Tersangka Keempat (dalam proses) : Midorima Shintarou—

"Horeee! Kali ini giliranku beraksi, ssu!"

"Tunggu! Aku maju duluan, nanodayo!"

"Eeeh?! Midorimacchi jangan asal nyerobot, dong! Kan Momocchi bilang—"

"Perubahan rencana, Ki-chan! Kita butuh cara yang lebih terorganisir, ne!"

"Iya, Kise. Lagian aku juga tidak ingin melihat ada lubang lain dalam tubuhmu."

"Mine-chin ingin kuhancurkan nee~"

"Kalian bisa diam tidak, sih?"

"Kagamicchi sedang patah hati, tuh. Dari pagi menggerutu terus."

"Be-berisik!"

"Yosh, pokoknya sudah fix, ya! Sini, sini!" si gadis mengibas-ngibas tangan. "Selamat—"

"Jujur saja aku sudah mulai lelah pakai pom-pom beginian, Satsuki."

"Dai-chan berisik!" lengan coklat ditarik, si pria tan mengaduh saat ditimpa banyak lengan. "Pokoknya misi kali ini harus berhasil! Selamatkan kepolosan Kuroko Tetsuya-kun!"

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi

I've got nothing but pleasure and anu from this fic. Some OC appears, standard warning applied.

Semua hal buruk terjadi ketika mereka bersama. Benarkah?

"Tetsuya, matikan televisinya."

Si baby blue menoleh sekilas, lalu terpaku lagi pada layar flat yang masih bercuap-cuap dengan riangnya. Remote berplastik masih tergolek manis disampingnya, tak tersentuh sedikitpun oleh pemuda bermanik biru yang masih asik dengan posisinya—nonton. Sang raja sudah keki, ia sudah tiga kali menyuruh kekasihnya tidur, bahkan ia sampai iseng menaikkan suhu AC agar si pemuda kedinginan dan (seperti biasa) bergelung cepat-cepat dalam rengkuhannya.

Tumben sekali Tetsuya bertahan tanpa kehangatan pelukanku. Ingin diterkam atau bagaimana?

"Tetsuya—" akhirnya ia bangun, membiarkan selimut tebal menuruni abs tanpa lapisan. "Ayo tidur. Besok kita sekolah, Tetsuya juga mesti piket."

"Hmm." pertahanannya hampir runtuh, sang Emperor mengecup tengkuknya. Bikin merinding sekujur badan. "Lima belas menit lagi acaranya selesai, Akashi-kun. Tolong biarkan aku menontonnya."

"Kali ini apa yang kau tonton, Tetsuya? Kemarin stand-up comedy." Akashi menghela napas. Ingat semalaman Tetsuya-nya menonton acara lawak dan ia sama sekali tak tertawa. Besoknya apa? Ia cerita terus sepanjang perjalanan kalau acara itu lucu sekali. Sungguh, Akashi bingung mau jawab apa.

"Kuis 'Olimpiade Seirin Cerdas', Akashi-kun."

Lagi, Akashi mendengus.

"Tetsuya seperti ini terus sejak kita punya TV baru di dalam kamar. Padahal 'kan tujuannya bukan untuk menonton simulasi otak." melainkan simulasi keintiman yang mengarah pada praktek reproduksi antara kaisar tampan dan empress-nya yang super unyu macam dirimu, Tetsuya, batin Akashi geram.

"Tapi 'kan Akashi-kun membelikannya agar aku bisa menonton di dalam kamar."

"Iya. Tapi bukan menonton acara bocah seperti ini, Tetsuya."

"Ini acara pendidikan, Akashi-kun. Bahasan pelajarannya juga humanoira—favoritku."

"Tetsuya sudah pintar. Bagaimana kalau menonton sesuatu yang lebih seru? Misalnya—"

"Film hantu?"

Sang pria berdecak. "Tidak, tidak. Respon Tetsuya terlalu datar untuk itu." tidak ada lonjakan kaget ataupun ringkukan ngeri dari Tetsuya, soalnya. Bagaimana bisa modus, coba? Akashi malas nonton film horror jadinya.

"Tapi itu seru, Akashi-kun."

"Bagaimana kalau nonton film dewasa?"

"Ah, boleh." Akashi hampir lompat ke rak DVD. "Genrenya apa, Akashi-kun?"

"Drama, romansa." dan sedikit bumbu hardcore, pikirnya menyahut.

"Tidak jadi, Akashi-kun. Aku akan tidur."

Akashi menurunkan bahu, menghela napas. Yah, Tetsuya. Padahal sedikit lagi saja. Kuroko meraih remote TV dan memencet tombol power kemudian merangkak sebelum menghempaskan diri di samping Akashi yang masih terduduk. Ia menarik selimut kemudian meringkuk terpejam. Sang Emperor mulai keki.

"Tetsuya tidak mengajakku tidur juga?"

Sebelah manik si biru terbuka. "Memangnya Akashi-kun tidak akan tidur?"

"Tidak sebelum diberi ciuman selamat malam. Biasanya juga begitu, kan?"

Terkatup lagi, si pemuda mendengus. "Besok saja sekalian ucapan selamat pagi, Akashi-kun."

"Berarti double ya?"

"Hmm."

"Oke." Si pria merah ikutan menghempaskan tubuh dan tarik selimut tebal, mengecup kening Kuroko sekilas. "Selamat malam, Tetsuya."

"Selamat malam juga, Akashi-kun. Tolong tangannya jangan bergerak-gerak lebih dari ini, Akashi-kun."

Pagi ini mereka kesiangan. Benar saja dugaan Akashi, nonton sampai malam memang tidak baik. Kesal, baru kali ini ia sibuk pagi-pagi dan Kuroko juga malah anteng saja di depan TV! Piyama berserakan di lantai—efek semalaman dipaksa dan akhirnya si baby blue tidur dalam keadaan ngambek, kepingan DVD juga berceceran gara-gara Kuroko curi-curi kesempatan mencari film horror dan kedapatan oleh si raja merah. Pokoknya kamar berantakan! Saat ditanya tidak langsung menjawab atau memberi kecupan bangun tidur. Akashi malah dicueki, diduakan oleh acara horoskop bertajuk Oha Asa. Siapa yang tidak sebal, coba? Paling tidak jangan lupakan jatahnya kalau tidak ingin bayar hutang!

"Tetsuya, cepat mandi! Setengah jam lagi kita berangkat!"

Teriakan dari ruang tamu tak mendapat sahutan, Akashi tahu sebabnya. Greget! Ia menggigit roti yang baru saja keluar dari mesin pemanggang dan berlari ke kamar sambil menyabet kemeja yang tak sengaja menyenggol selai strawberry karena kelebatannya. Benar saja, kan? Didapatinya Kuroko masih mendongak pada layar tipis yang bertengger diatas lemari kaca. Cih, kalau ini hari libur sih tidak masalah. Mungkin Akashi juga akan membiarkan dirinya tetap topless sambil menemani sang pacar nonton.

Tapi ini masih hari Jumat dan ini hari wajib bersih-bersih di Teiko, woi!

"Tetsuya." panggilnya dingin diambang pintu. "Kalau dalam sepuluh menit Tetsuya belum bersiap juga, aku akan—"

"Akashi-kun harusnya ikutan melihat," tunjuknya pada layar TV. "Sini."

"Jangan mengalihkan pembicaraan, Tetsuya. Cepat mandi atau aku—"

'Wah, sayang sekali Sagittarius berada di peringkat terbawah hari ini. Tapi jangan khawatir! Lucky item anda adalah wakame segar, bawalah selalu dalam saku anda meskipun hanya selembar. Dan juga—hindari untuk berdekatan dengan Gemini ataupun Aquarius yang peruntungannya berada di peringkat pertama dan kedua hari ini. Selamat juga untuk para Aquarius! Para lawan jenis akan semakin de—'

Kuroko menoleh dengan mata bulatnya, Akashi tahu ia terkejut. Meski sempat ikutan tercengang, ia kembali mengendalikan diri.

"Akashi-kun—tidak boleh dekat-dekat denganku." ujarnya pelan. "Berarti—"

"Omong kosong." Akashi memakai kemejanya, cuek. "Apanya yang peringkat terbawah? Tidak ada yang ingin percaya ramalan pagi, terlebih kalau aku harus jauh-jauh dengan Tetsuya."

"Tapi, Akashi-kun..."

"Dan apa tadi—wakame? Cih, menjijikan." kakinya melangkah anggun sembari mengancingkan kemeja biru. "Jelas-jelas Tetsuya tau kalau—"

"Akashi-kun, itu—"

BRUKKK

(⊙ ロ ⊙)

Menyebalkan. Akashi paling benci dibeginikan. Kuroko jalan dengannya terhalang beberapa sekat. Murasakibara, Midorima dan Aomine sudah jadi benteng dengan pertahanan yang bagus. Imajinasinya mulai rancu, ia berpikir kalau trio kwek-kwek ini memang punya niat kuat untuk menghalangi kebersamaannya dengan Kuroko dibalik kekhawatirannya dengan peruntungan Akashi hari ini.

Padahal sebenarnya itu bukan imajimu semata lho, Bang.

"Minggir, Atsushi. Jalanan terlalu sempit untuk dilalui berlima." katanya geram. "Tetsuya, kemari."

"Jangan, Akashi-kun. Memar tadi pagi saja belum hilang." Kuroko menyembulkan kepala dari balik lengan Aomine. "Lain kali aku tidak akan membiarkan Akashi-kun menarik piyamaku lagi."

