.

I'm Not Four Years Old Anymore, Hyung!

.

Author : syubsyubchim

.

Cast :

Park Jimin X Min Yoongi

Slight!BTS

.

Rate : T

.

NOTE :

YAOI! BOYXBOY! TYPOs! Review Juseyo


.

.

.

Sekai lagi, Yoongi menguap. Namun kali ini tidak mau repot-repot untuk menutup mulutnya. Jimin yang sedang menyetir di sebelahnya hanya melirik sekilas, lalu mengusapkan tangannya pada helaian hitam Yoongi. "Kan sudah kubilang untuk tidak terjaga terlalu malam kemarin, hyung. Lihat, kau jadi mengantuk begini pagi ini."

Yoongi bergumam asal, entah apa yang digumamkannya, namun Jimin yakin Yoongi sedang melancarkan protes padanya. Tapi siapa yang peduli dengan protes seorang Min Yoongi kalau nyatanya si namja gula malah menyandarkan kepalanya pada tangan Jimin yang sedang mengusap helaian hitam miliknya, diam-diam meminta untuk dielus lebih banyak lagi.

Jimin terkekeh pelan, lalu menarik tubuh Yoongi mendekat untuk bersandar pada bahunya. Ini lebih baik daripada Jimin yang harus mengusap kepala Yoongi terus menerus dan menyetir dengan satu tangan. Jimin masih ingin hidup lebih lama dan menikahi Yoongi seperti Namjoon yang akan menikahi Seokjin.

"Bersandarlah sebentar kalau itu membuatmu nyaman, hyung. Tapi kumohon jangan tertidur, ya. Kita hampir sampai," Jimin mengingatkan.

Yoongi hanya mengangguk dan menyandarkan tubuhnya pada lengan Jimin yang masih menyetir. Yoongi bisa saja bersandar pada sandaran kursi atau pintu di sebelahnya kalau dia mau, namun kalau ada bahu Jimin yang lebih nyaman dan hangat, kenapa tidak? Ia menghabiskan waktunya untuk melanjutkan pekerjaannya yang tidak sempat selesai di studio agensi kemarin malam. Padahal Jimin sudah mengingatkannya bahwa mereka harus melakukan fitting untuk acara pernikahan Namjoon dan Seokjin pagi ini, tapi salahkan passion Yoongi pada musik hingga menghiraukan ucapan Jimin dan baru tidur pukul empat pagi tadi.

Sebenarnya, Yoongi dan Jimin sudah terlambat satu jam dari perjanjian mereka, namun sepertinya Seokjin begitu mengerti dengan sahabatnya yang satu ini sehingga Seokjin hanya terkekeh pelan saat Jimin mengabarinya soal keterlambatan mereka dan mengatakan mereka dapat mengundur waktu janji mereka dengan butik kenalan Namjoon.

"Hyung, kita sudah sampai, ayo bangun." Jimin menanamkan satu kecupan pada puncak kepala Yoongi sebelum membantu kekasih gulanya untuk turun dari mobil. Yoongi hanya bergumam malas dan mengikuti kemana Jimin menuntunnya untuk berjalan. Kedua manik sayu Yoongi bahkan terlihat masih setengah terpejam, enggan terbuka dan memunculkan warna karamel indahnya.

Namjoon yang sedang membaca sebuah majalah bisnis ditemani secangkir kopi dengan elegan adalah pemandangan pertama yang Jimin tangkap begitu dirinya dan Yoongi memasuki butik kenalan Namjoon. "Namjoon hyung," Jimin menyapa, mengalihkan atensi Namjoon dari majalah bisnis yang sedang dibacanya.

"Oh, Jimin, Yoongi hyung. Akhirnya kalian sampai juga," Namjoon berdiri, melepaskan diri dari aktivitas membacanya dan menghampiri Jimin. "Seokjin hyung sedang memilihkan Jungkook tuxedo yang akan dia kenakan nantiya. Sebaiknya Yoongi hyung menyusul saja."

Jimin hanya mengangguk mengiyakan dan mengikuti langkah Namjoon. Pandangannya mengedar pada interior butik yang telihat begitu berkelas dan mahal. Jimin sampai meringis membayangkan harga yang harus dibayarkan demi menyewa satu setel pakaian di butik ini. Namun sepertinya Namjoon tidak mempermasalahkan nominal yang harus dibayar.

