Tersangka Ketiga (menunggu vonis) : Murasakibara Atsushi—

"Sedikit lagi nih, Mukkun! Sedikit lagi!"

"Berisik, Satsuki! Kau tahu ini sudah malam! Berhenti—"

"Kau yang paling berisik, Aho!"

"Duh, sudah dong, ssu. Lihat tuh, Akashicchi keluar rumah!"

"Mau kemana Akashi dini hari begini? Mencurigakan sekali, nanodayo."

"Justru yang paling mencurigakan itu kita nee~ subuh-subuh menguntit rumah Aka-chin~"

"Kita tidak menguntit kok, Mukkun. Cuma mengawasi! Tuh, Akashi-kun bawa mobil!"

"Waah~ tidak disangka rencana Murasakibaracchi berjalan mulus, ssu!"

"Aku tidak—"

"Pokoknya besok kita akan mendengar kabar baik!" sang gadis bersorak riang dalam bisikan. "Misi kita—berhasil!"

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi

This plot is purely mine. I've gain nothing from this fic but pleasure.

Sudah lewat tiga hari Kuroko tidak bertemu Akashi. Jangankan di sekolah, dirumah saja sang baby blue patut gundah. Selama ini ia juga terus menunggunya sampai larut namun penantiannya harus mendapati kekecewaan ketika tak satu detikpun didapatinya sang kaisar merah. Pernah ia coba begadang menunggui Akashi namun nihil. Ia tidak pulang.

Galau. Sumpah Kuroko bingung, ia salah apa? Akashi tak mengatakan apapun saat itu, mereka juga masih tidur satu ranjang—meski masih sama seperti malam-malam sebelumnya, tanpa rate M. Namun Akashi saat itu bangun lebih pagi dan tak membuat sarapan atau membangunkan Kuroko seperti biasanya, mengakibatkan si baby blue mesti ribut sendiri karena kesiangan.

Sudah ada ratusan kali ia menelpon ataupun mengirim pesan. Sungguh, ini ya rasanya dicueki? Ia menyesal pernah melakukannya pada Akashi dulu, ia merana saat ini.

"Tetsu, matamu seperti panda."

Ia menoleh, suara bass itu menyadarkannya. Segera ia melongok ke jendela kelas dan akhirnya terkejut sendiri mendapati pantulan tipis akan dirinya disana. Kacau. Wajah manisnya berubah lusuh, Akashi jelas tidak akan sudi meliriknya seperti ini. Duh, ini tidak boleh dibiarkan.

"Aku ke kamar mandi dulu." putusnya.

"Mau apa?"

"Cuci muka."

"Oh. Diantar jangan?" Aomine menawarkan. Kuroko hanya menggeleng.

"Kalau sampai aku ketiduran di kloset, tolong susul aku ya, Aomine-kun."

"Oke."

Aomine lanjut menghayati tumpukan majalah gravure di mejanya sedangkan Kuroko melenggang pergi dengan langkah gontai. Beberapa menit setelah si manis pergi, Aomine mendengar desingan halus di kepalanya. Ia tersadar. Barusan itu, katanya—

"Heh, bodoh! Apa-apaan dengan rencana tidur di kloset itu?! Tetsu, tunggu!"

(º ロ º๑)

Kuroko menghela napas saat bersandar di pintu toilet. Ia membuka ponselnya, tak ada tanda kehidupan dari seseorang yang ia rindukan. Sesaat kemudian ia manyun lagi, menggembungkan pipi dengan sorot mata paling datar. Dipikir Akashi itu siapa? Enak saja mendiamkannya tanpa alasan. Kalau mau ia juga bisa cuek! Awas saja, Kuroko akan cuek mulai hari ini.

Ia keluar dari toilet dengan ekspresi yang sama, melewati para lelaki yang iseng nongkrong di kloset untuk sekedar ngobrol sambil buang hajat. Mereka tertegun beberapa saat, Kuroko jarang sekali cemberut meski wajahnya selalu sedatar dada gurunya, Aida Riko. Dan saat ini—cih, mereka mimisan tanpa sempat berkomentar.

Ia terus bergidik, berjalan memutar tanpa melewati rute biasa menuju kelasnya. Eh, tunggu. Kuroko sendiri sempat diam di depan ruang guru. Dua ruangan lagi—ugh. Mengapa ia lewat sini? Mengapa harus ke arah sini? Ih, sumpah. Kuroko butuh minum.

Kuroko balik badan. Cih, keputusan untuk buang air sendirian memang tidak tepat. Ia seharusnya mengiyakan ajakan Aomine atau mengajak Kagami sekalian. Eh, jangan deh. Bisa gawat kalau Kagami ikut juga. Dengan banyaknya lamunan ia melangkah selebar yang ia bisa, menjauhi ruangan yang membuatnya bernostalgia.

"Kuroko-kun?"

Ia menoleh disela langkahnya yang terhenti. Seorang gadis dengan rambut coklat sepunggung tampak tersenyum kalem padanya. Penampilan yang rapi dan sikap yang anggun itu—Kuroko mengenalnya.

"Chiyoda-san." Kuroko membungkuk. "Halo."

"Halo juga. Kuroko-kun sedang mencari sesuatu, ya? Bisa kubantu?" ia tersenyum lagi. "Soalnya jarang sekali Kuroko-kun lewat sini."

"Ah—" nah, lho. Mau jawab apa? Kalau ia bilang ia tidak sengaja lewat itu akan terdengar aneh, kan? Kelasnya bukan ke arah sini, lalu ia mau kemana? Kalau ia berkata bahwa ia tersesat, cih. Memangnya sudah berapa lama dia bersekolah disini coba?

Gadis bermata hazel itu menelengkan kepala.

"Apa Kuroko-kun sedang mencari seseorang?"

Eh? Sungguh ia tidak memiliki niatan itu, kok. Memangnya kelihatan?

"Mau kubantu? Aku juga sedang mencari Seijuurou-kun. Apa Kuroko-kun melihatnya?"

Eh?

Barusan dia bilang apa?

"Tidak. Aku tidak melihatnya."

"Ah, sayang sekali. Biasanya Kuroko-kun bersama Seijuurou-kun jadi kupikir kalian—"

Bla bla bla. Perkataan si gadis terus melaju seperti kereta listrik tanpa stasiun. Namun bukan itu yang Kuroko perhatikan. Topik mereka saat ini hanyalah satu orang, dan cara si gadis memanggilnya dengan nama kecilnya barusan itu—ugh.

—terusik, huh?

"Well, kalau begitu aku pergi duluan, Kuroko-kun." gadis itu membungkuk. Kuroko hanya mengangguk. "Sampai nanti!"

Tidak. Kuroko tidak ingin mengerti. Sedekat apapun si gadis dengan Akashi tentu tidak sedekat dirinya dengan sang Emperor. Dan lagipula—hubungan mereka apa sampai berani panggil nama kecil?

