—(calon) Tersangka Ketiga : Murasakibara Atsushi—

"Wuah! Dahimu berlubang, Aho!"

"Aominecchi hebat, ssu! Masih bisa hidup setelah bidikan seperti itu!"

"Berisik, bodoh! Aku hampir berhasil kalau saja Satsuki tidak membocorkannya!"

"Mau bagaimana lagi, Dai-chan. Kalau aku tidak jujur pada Akashi-kun bisa-bisa kita semua dalam bahaya ne~"

"Sialan! Kau sengaja kan meng—"

"Sudah kubilang kalau kau dan Kagami adalah pasukan lini depan, nanodayo. Harus siap mati dengan cara apapun. Berikutnya kau, Murasakibara. Bersiaplah."

"Kok aku, sih? Aku tak ingin melukai Kuro-chin~"

"Ini untuknya juga, bodoh! Pikirkan cara agar tidak ada korban lain seperti Aomine, jalankan misimu dengan baik!"

"Nee~ nee~ baiklah~"

"Oke! Sudah diputuskan, ya!" sang gadis bertubuh sintal menjulurkan tangan. "Selamatkan kepolosan Kuroko Tetsuya-kun!"

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi

This plot is purely mine.

Keistimewaan itulah yang tidak Kuroko miliki.

"Aku paling suka gadis yang bisa memasak~" ucapnya tiba-tiba. "Aka-chin juga pernah berkata seperti itu padaku~"

Kuroko menoleh, berhenti menyeruput minuman yang membuatnya lupa diri sesaat. Pusat atensi kini membuat dirinya terpaksa mendongak untuk memperhatikan. Pegal, tapi ini penting.

"Tahu Nagisa dari kelas memasak, kan? Aka-chin sering memujinya saat membuatkan sup tofu untuk Aka-chin~" Murasakibara melirik malas. "Apa Kuro-chin bisa memasak?"

"Uhm, tidak, Murasakibara-kun."

"Nee~ sayang sekali~" pria tinggi itu mendesah malas. "Muro-chin saja bisa masak, kok. Minta ajari saja pada Kagami~"

Kuroko tertegun. Dengan pemuda cantik itu ia memang sering mengaku kalah, well. Tapi untuk berguru pada Kagami? Terimakasih banyak. Ia masih kasihan pada partnernya itu. Lagipula—apa katanya? Akashi dibuatkan sup tofu oleh seorang gadis? Sial, mendadak hatinya ketar ketir bagai nyala lampu warung pinggir jalan. Sudah diterima, dapat pujian lagi. Seandainya itu Kuroko, dia tentu senang sekali.

"Kalau dirumah yang memasak siapa?"

"Ibu, Nenek juga—"

"Maksudku dirumah kalian, apartmentnya Aka-chin~"

"Ah, maaf." Kuroko hilang fokus, butuh minum sepertinya. "Akashi-kun yang memasak, Murasakibara-kun."

"Hee, sayang sekali~" Murasakibara berjalan duluan, sambil mengapit stik salut coklat dengan cuek di bibirnya. "Kalau aku jelas akan kecewa sekali punya pacar yang tidak bisa memasak, apalagi gagal membuat dessert~"

Kuroko diam. Ia maklum sekali Akashi tidak suka makanan manis—selain transferan dari mulutnya. Tapi kalau membuat sup tofu yang begitu sederhana saja Kuroko gagal, duh—apa pantas dirinya bersama si Emperor yang sempurna tanpa celah? Dalam sepersekian detik tiba-tiba hatinya galau luar biasa.

"Soalnya imut saja tidak cukup untuk langgeng dalam berumah tangga, Kuro-chin~" meski sedikit heran tentang banyaknya porsi bicara Murasakibara, Kuroko tetap diam mendengarkan. "Kalau Kuro-chin bisa membuat makanan sederhana seperti sup tofu mungkin Aka-chin tidak akan menerima makanan dari orang lain~"

Ah, benar juga. Pria tidak akan jajan diluar kalau dirumah sudah tercukupi, kan?

Aih, sumpah. Sepertinya Kuroko sungguh hilang kepolosan karena seorang Akashi Seijuurou.

"Kalau begitu aku duluan ya~" sang pria lavender menoleh, menangkap wajah si manis yang agak turun moodnya. "Kagami bisa jadi guru yang baik kok, Kuro-chin~ asal jangan ketahuan saja. Jaa~"

Kuroko membalas lambaian tangan Murasakibara ketika mereka berpisah jalan. Well, obrolan pagi ini sudah membuat tekad Kuroko muncul. Terimakasih pada Murasakibara yang telah memberinya ilham di waktu seawal ini, Kuroko sadar akan satu hal.

Ia harus mampir ke konbini sepulang sekolah nanti.

(๑و•̀ω•́)و

"Yosh."

Kuroko menepuk-nepuk tangannya kala selesai memakai apron. Ia mengabsen satu persatu bahan eksperimen yang ia dapat dari internet. Resep sup tofu terbaik sudah ia ketahui, dan ia bisa menyimpulkan kalau memasak sup tofu bukanlah hal sulit apalagi cuma ada beberapa bahan yang tinggal dipotong-dicampur-ditumis.

Ia melirik bahan utama, tofu. Di resep mengatakan kalau ia harus membungkusnya dulu dengan lap dan menekan-nekannya supaya tofunya agak kering. Ia berbalik, mencari lap tipis. Tapi kalau memakai lap tangan biasa rasanya—ugh, memangnya tidak jorok? Akashi itu resik, mana mau dia makan makanan yang dibuat asal-asalan?

Ah, benar. Ia cukup gunakan tissu. Dengan riang ia berlari ke sudut dapur, menarik beberapa lembar tissu lalu mulai membalut beberapa tofu basah. Ia mengecek resepnya lagi. Setelah dikeringkan langsung dipotong dadu, katanya. Gampang, kok, pikirnya. Percaya diri, ia mengambil pisau dan memutarnya di udara layaknya koki pro. Wow, Kuroko sendiri tak percaya bisa melakukan atraksi sedemikian ekstrim. Mungkin inilah yang dinamakan semangat calon waifu yang belajar masakan favorit calon husbandonya. Oke, abaikan ini.

"Panaskan minyak wijen, lalu—" nah, bingung lagi. Kaldunya bagaimana? Disuruhnya satu liter kaldu. Kaldu ayam, sapi, ikan, tiram, atau udang? Aih, Akashi juga jago masak dan ia sering membuat sup tofu sendiri. Rasanya enak, Kuroko tahu itu. Apa bahannya sama seperti yang ia gunakan?

Ah, masa bodoh. Yang penting enak, kan?

Kuroko tersenyum tipis. Ia mulai menumis tofu yang telah ia potong dadu dengan gaya chef professional. Ia mengambil saringan kemudian mulai meniriskan tofu. Setelah merebus kaldu, ia memasukkan tofu yang telah ditiriskan sementara untuk misonya ia cairkan dengan beberapa sendok kaldu sebelum ikut dimasukan ke kuah sup. Terakhir, irisan bayam dan bawang daun menjadi pemanis untuk sup tofunya. Tangannya menggapai sendok sup, mengaduk-aduk.

Wangi. Enak. Hatinya girang saat membayangkan reaksi Akashi jika mendapatinya memasak untuknya. Senyuman makin kentara kala sebuah sentuhan ringan dirasakan di pinggangnya, sepasang tangan kokoh telah melingkar disana. Kuroko tak menoleh, ia tahu siapa itu.

"Tetsuya masak apa?" tanyanya sambil menumpukan dagu di pundak sang baby blue. "Wanginya familiar sekali. Membuatku lapar."

"Ini sup tofu, Akashi-kun." Kuroko menjawab, bangga. "Aku sedang belajar."

"Sup tofu?" Akashi melongokkan kepala, ia tersenyum setelahnya. "Boleh kucicipi masakan pertama calon istriku ini?"

Kuroko tertawa kecil. "Silahkan."

Akashi mengambil sendok tanpa melepas rangkulan. Ia menyendok sedikit kuah sup kemudian meniupnya pelan. Yakin uapnya hilang, ia mulai menyeruput. Sejenak manik ruby-nya melebar, lalu melembut saat tersenyum.

"Bagaimana, Akashi-kun?" Kuroko memastikan. Akashi tak langsung menjawab, ia mengecup pipi sang pemilik mata bening itu lebih dulu.

"Well, aku tak menyangka calon istriku bisa memasak makanan favoritku dalam sekali coba." ia terkekeh. "Setiap hari aku ingin dimasakan sup tofu oleh Tetsuya."

Kuroko menghela napas, lega. Usahanya berjalan dengan super mulus, ia tahu ia bisa.

"Dengan senang hati, Akashi-kun." balasnya riang.

"Lalu hidangan penutupnya bagaimana?"

"Eh?"

"Tak ada cuci mulutnya, Tetsuya?"

"Ah, anoo—" Kuroko bingung. "Aku belum sempat membuatnya, Akashi-kun. Lagipula Akashi-kun tidak begitu suka makanan manis, kan?"

Akashi tersenyum penuh arti.

"Pengecualian untuk satu hal." sang Emperor menyeringai. Jemarinya sudah memegang dagu Kuroko, menghadapkan wajahnya untuk bertatapan langsung padanya. "Bagaimana kalau kuambil sendiri?"

"Eh?"

"Tetsuya tahu—" jeda sebelum jarak mereka menipis. "Tetsuya-lah dessertku."

