—Tersangka kedua : Aomine Daiki—
"Dasar bodoh! Beruntung dahimu masih selamat dari bidikan Akashi! Dan apa? Hampir saja Alex terlibat dalam kebodohanmu, dasar bodoh!"
"Sudah puas mengataiku, hah?! Coba buktikan kalau kau lebih lihai dariku, dasar dungu!"
"Sialan kau! Makanya jangan baper kalau menjalankan misi!"
"Sudah dong, Kagamicchi, Aominecchi! Kita harus membicarakan rencana selanjutnya, ssu!"
"Nee~ bagaimana kalau Mine-chin yang lanjut?"
"Kenapa aku?!"
"Soalnya kau sebelas-dua belas dengan Kagami, nanodayo. Pasukan berani mati harus dikorbankan awal-awal." pria bersurai hijau lumut itu menaikkan kacamata. "Aku dan Momoi ini adalah kartu truf-nya."
"Benar tuh, Dai-chan."
"Sialan kalian! Aku ini—"
"Yosh! Sudah fix ya~ misi selanjutnya—" gadis bersurai bubble gum itu mengibas-ngibaskan tangannya yang terulur, minta disambut cepat-cepat. "—pokoknya selamatkan kepolosan Kuroko Tetsuya-kun!"
Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
This story is purely mine.
Ungkapan jujur sang mantan cahaya membuat Kuroko galau tingkat dewa. Benarkah?
Kuroko masih menyeruput susu kocok vanillanya dengan tenang saat melintasi kerumunan manusia di halaman depan SMA Teikou. Sempat melirik sumber keributan, ternyata cuma poster mengenai kontes gadis gravure, toh. Dengar-dengar bintang tamunya Horikita Mai. Kuroko mengangkat bahu saat itu. Ia tidak mengerti sama sekali tentang perlombaan adu lekuk tubuh seperti itu, maksudnya—apa bagusnya, sih? Lebih bagus lomba minum vanilla milkshake sebanyak-banyaknya. Tentu ia akan ikutan dengan sukarela.
Ia mulai bergidik saat beberapa orang nampak ngiler parah ditempat—entah apa yang mereka pikirkan. Bahkan Kuroko bisa lihat beberapa orang mencakar-cakar tembok di samping poster, dan beberapa lainnya sibuk berdebat tentang calon pemenang sampai adu gontok. Ini sebenarnya ada apa, sih? Buru-buru ia menghabiskan minuman favoritnya dan berlari kecil menuju gerbang sekolah. Usahanya melarikan diri lancar-lancar saja, ia menghela napas lega mengingat selama ini ia digodai terus-terusan oleh para lelaki yang mengaku bersedia menjadi seme pengganti Akashi jika sedang jalan sendirian. Terimakasih pada poster kontes gravur, ia terabaikan.
"Tetsu-kun~~~!"
Belum sempat menoleh, ia hampir tersungkur karena terjangan seorang gadis berusia 17 tahun. Sumpah, Kuroko tak pernah terbiasa menahan serangannya. Mungkin ini yang dinamakan keluar dari mulut harimau malah masuk mulut buaya.
"Sesak, Momoi-san." ujarnya, datar.
"Habisnya Tetsu-kun menghindar terus kalau mau kupeluk!" sang gadis melepaskan rengkuhan, ber-pouting ria.
"Maaf, Momoi-san. Aku memang ada urusan."
"Un! Tak apa, kok. Yang penting sekarang sudah bisa memeluk Tetsu-kun lagi~~"
Momoi menoleh pada kerumunan insan nista di pojok mading saat memeluk lengan si pemuda kemudian mendongak. "Tetsu-kun lihat Dai-chan, tidak?"
Kuroko balas menatap. "Tidak. Aku belum melihatnya sejak pelajaran ketiga."
"Uh~! Pasti ketiduran di atap lagi! Dai-chan memang—"
"Dia mencuri sisa poster kontes gravurnya dari ruang OSIS! Tangkap dia!"
"Mustahil! Dengan kecepatan seperti itu—!"
"Sialan kau—"
"Itu Dai-chan! Tetsu-kun, ban—"
BRUKK
Seorang pria berkulit tan terdampar dengan indahnya di ambang pintu gerbang sekolah dengan latar belakang kertas berukuran A3 berseliweran di udara. Kuroko memandang datar, ia menarik juluran kakinya ke posisi semula.
"Mencuri itu bukan perilaku yang baik, Aomine-kun."
"Sialan, Tetsu!"
Segerombolan manusia nista segera menangkapi lembaran kertas berwarna pink terang itu dengan berbagai gaya, sementara Kuroko menawari bantuan pada Aomine dengan uluran tangan. Momoi ngakak. Barusan uluran kaki, sekarang uluran tangan. Kuroko bisa jadi pria sadis dengan hati yang begitu lembut, memang tidak salah ia mencintai pemuda itu mati-matian, pikirnya berbunga-bunga.
Aomine menyambutnya. Ia berdecak intens saat menepuk-nepuk seragamnya. Ugh, ia harus mencucinya lagi. Padahal kalau tidak ada noda ia masih terbiasa memakai seragamnya berminggu-minggu.
"Sekarang Mai-chan diambil lagi oleh mereka! Tetsu, maumu apa, sih?!"
"Aku cuma mau membantu Momoi-san, Aomine-kun."
"Tapi tidak seperti itu juga caranya, bodoh!" Aomine menoleh pada Momoi yang masih terengah karena tawanya. "Dan apa-apaan permintaanmu itu, Satsuki! Pergi sana!"
"Aku disini karena Tetsu-kun kok," Momoi memajukan bibir sambil menggamit lengan Kuroko. "Lagipula aku cuma mau mengingatkan misinya Dai-chan."
"Cih, jangan bawel. Aku belum ada ide."
"Lalu mau sampai kapan, eh?"
"Cerewet! Kau membuatku tak bisa berpikir! Lagian—"
"Anoo—misi apa?"
Aih, mereka hampir kelepasan.
"Etoo—" Momoi terkekeh garing. Nah, lho. Mau jawab apa?
"Aku mau mendaftarkan diri sebagai juri gravure girl." celetuk Aomine meringis, asal sekali. "Itu misiku."
"I-iya, Tetsu-kun! Makanya barusan Dai-chan mengambil posternya! Ehehe~" Momoi nimbrung, makin ngaco.
"Oh. Begitu ya."
Mereka sama-sama menghela napas. Ada untungnya Kuroko begitu polos, jadi dengan mudahnya bisa dibohongi sambil sedikit diselingi modus. Yah, sayang sekali lawan mereka adalah Akashi Seijuurou.
"Ngomong-ngomong, untuk apa Dai-chan mengambil poster-poster itu?"
Aomine menggeram setelah menepuk dahi keras-keras. Demi Tuhan, Satsuki! Barusan kau mengatakan alasannya sekarang kau malah bertanya! Ia melotot sambil membatin. Momoi menangkap dengan agak lambat.
"Eh, maksudku selain ingin jadi juri—kenapa posternya harus diambil juga?" akhirnya ia dapat pertanyaan yang tepat. Si empunya jawaban mendengus.
"Lihat saja disana ada Mai-chan, jelas aku menginginkannya. Daripada setelah acara posternya dibuang begitu saja lebih baik kalau kuselamatkan dari sekarang."
Entah harus sebal atau bangga dengan pernyataan Aomine yang diiringi sinar kemenangan disekelilingnya, Momoi merinding. Ia tidak pernah suka pada lelaki maniak—pengecualian untuk maniak vanilla milkshake.
"Memangnya kenapa Aomine-kun begitu menyukai Mai-san?"
Pertanyaan retoris, batin Momoi. Sungguh. Kuroko memang kelewat polos untuk tahu dan diberitahu. Namun sang mantan cahaya, Aomine Daiki, lebih kelewat polos untuk memberitahu. Atau mungkin—bodoh?
"Dadanya besar. Dia juga imut. Memang lelaki mana yang tidak suka gadis ekstra sepertinya?" Aomine menyahut, yakin jawabannya benar. Momoi sudah greget tingkat kecamatan. "Kau juga 'kan, Tetsu?"
Sial. Pertanyaan Aomine malah balik membuat Momoi ketar-ketir. Padahal kamu harus tahu kalau semua kriteria itu ada pada dirimu, Momoi.
"Maaf, Aomine-kun. Tidak denganku." baiklah, si gadis bisa bernapas lega sekarang.
"Hah, omong kosong." Aomine mendecih. "Si Akashi juga pasti doyan. Cek saja laptop atau ponselnya. Pasti ada saja foto gadis telanjang barang satu atau dua gambar."
Manik biru itu makin membulat. Serius? Akashi yang itu—menyimpan foto gadis seksi?
Haha, mana mungkin.
Aomine tersadar dengan ucapannya. Ia sempat ingin menekap mulutnya namun diurungkan niatnya itu ketika Momoi mengibas-ngibas tangannya sebelum mengacungkan jempol di belakang Kuroko. Ia ikut teringat satu hal penting, misi harus tetap jalan ditengah kegemarannya. Ini yang dinamakan sambil menyelam minum air! Ujarnya dalam hati.
"Dia itu pria, Tetsu. Wajar kalau ia punya foto erotis, tiap orang pasti punya fantasi yang beda."
"Tapi Akashi-kun pernah bilang kalau—"
"Ah! Jangan-jangan ia memiliki foto Mai-chan juga! Sial kalau begitu, aku tersaingi." pemilik mata navy itu berlagak kesal.
"Tidak heran, Dai-chan. Horikita Mai diperbolehkan datang kemari karena sebagai ketua komite sekolah, Akashi-kun yang mengizinkannya untuk datang."
