.
I'm Not Four Years Old Anymore, Hyung!
.
Author : syubsyubchim
.
Cast :
Park Jimin X Min Yoongi
Slight!BTS
.
Rate : T
.
NOTE :
YAOI! BOYXBOY! TYPOs! Review Juseyo
.
.
.
"Geser ke kanan sedikit, Jimin."
"Tidak, sekarang terlalu kanan, sedikit ke kiri. Hanya sedikit, Jimin!"
"Ah! Stop, stop. Itu sudah pas."
Yoongi bertepuk tangan riang saat melihat jersey basketnya yang menggantung indah di tengah-tengah studio kerjanya. Tepatnya diatas monitor komputernya. Karena Chanyeol memperbolehkan dirinya mendekorasi studio kerjanya, maka hari ini Yoongi dan Jimin sibuk meletakan ini-itu keperluan Yoongi ke dalam studio kerjanya. Sebenarnya hanya Jimin yang sibuk memindahkan karena Yoongi hanya mengarahkan apa yang harus Jimin kerjakan. Tentu saja, mana tega seorang Park Jimin membiarkan Yoongi melakukan pekerjaan berat. Meskipun bagi Yoongi itu berlebihan.
Studio Yoongi sekarang tampak berkali lipat jauh lebih nyaman dan menarik dibandingkan dengan studionya pertama kali. Bukan berarti studionya tidak menarik sama sekali. Jangan tanyakan bagaimana kondisi studio Yoongi pada awalnya. Komputer dengan segala fitur terbarunya siap Yoongi gunakan. Chanyeol bahkan memberikan kulkas mini dan berbagai alat musik untuk Yoongi gunakan di studionya. Hanya saja dengan sedikit sentuhan khas Min Yoongi, Yoongi rasa dirinya akan jauh lebih nyaman bekerja di dalam studionya. Bahkan kalau harus mendekam selama beberapa hari. Yoongi berdecak kagum melihat kondisi studionya. Puas dengan hasil kerja Jimin yang rela membantunya dari pagi-pagi sekali.
"Ada lagi yang harus aku kerjakan, hyung?"
Jimin menepuk pelan celana training hitamnya sebelum mendongak kearah Yoongi. Mengamati senyum semanis gula yang terlukis di bibir sang kekasih. Sepertinya Jimin melakukan pekerjaannya dengan baik. Rasa bangga sedikit menyelinap ke dalam hati Jimin. Terlebih lagi saat kekasih gulanya memeluknya erat dan menggumamkan "Terima kasih, aku senang sekali. Ini benar-benar bagus, Jimin."
Jimin balas melingkarkan lengannya di sekeliling pinggang sempit Yoongi dan memberikan kecupan panjang di puncak kepalanya. "Tentu saja, apapun untukmu, hyung."
Jimin sedang menggoyangkan tubuh mungil Yoongi dalam pelukannya ke kanan dan ke kiri saat pintu studio Yoongi terbuka, menampakan sosok Chanyeol, lagi-lagi dengan setelan mahalnya berdiri di ambang pintu.
"Ah, sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat? Apakah aku menggangu?"
Yoongi dan Jimin buru-buru melepas pelukan mereka dan membungkuk canggun kearah Chanyeol. Oh, Yoongi malu sekali kedapatan bermesraan dengan kekasih bocahnya di hadapan CEO agensi mereka.
"Anda sama sekali tidak menggangu, sajangnim."
Chanyeol mengangguk-angguk singkat, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling studio Yoongi yang telah berubah. "Kau mendekorasi studiomu dengan baik, Yoongi . Kerja bagus."
Yoongi terkekeh kecil, mencoba menghilangkan kecanggungan yang ada, "Jimin banyak membantuku sejak pagi tadi."
Chanyeol mengalihkan atensinya pada sosok Jimin di samping Yoongi, "Ah, bukankah seharusnya kau sedang latihan dengan trainee-trainee yang lainnya, Jimin?"
Jimin yang merasa namanya dipanggil pun mendongak, "Jadwal latihanku masih sore nanti, sajangnim."
Chanyeol kembali mengangguk-angguk mengerti, "Ah, aku kesini untuk mengajakmu makan siang, Yoongi."
