We are MARRIED or NOT?


Main Cast: GS!Sehun, Kai

Support Cast: Kris, GS!Chanyeol, Suho, GS!Kyungsoo, GS!Yixing, Yunho (Papa/Grandpa Yun), GS!Jaejoong (Mama/Grandma Jae)All exo member, another boyband/girlband member, oc, dll

Rating: M

Warning: Mature content in some parts

Genre : Romance, AU, OOC, yadong, genderswitch for uke, comedy, family, friendship, dll

Length: Chaptered

Bahasa: Indonesia campur aduk

Summary Lengkap: Park Sehun, bungsu dari tiga bersaudara. Bekerja sebagai WO memberinya banyak keuntungan, lingkar pertemanan dengan orang-orang sukses, para klien papan atas dan bisnis barternya laris manis. Jika kita gambarkan, rute hidup Sehun adalah kantor-belanja-nongkrong-kantor-belanja-nongkrong-dan-belanja lagi. Si maniak belanja yang tak pernah bisa tahan godaan kalau lihat kata 'DISKON' terpampang besar-besar di depan matanya. Seluruh hidupnya dia habiskan untuk memikirkan obral tas dan sepatu hingga dia tak sempat cari cowok. Sangat boros juga yaaah… bisa dibilang, matrealistis. Namun rute hidupnya berubah ketika di ultah yang ke-28, seorang Pria tak diundang bernama Kim Kai tiba-tiba datang ke acaranya dan memberi dia buku 'Manfaat Kerang Bagi Kehidupan'. WTF?!

Sehun yang tadinya ogah menikah malah tergila-gila dan bersedia membuka paha lebar-lebar demi Tuan Kim Kai Yang Terhormat. Demi memuaskan sisi liar terpendam pria itu. Biarpun mereka baru kenal beberapa hari, biarpun Kai pelit dan terlalu hemat. Tapi bukan Sehun namanya kalau tidak silau sama sesuatu yang serba wow. Paket liburan ke Laut Karibia? Seminggu? Bersama suami? Oh, No…

Sehun tidak punya suami! Dia juga sudah terlanjur menolak lamaran aneh Kai. Terus sekarang dia harus bagaimana?! Apa Kai masih berminat melamarnya? Apa Sehun berhasil mendapatkan paket liburan fantastisnya? Well, semoga.


Chapter 2

Hari ini aku mengenakan rok pensil berlayer warna hitam, kemeja pink pastel yang lengannya super pendek dan berkerut-kerut, serta stiletto hitam yang terbuka di bagian jari-jarinya. Tak lupa jam tangan Rolex pink gold yang kubeli setengah harga dari salah satu mantan klienku yang bekerja di toko jam tangan. Aku membiarkan rambut coklat panjangku tergerai begitu saja. Mulai sekarang aku adalah gadis penjelajah bermobil. Hahaha! Sekalian saja kuajak Yixing untuk test drive dan berkeliling di pusat perbelanjaan. Pasti bakal seru. Wuaah! Aku jadi tidak sabar.

"Sehun, ada telpon dari Nona Cha Hakyeon di saluran tiga untukmu," Wendy—asisten merangkap stage manager di departemenku—muncul di ambang pintu ruangan. Kami seumuran dan dia teman curhat di luar jam kerja, jadi jarang memanggilku dengan embel-embel.

Aku pasang wajah berwibawa ala atasan, "Baiklah, sambungkan ke ruanganku."

Wendy juga pasang wajah 'asisten-terbaik-sepanjang-tahun' sambil menutup pintu ruanganku.

Oke, singkatnya aku menjabat sebagai Project Manager di Loverly Royal, departemen yang menawarkan jasa Wedding Consultant dan khusus menangani acara-acara pernikahan. Sebenarnya Loverly Royal masih merupakan bagian dari Royal Event. Royal Event sendiri adalah perusahaan EO terbesar di Seoul dan bisa dibilang berskala elit. Karena banyaknya klien-klien yang kami tangani dan jam terbangnya juga begitu padat. Klien-klien yang datang kebanyakan bukan orang sembarangan dengan beragam permintaan yang aneh-aneh. Mulai dari selebriti papan atas sampai anak pejabat dewan pernah datang kemari untuk 'berkeluh-kesah'. Salah satunya adalah Sunye Wonder Girls yang menikah dengan James Park Januari 2013 silam. Pstt… jangan bilang-bilang ya? Tapi sepatu Charlotte Olympia kesayanganku itu sebenarnya pemberian dari Sunye Wonder Girls. Hihi.

Sudahlah, tidak perlu dibahas panjang lebar.

Hmmm… sampai dimana kita tadi?

Oh iya, Royal Event itu perusahaan EO yang cukup terkemuka di Korea karena track recordnya yang begitu memuaskan serta letak kantornya yang sangat strategis, yaitu berada di jantung kota Seoul. Kami sering kebanjiran job karena… yaaa… tahu sendirilah kecepatan mulut orang-orang. Pernah dengar istilah Karena nila setitik, rusak susu sebelanga? Satu orang gagal akan jadi benalu bagi nama baik perusahaan. Imej yang telah susah payah dibangun bisa rusak dengan mudahnya di mata publik. Untuk itulah aku harus selalu professional.

Ada tiga orang Project Manager lain selain aku di departemen ini dan klien-klien yang datang bagaikan daging segar di mata kami—para singa kelaparan. Kami saling berkompetisi menjadi seorang Project Manager yang terbaik dan terpercaya. Namun ada kalanya di satu sisi kami saling bekerjasama dan bahu-membahu untuk mewujudkan acara-acara berskala raksasa seperti pernikahan massal yang dihadiri oleh 3800 pasangan di Gereja Unifikasi, Gapyeong. Yang tentunya hal itu jarang terjadi alias langka. Lagipula hubunganku dengan dua PM lainnya kurang akur. Hanya Krystal yang kupercaya untuk jadi 'tangan kanan' dan sering kuajak berpartner jika wedding event yang kutangani sudah terlalu ribet dan menguras banyak tenaga. Asal tahu saja, persaingan disini sangat ketat. Kepercayaan di perusahaan ini ibarat menggenggam obor di kegelapan. Jika kau memilih untuk tidak menggenggam obor sama sekali, well, berdiri clueless dalam kegelapan bukan pilihan yang tepat, guys. Jika digenggam terlalu erat juga tidak bagus. Lama-lama tangan kalian yang akan terbakar. Ngerti kan? Aku paham Krystal sangat berkompeten dan kemampuan kami dalam menghandel kegiatan setara. Tapi aku tidak boleh lengah bila berhadapan dengannya. Aku tidak mau jadi orang-orang berhati lemah yang kalah dengan pujian dan rayuan maut. Nanti bisa-bisa mereka meremehkanku. Dan aku, Park Sehun, termasuk orang yang sangat sangat anti dipandang sebelah mata oleh orang lain.

Rekan-rekanku bilang aku ini wanita yang sangat boros dan tukang belanja. Tapi aku bekerja keras untuk mendapatkan barang-barang itu. Aku bekerja keras—dengan segala upaya—untuk memenuhi semua kebutuhanku sendiri. I need money, we all need money. Sebagai perempuan yang dibesarkan di kota metropolitan, aku kan tidak mungkin pakai satu baju selama berbulan-bulan. Aku juga tidak mungkin memakai mantel mandi dan selop ke kantor lalu bilang pada semua orang kalau itu mode terbaru. Menghadapi klien-klien papan atas yang berkelas tentunya kita harus tampil meyakinkan dan berkelas juga, kan? Nah, bagaimana mau tampil meyakinkan dan berkelas jika kita selalu pakai rok garis-garis yang itu-itu saja? Cukup Spongebob saja yang punya ratusan celana kotak jelek yang sama dalam lemarinya. Kita tidak perlu mengikuti kebiasaan makhluk itu.

Dalam dunia kerjapun aku ini tipe pekerja keras yang tidak ingin asal-asalan. Sekali kau bekerja asal-asalan, maka karirmu akan tamat. Ada banyak orang-orang berdedikasi tinggi yang selalu siap menggantikan posisimu, dan jujur saja, hampir semua orang mengincar jabatan Project Manager. Yah, setidaknya kami punya ruangan ekslusif sendiri dengan fasilitas: sofa empuk, kursi putar, full AC, toilet pribadi plus layanan Tv kabel.

Terakhir, untuk tambahan, Royal Event terbagi-bagi lagi menjadi lima departemen/divisi. Yang pertama, OSS Agency yang memanage sebuah event besar berskala internasional seperti konser-konser artis dunia. Yang kedua, MICE Event Organizer yang menangani acara-acara formal seperti meeting di perusahaan-perusahaan. Yang ketiga, E-Melody Organizer yang bergerak di bidang musik dan hiburan-hiburan berskala menengah. Yang keempat, Loverly Royal (divisiku) yang tidak perlu kujelaskan lagi karena kalian sudah tahu. Dan yang terakhir, Cozmo Party Planner, khusus untuk acara ulang tahun saja. Tentu saja pemegang jabatan tertinggi di Royal Event adalah owner sekaligus bapak CEO kami yang terhormat, Choi Siwon. Dibawah pimpinan CEO, ada President Directur sebagai pemegang jabatan tertinggi kedua yang mengepalai seluruh Direktur. Tiap departemen dipimpin oleh seorang Event Directur yang membawahi sekitar empat orang Project Manager. Setiap PM biasanya membawahi sekitar—kurang lebih—lima puluh staff. Jika kelima Event Directur masing-masing punya empat PM dan tiap PM masing-masing punya lima puluh pengikut, nah… bisa kalian bayangkan berapa banyak jumlah manusia di gedung ini? Seribu orang! Fantastis, bukan? Jumlah itu belum termasuk tukang masak, petugas kebersihan, satpam dan ahjumma penunggu stand-stand kantin.

Masih penasaran kenapa aku bisa terdampar di perusahaan EO alih-alih mengabdikan diriku sebagai seorang arsitektur? Ceritanya nanti saja ya? Aku mau melayani klien dulu.

"Halo, selamat pagi Haekyon-ssi, ada yang bisa saya bantu?" tanyaku, suara disetel ke mode businessman.

"Ya, kapan saya bisa menemui anda lagi untuk membicarakan ringkasan berikutnya?"

Aku membuka laci meja dan mencari map dengan nama Leo-Haekyon di depannya.

Itu dia, ketemu! "Tunggu sebentar ya, mm…" aku mulai membolak-balik lembar demi lembar, "Kalau tidak salah anda yang kemarin butuh pemakan-api, juggler, dua tenda tambahan dan lantai dansa dilengkapi lampu disko. Benar begitu?"

"Engg… ada sedikit perubahan dari planning awal, calon suami saya ingin pesta pernikahan kami lebih seru dan meriah."

"Oke, mari kita lihat…" kami sama-sama terdiam. Aku mulai memeriksa berkas-berkas sebelumnya dengan rincian acara yang serupa.

Pemakan api, pemakan api, pemakan api… nah, gotcha! "Haekyon-ssi, minggu lalu kami telah menyelenggarakan acara pernikahan untuk sembilan ratus orang dalam tenda-tenda Bedouin besar. Kami juga menghadirkan pemain juggler, pemakan-api, sembilan meja prasmanan hidangan internasional, lantai dansa dengan lampu kelap-kelip, dua belas pengiring pengantin datang dengan menunggangi gajah, gajahnya di datangkan langsung dari India, juru kamera pemenang penghargaan—"

Aku bisa mendengar Haekyon berhenti bernapas diseberang sana, "Aku mau itu. Persis seperti itu. Kedengarannya hebat sekali!"

"Bagus," aku menjentikkan jari sambil tersenyum puas, "Well, mungkin kita bisa bertemu, merapikan detail-detailnya, dan anda bisa melihat portofolio acara kami. Saya akan memeriksa kembali jadwal saya lalu mengabari anda kapan pertemuan selanjutnya. Jika dalam waktu dekat ini saya berhalangan, nanti akan diwakili oleh asisten saya, Wendy Son." Inilah enaknya punya asisten. Kalau jadwal kita super padat, minimal kita tidak harus kelimpungan sendiri mengatasi segala-galanya.

"Aku mau sekali!" Haekyon terdengar sangat antusias, "Berapa biaya tambahan yang harus saya bayar?"

"Dua ratus empat juta delapan ratus tiga puluh tujuh ribu won," jawabku kalem.

"Oh begitu…" Haekyon terdengar loyo, tidak seantusias tadi. Dia pikir murah mengundang gajah dalam acara pernikahan? "Terus, berapa biaya keseluruhannya jika rincian awal ditambah dua tenda lagi, pemain juggler, pemakan-api, dan lain-lain?"

Tanganku bergerak cepat diatas kertas, mengkalkulasi seluruh anggaran yang harus disediakan klienku, "Oke… jadi… totalnya… Empat ratus dua puluh juta delapan ratus tiga puluh tujuh ribu won."

Sunyi.

Haekyon menghilang dari peredaran. Jangan bilang dia sudah diangkut ambulans?

Aku berdehem pelan, "Halo? Haekyon-ssi? Anda masih disana?"

"Hm, ya… halo, apa tidak bisa lebih kecil lagi?"

Lebih kecil lagi? Here we go again… "Tentu kami masih bisa memangkas anggarannya dan disesuaikan dengan budget anda. Biasanya anda hanya perlu membayar seratus tujuh puluh empat juta won saja. Atau jika anda masih berminat, kita bisa ketemu langsung dan membicarakan rincian biayanya lebih detail. Termasuk berapa persen diskon-diskon yang bisa kami berikan dari vendor-vendor acara." Jujur, aku tidak suka terlalu memberatkan klien-klienku, jika mereka bisa menikah dengan biaya yang lebih minimal, why not? Asal tidak dibawah seratus juta. Gampang itu. Nanti bisa diakali, xixixi… tentunya… ada barang, ada jasa!

"Memangnya bisa begitu?" nada suara Haekyon kembali bersemangat.

"Ya, bisa saja, Haekyon-ssi. Di Loverly Royal kami memberikan banyak kemudahan kepada klien." Sebenarnya aku ingin sekali menambahkan: "Jangan lupa ajak sanak saudara anda yang mau menikah ke Loverly Royal". Tapi kayaknya kurang tepat kalau dipromosikan lewat telpon.

"Wah, begitu ya. Baguslah! Aku akan berunding dengan Leo dulu baru kemudian menelpon lagi. Dan barangkali kita bisa bertemu secepatnya. Terima kasih banyak. Dah."

Selesai. Sambungan terputus.

Oke, aku berusaha mengingat-ingat seperti apa rupa Nona Haekyon dan benda apa saja yang menempel di tubuhnya kemarin. Kalau tidak salah, dia pakai jaket denim coklat Topshop keluaran terbaru. Pas! Itu bakalan matching dengan sepatu bot koboi dari Minseok. Lalu aku akan ambil cuti berkuda selama seminggu. Agar Pak Donghae tidak mengamuk, aku akan mementung kepalanya tujuh belas kali, dia langsung amnesia dan malah memberiku hari libur tambahan.

As you wish! Teruslah bermimpi, Sehun!

Aku meraih gagang telpon dan langsung menghubungi asistenku, "Wendy, kau masih menyimpan nomer telpon pusat penangkaran gajah, kan? Berikan padaku."

.

.

.

.

"Happy birthday to youuu, happy birthday to youuu… happy birthday, happy birthday, happy birthday to YOUUUU!" hampir staff-staff Sehun berkumpul di ruang aula utama sore harinya, jam terbang mereka telah usai dan kini semuanya tampak sumringah menyanyikan lagu ulang tahun dalam versi sumbang. Mereka tertawa, bersorak, memberi tepuk tangan meriah, bergantian menyalaminya, meniup terompet, menebarkan confetti, berdansa sesuka hati, seru-seruan bersama dan pesta minum anggur. Seharusnya Sehun senang, seharusnya dia bahagia, tapi melihat angka dua puluh delapan itu terpampang besar sekali di depan matanya, entah kenapa dia merasa seperti telah melakukan dosa besar. Mendadak dua kalimat sakti itu kembali terngiang-ngiang di kepalanya: "Apa sudah ada pria yang melamarmu?" dan "Kapan kau akan memberiku cucu?"

Krystal baru menampakkan diri setelah menuntaskan satu acara pernikahan, dia memberikan pelukan best friend yang satu paket dengan cipika-cipiki "Selamat ulang tahun, ya. Maaf terlambat sehari. Kuharap kau cepat menemukan belahan jiwamu dan hidup bahagia bersamanya."

Tiba-tiba Sehun merasa kebas.

Belahan jiwa?

Tuhan… apa aku punya belahan jiwa?

Siapa belahan jiwaku? Kalau memang ada…

DIMANA DIA SEKARANG?

.

.

.

.

"Huaaatchii! Huatcchiii!"

Kris melirik sebentar, "Flu ya? Di kursi belakang ada tissue."

Kai menoleh ke jok penumpang dan meraih kotak tissue bergambar Robot Gundam, pahlawan favorit Zhuyi.

"Perasaan tadi kau baik-baik saja," gumam Kris sambil mengemudi pelan-pelan dan melirik ke sisi jalan lagi. Mencari toko pernak-pernik cewek di antara deretan toko-toko lainnya. Jangan salah paham dulu. Kris bukan cowok kelainan dan dia mau mampir ke toko pernak-pernik cewek karena Sophia pesan satu set jepit rambut Strawberry Shortcakes. Beginilah resiko jadi Ayah. Mendadak kau harus peduli terhadap semua hal yang berkaitan dengan anak-istrimu. Bahkan benda paling sensitif sekalipun. Kayak pernah suatu waktu Chanyeol kehabisan stok pembalut dan Kris yang pulang malam karena ada meeting lagi-lagi jadi korban. Demi sang istri, dia rela masuk ke sebuah swalayan lalu menyambar lima pack pembalut wanita, berjalan super cepat menuju kasir, hampir menabrak seorang nenek, dan berjanji tidak akan pernah kembali ke swalayan itu lagi.

