.

I'm Not Four Years Old Anymore, Hyung!

.

Author : syubsyubchim

.

Cast :

Park Jimin X Min Yoongi

Slight!BTS

.

Rate : T

.

NOTE :

YAOI! BOYXBOY! TYPOs! Review Juseyo


.

.

.

"Masuklah, aku akan menunggu diluar, hyung. Setelah ini kita beli merchandise Kumamonmu, okay?"

Yoongi menangguk singkat saat Jimin mengusap rambutnya, menyuruhnya masuk ke dalam ruang pribadi Chanyeol. Sebelumnya seperti yang sudah dipesankan oleh Jessica, Chanyeol meminta Yoongi untuk menemuinya di ruangannya.

Yoong melakukan dua ketukan sebelum Chanyeol bersuara, "Masuk" dari dalam. Dengan perlahan, didorongnya pintu kayu ruangan Chanyeol. Mengintip ke dalam dan menemukan Chanyeol yang sedang sibuk dengan setumpuk berkas diatas meja kerjanya. Sejenak, Yoongi mengamati Chanyeol yang terlihat begitu tampan dengan kemeja satin hitam dan dasi yang dilonggarkan tengah berkonsentrasi dengan tumpukan berkas yang kelihatan membosankan. Saat Chanyeol mendongak, tatapan mereka bertemu dan Yoongi sedikit mendelik kaget saat dirinya kedapatan memperhatikan Chanyeol.

Tawa halus terdengar dari dalam, "Masuklah, Yoongi-sshi."

Yoongi mengangguk singkat, lalu menutup pintu dibelakangnya. "U-Uh, sajangnim memanggil saya?"

"Ah, ya, duduklah dulu, Yoongi-sshi . Ngomong-ngomong, kau sudah melihat studiomu?"

Yoongi mendudukan didirnya di depan Chanyeol dan mengangguk, "Ya, Jessica-sshi sudah memperlihatkan ruanganku tadi. Uh, terima kasih atas ruangannya, sajangnim. Saya sangat menyukainya." Yoongi tersenyum lebar saat menjawab pertanyaan Chanyeol, memperlihatkan seberapa bahagia dirinya mendapat sebuah studio pribadi.

Chanyeol tertawa gemas saat melihat Yoongi yang tersenyum terlalu lebar. Binar bahagia terlihat jelas sekali dari wajah pucatnya, "Kalau begitu, kau mau membalas kebaikanku? Temani aku makan siang besok." Chanyeol memberikan satu senyum miring usil.

"Eh? Makan siang?" Yoongi memiringkan kepalanya bingung. Menerka kenapa Chanyeol mengajaknya makan siang bersama. Sedangkan Chanyeol hanya mengangguk membenarkan, "Kenapa, kau menolak?"

Yoongi mengibaskan kedua tangannya cepat, "Bukan begitu, sajangnim. Hanya saja..." jeda sejenak, dan kedua alis Yoongi mengerut, menandakan namja manis itu sedang mencoba menimang sebentar. "Baiklah, saya akan menemani sajangnim makan siang."

Chanyeol tersenyum senang saat Yoongi menerima ajakan makan siangnya, "Lalu, sekarang kau sudah akan pulang?"

"Ah, ya, ada beberapa hal yang harus saya beli untuk ditempatkan di studio."

Kening Chanyeol berkerut bingung. Seingatnya dia sudah menyediakan segala kebutuhan yang Yoongi butuhkan di dalam studionya. Bertanya pada dirinya sendiri apa yang mungkin dia lupakan. Yoongi yang melihat kerut bingung di kening Chanyeol buru-buru mengibaskan kedua tangannya kearah Chanyeol, menandakan tidak ada yang salah dengan studionya. "Saya hanya membeli beberapa kebutuhan pribadi saya, sajangnim."

Dan sepertinya jawaban Yoongi cukup membantu karena Chanyeol langsung mengangguk mengerti. Melihat tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Chanyeol mengizinkan Yoongi pamit dari ruangannya. Masih banyak berkas yang harus diurus, meski Chanyeol tidak keberatan namja manis di depannya ini menemaninya seharian.

"Kalau begitu, saya pamit dulu, sajangnim," Yoongi berdiri dari duduknya dan membungkukkan tubuhnya sopan kearah Chanyeol dan berbalik menuju pintu. Hal pertama yang Yoongi lihat saat dirinya membuka pintu adalah sosok Jimin yang masih setia menungguinya sambil memainkan ponselnya.

Dan sepertinya bocah itu terlalu serius dengan ponselnya hingga tidak sadar Yoongi sudah berada di depannya. "Hey, Jimin. Lama menungguku?"

Jimin mendongak saat mendengar Yoongi memanggil, lalu melemparkan senyum kekanakannya seperti biasa, "Tidak, hyung." Jimin bangkit dari duduknya dan merangkul Yoongi kearah parkiran, "Apa yang kalian bicarakan di dalam?"

