—Tersangka Keempat (selesai diproses) : Midorima Shintarou—

"Midorin hebat! Menggunakan Oha Asa sebagai sebab alami pertikaian Tetsu-kun dengan Akashi-kun!"

"Hmph. Ini karena Cancer berada dalam urutan pertama hari ini, nanodayo. Selebihnya memang karena kecerdasanku."

"Uh~ itu tidak nyambung, Midorimacchi! Kalau aku jalan duluan juga pasti misiku lebih bagus, ssu!"

"Diamlah, Kise. Yang sudah-sudah juga kau dibidik si Akashi kan."

"Tapi hebatnya Kise-chin tidak kena ya~"

"Benar! Kalau yang dibidik Aominecchi atau Kagamicchi sih mungkin bisa saja kena ya?"

"Teme! Kenapa bawa-bawa aku segala!"

"Sudah, ah! Sekarang kita hampir berhasil, ne! Sini, sini!" gadis merah muda menarik tangan-tangan ramping sambil menumpuknya paksa. Ia berada di urutan teratas. "Sedikit lagi—kepolosan Kuroko Tetsuya-kun terselamatkan!"

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi

I've gain nothing but pleasure and anu from this fic. Standard warning applied.

Hari ini Akashi harus rela berangkat sendirian (lagi). Kuroko dibawa kabur oleh Kisedai, alih-alihnya menyelamatkan sang raja, katanya. Padahal Akashi juga tahu kalau mereka modus! Awas saja. Hari ini tak ada keberuntungan yang bisa menghalangi bidikan guntingnya lagi.

Misuh-misuh ia menyambar kunci mobil, keadaan rumah tak ia pedulikan. Memar yang kemarin saja belum sepenuhnya hilang, ia malah menambahnya saat menjalankan usaha pengejaran Kuroko. Kali ini di kening, terantuk sudut meja makan. Belum lagi bekas-bekas kerusuhan yang tersisa karena Murasakibara mencoba mencomot croissant, duh! Akashi hampir hilang kesabaran sebelum Kuroko mencegahnya pakai todongan kemoceng.

Kami-sama, sampai kapan kesialan ini bakal bertahan? Akashi sudah tidak kuat. Tinggal serumah namun saling mengasingkan. Tidur seranjang tapi berjauh-jauhan. Please, Akashi tidak ingin dibeginikan sekalipun oleh Kuroko yang suka sekali membuatnya jadi masokis. Ia tahu sekali Kuroko melakukan ini untuknya, tapi yang benar saja! Bahkan ramalan bintang sekalipun tak merestuinya dengan si baby blue? Sialan! Ia ini pemenang, bukan? Mengapa nasibnya harus diobok-obok oleh takhayul yang kebetulan terealisasi?

Ini semua terjadi karena ia membeli TV untuk dipajang di kamar. Kenapa? Kalau saja Kuroko tidak menonton sampai larut, mungkin ia tak akan diduakan. Kenapa? Kalau saja Kuroko tidak menonton berita pagi mungkin ia tak akan tertarik dengan opening Oha Asa. Kenapa? Kalau saja ia tidak menonton Oha Asa mungkin ia tak akan terhasut ramalan. Kenapa? Karena ini semua bermula dari cita-cita sepihak Akashi. Ugh, benar-benar menyebalkan. Mengapa ia harus salah lagi?

Kebut-kebutan dilakukan. Tak peduli seberapa buruk peruntungannya, ia tetap melaju di jalan sarat pedestrian. Kesal akan nasib, kisah cinta dan dirinya sendiri. Semakin kesini hubungannya tak pernah terasa lebih baik, ia tak ingin berlebihan apalagi suudzon namun instingnya mengatakan kalau sesuatu mempermainkan hubungannya dengan Kuroko. Sesuatu mendalangi semuanya, namun ia tak tahu harus menunjuk (si)apa. Jika saja ia punya petunjuk samarnya sekalipun, ia akan mengatasi dengan cara biasa. Yeah, semua harus segera diselesaikan jika ingin hidupnya damai bersama si baby blue.

凸(皿)凸

"Tak apakah kalau begini? Aku agak khawatir dengan keadaan rumah."

"Cih. Berhentilah bicara seperti ibu-ibu yang minggat dari suami dan anaknya, Tetsu. Memangnya Akashi sebengal itu apa."

"Duh, Aominecchi jangan sesumbar, ssu. Akashicchi bisa saja dibelakangmu saat ini."

"Peduli amat."

"Dai-chan memangnya punya nyali?"

"Mana mungkin, Sacchin~ seperti tidak kenal Mine-chin saja~"

"Oi, kalian!"

"Berisik, Aomine. Aku sedang mendengarkan siaran ulang Oha Asa dari radio."

"Aku diperingkat keberapa, Midorimacchi?"

"Lima. Lucky item untukmu adalah action figure badak bercula dua, nanodayo."

"Kalau aku, Midorin?"

"Dua. Lucky itemmu adalah boneka beruang mini berwarna biru."

"Boneka beruang mini?" si manik azure menelengkan kepala, sontak merogoh tas setelahnya—beranjak mengeluarkan seonggok boneka beruang seukuran telapak tangan. "Barusan tetangga sebelah memberiku banyak oleh-oleh sebelum berangkat, Momoi-san mau satu?"

Bagai diterjang badai bunga, si gadis pink menari tanpa kontrol tepat saat beruang mini jatuh ke tangannya. Menggumamkan kata 'aku akan menyimpannya baik-baik', ia terus menari tanpa diindahkan Kisedai yang berjalan menjauh.

"Kuroko." si manis menoleh. "Kau tidak bisa bersama Akashi lagi hari ini."

Sempat tertunduk. "Iya, Midorima-kun. Barusan kami sempat nonton Oha Asa bersama."

"Sehari lagi seperti ini berarti kalian tidak jodoh, Tetsu." si pria tan malah ngompor. "Biasanya 'kan begitu."

"Eh?"

"Itu benar, nanodayo." si hijau menaikkan megane. "Mungkin kalian memang tidak ditakdirkan sebagai sepasang kekasih."

"Tapi—"

"Kurokocchi tentu tahu apa yang Akashicchi alami dua hari ini jika dekat-dekat Kurokocchi, kan? Sudah jelas sekali, ssu. Mungkin kalian tidak jodoh, coba cari orang dengan zodiak lain yang lebih klop dengan Kurokocchi, misalnya Gemini seperti aku ini!"

"Kise-chin menggelikan~ aku minta keripiknya."

"Tapi Kise-kun, kami—"

"Yo, Kuroko."

Panggilan singkat membuatnya mendongak. Beberapa pasang mata ikut melirik termasuk sosok gadis yang sedang sibuk riang gembira dibelakang. Seorang pria tegap dengan alis bercabang memberi hi-five, tapi hanya pada Kuroko, lho.

"Halo, Kagami-kun." ia menatap datar. "Kemarin tidak sekolah. Apa ada sesuatu?"

Dalam hati ia berbunga. Ah, masih diperhatikan rupanya. Seandainya atensi itu mutlak miliknya mungkin ia tak akan segan menjawabnya dengan manis seperti mengawali sahutan dengan kecupan kening sebagai salam pertemuan. Tapi ia tak begitu ingin dahinya bolong sepagi ini, sih.

"Aku mengantar Alex ke bandara. Ia harus pulang." Kagami menggaruk kepala. "Tumben tidak sama Akashi."

"Iya. Soalnya—"

"Peruntungan Akashi buruk kalau bersama Kuroko, nodayo."

Kuroko tertunduk lagi, sementara Aomine dan Kise sudah tertawa tanpa suara, puas akan keadaan. Murasakibara cuek seperti biasa, asik makan ketoprak sambil jalan. Momoi langsung menggaet lengan si baby blue, niat meng-comfort. Kagami hanya memandang simpatik, kemudian menepuk kepala Kuroko sebagai aksi lanjutan.

"Kau bukan biang kesialan."—karena siapapun yang mendapatkanmu sama dengan ketimpaan anugerah, Kuroko. "Jadi berhentilah menyalahkan diri sendiri."

"Tapi Kagami-kun—"

"Kita ini partner, ingat? Kau harus percaya padaku."

"Terakhir kali aku percaya padamu saat Kagami-kun bilang aku gemuk lalu beberapa hari setelahnya dahimu berlubang."

Hampir seluruh member Kiseki no Sedai menahan tawa, terkecuali Murasakibara yang masih tenang makan keripik pisang dan AoKise yang sudah ngakak bebas.

"Tapi memang iya, kan? Waktu itu kau gemuk, Kuroko."

"Sebenarnya Kagami-kun mau menenangkanku atau sebaliknya?"

Maunya sih jadi pacarmu, Kuroko. Tapi jawabannya pasti tidak.

"Pokoknya kau bukan biang kesialan." Kagami mengacak rambut biru selembut bintang iklan. "Lagipula yang kutahu kalau ramalan mengatakan seseorang akan dapat sial biasanya cuma bakal bertahan sehari."

"Tapi ini sudah dua hari kami diharuskan berjauhan, Kagami-kun."

"Yah—" kini Kagami garuk kepala. "Mungkin kalian memang tidak jodoh, Kuroko."

Murung menyerang. Kuroko tertunduk ekstrim. Mulanya Aomine mau menoyor kepala sang macan namun Midorima dan Momoi memberi isyarat kalau perkataannya sudah oke. Kagami sungguh gagal paham, ia benar-benar tak ingin ikutan misi lagi, serius. Yang berada di pikirannya hanyalah mendekati Kuroko yang sedang galau. Itu saja, kok. Masalah misi impossible mereka sih tidak ada kaitannya dengan Kagami sekarang.

"Sudahlah. Aku mau latihan. Hyuga-sensei memarahiku tadi pagi." Kagami menoleh, Kuroko belum mendongak. "Mau menemaniku berlatih? Atau—melatih teknik passing terbarumu, mungkin? Well, meskipun permainanmu tidak begitu berguna dilapangan."

Bungkam. Mulanya Kisedai sempat bingung akan cara Kagami mencintai seseorang dengan begitu sadis. Lagipula siapa juga yang suka dikatai semacam itu? Pantas saja si baby blue ogah jatuh padanya. Jika Kise atau Momoi yang mendapat tempat dicintai semacam Kuroko mungkin mereka sudah mengambil pisau daging dan menjadikan Kagami bistik bumbu kacang.

"Aku tidak mengerti kenapa Kagami-kun berkata ingin menenangkanku."

"Cih. Kau kan tahu kalau aku tidak bisa berkata lembut. Intinya kau mau menemaniku atau tidak?" Kagami garuk rambut lagi "Aku akan membelikanmu susu kocok vanilla di perjalanan nanti."