Kai angkat bahu cuek, "Entahlah, tiba-tiba hidungku gatal. Pasti karena AC mobilmu. Kumatikan ya."

"Hei!" Kris hendak protes tapi tangan Kai bergerak lebih cepat hinggap di tombol off.

"Begini lebih baik," Kai bersandar kembali lalu membuka kaca jendela lebar-lebar, "Kau tahu, Kris? Penelitian menunjukkan bahwa orang yang selalu bekerja dalam ruangan ber-AC memiliki kemungkinan untuk mengalami sakit kepala kronis dan rasa lelah yang terus menerus. Resiko lainnya, kau bisa terkena iritasi membran mukosa dan kesulitan bernapas. Itu yang membuat tubuh lebih rentan terhadap pilek dan flu. Selain itu, AC juga dipercaya dapat meningkatkan gejala tekanan darah rendah, rematik dan neuritis."

Kris mengatupkan mulut rapat-rapat, berusaha keras menahan tawa menghina. Sudah maklum dengan hobi ceramahnya Kai.

"Wow, aku baru tahu. Trims infonya, kawan. Kau mencontek itu dari situs mana?"

"Aku tidak mencontek dari internet, Kris." bantah Kai, "Temanku yang bekerja sebagai tim medis di El Savador pernah memberitahukannya. Orang-orang jaman sekarang tidak sadar bahaya apa yang sedang mengintai tubuh mereka. Para peneliti Louisiana State Medical Center menemukan delapan jenis kuman yang hidup pada 22 dari 25 mobil yang telah di uji coba. AC itu sumber masalah pada pernasapan."

Kris pura-pura terkejut, "Wah… ckckck… kalau begitu besok aku akan panggil tukang untuk melepas semua AC di kantor. Bila perlu, aku sendiri yang akan melepasnya."

Kai menatap Kris sangsi, "Kau benar-benar mau melakukan itu?"

"Tidak, bodoh."

"Sudah kuduga."

Mobil berbelok di jalanan padat manusia. Kai tahu persis ini daerah Myeongdong. Pusat perbelanjaan terbesar di Seoul sekaligus daerah destinasi para turis mancanegara. Tapi jujur saja dia kurang suka tempat-tempat seperti ini. Kai tidak suka menghambur-hamburkan uang atau merusak bumi dengan konsumerisme yang tidak berguna. Dia punya cara pandang yang 'sedikit' lebih berbeda dari orang-orang awam kebanyakan. Ralat, dari manusia-manusia modern kebanyakan. Menurut Kai, hidup itu cukup dijalani dengan sederhana dan lapang dada.

"Mau ikut aku dinner atau berkeliling sendiri?"

Kai menggeleng, "Come on, kau akan makan malam dengan istri cantikmu. Kau tidak membutuhkan obat nyamuk."

"Jadi mau berkeliling sendiri?" tanya Kris sambil memakai belted moto jacket Ralph Lauren diatas kemeja kerjanya.

"Sure. No problem." Kai terpaksa menyetujui. Toh tidak mungkin dia duduk-duduk di dalam mobil sementara Kris enak-enakan berkencan di luar sana. Mending dia keliling-keliling. Lumayan, sudah lama tidak menjelajahi Myeongdong. Yaa… sekedar melihat-lihat, tentunya.

Kris menekan remote kunci mobil otomatis saat Kai sudah benar-benar keluar dari mobil, "Oke. Temui aku sekitar sejam atau dua jam lagi."

Kai mengibaskan tangan, "Ah, tidak usah! Nikmati malam romantis kalian sepuasnya. Aku tidak ingin mengganggu. Have fun."

"Beneran tidak apa-apa, kan?" seru Kris dengan nada lebih keras.

Kai hanya mengacungkan jempol kanannya dan terus berjalan tanpa menoleh lagi.

.

.

.

.

Aku suka sekali Myeongdong! Bagi para pelancong ini seperti Manhattan-nya Korea. Bagiku ini seperti SURGA. Coba lihat itu! Louis Vuitton, Ralph Lauren, Forever 21, Etude, The Face Shop, Skin Food, Missha, Nature Republic. OH-MY-GOD! Sejauh mata memandang aku bisa melihat barang-barang berkilauan dibalik etalase kaca. Mereka semua seperti memanggil-manggil namaku untuk kubawa pulang.

Oh, kayaknya aku butuh Curl Fix Mascara Remover dan Honey Cera Cream dari Etude.

"Kita kemana dulu nih?" tanya Yixing membuyarkan susunan daftar belanja di kepalaku.

Aku bingung. Aku dilemma. Aku bimbang setengah mati. Saking banyaknya pilihan aku jadi sulit memutuskan mau kemana dulu. Arghh! Rasanya ingin kudatangi semua toko disini… eh, itu disana ada keramaian apa? Toko alat kesehatan? Diskon? Aku mau—

"Ayolah. Kita tidak perlu ke toko kakek-nenek itu kan." Baekhyun menarik tanganku menjauh. Toko kakek-nenek katanya?! Iya sih… yang antri memang orang-orang tua beruban.

Kali ini Yixing sepakat mengajak Baekhyun dan Jinyoung serta pacar-pacar mereka, Daehyun dan Gongchan. Mereka bilang sih mau merayakan ultah denganku sekaligus reunian. Padahal aku yakin sekali mereka hanya ingin berkenalan dengan Honda Eon-ku. Baekhyun dan Jinyoung ini juga teman geng SMA-ku dulu, meski intensitas pertemanan kami tidak sedekat seperti hubungan pertemananku dengan Yixing.

Waktu melewati Forever 21, aku meneteskan air liur saat melihat rok beludru lipit di pajangan. Diskon 50% pula.

Seperti ada kontrol pengendali otomatis, kaki-kakiku bergerak memasuki toko tanpa kuperintah. Baekhyun dan Jinyoung memekik kegirangan. Mereka juga mencoba-coba beberapa baju meski tidak ada yang dibeli. Ujung-ujungnya aku terpaksa menggunakan senjata pamungkas andalanku yaitu 'Kartu Ajaib Sekali Gesek'. Ugh, beginilah resiko belum gajian. Oh iya, aku juga membeli leather skirt hitam, crop tee abu-abu bergambar personil band Pink Floyd dan jaket hitam yang sangat serasi dengan rok pensilku ditambah gelang, kalung salib perak yang sangat cute, dan topi rajut keren yang bakal matching dengan cardigan jigsaw baruku.

Yixing memimpin kami keluar dari Forever 21 menuju jalanan, dan selagi semua orang mengikutinya berjalan cepat di trotoar, aku berjalan lambat-lambat sambil menikmati pemandangan. Langit malam terasa begitu indah dan sempurna, bintang-bintangnya bertaburan bagai berlian di… oh, BERLIAN!

Jantungku berdebar keras. Tiffany's, persis di depan hidungku! Aku beringsut lebih dekat ke etalase dan terpukau memandangi barang-barang pajangannya. Kalung itu betul-betul cantik. Dan… ya ampun… jam tangan itu keren sekali! Aku harus melihat lebih dekat! Menyentuhnya… membelai tiap inci batu permata itu…

"Guys! Aku masuk dulu ya."

Yixing memutar bola mata, seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi batal gara-gara Baekhyun keburu berceloteh tentang jam tangan berhias batu permata kasmir warisan nenek buyutnya. Bagus. Teruslah bercerita Baekhyun, dengan begitu Yixing tidak akan sempat mengkritik barang-barang belanjaanku.

Setelah berhasil memborong jam tangan dan kalung, kami kembali menyusuri sepanjang jalan kawasan Myeongdong bersama gerombolan para pejalan kaki lainnya. Tapi selagi kami berjalan, kepalaku terus menoleh ke kiri dan ke kanan. Christian Dior, Hermes, Chanel, Marie Claire…astaga jalan ini luar biasa! Dan orang-orang ini hanya mondar-mandir saja tanpa berniat mampir sama sekali. Bukankah semua ini menakjubkan? Alih-alih belanja, mereka malah duduk-duduk sambil membeli jajanan murah yang kualitasnya masih diragukan. Eh, tapi es krim itu enak juga… oh my… aku baru saja melewati Prada! Terkutuklah ibu-ibu pemakan es krim tadi!

Jinyoung masuk ke toko Armani Exchange karena Gongchan ingin melihat-lihat kacamata, sedangkan Baekhyun dan pacarnya mengunjungi gerai Gap paling besar disamping toko Gucci.

Mendadak aku teringat sepatu Jimmy Choo pesanan Minseok.

"Yixing, kau tunggu disini ya? Aku mau ke suatu tempat dulu. Cepat kok. Tidak akan lama."

"Apa… hei! Sehun! Kemari kau, maniak belanja sinting!"

Aku tidak menggubris teriakannya. Bisnis barterku lebih penting dari apapun saat ini.

Sepuluh menit kemudian aku kembali dengan kantung belanjaan bertambah dua.

"Tadaaa! Aku cepat kan?"

Yixing menatapku tanpa minat, "Kukira kau hanya akan beli satu sepatu."

Pipiku berpendar cerah, "Memang iya. Yang ini kan rok Nicole Farhi."

Wajah tanpa minat Yixing berubah ke mode tanpa ekspresi, "Terserah kau sajalah. Aku capek melarangmu."

Aku mengurungkan niat untuk membalas ucapannya karena ketika menoleh ke sebelah kanan, aku nyaris tak mempercayai penglihatanku. Tepat disana… ada Grand Opening toko sepatu rancangan Joanne Stoker! Dan… DISKON KHUSUS HARI INI 70%!?

Kulihat pengunjung yang didominasi kaum hawa sedang mengantri meliuk-liuk di sepanjang blok. Jumlahnya kurang lebih ratusan, sebagian besar cewek-cewek muda berpakaian modis, mengobrol berkelompok atau berdiri sambil memainkan ponselnya. Ada juga beberapa yang memegang balon bertuliskan "Welcome to Seoul, Joanne".

Astaga, astaga, astaga, astaga, ASTAGA! Kenapa aku baru sadar sekarang? Darimana saja aku tadi? Maksudku, ini Joanne Stoker! Desainer pendatang baru yang sepatu rancangannya selalu unik dan bentuk-bentuknya berkesan futuristik, sungguh memikat mata. Satu lagi, dia juga lulusan arsitek, sama sepertiku.

Tapi sepatu sekelas Joanne dipotong 70%? Itu benar-benar keterlaluan! Aku harus melihatnya sendiri dengan mata kepalaku untuk memastikan promosinya bukan sekedar hoax.

Bangunan tokonya sangat megah dan suasana antriannya sangat meriah seperti pesta. Kru-kru dan reporter dari berbagai stasiun Tv sibuk mewawancarai gadis-gadis muda yang mengantri paling depan dan salah satu dari mereka wajahnya mirip Song Hye Kyo. Aku melihat seorang wanita berpakaian rapi menyapa gadis muda bertubuh jangkung lalu memperkenalkan diri sebagai pencari bakat dari Asia's Next Top Model.

Rasa antusiasme menjalar naik ke seluruh sel-sel tubuhku. Aku merapikan setiap jengkal rambut dan poni yang melintang di dahi sambil memamerkan wajah anggun terbaik. Berharap ada satu atau dua reporter yang menyadari keberadaanku dan berminat mewawancarai, foto bareng, minta tanda tangan atau apa.

Nah, itu dia ada satu yang sempat melirik-lirik. Ya ampun, dia tampan juga untuk ukuran kameramen. Terlalu tampan malah. Semoga dia mengarahkan kameranya kesini.

Ayo sorot aku, ayo sorot aku…

"Luar biasa," desah Yixing yang entah sejak kapan sudah berdiri disampingku.

Aku melotot kearahnya, "Yixing?! Bukannya kau tidak ingin belanja apapun?"

Yixing cengar-cengir sambil mengacungkan tanda peace, "Aku juga penggemar sepatu-sepatu Joanne."

Aku mengelus dada, "Syukurlah. Kukira aku akan mati garing karena harus mengantri sendiri. Oh iya, yang lain kemana?"

"Terakhir kali aku lihat mereka diantara deretan rak-rak Etude. Mungkin sekarang lagi nongkrong di Starbucks," jawab Yixing ringan.

Mereka ke Etude tanpa mengajakku? Awas saja nanti! Tidak bakal kutraktir!

Gadis-gadis dibelakang mulai berdesak-desakan maju hingga aku dan Yixing terdorong-dorong ke depan. Mencoba menjaga keseimbangan dengan menumpukan tangan di punggung orang lain agar kami tidak jatuh dengan gaya tengkurap yang sangat tidak elit. Sesekali ada yang keluar dari pintu, membawa bertumpuk-tumpuk belanjaan. Saat aku sedang asik mencibir riasan tebal wanita menor disebelah Yixing, tiba-tiba terdengar bunyi berderak dan seorang wanita penjaga bertubuh besar membuka pintu beberapa meter dihadapan kami.

"Nona-nona, lewat sini!"

Jeritan dan pekikan histeris membahana. Kami terbawa arus gelombang lautan manusia dan tahu-tahu saja aku sudah berada di tengah-tengah ruangan bersama Yixing yang juga sama-sama kebingungan.

Mataku bergerak-gerak liar mengamati sekeliling. Ada banyak sekali rak-rak dan meja penuh sepatu unik, gadis-gadis bertubuh model saling berebut dan salah satu dari mereka memeluk tiga pasang sepatu di dadanya, sorot matanya tampak paranoid, seolah-olah bakal ada musuh yang turun dari atap untuk menculik sepatu-sepatu itu.

Aku sempat terpukau oleh layar-layar besar di tembok yang menayangkan koleksi terbaru Joanne, meja kaca dan rak-raknya bergaya Art Deco dan kursi-kursinya bergaya singgasana. Langit-langitnya tinggi dan lapang dengan lampu-lampu panjang dari kaca menggantung diatas kepala kami. Tata ruangannya sungguh artistik, seperti mood boaster yang membuat kita semakin bergairah untuk memborong seisi toko dengan patung-patung manekinnya sekalian.

Penuh semangat aku mulai memantul dari satu rak ke rak lainnya bagai bola pingpong diantara dua raket kayu.

Ada sepatu motif kulit ular dengan bentuk hak yang unik, ada sepatu berbentuk layar perahu, aku suka semuanya! Juga sepatu dengan pita besar berglitter itu! Juga yang itu… yang bentuknya seperti rumah keong warna peach… dan… dan… yang bentuk haknya asimetris… Ya Tuhan, kuharap aku punya suami selugu Baro atau sekaya Kris oppa.

Sementara aku sibuk komat-kamit bergumam "Ya Tuhan, Ya Tuhan, Ya Tuhan" ternyata Yixing bergerak lebih lincah dari aku. Dia terbang menghampiriku sambil menenteng dua sepatu. Yang satu sepatu dengan hiasan bulu-bulu ayam warna coklat, putih dan merah marun, yang satu lagi sepatu warna hijau lumut yang bentuknya sangat… ajaib.

"Coba lihat yang kutemukan! Semua ini ada di rak limited edition, lho." Yixing memamerkan sepatu-sepatu ajaib itu di depan hidungku, sengaja memanas-manasi, "Aku berjuang keras merebut ini dari tangan cewek sok cantik berkuncir kuda dan cewek pendek berbaju norak."

Shit. Aku tak boleh kalah.

"Wow! Aku akan lihat yang disana!" Yixing menunjuk ke sepatu yang haknya runcing berduri-duri mirip taring monster. Sebelum aku sempat berkata-kata, dia sudah menghilang dibalik kerumunan orang.

"Ada yang bisa saya bantu?" seorang pramuniaga berwajah blasteran datang menghampiri. Aku memandangi pramuniaga itu sesaat. Dia lebih cocok jadi model daripada cuma sekedar pelayan toko.

"Oh.. uh.. yaa.. aku mau sepatu. Sepatu… yang sangat bagus, paling bagus dan… paling berkarakter. Saking bagusnya sampai-sampai semua orang ingin menguburku hidup-hidup demi mendapatkan sepatu itu," aku meracau ngawur seperti habis menelan pil narkoba.

Pramuniaga itu sempat mengernyit heran, mungkin dia mengira aku agak-agak gila, tapi kemudian dia kembali ke wajah professional sambil tersenyum manis, "Kami punya yang begitu. Barangkali anda tertarik untuk melihat?"

Hah? Mereka punya? Kira-kira bagaimana bentuknya? Apa dilengkapi tanduk banteng?

Saat aku mengangguk, senyuman gadis pramuniaga itu makin lebar. "Mari saya tunjukkan. Disebelah sini."

Ternyata dia menggiringku ke sebuah ruangan terpisah di bagian belakang. Semakin kesini pengunjungnya semakin sedikit. Daritadi aku hanya melihat wanita-wanita sebayaku atau lebih tua mondar-mandir di area ini. Tidak ada lagi gadis-gadis kecil berisik berseragam sekolah yang mulutnya tidak pernah berhenti berteriak-teriak norak. Penampilan mereka semua lebih glamour, seperti nyonya-nyonya besar yang sudah biasa naik-turun mobil limusin. Sepatu-sepatu disini juga terkesan lebih mewah dan classy. Bentuknya masih unik, hanya saja ini 'unik' yang berbeda. Entahlah, sulit dijelaskan dengan kata-kata. Mungkin ini semacam ruang belanja khusus untuk tamu-tamu VVIP. Oh, sepertinya aku kenal wanita yang disana itu…

OMG! Apa dia Yoon Eun Hye?!

