Naruto © Masashi Kishimoto
Disclaimer : Naruto murni milik Kishimoto sensei, saya cuma minjem chara
Rated M
Genre : Romance dengan sedikit bumbu crime
Warn : gender bender, ooc, typo dan kawan-kawan lainnya
.
.
Naruto : (15) x Sasuke (25)
Kyuubi : (18) x Itachi (27)
Deidara : (22) x Sasori (25)
.
.
Iris saphire menatap lurus pada sebuah jas yang tergantung rapi di dalam lemari kayu miliknya. Tangan mungilnya sibuk membolak balik jas bermerk berwarna biru tua yang berhasil menyita perhatiannya ketika ia hendak mengambil seragam sekolah miliknya yang juga tergantung rapi di dalam lemarinya. Seingatnya ayahnya tidak memiliki jas seperti yang ada di hadapannya. Lalu jas milik siapa ni yang bertengger manis di hadapannya? Naruto berusaha mengingat-ingat, ia tak mungkin menanyakan perihal jas ini kepada ayahnya. Bisa-bisa ia justru di tanyai yang tidak-tidak, padahal ia sendiri kan tidak ingat. Naruto kembali mengelus permukaan lengan jas dan tanpa sadar ia menyentuhkan lengan jas tersebut ke pipinya.
Lembut, batin Naruto. Lalu tercium aroma parfum yang maskulin. Ia merasa seperti pernah merasakan aroma parfum yang seperti ini, tapi dimana? Sedetik kemudia saphirenya terbelalak kaget.
"Oh tidak!" pekiknya tanpa sadar. Kembali ia pandangi jas itu lalu segera menariknya keluar dari lemari. Mengarahkan jas tersebut ke arah jendela supaya dapat menyinari jas tersebut lebih baik.
Ia ingat sekarang. Jas itu...jas itu adalah pemberian pria yang ia temui saat pesta di rumah keluarga Sabaku! Naruto mengerang dalam hati. Bagaimana ia bisa lupa dengan hal sepenting ini? Bagaimana jika ayahnya atau ibunya yang terlebih dahulu melihat jas ini ketimbang ia? Naruto dengan cepat mengingat-ingat nama pria yang ia temui di pesta itu dan ia ingin segera mengembalikan jas itu kepada pemiliknya. Jika jas itu terlalu lama tinggal di lemari milik Naruto maka kemungkinan besar kedua orangtuanya atau kedua kakaknya akan segera mengetahuinya dan Naruto tidak ingin ditanyai macam-macam. Apalagi Naruto pernah berciuman dengan pria pemilik jas itu.
"Aaaah~ doushite?" Naruto menjatuhkan tubuh mungilnya ke atas ranjang. Matanya memandang ke langit-langit kamarnya berusaha mencari jalan keluar. "Jika tak ku kembalikan sekarang maka kaa chan dan tou chan akan segera tahu," gumamnya dengan nada bingung. Hampir setengah jam ia memikirkan hal apa yang harus dilakukan tiba-tiba saja sesuatu ide terlintas dipikirannya. Kenapa tak ia kembalikan langsung saja jas ini? Ia bisa mencari tahu alamat si pemilik jas ini nanti di perjalanan menuju sekolah.
Dengan segera Naruto bangkit dari atas ranjang, mencari papper bag yang bisa ia gunakan untuk menaruh jas bermerk itu. Sebuah papper bag ia temukan terselip diantara tumpukan tas miliknya. Dengan hati-hati dan penuh kelembutan Naruto melipat jas berwarna biru itu dan langsung memasukkanya ke dalam papper bag dan menyandingkannya di sebelah tas sekolahnya. Berjaga-jaga agar ia tak lupa membawanya ke sekolah.
.
.
"Naru, tumben sekali kau bangun pagi, Nak?" sebuah suara yang berasal dari dapur menarik perhatian Naruto yang masih berjalan menuruni tangga. Kepala pirangnya ia tolehkan ke dapur untuk melihat ibunya yang tengah memunggunginya.