"Huh?"
Dua gumaman, pnuh penekanan bingung namun berbeda intonasi, "Makan siang?" Yoongi mencoba mengulang, memastikan tidak ada yang salah dengan pendengarannya. Dan yang Yoongi dapatkan hanya anggukan dari Chanyeol, "Ya, makan siang berdua. Kau tidak lupa dengan janjimu kemarin, bukan?"
Sontak Yoongi gelagapan, "A-Ah, itu.." memalingkan wajahnya ke arah Jimin yang menatapnya penuh tanda tanya. Padahal Yoongi sudah berjanji akan mentraktir Jimin makan siang hari ini di kedai daging domba yang mereka kunjungi waktu itu karena Jimin sudah membantunya hari ini. Respon yang Jimin berikan tentu saja pekikan semangat dan senyum yang tidak lepas dari wajahnya. Namun saat ini sepertinya Jimin harus mengubur perasaan senangnya dalam-dalam.
Satu senyum Jimin paksakan di bibirnya. Bagaimana juga Chanyeol adalah pemilik dari agensi tempat dirinya dan Yoongi bekerja, tentu saja Jimin harus menghormatinya. Lagi pula ini hanya makan siang antar rekan kerja, Park Jimin. Kenapa kau harus merasa cemburu seperti itu. Kau masih bisa makan siang berdua dengan Yoongi hyung lain kali. Dan bukankah kalian sudah terlalu sering makan siang berdua? Kedai daging domba tidak akan tutup hanya karena kalian tidak makan disana hari ini. Kau masih bisa makan dengan Yoongi hyung disana besok hari.
"Ah, sepertinya kita harus mengundur makan siang kita, hyung? Lagipula aku lupa ada janji dengan Taemin yang akan memperkenalkanku dengan yang lainnya. Nikmati makan siangmu, hyung. Saya permisi dulu, sajangnim," Jimin membungkuk pamit kearah Chanyeol dan berjalan meninggalkan studio Yoongi, masih dengan senyum palsu yang dipaksakan di bibirnya.
Yoongi ingin memanggil Jimin, namun sudut kecil di hatinya menolak. Yoongi benar-benar merasa bersalah melihat bagaimana senyum palsu yang Jimin tunjukan. Apakah Jimin benar-benar kecewa dengan Yoongi yang melupakan janji makan siangnya dengan Chanyeol dan menggagalkan makan siang mereka? Entahlah, Yoongi sendiri bingung. Seingatnya Jimin memang lebih muda darinya, tapi Jimin tidak akan berpikiran sedangkal itu.
"Jadi, Yoongi? Apa kau akan diam saja disini atau pergi makan siang bersamaku?"
Yoongi tersadar dari lamunannya saat Chanyeol berjalan mendekat. Bergumam maaf dan mengikuti langkah lebar Chanyeol yang sudah lebih dulu meninggalkan ruangan.
.
.
.
"Argh! Sial!" Jimin membanting kesal kaleng soda yang baru saja ia tegak habis isinya. Lalu menendang kaleng kosong itu sekuat tenaga. Mencoba menetralkan deru nafasnya yang terasa berkejar-kejaran. Satu nafas panjang Jimin keluarkan, lalu kembali mendudukan dirinya di lantai dingin atap gedung agensinya.
Omong kosong soal janjinya dengan Taemin yang akan memperkenalkannya dengan trainee-trainee lainnya. Nyatanya Taemin sedang menjalani latihan vokalnya saat ini. Dan Jimin memutuskan untuk menghabiskan waktunya dengan berdiam diri di atap gedung agensinya. Jimin sendiri bingung, kenapa dia memilih untuk berbohong pada Yoongi soal Taemin yang mengajaknya bertemu dengan teman-teman traineenya yang lain. Mungkin Jimin kesal dengan Yoongi yang melupakan janjinya dengan Chanyeol sehingga membatalkan janji makan siang mereka. Atau Jimin kesal dengan Yoongi yang mengatakan bahwa tidak ada hal penting yang terjadi antara dirinya dan Chanyeol kemarin.
Atau mungkin Yoongi berbohong padanya?
PLAK!