Sulit kupercaya… aku satu ruangan belanja dengan Yoon Eun Hye!

"Yang ini sepatu Joanne Stoker dari koleksi Light-up Shoes. Di Korea baru ada satu yang seperti ini."

Oh… Tu…han.

Aku terkesiap, nyaris kesulitan bicara. Keren. Sungguh keren! Simpel. Tidak ribet dan ajaib. Malah sangat elegan. Sepatu bot ankle hitam dengan heels yang terbuat dari kaca transparan. Jika dilihat dari samping, heelsnya akan tampak seperti miniatur gedung bertingkat yang mempunyai lima belas jendela. Aku bisa melihat di masing-masing 'jendela' memancarkan cahaya lampu warna-warni.

Haknya bercahaya!

"Ini koleksi Joanne dengan lampu LEDs di dalam hak laser-cut plexi. Warna-warni pelangi akan mengiringi perjalanan anda selama enam jam dan jika batreinya habis, ini bisa diisi ulang lewat sambungan USB di komputer."

Bisa disambungkan ke komputer?!

Luarrr biasa.

Aku membayangkan jalan-jalan sore di mall pakai sepatu laser ini terus berhenti di Coffe Lover, menyalakan laptop, kemudian mengeluarkan dua kabel, satu untuk mengecas hp, satu lagi untuk mengecas sepatu. Aku akan terkenal sebagai 'Gadis yang sepatunya bisa dicas'.

"Mau."

Pramuniaga itu berhenti mengoceh lalu menatapku, "Ya?"

Aku kembali menelan ludah, "Saya mau ini. Bungkus. Bungkus segera."

"Baik, anda bisa mengambilnya nanti di kasir nomor dua."

Begitu pramuniaga setengah bule itu menghilang dibalik pintu. Buru-buru aku melesat keluar ke kasir nomor dua. Aku tidak sabar ingin memboyong sepatu itu pulang. Kakak-kakakku pasti takjub dan langsung merengek kepada suami-suami mereka minta dibelikan juga. Yaaa kalau dipikir-pikir, sepatu bulu-bulu ayam Yixing terlihat payah sekali bila dibandingkan dengan sepatu laserku.

Ya, aku tidak sabar ingin—tunggu dulu…

TUNGGU DULU!

Berapa angka yang tertera disitu?

3,607,934.99

Tolong! Aku butuh napas buatan!

"Maaf, bukannya didiskon tujuh puluh persen, ya?" tanyaku berlagak cool.

Penjaga kasir menggeleng sambil tersenyum sopan, "Sayang sekali, diskonnya cuma berlaku untuk sepatu-sepatu di ruangan depan."

Well. Siapa yang butuh sepatu lampu LED yang bisa dicas? Aku tidak membutuhkan sepatu itu, bukan? Arghh! Aku benci terjebak dalam kondisi terjepit seperti ini. Tapi kalau ngotot tetap ingin beli, bisa-bisa aku hanya makan bubur bayi selama seminggu. Atau menggelandang di lorong-lorong kumuh yang sempit, mengais-ngais sampah demi sesuap nasi. Alternatif ketiga, mengajak Yixing berkomplot untuk merampok rumah Pak Siwon.

Ayolah, Sehun. Tinggal bilang tidak apa susahnya sih?

"Sebetulnya…" Aku menelan ludah dengan susah payah, "Sebetulnya…" Ya Tuhan, susah sekali mengatakannya. "Hari ini aku ambil yang sepatu keong warna peach saja." Pfiuh, finally!

Gadis penjaga kasirnya ramah, dia kelihatan tidak keberatan dan menyuruh pramuniaga tadi untuk mengembalian sepatu keren itu lalu menggantinya dengan sepatu yang pertama kali kulihat.

"Baiklah…" Gadis itu memencet kode di mesin kasir begitu sepatunya selesai dikemas dan dimasukkan dalam kantung, "Seashell shoe peach diskon tujuh puluh ya, jadi semuanya 244,350 won. Ada tambahan lain?"

Aku menggeleng patah-patah. Tabunganku sisa lima ratus ribu won. Satu sepatu saja cukup untuk hari ini.

"Mau pakai kartu atau cash?"

"Hmm, kartu."

Aku menandatangani bon, menerima tas sepatu dan berjalan gontai tanpa berniat melirik-lirik lagi ke pramuniaga setengah bule tadi. Merasa tengsin berat.

Dalam hati aku berjanji tidak akan membeli apapun lagi setelah ini.

Oke, kecuali Curl Fix Mascara Remover dan Honey Cera Cream dari Etude.

Aku benar-benar sangat membutuhkan dua benda itu. Serius.

"Hai, tumben cuma beli satu?" cibir Yixing sambil melirik kantong sepatu yang kupegang.

Aku melirik empat kantung sepatu di tangan Yixing. Sial. Ingin rasanya kutikam perempuan ini dengan hak sepatu lalu kubawa kabur belanjaannya.

Jangan ah. Aku tidak sehina itu sampai harus membunuh teman sendiri demi sepatu-sepatu bodoh.

"Bukan apa-apa. Hanya sedang kepingin memulai hidup hemat," jawabku mencoba bersikap ceria.

Yixing terkikik meledekku, "Jadi hidup hematmu dimulai setelah sepuluh kantung belanjaan? Fantastis," sindirnya.

Ups. Iya ya. Aku tidak sadar daritadi bawa-bawa sepuluh kantung belanjaan. Tapi… sepuluh? Kok bisa? Memangnya tadi aku belanja apa saja?

"Aku baru terima sms dari Jinyoung, katanya mereka lagi di bar dekat-dekat sini."

Aku tersenyum lesu, "Oke. Kita kesana."

Aneh sekali, untuk pertama kalinya aku berjalan menyusuri deretan butik-butik mewah dengan kepala tertunduk. Tanpa berniat mampir. Sama sekali tidak berniat masuk atau tergoda dengan apa yang dipajang di etalase. Hebat, kan?

.

.

.

.

Setelah dari Etude, kami langsung menuju ke Bar Fallout Hive yang letaknya berdampingan dengan tempat karaoke. Dengan langkah tergopoh-gopoh aku menggerakkan kaki-kakiku melintasi aspal jalanan. Berkelit sedikit menghindari genangan air hujan dan nyaris tersungkur di depan pintu masuk jika Security Guard-nya tidak keburu menahan tanganku. Karena aku bukan orang pelit, aku memberi sedikit tips untuk pria berbadan besar itu. Tidak kusangka-sangka bar jelek begini ada penjaganya segala. Aku juga tidak habis pikir Baekhyun akan mentraktir kami di tempat seperti ini. Katanya Yixing sih, di bar ini menyediakan minuman anggur enak yang asli tapi terjangkau kocek.

Hmm… terserah. Lagipula aku bukan fans minuman-minuman macam itu. Beginilah resiko punya teman-teman nongkrong pemabuk. Untungnya aku tidak gampang terpengaruh.

Lampu temaram dan volume musik yang keras langsung menyambutku begitu aku melangkah masuk kedalam bar. Mataku mencari diantara puluhan kepala yang tampak asyik dengan urusan mereka masing-masing. Aku melambaikan tangan riang sambil tersenyum lebar ketika melihat tiga wajah teman-temanku menyeringai di pojokan sana. Segera saja aku menghampiri mereka. Agak merasa terganggu dengan tatapan orang-orang, seakan cewek dengan sebelas kantong belanjaan di bar adalah tontonan terlucu sepanjang masa.

"Hei, kapan badut itu masuk?" Baekhyun terkikik geli sambil menunjukku.

Aku berhenti mendadak, "Apa?"

Jinyoung terkekeh keras seperti ada ribuan orang yang menggelitiki perutnya, "Ya, wajahmu mengingatkanku pada sebuah kutil yang telah kuhilangkan."

Aku hampir saja menggetok kepala mereka pakai gelas ketika kulihat berlusin-lusin botol bir telah menumpuk diatas meja. Astaga. Mereka mabuk berat. Pantas saja omongannya jadi kacau.

Tawa Baekhyun terdengar lebih melengking daripada biasanya, "Jika kami hitung keriput-keriput di wajahmu, apa kau akan mentraktir kami satu botol lagi?"

Keriput apa? Aku tidak punya keriput! Tenang. Tenang. Tenanglah, Sehun. Mereka tidak sungguh-sungguh menghina, mereka cuma mabuk.

"Sudah cukup teman-teman," aku memasang wajah masam sambil bergabung di salah satu sofa.

"Becanda, darling. Jangan cemberut dong. Nanti kecantikan alamimu rusak lho," Baekhyun bergeser mendekat lalu merangkulku. Tapi aku terlanjur kesal dan hanya memutar bola mata sambil mendengus keras. Sementara Jinyoung dan Yixing masih saja tertawa-tawa gila. Aku tahu mereka tipe-tipe wanita yang doyan minum, tapi tak kusangka mereka akan minum sebanyak ini. Gila. Jadi ini 'Sweet 28 spektakuler for Sehun' yang dimaksud Baekhyun? Aku tidak melihat dimana letak 'spektakulernya'. Ayolah! Mereka hanya duduk-duduk teler di bar kecil yang hampir rubuh. Lebih pantas disebut gudang keramat daripada bar.

"Terus dimana Gongchan dan Daehyun?" aku menoleh kesegela arah, baru sadar kalau cowok-cowok itu tidak ada.

Baekhyun mengibaskan tangan tak peduli, "Ah! Sudah pulang duluan. Persetan dengan mereka."

Jinyoung mengangguk setuju, "Ya, persetan dengan mereka," ulangnya, "Cukup kita-kita saja. Girls only. No boys no cry."

Ha? Apa yang terjadi? Mereka berantem atau apa?

Aku ingin sekali bertanya tapi Yixing sudah lebih dulu buka mulut, dia mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. "Bersulang untuk Sehun! Wanita tua yang selalu kesepian."

Sekarang aku betul-betul akan menikam Yixing pakai hak sepatu. Berani sekali dia!?

Jinyoung terkikik lagi kemudian ikut mengangkat gelasnya ke udara, "Bersulang!"

"Bersulang!" Baekhyun juga nyengir sambil mengangkat gelasnya.

Aku mengernyit saat tiga orang itu kompak menatapku, "Apa?"

"Kau tidak ikutan?" tanya Jinyoung.

Aku meringis, "No, thanks. Kalian tahu aku tidak minum." tolakku.

Yixing menggeleng dengan muka polos, "Tidak. Aku tidak tahu."

Baekhyun ikut menggeleng. "Ya, aku juga. Sejak kapan?"

Sial! Mereka menjebakku!

Jinyoung mengoper satu botol ke Baekhyun, "Ini khusus buat Sehun. Siapkan gelasnya, Baekki."

Baekhyun menuangkan isi botol kedalam gelas di hadapanku sebelum aku sempat protes, "Nikmati dan jangan banyak tanya." tukasnya setengah mengancam.

Sudah terlanjur. Kalau menolak itu artinya tidak sopan dan Baekhyun akan tersinggung. Baekhyun dalam keadaan sadar saja sudah cukup mengerikan. Aku tidak ingin Baekhyun versi teler mengamuk lalu mencakari wajahku.

Aku pasrah menempelkan gelasku diantara tiga gelas lainnya, "Bersulang." ucapku letih, lesu dan loyo. Kukira Baekhyun akan mentraktirku di sebuah restoran terkenal atau apa.

Jujur aku kurang suka minuman keras. Dan tidak akan pernah masuk dalam daftar minuman yang akan kuminum sepanjang hari, atau bahkan selamanya. Bila disuruh memilih, lebih baik aku minum berkaleng-kaleng jus wortel. Sebenarnya aku menghindari minuma keras bukan tanpa alasan, sepupuku meninggal dunia tahun lalu karena overdosis minuman keras. Plus, dia meninggal dengan ukuran tubuh luar biasa. Maksudku, luar biasa berlemak. Ya, dia memang lebih gemuk dari siapapun. Beratnya saja 250 kg. Jika kami main berdua, orang-orang selalu menjuluki kami pasangan angka sepuluh.

Mulutku mengecap-ngecap seperti kambing lalu melotot saat menyadari cairan kutenggak bukan anggur putih. Aku bukan penggemar berat minuman keras. Tapi aku tidak bodoh. Aku pernah minum-minum beberapa kali, namun bukan pecandu seperti Baekhyun atau Jinyoung yang menganggap minuman keras adalah lifestyle alias gaya hidup.

"Ini vodka?"

Baekhyun mengamati botol di tangannya lalu tersenyum tanpa beban, "Sori, kami kehabisan anggur, Miss."

Damn! Aku agak tidak kuat dengan vodka. Cukup setengah gelas dan seluruh dunia akan tampak berputar-putar di depan mataku.

"Sudah, nikmati saja. Baekhyun yang traktir kok," tukas Jinyoung menepuk-nepuk pundakku.

Masa bodoh. Kini aku merasa lebih dari sekedar melayang. Kombinasiminuman keras, stress dan kantuk menimbulkan efek luar biasa. Aku malah ketagihan dan tidak bisa berhenti minum. Aku membutuhkan sesuatu untuk menenangkan saraf-sarafku.

Sekarang aku terlihat seperti boneka hidup yang digerakkan oleh ilmu hitam. Aku tidak sadar apa saja yang telah kulakukan dan siapa oknum yang barusan mencolek bokong besarku. Aku bahkan tidak marah atau balas memaki orang brengsek itu. Ajaibnya aku malah tertawa. Hei, aku tertawa! Menertawakan tindak pelecehan seksual yang dilakukan orang kepadaku. Benar-benar tidak bisa dipercaya! Tau-tau saja aku sudah bergabung dengan pemabuk-pemabuk lainnya dan mempraktekkan tarian-tarian aneh yang hanya bisa dilakukan oleh seekor Gorilla.

.

.

.

.

"Hoekkk!" disinilah aku sekarang. Berusaha mengotori lubang kloset dengan cairan menjijikkan dari mulut. Ini betul-betul parah! Aku belum pernah merasa semual ini.

"Harusnya kalian tidak memaksaku minum." aku menekan tombol flush sambil menoleh. Yixing berdiri di belakang sana memperhatikanku, dia melipat kedua tangan di dada sambil menyandarkan punggung di meja wastafel.

"I know it, baby. But you had so much fun back there. Aku takjub kau bisa melakukan tarian ular keseleo. Great job."

Aku mendengus. Bisakah dia menunjukkan sedikit rasa simpati?

"Ya, bagaimana jika kalian beri aku sebotol lagi? Mungkin aku bisa lompat dari gedung ke gedung dengan satu kaki."

Yixing tertawa pelan sambil memegangi perut, "Kau lucu, Hunnie. Lucu alami."

Tadi Baekhyun bilang aku cantik alami, sekarang Yixing bilang aku lucu alami, "Thanks, kupikir aku hanya maniak belanja yang sinting alami,"

Yixing masih terkikik, "That's why I loved being friend with you." Dia memang pernah tinggal lama di Boston, jadi bukan keajaiban jika Yixing fasih berbahasa inggris. Bahkan kami sudah terbiasa mendengarnya berbicara dalam tiga bahasa: Cina, Korea, dan Inggris. Tapi Yixing dalam versi mabuk sering mencampur ketiga-tiganya sekaligus, "You're different, Hun."

Aku hanya memutar bola mata. Tidak tertarik dengan kalimat pujian ambigunya.

"Hei, coba lihat ini! Mataku tampak seperti zombie! This shit faded with no reason!" Yixing terperanjat kaget saat bercermin dan menemukan eyeliner hitamnya meluber di sekitar mata, "Huàidàn! Yǎnxiàn piányí! Wǒ mǎile méi yòng! Wǒ huì dǎ diànzhǔ huàzhuāngpǐn méi nà! (sialan! eyeliner murahan! sia-sia kubeli! akan kupukul penjaga toko kosmetik menor itu!)" umpat Yixing dalam bahasa alien. Tuh kan, sudah kubilang dia akan berbicara dalam tiga bahasa.

Aku menoleh dan hanya tersenyum tipis, terlalu mual untuk menertawakan wajah kacau Yixing, "Pasti tadi karena kau tidak sengaja menggaruk matamu."

Yixing masih mengumpat sambil menghapus eyeliner berantakannya dengan tissue, "I swear to God! Wǒ xīwàng zhè jiā diàn kuài pòchǎn (semoga toko itu cepat bangkrut)! They fool me! Para penipu sialan itu!"

Well, aku memang tidak mengerti bahasa cinanya, tapi pasti artinya sangat buruk, "You know what? Let's get out of here." Aku bersusah payah menumpukan kedua tanganku pada dudukan kloset agar kaki-kakiku dapat berpijak dengan benar di lantai.

"Sini." Yixing menghampiriku lalu membantuku berdiri, "Damn! Kau berat sekali sih! Kurangi porsi makanmu, idiot!"

Aw, that's hurt. Aku berusaha memaklumi karena orang mabuk biasanya akan mudah terpancing emosi karena hal-hal sepele. Aku juga mabuk sih. Meski tidak pernah jadi sebar-bar Yixing, "Maaf. Nafsu makanku agak banyak akhir-akhir ini."

"Tunggu dulu, akan kupanggil Baekki dan Jinnie."

DUKK! "Aduh! HEEII!" aku terhempas jatuh dan kepalaku terbentur ubin lantai karena Yixing seenak jidatnya melepaskan rangkulan tanpa rasa belas kasihan. Sebelum aku sempat mengeluarkan 'uneg-uneg', Yixing keburu melesat keluar dari toilet. Meninggalkan aku sendirian dalam posisi terkapar mengenaskan di lantai.