"Hanya soal studio baruku. Tidak ada yang penting."

Jimin hanya mengangguk singkat, lalu membukakan pintu di sebelah kemudi untuk Yoongi, "Aku akan menyetir, hyung. Namjoon hyung meminta kita menemuinya."

Yoongi mengerutkan alisnya bingung saat Jimin menyinggung soal Namjoon. Ada angin apa sahabat seperjuangannya itu meminta bertemu saat ini. Dan tentu saja Yoongi ingin protes, bagaimana bisa Namjoon repot-repot menghubungi Jimin dan mengajaknya bertemu, bukan malah menghubungi Yoongi. Hell, memangnya yang selama ini menemani Namjoon di segala aktivitas membosankannya dikelas siapa kalau bukan Yoongi, huh?

Yoongi menoleh ke samping saat Jimin masuk ke dalam mobil dan mulai menghidupkan mesin mobil, "Ya, kau bocah. Kenapa Namjoon malah menghubungimu, bukan menghubungiku?"

Jimin mengerjap beberapa kali saat Yoongi tiba-tiba berubah kesal padanya. "Dan, ada yang salah dengan itu, hyung?"

Yoongi menghembuskan nafas kesal, "Tentu saja, bodoh! Memangnya teman seperjuangan Namjoon disini siapa, huh? Kenapa dia malah menghubungimu? Seharusnya dia menghubungiku!"

Dan Jimin hanya terkekeh kecil saat melihat Yoongi yang begitu menggemaskan. "Entahlah, hyung. Mari kita temui Namjoon hyung dan tanyakan hal itu padanya, okay?"

"Kalau begitu jalankan mobinya, Jimin. Awas saja bocah satu itu."

.

.

.

Yoongi mengerutkan alisnya bingung saat melihat dimana Jimin memarkirkan mobilnya, "Jimin, kau bilang kita akan bertemu dengan Namjoon, kenapa kau malah membawaku ke restoran eomma Jungkook?"

Jimin memadamkan mesin mobil dan melepaskan sabuk pengamannya, "Entahlah, hyung. Namjoon hyung mengirimkanku alamat restoran eomma Jungkook tadi. Mungkin saja mereka juga suka makan disini. Seokjin hyung juga pernah magang di sekolah kita, ingat?"

Yoongi hanya menganggukan kepalanya, meskipun kedua alisnya tetap berkerut bingung. Jimin turun dari sisinya dan sedikit berlari menuju ke sisi Yoongi untuk membukakan pintunya.

"Jimin, bukankah itu Taehyung?" Yoongi menunjuk ke salah satu sosok yang baru turun dari motor sportnya. "Mana?" Jimin mencoba mengikuti arah jari Yoongi dan menyipitkan mata sipitnya. Mencoba fokus pada sosok berambut brunette yang ditunjuk Yoongi.

"Oh!" Jimin memekik senang saat melihat sosok yang amat dikenalnya. Yang mewarnai hari-hari membosankannya di highschool. "YA! Alien KimTae!" Jimin berteriak nyaring, lalu melambaikan tangannya di udara, memberi petunjuk pada sahabat sehidup sematinya di ujung sana untuk menoleh kearahnya.

Yang dipanggil memalingkan wajahnya. Menoleh ke kanan dan ke kiri beberapa kali sebelum tampak bingung dan menemukan sosok Jimin bersama dengan Yoongi di sebelahnya. Senyum kotak di bibir Taehyung tersungging, lalu ikut melambaikan tangannya tak kalah heboh dari Jimin. "YA! Park Mesum Jimin!"

Taehyung berlari kearah Jimin, lalu menerjangnya dengan pelukan kuat, "Kemana saja kau, sialan? Setelah meniduri gurumu sendiri kau menghilang begitu saja, huh?"

Seolah tidak ada Yoongi yang berdiri kaku dengan wajah memerahnya, Taehyung dengan mudah melontarkan kalimatnya. Sedang Jimin sendiri tampak gelagapan dan siap meninju mulut sahabatnya yang tidak tahu tata krama itu, "YA! Alien sialan, jaga mulutmu, bodoh! Meniduri siapa maksudmu, huh?"

Yoongi semakin menundukan wajah memerahnya saat Jimin tampak tidak ingin mengalihkan pembicaraannya dengan Taehyung. Dasar bocah kurang ajar. Bagaimana bisa mulut kotor mereka berucap seolah tidak mendapat ajaran sopan santun di sekolah. Yoongi ingat sekolahnya lumayan ketat untuk masalah kedisiplinan dan sopan santun murid-muridnya.

"Tentu saja meniduri Yoongi seonsangnim, bodoh. Memangnya siapa lagi yang-"

"YAH!"

