We are MARRIED or NOT?


Main Cast: GS!Sehun, Kai

Support Cast: Kris, GS!Chanyeol, Suho, GS!Kyungsoo, GS!Yixing, Yunho (Papa/Grandpa Yun), GS!Jaejoong (Mama/Grandma Jae)All exo member, another boyband/girlband member, oc, dll

Rating: M

Warning: Mature content in some parts

Genre : Romance, AU, OOC, yadong, genderswitch for uke, comedy, family, friendship, dll

Length: Chaptered

Bahasa: Indonesia campur aduk

Summary Lengkap: Park Sehun, bungsu dari tiga bersaudara. Bekerja sebagai WO memberinya banyak keuntungan, lingkar pertemanan dengan orang-orang sukses, para klien papan atas dan bisnis barternya laris manis. Jika kita gambarkan, rute hidup Sehun adalah kantor-belanja-nongkrong-kantor-belanja-nongkrong-dan-belanja lagi. Si maniak belanja yang tak pernah bisa tahan godaan kalau lihat kata 'DISKON' terpampang besar-besar di depan matanya. Seluruh hidupnya dia habiskan untuk memikirkan obral tas dan sepatu hingga dia tak sempat cari cowok. Sangat boros juga yaaah… bisa dibilang, matrealistis. Namun rute hidup Sehun berubah ketika di ultah yang ke-28, seorang Pria tak diundang bernama Kim Kai tiba-tiba datang ke acaranya dan memberi dia buku 'Manfaat Kerang Bagi Kehidupan'. WTF?!

Sehun yang tadinya ogah menikah malah tergila-gila dan bersedia membuka paha lebar-lebar demi Tuan Kim Kai Yang Terhormat. Demi memuaskan sisi liar terpendam pria itu. Biarpun mereka baru kenal beberapa hari, biarpun Kai pelit dan terlalu hemat. Tapi bukan Sehun namanya kalau tidak silau sama sesuatu yang serba wow. Paket liburan ke Laut Karibia? Seminggu? Bersama suami? Oh, No…

Sehun tidak punya suami! Dia juga sudah terlanjur menolak lamaran aneh Kai. Terus sekarang dia harus bagaimana?! Apa Kai masih berminat melamarnya? Apa Sehun berhasil mendapatkan paket liburan fantastisnya? Well, semoga.


Chapter 3

Keesokan paginya, Kai sudah menghilang tanpa pamit. Hanya meninggalkan sebuah kerta note kecil bertuliskan nomor yang bisa kuhubungi dan tulisan: 'Thanks for AMAZING night. Call me, baby'. Padahal aku masih ingin mengobrol dengan dia lebih lama lagi. Untungnya dia memberiku nomor hp. Yes! Akhirnya aku punya kekasih. Yang paling penting, dia cowok tampan yang sudah memuaskanku selama dua ronde. Mungkin kapan-kapan akan bertambah jadi tiga atau empat.

Oh my goat. Kai benar-benar sukses meracuni pikiranku dan merubahku jadi cewek berotak mesum hanya dalam waktu semalam.

Ketika aku tiba di rumah orangtuaku pada pukul sepuluh, suasana jalanan sudah sangat meriah dan semua orang kelihatan sangat sibuk. Pohon-pohon dihias balon, sepanjang jalan dipenuhi mobil yang terparkir rapi, dan di kebun rumah Tao berdiri tenda besar.

Aku melangkah turun dari mobil dan meraih tas Chloe baruku. Hari ini aku tidak jadi pakai gaun kuning Sunkis, aku menggantinya dengan ballgown taffeta hitam tanpa tali yang roknya melingkar-lingkar. Rambut coklatku kugelung dengan model messy, telingaku dihias berlian berkilauan dan penampilanku mirip putri. Setidaknya aku tak boleh kalah cantik dari sang mempelai wanita. Meski aku bisa datang dengan perasaan lega hari ini (karena aku sudah bukan jomblo lagi!), tetap saja aku tak boleh terlihat lemah di hadapan si penyihir yang telah terang-terangan menantangku. Ya ampun. Kuharap Kai juga datang nanti. Jadi aku bisa membuktikan pada mereka kalau aku bukan gadis pencemburu gila yang masih belum terima cowok cinta monyet-nya menikahi orang lain.

Membayangkan Kai, segenap sarafku langsung tegang. Aku menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Bukan saat yang tepat untuk berpikiran jorok sekarang.

Dengan langkah ringan, aku menghampiri pintu depan dan masuk ke rumah. Di dapur kulihat Papaku sedang minum kopi sambil baca Koran politik, masih pakai mantel rumah kumalnya. Sedangkan Mama mengolesi mentega dan rambutnya dirol.

"Halo, Pa. Halo, Ma." Aku menciumi pipi kanan orangtuaku bergantian.

Mama meletakkan pisau lalu mengamatiku cermat-cermat. Wajahku berbinar-binar karena Mama pasti akan memuji penampilanku yang sangat oke.

