Our Mission
Chapter 3
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T
Summary : Awalnya mereka hanya menjalankan misi yang diberikan, tapi Sakura dan Hinata malah bertemu dengan dua pemuda menyebalkan yang membuat kesal sekaligus berdebar secara bersamaan?
Main pair : NaruSaku and SasuHina
WARNING : Gaje, abal, typo, OOC, gak pinter bikin summary. Judul gak nyambung, cerita yang semakin gak nyambung. Bahasa kasar Dan serentet kesalahan lainnya.
DON'T LIKE !! DON'T READ !!
.
.
.
.
Sakura, Hinata, dan Tenten menoleh, mencari tahu siapa pemilik suara bernada cemas itu.
Namun yang terlihat di pandangan gadis-gadis itu adalah empat pemuda yang tadi pagi ditemui Sakura dan Hinata di kelas XII-A, empat pemuda yang di sebut-sebut sebagai pangeran sekolah.
Namikaze dan teman-temannya.
Di belakang empat pangeran yang berdiri berjajar, terlihat pemuda berambut bob dengan alis tebal yang memasang wajah khawatir, tangannya mengibas-ngibas, memberi tanda kepada Sakura cs untuk segera pergi dari meja itu.
Ternyata pemuda itulah yang memotong kalimat Amaru tadi.
'Oh, jadi mereka owner nya?' batin Sakura lalu mengangguk sambil tersenyum kearah Lee, pemuda berambut bob itu. 'Tidak-apa-apa' mungkin itulah makna senyum yang di berikan Sakura.
Sejenak hening menyeruak, namun tiga gadis itu hanya mengangkat bahu masing-masing dan melanjutkan acara makan siang yang tadi sempat tertunda.
Melihat tingkah kelewat cuek yang di berikan tiga gadis itu membuat seluruh penghuni kafetaria menahan napas masing-masing. Bahkan Lee memegangi kedua kepalanya, frustrasi dengan kelakuan gadis-gadis itu.
'MEREKA CARI MATI!!!'
Batin siswa-siswi itu kompak.
"Menyingkir, bodoh!! Kau tidak lihat, Naruto-kun dan teman-temannya sudah datang?" pekik Amaru lagi. Sakura dkk tetap bergeming.
"Mereka ingin makan siang. Jadi sebaiknya kalian cepat menyingkir, gadis-gadis sialan!!" kali ini, Kurashima Shion, sahabat Amaru yang berteriak kesal.
"Cepatlah menyingkir!"
"Pergi dari situ, bodoh!'
"Cepat enyah dari meja itu!"
Saling sahut-menyahut, suara-suara yang tadi hening karena kedatangan empat pangeran itu, kini berbunyi lagi, menyuruh Sakura, Hinata, dan Tenten untuk segera menyingkir.
"Apa kalian tak dengar apa mereka katakan?" kali ini Sakura menoleh, menatap Namikaze Naruto. Suara ramai yang tadi sempat berbunyi kembali hening begitu pangeran berambut pirang itu berbicara.
"Maaf?" tanya Sakura, Naruto mendengus sambil tersenyum miring.
"Dengar Nona Aneh, kau dan teman-temanmu itu sudah menimbulkan keributan di sini, kami tidak akan bisa makan siang dengan tenang kalau kalian tetap tidak mau pergi," lanjut pemuda pirang itu seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
"Apa hak kalian mengusir kami, hah? Ini tempat umum, semua berhak duduk di sini," balas Hinata.
"Katakan itu pada mereka," timpal Sasuke, pemuda itu menatap Hinata remeh, membuat gadis itu geram.
"Dan Hinata, kau dan teman-temanmu itu bisa pergi sekarang, atau mau tetap berada di situ dan menerima lemparan makanan dengan senang hati?" ujar Neji ikut memanasi, Hinata tersentak. Baru menyadari kehadiran kakak sepupunya yang juga ternyata pangeran sekolah dan sekelas dengannya.
'Kenapa saat di kelas tadi aku tak menyadarinya?' batin Hinata.
"Neji nii-san.." gumamnya datar, melayangkan tatapan dingin pada anak dari pamannya itu. Neji tersenyum.
"Hai Imoutou," sapaan yang dilayangkan Neji pada Hinata menuai banyak bisik-bisik penasaran. Mereka langsung ribut berdiskusi dengan topic, hubungan antara salah satu pengeran mereka dengan anak baru berambut indIgo itu.
"Hinata? Oh, jadi kau sepupu Neji yang kabur dari rumah itu?" Sasuke kembali bersuara, bungsu Uchiha itu tertarik dengan gadis yang daritadi menatapnya dengan sorot mata dingin dan menantang tersebut.