Kuroko beranjak memejamkan mata, tahu kelanjutan pergerakan Akashi.

"Tetsuya..." sang kaisar kembali memanggil, seduktif. "Tetsuya—"

.

.

"Tetsuya..."

.

.

"—ya..."

.

.

"—suya!"

.

.

"Tetsuya!"

Bagus, Kuroko terperanjat kini.

Ia terbelalak mendapati Akashi yang berjongkok dengan wajah cemas dihadapannya. Tak puas, Kuroko celingukan kemudian beringsut berdiri. Akashi ikut bangkit dan menangkap wajah terkejut si baby blue yang tersirat dibalik poker face-nya. Kekacauan di meja tak sepenuhnya membuat Akashi paham, ia juga perlu penjelasan.

"Tetsuya sebenarnya sedang apa, sih?" tanyanya tak tertahan. Kuroko hanya kelimpungan, sesuatu dicari sungguh-sungguh.

"Tetsuya?" ulangnya. Sekali lagi tak menjawab, akan kuhukum dia pakai teknik BDSM, pikirnya.

"Akashi-kun menghabiskan sup tofunya atau bagaimana?" Kuroko menunggingkan panci kaca, tidak tumpah, tuh. "Ini kosong."

"Sup tofu?" Akashi mengernyit. "Tetsuya mau membuat sup tofu?"

"Bukan mau, tapi sudah, Akashi-kun."

"Sudah?" Akashi gagal paham, sumpah. "Memang kapan Tetsuya membuatnya, coba? Sementara pancinya masih kering bahan-bahannya masih utuh begini."

"Utuh bagaimana, Akashi-kun? Ini 'kan—"

Oh, sial.

"Tetsuya bermimpi sepertinya." tangan lembut Akashi mampir di kening Kuroko, meraba-raba. "Tuh 'kan, Tetsuya demam juga. Tidur, yuk?"

"Akashi-kun modus." Kuroko menepis tangan sang Emperor. "Aku mau belajar memasak lagi."

Tak disangka, Akashi tertawa kecil.

"Bukankah spesialisasi Tetsuya adalah telur rebus?"

"Akashi-kun menyebalkan."

"Tapi aku benar, bukan?"

"Kali ini tidak." ia beranjak menggamit apron kotak-kotak merah. Cih, bahkan ia bermimpi memakai apron juga, eh? "Aku akan belajar sampai mahir."

Apa katanya barusan? Akashi tertawa geli dalam hati. Kuroko bagus dalam bertekad namun kadang hasil dari tekad dan usahanya tidak setimpal sama sekali. Tangan Akashi terangkat, menggapai pinggang Kuroko.

"Mengikat apron saja asal-asalan." ia tak dapat menahan kekehan saat membuat simpul dengan tali apron yang sempat salah ikat. "Yang begini mau belajar memasak? Jangan melawak, Tetsuya."

Wajah Kuroko memerah saat Akashi mengecup pipinya sambil ngeloyor terkekeh. Pipinya menggembung, manyun dengan wajah datar. Sayang sekali wajah entitas biru itu bukan mainan lego atau bongkar pasang lainnya, kalau iya mungkin Akashi sudah mencopot bagian bibirnya untuk dikoleksi secara privat.

"Akashi-kun mengganggu. Pergi sana." katanya ketus. Masih cemberut.

"Ini 'kan rumahku, Tetsuya."

"Ah, iya. Aku yang pergi kalau begitu." Kuroko beranjak melepas apron. Akashi panik seketika.

"Tetsuya ini kenapa, sih? Ini rumahmu juga—rumah kita."

"Ini 'kan apartment orang, kita cuma menyewa, Akashi-kun."

"Bagaimana kalau kubeli apartmentnya dan kujadikan mas kawin untuk Tetsuya?"

"Tolong hentikan itu, Akashi-kun."

"Katanya mau belajar masak, Tetsuya yang membuat semuanya jadi rumit."

"Makanya Akashi-kun cukup diam saja. Aku jadi tidak semangat."

"Tetsuya memerintahku?"

"Iya."

"Mau dihukum bagian depan atau belakang?"

"Akashi-kun, tolong hentikan."

"Cium dulu."

"Akashi-kun, tolong."

Dengan wajah datarnya, Kuroko kembali pouting. Akashi terkekeh geli, kalau belum diisengi seperti itu tentu saja Tetsuya-nya tak mau kalah sama sekali. Setelah membantu menyimpul tali apronnya sambil diselingi modus, Akashi ikut mengambil apron motif garis biru. Kuroko mengernyit.

"Aku yang mau belajar memasak, Akashi-kun."

"Aku tahu. Lalu?"

"Kenapa Akashi-kun juga pakai apron?"

"Suami yang baik harus selalu membimbing istrinya, Tetsuya."

"Maaf, aku gagal paham, Akashi-kun."

"Tetsuya kelewatan bebalnya."

Kuroko mendengus.

"Lebih baik Akashi-kun di kamar saja, istirahat. Aku benar-benar ingin belajar."

"Aku juga sungguhan ingin mengajar, Tetsuya."

"Tapi aku bukan muridmu, Akashi-kun."

"Calon istri, iya."

Sumpah. Kalau pembunuhan tidak kena hukum negara mungkin Akashi sudah Kuroko sunat pakai pisau bistik. Well, itu bukan tindakan kriminal sebenarnya. Cuma tetap saja! Kalau bisa bilang 'hus hus sana' dengan enteng mungkin Kuroko juga sudah melakukannya sedari tadi. Saat ini—dalam realita, Akashi benar-benar pengacau.

"Tetsuya masih pakai kaus?"

Kuroko menoleh. "Memangnya kenapa, Akashi-kun."

"Lebih seksi kalau setelah pakai apron, Tetsuya tidak memakai apapun. Mengerti, kan?"

Tuh, kan.

Mencoba sabar, Kuroko mengangkat sudip.

"Coba bilang sekali lagi, Akashi-kun."

"Sekarang serius, Tetsuya. Siapkan bahan-bahannya dulu. Tofu, ikan tenggiri, tepung sagu, putih telur, irisan seledri, ga—"

"Akashi-kun, pelan-pelan."

"Ini sudah pelan-pelan, Tetsuya. Memangnya sakit, ya?"

"Sepertinya aku harus cari guru baru."

"Oke, oke. Sudah dicatat? Sekarang untuk kuahnya. Minyak wijen, satu liter kaldu, potongan kembang tahu—"

"Tolong pelan-pelan, Akashi-kun."

"Tetsuya mengerti tidak apa arti ambigu? Stop membuatku terangsang, Tetsuya."

"Sebaiknya Akashi-kun ke kamar duluan, ya. Nanti aku akan menguncinya dari luar."

"Yang salah 'kan Tetsuya. Kenapa harus aku yang dikurung?"

"Sebenarnya Akashi-kun mau mengajariku atau tidak?"

"Tetsuya jangan banyak protes, bisa? Cukup perhatikan dulu caraku memasak."

"Bahan-bahannya saja belum ada."

Sumpah. Kuroko anak siapa, sih? Kalau ia adalah tofu mungkin Akashi sudah mencacahnya sampai lumat. Geram! Tapi jangan, deh. Kalaupun Kuroko adalah tofu maka Akashi akan mengolahnya menjadi sup favorit, biar bisa ia nikmati sepenuh hati.

"Kita pergi ke konbini dulu." si empunya surai merah melepas celemek. "Aku sedang tidak ingin jalan kaki. Tetsuya ikut. Kita pakai mobil."

"Hai'." Kuroko ikut melepas apronnya asal, lalu menggantungnya di belakang pintu bersama apron Akashi.

"Ah. Sekalian mampir ke apotik juga."

Si baby blue mengernyit. "Mau beli obat? Akashi-kun sakit apa?"

Tangannya beranjak menyentuh kening Akashi, sang Emperor hanya tersenyum sebelum menghentikan laju pergerakan tangan sang Empress.

"Bukan aku yang butuh obatnya." senyumnya bertransformasi, seringai disunggingkan. "Aku mau beli perangsang untuk Tetsuya nanti malam."

"Oh. Akashi-kun belum tahu teknik passing terbaruku, ya?"

Kuroko harus merelakan dirinya digandeng berputar-putar supermarket dan jadi pusat perhatian seisi gedung. Ia tak ingin mengangkat wajah, kelakuan Akashi membuatnya malu kuadrat. Sial, tahu begini tak ingin ia asal setuju saat Akashi mengajaknya. Insiden parkir mobil Lykan Hypersport merah menarik atensi para manusia yang kebetulan berada disana bisa dikatakan menjadi permulaan yang buruk. Akashi menambahkan cengangan mereka dengan perlakuan superprotektif pada Kuroko. Alasannya takut si baby blue dicoleki maniak, katanya. Kuroko sendiri sudah risih tak karuan, pasalnya ia sudah memakai hoodie dan masih saja ditatap lapar sepanjang jalan. Inisiatif Akashi memang bagus, sih. Ia juga tidak banyak menampik.

—tapi tidak sampai flirting di muka umum juga kali, Bang!

"Tetsuya..."

Kuroko cuek, ia memilah-milah kembang tahu lalu memasukannya asal ke trolly kemudian mendorongnya sampai Akashi harus mengekorinya lagi. Ia berhenti di rak daging segar lalu melihat catatannya. Fillet ikan tenggiri menjadi perhatian. Sigap, ia mengambil beberapa bungkus layaknya inspektor professional. Ia menggerutu dalam hati. Semua bentuk, warna, dan berat ikannya sama. Lalu apa yang ia pilih? Semuanya sama saja.

