Naruto punya Om Masashi #jelaas
Story by Anzu
Pair : SasuFemNaru slight ItaFemKyuu, SasoFemDei
Rating : M #Maksa #plakk
Genre : Romance, hurt/comfort, crime -saya masih bingung -_-
Warn : OOC, ranjau typos, femNaru, gaje, cerita pasaran
Naruto : 16 thn
Kyuubi : 18 thn
Deidara : 22 thn
Sasuke : 25 thn
Itachi : 27 thn
Sasori : 25 thn
Sasori mengerang dalam hati. Entah setan apa yang merasukinya hingga tanpa ia sadari kakinya bergerak begitu saja ke arah gads berambut pirang yang telah berhasil menarik perhatiannya sejak pertama kali ia melihatnya. Love at firs sight, eh? Aaah, sepertinya terlalu dini. Tapi meskipun terlalu dini untuk menyebutnya cinta pada pandangan pertama tapi buktinya setiap kali ia melihat gadis itu jantungnya selalu berdebar-debar tak karuan, keringat dingin selalu berhasil keluar dari kulit putihnya, matanya tak pernah henti untuk menatapnya, dan mulutnya entah kenapa selalu berkomat kamit tak jelas seperti orang yang tengah merapal mantra.
FLASHBACK
"Aku menyukai mu."
Singkat, padat dan jelas. Cukup dengan tiga kata itu mampu membuat Deidara shock setengah mati. Ia hanya bisa terdiam tanpa merespon kalimat yang telah di ucapkan Senpainya beberapa detik lalu.
Sasori menatap gadis di depannya yang hanya menatapnya dengan mulut terbuka. Tak ada satupun kata yang keluar dari bibir indahnya guna menanggapi apa yang di ucapkan Sasori. Merasa kikuk dengan suasana yang tegang bercampur canggung Sasori berdehem.
"EHM! Yah, ini mungkin terlalu cepat, tapi sungguh, aku menyukai mu." Jeda sejenak. "Kurasa," imbuhnya dengan watados. Dan kata terakhir mampu membuat Deidara terbangun dari keterkejutannya.
Dapat Sasori lihat Deidara tertawa hambar lalu bertanya dengan gugup, "a-ano, apa senpai baik-baik saja, un?" pertanyaan ngawur. Sasori tahu itu.
"Maksudmu?"
"Ma-maksud ku, lucu sekali tiba-tiba Sasori senpai berkata menyukai ku, un. Ki-kita tidak saling mengenal, un, hanya sebatas tahu saja, un." Sekilas Sasori dapat melihat rona merah yang menghiasi pipi chubby Deidara sebelum ia mengalihkan pandangannya. Sasori hanya mengulum senyum.
"Dari pihak kita, hanya kau saja yang menganggap sebatas "tahu" tapi tidak dengan ku. aku lebih dari "tahu" tentang mu."
"I-itu tidak mungkin, un!"
"Itu mungkin, karena aku seorang Sabaku."
Deidara hanya tersenyum kecut. Ia tahu pasti apa maksud dari ucapan Sasori. Sabaku adalah salah satu klan terbesar di Konoha yang menempati urutan kedua, jauh di atas klan Namikaze.
"Menyombongkan diri, un?" sindir Deidara.
"Tidak, hanya membeberkan fakta." Deidara mencibir. "Jadi, bagaimana?"
"Eumm?" Deidara menatap Sasori bingung.
"Kita bisa mencobanya dulu." Sasori meraih tangan Deidara lalu menggenggamnya dengan erat. Menatap manik Deidara, mencoba meyakinkan gadis itu akan perasaanya yang sebenarnya.
"Baiklah, kita coba dulu, un," gumam Deidara lirih yang masih dapat di dengar oleh Sasori. Sasori tersenyum. Benar-benar tersenyum lebar lalu mencium kening Deidara dengan lembut.
END FLASHBACK
Dengan perasaan berbunga-bunga, Sasori menjatuhkan tubuhnya pada ranjang lalu mengambil ponsel di saku celana depannya. Mengamati layar ponselnya yang menampilkan sosok Deidara yang tertawa bahagia dengan semburat merah yang menghiasi kedua pipinya.