Bagus. Kuroko mulai memiliki tabuhan bedug khas hari raya dalam hatinya. Debaran ekstrim di dalam sana bahkan bisa ia dengar sendiri tanpa komando. Analisa Momoi tak pernah terbantahkan, ia tahu itu. Tapi kalau tentang Akashi—ia cukup ragu. Pasalnya ia tahu bagaimana pribadi sang Emperor sendiri. Selama tiga tahun berteman, dua tahun dalam zona teman dekat dan sebulan lainnya menjalin keintiman, ia kenal Akashi Seijuurou luar dalam.
—lalu mengapa Akashi mengizinkan model gravure itu masuk ke lingkungan sekolah, yang notabene haram dimasuki gadis penebar pesona ero sepertinya?
Duh, Kuroko galau lagi. Ia melangkah gontai di sela kebimbangan, mendahului Momoi yang mengoceh dengan asiknya pada Aomine. Ia tak ingin mengindahkan mereka dulu, berbagai hal yang seharusnya tak perlu ia pikirkan malah merecoki otaknya saat ini. Satu hal yang membuatnya depresi, semanis apapun dirinya menurut Akashi, tentu tak akan bisa menang dari imutnya gadis remaja tulen.
•
•
•
•
"Tumben Tetsuya tidak makan dessertnya. Sakit gigi?"
Kuroko hanya mengulir-gulir butiran buah raspberry di piring kue dengan sendoknya. Ia menatap Akashi sebentar lalu melakukan hal yang sama lagi. Si seme mengernyit, kenapa lagi coba?
"Iya, aku sakit." sendok terangkat, mengetuk dahi si pemegang. "Disini."
Setengah hati Akashi menahan kaget. Maksudnya—Tetsuya stres? Atau ia gegar otak? Ia mulai ngelantur sendiri.
"Bicaralah padaku kalau ada masalah, Tetsuya. Biasanya juga Tetsuya cerita."
Kuroko menggeleng lemah. "Justru masalahnya ada di Akashi-kun sendiri."
"Huh?"
"Tidak jadi." ia bangkit—dengan piring kue di tangan. "Aku mau belajar di kamar. Akashi-kun jangan ganggu."
"Belajar berkelit?" tebak Akashi, mencoba iseng.
"Pokoknya jangan ganggu."
Jalan cepat, Kuroko bergegas ke kamarnya. Akashi menghela napas saat mencopot kacamata baca. Rasanya ia tak berbuat salah dari kemarin dan kemarinnya lagi. Tapi kenapa Kuroko merajuk? Ia angkat bahu sebagai respon atas pertanyaan sepihak, kemudian lanjut mengurusi dokumen perusahaan ayahnya. Untuk sementara mari kesampingkan sifat Tetsuya-nya dulu. Kalau dokumen ini tidak selesai sampai besok, ia tak akan punya waktu lebih bahkan untuk sang baby blue sekalipun.
ヽ(`⌒´)ノ
Kuroko keluar dengan piring kosong setelah 2 jam merenung di kamar. Ia kembali melangkah dengan tergesa, malas mendapati Akashi yang saat ini jadi sumber naik turunnya mood yang ia miliki. Tapi penasaran, lirik-lirik sedikit tak apalah, batinnya. Dan pemandangan langka membuatnya mengerem mendadak.
Akashi ketiduran di sofa.
Ia mengulas senyum tipis kala mendapati wajah lapang sang Emperor ketika terlelap. Kontras sekali dengan saat-saat dimana dirinya sedang menjadi pemimpin rapat OSIS atau ketika memberi pidato kesiswaan. Ketegasan itu hilang saat ia tertidur dan hanya Kuroko Tetsuya yang mengenal detailnya wajah tidur Akashi Seijuurou.
Tangan rampingnya terangkat. Satu jari digunakan untuk mengelus pipi pemilik netra merah itu. Lembut, Kuroko terkikik dalam hati ketika Akashi terusik kemudian tenang lagi.
Sesaat kemudian sesuatu membuatnya tersadar untuk segera berdiri, Kuroko melirik piring kue kosong. Setelah mencuci piringnya, ia akan balik kesini untuk menatapi Akashi lagi. Soalnya hanya wajah tidur sang kaisar yang ingin ia lihat saat ini.
Itu rencana awalnya, sih. Sebelum—
"Mau kemana?"
Ia tertangkap basah.
"Duduk disini, Tetsuya."
Kuroko menoleh. Pria itu sedang duduk sambil mengucek mata ketika menepuk sofa kosong disampingnya. Ugh, ia tak punya alasan untuk berkelit meskipun piring kosong di tangannya bisa jadi modus yang bagus. Ogah-ogahan Kuroko mendudukkan diri, seketika tanpa aba-aba Akashi menyandarkan diri di pundaknya.
"Akashi-kun?"
"Sssh, sebentar saja." manik ruby itu terkatup lagi. "Sebentar lagi dokumennya selesai. Aku ingin istirahat sebentar."
"Bukan begini caranya istirahat yang benar, Akashi-kun. Nanti badanmu sakit."
"Aku cuma ingin ditemani Tetsuya tiap detiknya." sadar atau tidak, Akashi terdengar gombal sekali. "Sebentar saja."
Akashi melingkarkan lengan di pinggang Kuroko. Dan bagi pemuda biru, tak ada pilihan lain selain menanggapi pelukan sang Emperor. Sedikit belaian tak akan membuatnya rugi, kok.
"Tetsuya."
"Ya."
"Tetsuya kesal karena aku terlalu sibuk, ya?'"
"Eh?"
"Kalau ya, tolong beri aku waktu." Akashi menghembus pelan. "Tetsuya pasti tahu bagaimana posisiku sebagai anak tunggal."
Kuroko tak ingin menjawab. Well, ia juga anak tunggal tapi bedanya ia memiliki keluarga yang lengkap dan bebas sebagai pelajar. Ia mengerti, Akashi adalah harapan terakhir ayahnya.
"Aku tidak masalah dengan itu, Akashi-kun." lanjut mengelus surai merah, Kuroko tersenyum tipis. "Aku mengerti."
"Lalu kenapa Tetsuya dingin padaku?"
Nah, kan. Kuroko ditanya tuh.
"Ehm—" Kuroko memutar pandangan, mencari alasan yang bagus sebelum benar-benar jujur. "Aku tidak—"
"Apa ada yang mengatakan hal-hal jelek tentangmu lagi?"
"Bukan, bukan tentangku, Akashi-kun." sudahlah, tak ada pilihan lain. "Ini tentang Akashi-kun."
"Tentangku?"
"Ya."
"Begitu. Apa katanya?" Akashi tersenyum, menyusun banyak rencana dalam hati untuk melacak penyebab kerisauan hati sang kekasih.
"Uhm...apa benar kalau Akashi-kun—memberi ijin resmi pada Horikita Mai untuk masuk ke Teiko?"
"Benar. Lalu?"
Kuroko speechless. Ini bukan lagi 'katanya'. Sang pelaku sendiri sudah mengaku dengan pedenya di depan mata. Mau bilang apa lagi? Kuroko sudah terlanjur galau, pacar sendiri melirik entitas yang lebih menjanjikan—gadis gravure.
"Jadi—Akashi-kun suka gadis sepertinya?"
"Huh?"
"Jawab, Akashi-kun."
Mulanya Akashi diam, mencerna ujaran Kuroko yang berimplisit kalau sang baby blue cemas campur cemburu. Maka dari itu ia tertawa kering sejenak sebelum berlanjut ke gelakan geli. Kuroko merinding lagi. Akashi terlalu OOC.
"Demi Tuhan, Tetsuya! Apa coba yang sedang kau pikirkan? Memang iya kalau—"
Ting tong—
Mereka menoleh bersamaan. Kebisingan aneh terjadi di pintu depan setelah bel berbunyi. Kuroko berdiri duluan, awalnya. Namun untuk melangkah lebih jauh, Akashi lebih cekatan mencekalnya.
"Tunggu aku di kamar, nanti aku ceritakan semuanya." tukasnya sambil bangkit dan mengecup pipi si baby blue. "Bawa laptopku juga, Tetsuya."
Kuroko menggosok pipi yang kena cium barusan. Ia sedang kesal sekali, sungguh. Barusan Akashi bilang iya, lalu kelanjutannya apa lagi? Mau bilang kalau dalam sebulan ia jadi pria normal, begitu?
Kuroko kalut lahir batin.
Diliriknya sang Emperor yang berkata dingin pada para anak buahnya yang absurd—Hayama, Mibuchi dan Nebuya. Mereka selalu berisik kalau datang, permintaannya juga aneh-aneh. Inisiatif untuk pergi ke kamar jadi pilihan akhir, ia menenteng laptop Akashi dan membawa serta piring kuenya. Setelah meletakkan piring kecil itu di dapur, ia berjalan ke kamarnya cepat-cepat.
Kuroko segera menghempaskan tubuh di kasur king size milik mereka. Ia melirik samping, ada ponsel flip merah dan laptop silver tergolek manis di sana. Ia memejamkan mata, berpikir untuk tidur sebentar.
'Memang lelaki mana yang tidak suka gadis ekstra sepertinya?'
Matanya tersingkap paksa. Sesuatu mengganggu pikirannya.
'Si Akashi juga pasti doyan. Cek saja laptop atau ponselnya. Pasti ada saja foto gadis telanjang barang satu atau dua gambar.'
Ditatapnya dua barang yang jadi soalan. Dimulai dari ponsel. Kalau memang Akashi menyimpan gambar-gambar gila itu, Kuroko akan minggat saat itu juga. Gila memang, tapi jujur saja ia tidak cukup baik untuk merelakan Akashi jadi normal.