"Wah, Sehun." desah Mama akhirnya, "Kau cantik sekali, dear. Kau akan mengalahkan sang mempelai. Benarkan, yeobo?" tatapan Mama beralih ke Papa, meminta dukungan.

Papa mengangguk singkat, "Hmm. Bahkan lebih cantik dari putri salju."

Aku tersenyum bangga, "Terima kasih. Oh iya, dimana semua orang?" tanyaku celingukan mencari keberadaan kakak-kakakku.

"Suho dan Kyungsoo membantu para tetangga di gereja, menyiapkan dekorasi dan sebagainya. Kris dan Chanyeol sedang dalam perjalanan. Anak-anak main di halaman rumah sebelah."

"Yixing dan teman-temanku belum datang?"

Mama meletakkan piring roti di hadapan Papa, "Belum. Coba kau hubungi."

"Oke," aku membuka aplikasi Line dan mulai mengetik pesan untuk tiga orang sekaligus. Lima detik kemudian aku berhenti mengetik ketika menyadari sesuatu, "Pa, Ma. Coba tebak, aku punya kabar gembira buat kalian."

Papa berhenti baca Koran dan Mama berhenti mengolesi mentega.

"Apa?" tanya mereka super kompak.

"Aku sudah…" aku menarik napas sebentar, sudah bisa membayangkan ekspresi terkejut orangtuaku saat tahu putri bungsunya sudah bukan jomblo kesepian lagi, "Aku sudah… bersama dengan Kai."

Papa dan Mama saling lirik, lalu kembali menatapku agak bingung.

"Bersama itu maksudnya seperti… pacaran?" tanya Mama sambil mengaitkan dua jari telunjuk.

Pacaran? Well, aku masih agak ragu tentang yang itu. Tapi kalau dia sudah membawaku ke ranjang dan kami sudah melakukan hal-hal yang lebih daripada sekedar pegangan tangan, kurasa dia memang pacarku sekarang. Milikku.

Aku mengangguk, agak kelewat semangat.

Orangtuaku kayaknya masih belum percaya. Aku dikira mengada-ngada. Duh!

"Aku seriuuus," aku bersungut-sungut ngotot, "Semalam Kris oppa dan Chanyeol eonni mengajak kami double date di hotel."

Alis kiri Papa melambung diluar batas, "Hotel? Apa yang kalian lakukan setelah dinner?"

Aku menelan ludah, gugup. Papa mungkin tidak terlalu senang mendengar anak perempuannya bersenang-senang di ranjang dengan lelaki yang baru dikenalnya beberapa hari.

"Oh, ayolah, yeobo. Mereka bukan anak kecil lagi. Biarkan saja. Justru malah bagus kalau si Kai itu mau serius," Mama yang sudah tersihir oleh pesona Kai jelas-jelas mendukung.

Papa mendengus, "Serius? Kalian baru saja ketemu tiga hari yang lalu. Apa itu tidak terlalu berlebihan? Kita ini 'kan orang timur. Kalau anak itu memang serius, harusnya dia menemuiku dulu, baru mengajakmu jalan."

Astaga. Aku wanita dewasa berusia dua puluh delapan dan masih diperlakukan seperti bocah tujuh belas? Yang benar saja?! Masa aku harus minta izin Papa dulu sebelum begituan?

"Yunho, sudahlah. Anak kita sudah bukan anak kecil lagi. Sehun tahu mana yang terbaik untuk dirinya sendiri. Sebaiknya kau mandi dan bersiap-siap. Acaranya dimulai jam sebelas."

Beneran deh. Aku makin sayang pada Mamaku!

Papa berdecak ogah-ogahan meninggalkan kursi, tapi karena Mama terus mendesak, akhirnya dia berdiri juga dan melangkah malas-malasan menaiki tangga. Aku punya firasat Papa tidak akan melepaskan Kai semudah itu.

"Apa yang bisa kubantu, Ma?" tanyaku berusaha jadi anak yang berbakti.

"Tolong bawa ini keatas," ujar Mama sambil memotong-motong sandwich menjadi bentuk segitiga, "Aku harus bersiap-siap juga, rol rambutku mungkin sudah bisa dilepas".

Aku mengamati tumpukan rol di rambut Mama, "Kelihatannya sudah. Oh iya, memang diatas ada siapa lagi?"

"Ryeowook datang untuk menata rambut Kyuhyun," tukas Mama. Bibi Kyu itu ibunya Tao, sedangkan Paman Zhoumi, adalah ayah Tao. Dari ayahnya-lah Tao mendapat garis keturunan cina. Sedangkan Bibi Ryeo adalah adik kandung Mama satu-satunya, "Mereka tak ingin mengganggu Jiyeon. Kau tahu kan, selagi mereka bersiap-siap di rumah sebelah."

Dasar penyihir. Belum apa-apa sudah tak akur sama Ibu mertua. Tuh buktinya, Bibi Kyu sampai merasa terusir dari rumahnya sendiri.

"Apa Mama sudah lihat gaun pengantinnya?" tanyaku penasaran.

