan kearah Jimin.

"Kau akan membayarnya, kan?" Yoongi berkedip polos saat Jimin terkekeh kecil karena jawabannya.

"Tentu saja, hyungie sayang. Aku akan membayar berapapun yang kau habiskan hari ini."

Yoongi menunjukan senyum gusinya, ingin memeluk kekasih bocahnya sebagai tanda terima kasih kalau saja tidak ada meja yang menghalangi tubuh mereka berdua.

Keadan berubah hening saat Yoongi menopang dagunya dan menatap kearah luar jendela. Yoongi sudah bilang kalau dia menyukai suasana diluar sana, kan? Jadi yang Yoongi lakukan hanya menikmati orang-orang dengan kegiatan tersendiri mereka. Sedangkan Jimin hanya tersenyum memperhatikan Yoongi yang tampak begitu murni di depannya.

"Hei, kau lihat kedua pasangan di samping jendela itu? Mereka tampak begitu manis." Samar-samar, Yoongi mendengar bisikan dari dua orang wanita yang duduk dua meja di samping meja Yoongi.

"Apa kau yakin mereka itu pasangan?" suara lain terdengar, namun begitu ragu, "Mereka lebih terlihat seperti hyung dan adiknya."

Yoongi merasa dadanya kembali sesak saat mendengar ucapan salah satu wanita itu. Dibawah meja, tangan Yoongi terkepa erat diatas pahanya.

'Dia lebih cocok menjadi adik kecilmu daripada kekasihmu'

Oh, kenapa saat ini Yoongi harus mengingat ucapan Chanyeol di ruang interview tadi? Apakah Jimin benar-benar terlihat lebih cocok menjadi adik kecilnya daripada kekasihnya?

Yoongi melirik sekilas kearah Jimin dengan ekor matanya. Dan Yoongi mendapati Jimin yang tersenyum menenangkan kearahnya. Dengan lembut Jimin meraih sebelah tangan Yoongi dan mengusap punggung tangannya, "Ada apa, hyung?".

Yoongi menggeleng, menikmati usapan jari Jimin pada punggung tangannya. "Tidak apa-apa, Jimin. Hanya saja.."

"Hanya saja kau memikirkan apa yang mereka katakan?"

Yoongi hanya diam saja. Sial, kenapa Yoongi merasa dirinya terlihat seperti remaja perempuan saat ini? Dasar perasaan labil menyebalkan.

Senyum Jimin terkembang semakin lebar, lalu membawa tangan Yoongi untuk diciumi berulang-ulang. Yoongi merona, ingin menarik tangannya namun tubuhnya seolah menghianati. Yoongi malu, tentu saja. Mereka masih berada di tempat umum dan Yoongi bukanlah tipe yang suka mengumbar kemesraan. Namun tubuh Yoongi begitu menikmati sentuhan bibir Jimin pada telapak tangannya yang begitu menenangkan.

"Jangan pikirkan apa yang orang lain katakan, okay? Yang paling penting adalah aku disini, dan aku mencintaimu. Tidakkah itu cukup?"

Mau tidak mau, bibir Yoongi ikut tertarik membentuk satu senyuman. "Tidak. Kau tidak boleh mencintai hanya dari satu sisi. Itu tidak akan cukup."

Jimin mengangkat sebelah alisnya. Tidak biasanya Yoongi balas menggodanya seperti ini. Sepertinya ini akan menjadi menarik, "Oh, benarkah? Kalau begitu apakah kau mencintaiku juga?"

Yoongi merona samar saat Jimin kembali menanyakan perasaannya pada bocah bantet itu. Meskipun Jimin sudah berulang kali menanyakan hal yang sama dan Yoongi sudah berulang kali mengatakan hal yang sama, tetap saja Yoongi malu kalau harus mengungkapkannya secara gamblang.

"Apakah aku harus menjawabnya lagi?" bibir Yoongi mengerucut maju, menghasilkan kekehan gemas dari Jimin.

"Tentu saja, hyung. Bukankah tidak akan cukup kalau hanya satu pihak yang mencintai?"

Yoongi menggigit bibir bawahnya gugup. Padahal ini bukan pertama kalinya Yoongi mengakui perasaannya terhadap Jimin. Tapi Yoongi merasa malu sekali. "A-Aku juga disini, dan... d-dan aku juga mencintaimu.."

Yoongi merasa wajahnya sudah memerah padam saat Jimin terkekeh senang di depannya. Jimin membawa tangannya mengelus rambut Yoongi sayang, "Kau benar-benar menggemaskan, hyung."

.

.

.

Jimin memarkirkan mobil Yoongi di parkiran kediaman Min. Malam ini, Jimin mengajak kedua orang tuanya untuk makan malam di rumah kediaman Min. Rencananya sih Jimin ingin merayakan diterimanya Yoongi, sekaligus memberitahukan berita direkrutnya dirinya. Bukankah berita bagus seperti itu layak di rayakan bersama keluarga besar mereka? Senyum Jimin terkembang saat membayangkan ekspresi senang yang akan diberikan kedua orang tua mereka nanti.

"Hyung-" Jimin menoleh kearah Yoongi, namun ucapannya harus terpotong saat melihat Yoongi yang tertidur pulas diselimuti jasnya sendiri dengan sebelah tangan yang menggenggam lengan Jimin. Jimin baru sadar genggaman Yoongi pada lengannya sudah tidak seerat pertama kali Yoongi menggengamnya. Ya, kalian benar, Jimin dan Yoongi saling bergandengan sepanjang perjalanan. Paksaan Jimin, tentu saja.

