Our Mission

Chapter 2

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Summary : Awalnya hanya ingin menjalankan misi yang diberikan kepada mereka, tapi Sakura dan Hinata malah bertemu dengan dua pemuda menyebalkan yang mengganggu. Membuat kesal sekaligus berdebar secara bersamaan.

Main pair : NaruSaku, SasuHina, slight NejiTen

WARN : Gaje, abal, typo, super OOC, judul gk nyambung, cerita yg semakin gk nyambung dan serentet kesalahan yang lainnya.

DON'T LIKE!! DON'T READ!!

HAPPY READING !!

Konoha High Academy, sebuah sekolah berasrama yang terelit dan termewah. Sekolah ini sangat lengkap dengan fasilitas nomor satu di Jepang, yang dibutuhkan untuk menuntut ilmu ,mulai dari ruang kelas yang nyaman, sarana olahraga ,laboraturium lengkap, ruang seni dan musik, perpustakaan raksasa, kegiatan ekstrakulikuler yang beragam dan terbina dengan sempurna sampai kantin yang menyediakan aneka hidangan yang tak bisa diragukan rasanya.

Tenaga pengajarnya juga merupakan lulusan-lulusan terbaik universitas luar negeri, prestasi akademis maupun non-akademis sudah banyak diraih sekolah ini.

Untuk masuk ke sana? Oh, tentu saja kau harus dari kalangan konglomerat, bangsawan atau manusia berotak Einstein.

Sekolah dan asrama yang sepi selama empat hari karena kegiatan darma wisata di Kyoto akhirnya mulai ramai kembali. Para siswa mulai memenuhi gedung sekolah. KHA beraktivitas seperti biasa.

"Hei, Sakura, kau sudah selesai?" seru Tenten dari depan pintu kamar, ia dan Hinata sudah siap dengan seragam mereka. Kemeja putih lengan pendek dengan vest hitam, dan rok lipit abu-abu, mungkin tambahan celana training pendek yang mereka pakai dibalik rok mereka.

"Yap! Aku sudah selesai, ayo..." Ucap Sakura yang tiba-tiba muncul, gadis pink itu lalu mengunci pintu kamar.

"Hah... akhirnya kita jadi siswa lagi..." gumam Hinata lemas, sambil berjalan menyusuri koridor asrama. Beruntung para siswa sudah berangkat semua, dan kamar mereka yang terletak di ujung -yang memang dikhususkan- membuat mereka tak perlu berjalan canggung.

"Memangnya kau pernah jadi siswa sebelum ini?" tanya Tenten, Hinata mengangkat bahunya sambil tersenyum jahil.

"Apa akademi KIA tidak cukup untuk menjadikan kita siswa?" Sakura mengambil alih, Hinata tertawa kecil mendengar pertanyaan Sakura.

"Ya, maksudku itu Tenten.." ucap Hinata, Tenten segera menoyor dua kepala pink dan indigo itu.

"Ck, kita di didik di KIA menjadi tentara bukan sebagai siswa, kalian ini..." balas Tenten saat dua sahabat disampingnya men-deathglare nya panas.

"Hei, memangnya siapa yang bilang, 'Kami memang tak bersekolah di SMA, tapi pendidikan yang diajarkan KIA jauh lebih baik, jadi tetap akan sama aja, Kakek!' saat rapat kemarin?" tanya Sakura sambil menirukan gaya Tenten berbicara, Tenten tampak memasang pose berpikir.

"Kapan aku mengatakannya?" tanyanya pura-pura lugu.

"Dasar..." umpat Hinata lalu meninju lengan Tenten, mereka tertawa lagi lalu melanjutkan perjalanan menuju sekolah sambil bercanda ria.

~Our Mission~

Menurut para siswi KHA, empat pemuda tampan yang saat ini sedang berjalan menuju kelas mereka adalah dewa yang diturunkan ke bumi. Dengan senang hati mereka akan meneriakkan nama pemuda-pemuda itu. Gadis-gadis itu yakin kalau terus menyebutkan nama-nama para pengeran, mereka akan senang dan akan memilih salah satu dari gadis-gadis itu.

Sebaliknya, empat pemuda yang dari tadi hanya diam ditengah kerumunan para gadis itu sebenarnya sangat muak mendengar teriakkan-teriakkan melengking yang akan merusak gendang telinga mereka kapan saja.

"KYAAAAAA... MEREKA TAMPAN...!!!!"

"NARUTO-KUN AISHITERU!!"