TOK! TOK! TOK! TOK!
Suara pintu kamar Sasori di ketuk.
"Tuan muda, telfon untuk Anda." Sebuah suara dari balik pintu menginterupsi Sasori untuk segera beranjak dari rebahannya. Dengan langkah tegap ia berjalan ke arah pintu lalu membukanya. "Gaara sama menghubungi Anda," ucap seorang pelayan laki-laki dengan membungkuk sambil mengangsurkan sebuah ponsel.
.
.
"Aku tak mengerti Sasuke, kenapa kau sangat ingin menghancurkan keluarga Namikaze. Apa mereka pernah menggangu bisnis mu?" Seorang pria berambut panjang coklat bertanya pada temannya yang tengah menikmati vodka di sofa ruang tamu apartemennya dengan santai. Seseorang yang ia anggap teman tak lain dan tak bukan ialah Uchiha Sasuke. Seorang pria yang menjadi bos nya jika mereka tengah bekerja.
Sejenak Sasuke hanya diam saja tanpa menghiraukan pertanyaan temannya. Ia masih fokus memandangi minuman yang tengah ia pegang tepat di depan wajahnya. "Keluarga Namikaze itu sangat menyebalkan. Mereka tidak hanya mengganggu bisnis ku tapi lebih daripada itu. Merka mengganggu ketenangan jiwa ku."
"Dan jika aku boleh tau hal apa yang dapat membuat mu terganggu?" pria berambut coklat itu duduk di hadapan Sasuke sambil membawa gelas berisi ocha yang baru di seduhnya.
"Kita tidak sedang bekerja Neji, kenapa kau membahas hal ini?" Sasuke balik bertanya. Menganggap pertanyaan pria yang dipanggil Neji tidaklah penting.
Neji menyesap ocha nya. "Aku hanya penasaran." Ia mengedikkan bahunya. "Jika sedang bekerja kau susah untuk di ajak bicara dan aku tidak mau memberi mu alasan untuk menodongkan pistol di kepala ku."
Sasuke menyeringai tipis. Pintar juga dia, batinnya.
"Aku bertemu dengan salah satu malaikat dari keluarga Namikaze."
Hening sejenak. Lalu, "aaah, aku tau apa maksud mu Sasuke." Neji menaruh gelasnya di atas meja hingga menimbulkan suara "tek" yang sejenak dapat menarik perhatian Sasuke. "Keluarga Namikaze memang sangat mempesona dan hal itu tak diragukan lagi. Banyak dari kalangan konglomerat yang terpesona dengan keluarga Namikaze, mereka ingin menjodohkan putra-putra mereka dengan salah satu permata Namikaze. Aku dengar permata-permata yang dimiliki oleh keluarga Namikaze sangat indah tapi jujur aku sama sekali belum bertemu dengan mereka. Mungkin suatu saat kau mau menunjukkannnya pada ku Sasuke? Aku tidak keberatan." Neji mengakhiri argumennya dengan tersenyum miring.
"Saat ini kau juga tengah memeberi ku alasan untuk menodongkan pistol di kepala mu, Neji. Apa kau ingin aku melakukannya?" tanya Sasuke dengan nada datar.
"Aku hanya bercanda." Neji tersenyum tipis. "Jadi, permata mana yang dapat mengganggu seorang Uchiha, eh?"
Sasuke mengerutkan dahinya. "Aku tidak tahu." Ia kembali menyesap vodka di tangannya yang masih tersisa setengah gelas dengan sekali teguk. Dengan gerak lambat ia menaruh gelas tersebut di atas meja tanpa menimbulkan suara sama sekali. Dalam hati Neji berdecak kagum melihat keanggunan serta ketegasan yang dimiliki dalam diri Sasuke. Entah bagaimana dua kepribadian ini bisa ada pada diri Sasuke.
"Aku bertemu dengannya pada saat pesta di kediaman Sabaku. Apa kau mengingatnya Neji?" Neji mengangguk pelan. "Saat itulah aku menemukannya bersandar pada tiang penyangga di halaman belakang. Dengan rambut pirang panjangnya yang tergerai serta gaun biru pendek yang di kenakannya, ia terlihat seperti malaikat. Benar-benar indah."