Mereka tiba di suatu ruangan yang dipenuhi dengan cermin pada beberapa sisinya dan juga puluhan setel pakaian yang terlihat mahal dan berkelas. Taehyung duduk pada sebuah sofa bergaya klasik yang mengarah pada tirai lebar berwarna marun yang membentang dari sisi ruangan satu ke sisi ruangan yang lainnya.

"Oh, kalian sudah tiba, Jimin, Yoongi hyung," Taehyung bangkit dari duduknya dan memberikan sebuah pelukan pada Jimin, dilanjutkan dengan friendship gesture milik mereka. "Oh ya, sebaiknya Yoongi hyung segera masuk ke dalam sana dan menyusul Jungkook untuk mencoba setelannya," Taehyung menunjuk ke arah tirai marun di ruangan itu dengan dagunya.

Bertepatan dengan tirai marun di depan mereka yang terbuka, menampilkan Jungkook dengan wajah bersemu merah menggemaskan dengan setelan tuxedo miliknya. Yoongi yakin dirinya mendengar pekikan nafas gemas Taehyung saat mengalihkan pandangannya pada Jungkook. Bahkan Yoongi mendengar sendiri Jimin bergumam akan betapa manisnya Jungkook saat ini.

"Eotte, hyung?"

Senyum di bibir Taehyung terlihat semakin lebar saat Jungkook di sebrang sana menunjukan gigi kelincinya sambil tersenyum malu-malu. "Kau terlihat begitu manis, sayang. Sangat cantik."

Yoongi sendiri tidak mau menyangkal bahwa Jungkook terlihat begitu manis dan cantik dengan setelan tuxedonya, lihat warna merah muda dipadu dengan warna putih itu? Selera Seokjin memang tidak pernah buruk.

Tunggu dulu, merah muda?

Jangan katakan Yoongi juga harus mengenakan pakaian yang sama seperti Jungkook. Mengingat betapa Seokjin menggilai warna feminim itu membuat bola mata Yoongi membulat ngeri dan melemparkan tatapan tajam pada Seokjin yang masih tersenyum senang sampai tulang pipinya menonjol sambil merangkul Jungkook yang masih malu-malu.

"Tidak mau!"

Yoongi tiba-tiba berteriak, menarik atensi kelima orang di ruangan itu. "Ada apa, hyung?" Jiminlah yang pertama bertanya, sedikit panik melihat kekasihnya tiba-tiba berteriak.

Yoongi menggeleng beberapa kali, lalu menunjuk ke arah Jungkook yang masih dalam rangkulan Seokjin, "Aku tidak mau memakai tuxedo itu. Sekalipun untuk pernikahan Seokjin hyung. Tidak mau, Jiminie!"

Hening beberapa saat, sebelum ruangan itu dipenuhi dengan tawa gemas dari keempat orang lainnya, terkecuali Jimin. Ya tentu saja Jimin tidak mungkin tertawa atas penolakan Yoongi yang begitu menggemaskan, bisa-bisa Yoongi minta putus saat itu juga dengannya. Mau dibawa kemana empat belas tahun perjuangan Jimin mendapatkan hati Yoongi kalau diputuskan hanya karena hal sepele seperti ini? Namun tetap saja, kekasih mana yang tidak akan gemas saat kekasihnya bersikap imut seperti tadi. Bahkan Jimin yakin Yoongi sendiri tidak sadar dirinya tengah merengek saat ini.

"Tapi Seokjin hyung sudah memilihkan setelan tuxedomu, hyung. Dan ini adalah pesta pernikahan miliknya, jadi ikuti saja apa yang Seokjin hyung sudah pilihkan, oke?"

Jimin mencoba merayu Yoongi, mengusap kedua bahunya berharap dapat sedikt menenangkan kekasih gulanya. Namun yang Jimin dapatkan malah manik sayu Yoongi yang bergerak ke bawah, sejajar dengan bibirnya yang melengkung turun. "Tapi aku tidak suka warna merah muda, Jimin."