File kumpulan foto diobrak-abrik. Puluhan bahkan ratusan slide gambar tampak normal, isinya hampir semua dominan sang Kuroko Tetsuya sendiri. Pemuda itu merona, yakin betul kalau Akashi benar-benar memujanya.
Ia sampai pada gambar terakhir dimana foto selfie dirinya dan Akashi saat masa SMP. Dengan tinggi badan yang hampir sejajar, mereka bagai kembar. Bedanya dalam warna dan sorot mata. Selebihnya mereka mirip apalagi soal keras kepala.
Lega, itu yang pertama kali ia rasakan kala mengakhiri penggeledahan ponsel Akashi. Tak ada satupun file kotor, mungkin Aomine salah sangka.
Namun belum puas, tangannya menggapai laptop perak yang tergeletak. Setahunya laptop Akashi tidak pernah dipasangi password atau semacam sistem pengaman lainnya. Kalau dipasang, jawabannya sudah pasti ia ketahui—tidak akan jauh dari hal-hal tentangnya.
Melacak file nista di laptop malah lebih mudah. Kuroko memilih tampilan grid untuk semua dokumen agar tiap berkas muncul dengan detail gambar. Dengan sabar, tiap deret folder ia rambahi, harap-harap cemas akan orientasi seksual seorang Akashi. Tapi meski begitu, Kuroko serius dengan ucapannya. Ia akan kabur jika saja Akashi memiliki gambar itu barang satu saja.
"Apa ini?"
Folder aneh menarik perhatiannya. Tanpa ragu Kuroko membukanya, menampilkan banyak folder dengan nama-nama absurd. Semuanya nama anggota tim Akashi. Termasuk nama trio perusuh itu juga ada.
Kerutan di dahinya mendalam ketika membuka folder bernamakan 'KOTARO'. Well, membuka folder 'REO-NEE' hanya akan membuatnya merinding berkepanjangan karena banyaknya pose lebay sang pria kemayu dan melihat isi folder 'NEBUYA EIKICHI' bisa berefek gagal diet untuknya—semua fotonya tak lepas dari makanan berat dan dessert sebagai pelengkap. Mencurigakan, batinnya. Mula-mula ia hanya mendapati beberapa foto Hayama saat sedang berlatih dribble, namun sebuah folder berlabel 'STOP' menggelitik pikiran Kuroko. Memang lancang rasanya, tapi Kuroko benar-benar heran.
'STOP'
'DON'T TRESPASS'
'ASDFGHJKL'
'QWERTYUIOP'
'A'
'B'
'C'
'X'
'XX'
'AKASHI SEIJUUROU'
'KING OF RAZOR LEGEND'
'STOP OR DIE'
'COUNTDOWN TO YOURSELF'
'3'
'2'
'1'
'DIE'
'HR-MAI-CHAN', 'A-HOSHINO 'MIRI HANAI-CHAN', 'Y-CHAN'
BRAKK
Dan ini kali akan jadi kali terakhir Kuroko tinggal di apartment yang mereka tinggali berdua.
( TДT)
Akashi mendengus. Mengusir para pengacau itu membutuhkan tenaga ekstra, khususnya si tukang makan, Nebuya. Paling susah menyuruh Hayama keluar. Katanya ingin meminjam laptop Akashi saat ini juga, tapi ia ingat dokumen untuk ayahnya belum rampung sepenuhnya. Mibuchi mungkin gampang diajak bekerja sama, tapi apa Akashi tahan dicoleki terus? Demi Tetsuya, ia merinding sampai ke bulu kaki.
Langkahnya refleks mengarahkan diri ke pintu kamarnya bersama Kuroko. Ya. Ia yakin entitas biru itu sudah ketiduran sekarang. Ia tersenyum sendiri saat membuka pintu tanpa suara. Benar saja. Didapatinya Kuroko sedang memunggunginya sambil—
—memasukkan baju kedalam travel bag?
Mau kemana anak ini malam-malam?
"Tetsuya?" panggilnya, menyadarkan. Sungguh, ia benar-benar tidak tahu. "Mau kemana?"
Keheningan menjawab. Akashi mengernyit. Ia merangkak di atas ranjangnya, mencoba menggapai.
"Tetsuya?"
Dipegangnya bahu kecil itu, berniat membalikkan badan si baby blue dengan lembut.
PLAKK
Eh?
"Jangan sentuh." sumpah, itu nada paling dingin yang pernah Akashi dengar. "Jangan berani menyentuhku."
"Tunggu, tunggu. Ada apa denganmu, Tetsuya?!"
Tidak ada pilihan lain, Akashi harus memaksanya berbalik—dan berhasil. Ia dapat menangkap siluet pemilik netra biru itu sekarang. Tapi—
Sejak kapan matamu begini merah, Tetsuya?
"Aku mau pulang." kembali, Kuroko menepis tangan Akashi dan menarik semua baju yang bernaung di dalam lemari. "Bersenang-senanglah bersama seluruh artis gravure itu."
"Maksudmu apa, sih? Dari tadi sore kau—hei, tunggu, Tetsuya!"
Akashi dibuat kerepotan mengejar. Kini semua barang Kuroko terlipat absurd dalam tasnya. Tak peduli pada Akashi yang hampir berputar-putar di kasur memintanya menunggu, ia acuh melangkah cepat menggamit tas sekolahnya. Sumpah, kalau ada kontes mengabaikan pacar sendiri ia yakin sekali si pemilik aquamarine akan menjadi juaranya. Siapa yang bisa membuat Akashi macam orang linglung yang hampir tersungkur dengan konyol di kasurnya sendiri selain Kuroko Tetsuya?
Entitas manis itu terus bergerak, membuat Akashi kepayahan. Demi saus tartar, Tetsuya bikin greget setengah mati!
Dengan sisa tenaga, ia berlari menerjang si baby blue sampai terjungkal. Tanpa komando Akashi langsung mengurung tubuh terlentang Kuroko di atas karpet beludrunya. Hampir khilaf, jarak mereka nyaris terhapus karena Akashi hilang kesabaran.
"Sudah puas mengabaikanku seperti ini?" tak ada lagi nada lembutnya ketika bertanya. Kuroko bergidik. "Maksudmu apa menuduhku yang tidak-tidak dengan artis gravure? Sungguh kekanakan, kau tahu pusat atensiku siapa."
"Lalu bagaimana caramu menjelaskan semua foto kotor yang berada di laptopmu, Akashi-kun?" Kuroko memandang balik iris merah itu, tak ingin nampak gentar. "Sekarang aku mengerti kenapa Akashi-kun selalu asik sendiri kalau sedang bersama laptop."
Kali ini Kuroko membuang muka, pertahanan terhadap airmata yang melesak intens mulai sulit ia bendung—jelas ia buru-buru terpejam. Akashi tak bicara apapun, ia speechless. Tunggu.
Model gravure. Laptop. Dirinya.
Lelucon macam apa ini?
"Aku mau lihat." putusnya kemudian, mundur dan mengangkat kungkungan tangannya. "Kalau Tetsuya bohong dan sengaja cari alasan untuk mencari kesalahanku, aku tak akan memaafkan Tetsuya malam ini."
Ia bangkit, namun tangan kokohnya sempat membantu sang baby blue bangun juga meski Kuroko sendiri berkata tak ingin disentuh. Akashi menggandeng empunya mata azure itu tanpa aba-aba, Kuroko jadi tak sempat berontak. Mereka kembali lagi ke kamar, tempat dimana Kuroko menemukan gambar nista yang hampir meracuninya. Dengan cepat Akashi membuka file dokumen dan mulai merambahi satu-satu. Kuroko tak berkata apapun, cuma sesekali tangannya terangkat untuk menunjuk folder yang ia maksud. Akashi juga tak ingin bertanya, ia geram. Apa sih, yang Kuroko pikirkan? Ia tak ingin jadi bulan-bulanan terus, sungguh. Kalau ia bilang—
Oh, tidak.
Pantas Kuroko marah.
Akashi tersenyum maklum saat melihat Kuroko tertunduk. Meski kesal setengah mati pada pelaku penistaan, Akashi tekan emosi untuk saat ini. Dihadapannya Kuroko sedang kalut maksimal, dan sebagai seme yang baik tentu sudah tugasnya untuk menenangkan uke sejuta umat itu.
"Ini punya Kotaro." jawabnya ringan, seringan tepukannya pada pucuk kepala Kuroko. "Aku tidak mungkin menyimpannya. Aku cuma suka melihat foto Tetsuya."
"Lalu apa alasan Akashi-kun mengundang Mai-san datang ke Teiko?"
"Lho, jelas-jelas ia dibutuhkan, Tetsuya. Aku membutuhkannya."
"Apa?"
"Maksudku sebagai—"
"Akashi-kun tertarik padanya?"
"Bukan. Aku membutuhkannya sebagai—"
"Jadi sekarang kau sungguhan membutuhkannya juga?"
"Tetsuya, dengar dulu. Kau ini kenapa—"
"Aku mengerti, baiklah. Selamat tinggal, Akashi-kun. Semoga Akashi-kun bahagia de—"
"SUDAH CUKUP, TETSUYA."
Tersentak, Kuroko mengangkat wajah. Netra merah itu tak lagi teduh, sirat dingin begitu menusuknya luar dalam. Gawat, sekarang Akashi yang marah padanya.
"Aku juga punya batas. Mengapa susah sekali membuatmu percaya, Tetsuya?" tanyanya, menghardik. "Kaupikir sudah berapa lama kau mengenalku, eh? Apakah waktu dua tahun dan satu bulan terakhir tidak cukup untuk membuktikan kalau aku serius cuma pada Tetsuya?"