Satu tamparan Jimin berikan pada pipi kanannya. Demi Tuhan, bagaimana dirinya bisa berfikir seburuk itu terhadap Yoongi? Sial, Jimin benar-benar harus minta maaf pada Yoongi karena sudah berfikir yang tidak-tidak tentang dirinya. Meskipun Jimin tidak mengatakannya langsung di hadapan Yoongi, tapi tetap saja, berprasangka seburuk itu pada kekasih gulanya yang paling manis membuat Jimin merasa bahwa dirinya begitu bodoh dan butuh sedikit pukulan untuk kembali menjernihkan pikirannya.
"Ah, tenangkan dirimu, Park. Yoongi hyung hanya pergi dengan sajangnim karena Yoongi hyung menghormatinya. Jangan berprasanga buruk, bodoh!"
.
.
.
Yoongi kembali meremat sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya dengan canggung. Sudah lima belas menit ia habiskan berada satu mobil dengan Chanyeol dan hal itu membuat Yoongi semakin gugup. Belum lagi aroma mobil Chanyeol yang penuh dengan bau maskulin tubuhnya yang membuat kepala Yoongi sedikit pening. Hell, kalian pikir siapa yang bisa bertahan dengan feromon maskulin yang di tawarkan oleh tubuh Chanyeol?
"Jangan tegang begitu, Yoongi. Kau membuatku merasa seperti sedang menculik seorang bocah kecil."
Suara Chanyeol memecah keheningan, membuat Yoongi berdehem pelan mencoba mengatur posisi duduknya agar terlihat senyaman mungkin. Pasti dirinya sudah membuat Chanyeol merasa tidak enakan dengan sikapnya yang tegang beberapa saat lalu. Bagaimana pun juga Chanyeol adalah CEO di agensinya dan sudah sepantasnya Yoongi menghargai ajakan makan siangnya.
Sedangkan Chanyeol hanya mengulum senyum melihat tingkah laku Yoongi yang begitu menggemaskan. Chanyeol membelokkan setirnya kearah kiri, lalu memarkirkan mobilnya pada tempat parkir VIP di salah satu restoran bergaya Jepang. "Kita sudah sampai, Yoongi."
Yoongi melihat keluar jendela dan terkagum-kagum dengan eksterior yang disajikan oleh restoran bertema Jepang itu. Dan sejujurnya Yoongi tidak berani membayangkan harga yang harus ia bayar demi melahap satu porsi makan siang di dalam sana. Saat ini Yoongi hanya berharap uang dalam dompetnya cukup untuk setidaknya membayar satu porsi makan siang di restoran elite ini.
"Selamat datang, Tuan Park."
Manik Yoongi sukses membulat saat melihat bagaimana manajer restorannya sendirilah yang turun tangan menyambut kedatangan Chanyeol. Jangan tanya darimana Yoongi tahu jabatan orang itu. Tentu saja itu tercetak jelas pada name tag yang ia gunakan.
Satu senyum tampan Chanyeol berikan pada sang manajer restoran. "Apakah ruanganku sudah siap?"
Sang manajer mengangguk, "Tentu saja, kami sudah menyiapkan ruang yang anda pakai biasanya. Mari, silahkan," dan menunjukan gestur tangan agar Yoongi dan Chanyeol mengikuti langkah mereka.
Mulut kecil Yoongi tak kunjung tertutup saat melihat bagaimana interior di dalam restoran itu. Segalanya didesign dengan sangat elegan dan kelihatan mahal. Decakan kagum tak kunjung berhenti keluar dari bibir Yoongi.
Mereka berhenti di sebuah pintu geser yang terbuat dari kayu mahal. Ah, sepertinya Chanyeol sengaja memesan sebuah ruang pribadi, "Silahkan masuk, Tuan Park."
Chanyeol memberikan satu senyum singkat sebelum mempersilahkan sang manajer undur diri. "Duduklah, Yoongi." Chanyeol terlihat sudah mendudukan dirinya dengan nyaman. Meninggalkan Yoongi yang masih mengagumi interior ruang pribadi itu.