Sungguh, jika ini adalah salah satu bentuk siksaan, maka ini adalah siksaan termanis yang pernah Jimin rasakan. Jimin menggigit bibir bawahnya, terlalu gemas dengan sikap Yoongi yang mendadak begitu manis. Bagaimana bisa kekasih kaku berkepribadian tsundere miliknya ini malah merengek hanya karena tidak ingin memakia warna merah muda?

"Bagaimana kalau kau mencobanya dulu, hm? Lalu kalau memang tidak bagus kita akan meminta Seokjin hyung untuk memilihkanmu pakaian yang lain, oke?"

Bibir Yoongi masih mengerucut maju, namun merasa tidak ada cara yang lebih baik lagi, Yoongi memilih menganggukan kepalanya. Senyum Jimin merekah melihat Yoongi yang mengangguk patuh seperti anjing kecil, "Nah, ayo susul Jungkook dan Seokjin hyung ke dalam sana, biar Seokjin hyung dan noona yang lain membantumu mengenakan setelanmu."

Dengan langkah lemas yang terkesan terpaksa, Yoongi masuk ke dalam ruang ganti super besar di ruangan itu. Jungkook sendiri sudah keluar dari ruang ganti dan duduk dengan manis di samping Taehyung. Masih belum mengganti tuxedonya karena Taehyung memujinya manis berkali-kali.

"Hyung, apakah aku benar-benar harus menggunakan warna merah muda?"

Yoongi kembali merengek sambil membentangkan jas berwarna feminim itu di depa wajahnya. Alisnya mengerut tidak suka begitu visualisasi dirinya mengenakan jas itu masuk ke dalam benaknya.

"Tentu saja, Yoongi. Ini pernikahanku, dan aku ingin segalanya terlihat seperti yang aku inginkan," Seokjin menjawab dengan girang. "Sudah, cepat coba jas itu. Aku juga harus mencoba jasku."

Yoongi hanya bisa menghela nafas pasrah dan ikut mengganti pakaiannya pada salah satu bilik kecil dengan setelan tuxedo pink itu. Seorang stylish noona disana berniat membantu Yoongi, namun berakhir dengan tatapan tajam dari Yoongi.

"Aku bisa memakainya sendiri," ucapnya ketus, terlanjur kesal karena harus mengenakan pakaian berwarna terlalu cerah itu.

"Jangan terlalu ketus pada para staff, Yoongi-ah," Seokjin menggoda Yoong dari bilik sebelah.

"Diamlah, hyung!"

Dan setelahnya terdengar tawa khas Kim Seokjin yang terdengar begitu senang setelah berhasil menggoda mantan adik tingkatnya itu.

Setelah bertarung dengan hatinya sendiri, dengan ogah-ogahan Yoongi keluar dari bilik kecilnya. Melihat ketus kearah Seokjin dengan sorot mata penuh kekesalan. Bibirnya mengerucut lucu dan kedua tangan telipat di depan dada. 'Sudah, aku boleh berganti dengan pakaianku sekarang?"

Seokjin memekik gemas, terlalu keras sampai keempat pemuda lainnya yang menunggu di sisi lain tirai terlonjak kecil. "Kau begitu manis, Yoonigi-ya!" dan satu pelukan menabrak tubuh Yoongi.

"Y-Yah! Lepaskan aku, hyung!" Yoongi meronta sebal. Sebal karena pelukan erat Seokjin yang membuatnya sesak, sebal juga karena Seokjin yang mengatakan dirinya manis.

"Yoongi hyung, kau baik-baik saja di dalam sana?" suara Jiminlah yang pertama kali terdengar. Dirinya sedikit panik saat mendengar kekasihnya yang berteriak tidak tenang di dalam sana.

Lalu, tirai marun itu terbuka. Menampakan sosok Seokjin dengan setelan merah mudanya dan Yoongi di sebelahnya. Keadaan kekasih gulanya begitu menggemaskan, tuxedo berwarna feminim yang membalut tubuhnya, ditambah dengan bibir mengerucut lucu tanda dirinya sama sekali tidak menimkati ini semua membuat Jimin ingin menerkam Yoongi dan memeluknya seharian penuh.

"Hyung, kau manis sekali.." Jimin bergumam tanpa sadar.

Sedangkan Yoongi yang mendengar itu hanya mendengus kesal. "Sudah, aku mau ganti baju!" dan menghentakan kakinya masuk kembali ke dalam bilik kecil untuk mengganti baju.