Ck! Apa iya aku seberat itu? Dasar Yixing lebai.

Sambil mengerang kesakitan, aku berjuang mati-matian untuk bangkit dari lantai, berusaha meraih pinggiran wastafel sebagai pegangan. Sepuluh menit kemudian, setelah terpeleset berkali-kali, akhirnya aku berhasil berdiri diatas kedua kakiku. Dengan langkah sempoyongan aku menghampiri pintu keluar. Memutar kenop pintu dan melongokkan kepalaku sedikit untuk mengintip keadaan selasar. Sepi. Tidak ada orang sama sekali. Ketika aku menoleh ke kanan, ada pasangan muda-mudi mesum yang sedang asik bercumbu panas di tembok pojokan sana. Aku mencoba mengabaikan mereka dan melangkah keluar dari balik pintu dengan sangat berhati-hati. Jangan sampai pasangan mesra itu terganggu oleh…

"Ouch!" Seseorang menabrak punggungku dari belakang. Aku menoleh cepat dan malah tercengang melihat makhluk yang paling tidak ingin kutemui di muka bumi ini.

KAI?!

Laki-laki itu juga sama-sama terperangah kaget, "Oh, maaf, tadi aku tidak melihatmu."

Tidak melihat? Dia ini menghina atau agak buta?

Tapi… tapi… kenapa malam ini Kai terlihat lebih tampan dari malam kemarin? Apa yang salah dengan mataku? Oh, pasti karena efek minuman keras. Pikiranku jadi kacau dan…

Perutku mual-mual. Aku benar-benar ingin… ummph!

Kai menggerakkan telapak tangannya di depan wajahku, "Hei? Are you okay? Sehun-ssi?"

Aku terus menunduk sambil membekap mulutku.

"Sehun-ssi?"

Ukh! Aku tidak tahan lagi!

"Hueekkk!" aku sukses 'menghiasi' kemeja Kai dengan muntahanku yang kental dan berwarna kehijauan. Sebelum benar-benar ambruk, samar-samar aku sempat melihat ekspresi horror Kai saat memelototi kemejanya. Lalu semua tampak gelap gulita dan aku tidak ingat apa-apa lagi.

.

.

.

.

Kai membaringkan tubuh Sehun diatas ranjang berukuran King size. Mengamati lekat-lekat wajah polos bak malaikat yang sedang tertidur pulas itu. Saking terlalu menghayati, Kai sampai tidak sadar dia belum mandi dan ganti baju. Badannya masih bau muntah orang.

Damn! Cantik-cantik muntahnya bau sampah!

Kai mengumpat tanpa suara dan merenggut asal handuk yang dia pakai tadi pagi. Bergegas masuk dalam kamar mandi. Setelah selesai mandi, lubang hidung Kai kembang kempis mengendus-endus baunya sendiri.

Yaikss! Masih ada! Barangkali dia harus menyabuni badannya sebanyak lima kali agar bau menyengat ini bisa hilang.

Kai pun masuk lagi dan melakukan ritual mandi ulang sebanyak lima kali.

Gadis yang sangat menyusahkan. Entah apa yang dia pikirkan tadi. Langsung meng-iyakan saja waktu Kris seenak jidatnya menyuruh dia untuk 'mengawasi' Sehun. Terkadang pria keturunan angry bird itu bisa kelewat posesif dan over-protektif terhadap sang adik ipar kesayangan. Kai sungguh tidak habis pikir, yang istrinya itu Chanyeol apa Sehun sih?

Kai meraih handuk di gantungan. Kalau tadi Kai bau sampah, sekarang dia bau greentea. Hanya ini yang bisa dia pakai, sabun mandi biasa yang sama sekali tidak menarik. Secara dia tidak mungkin pakai shower gel the body shop yang beraroma stroberi, shampoo yang beraroma stroberi dan body butter yang juga beraroma stroberi.

Dasar cewek. Kai mencibir dalam hati.

Dia mengedarkan pandangannya berkeliling, semua yang ada disini produk-produk wanita mahal. Kai bisa menebak harganya yang selangit hanya dengan melihat labelnya sekilas. The Body Shop, The Face Shop, L'occitane, Oriflame, dan… ? Apa itu ? Bibir Kai bergerak membaca tulisan di kemasannya.

Pantyliner herbal… 11,469 won?! Dia menghabiskan sebelas ribu won lebih cuma untuk beli pembalut?!

Astaga. Benar-benar gadis yang merepotkan! Dugaannya seratus persen terbukti. Park Sehun adalah cewek manja yang sangat boros juga menyusahkan. Tak heran kakak-kakaknya begitu over-protektif.

Kai keluar dari kamar mandi sambil geleng-geleng kepala dan berdecak-decak.

Tadi Kris sempat meminjami dia pakaian lagi sebelum mengantar istri dan ketiga gadis-gadis lainnya pulang. Sebuah kaos garis-garis berkerah yang sangat apik. Kris bilang ini baju tidurnya. Di mata Kai, ini baju yang biasa digunakan kalau mau berpergian jauh.

Terkadang Kai tidak mengerti jalan pikiran orang-orang kaya. Bukan berarti Kai orang miskin sih, dia itu yaaa… bisa dibilang… penganut jalan hidup sederhana. Idolanya saja Thomas Alva Edison dan Mark Zuckerberg yang setiap hari selalu pakai kaos abu-abu yang sama. Waktu bulan madu pun dia malah makan di McDonald alih-alih di restoran mewah. Mark yang makan di McDonald, bukan Kai.

Kai tidak miskin. Bagaimana mungkin ahli geologi yang sering bekerja sama dengan perusahaan raksasa bisa kekurangan duit? Come on! Uang simpanannya sangat banyak. Meski tidak sekaya Kris, tapi Kai bukan orang susah. Dia hanya tidak pernah beli pesawat jet pribadi atau semacamnya. Tidak pernah. Sabun mandinya saja berupa potongan-potongan kecil sabun mandi lama yang dia gabungkan hingga membentuk satu gumpalan besar. Kai menyimpan karung-karung berisi gandum di dapurnya dan sarapan sup gandum hampir setiap hari. Dia pernah memberi kakak sepupunya selimut bayi yang terbuat dari kain bekas lusuh dan juga boks bayi bikinan sendiri yang terbuat dari keranjang plastik. Itu baru namanya daur ulang. Lebih ramah lingkungan. Daripada membeli barang-barang mahal yang cuma menang merk tapi cepat rusak kan percuma. Sayang duitnya.

Menghasilkan sesuatu dari barang-barang yang sudah ada dan merubahnya menjadi barang lain yang lebih bermanfaat. Itulah yang dinamakan pola pikir modern. Berkreasi. Berpikir kreatif. Tidak seperti orang-orang yang hidupnya serba instan. Mau makan pun instan, tidak ingin repot-repot masak karena alasan sibuk. Lihat nenek moyang kita jaman dulu, mana ada kasusnya mereka meninggal karena penyakit hipertensi? Atau asma yang katanya penyakit orang kaya, mana ada? Di jaman sekaranglah segala jenis macam penyakit aneh bermunculan. Namanya pun keren-keren. Malah lebih keren nama penyakitnya daripada nama orang yang sakit.

Orang zaman dahulu jika ingin keluar rumah banyak dari mereka yang berjalan kaki atau menggunakan sepeda butut sejauh apapun tempat yang ingin mereka tuju. Nah, justru dengan berjalan kakilah kesehatan mereka lebih terjaga. Makanya Kai lebih memilih tempat tinggal yang tidak terlalu jauh dari kantor, supaya dia bisa berjalan kaki atau menaiki sepeda dari rumah. Bahkan orang-orang hebat seperti Thomas Alva Edison pernah menjalani hidup susah dengan cara berjualan Koran bekas. Kai memang tidak pernah berjualan Koran bekas, tapi dia banyak menghadiri kegiatan-kegiatan amal. Kegiatan amal sungguhan, bukan Charity event yang dihadiri sekelompok orang-orang berpakaian mewah dan minum cocktail dari gelas wine mahal. Bukannya bermaksud sombong, tapi Kai adalah donatur yang menyumbang paling banyak ke sebuah koperasi kecil milik para pekerja wanita dan anak-anak kurang mampu di Guatemala sana.

Orang-orang seperti Sehun tidak akan pernah mengerti hal-hal seperti itu. Tidak akan. Sudah ketahuan dari sifatnya yang keras. Entah apa yang dipikirkan Kris. Apa dia pikir perjodohan konyol ini akan berhasil? Okelah, Sehun cantik. Okelah, bodinya aduhai seperti Miranda Kerr. Okelah, payudaranya indah seperti milik Scarlett Johansson. Okelah bokongnya montok seperti milik Hyorin Sistar…

SIALAN! Dia cantik sekali!

Dan sejak kapan Kai jadi peka terhadap bagian-bagian tubuh Sehun?

Kai mondar-mandir gelisah. Tiba-tiba kantuknya hilang dan libidonya meningkat. Dia membayangkan Sehun dalam keadaan setengah bugil, merangkak pelan-pelan dengan gaya sensual sambil menjilati bibir, sementara dia duduk pasrah di kursi kayu, menunggu… stop, stop, stop! Apa sih yang dia pikirkan?! Trims, Otak.

Capek mondar-mandir, Kai duduk di sofa yang posisinya paling jauh dari tempat tidur. Mengamati Sehun seolah-olah cewek itu akan melompat bangun dan langsung melucuti pakaiannya satu-per…ARGHHH! Sudah cukup, Otak!

Kai bangkit dari sofa kemudian berjalan mondar-mandir lagi, kali ini dari lemari ke jendela, jendela ke lemari, begitu seterusnya. Dia melakukan itu sambil mengibas-ngibaskan kerah baju. Aneh, kenapa tiba-tiba ruangan ini jadi panas ya?

"Enghhh…" Sehun menggeliat dan bergerak-gerak gelisah di kasur. Kedua tangannya terentang lebar-lebar dan mulutnya terbuka lebar-lebar.

Waduh! Bahaya. Jangan sampai gadis ini melihat dia.

Bagai tentara di medan perang yang tak ingin kehadirannya diketahui pihak musuh, Kai cepat-cepat rebah di karpet dalam posisi tengkurap. Untung saja dia bergerak cepat, karena tepat setelah dia menempel di karpet, Sehun bangkit terduduk dengan mata setengah terpejam. Menggaruk-garuk kepalanya sebentar, menoleh ke kiri dan ke kanan, kemudian membuka kancing kemeja pinknya.

What? Kai melotot dramatis. Apa dia benar-benar akan melucuti pakaiannya satu-persatu?

Yeaaaah! Mimpi jadi kenyataan!

Ups. Fokus. Tenang. Jangan bersuara dan… nikmati.

Kai memanjangkan lehernya, melongok lebih tinggi lagi. Diatas ranjang sana, Sehun telah selesai membuka semua kancingnya dan melempar kemeja pink itu hingga mendarat di lantai, disamping kaki kiri Kai.

Wow. Payudara Sehun bahkan lebih indah dari milik Scarlett dan lebih spektakuler dari milik Kate Upton. Dibungkus bra hitam transparan motif floral yang mempertontonkan sedikit puting kembar berwarna pink. Bra super ketat membuat melon-melon montok itu seperti terhimpit ke tengah dan seakan-akan bisa meledak kapan saja.

Oh, tenanglah selangkanganku yang berdenyut…

Aksi live stripping Sehun tidak berhenti sampai disitu, dia mulai turun dari ranjang—masih dengan mata setengah terpejam—berdiri diatas kedua kaki-kaki jenjangnya dan mulai menarik resleting belakang rok pensilnya. Kai menelan ludah melihat pertahanan terakhir Sehun juga terlepas dari tubuh dan ikut bergabung di lantai bersama kemeja pink tadi.

Coba lihat itu… celana dalam renda warna hitam yang juga tembus pandang… sangat… transparan…

Kulit mulus, lekuk punggung sempurna, pantat penuh, paha jenjang, perut rata, payudara… fuck. Sehun seperti Barbie versi dunia nyata dan Kai rela bayar berapapun demi bisa menempel di karpet ini terus sepanjang malam. Persetan Thomas Alva Edison atau siapapun.

Saat Sehun menghadap ke depan, Kai baru sadar ada benda berkilauan yang menancap di pusar gadis itu. Bentuknya seperti kupu-kupu kecil. Bukankah itu… tindik? Gadis ini juga menindik pusarnya?! Wow. Amazing. Setelah itu apa? Tattoo di kemaluan? Tapi tadi Kai tidak melihat apapun dibalik kain-kain tembus pandang itu. Tidak ada tattoo. Hanya…

Enough! Kai merasa dia harus cepat-cepat keluar dari sini sebelum kewarasannya hilang dan dia menerkam anak gadis orang yang sedang dalam kondisi tak berdaya.

Begitu Sehun melompat kembali ke atas ranjang dan menarik selimut sampai sebatas leher, Kai pelan-pelan berdiri dari karpet. Ekspresinya waspada, takut Sehun bangun lagi kemudian melepas bra-nya juga. Entah apa yang akan dilakukan Kai jika itu sampai terjadi. Hei, biar begini-begini dia 'kan cuma laki-laki normal biasa, oke?

Kai berjinjit pelan ke pintu. Pelan-pelan. Sangat pelan, sambil sesekali menoleh kebelakang. Pelan… pelan… pelan…

Tanpa sengaja Kai menyenggol vas bunga. Refleks dia tangkap sebelum vas sialan itu terjun bebas ke lantai dan menimbulkan kegemparan. Nyaris! Nyaris saja dia mendekam dibalik jeruji besi.

Perlahan Kai meletakkan vas bunga kembali keatas rak lemari buku, bersama dengan kunci mobil dan kartu akses kamar. Sip. Sekarang tinggal buka pint—

"Siapa itu?"

Crap! Tamatlah riwayatku…

"Siapa itu?!" nada suara Sehun lebih tinggi dari yang tadi.

Jantung Kai berdebar keras. Masa dia ketahuan sih? Payah.

"Emm…" Kai gelagapan, terpaku di tempat, tidak berani menoleh kebelakang, "Aku…" Ayo, otak, bekerjalah! "Aku… cleaning service, Nyonya." Oke, sangat brilian. Pura-pura jadi cleaning service. Tidak bakal ada tamu-tamu hotel yang berani marah pada cleaning service, kan? Mereka bebas masuk kapan saja dan berjasa membersihkan kamar orang tanpa ketahuan. Datang bagai ninja, pulang bagai ninja.

"Cleaning service?"

"Ya… saya petugas cleaning service. Tadi… engg… kakak anda datang dan menyuruh saya membersihkan kamar mandi."

Hening sesaat.

"Oh." Cuma itu yang didengar Kai, menyusul kemudian suara kasak-kusuk seperti seprai kasur dan selimut yang saling bergesekan.

Hening lagi.

"Nyonya? Nyonya?"

Sunyi. Tidak ada jawaban.

"Nyonya? Apa saya sudah bisa pulang?"

Masih tidak ada respon.

Kai memberanikan diri menoleh. Yes! Gadis itu sudah tidur. Aman! Buru-buru Kai menyambar tas dan kemeja kotor milik Kris lalu kabur secepat badai.

.

.

.

.

Aku lelah sekali. Setelah rapat-rapat boring dengan Event Directur, Venue Coordinator, Talent Coordinator, Sound System Coordinator, Public Facility Coordinator, para kru dan penanggung jawab di bagian teknis lainnya untuk tiga acara pernikahan yang akan diadakan minggu depan, aku langsung menghubungi Minseok untuk janji temu di Starbucks terdekat.

Minseok menyanggupi dan dia sendirilah yang langsung menjemputku begitu jam makan siang. Dengan berat hati aku meninggalkan mobilku di basement demi naik mobil merah antik beratap terbuka punya calon suaminya.

Sesampainya di Starbucks, rambutku luar biasa berantakan dan aku tidak ada bedanya dengan medusa. Resiko punya rambut panjang. Mungkin suatu hari nanti aku akan memangkas pendek rambutku. Yah, tidak udah terlalu pendek. Cukup sebahu saja.

"Apa kau bawa sepatu pesananku?" tanya Minseok to the point. Padahal kami belum pesan apa-apa. Aku haus sekali.

"Santai saja, eonni. Aku bawa kok. Sebaiknya kita pesan minuman dulu."

Minseok mengendikkan bahu singkat, "Terserah. Aku mau signature hot chocolate."

Aku berdiri dari kursi dan mendatangi counter pemesanan. Antri sebentar dan memesan dua signature hot chocolate. Aku juga suka minum yang itu. Menu favorit kedua setelah Chai tea.

Sambil menunggu giliran namaku dipanggil, kami sempat mengobrol-ngobrol singkat tentang persiapan pernikahan Minseok yang tinggal sebulan lagi dan sebuah situs berbelanja online bernama 'Lyst' yang katanya memajang produk-produk desainer terkenal dengan potongan harga fantastis. Tapi kita harus rajin-rajin online agar tidak ketinggalan info.

"Situs itu random, Sehun-ssi. Hari ini kau menemukan blus lilit cantik dengan diskon 65%, besoknya gaun itu sudah sold out dan kau akan gigit jari karena tidak langsung membelinya kemarin," tukas Minseok terlihat bersemangat. Obrolanku selalu nyambung dengan orang-orang seperti dia yang memiliki selera fashion yang tinggi dan melek mode. Jangan salah paham dulu. Aku tidak pernah pilih-pilih teman atau menetapkan standar teman-temanku harus orang kaya berpakaian mewah. Tidak seperti itu. Tentu saja aku berteman dengan semua orang. Tapi setiap wanita pasti punya friendmate untuk berbagi hal-hal yang sama-sama kita sukai.