"Ah, Seijuurou-kun! Disini rupanya."

Sial. Kuroko bisa merakan sensasi listrik kejut di seluruh tubuhnya. Ia menoleh lagi, refleks mendapati wajah gembira si gadis sebelum masuk ruang OSIS. Dan seakan tak bertuan, tubuhnya bergerak sendiri tanpa suara. Ruang OSIS, ya. Ia lupa kalau memang itulah tempat Akashi sering bernaung.

"Aku membawakanmu bento. Yang kemarin bagaimana rasanya?"

Wow. Rupanya kemarin gadis itu bersama Akashi juga, eh?

"Tentu saja enak. Aku mengembalikannya tanpa sisa."

Terdengar tawa kecil. Kuroko sudah menempel di dinding yang berada di samping ambang pintu ruangan OSIS sekarang. Meski gayanya sudah seperti buruan interpol namun Kuroko tak peduli. Ia harus mendengarnya.

"Senang kalau Seijuurou-kun suka." Kuroko mendapati bunyi kursi yang bergeser, duh. Jantungnya mulai berdebar di luar kontrol. "Jadi apa jawabanmu, Seijuurou-kun?"

"Ah, maaf. Tentang apa?"

"Wah, sungguhan lupa atau memang dilupakan?" tawa si gadis bergema pelan. "Aku agak kecewa."

"Maaf. Banyaknya tugas membuatku sedikit kurang fokus."

Kuroko yakin gadis itu mengangguk sekarang.

"Tidak apa. Aku akan mengulanginya lagi." sekali menarik napas, gadis itu bicara lagi. "Aku tak ingin hanya masakanku yang diterima oleh Seijuurou-kun. Aku—sungguh menyukaimu."

Wow. Kuroko bisa merasakan lututnya lemas sampai ke sumsum sekarang.

"Ah, itu." Akashi tertawa kecil. "Atas dasar apa kau menyukaiku, Nagisa?"

"Well, Seijuurou-kun memiliki semua hal yang kucari. Tenang, tegas dan sigap. Seijuurou-kun baik, pelindung yang kuat. Aku bisa melihat caramu menjaga Kuroko-kun, sikap kakak yang hebat. Kepemimpinanmu juga tak pernah terbantahkan, aku suka itu."

Kakak, huh. Kuroko tertawa miris dalam hati. Ia terkena brotherzone di mata orang lain.

"Begitu." Akashi berdehem. "Tapi kau tahu betul orientasiku."

"Itu tidak masalah, aku akan mengubahnya dengan caraku." Kuroko positif si gadis tersenyum seduktif saat ini. Berlebihankah imajinya? "Aku akan menunggu Seijuurou-kun. Meski lawanku adalah orang semanis Kuroko-kun, aku yakin aku akan menang. Lagipula kita memiliki prinsip yang sama. Bukan begitu, Seijuurou-kun?"

Tak disangka, Akashi tertawa. Tapi sumpah, itu bukan tawa yang biasa ia berikan untuk Kuroko. Sial.

"Baiklah." Wow. Kakinya tremor hebat sekarang. "Aku—"

"Tetsu-kun~~~! Sedang apa disana, ne? Dai-chan mencarimu, lho!"

Tiga entitas beda warna itu terkesiap, terlebih Kuroko. Ia menatap gadis sintal yang kini berlari ke arahnya, siap menubruk. Baguslah. Kuroko memang tak ingin mendengar lanjutannya saat ini. Ia berjalan cepat, menghampiri Momoi yang menoleh heran padanya.

—tak menyadari kelebatannya ditangkap oleh sepasang ruby yang nyalang bangkit mengejar.

Ugh. Kini Akashi tahu rasanya kewalahan mengatur napas sendiri. Ia sudah memutari hampir seluruh areal sekolahan. Koridor, kelas-kelas, gym, lapangan, kolam, UKS, ruang guru, ruang kepsek, bahkan sampai toilet wanita ia telusuri. Bagaimana bisa sosok berwarna mencolok sepertinya hilang seperti ini?! Bahkan sampai saat ini hanya dirinyalah yang selalu berhasil menemukan entitas manis itu setipis apapun keberadaannya. Sungguh, apa yang telah ia dengar barusan?

Akashi mulai galau. Merasa bersalah.

"Nee~ ada Aka-chin disini~"

Ia menoleh dengan engahan pelan. Nampak pria bersurai ungu lembut bersampingan dengan pemuda anggun yang tersenyum tenang. Tak ingin membuang waktu, Akashi bertanya.

"Kau lihat Tetsuya, Atsushi?"

Pria itu menggeleng. "Kata Sacchin sih, Kuro-chin absen saat pelajaran. Sepertinya ia memang tidak masuk~ aku juga tidak tahu, sih."

Akashi mendecih. Murasakibara hanya mengangkat sebelah alis.

"Untuk apa Aka-chin mencari Kuro-chin?"

Sang Emperor mendengus.

"Ia mendengar kami."

"Kami?" Himuro angkat alis.

"Ehm, ya." Akashi menghela napas. "Aku dan Nagisa."

Gantian si pria lavender yang mendengus. Himuro sampai harus mendongak untuk menangkap ekspresi dingin sang pacar. Akashi belum sadar, ia masih menerawang.

"Kalau cuma mau main-main lebih baik Aka-chin putus dengan Kuro-chin." ujarnya, Akashi berhasil menoleh kaget. "Sebelum aku hancurkan Aka-chin~"

"Atsushi, jangan ikut campur—"

"Kuro-chin kan temanku juga, Muro-chin~" ia menoleh, si pemuda emo kena getah juga. "Padahal Kuro-chin sudah mati-matian belajar masak untuk Aka-chin tapi malah seperti ini~"

"Untukku?" Akashi mendengus sinis. "Jangan bercanda, Atsushi. Jelas-jelas dia—"

"Terserah mau percaya atau tidak. Makanya lebih baik Aka-chin putuskan Kuro-chin~" Murasakibara cuek, melangkah melewati si pemilik surai crimson dengan menggandeng Himuro. "Kuro-chin punya banyak orang yang bisa menghargai usahanya nee~ contohnya Sacchin."

Himuro mulai repot mengimbangi langkah lebar Murasakibara yang kian menjauh, sementara Akashi mengepalkan tangan dalam diam. Barusan apa katanya—untuknya? Hah, jelas-jelas si baby blue enggan sebut nama waktu dia tanya. Malahan ia belum boleh tahu siapa orangnya. Kalau itu memang dirinya, mengapa tidak mau jujur awal-awal?

Cih, sekarang Akashi penasaran setengah mati.

Bel pelajaran berdentang nyaring. Para siswa serabutan ke kelas masing-masing. Para guru bergidik cepat, geram pada siswa yang berjalan santai tanpa beban. Beberapa siswa memanggil namanya, termasuk gadis itu. Namun kini Akashi tak peduli, ia terus berlari mengitari tempat nostaljik. Tidak apa. Biarkan ia nakal sekali ini saja, ia rela dicopot jabatan atau dimarahi guru satu sekolah.