"Tutup mulutmu, Uchiha," desis Hinata jengkel, gadis itu benar-benar tidak suka dengan orang yang berani mengungkit masa lalunya.
"Kabur dari rumah? Astaga, gadis macam apa dia itu?"
"Benar-benar bodoh,"
Bisik-bisik terdengar lagi, membuat suasana di kafetaria itu makin memanas.
"Shit!' umpat Tenten pelan, wajah empat pemuda sialan itu membuat selera makannya hilang, menguap tak berbekas.
"Dengar Pinky. Kalau kalian tidak pergi sekarang juga, kami tidak akan menjamin hidup kalian akan aman setelah ini," tukas Naruto.
Segera saja tiga gadis itu berdiri dari tempat masing-masing sambil membawa nampan mereka. Meninggalkan meja itu sebelum masalah bertambah banyak.
"Konyol," ejek Gaara saat gadis-gadis itu melewati mereka.
"Huuuuuuu…' sorak sorai seluruh penghuni kafetaria mengiri Sakura, Hinata, dan Tenten yang keluar dengan wajah masam.
'Sialan!'
~ Our Mission ~
"Kurang ajar! Aku kira Amaru Senju itu anak yang manis, ternyata…" rutuk Sakura seraya menghempaskan tubuhnya ke kursi di kelas mereka. Hinata mengikuti gadis itu duduk di kursinya sementara Tenten duduk di meja di depan Hinata.
"Ternyata dia seorang bad girl. Tau begini lebih baik aku tolak saja tugas ini, dan menyuruh Shikamaru juga Utakata menggantikannya," keluh Tenten, baru pertama mereka masuk, mereka sudah dapat masalah yang di sebabkan oleh gadis bernama Amaru Senju itu.
"Namikaze dan kawan-kawannya itu juga benar-benar menyebalkan, " lanjutnya bersungut ria. Tak sengaja Hazelnya menangkap Hinata yang melamun, segera saja ia jentikkan jarinya di depan wajah Hinata, mencoba menyadarkan gadis indigo itu.
"Oi, oi, kau tidak apa-apa?"
Hinata menggeleng lalu tersenyum.
"Aku baik-baik saja, hanya sedikit terkejut melihat Nii-san sialan itu ternyata bersekolah di sini. Ku pikir ia melanjutkan sekolahnya di luar negeri," sahut Hinata.
"Masih terbayang masa lalu ya?" tanya Sakura, Hinata menatap sahabat merah mudanya itu lalu menggeleng lagi.
"Tidak kok, kalian tenang saja," balasnya seraya tersenyum. Sakura dan Tenten bernapas lega.
Tok tok..
"Sumimasen, "
Tiga gadis itu menoleh. Terlihat Lee yang berdiri di ambang pintu sambil tersenyum kikuk, jari-jarinya bertaut. Tanda kalau pemuda itu benar-benar gugup.
"Ah, kau, ada apa? Oh ya, terimakasih atas yang tadi ya," ujar Tenten sambil menghampiri pemuda itu,
'Dia menghampirikuuuuuu, bagaimana ini?!!!' inner Lee mulai berteriak gaje.
"Boleh aku tahu namamu?" lanjutnya bertanya seraya mengulurkan tangan, Lee membalasnya dengan malu-malu.
"Na-namaku Rock Lee, panggil saja Lee, dari kelas XII-D,"
"Woah, nama belakangku juga Lee. Perkenalkan aku Lee Tenten, aku dari kelas XII-B. Salam kenal ya Lee," balas Tenten, Sakura dan Hinata ikut menghampiri dua manusia yang berdiri di depan pintu itu.
"Aku Hyuuga Hinata, dan ini Haruno Sakura. Kami dari kelas XII-A, salam kenal Lee," ujar Hinata sementara Sakura hanya mengangkat tangannya sambil tersenyum.
'Can- Cantiknyaa!!!' sesaat Lee terpaku menatap wajah-wajah cantik di sana, wajah yang benar-benar cantik dan pertama kalinya ia lihat. Tiba-tiba iris sebesar bola kelereng itu berbinar-binar, wajahnya di penuhi rona merah, tak salah lagi, pemuda itu pasti sedang memainkan fantasi kencannya dengan Sakura cs.
"Jadi ada apa kau ke sini?" tanya Tenten sejurus kemudian, namun Lee yang masih asyik dengan fantasinya hanya bergeming.
"Lee?" tegur Tenten lagi, Lee tetap diam, dan sekarang Sakura, Hinata dan Tenten bisa melihat sinar-sinar dari wajah anehnya.