Tiga entitas beda kepala sudah greget maksimal dengan sosok raja cebol diujung kanan. Tuh, kan. Apa yang sudah ia rencanakan, coba? Mau menganu si baby blue pasti! Beruntung sekali ia segera kena tulah, makanya jangan suka punya niatan aneh pada anak sepolos Kuroko Tetsuya! Teriak mereka dalam hati–meski dengan pitch yang beda.

Akashi menyentuh dagu. Cih, sakit. Saking elegannya ia berjalan, Akashi lupa keadaan lantai kamar. Oke, berantakannya bisa ditolerir. Tapi piyama Kuroko itu bahannya satin, dan helaian licin itu tergeletak tepat diatas tumpukan DVD yang berentet dengan permukaannya sama licinnya. Lalu kelanjutannya bisa kalian hubungkan sendiri.

Dan itulah sebab dari noda ungu di dagu lancip sang kaisar.

"Aka-chin seperti habis kena uppercut." Murasakibara menyabet waffle lapis coklat di kantung. "Keren nee~"

"Siapapun yang berani memberinya uppercut sudah tentu akan dirajamnya, bodoh." entah sadar atau tidak, Aomine nyeletuk. "Lupa atau bagaimana? Dia itu kan—"

"Bagaimana kalau kau yang memberiku uppercut, Daiki?"

Hening melanda.

"Oi, Akashi. Kau seharusnya membawa wakame barang satu lembar." Midorima menekan frame megane. "Tapi aku juga tidak peduli, hanya saja—"

"Kau pikir aku akan percaya kalau ini karena peruntungan?" sang kaisar menaikan alis sebelah. "Sini, Tetsuya. Cium aku dan buktikan kalau ramalan bodoh itu salah."

Yang dipanggil buang muka, sudah merona sampai kuping. Sementara yang lainnya speechless namun beda situasi. Murasakibara diam karena sibuk dengan waffle-chin. Aomine diam karena bingung memang speechless. Dan Midorima diam karena—

"Coba saja, nanodayo." cekat napas terdengar jelas, Akashi sampai mengerutkan dahi saking herannya. Tumben tidak mencegah. "Karena biasanya Oha Asa tidak pernah meleset."

Dan lagi, Akashi tersenyum miring. Ia maju selangkah, ditariknya sang baby blue.

"Akashi-kun, tolong—"

"Tetsuya cukup diam. Anggap saja—"

"KUROKOCCHI~~! Aku diberi anak kucing oleh fansku, lho! Lucu seka—heee?!"

Brakk—byurr!

Sosok kuning semampai yang tiba-tiba menerjang entitas biru dalam pelukannya melotot ngeri. Ia dalam bahaya besar sekarang. Kekasih sang kaisar berada dalam pelukannya dan Yang Mulia sendiri sudah tercebur kedalam salah satu parit terdekat karena terjangan mautnya. Papan tulisan 'sedang dalam perbaikan' tak luput dari atensi, dengan indahnya bertengger di atas kepala merah—pengganti mahkota.

Di belakang terdengar derap susulan, tergesa, dan akhirnya mengerem mendadak. Insan lain berwarna pink ikut ternganga bersama manusia ajaib lainnya. Oke, sekarang Murasakibara bahkan menjatuhkan waffle-chin dan kacamata Midorima ikutan merosot tanpa kontrol.

Jika saja itu adalah Aomine, mereka tak akan segan menertawakan.

Masalahnya itu Akashi, lho! Akashi Seijuurou yang itu!

"Ryouta." sumpah. Caranya menyingkirkan papan peringatan berwarna kuning itu saja sudah bikin Kisedai merinding. "Gantikan posisiku."

"A-aduh—Aka-Akashicchi, ehehe..." dan bodohnya, sang model malah tertawa garing. "M-maafkan aku-s-ssu, ehm—i-ini—"

"Bodoh, lepas pelukanmu pada Tetsu!" bisik Aomine histeris, optimis si raja merah bakal membidik pacar lebaynya.

Seringaian tersungging. "Gantikan. Posisiku. Disini."

Entah darimana, Kuroko bisa melihat sesuatu berkilau mengerikan di tangan Akashi yang basah oleh air tujuh rupa. Ia mendongak pada Kise yang sudah memucat sempurna, memberi tatapan protes pada sang kaisar akhirnya.

"Berhenti, Akashi-kun! Ini sudah kelewa—"

Syutt—klangg! BRAKK—!

"AKASHI-KUN!"

"Tiang lampu taman disini memang sudah lapuk. Kalian bisa lihat bagian bawah besi penyangganya sudah karatan parah. Tapi untung sekali tidak ada yang tertimpa, ya? Bapak juga heran kenapa ada lubang aneh seperti ini pada tiang, tapi mungkin ini ulah rayap."

Seorang pria paruh baya tertawa lepas. Seragam khas orang properti ternodai di beberapa spot oleh likuid hitam, seperti oli. Ia mengambil kunci inggris dan mengencangkan baut terakhir di tiang lampu baru, kemudian menyeka keringat dengan lengan.

"Kami hampir saja tertimpa, Pak."

Si bapak menoleh. Nampak seorang pemuda biru berwajah datar diapit seorang gadis bermanik merah muda yang nampak serba salah dan seorang pemuda berambut pirang yang terkekeh—masih agak pucat. Disebelahnya pria tan menyipit sebal dan sebelahnya lagi pria berambut hijau menekan bingkai kacamata. Bersampingan dengan pria super tinggi yang asik makan biskuit gandum, pria topless dengan celana katun putih yang basah oleh air rupa-rupa berdecak kesal.

"Tapi yang penting kan tidak kena, Nak." si Bapak nyengir lebar. "Lain kali berhati-hati. Jangan main di tengah jalan apalagi bercanda sampai menyenggol tiang berkarat." tutupnya sambil melambaikan tangan saat berjalan menjauh. Kuroko sudah sangat ingin menyanggah namun tentu anak baik sepertinya lebih mengerti adab apalagi pada orang tua selintas. Ia cuma ingin meluruskan, sih. Kalau tiang itu jatuh dengan sendirinya. Lalu lubang itu bukan ada karena gejala alam atau bagaimana, pacarnya adalah pelaku pelubangan tiang renta itu.

Tapi sekali lagi, tepukan pelan di bahu mengurungkan niatnya. Ia menoleh. Kise, toh.

"Lupakan saja, deh, Kurokocchi. Kita harus piket, sebaiknya kita segera ke sekolah."

"Tapi Akashi-kun—"

"Duluan saja, Tetsu. Akashi sial kalau dekat-dekat denganmu."

"Jaga bicaramu, Daiki. Atau kau ingin merasakan nasib yang sama seperti tiang berkarat itu?"

"Hayo lho, Dai-chan~"

"A-Apa-apaan kau, Akashi?! Aku di pihakmu, tau?!"

"Aku tidak minta dukunganmu, Daiki."

Aomine meludah dalam hati. Wekk! Kalau tidak ngeri kaubidik juga malas aku menyalahkan Tetsu sebagai biang kesialan. Tapi ia tenang, setidaknya. Kise tak kena gunting pusaka, Kuroko juga baik-baik saja. Yah, menumbalkan raja untuk mendapatkan raja baru sih tidak masalah. Perlu cara kotor untuk membersihkan sesuatu, bukan begitu?

"Sudah kukatakan, Akashi." Midorima kembali menaikkan kacamata. "Oha Asa tak pernah meleset. Seharusnya kau bawa wakame."

"Diam, Shintarou."

Akashi kesal maksimal. Seragamnya kotor sampai ke dalaman segala, itu artinya ia harus pulang untuk mengambil baju ganti. Kalau pulang lagi berarti ia akan menghabiskan waktu 15 menit untuk mandi dan ganti baju, belum dihitung perjalanan kesekolah. Ia akan terlambat, intinya. Bisa saja ia pakai seragam olahraga yang ada di loker, tapi hari ini bukan harinya penjas. Ia adalah ketua kesiswaan, sepatutnya memberikan teladan bukannya malah sewenang-wenang jidat, bukan? Ia menoleh pada baby blue yang dikawal dua dayang, ia ditatap balik.

Cih. Mengapa di saat seperti ini yang ia butuhkan malah tak boleh didekati?

"Kuro-chin ikut denganku saja~" ucapan Murasakibara tercampur suara kunyahan, Kuroko menoleh. "Jam tujuh semuanya harus berkumpul di sekolah nee~"

"Un! Kita piket awal, Tetsu-kun. Jangan sampai Aida-sensei memarahi kita di sekolah nanti." Momoi menggamit lengan si pemuda aquamarine, cemas. "Ayo, Tetsu-kun."

Bimbang. Ia menatap sang kaisar yang misuh-misuh memeras kemeja dengan sirat kebingungan. Bukan keinginannya meninggalkan Akashi sendirian, namun ia tidak punya pilihan. Dibukanya jas putih yang kini ia kenakan, diberikan pada Aomine. Yang dikasih wewenang malah memandang skeptis.

"Tolong berikan secara estafet pada Akashi-kun." sang pria ruby menoleh. "Aku tak ingin menambah kemalangannya lagi."

"Tetsuya, kau—"

"Tunggu, berhenti disana, Kise." Midorima maju, menghadapkan telapak tangan pada si kuning yang melangkah mendekat.

"Hee? Kenapa, Midorimacchi?"

"Bukannya aku peduli, tapi—" kacamata dinaikkan. "Gemini tidak boleh mendekat pada Sagittarius, nanodayo."

Kise mengangkat alis. "Kenapa?"

"Oha Asa bilang begitu tadi pagi."

"Duh, Midorimacchi. Sejak kapan—"

"Akashi sudah membuktikannya." si jadeite menerima jas pemilik azure. "Kurasa itu cukup jadi pelajaran untuk kita," lalu diberi tatapan maut oleh si empunya ruby.