"Belum. Aku belum lihat," ujar Mama pelan, nyaris terdengar seperti suara bisikan dunia gaib. "Tapi Kyuhyun bilang harganya lima juta won lebih! Itu belum termasuk sepatu dan tudung pengantinnya."

Aku melotot terkesan, "Wow." Sejenak aku merasa sedikit iri. Gaun pengantin seharga lima juta, tumpukan kado, pesta, cincin emas… kapan ya aku bisa seperti itu? Kadang-kadang capek juga cuma jadi penata dekorasi pengantin. Sementara ribuan pengantin cantik lalu-lalang di depanku dengan ekspresi bahagia. Aku ingin bahagia juga. Menjadi bahagia seperti mereka. Nah, pertanyaannya sekarang: KAPAN?

"Jadi, apa calon mantu Mama akan datang?" tanyanya sambil menyeringai jahil, sengaja menggodaku.

Aku tersipu-sipu salah tingkah, "Mungkin, semoga saja. Barangkali akan datang bersama Kris oppa."

Mama terkekeh pelan, "Baguslah. Kalau kalian jadi menikah nanti, kayaknya kau harus mentraktir Kris. Dia 'kan sudah berjasa mengenalkan Kai padamu."

Mentraktir Direktur besar perusahaan gas Korea? Terbalik! Harusnya dia yang mentraktir aku karena sudah berhasil move on dari status lajang.

.

.

.

.

Dari tangga sudah terdengar suara dengung pengering rambut di kamar Papa dan Mama, dan ketika aku masuk, kulihat Bibi Kyu duduk di kursi meja rias, menggenggam gelas berisi air putih sambil menyeka matanya dengan sapu tangan. Bibi Ryeo berdiri disekitar wanita itu, sedang mengeringkan rambutnya, lalu ada wanita paruh baya lain yang tak kukenali. Wanita itu memakai gaun sutra ungu muda, duduk di bangku dekat jendela sambil merokok.

Aku meletakkan sandwich diatas meja lalu menghampiri mereka, "Halo Bibi Kyu, Bibi Ryeo" sapaku sambil merangkul Bibi Kyu, kemudian beralih ke Bibi Ryeo untuk bercipika-cipiki.

"Apa kabar? Bagaimana perasaanmu?" tanyaku ke Bibi Kyu.

"Aku baik-baik saja, sayang," katanya ditengah-tengah isakan kecil, "Cuma terharu karena akhirnya Tao akan menikah juga."

"Aku tahu," ujarku simpatik, "Rasanya baru kemarin kami masih kanak-kanak dan naik sepeda sama-sama."

"Oh, Sehunnie." Bibi Kyu balik menatapku penuh rasa simpatik sambil meremas tanganku, "Ini pasti hari yang sulit juga bagimu."

Kelihatannya semua orang memang masih mengira aku naksir Tao. "Tidak juga!" tukasku terdengar seriang mungkin, "Aku malah sangat bahagia karena Tao akan menikah, maksudku—"

"Sehun?" si wanita perokok menoleh dan menyipitkan mata kearahku, "Ini yang namanya Sehun?" Orang ini kelihatan sangat angkuh dan tidak ramah. Astaga. Jangan bilang dia juga mengira aku naksir Tao.

"Mm, ya." Aku mengulurkan tangan sambil melempar senyum sopan, "Saya Park Sehun, teman Tao. Anda pasti… Ibunya Jiyeon?"

"Ya," wanita itu terus memasang wajah sinis tanpa berniat menyalamiku, "Saya Hyomin. Ibu-sang-mempelai-wanita," tambahnya penuh penekanan seolah-olah aku tak mengerti bahasa manusia.

Aku menyesal tadi sudah mengulurkan tangan. "Anda pasti bahagia sekali," ucapku berusaha tetap sopan, "Putri anda akan segera menikah."

"Ya, tentu saja, Tao sangat mencintai Jiyeon," tukasnya menatapku seperti ingin mengajak berduel, "Sangat memujanya. Tak pernah melirik orang lain."

Tatapannya semakin tajam dan aku hanya bisa tersenyum lemah. Habis mau bagaimana lagi? Mendorong wanita ini dari jendela? Membakar gaun ungunya dengan puntung rokok? Atau muntah di depan Tao dan bilang pada semua orang kalau dia pria paling jelek yang pernah kukenal? Itu tidak bakalan ngaruh. Mereka pasti menuduh aku cemburu buta dan sengaja mengacau karena tidak ikhlas melihat Tao hidup bahagia bersama wanita lain. Ralat, penyihir lain.

Jiyeon sialan. Bahkan Ibunya juga bersikap brengsek. Pepatah buah tak jatuh jauh-jauh dari pohonnya itu bukan mitos belaka. Aku sudah membuktikannya sekarang. Anaknya penyihir jahat, Ibunya ratu penyihir jahat. Cocok sekali.

"Kudengar-dengar dari Chanyeol, kau sedang dekat dengan seorang pria?" tanya Bibi Kyu memecah kesunyian horror diantara kami.

"Ya, begitulah," raut masamku berubah ceria lagi, "Namanya Kai. Dan dia sudah sahabatan dengan Kris oppa sejak kuliah."