Kuroko memalingkan wajah, mulai bimbang untuk menjawab. Akashi memang benar, tapi tetap saja—
"Jika kau benar-benar ingin pulang, silahkan." pria bersurai crimson itu berbalik, memunggungi di pinggir ranjang. "Aku tak ingin mencegahmu lagi. Silahkan pikirkan lagi tentang semua hal yang kulakukan untukmu. Terserah Tetsuya sekarang."
Hah, secepat itukah?
Kuroko diam di tempat.
"Tapi satu hal yang mesti kau ingat—aku berusaha mencintaimu dengan baik." Akashi tak menoleh saat Kuroko duduk bersimpuh di ranjang. "Silahkan pergi."
Parah. Manik aquamarine itu banjir sekarang. Ia berbalik, menggamit travel bag dan tas sekolahnya lalu membuka pintu dengan kasar.
"Akashi-kun memang bodoh, aku—"
BLAM.
"Tetsu? Sedang apa kau malam-malam disini?!"
Kebetulan sekali. Aomine baru pulang dari konbini saat Kuroko nampak lesu di tengah jalan. Sebagai teman yang baik, ia berinisiatif untuk menghampiri. Sebodoh apapun dirinya, ia punya gagasan cepat mengenai pemandangan ini.
Kuroko Tetsuya, penyandang titel Putri Uke Sejagad, kabur dari istana kegelapan sang Kaisar Neraka, Akashi Seijuurou.
Aomine menyeringai. "Ribut sama Akashi, ya?"
Sunyi. Tak ada jawaban verbal. Hanya saja saat ini kepala biru sang mantan bayangan sudah disandarkan ke dada bidang mantan cahayanya. Cukup gugup juga, manisnya Kuroko memang menggoda iman. Ia berdecih kemudian.
"Menginap saja di rumahku. Rumahmu masih tiga blok lagi, jam segini rawan maniak."
Mulanya si baby blue menggeleng, menolak frontal. Pria tan disampingnya keburu mendecih lagi saat mengacak rambutnya.
"Aku tidak ingin mengantarmu dalam keadaan seperti ini, Tetsu. Apa kata orangtuamu nanti, coba? Bisa-bisa aku kena lempar bakiak nenekmu." Aomine menarik pegangan travel bag Kuroko, memaksanya ikut. "Atau kau ingin Akashi yang mengantar? Biar kutelpon dia." moga-moga sih, kau tidak minat, Tetsu, lanjutnya dalam hati.
"Ja-ngan." suara perdana terdengar pelan, begitu parau. "Aku—ikut Aomine-kun saja."
"Nah. Begitu 'kan simple. Kau aman bersamaku, ceritakan semuanya nanti."
Perlahan, Kuroko mengangguk. Aomine berseringai lagi, kali ini binar kemenangan terselip disana. Tuh, kan. Ia tidak sama dengan si bodoh Kagami yang selalu baper kalau dalam misi, contohlah dirinya! Dengan bangganya ia merangkul Kuroko sambil menyeret travel bag milik sang bayangan, moodnya baik sekali malam ini.
ヾ( ̄∇ ̄๑)
Aomine melotot saat Kuroko bicara dengan banyak sekat di beberapa kalimatnya. Cukup rumit, namun ia mengerti.
"Serius?" ulangnya. Kuroko mengangguk. "Akashi punya foto gadis gravure? Lalu ia memarahimu juga?" mengangguk lagi.
"Tuh, kan! Apa kataku, Tetsu! Wajar pria sejati punya foto seperti itu! Kami ini punya hasrat masing-masing, kau tahu? Jelas ia—"
"Tolong jangan diperjelas—Aomine-kun."
"Oh, oke."
Tak peduli ucapannya ditolak Kuroko, yang jelas ia senang sekali saat ini. Misinya berhasil dengan gemilang, ia mesti memberi kabar pada yang lainnya—biar predikat dungu segera copot dari namanya.
To : Kise ; Satsuki; Bakagami; Maniak Oha Asa; Tukang Makan
Subject : Aku berhasil!
Tetsu ada dirumahku sekarang, ia kacau sekali. Intrik tadi siang ternyata terbukti, si Akashi punya banyak foto gadis gravure di laptopnya! Pokoknya kacau, lah! Ini sudah di batas renggang. Sepertinya mereka putus sebentar lagi, deh.
Terkirim. Aomine girang level atas saat beberapa waktu kemudian mereka membalas dengan pujian tersirat. Namun jawaban dari Momoi cukup mengejutnya, ia mengerutkan dahi.
From : Satsuki
Subject : Hati-hati, ne!
Barusan Akashi-kun menelponku, menanyakan Tetsu-kun! Kalau sampai ia menelponmu juga, berkelitlah! Jangan serahkan Tetsu-kun padanya, cepat pikirkan alasannya dari sekarang, Dai-chan!
Mati. Ia mau jawab apa kalau benar-benar ditelpon?
"Eh, Tetsu." lebih baik bertanya dulu, cari ilham. "Kalau Akashi menanyakanmu, aku harus jawab apa?"
"Bilang saja tidak tahu, Aomine-kun." Kuroko membuang tissu bekas likuidasi hidungnya dengan cuek. Tumben Kuroko jorok? "Jangan bilang kalau kita bertemu di jalan atau kau membawaku kesini. Jangan bilang juga kalau aku cerita tentang Akashi-kun ke Aomine-kun."
"Kalau sampai segitunya juga aku tidak akan cerita, Tetsu. Kau mau aku dijagal di depan matamu apa?"
"Maaf, Aomine-kun."
Sang pria bersurai navy mengelus tengkuk sambil mengetik balasan pada sahabat kecilnya. Isyarat oke telah terkirim pada Momoi, memberi kode kalau disini baik-baik saja. Ia terkekeh saat Momoi membalas dengan rengekan ingin datang ke rumahnya.
Tapi sesaat kemudian kekehan itu terhenti.
"Oi, Tetsu." panggilnya lagi. Si baby blue menoleh pelan. "Kalau Akashi datang kemari bagaimana? Aku tidak bisa mengelak kalau kau memang ada di tempatku!"
Helaan napas lembut terdengar. "Aku bisa bersembunyi dibawah ranjang Aomine-kun, kok. Kalau perlu Aomine-kun bisa membantuku melipat diri untuk sembunyi di dalam lemari."
Ya ampun, segitunya kau ingin kabur dari Sei, Tetsuya?
"Oh, baiklah." Aomine nyengir. "Sebaiknya kau tidur. Soalnya besok—"
Drrrt drrrt—
"Besok?" ulang Kuroko.
"Sebentar." si pria tan merangkak, menyabet ponsel di atas meja belajar dengan cepat. Wow, Yang Mulia Akashi Seijuurou benar-benar menelponnya.
"Tetsu—" Kuroko mulai jengah. Aomine memang punya fetish memanggil namanya atau bagaimana? Capek tau menoleh terus, lihat-lihat kek kalau dirinya sedang galau.
"Apa, Aomine-kun?" tahan Tetsuya, tahan—Kuroko coba menenangkan diri.
"Angkat, nih. Tiba-tiba perutku mulas, kepalaku pusing, tanganku gemetaran."
Dilihat wajah sahabatnya itu. Biasa saja, tuh. Cuma kulit coklatnya memang agak bertransformasi jadi lebih terang, sih.
"Nanti Akashi-kun datang kesini, Aomine-kun."—dan kau bisa dirajamnya, batin Kuroko lanjut.
"Ugh, sial. Segitunya si Akashi itu padamu, heh!" tanpa mengindahkan tremor di sekujur tubuh, Aomine menekan tombol dial. "Yo—ah, ya. Tidak, Tetsu hanya mampir. Apa? Oh, ya. Tidak, aku tidak tahu. Oke, aku akan mengabarimu kalau Tetsu datang. Oke."
Panggilan berakhir. Aomine langsung melempar ponselnya ke kasur dan berlari dengan kecepatan zone. Terdengar suara bantingan pintu, Kuroko yakin sekali ini adalah efek berbicara (bohong) pada Akashi.
≥﹏≤
Di apartmentnya, Akashi sudah ketar ketir tak karuan. Setelah menghapus file nista yang mampir di laptopnya, ia segera mengerjakan sisa dokumen perusahaan ayahnya. Mencoba tenang, ia menyeduh teh mint kesukaannya sebelum bekerja. Sumpah, malam ini benar-benar membuatnya tremor bertubi-tubi.
Diliriknya jam dinding. Jarumnya menyatu pada satu angka sama, sebelas. Kembali teringat sang kekasih, hatinya cemas lagi. Sudah sampai dirumahkah? Sedang apa dia saat ini? Sudah makan? Sudah tidur? Sambil menangiskah? Apa kata orangtuanya saat mendapati anaknya pulang macam korban pengusiran ibu kos yang ditunggaki berbulan-bulan? Marahkah mereka pada Akashi? Sungguh, Akashi cemas karena banyak hal.
Sedikit lagi rampung dan ia bisa menghela napas lega sesaat. Namun sayangnya realita tak pernah berjalan seiring dengan ekspetasi, ia kalut setengah mati. Benarkan sosok manis itu sudah sampai dengan aman di rumahnya? Kalau ada maniak yang menghadangnya dijalan bagaimana? Kalau ia tersesat bagaimana? Dan lebih mengerikan lagi—kalau ia diculik dan dianu-anukan om-om shotacon, bagaimana?
"Sialan!" gerutunya menyabet ponsel di atas nakas. Menghubungi rumah Kuroko dulu, memastikan. Kalau memang orangtuanya bakal marah padanya ia akan tanggung jawab. Toh sebentar lagi juga ia bakal sering diomel mertua—harapnya optimis.