"Tetsuyaaa..."

Sial. Ia benar-benar tidak konsen. Akashi sudah menumpukan dagumya saat ini.

"Tetsuya—jawab sekali bisa, kan?"

"Akashi-kun bisa lihat, kan? Orang-orang menatap kita."

"Justru ini caranya agar mereka sadar kalau Tetsuya milikku."

"Aku bukan barang."

"Tapi punya, kan?"

"Terus saja, Akashi-kun. Menyingkirlah."

"Tidak. Tepat 10 meter di sampingmu ada om-om."

"Lantas?"

"Astaga. Peka sedikit, Tetsuya."

Entitas manis itu mendengus. Begini nih, kalau Akashi ikut belanja. Biasanya juga dia aman-aman saja kalau belanja bahan makanan sendirian—well, memang Akashi yang memasak pada akhirnya. Menyebalkan. Ia tidak suka jadi poros atensi khayalak.

"Nee~ nee~ Kuro-chin disini juga, nee~"

Ia menoleh, diikuti dengan lirikan sang Akashi yang menyipit kesal ditengah gelayutannya. Dua orang beda tinggi sedang berjalan bersisian dengan ekspresi kontras. Pria jangkung dan pemuda emo super anggun disampingnya menyapa mereka, Kuroko membalas dengan anggukan sopan.

"Kuroko-san. Sudah lama tidak bertemu, ya?" katanya memulai. "Pangling rasanya. Makin manis saja."

Mulai, deh. Bahkan uke seanggun Himuro Tatsuya juga memujinya.

"Kuro-chin benar-benar mau belajar masak, eh?" Murasakibara mengambil bungkusan berisi jamur kancing dari trolly Kuroko. Sang baby blue mengangguk. "Muro-chin juga hari ini mau membuat muffin blueberry untukku~"

"Beruntung sekali, Atsushi." Akashi tersenyum. Himuro tertawa kecil sambil mengibas-ngibas tangan di depan wajah, pose tante-tante rumpi.

"Aku tidak terlalu bisa memasak, sebenarnya." ujarnya merendah. "Adikku sempat mengajariku sedikit. Atsushi saja yang berlebihan memuji."

"Nee~ tapi masakan memang Muro-chin enak kok~"

Himuro terus berkelit saat Murasakibara memujinya. Well, Kuroko memang agak heran dengan porsi bicara pria lavender itu namun bukan itu yang jadi pikiran lebihnya.

Bangga sekali, ya. Dibanggakan pacar di depan teman-temannya.

Bahkan Akashi saja memujinya tadi.

Ugh, jadi iri.

"Aka-chin bisa mengajarimu kok, Kuro-chin~"

"Aku berpikir untuk mencari guru baru, Murasakibara-kun." tukas Kuroko cepat, terbangun dari lamunan.

"Memangnya kenapa, Kuroko-san?"

"Cara mengajar Akashi-kun tidak bisa dimengerti."

"Itu perasaan Tetsuya saja."

"Tidak. Memang seperti itu, Akashi-kun."

"Bagaimana jika meminta bantuan Taiga?" Himuro coba usul. "Dia sangat pintar masak. Well, meskipun caranya keras dan ia juga berisik."

"Tidak. Tidak perlu." tawa pemuda emo itu terhenti. "Aku bisa mengajari Tetsuya tanpa bantuannya."

"Yang sudah-sudah juga kan—"

"Kita pulang, Tetsuya."

"Akashi-kun tidak sopan. Himuro-san dan Murasakibara-kun belum selesai bicara."

"Tidak perlu sungkan, Kuroko-san. Kami juga akan belanja lagi."

Kuroko menoleh pada Himuro yang tersenyum kalem. Murasakibara membuang wajah, cuek.

"Kalau begitu kami permisi, Himuro-san, Murasakibara-kun."

Mereka mengangguk saat Kuroko sempat membungkuk sebelum ditarik Akashi. Sumpah, deh. Akashi menyebalkan sekali hari ini. Ia baru saja mendengar nama Kagami dan hanya karena itu saja sang Emperor sudah berlaku lebih protektif dari sebelumnya. Sumpah, sumpah! Untuk saat ini saja, Kuroko benci keposesifan Akashi.

"Potong dulu bahan-bahannya, Tetsuya. Potong dadu kalau bisa."

"..."

"Tetsuya tidur?"

"..."

"Kalau masih diam, kita lanjut pelajarannya di kamar."

"Akashi-kun menyebalkan."

Kuroko sudah cemberut lagi. Tangannya terus bergerak memainkan pisau yang mengiris-ngiris jamur dengan bentuk tak karuan. Akashi melirik, masih kesal toh.

"Tidak perlu berada satu ruangan bersama cahayamu itu. Menerima saat Tetsuya memiliki partner baperan sepertinya saja sudah membuatku kesal. Bagaimana lagi kalau Tetsuya berada satu dapur dengannya? Mual rasanya."

"Aku cuma memintanya mengajariku memasak, Akashi-kun."

"Apa bedanya dengan belajar bersamaku?"

"Akashi-kun mesum. Aku tidak bisa fokus kalau bersama Akashi-kun."

"Itu normal kalau kau belajar bersama pacarmu sendiri, Tetsuya."

"Makanya aku ingin guru yang lebih professional, Akashi-kun."

"Bagaimana dengan chef hotel bintang 5? Aku akan menyewanya kalau Tetsuya mau. Atau chef yang ada di TV?"

"Tolong berhenti, Akashi-kun."

Hening menyambangi. Suara benturan pisau dengan talenan terdengar abstrak, menusuk telinga. Namun Kuroko tak terusik, hatinya kesal sekali.

"Tetsuya, berhenti."

Bodo amat. Melarang-larang terus, lihat dong kalau dirinya sedang bete maksimal.

"Tetsuya—"

"Aku sedang memotong bahannya, Akashi-kun."

"STOP, TETSUYA!"

Akashi mencekal kedua tangan Kuroko, mengangkatnya ke atas sampai si baby blue mendesis pelan. Ia sudah cukup keki, sekarang apa lagi?

"Akashi-kun—"

"Kau mau bunuh diri atau bagaimana?! Jarimu teriris, Tetsuya!"

Pria bermata ruby itu panik, ia merobek lengan kemejanya kemudian dililitkan pada jari Kuroko yang masih belum tanggap keadaan. Mata birunya menoleh, tampak jarinya berdarah-darah dibalik perban dadakan dari Akashi. Teriris toh, ia mengangguk paham.

Eh, teriris?

"Aduh." gumamnya kecil. Akashi melotot.

"Ikut aku!"

Akashi memanggul Kuroko layaknya karung beras. Ia berlari ke ruang tengah lalu mendudukan si pemuda di sofa panjang. Kuroko hanya meringis ringan, beda dengan Akashi yang kelimpungan mencari kotak P3K. Sang kaisar harus rela kehilangan imej kalemnya saat ini, mengingat aksinya yang jumpalitan karena kelewat panik benar-benar menghancurkan semua wibawa yang ia punya.

"Sebentar lagi kita ke rumah sakit, aku akan menelpon ambulans!"

Kini ia melilit jari Kuroko menggunakan kassa bersih. Ia tak ingin menambahkan iodium atau alkohol, khawatir Kuroko meringis apalagi mendesah. Si baby blue sendiri hanya memandangi wajah gelisah sang pacar, bingung.

"Akashi-kun."

"Sekarang dimana ponselku?! Sial!"

"Akashi-kun."

"Sial, ponselku hilang! Tetsuya, dimana ponselku?!"

"Akashi-kun."

"Tetap diam disitu! Aku akan pakai telepon ru—"

Cukup. Kuroko keki dicueki. Ia bangkit untuk menarik lengan Akashi sampai si empunya tangan terjungkal manis di sampingnya. Ia melayangkan tatapan protes.

"Berhenti, Akashi-kun."

Manik aquamarine itu menancap, memaksa iris merah Akashi untuk fokus padanya. Sang Emperor sempat terkesiap sebelum menghela napas. Ia mengangkat tangan setelah berhasil mengumpulkan ketenangan, menepuk pipi si baby blue.

"Sebenarnya Tetsuya ini kenapa? Segitu inginnya belajar memasak." elusan lembut dilancarkan, Kuroko terpejam. "Tetsuya terlalu memaksakan diri. Memangnya aku pernah menuntut Tetsuya untuk memasak sekali saja?"

"Bukan begitu, Akashi-kun. Aku—" tidak ingin Akashi-kun makan masakan orang lain, terlebih orang itu adalah seorang gadis, batinnya jujur.

"Ya?"

"Tidak. Pokoknya aku mau belajar masak lagi."

Akashi mendengus. "Dasar keras kepala."

"Akashi-kun juga sama."

Sayang sekali Kuroko itu manusia, kekasihnya lagi. Kalau saja Kuroko adalah salah satu dari koleksi guntingnya mungkin Akashi sudah mengunyahnya bulat-bulat.

"Kita lanjutkan pelajarannya." Kuroko mulai deg-degan. Pikirannya berjalan ambigu atas ucapan Akashi. "Tetsuya cukup perhatikan, aku yang memasak."

Oh, melihat saja rupanya. Ia menghela napas lega tanpa sadar. Akashi bangkit dan memegang tangan si baby blue, membantunya bangun. Ia tak melepasnya sampai di dapur.

"Cukup perhatikan. Oke?"

