Dua tahun berlalu setelah peperangan besar yang merenggut banyak nyawa, kehidupan dengan normal. Tapi tidak untukku, karena hidupku sudah tidak normal, walaupun aku sendiri sudah bahagia sih. Haha, aku tertawa saat memikirkan kehidupanku setelah bertarung melawan Pain.
Yah, kehidupanku sekarang tidak normal karena; Ibuku kembali Hidup, dan dia melakukan seks denganku setelah tidur beberapa saat. Siapa sih yang tidak mau punya Ibu yang seksi, cantik, dan baik hati? Dia memenuhi semua keperluanku, mulai dari sarapan, hingga tidur serta menidurinya.
Yak, abaikan yang terakhir tadi. Tapi memang, aku telah menidurinya ribuan kali, dengan berbagai gaya, dan apapun itu. Perlu diketahui, dia seorang hyperseks, orang yang sangat suka dengan hubungan intim, dan ingin terus berhubungan intim. Tapi tidak semaniak orang-orang luar. Kaachan selalu bisa menahan gejolak nafsunya ketika berada didekatku. Kecuali kalau dia sedang mabuk ataupun sedang... Ingin melakukannya.
Setelah perang, aku dinobatkan sebagai pahlawan karena berhasil mengalahkan Madara, serta Kaguya, bersama rekanku tentunya. Tetapi ada sesuatu yang membuatku harus berhati-hati.
Rahasia tentang Kaachan yang hidup kembali terbongkar, dan sampai di telinga para tetua. Sekarang aku dan Kaachan berada di ruang rapat para tetua, serta Hokage dan para ketua klan. Beberapa dari tetua sipil memandangi Kaachan dengan nafsu mereka, mungkin karena pakaian yang dikenakan Kaachan sekarang.
Kaos lengan pendek, berwarna krem serta rok pendek berwarna hitam. Rambut merah miliknya tergerai bebas, dan hair pin di bagian poni depannya. Mata violetnya menatap tajam ke depan. "Jadi kalian memanggil kami karena ada rapat atau terus dipandangi oleh kalian yang hanya bernafsu saja? Aku seperti dipandangi oleh binatang hina saja."
Celetukan Kaachan membuat mereka malu dan mengalihkan wajahnya, aku tersenyum kemenangan mendengar itu.
"Oke, mari kita mulai rapatnya." Aku menatap pemimpin rapat yang mengatakan kalau rapat ini dimulai. Bukan Kakashi-sensei yang memimpin, tapi seorang pria gendut yang sangat ingin kutebas. "Kami semua menyuruhmu kemari karena ada sebuah alasan."
"Lalu?"
"Kami memutuskan untuk membangun lagi Klan Uzumaki dengan cara kau harus dijodohkan oleh seseorang."
Entah kenapa telingaku sangat panas sekarang, ingin rasanya aku memukul wajah buluk dari tetua itu. "Kau kira aku pabrik bayi begitu? Seenak jidatnya kau menjodohkan diriku dengan orang lain, dan kau menyuruh kami datang ke rapat tak berguna ini hanya untuk membahas perjodohanku? Heh, bilang saja kalian ingin memperkosaku dengan memilihkan seorang lelaki yang jadinya akan menjadi suamiku nantinya."
Mendengar perkataan Kaachan, membuat mereka semua terdiam. Perkataan Kaachan sangat menusuk, ia seakan tahu siasat dari para tetua yang rata-rata memiliki perut yang buncit itu.
"Hey, kenapa kalian tidak mencari wanita ditempat pelacuran? Masih banyak wanita seksi dipelacuran sana."
Aku melihat para Ninja Konoha menahan tawa mereka, termasuk Kakashi-sensei yang menjabat menjadi Hokage disana. "Jadi keputusannya, Kushina-nee menolak perjodohan ini?"
"Ya, aku menolaknya dengan keras. Kalian tidak berhak mengaturku kecuali aku sendiri. Jadi jangan berharap lebih." Kaachan membalikkan badannya, dan berjalan ke arah pintu keluar. "Kalau aku melihat kalian berkeliaran disekitarku, tidak ada kata ampun bagi kalian. Naruto, kita pergi!"
Aku mengangguk, dan segera berjalan ke arah Kaachan. Kami berdua keluar dari ruang rapat, dan rapat tersebut sudah bisa dipastikan kalau mereka kalah telak, karena alasan yang tidak logis tersebut.
.
..
Naruto by Masashi Kishimoto
Warning: Incest, Mom and Son, Lemon, Lime, Smut, typo, Canon/AU, Etc
Pairing: Naruto x Kushina
..