"Wooa, dia seperti bongkahan emas," gumam Sakura pelan. Tenten mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah pemuda bob itu, kemudian mengguncang bahunya pelan.
"Hei, Lee?"
"Aa-ah, y-ya?" tergagap, Lee akhirnya sadar.
"Jadi ada apa kau ke sini?" tanya Tenten lagi.
"Ah itu, a-aku hanya ingin memperingatkan kalian mengenai empat pangeran itu. Kalian siswa baru, kan? Ha-hampir seluruh si-siswi di sini mengidolakan mereka. Ja-ja-jadi kalau ada yang macam-macam, fans mereka i-itu tak akan tinggal diam. To-tolong lebih hati-hati dalam bersikap,ya, " ucap Lee terbata-bata.
Tiga gadis di sana tersenyum lalu mengangguk.
"Kau tenang saja, kami akan lebih hati-hati dengan para pemuda itu. Terimakasih ya, Lee," ucap Tenten seraya menepuk pelan bahu pemuda itu, menuai rona samar yang muncul di wajah Lee.
KRIIIINGG…
"Su-sudah bel, a-aku kembali ke-ke-kelas dulu, jaa ne, Hyuuga-san, Haruno-san, Tenten-san," takut pingsan karena perlakuan yang diterimanya dari Tenten, Lee segera berlari sekencang-kencangnya menuju kelas nya sendiri, Sakura cs hanya menggeleng-geleng heran.
"Dia aneh,"
Sesaat setelah Lee keluar, Tenten pun ikut beranjak, satu per satu siswa kelas itu datang. Dimulailah kembali pelajaran ke tiga di hari itu.
~ Our Mission ~
"Kalian sudah terima datanya?" tanya Utakata dari seberang sana. Namun bukannya menjawab, Sakura malah asyik mengusak rambutnya dengan handuk. Gadis itu baru selesai mandi ternyata.
"Hei, jawab, Konyol. Kau dengar tidak?" teriak Shikamaru kali ini, kesal karena di abaikan. Dengan malas, Sakura menjawab sambil menatap layar laptop yang di letakkan di meja rias dengan pandangan memincing kesal, lebih tepatnya menatap wajah Shikamaru dan Utakata yang terpampang di layar laptop itu. Mereka sedang melakukan video call.
"Hmmm…" gumamnya tak jelas, Shikamaru hanya menarik napas panjang, lalu mengeluarkan kata keramatnya yang sudah melegenda itu,
"Mendokusai,"
"Dia sedang badmood, Shika, Uta, Jadi jangan kalian ganggu, nanti kalian bisa habis di jadikan dadar gulung olehnya," celetuk Hinata seraya bergabung bersama Sakura, duduk di kursi meja rias yang muat untuk dua orang.
"Sialan," mendengar celetukkan Hinata yang jelas-jelas menyindirnya, Sakura mengumpat sambil mengacak surai indigo gadis itu yang baru saja selesai di sisir.
"Ah! Rambutku!" pekiknya, Sakura terkekeh.
"Rasakan!! Ini !! Ambil ini!" Sakura terus melancarkan serangan, sementara Hinata sibuk menghindari tangan jahil Sakura. Mengakibatkan dua gadis itu akhirnya terjatuh dari kursi dan menimbulkan bunyi yang memilukan.
BUKK..
Membuat Shikamaru dan Utakata jadi ikut mengernyit nyeri.
"Astaga! Kalian ini kenapa?" Tenten yang baru saja keluar dari kamar mandi menghampiri dua sahabatnya itu. Namun aktivitasnya yang ingin menolong mereka terhenti saat melihat layar laptop.
"Oh, hai Shika, hai Utakata," sapanya riang langsung duduk di kursi tersebut, mengabaikan Sakura juga Hinata yang asyik beradu tinju di lantai.
"Rasakan ini! Rasakan!"
"Kau juga! Ambil ini! Hyeah!!"
"Yo Tenten. Bagaimana hari pertama mu di sana?" tanya Utakata. Tenten hanya tesenyum masam.
"Not good," balasnya, Shikamaru menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Kenapa?" tanyanya. Namun hanya dibalas Tenten dengan mengangkat bahu tanda malas menjawab.
"Ughh.. sakit Hina bodoh! Kau menendang bokongku," sungut Sakura sambil mengusap bokongnya seraya berdiri, rambut pinknya yang setengah basah jadi semakin acak-acakan.