Minseok eonni ternyata sangat supel sehingga kami tidak pernah mati kebosanan karena dia selalu punya bahan obrolan baru. Dia juga memberi tahu tentang website yang selalu mengirimkan informasi tentang acara-acara obral di seluruh pusat perbelanjaan Seoul. Asik, asik. Aku jadi tidak perlu repot-repot lagi bertanya kesana-kemari, cukup buka ponsel dan online.

Barista tidak memanggil namaku untuk mengambil pesanan sendiri di counter, malah menyuruh seorang waitress mengantarkannya ke meja. Ya sudah, malah lebih bagus. Soalnya aku sedang malas jalan.

Minseok eonni menyesap coklat panasnya, "Jadi…" dia meletakkan cangkir kembali, "Kau tidak salah beli, kan?"

Aku tertawa kecil, "Tidak mungkinlah, eonni. Kau meremehkan aku ya? Aku sudah beli barang yang tepat dan aku jamin sebentar lagi kau tidak bisa bicara setelah melihat…INI." aku meletakkan kantong besar berwarna pink khas Jimmy Choo diatas meja.

Minseok eonni bukan cuma tidak bisa bicara, tapi dia juga terserang stroke mendadak. Apalagi setelah dia merogoh kedalam kantong dan membuka tutup kotak sepatu, wanita berpipi chubby itu langsung sekarat. "Kau… kau… KAU MENDAPATKANNYA!"

Seluruh kepala menoleh kearah kami.

"Pstt… kecilkan suaramu, eonni!" desisku sambil menempelkan telunjuk di bibir.

Minseok eonni spontan membekap mulutnya, wajahnya merona karena malu. "Ups! Maaf. Habis aku terlalu senang. Duh, bagaimana ya…" dia menatapku terharu bercampur speechless, kedua tangannya menempel di dada. "Hun… ini benar-benar… aku merasa sangat terhormat. Tidak sia-sia aku merelakan sepatu Gianvitto Rossi-ku."

Aku terkekeh melihat reaksinya yang berlebihan. "Sama-sama, eonni. Senang bisa membantu."

Sandal fedora Jimmy Choo incaran Minseok eonni memang sangat bagus, bisa dikenakan untuk segala musim. Warna dasarnya krem dan bentuknya terbuka, sangat cocok untuk cuaca yang lebih hangat. Ada jumbai-jumbai bersusun dengan warna hitam-merah-emas-hitam di bagian depan, benar-benar eye-catching deh pokoknya. Haknya tidak terlalu tinggi, cuma 4,75 inci. Bisa dipadankan dengan celana pendek untuk musim panas, dan legging kulit ketika musim dingin tiba.

Terus terang aku tidak menyesal beli sandal fedora Jimmy Choo, harga aslinya 1,234,427.25 juta won tapi karena kebetulan sedang ada diskon khusus menjelang hari raya, jadi sepatunya turun setengah harga. Benar-benar tidak menyesal kok. Sumpah! Aku pernah melihat harga sepatu bot itu di majalah Vogue dan harganya jauh lebih mahal! 1,670 dolar atau setara dengan 1,963,327.15 juta won. Satu catatan lagi, sepatu-sepatu Gianvito Rossi masih jadi barang langka di Korea.

"Waah… bagusnya! Aku suka. Sudah kuduga ini akan terlihat sempurna." Minseok eonni berputar-putar di tempat sambil mematut dirinya di kaca jendela besar di samping meja kami. Dia jadi pusat perhatian. Dalam sekejap separuh pengunjung wanita disini tampak seperti lesbian yang begitu tergila-gila pada kaki.

Tak bisa kupungkiri sepatu itu memang bagus sekali di kaki Minseok eonni. Tungkai kakinya yang pendek jadi kelihatan jenjang dan berkilauan.

Aaah! Harusnya aku beli dua.

"Sehun, bagaimana menurutmu?" Minseok eonni berpose ala model catwalk di depanku.

Aku mengangguk-angguk, berusaha terlihat antusias. "Iya. Bagus banget. Nah sekarang, mana sepatu bot koboi pesananku?"

Bukannya duduk manis dan menurut, Minseok eonni malah berputar-putar lagi, "Sabar dulu dong…"

Ya ampun. Sampai kapan? Aku tidak sedang dikerjai kan?!

Tiba-tiba Minseok eonni berhenti berputar, raut wajahnya berganti serius. "Oh iya, aku ingin mengakui sesuatu."

Aku juga tak kalah serius, "Ada apa?"

"Sepatu bot koboinya ketinggalan. Aku lupa bawa. Ambil sendiri ya di rumah."

Tatapanku sebelas dua belas dengan boneka pembunuh di film SAW.

Minseok eonni tertawa terbahak-bahak sambil mengangkat kedua tangannya, "Bercanda, becanda. Ada kok di bagasi mobil, tunggu sebentar ya, biar kuambilkan dulu."

Begitu Minseok eonni berjalan pergi, aku menyesap signature coklat-ku yang belum tersentuh sama sekali.

"Sehun?"

Aku tersedak coklat panas dan mendapati diriku berhadapan dengan wajah yang sepertinya kukenal.

Dia… dia…

"Tao?!" seruku akhirnya, benar-benar kaget bisa bertemu Tao siang-siang bolong begini. Di Starbucks pula. Apa yang dia lakukan di Starbucks? Bukankah harusnya dia sedang di Cina sana?

"Hai, senang bertemu lagi. Apa kabar?" tanyanya dengan senyum mereka seperti biasa. Lingkar-lingkar hitam di bawah matanya masih ada. Sangat ciri khas Tao. Kalau dilihat baik-baik, cowok itu sudah banyak mengalami transformasi. Dari bayi kepompong jadi pangeran kupu-kupu. Bahkan—harus kuakui—Tao terlihat sangat cool dan tampan. Gaya rambutnya berubah total dan dia memakai kemeja kotak-kotak dan celana jeans Lee yang keren. Dari atas sampai bawah terlihat sangat matching. Tanpa cela sama sekali. Lengan ototnya juga besar. Sungguh… macho.

Demi Tuhan… sejak kapan Tao jadi sekeren ini? Dia bukan bocah ingusan culun lagi yang hobinya main mahyong depan rumah.

Aduh, apa yang terjadi? Ini tidak beres. Harusnya Tao jongkok-jongkok di rumah sambil main mahyong, bukannya berkeliaran di daerah pertokoan elit dan berpenampilan bagus!

"Baik," jawabku tetap berlagak kalem, "Kau sendiri?"

Tao melempar senyum penuh arti. Aku tidak tahu apa artinya, tapi yang jelas agak beda dari senyumnya yang tadi. Apa maksudnya sih? "Ya, sangat baik. Tidak pernah merasa sebaik ini."

Aku pura-pura polos, "Kau baru pulang dari Qingdao?"

Tao menggeleng, "Sebenarnya sudah seminggu lalu aku tiba di Korea. Jiyeon ingin menikah di kampung halamannya dan kami sedang dalam persiapan. Yaa, kau tahu sendirilah." Aku mendengar ada nada bangga luar biasa dalam ucapan Tao. Gawat. Jangan bilang dia masih mengira aku naksir padanya?

Seorang gadis datang terseok-seok di belakang Tao sambil menenteng sekitar dua puluh kantung belanjaan di tangannya.

"Oppa, kau curang ah! Jalan duluan tanpa berniat membantuku," keluh gadis itu, bibirnya mengerucut manja. Rasa iri bercampur jengkel tiba-tiba menjalar naik.

Oppa?

Okey… bukan pertanda bagus. Jadi ini yang namanya Jiyeon?

Puh. Terlalu kurus.

"Oh iya, Sehun, ini Jiyeon. Jiyeon, ini Sehun."

Mulut perempuan itu bergerak satu milimeter, dan sadarlah aku begitu caranya tersenyum menyapa rival. Huh. Sombong sekali! Pasti dia sudah mendengar cerita soal aku yang 'menyerang' bibir Tao habis-habisan di kebun ibunya.

Aku juga tak mau repot-repot tersenyum, "Halo."

"Kau teman lamanya Tao?" aku bisa mendengar deru senapan mesin dari nada bicara Jiyeon. Belum apa-apa perempuan congkak ini sudah berniat cari ribut denganku. Sial. Dia pikir aku takut, apa? Baiklah. Akan kuladeni permainanmu… bitch!

"Ya, dan sebenarnya aku bukan sekedar teman lama, sih." Aku melirik percaya diri kearah Tao yang balas menatapku tak mengerti.

Tangan Jiyeon mencengkram kantung belanja Gucci-nya kuat-kuat sampai urat-urat birunya bertonjolan semua. Kentara sekali dia mati-matian menahan diri untuk tidak menjambak rambut indahku. Bukannya aku cemburu atau apa, tapi aku merasa sedikit kecil hati melihat Tao tersenyum pada sosok Jiyeon yang rambutnya lurus membosankan, walaupun bajunya cukup… yaaa… lumayan.

Ngomong-ngomong, dia beli anting-anting itu dimana sih?

"Kudengar-dengar katanya kau bekerja sebagai WO di Royal Event ya?" dalam sekejap wajah bengis perempuan itu kembali ke mode sok penting lagi. Diam-diam aku mengasihani Tao yang dengan lugunya mudah terjerat sihir hitam wanita penyihir ini.

Aku mengangguk-angguk tenang sambil menyesap coklat panasku pelan-pelan, terlihat sangat bijaksana dan dewasa. "Begitulah."

"Masa? Kalau tidak salah direktur utamanya korupsi dan staf-stafnya menagih orang-orang tak berdosa dengan harga keterlaluan."

Genderang perang bertalu-talu merdu di telingaku. "Ah, cuma rumor. Hanya anak kecil yang percaya berita bodoh macam itu. Lagipula orang-orang tak berdosanya juga tidak pernah protes kok." balasku sambil tersenyum selembut ibu peri.

Aku bisa melihat Jiyeon shock berat dihina 'anak kecil' oleh seorang wanita yang pernah mencicipi bibir perawan kekasihnya di kebun tomat. Rasakan! Biar kapok. Mau bilang apalagi, hah?

Tao berdehem, mencoba mencairkan atmosfir perang dunia ketiga di sekelilingnya, "Eh, kau sendirian saja nih? Tidak bersama teman?"

Sebenarnya aku ingin bilang lagi bersama klienku, bisnis barter sepatu. Tapi waktu kulihat wajah sengak Jiyeon yang kembali menatapku dengan dagu terangkat, aku buru-buru mengurungkan niat. Bisa-bisa dia malah melontarkan kalimat hinaan: "Direkturnya korupsi sih. Jadi tidak sanggup beli sepatu bot sendiri."

Aku tidak boleh memberi umpan ke dalam mulut buaya. "Sebenarnya hari ini aku sedang janjian dengan teman-teman SMA-ku, yaa kau tahulah, Yixing, Jinyoung dan Baekhyun. Kami akhir-akhir ini senang mengadakan semacam acara kumpul-kumpul. Biasalah… sosialita jaman sekarang." Yang memang kemarin benar-benar kulakukan, jadi omonganku tidak sekedar bulshit belaka. Tentunya, sedikit dibumbui biar terdengar spektakuler.

Jiyeon menoleh ke segala penjuru, "Oh ya? Dimana mereka sekarang? Aku tidak lihat siapa-siapa daritadi."

Asshole! Apa masalahnya sih perempuan ini?! "Tentu saja kau tidak lihat! Kau kan baru datang dua menit yang lalu. Mereka sedang di toilet. Kalau kau memang sebegitu ngebetnya ingin berkenalan dengan mereka, silahkan susul sendiri di toilet." Dalam hati aku berdoa semoga Yixing, Baekhyun dan Jinyoung tiba-tiba muncul secara ajaib di toilet dan sedang menggosipkan bumbu masak kepiting saus tiram.

"Ya ampun, santai saja, tidak perlu bernafsu begitu." Jiyeon tersenyum kecut mendengar nada bicaraku yang agak ketus. Bagaimana aku bisa santai kalau dari awal dia yang sengaja memancing keributan?

Tao menghela napas panjang dan berdiri salah tingkah diantara dua singa betina kepanasan, "Jiyeon benar, Hun. Santai saja, ini tempat umum. Apa kau tidak sadar mata orang-orang sedang melirik kesini?"

What? Dia menyalahkan aku?!

"Kalau begitu kami permisi dulu," Tao tersenyum manis pada si penyihir, "Jiyeon masih mau ke Tiffany's. Memilih-milih kalung yang akan dikenakan saat resepsi nanti." dia mengulurkan tangan dan mulai memilin ujung rambut Jiyeon dengan jarinya.

Aku tak tahan lagi. Merasa kecolongan dengan teman masa kecilku yang ternyata seorang 'Future Ideal Husband' dan mau membelikan pacar penyihirnya kalung di Tiffany's.

Tidak adil! Mengapa aku tidak punya cowok yang mau membelikanku kalung di Tiffany's?

"Kami harap kau bisa datang hari sabtu nanti." Tao melempar senyum ramah.

Cepat-cepat aku menampilkan wajah percaya diri lagi, "Tentu, tentu aku bakal datang. Lihat saja, aku nanti tamu yang datang paling pertama di acara kalian." Sebenarnya ada sedikit ucapan menyindir yang tanpa kusadari ikut terlontar keluar. Habisnya aku muak pada Jiyeon. Lihat tuh, sekarang dia malah buang muka sambil mendengus. Nah, menyebalkan sekali kan?

Tao tidak peka. Dia tidak menangkap kalimat sindiranku dan malah terus-menerus tersenyum seperti Smiley.

"Kalau bisa, aku mau bawa tunanganku sekalian. Tidak apa-apa kan?"

Tao menatapku seolah aku mau membawa sepuluh beruang Siberia, "Kau sudah punya tunangan?"

"Well, surprise!" ujarku riang. Aku tahu harusnya aku tidak berbohong, tapi yang tadi itu benar-benar refleks. Serius! Keluar begitu saja. Aku tidak tahu. Pasti ada yang salah di kepalaku. Mungkin gara-gara semalam Yixing melemparku terlalu keras ke lantai.

"Tapi… tapi…" Tao kelihatan bingung dan matanya menerawang jauh sekali, seperti sedang berpikir keras. "Orangtuamu tidak cerita apa-apa. Mereka tidak pernah bilang kau sudah bertunangan. Kemarin malam aku sempat mengunjungi mereka dan mereka tidak menyinggung apa-apa soal cowokmu, tunangan, atau apalah."

Reaksi Tao memang agak tak terduga. Bisa dibilang, sedikit berlebihan. Aku juga bingung. Barangkali dia memang masih punya secuil perasaan terhadapku. Barangkali dia diam-diam berharap aku akan menggagalkan pestanya lalu menyelamatkan dia dari jeratan penyihir jahat berkedok gadis-kurus-berambut-lurus-membosankan.

Barangkali…

"Mungkin mereka lupa," jawabku santai, "Akhir-akhir ini orangtuaku memang sering pikun. Sudah biasa."

"Ooh…" Tao mengangguk-angguk, ekpresinya masih menerawang jauh. "Mungkin."

"Chagi, cepat dong! Ini sudah jam dua siang. Kita kan masih harus fitting baju dan bertemu penata rambut kenalan Ibuku." Jiyeon merengek-rengek sambil bergelayut manja di lengan Tao.

Tao kembali tersenyum cerah, "Baiklah, maaf kami tidak bisa berlama-lama. Ada urusan yang lebih urgent. Bye, Sehun. Jangan lupa datang ya."

Jiyeon tersenyum super manis kali ini, "Jangan lupa juga ajak tunanganmu. Kami tunggu."

Jahat! Sapi jahat! Bodoh. Kurus… jahat… kurus… jahat…

"Sehun? Ada apa? Semua baik-baik saja?" Minseok eonni berdiri di depanku menggantikan dua orang tadi. Pasti karena asik mengumpat aku jadi tidak sadar.

Aku mengangguk kecil dan tersenyum biasa, "Tidak ada apa-apa. Hanya sedang menghitung jumlah tagihan kartu kredit," ucapku asal, "Oh iya, mana sepatu botnya?"

"Ini," dia menyodorkan kantung besar ke tanganku, "Maaf ya tadi agak lama, soalnya teman kelas yogaku menelpon dan kami ngobrol lama sekali. Obrolannya sangat seru sampai-sampai aku lupa waktu."

Aku juga ngobrol lama sekali disini. Obrolannya sangat memuakkan sampai-sampai aku terpaksa berbohong punya tunangan. Sekarang aku pusing tujuh keliling harus mencari tunanganku dimana. Aku 'kan tidak mungkin tiba-tiba mendekati seorang pria tak dikenal lalu menyuruh dia melamarku sekarang juga. Aku bisa disangka pengidap kelainan jiwa. Toh, selama ini aku juga tidak pernah benar-benar dekat dengan seorang pria pun di kantor. Ralat, aku tidak pernah dekat dengan pria manapun di seluruh dunia! Tak heran tuduhan miring soal orientasi seksualku yang menyimpang sempat beredar luas di kantor. Katanya aku penyuka sesama jenis. Entah siapa yang berani menyebar fitnah murahan itu. Sialnya, tidak sedikit orang yang percaya aku benar-benar pecinta wanita. Gara-gara aku sering janji ketemuan dengan klien-klien wanitaku di café-cafe. Aku dituduh germo lah, agen penyalur wanita-wanita hidung belang lah. Padahal kan ketemu-ketemuan di café-café itu murni bisnis barter barang. Tidak lebih! Tanya saja mantan-mantan klienku kalau kalian tidak percaya.