.
Mommy
..
.
Setelah sampai di rumah, Kaachan langsung duduk di atas sofa dengan kaosnya yang sudah lepas, menampilkan bra berwarna merah, dan menantang. Bulir keringat membasahi tubuh putih milik Kaachan. Ia mengipas tangannya untuk mendinginkan tubuhnya.
"Perasaanku atau memang hari ini sangat panas?"
"Ini memang sedang musim panas kok, jadi hari ini memang panas." Aku pun berjalan ke dapur untuk mengambil air minum. Aku menenggak air minum itu, debat dengan para sipil memang membuatku sangat haus walaupun aku tidak berbicara sama sekali, tapi aku merasa panas saat mereka ingin menjodohkan Kaachan dengan seseorang.
"Naruto, Kaachan akan memasak makan siang, jadi tunggulah di sofa!" Wanita itu berjalan ke arah dapur, dan mengambil celemek berwarna hijau tua, ia merapikan rambut merah dengan cara menguncir ekor kuda rambut indah miliknya.
Wajahku terbakar saat ia melakukan aktivitas itu. Aku menurunkan celana panjang serta celana boxerku, penisku sudah mengacung keras disana, dan bersiap untuk menerobos apapun.
"Yosh! Aku akan memasak-Eehh, Naruto... Kau mau apa?"
Yah, kedua tanganku reflek memegang pantat miliknya yang masih dibalut rok pendek. Aku membuka rok pendek tersebut, dan melihat celana dalam berwarna merah milik Kaachan. Celana dalam itu kemudian ku turunkan hingga menampilkan dua buah liang surgawi miliknya.
Aku mengarahkan penisku ke lubang bagian atas, atau yang bisa kusebut, lubang anal. Dengan pelan, aku mendorongnya masuk ke dalam. Ugh, aku merasakan betapa sempitnya lubang satu ini.
"Aaghh! Naru...tooh..."
Kedua tangannya langsung bertumpu di meja dapur, ia meringis saat merasakan kejantanan milikku yang mulai masuk ke dalam tubuhnya. Sementara diriku masih berusaha untuk mendorong penisku masuk.
"Kaachan... Ugh! Sungguh sempit..." Aku terus mendorongnya hingga semuanya masuk, nafas lega keluar dari mulutku. Aku menatap punggung putihnya yang bergetar. "Kaachan..."
"Sakit bodoh! Aku masih belum terbiasa dengan lubang analku itu!" Ia menoleh ke belakang dengan tatapan kesal miliknya. Aku tertawa geli saat melihat wajah kesal yang ditunjukkan oleh Kaachan, kemudian aku memeluk tubuhnya dari belakang, dan menempelkan punggungnya di dadaku.
Kedua tanganku merambat ke atas hingga menyentuh gundukan kembar. Aku meremasnya dengan lembut, aku juga merasakan tegangan dari tubuhnya. Iris shappire milikku melirik ke wajahnya yang sudah merona merah. Aku menyeringai sekilas, Kaachan sangat menggoda sekarang. Walaupun umurnya sudah 26 tahun.
Oh, aku baru sadar. Kaachan meninggal saat umurnya masih 24 tahun, dan hidup lagi dengan umur yang sama. Jadi dia sekarang masihlah sangat muda. 26 tahun lebih tepatnya.
"Kaachan... Kau seperti anak muda saja..." Bisikku pelan tepat ditelinga Kaachan, Aku mendorong pelan pinggulku, penisku seakan di jepit keras oleh sebuah benda lunak. Aku pasti tidak akan bertahan lama.
"Yesshh..."
Desahan terdengar dari mulut Kaachan, ia tersenyum menggoda dengan wajah yang merah. Kedua tangannya menggenggam tanganku yang saat ini berada di kedua dada besar miliknya. Gerakan pinggulku mulai dipercepat, aku merasakan sebuah sensasi yang sangat luar biasa.
Ini pertama kalinya aku memasukkan penisku kedalam lubang anal seseorang. Kedua tanganku mulai turun ke bawah, lebih tepatnya ke bagian paha milik Kaachan, kemudian aku mengangkat kedua kakinya ke atas. Bunshin milikku sudah muncul dibelakangku.
"Oke Kaachan. Kita main bertiga."
"Kau bilang apa? Bertiga memang dengan si...apa?" Kaachan terlihat tertegun saat melihat bunshinku yang sudah ada didepan matanya. Penis bunshinku juga sama besarnya dengan milikku, batang tersebut sudah sangat tegang, dan ingin menerobos lubang senggama milik Kaachan. "Kau tidak bercanda kan?"