Bibi Ryeo mematikan hair dryer lalu membubuhkan pengalas bedak di wajah Bibi Kyu, "Oh begitu, lalu apa dia akan datang nanti?"

"Mmm, well, ya..." jawabku terdengar tidak meyakinkan, "Tentu saja dia akan datang bersama Kris oppa, mungkin."

Hyomin si Ratu penyihir mendengus sinis, "Mungkin."

"Dia akan datang, pasti!" balasku tak mau kalah, "Mereka sedang diperjalanan sekarang."

"Oh ya, tentu saja Kris dan Chanyeol akan datang, honey." Bibi Ryeo menatapku prihatin. "Tapi Kai…yaah, barangkali dia memang akan datang."

Barangkali? Apa maksudnya? Bibi Ryeo juga tidak percaya?

Ukh! Rasanya gemas sekali ingin membunuh seseorang, "Dia memang akan datang bersama Kris oppa dan Chanyeol eonni. Lihat saja," tandasku penuh keyakinan. Oke, mungkin aku terlihat tidak sopan beradu argumen dengan orang-orang yang lebih tua. Tapi serius, jika kalian berada di posisi terjepit seperti ini, kurasa kalian juga akan sama-sama jengkelnya.

"Kita sedang membicarakan Kim Kai, lho." tukas Hyomin nyinyir, "Si orang kaya dalam daftar Top Fifteen."

Aku mengernyit heran. Sudah pasti Kim Kai yang itu. Aku tidak kenal Kim Kai yang lain. Memangnya ada berapa Kim Kai di luar sana?

"Ya, memang betul." jawabku tetap percaya diri.

"Lalu si Kai ini pacarmu?" tanyanya lebih terdengar seperti interogasi.

Aku menaikkan alis, "Ya. Kenapa memang? Ada masalah?" Meski dalam hati aku bertanya-tanya, darimana Hyomin bisa tahu Kai masuk dalam daftar Top 15? Apa ada seseorang yang memberitahu dia? Siapa? Chanyeol eonni?

Mendadak ruangan berubah sunyi senyap lagi. Pandanganku terpaku ke majalah VoA yang bertengger manis di meja rias. Majalah yang sama seperti di mobil Kris oppa.

Damn! Jangan bilang mereka juga sudah baca artikel tentang Kai?!

"By the way…" aku harus buru-buru memberi klarifikasi! "Berita di majalah itu memang menulis Kai masih single, tapi itu karena kami baru-baru saja jadian. Dan Kai tidak mau repot-repot meralat, yaaah, kalian tahu kan? Dia sangat… sederhana dan tidak terlalu suka kehidupan pribadinya dipublikasi," jelasku panjang lebar seakan-akan aku sudah mengenal Kai luar dalam.

Hyomin menatapku curiga, "Benarkah? Terus kenapa Jiyeon bilang kalau kau sudah bertunangan?"

Bitch! Pengadu! Bitch! Pengadu! Bitch!

Bibi Ryeo dan Bibi Kyu melotot kaget bersamaan.

"Kau sudah tunangan? Kok aku baru tahu sekarang?" tanya Bibi Kyu ragu-ragu bercampur tak menyangka. Betul-betul tidak membantu sama sekali.

Saat merasa aku sudah tak berdaya dan kehabisan akal untuk mengelak, tiba-tiba saja aku mendengar suara-suara familier dari arah bawah. Pasti Kris oppa dan Chanyeol eonni sudah datang.

"Maaf, permisi. Soal yang itu sebenarnya masih rahasia. Kami tidak ingin buru-buru membaginya dengan orang luar. Bye, senang berkenalan dengan anda, Hyomin-ssi." Aku berbalik pergi dan melangkah luar biasa anggun. Semoga saja Kai sudah duduk-duduk kalem di ruang tamu. Siluman ular itu akan terkagum-kagum melihat penampilanku dan kami akan jalan beriringan menuju ke Gereja. Orang-orang akan memandangi kami dengan perasaan takjub dan Jiyeon serta Ibunya yang kejam itu akan menyesal karena telah meremehkan… lho? Kok? Kai mana? Mana dia? Kenapa yang duduk di ruang tamu cuma Kris oppa dan Chanyeol eonni?!

Mana? Mana? Manaaaa?!

"Shhh! Sehun! Kau sedang apa sih? Ribet sendiri!" keluh Chanyeol eonni waktu kusorong dia dari kursi dan kuobrak-abrik bantal yang dia duduki.

Aku tidak menghiraukan ekspresi bingung keluargaku, tetap berkeliling sambil memeriksa di setiap sudut ruangan. Mulai dari belakang pintu, di dalam gudang, dibelakang pot bunga, di dekat rak sepatu, sampai dibawah kolong meja. Tetap tak menemukan Kai dimana-mana. Kemana sih cowok itu?

Mama ikut memeriksa dibelakang pot bunga, "Sedang cari apa? Uang koin?"

"Bukan uang koin, Ma." ucapku gemas. "Aku sedang mencari Kai. Kai mana sih? Oppa, Eonni, kalian sembunyikan Kai dimana? Ayo ngaku!" tudingku panik seperti kehilangan kucing peliharaan.