"E-Eh, hyung tunggu sebentar!"

Jimin mengejar Yoongi, ikut masuk ke dalam blik sempit itu. Melihatnya, keempat pemuda lain di ruangan itu tertawa. Gemas melihat interaksi sepasang kekasih berbeda kepribadian itu.

"Jimin jangan sampai melakukan quickie di dalam sana, ya!" Taehyung berteriak menggoda, diikuti dengan tawa keras dirinya dan Namjoon. Sedangkan Jungkook dan Seokjin hanya menggeleng kecil melihat Taehyung yang begitu usil pada sahabat karibnya itu.

Di dalam, Jimin hanya berdecak kesal dengan godaan Taehyung. Yang benar saja melakukan quickie dengan Yoongi di dalam sini. Bisa-bisa masa depannya ditebas Yoongi dengan keji. Jimin buru-buru menggeleng, menyingkirkan visualisasi terburuk dalam benaknya. Memikirkannya saja membuat Jimin merinding takut.

"Untuk apa mengikutiku kesini, huh?"

Oh ya, Jimin masih ada satu makhluk manis yang harus diurusi daripada meladeni godaan kacangan Taehyung. Jimin tersenyum hangat, namun tentu saja hal itu tidak mempan pada Yoongi. Saat ini namja gula itu hanya ingin berganti baju dan pulang cepat.

"Tidak apa-apa, hyung. Hanya ingin melihat keadaanmu dan wajah manismu."

Yoongi boleh saja mengatakan dirinya tidak akan luluh dengan senyum hangat Jimin, namun kalau sudah ditambah dengan pujian –gombalan- tulus seperti itu, siapa juga yang tidak akan luluh?

"Keluarlah, Jimin. Aku mau berganti pakaian."

"Kenapaaa~?" Jimin terdengar merengek dalam tanyanya. "Aku masih ingin melihatmu dengan setelan manis itu, hyung."

"Karena aku tidak suka pakaian ini, Jimin. Dan aku tidak mau menggunakannya di pest- umhh-!"

Yoongi memberontak kesal saat Jimin dengan lancangnya menangkup kedua pipinya dan menekannya sehingga bibir Yoongi mengerucut maju membentuk pout lucu dan menghalanginya untuk berbicara.

"Weee-phooss, Thimin!(Lepas, Jimin!)"

"Ssshhh~ Hyung tidak boleh begitu, itu tidak baik, sayang. Ini pesta pernikahan Seokjin hyung. Bukankah lebih baik kalau kita mengikuti keinginannya, hum?"

Jimin belum melepaskan tangannya dari pipi Yoongi, membuat Yoongi masih melempar tatapan galaknya. Meskipun menurut Jimin tatapan itu tidak ada galak-galaknya sama sekali, malah semakin manis. Dasar aneh, memang Jimin saja yang jiwa maskokisnya berlebihan.

"Mengerti kan, sayang?" Jimin menggoyangkan wajah Yoongi ke kanan dan kiri, menghujaninya dengan kecupan-kecupan kecil. Membuat Yoongi mengerang kesal dan menganggukan kepalanya pasrah.

Jimin tersenyum senang saat melihat kekasihnya kembali patuh. Mengusap surai hitam Yoongi dan meninggalkan sebuah kecupan di keningnya. "Bergantila, aku tunggu di luar. Setelah itu kita makan daging kesukaanmu, oke?"

Yoongi ingin marah sebenarnya, namun mendengar Jimin mengimingi dirinya dengan daging kesukaannya membuat Yoongi berhasil memendam kekesalannya. "Baiklah, kita makan daging setelah ini!"

.

.

.

"Ada perlu apa memanggilku kesini, sajangnim?"

Yoongi langsung bertanya begitu dirinya duduk di depan meja kerja Chanyeol. Sedangkan atasan tampannya itu sedang serius mempelajari sebuah dokumen. Yoongi bukan bermaksud lancang, hanya saja dirinya memiliki rapat penting dengan Hoseok dan tim produser lainnya untuk project mereka kali ini. Dan Yoongi tidak ingin membuat mereka menunggu. Salahkan CEO tampannya karena seenak hati memanggil Yoongi ke ruangannya tiba-tiba.