Bukannya menjawab pertanyaan dari ibunya, Naruto justru balik bertanya, "kaa chan tau Naru sudah bangun?" ibunya menoleh sedikit lalu mengangguk. Kembali ia tekuni pekerjaanya yang tengah mengiris sayuran. "Ne, kaa chan, ada yang harus Naru kerjakan di sekolah makanya Naru bangun pagi-pagi." Ia langkahkan kaki mungilnya ke dapur. Berhenti tepat di samping ibunya sambil mengawasi tangan laincah ibunya. "Nee chan belum bangun?" tanyanya tanpa mengalihkan perhatian.
"Sudah, sebentar lagi pasti turun." Kushina melemparkan senyum manisnya. "Tolong tata piring dan sendoknya ya? Sebentar lagi kaa chan akan selesai." Naruto mengangguk lalu beralih ke rak piring dan langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh ibunya.
Sayup-sayup terdengar percakapan yang semakin lama semakin jelas terdengar. Naruto tersenyum lima jari. Nee channya sudah turun!
"Neee chaaaannn!" teriak Naruto sambil berlari menghampiri kedua kakaknya.
BRUGH!
Punggung Deidara dan Kyuubi sukses mencium lantai, untung saja mereka tidak jatuh di tangga.
"Auuw! Naru! Apa yang kau lakukan?!" pekik Kyuubi kaget.
"Ohhh punggung ku..." ratap Deidara sambil menggeliat kesakitan.
"Hehehe, menyambut kalian," jawabnya tanpa dosa.
"Kau berlebihan Naru! Bagaimana kalau ada tulang punggung ku yang patah?" Kyuubi mendelik sebal pada adik semata wayangnya ini.
"Tak akan patah nee chan." Naruto menggeleng pelan. "Naru kan ringan."
Bletak!
Sebuah jitakan manis mendarat di kepala pirang Naruto.
"Tapi sakit tau!"
Naruto hanya cemberut.
"Ngomong-ngomong Naru, mau sampai kapan kau akan terus di atas kami?" kali ini suara Deidara yang menyapa indera pendengaran Naruto. Ia memandang wajah adiknya dengan datar.
"AAHH! Maaf kan aku nee chan." Naruto segera bangkit dari aksi menindih kedua kakaknya dan langsung membantu mereka berdua berdiri. "Nee chan, tak ada yang patah kan? Bagian mana yang sakit?" tanya Naruto beruntun pada Deidara.
"He-hey Naru sayang, apa hanya Dei nee yang Naru perhatikan? Punggung nee chan juga sakit loh," adu Kyuubi.
"Eh?" Naruto menoleh pada Kyuubi. "Mana? Bagian mana yang sakit nee chan? Aaa~ gomen nee chan, Naru tidak sengaja, sungguh!" Naruto memutari tubuh kedua kakanya sambil meraba-raba punggung keduanya.
Kyuubi dan Deidara terkekeh geli melihat tingkah adiknya. Kalau boleh jujur sebenarnya mereka sama sekali tidak merasa kesakitan. Benar apa yang dikatakan Naruto kalau tubunya ringan. Mereka terjatuh hanya karena kaget saja bukan karena berat badan Naruto yang menubruk mereka.
"Sudah-sudah Naru, kami tak apa kok." Deidara menghentikan aksi Naruto sedang Kyuubi dengan sayang mengusap helaian pirang Naruto. "Kalau hanya Naru saja tak akan sampai membuat tulang punggung kami patah," katanya menggoda. "Kami hanya becanda."
Naruto menghela nafas panjang. "Yokatta, Naru pikir tulang punggung kalian benar-benar patah," ujarnya dan disambut tawa oleh kedua saudarinya.
"Anak-anak sarapan siap!" teriak Kushina dari dapur.
"Ha'i kaa chan,' jawab ketiganya bersamaan dan langsung bergegas ke ruang makan.
Naruto duduk di sebelah kanan Kyuubi, sedang Deidara dan Kushina duduk berseberangan. Minato sebagai kepala keluarga duduk di paling ujung dan mulai memimpin doa. Keluarga bahagia ini sarapan dengan tenang meskipun tadi ada sedikit insiden yang diakibatkan oleh si bungsu.