Bukannya menjawab, dua orang itu malah saling tatap.

"Memangnya Kai tidak memberitahumu, ya?"

Kedua alisku bertaut heran. What? "Memberitahu apa?" aku melompat duduk di sebelah Chanyeol eonni.

"Kalian tidak saling ngobrol semalam?" tanya Kris oppa yang praktis membuat pipiku memanas. Mengobrol apanya? Mengobrol lewat desahan?

Aku menggeleng sambil menunduk, tidak berani menatap mata Papa. "Tidak, dia tidak bilang apa-apa. Waktu aku bangun dia sudah pergi."

"Ya, dia memang buru-buru sekali. Tadi pagi-pagi dia menghubungiku, katanya ada urusan mendadak di Guatemala," ujar Kris oppa tetap bermuka datar.

Guatemala?! Semalam kami bercinta lalu sekarang dia ada di Guatemala?! Wonderful! Dan aku—dengan pintarnya—gembor-gembor ke semua orang kalau Kai akan datang ke acara pernikahan hari ini. Sekarang aku harus bagaimana? Menyusul Kai ke Guatemala? Suruh dia terbang ke Korea lagi?

Mungkin aku bisa pakai alasan yang paling aman: Kai tiba-tiba sakit gigi, jadi harus dirawat di rumah sakit.

Aish! Terlalu konyol. Manusia lebai macam apa yang sakit gigi terus dirawat di rumah sakit? Apalagi ini Tuan Kim Kai yang sederhana. Dia mungkin lebih suka berburu di hutan mencari obat sakit gigi herbal daripada harus dirawat rumah sakit. Primitif dan sederhana beda-beda tipis.

Aku merosot putus asa di lantai. Rasa cemas menyergapku. Membayangkan si penyihir jahat bersama ibunya tertawa puas lalu berkata, "Dasar perempuan tak tahu malu. Mengaku-aku pacar padahal bukan. Benar-benar tak tahu diri."

"Sudah jangan cemas begitu, Kai belum di pesawat kok, dia masih di bandara sekarang. Barangkali dia akan luluh kalau kau yang telpon langsung. Bujuk dia jangan pergi. Kalau perlu pakai jurus rayuan maut andalanmu, apa saja. Pokoknya hubungi dulu," tukas Chanyeol eonni.

Mama mengusap lembut kepalaku, "Coba saja hubungi, dear. Kau punya nomernya kan?"

Aku mengangguk lemah. Hubungi Kai. Saat ini cuma itu satu-satunya solusi terbaik, selain bersembunyi di kamar sampai peradaban manusia punah dan aku hanya tinggal seonggok fosil menyedihkan.

.

.

.

.

Keluargaku sudah berangkat duluan ke Gereja, hanya aku sendirian di dalam kamar. Selama bermenit-menit coba menghubungi Kai, tapi ponselnya selalu dijawab oleh operator. Aku jadi gelisah dan mondar-mandir tak tentu arah di dalam kamar lamaku. Berdiri di kamar ini mengingatkanku pada masa kecil. Tumpukan boneka dimana-mana, kuda-kudaan kayu di sudut ruangan, rumah Barbie di sudut lainnya… Ya ampun! Bukan saatnya bernostalgia!

"Dia akan datang," ujarku setengah meyakinkan diri sendiri, "Dia tidak jadi pergi ke Guatemala. Urusannya sudah selesai dan dia akan datang sebentar lagi," terus-menerus kalimat sugesti itu bermunculan dan berputar-putar di udara. Berharap aku tiba-tiba punya ikatan batin misterius dengan Kai yang membuat kami saling terhubung lewat pikiran.

Bel pintu berbunyi dan tiba-tiba saja aku dilingkupi perasaan deg-degan.

Tuh kan, itu pasti Kai! Dia datang!

Aku berusaha menahan diri agar tidak berlari, dan dengan riang membuka pintu.

Ternyata-oh-ternyata…

"Bunga untuk pesta nikah," kata pria itu, "Mau ditaruh dimana?"

TUKANG BUNGA!

Seorang pria tengah berdiri di depanku sambil membawa bunga di tangannya. Berkeranjang-keranjang bunga, satu buket bunga dan beberapa kotak panjang ada di dekat kakinya.

"Maaf, anda salah rumah. Bunga-bunga ini seharusnya dikirim ke rumah sebelah. Nomor 41. Disini nomor 42," kataku sambil berusaha tersenyum, menyembunyikan perasaan kecewa.

"Ah, masa?" pria itu mengernyit sangsi, "Coba kuperiksa catatanku, tolong pegang dulu." Dengan seenak dengkulnya dia menjejalkan buket bunga ke tanganku lalu merogoh sakunya.

"Sungguh," gumamku dibalik daun-daunan, "Ini harus dikirim kesebelah. Coba kupanggil—" aku berhenti bicara dan sebagai gantinya melotot ngeri mendapati penampakan makhluk yang paling tak ingin kulihat tengah berdiri di dasar tangga. Siap membunuhku.