Tak lama setelah Yoongi mendudukan dirinya, seseorang dengan seragam chef masuk ke dalam ruangan, "Ah, kau membawa seseorang, eoh?". Dari bagaimana cara sang koki menyapa Chanyeol, sepertinya mereka cukup dekat.
"Yeah, seperti yang kau lihat, Kris. Dia produser baru di agensiku."
Kris terlihat mengangguk beberapa saat, "Baiklah, lalu apa yang ingin kau santap siang ini?"
"Bawakan aku menu biasa. Ah, Yoongi, apa yang kau inginkan?"
"Eh?" Yoongi yang sedari tadi hanya diam mencoba berfikir, "Apa saja, sajangnim."
Chanyeol terlihat mengangguk sekilas, "Baiklah kalau begitu, samakan saja dengan menuku, Kris."
"Baiklah, lima belas menit," dan koki blasteran itu meninggalkan ruangan.
.
.
.
Setelah mereka menyelesaikan makan siang penuh kecanggungan itu, Chanyeol kembali mengantarkan Yoongi ke kantor. Sejujurnya Yoongi begitu menikmati makan siang mereka. Karena, astaga, sushi yang dibuat oleh koki blasteran itu sungguh lezat. Bahkan lebih lezat daripada daging domba kesukaan Yoongi. Dan jangan tanyakan berapa harga yang harus Yoongi bayar untuk satu porsinya. Chanyeol tidak membiarkan Yoongi membayar dan hanya menyerahkan black cardnya untuk digesek di mesin kasir.
Yoongi membuka pintu studionya dan menemukan ruangan itu dalam keadaan gelap. Dan disaat seperti ini Yoongi jadi bertanya, sedang apa kekasih bocahnya. Mungkin Jimin sedang berlatih dengan teman-temannya? Mengingat ini sudah jam makan siang dan Jimin bilang ia punya jadwal latihan dengan temannya yang lain.
Lagipula, Yoongi juga memiliki pekerjaannya sendiri. Tadi pagi salah satu produser lainnya datang datang ke studionya saat ia dan Jimin sedang asik memindahkan barang. Kalau tidak salah namanya Jung Hoseok. Lelaki berambut coklat madu yang begitu lembut dengan senyum secerah matahari yang akan menganggkat tulang pipinya saat bibir itu tertarik keatas. Kesan pertama Yoongi, Hoseok itu lelaki yang berisik dan terlihat merepotkan. Namun, Yoongi tidak akan berbohong soal bagaimana aura hangat memancar dari sosok yang mungkin akan menjadi teman kerjanya kelak.
Bicara soal Hoseok dan kedatangannya tadi pagi, Yoongi mendapat pekerjaan pertamanya. Salah satu soloist ternama di agensi Chanyeol akan segera melakukan comeback dengan lagu baru. Mengingat nama sang soloist yang sudah besar, tentu saja projek kali ini harus dirancang dengan sedemikian rupa agar sukses besar.
Sial, Yoongi mendadak tidak percaya dengan kemampuannya.
CKLEK~
Yoongi berbalik saat mendengar pintu ruangannya terbuka dan menampakan sosok yang baru saja masuk ke dalam pikirannya. Si Jung Hoseok, teman barunya. Atau boleh Yoongi sebut calon teman kerjanya.
"Halo, hyung!"
Lihat bagaimana pancaran semangat dan senyuman sehangat matahari yang terpancar dari wajahnya? Yoongi semakin ragu untuk bekerja sama dengan Hoseok yang memiliki kepribadiaan berbanding jauh dengan dirinya yang tertutup dan dingin itu.
"Halo, Hoseok."
Berbeda dengan Hoseok, Yoongi hanya membalas seadanya, tentu saja dengan nada bicaranya yang begitu datar pula. Namun sepertinya Hoseok mengerti. Terlihat dari bagaimana senyum di wajahnya tak juga luntur. Mengingat bagaimana Yoongi tidak terlalu aktif dalam memperkenalkan dirinya pagi tadi dan lebih banyak membiarkan seseorang yang terlihat seperti kekasihnya untuk meladeni Hoseok.
"Rapat kita dengan produser yang lain akan segera dimulai, ayo bersiap."