Belum sempat Taehyung menyelesaikan ucapannya, Yoongi terlebih dahulu mengeluarkan teriakan nyaringnya. Menunjuk galak dengan mata melotot tajam kearah dua bocah kurang ajar di depannya. "Tidak bisakah kalian berucap lebih sopan sedikit saja. Mulut kalian- Oh Tuhan, benar-benar," Yoongi menyandarkan tubuhnya pada mobil di sampingnya dan memijat pelipisnya.

Yoongi melempar tatapan apa-yang-kau-katakan-pada-alien-terantar-ini-huh pada Jimin. Sedang Jimin sendiri menggelengkan kepalanya heboh. Tanda dirinya sendiri bingung bagaimana Taehyung bisa membahas tentang hal itu secara tiba-tiba.

Taehyung menoleh kearah Yoongi dan kembali menunjukan senyum kotaknya yang secerah matahari pagi, "Annyeonghaseyo seonsangnim!" dan melemparkan tubuhnya pada Yoongi untuk di peluk, "Aku benar-benar merindukanmu, seonsaengnim!"

Yoongi yang melihat sifat manja Taehyung kembali keluar hanya menghela nafas sebal dan balas memeluk tubuh Taehyung, "Hm, aku juga merindukanmu, Tae."

Jimin yang sebal melihat Taehyung memeluk tubuh kekasihnya langsung menarik tubuh itu menjauh, "Yah! Alien mesum, lepaskan tangan kotormu dari tubuh kekasihku, bodoh!"

Taehyung berdecak kesal saat Jimin dengan begitu sadis menarik tubuhnya menjauh dari tubuh Yoongi lewat kerah belakang kaos polo yang digunakannya, "Yah, kau kasar sekali, Jimin. Memangnya kau juga sekasar ini saat meniduri Yoongi seonsangnim, huh?"

PLAK~!

Satu pukulan Yoongi daratkan pada belakang kepala Taehyung, "Astaga mulutmu, Kim Taehyung!" dan melarikan tangannya untuk menjewer masing-masing telinga Jimin dan Taehyung. "Hentikan omong kosong kalian dan ayo masuk kedalam."

"Hyung~ Jangan tarik telingaku begituuu.."

"A-Akhh! Seonsaengnim jangan melakukan kekerasan pada muridmu!"

Yoongi menghiraukan kedua bocah kurang ajar dan tetap menariknya masuk ke dalam restoran eomma Jungkook. Yoongi baru melepaskan telinga malang Jimin dan Taehyung saat mereka sudah berada di dalam restoran.

"Nah, temui kekasih kelincimu, sana," Yoongi mendorong pelan tubuh Taehyung, membiarkan bocah alien itu menemui kekasihnya yang biasa berjaga di belakang kasir. Sedangkan dirinya dan Jimin mengedarkan pandangan mereka. Mencari sosok Namjoon diantara kumpulan orang yang sedang menikmati santapan makan siang mereka.

Manik karamel Yoongi menemukan sosok Namjoon di sudut ruangan, melambai kearahnya dengan Seokjin di sampingnya. Namun saat Yoongi dan Jimin berjalan menuju meja Namjoon dan Seokjin, sosok Taehyung tetap saja mengekor di belakang mereka. Padalah posisi meja kasir dan meja Namjoon berbeda arah.

Bahkan saat Jimin dan Yoongi sudah berdiri di sebelah meja Namjoon dan Seokjin. Taehyung ikut berdiri dan menujukan senyum kotaknya. Dengan kesal, Jimin menolehkan tubuhnya kearah Taehyung, "Yah, KimTae, aku tahu kau benar-benar merindukan diriku dan Yoongi hyung, tapi bisakah kau tidak mengikuti kami seperti ini?"

Sedang Taehyung sendiri balik melempar tatapan kau-gila-Jimin-? kearah Jimin , "Jangan terlalu percaya diri, bocah bantet. Aku memang ingin ke meja ini juga." Dengan santainya Taehyung berjalan melewati Jimin dan Yoongi, lalu mencium pipi Seokjin dan duduk di sebelahnya.

Yoongi dan Jimin hanya melebarkan manik sipit mereka bersama saat melihat Namjoon santai-santai saja dengan Taehyung yang mencium pipi kekasihnya. Namjoon masih saja sibuk dengan kopi hitam yang dipesannya.

"Duduklah, Jimin, Yoongi. Kenapa kalian malah berdiri kebingungan seperti itu, huh?" Panggilan Seokjin membuyarkan pikiran Jimin dan Yoongi yang sama-sama sedang mencerna apa yang terjadi di sini.

"Hyung, bagaimana bisa bocah alien ini disini dan mencium pipimu begitu. Dan Namjoon hyung, kenapa kau tidak keberatan kekasihmu dicium bocah alien seperti Taehyung?" Jimin mulai mempertanyakan serangkaian pertanyaan yang muncul di otaknya, lalu menujuk-nunjuk tidak sopan kearah Taehyung.