"Hey, sayang.." Jimin membawa tangannya merapikan rambut Yoongi yang mulai memanjang. Mungkin Yoongi harus memotong rambutnya dalam waktu dekat.

Melihat tidak ada tanda-tanda Yoongi akan bangun, Jimin hanya menghela nafas kecil. Kekasih gulanya pasti tidak bisa tidur seharian kemarin malam karena terlalu memikirkan interviewnya hari ini. Jimin keluar dari mobil dan berjalan ke arah Yoongi. Mengangkat tubuh mungil itu, masih dengan jas yang menyelimutinya. Setelah Jimin memastikan mobil Yoongi sudah terkunci dengan benar, Jimin membawa tubuh ramping Yoongi memasuki rumah kediaman Min.

"Yoongi sudah pulang?"

Jimin dapat mendengar teriakan ibu Yoongi dari arah dapur. Menandakan wanita paruh baya itu sedang memasak sesuatu. "Sudah, eomonim. Yoongi hyung tertidur lagi," Jimin membalas dengan suara yang lumayan keras, tapi berusaha untuk tidak membangunkan kekasih gula dalam gendongannya. Perlahan, Yoongi menggeliat. Semakin menggulungkan tubuhnya dalam gendongan Jimin dan meremas kaos Jimin di bagian dada.

"Jimin berisik.."

Jimin dapat mendengar suara serak Yoongi yang masih mengantuk mengajukan protes kearahnya. Jimin hanya terkekeh gemas dan berbisik, "Maaf, tidurlah kembali," sambil menanamkan sebuah kecupan lama pada puncak kepala Yoongi. Membuat lelaki favoritnya kembali nyaman dalam gendongannya.

Yoongi menggeliat beberapa kali lagi sebelum mengusel wajahnya pada dada Jimin dan kembali tertidur. Setelahnya, Jimin dapat melihat nyonya Min yang menampakan diri dari dapur. Dengan celemek putih dan aura keibuan khasnya. Nyonya Min menghampiri Jimin yang masih menggendong Yoongi di kedua lengannya sambil geleng-geleng kepala. Heran dengan kebiasaan tidur Yoongi yang sering merepotkan Jimin. Ditambah lagi anak tunggalnya akan berusia dua puluh empat tahun depan, tapi masih terlihat begitu mungil dalam gendongan Jimin yang bahkan lima tahun lebih muda daripada dirinya. Nyonya Min benar-benar bersyukur Jimin begitu mencintai dan menyanyangi Yoongi mereka yang merepotkan.

"Bawa Yoongi ke kamarnya, Jimin. Setelah itu turunlah kalau kau lapar. Aku memanggang beberapa resep kukis kering yang baru."

Jimin hanya mengangguk dan tersenyum kecil, lalu membungkuk kecil sebelum menggendong Yoongi menuju kamarnya. Tepukan kecil Jimin terima dari ibu Yoongi sebelum sang calon mertua menghilang di balik pintu dapur.

Jimin membaringkan tubuh Yoongi pada ranjangnya. Si gula yang kehilangan kehangatan pada tubuhnya menggeliat mencari pelukan dan berakhir memeluk boneka Kumamon yang selalu siap di atas ranjangnya. Jimin hanya berdecak kecil melihat Yoongi yang masih dengan kemeja dan dasinya tertidur begitu lelap sambil memeluk sebuah boneka Kumamon. Jimin merasa harus melindungi Yoongi hyungnya, apapun yang terjadi.

Perlahan, Jimin melepaskan sepatu dan kaos kaki Yoongi yang tidak sempat dilepasnya di pintu depan tadi, lalu meletakannya di samping ranjang Yoongi. Selanjutnya, Jimin mengambil selembar kaosnya yang ada di dalam lemari Yoongi dan celana pendek bermotif bebek berwarna kuning. Lalu menggantikan pakaian Yoongi dengan pakaian rumahnya agar Yoongi tertidur dengan nyaman.

Yoongi menggeliat beberapa kali. Nyaris memukul Jimin saat Jimin terlalu mengusik tidurnya. Tapi Jimin yang memang sudah kebal dengan segala tingkah kasar sang kekasih hanya terkekeh kecil dan kembali menenangkan Yoongi dengan beberapa kecupan.

"Selamat tidur, hyung. Aku akan menemani eomonim dulu dibawah." Jimin memberikan kecupan terakhirnya di puncak hidung Yoongi sebelum meninggalkan sang kekasih gula di dalam kamarnya sendiri.

.

.

.

Yoongi bangun dari tidurnya saat tidak ada lagi cahaya yang menyelinap masuk dari balik gorden kamarnya. "Jimiiinnnnnnn..." Yoongi merengek sambil mengucek matanya dengan kepalan tangannya. Sebelah tangannya yang lain masih memeluk Kumamon. Sungguh Jimin akan mimisan kalau melihat keadaan Yoongi saat ini.

Yoongi berdecak kesal saat tidak menemukan sosok Jimin ataupun balasan Jimin atas panggilannya. Dengan malas, Yoongi bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan keluar kamar.