Tepat. Kuroko berjalan membuntutinya setelah mengangguk manis. Kagami tersenyum menang, ia menyodorkan kepalan tinju untuk dibalas sang partner. Tak peduli teriakan kesal sang mantan cahaya dan gadis bermahkota merah muda, mereka terus jalan beriringan. Dibuntuti model pirang yang cemberut dan pria tinggi yang asik mengunyah stik jagung, Kagami tak peduli. Sepasang mata jadeite menangkap gerak gerik mesra antara cahaya dan bayangan sambil menaikkan kacamata. Ini kesempatan yang paling bagus.

Laporan pengajuan festival musim dingin ditandatangani dengan asal. Proposal kegiatan wushu juga jadi korban coretan abstrak dari pena gelap. Begitu juga yang terjadi dengan kertas berisi pengajuan ekstrakulikuler lainnya. Anggota OSIS sempat bergidik ngeri sesaat setelah bertatapan satu sama lain. Lagi-lagi, mereka harus jadi saksi nyata dari sifat mengerikan sang ketua. Untung saja coretan itu tidak sampai terukir di dahi mereka.

"Dimana Shintarou?"

Satu pertanyaan berjuta makna. Anggota OSIS mulai terjebak dalam delusi. Untuk apa Akashi mencari pria hijau tsundere itu? Mau dibidikkah? Mau diminta bantuannyakah? Mau dianukah? Duh, semoga bukan hal buruk hasilnya.

"A-anoo. Akashi-sama—"

"Aku tidak butuh kata anu sekarang." kalau bukan dari Tetsuya, lanjutnya membatin. "Jadi dia tidak disini, eh?"

"Ehm, kami rasa Midorima-kun m-masih—"

"Bersama Tetsuya, ya?"

Wah. Mereka bingung harus jawab apa. Yang sudah-sudah juga kalau mereka bilang 'tidak tahu' sudah tentu sang Kaisar akan semakin murka. Belum hilang bekas amukan tempo hari ketika Empress-nya latihan bareng sang cahaya, sekarang masa harus ditambah lagi? Duh, mengapa juga mereka punya ketua OSIS yang tidak professional seperti ini? Jangan salah, dulu Akashi sangat stabil sebelum tunduk dibawah naungan malaikat setaraf Kuroko Tetsuya.

"Well, ini tidak bisa dibiarkan." ia berdiri, mulas massal mulai merambat. "Urusi semua dokumen yang bisa kalian urus dan kumpulkan hasil akhirnya di mejaku."

"Tapi Akashi-sama, kami—"

"Selesaikan sebelum aku kembali." ia menoleh. "Kalian tahu bukan kalau aku tidak menyukai penolakan?"

"Midorin, lihat ini! Ada artikel tentang kecocokan pasangan berdasarkan zodiak di majalahnya Ki-chan!"

"Momocchi, sudah kubilang untuk melihat fotoku saja, ssu!"

Midorima hampir terjungkal dari kursi lipatnya saat hendak bangkit menghampiri gadis bermata pink di ambang pintu. Tentang asmara antar zodiak? Oh, jangan salah paham. Ia tidak peduli, kok. Hanya saja ini penting untuk referensi hubungan, misalnya hubungan antara dirinya dan seseorang yang sedang tertawa abstrak nun jauh disana.

"Biar aku yang baca, nanodayo." tangannya terjulur, gulungan lembaran kertas potret hampir jatuh ke tangan.

"Itu tidak penting, Midorimacchi! Fotoku ada di—"

"Kau berisik sekali, Kise. Pergi sana, aku mau tidur."

"Sst, Dai-chan! Kalau mau tidur di atap sana!"

"Diam, Satsuki! Kau—"

"Dimulai dengan Cancer, nodayo. Kisah cintamu dengan si dia sedang dalam kondisi yang stabil dan aman. Bisa dikatakan hangat, adem ayem atau sehat sentosa. Kalian saling melengkapi, saling mengkoreksi. Namun hati-hati dengan hubungan jarak jauh yang loyalitasnya terbilang riskan. Sempatkan waktu pertemuan serutin mungkin untuk sekedar menghangatkan tub—ehm, menghangatkan hubungan, maksudnya. Pasangan paling ideal : Scorpio."

Dalam hati Midorima tersenyum, ramalannya sejalan dengan realita. Memang jempolan sekali artikelnya. Lain kali mungkin ia harus berlangganan majalah ini karena keakuratannya bikin dirinya ketagihan. Kalau bisa jangan sampai Kisedai tahu.

"Nee~ selamat ya, Midorin!" Momoi tersenyum manis. Si pria hijau hanya menaikkan kacamata, kebanggaan terpancar.

"Tapi serius ya, itu hampir semuanya benar, ssu! Midorimacchi dan Takao-kun kan memang seperti itu." Kise nyengir. "Selanjutnya aku dong, ssu!"

"Tadi kau bilang tidak tertarik, bodoh."

"Aominecchi diam dong."

Midorima menghela napas.

"Gemini. Hubunganmu dengan si dia asam manis, terkesan tidak memiliki kejelasan yang konstan. Kalian terkadang mengikuti alur, tapi kalian juga bisa menjadi pasangan paling manis di saat-saat tertentu. Pribadimu yang eksentrik dan dirinya yang serba simple kadang menjadi pemicu pertengkaran, namun biasanya tidak akan lama. Kalian sering terjebak dalam zona teman dan kemudian berjauhan, namun jika ini berhasil dilalui kalian akan jadi pasangan yang cukup langgeng, kok. Semangat terus untuk kisah cinta rasa lemonnya! Pasangan paling ideal : Aquarius."

"K-Kurokocchi dong?" hampir ia menari Shalala Goes On. "Sudah kuduga, ssu! Aku dan Kurokocchi itu memang—a-aduh!"

"Lanjut, Midorima. Kali ini Virgo." Aomine menoyor kepala Kise gemas. "Pastikan ramalannya bagus, lebih menarik dari Kise."

"Yang benar saja Mine-chin~"

"Dai-chan cemburu ya?" Momoi terkikik. Midorima mendengus sekarang.

"Virgo. Sifatmu yang semaunya terkadang membuat bingung si dia. Hati-hati dengan jarak antara teman dan pasangan, karena kadang kamu dibuat bingung dengan hal-hal trivial. Pasanganmu tergolong pribadi yang hiperaktif, terkadang mencari perhatian dengan cara memanasimu adalah hal yang selalu terlintas di benaknya. Tetap pahami dirinya, beri kasih sayang dan sentuhan di tub—ehm, hatinya. Selebihnya dia mencintaimu luar dalam, kok. Jangan khawatir. Pasangan paling ideal : Aquarius."

"Cih, kukira pasangan idealnya Gemini." sesaat kemudian Aomine melotot. "Jadi maksudnya—Tetsu mesti jadi harem?!"

"Stop pikiran bodohmu, nanodayo. Berikutnya—"

"Libra, nee?"

"Ah, benar."

"Uh~ Mukkun main salip!"

Momoi hanya pouting. Murasakibara melirik cuek sambil mengamankan wafer salut keju ke dalam saku, sementara Midorima menghembus napas kasar.

"Libra. Tidak ada yang mesti dibahas lagi dalam kisah cintamu. Kamu dan pasanganmu sungguh luar biasa! Tidak ada kata monoton dalam hari-harimu dan si dia. Kalian saling melengkapi dan sama-sama mengerti. Pribadimu yang imut sangat klop dengannya yang begitu mengayomi. Kamu senang ditimang, ia suka memanja. Tidak perlu atraktif untuk diperhatikan, kamu sudah mendapatkan hatinya jauh-jauh hari. Sukses terus! Pasangan paling ideal : Scorpio."

"Ah~ Muro-chin itu zodiaknya Scorpio juga ya." Murasakibara tersenyum. Momoi mengangguk riang.

"Himuro-san memang ahlinya menangani Mukkun!" gadis itu tersenyum. "Aku dong, Midorin! Sudah pasti pasangan paling idealku Aquarius, kan?" lanjutnya percaya diri.

Midorima menghela napas berat. "Taurus. Sepertinya kamu punya target yang sangat besar buat si dia. Tuh, dia belum bersedia buka hatinya padamu lho. Sayang sekali ya, tapi jangan khawatir! Dia paling suka dengan pribadimu yang manis dan lembut. Cukup dengan terus memberinya dukungan dan selalu ada untuknya, ia akan makin tertarik padamu. Jangan lupakan bahwa ia juga punya tujuan, jangan sampai memaksakan diri apalagi sampai melawan kehendaknya, soalnya si dia paling benci ditekan. Pasangan paling ideal : semua zodiak. Kamu adalah zodiak paling fleksibel, berbahagialah!"

"Eeeh?" pipi si gadis menggembung. "Jadi aku dan Tetsu-kun—"

"Sudah pasti tidak jodoh, Satsuki!" Aomine ngakak bebas. "Hatimu keji, sih. Mau memisahkannya dengan Akashi segala. Sudah tahu kalau cinta mereka itu immortal."

"Tapi kan Aominecchi juga ambil andil dalam memisahkan Kurokocchi dengan Akashicchi, ssu."

"Berisik, bodoh. Itu kulakukan karena Tetsu tidak pantas bersanding dengan iblis jenius macam Akashi. Kalau dengan macan bodoh seperti si Kagami sih terserah saja, dia mana ada nyali untuk mengobok-ngobok Tetsu."

"Mine-chin, fic ini masih rate T lho~"

"Peduli amat. Memangnya bahasan anu seperti ini masih cocok untuk remaja? Tinggal ganti saja rate-nya."

"Tunggu, diam dulu, nanodayo." pria berkacamata menginterupsi, serius menengahi sampai seluruh netra tertancap pada entitasnya. Ia menunjuk-nunjuk salah satu kolom bergambar riak air, tidak santai.

"Kita harus membaca ramalan ini juga, nanodayo! Dengarkan baik-baik. Aquarius—"

"—kisah cintamu terbilang miris. Kamu bersanding dengan seseorang yang tidak seharusnya kamu dekati saat ini. Kalian sangat sering bertentangan, bahkan hubungan yang singkat terancam gugur awal-awal sehingga terkesan ragu-ragu. Ini bukan masalah kurangnya strategi pemahaman dalam bercinta atau luputnya sesajen yang kalian taruh di pohon besar pinggir jalan, bukan kok. Hanya saja sifat persisten masih sangat kental padamu dan si dia. Kalian memahami satu sama lain namun tidak siap menerima perubahan dalam bentuk dan ukuran apapun. Coba untuk lebih sering bicara serius tanpa diselipi modus, biar tidak salah fokus. Pasangan paling ideal : Leo."

"Tumben kau menyimak bacaan seperti itu, Kuroko."