Kuroko mengangguk patuh. Ia memperhatikan cara Akashi memakai apron, kemudian menyiapkan bahan-bahan dengan teliti lalu mengelompokkannya sesuai olahan. Mula-mula Akashi melirik bahan-bahan untuk kuah. Ia memanaskan minyak goreng bersama minyak wijen didalam teflon kemudian menumis bawang putih hingga harum disana. Tumisan itu kemudian dimasukan ke dalam kaldu yang dididihkan dalam panci kaca bersama jahe yang sudah dimemarkan, ditambah garam dan juga merica. Akashi ikut memasukkan jamur, wortel, dan kembang tahu sebagai pelengkap lalu mengaduknya sebentar dan mengecap sedikit kuah di telapak tangannya sebelum mematikan kompor.

Beralih ke adonan tofu. Akashi mencampur tahu putih, ikan tenggiri yang sudah dihaluskan, tepung sagu, putih telur, garam, dan merica bubuk dalam mangkuk aluminium. Setelah memakai sarung tangan plastik, ia mulai mengaduk adonan sampai kalis dan merata kemudian ia mengambil teflon bekas menumis yang sempat Akashi cuci bersih. Setelah menuang minyak, ia mulai menggoreng adonan tofu per satu pakai sendok teh sampai adonannya habis. Pria itu tersenyum lembut saat mengangkat adonan goreng berwarna keemasan, membuat Kuroko takjub. Akashi yang itu—punya ekspresi seperti ini saat berada di dapur?

Tipe suami yang manis, sepertinya.

"Tetsuya mau coba gorengannya?"

Si baby blue mengangguk. Akashi tersenyum lagi saat menyumpit bola tofu yang ia tiup sebelumnya. Kuroko sudah mangap duluan, percaya kalau Akashi pasti menyuapinya. Sang Emperor terkekeh dalam hati saat menyuapi. Kalau diisengi jelas si manis akan ngambek lagi padanya.

"Ini—" oh. Akashi bisa melihat binar bahagia di wajah Kuroko sekarang. "—enak sekali, Akashi-kun..."

Akashi tertawa kecil saat menghapus sisa minyak di sudut bibir Kuroko. Aih, bahagia rasanya dipuji kesayangan. Kalau saja tidak akan diprotes mungkin sudah diciumnya bibir penuh kilap itu. Mesumkah? Tidak. Akashi anggap itu normal.

"Ini kali pertama Tetsuya mencoba bola tofu buatanku, ya?" Kuroko mengangguk. "Sejak kita tinggal bersama, aku jarang membuatnya. Tetsuya suka makanan manis jadi kuusahakan membuat dessert tiap harinya."

"Tapi Akashi-kun tidak pernah ikut makan."

"Well, kau tahu aku tidak begitu terbiasa dengan makanan manis."

Kali ini Kuroko terdiam saat Akashi beranjak berdiri, hendak memberi sentuhan penyelesaian pada masakannya. Yah, tiap hari memang selalu ada dessert semacam brownies ataupun pudding di meja makan. Kuroko tidak menampik kalau Akashi sering mengatainya maniak gula, kenyataannya ia memang sangat menyukainya. Bukan, Kuroko tidak menyia-nyiakan buatan Akashi, hanya saja—ini terasa salah. Mestinya ia yang memasak untuk Akashi. Seharusnya ia yang menghidangkan banyak masakan ketika sosok tampan itu selesai dengan tugas-tugasnya. Andai ia bisa memasak.

"Seharusnya mangkuk keramiknya ada disini. Tetsuya melihatnya?"

Hening menyambangi. Akashi mengernyit di sela pencariannya.

"Atau Tetsuya menaruhnya, mungkin?"

Tak ada jawaban. Akashi patut cemas.

"Tetsuya?"

Mulanya Akashi hendak menoleh. Yeah, sebelum ia sempat melihat sepasang tangan yang melingkar manis di perutnya dengan salah satu jari yang diperban rapi.

"Akashi-kun, aku mohon izinkan aku."

Tanpa perlu bertanya, Akashi tahu apa inti permintaan sang kekasih. Namun daripada ia salah duga dan akhirnya dicibir, lebih baik ia memastikan. Karena pepatah bilang malu bertanya sesat berduaan. Aih, kalau begitu lebih baik tidak bertanya, batinnya nista.

"Dalam hal apa?" akhirnya bertanya juga.

"Belajar memasak dengan Kagami-kun."

Sang Emperor mendengus saat membalik tubuh untuk memeluk Tetsuya-nya langsung . Tuh, kan. Ia tahu.

"Nanti dia malah modus pada Tetsuya."

"Tidak akan. Tujuannya kan mau belajar."

"Kalau begitu harus ada aku yang ikut mengawas."

"Memangnya Akashi-kun tidak ada kerjaan lain?"

"Tetsuya, tolong peka sedikit."

"Sudah, Akashi-kun. Aku pasti akan hati-hati."

Lagi-lagi mereka bertatapan. Biru bertemu merah. Namun kali ini kelembutan itu melawan ketegasan. Akashi kembali menghela napas. Ia capek berdebat.

"Baiklah." hampir saja Kuroko melonjak. "Dengan beberapa syarat."

"Apa itu?"

Sang kaisar mematikan kompor sebelum mendorong si baby blue perlahan untuk duduk lagi. Ia berlutut dihadapannya, menatap intens.

"Syarat pertama." jari telunjuk kanan diacungkan, sementara tangan kiri menggenggam telapak halus yang bebas dari perban. Akashi menghela napas. "Aku akan ikut mengawasi kalian. Kalau sampai Taiga modus, aku akan membidiknya. Dan selanjutnya—tidak terima penolakan, Tetsuya."

"Akashi-kun kejam."

"Kejam begini juga calon suamimu, Tetsuya. Mau belajar atau tidak?"

"Iya. Lanjut."

"Yang kedua," jari tengah ikut diacungkan, mendampingi. Bukan memasuki lho, ya. "Hari minggu kita kerumahku."

Kuroko mengernyit. "Untuk apa, Akashi-kun?"

"Membicarakan rancangan pertunangan kita dengan ayahku. Ia sudah sering bertanya tentangmu dan—stop, Tetsuya. Tidak boleh ada bantahan."

Kuroko memalingkan wajah, tak ingin Akashi meng-capture tiap sisi wajahnya yang sudah bersemu. Sang Emperor tak tinggal diam, diraihnya dagu lancip si baby blue agar berpandangan kembali.

"Lihat sini kalau tidak ingin kucium." ancamnya egois.

"Akashi-kun mesum."

"Mesum juga Tetsuya doyan, kan?" ia menyeringai sejenak, lalu menambah jarinya yang teracung menjadi tiga. "Syarat selanjutnya."

"Jangan banyak-banyak, Akashi-kun."

"Kalau Tetsuya bawel, aku akan tambah syaratnya."

"Baiklah. Lanjut."

"Oke. Syarat terakhir—"

〣( ºΔº )〣

"Apa? Mengajarimu masak? Si Bakagami?"

"Iya."

"Memangnya sudah diizinkan?"

"Iya, Aomine-kun. Apa Kagami-kun mau, ya?"

Jelas dia mau, lah! Dia itu tergila-gila padamu sampai gagal move on, bodoh! Mau taruhan dengan majalah Mai-chan juga aku berani menjamin kalau dia mau! Teriak Aomine dalam hati.

"Tanya langsung saja padanya." Aomine nyeplos sambil nyengir. Satu rencana tiba-tiba terlintas. "Si Akashi sedang tidak ada, kan?

Kuroko menggeleng. "Akashi-kun sedang ada keperluan di ruang OSIS."

Aomine menjentikkan jari. Si Murasakibara tidak akan becus menjalankan misi, aku harus membantunya diam-diam! Pedekate sama si Bakagami tidak masalah, orang bodoh itu tidak semesum si Akashi, kan? Aomine meyakinkan hati.

"Kalau begitu cepat bilang! Mumpung dia tidak ada, nanti kalau dia keburu datang bisa habis si Bakagami."

"Ah, hai'."

(๑¯ω¯๑)

"Mengajarimu memasak? Serius?"

"Hai'."

"Duh, bisa saja, sih. Tapi—" lukaku belum sembuh, Kuroko. Aku terluka luar dalam karenamu, ingat? batin si pria merah.

"Kumohon, Kagami-kun."

Kagami menoleh. Ini dia. Jurus puppy eyes yang selalu meluluhkan hatinya. Ia mendecih.

"Dimana? Kapan?" tanyanya sambil buang muka, lama-lama bisa runtuh iman Taiga kalau terus ditatap Kuroko segitunya.

"Pulang sekolah, di rumahku."

Sial. Ada angin apa coba? Mendadak tengkuk Kagami terasa dingin saat hatinya bergelora.

"Akashi ada juga?" memastikan, siapa tahu Kuroko sendirian. Sialnya, entitas itu mengangguk.

"Ia hanya melihat saja. Tidak perlu merasa terganggu."

Justru karena ia melihat makanya terganggu, bodoh! Sumpah, Kagami geram sekali.

"Kalau begitu aku menunggu Kagami-kun pulang sekolah nanti." Kuroko tersenyum. Oh, Kagami lupa ketakutannya sejenak. "Sampai nanti."

"Ah, tungg—"

"Tetsu-kun~~~!"

Kuroko limbung. Serangan Momoi terlalu berpotensi membuatnya terjungkal, beruntung sekali Kagami sigap, ia ditahan dari belakang oleh sang cahaya. Maklum, mumpung ada kesempatan. Himpit-himpitan sedikit tidak jadi masalah, pikir Kagami.