Sebenarnya rumor tersebar bukan tanpa alasan, ada yang tidak senang aku punya banyak klien dan bisnisku lancar. Itu saja. Tapi mereka tidak paham. Bisnis sampinganku dituduh bisinis barter wanita panggilan. Malah beberapa pria yang dulu sempat mendekatiku akhirnya angkat kaki dan kabur secepat mungkin, secepat pemberitaan miring itu beredar. Memang sekarang keadaannya sudah lebih membaik dan rumor menghilang secepat kabut asap. Tapi kita semua tahu merubah mindset seorang manusia tidak semudah membalik telapak kaki gajah.

"Wow, thanks ya." aku mengeluarkan isinya lalu kuamati. Emm… bagus. Bagus sih. Ya… bagus. Bagus kok.

Duh, kenapa aku jadi tidak antusias begini ya? Jiyeon dan Tao benar-benar sukses besar mengacaukan moodku hari ini. Hore. Kerja bagus. Hebat sekali.

Sepulang dari sini aku harus sudah punya tunangan. Terserah. Siapa saja. Jika Pak Siwon menolak, aku akan mendobrak pintu ruangan Pak Donghae kemudian mengancamnya. Kalau Pak Donghae tidak bersedia, anak penjaga kantin yang lumayan manis itu juga boleh. Masa bodoh dia masih anak SMP bau kencur.

Ya Tuhan… aku harus mencari tunanganku dimana?! Besok sudah hari Sabtu dan sampai detik ini aku masih wanita lajang tua tak berguna yang hobi menghambur-hamburkan duit tapi sebenarnya sangat kuper terhadap lelaki.

Aaarghhhh! Rasanya aku ingin bunuh diri saja.

.

.

.

.

Aku benar-benar putus asa! Sebagai pelampiasan rasa putus asa ini, malamnya aku memesan pizza banyak sekali dan mengundang ibu-ibu sosialita ke rumah. Siapa lagi kalau bukan Yixing, Jinyoung dan Baekhyun? Mereka memang datang sih. Datang untuk meminjam baju, lebih tepatnya. Mereka mau menghadiri Bachelor Party teman sekantor Baekhyun. Aku terlalu putus asa untuk ikut. Jadi kubiarkan saja mereka datang sebentar lalu pergi.

"Apa aku boleh pinjam scarf merahmu yang ini?"

Aku mengamati penampilan Yixing. Gaun tocca hitam, pump heels merah, dan scarf merah marun dengan bandul berbentuk hati melintang di lehernya mirip kalung, "Begitu lebih baik. Daripada syal leopard coklat tadi."

Yixing berjalan menuju meja riasku, "Trims, Sehunnie. Dan… oh iya, boleh aku pinjam stoking, make up dan tasmu juga? Sepulang dari sana langsung kukembalikan kok."

Aku memijat keningku, makin pusing. "Ya, ya baiklah. Berbuat sesuka hati kalian."

"Asiik!" Baekhyun melonjak-lonjak kegirangan, "Kalau pakaian dalam boleh?"

Tuhaaan. "Apa saja selain pakaian dalam, please." aku sudah kapok meminjamkan benda pribadiku pada orang lain.

Baekhyun kelihatan agak murung, tapi dia berubah ceria begitu Jinyoung melepas atasan dress shirt biru navy dan menggantinya dengan cami dress Mango warna putih.

"Sempurna sekali, Jinnie! Lekuk-lekuk pinggang kurusmu jadi tersamarkan."

Jinyoung memutar bola mata agak sebal. Mulut Baekhyun memang terkadang agak terlalu jujur. "Terima kasih banyak pujiannya, Baekki."

"Aku tidak perlu pinjam baju dan make up, penampilanku sudah oke. Tapi kalau sepatu Marie Claire-mu yang pink polkadot boleh kan? Soalnya ukuran kaki kita sama," cengiran lima jari Baekhyun bertengger di depan wajahku.

Aku mengangkat majalahku tinggi-tinggi. Punggung s-curve Beyonce menghalangi cengiran lima jari Baekhyun, "Semuanya ada di lemari sepatu. Silahkan cari sendiri." Fyi, aku punya satu ruangan khusus untuk menyimpan harta-harta karunku yang terdiri dari lemari pakaian, lemari sepatu, dan lemari tas. Di masa depan aku sudah berangan-angan untuk menambah lemari topi dan lemari perhiasan juga.

Sejam kemudian barulah semuanya tampil rapi dan siap berangkat ke pesta. Kukira mereka sudah naik mobil, ternyata Yixing balik lagi. Rambut pirangnya disanggul tinggi dan beberapa helai yang tersisa dibiarkan jatuh di samping pipinya.

"Yakin kau tidak mau ikut?"

Aku menggeleng dibalik majalah, "Tidak. Aku sedang ingin sendiri. Menenangkan pikiran."

"Kalau mau ikut tidak apa-apa, kami tunggu. Barangkali di pesta nanti ada cowok yang mau langsung mengajakmu kawin."

Aku melempar majalah kearahnya, benda tolol itu malah mengenai tembok. Yixing tertawa-tawa puas melihatku depresi akut.

"Daahh, Hunnie sayang. Sampai jumpa di altar pelaminan! Ajak-ajak ya kalo menikah. Nanti aku jadi gadis penebar bunga."

Aku melipat kedua tangan di dada lalu memutar badanku menghadap ke komputer. Suara tawa Yixing kedengaran semakin menjauh, lama-lama lenyap seiring dengan suara pintu depan yang ditutup.

Hening. Kesunyian kembali menyelimutiku begitu mereka pergi.

Lapar. Lapaarr… aku lapar sekali! Pikiran tentang tunang-tunangan ini betul-betul menguras seluruh isi perutku. Dimana kotak-kotak pizza tadi?

.

.

.

.

Ketika Chanyeol masuk, dia terperangah kaget mendapati Sehun duduk mengenaskan di lantai, matanya terpaku nanar ke televisi, nonton spongebob bagai terhipnotis, pakai piyama garis-garis yang kelihatan lusuh dan dia sedang berusaha menjejalkan dua potongan besar pizza daging ke mulutnya sekaligus.

"Ya Tuhan," Chanyeol menjatuhkan tasnya di lantai kemudian berlari panik menghampiri sang adik, "Ada apa, Hun? Kau kenapa?" tanya Chanyeol ekstra cemas.

"Auw hok popo…" jawab Sehun dengan mulut gembung dipenuhi pizza.

"Pelan-pelan dong makannya. Itu mulut, bukan vacuum cleaner," dumel Chanyeol sambil beranjak ke dapur dan mengambil piring kosong, "Muntahkan."

Sehun menggeleng.

"Muntahkan! Nanti kau mati tersedak pizza. Aku tidak mau jadi saksi mata kematian adikku sendiri."

Sehun mendengus kesal. Tapi mau tak mau dituruti juga perintah Chanyeol, pizza-pizza besar menjijikkan itu dia lepehkan diatas piring. Chanyeol meringis sambil bergidik geli melihatnya. Bisa-bisanya anak ini makan besar-besar begitu.

Chanyeol menyingkirkan piring berisi dua pizza bekas air liur Sehun lalu kembali duduk bersila di samping adik bungsu kesayangan.

"Kau ini kenapa sih? Mau melakukan percobaan bunuh diri dengan menelan pizza kebanyakan atau apa?"

Bukannya menjawab, Sehun malah memeluk lututnya lebih erat.

"Huun.."

Sehun menghela napas, "Aku tidak jadi datang ke acaranya Tao."

Chanyeol terdiam sesaat. Berusaha mencerna perkataan Sehun barusan sambil membuat berbagai macam asumsi dalam kepala.

"Kenapa?" tanya Chanyeol akhirnya karena sang adik tak kunjung juga buka suara.

Sehun tarik-buang napas lagi. Kali ini lebih panjang dan lambat, "Aku tidak punya tunangan."

Alis Chanyeol berkumpul di tengah semua, "Hah?"

"Tadi aku sudah bertemu Tao dan Jiyeon," curhatnya, dia beringsut mundur sedikit jadi bisa menyandarkan kepalanya di dudukan sofa.

Mengertilah Chanyeol sekarang apa permasalahannya. Jalan pikiran Sehun sangat mudah ditebak. Apalagi mereka sudah tinggal bersama dari bayi. "Dan kau bilang pada mereka kau sudah punya tunangan?"

Sehun bungkam selama beberapa detik, tidak langsung merespon. Semenit kemudian barulah dia mengangguk pelan.

Chanyeol tersenyum geli sambil menggeleng, "Cemburu ya?"

Sehun terlonjak tak terima dituduh cemburu, "Cemburu? Aku?! Yang benar saja! Mereka jungkir balikpun aku tidak perduli."

"Kalau tidak perduli, terus kenapa kau tidak bersenang-senang seperti teman-temanmu? Kenapa malah sendirian di kamar terus berusaha bunuh diri?"

Sehun menyilangkan tangan di dada, "Aku tidak berusaha bunuh diri!" bantahnya agak terlalu nyolot, "Hanya sedang…"

"Introspeksi diri?" tebak Chanyeol. "Kau kepikiran karena sampai sekarang kau tidak punya kekasih sedangkan semua teman-temanmu sebentar lagi akan menikah. Betul kan?"

Sehun mengangguk lagi, "Ya, itu juga."

Tiba-tiba terbesit di sebuah ide di kepala Chanyeol, "Hei, kau tahu? Lupakan saja Tao bodoh itu. Dia yang menyesal karena tidak berjuang mendapatkanmu dulu. Kau tidak perlu sedih cuma gara-gara cowok seperti dia. Rugi! Malah, harusnya kita bersenang-senang sekarang. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat."

Dahi Sehun berkerut heran, "Kemana?"

Chanyeol tersenyum sok rahasia, Sehun curiga kakaknya ini sedang merencanakan sesuatu. Sudah terbaca dari kilatan-kilatan jahil di matanya. "Ada deh. Pokoknya ganti baju saja. Pakai sesuatu yang paling bagus. Nanti aku hubungi Kris untuk menjemput kita."

Sehun tidak bergerak-bergerak juga. "Eonni, ada apa sih? Kita mau kemana?"

Chanyeol bangkit berdiri dan menggiring Sehun tak sabaran, "Cerewet. Sudah ganti baju sana," Sehun di dorong masuk ke kamar terus pintunya ditutup, "Dandan yang cantik ya!"

.

.

.

.

Aku lagi tidak berselera dandan malam ini. Paling-paling Kris oppa dan Chanyeol eonni cuma mau mengajakku jalan-jalan ke Mall. Untuk apa pakai gaun mahal? Jadi aku hanya pakai celana jeans ketat, atasan dress shirt bahan chiffon seperti yang dikenakan Jinyoung tadi—hanya saja punyaku motif daun warna hijau tosca—dan terakhir, summer wedges turquoise. Biar penampilanku tidak terlalu flat, aku menambahkan beberapa aksesori seperti gelang-gelang dan kalung liontin kupu-kupu sebagai pemanis. Setelah ganti baju, aku membuka lemari tas dan menyambar hobo bags coklat muda yang terletak paling bawah lalu membubuhkan make up sekedarnya, supaya wajahku tidak kelihatan terlalu pucat dibawah cahaya terang lampu Mall.

"Sudah siap?" tanya Chanyeol eonni yang juga sudah membubuhkan lisptik dan blush on ke wajahnya. Dia tidak perlu ganti baju. Pakaian yang dia kenakan selalu perfect. Sangat wajar untuk orang yang profesi sehari-harinya tampil di layar kaca membawakan liputan berita politik dan sosial. Kakakku yang satu itu memang reporter VoA Korea. Sangat cerdas. Waktu wisuda saja Ipk-nya lebih tinggi dariku, dia lulus cumlaude dengan nilai 3,8 dan disuruh berpidato memberikan kata sambutan di depan petinggi-petinggi kampus. Dua hari kemudian, banyak tawaran jobdesk berdatangan ke emailnya tapi kakakku malah tertarik jadi reporter diatas semua profesi elit yang bisa dia jalani. Aku tidak bilang jadi reporter itu tidak elit, apalagi ini VoA. Tapi bayangkan perusahaan-perusahaan sekaliber Samsung, Toshiba, Chevron dan National Iranian Oil Company menawarinya pekerjaan dengan tawaran gaji yang sangat tinggi dan kakakku malah lebih memilih jadi reporter. Bayangkan!

Chanyeol eonni memang jenius. Sayangnya dia seringkali bertingkah aneh yang tak lazim. Jadi orang-orang tidak percaya kalau dia cumlaude dan tengah melanjutkan studi S2.

Baru saja aku akan menyahut pertanyaannya tadi, ketika dari arah belakang aku mendengar suara pintu kamar tamu dibuka. Rupanya Kris oppa. Aku kok tadi tidak mendengar suara ribut-ribut orang datang? Tau-tau Kris oppa sudah muncul dari kamar. Atau jangan-jangan dia memang lewat jendela?

"Ready?" dia bertanya sambil menatap aku dan Chanyeol eonni bergantian.

Oh, benar-benar pasangan yang perfect. Kris oppa juga tampan sekali pakai setelan jas abu-abu itu, sangat matching dengan style Chanyeol eonni. Mereka mau kemana sih sebenarnya? Aku jadi tidak pede melihat penampilanku sendiri.

"Mau kemana lagi, Hun? Kita berangkat sekarang," tegur Kris oppa waktu melihat aku jalan terburu-buru melewati dia.

"Bajuku—"

"Sudah. Sudah cantik kok. Aku yakin dia pasti suka," tukas Chanyeol eonni sambil mengedipkan mata penuh persekongkolan ke suaminya.

Dia? Dia siapa?

Oo… tidak. Tidak mungkin dia. Jangan bilang dia

Aku menyipitkan mata, memelototi mereka dengan ekspresi galakku yang paling seram. "Kalian juga mengajak Kai?"

Kris oppa dan Chanyeol eonni tidak menggubris pertanyaanku. Mereka malah jalan duluan. Ck. Selaluuu saja begitu! Selalu berakting pura-pura tuli. Sepanjang jalan pun mereka selalu terlibat obrolan seru dalam forum sendiri. Mulai dari guru bahasa inggris Dennis yang katanya mirip Jennifer Aniston sampai guru balet Sophia yang pengidap anoreksia dan mirip tengkorak di film Nightmare karena beratnya hanya 35 kg, disambung topik mengenai Zhuyi yang katanya mulai naksir gadis keturunan Belanda di kelas musik. Kadang aku merasa Zhuyi terlalu dewasa untuk ukuran anak sebelas tahun. Disaat kedua adiknya berebut ingin masuk ke Rumah Santa, Zhuyi tenang-tenang berdiri di luar arena sambil nonton National Geographic di youtube. Kris oppa dan Chanyeol eonni sangat bangga terhadap putra sulung mereka. Aku malah prihatin Zhuyi bakal jadi bapak-bapak di usia tujuh belas tahun.

Merasa bosan, iseng-iseng aku mengobrak-abrik kantong belakang jok yang diduduki Kris oppa. Ternyata ada majalah VoA edisi minggu lalu. Aku menghidupkan lampu baca dan telunjukku bergerak menyusuri daftar isi, mencari artikel menarik. Tiba-tiba sorot mataku menangkap sesuatu. Ada foto kecil Kai dengan judul besar "15 Rich Billionaires Who Stay Grounded & Humble", halaman 47. Ha? Kai itu 'Billionaires man'? Dari segi mana? Kok tidak kelihatan? Apa karena itu dia bisa masuk nominasi lima belas besar? Penasaran. Kira-kira dia ada di peringkat ke berapa ya?

Ooh! Itu dia, halaman 47! Aku melewatkan beberapa orang dan langsung membaca Kai yang ternyata hanya berada di peringkat dua belas. Well, not bad.

Kim Jongin

Umur: 36

Pendidikan: Cambridge

Status saat ini: Single

Dia beneran single? Agak mengherankan untuk seorang pria yang namanya berada di jajaran kedua belas dalam daftar lima belas orang terkaya.

Kim Jongin, atau yang lebih kita kenal dengan nama Kim Kai, adalah konsultan sukses keturunan Korea yang berhasil memperoleh kekayaannya dengan menjadi seorang konsultan geologi sekaligus Ketua Divisi kerjasama hubungan luar sebuah Lembaga Riset dan Penelitian di Guatemala, Amerika Utara. Kai memiliki kekayaan lebih dari US$ 5 Miliar atau 5,878,225,000,000 Won Korea. Berkat skill dan kemampuannya, Kai telah dipercaya oleh berbagai pihak dan sering mendapatkan tawaran proyek dari perusahaan-perusahaan lokal maupun asing. Kai pernah terlibat kerjasama dengan PetroChina dalam proyek pembangkit listrik 35.000 megawatt (MW) di Meksiko. Baru-baru ini dia juga melakukan kontrak kerjasama dengan Kogas dalam Proyek Manzanillo, yaitu pembangunan port dan pipa gas sepanjang 318 km di Guadalajara. Meski begitu, Kai masih mencukur rambutnya sendiri dan masih menggunakan sepeda sebagai alat transportasinya ke tempat kerja. Kai mengaku lebih senang hidup sederhana. Dia tidak memiliki pakaian mahal, naik pesawat kelas ekonomi, dan selalu memesan anggur kedua termurah ketika dia di sebuah restoran. Satu hal yang mahal pernah dibelinya adalah sebuah rumah senilai $7 juta. Diluar profesi resminya, Kai juga dikenal sebagai aktivis filantropi, uangnya dihabiskan pada peningkatan ilmu pengetahuan, pendidikan, hak-hak sipil, dan perawatan kesehatan di Amerika Serikat, Irlandia, dan empat negara lain. Dia mengatakan bahwa ketika ia mulai bekerja, tujuannya adalah murni untuk bekerja keras, bukan untuk menjadi kaya. Kai menganut filosofi hidup dari almarhum ayahnya yang sampai saat ini masih dia pegang teguh, yaitu "Tetap rendah hati dan hemat tidak peduli berapa banyak uang yang anda peroleh."