Neji meneguk ludah pelan. Ia berani bersumpah sesaat setelah Sasuke mengucapkan kalimat terakhir ia bisa melihat binar-binar di onyx nya sebelum dengan cepat berganti dengan tatapan yang dingin.
"Kami berkenalan." Sasuke melanjutkan ceritanya. Entah kenapa saat ini ia ingin sekali menceritakan bagaimana ia bertemu dengan malaikatnya itu kepada Neji. Ia tak peduli lagi dengan imejnya yang terkenal dengan seorang yang jarang bicara. "Suaranya benar-benar merdu dan tatapan matanya benar-benar polos. Membuat ku sangat bergairah untuk membuat tatapan itu menyayu di bawah kendali ku dan membuat suaranya mengerang dan mendesahkan nama ku tiada henti." Sasuke menyeringai kejam. "Bagaimana menurut mu Neji?"
Neji yang masih setia tersenyum meski ada getar di bibirnya menatap Sasuke dengan tenang. "Menurut ku kau sangat beruntung bisa bertemu dengannya." Dan sangat malang bagi gadis itu bertemu dengan mu Sas, imbuhnya dalam hati.
"Lalu apa yang kau lakukan setelahnya? Berbicara kepada orangtuanya?"
"Apa? Berbicara pada Namikaze? Aku pasti gila jika melakukannya. Namikaze bukan orang sembarangan, jika aku langsung mendatanginya dan berkata aku tertarik dengan putrinya maka saat itu juga dia akan langsung menolak ku!" ingantannya kembali kepada malam dimana diadakannya pesta yang berlangsung di keluarga Sabaku. Pesta yang biasanya jarang sekali ia hadiri tapi berhubung keluarga Sabaku adalah salah satu keluarga saingan Uchiha membuatnya mau tak mau harus datang. Siapa tahu ia mendapatkan informasi, pikirnya kala itu.
FLASHBACK
"Sasuke. Uchiha Sasuke."
Sasuke dengan sejuta pesonanya mengangsurkan tangannya pada seorang gadis yang baru saja ia temui. Sejenak tidak ada respon sama sekali dari si gadis. Hanya kerutan yang tercetak di dahinya yang tertutupi poni namun masih bisa dilihat oleh Sasuke.
"Tidak sopan jika menolak membalas sapaan seseorang." Gadis itu tersentak. Sasuke dapat melihatnya. Dengan buru-buru gadis itu mendongak menatap Sasuke dan langsung menjabat tangan Sasuke.
"Na-naruto. Namikaze Naruto. Sa-salam kenal Uchiha san."
Sasuke tersenyum tipis. "Jadi, kau putri Namikaze, eh?"
"U-um." Naruto mengangguk malu. Tautan tangan mereka masih belum terlepas. Malah semakin mengerat ketika Sasuke melontarkan kalimat pujian.
"Sangat beruntung aku bisa bertemu dengan seorang malaikat dari keluarga Namikaze. Kau sangat mempesona."
"I-itu..." Naruto tergagap. Ia tidak terbiasa dipuji secara langsung oleh orang lain. "A-arigato, Uchiha san." Pipi Naruto bersemu merah. "Uchiha san juga sangat tampan."
Sasuke tergelak lalu dengan berani ia memegang dagu Naruto dan mengangkatnya agar ia bisa melihat rona di pipi Naruto. "Bagaimana bisa kau menyebut ku tampan jika kau tidak pernah menatap ku, hm?" penuh dengan pesona, Sasuke mulai melancarkan aksinya.
"Na-naru sudah melihat wajah, Uchiha san." Pipi Naruto semakin memerah. "Naru melihat Uchiha san ketika turun dari limousin tadi."
"Ah!" Sasuke tergelak. Tak menyangka jika Naruto sudah lebih dulu melihatnya daripada dia. "Lalu, kenapa kau tak menyapa ku?"
"Kaa chan bilang tidak pantas seorang wanita menghampiri seorang pria."