Biarkan ia memastikan perasaan mereka. Perasaan Akashi Seijuurou dan Kuroko Tetsuya.

"Ayo, Tetsu. Kau sudah seperti mayat hidup sekarang—kantung matamu bertambah parah."

Sisa kilap dari manik bening itu melirik, membuat sobat bersurai navynya merinding. Kulitnya pucat, kantung matanya menghitam. Dengan hawa keberadaan yang begitu tipis, apa lagi yang kurang?

Kalau imutnya sampai hilang, ia sungguhan bakal jadi hantu . Beri saja ia kain putih dan bungkus atas bawah seperti lontong.

"Aku mau pulang, Aomine-kun." ujarnya parau. "Mau tidur."

Yang dipanggil hanya menghela napas sebelum berjongkok.

"Cepat naik." titahnya. "Kita ke rumahku saja."

Kuroko hanya mengernyit sebelum menjawab. "Aku bisa jalan sendiri, Aomine-kun."

"Cih. Bolak balik kelas saja kau sempoyongan. Memangnya aku tega membiarkanmu jalan sampai apartment?"

"Memang iya."

"Sialan! Cepat naik sebelum aku berubah pikiran, Tetsu!"

Si baby blue sudah berdiri dibelakang Aomine. "Kerumahku saja ya, Aomine-kun."

"Kau mau aku ditusuk nenekmu?"

"Tidak akan, Aomine-kun."

"Pokoknya kita kerumahku dulu. Cepat naik."

Kuroko mendengus namun menurut. Ia segera naik ke punggung Aomine dan menyandarkan kepala ke punggung lebar si pria tan. Lelah. Ia capek sekali. Semua hal tentang Akashi membuatnya letih, ia kalut tak berbatas saat ini.

Di sisi lain Aomine sudah nyengir lebar. Murasakibara memang tidak becus, namun siasatnya boleh juga. Masalah kecil seperti itu saja sudah bisa jadi bumerang besar bagi AkaKuro. Ia yakin sekali tidak ada hubungan yang begitu kuat seperti hubungannya dengan Kise yang selalu adem ayem—tengok saja Kuroko dan Akashi. Wow, sore nanti mungkin ia dan yang lainnya harus mentraktir si bocah raksasa itu sekotak Mauibou rasa rujak cingur.

"Kau kurusan, Tetsu. Beratmu berkurang." ucapnya saat berjalan. "Pegang tasnya, jangan mencekikku."

"Iya."

"Kau tahu. Kau—"

"Tetsu-kun—!"

Derap langkah terburu menggema di koridor lengang, Beberapa orang berlari menghampiri mereka, Kuroko hanya melirik dari posisinya.

"Kurokocchi mau langsung pulang? Kenapa tidak minta digendong olehku, ssu?" Kise memajukan bibir. "Aku juga kuat, kok."

Aomine berdecak.

"Jangan sok jadi seme kalau kau sendiri uke, bodoh."

"Aku memang seme kok, Aominecchi."

"Lalu yang selalu mendesah dibawahku siapa?"

"Kalian mau kuhancurkan nee~?" Murasakibara mulai menginterupsi. Hening melanda sesaat.

"Aku mau ngobrol dirumah sama Tetsu. Kalau ada yang mau ikut, terserah. Tapi jangan sampai mengacaukan isi rumah."

Aomine ngeloyor menjauh dengan Kuroko dalam gendongan. Si baby blue sudah terkantuk-kantuk, punggung Aomine serasa kasur air. Padat dan nyaman. Sementara Kise dan Momoi sudah berdiri di kanan kirinya, cemas akan wajah moe yang hampir memudar. Sumpah, kantung mata Kuroko tidak bisa ditolelir. Penyebabnya siapa lagi kalau bukan kaisar bergunting? Cih, mereka greget parah.

"Kurokocchi tidur di kosanku saja, yuk. Banyak makanan, lho. Nanti Kisedai juga menginap kok kalau Kurokocchi datang." tawar Kise, masih cemas. "Jangan dirumah sendirian, ssu."

"Iya, Tetsu-kun. Kemarin Ki-chan dapat oleh-oleh coklat putih dari fans. Tetsu-kun suka, kan?"

Kuroko mengangguk sambil tersenyum samar. Mereka bisa bernapas lega sejenak.

"Ke kosanku saja, Aominecchi. Aku akan kirim email ke Kagamicchi dan Midorimacchi."

Aomine tahan napas. "Jadi jatah malam ini dibatalkan dong?"

"Tentu saja."

"Cih. Kau menyebalkan, Kise."

"Dai-chan bisa diam tidak, sih?"

"Kau yang diam, Satsuki."

Debatan terus berlangsung sampai keluar gerbang. Gesekan sepatu terdengar kompak melewati jalan setapak, mereka menoleh saat seseorang menyapa santai. Agak aneh melihat dua orang yang sering ngamuk bareng itu jalan beriringan, namun Momoi dan yang lainnya tidak begitu ingin peduli.

"Kuroko." pria bermata jade disamping pria beralis ganda menekan tulang kacamata, melirik entitas biru yang merem melek menahan kantuk. "Barusan Akashi mencarimu."

Sontak Momoi menoleh kearahnya, Kise juga. Kuroko tak ingin peduli, ia menyembunyikan mulut dibalik pundak sobat tan-nya.

"Biarkan saja, Midorima-kun. Disana ada Chiyoda-san."

Wow, ini poinnya toh.

"Kau suka padanya atau bagaimana, Kuroko? Kau malu bertemu Nagisa?"

Kagami bisa merasakan sisa manusia ajaib mendelik kejam padanya. Sungguhan ia tidak mengerti, menebak sedikit memangnya salah? Meski sedikit menusuk kokoro, sih.

"Apa?" tanyanya bebal.

"Pantas saja kau dijuluki Bakagami, nanodayo." Midorima buang muka. "Bodohnya tidak ketolongan."

"Abaikan dia. Ayo jalan lagi."

"Oi!"

Si surai marun mengomel absurd, ditinggal jalan duluan dengan komando si pria navy. Huff, ini benar-benar melelahkan. Kuroko ngantuk sekali saat ini. Ia makin terbuai saat Murasakibara menepuk-nepuk kepalanya. Ia sudah akan tidur, tak ingin diganggu oleh bisingnya manusia yang lalu-lalang maupun terik matahari siang yang berpotensi membuat kulitnya kecoklatan. Tak apa, ia hanya ingin tidur.

"Berhenti."

Oh, sial.

Kuroko buru-buru menenggelamkan wajah di punggung beraroma maskulinnya Aomine.

"Akashi-kun, ada a—"

"Mau apa Aka-chin kesini?"