Kyuubi selesai makan paling awal, ia meletakkan sendok di tangannya lalu mulai meraih kain putih di samping piringnya untuk membersihkan mulutnya. Tak sengaja ketika ia mengambil kain putih matanya menangkap sebuah papper bag yang berada di samping tas Naruto yang tergeletak di bawah meja.
Dengan alis terangkat sebelah, tangan Kyuubi meraih papper bag tersebut namun tak disangka-sangka dengan sigap Naruto meraih papper bag mendahului Kyuubi lalu memandangnya dengan tatapan sebal.
"Nee chan mau apa?" tanyanya yang menarik perhatian orang lain.
Dahi Kyuubi berkerut. "Apa yang ada di dalamnya?" tanyanya penasaran.
"Baju Naru."
"Baju untuk apa? Apa hari ini ada ekskul?"
Naruto menggelengkan kepalanya. "Hari ini Naru mau ke rumah Hinata, ada tugas kelompok," bohongnya dengan lancar.
"Hinata? Hyuuga Hinata?" tanya Deidara dari seberang. Naruto mengangguk sambil tersenyum. Tangannya mulai menyendok makanan yang belum selesai ia habiskan.
"Memangnya tugas apa sampai-sampai harus di kerjakan di rumah Hyuuga san?" tanya Kyuubi yang masih penasaran.
"Tugasnya mengharuskan Naru melakukan praktek, jadi harus dikerjakan di rumah."
"Apa tidak bisa dikerjakan disini saja?"
"Rumah kita jauh, nee chan. Kalau Hinata harus datang kemari kasihan pulangnya nanti terlalu larut."
"Tapi kalau ke rumah Hyuuga san juga akan jauh, Naru. Pulang mu juga akan larut kan? Lain kali saja bagaimana?"
Naruto cemberut. Digigitnya sendok yang tengah ia pegang lalu menatap Kyuubi dengan pandangan memelas. "Kenapa lain kali, nee chan? Naru sudah janji dengan Hinata sejak tiga hari yang lalu, loh."
Kyuubi merona. Entah kenapa ditatap adiknya seperti itu membuatnya jadi gerah. Jika saja Naru boneka sudah pasti akan Kyuubi gigit, cubit, remas, oh tidak! Kembali Kyuubi menggeleng pelan.
"Hari ini aku ada ekskul, Naru, jadi – "
"Nee chan tenang saja! Naru hafal jalan pulang kok," sahut Naruto dengan cepat. Takut-takut kalau Kyuubi berencana membatalkan ekskul karena ingin mengantarnya. Bisa gawat kalau ketahuan bohong, batinnya miris.
Kyuubi mengerutkan keningnya. MinaKushi yang sedari tadi hanya diam mulai tertarik dengan percakapan kedua putrinya.
"Naru hafal jalan pulangnya?" tanya Minato kalem. Benar-benar seorang ayah idaman.
Naruto mengangguk dengan semangat, tak lupa menunjukkan senyum lebarnya. "Naru pernah ke rumah Hinata loh, kalau-kalau tou chan lupa."
"Tou chan tidak lupa, sayang. Hanya saja..." Minato terdiam. Entah kenapa ia merasa tidak nyaman mendengar Naruto ingin pergi ke rumah Hyuuga yang berada di distrik yang jauh dari distrik yang mereka tempati saat ini. Lagi pula Naruto anak perempuan, tak mungkin kan ia membiarkan anak perempuannya pergi keluar sendiri. Bagaimana jika terjadi apa-apa dengannya? Batin Minato horor.
Tiba-tiba saja sekelebat ingatan tentang pertemuannya dengan slah satu pewaris Uchiha membuatnya merinding. Uchiha tidak terkenal dengan kemurahan hatinya melainkan terkenal dengan kekuasaan dan keangkuhan yang mereka miliki secara turun menurun. Ia tidak boleh lengah karena salah satu Uchiha itu mengingkan salah satu putrinya. Dan jika Uchiha menginginkan sesuatu maka ia akan mendapatkannya dengan berbagai cara.