"Jangan berikan jas Tetsuya padaku." si baby blue berhasil melotot. "Aku tidak mau mengotori pakaian Tetsuya."

"Tapi nanti Akashi-kun masuk angin."

"Aku sudah biasa telanjang dada 'kan, Tetsuya."

"Tapi aku tidak ingin tubuh Akashi-kun dilihat orang." mendadak Akashi speechless. Pun begitu dengan Kisedai. "Lagipula jasnya kan bisa dicuci."

Duh, Tetsuya. Pantas saja aku menyayangimu luar dalam. Kepolosanmu saja cukup untuk mengalihkan duniaku. Sampai jujur begitu—tahan, Sei, tahan.

"Pakai lagi jasnya, Tetsuya. Aku mau pulang saja." simpulnya tersenyum, Kuroko menurunkan bahu. "Setelah mengambil seragam, aku akan pakai mobil kesekolah dan mandi di ruang bilas. Pastikan Tetsuya menungguku di ruang ganti."

"Tapi nanti Akashi-kun—"

"Tidak apa jika aku terpeleset dikamar mandi ataupun tertimpa runtuhan pipa shower." Akashi belum meluruhkan senyum. "Yang penting Tetsuya tetap bersamaku dan baik-baik saja."

Akashi keluar dari salah satu bilik bilas dengan handuk melingkar di pinggang. Insiden sepagi ini cukup membuatnya lelah, mandi dengan air dingin dan sabun sebatang memang pas untuk menyegarkan pikiran. Tak apa jika ia harus menarik perhatian banyak orang karena mobilnya yang begitu mencolok mata, ia hanya butuh ketenangan dan Tetsuya-nya saat ini.

"Tetsuya,"

Panggilannya tak disahuti. Ia cukup paham si pacar masih begitu syok dengan banyaknya kejadian tak terduga yang menimpanya. Kuroko Tetsuya memang orang yang realis, bahkan Akashi sering kewalahan kalau adu pikiran bersama sosok manis itu. Namun tak jarang juga ada saat dimana kebaikannya tersesat oleh suatu kebetulan yang dinamakan peruntungan seperti saat ini.

"Tetsuya diluar? Tolong bawakan bajunya kemari."

Hening lagi. Akashi melangkah bete.

"Tetsuya—"

"Tolong jangan mendekat lebih dari ini, Akashi-kun." suaranya terdengar jauh. Ah, sial. Akashi tambah badmood sekarang. "Aku akan taruh bajunya disini."

"Apa yang terjadi sepagi ini bukan salah Tetsuya. Aku cuma—"

Sosok biru berkelebat cepat, menaruh tumpukan baju dan sebungkus plastik putih tipis di atasnya. Akashi mengernyit, ia tidak tahu itu apa. Ehm, itu bukan sesuatu untuk anu, kan? Tapi kalaupun jawabannya ya, Akashi tak akan membuang waktu, tentunya. Mumpung berduaan.

"Aku membeli wakame di perjalanan tadi." ah, sial. Kenapa harus benda semenjijikan itu, Tetsuya? "Setidaknya kesialan Akashi-kun bisa berkurang jika bawa lucky item."

"Sekarang Tetsuya serius percaya hal seperti ini?" si Emperor tertawa dingin. "Jangan mau dibodohi ramalan, Tetsuya."

"Akashi-kun hampir celaka seperti tadi, apa itu yang dikatakan pembodohan ramalan?"

Kuroko melesat lagi, kali ini ke arah pintu keluar. Akashi mulai jengah, ingin mengejar cuma agak berang kalau handuknya lepas di tengah langkah cepat. Well, ia tidak masalah kalau ia tak tertutupi dan cuma ada Kuroko yang melihat. Tapi si baby blue sudah kabur sekarang. Kalau ia telanjang dan yang melihat malah uke mesum malah dirinya yang berada dalam bahaya. Ingat kalau hari ini adalah hari sialnya, bukan? Sedikitnya Akashi cukup terhasut.

Pemilik surai crimson itu berdecak sekali. Ia menyabet tumpukan seragam yang terlipat manis di atas bangku panjang. Wangi vanilla menempel cukup pekat, Akashi cukup yakin kalau sedari tadi Kuroko menungguinya dengan memegangi tiap helai pakaiannya. Ia tersenyum tipis melihat bungkusan wakame bergambar orang sipit berbaju pelangi. 'Setidaknya kesialan Akashi-kun bisa berkurang jika bawa lucky item'? Perhatian sekali, ia tahu itu. Meski geli, ia tetap mengantungkan bungkusan pipih itu dalam saku kemeja biru. Oke, kita lihat kekuatan selembar wakame dan peruntunganku bersamanya, gumam Akashi dalam hati.

Kise sudah meniup-niup poninya di samping Aomine yang memutar bola basket di telunjuk kiri. Kuroko melangkah disampingnya bersebelahan dengan Momoi yang menggelayuti lengannya seperti biasa. Midorima sibuk men-tapping jemari kirinya sambil memikirkan beberapa hal penyokong misi. Sesekali ia tersenyum bangga, membuat Momoi menoleh heran.

"Ada apa, Midorin?"

Tak langsung menjawab, Midorima mengeluarkan selembar voucher belanja dan menaruhnya di telapak tangan kiri. Ia menekan kacamata dan menatap lurus ke depan.

"Aku dapat ide bagus."

Momoi mengernyit. "Untuk?"

"Misi."

Kuroko mengerutkan dahi. "Misi apa?"

"Mendapatkan lucky item untuk satu minggu, nanodayo."

"Ah, begitu."

Beberapa orang sempat salut akan kesigapan Midorima dalam menjawab pertanyaan spontan Kuroko. Memang tidak terbayangkan sih, kalau orang sepertinya melakukan kesalahan bicara apalagi sampai terbelit lidah hanya karena ujaran spontan si baby blue. Tapi tetap saja, kan. Yang sudah-sudah saja harus pikir-pikir dulu saat ditanya.

"Ngomong-ngomong, Kurokocchi kok cepat sekali, ssu?"

Sontak berpasang-pasang netra mengarah pada insan yang tengah asik minum susu vanilla kocok. Pusat atensi malah melirik pada si model yang barusan bertanya, datar.

"Soalnya aku cuma memberi Akashi-kun baju seragamnya, Kise-kun."

"Biasanya pakai plus-plus, Tetsu."

"Plus-plus? Semacam kuota internet atau apa, Aomine-kun?"

Momoi sadar lebih awal, dicubitnya lengan sobat bermata navy-nya sampai mengaduh. Belum cukup, serangan susulan digantikan oleh Kise yang mencubit pinggangnya sampai Aomine menjerit lagi.

"Ehm—contohnya seperti ini, Tetsu-kun." Momoi terkekeh garing.

"Oh. Menyiksa orang bukan perilaku yang baik, Momoi-san."

Tawa kecil terdengar. "Aku mencontohkan saja, kok."

"Kuro-chin cuma kasih seragamnya Aka-chin, tidak dekat-dekat?"

Perkataan si pria lavender berhasil membuat si aquamarine menoleh sendu. Ia menghela napas.

"Iya. Cuma memberinya seragam dalam jarak tertentu lalu aku segera pergi."

"Wah, sayang sekali ya Kurokocchi~" karena Akashicchi tidak kena sial lagi, batin Kise merengut. "Mungkin sebaiknya kita bagi keberuntungan kita pada Akashicchi, Kurokocchi." misalnya dengan menyentuhnya, Kise melanjut kejam dalam hati.

"Kupikir itu bukan ide yang bagus, Kise-kun." Kuroko menghela napas (lagi). "Kupikir malam ini aku juga tidak akan tidur bersama Akashi-kun. Mungkin aku akan pulang duluan lalu membuat pembatas untuk beberapa saat. Aku juga akan membatasi pertemuanku dengan Akashi-kun dan—mungkin aku juga akan pulang kerumah untuk sementara."

Duh, Nak. Pikiranmu memang terorganisir sekali.

"Tumben kau banyak bicara, Tetsu. Segitu ingin menjauhnya dari Akashi, eh?" Aomine nyengir.

Kuroko tak menjawab. Ia tertunduk dan Aomine mengartikannya sebagai pernyataan tidak langsung. Ia bersorak dalam hati.

"Ki-chan, tadi bidikan Akashi-kun meleset, ya?"

Si kuning menoleh, senyum bangga terpampang jelas.

"Aku tidak tahu, Momocchi. Hari ini keberuntunganku bagus sekali, ssu! Tadi pagi diberi anak kucing, terus tetanggaku juga memberi oleh-oleh dari luar negeri, fansku juga mengirim soda lemon, aku juga selamat dari insiden kemarahan manajer, kemudian—"

"Tidak heran, nanodayo. Peringkatmu hari ini #1. Lucky item Gemini adalah anak kucing."

"Hee? Pantas saja!"

"Dan kau, Kuroko." yang dipanggil mendongak. "Jangan sekali-sekali mendekati Akashi kalau tidak ingin terkena sial."

"Tapi dari tadi hanya Akashi-kun—"

"Tidak ada kemungkinan kalau kesialannya tidak menular, nanodayo. Apalagi kau hanya peringkat #2. Untuk jaga-jaga, kau harus bawa lucky item-mu—lolipop pelangi." sang pria hijau menaikkan kacamata. "Tapi jangan artikan aku peduli, nanodayo."

Kuroko tersenyum tipis. Dasar tsundere, kalau memang peduli sih Kuroko juga tidak masalah kok.