"SASUKE-KUN, MENIKAHLAH DENGANKU!!"

"NEJI-KUN, AKU PADAMU!!!"

"GAARA-KUN, I LOVE YOU!!!"

Dan, begitu seterusnya...

"Apa tak ada cara untuk membungkam mereka? Demi Tuhan, aku aka gila kalau seperti ini terus..." umpat Naruto ditengah teriakan-teriakan itu.

"Nikmati saja, Dobe... " Sasuke tetap memasang wajah stoic nya meski dalam hati ya ikut mengumpat juga.

'Shit! Perempuan-perempuan gila...'

"Aku setuju dengan Sasuke, nikmati saja..." Sahut Gaara yang sifatnya memang sebelas-dua belas dengan Sasuke. Dingin seperti bongkahan es.

"Aku juga..." Neji ikut menambahkan suaranya mendukung Sasuke. Naruto yang merasa percuma juga memperdulikan gadis-gadis itu akhirnya ikut bungkam, menikmati lengkingan khas fangirls yang setiap hari terdengar sambil menggerutu dalam hati.

Kerumunan itu mengiringi sampai Naruto cs duduk di kursi mereka di kelas XII-A, yang pasti akan mengelilingi mereka sampai bel masuk berbunyi.

~Our Mission~

Lima menit lagi bel masuk berbunyi, lingkungan sekolah yang tadinya penuh oleh murid-murid jadi sepi karena semua murid tersebut sudah masuk ke kelas masing-masing.

Sakura-Hinata-Tenten yang notabene siswa baru memilih berangkat lebih lambat untuk menghindari tatapan penasaran atau hal lain dari siswa-siswi di sana.

Gedung KHA sudah di depan mata, tiga gadis itu berhenti sebentar untuk mengamati bangunan raksasa yang mulai hari ini menjadi tempat mereka menuntut ilmu itu.

"Fuuh... Baiklah, misi kita dimulai hari ini..." gumam Tenten, Hinata dan Sakura mengangguk mantap.

"Ayo," ajak Sakura, gadis itu berjalan di depan diikuti Tenten kemudian Hinata.

Sring..

"Eh? Apa ini?" Hinata yang berjalan paling belakang tiba-tiba menghentikan langkahnya dan spontan mengangkat tangan kiri, menghalau seberkas cahaya menyilaukan yang aka p tiba-tiba dari rooftop gedung.

"Ada apa, Hinata?" tanya Tenten lalu menghampiri gadis itu, Sakura yang bingung akhirnya ikut mendatangi dua temannya itu.

"Ada apa?" tanyanya, Hinata menunjuk kearah rooftop, cahaya tadi sudah tidak ada, yang kini ada dipandangan tiga gadis itu adalah seorang siswi yang berdiri di dipagar rooftop tersebut.

"Mau apa dia di atas sana?" tanya Sakura, Hinata dan Tenten yang juga sama bingungnya hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan Sakura.

"HOTARUUU!!!" tiba-tiba seorang siswi berambut merah berteriak keras, mengalihakn perhatian tiga gadis tentara di sana.

Gadis dengan name tag Sara yang tersemat di dada kirinya itu menangis, bibirnya terus mengumamkan nama 'Hotaru' berkali-kali.

"Hei, kau... kau tak apa?" Tenten mencoba menyapa gadis itu, namun gadis tersebut hanya terus menggumam tanpa menjawab pertanyaan Tenten.

Tenten mengernyit lalu menatap Sakura dan Hinata yang juga sama bingungnya. Mereka bicara lewat tatapan mata, namun aktivitas itu terhenti karena tiba-tiba Sara menarik tangan Sakura dan mulai terisak hebat.

"A-aku mohon, tolong Hotaru, aku mohon," pintanya masih dengan menangis.

Seakan tersengat listrik, Sakura, Hinata, juga Tenten terperanjat. Sadar dengan situasi apa yang sedang mereka hadapi saat ini.

Siswi itu berniat bunuh diri.

"Oh shit!!" umpat Sakura pelan, dengan cepat ia melepas ransel dan melemparnya ke sembarang arah. Hinata mengikuti gadis itu melepas ranselnya.

Para murid yang tadinya sudah masuk kedalam gedung, kali ini berhamburan keluar karena mendengar teriakkan keras Sara.

"Kyaaaaa!!!" seluruh siswi terpekik ngeri melihat Hotaru yang sudah mengambil posisi di pinggir pagar rooftop, bersiap melompat.