Tolehan ringan ditujukan pada pria tegap yang meneguk minuman isotonik di bench. Puas minum, ia menyeka bibir dengan punggung tangan lalu melempar botol kosong ke tempat sampat terdekat dengan gaya shooter handal. Masuk, ia menatap satu-satunya lawan bicara.

"Kau percaya takhayul sekarang?"

Kuroko Tetsuya masih menatapnya lurus. Mulanya sih biasa saja. Belum ada tremor ringan atau gelitikan imajiner dalam perut bidangnya. Namun setelah detik-detik berlalu lamban, Kagami Taiga mulai salah tingkah. Duh, Kami-sama. Apa yang bisa diambil dariku untuk mendapatkan sosok ini? Boro-boro menodainya, menorehkan tinta merah saja Kagami tidak ingin. Anak orang sepolos ini inginnya dijaga sebaik-baiknya.

"Ini serius, Kagami-kun. Hampir 98% isi ramalannya benar. Aku dan Akashi-kun—"

"Kalau begitu kalian memang tidak jodoh." celetuknya mengompori. "Yah, apa boleh buat, Kuroko. Lagipula kan—"

"Tapi kita tidak dikatakan tidak cocok, Kagami-kun. Hanya kurang bicara serius saja."

"Ya memangnya kapan kalian bisa bicara serius?" sementara kau ngomong sedikit saja bibirmu sudah ranum menggoda begitu coba, Kuroko. Jelas saja si Akashi tidak bisa serius. "Ini hanya masalah waktu. Kau bisa lihat selama ini tidak ada kemajuan yang bagus dalam hubunganmu."

Aih. Kali ini Kagami menepuk jitu sisi paling rapuh dari si baby blue. Ia berhasil bungkam, tertunduk.

"Oi, oi, Kuroko." agak panik, diraihnya tubuh ringkih si biru. "Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Seharusnya kau sudah tahu."

"Tapi aku benar-benar menyayangi Akashi-kun, Kagami-kun..."

Ah. Ngenes rasanya. Saat ini kau berduaan di gym dengan gebetan dalam pelukan, lalu dirinya berkata bahwa jelas-jelas ia menyukai orang lain. Bisakah kautukar subjeknya, Kuroko? Karena sesungguhnya bahagia itu sederhana sekali.

"Yah—"

Kagami bingung mau jawab apa. Kehangatan Kuroko menembus pori-pori epiderm, merambat ke dalam tiap kapiler darah menuju jantungnya. Hangat, namun denyutannya menyakitkan. Inikah rasanya cinta? Kagami ingin ingkar, Kami-sama. Sungguh, ia ingin jadi anak mamanya yang selalu lugu tanpa cinta sepedih ini. Kalau bisa melangkah maju ia tidak akan menolak. Namun pada siapa? Pelabuhannya begitu sempurna, membuatnya betah tak ingin pergi.

"Aku harus bagaimana, Kagami-kun?"

Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu, Kuroko. Ah, berarti kita punya pertanyaan yang sama. Bolehkah aku gembira? Kita punya kecocokan.

"Bagaimana kalau kami tak lagi cocok? Bahkan Kami-sama juga tidak merestui kami."

Oh, ayolah. Ramalan dan takdir itu bersimpangan, Kuroko. Tidak seharusnya kau percaya itu, kan? Kagami ingin sekali mendukung sosok manis direngkuhannya jika saja ini adalah masalah dirinya dengan si baby blue.

Tapi tidak bisa. Dirinya hanya orang luar.

"Kagami-kun?"

"Ah, ya."

"Ponselmu bergetar."

Kagami mengernyit. "Memangnya terasa?"

Kuroko balas menatap. "Kagami-kun saja yang tidak peka."

"Teme! Katakan itu pada dirimu sendiri!"

Kuroko gagal paham meski Kagami sudah berdecak melihat isi ponselnya. Segera dibuka pesan panjang yang terus terbaharui secara otomatis. Kedua alis cabangnya bertaut.

"Tumben si Midorima mengirimiku pesan sepanjang ini." Kaagami skeptis. "Biasanya juga satu-dua huruf."

Kuroko hanya melongokkan kepala, penasaran pada isi pesan si megane. Apa isi pesannya serupa dengan pesan yang dikirimkan padanya? Barangkali Kagami mau berbagi cerita. Selain masalah anu, Kuroko bersedia saja kok ada tiap saat untuk Kagami.

"Aku bacakan. Jangan intip-intip seperti itu, gayamu sudah persis maling kompleks."

"Memangnya Kagami-kun tahu gaya maling kompleks?"

"Tahu. Sepertimu barusan, Kuroko."

"Pengalaman pribadi ya."

"Berisik, teme!" hampir saja ia kelepasan menjitak si entitas biru. "Leo. Peruntunganmu dalam kisah cinta tidak begitu baik, bisa dikatakan buruk malah. Terjepit dalam bayangan cinta terpendam dan masa lalu yang manis memang menyakitkan, namun jangan—stop, Kuroko. Aku tidak mau baca lagi." sialan. Dirinya diolok-olok ramalan dengan segini kejinya.

"Kalau begitu aku yang akan lanjut membacakan. Sini ponselnya."

"Bodoh, jangan coba-coba!" Kagami meninggikan jarak ponsel yang ia genggam, optimis kalau si manis tak akan sanggup menggapai.

"Kagami-kun payah. Kalau memberi info jangan setengah-setengah." diluar dugaan, Kuroko merayapi lengannya, berusaha menggapai-gapai ponsel flip merah Kagami yang teracung. Si pemilik sudah gugup luar biasa.

"B-bodoh! Jangan mendekat lebih dari ini, Kuroko!"

"Makanya aku saja yang baca, Kagami-kun."

"Diam kau! Stop! Kau membuat bench-nya—WUAA!"

Sial. Sial! Mimpi apa Kagami semalam?! Peringkat berapa Leo hari ini?! Ia terjungkal dengan manisnya di lantai gym! Naasnya lagi, bench yang semula anteng diam kini sudah bangkit berdiri, hendak menimpanya dan—

Apa-apa—kenapa Kuroko ada di atas tubuhnya?! Posisi macam apa ini, Kami-sama?!

"K-Kuroko, ini—ehm..."

"Aku dapat ponsel Kagami-kun." ia tersenyum kecil sambil memamerkan ponsel lipat ditangan kanan. "Lanjutannya, jangan—"

Membacanya jangan sambil tengkurap di atasku, teme! Kau ini bodoh atau bagaimana?! Kepolosan juga punya batas, Kuroko! Tubuh dan otakku sudah anu luar dalam!

"Kagami-kun, wajahmu merah sekali."

"I-ini gara-gara dirimu, teme! Cepat menyingkir!"

"Ah, benar." tanpa dosa Kuroko bergeser, beda dengan Kagami yang sudah ketar-ketir bagai petasan disko. "Akashi-kun akan sangat marah pada kita."

Kita? Tidak, Kuroko. Dalam suka maupun duka, kata 'kita' tak akan pernah cocok untuk kau dan aku. Bahkan jika ada saat iblis merah itu datang untuk meregang nyawa para manusia ajaib, kau tak akan pernah terluka sedikitpun. Baik aku, Akashi dan Kiseki no Sedai sudah tentu melindungimu. Namun dengan cara yang kontras, dan dengan sasaran yang jelas beda juga. Bah, mengapa kita tidak bertemu lebih awal, Kuroko?

"Kau tahu." tangan Kagami bergerak diluar kendali, tanpa kontrol mengakari wajah semulus porselen. "Aku rela jadi sasaran amukannya kalau saja kau terus bersamaku sedekat ini, Kuroko."

Namun si sosok manis hanya mengernyit.

"Kagami-kun, sepertinya kepalamu terbentur barusan."

Iya benar. Terbentur cinta terpendam rasanya memang tujuh rupa.

"Aku baca ya, Kagami-kun." si macan hanya menatap nanar sosok di depannya saat bangun. Pasrah, Kuroko memang tidak peka. "Jangan putus harapan. Dia sangat menyukai sifatmu yang pantang menyerah. Terus nyamankan ia dalam perhatian, karena dasarnya gebetanmu sangat lemah terhadap atensi dan kelembutan. Dan satu hal, ia sangat suka jadi pemenang. Jika kamu adalah pribadi dengan sifat sukar mengalah, kamu akan susah mendapatkannya. Intinya sih, jadilah orang yang lembut dan selalu menjadi sandarannya. Dia pasti luluh, takluk malahan. Pasangan paling ideal : Aquarius."

Bohlam imajiner menyala spontan diatas kepala Kagami. Benar. Ia dan Kuroko sedang banyak chemistry hari ini. Dengan konfidensi penuh ia bertanya balik.

"Tadi pasangan paling ideal untukmu apa? Coba ulang."

"Ehm—" bukan tidak sadar, tapi sungguhan Kuroko nampak sangsi. "Leo."

"Lalu bagaimana denganku?"

"Etoo—" si manis meringis, mulai bisa membaca keadaan. "Kagami-kun mau mengejekku atau bagaimana?"

"Tidak, bukan begitu. Tadinya aku mau bilang kalau kita jelas-jelas cocok, Kuroko."

"Sebagai apa?"

Pasangan sehidup semati, kau tahu. Kagami menghela napas.

"Partner main basket." ia menyerah. "Ini sudah senja, kita harus pulang."

"Ah. Baik."

Bertumpu pada kedua lutut, Kagami berdiri duluan kemudian mengulurkan tangan pada Kuroko yang langsung menyambut. Ah, ini ya rasanya friendzone? Manis manis getir, tanpa ada kejelasan baik hubungan maupun perasaan. Kagami kembali menghela napas, mengabaikan rasa perih yang merambati hati. Sepertinya kali ini ia harus membenarkan ucapan Aomine. Ia memang baper.

Berjalan beriringan ke arah pintu keluar, Kagami berinisiatif untuk memperlebar jarak. Bagaimanapun Kuroko ini pacar orang, ia tak ingin jadi parasit—meski berpotensi.

"Ini dikunci."

Namun yang namanya hati sudah tentu tak dapat dipungkiri, bukan? Pikiran Kagami sudah dipenuhi oleh jutaan slide dengan si baby blue sebagai objek tunggal. Ia cinta berat pada Kuroko, kalau mau tahu. Bukannya tidak ingin melawan sang kaisar yang mengklaim diri sebagai calon suaminya, namun justru ia tidak ingin tampak lebih menyedihkan lagi di mata biru si bayangan. Jika menjauh adalah pilihan terbaik, Kagami akan coba. Tapi sampai saat ini ada saja saat-saat dimana dirinya dibutuhkan Kuroko dan ia juga enggan menolak.

"Kagami-kun, pintunya terkunci."