Taehyung yang ditunjuk segera menepis jari bantet Jimin dari depan hdungnya, lalu berdecak kesal, "Apa yang salah dengan mencium pipi hyungmu sendiri, huh?"

"MWOYA?!"

Baik Jimin maupun Yoongi kembali melebarkan manik mereka, "Kau dan Seokjin hyung bersaudara?!" Jimin menaikkan suaranya satu oktaf, tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja diketahuinya.

Bagaimana bisa Jimin tidak mengetahui Taehyung, sahabat seperjuangannya, yang selalu bersamanya di masa-masa kelam highschoolnya, memiliki seorang hyung dan itu adalah Kim Seokjin kekasih sahabat kekasihnya yang selama ini selalu mengajaknya minum-minum bersama. Jimin tidak bisa berfikir lurus kali ini. Entah dirinya yang terlalu bodoh atau dunia yang terlalu sempit?

Taehyung mengangguk santai dan menyandarkan kepalanya manja pada bahu bidang Seokjin, "Sudah kubilang, Park Jimin, kau memang bodoh."

Reaksi singkat yang diberikan Taehyung kembali menyulut emosi Jimin, "Bagaimana bisa?!" lalu Jimin kembali mengusap wajahnya. Kehabisan kata-kata dan merasa dibohongi oleh keadaan, atau mungkin sahabatnya?

"Makanya peka sedikit dengan sekitar, kalian pikir dunia ini hanya milik kalian berdua, huh?" Namjoon membuka suara. Tidak tahan dengan Jimin dan Yoongi yang tidak mengerti dengan lingkar pergaulan mereka yang begitu-begitu saja. "Bahkan orang tua Seokjin hyung datang saat acara kelulusan kita bersama Taehyung."

"Tapi Taehyung duduk di sebelahku hari itu, Namjoon hyung," Jimin mengacak rambutnya, mencoba memutar ingatannya dan mengingat kapan Taehyung dan Seokjin melakukan komunikasi.

Taehyung terkekeh pelan, "Aku memang duduk di sebelahmu, bodoh. Tapi aku menemui Seokjin hyung setelah acara graduasi mereka selesai." Lalu Taehyung menjeda sejenak ucapannya, "Ah! Tentu saja kau tidak tahu aku menemui Seokjin hyung. Kau langsung pergi untuk mempersiapkan surprise kacanganmu dan meniduri Yoongi seonsaengnim setelahnya."

"KIM TAEHYUNG!" Yoongi memekik lagi. Wajahnya kembali memerah saat Taehyung dengan santainya membahas soal dirinya dan Jimin.

Sedangkan Taehyung hanya terkekeh pelan, terlalu senang melihat reaksi yang ditunjukan oleh Yoongi. Tidak salah Jimin bisa jatuh pada Yoongi sampai mengejar cintanya dari bocah sampai sekarang. "Iya, iya, seonsaengnim. Maafkan aku," lalu mengangkat kedua tangannya di udara, tanda dirinya menyerah.

Yoongi mendengus kesal, "Jangan panggil aku seonsaengnim lagi kalau kau tidak bisa menjaga ucapanmu, Tae-ya."

Taehyung kembali terkekeh pelan, "Baik, hyung."

Tidak lama, Jungkook datang membawakan beberapa makanan ringan dan minuman yang biasa di pesan oleh tiap orang yang sudah dia hapal di luar kepala. Lalu mendudukan dirinya di sebelah Taehyung. "Annyeonghaseyo hyungdeul," sapa kelinci manis itu.

Saat Jungkook sudah duduk di posisinya dan mulai menyeruput jus jeruknya, Namjoon menepuk kedua tangannya, membuat atensi seluruh makhluk di meja itu beralih padanya, "Jadi, aku mengumpulkan kita disini untuk mengumumkan sesuatu."

Namjoon menyunggingkan senyumnya, membuat dua buah lesung pipi muncul apik di pipinya. Dengan lembut, Namjoon meraih tangan kiri Seokjin dan memposisikannya di sebelah tangan kirinya, "Aku dan Seokjin hyung akan menikah."

Selang sedetik, teriakan riuh dan heboh memenuhi meja itu. Terutama dari Yoongi dan Jimin, bahkan Yoongi sampai bangkit dari duduknya, "Daebak! Kapan kau melamar Seokjin hyung, huh? Kenapa kau tidak memberitahuku terlebih dahulu, bocah sialan?"

Namjoon dan Seokjin sontak terkekeh saat melihat reaksi Yoongi, "Aku baru melamarnya tiga hari yang lalu Yoongi hyung. Dan, oh- ayolah, aku kan sudah memberitahuku hari ini. Jangan kesal begitu dong, hyung."

Yoongi mendudukan tubuhnya kembali dan melipat tangannya di depan dada, "Selamat kalau begitu, dan aku doakan yang terbaik untukmu Seokjin hyung. Katakan padaku kalau Namjoon menyakitimu."