"Terimakasih, Midorima-kun. Aku akan mencarinya nanti." ia menatap lurus ke koridor. "Tapi aku tetap tidak terima Akashi-kun dibilang biang kesial—"

"Yang penting kan kau baik-baik saja, Tetsu." Aomine menepuk kepala si biru. "Cepat jalannya, nanti kau dimarahi Moriyama gara-gara telat masuk kelas. Kalau aku sih santai."

"Aominecchi santai soalnya pengaman kelasnya 'kan Sakuraicchi."

"Bentonya jangan dikompas lagi, Dai-chan! Kasihan tahu!"

"Salahnya sendiri terlalu lemah, salahkan juga kemampuan memasakmu yang payah itu, Satsuki."

Keributan masih berlangsung, minus Murasakibara yang asik sendiri dengan kue mangkok pemberian Kise. Perjalanan sampai koridor tidak jauh berbeda rusuhnya dengan perjalanan dari rumah masing-masing. Kise begitu puas saat Aomine dianiaya Momoi sampai kelas, sementara Kuroko hanya diam dibentengi Midorima yang entah mengapa begitu over hari ini. Oh, plis. Kuroko tahu Midorima sedang dalam masa LDR yang sulit bersama seorang pemuda yang doyan tertawa di negeri seberang. Tapi ia juga tidak mau masuk daftar PHO, dia punya Akashi yang mengasihinya sepanjang waktu, kok. Jangan seperti ini juga kan bisa.

"Bukannya aku peduli, tapi kau harus ingat, Kuroko. Jangan menambah kesialan Akashi dengan berdekat-dekatan padanya."

Mereka berpapasan di koridor saat akan mengambil alat kebersihan. Akashi hampir saja mengejar Kuroko jika saja si baby blue tak menodongkan gagang pel padanya. Ia mengernyit. Apa lagi ini? Hei, jarak ini terlalu lebar, Tetsuya!

"Tetsuya kenapa?"

Selangkah, dua langkah, tiga—

"Berhenti, Akashi-kun. Kumohon."

Alis merah mengerut. "Masih takut aku terkena sial?"

Kepala biru mengangguk. "Aku janji sehari ini tidak akan menambahnya."

Desahan kasar terdengar. "Tetsuya tahu bukan kalau aku tidak bisa jauh-jauh—"

"Tidak untuk hari ini, Akashi-kun. Tolong anggap kalau kita sedang bermusuhan."

"Mana bisa."

"Bisa. Akashi-kun yang terbaik."

"Apa imbalannya kalau aku berhasil jauh darimu sehari ini?"

Nah, kan. Akashi kebiasaan sekali. Meminta imbalan untuk satu hal demi kebaikan dirinya sendiri. Kuroko mendengus sambil mundur dua langkah. Ia menunduk sebentar, lalu mendongak lagi dengan wajah bersemu. Akashi memang tidak akan menurut jika tidak dibujuk, ia tahu itu.

"Kalau Akashi-kun berhasil—" Akashi mengangkat sebelah alis, wajah Kuroko memerah. "Aku akan melakukan apapun yang Akashi-kun minta—kapanpun."

Iris ruby itu melebar sempurna. Serius, Tetsuya?! Cih, ini hari sial atau sebaliknya?!

"Janji?" tanyanya memastikan.

"Aku janji." Akashi girang bukan main. "Kalau Akashi-kun berhasil."

"Oke." sosok bersurai merah itu memunggungi, tersenyum penuh kemenangan. "Tetsuya juga boleh menganggapku musuh seharian ini." dan aku akan menghajarmu habis-habisan esok malamnya, Tetsuya–pikir Akashi senang.

"Aah—!"

Kuroko menghentikan kegiatan bersama Momoi yang masih menyapu dengan riang gembira. Entah sial atau bagaimana, mereka kebagian piket berdua karena terlambat berdua. Momoi girang. Kesempatan yang ada harus dimanfaatkan, pikirnya namun tidak dengan Kuroko. Ia menyandarkan gagang sapu pada salah satu meja dan menghampiri sumber suara yang sempat jadi momok atensinya. Gadis bersurai pink menelengkan kepala, melihat, mengernyit setelahnya. Tampak seorang gadis memejamkan mata kuat-kuat sambil memegang kemoceng di atas kursi yang ditumpuk di atas meja dan Kuroko berada di bawah, mengulurkan tangan.

"Bisa turun?" si gadis membuka sebelah mata, toska. "Aku akan membantu dari sini."

"But—the ceiling's still dirty...There, most of the spider's web in other side and—"

Buset. Momoi melotot. Drama macam apa ini? Pangeran vanilla blue dengan putri bule? Tidak, tidak! Tidak ada gadis yang boleh mendapatkan kebaikan sang pemuda manis kecuali Momoi Satsuki!

"Ehm, i'm not really understand...English. Can you—speak Japanese?"

Momoi merengut. Katanya tidak bisa bahasa Inggris tapi bisa bertanya begitu lancar! Ih! Tetsu-kun belajar centil darimana, coba?!

"Tetsu-kun~~!"

Inisiatif, Momoi segera berlari, bersiap menerjang si baby blue tepat setelah si gadis strawberry blonde menggeleng pada Kuroko. Si gadis bubble gum sempat menoleh penuh kemenangan pada gadis bule diatas kursi saat berlari, merasa bangga karena Kuroko pasti menyambutnya tanpa ragu. Duh, imajinasinya memang kelewatan.

"Momoi-san, awas di—"

Ckiit—brakk!

"Momoi-san!"

Sekarang Kuroko celingukan. Ada dua orang yang harus ditolong, keduanya sama-sama wanita. Sebenarnya bukan maksud hati menyalahkan, tapi seharusnya Momoi lihat dulu kalau didepannya ada genangan air bekas larutan karbol. Hari sialnyakah? Bukan, ini hari sial Akashi tapi kenapa ia juga kena getahnya? Tidak adil, Momoi mengaduh.

"Mari kubantu, Momoi-san."

Gemerlap imajiner muncul di manik garnet pink milik Momoi saat Kuroko menjulurkan langan. Ia menyambut dengan antusias sambil melirik bangga pada gadis blonde di atas kursi, senang karena ditolong duluan. Tidak peduli roknya basah atau kaus kakinya kotor gara-gara air yang tercampur dengan debu lantai, pokoknya ia gembira.

"Tetsu-kun, ayo menyapu lagi!" Momoi beranjak memeluk lengan si pemuda sambil melonjak. Kuroko hanya menoleh. Yang barusan itu memangnya tidak sakit, ya?

"Sebentar, Momoi-san. Bule-san butuh bantuan."

Si gadis pink cemberut lagi saat melihat Kuroko mengulurkan tangan pada gadis bernetra turquoise di atas. Bule-san? Apaan, tuh? Panggilan sayang? Hih, Momoi panas. Lagipula kalau takut ketinggian kenapa naik-naik kursi segala? Ih, greget!

"Momoi-san." lamunannya tersadarkan. "Bahasa inggrisnya 'tolong turun saja dan percaya padaku' itu apa, ya?"

Terhenyak? Pasti. Melotot? Jelas. Apa-apaan sih, Tetsu-kun?! Kalau kamu putus dengan Akashi-kun pacarmu jelas-jelas aku, lho. Sekarang apa? Mau bertingkah jadi penyelamat dengan kekuatan langit untuk putri sok pemberani ini? Tolong, Tetsu-kun. Aku terluka, aku sakit.

"Biar aku yang bicara, Tetsu-kun." Momoi maju selangkah, menyipit tajam saat mendongak. "Tidak apa-apa, turunkan saja tangannya. Nanti Tetsu-kun pegal."

"Tapi Momoi-san—"

Menoleh, "Tenang saja, Tetsu-kun. Nilai bahasa inggrisku selalu diatas 78 kok." lalu tersenyum.

"Ah, benar. Tolong ya, Momoi-san."

Si gadis mengangguk dan menatap sebal pada sosok manis di atasnya. Terpaut jarak 1 meter bukan soal, Momoi geram bukan kepalang.

"Stop acting like a scared-little-brat and get yourself down from there! Tetsu-kun is mine! Don't you dare asking him for help!"

Kuroko diam. Kalau arti kalimat Momoi sama dengan permintaannya barusan, lalu mengapa harus ada emosi tersirat di setiap penekanan katanya? Duh, seandainya ia tidak tidur saat Akashi mengajarinya bahasa Inggris. Atau seharusnya ia menyimak saat Kagami dan Himuro bercakap-cakap, mungkin ia sedikit mengerti ujaran Momoi barusan.

"What are you talking about?! It's not like i'm asking for his help or something but—!"

"Sacchin~ permen Yippee yang kubawa tadi pagi terselip di tasmu. Boleh ambil sekarang?"

Serentak kepala beda warna menoleh ke ambang pintu kelas. Si jangkung mengernyit melihat pemandangan super berantakan di dalam kelas. Cuma ada tiga orang, namun kekacauannya sudah separah ini? Fabulous sekali.

"Atsushi, jangan dibiasakan menginja—eh?"

Oh, baik. Kali ini seorang pemuda emo menampakan keterkejutan yang lebih kentara. Ia terkekeh kering sebagai akhir, lalu melangkah masuk.

"Perlu bantuan, Kuroko-san?" tawarnya tersenyum, mengindahkan aura tajam dari dua gadis yang seakan siap menjelma jadi singa dan macan.

"Ah, iya, Himuro-san. Kalau bahasa Inggrisnya 'tolong turun dan aku akan menangkapmu' itu apa?"

"Oh, itu. Nona ini kesulitan, eh?" Himuro mendongak, lalu tertawa kecil. "Atsushi, bisa tolong—"

"Jangan, Himuro-san. Aku bisa menolongnya, hanya saja—aku tidak bisa bahasa Inggris."