Mau tak mau ia menggerakkan kepala ke arah si pemuda yang kini menatap dengan sorot konstan—flat. Ia mengerutkan dahi ketika tangan kecil itu terus mengguncang kenop dan hasilnya sama. Pintu itu tidak terbuka, bahkan untuk sekedar memberi celah.

"Serius?" ia ikut mengguncang daun pintu. Susah. "Sial. Kita terkurung."

Gantian Kuroko yang mendesah pelan. Ia ingin pulang. Badannya sudah terasa lengket seharian latihan. Belum lagi keadaan rumahnya sudah tak dapat terbayangkan. Duh, Kuroko ingin pulang. Ia belum memasak, Akashi pasti sudah kelaparan dan berpikir untuk masak sendiri. Berlatih bersama Kagami memang selalu membuatnya lupa waktu.

"Aku akan menghubungi teman-teman." Kuroko mengeluarkan ponsel.

"Kalau begitu aku mau mandi duluan, badanku lengket." Kagami berbalik, lalu berjalan menjauh. "Sebaiknya kau juga mandi, Kuroko. Kau bisa pakai ruang bilasnya duluan, kalau mau."

"Tidak. Aku akan menunggu di loker."

"Baiklah."

Kagami menyabet handuk yang tersampir abstrak di bench. Mendinginkan diri luar dalam memang perlu, ia butuh guyuran air untuk tetap tenang. Bersama Kuroko cukup membuatnya panas, baik hati maupun sekujur badan. Jika ia diberi pilihan antara berendam dengan air dingin atau aromatherapy vanilla untuk menenangkan diri, mungkin ia akan memilih keduanya untuk dinikmati bersamaan saat ini.

Kagami hanya memakai handuk sepinggang ketika melihat Kuroko asik bersandar di loker sambil memainkan ponsel. Ia menoleh ketika Kagami menyapanya singkat.

"Sepertinya Aomine-kun akan datang bersama yang lainnya beberapa menit lagi." ia menutup ponsel. "Kagami-kun lama sekali."

"Well, bagaimana bilangnya, ya?" si macan menggaruk kepala. "Sebelumnya aku mencari jalan pintas, siapa tahu ada."

"Kita sudah pakai gym ini selama 2 tahun lebih, Kagami-kun."

"Cih, aku tahu. Memang apa salahnya mencoba."

Hening. Tak ada sanggahan lagi dari kedua pihak. Kagami melangkah menuju lokernya sementara Kuroko masih bersandar di pintu loker sebelahnya. Si scarlet berdecak.

"Minggir sedikit, Kuroko. Kau menghimpit lokerku."

"Inginnya juga begitu, Kagami-kun. Tapi aku tidak bisa."

Kagami mengernyit. "Maksudnya?"

Ia melebarkan mata saat mengerti maksud dari kalimat entitas di dekatnya. Sesaat kemudian tawa bebas lancar meluncur darinya, membuat efek wajah ngambek Kuroko yang begitu menggemaskan. Mau bagaimana lagi, habis kalau ditahan juga tidak bisa.

"Ini tidak lucu, Kagami-kun." ujarnya dengan pipi gembung.

"Maaf, maaf. Hanya saja aku baru melihat yang seperti ini." Kagami mengacak rambut biru si manis, menambah efek pouting. "Lagipula memangnya berapa umurmu sampai bisa tersangkut di loker orang? Memalukan."

"Kalau tidak mau membantu jangan mengejek. Sana pergi." ketusnya datar.

"Maaf, Kuroko. Aku pasti bantu."

Kagami masih haha-hihi saat melongok penyebab tersangkutnya Kuroko. Ah, ini rupanya. Kaus putihnya tersangkut pengikir kuku yang mencuat dari celah pintu loker. Tertulis nama 'Kise Ryouta' sebagai pemilik mutlak TKP berwujud loker. Kagami mendesah sebal.

"Lagian si Kise itu—untuk apa bawa-bawa barang seperti ini?" Kagami mendekatkan kepala, kini Kuroko bisa merasakan sapuan napas si macan di tengkuknya. Geli, hangat. "Ah, punggungmu tergores, Kuroko."

"Aku tidak apa-apa, Kagami-kun. Tolong lepaskan saja kaitannya."

"Mudah saja. Buka kausmu, Kuroko."

"Eh?"

"Cepatlah. Kikir ini cukup tajam, kau bisa terkena lagi kalau tidak disiasati."

"Ehm, tapi—"

"Kalau begitu majukan tubuhmu sedikit, biar aku yang bukakan."

"Ah—"

BRAKK—!

Kedua insan beda warna menoleh, masih dengan posisi dan jarak yang sama. Pintu gym terbuka gamblang dengan satu-satunya entitas bertubuh medium berdiri gagah di tengah-tengah. Tidak, tunggu. Ia tidak sendiri. Beberapa sosok manusia warna-warni nampak bergelimpangan mengerikan sebagai background.

"Singkirkan tanganmu dari Tetsuya."

Kagami merinding. Ini lebih menakutkan dari film horor yang ia tonton bareng Himuro waktu kecil. Seseorang disana malah lebih menyeramkan, tubuh Kagami kaku mendadak. Duh, semoga handuknya tidak merosot.

"Aku tersangkut, Akashi-kun. Jangan berge—"

"Diam, Tetsuya." sosok itu melangkah, derapnya bergema. "Waktunya pelajaran sekarang."

Tangannya merogoh saku, Kuroko cukup hapal gerakannya mengarah kemana. Ia menepis lengan Kagami yang terposisikan mengurungnya beberapa saat lalu, berusaha lepas dari perangkat kecantikan si model.

"Akashi-kun, sudah cuku—"

Slap! Klang—!

"AKASHI-KUN!"

Serius. Kuroko bingung harus bilang apa. Ia bungkam saat membalut perban di lengan atas sang kaisar. Pun sama halnya dengan Akashi sendiri. Ia tak ingin bicara apapun, suasana sepi cukup jadi penengah yang baik.

Kuroko menggunting perban hati-hati lalu mengambil plester dari kotak P3K. Setelah merekatkan perbannya ia menutup box transparan itu lalu beranjak bangkit. Malam ini ia yang akan tidur diluar, barang-barang kesukaannya harus dipindahkan sementara.

"Lepaskan tanganku, Akashi-kun."

Si baby blue melirik tubuh sebelah kanan, dimana seseorang mencekalnya lembut. Mau menepis? Bisa saja. Tapi ia tahu mereka tidak dalam mood yang baik untuk bertengkar.

"Aku mau bicara."

"Besok juga bisa. Aku mau memindahkan bantal."

"Sampai kapan kau mau menjauhiku seperti ini, Tetsuya?"

Genggamannya menguat. Ah, benar. Figur Akashi yang seperti ini—hanya Kuroko yang tahu. Kerapuhan ini cuma miliknya. Namun sayangnya ini masih belum saatnya berbangga hati, Kuroko masih harus jaga jarak dengan Akashi.

"Sampai kesialan Akashi-kun hilang." si manis nyaris terlepas, namun segera si Emperor mencekalnya lebih erat. "Lihat lenganmu, Akashi-kun. Aku tidak pernah membenarkanmu untuk membidik orang dan inilah hasilnya kalau ngeyel."

"Kaupikir karena siapa aku jadi seperti ini?"

"Aku tidak pernah minta Akashi-kun jadi kacau karenaku, sungguh. Aku melakukan ini agar Akashi-kun tidak kena sial terus."

"Lalu apa-apaan pose panas barusan? Kau menikmatinya dengan Taiga, eh?"

"Aku sudah bilang kalau bajuku tersangkut kikir kuku Kise-kun. Kagami-kun membantuku untuk melepasnya."

"Seharusnya kau menghubungiku untuk minta tolong."

"Tidak bisa. Nanti Akashi-kun kena sial lagi." putusan akhir, Kuroko mengibas tangan yang terpegang sampai terlepas. "Makanya jangan dekat-dekat dulu denganku sampai besok."

Melangkah cepat-cepat, segera ke kamar mandi untuk mencuci seragam Akashi yang ternoda oleh bercak darah. Ah, ia mungkin harus memakai pengharum pakaian yang bisa bertukar aroma bila disentuh soalnya kemarin-kemarin Akashi bilang ia menyukai wanginya. Baiklah, yang harus ia lakukan adalah segera ke kamar mandi—

—bukan malah diam dalam pelukan sang kaisar seperti ini!

"Akashi-kun, lepas—"

"Aku tidak mau Tetsuya menjauhiku seperti ini." wajah tegas itu ditumpukan, bahu Kuroko terasa lebih sensitif dari biasanya. "Haruskah aku memohon?"

"Bukan begitu, Akashi-kun. Aku melakukan ini untuk—"

"Aku rela berdarah-darah atau memar sana-sini. Aku rela jadi masokis—asal Tetsuya tetap bersamaku."

"Kau menyiksa dirimu sendiri, Akashi-kun."

"Sudah kubilang aku rela jadi masokis untuk Tetsuya."

Dengusan terdengar. Si baby blue belum siap luluh. "Tinggal beberapa jam lagi, Akashi-kun."

"Tetsuya tahu tiap detiknya terasa berat kalau kita bermasalah seperti ini."

"Tapi ini semua—"

"Jika kau melakukannya untukku, seharusnya hal pertama yang mesti kau jaga adalah kepercayaan."

Aih. Kuroko mengerti sekarang.

"Akashi-kun, aku dan Kagami-kun hanya partner dalam basket. Selebihnya kami hanyalah kawan baik—"

"Dengan keuntungan sepihak?"

"Tolong berhenti berprasangka buruk, Akashi-kun. Kami hanya—"

"Seharusnya Tetsuya mengerti alasan mengapa aku sampai sebegininya." pelukannya mengerat, Kuroko merinding ketika napas Akashi menerpa tengkuk. "Seharusnya Tetsuya mengerti sepenting apa dirimu untukku."

Duh, Akashi-kun. Jangan manja seperti ini bisa, kan? Aku tidak ingin terpengaruh dulu saat ini, aku mau mencuci bajumu.

"Ah, perbanmu lepas." Kuroko melotot saat plester perekat perban mendadak copot. Sungguh, deh. Ia yakin sekali benda itu menempel sempurna barusan! Tuh, kan. Ini efeknya kalau Akashi berdekatan dengannya!

"Tetsuya mau bilang kalau ini imbasnya jika aku bersama Tetsuya?"

Pemuda bermata biru itu menunduk, menggigit bibir geram. Ia kesal. Pada nasib yang seakan mempermainkannya. Pada Akashi yang tidak ingin mengerti ketakutannya. Pada dirinya sendiri—yang membawa semua naas ini serentak menuju sang Emperor. Digempur hal krusial seperti ini, Kuroko bisa apa selain menyelamatkan Akashi dari jauh? Kami-sama, mengapa harus mereka?