"Hm, baik." Yoongi hanya mengangguk dan mengikuti Hoseok yang berjalan meninggalkan ruangannya terlebih dahulu. Meskipun sebenarnya Yoongi benar-benar gugup dengan pekerjaan pertamanya. Oh, tenangkan dirimu, Yoongi.
.
.
.
Tidak banyak yang dibicarakan pada rapat pekerjaan pertama Yoongi. Hanya pengenalan diri singkat dan juga garis besar tentang konsep album dan lagu yang akan menjadi title track. Yoongi juga bertemu dengan beberapa anggota lainnya yang akan bekerja sama dengan para produser dalam pembuatan album kali ini. Yoongi sendiri ditempatkan bersama dengan Hoseok. Katanya sih agar Yoongi lebih nyaman karena mereka berdua berada dalam umur yang sama. Namun Yoongi sendiri ragu dengan pemilihan teman kerjanya.
Yoongi menutup pintu studionya lagi dan bersender dibalik pintunya. Satu helaan nafas Yoongi keluarkan, berharap melepas sedikit beban pikiran yang Yoongi sendiri tidak tahu apa dan membangkitkan semangat bekerjanya. Hoseok sudah membagi pekerjaan mereka, jadi Yoongi punya sesuatu untuk dikerjaakan saat ini.
Mengutak-atik komputer barunya merupakan salah satu ide bagus. Yoongi baru ingat dirinya belum menyentuk komputer di studionya sama sekali. Yoongi bahkan tidak tahu fitur apa saja yang terdapat di dalamnya. Lagipula, Yoongi punya beberapa ide bagus untuk pekerjaan pertamanya kali ini. Sepertinya tidak ada salahnya Yoongi mulai bekerja hari ini. Toh ini masih jam empat sore dan semangat Yoongi masih berapi-api.
Jadi Yoongi duduk di kursi kerjanya yang nyaman. Mengambil neck pillow yang dibelinya bersama Jimin kemarin dan mengalungkannya di lehernya. Sekarang, Yoongi siap dengan pekerjaanya.
Entah sudah berapa lama Yoongi bergelung dalam pikirannya dan mengutak-atik komputer barunya. Yang jelas, kini Yoongi bahkan tidak sadar seseorang masuk ke dalam studionya yang gelap gulita. Yoongi memang tidak menyalakan penerangan apapun di dalam studionya. Hanya sinar dari layar monitornya sajalah yang menerangi studio Yoongi.
Sosok yang masuk ke dalam studio Yoongi berdecak kesal melihat keadaan gelap yang entah mengapa sangat disukai sang namja gula namun begitu dibencinya. Ditekannya saklar lampu disamping pintu, membuat ruangan itu mendadak terang. Yoongi menyipitkan maniknya dan berbalik, hendak melemparkan sumpah-serapahnya pada siapapun yang dengan lancang berani merusak konsentrasi bermusiknya dan juga ketengannya di dalam kegelapan.
"YA-! Jimin?"
Namun saat Yoongi berbalik, dia malah menemukan kekasih bocahnya berdiri dengan kedua tangan yang terlipat di depan dadanya. "Kau tidak pergi latihan?" tanya Yoongi bingung.
Jimin yang melihat keadaan Yoongi semakin berdecak kesal. Sebenarnya keadaan kekasihnya sedang sangat manis. Dengan kacamata minus yang bertengger malas di hidung mungilnya dan juga poni yang menutupi dahi, bahkan hampir menusuk matanya. Tapi, untaian poni panjang itu yang membuat Jimin kesal. Bukankah Jimin sudah mengingatkan Yoongi untuk menjepit poninya keatas kalau sedang membutuhkan konsentrasi lebih dalam pekerjaannya?
"Aku sudah selesai latihan, hyung," Jimin berjalan menghampiri Yoongi. Dan berdecak kesal sekali lagi saat tiba di depan kekasihnya, "Lagipula apa yang sudah aku ingatkan soal poni panjangmu, huh?"
Dengan lembut, Jimin meraih jepit rambut Kumamon yang sengaja ia letakan di sebelah monitor Yoongi. Maksudnya agar terlihat oleh kekasih gulanya, namun tetap saja Yoongi melupakannya. Lalu menyampingkan poni Yoongi dan menjepitnya, memperlihatkan dahi sempit itu.