Pria ungu maju dua langkah, menjadi perisai bagi sosok mungil di belakang sementara pria bermata merah strawberry di depannya menyipit serius.

"Aku ingin bicara dengan Tetsuya. Minggir, Atsushi." ia mendengus. "Pantas saja ia tidak bisa ditemukan."

"Aka-chin sudah tidak punya hak untuk memonopoli Kuro-chin. Aku sudah bilang kan~ putus saja dengan Kuro-chin."

Wow. Seharusnya Kiseki no Sedai menempatkan Murasakibara di pasukan lini depan, ya. Straight-to-the-point sekali, pemirsa.

"Apa aku perlu izinmu untuk membawanya? Dia pacarku, Atsushi."

"Memang pacar seperti apa yang tiap hari berduaan bersama gadis lain nee~?"

Jleb. So right to the kokoro, Mukkun.

"Aku tahu." diluar dugaan, Akashi mengulurkan tangan pada Aomine—Kisedai mulai salah fokus. "Jika ini kali terakhir untukku dan Tetsuya, aku akan menggunakan kesempatan ini dengan baik."

Menyerah. Itu bisa dianggap deklarasi pengibaran bendera putih, kan?! Kisedai mulai bersorak riang dalam hati. Sungguh, Murasakibara. You're the man! Sangat bisa diandalkan untuk membuat Akashi naik-turun.

"Aku tidak akan tanya pada Kuro-chin, dia pasti bilang iya nee~" Murasakibara berbalik, memunggungi. "Tapi aku juga tidak ingin kalian lanjut sih~" tutupnya sambil berjalan duluan.

Akashi belum menurunkan uluran tangan. Midorima sudah menghitung seberapa kebas tangan itu, masih bisa bertahan berapa lama dalam posisi itu? Jangan-jangan Akashi kram makanya tidak bisa menurunkan tangannya? Sementara si pria zamrud bertahan dengan perhitungan, Kise dan Momoi malah sepikiran tentang jawaban Kuroko. Sudah pasti iya, sih. Tapi masalahnya mereka tahu kalau Kuroko sedang tidak dalam mood yang baik untuk bicara banyak, ia juga kelelahan. Bagaimana dengan si macan cahaya? Ow, ia membeku di tempat. Akashi sudah seperti pangeran berkuda dan Kuroko adalah putri yang ditawan kawanan iblis. Sementara dirinya, pengawal yang dipukul mundur ke barisan terbelakang, tidak dapat berbuat banyak.

Kuroko mengangkat kepala.

"Akashi-kun pulang saja. Aku ngantuk." sambil mengeratkan rangkulan ke leher Aomine. Akashi mengeraskan rahang. Panas, perih. Cemburu? Jelas. Sahabat seharusnya punya batasan.

"Kita harus bicara, kan?" tanyanya lagi. "Tetsuya bisa tidur dirumah. Aku tidak akan pergi sebelum Tetsuya bilang iya."

Aomine bisa merasakan hangatnya wajah si baby blue di punggungnya yang berbalut kemeja tipis yang dilapisi blazer. Duh, Kuroko demam, ya? Atau meriang? Jangan-jangan kena flu musim panas, pikirnya ngelantur.

"Aku ingin Aomine-kun ikut juga."

Oh. Sekarang si pria berkulit eksotis itu sudah melirik horror pada Akashi yang menatapnya dingin. Please, Tetsu. Jangan libatkan aku.

"Ehm, dia hanya puyeng karena tidak tidur semalaman, jadi—"

"Aku bisa menggendong Tetsuya sampai mobil." kini kedua tangannya terangkat. Berusaha menggapai si baby blue yang begitu persisten memeluk leher si mantan cahaya. "Ayo."

"Tidak mau."

Duh. Kali ini Kisedai bisa merasakan sensasi petasan disko di dalam hati. Untuk terakhir kalinya—please, Kuroko. Turuti Akashi sedikit sebelum kalian putus.

"Aku akan menunggu."

"Aku akan pulang kalau begitu. Ayo, Aomine-kun."

"O-oi, Tetsu—"

"Tetsuya, kau—"

"Ini nasib yang mengenaskan, harus terjadi lagi~

Bukan mau suudzon, tapi orang bilang itu friendzone~"

Sepi menyerang.

'Nada dering korban friendzone, ssu! Sesuanu banget!' Kise celingukan horor.

'Cih. Tidak jauh dari Bakagami pasti!' Aomine melirik geli.

'Sialan. Ini sindiran macam apa, sih?!' Kagami menunduk greget—curi pandang sedikit ke Kuroko yang terpejam kuat kearahnya lewat luruhan poni. Dasar tukang modus.

'Ringtone Akashi menggelikan sekali, nanodayo.' mendadak Midorima facepalm, ngelantur sendiri. Kok ke Akashi segala?

'Akashi-kun memangnya tidak panas berdiri terus? Aku saja berasa dijemur dipunggung Aomine-kun.' duh, kamu OOT nak.

'Masak apa ya, Muro-chin dirumah? Katsudon? Sambalado?' oke, abaikan ini.

Sontak Momoi merogoh tas ketika semua lelaki sibuk dengan tebakan masing-masing. Ia terkekeh garing sebelum menatap layarnya. "Maaf. Itu ponselku, ne?"

Oh. Ceritanya curcol, ya.

Gadis itu terbelalak, menoleh pada Kuroko cepat-cepat. Sedikit dramatis, tangannya mulai tampak tremor.

"Tetsu-kun—" panggilnya pelan. "Yukina-san menelponku."

"Hee?!" Kise berjengit. "Ibunya Kurokocchi menelpon Momocchi? Kok bisa?"

"Cih. Dia punya semua kontak kita, Kise."

"Bukan. Maksudku biasanya 'kan Akashicchi dulu yang ditelpon, ssu."

"Dia sudah menelponku semalam, ditambah barusan kami sempat berpapasan di apartment. Jadi bisakah kita pulang kerumah, Tetsuya?"

"Momoi, berikan ponselnya."

"Midorimacchi mau apa, ssu?"

"Jangan, jangan! Biar Satsuki saja yang angkat!"

"Ya terus kapan aku angkat telponnya kalau kalian ribut terus, ne?"

Senyap. Momoi mendengus, mode loudspeaker sengaja diaktifkan.

"Moshi-moshi?" sapanya.

'Araa~ Momoi-chan? Doumo~ maaf menelponmu tiba-tiba seperti ini.'

"Eh? Ah—iya, tidak masalah, Tante! Aku malah senang sekali."

Para manusia ajaib di belakangnya melirik horor saat Momoi tertawa-tawa. Tante? Momoi menyebutnya Tante? Ah jadi ini yang dinamakan musuh serumah. Tinggal bareng, berjuang bersama tapi menikam. Dijawab kekehan manis dari seberang.

'Sedang bersama Tetsuya tidak?'

"Ehm, iya. Tante mau bicara pada Tetsu-kun?"