Sasuke tersenyum tipis. "Jika kaa chan mu tidak bicara seperti itu apa kau mau menghampiri ku, hm?"
Naruto melepaskan pegangan tangan Sasuke pada dagunya dengan menunduk lalu menggeleng.
"Hahaha sudah ku duga kau tidak akan melakukannya."
Naruto mendongak, tatapan matanya bertemu dengan onyx Sasuke lalu dengan polosnya ia bertanya, "apa Uchiha san ingin Naru menghampiri Uchiha san?"
Sasuke terdiam sejenak. Benarkah ia ingin Naruto menghampirinya? Oh tentu saja ia ingin Naruto melakukannya lalu ia bisa menyeretnya ke dalam limousin, mencium bibirnya, meraba tubuhnya, memnyentuh –
"... San? Uchiha san?"
Sasuke tersentak. Sial! Apa yang barusaja ia pikirkan? Mengrepe gadis di hadapannya ini? Ia pasti sudah gila! Atau ia pasti sedang bernafsu.
"Gomen," gumam Sasuke dan dibalas senyuman oleh Naruto. "Kau tak ingin masuk? Udara diluar sangat dingin." Sasuke melepas jasnya lalu menyampirkannya pada pundak Naruto.
"U-uchiha san?"
"Tak apa, pakai saja. Aku tidak mau kau sakit."
"D-demo..." Naruto menggenggam erat lengan jas Sasuke.
"Kembalikan pada ku lain kali saja, oke?"
Naruto mengangguk sambil tersenyum. Hatinya benar-benar berbunga saat oleh seorang pria tampan, baik hati – menurut Naruto –.
Beberapa detik berlalu tak ada percakapan yang terjadi. Sasuke masih setia memandangi gadis di hadapnnya dengan kagum sedang Naruto hanya bisa menunduk antara gugup dan bahagia ditemani oleh Sasuke.
"Naruto?" bisik sasuke dengan suara parau.
Mendengar suara sasuke yang berubah Naruto cepat-cepat mendongak, khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu. "Ya, Uchiha san?"
Dengan perlahan sasuke mendekatkan wajahnya pada Naruto. Naruto yang melihat gelagat aneh Sasuke yang seperti akan menciumnya lekas-lekas menolehkan kepalanya. Namun sayang sasuke dengan sigap menangkap dagu Naruto dan langsung mendongakkannya.
"Kenapa menghindar?" bisik Sasuke.
"A-ano...U-uchiha san..."
"Ssst, jangan takut. Rileks." Sasuke melingkarkan lengannya pada pinggang Naruto. Naruto tersentak. Ia segera meraih pundak Sasuke dan meremasnya kuat.
"U-uchiha san mau apa? Se-seorang bisa melihat kita." Naruto berusaha melepas pegangan tangan Sasuke pada dagunya namun nihil. Sasuke semakin mengeratkan pegangannya dan merapatkan pinggang Naruto pada pinggangnya.
"Aku ingin mencium mu. Kenapa? Tidak boleh?" bibir Sasuke semakin dekat dengan bbir Naruto.
Naruto dapat merasakan hembusan nafas Sasuke menerpa pipi chubbynya. "Kita tidak boleh melakukannya, Uchiha san. Tidak sopan."
"Tidak apa-apa Naru, hanya ada kita berdua disini. Percayalah pada ku."
"De – " protes naruto terhenti ketika bibir Sasuke sudah lebih dulu menyentuh bibirnya.
Naruto terperangah. Sapphire indahnya membulat tak percaya. Sasuke benar-benar menciumnya. Naruto yang baru kali ini merasakan ciuman langsung memberontak. Sasuke semakin mengeratkan pelukannya sampai-sampai membuat dada Naruto menempel erat pada dada Sasuke dan membuat kaki mungilnya hampir tak menapak lantai di bawahnya.