"Tolong dengarkan aku sekali ini saja, Akashi-kun." si baby blue makin tertunduk. "Aku yang akan datang pada Akashi-kun jika semua ini berakhir."

Tak disangka, pelukannya melonggar. Kuroko hanya melebarkan diameter mata, kaget.

"Lakukan sesukamu, Tetsuya." terdengar seok langkah yang menjauh, tergantikan debaran cepat dalam diri si pemuda aquamarine. "Aku benar-benar sudah lelah."

Debaman pintu terdengar bergaung meski pelan, namun Kuroko cukup berhasil tersentak. Benarkah keputusannya? Berlapang dadakah Akashi akan keputusannya? Lalu hasilnya apa? Mereka tidur terpisah lagi atau bagaimana? Ah, Kuroko belum memindahkan barang-barangnya, jadi seriusan ia harus tidur di sofa malam ini?

Tidak ada pilihan lain. Ia bergegas ke dapur, berpikir untuk mencuci kemeja Akashi yang sedari tadi digenggamnya. Kali ini ia benar-benar akan mencuci, penghalang tunggal sudah mengamankan dirinya di kamar. Dilangkahkannya kaki ramping cepat-cepat, tak ingin terbawa perasaan lebih jauh. Setelah terhenti dadakan didepan mesin cuci, Kuroko melamun. Kemeja biru yang semula masih dalam genggaman, sejenak kemudian sudah dipeluknya. Wangi raspberry mint yang manis dan hangat membuatnya mabuk sesaat, diresapinya dalam-dalam tanpa ingin berhenti. Akashi selalu memakai deodorant dengan aroma seperti ini setelah Kuroko bilang kalau ia menyukainya. Hah, Kuroko rindu balas memeluknya. Bukannya tsundere, Kuroko hanya tak ingin Akashi menderita lebih dari hari ini. Tertancap lemparan guntingnya sendiri bukan karena sekedar kebetulan, kan?

"Sampai kapan jarak ini bertahan, Akashi-kun?"

Kuroko selesai dengan handuk tersampir dipucuk kepala. Lelah. Dua setengah jam berkutat dengan sapu, kemoceng dan lap basah benar-benar sesuatu sekali. Ia menyerah, yang penting rumah sudah bersih ia tidak masalah mau tidur dimanapun. Sekali hempas, tubuhnya sudah terebah di sofa ruang TV. Ngantuk sekali. Kejadian sehari penuh membuatnya capek. Dibiarkan kelopak matanya mengatup pelan, ia terlelap setelahnya.

Sepuluh menit hening merajai, terdengar suara kenop pintu yang sengaja diputar. Iris merah mengintai dari balik celah, mendapati sosok manis yang terbaring tenang di sofa panjang. Sesaat ia berkelebat, kemudian kembali lagi dengan selimut tebal di lengan sambil membuka pintu lebar-lebar.

Sang baby blue dihampiri, ditatap dalam-dalam. Sesekali sang kaisar tersenyum, memandangi raut datar yang terlelap pulas seperti ini memang istimewa. Seisi Kiseki no Sedai mungkin pernah mendapati wajah damai Kuroko yang seperti ini namun Akashi tetaplah pemilik tunggalnya. Ketenangan ini hanya miliknya.

"Tetsuya." Akashi tersenyum. "Jangan bangun dulu. Aku ingin mencium bibirmu sekali saja."

Alih-alih mendekatkan wajah, Akashi malah mengubah lengkungan senyumnya. Jemarinya beranjak menyisir surai biru—spot paling ampuh untuk menenangkannya. Hanya ini yang bisa Akashi lakukan. Menambah kekhawatiran sang kekasih akan membuatnya makin tersiksa. Cukuplah dirinya yang kesakitan, jangan Kuroko juga.

"Kau tahu, Tetsuya." senyumannya redup, sendu. "Aku tidak pernah peduli pada ramalan—kupikir hal itu terlalu bodoh untuk kita percaya sebagai kecocokan." belaian dilancarkan lagi. "Aku sudah larut padamu tanpa memikirkan apapun lagi."

Akashi tertawa getir, kisahnya terasa begitu menyedihkan selama hampir dua bulan. Ia tahu perasaan saja tidak cukup untuk menjamin kebahagian, namun kalau sampai segininya? Ugh, ini bukan terawangannya dari awal. Ia tidak pernah meleset ketika berekspetasi, ia selalu benar. Tapi—kenapa sampai takdir ikutan mempermainkannya segala?

Ia mengibaskan selimut yang semula ia bawa sebelum disampirkan ketubuh sang entitas manis. Belum puas memandangi, ia membawa dirinya mengecup kening si baby blue satu kali. Tak lupa mengucapkan selamat malam dalam bisikan, Akashi berbalik setelah memastikan perlakuannya cukup. Ia akan tunggu di kamar sampai jam 12, berharap kesialannya hilang dan ia bisa membawa sang kekasih tidur sekamar lagi. Yap, ia akan menunggu—

"..."

"—Tetsuya?"

"..."

Akashi masih tidak bergeming. Ini terlalu mendadak jika dikatakan sebagai agresi—mengingat Tetsuya-nya adalah pribadi yang jarang ambil langkah pertama. Akashi mulai sangsi, benarkah ini kekasihnya Kuroko Tetsuya? Jangan-jangan kepribadiannya tertukar di suatu tempat dalam alam bawah sadarnya? Atau jangan-jangan ia adalah orang lain yang menyamar jadi Kuroko? Kalau jawabannya ya, Akashi tak akan segan menancapkan sebuah gunting di ubun-ubun si pelaku. Biar dia tahu rasanya diberi lelucon penyebab baper.

Lirik sedikit ke bawah, sepasang tangan melingkar di pinggang. Akashi kenal betul strukturalnya bahkan sampai tiap inci kulit mulus yang terkesan memucat itu. Serius, kok. Ini tangan Tetsuya. Lalu kenapa Akashi canggung?

"—sebentar saja."

Eh?

"Aku—ingin seperti ini sebentar saja, Akashi-kun."

Oh, Kami-sama. Apa yang lebih membahagiakan daripada dipeluk pacar sendiri? Akashi ingin balas memeluk namun ia tak ingin menghancurkan mood Kuroko yang masih angin-anginan. Jam duabelas juga masih belasan menit lagi. Ia tak ingin membuat si pacar khawatir lagi.

"Tetsuya ngelindur?" tanyanya bingung, hati-hati juga. Dirasakannya kepala Kuroko menggeleng.

"Tidur dikamar saja ya. Aku yang tidur diluar."

Menggeleng lagi. Cih, Akashi sudah merendahkan diri lho, Kuroko. Ia bersedia mengalah dan satu-satunya yang bertindak keras kepala itu dirimu sendiri.

"Lalu maunya Tetsuya apa? Katanya aku harus menunggu sampai besok untuk bicara."

Pelukan mengerat, Akashi diam mendadak.

"Aku hanya merindukan Akashi-kun." seketika Akashi terbelalak, "Padahal seharusnya akulah satu-satunya orang yang bisa mengendalikan diri. Maafkan aku, Akashi-kun."

Lengan ramping itu digenggam, Akashi merosot menyejajarkan posisi agar bisa menatap si baby bluenya langsung saat berbalik. Dengan sekali gerakan mereka terhempas di bawah karpet bulu dengan tubuh Akashi sebagai alas tunggal untuk si pemuda yang tertarik. Mereka bertemu pandang, menyelami netra masing-masing. Jika Kuroko setengah sadar mungkin Akashi tak akan dapat menangkap sirat tegas dari manik azure sang bayangan. Jika Kuroko benar melindur tentu Akashi takkan dapat melihat rona merah yang setengah mati disembunyikan lengan si biru. Oh, Kami-sama, ini betulan toh.

"Jangan begini, Akashi-kun. Aku—"

Akashi terkekeh pelan. "Malu?"

Lengan mulus makin dinaikkan, kali ini menutupi hidung dan bibir serba mungil. Akashi mendesah geli. Aku belum berniat aneh kok, Tetsuya. Cuma memang wajahmu terlalu seduktif untuk dipandang lama-lama.

"Turunkan tanganmu, Tetsuya. Aku tidak bisa melihat wajahmu."

"Tidak. Jangan mesum, Akashi-kun."

Kembali, Akashi tertawa kecil. "Tetsuya terlalu jauh berpikirnya. Turunkan lenganmu, Tetsuya. Lihat aku."

Termakan ujaran lembut sang kaisar, Kuroko menyingkirkan lengannya perlahan. Akashi tersenyum saat mata mereka kembali bersua, mendalami satu sama lain.

Akashi tertegun ketika terhanyut. Mata Kuroko biru, bening. Sejak kapan ia tenggelam kedalam samudra sewarna langit musim panas itu? Ia tak tahu pasti, yang jelas Akashi tahu betul kalau dirinya sudah jatuh dan menyerah pada satu entitas. Peduli amat dengan mereka yang mengatakan kalau hubungannya tabu. Tahu apa para manusia itu masalah hatinya? Yang ia tahu ia sangat mencintai sosok ini dan diapun membalas dengan rasa sayang yang baik, itu sudah cukup membahagiakan Akashi kok. Sekali lagi, masa bodoh dengan ucapan orang lain termasuk ramalah konyol semacam Oha Asa. Ia patut egois, ini hidupnya.

Kuroko tak meronta ataupun bicara saat menatap sang Emperor. Mata Akashi merah, pekat. Sejak kapan ia betah dalam naungan manik kembar sewarna strawberry siap panen itu? Ia tak tahu pasti, yang jelas Kuroko sadar kalau dirinya sudah tercuri oleh seorang saja. Ia tak pernah ingin dengar ucapan pedih yang mengatakan kalau koneksi mereka tabu dan riskan, sungguh. Yang ia tahu ia hanya ingin mencintai, dan Akashi sudah memberinya balasan perasaan yang luar biasa, sudah lebih dari cukup kok. Sekali lagi, ia tidak ingin dengar lagi pendapat mereka yang menentang maupun ramalan yang keakuratannya bisa diuji di laboratorium sekalipun. Bolehkah ia egois? Ayolah, sekali saja. Ini hidupnya, bukan?

Dalam sepersekian detik, kita bisa tahu bagaimana otak dan hati manusia saling terhubung. AkaKuro cukup jadi buktinya, kan?

"Katakan." jemari ramping terangkat, merambahi wajah selicin porselen, menyadarkan si manis yang terlanjur masuk dalam lamunan. "Apa yang harus aku lakukan untuk Tetsuya?'