Seokjin hanya memberikan senyum maklumnya, "Terima kasih Yoong, dan aku pasti akan mengabarimu kalau Namjoon menyakitiku." Lalu mengusak rambut Yoongi gemas.

"Ah, dan aku ingin kau dan Jungkook menjadi bridemaidsku, Yoong~"

"Huh?" Yoongi dan Jungkook menunjuk diri mereka masing-masing bersamaan, "Aku?"

Seokjin mengangguk dengan senyum penuh harap kearah dua dongsaeng manisnya. Berharap keduanya menerima tawaran Seokjin untuk menemaninya di hari terpenting di hidupnya. Yoongi dan Jungkook saling berpandangan satu sama lain. Binar keduanya terlihat ragu, apalagi Jungkook yang masih bisa dibilang terlalu muda untuk ditugaskan dalam bidang ini. Demi Tuhan, Jungkook masih delapan belas tahun dan Seokjin mempercayakannya di hari pernikahannya? Yang benar saja.

Melihat keduanya tak kunjung mengiyakan, Seokjin mengerucutkan bibirnya, "Ayolah, Yoong, Kookie, aku ingin kalian yang menemaniku di hari pentingku."

Rengekan itu terdengar sangat manis untuk seorang pria yang akan menikah sebentar lagi. Dan dengan polosnya Jungkook mengangguk mengiyakan begitu saja membuat Seokjin memekik senang dan memeluk tubuh Jungkook erat-erat, "Terimakasih Kookie, hyung benar-benar menyayangimu."

Melihat Seokjin yang begitu senang dengan anggukan kepala Jungkook membuat Yoongi mau tidak mau ikut mengangguk, "Baiklah, hyung, aku akan membantumu di hari pernikahanmu."

Pekikan lain keluar dari bibir Seokjin, membuat si manis memutari meja dengan semangat dan memeluk tubuh Yoongi erat, "Terimakasih Yoong~ Kau yang terbaik!"

Yoongi sedikit terkejut saat Seokjin memeluknya seerat ini, bahkan Seokjin tidak memeluknya seperti ini di hari kelulusan mereka, "Sama-sama, hyung. Aku akan berusaha yang terbaik untuk hari pentingnmu."

Namjoon yang melihat calon pengantinnya begitu bahagia ikut tersenyum, lalu menolehkan pandangannya pada dua pria yang akan menganggur di hari pernikahannya. Dan tentu saja Namjoon tidak akan membiarkan hal itu terjadi, "Hey Jimin, Taehyung, kalau begitu kalian haus menjadi bestmanku, okay?"

Sekilas Jimin membolakan maniknya, lalu mengangguk kalem. Memangnya apa lagi yang bisa ia lakukan. Toh kekasihnya juga akan menjadi bridemaids Seokjin. Jadi tidak ada salahnya dia menjadi bestmannya Namjoon. Sedangkan Taehyung menyuarakan protesnya, "Mwo? Tidak bisa, hyungku akan menikah hari itu dan aku pasti akan disibukan dengan hal lain."

Namjoon berdecak saat Taehyung menyuarakan protesnya. Sesuai dugaannya, bocah alien itu pasti tidak akan setuju dengan ide Namjoon, "Tenanglah, KimTae, kau hanya perlu menjadi bestmanku, okay? Masalah lain biar aku yang mengurusnya. Ini pernikahanku dan jadilah adik ipar yang manis sekali saja untukku."

Taehyung menyirit tidak suka saat Namjoon menyinggung soal adik-ipar-manis di hadapannya, namun saat Taehyung menoleh kearah Seokjin, meminta backup, Seokjin malah terlihat ikut memohon lewat pandangan matanya. Dengan nafas kesal, Taehyung mengangguk, "Baiklah, atur saja Namjoon hyung. Aku akan menjadi adik-iparmu-yang-manis."

Namjoon tertawa senang saat Taehyung terlihat begitu terpaksa menerima tawarannya menjadi bestmannya dan menekan di kata adik ipar manis. "Tenang, KimTae. Aku juga akan menjadi kakak-ipar-yang-baik untukmu."

"Ngomong-ngomong, Namjoon. Sekarang kau bekerja dimana sampai berani melamar Seokjin hyung sedini ini, huh?" Yoongi tiba-tiba menyela. Sejak hari kelulusan mereka, Yoongi memang kurang berkomunikasi dengan teman-temannya yang lain. Bahkan dengan Namjoon dan Seokjin. Jadi wajar saja Yoongi sempat ketinggalan beberapa informasi mengenai teman-temannya.

"Aku melanjutkan perusahaan ayahku, hyung. Kau tahu sendiri dia begitu berambisi untuk membuatku melanjutkan karirnya. Appa bilang dia ingin pensiun dan membantuku di balik layar. Jadilah dia menyuruhku melanjutkan perusahaannya."