"Kan tadi sudah kukatakan padanya, Tetsu-kun!" Momoi pouting.

"Ah, benar juga."

"Sacchin bilang apa memangnya?"

"Ehm, itu—" si gadis merah muda menggaruk pipi. "Get down of yourself and Tetsu-kun is mine?"

Himuro pasang wajah 'you-don't-say' dalam hati. Sumpah. Ia jarang melihat Murasakibara cemburu jadi ia cukup bingung harus bersikap apa jika lelakinya berada dalam fase demikian. Tapi ini—! Uke seunyu Kuroko Tetsuya saja bisa dicemburui gadis-gadis seperti ini? Oh, Himuro patut iri tapi ia sama sekali tak merasakan hal itu, sebenarnya. Hanya sedikit iba, makhluk setara malaikat inosen sepertinya berada dibawah tekanan orang-orang berdaya tinggi, macam Akashi Seijuurou misalnya.

"Aku mengerti sekarang." Himuro tersenyum, kemudian menoleh pada gadis yang memegangi sandaran kursi dengan wajah tidak terima. "What's your name, Young Lady?"

"Collins. I'm—Eleanor Collins." gadis itu melipir, membuka matanya yang memerah sebelah lagi. "I'm just transferred today."

"Okay, Collins-san. We'll talk about your eyes later. This boy's can't speaking English properly, so can you trust him? Don't worry, he'll catch you."

"But—the ceiling's still dirty, you see..."

"Nah. I can lend him if you need a help for it." Himuro menunjuk Murasakibara lalu menepuk bahu Kuroko. "You can go down now and Kuroko-san will catch you."

Kuroko mengangkat tangan sementara gadis bermata toska itu menatapnya minta kepercayaan. Jernih, sirat mata bening itu sejernih langit musim panas tanpa mega bergulung. Sejenak terlarut, ia mengangguk.

"Ayo, Bule-san." Kuroko bersiap, gadis itu berdiri sempoyongan diatas meja. Himuro tertawa.

"Namanya Eleanor Collins, Kuroko-san."

"Ah, terimakasih, Himuro-san. Ayo, Collins-san."

Si gadis menggigit bibir, sementara Momoi sudah greget menggigit tongkat sapu. Dengan sekali gerakan, gadis itu melompat takut-takut ke arah Kuroko dan ditangkap dengan cekatan oleh si pemuda baby blue. Murasakibara melirik malas, mulanya ia sungguhan tidak tertarik. Tapi ia—mau tidak mau—melebarkan pandangan bersama Himuro yang kini sudah menyibakkan poninya. Potongan drama di hadapan mereka sungguh menyita atensi sekaligus doki-doki. Oke, kesampingkan radiasi dari romansa tatap menatap antara penyelamat dan korban manis dalam gendongan, siapapun bisa melakukannya bahkan Aomine dan Kise yang notabene kisahnya konyol sekalipun. Namun, tolong. Ini lakonnya Kuroko dan seorang gadis mungil! Entah apa yang mereka pikirkan, yang jelas ini sudah menyerupai sinetron! Perlukah kamera untuk dokumentasi? Kuroko yang begitu uke bisa berlaku segentle ini? Oh, Kami-sama. Mukkun sempat merasa kalah.

Si gadis Barat masih merangkul leher Kuroko. Ia tenggelam sekarang. Mata biru itu menelannya. Oh, Tuhan. Nikmat macam apa yang kudapat bersamaan dengan kesialan di hari pertama masuk sekolah baru? Bertemu pemuda manis yang menyelamatkan dirinya dengan begitu lembut dan sabar, jelas saja ia akan luluh dan lumer. Tak dapat tertahan, ia tersenyum tak percaya. Merasa bodoh akan dirinya sendiri yang terasa sudah melambung dalam gendongan.

Kuroko tak berkata apapun saat menahan bobot ringan si gadis, hanya menatap. Matanya bagus meski memerah, warna turquoise mengingatkannya pada sprei kasur yang belum sempat dibereskan tadi pagi. Ah, mungkin ia akan menggantinya, mengingat semalam Akashi bilang ia ingin sprei berwarna biru muda dengan salur merah atas bawah. Oke, mungkin ia juga harus ganti bedcover. Ah, piyamanya juga warna biru, khawatir jika Akashi akan terpeleset lagi jadi sepulang sekolah nanti ia akan mencucinya dan mengganti dengan piyama bahan katun dingin. Oh, benar. Ia ingin buru-buru pulang intinya, sih.

Kontras, ya?

"Ah, right." si gadis tersadar duluan, menarik stik yang menyembul dari saku kemeja dan menyodorkannya tepat di depan wajah Kuroko. Si baby blue mengerjap, mengerutkan dahi kemudian.

"This is for the help, so—uhm..." bentuk bulat, warna pelangi. Ini...lucky item Aquarius yang dikatakan Midorima-kun tadi pagi, ya? "You can take it. Thank's for the help."

Namun teringat kata sang bunda, tak baik menerima pemberian orang lain yang baru dikenal. Tapi kalau tidak diterima, duh—ia tak memiliki cukup waktu untuk membeli lolipop pelangi. Sepulang sekolah nanti ia harus cepat-cepat berbenah, dan jangan lupakan Akashi yang sulit ditahan jika ia berada dalam satu zona dengan Kuroko. Duh, bingung jadinya.

"Ehm, itu untukmu, Kuroko-san. Ambillah."

Cih, Himuro mengompori segala lagi. Momoi sedih tingkat dewa. Galau, merana. Tetsu-kun-nya sudah belajar nakal, ia disini tak dapat berbuat apapun padahal mereka hanya terjeda beberapa jengkal. Kami-sama, mengapa aku dikecewakan? Padahal aku anak baik dan tidak pernah menjahati orang lain. Kenapa begini, Tetsu-kun?

Momoi mulai menahan isak.

Suara derap langkah terdengar berat. Well, bukan hanya satu pasang. Dua, tiga, empat—terdengar mendekati ambang pintu kelas. Suara percakapan terdengar abstrak, namun yang normal terdengar adalah diskusi kecil masalah laporan akhir tahun OSIS. Selebihnya tentang posisi anu dan dianu menjadi latar belakang yang cukup bising di koridor sepi.

"Jadi saat aku menyelesaikannya, aku akan titip Tetsuya padamu, Shintarou. Jangan berlaku aneh padanya atau aku akan membidikmu."

"Kau sedang bicara dengan keberuntungan berapa persen sih, nanodayo?"

"Terserah. Aku tidak percaya takhayul jika—"

Gesekan sepatu indoor dengan lantai keramik direm cepat. Sunyi. Terlampau senyap sampai beberapa orang dapat mendengar desah napas masing-masing. Sebagian besar sudah melotot sempurna sementara poros perhatiannya belum sadar akan keadaan juga atmosfir sekitar yang tekanannya naik beberapa tingkat, efek yang menguar kentara dari pemilik manik darah disana. Wajahnya sudah cukup bisa ditebak—dingin. Ia tak menginginkan gunting, ia hanya butuh celurit sekarang.

"Cepat kemari, Tetsuya."

Tubuh kecil itu tersudut. Sebatang lolipop masih berada dalam genggaman kuat, ia tak berani mendongak untuk sekedar menatap. Ia terjebak, berada dalam himpitan bilik toilet dan kurungan lengan kokoh Akashi Seijuurou yang sedang cemburu berat adalah kali pertamanya, ia tak tahu harus berbuat apa. Napas mereka tercampur, namun Kuroko malah semakin takut. Nanti ada yang melihat. Nanti Akashi-kun kena sial lagi. Nanti Akashi-kun dicopot dari jabatan ketua. Diundur sampai dirumah memangnya tidak bisa? Mereka sudah sepakat untuk jadi musuh sehari, kan?

"Apa-apaan itu tadi, eh?" seringaiannya—Kuroko takut. "Tatap aku. Jawab yang benar, buka matamu, Tetsuya."

"Aku menolong Bule-san." bagus, Kuroko lupa namanya. "Matanya kejatuhan debu langit-langit, Akashi-kun."

"Buka matamu."

Takut, sih. Tapi Kuroko memang tak kenal kapok. Ditegakkan kepala dan kelopak pucat itu tersingkap. Ia sempat tercekat saat mendapati manik ruby dihadapannya begitu kelam. Oh, tidak. Akashi marah besar.

"Jawab sekali lagi."

"Aku—" meringis, Kuroko gugup. "—hanya menolong Bule-san untuk turun dari atas kursi, Akashi-kun."

"Dengan berlaku jantan seperti dalam sinetron murahan?"

"Aku tidak bermaksud seperti itu, Aka—"

"Lalu adegan tatap-menatap tadi maksudnya apa? Ada agenda seperti itu dalam daftar pertolongan? Kurasa tidak."

"Aku memang melihat matanya, tapi—"

"Kau jatuh cinta padanya?"

"Bukan. Aku ingat sprei di kamar."

"Jadi kau ingin bercumbu dengannya karena warna matanya sama dengan sprei di kamar?"

Kuroko mendengus. "Akashi-kun bilang aku harus mengganti sprei hari ini, jadi aku terpikir tentang hal lain saat melihat mata Bule-san."

"Apa? Membawanya ke kamar dengan keadaan yang bersih dan rapi? Bagus. Belajar dari—"

"Cukup, Akashi-kun!"

Akashi tertahan.

"Sebegini parahnyakah aku dimatamu, Akashi-kun?" Kuroko mulai meninggikan suara, sang kaisar terbelalak. "Aku hanya ingin menolongnya. Jika menolong orang saja membuatmu semarah ini lalu aku harus apa? Membantingnya agar ia tak tertolong?"

Akashi bungkam tiba-tiba.