'Halo? Keluarga Kuroko disini.'
"Selamat malam, Ibu."
'Ah, Sei-kun?'
Akashi tersenyum tipis. Calon mertuanya ingat.
'"Ya, Bu. Bagaimana kabar Ibu? Maaf menelpon malam-malam."
'Nee~ Ibu tidak keberatan kok selama yang menelepon Sei-kun. Baik sekali, bagaimana dengan Sei-kun? Tetsuya bandel, ya?'
Senyumnya berangsur miris. Bukan bandel, Bu. Cenderung 'nakal' malah. Tapi tetap, sih. Kepolosan Kuroko menjungkirbalikkan pribadi Akashi.
"Baik, Bu. Tetsuya juga baik-baik saja. Ehm, ada yang perlu saya tanyakan."
'Ah, tentang Tetsuya?'
"Iya, Bu. Tetsuya ada?" todongnya langsung. "Barusan ia bilang mau pulang dulu,"
'Yaree~ kalian bertengkar ya?'
Akashi tertawa kering.
'Tuh, kan. Tetsuya memang bandel. Ibu tahu sekali kerasnya kepala anak itu—sama seperti ayahnya.'
"Ah, ya."
'Tapi Tetsuya tak ada disini, Sei-kun.' Akashi melotot. 'Tidak ada kontak darinya juga.'
"Apa ada telpon dari teman-temannya, Bu? Memberitahukan kalau Tetsuya ada bersama mereka, mungkin?"
'Uhm~ sama sekali tidak, Sei-kun. Duh, kemana ya, anak itu? Jadi agak cemas.'
Ibunya cuma cemas sedikit? Akashi disini sudah keringat dingin, Bu.
"Saya akan mencari Tetsuya sekarang, Bu. Tolong Ibu jangan khawatir. Maafkan saya, ini semua terjadi gara-gara kecerobohan saya."
Wow. Keagungan seorang Akashi Seijuurou bisa meleleh hanya dengan suara calon ibu mertua, eh?
'Ini sudah malam, Sei-kun. Biarkan saja! Paling-paling dia menginap dirumah Aomine-kun atau Kise-kun. Ini bukan salah Sei-kun, kok.'
"Tidak apa-apa, Bu. Saya akan cari Tetsuya."
'Nee~ baiklah, kabari Ibu kalau sudah ketemu Tetsuya, ya? Dasar anak itu, bikin cemas saja.'
Akashi tertawa kecil. "Iya. Salam untuk Ayah dan Nenek. Selamat malam, Bu."
Terdengar tawa yang manis, Akashi ragu apa sosok disana benar-benar cemas atau tidak.
'Pasti Ibu sampaikan. Selamat malam juga, Sei-kun~'
Sambungan diputus berbarengan. Akashi mendesah berat. Kemana coba anak biru itu? Kalau tidak di rumah orangtuanya sudah pasti ia menginap di salah satu temannya.
Tapi siapa? Temannya cukup banyak, mengingat Kuroko punya beberapa teman dekat yang tidak ia kenali.
Tarik napas, hembuskan. Akashi merambahi nomor telpon member Kiseki no Sedai, harap-harap cemas Kuroko menginap di salah satu rumah mereka.
Sumpah, Tetsuya. Kenapa jadi seperti ini, sih?
┐(´д`)┌
Pagi tiba. Akashi bisa melihat kantung matanya menumpuk mengerikan. Dokumen ayahnya selesai tepat waktu, penandatanganan untuk kontes gravure juga rampung namun tidak dengan pencarian Kuroko Tetsuya. Semua relasinya sudah Akashi hubungi namun nihil. Tak ada yang tahu dimana Kuroko—mentang-mentang hawa keberadaannya tipis. Demi Tuhan, Akashi cemas sekali.
Jam menunjukkan pukul lima, ia punya waktu sekitar 90 menit untuk berangkat ke sekolah. Sekali lagi ia menoleh pada ponselnya, berharap ada kabar tentang si baby blue. Namun lagi-lagi nihil. Ya Tuhan, Tetsuya! Sebegini beratnyakah salahku? Akashi meraung dalam hati.
Berharap lebih Kuroko masuk sekolah hari ini. Ia tahu betul ketaatan absensi pemilik mata bening itu, jelas ia datang meski galau melanda. Yah, meski semu Akashi tetap berharap. Semoga Kuroko benar-benar datang dalam keadaan yang baik-baik saja.
(。•́︿•̀。)
"Tetsu-kun perlu istirahat, hari ini tiduran di UKS saja, ya? Nanti kubawakan bekal!"
"Jangan bodoh. Bekalmu bisa membunuhnya."
"Dai-chan menyebalkan!"
"Tidak apa-apa, Momoi-san. Aku baik-baik saja."
"Tetsu-kun yakin?"
"Hai'."
"Tapi kantung matamu mengatakan sebaliknya, Tetsu."
"Ini efek begadang karena Aomine-kun."
"Hee? Memangnya apa yang dia lakukan, Tetsu-kun?"
"Telponan dengan Kise-kun, Momoi-san." entitas manis itu menepuk tengkuk. "Mereka mendesah."
"O-OI, BODOH!"
"AOMINE-KUN NO BAKA~!"
Pemandangan pagi yang epik. Seorang pria berkulit tan sedang duduk terpojok sambil mengibas-ngibas udara kosong yang menjadi sekat dengan si gadis bubble gum yang berapi-api menatapnya geram. Di belakang, seorang pemuda bermata biru memandang datar, lingkaran hitam dimatanya cukup menyeramkan. Dengan kulit yang kian memucat, ia sudah mirip vampire Cina sekarang.
Kuroko menghela napas. Semalam ia memang tidak bisa tidur sama sekali, pikirannya melayang absurd. Ponsel sengaja ia matikan, namun ia tahu betul ada seseorang yang gigih menghubunginya ratusan kali. Bukan hanya suara aneh dari percakapan AoKise, seseorang begitu dominan membuatnya insomnia. Sedang apa dia disana? Sudah tidurkah? Makan belum? Teringat sifat workaholicnya, sudah selesaikah dokumen sang ayah? Bagaimana dengan file kotor itu? Sudah dimusnahkan belum? Ah, sedih rasanya. Apakah ia mencemaskan Kuroko? Mencari dirinya tidak? Tapi melihat semalam—Aomine ditelpon Akashi—jelas sang kaisar mencarinya. Tapi untuk apa? Ia sendiri yang mengusir Kuroko, bukan?
Sumpah, Akashi-kun. Kenapa jadi seperti ini?
"Tetsuya?"
Wow.
Kuroko tahu siapa.
Percaya istilah 'kontak batin'? AkaKuro buktinya.
Sosok biru itu membatu. Suara baritone yang begitu ia kenali—pemiliknya ada di depannya, terpaut beberapa meter. Jika ia biasa melihat Akashi selalu tampak rapi dan segar, kali ini ia mesti kecewa. Mata panda dan beberapa kesan acak-acakan lainnya bisa ia lihat saat ini. Seperti inikah sosok Akashi Seijuurou yang sedang merana? Oh, Kuroko sedikit paham meski gengsi.
Ia mendekat, berbeda dengan Kuroko yang mundur ke arah Aomine yang beringsut bangkit. Si pria tan sudah pasang badan, tahu kalau sahabat birunya minta tameng. Langkah Akashi terhenti, sirat matanya tak dapat diartikan bahkan oleh Momoi yang kemampuan analisanya tinggi sekalipun.
"Masih marah?" tanyanya, berharap si pemuda menggeleng riang lalu menerjangnya ala film Bollywood.
Aomine terkekeh dalam hati saat kesunyian yang menjawab. Memangnya siapa yang tidak kesal kalau punya pacar yang doyan koleksi foto gadis seksi? Pengecualian untuk Kise, sih. Yang jelas misinya berhasil, sahabatnya akan segera selamat dari semua noda yang siap dipeperkan si setan gunting.
"Sebentar lagi bel masuk berbunyi. Sebaiknya kita segera ke kelas, Aomine-kun, Momoi-san."
Sial. Bukannya menjawab malah dicuekin. Siapa yang tidak gondok, coba?! Akashi geram, sumpah.
"Ehm, kami duluan, Akashi." Aomine berkata pelan, padahal hatinya bersorak-sorak saat Kuroko meremat blazernya, membuntuti. Sementara Momoi langsung menggamit lengan Kuroko, menoleh kepada Akashi sambil bilang 'kami akan menenangkannya' tanpa suara. Mereka bertiga melangkah cepat melewati Akashi yang masih tertegun dalam perasaan nano-nano.
Hari ini bisa dipastikan moodnya bakal buruk sekali.
(皿)
BRAKK—
Seisi ruangan melebarkan mata. Menoleh kaku ke satu arah dengan wajah mulai memucat sudah cukup membuktikan kalau mereka terkejut. Ya. Di ujung meja sana, pemimpin rapat tersenyum lebar. Tangan kanan memegang gunting dan kirinya menggulung proposal. Di sampingnya ada seorang pria bersurai lumut dengan wajah tak kalah pucat, menatap sang kaisar minta penjelasan.
"Sukseskan acara besok dan aku akan menahan diri untuk membidik panitia satu persatu untuk usulan bodoh ini." tidak, kini dia berseringai. "Dan pakaikan kostum paling rapi untuk Horikita Mai—kalau perlu bungkus dia tanpa celah."
"O-oi, Akashi! Kau perlu alasan untuk—"
"Mengadakan kontes gravure dan mengundang model seksi kedalam lingkungan sekolah saja sudah bisa dikatakan penyimpangan, Shintarou. Masih untung aku mengijinkannya—" ia mengangkat wajah. "—karena ia memohon sendiri padaku."