"Kau juga menendang bokongku, Konyol! Sakit tahu!" sungut Hinata balik, keadaanya kurang lebih seperti Sakura. Rambutnya yang sudah di sisir rapi jadi berantakan lagi. Utakata tertawa geli sementara Shikamaru hanya menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum kecil
"Hei kalian, berhenti berdebat. Sekarang dengarkan kami, ada hal penting yang akan kami sampaikan," ujar Shikamaru. Mendengar kata 'penting' seketika tiga gadis itu langsung memasang ekspresi serius, wajah mereka di dekatkan ke layar, menunggu hal yang akan di sampaikan kakak-kakaknya itu.
Hening sesaat.
Namun penampilan ke tiga gadis itu yang hanya memakai piyama kebesaran bermotif boneka-boneka lucu dan rambut yang acak-acakan mau tidak mau akhirnya membuat Utakata dan Shikamaru tertawa keras.
"HUAHAHAHAHA, LIHAT DIRI KALIAN!!! AHAHAHA"
"SEPERTI ANAK HILANG!!! HAHA!!"
Seketika raut serius Sakura, Hinata, dan Tenten berubah menjadi raut dingin.
"Cepat beritahu, kalau tak ingin aku putuskan sambungannya," ujar Hinata malas, sudah kebal dengan kejahilan para Nii-san nya itu.
"Ah iya-iya, ahahaha,"
"Baiklah, jadi begini, kalian kenal siswi bernama Hotaru? Yoshida Hotaru? Menurut data ia salah satu korban Danzou dan bersekolah di KHA, well kelas XII-C?" tanya Utakata, sambil membuka sebuah map dokumen berwarna abu-abu.
"Hotaru?" Sakura mengernyit, irisnya menatap langit-langit kamar. Mencoba mengingat nama yang sedikit tak asing di telinganya.
"Sepertinya aku pernah mendengar," lanjutnya.
"AH! Aku ingat!! Hotaru….. Sakura, Tenten, bukankah itu nama gadis yang kita selamatkan pagi tadi? Celetuk Hinata seraya mengguncang bahu sahabat pink dan bercepol dua di samping kanan kirinya. Berusaha mengingatkan.
"Benar juga! Kenapa aku bisa lupa," sahut Sakura seraya memukul tangan kirinya tangan kepalan tangan kiri.
"Oi, Shika. Bisa kau kirimkan file-file informasi siswa yang diduga korban Danzou lewat e-mail?" tanya Tenten.
"Kalian bisa menemukannya di flashdisk yang diberikan Kakashi-niisan, semua salinannya lengkap," jawab Utakata seraya tersenyum.
"Bagus! Kalian berdua, malam ini kita pelajari data-data itu lalu menyusun strategi pergerakan. Siapkan banyak cemilan dan makanan manis. Aku tak yakin kita bisa tidur malam ini," seru Tenten menyeringai, Sakura dan Hinata hanya mengacungkan dua ibu jari mereka.
Utakata dan Shikamaru menggeleng heran.
"Kalian ini, saat rapat bersikeras menolak misi, tapi sekarang kalian terlihat antusias sekali. Dasar labil,"
"Ck, berhenti mengatai kami Shika. Kami memang masih tak terima kakek tua itu menunjuk kami untuk terjun ke misi sialan ini! Tapi mau bagaimana lagi, hanya kami yang bisa melakukannya," Sakura menjawab seraya tersenyum miring menatap layar laptop. Shikamaru hanya memutar iris onyx nya bosan.
"Sudahlah, kami harus segera mempelajari informasi itu, jaa na Shika, Uta,"
Sakura melambaikan tangannya kearah kamera sebelum akhirnya memutus sambungan.
"Hei, tungg-"
Membuat
Kaliamat yang akan dilontarkan Shika terpaksa harus ikut terputus juga.
"Haaah, baru hari pertama tapi rasanya sudah seperti ini, semoga saja aku masih bisa bertahan," keluh Sakura seraya merebahkan dirinya ke ranjang. Merenggangkan tubuhnya sampai terdengar suara derak tulang.
" Hei masih pukul empat, bagaimana kalau kita jalan-jalan? Sekalian membeli makanan untuk nanti malam di toserba sekolah?" usul Tenten. Hinata dan Sakura mengangguk setuju.
"Ide bagus, kalian duluan. Aku membersekan rambutku dulu, gara-gara Sadako satu ini, …" Sakura menoyor kepala Hinata.
"….. rambutku jadi semakin berantakan!!" lanjutnya.
"Kau juga yang mulai," balas Hinata seraya menyilangkantangannya di depan dada.
"Aku tak akan melakukannya kalau kau tidak mengata-ngataiku!" balas Sakura lagi, bersungut-sungut.
"Sudah-sudah jangan berdebat, kalian membuatku pusing,"
"Kau yang mul – hmpt !!!"