"Kalau memang tidak percaya padaku Akashi-kun bisa tanya Momoi-san." duh, jangan, Nak. "Aku kecewa pada Akashi-kun."

Entah keberanian darimana, Kuroko menepis lengan si Emperor dengan sekali tepak. Akashi belum bergerak, masih ternganga dengan emosi sang uke yang tumben-tumbenan datang. Biasanya kalau tidak begitu marah Kuroko tidak akan melawan. Tapi ini—aduh, mengapa jadi ia yang berang?

"Padahal seharian ini aku hanya memikirkan Akashi-kun." ujarnya saat berhenti di ambang pintu. "Dan sekarang aku mendapatkan perlakuan seperti ini. Tidak adil."

Kuroko bergedik pergi. Langkahnya cepat meski Akashi segera tersadar. Ingin mengejar tapi langkahnya kembali terpotong oleh selang shower yang entah mengapa bisa tergeletak. Sial, sial! Harusnya ia yang saat ini marah! Kesialan macam apalagi ini?! Oh, benar. Wakame dari Kuroko ditaruhnya dalam tas.

Disingkirkannya selang karet yang sempat membuatnya hampir terjungkal. Setelah yakin tak ada lagi pengganggu langkah, ia berjalan cepat memprediksi kehadiran si baby blue yang tiba-tiba moody. Ada banyak kemungkinan, mengingat hari ini hari bersih-bersih (mungkin Tetsuya akan kembali ke kelas) dan ini adalah hari bersih-bersih (bisa saja Tetsuya di perpustakaan untuk membersihkan isi rak) juga karena hari ini adalah hari bersih-bersih (Tetsuya biasanya membantu kelas lain cuci jemur tirai). Berdecak sekali, Akashi bingung lagi. Susah jika sudah menyangkut keberadaan seorang Kuroko Tetsuya. Ia bisa berada dimanapun dalam keadaan apapun. Dan kalau sudah kambuh sifatnya, Kuroko sulit sekali ditemukan bahkan oleh sang kaisar sekalipun.

"Tumben kau datang ke kelasku, nanodayo."

Kuroko menatap Midorima yang asik memandangi voucher seharga ¥1000 di tangan kirinya. Yah, tadinya sih mau bertemu Aomine. Tapi berhubung si pria eksotis itu menghilang dari peredaran bersama kekasih pirangnya dan hanya ada Midorima di tempat, ya apa boleh buat. Ia tak ingin kembali ke kelas, risih akan berondongan pertanyaan seputar aksi penyelamatan dan ia juga tak ingin ke perpus, khawatir ditanya lebih-lebih oleh staf pengurus—meski mungkin mereka tidak tahu.

Ia mengeluarkan lolipop pelangi dari kantung kemeja, memandangi dengan khidmat. Ini lucky itemnya, kan? Kok rasanya agak melenceng dari perkiraan. Ia pikir memiliki lucky item berarti terhindar dari kesialan. Dituduh yang iya-iya dan kemarahan Akashi barusan adalah kesialan, jadi apanya yang terhindarkan?

"Kau mendapatkannya?"

Menoleh, si pria berbulu mata lentik menatapnya skeptik. Kuroko pilih mengangguk sebagai jawaban gestur.

"Dari gadis kebaratan itu?"

"Benar, Midorima-kun."

Si hijau menghela napas. "Kau lihat reaksi Akashi barusan."

"Akashi-kun berlebihan. Aku hanya menolongnya."

"Tapi caranya itu—"

Tunggu. Memang kenapa kalau cara menolong Kuroko super romantis? Memang misinya dan Kisedai bukan, untuk membuat Kuroko tetap bersih dan polos sepanjang waktu? Kalaupun ia memang harus ternodai, para manusia ajaib tentu lebih rela si baby blue disandingkan dengan wanita yang sama manisnya. Well, mungkin untuk kasus satu ini mereka harus menghadapi Momoi sebagai penentang keras tapi tetap saja! Kisedai lebih pasrah kalau Kuroko jatuh pada gadis belia.

"Caranya itu?" ulang Kuroko menaikkan alis. Midorima buru-buru menekan bingkai kacamata.

"Sudah benar. Hanya saja kau tahu Akashi, nanodayo." bilangnya hati-hati. "Hari ini Sagittarius tidak cocok disandingkan dengan Aquarius jadi kau mesti lebih berhati-hati."

"Aku tahu, Midorima-kun."

"Tapi Oha Asa selalu mengatakan kalau Aquarius sering sekali cekcok dengan zodiak Sagittarius." Midorima asal nyeletuk sebenarnya.

"Eh?"

"Dan yang paling cocok untuk zodiakmu adalah Gemini, nodayo." kalau yang ini serius, soalnya Midorima baru baca dari majalah bulanan adiknya sebelum berangkat sekolah. "Mungkin kau bisa tanya zodiak gadis bule itu nanti."

Kuroko memperdalam kerutan di dahi. Tanya zodiaknya? Untuk apa? Memang benar sih kadang idealnya Aquarius dan Gemini itu selaras, contohnya ia dan Kise. Beda sifat namun satu garis keukean—submisif yang baik. Mereka punya sifat saling mendukung, contohnya dalam hal memanjakan seme. Tapi Kuroko tidak berpikir mereka cocok jadi combo yang baik, tidak terpikirkan sama sekali.

Lalu masalah kecocokan dengan kaisar berpanah gunting, ehm—memang benar sih kalau mereka sering cekcok. Bahkan waktu dua bulan ini hampir habis diwarnai dengan pertengkaran besar-kecil, menandakan kalau hubungan mereka memang demikian rapuh. Tapi tolong, kalau soal perasaan Kuroko yakin mereka tidak kalah dari yang lain kok.

"Aku masih ingin bersama Akashi-kun, Midorima-kun." cih. Si megane facepalm dalam hati. "Awalnya memang sulit, tapi—aku tidak mau menyia-nyiakan perjuangan teman-teman yang sudah mendukung kami."

Apa? Perjuangan? Dukungan? Bah! Midorima dan Momoi selaku pelopor penyelamat kepolosan Kuroko Tetsuya berani bertaruh akan arti perjuangan yang sesungguhnya. Andai kau tahu, Kuroko. Kami memang berjuang untuk kalian—perpisahan kalian.

Tapi bukan Midorima Shintarou kalau tidak punya akal panjang.

"Terserah, lagipula aku juga tidak peduli, nanodayo." cuek dulu untuk sementara. "Yang jelas itulah yang dikatakan Oha Asa. Kau tahu apa yang terjadi jika mengabaikan Oha Asa—dan kau sudah lihat buktinya di depan matamu sendiri."

Bel pulang berdentang. Kuroko tak mengindahkan panggilan manja Momoi dan Kise yang menyuruhnya untuk tunggu sebentar. Bahkan ia sudah beberapa kali dikejar Aomine yang meminta penjelasan atas kejadian bersih-bersih kelas tadi pagi. Ia tak ingin menjawab dulu, ada yang lebih penting dari sekedar bercuap-cuap santai.

Menoleh sekali ke belakang, ia bersyukur saat Akashi terlihat bingung mencarinya di tengah kerumunan siswa yang sedang sibuk di gerbang. Ia mempercepat laju langkah, menikung beberapa kali sampai tiba di depan apartemen bertingkat 44 lantai. Segera ia melesat ke dalam lift, memencet lantai 11 dan melompat keluar lalu berlari lagi ke kamar nomor 4. Kosong, bagus sekali. Meski berantakan setidaknya ia lega. Akashi tidak ada, ponselnya juga sudah ia matikan. Setelah mengunci pintu ia bergegas menaruh tas di atas nakas lalu mulai membenahi kamar. Sprei diganti, kepingan DVD dikumpulkan, cucian piyama ditumpuk dalam keranjang. Sapu sedikit, ia tersenyum sendiri. Kamar sudah rapi.

Kuroko keluar, mulai meraba dapur. Sisa kekacauan tadi pagi belum selesai. Selai strawberry tumpah di taplak meja makan, roti panggang gosong ikut menambah keabstrakan. Belum lagi ujung jas Akashi yang terbakar karena sempat masuk mesin pemanggang, pokoknya kacau. Berbekal lap semi basah dan kemoceng, Kuroko merambahi meja kaca dengan kayu jati berukir tribal sebagai pasak. Baju kotor ditarik, kursi makan dirapatkan, taplak petak merah disambar, roti dilempar ke kotak sampah terdekat. Namun memang dasar Kuroko Tetsuya bukanlah shooter yang baik, ia meleset dan mesti beranjak memasukkan roti dengan cara normal. Dengan beberapa sentuhan resik, ia patut bangga. Bisa dilihat kilauan imajiner di sekitar ruang dapur, bakat alamiah ibu rumah tangga memang.

Lirik sedikit ke ruang nonton, bersih. Ruang tamu juga tinggal disapu. Ia bersenandung kecil, dirasa pekerjaannya selesai. Teringat akan jarak yang harus ia buat hari ini untuk sang kaisar, Kuroko melangkah ke kamar. Tampak sprei biru muda dengan salur merah—sesuai permintaan Akashi. Ia menatap dalam kasur king size yang bahkan bisa ditiduri empat orang dewasa, apakah ia harus mebuat pembatas dari guling atau papan tripleks? Akashi cukup persisten, yang ada nanti dirubuhkannya dinding isolator itu. Lalu apa sebaiknya mereka tidur terpisah? Dirinya sih tidak masalah, toh ini demi Akashi. Namun balik ke masalah, Akashi bagaimana? Dia bisa saja menyusul Kuroko ke ruang TV. Tapi bagaimana kalau pintunya dikunci dari luar? Tidak, tidak. Akashi bisa menghancurkannya dengan segala cara. Lalu kalau Kuroko pergi, bagaimana?