Bibir Yoongi membentuk huruf 'O' dan mengangguk-angguk mengerti. Memang sedari dulu ayah Namjoon yang juga seorang komposer ternama di Korea begitu berambisi untuk membuat Namjoon mengikuti jejaknya. Dan tidak heran kalau beliau menyuruh Namjoon meneruskan perusahaannya di bidang entertaiment dan membantu Namjoon dalam bidang aransemen lagu dari balik layar.

"Kalau dirimu, Yoong?" Giliran Seokjin yang bertanya.

"Aku bekerja di agensi Chanyeol, hyung. Menjadi produser lagu, tentu saja."

Yang lain hanya mengangguk-angguk mendengarkan. Memang tidak heran kalau Yoongi akan kembali terjun dalam bidang musik. Hal itu seperti sudah tertulis jelas di keningnya dengan huruf balok. "Dan Jimin menjadi trainee di agensi Chanyeol juga," lanjut Yoongi yang menghasilkan tatapan terkejut dari empat pasang mata di hadapannya.

"Wow! Jiminie keren sekali! Selamat untukmu!" Seokjin yang pertama bereaksi, memberikan satu pelukan pada Jimin. Dilanjutkan dengan Namjoon yang bergumam "Itu baru Jimin," dan memberikan acungan jempolnya. Sedangkan Jungkook bertepuk tangan heboh sambil bergumam "Daebak!" berkali-kali.

Taehyung sendiri masih menganga tidak percaya. Apa yang merasuki sahabat sialannya sampai dia bisa seberuntung itu menjadi trainee seperti mimpinya yang selama ini selalu Taehyung dengar saat mereka bosan di pelajaran Sejarah, atau pelajaran Bahasa Korea, atau pelajaran Matematikan, atau- Oh, oke, Jimin dan Taehyung selalu bosan di setiap pelajaran kecuali pekajaran Seni dan Olahraga.

"Sial, Park Jimin. Kau benar-benar bajingan beruntung."

"Yah! Kim Taehyung, ucapanmu!" itu Seokjin dan Yoongi.

.

.

.

Setelah makan siang dan obrolan seputar kehidupan mereka yang sempat tidak bertukar kabar, Jimin dan Yoongi pamit duluan. Mereka masih harus membeli perlengkapan Yoongi untuk studionya dan pulang untuk membereskan barang-barang Yoongi.

Jimin memarkirkan mobil Yoongi di salah satu pusat perbelanjaan di Seoul dan membiarkan Yoongi menarik lengannya berkeliling sesuka hatinya. Toh, disini Yoongi yang akan membeli barang untuk mengisi studionya, bukan Jimin. Jimin hanya berperan sebagai kekasih yang baik tentu saja akan menemani Yoongi.

"Pertama-tama aku ingin membeli neck pillow," Yoongi bergumam, berjalan mengitari bagian perabot rumah tangga di bagian kamar tidur untuk menemukan barag yang dicarinya. Yoongi yakin lehernya akan sakit saat dirinya duduk terlalu lama di depan komputer. Dan Yoongi yang sadar akan tubuh lemahnya tidak mau hal itu terjadi, maka neck pillow adalah pilihan yang tepat untuk dirinya.

Saat Yoongi sedang melihat-lihat ke setumpuk neck pillow yang di pajang di toko itu, Jimin datang dari belakang dengan sebuah neck pillow berwarna abu-abu. Melingkarkannya diam-diam di sekeliling leher Yoongi. "Hai Min Yoongi, perkenalkan aku neck pillow abu yang sangat nyaman. Ayo beli aku," Jimin menirukan suara seolah tertekan saat melingkarkan neck pillow abu tersebut, membuat Yoongi membalik tubuhnya.

"Dimana kau menemukan ini, Jimin?" Yoongi menggerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Mengetes seberapa nyaman neck pilllow yang dilingkarkan Jimin di lehernya. Jimin menunjuk ke arah belakang, bagian yang sedikit tertutup, namun Yoongi tidak peduli karena neck pillow yang dipilih Jimin lebih dari cukup untuk dirinya.

"Aku beli yang ini, ayo kita cari yang lain," Yoongi melepaskan neck pillownya dan membawanya ke kasir. Yoongi ingin membeli beberapa merchandise Kumamon untuk studionya dan Yoongi yakin salah satu toko dengan tema Jepang di dekat pintu masuk tadi menjualnya.

Setelah membayar, Yoongi menarik lengan Jimin dengan semangat kearah salah satu toko dengan tema Jepang yang kental. Senyum Yoongi langsung merekah saat melihat figure Kumamon yang dipajang di display toko itu. "Lihat Jimin! Bukankah Kumamon itu menggemaskan sekali?" Yoongi menarik-narik lengan baju Jimin antusias sambil menunjuk kearah pajangan Kumamon di display toko.

Jimin hanya tersenyum dan mengangguk mengiyakan, "Kau menyukainya? Kalau begitu ayo kita lihat ke dalam."