Jimin mengecup dahi Yoongi, "Jangan paksa aku untuk menggunting ponimu, hyung."
Yoongi menggembungkan pipinya lucu, "Maaf aku melupakannya. Tapi jangan seenaknya menggunting poniku!" dengan cepat Yoongi menutupi poninya. Bermaksud melindunginya dari Jimin yang tampak akan benar-benar mengguntingnya kalau saja Yoongi lupa menyingkirkan poninya dari pandangannya sekali lagi saat dirinya bekerja.
Jimin terkekeh kecil melihat tingkah kekasihnya yang begitu menggamaskan. "Tenang saja, selama kau menyingkirkan poni itu dari pandanganmu saat bekerja maka aku tidak akan mengguntingnya."
"Ah, ngomong-ngomong ini sudah pukul berapa?" Yoongi mencoba mencari ponselnya demi melihat jam. Padahal dirinya dapat melihat pukul berapa dengan mudah pada layar monitor komputernya di sudut kanan bawah.
"Ini sudah pukul sembilan malam, hyung," jawab Jimin dengan santai, lalu saat sadar Yoongi yang lupa waktu, wajah Jimin berubah khawatir. "Kau bekerja dari pukul berapa, hyung?" tanyanya penuh intimidasi.
Yoongi yang menyadari perubahan emosi Jimin mengeluarkan senyum paling menggemaskan miliknya sampai gusinya terlihat, "Entahlah, mungkin jam empat sore, Jimin. Aku tidak terlalu memperhatikan jam."
"Dan kau belum makan malam sama sekali?"
Yoongi menggeleng kecil, yang membuah Jimin menghela nafas panjang. "Ayo pulang sekarang. Kita harus mengisi perutmu dengan sesuatu," Jimin menarik tangan Yoongi untuk berdiri dan memedamkan komputernya.
"Eh, aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu, Jimin. Itu tinggal sedikit lagi. Jangan langsung dimatikan, aku harus menyimpannya dulu!" Yoongi memekik panik saat melihat layar monitornya sudah menampilkan tulisan Shut Down.
"JIMIN!" Manik Yoongi melotot marah kearah Jimin. Dirinya bersumpah akan menyalahkan dan mendiamkan Jimin kalau sampai kerja kerasnya belum tersimpan dan malah terhapus karena ulah tida sabaran Jimin.
"Ck, sejak kapan kau menjadi cerewet seperti ini, huh? Aku sudah menyimpan hasil kerjamu, hyung. Sekarang ayo pulang. Aku akan membelikan makanan apapun yang kau inginkan."
Senyum Yoongi sukses merekah lebar saat Jimin bilang ia akan membelikan apapun yang Yoongi mau, "Aku ingin daging panggang!" serunya penuh semangat dan menarik lengan Jimin menuju parkiran. "Ayo cepat, Jimin. Aku sudah lapar!"
Lihat siapa yang beberapa saat lalu berkata ingin kembali melanjutkan pekerjaannya, namun dengan mudah takluk hanya dengan iming-iming makanan. Jimin hanya geleng-geleng kepala maklum melihat Yoongi yang begitu semangat hanya karena daging panggang dan pasrah saat Yoongi menariknya menuju parkiran.
.
.
.
"Makan dengan perlahan, hyung."
Jimin membersihkan noda saus di sudut pinggir Yoongi, lalu kembali menopang wajahnya dengan kedua tangannya dan memperhatikan Yoongi yang menikmati dagingnya dengan begitu lahapnya. Satu senyum kembali Jimin lukiskan melihat sebelah pipi Yoongi yang menggembung penuh dengan daging yang sedang dikunyahnya.
Yoongi sempat menawari Jimin untuk makan bersamanya. Namun Jimin menolak tawaran Yoongi dengan alasan dirinya sudah makan sebelum datang ke studio Yoongi. Lagipula, Jimin harus menjaga bentuk tubuhnya. Lusa dirinya akan bertemu dengan pakar gizi dari agensinya yang akan memantau bentuk tubuh dan berat badannya. Jadi Jimin harus memberikan kesan yang baik pada pakar gizinya.