'Boleh! Soalnya dari tadi ponselnya dimatikan. Jadi susah sekali menghubunginya~ Bibi tidak enak kalau bertanya pada Sei-kun terus.'

"Aku mengerti." Momoi tersenyum. "Tetsu-kun? Ini untukmu."

Ogah-ogahan Kuroko menggapai ponsel pink Momoi. Aomine sudah kram sekujur tubuh. Menggendong Kuroko memang tidak berat, masalahnya geliat kecil si bayangan saja sudah membuatnya linu. Well, linu dalam hal spesifik.

"Ya, Ibu. Aku—"

'Tetsuya kabur lagi?! Ibu ke apartment kalian dan hanya ada Sei-kun disana! Tetsuya nakal ya, sekarang! Memangnya Ibu pernah—'

Buru-buru dijauhkan ponselnya sebelum kalimat sang ibu selesai. Wow, ia berpotensi terkena gangguan pendengaran jika mendengar omelan setengah berteriak dalam mode loudspeaker dekat telinga. Dan barusan—eh?

Bukannya yang kabur itu Akashi sendiri?

"Ibu, tolong dengar dulu. Aku—"

'Ibu tidak mau lihat Tetsuya seperti ini lagi, kasihan Sei-kun! Sekarang cepat pulang, Ibu masih di apartment kalian dan jangan nakal lagi!'

Sambungan diputus sepihak. Kuroko mendengus, ia harus pulang, eh? Ia menoleh pada Momoi untuk mengembalikan ponsel sambil berterimakasih—niatnya sih, begitu. Namun setelah menangkap wajah syok Momoi dan Kise yang satu paket sama persisnya seperti Midorima yang speechless dibalik kacamatanya, membuatnya ikutan bingung. Murasakibara mendecih sebelum mengeluarkan lolipop dari kantong jasnya. Ia menoleh.

"Berhati-hati saja, Kuro-chin." ia menyobek bungkusnya. "Siapa tahu Aka-chin modus di jalan."

"O-oi, Murasakibara!" sanggah Midorima. Si pria ungu sudah ngeloyor cuek.

Akashi menoleh pada Kuroko yang meliriknya minta penjelasan. Ia mengangkat bahu, kemudian mengangkat tangannya lagi. Siap menggapai. Kuroko menggembungkan pipi.

"Aku masih bisa jalan sampai mobil, Akashi-kun."

Kuroko membelalakkan mata saat berdiri di ambang pintu. Akashi di belakangnya hanya menghela napas. Lengang. Kosong. Hampa. Apalah itu, yang jelas tidak ada siapapun di ruang tamu. Inisiatif sedikit, Kuroko jalan cepat ke ruang nonton. TV menyala, bercuap sendirian namun tak ada yang menyaksikan. Oke, coba lihat kamar. Rapi, kok. Sama seperti sebelumnya. Well, ia belum periksa toilet tapi untuk apa orang bertamu mendekam di toilet? Mau jadi Hanako?

Ia tahan emosi, menoleh dengan kerutan dahi pada Akashi.

"Akashi-kun sengaja, ya?"

"Kenapa aku yang disalahkan? Tadi aku memang bertemu Ibu disini saat mencarimu dan Ibu bilang ia akan menunggu sampai Tetsuya pulang."

"Tapi sekarang tidak ada siapapun."

Sang kaisar mengambil ponsel. "Aku akan hubungi Ibu. Tetsuya yang bicara dan katakan kalau kita baik-baik saja agar ia tidak khawatir."

Baik-baik saja? Bah. Ingin menangis rasanya. Sebelah mananya yang nampak baik? Kuroko membuang muka.

"Halo, Ibu. Ini Tetsuya—ah, Tetsuya sudah bersamaku di rumah. Ibu mau bicara pada Tetsuya? Oh, iya. Ibu dimana? Apa? Ah, iya. Baik, Bu. Salam untuk Ayah."

Sang Emperor menjauhkan ponsel dari telinganya saat dipastikan sambungan diputus total. Ia menatap punggung sang baby blue yang menghadap padanya. Ingin rasanya memeluk dari belakang—seperti biasa. Namun hari ini tidak bisa, mereka sama-sama terperangkap penjara terburuk yang dinamakan gengsi. Tidak apa kalau cuma Kuroko, Akashi akan merengkuhnya. Tapi ini? Dia juga sudah terjangkit virus kegengsian, egoisme dan arogansi tiba-tiba dominan sekali dalam hatinya.

"Akashi-kun sudah menerima Chiyoda-san. Untuk apa mencariku?" duh. Ini namanya apa? Hati Akashi mencelos rasanya. "Pantas saja sampai berhari-hari susah dicari."

Eh. Kuroko sedang jujur dan Akashi menangkapnya, kan? Ingin tersenyum namun teringat hatinya masih dongkol karena banyak hal. Mendesah berat jadi pilihan akhir.

"Itu karena Tetsuya sendiri." Kuroko menyipit. "Seharusnya Tetsuya jujur dari awal."

Oke. Sekarang Kuroko berbalik, menantang si Emperor langsung dengan pandangan.

"Tentang apa?"

"Untuk siapa Tetsuya belajar masak mati-matian. Siapa orangnya? Aku tidak pernah memaksa Tetsuya, dan tiba-tiba saja—"

"Murasakibara-kun." oh, tidak. Akashi gagal paham. "Murasakibara-kun memberitahuku kalau ia menyukai orang yang pandai memasak."

Astaga. Sungguh, inikah rasanya ditikam teman sendiri? Ngilu, nyeri. Akashi tidak masalah dengan yang lainnya, tapi mengapa harus Murasakibara? Bahkan dari tinggi badan saja ia tak cocok dengan si pemilik azure! Sumpah, Akashi bingung mau membidik siapa.

"Jadi sekarang Tetsuya menyukai Atsushi, eh?" duh, mengatakannya saja membuat lidah kelu. "Lalu selama ini Tetsuya menganggapku apa?"

"Tidak, bukan begitu maksudku, Akashi-kun. Kau salah—"

"Apa Tetsuya rela kupacari untuk mendapatkannya? Tetsuya tahu Atsushi punya Himuro, lalu kenapa? Tetsuya belajar nakal sekarang?"

"Akashi-kun, tolong dengarkan dulu. Aku—"

"Aku mengerti." Akashi menatap dingin. "Tapi jangan harap aku akan melepaskan Tetsuya begitu sa—"

PLAKK

"Cukup, Akashi-kun." sosok biru itu tertunduk, sementara si empunya surai merah masih tertegun dengan bekas memerah di pipi kanan. "Jika kita memang harus selesai, setidaknya aku tidak ingin salah paham."

Bahunya mulai berguncang pelan, tangannya mengepal, meremas plester yang melingkari jari—subtitusi perban tempo hari. Akashi bungkam, menunggu kelanjutan.