"Tolong dia, aku mohon," pinta Sara lagi. Tenten tersenyum lalu memeluk Sara, menenangkan gadis itu.

"Kau tenang saja, teman-temanku akan menolongnya. Sekarang berhenti menangis ya," Tenten menepuk-nepuk punggung Sara pelan hingga gadis itu tenang.

Sakura segera mencari lintasan yang tepat untuk berlari, sementara Hinata berada di arah sebaliknya. Ia segera berjongkok dengan kaki kanan yang bertumpu pada tanah. Jarak mereka berdua sekitar delapan meter.

Namun melihat halaman yang penuh dengan siswa membuat Sakura dan Hinata menggeram jengkel. Bagaimana cara menolongnya kalau ramai begini?

"Hei, menyingkir sebentar," seru Sakura pada salah seorang siswi yang menghalangi jalannya. Namun berhasil diusir satu, siswa dan siswi di sana malah makin bertambah,

"Hei kalian. Tolong menyingkir sebentar," ujar Sakura lagi, ia mulai jengah. Bukannya menyingkir orang-orang di sana malah semakin bertambah, memenuhi lintasan larinya, Hinata bahkan sudah tidak terlihat lagi.

Dan yang membuat Sakura naik darah adalah siswa-siswi di sana hanya menoleh menatapnya aneh tanpa menghiraukan seruannya dan kembali berbalik, mengeluarkan ponsel masing-masing, merekam kejadian itu sambil menggumam berisik seperti lebah.

"Ini pasti jadi viral jika aku sebar luaskan,"

"Ini kejadian langka. Harus di abadikan,"

Dan lain-lain...

"MENYINGKIR KU BILANG!" teriakkan Sakura berhasil membungkam semua yang ada di sana. Aura yang di keluarkan Sakura sangat mengintimidasi, perlahan siswa-dan siswi yang menghalangi jalannya menyingkir. Menciptakan sebuah lintasan untuk gadis pink itu berlari.

"Shit!" umpatnya lagi seraya melepas sneakers nya lalu mengambil ancang-ancang untuk berlari. Iris Viridiannya menatap Hinata yang mengangguk. Tanda kalau gadis indigo itu sudah siap. Sakura mengangguk.

"KYAAA!!!" jaritan para siswi kembali terdengar, Sakura mendongak, tubuh Hotaru sudah terjun bebas ke bawah. Segera saja gadis pink itu berlari kea rah Hinata. Sementara Hinata menyatukan kedua tangannya.

Tepat di depan Hinata, Sakura menghentikan langkahnya. Kaki kiri gadis itu kemudian menapak diatas tangan Hinata dan kedua tangannya bertumpu pada bahu Hinata. Merasa sudah menemukan posisi yang tepat Hinata segera melempar Sakura ke atas.

Sakura segera menangkap tubuh Hotaru yang melayang dan memeluknya. Dua gadis itu mendarat mulus dengan berguling di halaman berumput Konoha High Academy.

Semua orang yang menyaksikan itu hanya aka terpana tak aka berkata-kata.

"Hei, kau. Sadarlah. Hei," ujar Sakura seraya menepuk-nepuk pelan pipi Hotaru yang tak sadarkan diri. Masih tak ada respon dari gadis berambut pirang itu.

"Hei, sadarlah," lagi, kali ini Sakura mengguncang bahu Hotaru, gadis pink itu meraih pergelangan tangan kiri Hotaru dan memeriksanya, masih ada denyut nadi di sana.

"Hotaru, sadarlah," isak Sara yang tiba-tiba sudah berada di samping Sakura, gadis itu ikut menepuk pelan pipi sahabatnya yang masih tetap tak sadarkan diri.

"Hotaru," panggilnya lagi.

Perlahan, kelopak mata Hotaru bergerak terbuka, sepasang iris jade terlihat, semua yang ada di sana langsung menghela napas lega. Gadis itu siuman.

"Syukurlah, syukurlah kau tak apa-apa," ucap Sara, Sakura tersenyum mendengar nada bicara Sara yang menyiratkan kelegaan luar biasa. Gadis pink itu menepuk pundak Sara pelan seraya berdiri.

"Kau tenang saja, dia tidak akan apa-apa. Tapi sebaiknya, kau segera membawanya ke UKS," Sara mengangguk seraya tersenyum pada Sakura, gadis merah itu meraih tangan kedua tangan Sakura dan mengucapkan terimakasih,

"Arigatou, " dan hanya dibalas anggukan.