"Apakah kau sibuk akhir pekan ini?"

Yoongi mengerutkan alisnya, mencoba berfikir sebentar. Sebenarnya dirinya tidak sibuk, namun Yoongi sudah berjanji untuk menemani Jimin berkeliling Myeongdong di akhir pekan. Hitung-hitung menghabiskan waktu setelah dirinya disibukkan project timnya kali ini. Jimin bilang dirinya butuh sepatu baru untuk latihan.

"A-Ah, sebenarnya aku memiliki janji akhir pekan ini."

"Kencan dengan kekasih bocahmu?"

Yoongi mendengus jengah saat mendengar Chanyeol masih saja memanggil Jimin 'kekasih bocah'nya. "Ya, aku ada janji dengan Jimin."

"Sayang sekali, Yoongi. Sepertinya kau harus membatalkan kencanmu kali ini."

Alis Yoongi berkerut bingung, "Kenapa?"

"Aku akan mengajak beberapa produser untuk pergi ke Amerika sebagai bentuk pelatihan mereka. Dan kau termasuk salah satunya, Yoongi. Penerbanganmu pukul dua siang, tiketnya akan aku berikan di bandara. Ah, kita pergi selama kurang lebih dua minggu. Jadi sekarang kau boleh pulang dan mulai berkemas."

"U-Uh?" Yoongi tergugu, kehilangan kata-kata untuk membalas Chanyeol. Bahkan Yoongi tidak yakin dirinya dapat sekedar mencerna apa yang baru saja Chanyeol katakan padanya. "Tapi aku masih memiliki rapat dengan tim produser untuk project kami selanjutnya. Dan-"

"Aku sudah memberitahu Hoseok tentang perjalananmu dan mengizinkanmu untuk absen pada rapat kali ini."

Sekali lagi, Yoongi menghela nafasnya, mencoba menetralkan emosinya pada atasannya yang begitu sesuka hati. "Maaf, sajangnim. Apapun yang terjadi, project kami kali ini adalah pekerjaan pertama saya dan saya tidak ingin main-main disini. Saya tetap akan mengikuti rapat dan datang tepat waktu di bandara akhir pekan. Apakah ada hal lain yang ingin anda sampaikan?"

Chanyeol terkekeh pelan saat menyadari produser barunya yang sedang kesal dan kembali menggunakan bahasa formal padanya. Terlalu manis, mungkin Chanyeol bisa diabetes. Namun hal itu juga yang membuat Chanyeol semakin tertarik dengannya.

"Tidak ada, Yoongi-sshi. Anda boleh meninggalkan ruangan saya sekarang juga," Chanyeol balas menggodanya dengan bahasa formal.

Yoongi yang tidak mau ambil pusing segera bangkit dari duduknya dan menunduk hormat ke arah Chanyeol, "Kalau begitu saya permisi," dan berjalan keluar ruangan itu.

Meninggalkan Chanyeol dengan seringai puas di wajah tampannnya.

.

.

.

Yoongi menghentakkan kakinya kesal sepanjang perjalanan menuju atap gedung agensinya. Rapatnya dengan tim produser sudah selesai dan ini saatnya makan siang. Tadi pagi, eomma Jimin sempat memasakan bekal untuk mereka berdua dan dirinya sudah berjanji untuk makan siang berdua dengan Jimin di atap agensi siang ini.

"Hyung~ Akhirnya kau datang juga," Jimin menyambutnya dengan ceria, seperti biasa.

Namun entah mengapa Yoongi sebal melihat Jimin yang begitu ceria. Dengan kasar Yoongi menarik Jimin untuk dipeluk dan membenamkan wajahnya pada dada Jimin. Mengumpat dengan lancar disana.

Jimin sendiri bingung dengan keadaan kekasihnya yang tiba-tiba memeluknya dan mengusel manja namun juga mengumpat di saat yang bersamaan. Jimin sih senang-senang saja, tapi mengingat betapa Yoongi anti dengan yang namanya manja-manja-pada-Jimin, Jimin kan bingung juga.

Meskipun begitu, Jimin tetap balas memeluk pinggang Yoongi dan mengusap rambut hitamnya, "Ada apa, hyungie sayang. Ada yang menggangu pikiranmu, hm?"