"Anata?" sebuah suara lembut membuyarkan lamunan Minato.
"Hm?" Minato menoleh pada istrinya dan dibalas dengan lirikan yang diarahkan pada Naruto.
"Ah!" Minato lupa jika tadi ia ingin mengatakan sesuatu. Ia tersenyum canggung. "Bagaimana kalau tou chan yang antar?" tawar Minato.
Naruto menggeleng. "Naru akan pergi sendiri, tou chan."
"Tapi – "
"Sudahlah anata," cegah Kushina.
"Tapi, sayang..." Minato menatap istrinya bingung. Seharusnya Kushina lah yang paling khawatir dengan keputusan Naruto. Tapi yang di tatap justru hanya tersenyum kemudian menatap Naruto.
"Naru boleh ke rumah Hyuuga san sendiri – "
"Yeayy! Naru saaayang – "
"Tapi ada syaratnya."
"Ehh? Syarat?"
Kushina mengangguk. "Kaa chan akan menghubungi keluarga Hyuuga untuk mengantar mu sampai ke stasiun bawah tanah. Bagaimana? Supaya kami tidak khawatir."
"Euumm, baiklah!"
Dan percakapan kecil itupun selesai dengan keputusan mereka bersama.
.
.
.
Suara sendok beradu dengan piring terdengar nyaring di ruang makan yang dapat di katakan cukup luas. Dua orang pemuda yang duduk berhadapan di meja berbentuk persegi panjang sesekali saling melemparkan tatapan yang tak semua orang pahami maksudnya. Kegiatan itu berlangsung cukup lama. Hampir setengah jam mereka melakukan hal itu meskipun piring makan sudah mereka sisihkan.
"Jadi, ada yang ingin kau katakan?"
Pemuda berambut panjang dengan guratan tanda lahir di wajahnya melontarkan pertanyaan sebagai awal dari percakapannya dengan pemuda berambut emo yang ada di hadapannya. Jentikan tangan kanannya menginterupsikan pelayan untuk segera membereskan meja makan. Pemuda yang berada di hadapannya tak langsung menjawab. Ia tengah sibuk mengamati para pelayan yang tengah membereskan meja makan dengan kepala tertunduk.
"Tolong buatkan secangkir kopi." Menatap pelayan yang ada di sampingnya pemuda berambut panjang tadi kembali memberikan perintah. Pelayan tersebut langsung mengangguk dan bergegas kembali ke dapur.
"Kau minum kopi?" pertanyaan basa basi di lontarkan kepada pemuda berambut panjang.
"Sesekali," jawabnya sambil tersenyum. "Tapi bukan itu yang ingin kau ucapkan pada ku. Ayo, katakan sesuatu."
Helaan nafas panjang terdengar. Pelayan yang membawa kopi tiba dan menaruh kopi tersebut dengan pelan di hadapan pemuda berambut panjang. gumaman kata terimakasih tak lupa ia lontarkan meski si pembawa kopi hanyalah seorang pelayan.
"Aku butuh bantuan mu," katanya singkat.
"Ah! Tentu saja." Si pemuda berambut panjang kembali tersenyum. Bukan senyum meremehkan tapi senyuman yang tulus. "Apa yang bisa ku lakukan untuk otouto ku tersayang ini, hm?" tanyanya sambil menyesap kopi dengan perlahan.
"Jangan memanggil ku seperti itu. Menjijikkan!"
"Tapi kau memang otouto ku, Sasuke."
Pemuda yang ada di hadapannya yang bernama Sasuke mendengus kesal. Ia paling tidak suka jika harus berbincang-bincang dengan kakaknya, tapi apa boleh buat? Saat ini ia butuh bantuan kakaknya yang memiliki koneksi dengan perusahaan-perusahaan besar di Konoha.
"Aku ingin kau memberikan bantuan keuangan kepada perusahaan milik Namikaze."
"Namikaze?" tanyanya memastikan. Sasuke mengangguk. "Bukankah kau yang membuat – "
"Aku tahu itu jadi diamlah!" potong Sasuke.