"Eomma~ Jimin sudah pulang?" Yoongi berbiacara agak keras dengan suara kerasnya karena masih mengantuk dan tidak tahu dimana sang eomma berada. Bahkan kedua kelopak matanya masih tertutup, tampak enggan membuka karena masih mengantuk. Kaki kurusnya melangkah menuju dapur, tempat dimana eommanya selalu menghabiskan waktunya.

"Kau sudah bangun, hyung?"

Yoongi membuka kedua matanya saat mendengar suara Jimin. Maniknya menemukan Jimin yang sudah berganti baju dengan hoodie hitam dan celana pendek, berjalan kearahnya dari ruang makan keluarganya. Yoongi berdecak kesal, "Jimin, kau kemana saja? Aku mencarimu, bodoh!"

"Maaf sudah meninggalkanmu sendirian. Aku menemani eomonim sepanjang sore, hyung."

Bibir Yoongi masih mengerucut lucu saat mengetahui alasan Jimin meninggalkannya tidur sendirian. "Yasudah, kenapa sekarang kau sudah berganti baju dan masih ada di rumahku?"

Jimin terkekeh kecil saat melihat Yoongi yang menunjuk-nunjuk kesal kearahnya, "Kita akan makan malam bersama orang tuaku malam ini, hyung. Kau lupa?"

Dan benar saja. Yoongi menepuk keningnya saat menyadari dirinya melupakan janji makan malam bersama kedua keluarga yang akan berbesan nantinya. "Ah, aku lupa. Ini sudah jam berapa? Kenapa kau tidak membangunkanku?!" Yoongi mondar-mandir panik mencari jam. Meskipun hanya makan malam dengan kedua orang tua Jimin, tetap saja Yoongi tidak mau meninggalkan kesan buruk dengan terlambat bangun karena tertidur.

Sekali lagi, Jimin terkekeh kecil, "Masih jam enam tiga puluh, hyung. Gantilah bajumu. Eomma, appa, eomonim dan abeonim sudah menunggu di ruang makan. Kau tidak mau membuat mereka menunggu, kan?"

Yoongi hanya mengangguk, "Aku akan menyapa mereka sebentar," lalu berjalan beriringan bersama Jimin menuju ruang makan. Yoongi dapat melihat kedua eomma yang sedang menyiapkan makan malam di balik counter dapur dan kedua appa yang berbincang heboh di meja makan ditemani secangkir kopi. Perasaan Yoongi selalu menghangat saat melihat kedua orang tuanya dan Jimin berinteraksi dengan sangat baik.

Yoongi baru saja ingin menyapa saat eomma Jimin berbalik dan menangkap sosok Yoongi yang masih berbalut kaos kebesaran Jimin dan celana pendek bebek kuning. "Astaga! Yoongi sayang, kau terlihat sangat imut!" Secepat tubuh itu bergerak, secepat itu juga tubuh Yoongi berada dalam rengkuhan erat ibu Jimin. Yoongi sampai mundur beberapa langkah saat sang calon mertua menerjang tubuhnya dengan pelukan.

"Eomma jangan peluk Yoongi hyung seperti itu. Nanti Yoongi hyung tidak bisa bernafas!" Jimin terlihat panik sendiri saat sang eomma tidak juga melepas rengkuhannya pada Yoongi. Sedangkan Yoongi hanya berdiri kaku dalam rengkuhan sang ibu. Bukannya bagaimana, Yoongi hanya sedikit kaget.

"Oh, maafkan eomonim, Yoongi-ah. Tapi lihat dirimu, begitu manis!" Eomma Jimin memberikan sedikit jarak antara tubuhnya dan Yoongi, lalu mencubit pipi Yoongi gemas. "Ah, kenapa tidak kau saja sih yang menjadi anak eomonim. Cepatlah menikah dengan Jimin. Eomonim tidak sabar mendapatkan cucu darimu."

Yoongi dapat mendengar kekehan kedua ayah mereka dan pekikan serta persetujuan berlebihan dari ibunya dari balik punggung ibu Jimin.

Yoongi yang mendengarnya sontak memerah, lalu menggigit bibir bawahnya sambil menunduk dalam. "Ta-Tapi Jimin baru lulus SMA, eomonim," cicitnya pelan sambil memainkan ujung kaos Jimin yang dikenakannya.

"Eomma jangan terlalu memaksa Yoongi hyung," Jimin yang melihat sang kekasih terlihat tidak nyaman mencoba menarik Yoongi dari pelukan sang eomma untuk ia rangkul di samping tubuhnya.

Yoongi hanya menurut saja sangat lengan Jimin melingkar posesif di pinggang sempitnya dan kedua ayahnya bersiul iseng. Yoongi tahu appanya sedang mencoba menggodanya dengan siulan iseng dan sepertinya appa Jimin juga setuju dengan rencana itu.

Ibu Jimin berdecak kesal, "Dasar posesif. Yoongi juga akan menjadi menantuku nantinya. Jadi apa salahnya aku memeluknya."

Yoongi dapat mendengar tawa kecil ibunya yang semakin mendekat. "Sudah biarkan saja mereka berdua. Masakannya sudah jadi, ayo kita makan malam."

Yoongi mendongak saat mencium bau hanwoo khas yang baru saja di panggang. "Ah, aku harus mengganti baju."