"A-Akashi-sama, tolong pertimbangkan dulu—"
"Aku absolute. Ingat?"
Hening.
"Jika tak ada yang ingin dibicarakan lagi, rapat selesai untuk hari ini." gunting itu lepas dari tangannya. Namun bukannya jatuh, benda itu malah menukik indah di tengah meja, menancap pada formulir pendaftaran kontestan. "Pastikan acaranya berjalan dengan baik." tutupnya sambil berlalu, meninggalkan berbagai entitas yang merinding hebat.
Dua menit adalah waktu yang panjang untuk berdiskusi dengan Akashi Seijuurou.
"Tetsu, bangun! Oi, Tetsu!"
Sang entitas biru tak ingin terusik. Ia terus melesakkan kepalanya ke bawah bantal milik mantan cahayanya, membuat geram yang membangunkan.
"Cepat bangun, bodoh! Aku tidak ingin melewatkan hari ini!"
Kali ini selimut tebal berbulu lembut ditarik. Kuroko sudah seperti risoles siap goreng.
"OI! Akashi datang!"
Kaget? Jelas. Aomine korbannya. Kuroko cukup cepat bergerak, ia melempar bantal dengan jurus passing andalan sambil melakukan misdirection. Aomine wajib bertepuk tangan, namun ia memilih untuk mengomel saat ini.
"Sialan, Tetsu!" gerutunya di awal. Kuroko terengah di pojokan, persis calon korban pelecehan—apalagi dengan pose mencengkram selimut dan bedfacenya, Aomine hampir khilaf ditengah keterkejutan.
"Hentikan guyonan seperti itu, Aomine-kun."
"Kau pikir aku bercanda, eh? Dia memang sudah datang—ke sekolah." Aomine nyengir.
"Garing, Aomine-kun."
"Berisik. Cepat mandi, kita punya waktu 20 menit untuk berangkat ke sekolah. Selain itu—jangan coba-coba tidur lagi, bodoh! Cepat mandi!"
Dengan sekali gerakan, Aomine telah memiliki Kuroko dalam jinjingannya. Si baby blue masih poker face saja, merelakan diri dibawa-bawa macam anak kucing. Mulanya si pria berkulit eksotis itu mengunci pintu dari dalam—entah khilaf atau bagaimana. Namun beberapa detik kemudian ia keluar lagi dengan kekehan kering, sementara Kuroko sudah mengangkat gayung dengan wajah datarnya—mengingatkan kalau ia bukan Kise yang tidak bisa mandi tanpa Aomine.
(/ω\)
Momoi sudah berinisiatif jadi penjaga keamanan dadakan saat Kuroko baru saja menapakan kaki di gerbang sekolah. Entah apa alasannya, ia menempel terus tanpa jeda ketika mereka melewati kerumunan kontestan lomba gravure girl. Aomine risih, ia tak ingin dibuntuti saat akan beraksi lebih. Ia sudah beberapa kali mengusir Momoi terang-terangan—pria butuh privasi, katanya.
Mereka bertemu Kise dan Murasakibara di stand makanan. Kuroko maklum saat Kise bilang ia jadi salah satu juri acara itu, membuat Aomine iri karena sang uke duduk bersebelahan dengan model favoritnya. Kuroko heran bisa-bisanya Kise santai-santai saja menanggapi sifat mata keranjang Aomine, berbeda dengan dirinya yang uring-uringan sendiri saat Akashi cuma menyimpan gambarnya saja. Uhm, apa sikapnya tidak terlalu berlebihan?
Langkah mereka terhenti saat seorang menghampiri. Bukan, bukan Akashi, kok. Cuma seorang pria manis dengan rambut kuning dan taring kecil mencuat di sudut bibir. Vampir shouta? Bukan, itu hanya Hayama. Tapi kenapa dengan wajahnya? Ah, jangan-jangan—
"Halo." sapa Kuroko, datar. Hayama nyengir, ringisan kecil sempat terselip.
"Hai, Kuroko-chan!" balik menyapa. "Aku mencarimu, lho."
Kuroko mengernyit. "Mencariku?"
"Oi, kenapa dengan wajahmu, Hayama?!"
Aomine menghampiri saat tak sengaja menoleh dari stand minuman. Sumpah, bengkak-bengkak tidak elit ini darimana? Jangan bilang kalau ini ulahnya—
"Are~ jangan pedulikan ini." Hayama mengibaskan tangan di depan wajah. "Aku cuma terjatuh dari atas tangga."
"Bohong, tuh. Kotaro tertangkap oleh peserta kontes di ruang ganti." seseorang berjalan dengan anggun. Wajah sebal jelas nampak dari sana. "Entah apa yang ia pikirkan, padahal aku sudah melarangnya tapi malah nekat juga."
"Halo, Mibuchi-san."
"Halo juga, Tet-chan. Makin manis saja, ih~" tangan lentiknya mencolek dagu Kuroko sambil tersenyum. Beberapa dari Kiseki no Sedai sudah merinding disko di belakang. "Mana Sei-chan? Nggak bareng Sei-chan?"
"Reo-nee! Mereka ini sedang—"
"Tidak. Tetsu mungkin tidak akan bersama si Akashi lagi."
Seketika dua pasang netra tertuju pada Aomine yang berseringai senang. Kuroko hanya menoleh datar kemudian menunduk lagi.
"Kok bisa?" Mibuchi melotot sempurna. Bisa gawat ini, minggu depan kelasnya bakal mengadakan taruhan OTP paling manis di Teiko dan ia sudah pasang taruhan besar pada AkaKuro. Bahaya! Ia tak ingin merelakan seluruh koleksi kosmetik dan tabungan untuk tas tangannya bulan depan!
"Soalnya si Akashi sedang puber." sambung si pria tan sok tahu. "Dan Tetsu menangkap basah koleksi fotonya di lap—"
"Demi Kami-sama, MAAFKAN AKU, KUROKO-CHAN!"
Eh?
"Beberapa malam yang lalu aku datang ke apartment kalian, kan? Tujuanku memang untuk memindahkan file itu, soalnya Akashi tidak tahu aku menyimpannya disana! Sumpah, maafkan aku!"
Hayama sudah menangkupkan tangan di atas kepala sembari berlutut di depan Kuroko. Sambil berkata maaf terus-terusan diselingi beberapa penjelasan, Kuroko mengerutkan dahi.
Jadi foto itu bukan punya Akashi-kun, eh?
"Tetap saja Akashi-kun salah." ucapnya parau. "Dan Hayama-kun tak perlu melakukan ini demi Akashi-kun, Hayama-kun tidak salah sama sekali, kok."
"Tet-chan, Kotaro memang datang kesini untuk minta maaf atas kesadarannya sendiri, kok. Kupikir kalian juga sudah baikan. Lagipula Sei-chan—"
"Satu hal yang aku tahu saat ini—" Kuroko gantung ucapan. "—Akashi-kun sudah jadi pria normal."
Hayama dan Mibuchi speechless ditempat. Belum ada bantahan dari pihak manapun untuk pernyataan sang baby blue.
"Novelku ketinggalan di kelas, aku akan pulang setelah mengambilnya." Kuroko berjalan duluan, melewati Mibuchi dan Hayama yang tertegun berjamaah. "Titip vanilla milkshake-nya sebentar ya, Momoi-san."
"Ah?" sang gadis tersadar. Rasa senang menjalar. Antara kepercayaan Kuroko padanya dan keberhasilan misi (baca : hasutan) Aomine pada sang baby blue, ia senang tak terkira. "Un!"
•
•
╯﹏╰
•
•
Ketemu. Hampir saja ia menghilangkan novel yang sama sekali belum ia jamah. Akashi membelikannya minggu lalu, tepatnya waktu Kuroko tak sengaja bilang dengan iseng kalau ia mengincar satu judul novel pada Momoi dan Akashi juga tak sengaja mendengarnya. Ia tersenyum, Akashi memang peka dalam beberapa hal.
Kuroko duduk di bangkunya, menumpukan kepala di pangkuan tangannya yang terlipat manis di meja, menghadapkan pandangan ke jendela. Teringat sang Emperor, teringat pula masalah beberapa hari lalu. Menjauh seperti ini—sudah benarkah keputusannya? Akashi sama kacaunya seperti Kuroko, bukti nyata kalau entitas tampan itu sama bingung dengannya. Tapi kalau melihat kesalahan—well, itu tidak dapat dikatakan kesalahan, sebenarnya. Akashi bisa saja mengubah orientasi seksualnya, itu normal. Namun—bagaimana dengan dirinya sendiri? Masalahnya Kuroko sudah kecanduan Akashi dalam beberapa waktu, ia belum bisa rela kalau harus secepat ini. Mungkin marah memang bukan hal baik, namun Kuroko perlu jarak untuk menerima.
"Dengan ini, Kontes Gravure Girl SMA Teiko—DIMULAI!"
Terdengar suara riuh tepuk tangan dan sorakan para penonton yang tertangkap jangkauan mikrofon yang terhubung dengan speaker satu sekolah, menyadarkan Kuroko bahwa ia harus segera bergerak. Kalau tak ingin terkontaminasi banyak hal, ia harus beranjak—bukannya makin membenamkan wajah pada pangkuan tangannya.
Ckrek.
Kuroko terbelalak sebentar, ada yang masuk ke kelasnya. Namun ia tak ingin jauh berpikir, mungkin orang itu ingin menyendiri—sepertinya. Tidak apa. Asal tidak mengganggunya, Kuroko juga tak akan berisik. Lagipula mungkin di bawah sana juga masih banyak kerumunan maniak, salah-salah bisa ia yang kena tangkap di jalan.