Kekayaan 5,8 triliun dan pria ini malah naik sepeda ke kantornya? Is he crazy or nuts?! Lalu… apa dia memang sekikir itu sampai harus mencukur rambutnya sendiri? Memangnya biaya tukang cukur berapa? Astaga…

Eh, tapi… kekayaan 5,8 triliun itu hebat juga. Tidak mengherankan dia punya banyak simpanan harta kekayaan kalau hal paling mahal yang pernah dia beli cuma satu rumah. Ckck. Jika aku yang punya uang segitu, barangkali aku sudah pulang pergi London-Paris-Seoul setiap hari. Rumahku ada empat, satu disini, satu di New York, satu di Rusia dan satu di Tokyo. Tiap weekend aku akan berlayar naik kapal pesiar dan melancong ke pulau-pulau indah di seluruh dunia pakai mini dress pantai yang mempertontonkan punggung dan belahan dadaku, kacamata Evasion by Louis Vuitton, serta topi lebar yang cantik.

Kim Kai… kekayaan 5,8 triliun. Hmm. Boleh juga. Tao tidak ada apa-apanya dibanding pria ini. Kaya, tampan, terpelajar dan aktivis kemanusiaan. Tapi sayang pelit. Tapi kaya. Tapi pelit. Tapi kaya…

Duh. Aku jadi bingung! Apa memang sebaiknya aku mulai membuka hatiku untuk dia ya? Coba-coba dulu jalani. Siapa tahu kami cocok dan ternyata dia tidak sepelit yang diberitakan.

"Sampaaai!" suara melengking Chanyeol eonni membuyarkan lamunanku.

Sampai? Sampai diman—Hotel The Ritz Carlton?

"Ritz Carlton?" aku menatap bingung Kris oppa dan Chanyeol eonni, tapi keduanya menampakkan wajah polos tak berdosa.

"Ayo turun, kita makan malam disini. Bukankah kau belum makan?" tanya Kris oppa sambil membukakan pintu belakang untukku. Aku merasa seperti tamu kerajaan sampai harus dibukakan pintu segala.

Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal, "Yaa belum sih. Tapi ini kan… harusnya ini acara dinner kalian berdua saja. Aku tidak mau jadi kambing congek."

"Tidak ada yang akan jadi kambing congek. Tenang saja," Kris oppa tertawa kecil lalu melirik istrinya.

Chanyeol eonni mencibirku, "Ya, tenang saja. Apalagi kau sudah menghabiskan dua kotak pizza ukuran besar. Mana ada kambing semaruk itu?"

Kris oppa terperangah, "Dua kotak?"

Aku mengendikkan bahu santai, "Pelampiasan."

Kami tak saling berbicara lagi sampai tiba di dalam hotel. Harus kuakui, aku sangat terkesan. Hotel ini sungguh berkelas dengan lobi hotel yang luas, pilar-pilar marmer besar sebagai penyangga di beberapa sisi, serta pot-pot bunga putih yang berisi bunga-bunga indah berukuran raksasa sebagai penghias di beberapa sisi. Menurut pengamatanku, Kris oppa dan Chanyeol eonni sudah berkali-kali menginap dan dinner romantis disini karena satpam-satpamnya tahu nama mereka, waktu di pintu masuk tadi, semua pegawainya langsung membungkuk hormat begitu melihat kami. Aku merasa seperti tamu kerajaan sungguhan.

Ketika sampai di meja resepsionis, concierge dengan setelan jas trendi berkerah Nehru melempar senyum ramah pada kami. "Selamat malam, Mr Wu," sapanya khidmat, "Dan Mrs Wu. Selamat datang kembali di The Ritz Carlton. Ada yang bisa saya bantu?"

"Ya, baru-baru ini saya memesan dua meja di lounge."

Concierge menunduk dan mengutak-atik sesuatu di komputer berlayar kecil itu lalu kembali tersenyum santun pada kakak iparku, "Meja dan prasmanannya sudah siap, Tuan. Teman anda juga sudah tiba sekitar lima menit yang lalu. Apabila ada hal lain yang anda perlukan, jangan ragu-ragu memberitahu saya."

Teman? Tuh kan, benar feelingku. Dua orang ini merencanakan sesuatu. Aku memang tidak akan jadi kambing congek, karena kami akan double date! DOUBLE DATE! Bersama… Kai, of course. Teman yang dimaksud si concierge tadi pasti Tuan Kim Kai yang terhormat. Tak ada tersangka lain.

.

.

.

.

Kai terkagum-kagum menatap Sehun yang malam ini terlihat sangat chic. Juga tampak rapi dan cantik seperti terakhir kali mereka bertemu di bar. Tak ada sehelai rambutpun yang tidak pada tempatnya. Baju yang dia kenakan agak transparan dan mata tembus pandang Kai masih bisa melihat bra warna coklat dibalik baju motif daun-daun itu. Terus terang, dia sudah melihat lebih daripada itu. Hampir… semuanya. Kecuali satu bagian tersembunyi yang dianggap paling 'sakral' bagi kaum hawa. Dan dia begitu sangat merindukan pemandangan 'sejuk' seperti kemarin malam. Tiba-tiba Kai diserang hasrat kuat untuk membuat wanita ini berantakan. Apa dia masih kelihatan serapi dan seperfect ini?

.

.

.

.

Aku memuntir-muntir ujung taplak meja.

Kai asik mengunyah jamur.

Aku menggulung-gulung kain serbet.

Kai menelan kuah sup.

Aku membuka tutup botol merica dan mengulanginya sebanyak tiga kali seperti anak kecil penderita autisme.

Kai asik mengunyah jamur kedua.

Sudah cukup! Aku harus cari bahan obrolan. Apa saja. Diam-diaman begini betul-betul menyiksa batin.

"Hei, sudah baca buku yang kuberikan?" Kai mendahuluki buka suara.

Buku? Buku apa? Oh, buku jelek yang sampulnya tidak menarik itu? Yang tentang kerang sesuatu? Aku bahkan sudah lupa apa judulnya.

Aku harus jujur apa bohong? Kalau aku bilang belum baca apa dia akan tersinggung dan menganggapku tidak tahu terima kasih? Habisnya aku tidak tertarik mempelajari kerang-kerangan.

Terkadang terlalu jujur belum tentu baik. "Sudah," anggukku sekenanya.

"Oh iya? Terus bagaimana? Bagus?" kali ini dia berhenti makan sup jamur dan menatapku amat serius. Anehnya aku langsung merasa salah tingkah dipandangi begitu. Padahal kemarin-kemarin aku gemas sekali ingin mendorong dia ke lumpur hisap.

Bagus? Judul saja aku lupa, bagaimana aku bisa tahu apa isinya?

"Bagus kok. Mengajarkan kita untuk selalu… membudidayakan kerang," jawabku asal.

Kukira dia akan tertawa terpingkal-pingkal, ternyata ekspresinya masih serius dan kelihatan berminat. Duh. Jangan tanya-tanya soal kerang lagi, dong! "Begitu ya? Aku malah belum baca sama sekali. Langsung kubeli dari toko buku di bandara."

Toko buku di bandara? Lho, harga buku di bandara kan mahal-mahal? Hah! Kena kau! Ternyata dia betul-betul tidak seirit yang diberitakan di majalah.

"Aku tidak keberatan dengan sesuatu yang expensive," tambahnya seperti bisa membaca isi pikiranku, "Asal itu ada hubungannya dengan edukasi dan benar-benar bermanfaat."

Bermanfaat? Jadi pakaian dan kendaraan itu tidak termasuk bermanfaat ya? Baru saja aku hendak menyanggah opininya, ketika Kai lagi-lagi mendahuluiku buka mulut, "Apa yang bisa kau petik dari buku itu?"

Bagai murid sekolah dasar yang sedang dihukum mengerjakan kuis oleh Guru killernya, aku gelagapan bingung. Wait, wait… buku itu tentang apa ya? Kalau tidak salah membahas soal… manfaat kerang? Aku tidak tahu banyak soal kerang sih, tapi kayaknya dulu Kyungsoo eonni sering makan kerang waktu ngidam dan dia bilang kerang sangat bagus untuk imunitas tubuh janin karena mengandung omega 3, sehingga resiko kelahiran prematur bisa diatasi. Katanya kerang itu sumber protein yang rendah lemak kalau dikonsumsi secara wajar selama masa kehamilan, tidak akan membuat tubuh kita makin melar.

Dengan pengetahuan secukupnya yang kudapat dari Kyungsoo eonni, aku mencoba menjelaskan kembali pada Kai. Alis dan jidatnya berkerut-kerut serius, dia terlihat sangat terkesan mendengarku berkhotbah panjang lebar soal kerang dan ibu hamil. Pertanda bagus. Mungkin aku memang punya bakat alamiah jadi dosen. Tapi kalau dipikir-pikir, kayaknya penjelasanku tadi lebih terdengar seperti dokter ahli kandungan.

"Wahh." Kai manggut-manggut. Plis jangan tanya pembahasan kerang dan ibu hamil ada di halaman berapa… "Aku baru tahu lho. Rupanya pengetahuanmu cukup luas juga ya."

Apa maksud ucapannya barusan? Apa dia baru saja menganggapku remeh? Apa dia pikir cewek-cewek sepertiku selalu berotak sempit dan hanya tahu hal-hal remeh temeh seperti meni-pedi?

Well, Tuan Kim Kai Your Highness. You are messing with the wrong girl!

Aku melempar senyum bangga dengan dagu terangkat sedikit, "Oh iya dong. Aku lumayan senang baca buku untuk mengisi waktu luang." Walau sejujurnya buku yang paling sering kubaca hanya Vogue, Ceci dan Elle. Tapi dia kan tidak perlu tahu soal itu.

Ekspresi jaim Kai mulai memancarkan binar-binar cerah, "Wow. Rupanya kita sama. Aku juga senang baca buku. Apa kau suka baca karya fiksi atau non fiksi?"

Aku bisa saja kali ini berakting sok pintar dengan bilang "Kau tahu, buku Davinci Code sangat bagus lho. Isinya begitu… kontroversional", tapi aku takut dia bertanya panjang lebar lagi seperti tadi. Lagipula aku hanya tahu garis besar isinya dari cerita orang-orang, aku tak ingin terlihat terlalu tolol dengan menjelaskan sesuatu yang belum sepenuhnya kupahami.

"Kebanyakan sih fiksi," ungkapku tidak sepenuhnya bohong. Kadang-kadang aku baca novel roman bila sudah terlalu jenuh memandangi gambar-gambar model di majalah.

"Ohh…" Kai mengangguk-angguk lagi, "Kalau begitu pernah dengar 'The Chocolate War'? Pernah baca mungkin? Itu novel fiksi karangan Robert Cormier yang dirilis pada tahun 1974."

Aku menggeleng mencoba bersikap jujur. Play save is better. "Belum. Ceritanya tentang apa?"

Kai tidak langsung menjawab, malah menenggak sampanye 'termurah dalam menu', kemudian menatap kedalam mataku. Cukup lama dan intens.

Aku menelan ludah. Mata hitam Kai sangat tajam dan dalam. Rasa-rasanya aku seperti tersihir hanya dengan duduk diam dan membalas tatapannya. Sungguh sangat mengherankan dia masih single. Pria menawan seperti ini… oh, shit. Kepalaku terasa berputar-putar. Kayaknya efek anggur yang kutenggak sudah mulai berasa.

"Kau akan terkejut…" dia menenggak sampanye lagi, "Novel itu dilarang beredar di perpustakaan-perpustakaan dan toko buku sampai hari ini. Tidak mudah menemukannya. Padahal menurutku jalan ceritanya sangat menantang."

Caranya saat mengucapkan kalimat 'menantang' tadi menyebabkan seluruh saraf nadiku berdenyut dengan cara yang tidak wajar. Atau ini hanya efek samping alkohol? Aku berdoa semoga saja tidak berbuat memalukan lagi seperti memuntahi kemeja lalu pingsan. Itu akan merusak segalanya.

"Benarkah? Kedengarannya seru. Menantang bagaimana? Apa ada banyak adegan kekerasan?"

Kai tersenyum sambil mengangkat sebelah alis, "Sebaiknya kau baca sendiri. Kapan-kapan kupinjami. Aku tidak akan membocorkan isinya. Tapi aku bisa memberimu sedikit gambaran terhadap beberapa hal dalam novel itu."

Senaif apapun diriku, aku bisa melihat Kai mengharapkan suasana romantis yang 'berbeda'. Seakan untuk lebih menegaskan hal itu, lagu tidur membosankan yang mengalun dari setiap pojok mendadak berubah menjadi irama musik lembut, seksi dan sentimental.

Aku duduk oleng sedikit dari kursi, namun tak mau kalah memberinya senyum penuh arti. "Bagaimana caramu memberi gambaran?"

"Tergantung…" sepertinya dia benar-benar sedang mengetesku, "Tergantung bagaimana kau menginginkannya…"

See? Tuan Kim Kai mungkin diberkati semacam bakat khusus membuat kata-kata yang biasa sekalipun terdengar seperti seks panas. Seks yang meniup pikiranmu sampai ke alam bawah sadar, dan akan selalu kau ingat untuk waktu yang sangat lama

Aku melirik Kris oppa dan Chanyeol eonni yang mejanya jauh dari jangkauan tangan kami. Dua orang itu juga sama-sama hanyut dalam suasana. Biarkan saja mereka. Lebih baik fokus pada pria tampan dihadapanku.

"Bagaimana anggurnya?" tanya Kai.

"Sedap, best of the best." Aku menyesapnya lagi sebelum menyadari gelasku sudah kosong. Sial. Pasti karena gugup, tanpa sadar aku menghabiskan seluruh isi gelas tanpa bersungguh-sungguh menikmati.

"Ini." Kai tertawa pelan sambil mengangkat botol dan mengisi gelasku lagi, "Aku termasuk orang yang jarang minum, tapi malam ini pengecualian. Kesempatan istimewa yang tak boleh kulewatkan."

Istimewa? Barusan tadi dia memujiku istimewa? Padahal di awal pertemuan kami terlihat sangat awkward dan tidak akur. Aneh kan? Dan bukannya bermaksud geer atau apa, tapi dari kalimatnya tadi aku bisa menangkap ribuan makna tersembunyi. Sangaaat ambigu. Jika aku cewek remaja polos, mungkin aku sudah berbunga-bunga dan pulang kerumah sambil menyimpan fotonya di bawah batal. Sayangnya, aku wanita dewasa yang—bisa dibilang—sudah lama sekali tak tersentuh belaian tangan seorang pria.

Aku menatap balik sorot mata dalam miliknya, masih belum percaya betapa luar biasa lelaki ini. Interesting in his own way, meski tanpa setelan jas Armani.

Yeah, barangkali aku sangat menginginkannya.

.

.

.

.

Kris oppa dan Chanyeol eonni pulang duluan. Meninggalkan aku aman dalam genggaman laki-laki yang memiliki sebuah ereksi menempel pada pantatku dan sebuah janji tentang kesempatan istimewa yang tak boleh kami lewatkan.

Aku dan Kai sedang berdiri di dalam lift, dalam perjalanan menuju lantai sepuluh. Tempat dimana Kai memesan satu kamar untuk menikmati kesempatan istimewa kami (Tuh kan? Dia tidak sepelit itu, kok! Malah sangat romantis).

Aku berpaling ke wajah tampannya dan sangat sadar bahwa aku bernapas dengan berat. Pada setiap tarikan nafas, aku bisa menghirup aroma khas pria dihadapanku. Aroma yang sangat maskulin. Mmmmm… sudah lama aku tidak merasa seperti ini.

Begitu pintu lift berderak terbuka, dia datang padaku, mendorongku menuju dinding di koridor. Tubuhnya yang besar menjulang saat ia dengan sengaja menurunkan mulutnya ke mulutku. Bibir Kai sangat lembut dan lidahnya seperti beludru, bertemu dengan milikku, membelai setiap bagian dari mulutku, bergelut dengan lidahku, mengisap bibir bawahku, merasuk dalam tubuhku. Menekan tubuh besarnya lebih keras terhadapku, aku merasakan kemaluan panjang kerasnya memukulku di perut. Kai menguasai tubuhku dan aku membiarkannya.

Aku mengerang dalam ciumannya dan membenamkan tanganku di rambutnya. Aku memeluk lehernya seakan-akan takut dia menghilang secara misterius. Putingku mengetat saat bergesekan terhadap otot dadanya yang terasa begitu keras dan jantan, seolah dia hanya khayalan. Tapi dia bukan khayalan, karena sekarang kami tengah berciuman penuh gairah di lorong publik lantai kesepuluh dari The Ritz Carlton. Dia datang ke sini untuk menemukanku.

Ciumannya melambat menjadi gigitan ringan sampai dia menarik bibirnya menjauh dan aku merasakan udara dingin pada kebasahan yang ia tinggalkan disana.

"Buka matamu," bisiknya dekat telinga. Terengah-engah, aku mengangkat kelopak mataku untuk melihat wajah Kai hanya berjarak satu inci, sorotnya terbakar panas oleh hawa nafsu.