Ibu Yoongi dan ibu Jimin mendelik bersamaan, seolah tidak setuju dengan rencana Yoongi untuk mengganti bajunya dengan pakaian yang lebih layak untuk makan malam bersama. "Untuk apa? Pakai saja baju ini, Yoong-ah. Eomonim suka melihatmu yang imut begini." "Benar, sayang. Tidak perlu mengganti bajumu. Ayo kita makan."

Yoongi tidak bisa melakukan apapun saat kedua ibu beda marga itu menariknya menuju meja makan dan mendudukan tubuhnya disana. Sedangkan Jimin yang tertinggal di belakang hanya menyuarakan protes yang sama sekali tidak dihiraukan oleh keduanya.

"Jadi, bagaimana interviewmu, sayang?" Ibu Jiminlah yang pertama kali membuka pembicaraan, membuat Yoongi yang sedang menikmati daging sapinya mendongak. Yoongi mengunyah beberapa kali sebelum menelan dan menjawab, "Interviewku berjalan lancar, eomonim. Sajangnim bilang aku diterima dan tinggal menandatangani kontrak besok pagi."

Senyum cerah terlihat terlukis di wajah keempat manusia paruh baya di meja itu. "Benarkah, sayang? Selamat untukmu.." Ibu Yoongi yang duduk di sisi kanannya segera memeluk anak semata wayangnay dan mengecup pipinya sayang. Tidak menyangka Yoongi kecil yang dulu diasuhnya sudah bisa mencari dan mendapatkan pekerjaan atas usahanya sendiri. Yoongi membalas pelukan sang eomma sambil mengusap punggungnya. "Terima kasih, eomma. Lagipula aku tidak akan menjadi seperti ini kalau bukan karena dukungan eomma."

Sedangkan ibu Jimin yang duduk di sebrang meja nampak begitu ingin bangkit dari duduknya untuk memeluk Yoongi dan mengucapkan selamat. Namun terkutuklah meja yang menghalangi jarak mereka. Dan ibu Jimin tidak ingin menggangu pasangan ibu-anak di depannya yang sedang berbagi pelukan penuh haru.

Ayah Yoongi dan Jimin bergantian mengucapkan selamat. Diakhiri dengan ibu Jimin yang menyendokkan segumpal daging sapi ke dalam mangkok makan Yoongi. "Kalau begitu kau harus makan yang banyak, sayang. Juga istirahat yang cukup malam ini, mengerti?"

Yoongi hanya tersenyum kecil sambil membisikan terima kasih. Begitu bersyukur memiliki orang-orang yang begitu perhatian terhadap dirinya.

"Ngomong-ngomong soal berita baik, aku juga punya berita baik, loh!" Jimin yang sedari tadi merasa terabaikan mulai membuka suara, membuat empat pasang mata di meja itu mengarah padanya. Sedangkan Yoongi sendiri hanya melempar senyuman penuh arti pada Jimin.

"CEO dari agensi Yoongi hyung tidak sengaja melihatku menari dan berniat merekrutku. Bukankah itu menakjubkan?" Jimin bercerita dengan manik berbinar antusias.

Ayah Jiminlah yang pertama kali bereaksi. Merasa begitu bangga dengan anak laki-lakinya. Sebelah tangannya melingkar di sekitar bahu Jimin, dengan sebelah tangan lagi mengusel di puncak kepala Jimin, "Tentu saja itu menakjubkan. Anak appa hebat sekali. Appa sangat bangga padamu, Jimin."

Jimin hanya terkekeh ribut saat sang appa semakin mengeratkan rangkulannya. Jimin daoat mendengarkan ayah Yoongi yang mengatakan "Kerja bagus, Jimin!" dan ibu Yoongi yang bertepuk tangan bangga padanya.

Saat Jimin lepas dari pelukan sang ayah, pelukan sang ibu sudah menunggunya. "Aigoo, Jiminie eomma. Eomma tidak menyangka kau sudah bertumbuh sebesar ini, sayang. Eomma juga sangat bangga padamu." Jimin hanya tersenyum dan balas memeluk sang ibu.

Makan malam itu dilanjutkan dengan perbincangan hangat diantara kedua pihak keluarga. Sesekali membahas soal pendididikan Jimin di perguruan tinggi. Atau menyinggung kearah hubungan Jimin dan Yoongi. Hal itu tentu saja membuat Yoongi menunduk dalam sambil tersipu malu, sedangkan Jimin hanya tersenyum penuh makna. Gemas melihat kekasihnya yang begitu imut saat membahas tentang hubungan mereka kedepannya.

.

.

.

"Senang bekerja sama dengan anda, Min Yoongi -sshi. Anda sudah bisa mulai bekerja besok," Jessica berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya kearah Yoongi. Yoongi ikut berdiri dan menerima uluran tangan Jessica, "Terima kasih, Jessica-sshi."

"Baiklah, sekarang biarkan aku mengajakmu sedikit berkeliling, Yoongi-sshi," Jessica merapikan jas dan rok spannya sebelum mengajak Yoongi berkeliling dan memperkenalkan setiap ruangan di gedung ini padanya. Hal yang sudah biasa Jessica lakukan saat ada pegawai baru yang masuk. Yoongi hanya mengangguk kecil dan mengikuti langkah anggun Jessica di depannya.