Sara segera memanggil beberapa teman laki-lakinya untuk membantu membawa Hotaru ke UKS. Sebelum meninggalkan tempat, Sara berojigi lagi kearah Sakura. Hinata, dan Tenten.

"Woah, kau hebat," puji Hinata kemudian, gadis itu mengajak Sakura untuk beradu tinju, Sakura yang baru saja selesai memasang sepatu dan tasnya hanya terkekeh dan membalas,

"Tidak, kita semua hebat,"

"Huh! Mencoba merendah ya, Haruno. Biasanya saja, kalau berhasil melakukan sesuatu dan mendapat pujian, kau akan langsung membalas dengan berkata 'Oh, tentu saja. Haruno Sakura kan memang hebat' " sindir Tenten sambil menirukan cara Sakura berbicara, menuai tinjuan di lengannya yang dilayangkan Sakura.

"Sialan! Aku tidak seperti itu, Kungfu Panda!"

"Siapa yang kau sebut Kungfu Panda, Jidat?!"

"Oh, tentu saja kau, memangnya siapa lagi,"

Melihat dua sahabatnya mulai berdebat hal yang tidak jelas, Hinata langsung menghela napas panjang.

'Astaga, mereka mulai lagi...' batinnya miris.

Tanpa basa-basi lagi gadis berambut indigo itu segera menarik kerah seragam Sakura dan Tenten yang berdiri membelakanginya. Menyeret dua gadis itu untuk segera masuk ke dalam gedung KHA.

"Dasar Jid/Kung- UUAA!!!!"

"Kalian berisik,"

"Hinata! Aku tercekik! Oi!"

"Uhukk, Hina-ta, o-oi!!"

Meninggalkan kerumunan siswa yang menatap mereka tercengang bercampur takjub.

"Siapa mereka?"

~Our Mission~

Emerald dan Amethys tajam itu bergulir. Menatap berkeliling manusia-manusia yang duduk rapi di hadapan mereka.

"Baiklah, kalian berdua bisa memperkenalkan diri kalian," perintah Asuma-sensei, guru Fisika juga wali kelas XII-A pada Sakura dan Hinata yang berdiri di depan kelas dengan wajah stoic mereka.

"Haruno Sakura, yoroshiku,"

"Hyuuga Hinata, dozo yoroshiku,"

Angkuh. Dingin. Mempesona.

Mungkin tiga kata itulah yang berputar di kepala siswa-siswi di kelas itu. Dua kata pertama di dominasi oleh para gadis yang langsung memasang tampang menyeramkan. Menatap Sakura dan Hinata dengan tatapan : 'Menjauhlah-dari-pangeran-kami'

Mereka sedikit risih dengan kedatangan dua anak baru itu. Paras mereka yang cantik dan menawan, ditambah tubuh yang proporsional dengan tinggi sekitar 170 centi membuat gadis-gadis itu merasa tersaingi.

Tak sengaja iris Viridian Sakura bertemu dengan Azzure milik Naruto. Pemuda itu hanya memandang Sakura tanpa ekspresi sambil bertopang dagu sebelum kembali mengalihkan pandangan ke direksi lain . Di samping pemuda pirang itu, duduk Sasuke yang juga berkespresi sama.

Tepat di belakang Naruto duduk Gaara yang berdampingan dengan Neji. Sakura mendengus pelan, lalu tersenyum miring.

'Wah, ternyata ini kelasnya para penguasa. Pantas saja, gadis-gadis itu terlihat ingin memakan kami,' batinnya.

Asuma yang memang sudah tahu identitas asli Sakura dan Hinata tersenyum maklum.

"Baiklah, kalian bisa menempati tempat yang masih kosong," ujarnya, segera saja dua gadis itu berjalan menuju dua tempat kosong di barisan paling belakang yang kebetulan berdampingan.

Sakura spontan tersenyum, gadis itu menatap Hinata yang juga menampilkan ekspresi sama. Sayangnya Tenten tak bersama mereka. Gadis bercepol dua itu menjadi siswa di kelas XII-B.

"Oke, untuk pelajaran hari ini silahkan buka halaman 180," ujar Asuma seraya menuliskan judul bab yang akan mereka pelajari hari ini di papan tulis.

Dan dimulailah kehidupan SMA tiga tentara cantik itu.