Yoongi mengangguk kecil, namun tidak kunjung menjawab. Jadi Jimin membawa tubuh mereka pada meja yang tersedia di atap dan mendudukan dirinya dan Yoongi disana. Masih dengan Yoongi yang memeluknya dan kelihatan tidak ingin melepas barang sedikit saja.

"Sudah mau menceritakannya?" Jimin masih sabar menunggu. Masih mengusap sayang rambut Yoongi juga.

"Aku kesal dengan sajangnim!" rengeknya begitu menggemaskan.

"Kenapa?"

"Dia mengajakku pergi ke Amerika di akhir pekan, katanya sih untuk pelatihan produser. Padahal kan aku sudah janji ingin menemani Jiminie berkeliling Myeongdong untuk mencari sepatu baru. Dia juga menyuruhku langsung pulang tadi, padahal kan aku masih ada janji dengan Hoseok hyung untuk membicarakan project lagu kami. Dia sih, sukanya memaksa begitu."

Bukannya mendukung atau menenangkan Yoongi, Jimin malah tertawa gemas dengan cara Yoongi mengadu padanya. Lihat bibir tipisnya yang bergerak maju di tiap kata yang Yoongi ucapkan?

Chup~

Satu kecupan Jimin berikan pada bibir Yoongi, menghasilkan pekikan protes dan satu pukulan pada puncak kepalanya, "YAH! Apa-apaan sih?! Kenapa main cium-cium segala?!"

Dan Jimin masih saja tertawa sambil mengusap bagian kepalanya yang sakit akibat pukulan Yoongi. "Habisnya, hyung menggemaskan sekali, sih. Aku kan jadi gemas sendiri."

Yoongi mendengus jengah dengan sikap Jimin, "Tapi kita jadi harus membatalkan kencan kita, Jimin."

Dan senyum Jimin semakin lebar saat mendengar Yoongi yang mengakui bahwa dirinya akan berkencan dengan Yoongi akhir pekan ini. Meskipun hal itu harus dibatalkan bagaimanapun juga karena Yoongi harus pergi ke Amerika dengan tim produsernya yang lain. Kekasihnya memang tsundere sekali.

"Sudah, sudah, kita masih bisa berkencan lain kali, hyung. Aku berjanji akan membawamu ke Everland saat kau kembali dari Amerika nanti, oke? Sebagai gantinya, kau harus membawakanku oleh-oleh yang keren."

Satu pukulan lagi mendarat di kepala Jimin, diikuti dengan ringisan Jimin. "Ish, kau bukannya berpesan untuk hati-hati kepadaku, malah meminta oleh-oleh yang keren. Tidak romantis sekali, sih!"

.

.

.

"Jimin cepatlah, nanti aku bisa ditinggal pesawat!"

Yoongi berteriak marah-marah di depan pintu rumahnya. Sudah siap untuk segera masuk ke dalam mobil dan melaju menuju bandara sebelum CEO tampannya menelepon marah-marah karena dirinya terlambat. Jimin sendiri masih di lantai dua, di dalam kamar Yoongi dan berurusan dengan koper besar berisikan seluruh perlengkapan Yoongi.

Awalnya Yoongi ingin membawa koper miliknya turun sendiri. Namun mana mungkin Jimin tega membiarkan kekasih kurusnya membawa koper yang bahkan kelihatan sama besar dengan tubuh Yoongi sendiri. Bisa-bisa kekasihnya mengeluh sendinya sakit setelahnya. Jadi Jimin berbaik hati membawakan koper Yoongi.

"Sebentar, sayang. Kau tahu barang bawaanmu banyak sekali, kan. Memangnya apa saja yang kau bawa di dalam sini, huh?"

"Semua perlengkapanku, Jimin. Sudahlah, cepat masukan ke dalam mobil. Aku tidak mau ketinggalan pesawat."

"Memangnya perlengkapan apa saja yang kau bawa, huh? Tidak bisa di beli saja disana, hyung?"

"Ck!" Yoongi berdecak kesal. "Kalau aku sudah mempunyainya untuk apa aku membelinya disana, Jimin. Itu namanya pemborosan. Uangnya kan bisa ditabung untuk masa depan."

Mendengar penjelasan Yoongi membuat Jimin melukiskan senyum penuh artinya, "Ugh, sudah memikirkan masa depan ya, hyung. Calon istri idaman sekali sih."