"Gedung ini terdiri dari lima lantai ditambah satu lantai underground. Lantai undergorund biasanya digunakan para trainee untuk melakukan latihan tari ataupun vokal mereka. Lantai satu digunakan untuk kepentingan umum. Resepsionis, lobby, kantin, semuanya. Lalu untuk studiomu ada di lantai tiga. Chanyeol sajangnim memberikan satu studio kecil di ujung lorong lantai tiga untuk kau gunakan. Mari aku antar," Jessica berceloteh panjang lebar tentang denah gedung entertaimentnya.

"Ah, Jessica-sshi..." Yoongi memanggil pelan, teringat pada sesuatu. Jessica berbalik, masih dengan anggunnya dan menarik sebelah alisnya, "Ada apa, Yoongi-sshi?"

Yoongi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "U-Um, bolehkah aku tahu dimana ruang audisi untuk mereka yang direkrut menjadi trainee?"

Butuh beberapa detik bagi Jessica untuk memproses apa yang ditanyakan oleh Yoongi, sebelum tawa pelan keluar dari bibir berpoles lipstick tipisnya. "Kau ingin melihat kekasih kecilmu, Yoongi-sshi?" tebak Jessica sedikit menggoda dengan sebuah kedipan mata.

Yoongi sontak merona samar dan terkekeh kaku, salah tingkah begitu niatnya untuk melihat Jimin yang akan melakukan audisi formal hari ini terbaca begitu saja. Perlahan, Yoongi mengangguk yang membuat Jessica memekik kecil gemas. "B-Bolehkah?" tanya Yoongi ragu.

Jessica mengangguk, "Tentu saja, Yoongi-sshi. Ruangan audisi ada di underground. Di ruang latihan tari para trainee. Biasanya mereka akan melakukan audisi dan ditonton oleh para trainee yang sudah lebih dulu diterima di agensi ini. Ayo aku antar, Yoongi-sshi."

Manik Yoongi berbinar saat Jessica mengizinkannya menonton Jimin terlebih dahulu sebelum melihat keadaan studionya. Yoongi dan Jimin memang datang bersama-sama tadi pagi, tapi Yoongi harus menandatangi kontraknya dan Jimin yang langsung dijemput oleh seseorang seperti guru tari di agensi ini, jadi mereka berpisah begitu saja.

Yoongi dapat merasakan rahangnya jatuh saat elevator yang membawa mereka pada underground terbuka. Yoongi dapat melihat orang-orang berlalu lalang dengan pakaian latihan dan keringat di kulit mereka sedikit membungkukkan tubuh mereka saat Jessica lewat di depan mereka.

"Di sebelah kiri adalah studio latihan vokal para trainee dan penyanyi lainnya. Lalu di sebelah kanan adalah studio latihan menari mereka. Kalau kau berjalan sedikit lebih kebelakang, maka akan ada ruang dengan berbagai alat musik di dalam. Baisanya mereka yang ingin berlatih alat musik akan latihan disana," Jessica menunjuk beberapa ruangan yang membuat Yoongi mengangguk kecil. Langkah mereka berhenti di depan pintu kaca di sebelah kanan. Studio latihan para trainee. Senyum Yoongi terkembang saat membayangkan kekasihny ada di dalam.

Jessica mendorong pintu kaca itu, membiarkan Yoongi masuk ke dalam sebelum menutupnya. Yoongi dapat melihat beberapa pasang mata menoleh kearahnya dan Jessica. Termasuk sepasang manik gelap favorit Yoongi yang duduk di sudut ruangan yang mengerjap bingung kearah Yoongi. Yoongi terkekeh pelan melihat reaksi menggamaskan kekasihnya. Jimin di sudut ruangan tampak ingin bangkit dari duduknya namun begitu ragu.

"Hyukjae oppa, bagaimana audisinya?" tetap dengan langkah anggunnya Jessica menghampiri seseorang bersurai pirang yang terlihat sedang mengatur soud system. Yang dipanggil menoleh kearah Jessica, "Hai Sica, apa yang kau lakukan disini?"

Jessica membalik tubuhnya, memperlihatkan Yoongi yang masih berdiri kaku di ambang pintu tanpa bergerak sedikitpun. "Mengajak namja di depan pintu itu berkeliling kecil. Dia penulis lagu yang kemarin aku ceritakan. Dan yang akan kau audisi itu kekasihnya, ngomong-ngomong."

Sebelah alis Hyukjae terangkat, "Wow, dunia ini sempit sekali."

Jessica hanya mengangguk sebelum memberikan tepukan kecil pada bahu Hyukjae, "Aku akan membiarkannya menonton beberapa saat, lalu mengajaknya melihat studio kecilnya. Jadi bisakah kau mulai sekarang, oppa?"

Hyukjae terkekeh kecil, teman kerjanya yang satu ini memang suka mendesak, "Baiklah, biarkan teman barumu duduk di sofa itu. Aku akan mulai menilai tarian Jimin."

Jessica hanya mengangguk sebelum mengajak Yoongi duduk di salah satu sofa di ruangan itu. Membiarkan Hyukjae mengarahkan Jimin untuk menari di tengah ruangan. Pemandangan dari sini tidak buruk. Yoongi bisa langsung melihat ke arah Jimin yang tersenyum kecil kearahnya sebelum Hyukjae mulai memainkan acak musik yang ada di playlistnya. Jimin harus audisi dengan gerakan freestyle ngomong-ngomong.