"Sesak, Momoi-san." kalimat rutinan dikeluarkan, si gadis hanya pouting.

"Habisnya tadi pagi Tetsu-kun tidak berangkat bersamaku, kan?" ia masih cemberut. "Dai-chan juga tidak menungguku."

"Diam kau. Pria punya privasi, tahu. Kami juga tidak mau urusan kami diganggu gadis cengengesan sepertimu." Aomine datang, memperkeruh. "Lagipula kau sendiri yang terlambat bangun, jangan salahkan aku."

"Dai-chan menyebalkan! Aku bicara pada Tetsu-kun, tahu!"

Momoi mempererat pelukan, sementara Kagami terus menahan Kuroko di belakang. Lengkap sudah, inilah gambaran dari pepatah maju kena mundur kena. Sang baby blue menghela napas. Sia-sia kalau ia berontak.

"Tadi kami sempat latihan pagi di gym, Momoi-san."

"Begitukah? Kalau iya seharusnya Tetsu-kun kirim email dulu padaku."

"Memangnya Momocchi siapanya?" Kise muncul dari belakang tubuh si pria tan, memegang booklet.

"Calon pacarnya, kan?" Momoi senyum manis. Aomine skeptis.

"Menggelikan. Jangan lupa kalau—"

STAB—KRAKK!

"Wuah—Bakagami/Kagamicchi!"

Kalau bisa keluar, mungkin manik navy dan hazel itu sama-sama melompat ketika melihat potongan film aksi campur gore didepannya sesaat yang lalu. Kagami sendiri langsung pucat, masih terasa olehnya kelebatan gunting yang melewati hidung mancungnya. Sumpah, satu senti lagi saja, bisa dipastikan ia pesek mendadak.

"Menjauh dari Tetsuya-ku."

Momoi beranjak mengendurkan pelukan meski tak rela. Kuroko mengerutkan dahi, ingin protes keras pada sosok yang berdiri diambang pintu kelas. Di belakangnya seorang pria berkacamata bersama pria lavender yang asyik mengemut lolipop pelangi menunjukan keterkejutan dengan cara kontras. Hal ini bakalan parah, mereka tahu itu.

"Akashi-kun, tidak boleh—"

"Jangan banyak bicara, Tetsuya. Cepat. Kemari."

Si manis mendengus meski tetap taat pada panggilan sang kaisar. Tepat setengah meter dihadapan, ia mulai tak sabar. Ditariknya Kuroko kedalam rengkuhan sambil mengedarkan tatapan maut. Dan Kisedai—entah mengapa, bisa merasakan badai salju di pertengahan musim panas seperti ini.

"Sayang sekali bidikanku meleset lagi." Kuroko mendongak. Akashi menebar senyum. Yap, senyum psikopat. "Inilah yang pernah kuperingatkan padamu, Tetsuya. Terlalu banyak kuman yang akan menempel padamu jika aku lengah sedikit saja."

Wow, kuman katanya? Andai kamu tahu apa saja yang telah mereka perjuangkan untuk perpisahan kalian, Akashi.

"Tapi Akashi-kun sudah janji." Kuroko menatap lurus, sudah siap cemberut lagi. "Aku juga sudah setuju dengan syaratnya."

"Aku tidak bilang kalau aku akan membatalkannya, kan?"

"Jadi kita sepakat." si baby blue mendorong tubuh sang Emperor pelan, namun tangan Akashi lebih cepat merapatkannya lagi. Bikin iri saja.

"Dengarkan dulu, Tetsuya. Aku tidak bisa mengawasimu hari ini."

"Eh?"

"Nee~ Aka-chin ada rapat sampai sore, Kuro-chin~"

"Ah, begitu. Ya sudah. Aku dan Kagami-kun bisa—"

"Duh, Kurokocchi—lebih baik jangan, ssu."

Kise memberi isyarat nonverbal, menunjuk pada Akashi yang sudah berkobar-kobar sendiri. Sebenarnya ia hanya khawatir pada Kuroko, takut kena apinya.

"Shintarou," yang dipanggil menyipit. "Awasi Tetsuya dan Taiga sampai aku pulang nanti."

"Ke-kenapa aku, nanodayo?!"

"Atsushi." sasaran selanjutnya melirik malas, aksi menggigit permen terhenti dadakan. "Jangan biarkan Daiki, Ryouta dan Satsuki mengacau dirumahku."

"Eh, jadi kami boleh ikut, Akashicc—HEEE?!"

Kembali para member Kiseki no Sedai harus menahan napas. Akashi lagi-lagi menodong mereka. Kelihatannya ini bukan hari yang baik untuk mengajak Akashi bercanda.

"Tugas kalian adalah mengawasi Tetsuya." tukasnya dingin. "Aku tidak ingin mendapati rumahku kacau saat aku pulang nanti. Kalau sampai a—"

"Cukup, Akashi-kun. Teman-teman pasti mengerti."

"Tetsuya yang diam. Sekarang ikut aku, ada banyak hal yang mesti kita lakukan sebelum aku pergi rapat."

Kuroko tidak menampik atau meronta seperti harapan beberapa entitas nista yang tertinggal di kelas sepi itu—maklum masih pagi, hawanya saja yang terasa seperti sudah malam. Midorima dan Murasakibara masuk berurutan, menatap retakan yang disebabkan gunting yang menancap indah di tembok atas papan tulis. Pfff, sisi baiknya mereka mendapatkan waktu bersama Kuroko, atas izin sang kaisar pula. Namun untuk membenahi bekas kekacauan ini—sial. Derap langkah yang terdengar mendekat terlanjut cepat menginterupsi lamunan.

"Whoa! Akashi membuat tanda cinta lagi, Reo-nee!"

"Yaree~ Riko-sensei akan membunuh kita kalau bekasnya tidak segera diselotip. Bukan begitu, Kiseki no Sedai?"

"Baiklah. Bahan-bahannya sudah lengkap, sekarang tinggal—oi, hentikan itu, Kuroko. Taruh pisaunya."

Kagami greget. Si baby blue jarang sekali fokus pada ucapannya sejak belanja di konbini. Sekarang ia sudah memegang pisau yang ujungnya terarah pada si guru temporer. Jika saja ia lupa kalau ia cinta berat pada pemilik mata sejernih langit kemarau itu mungkin sudah dilempar Kuroko dengan jurus Meteor Jam miliknya. Tapi kembali lagi, mana mungkin ia melakukannya? Terlebih dengan—

"Kuroko, kenapa bi—"

"Nee. Tetsu-kun! Suka apron warna biru, merah, pink, atau pelangi?"

Momoi sudah siap tempur dengan rambut yang digelung asal. Di tangannya sudah berderet berbagai macam apron aneka warna. Oh, dia sendiri sudah memakai warna biru muda.

"Apa saja boleh, Momoi-san."

"Un! Berarti biru ya, samaan denganku." ujarnya riang seraya memakaikan apron pada Kuroko yang masih memegang pisau. Ia bersenandung saat membuat simpul tali apron, namun gumamannya terhenti ketika mendapati sesuatu di—

"Anoo, Tetsu-kun? Ini kena—"

"Kuro-chin~ es krim vanilla di kulkas boleh kumakan?"

"Boleh, Murasakibara-kun. Ada apa, Momoi-san?"

"Eh? Etoo, di leh—"

"Oi, Tetsu! Cepat sedikit dan suruh si bodoh itu masak banyak! Aku sudah lapar!"

Geram! Momoi melempar sisa apron yang ada tepat ke arah wajah Aomine yang menguap lebar. Namun dasar insting petarung, ia berkelit dengan santainya.

"Apa-apaan kau, Satsuki?! Aku 'kan—"

"Dai-chan kenapa ikut juga, sih?! Pulang sana!"

"Oi, berhenti! Kapan kita akan mulai kalau begini terus?!"

"Berisik, nanodayo! Akashi menelpon ini!"

Sunyi mendadak menghampiri. Kiseki no Sedai berinisiatif untuk beres-beres sekaligus duduk tenang menunggu hasil eksperimen. Sementara Midorima menerima telepon, Kagami mulai mengambil tahu putih dari plastik belanjaan. Kuroko menurut, ikut mengambil sayuran pelengkap dari plastik yang berbeda. Rentetan bahan dibariskan, Kagami bisa menyimpulkan Kuroko kurang kerjaan.

"Kita tidak akan mengolah ini sekarang, Kuroko. Masukkan lagi."

"Ah, hai'."

"Jadi kita mulai dengan memotong bahannya terlebih du—tidak, tidak. Taruh itu, teme! Kau mau membunuhku, hah?!"

"Kagamin berisik sekali, ne! Tetsu-kun belajar denganku saja, bagaimana?"

"Oh, jangan, jangan! Masakanmu parah, Satsuki! Mundur!"

"Aka-chin masih menelpon lho~"

Seruan Murasakibara kembali menyadarkan mereka. Midorima sudah tidak sabaran, ingin segera mengakhiri telepon namun apa daya jika sang kaisar masih memberikan wejangan?

"Begini, Kuroko..." Kagami menaruh pisau dari tangan si baby blue perlahan, modus sedikit. "Untuk sekarang kau cukup perhatikan caraku memasak. Luka di jarimu belum sembuh betul, jadi lihat saja dulu."

Terdengar tepukan tangan riuh, semua menoleh pada satu-satunya iris hazel.