~Our Mission~

Bel istirahat baru saja berbunyi, kafetaria yang memang terdapat di setiap tingkatan kelas penuh dengan siswa dan siswi yang ingin mengisi perut mereka dengan menu-menu lezat di sana.

"Umm, yang mana, ya? Kau mau makan apa, Hinata?" tanya Sakura yang berdiri tepat di belakang Hinata. Tangan gadis itu memegang pundak Hinata yang juga masih focus melihat jajaran makanan yang di sajikan prasmanan. Rautnya benar-benar serius memikirkan makanan apa yang cocok untuk mengganjal perut mereka.

Saat ini dua gadis itu sedang mengantre untuk mengambil makanan. Sebenarnya Tenten tadi juga ada bersama mereka, namun karena Kakashi datang untuk memberikan data dan informasi yang dibutuhkan untuk penyidikan, akhirnya gadis bercepol dua itu menyuruh Sakura dan Hinata antre duluan dan mengorbankan dirinya untuk pergi ke ruang Kepala Sekolah.

Hinata mendengus seraya tersenyum.

'Anak itu pasti ada maunya,' batinnya geli.

Setelah mengantre cukup lama akhirnya dua gadis itu memutuskan mengambil semangkuk nasi, dengan chiken katsu dan salad, juga miso soup dan rumput laut. Sekotak susu rasa coklat dan apel sebagai pencuci mulut. Tak lupa mereka juga mengambilkan menu yang sama untuk Tenten.

Membawa dua nampan apalagi dengan kondisi ramai begini, cukup membuat Sakura sedikit kesulitan. Belum lagi hampir seluruh meja di kafetaria itu penuh.

"Hinata, kau cari dulu tempat duduknya. Aku akan menunggu di sini," Hinata mengangguk, gadis itu segera meninggalkan counter makanan untuk mencari tempat duduk yang masih kosong.

Lima menit berlalu, akhirnya di tengah bisingnya keramaian, suara Hinata terdengar.

"Kochi yo, Sakura," serunya seraya melambai, Sakura tersenyum dan segera menghampiri sahabatnya itu.

"Hah, akhirnya bisa makan juga. Perutku sudah berbunyi dari tadi kau tahu," tutur Sakura dengan ekspresi kelaparan yang di lebih-lebihkan, Hinata terkekeh melihatnya.

Tempat duduk itu terletak di pojok belakang kafetaria, persis di samping jendela, sehingga pemandangan KHA yang ramai pun terlihat dengan jelas. Benar-benar tempat yang strategis.

"Apa aku terlambat?" tukas Tenten yang tiba-tiba saja datang, Sakura dan Hinata menoleh, mereka tersenyum.

"Tidak, kok. Ini, kami ambilkan untukmu juga," Hinata mendorong nampan milik Tenten yang langsung dibalas cengiran lebar.

"Aih, perhatian sekali kalian berdua ini, tahu saja kalau aku sedang kelaparan dan malas mengantre," ucapnya, menuai tinjuan dari Sakura dan Hinata. Tiga gadis itu akhirnya menyantap hidangan masing-masing.

"Oh ya, mana data yang Kakashi-senpai berikan?" tanya Sakura di sela kunyahannya. Tenten menjetikkan jarinya.

"Ah, ya! Ini dia, " gadis itu mengambil sebuah flashdisk warna merah dari dalam saku vest-nya. Sakura dan Hinata mengangguk kompak.

"Great. Malam ini kita pelajari informasi itu," ujar Sakura, gadis-gadis itu pun kembali menyantap makanan mereka.

Entah karena benar-benar kelaparan atau karena apa, tiga gadis itu tak menyadari bahwa bisik-bisik seluruh pengunjung kafetaria sudah terdengar dari mereka duduk di meja tersebut.

"Ck, mereka itu anak baru, ya? Memangnya mereka tidak tahu apa peraturan kefetaria ini?"

"Entahlah, mungkin saja mereka memang tidak tahu,"

"Aku kasihan pada mereka, setelah ini pasti banyak masalah yang akan menimpa mereka,"

"Biarkan saja! Gadis angkuh dan sombong seperti mereka untuk apa di kasihani?!"

"Benar. Tingkahnya saja yang sok tidak peduli, padahal niat mereka pasti sama. Ingin menarik perhatian para pangeran,"

Dan begitu seterusnya...

Tiba-tiba seorang gadis berambut merah kecoklatan yang duduk persis di meja yang bersebelahan dengan Sakura cs, bangkit berdiri. Dengan berkacak pinggang dan pose angkuh, gadis itu menghampiri Sakura dkk.