Jimin sedikit membungkukkan tubuhnya sebelum mulai menari. Tentu saja setelah melemparkan sebuah kedipan usil kearah Yoongi yang membuat si gula tersipu malu. Jimin memulai tariannya dengan gerakan classic street dance yang rumit. Yoongi bahkan tidak yakin dirinya dapat membaca seluruh gerakan yang Jimin lakukan. Di ikuti dengan trik bboy yang menjadi andalan Jimin di akhiri dengan body wavenya yang tidak perlu diragukan lagi. Yoongi tidak sadar dirinya adalah yang pertama kali bertepuk tangan begitu tarian Jimin selesai. Meskipun setelahnya tepukan lainnya menyusul, menutupi tepukan Yoongi untuk Jimin.

"Kerja bagus Jimin! Tarianmu benar-benar hebat," Hyukjae bangkit dari duduknya dan memberikan sebuah tinju kecil di bahu Jimin sebelum memeluk bangga tubuh yang lebih kecil darinya itu. Jimin hanya tersenyum sampai matanya menyipit mendapat tepukan heboh dan pujian langsung dari calon guru tarinya. Sedangkan Yoongi yang masih duduk di sofa ingin sekali memeluk Jimin. Mengucapkan betapa bangga dirinya pada Jimin saat ini.

Jimin yang merasa diperhatikan menoleh kearah Yoongi dan mendapati sang kekasih gula menatapnya antusias. Dengan iseng, Jimin mengedipkan sebelah matanya yang membuat Yoongi mendelik tidak suka. Oh, lihatlah pipi yang merona itu. Bukankah itu sangat menggemaskan. Jimin rasa dirinya akan diabetes mendadak.

"Kau boleh mulai datang untuk latihan besok, Jimin. Dan juga Jessica akan menghubungimu untuk penandatanganan kotrak lebih lanjut. Kau sudah boleh pulang kalau mau."

Jimin hanya mengangguk dan membungkuk sambil mengucapkan terima kasih pada pelatih tarinya. Sebuah senyuman terukir di bibir Jimin saat mengemmasi barangnya dan menghampiri Yoongi yang masih duduk di sofa yang sama, "Menikmati tarianku, hyungie?"

Yoongi mendengus malas saat melihat Jimin yang mulai menggodanya. "Tidak, dalam mimpimu!" lalu berdiri dari duduknya dan menghampiri Jessica yang sedang berbincang dengan Hyukjae soal kontrak Jimin. "Jessica-sshi, apakah kita kita akan ke studio kecilku kali ini?"

"Ah, tentu saja. Ayo aku antar," dan i ramping itu kembali melangkah dengan anggun keluar ruangan diikuti Yoongi di belakangnya.

Jimin yang melihat Yoongi pergi begitu saja bergegas mengejar Yoongi. Membungkuk kearah pelatih dance dan seluruh trainee di ruangan itu sekali lagi. "Hyungie mau kemana? Tunggu aku.." Jimin merengek kecil, lalu memeluk lengan Yoongi manja.

Yoongi mendelik tidak suka saat Jimin begitu menempel padanya, di tempat kerjanya. "Berhenti menempel padaku, Jimin. Aku hanya ingin melihat studioku," dengan gerakan tidak suka, Yoongi mendorong tubuh Jimin menjauh agar tidak terlalu menempel pada tubuhnya.

"Melihat studiomu? Kau akan punya studio sendiri? Aku boleh ikut melihatnya kan, hyung?" manik Jimin berbinar antusias, bahkan mengalahkan binar di manik karamel Yoongi saat mengetahui dirinya akan memiliki studio mungil pribadinya.

Yoongi menunjuk Jessica dengan dagunya, memberi kode kepada Jimin siapa yang lebih pantas memberi Jimin izin untuk ikut melihat studio Yoongi. Jimin memajukan bibirnya beberapa senti sebelum menghampiri Jessica yang berjarak beberapa langkah di depan mereka.

"Noona, aku boleh ikut melihat studio Yoongi hyung kan?"

Jessica terkekeh kecil melihat wajah Jimin yang mirip anak kucing terlantar. Sebuah anggukan dari Jessica membuat Jimin memekik senang, lalu meninju asal keudara dengan gumaman 'Yes!' berulang kali. Yoongi hanya geleng-geleng kecil saat melihat kekasihnya jauh lebih semangat dibandingkan dirinya soal studio mungilnya.

Elevator mengantar mereka sampai pada lantai tiga. Lantai ini merupakan lantai paling tenang karena disinilah karya-karya indah terbentuk. Dan Yoongi sangat menyukai suasananya. Senyum kecil terukir di bibir Yoongi saat kaki kecilnya mengikuti lagkah anggun Jessica menuju ujung lorong. Terdapat pintu kecil berwarna hitam disana. Yoongi yakin pintu kecil itu adalah pintu studionya.

"Silahkan masuk, Yoongi -sshi," Jessica membukakan pintu dan mempersilahkan Yoongi dan Jimin yang mengekori dibelakang masuk.

Reaksi Yoongi yang pertama adalah rahang yang jatuh dan manik karamelnya yang berbinar begitu antusias. Layaknya bocah berumur lima tahun yang mendapatkan balon gratisan saat bermain di taman. Begitu murni dan menggemaskan.