"Baru kudengar Kagamicchi bicara selembut itu pada Kurokocchi! Memang benar kalian itu—upph!"

"Diam, bodoh! Akashi masih menelpon si Midorima!"

Aomine berbisik sementara Kise sudah menbiru dalam bekapannya. Murasakibara hanya melirik cuek sambil duduk tenang makan es krim gratisan. Momoi ada di samping Kuroko, jaga-jaga kalau si pemuda biru butuh bantuannya. Sekedar mengelap keringat juga ia rela, kok.

"Dimulai saja, Kagami-kun. Aku sudah siap."

Kagami mengangguk di sela pikiran ambigunya mengenai pengakuan Kuroko. Ia mulai membalut tahu dengan tissu dan mengeringkannya. Setelah yakin benar sudah sepenuhnya kering, Kagami menaruh tahu putih itu ke dalam mangkuk aluminium bersama ikan tenggiri dan bahan halus lainnya. Setelah memakai sarung tangan plastik, ia mulai mengaduk-aduk adonannya sampai merata. Kuroko terus memperhatikan.

"Nah, setelah seperti ini, tinggal kaugoreng adonannya." pria bersurai scarlet itu membentuk adonan menjadi bola-bola kecil lalu menderetkannya. "Bentuknya terserah. Mau bulat, lonjong, besar, kecil, panjang, pend—"

"Jangan pamer ukuran kepunyaanmu segala, Bakagami."

"Teme, Aho! Kau—"

"Nee~ aku yang goreng ya, Kagamin! Nih, aku tambah bumbunya."

"Eh, tunggu-Momoi!"

"Mundur, Momocchi!"

"Eeh?"

Trek

"Sacchin, hati-hati nee~"

"Momoi-san, tolong mun—"

BLARR—

(=゚Д゚=)

"Hikss, Tetsu-kun—"

"Sudah kubilang kalau ada acara masak begini kau diam saja! Lihat Tetsu hampir mati gara-gara dirimu!"

"Aku setuju. Lagipula apa sih, yang kau lakukan? Seharusnya campuran minyak wijen dan minyak sayur tidak akan membuat ledakan seperti barusan, nanodayo."

"Hikss—sebelumnya 'kan aku memasukkan bumbu buatanku dulu, Midorin..."

"Dasar bodoh! Niat sekali kau membunuh kami, Satsuki!"

"Mine-chin, kasihan Sacchin sudah menangis terus~"

"Tau nih, Aominecchi! Jangan kasar sama perempuan!"

"Diam kau, Kise! Tahu apa coba, kau itu uke!"

"Oi, Ahomine! Bisakah kau diam?!"

"Ugh—"

"Tetsu-kun?!"

Manik bening itu terbuka. Mengerjap sesekali lalu terbuka sempurna. Ia mengangkat tangan, memperhatikan jemari sampai lengan, syukurlah masih utuh.

"Ah."

Didapatinya sosok merah terlebih dulu. Kuroko bisa menangkap kecemasan di wajah pria beralis ganda itu. Kemudian dirinya ditarik paksa oleh sosok berambut ungu sampai bersandar padanya, oh. Rupanya barusan ia ambruk di pangkuan Kagami toh.

"Jangan dekat-dekat Kuro-chin nee~ nanti Aka-chin membunuhmu sebelum waktunya."

Murasakibara cemberut saat menggamit Kuroko. Si baby blue mendongak, ia lupa kalau pria ini adalah salah satu antek terdekat yang juga dipercaya Akashi.

"Memang kau pikir aku harus dibunuh nanti, begitu? Teme!"

"Uhm, anoo—" akhirnya ia angkat bicara. "Sebelum Akashi-kun pulang, lebih baik kita lanjut belajar dan segera beres-beres."

Hening sejenak. Beberapa orang memandang sekeliling, kemudian menatap lagi pada si baby blue.

"Ah, benar juga.

"Memotongnya seperti ini?"

"Bukan—! Akhirnya aku tahu sekarang mengapa tanganmu selalu terpotong, Kuroko! Sini pisaunya!"

"Nee, Kagamin! Ajari aku juga!"

"Jangan, Satsuki. Kau mau kami mati? Ah, ya. Mana bagianku, Bakagami?!"

"Dimasak saja belum, ssu."

"Kise-chin bilang begitu padahal dia yang paling menunggu nee~"

"Benar sekali, nanodayo."

"Ih~ aku 'kan tidak sabar dengan masakannya Kurokocchi!"

"Ah, tapi hidangan pertama untuk Akashi-kun."

"Kurokocchi tega! Masa kita dikasih sisa?"

"Makanya pintar sedikit, Kise. Sebelum Akashi makan kita curi sedikit tanpa ketahuan Tetsu."

"Aku dengar itu, Aomine-kun."

"Aominecchi memang tidak bisa dipercaya kalau dikasih misi."

"Ssst, Kise!"

Kuroko sudah menghentikan gerakannya ketika mengaduk adonan. Mereka bicara misi lagi. Sebenarnya misi apa, sih? Meski penasaran namun ia tak ingin berpikir lebih jauh, ia kembali mengobok-obok campuran tofu dengan ikan tenggiri memakai sendok. Saat ini selera Akashi lebih penting.

"Lalu kalau sudah begini bagaimana lagi, Kagami-kun?"

Si macan menoleh, melirik cuek awalnya. Namun ia berangsur melotot saat si baby blue hendak menambahkan beberapa sayuran yang notabene tak ada dalam menu. Ia mendengus, menghampiri.

"Jangan ditambahkan yang aneh-aneh, si Akashi bisa membunuhku nanti."

"Ah, iya."

Kagami memotong jamur kancing dan kembang tahu lalu mengumpulkannya dalam satu grup kemudian melirik lagi ke arah adonan yang tengah Kuroko aduk. Meski ia tahu komposisinya, namun ia sadar kalau tak ada harapan saat si baby blue turun ke dapur. Malangnya Akashi punya uke sepertinya, makanpun sudah pasti pakai delivery order tiap hari, beda denganku kalau jadi seme Kuroko, batinnya sedih.

"Kau bisa menggorengnya?" putusnya kemudian.

"Bisa, Kagami-kun."

"Tetsu-kun, boleh tidak aku ban—"

"Jangan, Satsuki/Momoi/Momocchi!"

"Ugh, kalian menyebalkan, ne!"

Ampun, deh. Kagami lupa kalau Kuroko punya orang-orang aneh ini disampingnya. Ia mendengus lagi kemudian menyalakan kompor dengan hati-hati—trauma insiden barusan. Dengan sekali gerakan, apinya menyala dengan normal, syukurlah.

"Bentuk bulat-bulat saja adonan tofunya." ujar Kagami sambil meraih mangkok. "Jangan besar-besar. Usahakan agar muat di mangkuk."

"Hai'."

Terdengar bunyi adonan basah yang bertemu dengan minyak panas. Optimis, Kagami menoleh dan ia harus kembali terbelalak. Sumpah, Kuroko tahu arti muat kedalam mangkuk tidak, sih?!

"Teme! Kau mau bikin karage atau bagaimana?! Sini!"

Kuroko masih poker face saat Kagami mengambil adonan tofu ditangannya. Ia mengangkat tofu goreng setengah matang dengan sumpit, menyebabkan Kagami mengomel lagi. Ih, sumpah. Dengan kepolosan seperti ini dan sisa anak ayam yang berisik dibelakangnya, ingatkan Taiga untuk tidak menerkam mereka, Kami-sama.

"Aduk supnya saja! Demi basketmu, Kuroko—kau tahu tidak caranya menggoreng?!"

"Kau berisik sekali, Kagami. Bukan begitu caranya mengajar orang memasak." Midorima memulai.

"Tau nih, Kagamicchi! Kurokocchi dimarahi terus, kasihan tau! Akashicchi saja tidak pernah bentak-bentak Kurokocchi, iya kan, Momocchi?" Kise malah mengompori.

"Un! Belum apa-apa sudah kalah sama Akashi-kun, Kagamin payah~"

"Oi!"

"Cepat masaknya Kagami, aku lapar~"

"Si Bakagami ini memang tipe DoS. Jadi belum puas kalau belum mengomeli uke. Cepat sedikit masaknya, bodoh!"

"OI!"

"Kagami-kun, bisa dilanjut?"

"A-ah, oke..."

"Woo~ kalau sama Tetsu-kun saja langsung baik lagi."

"Iya, tuh. Kagamicchi ketularan tsunderenya Midorimacchi~"

"Kenapa aku kena juga, nanodayo?!"

Demi Kuroko, Kagami benar-benar tidak ingin diawasi oleh anak-anak ayam pelangi ini! Sumpah, memangnya ia bakal berbuat apa coba pada si baby blue sampai Akashi lebih percaya mereka daripada dirinya? Mentang-mentang dulunya saingan jadinya Akashi membatasi jam pertemuan Kuroko dengan dirinya. Tidak masalah sih, tapi mereka-mereka ini yang jadi soalan! Seandainya ini rumahnya mungkin Kagami sudah melempari mereka dengan teflon panas. Ia memijit dahi, geram campur puyeng membuatnya ingin muntah tujuh warna.

"Aku sudah mengaduknya, Kagami-kun. Lalu bagaimana lagi?"

Ah. Suara malaikat menyadarkannya lagi, menguatkannya di saat tersempit. Masih direcoki oleh kicauan sumbang para anggota manusia ajaib namun ia tak begitu peduli. Toh dia disini untuk Kuroko—meski hanya sebagai tutor.