"Apa yang kaulakukan?!" bentak Hyomin kasar, "Berikan padaku!" dia merebut kasar buket bunga itu dan wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari hidungku. Bau nikotin yang menyengat nyaris membuatku sesak napas, "Dengar, nona…" desisnya, "Aku tak tertipu oleh senyummu. Aku tahu akal bulusmu. Dan aku tak akan lengah sedikitpun. Aku tak mau pernikahan putriku dirusak oleh psikopat sinting!"

"Aku bukan psikopat sinting!" seruku marah. "Dan aku tak akan merusak apapun! Aku tidak naksir Tao! Aku sudah punya pacar!"

"Oh ya?" sinisnya sambil bersedekap, "Pacarmu yang orang kaya rendah hati itu? Dia sudah datang?"

"Belum," sahutku, "Tapi… tadi dia baru saja menelpon!" tambahku buru-buru. Tidak merasa gentar sama sekali. Cih! Untuk apa takut?

"Dia baru menelpon?" ulang Hyomin sambil mencibir, "Untuk bilang dia tidak bisa datang?"

Aku menyipitkan mata, balik menantang. "Well, kabar baiknya, setengah jam lagi dia datang," ucapku dengan dagu terangkat congkak dan dada membusung tinggi-tinggi. Dia kira cuma dirinya saja yang kejam? Aku juga bisa jadi kejam!

"Bagus," tukas Hyomin lalu melempar senyum culas padaku, "Kalau begitu, tak lama lagi kita akan bertemu dengannya, bukan?"

Bitch! Bitch! Bitch! Bitch!

.

.

.

.

Ternyata sampai jam sebelas lewat Kai tidak datang-datang juga. Perasaan gelisah berganti menjadi perasaan tersiksa. Duuuh, orang itu kemana sih?

Setelah berlama-lama sendirian, aku memutuskan untuk cepat-cepat kesana juga. Jangan sampai orang-orang mengira aku sedang mengiris urat nadi di kamar. Bisa-bisa para penyihir itu nanti berpesta pora diatas tanah kuburanku. Idih! Minimal aku harus datang setor muka, biar cuma dua puluh detik.

Aku masuk ke mobil dan langsung melaju ke Gereja megah yang letaknya beberapa blok dari rumah. Memarkir mobilku dibawah pohon, memperbaiki make up dan tatanan rambut yang agak berantakan, lalu turun dari mobil dengan langkah anggun.

Tapi langkah anggunku cuma bertahan sampai di depan pintu, karena begitu mengintip kedalam, aku langsung dihinggapi perasaan cemas dan buru-buru menutup pintu sebelum semuanya sempat menengok kebelakang.

Aku mondar-mandir panik di depan pintu. Mencoba menghubungi nomor Kai, berharap kali ini ada keajaiban. Namun hasilnya nihil. Lagi-lagi tersambung ke voice mail.

Ketika melongok ke ujung jalan, aku melihat dua mobil sedan hitam datang, berharap Kai yang turun dari sana, ternyata bukan, itu para pengiring pengantin. Pintu mobil dibelakangnya juga terbuka, aku berharap kaki Kai yang muncul dari balik pintu. Ternyata itu… kaki Jiyeon! Hiiiyy! Aku buru-buru masuk. Nanti aku dikira sengaja berdiri di depan pintu untuk menghalangi-halangi dia lewat.

Saat menyelinap masuk, aku berjingkat-jingkat pelan mengambil tempat duduk paling belakang, berusaha tidak menganggu ketentraman dan suasana khidmat di dalam. Hyomin terus melirikku dengan tatapan jahat lalu terdengar kasak-kusuk dibagian tempat duduk dimana sanak keluarga Jiyeon berkumpul. Aku mencoba bersikap tenang dan kalem meski tatapan teman-teman Jiyeon kini mengarah kepadaku. Astaga. Sapi jahat! Cerita apa yang selama ini dia sebarkan ke orang-orang? Kalau aku cewek gampangan yang suka menggoda calon suami orang?

Rasanya aku ingin kabur sejauh mungkin dari sini. Ini begitu menyiksa batin. Bukan karena aku tak rela melihat Tao menikah, tapi karena rombongan badut-badut ini membuatku merasa tersiksa. Aku terpaksa datang karena merasa tak enak hati pada Paman Zhoumi dan Bibi Kyu yang selama ini selalu bersikap baik pada keluargaku.

Pernikahan tolol! Dekorasinya jelek! Cuma balon-balon murah di gantung asal-asalan. Berani bertaruh tukang bersih-bersih di kantorku bisa membuat yang lebih bagus dari ini. Dan outdoor party? Really? Di musim dingin? Mereka sewa WO darimana, sih?

Sudah terlambat untuk kabur, pintu utama berayun terbuka dan lagu mempelai wanita mengalun mengiringi langkah kaki Jiyeon saat berjalan masuk. Aku benci mengakui ini, tapi gaun Jiyeon indah sekali. Belum pernah aku melihat gaun seindah itu. Sangat berbanding terbalik dengan dekorasi yang seadanya. Aku menatap Jiyeon sambil melamun, mencoba untuk tidak membayangkan bagaimana diriku kalau memakai gaun seperti itu.