Melihat situasi yang mulai memanas, Tenten yang berdiri di antara Sakura dan Hinata segara mengambil tindakan. Gadis itu membekap mulut dua sahabatnya.
"Hmmpptt!! Lupuskun uku Tuntun, cuput lupuskun!!!" (Lepaskan aku Tenten, cepat lepaskan)
"Jangan berdebat lagi, oke?" Sakura dan Hinata mengangguk bersamaan, disusul Tenten yang melepaskan bekapannya pada dua orang itu.
"Oke, penampilan kalian berdua sama-ama berantakan. Mirip sekali dengan om-om yang sering berkeliaran di pinggir jalan itu. Jadi cepat berbenah diri dan aku tunggu di luar," Tenten segera menyabet coat nya yang tergantung dalam lemari lalu berlalu. Tak lupa seringaian jahil yang ia alamatkan pada dua gadis tersebut.
"Tenten sialan!!! Kita di samakan dengan orang sinting!!!"
Selesai berbenah diri, duo Sadako-Forehead itu pun menyusul Tenten yang menunggu di koridor. Mereka berjalan sembari mengobrol ringan.
Kling-kling
Ponsel flip Sakura berbunyi, sebuah pesan masuk, gadis itu kemudian merogoh saku coatnya lalu mengeluarkan sebuah ponsel abu-abu putih.
Nama Shika-nii terpampang dilayar itu.
'Jangan terlalu memaksakan diri Imoutou-tachi, jaga kesehatan kalian, mendokusai…'
Sakura tersentyum, mebalas pesan itu dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.
"Oi tunggu aku!!!"
"Cepatlah Forehead!!!"
~ Our Mission ~
"Haaahh, mereka itu hobi sekali membuat orang khawatir, mendokusai…" Shikamaru bersandar nyaman di kursi, tangannya bertengger di wajah menghalangi sinar lampu kamar tempat ia dan Utakata berada.
"Maklum sajalah, they are mission freak. Kita sudah bersama-sama dari masih kecil, aneh sekali kau masih heran dengan sifat aneh mereka itu," balas Utakata seraya mengambil botol air mineral dari atas meja dan menenggaknya.
"Entahalah…"
Drrttt… drrtttt….
Shikamaru melirik, smartphone bergetar, sebuah pesan masuk. Pemuda itu mearih ponselnya di meja.
"Pesan dari siapa?" tanya Utakata lalu meminum lagi air mineral botolan itu.
"Sakura," jawab Shikamaru. Membuka pesan dari adik pink nya itu lalu membacanya keras.
"Arigato Nii-san,"
BYUSSSHHHH…..
Utakata menyemburkan air yang ia minum, badan bagian belakang Shikamaru yang terkena imbasnya.
Pemuda nanas itu menoleh dengan tatapan tajam.
"Kau pikir aku kesurupan? Pakai kau sembur segala, Mayat Hidup Sialan!!"
"Kau memanggilku Nii-san?" tanya Utakata, Shikamaru mendengus kasar.
"Ini isi pesan Sakura, Bodoh! Kenapa aku yang kau sembur???!!!" sungut Shikamaru.
"Eh, dia bilang Nii-san?" menyadari sesuatu, Shikamaru menoleh lagi kearah ponselnya. Tak lama senyumnya mengembang.
'Dasar..'
BYUUSSHHH…..
"KENAPA KAU SEMBUR AKU LAGI, BODOH!!!??"
"KAU KESURUPAN APA SHIKAA-KUSO??? SENYUM-SENYUM SENDIRI!!!!!????"
TBC
Yoo minna, chapter 3 OM, is up… gak ada lagi yg bisa ane sampaikan karena banyak sekali dosa yang ane buat sama kalian. Terlalu banyak janji ya ane…. Kalau begitu mulai sekarang ane tegaskan kalau ff ini, dan AT bakal SLOW UP!! Gomennasaaiii……..
Mengenai chapter ini, gak banyak konflik dan action ya, chapter depan mungkin baru ada #spoiler semoga kalian masih betah nungguin yaaa…..#meringis
Ada yang nebak kalau si penginterupsi itu ternyata Rock Lee???? Gak ada??? NYAHAHA, berarti ane sukses memperdaya kalian… #jduakk (reader : banyak ngebacot lu bego!)
Oke-oke, mungkin itu aja pembahasannya, untuk UP AT, lagi dikerjain nih chapter nya… makasih yang masih mau baca yaa, tolong tinggalkan jejak agak author nista ini mendapatkan semangat lagi untuk menulis #hiks (halah, lebay)
Dadahhh… #KISSBYE
#HARU