"Murasakibara-kun mengatakan kalau ia menyukai gadis yang pandai memasak." jeda, cekat pelan. "—sama seperti Akashi-kun."

Eh?

"Akashi-kun memuji sup buatan Chiyoda-san, kan?" kepalanya belum terangkat, Akashi tidak sabar. "Kalau aku bisa memasak mungkin—Akashi-kun akan berhenti makan makanan buatan orang lain."

Ah, begitu rupanya.

Sejak awal memang dirinya yang salah duga, terburu-buru juga. Sudah tahu pacarnya sepolos ini, mengapa masih juga meragukannya? Pakai menggodanya dengan pertanyaan retorik, ini sudah jelas salahnya. Menerima makanan dari orang lain—terlebih seorang gadis—tentu bakal membuatnya merasa punya beban besar.

Ah. Bolehkan ia memeluk Kuroko sekarang?

"Dan tadi kudengar Akashi-kun menerima Chiyoda-san barusan, jadi aku—" cih, Akashi tahu endingnya. "Aku mengerti."

Sial. Bukan seperti itu, Tetsuya. Makanya kalau menguping jangan setengah-setengah.

"Memangnya Tetsuya rela?"

Perlahan, si baby blue mengangguk.

"Ya."

"Aku dan Nagisa—tidak apa?"

"Asal Akashi-kun bahagia."—paling nanti aku pindah sekolah, pikirnya pendek.

Terdengar miris, Akashi menghela napas. Sudahlah, ia tak ingin iseng lagi.

"Well, aku sudah capek begini terus." capek. Satu kata yang berhasil membuat Kuroko terhenyak sendiri. "Inilah yang ingin sekali kubicarakan bersama Tetsuya. Aku tidak ingin kita sama-sama salah paham."

Yah. Kalau sudah begini sih siapa juga yang tidak salah paham?

"Angkat kepalamu, Tetsuya." Akashi memberi jeda. "Tatap aku."

Tidak. Setelah semua ucapan pasrah dan kalimat menyakitkan lainnya, haruskah ia adu pandang dengan sang Emperor kini? Oh, tidak. Terimakasih banyak, ia masih punya gengsi sedikit.

"Tetsuya tidur?"

Iya. Tidur sambil berdiri dengan hati yang luka.

Akashi menghela napas. Ia menggenggam kedua tangan sang baby blue sambil memposisikan diri sampai setengah berjongkok di hadapannya. Kuroko tercekat, Akashi mendapati wajahnya yang tergenang kini.

"Tetsuya tahu—" perlahan, Akashi mendekatkan wajah. Pemilik mata aquamarine itu tak mengelak, ia malah memejamkan mata dan berpikir ini adalah ucapan selamat tinggal yang mesti dinikmati sungguh-sungguh. "—aku sangat beruntung memiliki Tetsuya."

"Dibuang?" Kuroko mengulang. "Akashi-kun benar-benar jahat."

"Well, kau tahu siapa aku, Tetsuya."

"Tapi menerima pemberian orang lain lalu membuangnya—itu bukan perilaku yang baik, Akashi-kun."

"Siapa suruh memberiku porsi besar tiap harinya? Aku tidak suka makan sebanyak itu, dan lagi aku hanya suka makan dengan Tetsuya."

"Akashi-kun gombal." si baby blue pouting. "Lalu ia juga memanggil Akashi-kun dengan nama kecil."

"Ah, Tetsuya iri?" Akashi berseringai. "Makanya panggil aku dengan nama kecil, seperti Ibu. Kau bisa memanggilku Seijuurou, Sei-kun, Sei-chan, Sei—"

"Sei-tan?"

"Meskipun itu manis tapi aku menolak. Kau membuatnya terdengar seperti setan."

"Tapi aku menyukainya, Sei-tan."

"Tetsuya mau syarat ketiga dijalankan sekarang atau bagaimana?"

"Maaf. Lanjut yang barusan."

Akashi mendengus. "Nagisa memanggilku seperti itu sejak masuk SMA. Mungkin Tetsuya tidak tahu tapi ia memang cukup keras kepala—"

"Seperti Akashi-kun."

"Sepertinya aku tidak perlu menahan diri lagi. Baiklah, ayo—"

"Maaf. Lanjut, Akashi-kun."

"Lanjut menciumnya boleh?"

"Akashi-kun mau kutampar lagi?"

"Pakai bibir, ya?"

Kuroko hampir tepuk dahi keras-keras. Sumpah, Akashi-kun! Tetsuya lelah, Bang! Jangan mesum terus, bisa? Begini nih, kalau sudah baikan Akashi malah tidak bisa ditahan-tahan. Punya pacar seperti Akashi? Duh, makan hati tiap hari tapi terobati terus karena pesona dan romantika. Nasib. Kuroko galau antara greget campur bahagia.

"Lalu bagaimana dengan Atsushi? Tetsuya bilang kalau ia mengatakan sesuatu."

"Hai'. Murasakibara-kun benar-benar memberiku semangat yang besar." pemilik netra biru bening itu tersenyum manis. "Jika ia tak mengatakan hal itu mungkin aku tidak akan berjuang untuk Akashi-kun."

Akashi balas tersenyum sambil menangkup wajah yang berada di pangkuannya. "Padahal Tetsuya tahu kalau aku jatuh cinta tanpa Tetsuya harus berjuang seperti ini."

"Aku hanya tidak ingin Akashi-kun terbawa kebaikan orang lain." Kuroko memalingkan wajah, semburat menghias. "Setidaknya aku melakukan sesuatu dengan baik untuk Akashi-kun."

"Jadi masalah kita selesai." pipi tirus itu ditepuk, Akashi terkekeh singkat. "Aku menyayangi Tetsuya."

Kuroko lempar senyum. "Jangan gombal."

"Kuharap Tetsuya tidak menanggapinya dengan candaan." sirat ruby itu menajam, serius. "Ingatlah selalu kalau aku terus mencintai Tetsuya yang seperti ini. Terimakasih untuk semua usahanya, Tetsuya."

"Aku mengerti." manik aquamarine itu terpejam lagi. "Terimakasih juga—Akashi-kun."

"Ah. Berarti besok Tetsuya akan memasak sup tofu untukku, kan?"

٩(๛ ˘ ³˘)۶

"Pos—!"

Murasakibara menguap lebar. Ini hari minggu, mengherankan kalau ada kurir mengantarkan barang di hari libur. Pemuda emo yang bersandar di rangkulannya mendengus saat pria ungunya memejamkan mata lagi di sandaran sofa. Tayangan kuliner di stasiun TV kesayangan sudah berakhir, membuat Murasakibara bosan maksimal. Sebenarnya tidak masalah sih, malas-malasan di hari libur.

Tapi berhenti memeluknya seerat ini bisa kali, Mas!

"Atsushi, aku mau menerima paket dulu."

"Nee~ lalu aku bagaimana, Muro-chin?"