"Pelan-pelan mengaduknya, seperti ini, nih." Kagami sudah berdiri dibelakang Kuroko, memegang sendok sup yang refleks dilepas jemari si pemilik manik aquamarine. Eh, tunggu. Kagami belum sadar betul posisinya, kok. "Tuh, biarkan bumbunya meresap dengan sayurannya. Sekarang tunggu sampai harumnya—hm?"

Hidung mancungnya mengendus-endus. Ada wangi yang lebih pekat dan dekat dibanding wangi sup yang membuat lapar. Keharuman yang manis ini—vanilla, ya?

Kagami memang bukan maniak makanan manis, ia sadar betul. Ia juga tidak menyukai wangi-wangian feminim seperti ini, tapi—yang ini beda. Ia ketagihan.

"Kagami-kun?"

Masa bodoh. Ia suka wangi vanilla ini. Manis, pokoknya bikin kecanduan. Ia bakal mencari parfum yang beraroma sama jika pulang nanti. Mau dijadikan koleksi pribadi.

"Oi, Bakagami!"

Untuk sementara mari kesampingkan rengekan para anggota Kiseki no Sedai. Kagami belum sekalipun merasa tenang disini. Setidaknya wangi yang manis ini membantunya rileks sedikit.

"Kagamin!"

Duh, sebenarnya apa sih yang mereka teriaki? Ia baik-baik saja kok.

"K-Kagamicchi!"

Sumpah, tahu arti kata berisik, tidak?

"Hentikan itu, Kagami—" terdengar suara ringisan pelan. Kagami bisa merasakan kepalanya dicengkram sesuatu. "Kau mau aku hancurkan, eh~?"

Lamat-lamat membuka mata, ia melotot lagi. Pemandangan pertama adalah hamparan kulit putih yang nampak licin dengan beberapa bercak merah. Pandangannya naik ke helaian biru yang luruh, lalu kedepan—

"Kuroko?! Aarggh—!"

Cengkraman di kepalanya terasa makin kuat, Kagami mendongak untuk memastikan. Sial, benar saja si titan sedang berwajah dingin, mengintimidasinya.

"Dasar bodoh! Apa yang kau pikirkan, coba?!" Aomine melempar bantal, Kagami pasrah. Ia susah berkelit, apa daya bergerakpun sulit. The power of Thor Hammer.

"Mau kuadukan pada Aka-chin ya~?" Murasakibara masih cemberut.

"Oi, teme! Lepaskan aku!"

"Aku juga belum pernah seperti itu pada Tetsu-kun! Sini, Tetsu-kun! Tetsu-kun aman kalau bersamaku!" Momoi menggamit Kuroko yang masih memegangi sendok sup.

"Sup ini kelihatannya enak. Oi, Tetsu! Pinjam sendoknya!"

"Kau mencobanya pakai sendok sup?! Bukannya aku peduli tapi kau ini jorok sekali, nanodayo!"

"Aominecchi curang, ssu! Aku juga mau!"

"Oi, jangan dekat-dekat! Pancinya panas!"

"Nee~ jangan dihabiskan dulu, aku belum coba~"

"Eeh~ suapan pertama akan jadi milikku, Dai-chan! Minggir!"

BYURR—KRAKK

"Whoa—!"

"Tuh 'kan tumpah~!"

"Momoi-san, mundurlah. Pecahan kacanya—aduh."

"T-teme! Tanganmu berdarah lagi!"

"Oi, berhenti bergerak, Tetsu! Ini semua gara-gara kau, Kise!"

"Kok aku sih? Aaw—!"

Suasana makin runyam. Kuroko tak henti-hentinya menatap tetesan darah dari jarinya yang sempat diperban kemarin. Sementara Momoi dan Kagami panik karenanya, Aomine kembali melempar sendok sup pada Kise yang dibalas dengan lemparan bantal sofa. Midorima sudah kalang kabut, paham tsundere sudah hilang entah kemana ketika ia terus berteriak menyuruh mereka berhenti. Bagaimana dengan tersangka kita? Ah. Cemilan semacam tofu goreng memang top untuk menemaninya dalam situasi begini.

"Ah. Jadi inilah rencana kalian saat aku tak ada?"

Hening. Sontak mereka menghentikan gerakan serempak.

"Dan bagus sekali, semuanya berkumpul disini." terdengar suara derak dari jari ramping yang terkepal. Sosok itu tersenyum. "—jadi aku bisa menghukum semuanya sekaligus." disusul dengan jeritan pilu yang bersahutan ketika ucapan itu berakhir.

"Sudah kubilang Tetsuya cukup belajar bersamaku saja. Coba lihat kekacauan ini. Dan—siapa yang berani menyentuh bibir dan lehermu seperti ini? Jawab."

"Ini gara-gara Akashi-kun tadi pagi, kan."

"Jangan bohong. Menyentuhmu saja belum pernah."

"Sekarang siapa yang bohong, Akashi-kun?"

Pria bermata ruby itu mendengus. Ia mengelus bibir yang sempat membengkak itu dengan ibu jarinya kemudian menoleh pada jemari Kuroko yang terluka. Sungguh, untuk siapa Kuroko sampai segininya? Kalau untuk Akashi sendiri ia tidak masalah, Kuroko yang tidak bisa memasak saja sudah membuat hatinya berjuta rasa. Kenapa harus berjuang sekeras ini?

"Tunggu sebentar, Akashi-kun."

Kuroko bangun dari bangku, berjalan dan kembali menuju counter dapur melewati anggota Kiseki no Sedai yang sedang bersih-bersih dadakan dengan perban di kepala—terkecuali Momoi, karena wanita, mungkin. Ia menyalakan kompor lagi dan mengolah bahan yang ada. Lega terselip di wajahnya ketika ia melihat adonan tofu masih terisi banyak di mangkuk kaca. Dengan teliti Kuroko mengingat-ngingat cara Kagami memasak dan mulai mempraktekkannya. Mulus sekali, ia bersorak dalam hati.

"Tetsuya?"

Ia cuek menggoreng bola-bola tofu sambil bersenandung dalam hati sementara Akashi mendekatinya. Entitas tampan itu memperhatikan, tersenyum tipis ketika Kuroko mengambil panci kecil. Si baby blue nampak agak repot namun ia tak ingin menginterupsi. Ia adalah juri, kan?

Tak lama setelah gorengan tofunya selesai, ia mengganti teflonnya dengan panci. Satu persatu bahan kuah dimasukkan. Mulai dari minyak goreng dan minyak wijen yang dicampurkan, lalu potongan jamur kancing, wortel, kembang tahu yang direndam barusan juga jahe dan bawang puting yang sudah dimemarkan. Setelah menambahkan air kaldu, garam dan merica bubuk, Kuroko mengaduknya dengan hati-hati. Sesekali ia meringis karena uap panas dari sup mengenai balutan di jarinya.

Ia mengelap peluh dengan punggung tangan saat selesai menuang supnya kedalam mangkuk keramik yang telah diisi soun dan gorengan tofu. Senyuman menghiasi saat menaruhnya di nampan, ia berbalik pada Akashi yang bersilang tangan sambil tersenyum.

"Aku tidak jamin rasanya enak." Kuroko memulai. "Tapi kuharap begitu."

"Enak atau tidak, aku tetap akan memakannya kalau ini buatan Tetsuya." Akashi mengambil sumpit, bersiap makan. "Selamat makan."

Pertama-tama tofunya. Akashi ingin tertawa karena bentuk abstrak yang ia dapati di bola tofu namun ia tetap melahapnya. Kemudian dengan supnya, Akashi menyeruput sedikit lalu dilanjut dengan sayurannya. Duh, sang Emperor memang punya cara sendiri untuk menunjukkan apa arti dari kata elegan. Kuroko deg-degan sendiri rasanya.

"Waktunya penilaian." Akashi bersidekap, menatapnya. "Banyak sekali kritik yang akan kukatakan jadi kusarankan Tetsuya duduk dulu."

"Ah, iya."

Kuroko celingukan mencari bangku, pandangannya terbentur pada sebuah kursi kayu di dekat counter gelas. Akashi tersenyum.

"Kalau mau Tetsuya bisa duduk di pangkuanku." ujarnya sambil menepuk paha.

"Tidak, terimakasih, Akashi-kun." Kuroko menjawab datar sambil menarik kursi sampai di hadapan Akashi. Ia segera duduk manis. "Jadi komentarnya?"

"Well, kita mulai dari supnya. Tetsuya kebanyakan memasukkan garam, padahal tidak perlu khawatir karena setelah lulus nanti tentu aku akan menikahi Tetsuya."

"Akashi-kun, lanjut."

Sang kaisar terkekeh.

"Mericanya juga kurang, lalu Tetsuya kurang lama merendam kembang tahunya. Dan dengan gorengan, Tetsuya kurang kering menggorengnya. Bentuknya bisa ditoleransi, namun ada baiknya kalau Tetsuya membentuknya pakai sendok teh."

Jeda sejenak. Kuroko deg-degan lagi.

"Jadi?"

Helaan napas pelan terdengar. Akashi tersenyum.

"Aku suka sup tofu ala Tetsuya. Aku akan menunggu sup selanjutnya—tentu setelah Tetsuya lebih mahir memasak."

Wow. Aktifitas Kiseki no Sedai hampir terhenti. Mereka terpaku pada aura berkilauan dari sosok si baby blue. Akashi sendiri sempat terkesima, senyum Kuroko memang manis, ia tahu itu. Namun ketika semanis ini—tahan, Sei, tahan.