Tidak langsung menjawab, Kuroko menatap lagi. Akashi bisa melihat sinar keraguan yang tercampur dengan keengganan kini. Antara mau bilang atau tidak, bikin Akashi tidak sabar menunggu. Tinggal jawab saja apa susahnya, sih? Kalaupun Akashi yang diberi pertanyaan seperti itu, sudah tentu ia jawab—

"Apakah Akashi-kun akan memaafkanku kalau aku memaksa untuk tetap berdekatan denganmu?" luruhan poni biru menyembunyikan manik biru, Akashi bingung mencari pandang. "Bolehkah aku—egois sekali saja?"

Duh, Tetsuya. Tanpa kauminta juga pastinya aku akan setuju. Memangnya siapa yang minta jauh-jauh darimu? Memangnya siapa yang kuat jaga jarak berhari-hari darimu? Memangnya siapa yang mau dibuat galau terus-terusan karena terpisah darimu? Serius, Tetsuya. Seharusnya kau tidak perlu bertanya.

"Aku janji. Aku akan melindungi Akashi-kun dari kesialan. Aku—"

"Melindungiku?" Akashi tersenyum miring. "Jangan membuatku tertawa, Tetsuya. Aku masih mampu jadi seme."

"Bukan begitu maksudku, Akashi-kun. Aku—"

"Kutekankan sekali lagi; Tetsuya bukanlah biang kesialan." iris ruby menusuk tegas saat membawa tubuhnya bangkit, membuat wajah si pemuda ikutan tengadah saat ikutan bangun. Jari Akashi turun ke dagu lancip sang kekasih, menuntunnya menyatukan tatapan. "Aku tidak minta jarak atau apapun yang membuat kita rapuh, Tetsuya. Kalau Tetsuya percaya padaku, tentu semuanya akan baik-baik saja."

"Tapi semua kemalangan itu karena—"

"Aku tahu Tetsuya tak ingin percaya ramalan, makanya percayalah hanya padaku." ganti haluan, jemarinya menyusuri rumpunan rambut sehalus sutra kini. Dengan sekali gerak, Akashi menuntunnya mendekat. "Karena hanya akulah yang pantas Tetsuya percaya tanpa perlu dikhawatirkan."

"Bagaimana lukanya, Akashi-kun?"

"Well, lebih sakit lagi saat melihat Tetsuya dicumbu Taiga."

"Kagami-kun hanya membantuku mencopot kikir Kise-kun, Akashi-kun."

"Tetap saja rasanya sakit. Cepat minta maaf, Tetsuya."

Helaan pelan bergema. "Maafkan aku, Akashi-kun. Aku tidak bermaksud—"

"Tidak diselingi ciuman tanda maaf?"

"Aku tidur sendiri saja ya, Akashi-kun. Selamat malam."

"Aku bercanda, Tetsuya." kekehan kecil menyertai. "Jangan marah terus, nanti wajahmu keriput. Geser sedikit, aku tidak bisa memeluk Tetsuya kalau jaraknya segini."

"Tidak. Nanti Akashi-kun mesum lagi."

"Tetsuya melawan terus. Apa kau ingin aku yang mendekat?"

Kuroko mendengus. Spasi satu meter rupanya belum cukup bagi sang raja. Ogah-ogahan ia menggeser tubuhnya yang masih duduk manis di atas sofa beige. Akashi tersenyum ketika jarak antara mereka menipis. Tak ingin menunggu lama, ia menjulurkan tangan untuk menggapai pundak sang Empress, membuatnya terhempas diatas dada bidangnya.

"Akashi-kun—"

"Kenapa harus meminta izin atas hal yang jelas-jelas hakmu, Tetsuya?"

Pemuda aquamarine mendongak, mencari wajah angkuh sang Akashi yang biasa ia dapati dalam keseharian. Ah, tidak ada. Tergantikan oleh wajah teduh khasnya seorang pria yang sedang dimabuk cinta. Ini sungguhan Akashi Seijuurou kekasih Kuroko Tetsuya? Atau jangan-jangan seorang maniak yandere yang terpikat pada keunyuan dirinya? Kuroko agak bingung tentang pribadi Akashi yang semakin manusiawi ketika bersamanya namun ia tak ingin merusak keadaan. Akashi yang seperti ini biasanya sedang dalam ketenangan yang prima, menurutnya.

"Ini yang sewajarnya terjadi antara sepasang kekasih. Berduaan, berdekatan, bermesraan."

Akashi menumpukan dagu pada pucuk kepala Kuroko, sesekali menghirup wangi shampoo yang lembut dalam satu tarikan napas. Sang baby blue hanya menyentuh lengan yang merengkuh, menyamankan diri dalam sandaran.

"Aku tidak mau Tetsuya percaya pada hal lain selain padaku." surai biru dibelai, Kuroko terpejam. "Termasuk menganggap dirimu tidak cocok bersamaku—aku tak mengizinkan Tetsuya berpikiran seperti itu."

"Tapi itulah yang terjadi, Akashi-kun."

"Jika sudah terlanjur masuk kedalam ramalan, coba sempatkan untuk memakai logika. Memangnya yang punya zodiak Aquarius cuma Tetsuya?"

"Maksudnya?"

"Kalau dipikirkan lagi—" si Emperor menepuk pipi sosok manis dalam lengannya sambil tersenyum. "Kejadian buruk yang kualami tidak pernah terjadi saat kita berduaan, kecuali insiden di kamar kemarin. Ada berapa kemungkinan orang lain yang berzodiak Aquarius? Banyak, Tetsuya."

Kuroko tak menyela. Benar juga, sih. Banyak juga yang jadi saksi kebrutalan Akashi dan Kuroko tidak tau siapa-siapanya yang berzodiak serupa dengannya. Namun dasarnya anak manis lahir batin, Kuroko tak ingin menyalahkan orang lain. Dirinyalah yang paling dekat dengan Akashi, jelas ia mesti tanggung jawab dengan jarak yang ditentukan. Yah, istilah kekiniannya sih 'what you reap is what you sow'—tapi Kuroko lupa artinya.

"Lalu apa lagi yang membuatmu ragu, Tetsuya?"

Iya, ya. Apa lagi coba yang membuatnya bimbang? Sekarang belum jam 12, sementara dirinya dan Akashi sudah dekat-dekatan seperti ini. Well, perban Akashi copot, lukanya menganga lagi. Namun sekali lagi, apa yang ia takutkan? Yang mengalami kenaasan adalah Akashi Seijuurou, pria intelek yang punya akal tinggi untuk mengatasi semuanya—jika tidak sedang manja pada Kuroko. Hal yang mesti ia lakukan adalah tetap menjadi penyokong sang kaisar sambil mencari jalan keluar dalam jarak tertentu. Rasanya kemarin ia agak salah menginterpretasikan kekhawatiran. Duh, maaf ya, Akashi-kun.

"Tidak ada, Akashi-kun." jawabnya mantap. "Maafkan aku."

Akashi tersenyum. "Begini lebih baik. Aku memaafkanmu, Tetsuya." wajahnya mendekat, kelopak pucat berangsur mengatup. "Tidak perlu khawatir perasaanku akan hilang. Aku akan mengatakannya sampai kau bosan—ingatlah kalau aku selalu mencintai Tetsuya yang seperti ini."

Kuroko mengangguk disela debaran. Akashi melebarkan senyuman.

"Ah. Kupikir kita lebih baik tidak memiliki TV di kamar, Tetsuya. Setuju?"

(╯3╰)

Midorima repot. Para manusia ajaib terkapar dan ia bingung harus menyeret yang mana duluan. Mengangkat Momoi? Tidak, tidak. Daripada menggendongnya ala pengantin baru lebih baik ia menelpon sang pacar dan menunggunya datang untuk digendong sambil modus. Bagaimana kalau menggendongnya di pundak? Oh, tidak. Ia masih harus berlatih shoot malam ini, besok dan seterusnya. Daripada memanggul si gadis layaknya karung beras lebih baik ia membawa sang pujaan hati dengan gaya piggyback lalu meneruskan aksinya dengan intimasi berlebih. Menyelamatkan Momoi—coret.

Diliriknya Aomine dan Kise yang terkapar bersampingan. Apa mereka patut Midorima khawatirkan? Antara ya dan tidak, sang pria hijau memilih galau. Pasalnya kondisi mereka sendiri sudah menggenaskan, Midorima juga tidak mau jadi saksi jika dimintai keterangan atas kasus mereka-mereka ini tapi ia juga tak ingin menyangkal fakta bahwa mereka berdua itu beratnya minta ampun! Bisa-bisa patah tulang Shintarou, mak. Singkatnya menyelamatkan AoKise—coret.

Menoleh lagi pada Murasakibara, ia menelan ludah sejadi-jadinya. Cih, bagaimana tidak? Coba lihat saja bodinya. Mungkin seharusnya ia jadi orang pertama yang namanya dicoret dari daftar orang yang harus Midorima tolong. Entah mengapa si pria ungu bisa ikut kena getah, Midorima tak ingin membahasnya lebih jauh. Ia cukup trauma, Akashi memang setengah gila sepertinya. Lagi, menyelamatkan Murasakibara—coret panjang-panjang.

Belum selesai syok yang ia dapat, seseorang melepas kacamatanya dari belakang. Terkejut, ia ingin mendongak namun tekstur lembut serupa jari tangan menghalangi pandangan. Dirinya sudah berdebar hebat, jangan-jangan maniak?! Tapi tangan ini—duh, Midorima rasanya kenal.

"—Bakao?"

Hening menyela sebelum kekehan kecil menjawab. Penutup mata diturunkan, sang pelaku melongok dari samping.

"Aku pulang, Shin-c—hee?! Apa-apan dengan jalan kutu dirambutmu ini, Shin-chan?!" si pemuda raven tahan tawa. "Tidak cocok, tahu."

"Diamlah. Ini ulah Akashi, nanodayo." sempat-sempatnya si pria jadeite menaikkan kacamata. "Aku kurang perhitungan saat menjalankan misi."

Pemuda itu menghela napas sambil geleng kepala sesaat. Belum menyerah juga, eh? Padahal jelas-jelas cinta AkaKuro begitu mustahil dirusak, kadang semenya ini harus tahu apa arti dari kegagalan baru kapok. Mencoba lembut, Takao membelai surai hijau sang pria, membuatnya menoleh. Jujur saja melihat goresan stik abstrak di sisi kanan kepala Midorima membuat perutnya geli menahan kikik. Tapi untuk hari ini saja, Takao akan tahan mati-matian dengan senyuman paling teduh yang ia miliki.

"Diobati, yuk. Kulit kepalamu berdarah sedikit, Shin-chan. Nanti kuberi iodine biar tidak infeksi."

Adegan tukar tatap terjadi, namun tak lama setelah helaan napas Midorima terdengar menginterupsi. Takao membantunya berdiri, tumben orang ini kalem sekali, pikirnya.