"Bagaimana apanya? Kasihan tuh, kurirnya sudah menunggu."

"Kan jarang-jarang ada hari berduaan dari pagi seperti ini, Muro-chin~"

Etdah! Himuro ingin ngamuk rasanya.

"Kalau kau tidak mau lepas, aku akan pulang."

Akhirnya si seme mendecak, sebal.

"Jangan lama-lama~" ujarnya sambil melonggarkan rangkulan. Himuro bergumam, langsung melesat ke pintu depan, mendapati kardus berukuran besar, mencurigakan. Si pemuda menyibakkan rambut, mencari kurir. Oh, ada. Di balik kardus, tampak segan.

"Ah, maaf sudah—"

"Maafkan saya ambil lembur dadakan di hari libur. Maafkan saya sudah mengantar paket sepagi ini. Maafkan saya sudah mengganggu anda. Maafkan saya sudah menunggu disini. Maafkan saya sudah bekerja jadi kurir. Maafkan saya karena sudah hidup. Maaf—!"

"Anoo, tolong berhenti meminta maaf." Himuro bingung sendiri. "Ada yang harus ditandatangani?"

"Maaf, maaf! Tandatangan disini, maaf saya lancang! Maaf, ma-"

"Tidak masalah, terimakasih." si pemuda melempar senyum andalan pada tukang pos yang tak henti-hentinya membungkuk. Sampai ia terjungkal karena membungkuk sambil berjalan, Himuro hanya tertawa kering sambil mengatakan bahwa itu tak masalah. Ia bisa bernapas lega saat sang kurir memacu sepeda motornya pergi, membuatnya mendesah tenang. Sesaat ia membaca nama pengirim dan tujuannya, ia mengernyit. Untuk Murasakibara Atsushi, dari Akashi Seijuurou?

"Atsushi—kemari sebentar." panggilnya melongok ke dalam ruangan. Terdengar suara langkah berat yang gontai, malas-malasan berjalan.

"Muro-chin menyebalkan, aku—"

"Ini untukmu, dari Akashi." Himuro menunjuk kardus berukuran 75x80x95. Murasakibara naik alis.

"Dari Aka-chin?"

"Iya."

Sang pria lavender mengangkat kotak berwarna coklat susu, menggoyang-goyangnya kemudian. Bunyi kresek-kresek terdengar kentara, penasaran juga rasanya.

"Dibuka disini, Atsushi?"

"Jangan~ aku lebih suka buka didalam nanti kalau disini kelihatan orang, Muro-chin~"

"Memangnya kaupikir isinya apa, coba?" Himuro melebarkan mata. "Bawa saja. Perlu bantuan?" lalu mengulurkan tangan.

Srek.

Himuro mengernyit.

Brekkkk—

Himuro facepalm.

"Katanya mau didalam." ia berkata jujur akhirnya. "Kenapa dibuka disini?"

"Habisnya aku penasaran~"

Dasar labil. Kekanakan juga! Pikir Himuro greget. Entah bagaimana ia bisa cinta pada pria lavender itu. Mulanya ia mau masuk ke dalam, mengerjakan apa saja yang bisa ia kerjakan sebelum Murasakibara memintanya bermanja-manja lagi. Namun melihat si pria ungu tak kunjung bergerak setelah melihat isi paket, ia jadi cemas.

"Atsushi?" panggilnya. Duh, kenapa dia? Himuro mulai degdegan, dialihkan pandangan ke kotak paket. Dan ia mengerti dengan cepatnya.

Cih, pantas saja. Stik bumbu dengan gambar cerpelai centil yang jadi ikon mencolok di bungkusnya, toh.

"Aka-chin—tumben sekali nee~" wow, Himuro bisa lihat Murasakibara ngiler parah dengan aura blink-bling disekitaranya sekarang. "Bacakan ini untukku, Muro-chin~ aku akan mendengarnya sambil menatap semua Mauibou ini~"

Si pemuda anggun mengambil kertas kecil di tangan Murasakibara yang kini asik menatapi sekardus penuh stik Mauibou dengan ratusan varian rasa. Ia membacanya sejenak lalu tersenyum sambil geleng kepala.

"Ucapanmu membuat Tetsuya berjuang untukku. Ini hanya sedikit dari bentuk rasa terimakasihku, jangan sampai membuangnya atau aku akan membidikmu. Begitu katanya." Himuro tertawa kecil. "Akashi memang tahu caranya membahagiakan orang, ya?"

"Kalau lain kali dikasih misi dan hasilnya akan seperti ini, aku tentu akan giat sekali nee~" Murasakibara memeluk kardusnya, lalu berdiri girang. "Aku akan membaginya dengan Muro-chin nanti~"

"Well, bukannya aku tidak ingin, sih." Himuro tersenyum manis sebelum beranjak, hendak masuk. "Tapi aku tahu betul kalau kau akan menghabiskannya dalam satu jam tanpa diriku, Atsushi."

.

.

.

.

Momoi : Yatta~! Sampai lagi di pojok cuap-cuap! Ahaha hari ini Ki-chan tidak ada, jadi readers bisa tenang. Dan bagusnyaaaa! Aku bersama Tetsu-kun! (meluk Kuroko)

Kuroko : Sesak, Momoi-san.

Momoi : Tapiiiii—! Walaupun kami bersama dalam segmen ini, Dai-chan juga ikut, coba! (pouting sambil ngelirik ke samping. Cuek sama Kuroko yang mau keabisan napas)

Aomine : Cih. Kaulah yang harusnya pergi, Satsuki. Aku dan Tetsu saja sudah cukup. Kami ini sepaket. Ultimate seme dan ultimate uke.

Kuroko : Ini juga rencana Nami-san, Momoi-san. Yang penting Momoi-san ada di tiap kolom review, kan?

Momoi : Ah, Tetsu-kun benar! Aah~ jadi makin cinta (peluk lagi, mumpung gaada raja gunting katanya) yosh! Kita mulai dari pembacaan review yang tidak login ya!

Aomine : Kasih tahu kalau yang tidak login dibalasnya disini, gitu.

Kuroko : Itu kan sudah Aomine-kun kasih tahu.

Momoi : Maklumin ya, Tetsu-kun! Makanya kepala Dai-chan selalu berlubang. Akashi-kun mau kasih lihat kalau didalam kepalanya kosong, soalnya.

Aomine : Sialan! Mau kuberi kodok, hah?!

Kuroko : Aomine-kun, tidak baik berlaku kasar pada perempuan (covering Momoi, di belakang udah jerit2 girang)

Momoi : Tuh! Lihat Tetsu-kun dong, gentleman sejati! Dai-chan sih na—

Aomine : Tapi kan Tetsu belok. Mana doyan dia dengan gadis pecicilan sepertimu, Satsuki. Jangan mimpi.

Momoi : Dai-chan bodoh! Jangan sok tahu—

Aomine : Oke, kita baca review yang tidak login. Tetsu, berikan kertasnya.