Yoongi mendelik saat mendengar godaan Jimin, dengan kesal dipukulnya kepala Jimin yang menghasilkan erangan kesakitan dari sang kekasih, "Dasar bocah menyebalkan, kenapa jadi berfikir kesana, sih? Sudahlah, aku tidak mau berdebat lagi denganmu. Aku tidak mau ketinggalan pesawat. Eomma, appa, aku pergi dulu."

Mendengar anak semata wayangnya sudah siap untuk berangkat, Ny. Min buru-buru keluar dari dapur, masih dengan celemeknya. "Sudah mau berangkat, hm? Jaga dirimu baik-baik disana, oke. Telepon eomma begitu sampai di Amerika. Jangan terlalu lelah bekerja juga. Ingatlah untuk istirahat sejenak dan jangan lupakan makanmu. Tidak ada Jimin atau eomma yang bisa mengingatkanmu lagi kali ini. Jangan-"

"Oke, oke, eomma. Aku akan pergi dan kembali dalam keadaan sehat," Yoongi buru-buru memotong nasihat sang eomma yang sepertinya tidak akan berakhir. Tentu saja Ny. Min begitu khawatir dengan Yoongi mengingat betapa buruk kebiasaan Yoongi yang suka mengenyampingkan jadwal makan dan istirahat saat sudah bercumbu dengan pekerjaan. Ditambah tidak ada Jimin yang akan senantiasa mengingatkan dan mengurus Yoongi layaknya babysitter membuat Ny. Min khawatir dengan kesehatan anak kesayangannya itu.

"Jaga dirimu baik-baik, sayang. Eomma mencintaimu," setelah berpelukan singkat, Ny. Min memberikan satu kecupan pada kening Yoongi sambil membingkai wajah sang anak.

Yoongi memberikan senyum menenangkan, meraih kedua tangan sang eomma untuk dikecup kemudian balas mengecup pipi sang eomma, "Aku juga mencintaimu, eomma. Aku pergi dulu."

"Kami pergi dulu, eommonim," Jimin ikut mengucapkan salam sebelum melajukan mobil menuju badara.

"Hati-hati menyetirnya, Jimin."

.

.

.

Yoongi mengerutkan keningnya bingung saat melihat tidak ada siapapun yang berada di sekitar Chanyeol selain dirinya sendiri. Bukankah Chanyeol bilang 'tim produser' akan melakukan perjalanan ke Amerika untuk pelatihan? Atau Yoongi melewatkan info yang penting?

"Oh, akhirnya kau sampai juga Yoongi," Chanyeol memberikan senyum lebarnya begitu melihat Yoongi yang datang dengan Jimin yang menarik koper super besarnya.

"Maaf aku sedikit terlambat, sajangnim. Tapi dimana yang lainnya?"

"Ah, tidak ada yang lainnya, Yoongi. Hari ini hanya kau dan aku yang akan pergi ke Amerika. Tim produser yang lain akan menyusul tiga hari lagi."

"Uh-huh?" Yoongi mengerjap bingung, begitu juga dengan Jimin di belakangnya. "Maksud sajangnim, kalian hanya akan pergi berdua ke Amerika?" terdengar nada tidak suka yang begitu kental dari Jimin. Dan tentu saja Chanyeol mengerti itu, nada penuh rasa posesif dan rasa cemburu.

"Ya, kira-kira begitu Jimin. Aku akan mengenalkan Yoongi pada beberapa teman produserku di Amerika dan mencoba mengembangkan bakat yang Yoongi miliki."

Jimin mencoba menetralkan emosinya, merasa dicurangi dengan Chanyeol yang jelas-jelas tertarik pada kekasihnya dan akan membawa kekasihnya pergi jauh ke belahan dunia yang lain hanya berdua. Jimin ulangi, berdua. Namun mengingat ini salah satu bentuk konsekuensi dari pekerjaan Yoongi, maka Jimin mencoba mengerti dan percaya pada Yoongi. Lagipula Jimin yakin kekasihnya tidak akan macam-macam disana.