Mendadak senyum tipis terulas.

Oke, fix!

(◐∇◐*)

"Tetsuya, buka pintunya."

Ketukan halus terus dilancarkan. Akashi agak sangsi untuk lanjut marah, takut Tetsuya-nya moody lagi. Berdiri di depan kayu tebal yang membatasinya dengan insan manis itu saja membuatnya ketar-ketir. Tidak ada yang lebih mengerikan dari marahnya uke kuudere, menurutnya.

"Aku pulang, Tetsuya. Kau tega membiarkanku di luar sendirian? Ini sudah hampir senja."

Bagus. Sekarang Akashi tahu betapa memelasnya ia meminta sang malaikat membukakan pintu. Setelah seharian ditarik sana sini oleh kenaasan, Akashi harus disibukkan oleh banyaknya dokumen jelang acara kemping musim panas. Jadilah seperti ini keadaannya, menggenaskan. Ingat sinetron siang yang berjudul 'Suami Teraniaya Istri Durhaka' yang dulu sering ditonton almarhumah ibunya sewaktu ia kecil, ia bisa merasakan derita si protagonis pria. Oh, Ibu. Lihatlah menantumu.

Cklek

Akashi lega. Setidaknya ia masih diberi pintu oleh si biru muda. Jika memang harus dicemberuti tak apa, asal beri dia kesempatan untuk dekat. Akashi tidak bisa diperlakukan seperti suami yang dicampakkan istrinya seperti ini, mereka harus bicara.

"Tetsu—ya?"

Hening.

"Tetsuya? Kau didalam?"

Sunyi.

"Tetsuya?"

Oke, Akashi greget sekarang. Tak ada sahutan, tak ada tanda kehidupan pula. Barusan jelas-jelas ia mencoba buka pintu namun terkunci lalu ada yang membukakannya tanpa perlu ia dobrak. Jangan-jangan—oh, sudahlah. Akashi tidak takut pada hal lain kecuali pada Tetsuya-nya yang sedang moody.

Baru saja ia ingin meraih telpon rumah, menelpon penjaga gerbang untuk menanyakan apakah ia melihat seseorang dengan anggota tubuh serba biru keluar masuk apartment, pandangannya tiba-tiba terbentur pada dua buah mangkuk keramik beda ukuran dengan sumpit dan sendok bebek menyilang di salah satu permukaannya. Sehelai kertas menunggui di samping, minta dibaca.

Diraihnya segera lembaran kertas memo terlebih dahulu, membaca sederet kalimat yang ditulis rapi oleh tangan mungil. Akashi mengernyit.

'Aku pergi sebentar. Jangan tunggu aku. Pokoknya aku marah. Kita musuhan hari ini dan aku tidak mau melihat Akashi-kun untuk sisa hari ini. Tolong segera makan dan tidur, aku tidak akan pulang sebelum Akashi-kun terlelap.'

Dirematnya helai kertas tak berdosa dengan penuh emosi. Bisa dibayangkan aura dingin merambati penjuru ruangan saat ini, perasaannya sudah berkecamuk bagai kembang gula bermerk nona-nona. Diliriknya semangkuk sup yang hampir kehilangan uap di meja, pertanda si baby blue belum lama pergi. Sorot matanya menyendu dadakan, ia mendaratkan bokong tepat di salah satu kursi yang menghadap langsung pada kedua mangkuk berwarna merah hati. Diambilnya sendok bebek berbahan melamine kemudian diisinya dengan kuah sup berwarna keemasan. Diseruput dengan elegan, Akashi tersenyum perih. Kuroko makin pintar memasak.

"Sampai kapan kau akan membuat hatiku naik turun sebegininya, Tetsuya?"

Merasa yakin Akashi sudah terlelap disofa setelah mandi, Kuroko keluar dari balik pintu kamar tamu. Pegal juga rasanya menunggu sambil terjepit seperti ini namun apa boleh buat. Ia tak ingin Akashi kena sial lagi. Terlebih rupanya hawa keberadaannya yang begitu tipis tak dapat dirasakan Akashi, entah efek galau atau bagaimana. Yang jelas Kuroko lega, ia bisa keluar tanpa diketahui sang raja saat ini.

Dilangkahkan kakinya mengendap-endap menuju kamar, ia mengambil selimut dan buru-buru membungkus tubuh si pria merah. Kuroko tersenyum sendiri saat menangkap wajah damai Akashi yang terlanjur pulas. Pemandangan ini hanya miliknya, bukan?

Sudah hampir jam dua belas malam. Saat SMP Midorima pernah berkata kalau kesialan seseorang yang diramalkan Oha Asa biasanya hanya langgeng sehari. Akashi sudah melalui hari ini dengan begitu berat, sudah tentu kesialan itu akan musnah dalam beberapa menit lagi. Optimis, Kuroko tersenyum tipis seraya mendaratkan belaian lembut di surai semerah cherry. Sempat terusik, Kuroko menyurutkan tangan dan segera bersembunyi. Duh, sampai kapan sih hari seperti ini berlangsung? Ini sulit. Sungguh. Menjalani hubungan seperti ini saja sudah sukar setengah mati, sekarang harus pakai jarak segala. Ia melirik jam lagi, tinggal tiga menitan. Sabar sedikit tidak akan membunuhnya, kok. Kuroko menoleh sebelum menyabet mangkuk kosong di atas meja makan. Sesaat kemudian ia mundur lagi untuk sekedar mengecup kening sang Emperor yang sempat tersibak.

"Sampai besok, Akashi-kun."

Iris merah itu menyipit ketika dirasa intensitas cahaya mentari makin menusuk-nusuk retina. Ia membawa tubuhnya untuk terduduk dan selimut biru lembut ikut luruh dari tubuh. Agak kaget namun tidak heran. Ia tersenyum apalagi saat mendapati adanya seonggok croissant dan teh mint hangat yang masih mengepul. Berniat jaim, ia menyalakan TV tanpa memanggil penyaji sarapan.

Senyumnya makin lebar kala merasakan sepasang lengan hangat melingkar di pundak, manja. Belum mau menurunkan arogansi, ia terpejam.

"Sudah puas menjauhiku seharian, Tetsuya?"

Akashi merasakan helaian rambut biru bergerak seiring anggukan. Pelukan dieratkan.

"Tidak perlu mengucapkan selamat pagi, kan? Aku masih ingin marah."

"Tetsuya tahu kalau ucapan selamat pagiku berbeda dari kebanyakan orang. Aku juga mau membahas yang kemarin."

Tawa kecil terdengar. Ah, rindu rasanya.

"Selamat pagi, Akashi-kun."

Kelopak matanya terbuka, Akashi mendongak demi mendapatkan wajah moe sebagai cuci mata pembuka hari. Kecupan singkat didaratkan di kening, turun ke pipi lalu jatuh di bibir, Kuroko berhasil merona.

"Selamat pagi juga, Tetsuya. Duduk disini."

Tangan mungil itu digapai. Seakan tertuntun untuk mendekat, Kuroko berjalan memutar dengan jemari yang masih terjalin dengan jari ramping Akashi. Akashi sempat protes dan mereka tertawa kecil saat Kuroko berjalan memutar lagi. Pagi yang indah, khasnya pengantin baru yang sedang mabuk—

'Cancer mendapat peringkat pertama hari ini dan—wah, wah. Sebenarnya ada apa ya, dengan Sagittarius dan Aquarius? Disarankan untuk tidak berdekatan lagi seperti kemarin katanya! Wah, wah. Sagittarius menduduki peringkat ketiga terbawah dalam peruntungan, sedangkan Aquarius masih berada di peruntungan kedua. Lucky item Cancer hari ini adalah yogurt jeruk, jadi—'

Sontak Kuroko melepas genggaman Akashi yang menatap kaget padanya. Dirinya sendiri sudah terkejut tak karuan, acara zodiak pagi itu kembali mengobrak-abrik hatinya.

"Tetsuya, jangan coba-coba—"

"Hari ini kita musuhan lagi, Akashi-kun. Jangan mencoba untuk dekat-dekat."

.

.

Tbc (?)

.

.

Momoi : Hai, hai! Aku kembali lagi untuk para readers (ketawa) kali ini aku bersama Tetsu-kun~ (meluk lengan Kuroko) dan juga Kiseki no Sedai yang lainnya (lirik males ke belakang) sebenarnya ini diluar rencana ne~ semuanya tidak masuk dalam dataku sebelumnya, kita tidak diberitahu Nami-chan kan, Tetsu-kun?

Kuroko : Tentang apa, Momoi-san?

Momoi : Semuanya, Tetsu-kun. Mulai dari perubahan mi—

Midorima : Stop, nanodayo! (melotot sebisanya ke Momoi)

Aomine : Satsuki mulai lagi. Dasar gadis bodoh. Datang-datang main peluk orang lalu bicara tidak jelas pula.

Kise : Aominecchi jangan kasar, ssu. Momocchi ini soulmateku, jadi jangan bicara kasar padanya! (pouting bareng Momoi)

Aomine : Lalu aku kau anggap apa, Kise?

Kise : Pacar, kan? (inosen)

Aomine : Tumben. Biasanya kalau didepan Tetsu kau tidak mau mengaku.

Kise : Eh, ada Kurokocchi? (noleh cepet, siap meluk) duh, Kurokocchi, yang barusan itu aku bercanda, kok! Aku kan cuma suka Kurokocchi.