Sasuke mengubah posisi ciumannya agar lebih bisa mencicipi seluruh permukan bibir Naruto. Naruto melenguh. Ia tak menyangka jika ciuman bisa membuatnya seperti orang mabuk. Tubuhnya semakin lemah dan pasokan udara yang masuk ke paru-parunya semakin menipis. Naruto kembali berontak meski hanya dengan memukul-mukul punggung Sasuke dengan lemah. Tak ada respon dari Sasuke. Maka dengan sekuat tenaga Naruto menendang kaki Sasuke dengan kakinya yang agak menggantung sehingga menimbulkan erang kesakitan bercampur kaget dari Sasuke.
"Uh...Uh-chihah san...haah haah...membuat Naru sesak nafas." Dengan sedikit kasar Naruto mendorong tubuh Sasuke hingga terdapat jarak diantara mereka meski pelukan ytangan Sasuke tak lepas dari pinggangnya.
Lagi-lagi Sasuke tersenyum. Sudah berapa kali ia tersenyum, eh? Hanya dengan memandang gadis di hadapannya dapat membuat Sasuke sangat OOC dalam fict ini.
"Kenapa Uchiha san mencium Naru?" tanya Naruto dengan polosnya.
Sasuke mengecup bibir Naruto sekilas sebelum menjawab. "Karena aku ingin," jawabnya dengan nada tegas. "Dan jika aku ingin maka aku akan melakukannya. Apa kau keberatan?"
Naruto mengerucutkan bibirnya. "Tadi ciuman pertama Naru," katanya dengan sedikit kesal.
"Benarkah? Waaah beruntung sekali aku." Sasuke tertawa dalam hati. Entah kenapa mengetahui bahwa ia lah orang pertama yang mendapatkan ciuman Naruto membuatnya bangga. "Dan aku juga akan menjadi orang pertama yang akan menyentuh mu, Naru." Sumpah Sasuke dan sontak saja hal itu membuat saphire Naruto terbelalak.
END FLASHBACK
"Jika aku boleh tahu, berapa umur Naruto, Sas?" Neji yang sedari tadi mendengarkan cerita sasuke bertanya dengan nada sedikit khawatir. Tangannya yang meraih gelas ochanya entah kenapa terlihat bergetar dan sasuke dapat melihat dengan jelas hal itu namun ia tak peduli.
"Aku tidak yakin." Sasuke mengangkat kedua bahunya. "Dia masih sangat muda. Ku rasa dia masih duduk di bangku Senior high school."
Mendengar hal itu langsung membuat Neji tersedak minumannya. "Kau ingin berhubungan dengan seorang gadis muda?" tanyanya tak percaya. "Apa kau sudah gila?! Berapa umur mu, Sas?"
Sasuke menatap Neji dengan tajam. "Itu bukan urusan mu, Hyuuga." Nada Sasuke sarat akan peringatan.
Neji hanya menatap Sasuke dengan tenang. Kelebihan Neji yang tak dimiliki oleh bawahan Sasuke yang lain adalah sikapnya yang tenang meski mendapat ancaman dari Sasuke meskipun Sasuke sangat menyadari di dalam ketenangan Neji terdapat ketakutan terhadapnya yang sangat besar. Neji hanya berusaha menutupinya. Dan hal itu membuat Sasuke bangga padanya.
"Aku menginginkannya, Neji dan Namikaze tua itu menolak ku. Jadi, wajar jika aku menghancurkan perusahaannya. Aku sangat puas! Puas sekali, Neji." Sasuke tertawa. Bukan tawa yang terlihat menyenangkan bagi Neji tapi lebih menakutkan. Tanpa sadar Neji bergidik ngeri mendengar tawa Sasuke.
Bagaimana bisa aku berteman dan bekerja pada orang seperti dia? Tanya Neji dalam hati. Ia kembali menyesap minumannya yang telah mendingin sambil tetap menatap Sasuke. Aku harap kau baik-baik saja Namikaze muda, doa Neji.
.
.
.
TBC...
a.n. Masih kurang panjang ya? ._. sepertinya iya.
kapasitas ide saya memang hanya segini jadi tolong di maklumi -,-
btw gomeeeen kepada reader yang merasa telah saya kecewakan karena saya gak bisa update seperti yang di harapkan :(
charger laptop saya tiba" ngluarin asap waktu saya pakai bwt ngetik fict :(