Yoongi berjalan bahkan nyaris berlari kearah toko itu, seperti anak kecil yang akan mendapatkan balon gratis di tama bermain. Sesampainya di dalam, manik karamel Yoongi berbinar lucu saat menemukan tiap merchandise Kumamon yang ada di dalam toko itu.

"Gantungan kunci Kumamon untuk kunci studioku," Yoongi mengambil sebuah gantungan kunci Kumamon yang sedang memegang bola basket, terlihat lucu sekali, mengingatkannya pada kegiatannya saat di highschool dulu.

Yoongi mengambil sebuah boneka Kumamon ukuran sedang dan memeluknya gemas, "Satu untuk dirumah dan satu untuk di studio," Yoongi melanjutkan celotehanya dengan Jimin yang masih setia mendengarkan di sampingnya. Jimin terkekeh gemas saat Yoongi terlihat kesulitan memegang belanjaannya dan boneka Kumamon di saat yang bersamaan.

"Sudah kubilang aku akan membantumu, hyung," tanpa persetujuan Yoongi, Jimin meraih belanjaan Yoongi sebelumnya dan memegangnya, lalu memberikan Yoongi arahan untuk kembali memilih merchandisenya.

Yoongi mengulum senyum senang dan memberikan Jimin sebuah kecupan kilat di pipinya, "Terima kasih, Jimin," dan meninggalkan Jimin untuk memilih merchandise lain. Dan tentu saja agar Jimin tidak menyadari rona merah yang muncul di pipinya.

Jimin sendiri membeku sejenak saat Yoongi mengecup pipinya duluan di depan umum, dan terkekeh setelahnya saat melihat sikap malu-malu Yoongi akibat perbuatan yang bau saja dilakukannya. Dengan cepat, Jimin mengikuti Yoongi yang masih asik memilih merchandise di depannya dan lalu membalik tubuhnya dan mengunci tubuhnya di dinding belakangnya.

"Ji-Jimin!" Yoongi hampir memekik terkejut saat Jimin membalik tubuhnya dan memenjarakannya di antara lengannya. "Apa yang kau lakukan?" Yoongi mendesis pelan, menyadari posisinya dan Jimin yang tidak baik-baik saja.

Jimin mengulum senyum saat melihat rona merah semakin berkumpul di wajah Yoongi, lalu mendekatkan wajahnya kearah Yoongi. "Hm? Apa yang aku lakukan?" satu senyum usil tersungging di bibir Jimin.

"Jangan macam-macam, Jimin," Yoongi mencoba mendorong tbuh Jimin yang sama sekali tidak bergeming drai tempatnya, membuat Yoongi semakin kesal dan senyum Jimin semakin lebar. "Aku hanya ingin mencium kekasih manisku yang menggemaskan," dan Jimin mendaratkan satu kecupan di hidung Yoongi.

Tanpa sepengetahuan Yoongi, Jimin menjepitkan satu jepit rambut bergambar wajah Kumamon di rambut Yoongi. "Kau memang akan selali menggemaskan, hyung," lalu mengacak rambut Yoongi dan berbalik, menyimpan kedua lengannya di saku celana.

Yoongi memerah, lalu membenarkan rambutnya yang diacak Jimin, saat itulah jepit rambut Kumamon itu jatuh dari rambut Yoongi. "Eh, kapan jepit rambut ini ada di rambutku?" Yoongi meraih jepit rambut itu dan seketika bibirnya tertarik membentuk satu senyuman. Jimin pasti menyelipkannya saat mengecup hidungnya tadi. "Ini lucu sekali," Yoongi mengusap jepit rambut itu, meletakannya kembali ke dalam rak.

Setelahnya, Yoongi membayar boneka dan gantungan kunci yang dibelinya. Yoongi ingin sekali membeli jepit rambut itu, namun tetap saja, Yoongi tidak yakin dirinya akan menggunakannya jadi Yoongi tidak jadi membelinya.

"Sudah selesai belanjanya?"

Yoongi mengangguk dan menunjukan kantung belanjanya kepada Jimin. "Hyung membeli apa saja?" Jimin bertanya, menuntun Yoongi kearah parkiran untuk pulang. Hari sudah menjelang sore dan Yoongi belum berbenah barang-barangnay dirumah.

"Hanya sebuah boneka dan gantungan kunci," setelah Yoongi memastikan Jimin menyimpan semua barang-barangnya di bagasi, Yoongi mendudukan dirinya di kursi sebelah kemudi.

Jimin tersenyum penuh makna saat mengetahui Yoongi tidak membeli jepit rambut tadi. Sesuai perkiraannya tentu saja. Jadi Jimin mengeluarkan kantung kecil dan menyerahkannya kearah Yoongi, "Aku tahu kau tidak akan membelinya, jadi aku yang membelinya untukmu."