Iring-iringan musik berhenti, dan sang pastor mulai berbicara. Sanak keluarga dan teman-teman Jiyeon masih melirik-lirik seolah-olah aku punya tompel besar di dagu yang kalau tidak dipandangi bisa membuat mata mereka katarak. Oh, Tuhaan… semoga mereka semua benar-benar katarak. Amin.

Sisa acara berlangsung samar-samar. Sesudahnya, Tao dan Jiyeon berjalan keluar, sengaja tak mengacuhkan aku. Semua orang bergerombol di sekeliling mereka di halaman gereja untuk menghamburkan confetti serta berfoto. Para tamu mulai berkeliaran dan di tengah hiruk-pikuk itu semuanya seolah sibuk sendiri, tak ada yang memperhatikan aku. Bahkan Papa, Mama, kakak-kakak, sahabat-sahabat dan keponakan-keponakanku sedang antri hendak menyalami Tao, Jiyeon serta sanak keluarga mereka. Tapi aku masih tidak sudi dekat-dekat kesana. Terutama setelah sikap kasar Ibu Jiyeon. Cuih! Jangan harap aku mau merendahkan diriku untuk menyalami dia!

Aku menghampiri meja kosong di pinggir dan duduk disana, mengamati dari jauh. Tak lama kemudian pramusaji datang dan memberiku segelas limun. Ketika aku mulai merasa relax menikmati limun yang lezat, aku mendengar langkah kaki seorang mendekat. Aku mendongak dan langsung menciut.

Jiyeon berdiri angkuh di depanku dalam gaun pengantinnya yang indah, bersama Ren, adik Tao yang kebagian peran jadi pengiring pengantin.

"Halo, Sehun." sapanya tersenyum sok manis.

"Hai," ujarku tersenyum sok santai, "Gaunmu bagus."

"Terima kasih, Tao sendiri lho yang memilihkan ini untukku. Seleranya bagus ya?" senyum kemenangan Jiyeon menggantikan senyum sok manis tadi.

Bagus apanya? Kalau seleranya bagus, tidak mungkin dia menikahi keturunan penyihir.

"Lumayan," aku mengangguk-angguk bosan. "Lumayan."

Jiyeon angkat bahu, "Yaah, tak apa-apa kalau kau tak mau mengakuinya. Yang penting aku dan Tao sudah menikah sekarang." dia memamerkan jari bercincin emas di depan mataku.

"Ya, ya tentu saja," aku tetap berakting kalem, padahal dalam hati panas sekali kepingin nabok. "Selamat ya."

"Jadi…" Jiyeon menyilangkan tangan di dada, "Aku kemari hanya ingin memastikan, apa tunangan tersayangmu sudah datang?"

Hatiku mencelos.

"Uhmm…" aku berpikir keras seperti sedang ikut Ujian Nasional, "Dia…"

"Tadi Ibuku bilang cowokmu akan datang setengah jam lagi, tapi ini sudah lewat setengah jam, hampir dua jam lebih malah. Dan dia belum muncul-muncul juga, bukankah itu aneh sekali? Dia tidak kenapa-kenapa kan? Mobilnya tabrakan mungkin?"

Astaganaga. Apa dia baru saja menyumpahi Kai kecelakaan? Tidak akan kubiarkan wanita ini tersenyum puas.

Darahku menyembur naik ke kepala, aku menenggak limunku sampai ludes, lalu balas menantang matanya, "Asal kau tahu saja ya, sebenarnya Kai sudah datang daritadi."

Ren dan Jiyeon saling berpandangan bingung, lalu kembali menatapku curiga.

"Mana? Daritadi aku tidak lihat siapa-siapa disampingmu!" Jiyeon berhenti bersikap sok manis.

"Tadi dia ada di dekat-dekat sini kok…" aku celingukan kesana-kemari, pura-pura kesulitan mencarinya. "Baru saja dia datang dan memberi limun ini, eh sekarang menghilang lagi." dustaku, padahal yang memberiku limun si pramusaji, bukan Kai.

"Tapi dimana? Dimana dia?" tuntut Jiyeon putus asa bercampur sebal.

"Itu disana…" tunjukku sembarangan, "Dia sedang berdiri disana, pakai jas hitam."

Syukurlah semua orang pakai jas hitam hari ini.

Jiyeon melotot, "Kau ini buta atau apa? Yang jelas dong! Semuanya memang pakai jas hitam."

"Kau benar-benar tidak lihat? Kau ini buta atau apa?" aku menangkis balik kata-katanya, "Itu disana, yang lagi berdiri-berdiri sambil pegang gelas minuman."

Syukurlah semua orang pegang gelas minuman.

"Yang mana?" tanya Jiyeon tak sabar.