"Baiklah, aku titip Yoongi hyung padamu, sajangnim," sedikit –sangat- tidak rela, namun Jimin kembali mencoba mengerti. Lalu menarik Yoongi ke dalam pelukannya, "Jaga dirimu baik-baik, hyung. Hubungi aku begitu kau tiba disana, hm? Telepon aku juga kalau terjadi apa-apa."

Yoongi sedikit memberontak saat Jimin memeluknya di depan Chanyeol, namun saat menyadari pelukan Jimin yang begitu erat, Yoongi tahu Jimin butuh memeluknya meskipun hanya sesaat. "Aku sudah dewasa, Jimin. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Kau juga berlatihlah yang benar. Aku ingin melihat sebuah perubahan begitu pulang ke Korea, oke? Kalau tidak, aku akan-"

Jimin terkekeh kecil saat merasa kekasihnya begitu manis. Menyemangati sambil mengancam, huh? "Kalau tidak kau akan apa, hm?"

Yoongi menggigit bibir bawahnya, mencoba berfikir, karena sebenarnya Yoongi tidak punya maksud untuk mengancam Jimin sedikitpun. Ia hanya bermaksud untuk mencairkan suasana yang menurutnya begitu dingin dan tegang.

Jimin menahan nafasnya melihat bibir bawah Yoongi yang digigit oleh pemiliknya. Rasanya ingin menggantikan tugas gigi kecil Yoongi dan menggigit bibir bawah Yoongi. Namun sayangnya Jimin masih tahu tempat. Dan tentu saja tidak di depan CEO menyebalkan seperti Park Chanyeol. Meskipun Chanyeol menyebalkan, namun Jimin masih menghargai dan menghormati Chanyeol sebagai CEO di agensinya.

"Jangan menggigit bibirmu seperti itu, hyung. Atau aku akan menggigitnya lebih keras untukmu," suara Jimin berat dan dalam.

"Eh?" Yoongi menggerjap bingung. Mendongak hanya untuk melihat kilatan di manik Jimin. Saat merasakan wajah Jimin yang mendekat, Yoongi refleks menutup kelopak matanya. Namun diluar dugaan, bibir tebal Jimin tidak mendarat di bibirnya, melainkan di keningnya. Kecupan Jimin hangat dan lama, membuat Yoongi begitu terbuai di dalamnya.

Saat Jimin menarik bibirnya, rasa tak rela muncul di dada Yoongi. Rasanya ingin menarik wajah kekasihnya dan mencium tepat di bibir tebalnya. "Jaga dirimu, hm. Aku akan sangat merindukanmu. Aku bahkan tidak yakin bisa melewati hari-hari tanpamu dengan baik."

Yoongi tertawa pelan saat mendengar gombalan Jimin. Dipukulnya dada Jimin main-main. "Dasar tukang gombal. Paling kau juga akan melupakanku begitu memulai latihan."

Jimin terkekeh pelan, sedikit mengiyakan tuduhan Yoongi karena dirinya bisa lupa waktu kalau sudah meliukan tubuhnya di depan cermin lebar ruang latihan. Sama halnya seperti Yoongi yang akan lupa waktu begitu bercumbu dengan nada-nada buatannya.

"Ekhem~" Chanyeol berdehem pelan, mencoba memisahkan sepasang kekasih yang sepertinya begitu keberatan untuk berpisah. "Sudah waktunya untuk kita check-in, Yoongi."

Dengan berat hati, baik Yoongi maupun Jimin melepaskan pelukan mereka. Jimin memberikan satu kecupan terakhir di pelipis Yoongi sebelum membiarkan Chanyeol menuntun Yoongi menuju loket check-in.

.

.

.

TBC

.

.

.

INFIRES~

Well, I'm back, maaf menunggu lama. Iya tau lama banget udah kaya berbulan-bulan. Bangtan comeback aja lebih cepat XD Maafkan syubsyub reader-nim sekalian. Soalnya syubsyub sempat kehilangan feel untuk nulis fanfic ini. Idenya udah ada, cuma setiap mau nulis, feelnya ilang gitu aja. Makanya kalo chapter ini agak ga dapet feelnya, mohon dimaafkan, ya.

Terakhir, terima kasih untuk semua yang sudah bersedia membaca, memfollow, memfavorite bahkan sampai mereview ini. Maaf kalau mengecewakan.

.

Terima Kasih

.

Salam, INFIRES!