"Kau ini bagaimana? Tadi meminta bantuan ku sekarang malah menyuruh ku diam. Haah~ ~"
"Itachi, apa kau ingin ku bunuh dua kali?"
"Eh? Hahaha aku hanya becanda, Sasuke." Pemuda berambut panjang – Itachi – mengulum senyum. Ia senang menggoda otouto nya ini. "Apa sebenarnya yang kau inginkan dari Namikaze, Sasuke? Perusahaannya? Aku rasa tidak, kau sudah kaya tanpa harus memakan perusahaan lain. Balas dendam? Aku tak yakin kau punya dendam dengan keluarga Namikaze."
"Kau tidak perlu tahu, aku hanya ingin kau membantu keuangan Namikaze, itu saja."
"Aku bisa melakukannya jika mereka datang kepada ku. Aku tidak mau menjadi seorang yang dermawan yang mencoba untuk membantu mereka."
Sasuke mengangguk. "Kau tenang saja. Aku akan membuat mereka meminjam uang dari perusahaan mu. Kau tinggal melaksanakan tugas mu." Itachi terkekeh pelan dan sukses membuat Sasuke menautkan kedua alisnya. "Ada apa?"
"Bicara mu seperti kau atasan ku saja. Kau yang meminta bantuan ku seharusnya kau lebih merendah."
"Itu bukan ciri ku," balas Sasuke datar. Dan lagi sukses membuat Itachi terkekeh.
"Baiklah-baiklah, sekarang ceritakan padaku apa yang akan kau lakukan."
"Aku ingin – "
.
.
.
Suasana yang sebelumnya terasa hening sekarang mulai terdengar riuh setelah salah satu guru masuk ke kelas X-3 dan memberitahukan jika sekolah akan di pulangkan lebih awal karena ada rapat. Naruto yang duduk tepat di tengah ruangan mengedarkan pandangan ke seluruh kelas guna mencari seseorang dan matanya langsung terfokus pada gadis bersurai hitam kebiruan yang tengah memasukkan alat-alat tulisnya ke dalam tas.
"Hinataaa!" pekik Naruto sambil berjalan cepat ke arah gadis yang di panggil Hinata setelah selesai merapikan alat-alat tulisnya.
"Ada apa Naru?" tanya Hinata setelah Naruto sampai di depannya.
"Eum, ano...Naru boleh minta tolong?" tanya Naruto ragu.
"Tentu," jawab Hinata sambil tersenyum.
"Naru..." Naruto menggigit bibir bawahnya dengan ragu. "Naru..."
"Iya, Naru, ada apa? Kalau kau benar-benar butuh bantuan kau tinggal bilang saja, tidak perlu ragu."
"Ehhmm, etto, sebenarnya...tadi pagi Naru meminta izin pada kaa-chan dan tou-chan untuk pergi ke rumah Hinata..." Naruto terdiam. Ia bingung bagaimana cara menjelaskannya kepada Hinata supaya tidak berbelit-belit.
"Lalu?"
"Eum, Naru bilang kalau kita akan belajar bersama mengerjakan tugas." Naruto menatap Hinata dengan polos, menunggu reaksi temannya itu.
Dahi Hinata berkerut. "Tapi kita tidak punya tugas untuk hari ini ataupun..." Hinata berhenti berkata lalu mengobrak-abrik isi tasnya dan mengeluarkan selembar kertas. "Besok, Naru," sambungnya lagi setelah melihat tidak ada tugas dalam kertas catatannya.
"Naru tahu, Hinata, maksud Naru..." Naruto terdiam, lalu, "sebenarnya Naru berbohong pada kaa-chan dan tou-chan ketika bilang akan ke rumah Hinata untuk mengerjakan tugas." Naruto menunduk lesu. Tiba-tiba saja ia merasa menyesal telah berbohong kepada kedua orangtuanya apalagi ia juga melibatkan Hinata.