Dan Yoongi menanggapinya dengan ekspresi mau muntah dan mencebik, "Dasar sombong. Awas saja kalau kau diet berlebihan." Mungkin nadanya benar-benar menyebalkan, namun Jimin dibuat tersenyum karenanya. Yoongi terlihat begitu memperhatikannya dan tidak membiarkannya diet berlebihan.
"Tentu saja aku tidak akan diet berlebihan, hyung. Tapi jangan salahkan kalau tubuhku semakin seksi nantinya," alis Jimin dimainkan naik-turun dengan bibir yang tertarik sebelah saat mengatakannya. Bermaksud menggoda Yoongi yang berhasil membuat wajah pucat itu bersemu pekat. "Dasar mesum!" satu pukulan keras mendarat di kepala Jimin sebagai balasannya.
"Ngomong-ngomong, kau makan dengan siapa tadi, Jim?"
"Dengan trainee yang lainnya. Kekasih Hyukjae saem, Donghae saem yang melatih vokal para trainee mendadak mengajak makan bersama. Dan aku tidak bisa menolak karena mereka memaksaku ikut. Padahal aku ingin makan malam denganmu, hyung."
Yoongi mengangguk singkat. Dirinya tidak marah meskipun Jimin meninggalkannya dan makan malam bersama dengan trainee lain. Lagipula Jimin akan tetap kembali padanya, mengkhawatirkannnya yang belum melahap makan malam dan menemaninya makan malam seperti ini.
"Ah, tadi Namjoon hyung menghubungiku, katanya besok kita harus menemui bridal yang mengurus baju pernikahan mereka. Untuk foto pre-wedding."
Alis Yoongi berkerut kesal saat lagi-lagi Namjoon kembali memilih menghubungi Jimin untuk diberitahu sesuatu, bukan dirinya. Sungguh, yang selama ini menemani Namjoon melewati masa-masa sulit dari High school sampai masa kuliah kan Yoongi, kenapa Namjoon malah menghubungi Jimin untuk memberitahu hal yang menurut Yoongi penting ini.
Dengan kesal, Yoongi menusuk daging panggang di piringnya dengan sumpit. "Dasar monster satu itu, kenapa dia kembali menghubungimu. Memangnya sahabatnya itu siapa?"
Jimin tertawa saat melihat ekspresi cemburu Yoongi yang begitu menggemaskan. Tidak, Jimin sama sekali tidak cemburu dengan Yoongi yang terkesan sedikit posesif pada sahabat seperjuangannya itu. Jimin malah menemukan hal itu sangat menggemaskan karena Yoongi bisa menunjukan perasaannya dengan terbuka.
"Ponselmu mati, hyung. Namjoon hyung dan Seokjin hyung sudah menghubungimu berkali-kali sebelum menghubungiku," tangan Jimin terulur untuk mengusak surai Yoongi, "Makanya pastikan ponselmu dalam keadaan aktif kalau ingin sahabatmu itu menghubungimu, hyung."
Yoongi mencibir tanpa suara beberapa kali, lalu memasukan sepotong daging besar kedalam mulutnya. Tanpa sadar, bibirnya menyunggingkan senyum hangat. Ah, dirinya tidak sabar untuk fitting baju pernikahan Namjoon dan Seokjin besok. Meskipun ini bukan pernikahannya, namun pernikahan Namjoon dan Seokjin yang notabenenya merupakan sahabatnya sejak highschool tentu sangat penting. Lagipula mengingat Namjoon dan Seokjin yang akan bersatu dalam tali pernikahan resmi sebentar lagi membuat perasaan Yoongi hangat dan ikut bahagia.
.
.
.
TBC
.
.
.
INFIRES~
HALO READERS-NIM SEMUANYA! Syubsyubchim disini. Finally, I'm back! Maaf banget gabisa fast update sesuai yang di janjiin tahun lalu. Laptop aku rusak, gabisa dihidupin (nangis di pojokan). Ini aja aku ngetik di laptop hasil ngemis dari roommate aku. Kalo engga gabisa update. Dan, aku gabisa ngetik di hape karena gakuat XD Sumpah, ngetik di hape itu berasa lama, padahal yang diketik baru seupil, terus feelnya susah dapetnya. Jadi ya, aku sempet menghilang bulan lalu menggantungkan janji fast update tahun lalu.