"Aku akan berusaha, Akashi-kun." duh, sial. Akashi benar-benar ingin menerjangnya sekarang juga. "Lain kali Akashi-kun pasti akan lebih banyak memujiku."

Akhirnya Akashi terkekeh. Aomine menjatuhkan gagang pel saking terkejutnya—Akashi memang OOC kalau bersama Kuroko.

"Aku ingin mengulangi pertanyaanku." Ia berdiri, berjalan kemudian berlutut dihadapan Tetsuya-nya. "Untuk siapa Tetsuya berusaha sekeras ini? Bahkan sampai melukai diri sendiri, untuk apa?"

Sang kaisar tersenyum dalam hati mendapati semburat tipis di wajah kekasih birunya. Ia tahu jawabannya, jelas sekali. Dengan kepercayaan diri seperti itu, ia—

"Aku ingun memasak untuk—" Kuroko berdehem, mata Akashi serasa mengulitinya. "—orang yang paling berharga untukku."

Akashi mengernyit. Jawabannya sedikit di luar ekspetasi, namun ia coba memaklumi. Goda sedikit bolehlah.

"Siapa?"

"Uhm—" ingin main-main, Kuroko tersenyum tipis. "Akashi-kun belum boleh tahu."

Oh, sial. Mengapa rasanya kesal sekali? Ia sudah salah duga dua kali.

"Tetsuya tidak mau mengatakan siapa orangnya?" ulang Akashi, memberi kesempatan. Sialnya lagi, Kuroko menggeleng.

"Belum saatnya."

Sumpah. Hari ini adalah hari tersial untuk Akashi Seijuurou. Rapat OSIS mendadak, rumah kacau balau dan sekarang calon istri sendiri melirik orang lain. Ia sudah curiga dari awal, sebab ia tak pernah memaksa Kuroko untuk memasak. Sumpah, ia ingin sekali marah saat ini.

"Baiklah." kata pertama itulah yang lolos dari bibirnya. "Terserah Tetsuya saja."

Ia berdiri, berbalik dan berjalan pergi. Ranjangnya lebih menjanjikan untuk memberinya kenyamanan, ia butuh tempat bersandar saat ini. Labil? Peduli amat. Ia sedang dongkol setengah mati.

"Akashi-kun?"

Seakan tersadar, Kuroko ikut berdiri. Sial. Ia salah pilih lelucon.

"Akashi-kun!"

Kejar. Hanya itu yang terbersit dalam pikirannya.

Sementara dibelakangnya, beberapa manusia berkepala warna-warni sudah tersenyum penuh kemenangan, tersadar akan satu insiden barusan membuat mereka menyadari satu hal.

Mereka berhasil.

—To be continue—

Kise : (tebar confetti sambil loncat) Ohayou-ssu! Oshashiburi, minnacchi! Hyaaa~ akhirnya aku kebagian pojok cuap-cuap pribadi bareng Momocchi! Senangnya bisa bicara banyak di pembacaan review, ssu! Tidak sabar rasanya~ iya kan, Momocchi?

Momoi: Un! Akhirnya kita bisa ngobrol banyak dengan readers ya, Ki-chan! (tebar sobekan kertas) Senangnyaaaa tidak ada Dai-chan yang suka memotong dialogku, tapi Tetsu-kun tidak ada ya~

Midorima : Jangan bodoh, nanodayo. Dia sedang sibuk galau gara-gara Akashi. Dan lagi, kenapa Nami menyuruhku datang bersama kalian? Bukannya aku mau ikutan baca review, tapi—

Kise : Kalau tidak mau kenapa Midorimacchi datang? (pouting) nanti juga Kurokocchi lewat, ssu! Sekarang kita bacakan surat dari Namicchi dulu, Momocchi dan Midorimacchi mau baca review atau bagaimana?

Momoi : Ah, aku baca review saja, ne! Tapi gantian dong. Aku masih harus menyimpan tenaga untuk mengejar Tetsu-kun di chap selanjutnya (ketawa manis)

Midorima : Menggelikan. aku mau baca yang penting saja, jangan menambah durasi.

Kise : Oke! Pertama-tama—ah! Namicchi minta maaf yang sebesar-besarnya pada semua readers, ssu. Dulunya dia ingin fic ini diupdate harian tapi ternyata rencananya malah berantakan. Sekarang Namicchi sibuk kerja sih, jadi susah curi waktunya (ngambil sapu tangan, akting sedih) aku mengerti kok, ssu. Bekerja itu memang menyebalkan~

Momoi : Ki-chan, plis jangan OOT (lirik datar)

Kise : (ketawa garing) dan katanya kemarin kesehatan Namicchi juga lagi nggak stabil, ssu! Ah, cuaca begini memang bahaya ya. Kadang aku juga kesal sekali kalau sudah kepanasan, musim kemarau tahun ini paling panjang, ssu! Dan biasanya kan—

Momoi : Ki-chan~~ (senyum manis, nunjuk jam tangan)

Midorima : Seharusnya aku baca pembukaannya saja, nanodayo. Kau juga tidak baca bagian ini. Nami bilang ini genrenya fluff, tidak ada niat bikin humor hanya saja kau dan Aomine selalu tampak bodoh jadi dia harap kalian semua mengerti. Disini banyak sekali dialog, Akashi juga terlalu mesum, tapi aku tidak peduli.

Kise : Eh, lupa (ketawa garing lagi) tapi KOK AKU JUGA KENA, SSU?! (siap2 nangis) pokoknya cepat sembuh ya buat Namicchi! Aku masih menunggu giliranku menjalankan misi soalnya. Momocchi tau tidak aku munculnya di chap berapa?

Momoi : Ah, chotto (liat catetan) sepertinya setelah Mukkun, deh. Aku dan Midorin kan akhir-akhir.

Kise : Benarkah? (loncat) tidak sabar, ssu! Habisnya Murasakibaracchi tidsk serius, ssu. Dia kan yang kebagian misi tapi paling sedikit muncul. Coba aku yang duluan! Pasti aku tidak akan buang2 words!

Momoi : Ih, Mukkun perannya di chap depan, Ki-chan! Nanti lihat saja deh. Nami-chan sudah menulisnya juga, kok. Tidak sabar menunggu Tetsu-kun putus dengan Akashi-kun! Kalau mereka putus nanti aku yang menghibur Tetsu-kun dengan pelukanku, lalu—

Midorima : Entah kenapa aku tidak ingin setuju dengan caramu, Momoi.

Momoi : Midorin jahat! Aku kan calonnya Tetsu-kun, wajar dong kalau—

Kise : Ehm. Kita lanjut baca review saja, Momocchi.

Momoi : Huh~ (pouting) baiklah! Yang pertama dari luki-kun, emotnya lucu? Tapi lebih lucu Tetsu-kun kok~ (lirik foto Kuroko)

Kise : Lanjut! (ambil kertas review dari Momoi) ini dari Guest-cchi. Jangan dulu anemia, ssu! Ini belum apa-apa soalnya Kurokocchi belum pernah kena anu sama Akashicchi~

Momoi : Ki-chan jangan jadi spoiler, bisa?

Midorima : Sudah kubilang lebih baik aku yang baca.

Momoi : Nee~ sepertinya Midorin memang ingin sekali baca ya? (nyengir)

Midorima : (panik, benerin kacamata) Apa-apaan pendapatmu itu, nanodayo? Jelas-jelas aku—

Momoi : Nih! (ngasihin kertas ijo) ini bagian Midorin. Aku baca untuk Seijuurou Eisha ahaha bukan Eisha-chan, kita ini pasukan penyelamat kepolosan Tetsu-kun (ambil kacamata Midorima, dipake sendiri)

Midorima : Oi!

Kise : Midorimacchi, giliranmu-ssu!

Midorima : (mendengus sambil ngambil kacamatanya) ini review dari RivaiRen. Aomine memang salah satu anggota kami yang sering kesurupan secara sadar, nanodayo. Jadi tolong dimaklumi karena sebagian gagasan nista dari Kiseki no Sedai dipelopori olehnya. Dia sudah diberi hukuman oleh Akashi, dahinya berlubang tapi kupastikan aku tidak akan mengalaminya, nanodayo. Cih. Hentikan ciumanmu (lap pipi) ini cuma punya Bakao

Kise : Tumben sekali Midorimacchi mengaku, ssu. Biasanya ngeles terus.

Midorima : Urusai. Cepat selesaikan bagianmu, Kise. Sebentar lagi yang lainnya datang, kau ingin diganggu?

Momoi : Iya, Ki-chan, masalahnya aku harus mengejar Tetsu-kun lagi di chap berikutnya, nih!

Kise : Momocchi apa banget, ssu. Yosh, meskipun berat hati karena aku masih ingin bicara banyak disini tapi aku harus pergi kerja (sobbing) aku mewakili Namicchi untuk berterimakasih pada favers, followers, reviewers dan semua silent reader yg ikut menunggu perkembangan misi kami! Dukungan kalian sangat berharga, ssu. Jadi tetap pantau kami ya!

Momoi : Un! Aku akan membuat rancangan misi yang hebat bersama Midorin jadi tunggu saja, ne! (lambai2, Midorima ngangguk2) sudah waktunya, Ki-chan. Ayo! (lari duluan, Midorima ikutan)

Kise : Tuh, kan! Kebiasaan sekali kalau apa-apa aku selalu ditinggal sendirian! (mulai nangis sampe banjir)