"Oh, Kami-sama! Kenapa berbohong?" pekik Hinata. Mata indahnya membulat seketika. Ia tidak percaya Naruto yang polos ini berani berbohong pada orangtuanya.
"Naru terpaksa," jawabnya dengan nada bersalah.
"Tapi kenapa? Dan mau kemana kau sebenarnya?"
"Karena kalau jujur Naru tidak akan di izinkan. Dan hanya itu satu-satunya jalan yang Naru fikirkan ketika akan izin dengan kaa-chan dan tou-chan."
Hinata mengerang pelan. "Dan mau kemana kau sebenarnya, Naru?"
Naruto tersenyum lebar. "Kantor Uchiha Corp."
"Nani?!" teriak Hinata yang langsung menarik perhatiian beberapa siswa lainnya.
Naruto dengan sigap menutup mulut Hinata dengan tangannya. "Psst, Hinata jangan keras-keras!"
Hinata mengeleng-gelengkan kepalanya lalu melepas tangan Naruto dari mulutnya. "Apa maksud mu dengan pergi ke kantor Uchiha Corp?" desis Hinata.
Entah kenapa Hinata yang diajak Naruto bicara sekarang seperti bukan Hinata yang seperti biasanya yang lemah lembut membuat Naruto enggan berkata yang sebenarnya.
"Naru hanya ingin mengembalikan jas salah satu pegawai yang ada disana."
"Siapa?"
Naruto mengangkat bahu tak acuh. "Naru tidak tahu."
"Lalu kenapa kau yakin sekali mau mengembalikan jas itu kalau kau tidak tau siapa orang itu?"
"Naru hanya ingin mengembalikannya, itu saja. Apa tidak boleh?" Naruto bertanya dengan mata berkaca-kaca, siap menumpahkan ai matanya.
"Na-naru!" Hinata mulai panik. Ia tidak berniat ingin membuat sahabatnya itu menangis. "Bo-boleh saja kau mengembalikan jas itu tapi kau kan tidak tau siapa namanya. Apa tidak apa-apa?"
"Hinata tenang saja, Naru hanya akan menitipkan jas ini pada resepsionis kok."
"O-oh," tanggap Hinata tak yakin. "Lalu apa yang bisa aku bantu?"
Seketika itu juga mata Naruto yang awalnya berkaca-kaca langsung berbinar bahagia. Ia memeluk sahabatnya dengan erat. "Hinata cukup bilang saja kalau Naru memang ada di rumah Hinata kalau-kalau kaa-chan menelfon ke rumah Hinata. Bilang juga pada kaa-chan kalau Naru akan di antar Neji-san ke stasiun saat pulang nanti. Bagaimana?"
"A-apa benar tidak apa-apa?"
"Benar, Hinata, idak apa-apa."
"Atau kita berangkat bersama saja?" tawar Hinata yang masih tak yakin dengan keputusan Naruto untuk pergi sendiri. Apalagi jika harus ke kantor Uchiha Corp.
"Tidak perlu, Hinata. Naru sudah tau kok alamatnya. Ini," katanya lagi sambil mengeluarkan sebuah kertas bertuliskan alamat kantor Uchiha Corp dari dalam sakunya.
"B-baiklah, Naru, kalau itu kemauan mu."
Naruto mengangguk dengan semangat lalu mengucapakan terimakasih dan berlalu begitu saja tanpa menghiraukan tatapan khawatir dari Hinata.
.
.
Tbc
a/n : saya gak nyangka kalau fict ini mendapat review yang begitu luar biasa bahkan diluar dugaan saya! karna jujur sedari awal saya buat fict ini cuma buat seneng-seneng aja sekaligus ngluarin imajinasi saya karna gak mungkin kan saya request k author buat buatin fict yang seperti saya inginkan. Tanpa saya bebanin request'an saya yang muluk-muluk aja para author udah kelimpungan nyelesaiin fict mereka, apalagi kalo saya request?! Saya gak mau membebani author yang udah berkarya lebih dulu daripada saya ^^
readers yang masih berkenan membaca saya ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya ^^ next chap udah setengah jadi, semoga bisa cepat d upload.