Yoongi meraih kantung kecil dari Jimin dan menemukan jepit rambut Kumamon di dalamnya. Yoongi tersenyum tipis, "Tapi aku seorang pria, Jimin, dan seorang pria-"

"Tidak ada seorangpun yang boleh mengeluarkan aturan seperti itu, hyung. Kau memang seorang pria, tapi kau sangat cocok menggunakannya. Tidak ada yang salah dengan hal itu."

Yoongi terdiam saat Jimin membalas ucapannya, lalu mengeluarkan jepit rambut Kumamon dari dalam kantungnya. "Ponimu sudah mulai memanjang, hyung. Matamu akan kelelahan dan kesakitan kalau ponimu menghalangi pandanganmu begitu. Pakailah di saat kau memerlukan fokus berlebih di dalam studio, ya?" Jimin menyisir poni Yoongi kearah samping. Memperlihatkan manik karamel kesukaan Jimin lebih jelas.

Yoongi tersenyum malu-malu saat mengetahui Jimin yang begitu memperhatikannya, lalu menyerahkan jepit rambutnya kearah Jimin, "Pakaikan, Jimin."

Jimin terkekeh gemas dan menanamkan satu kecupan di dahi Yoongi sebelum menjepitkan poni Yoongi kearah samping, "Nah, kalau begini kan matamu tidak akan terhalang ponimu lagi."

Yoongi membuka ponselnya, mengecek penampilannya sendiri dan terkekeh geli. Dirinya tampak lucu dengan dahi yang kelihatan karena poninya yang dijepit ke samping dengan sebuah jepit rambut Kumamon.

Sebelum Jimin sempat menjalankan mobilnya, Yoongi terlebih dahulu menarik kerah baju Jimin dan menempelkan bibir mereka, melumatnya lembut dan tersenyum di sela-sela, "Terima kasih, Jimin. Aku benar-benar beruntung kau ada di sisiku."

Jimin hanya tersenyum mendengatnya dan mengusap surai Yoongi, "Sama-sama, hyung. Aku mencintaimu.."

"Aku juga, Jimin.."

.

.

.

TBC

.

.

.

INFIRES~

Annyeonghaseyo semua reader sekalian, syubsyubchim balik lagiiiiiiiiiii ! Finally, syubsyub bisa ngelanjutin fanfic ini setelah dua bulan. Iya, dua bulan syubsyub anggurin karena banyak banget kehidupan real life yang ngebuat syubsyub gabisa lanjut ngetik fanfic selama dua bulan. Meskipun ada beberapa faktor lain selai kehidupan real life.

First thing first, kuliah syubsyub bener-bener ga nyantai, apalagi semester lalu, kalo ga tugas ya ujian yang bikin sibuk. Kedua, syubsyub harus latihan nari buat lomba dance cover and yeah itu makan banyak waktu dan energi. Ketiga, syubsyub gapunya ide. HAHAHA! Iya, idenya mampet banget, soalnya jujur aja fanfic ini tuh awalnya cuma mau dibikin twoshot tapi karena banyak yang minta lanjut makanya syubsyub coba lanjut. Jadi syubsyub minta maaf banget kalo misalnya plotnya terus berganti karena syubsyub gapunya ide untuk bikin konflik sesungguhnya. Lihat aja makin kesini isi fanficnya makin ganyambung sama judulnya (digeplak).

Dan yang terakhir karena chapter lalu syubsyub sempat down masalah review. Bukan maksudnya ngemis review atau gimana, jujur aja semua author pasti mau dong fanficnya di review. Dan bukan salah readers juga, cuma sebelum update chapter lalu syubsyub ada hapus satu chapter yang ga berhubungan sama story ini, jadi reviewnya keganggu dan ga sedikit review yang gabisa ke post. Awalnya syubsyub udah kecewa berat, syubsyub kira ini karena ceritanya jelek dan peminatnya makin sedikit. Tapi teryata karena masalah error dari ffnnya. Tapi mau gimanapun rasa kecewa itu pasti ada (nangis di pojok), makanya syubsyub sempet gapunya mood buat nulis fanfic sama sekali. Mohon dimaafkan author abal ini (bow 90 degrees).

Oleh karena itu, di chapter ini syubsyub ga bakal balesi review dulu kaya sebelumya, tapi syubsyub bakalan balesin lagi kok mulai chapter depan karena reviewnya udh normal. Maaf juga kalo chapter ini mengecewakan, karena syubsyub kurang ide TT Maaf juga buat yang nunggu kelamaann TT Tapi syubsyub usahain nexr chapter bakal fast update. Makanya dibantu motivasinya dengan review. Hohoho.

Terus, MERRY CHRISTMAS buat yang merayakan! Meskipun syubsyub ga merayakan, hehe.

Terakhir, terima kasih untuk semua yang sudah bersedia membaca, memfollow, memfavorite bahkan sampai mereview fanfic yang sangat tidak jelas asal-usulnya ini. Maaf kalau mengecewakan.

.

Terima Kasih.

.

Salam, INFIRES!