"Kapan dan kenapa kau pulang, Takao? Apa yang terjadi? Ini belum masuk libur musim gugur, masih UTS. Kau membolos, Bakao?"

Si pemuda mendongak, mendapati lelakinya menyipit. Ia melontarkan senyum usil sebagai jawaban awal.

"Kedengarannya Shin-chan mengkhawatirkanku, eh?" ia terkekeh. "Memangnya tidak ingin aku pulang?"

"Bu-bukan begitu, nanodayo! Jangan salah sangka, aku tidak peduli!" Midorima kembali menaikkan bingkai kacamata, pasang aksi tsundere. "Hanya saja—"

"Iya, iya. Aku mengerti." Takao mengibaskan tangan. "Ayahku ada urusan jadi kami terpaksa pulang lebih cepat. Kelihatannya ia akan makin sibuk di Jepang sementara ibuku tidak ingin keluarga kami terpecah-pecah."

"Jadi?"

"Well, ini baru rencana." si pemuda meniup telapak tangan. "Kami mungkin akan kembali kemari saat aku kelas tiga nanti."

Senyuman menutup kalimat. Tapi kembali lengkungan itu tak bertahan lama, Takao tercengang ketika tubuh rampingnya direngkuh tubuh tegap shooter andalan Teiko. Ia tak ingin bertanya kenapa, malas mendengar pernyataan tsundere sang seme saat ini. Yang ia tahu sekarang Shin-channya sedang tersenyum dibalik kepalanya, membuatnya terkekeh dalam hati.

"Kerumahku sekarang. Orangtua dan adikku pergi ke rumah nenek sampai lusa."

Wow. Takao sudah bisa meraba kelanjutannya.

"Bagaimana dengan yang lain? Maksudku—mereka. Kiseki no Sedai."

Midorima berdecih. "Memangnya aku peduli?"

Momoi : Duh... (pegang kepala) yang barusan itu mengerikan sekali, nee~

Kise : Momocchi tidak apa-apa, ssu? (meringis) aku setuju... Akashicchi kalau marah mengerikan sekali, lihat kepalaku tuh (mulai nangis) aku harus libur kerja berarti, hueee~

Aomine : Berisik, bodoh! (noyor kepala Kise) lihat apa yang terjadi karena perbuatanmu! Kepalaku bocor lagi gara-gara keusilanmu, Kise!

Murasakibara : Tau nih Kise-chin~ Aku jadi kena juga sama Aka-chin, lihat nih ~ (nunjuk rambutnya) kuhancurkan lho~

Kagami : Jadi yang kemarin ulahnya dia?! (siap nabok) Kise-teme! Kau tahu aku hampir tertancap gunting si Akashi, teme!

Aomine : Mending masih 'hampir'. Lihat kebelakang, Bakagami. Sudah ada yang kepalanya bolong gara-gara dia.

Kise : Kenapa aku yang jadi kambing hitamnya, ssu?! Aku juga korban, minnacchi~! (nangis teriak2) Aominecchi juga! Kau mendukungku kan kemarin!

Midorima : Lagian untuk apa kau ikut campur segala, Kise? Ini misiku. (datang dgn plester di kepala) lihat siapa saja yang terkena imbasnya.

Momoi : Tau nih, Ki-chan. Sudah ah, pokoknya misi selanjutnya tidak boleh seperti ini lagi ya. Ngeri tau.

Midorima : Aku sudah nyaris berhasil, nanodayo.

Takao : Tapi kan Shin-chan kena lempar juga.

Midorima : Ini diluar prediksi, Bakao.

Aomine : Diamlah. Cepat baca surat-surat ini (lempar amplop ke muka Kise) tadi Nami memberikan ini.

Takao : Aomine bertemu Nami? Orangnya seperti apa?

Aomine : Standar. Pokoknya bukan tipeku.

Kise : Itu sih Aominecchi saja yang ngeres, ssu. Kurokocchi saja tidak komentar kok.

Aomine : Berisik, Kise. Aku baca pembukanya dulu. Chapter ini kepanjangan katanya, dia puyeng makanya main tulis saja apa yang terpikirkan olehnya. Well, dia masih sibuk di kantor dan menulis—heh, apa-apaan ini? Jangan dulu bikin side storynya, bodoh!

Momoi : Kenapa, Dai-chan?

Aomine : Baca saja sendiri! Tuh, bagian ini!

(Momoi ambil kertas putih, Midorima ikutan nimbrung bareng KagamiKiseTakao. Beberapa detik, mereka melotot berjamaah)

Momoi : Ih, Nami-chan apaan coba bikin side story—

Midorima : Diam, nanodayo! Jangan jadi spoiler! (bekap mulut Momoi) Oi, Kagami! Ambil surat—

(speechless. Kagami udah pundung dipojokan)

Murasakibara : Nami-chin, kuhancurkan lho~ (pouting lihat suratnya belakangan)

Aomine : Makanya jangan suka kepo, Bakagami. Sudah tahu kau itu baperan.

Kise : Hah? (melotot) Aominecchi—bahasanya anu sekali, ssu...

Momoi : (ngeles dari Midorima) Dai-chan ketularan Ki-chan, ih! Jauh-jauh sana! (ngedorong Aomine dari meja review) oke kita jangan bicara masalah spoiler untuk sekarang, fokus baca review dulu ya! Aku yang mulai pertama baca balasan reviewnya, untuk siucchi! Ahaha sekarang yg balas reviewnya aku lho siu-chan~ jangan suka dong, kita kan mau memisahkan mereka! Kenapa kamu dukung AkaKuro ≥3≤)/ tau nih Nami-chan! Sainganku bertambah satu coba! (nangis bombay) tapi aku akan tetap menang sih. Tetsu-kun mana kuat berpisah denganku~

Aomine : Menggelikan, sini kertasnya (jambret kertas biru) ini untuk Lizette Kizakura. Entah deh, aku juga agak aneh kenapa Tetsu percaya Oha Asa soalnya dia itu orangnya realis. Tapi namanya juga uke, sifatnya feminin. Maklumi saja. Jangan ditepuki, misinya gagal tuh. Parah sekali pula gagalnya, semua kena.

Midorima : Salahkan ukemu yang kelewat bodoh itu, Aomine. Balasan selanjutnya untuk 137. Kenapa harus marah? Itu memang misi kami, nanodayo. Lagipula Bakao sudah bersamaku sekarang (ngakak jahat dalam hati) begitulah, kita tahu kalau Kuroko marahnya seperti apa. Tidak perlu comforting Kise, dia sudah hampir mati barusan. Ah, itu murid baru, selengkapnya dia bakal dibahas di chapter Kise.

Momoi : Midorin kok tahu?

Midorima : Aku diberitahu Nami, nanodayo.

Kise : Mantap! Berarti selanjutnya aku jadi pelakunya ya! Balasan selanjutnya aku bacakan untuk galaxyplanet1999. Uwaaa kau review dua kali, ssu! Tapi tidak apa-apa, aku suka kok baca review banyak2! (jingkrak girang) kamu mau jadi PHO? Jangan. Kalau belum siap dianu guntingnya Akashicchi lebih baik jangan, ssu. Masih mending kalau cuma kepala yang dibidik, kalau yang lain? #ambigu ahahaha kezel ya? Namicchi ini memang rada sengklek, updet cerita jarang pake kode pokoknya tiba2 ada saja. Mentang2 cinta sama Kurokocchi jadi serba tidak terduga deh #apasih Midorimacchi cuma tertolong ramalan saja sih, selebihnya dia meenjadi pelengkap makanya ramalan dan misinya cocok sekali jadi misinya tidak perlu banyak dipikirkan. Ah, aku malah ingin Kurokocchi jadian dengan gadis itu, ssu! Momocchi sih jangan dipikirkan. Dia juga pikirannya anu terus, kasihan Kurokocchi.

Momoi : Ki-chan ngomong apa?! (bawa gulungan kawat)

Kise : Eh! Maksudku Momocchi memang cocoknya sama Kurokocchi, ssu! Ehm, ya kalau—

Aomine : Berisik, bodoh! Kau tidak ada berhentinya! Takao, baca ini! (lempar amplop ijo)

Takao : Ah, isinya dua. Boleh kubaca semua?

Midorima : Cepatlah, Bakao. Durasi kita tidak banyak.

Takao : (ngekeh) ini untuk Lactis. Serius? (ngakak) ini 100% ide ngasal loh. Sahabat apa sahabat? (colek Lactis) dan ini untuk AulChan12 sebenarnya aku setuju sih, tapi Shin-chan ngotot mau memisahkan mereka. Kebetulan ramalannya juga cocok sekali, ya begitulah jadinya. Tapi kamu bisa lihat tuh model baru rambutnya Shin-chan (ngakak parah) ada jalan kutu di samping kanan kepalanya! Lucu se—uph!

Midorima : Diamlah, Bakao. (bekap Takao pake perban sisa tangan kiri) Murasakibara, lanjut.

(ambil amplop unyu, Mukkun angkat alis)

Murasakibara : Aku dikasih tiga balasan, Mido-chin~ untuk yuki-kun dan poppy-chan, ini sudah update lho~ lalu untuk Rizky307 abaikan Mine-chin~ dia memang begitu orangnya (kunyah keripik)

Aomine : Dasar alay kau, Murasakibara. Aku baca lagi balasan buat Hanazawa Yui Imnida. Sayang sekali kau harus kecewa lagi. Meski tidak bocor sepertiku tapi ia juga kena bidikan maut Akashi (senyum jahat) Kise sudah kena berapa kali tuh padahal dia belum kebagian misi (garuk kepala)

Momoi : Berikutnya~! Untuk wullancholee duh~ entah kenapa kalau aku menyebut namamu secara verbal rasanya kok—sedikit anu ya? Ah tapi kita belum mau bahas anu, kok! Ahaha maaf ya aku memang cerewet kalau sudah menyangkut Tetsu-kun (tebar balon) ya gapapa dong yang penting bukan Tetsu-kun yang celaka (ketawa manis ala yandere) ini sudah updet loh~

Midorima : Lanjut. Untuk Ariellin aku hanya melengkapi takdir, nanodayo. Tapi berkat kecerdasanku semuanya hampir sempurna. Kau boleh bangga (naikin kacamata)

Kise : Pede sekali, Midorimacchi. Aku baca lagi, ssu! (lompat girang) ini untuk MasihVMyangsama. Reviewmu masuk dua kali kok, ssu. Iya nih aku malah tidak jadi segala 〒_〒 tapi chap depan aku yang muncul kok! Iya betul tuh, anggap saja itu tulah dari Kami-sama untuk Akashicchi yang senang membidik orang (ngakak) iya sih kasihan Kurokocchi tapi masih ada kami kok sebagai pelipur laranya ≧∇≦ haha Midorimacchi memang agak ngenes sebelumnya, ssu. Tapi sekarang Takao sudah ada, malah dicueki begitu saja. Tidak tahu deh kalau malamnya #nahloh Kurokocchi cemburu? Awal2 kan sudah, lihat saja epsnya Aominecchi, ssu. Duh, geli lihatnya juga (ngakak lagi) dan ada satu review lagi sih dari Akira Kyouya, aku mau baca, ssu! (loncat girang sementara dibelakang udah greget massal) duh, bukan dibully, ssu. Namanya juga kehidupan manusia kan ada naik-turunnya #KiseTeguhmode. Ahaha Kurokocchi sudah sering cemburu, ssu. Lihat chapter awal deh.