"Hei, kalian," panggilnya ketus. Seisi kafetaria langsung hening, tak ada yang mengeluarkan suara.

Merasa ada yang menginterupsi kegiatan mereka, Sakura, Hinata, juga Tenten menoleh.

"Kau memanggil kami?" tanya Tenten sambil menunjuk dirinya sendiri, sepasang iris biru gelap milik Amaru Senju, gadis yang menginterupsi tadi melebar, sikap tiga gadis itu terlalu santai.

Biasanya orang-orang yang berhadapan dengannya akan takut.

Siapa sih yang tak kenal Amaru Senju, dia putri tunggal dari salah satu keluarga yang berpengaruh besar dalam pembangunan dan majunya KHA, berani padanya berarti cari mati.

"Ya, kalian, bisakah kalian menyingkir? Tempat ini sudah ada pemiliknya," ketusnya lagi, Sakura cs saling memandang dengan kening mengernyit bingung, saling berbicara lewat tatapan mata.

"Maaf, nona, tapi saat kami lihat, tempat ini kosong. Tak ada orang yang menempatinya," ujar Hinata, Sakura mengangguk membenarkan.

"Dasar bodoh. Apa kalian tak tahu peraturan yang berlaku di kafetaria ini? Meja ini dan meja itu..." Amaru menunjuk mejanya,

"... sudah di klaim sebagai tempat 'kami' . Kelompok golongan atas. Kalian yang hanya siswa beasiswa tak pantas dan sama sekali tak berhak duduk di sini!!" serunya, semua yang mendengar itu menyeringai, memandang meremehkan pada Sakura cs.

Sakura memandang Amaru sebentar sebelum mengalihkan pandangan pada meja di sebelahnya. Meja itu ditempati oleh lima orang gadis cantik termasuk Amaru.

Gadis-gadis di sana hanya melemparkan tatapan meremehkan sambil melambai pada Sakura. Wajah-wajah yang terlihat familiar.

'Sepertinya aku pernah melihat mereka, di mana ya?' batinnya mencoba mengingat.

"Sakura, mereka itu kan yang ada di foto itu. Kau ingat? Foto yang ditunjukkan kakek saat rapat kemarin," bisik Hinata, Sakura spontan mengangguk.

'Ah, gadis konglomerat itu, ya? Siapa namanya? Amaru Senju? Ya, Amaru Senju,'

Menarik napas sebentar, gadis pink itu kembali berbicara,

"Maaf sekali lagi, nona Senju. Tapi kami tak pernah dengar peraturan bahwa tempat duduk kafetaria sekolah ini di dasarkan pada kasta dan golongan, semua berhak duduk di sini, kan?"

Amaru melotot semakin lebar, baru saja ia hendak melontarkan kalimat balasan, Tenten sudah mendahului,

"Kal-"

"Dan dalam buku Tata Tertib Konoha High Academy yang kami dapat dari Tsunade-sama kemarin, tak ada sama sekali peraturan seperti ini,"

"Kurang ajar! Cepat menyingkir, sialan! Sebelum ak-" seru Amaru kesal, namun suara baritone, tiba-tiba menghentikan kalimatnya.

"Hei, kalian. Cepat menyingkir,"

TBC

Yo minna-tachi, chapter terbaru Our Mission update! Waahh, sudah berapa abad ane terlantarkan fic ini??? Lama banget ya, tapi semoga kalian gak kecewa dengan chapter ini dan tetap setia nunggu dan ngikutin kelanjutannya, hohoho... #Nyengit

Kira-kira siapa cowok yg interupsi Amaru tadi, ya? Ada yg bisa nebak? Kalau betul ane doain dapat pahala deh... #Plakk

Dan untuk chara utama, kaya NaruSaku dan SasuHina, sekali lagi ane nyatakan, mreka bakal OOC, jadi yang gk suka mending gk usah baca, daripada ente nambah dosa dengan ngomel2 gk jelas depan HP. Kan panjang urusannya...

Mungkin itu aja seputar chapter ini. Arigato bgt yang bersedia mampir dan baca fic gaje ini ya, tolong tinggalkan jejak biar ane bisa doain ente semua cepat dapat jodoh, #Lha?

Dan yg udh review di chapter sebelumnya, ntar ane balas pke PM aja yak. Yang gk log ini sorry aja nih, gk dibalas di sini...

Mungkin itu aja,

sayonara~

Mind to RnR ??