Terdengar suara kuncian pintu. Baiklah, ia patut resah. Namun ingat kata ibunya, tidak baik suudzon pada orang. Mungkin ia benar-benar tidak ingin diganggu, makanya mengunci pintu.
Tapi memangnya siapa yang punya kunci pintu kelas selain anggota OSIS dan penjaga sekolah?
"Tetsuya."
Oh, tidak. Ia kenal panggilan seduktif itu. Pura-pura tidak dengar, Tetsuya! Pura-pura tidak dengar!
"Kita harus bicara sekali lagi. Lihat sini."
Mati. Kenapa harus dia yang datang?! Kuroko membatu dengan posisinya meski kesemutan sudah melanda tangan dan kakinya.
"Atau harus aku yang membuatmu berbalik?"
Peduli amat. Akashi tidak sekasar itu, Kuroko tahu betul sifatnya yang—
BRAK
Kuroko melotot, tersudut juga.
Sial.
Ia salah sangka.
"Ini hukuman pertama kalau mengacuhkanku." Kuroko menutup mulut dengan punggung tangan. Manik biru bertubrukan dengan netra merah. "Setidaknya dengarkan dulu kalau orang mau bicara."
Si baby blue berpaling, tak ingin tenggelam lagi. Suara sorakan yang bising kembali bergaung lewat pengeras suara. "Aku tidak dengar barusan."
"Mulai belajar berbohong, eh?"
"Pergilah, Akashi-kun. Aku sedang tidak ingin diganggu."
"Jadi aku sudah masuk hitungan pengganggu?"
"Iya."
Akashi meringis sebelum melompat, menumpukan satu kaki di atas meja sementara Kuroko sudah hampir terjungkal karena merapat dengan ekstrim ke sandaran bangkunya. Ia terbelalak lagi, sisi liar Akashi yang ini—jarang sekali ia lihat.
"Setidaknya kau harus tahu apa alasanku kembali padamu setelah semua kesalahpahaman ini, Tetsuya."
Adegan tatap menaatap kembali terjadi. Kuroko bisa menangkap banyak rasa di mata ruby itu, ia mengerti. Namun untuk saat ini—biarkan ia untuk tak peduli dulu. Biarkan ia keluar dari tekanan sang Emperor dan berpikir ulang untuk menjalani harinya tanpa Akashi.
Inginnya sih, begitu.
Sebelum Akashi merengkuhnya.
"Lepas, Akashi-k—"
"Aku mencintai Tetsuya." bisiknya tepat di telinga si pemuda. "Selalu seperti itu tiap waktunya."
"Aku tidak mau jadi pelampiasan."
"Demi Tuhan, pelampiasan apanya, Tetsuya? Kau tahu siapa canduku satu-satunya."
"Akashi-kun suka Mai-san."
"Siapa yang berkata seperti itu, coba? Tetsuya sendiri, kan?"
"Tapi yang Aomine-kun katakan benar-benar terbukti. Akashi-kun punya foto gadis seksi."
"Daiki?" Akashi mengernyit di tengah pelukannya. "Aku sudah bilang itu milik Kotaro."
"Lalu dengan penyetujuan Mai-san untuk datang ke Teiko dan kebutuhan Akashi-kun padanya, itu juga benar, kan?"
"Benar." Akashi mengeratkan pelukan, toh Kuroko tak mengelak, kan? "Kepala sekolah memintaku untuk menyetujuinya. Dan aku butuh Horikita Mai untuk jadi juri disini."
"—juri?"
Kuroko pikir jawabannya menyebalkan. Bikin kesal sampai ia mampu membanting Akashi. Diam-diam sang Emperor tersenyum geli, sudah jelas uke manisnya itu salah paham.
"Memangnya apalagi yang kubutuhkan dari perempuan sepertinya, Tetsuya?" sengaja, Akashi mendekatkan bibirnya ke telinga Kuroko sebelum berbisik seduktif. "Tetsuya sudah menutup semua hasratku."
Cukup. Kuroko malu maksimal sekarang. Kesalahpahaman dan desahan Akashi sudah cukup kuat untuk membuat wajahnya memerah sampai ke telinga. Ia membenamkan wajah di perpotongan pundak sang pria crimson, sumpah malu sekali rasanya sudah marah-marah tidak jelas. Sampai kabur segala lagi.
Akashi tertawa kecil saat itu.
"Maafkan aku," tangannya mengelus surai biru sang pemuda. Ah, rindu rasanya. Sudah berapa hari terlewat tanpa sentuhan seperti ini? "Kemarin aku ikut-ikutan mengusirmu karena terbawa emosi. Maaf, Tetsuya."
Kuroko diam, mendengarkan.
"Aku kacau kalau Tetsuya tak ada. Sungguh, aku butuh Tetsuya." ujarnya jujur. "Maukah Tetsuya pulang kerumahku? Rumah kita."
Kami-sama, bolehkah Kuroko meleleh sekarang? Tangannya terangkat, membalas pelukan. Akashi memperdalam senyuman.
"Kuanggap jawabannya 'ya'." sang kaisar melepas pelukan sebelum mengecup dahi Kuroko, lama. Ia beranjak menempelkan kening mereka sambil kembali berbisik. "Ingatlah kalau aku selalu mencintai Tetsuya yang seperti ini."
Senyuman pertama terulas tipis di wajah tirus sang baby blue. Lega rasanya.
"Aku tahu, maafkan aku juga, Akashi-kun." ia menghela napas pelan sebelum terpejam. "Dan terimakasih—untuk perasaannya."
( ˘ ³˘)
"Sialan! Kenapa Mai-chan tidak membuka mantelnya sedikitpun?!"
"Dasar serakah. Apa matamu tidak perih setelah melihat banyaknya gadis gravure disana, nanodayo?"
"Tau nih, Aominecchi."
"Segini sih belum apa-apa, tau! Coba kalau Mai-chan sudah turun ke podium—"
"Mine-chin mengerikan nee~"
"Peduli amat. Memangnya kapan lagi Teiko mengadakan kontes seperti ini, coba?"
"Ini 'kan gara-gara kepala sekolahnya diganti sementara saja makanya ada acara sesat seperti ini."
"Diam kau, Satsuki. Tahu apa kau soal hasrat lelaki dewasa?"
"Tetsu-kun tidak begitu, kok."
"Memangnya Tetsu straight?"
Hening.
"Ngomong-ngomong, Kurokocchi tidak kesini ya?"
"Katanya mau pulang. Paling-paling dia menginap lagi di rumahku."
"Coba hubungi ponselnya, Dai-chan! Perasaanku tidak enak!"
"Tidak aktif, Momocchi. 'Kan sedang ngambek sama Akashicchi, jadi hapenya dimatikan."
"Tapi apa kalian tidak curiga? Akashi juga tidak ada disini, nanodayo. Bukannya aku peduli pada mereka, sih."
"Hee?"
"Memangnya Aka-chin doyan acara seperti ini ya?"
"Tidak mungkin sih, ssu. Tapi bisa saja efek galau membuat—"
"Oi, oi, diam dulu." Aomine menoleh horor, mendadak mulas mendera saat melihat layar ponsel. "Akashi menelponku."
Momoi, Kise dan Murasakibara melotot massal sementara Murasakibara masih cuek makan keripik. Aomine mulai tremor, jangan-jangan setan gunting itu mau balas dendam! Hanya kalimat itu yang terbersit di benaknya.
'Angkat, angkat! Di-loudspeaker juga!' Kise berisyarat tanpa suara, sementara Momoi mengangguk mengamini. Midorima sibuk menahan kacamatanya, takut ada badai, batinnya.
"Y-yo." sapa Aomine, agak gugup.
'Lama sekali, Daiki. Sedang di aula, ya?'
"Ah? A-ahaha, ya. Tumben kau menelponku terus, Akashi." Aomine tertawa garing.
'Ada sesuatu yang perlu kubicarakan. Aku menginginkan alamat tempat Tetsuya menginap.'
"Eh?" sang pria bermata navy mendongak, meminta penjelasan pada kawannya yang lain. "Mengapa harus aku?" jawabnya agak songong.
'Well, kau punya Satsuki untuk membantumu. Aku hanya menginginkan infonya.' jeda di seberang. 'Sebab siapapun yang menyembunyikan Tetsuya harus menerima hukuman karena telah membuatku kelimpungan.'
KRAKK—
"Kyaa! Midorin, kacamatamu!"
'Shintarou juga ada?' kekehan berat terdengar. 'Kau bisa sampaikan itu padanya juga, Daiki.'
"O-oi, Akashi! Kau ini—"
'Aku tak menerima penolakan, Daiki.' duh, rasanya ada parade bedug ya disini? Aomine ngos-ngosan dalam senyap. 'Lekas cari infonya segera dan aku akan menyelesaikannya dengan caraku.'
Sambungan diputus sepihak, beberapa entitas sudah berwujud tak karuan. Matilah mereka. Kalau sampai Akashi tahu, bisa dipastikan umur mereka berkurang untuk beberapa belas tahun kedepan, atau mungkin tak bersisa sama sekali.
•
•
•
Kuroko : Anoo—Nami-san tidak bisa menyapa readers untuk hari ini. Sebagai gantinya, ia memberikan beberapa lembar surat yang akan dibacakan olehku dan Akashi-kun secara bergantian.
Akashi : Berikan separuhnya padaku, Tetsuya.
Kuroko : Hai' (ngasihin amplop)
Momoi : Nee Tetsu-kun, barusan aku sudah izin sama Nami-chan untuk ikut membaca surat!
Kise : Aku juga, Kurokocchi! Sudah dikasih izin sama Namicchi!