Studionya mungil. Namun Yoongi yakin dirinya akan begitu nyaman menghabiskan banyak waktunya mendekam di dalam studio mungil ini. Terdapat sebuah mixer, dua buah keyboard dan sebuah Mac lengkap dengan seluruh alat-alat yang Yoongi butuhkan di ruangan itu. Ada sebuah sofa kecil, lemari dan juga meja yang berukuran mungil di ruangan itu. Yoongi merasa ini lebih dari cukup untuk membuatnya nyaman dan mencintai studionya.

"Apa kau suka dengan studiomu, Yoongi -sshi?" Jessica bertanya saat Yoongi tidak juga mengeluarkan suara apapun di menit kelima mereka berada di dalam studio itu.

Yoongi menoleh pada Jessica dan mengangguk antusias, "Tentu saja, aku bahkan sudah sangat mencintai studio mungil ini. Terima kasih, aku benar-benar senang."

Jessica terkekeh kecil saat melihat binar bahagia di dalam manik karamel Yoongi, "Kau boleh menata dan mengisi studio ini dengan apapun yang kau mau. Studio ini milikmu. Kalau ada yang kurang, kau bisa langsung membicarakannya dengan sajangnim. Dan juga sajangnim memintamu untuk menemuinya di ruangannya."

Ah, Chanyeol.

Tiba-tiba Yoongi mengingat namja tinggi itu. Perlahan Yoongi mengangguk, "Uh, ya. Aku akan menemuinya setelah ini."

Jessica tersenyum dan membungkuk kecil, "Kalau begitu aku pamit dulu. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan."

Yoongi balas membungkuk kecil dan mengucapkan terima kasih sekali lagi sebelum tubuh langsing itu menghilang di balik studionya. Setelah pintu studionya tertutup, Yoongi dapat merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Park Jimin?

"Kau suka dengan studio mungilmu, hyung?"

Yoongi mengangguk, ikut melingkarkan tangannya diatas tangan Jimin yang melingkar di pinggangnya. "Tentu saja. Mungkin aku akan memindahkan beberapa barangku besok. Kau ingin membantuku?"

Jimin balas mengangguk, "Bagaimana bisa aku membiarkanmu melakukan hal itu sendirian, huh? Kita akan menata studiomu agar menjadi lebih nyaman, oke?"

Yoongi terkekeh dan mengangguk kecil, "Aku akan membeli banyak merchandise Kumamon untuk menemaniku selama di studio. Aku juga akan membawa jersey basketku dulu. Ugh! Aku tidak sabar menghias studio mungil ini."

Dahi Jimin mengerut tidak suka saat Yoongi kembali membahas Kumamon untuk studio mungilnya. Padahal Jimin yakin fotonya dengan Yoongi akan terlihat lebih indah untuk dipajang di studio mungil Yoongi. Tapi apa yang bisa Jimin lakukan terhadap kecintaan Yoongi pada beruang jelek itu?

Satu ciuman Jimin tanamkan pada pelipis Yoongi, "Ya, kita akan membeli banyak merchandise Kumamon untuk studiomu, sayang."

.

.

.

TBC

.

.

.

INFIRES!

Annyeong reader-nim sekalian, syubsyubchim balik bawain sambungan fanfic ini (elap keringat). Maaf banget kalau updatenya lama, beberapa faktor besar sangat mempengaruhi soalnya. Pertama syubsyub baru dilanda UTS beberapa minggu lalu, jadi syubsyub harus fokus sama UTS dulu. Yang kedua, organisasi syubsyub baru ngebuat acara minggu lalu yang mau gamau ngebuat syubsyub sibuk. Dan yang ketiga adalah ide yang menipis. Ini yang paling menyiksa sebenarnya, karena meskipun syubsyub sudah punya waktu, namun syubysyub kesulitan mengetik karena ide yang tersumbat. Jadi maaf banget kalo chapter ini agak ngebosenin dan bikin ngantuk (sujud sembilan putuh derajat).

Syubsyub udah kepikiran untuk konfliknya, cuma syubsyub gabisa masukin di chapter ini karena bakal kecepetan kalo dimasukinnya sekarang. Ntar kesannya malah terlalu maksa dan terburu-buru. Jadi kita keep slow dulu ya. Hehehe.

Buat ada yang punya ide konflik atau ekspektasi apa gitu buat MinYoonnya boleh tulis di kolom review atau boleh juga PM syubsyub. Hal itu akan sangat membatu proses pengetikan dan lanjutan fanfic ini.

Terakhir, terima kasih untuk semua yang sudah bersedia membaca, memfollow, memfavorite bahkan sampai mereview fanfic yang sangat tidak jelas asal-usulnya ini. Maaf kalau mengecewakan.

SPECIAL THANKS :