Momoi : Ki-chan jangan coba-coba menikung dong~! (tarik tangan Kuroko)

Murasakibara : Nee~ Aka-chin kirim email padaku kalau kita harus hemat durasi lho~

(hening)

Midorima : Bukannya aku mau, tapi karena ini misiku dan aku yang pegang semua surat Nami jadi aku yang pertama baca.

Aomine : Bilanh saja kau memang mau baca (senyum sebel)

Midorima : U-urusai! Pertama, Nami minta maaf atas keterlambatan update fic ini. Ia mengalami sebuah fase yang dinamakan mentok jadi mungkin isi fic ini juga terasa tidak berarah. Dan—tunggu, apa itu mentok?

Murasakibara : Mido-chin tidak tau, eh? Itu semacam bagian tubuh ayam~ (ngiler) sepertinya enak~

Kise : Murasakibaracchi garing, ssu. Itu sih dada mentok. Mentok itu artinya buntu.

Aomine : Oi, oi, sebentar! Ini ada coretan, jelas-jelas si Nami salah tulis, mungkin maksudnya montok! Montok berarti seksi! (ngiler mesum)

Kuroko : (sigh) Teman-teman—

Momoi : Ini semua karena Midorin! Sudah tahu mentok itu artinya buntu malah bertanya lagi!

Midorima : Aku memang tidak tahu, nanodayo!

Kuroko : Akashi-kun—

Aomine : Tetsu, berhentilah mendesah, apalagi pakai sebut nama si cebol itu.

Kise : Aominecchi yang harusnya berhenti bicara, bisa-bisa—

Kuroko : Bukan mendesah, Aomine-kun. Itu—

(Jleb! KRAKK)

Kise : Huaaa! Aominecchi—!

Akashi : Tolong jangan buat moodku lebih buruk lagi, Daiki.

Murasakibara : Nee~ kepala Mine-chin sampai bocor, Aka-chin~

Midorima : Jangan pedulikan dia, nanodayo (tarik Kuroko) kau baca bagian ini. Momoi, kau baca bagian ini.

Momoi : Hai'! Lanjut dengan alasannya Nami-chan yaa (gapeduli yang dibelakang). Katanya karena sibuk kerja jadi buntu ide dan malah sampai tak sempat balas review juga. Ditambah lagi laptopnya rusak. Tentang misi Ki-chan, aree~ dia bingung mau mulai dari mana katanya (garuk kepala) jadinya diskip ke bagian Midorin deh.

Aomine : Duh... (bangkit dengan susah payah) bagi aku kertas reviewnya, Satsuki. Jangan bicara sendirian.

Murasakibara : Mine-chin, lukamu mengerikan nee~

Aomine : Diam, bodoh! Aku yang baca review pertama (rampas kertas kuning di tangan Momoi sampil pegang kepala) dari AulChan12. Jangan keras-keras bilang cemburunya, dia sedang sensi pada kami (bisik-bisik sambil tunjuk Akashi) yap. Si Murasakibara memang cukup beruntung tapi tetap saja misinya gagal.

Kise : Aku juga mau baca, ssu! (rampas lagi dari Aomine) dari siucchi ahaha mereka bukan kurang akua, mereka kurang kasih sayang #apaan. Ahaha aku juga senang sih, tapiiiii! MISIKU TIDAK JADI TAYANG dan aku juga bingung harus balas apa siucchiiii (nangis badai) tp aku bahagia kalau kamu bahagia (lanjut ngekeh) eh, Nagisacchi memang tidak tahu kalau Akashicchi itu tipe S, Kurokocchi juga tidak, ssu jd jangan keras-keras bilangnya (bisik2) aku pikir jg begitu, ssu! Mamanya Kurokocchi memang lebih sayang Akashicchi daripada Kurokocchi! Dan lagi—uph!

Aomine : Kau tidak ada stopnya kalau tidak dibeginikan (bekap Kise) selanjutnya—

Momoi : Sudah dong, Dai-chan! Aku juga mau baca! (rebut kertas) dari wullancholee! Wah kamu review di tiap chapter sekaligus, aku jadi bingung mau baca yang mana nee~ hehe

Kagamin baik-baik saja, tapi hari ini ia tak disertakan soalnya kenapa? Karena dia sudah terlalu galau difriendzone sama Tetsu-kun nee~ ahahaha Tetsu-kun ngambeknya imut kok, Akashi-kun yang mengerikan (bisik2) iya benar! Aku lebih suka kalau Tetsu-kun main pedang, bukan main pisau #ambigu iya tuh iya! Pacarnya Tetsu-kun kalah pekanya sama aku. Dan—benar lho, cuma Mukkun saja yang dapat hadiah dari Akashi-kun. Kalau Dai-chan dan Kagamin sih mungkin sudah dikasih katana (ketawa riang) jangan! Cuma aku gadis yang boleh mencium Tetsu-kun! Oke terimakasih atas semangatnya ya! Nanti—

Midorima : Sudah, kan? Aku akan baca—

Momoi : Eits! Aku baca lagi untuk (di belakang udah greget massal) Mukkun memang lalai kalau sudah berurusan dengan makanan! Aku juga bingung mengarahkannya (facepalm) tapi dia gagal ne, jadi kami harus cari cara lain. Sssst! Jangan keras-keras bilang masalah misinya! (bisik2 lagi) Ki-chan gagal tampil sekarang, ne! Chap depan juga kayaknya masih Midorin deh. Tetsu-kun mau baca? Nih! (kasih kertas pink)

Kuroko : Ah, iya. Terimakasih, Momoi-san. (Momoi jerit2) ini untuk Fujimoto Yumi yang mendukung aku dan Akashi-kun di tiap ficnya, Arigatou gozaimasu (bungkuk hormat) aku juga tidak tahu, Fujimoto-san. Nami-san membuat fic ini dengan moodnya jadi aku juga bingung mau jawab apa. Trimakasih sekali lagi (bungkuk2)

Momoi : Nee~ nee! Ini untuk Mukkun! (ngasihin kertas unyu)

Murasakibara : Aku balas untuk tiga orang ya~ untuk Mizukami Sakura-chan, Rive Eve Akashi dan Seijuurou Eisha. Ini sudah lanjut nee~ (kunyah mumugi)

Midorima : Aku juga baca! (nyerobot) dari Wulan. Tidak apa, nanodayo. Dia sih yang penting dibaca saja. Murasakibara memang teledor, disogok sedikit langsung lupa. Kau dukung siapa sih?! Jangan berharap mereka langgeng, masih ada aku, Kise dan Momoi nanodayo (bisikinnya setengah teriak)

Kuroko : Akashi-kun tidak ingin baca review?

Akashi : (langsung datang) Tetsuya mwngizinkanku? Bacanya boleh sambil duduk sampingan?

Kuroko : Tidak boleh. Hari ini kita masih musuhan.

Akashi : Cih. (rebut kertas biru muda) Ini dari Hanazawa Yui Imnida. Atsushi memang agak menyebalkan belakangan ini namun ia bisa kutangani dengan cepat. Ah, benar. Aku juga menyesal mengucapkan kata-kata sepayah itu, jelas-jelas aku dan Tetsuya tidak akan terpisahkan (smirk) tidak, tidak. Jangan harap Ryouta bakal sanggup memecah kami, ia akan berakhir diujung salah satu koleksi guntingku. Lalu selanjutnya siapa yang mau baca?

Momoi : Aku, aku!

Kuroko : Tapi kan Momoi-san sudah baca beberapa kali.

Midorima : Biar aku yang baca. Ini untuk VanillaMint Dayo. Kau benar, Murasakibara memang cukup berunrung kemarin. Tapi menurut Oha Asa, Cancer mendapat peringkat pertama jadi aku pasti lebih beruntung darinya, nanodayo. Kise disimpan untuk siksaan hari lain, aku bertaruh lucky itemku untuk satu minggu jika sampai aku kalah.

Sebenarnya itulah alasan mengapa Aomine dan Kagami menjadi pasukan lini depan. Mereka adalah tumbal Kiseki no Sedai. Tiap misi kami yang gagal selalu bersangkutan dengan kesalahan mereka, jadi seperti itulah penjelasannya. Mengenai ibu Kuroko, tidak. Mungkin ia hanya sedang khilaf. Atau Akashi sengaja main pelet ibunya Kuroko (bisik2)

Aomine : Aku juga mau baca lagi! Aku baru sekali baca! (kepalanya udah diperban)

Kise : Aku juga, aku juga! Dari rizky, syarat ketiga masa' tidak tau, ssu? Itu, lho—

Aomine : Akashi minta anu.

Momoi : Kyaa! Dai-chan spoiler sekali sih! (getok kepala Aomine, bocor lagi. Kuroko udah blushing)

Kise : Wuaa—! Kepalanya bocor lagi, ssu!

Midorima : Siapapun, tutup diskusinya!

Murasakibara : Kuro-chin mau eskrim?

Kuroko : Boleh, Murasakibara-kun. Tapi setelah aku menutup segmen ini dulu, ya. Terimakasih untuk para followers, favers, dan silent reader yang tidak bisa disebutkan satu-satu, gomennasai. Sekalian untuk—

Akashi : Setelahnya kita tidur sekamar lagi ya, Tetsuya?

Kuroko : Tolong berhenti mendekatiku, Akashi-kun. Kita masih musuhan hari ini. Chapter depan mungkin akan lama dipublish mengingat Nami-san akan menjalani UTS dan sebagainya. Kita doakan semoga Nami-san—

Momoi : Mukkun, eskrimnya menetes ke bajumu, ne!

Murasakibara : Sacchin punya tissue?

Kuroko : (mulai kesel)...punya waktu dan ide untuk—

Murasakibara : Kuro-chin punya tisu?

Kuroko : —segera menyelesaikan fic ini. Sekian dan terimakasih (kabur pake misdirection)