Oleh karena itu, aku ga akan janji fast update atau apapun itu. Aku cuma bisa ngusahain buat update secepat yang aku bisa. Selain karena laptop, kehidupan kuliah jauh dari rumah dengan segudang kegiatan organisasi itu membunuh perlahan, percayalah. Dan ini, buat warga grup yang udah aku tagihin terus-terusan, terutama kak el yang aku tagihin dan modusin terus-terusan.
Btw, yang maksain buat fast update boleh modalin saya laptop dan ngerjain semua laporan keuangan dan pelaporan pajak saya. Hehehe.
Terus, HAPPY NEW YEAR 2017 setelah dua bulan dan HAPPY VALENTINE DAY, JOMBS! Tenang, meskipun Jombs, kita tetap satu kok, eheheheheee.
BTW, aku udah buat akun IG nih. Soalnya gamau kalah gaul dari warga grup yang punya akun IG buat FFn mereka. DIFOLLOW YA MAN' TEMANS. IG : syubsyubchim.
Terakhir, terima kasih untuk semua yang sudah bersedia membaca, memfollow, memfavorite bahkan sampai meriview fanfic yang sangat tidak jelas asal-usulnya ini. Maaf kalau mengecewakan.
SPECIAL THANKS TO :
07 : Kan cerita kalo ga ada konfik rasanya kaya sayuran tanpa garam (cielah) | butterhon : Ini sudah up! Maaf ngebuat kamu nunggu, hehehe. Iya kalo tsundere udah ngelangkah duluan emang suka bikin gemes. | XiayuweLiu | cupid : Aku seneng masih nemu nama kamu di kolom review Maaf lama update XD | helenaaaaafela : Aku ngitungin 'a'nya nama kamu pelan-pelan loh, takut salah XD | vtan368 | KittiToKitti | bangtaninmylove | ym : Bentar lagi mungkin si tsundere baper. Kkkk~ Jimin masi bocah, belum bisa nikahin anak orang. Lulus aja baru tahun lalu coba. | sosismayonaise : Oh my penname kamu XD Doain ya laptopnya balik jadi updatenya bisa cepetan. | rossadilla17 : Iya si Tae emng minbta digeplakin mulutnya. Kkkk~ Btw, mau bantu ngegeplakin mulut Kim Tae ga? | Park RinHyun-Uchiha : Belum kok, chapter ini Chanyeolnya belum ngebuat masalah (nyengir) | kono Ouji sama ga inai : Sumpah aku ga ngerti nama kamu sama sekali XD Ini efek tidur mulu pas pelajaran bahasa Jepang pas sekolah. | haneunseok | hamiroh langen | Shui Jing | Yxxxx1106 | Adekmphi : Aaaaa~Terharu banget kamu mau bacain fanfic aku tengah malem gitu. Kkkk~ Nooooo, gamungkin bisa misahin Namjin. Itu udh kaya misahin mama papa sendiri. | LiltteOoh | Jimiestry | SyugarMint | MinReri Kujyou | Mini Yoongi t'D | minyoonlovers | Guest : Wah perjalanan nunggu updatenya lama juga ya XD | Phylindan : Dan real life itu menyibukkan XD | taniaarmy19 : Wah, makasih banget loh udh mau baca dan review | ravoletta : Hayoloh, bisa tenang sampe chapter berapa. Yakin bisa tenang di chapter depan? (ditabok) | piandaruwahyuningtyas : Oh my, nama kamu XD Aku ga salah ketik kan ya btw? | ndahhprdd | Hozi Kwon : MY LOVE ! TERIMA KASIH LOH ITU QUOTE TINGI BADAN KAMU, FIX JIMIN KESINDIR SERATUS PERSEN XD Iya iya, lain kali aku tambahin aku juga mencintaimu, Park Jimin, begitu. Kalo perlu tar aku tambah gombalannya, khusus buat kamu, ehehee. | yoonminnie | Wonhee park |
.
Terima Kasih
.
Salam, INFIRES!