Park RinHyun-Uchiha : Please sianidanya di simpen aja buat Chanyeol di chapter chapter berikutnya. Ga kok, konflik MinYoon gakal rumit, syubsyub juga gatega sama mereka. Btw, thankyou udah mau ninggalin review. | gbrlchnerklhn : Makasih banget udah suka sama fanfic ini. Iya Chanyeol bakal ngerusuh OTP satu ini. Btw, thankyou udah ninggalin review. | CandytoPuppy : Soalnya Yoonginya minta di mesumin siapa aja sih (eh) (gadenggg). Btw, makasih buat reviewnya. | XiayuweLiu : Tunggu oppa dateng ke mimpi kamu yakkkk! Btw, thankyou udah review. | glowrie : Chanyeol emang ngebangsadhin, jadi kesel. Jadi kepikiran buat ngelihin Yoongi dari Jimin wkwkwkwkkkk Btw, thankyou udah mau ninggalin review. | applecrushx : Baekhyunnya mungkin masih dalam proses, ditunggu ya. Btw, makasih buat reviewnya. | LittleOoh : Ini nextnya. Thankyou udah ninggalin review. | ym : MinYoon emang bikin ngiri aja relationshipnya nihh. Engga kok, konfliknya gabakal rumitt. Btw, thankyou udah ninggalin review. | Yessi94esy : Karena ganteng makanya dijadiin PHO, wkwkkwk. Btw, makasih udah ninggalin review. | minyoonlovers : Tenang cerita ini tetep lanjut kok. Syubsyub bahkan berimajinasi sepanjang malam demi melanjutkan fanfic ini. Btw, thankyou udah mau ninggalin review. | GlossyA : Chanyeol maunya kamu (eh). Btw, makasih buat reviewnya. | restika . dwii07 : Waduh, jangan jantungan dong XD Btw, makasih udah ninggalin review. | Dwimin chan : Maaf ya, kuliah sibuk banget soalnya jadi jarang lanjut. Btw, thankyou buat reviewnya. | RenRenay : Waduh ketikless XD Btw, thankyou buat reviewnya. | rossadilla17 : Yoongi mah kalo ga Kumamon ya daging domba, kalo engga ya buat lagu. Jimin mah belakangan wkwkwk. Btw, thankyou udah mau ninggalin review. | whalme160700 : Aduh ngakak, jagain Yoongi dari tatapan mas-mbak yang ah sudahlah XD Btw, thankyou reviewnya menghibur sekali. | LittleDeviL94 : Waduh serem juga udah punya istri masih ngegodain gadis perawan (eh). Btw, thankyou buat reviewnya. | ravoletta : Jangan di death glarein itu tiang wkwkwk. Btw, makasih buat reviewnya. | akanekinosi : Thankyou banget udah ngikutin fanfic ini. Hehehe. Thankyou juga buat reviewnya. | vtan368 : Waduh gimana tuh bau orang ketiga? Syubsyub penasaran, wkwkkw. Btw, thankyou buat reviewnya. | Cupid : Aduh kamu aja kesemsem sama Chanyeol, masa Yoongi engga sih? XD Btw, thankyou buat reviewnya. | princexod : Thankyou banget kamu udah mau mulai reviewin fanfic syubsyub (sujud). Minimini couple emang debesss. Btw, thankyou udah ninggalin review. | justcallmeBii : Kamu udah kaya peramal aja reviewnya XD Tapi gapapa, syub suka sama keahlian meramal kamu. Btw, makasih udah ninggalin review. | jidatbacon : Boleh juga tuh konfliknya dipanjangin terus nge-php (digeplak massa) Hehehe engga dengg. Btw, thankyou buat reviewnya. | Yxxx1106 : Bekunnya masih dalam proses pemikiran XD Btw, makasi udah ninggalin review. | Guesteu : Gapapa kok ketinggalan satu chapter tapi kamu tetep mau review, syubysub seneng. Btw, thankyou buat reviewnyaa. | Hanami96 : Jimin disini emang rada ngebangsadhin, bikin kesel. Boleh juga tuh Chanyeolnya malah nyantol ke Jimin (eh). Btw, thankyou udah mau ninggalin review. | Wiro Sableng819 : Ga kok, yang disini juga gasanggup kalo MinYoon harus misah jadi konfliknya gabakal sampe misahin mereka. Semoga kali ini skinshipnya juga ga muluk-muluk ya. Btw, thankyou udah mau ninggalin reviewnya. | SyugarMint : Aduh berantem ngerebutin Yoongi XD Yoongi mah emang worth banget buat diperebutin. Btw, makasih buat reveiwnya. | Phylindan : Setuju! Ayo kita jahatin Yoonginya bareng-bareng. Salah sendiri sih manis gitu jadinya pengen jahatin mulu kan (digeplak). Wkwkwkwkk. Btw, thankyou udah mau ninggalin review meskipun ga login ya senpai! | BabyByunie : Jawabannya tunggu saja tanggal mainnya hohoho. Btw, thankyou buat reviewnya. | HyunShine : Aduh kok jadi kamu yang mau sama Cahyo padahal udah bilangin Cahyo setan, hayolohh. Btw, thankyou buat reviewnya yaa. | sooindri09 : Seneng deh kamu bisa bayangin Yoongi yang imut dengan mulus. Apalagi bagian ngerucutin bibirnya itu. Aduh emesshh. Btw, thankyou udah ninggalin review. | anunyajimin : Chanyeol yang suka Yoongi amish menjadi misteri, hohoho (gayanya) Jimin mah kalo ada kesempatan pasti diambil sama dianya buat godain Yoongi. Btw, thankyou udah ninggalin review. | exoinmylove : Wah syubsyub juga takutnya begitu. Btw thankyou udah mau ninggalin review. | wulancho95 : Syubsyub terharu deh meskipun kamu ketinggalan satu chapter tapi kamu masih mau niggalin review di chapter yang lalu juga di chapter yang ini (elap ingus). Syubsyub penasaran gimana sih baunya permasalahan? Wwkkwkwk. Btw, thankyou udah mau ninggalin review. Di dua chapter lagi.

.

Terima Kasih.

.

Salam, INFIRES!