Kuroko : Anoo, sebelumnya aku baca bagian ini dulu. Ide fic ini diambil dari pengalaman Nami-san sendiri. Kupikir memang bukan hal sepele jika seorang gadis tidak bisa masak apalagi untuk pacar.

Aomine : Cih. Dia memang suka pakai pengalaman sendiri. Kalau tidak pakai curhatan orang seperti misiku dan misi Kise nanti.

Momoi : Dasar tukang spoiler. Samanya deh sama Ki-chan. Tapi tidak heran sih, soalnya—

Aomine : Berisik. Lanjut, Tetsu.

Kuroko : Ah. Kemarin di chapter sebelumnya juga banyak typo. Aomine-kun mau tidak membaca bagian ini? Tapi Momoi-san benar. Aomine-kun memang sama—

Aomine : Duh. Sejak kapan sih kalian jadi begitu bawel? Aku jadi harus memotong ucapan kalian terus! (garuk rambut ekstrim) diam saja bisa, kan? Aku juga mau baca!

Momoi : Yang paling bawel bukannya Dai-chan?

Aomine : Sumpah, kau mengesalkan sekali, Satsuki! Aku baca review dari akakuro shipper. Ini updatenya jarang sampai 2 minggu. Ini kau salah ketik atau bagaimana? 2 hari mungkin ya?

Kuroko : Aomine-kun menjawabnya seperti yang mau ngajak ribut. Jawab yang benar, Aomine-kun.

Momoi : Dia mana tahu cara menjawab yang benar, Tetsu-kun~ (julurin lidah, jail) btw ini yg review tanpa login cuma satu orang ya? Waah jd tugas kita tidak banyak, dong. Ada banyak waktu untuk memikirkan misi berarti. Minggu depan bagiannya Ki-chan, dia paling tidak sabaran ne~

Kuroko : Anoo—misi apa, Momoi-san?

Aomine : Misi menjadi uke yang baik. Cepat tutup kolom cuap-cuapnya, Tetsu. Barusan aku disms Kise, dia mau traktir kita di Majiba. Kau tidak mau susu kocok vanilla memangnya?

Kuroko : Ah, iya. Kami mewakili Nami-san mengucapkan terimakasih untuk reviewers, followers, favers, dan semua silent readers yg selalu support Nami-san.

Momoi : Un! Dukungan kalian membuat Nami-chan sering curi-curi waktu di tempat kerja untuk cari ide update, lho! Jadi mungkin tidak maksimal karena yang namanya colongan itu memang tidak enak, apalagi colong-colong pandang.

Aomine : Garing, Satsuki. Cepat tutup, kita akan terlambat!

Momoi : Ih, Dai-chan menyebalkan! Baiklah, dibawah ini ada omake. Sayonara, ne! Ketemu lagi di chapter selanjutnya, ya! (tarik Kuroko langsung lari)

Aomine : Oi! Kenapa juga aku yang harus ditinggal?! (nyusul pake zone)

.

.

.

—Omake—

"Tetsuya!"

"Seijuurou-kun, tunggu!"

Akashi melirik dingin pada jalinan jemari ramping yang menahan lengannya. Sungguh. Kalau saja Nagisa seorang pria mungkin sudah dibidiknya dari awal. Perlakuan manis yang sedari tadi ia terima membuatnya muak, pasalnya ia hanya serius pada satu orang.

"Maaf, Nagisa." Akashi menarik tangan, tak ingin tersentuh. "Aku harus mengejarnya."

"Kupikir sebaiknya kita perjelas dulu hubungan kita, Akashi-kun."

Oh, benar. Tak ada gunanya menggantung harapan seorang gadis. Ia berbalik, tersenyum senormal mungkin.

"Aku ingin memastikan beberapa hal sebelum memutuskan Tetsuya untukmu." Akashi memulai. "Kuharap kau menjawab dengan jujur."

Gadis itu mengangkat bahu sebelum tersenyum lagi. "Tidak masalah."

Langkah sang Emperor mendekat, membuat sang gadis mendadak tak berani mempertahankan jarak. Ia terus mundur, sementara Akashi makin maju dengan mimik seduktif. Cih, kalau saja sudah resmi mungkin gadis itu tak akan segan menghadapi Akashi.

"Tetsuya sering kusudutkan seperti ini." tangannya bermain, kini lengan kokoh itu sudah mengurung sisi kiri kanan si gadis, bikin gelagapan. "Lalu aku akan mem—piiip—nya dan —piiip—. Kemudian Tetsuya akan ber—piiip— dan aku akan memaksanya —piiip— sampai pagi. Kadang kalau sedang hari libur aku akan memberinya —piiip— dan —piiip— agar ia —piiip—. Apa kau bersedia menggantikan posisinya yang sedemikian submisif untukku? Kau tahu aku bukan orang yang sabar."

"A-apa-apaan–Seijuurou-kun, kau—bercanda, ya? Mana mungkin—"

"Kalau dengan wanita mungkin akan lebih menyenangkan lagi, ya?" ia melebarkan seringai. "Terlebih denganmu. Aku akan—'

"Oke, cukup. Aku tahu Seijuurou-kun berbohong. Aku—"

"Kau belum mengenal sisi paling manusiawi dari seorang Akashi Seijuurou sebaik Kuroko Tetsuya, bukan?" Akashi memiringkan kepala. "Atau kau ingin mencobanya disini? Aku paling suka main kasar."

"Se-Seijuurou-k—"

"Darimana kita harus memulainya? Atas? Bawah? Depan? Belakang? Seingatku ada tali bekas kontes kemarin di lemari sana. Mau pakai?"

"Cukup, Seijuurou-kun! Aku—"

"Kau tahu aku cuma punya satu ketertarikan dan kau bilang mau mengubahnya?" Akashi terkekeh kecil. "Kau harus lebih mendengarkan omongan orang tentangku, sepertinya."

Si rambut strawberry mengangkat tangan, membiarkan si gadis bersurai coklat kopi itu merosot karena lutut yang terasa kopong tanpa isi. Sumpah, sejak kapan ia harus gentar menghadapi orang yang ia suka? Ia bukan M, sebenarnya. Ia tidak menduga, sumpah. Akashi—S?

"Kurasa kau paham betul makna dari tiap perkataanku." Sang Emperor melirik dingin saat berada di ambang pintu. "Dan kupastikan kau takkan berkeinginan mengejarku lagi."

Ia pergi setelahnya. Meninggalkan gadis yang tertawa kering sebelum terisak parah. Oh, rupanya selama ini pelabuhannya salah, ya? Sungguh, ia sudah menjatuhkan segala kearoganan hanya untuk mendapatkan pria kharismatik itu. Dan sekarang—inilah dia. Nagisa Chiyoda, 16 tahun. Gadis pemenang kontes gravure yang kalah telak dari seorang pemuda bertampang manis bernama Kuroko Tetsuya.