Momoi : Sudah dong, Ki-chan! Aku mau baca nih satu lagi dari L tidak apa2 kok, aaaah kamu dukung AkaKuro? Ih masa tidak ada dukungan untuk kami sih? (pouting) ini sudah update yaa~

Midorima : Oi, Momoi. Durasinya mepet, kita harus pergi (gandeng Takao) aku duluan (lalu cuss)

Momoi : Eh, Midorin~! Uuh, lagi-lagi begini kan! Ya sudahlah, pokoknya terimakasih banyaaaaak untuk semua yang sudah memberi review, fav, follow, menyemangati juga, terimakasih yaa (*´∇`*)╰(*´︶`*)╯ semua silent reader yang ada diluar sana juga, terimakasih banyak lho~ lain kali aku akan baca review berdua saja dengan Tetsu-kun, itu janji Nami-chan! (girang) Ki-chan, Dai-chan, Mukkun, sini!

Kise : Hontou ni arigatou, ssu! (lambai2) dibawah ini ada omake lho! Tapi jangan kaget soalnya agak gore genrenya #spoiler! Haha kami harus pergi nih, jaa! (seret Aomine sama Momoi sampe nyenggol kripik si Mukkun.)

Murasakibara : Kise-chin~ (aura kelam menguar) akan kuhancurkan nee~ (ngejar pake zone)

Omake

"Mereka berduaan di gym? Serius?"

Aomine melempar majalah gravurenya ke meja Kise spontan, menyebabkan omelan panjang si model kuning. Momoi mengangguk mantap, dibelakangnya Midorima memasang mimik paling serius dan sampingnya Murasakibara menatap coklat putih yang Kise genggam. Duh, abaikan Mukkun.

"Anak kelas satu yang memberitahuku saat aku mengambil lucky itemku di kantin, nanodayo." sang pria hijau menekai frame megane. "Kita harus cek kesana."

"Baiklah! Aku duluan, ssu!" Kise bangkit, antusias penuh. "Kali ini mereka akan kujadikan pasangan, ssu! Berterimakasihlah padaku, Kagamicchi!"

"Oi, Kise! Tunggu dulu!"

Aomine beranjak mengejar, diikuti Momoi yang nyerocos karena kecolongan start melakukan keusilan. Midorima panik, ini masih misinya lho! Ia ikut berlari sebelum menengok ke arah Murasakibara.

"Jangan makan terus, Murasakibara. Tugasmu menjaga keadaan, ikut kami!"

Midorima lari setelah Murasakibara mengantongi coklat berbungkus aluminium foil warna emas. Ia mendengus, ini bakal merepotkannya.

"Aku tidak mau ikut-ikutan ya, Mido-chin~" ujarnya sambil berjalan gontai.

(๑و•̀ω•́)و

Mereka sampai. Pintu gym tertutup, tanpa suara juga. Jelas saja akan jadi seperti itu, kan? Hanya ada dua insan didalam sana, memang apalagi yang membuat mereka bakalan ribut dan teriak-teriak selain pertengkaran dan anu-anu?

"Midorin sedang apa?"

Yang terpanggil menoleh, kemudian lanjut berkutat dengan ponsel hijau.

"Akashi mengirimkan pesan padaku. Aku bilang kalau aku ada urusan jadi harus pulang cepat kerumah maka dia tak perlu mencariku."

"Lalu kenapa Midorimacchi membawa majalah itu juga, ssu?"

Menoleh lagi, kemudian terpaku lagi. "Sekalian mengirimkan ramalan Sagittarius untuk Akashi."

"Kau kira ia mau percaya begituan?" Aomine skeptis.

"Kalau soal Kuroko biasanya ia akan dengar, nanodayo."

Beberapa orang manggut-manggut. Dengan asiknya jari Midorima kembali menari diatas keypad lembut khas ponselnya. Yakin sudah terkirim, ia melipat ponselnya dan memasukkan benda flip itu kedalam saku jas. Ia menyipit bersama Momoi kala melihat Kise dan Aomine berdiri di depan pintu gym. Mau apa coba mereka?

"Dai-chan, Ki-chan, apa yang akan kalian lakukan?"

Klik!

"Ups—" Kise mengangkat tangan. "Momocchi sih. Tanganku jadi terpeleset deh~"

Si gadis mengernyitkan dahi. Ia melongokkan kepala dari balik punggung si pria tan yang nyengir setengah psikopat. Manik pink gelapnya melebar, otak Ki-chan memang sudah miring sepertinya.

"O-Oi! Apa yang kalian lakukan, nanodayo?!"

Midorima jadi pihak kedua yang melotot bersama Momoi. Kise sudah gila, nanodayo!

"Meskipun sedikit tidak setuju tapi aku suka idemu, Kise." Aomine tersenyum ganas, Momoi merinding. "Jangan sampai ketahuan, aku tidak mau tanggung jawab."

"Dasar. Maunya enak sendiri terus, ssu." menyusul, Kise tersenyum licik. "Tenang saja. Paling nanti Akashicchi langsung tahu kalau pelakunya penjaga sekolah."

"Kise-chin dan Mine-chin~ jangan main-main nee~" Murasakibara menyela ditengah kegiatan ngemil sakral, agak terganggu rasanya. "Nanti Aka-chin marah~"

"Benar, nanodayo! Kalian bisa-bisanya—"

Slap!

Oh, tidak.

"Puas bermain-mainnya, eh?"

Sial. Mereka akan mati. Tidak, mereka pasti mati sekarang. Sumpah, terkutuklah si bodoh Kise dan semenya yang sama dungunya. Patah-patah member Kiseki no Sedai menoleh, cih. Dugaan mereka 1000% tepat. Malaikat maut menanti dengan senyuman khas psikopat yandere.

"Shintarou," yang dipanggil menegang. "Kupikir kau punya urusan di rumah, bukan begitu?"

"I-ini diluar dugaanku, nanodayo! Aku hanya—"

"Kami mau mencegah Ki-chan dan Dai-chan, Akashi-kun! Serius!" Momoi sudah menjadikan Midorima sebagai perisai tempoan, hatinya dagdigdug. "Akashi-kun—"

Slap!

"Kalian pikir aku tidak dengar apa yang kalian ucapkan barusan?"

Senyum Akashi kelewat susah diartikan. Momoi terbelalak saat sisi kanan dari kepala sang pria tsundere terlanjur keserempet abstrak. Ia sendiri sudah menjerit dalam hati kala melihat sejumput rambut merah muda tergeletak di lantai ornamen bebatuan. Duh, Akashi-kun benar-benar akan membunuhku! Selamat tinggal, Tetsu-kun. Jangan lupakan kalau aku mencintaimu ya...

"Ngomong-ngomong, barusan kau mengirimiku ramalan, Shintarou." Akashi menoleh, matanya berkilat. "Bacakan."

Midorima tergagap. Momoi sudah hampir menangis di punggungnya. Baca ramalan di saat sesempit ini? Duh, sudah seperti baca wasiat rasanya.

"Sagittarius—" sang pria bermata hijau meneguk ludah. "P-perasaanmu yang menggebu terkadang membuatnya galau. Ada kalanya ia ingin kamu mengerti namun kamu juga sibuk menuntut perhatian. Tetap beri ia spasi, ia hanya memikirkan yang terbaik untukmu meski kadang menyiksa dirinya sendiri. Nyamankan dia, jangan sampai membuatnya h-hilang kepercayaan padamu. Pasangan p-paling ideal : Aquarius."

Seringai tersungging. "Bagus juga. Kubiarkan kau aman meskipun kau mangkir dari tugasmu sebagai wakil ketua."

Aman dimananya?! Lihat rambutku, nanodayo!

"Aka-chin, kau kelewatan nee~ Sacchin dan Mido-chin ju—"

Slap!

"Diam, Atsushi."

Sang kaisar menoleh. Tersisa dua pelaku utama berdiri kaku di pintu masuk. Yang satu sudah memucat, yang satu lagi terkekeh super garing. Melangkah perlahan, Akashi mendekat. Sementara Kise makin merapat pada daun pintu, ditariknya sang kekasih sebagai pelindung dadakan. Aomine mengumpat dalam hati, bisa-bisanya Kise tega berbuat seperti ini padanya.

"Kemana senyuman kebanggaan kalian barusan?"

Mati. Akashi melihatnya juga. Sebenarnya sudah berapa lama sih Akashi melihat mereka?! Duh, seandainya Doraemon sungguhan ada, Kisedai ingin sekali meminjam mesin waktu.

"Didalam ada Tetsuya ya," Kise menelan liur susah payah. Itu ditangan Akashi—belati, ya? "Bersama siapa?"

"Akashicchi—ehm, k-kau salah paham, ssu. Di dalam hanya—"

Stab!

Aomine mendongak ngeri. Benda maut barusan tepat melintasi atas kepalanya lho! Sumpah! Demi Mai-chan setelah ini ia akan menghajar Kise habis-habisan!

"Belajar berbohong, Ryouta?" sang raja melebarkan sunggingan senyum. "Bagaimana dengan rantai yang digembok di engsel pintunya? Kau yakin tak ada Tetsuya di dalam sana?"

"Akashi, ini idenya Kise! E-ehm, mulanya kami mau jahil saja sama Tetsu tapi—"

Stab!

"Jahil, eh? Lalu bagaimana dengan Tetsuya yang kalian kurung dengan niat jahil?"

Aomine tergagap, Kise memutih sudah. Mereka akan tamat hari ini. Selamat tinggal kebodohan. Selamat tinggal anu.

"Jawab, Daiki."

"Di-didalam—dia masih latihan b-bersama—"

Senyuman luntur, tergantikan aura dingin yang begitu rigid dan menyesakkan. Sumpah, sumpah! Aomine menyesal sudah keceplosan bicara!

"Menyingkir, Daiki." sekali lagi, benda tajam berkilat dari balik tangan Akashi. "Karena aku ingin memberi kalian pelajaran tanpa merusak daun pintunya lebih parah lagi."