"C'mere," ujarnya pelan sambil merangkulku masuk ke dalam kamar 1494. Aku seperti kehabisan energi untuk menolaknya. Maksudku, ayolah, aku ada disini—di The Ritz Carlton—setelah ratusan tahun menjomblo, bersama lelaki yang sungguh menakjubkan ini, lalu aku harus menolak? Kurasa tidak.

Selain itu, aku ingin tahu bagaimana rasanya berbaring di sisi makhluk setampan ini. Aku ingin tahu bagaimana kulitnya diatas kulitku, dan seperti apa rasanya.

Tangannya diseluruh tubuhku saat ini, aku tidak melawan saat ia memundurkanku ke sudut. Sentuhannya hangat dan membuatku melambung sekaligus. Dia memindahkan hidungnya ke bawah leherku dan mendorong tangannya untuk menangkup payudaraku. Aku tersentak pada nuansa tangan hangatnya yang berkeliaran saat dia mulai menggerayangi semua titik sensitif. Aku melengkung ke arahnya, dadaku maju kedepan, mendorong payudara lebih dekat ke tangannya. Dia menemukan putingku melalui renda braku dan menariknya sehingga aku mendesah panjang dibawah sentuhannya.

"Kau begitu seksi, Nona. Aku tak bisa berhenti memikirkanmu sejak pertama kali kita bertemu," dia berbicara dekat leherku, napasnya menggelitik kulitku. Aku bisa merasakan pipiku memanas dan jantungku berdebar gila-gilaan. Benarkah? Dia mengatakannya sungguh-sungguh kan? Maksudku, kami sama-sama mabuk dan… apa itu bukan efek dari sampanye yang dia minum?

Detak jantungku lebih cepat saat ia mendekat. Ketika hanya beberapa inci dariku, dia berhenti dan menunggu. Aku sedikit mendongak untuk menatap matanya. Kai meraih dress shirtku, membuka kancingnya, dan melepaskannya dari punggungku sampai mendarat dengan desiran lembut ke lantai yang mengkilap. Dalam bra push up berenda, aku berdiri di depannya saat ia melahapku dengan mata penuh gairah. Dia menggosok bahuku dan menelusuri gundukan payudaraku dengan bagian belakang ujung jarinya. Sentuhan lembut yang membuat libidoku memuncak dan aku ingin sesuatu yang lebih daripada ini.

"Kai…"

"Apa, sayang? Apa yang kau inginkan?" Dia menelengkan kepala sambil melempar senyum miring yang kusukai. Ohh… I want him so bad…

Berusaha tidak gugup, aku balas tersenyum menggoda. "Aku ingin…menyentuhmu."

Aku membawa tanganku ke kemeja putihnya dan mengendurkan dasi ungu gelapnya. Jariku bekerja di simpulnya dan dalam satu menit, dasi itu tergelincir jatuh untuk bergabung dengan bajuku di lantai. Kini aku mulai membuka kancing kemejanya. Dia mendesis ketika jari-jemariku menyentuh kulitnya yang terbuka. Aku mendorong kemeja putih halus itu dari dia untuk dijatuhkan di tumpukan di lantai. Aku menatap dada telanjangnya untuk pertama kalinya dan hampir menangis. Lingkar dadanya lebih besar daripada aku. Lingkar lengannya lebih besar daripada milikku. Dan selain itu, otot bahu dan perutnya benar-benar kokoh, sangat menggoyahkan pertahanan! Percayalah, tadinya aku mengira hanya bisa memandangi postur tubuh seperti itu di halaman-halaman majalah dewasa. Tapi sekarang aku disini—berdiri langsung di depan pemilik postur menakjubkan ini—dan merasakannya dengan seluruh indera pada tubuhku sendiri.

Seolah tak perduli dengan wajah shockku, dia bergerak turun untuk berlutut, tangannya meluncur ke bawah pinggulku dan kemudian kakiku. Ketika ia sampai ke sepatuku dia menarik yang pertama dan kemudian yang lain dan melepaskan dengan manis dari kakiku. Tangannya naik kembali ke pinggangku yang masih terbungkus celana jeans. Dia membuka kaitannya kemudian menyeretnya ke lantai. Saat aku melangkah keluar dari tumpukan kain, Kai langsung berdiri dan menyerang bibirku. Perutku bergejolak hebat lagi dan nyeri diantara kedua kakiku semakin kuat. Kai menyelipkan jari-jarinya ke renda hitam celana dalamku lalu menariknya ke bawah. Menariknya sampai benar-benar terlepas.

Telanjang di depan matanya, ia menatap vaginaku sambil bersiul bar-bar, kemudian menatap ke wajahku lagi. "Sehun... you're sooo amazing…" Jari-jarinya menari di atas perutku, turun ke pinggul dan terus ke bawah. Mengelus vagina lebatku dengan ekspresi haus darah.

Aku menggigil oleh sentuhan intim Kai, menunggu apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Dia meletakkan tanganku di pinggangnya. Aku mulai bekerja melepas ikat pinggangnya dan kemudian celananya. Harus kuakui, pria ini tampak mengesankan. Gundukan besar di dalam celana pendek itu mustahil diabaikan. Dia menggeram ketika tanganku menyentuh kain abu-abu tipis yang menutupi kemaluan tegangnya. Saat aku membungkuk untuk melepaskan dia dari penghalang terakhir, dia balas membuka pengait di bagian belakang braku dan menariknya menjauh. Resmi sudah. Sekarang aku benar-benar telanjang bulat.

"Aku tidak menginap malam ini. Berjanjilah kau akan membawaku pulang setelah in—" ucapanku terputus karena dia keburu meraup bibirku.

"Sekali tidak akan cukup." Dia mendekatkan wajahnya yang tampak liar dan putus asa. "Aku harus bercinta kasar denganmu pertama, baru kemudian aku akan melakukannya lagi dengan lembut. Biarkan aku bercinta sepuasnya denganmu malam ini, Nona Sehun yang cantik." Kai makin mendekat, hidungnya hanya berjarak nol koma satu senti dari hidungku. "Please…"

"Tapi aku tidak bisa—"

Ciuman Kai kembali menelan protesku, dia mendorongku naik ke tempat tidur hotel yang lembut dan mewah, tangannya bergerak mengusap setiap jengkal tubuhku. Mencium tubuhku. Dan aku menegang ketika lidah Kai berputar di putingku yang mengeras. Cumbuan bibir lembutnya di putingku membuatku melambung. Aku merasa seperti akan orgasme hanya dalam waktu beberapa detik. Kenikmatan ini membuatku menangis dan melengkung bahagia. Kaki-kakiku melingkar naik di pinggangnya saat tangan Kai bekerja pada payudaraku, aku menggeliat liar di bawah tubuhnya. Dia terasa begitu nikmat, aku tidak menyesal telah mengatakan 'ya' tadi.

"Kai~ahhh!" Aku meneriakkan namanya.

"I know, baby. Let me do this…" Dia menarik kepalanya menjauh dari payudaraku dan meletakkan tangannya di bagian dalam lututku, lalu membukanya lebar-lebar. Benar-benar terbuka sangat lebar di depannya, ia menatap vaginaku untuk kedua kalinya dengan ekspresi haus darah.

"God, kau cantik sekali... aku ingin mencicipi itu." Dan kemudian ia mendekatkan mulutnya. Lidah lembutnya berguling di klitorisku, terus bergerak lincah, berpindah tempat dari puting, singgah di pusar bertindik-ku sebentar sebelum ia menekan hidungnya ke sekitar area paha. Aku berteriak ketika Kai tiba-tiba meninggalkan satu gigitan di paha dekat area kemaluan, dan tanpa peringatan, kembali menjilati klitorisku, menekan telapak lidahnya cukup dalam, napas hangat Kai menyebarkan sensasi yang menyenangkan ke segala penjuru tubuh. Kai menyeret lidahnya perlahan, kurasa dia sangat menikmati rasa asing dan lengket di lidahnya; dia begitu lambat, sampai-sampai aku nyaris mencekik kepala Kai dengan pahaku.

Kai mengerang dan terus bergulat dengan lubang vaginaku. Aku balas merintih dan menggelinjang sebagai respon, tanganku hinggap di rambut Kai, mencari sesuatu untuk berpegang. Seolah-olah aku bisa terbang kapan saja jika tidak menggenggam rambut Kai kuat-kuat. Aku merasa akan mencapai titik kepuasan sebentar lagi, dan tidak ada yang bisa menghentikannya. Tidak ada yang bisa menghentikan seorang Kim Kai.

Kemudian dua jari panjangnya mendorong masuk ke dalam lubangku, "Kau ketat," bisiknya, "Tapi kalau penisku yang di dalam sini, kau akan lebih ketat lagi, benarkan, sayang?"

Sebelum aku sempat merespon, jari-jarinya menyelinap keluar dari vaginaku dan aku mendengar suara dari sebuah paket yang robek terbuka. Aku melihat dia menggulung kondom di penisnya yang indah, tebal dan keras. Bagian dari dirinya yang akan ada dalam lubang kemaluanku satu menit lagi, dan aku menggigil dalam harapan.

Kai menjulang di atasku, kepala penisnya telah menerobos masuk dalam vaginaku. Tangannya memaksaku untuk membuka paha lebih lebar saat ia mendorong kemaluannya lebih keras dan dalam. Dia meraup mulutku kasar dan lidahnya mendorong paksa. Aku menaiki gelombang orgasme saat Kai menggagahiku. Menghentak keluar-masuk-keluar-masuk. Awalnya aku merasa perih dan kesakitan, tapi lama-lama perasaan luar biasa menggantikan rasa sakit di sekujur tubuhku. Aku bisa merasakan dinding vaginaku meremas-remas batang kemaluannya secara bertubi-rubi sementara ia mencumbui bibirku lebih liar. Sambil berciuman, dia juga membisikkan kata-kata kotor tentang seberapa nikmat rasanya meniduriku. Itu malah membuat gairahku meningkat dan kurasa aku akan gila setelah ini.

"How can you—fuck—be even more than this?" Aku terengah-engah seperti orang sekarat. "Do you have any idea..arghh—fuck me! Do that again Jesus Christ…You're so hot…Kai~enghh…"

Kai terkekeh parau mendengarku mengumpat dan berbicara kotor.

"Ahhhh… KAI!" jeritanku bergema di seluruh gedung. Aku bahkan tidak tahu darimana suara itu berasal, aku cuma tahu suara itu datang dari dalam dan aku tak dapat menghentikannya. Jeritanku terus terlontar keluar tanpa bisa kukontrol. Aku tidak mau ini berhenti, karena rasanya begitu nikmaaat. Mmmm, sangat nikmaaaaaat.

Aku mencapai klimaks untuk kedua kalinya, tubuhku menyerah total dengan tubuh lebih besar milik pria ini. Bergetar dan menggeliat gelisah di bawahnya. Dia tidak berhenti. Dia terus menghujamkan penisnya tanpa ampun, sampai tiba gilirannya untuk orgasme. Lehernya tegang, sorot matanya lebih fokus membakarku, ia mendorong lebih keras lagi. Aku tahu dia juga hampir mencapai klimaks.

Dinding vaginaku meremas sekuat tenaga dan payudaraku bergetar-getar heboh seiring dengan hentakan tajamnya. Kai yang melihat itu tak melewatkan kesempatan untuk menyiksa payudaraku, jari-jarinya bermain di puting, sementara mulutnya mengulum puting yang satu lagi lalu menjilatinya penuh nafsu. Sedetik kemudian aku melihat wajah Kai berubah kaku, dua detik berikutnya keluar suara erangan yang terdengar seperti teriakan komandan perang saat memanggil namaku, Kai menggigil diatasku dengan mata hitamnya bersinar redup di ruangan. Kai mengeluarkan desahan lega saat dirinya mencapai klimaks di dalam sana.

Ahhh. Ini memang luar biasa.

.

.

.

.

Kai masih terus menatapku, bahkan setelah ronde pertama yang buru-buru kami hentikan. Dia melepaskan kondom dan menyingkirkan barang bukti. Tapi kemudian dia segera kembali, memandangiku lagi, matanya menyapu tubuhku, menunggu reaksiku dari apa yang baru saja kami lakukan.

"Are you okay?" dia menyapukan ibu jarinya di bibirku, menelusuri bibirku dengan lembut.

Aku tersenyum padanya dan menjawab dengan perlahan "Ya."

"Aku masih belum selesai." Kai menyapukan tangannya di leherku, melewati payudaraku, menuju pinggulku untuk berhenti di perutku. "Itu begitu menakjubkan, aku tidak ingin ini berakhir."

Kai membiarkan tangannya tetap terentang di sana dan mendekatkan wajah untuk menciumku. Namun dari eskpresinya, aku tahu dia akan menanyakan sesuatu. "Sudah berapa lama kau ... tidak berhubungan intim dengan seseorang?"

Aku mengangkat bahu. Jadi setelah dia berhasil meniduriku, apa dia merasa perlu tahu semua hal yang bersifat pribadi?

"Aku tidak tahu, cukup lama." Dan kuharap dia tidak bertanya-tanya lagi. Hubungan ini masih terlalu awal, tentu saja kami bisa saling mengenal lebih dekat, tapi kan tidak harus juga semuanya dilakukan sekarang.

Dia menyipitkan matanya sedikit. "Lama berarti seminggu, atau lama berarti sebulan?"

"Bertahun-tahun," jawabku malas bertele-tele. Terakhir aku begituan dengan seniorku di bangku kuliah. Karena dia idiot dan brengsek, setelah kami begituan, dia langsung pamer ke teman-temannya. Ternyata mereka mengadakan semacam taruhan dan yang berhasil menggagahiku akan dapat seratus ribu won sebagai doorprize. Aku benci dan kecewa setengah mati pada mereka semua. Sempat depresi berat dan bertindak bodoh ingin bunuh diri dengan loncat dari atap menara. Niat jelekku batal gara-gara Yixing datang membawa rombongan keluargaku, mereka berjanji akan mengajakku jalan-jalan dan mentraktirku belanja di Paris sepuasnya kalau aku bersedia turun dari atap. Semenjak saat itu, aku agak trauma dekat-dekat lagi sama cowok manapun sampai lulus kuliah. Bahkan sampai sekarang. Tapi Kai berbeda, aku yakin itu. Aku bisa melihatnya dari cara dia menatap mataku lurus-lurus. Percayalah, aku bukan amatir. Menghadapi banyak orang dengan sifat dan watak yang berbeda setiap hari membuatku jadi lebih peka.

Syukurlah Kai tidak bertanya-tanya lagi, dia malah berguling diatasku. Lututnya membelah kakiku menjadi terbuka lebar sehingga ia bisa masuk di antara keduanya. "Aku menginginkan kau lagi, Sehun baby. Aku ingin berada di dalammu lagi. Aku ingin membuatmu orgasme dengan penis besarku yang berada begitu jauh di dalammu sehingga kau tidak akan pernah lupa aku pernah ada di sana."

Fuck! Lagi-lagi aku bereaksi berlebihan terhadap bisikan-bisikan mautnya. Aku berubah menjadi anak kecil yang begitu sangat rentan dan pasrah. Tak pernah aku merasa selemah ini sebelumnya. Kai menciumku dengan intens, lidahnya kembali menguasaiku. Dia mendesah saat penis tebalnya membelai dinding kemaluanku yang masih kesemutan.

"Oh, sayang, kau terasa begitu nikmat. Kau benar-benar membuatku ketagihan..."

Di ronde kedua, dia bergerak dengan lebih perlahan, lebih terkendali seolah-olah dia ingin lebih menikmati pengalaman bercinta yang ini. Tapi hal itu tidak mengurangi kepuasanku, malah Kai membuatku orgasme lebih hebat sampai aku merasa seluruh tubuhku lemas luar biasa. Endingnya, dia menghisap leherku pelan dan meninggalkan satu bitemark lagi saat aku mengelus punggungnya, merasakan otot-otot panas yang basah oleh keringat. Ruangan kamar beraroma seks bercampur wangi colognenya yang entah ber-merk apa. Kurasa aku benar-benar perlu tahu apa merknya. Ahhh… aku suka sekali aroma tubuh pria ini. Semuanya begitu menakjubkan. Kai sungguh menakjubkan.

.

.

.

.

"Bukan main," Kai berguling dan menatapku, menciumi pipiku dengan lembut.

"Bukan main!" gumamku menerawang ke langit-langit, masih mencoba menghayati apa yang baru saja terjadi. Tiba-tiba terlintas pikiran irasional bahwa ia akan menganggapku wanita murahan. Biar bagaimanapun kami kan baru saja kenal, dan aku tidak tahu banyak tentang dirinya kecuali yang digambarkan di majalah.

"Eh, ngomong-ngomong, kau tidak menganggapku gampangan kan?" pertanyaan itu terlontar begitu saja tanpa sempat kutahan, "Maksudku, aku tidak biasanya begini. Aku punya banyak kenalan pria di kantor tapi tak pernah seperti ini sebelumnya. Ini sama sekali tidak seperti aku…seperti…bukan diriku," aku tergagap malu dan pipiku merona.

Kai berbalik hingga wajah kami saling berhadapan, "Aku tahu," sahutnya penuh pengertian. "Aku paham kau bukan tipe cewek yang bisa dianggap enteng. Tapi ini salah satu malam terbaik dalam hidupku."

"Mm.." aku beringsut mendekat dan memeluknya, merasa ngantuk berat. "Juga untukku." Perlahan wajah dan senyum tampan Kai berpendar menjadi samar-samar hingga lama-kelamaan semuanya berubah gelap total.

.

.

.

TBC—

review dong? (^^)v