Midorima : (pake kacamata baru) bukannya aku mau, tapi dia sendiri yang memintaku, nanodayo.
Murasakibara : nee~ aku dikasih yang singkat saja, Kuro-chin.
Kuroko : Baiklah. Akashi-kun, tolong bagi suratnya juga, ya.
Aomine : Terus aku tidak diajak, gitu?!
Kise : Sumpah, deh. Di chap ini Aominecchi lebay sekali, ssu.
Momoi : Aku setuju dengan Ki-chan.
Aomine : Oi! Aku ini dituntut author! Kalau tid—
Murasakibara : Sudah, dong~ masih banyak yang harus dibahas sedangkan chap ini sudah 7k+ words tau~
Kuroko : Baiklah, dimulai dariku, ya? Pertama-tama Nami-san mengatakan—
Aomine : Oi, Tetsu! Masa' aku tidak dibagi?! Kau ini pilih—
Ckris.
Akashi : Sekali lagi kau memotong ucapan Tetsuya—(ngasah gunting, gatau deh.) kupastikan kau tidak akan bisa protes lagi, Daiki.
Kuroko : Jangan begitu, Akashi-kun. Kasihan Aomine-kun.
Akashi : Jadi Tetsuya mau ikut-ikutan?
Kuroko : Sekarang Akashi-kun melarangku, ya?
Akashi : Lalu Tetsuya mau membantah?
Kuroko : Kalau iya kenapa?
Midorima : Oi, kalian. Durasi, durasi! Kalian lihat—
AkaKuro : (menoleh bersamaan) JANGAN. IKUT. CAMPUR.
Murasakibara : Kalau dikasih ini, Kuro-chin mau lanjut baca? (kasih vanilla milkshake, ekspresi Kuroko bayangin sendiri)
Kuroko : Aku baca duluan, trimakasih, Murasakibara-kun. (minum sedikit, lanjut baca) Nami-san bilang terimakasih banyak untuk para reviewers, followers, favers dan silent reader diluar sana. Dia benar-benar tidak menyangka kalau fic ini banyak peminatnya. Dan juga—apa bagianku terdengar seperti bagian penutup?
Akashi : Makanya aku dulu yang baca, Tetsuya. Minggir. (nyerobot, ngerangkul Kuroko—linglung ih Akashi. Nyuruh minggir malah ngerangkul) respon kalian bagus, katanya. Tema fic ini diambil dari kisah nyata teman Nami. Pacarnya ketahuan menyimpan banyak foto tidak senonoh dan mereka marahan. Setengah dari cerita memang hasil rekayasa, termasuk kontes gravure, acara kabur-kaburan dan menginapnya. Tapi resolusinya sengaja tidak ia ubah, dia tak menulis alasannya.
Aomine : Pacar temannya atau pacar author sendiri?
Kise : Pacar Namicchi anak polos, Aominecchi. Sama seperti Kurokocchi (mengacak rambut Kuroko)
Aomine : Cih. Polosnya Tetsu itu ambigu, Kise.
Momoi : Dai-chan pergi sana! Tidak ikut baca malah membuang-buang durasi saja! (lempar script) yosh, aku yang lanjut ya, Akashi-kun! Nee~ aku baca balasan review untuk Riven Eve Akashi! Jangaaaan, sebelum misi kami berhasil tolong jangan habisi Nami-chan! Aku belum menikah sama Tetsu-kun, pokoknya jangan dulu membu—uphh!
Aomine : Berisik kau. Lanjut cepat, Midorima!
Midorima : Baiklah. Kuingatkan sekali lagi ini bukan karena aku ingin, nanodayo. Tapi—
Aomine : Cepat baca, bodoh! Kau mau dirajam Akashi, apa?!
Midorima : (merinding sebentar) a-aku baca balasan untuk RivaiRen. Bukan mau anu, tapi Kagami itu memang baperan, nanodayo. Kalau masalah anu dan anu itu urusannya Kuroko dan Akashi. karena sebelum misi kami berhasil, kami masih tahan diri untuk anu. Jadi—
Murasakibara : Berhenti pakai kata anu-anu, Mido-chin. Itu menggelikan nee~ untuk riko dan Ale Genoveva ini sudah lanjut. Chapter depan giliranku katanya, jadi tetap pantau aksi kami ya~
Kise : Lalu untuk Cupicakeu, ssu! Ahahaha~ jangan pedulikan Kagamicchi, dia sudah biasa jadi seme maso *eh. Tapi yang selanjutnya tidak akan, ssu! Kami akan berusaha biar Akashicchi pisah sama Kurokocchi! Minimal pisah ranjang, deh #nggakgitu
Momoi : Un! Dan Nami-chan juga minta maaf untuk panjangnya chapter ini. Dia sampai tidak edit ulang haha~ Katanya kalau kalian capek bacanya, chapter depan Nami-chan akan lebih menyingkatnya kok~
Aomine : Aku paling banyak muncul di chap ini (senyum bangga)
Kuroko : Aomine-kun kan tersangkanya disini.
Aomine : Kau membuatku terdengar seperti orang jahat, Tetsu. Ngomong-ngomong, si authornya kemana? Si Bakagami juga tidak muncul.
Midorima : Dia mau lanjut menulis fic Erase dulu katanya. Dan untuk Kagami, dia kena bidikan Akashi dibelakang layar.
Kise : Oh, bakal ada alur anu ya disana?
Kuroko : Anu apa, Kise-kun?
Akashi : Tetsuya baru saja bertanya apa itu anu?
Kuroko : Iya, Akashi-kun.
Akashi : Maunya teori atau langsung praktek?
Kuroko : Yang lebih mudah dimengerti saja, Akashi-kun.
Akashi : (seringai) Berarti praktek, ya.
Momoi : Ya Tuhan, tolong berhenti, Akashi-kun! Tetsu-kun masih—tuh, kan! Makanya Ki-chan jangan ikutan!
Kise : Hee? Kenapa aku, Momocchi? Maksudku tadi itu alur mundur!
Kuroko : Memangnya anu itu seperti apa bentuknya? Padat, cair, gas, atau senyawa, Akashi-kun?
Momoi : Tuh, kan! Tetsu-kun tidak bisa berhenti jadinya! (mulai panik)
Midorima : Murasakibara! Panggil Kagami!
Aomine : Mau apa memanggil dia segala?
Midorima : Pilih mana, Kuroko yang polos atau Kagami yang polos?
Aomine : Itu ambigu, bodoh! Tapi kalau maksudmu mau mengorbankan si Bakagami, aku akan melarikan Tetsu selagi dia diserang Akashi.
Momoi : Aku ikut, Dai-chan!
Kuroko : Ah, ya. Lebih enak mana, Akashi-kun? Anu atau susu kocok vanilla?
(Kuroko belum nyerah, suasana sempat hening sebelum—)
Akashi : Tentu saja sesuatu yang disebut ANU itu, Tetsuya. Makanya sini kuberitahu.
Murasakibara : Baiklah, baiklah. Aku akan cari Kagami nee~
Momoi : Kyaa—! Tetsu-kun dibawa lari Akashi-kun! Dai-chan, Midorin, Mukkun, cepat kejar! Ki-chan, tutup dulu kolom cuap-cuapnya, CEPAT! (langsung lari dengan kecepatan ganda)
Kise : Aih, tunggu dulu! Hei, kalian—! Aaargh! Kalau ada apa-apa pasti aku yg tidak diajak! (udah mau nangis) akhir kata, hontou ni arigatou, minnacchi! Mungkin mulai chap depan kami akan gantian baca balasan review para guestnya, ssu. Dibawah sini ada omake, tetap pantau kami ya, ssu! Jaa—! (ikutan lari)
•
•
OMAKE
"Reo-nee, aku tahu Kuroko-chan bakal memaafkanku. Tapi bagaimana dengan Akashi?"
"Hm? Dia tidak akan marah, kok. Kalau sudah baikan dengan Tet-chan pasti dia jadi pemaaf soalnya moodnya sedang bagus sekali saat itu." sahut Mibuchi cuek, batinnya berbunga-bunga karena bisa dipastikan koleksinya aman—AkaKuro will be the winner.
"Begitu, ya..." Hayama tertunduk. "Apa sebaiknya aku minta maaf juga pada Akashi, Reo-nee?"
"Well, itu keputusan yang baik. Kalau begitu kau—"
Ucapannya terhenti. Mibuchi berjengit ketika Hayama memberi tatapan horror sambil menunjukkan display ponselnya. Tertera nama 'Akashi' disana.
"Angkat, dong. Katanya mau minta maaf." Mibuchi menyemangati. Hayama hanya meneguk ludah sebelum menekan tombol dial.
"Y-ya, Akashi?" ia tertawa aneh. "Tumben sekali k—"
'Langsung pada intinya saja, Kotaro.' suara di seberang terdengar berat, Hayama tahu sosok itu sedang tersenyum. 'File-mu membuat Tetsuya galau.'
"A-ampun, Akashi—! Sumpah, makanya kemarin aku datang bersama—"
'Well, aku akan mendengar kelanjutannya di kosanmu dan Reo nanti malam.' si penelpon terkekeh, keringat dingin melintas dengan tidak sopannya di sekujur tubuh sang pria manis. 'Pastikan kau benar-benar berada disana pukul 7.'
Sambungan diputus dari seberang. Bersamaan dengan itu, ponsel sang Hayama jatuh dengan dramatis. Mibuchi salah jalur saat mengoles lipgloss-nya, kaget mendapati deadface sang adik-adikan.
"Reo-nee, kumohon—" bisiknya pelan, Mibuchi gugup. "Pertemukan aku dengan Mai-chan sebelum Akashi datang jam 7 nanti."
•
•