"Memangnya aku terlihat bercanda?" Aku menyeringai saat dia menatap bunshinku dengan tatapan yang sulit untuk di artikan. "Kita mulai," ujarku yang kemudian memberi Isyarat kepada Bunshin itu. Bunshinku mengarahkan penisnya tepat di vagina Kaachan.
"Aakk! Naruuhh..."
Aku bisa merasakan tubuhnya yang menegang saat tubuhnya dimasuki oleh penisku yang lain. "Tetap santai, dan kita lakukan." Kami berdua langsung mendorong pinggul kami secara bersamaan, erangan tertahan terus keluar dari mulut Kaachan. Aku merasakan betapa sempit lubang bagian belakangnya saat kami berdua memasuki tubuhnya.
Beberapa saat berlalu, Kaachan masih terus mendesahkan namaku, kedua tangan putih wanita itu mencengkram bahu dari bunshin milikku, ia seakan menahan sebuah perasaan yang... Aku tidak tahu bagaimana rasanya.
"Aku keluar... Aku... Keluar... Narutoohh..."
Tubuh Kaachan menegang keras saat ia menyemburkan cairan hangat dari Vagina miliknya. Tapi kami berdua masih terus menerus menggerakkan pinggul kami.
"Berhenti... Stop! Naruto... Lubangku masih sensitif... Aahhnn... Tidak..." Kami semakin mempercepat gerakan pinggul kami, Kaachan juga mulai meracau tidak jelas, beberapa kali aku mendengar kata-kata kotor keluar dari mulut Kaachan. "Cepat selesaikan sialan! Aku... Sudah kelelahan... Ahnn.. yaahhh..."
Aku melihat bunshinku, ia mengangguk kecil sambil menatapku dengan wajah meringis. Kami semaki mempercepat gerakan pinggul, hingga aku dan Bunshinku mengeluarkan cairan hangat di dalam kedua lubang Kaachan.
Ia mendesah keras saat merasakan cairan milik kami. Kaachan pun tersenyum puas sambil menatap ke langit-langit rumah. "Kau memberikan Kaachan sebuah kepuasan yang tiada tara, Naruto-kun..." Aku melepaskan peganganku terhadap kedua kakinya, cairan sperma meluber keluar dari kedua lubang tersebut.
Kaachan berbalik kemudian menerjangku dengan pelukannya hingga aku terjatuh kebelakang. "A-ada apa Kaachan?"
"Aku ingin seorang anak darimu, baka." Ia tersenyum, kemudian menciumku dengan lembut. Ah, bibirnya sungguh manis sekali.
.
..
.
Beberapa tahun kemudian, aku keluar dari Desa Konoha, dan berkelana bersama Kaachan. Yah, aku ingin bebas dari belenggu desa, karena para Tetua disana masih menginginkan Kaachan untuk dijadikan sebagai objek nafsu mereka.
Siapa juga yang mau memberikan Kaachan kepada kalian, dasar tua bangka.
"Papa? Kenapa melamun?"
Aku menatap seorang gadis kecil berambut merah dengan kedua bola mata yang berwarna Shappire. Ia berusia 16 tahun, tubuhnya juga berisi mirip seperti Ibunya. "Ah, Papa hanya mengingat masa lalu saja kok." Aku kemudian mendekati dia, dan mencium bibirnya lembut. "Kita selesaikan latihannya, dan makan malam dirumah, Kaachan sudah menunggu disana."
Aku pun menggandengnya untuk berjalan bersama ke sebuah rumah kayu yang tidak jauh dari tempat kami berlatih.
Setelah sampai dirumah itu, aku membuka pintu masuk. Didalam sana terlihat Kaachan yang sedang memasak dengan hanya memakai pakaian minim. Apron, dan bikini. "Selamat datang, Naruto-kun, Naruko-chan."
"Kaachann..." Gadis yang bernama Naruko itu berlari kecil menuju Kaachan, ia memeluk leher Kaachan dengan wajah mereka yang sudah sangat dekat. "Aku rindu Kaachan."
Kaachan sendiri membalas pelukannya Naruko, kedua tangan putih milik wanita itu meremas pantat Naruko dengan lembut. "Yah, Kaachan juga merindukan kalian..." Mereka berdua langsung saling berpagut dengan panasnya.
"Ah, Ibu dan Anak yang akrab..." Gumamku pasrah yang kemudian ikut bersama dengan pergumulan mereka berdua.
.
..
...
END
...
..
.
Terima kasih telah membaca fict abal saya. Dan maaf kalau ada kesalahn di fict saya.