"Masa sih tidak kelihatan? Jelas sekali kok. Tuh dia!" aku menunjuk ke kerumunan orang yang sedang berdiri dekat air mancur, "Lihat, dia melambai kemari." Aku balas melambaikan tangan juga, "Hai, Oppa!" teriakku nyaring. Beberapa mata menatapku dengan pandangan aneh, bodo amat.

"Mana?" Jiyeon menyipitkan matanya sampai ke ukuran ekstrem, "Ren, kau lihat, tidak?"

"Tidak, yang mana?" Rupanya Ren juga sudah putus asa tolah-toleh kesana kemari, pasti lehernya langsung salah urat setelah ini. "Seperti apa tampangnya?"

"Dia…dia pasti sudah berpindah tempat, mungkin mau ambil snack-snack di meja seberang sana." aku menunjuk-nunjuk asal dengan tampang polos.

Jiyeon menyipitkan mata curiga sambil berkacak pinggang, "Aku tidak lihat siapa-siapa daritadi."

Aku mengendikkan bahu cuek, "Terserah. Yang penting dia ada disini bersamaku. Sudah? Sudah puas kan?" todongku. Dalam hati tertawa puas bisa mengerjai nenek lampir ini

Jiyeon mengatupkan rahangnya rapat-rapat, mungkin dia ingin melemparku ke galaksi lain.

"Jangan kacaukan pesta pernikahanmu dengan berdiri disini sepanjang hari. Kau kan bintang utamanya, berbaurlah dengan para tamu, nanti kau bisa dikira tidak sopan." ujarku tersenyum hangat dan sengaja menggurui, biar dia tambah gemas ingin mencabik-cabik kulitku.

"Pasti," dia berjalan pergi bersama Ren, "Aku sudah tahu. Tak perlu kau ingatkan," geramnya.

Mereka sepertinya belum puas kalau belum melihatku menderita, buktinya daritadi ada saja yang sengaja mondar-mandir di depanku. Bergantian pula. Pertama-tama Hyomin, lalu Jiyeon, kemudian Ren, terakhir Tao sendiri, begitu seterusnya. Tapi aku juga tak kehabisan akal. Saat salah-satu dari mata-mata melewatiku, aku sengaja meminjam jas hitam milik Daehyun dan menyampirkannya di kursi seolah-olah itu jas milik Kai. Supaya lebih seru, aku mengajak yang lain ikut bersekongkol. Waktu Tao lewat, aku langsung sigap memeluk Gongchan (kebetulan model rambutnya hari itu mirip dengan rambut Kai). Bodohnya dia juga tidak mendekat untuk memastikan apa yang kupeluk benar-benar Kai atau cowok orang. Jinyoung tidak protes, dia malah terkikik dan ikut berakting denganku. Kemudian waktu Jiyeon lewat, aku, Yixing dan Baekhyun sengaja mengobrol tentang betapa baik hatinya Kai menolong seorang nenek yang hampir terpeleset di kolam air mancur. Padahal nenek yang dimaksud tadi neneknya Suho oppa yang sengaja di dorong oleh Junkyu (terkadang anak itu bisa nakal setengah mati, tega mendorong nenek buyutnya sendiri), kemudian pura-pura ditolong Gongchan (dia menolong nenek Suho oppa sambil setengah mati menunduk menyembunyikan wajahnya dibalik tudung jaket). Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang mau repot-repot mengecek namanya. Lagipula sanak family Jiyeon tidak ada yang kenal teman-temanku. Saat Hyomin yang lewat, aku pura-pura mengambil dua piring, satu untukku dan satu untuk Kai, waktu dia lewat lagi untuk mengawasi mejaku, piring kami berdua sudah ludes. Padahal pudingnya diam-diam kuselundupkan ke bawah kolong meja, dan dimakan oleh anjing peliharaan milik salah satu pendeta. Pas giliran Ren yang melewatiku, Suho oppa sengaja mengumpat-ngumpat ke sepatunya yang basah karena ketumpahan limun dari gelas Kai. Lalu Kyungsoo eonni menoleh kesana-kemari dan ikut mengeluh betapa lambatnya Kai mengambil lap sepatu.

See? Aku tidak sendiri. Itulah gunanya 'pasukan'.

Hebatnya, tak ada yang bisa membuktikan Kai benar-benar ada atau cuma permainan sandiwara kami. Terlalu banyak orang lalu-lalang sehingga tak mungkin mereka bisa memeriksa siapa yang ada dan siapa yang tidak. Ya Tuhan, ternyata mengelabui para penjahat tidak sesulit yang kubayangkan.

Lama-lama capek juga main kucing-kucingan terus. Aku mendekati Kris oppa untuk bertanya-tanya apa sudah ada perkembangan atau belum.

"Oppa, Kai dimana sekarang? Sudah ada kabar?" kujawil bahunya.

Kris oppa menenggak winenya kemudian tersenyum tipis. "Dia akan datang. Orang suruhanku sudah mengabari. Dia sudah diperjalanan menuju kemari. Tunggu saja."

Sudah diperjalanan? Asyiiik! Tidak sia-sia usahaku selama beberapa menit belakangan ini.

"Itu dia!" seru sebuah suara dibelakangku. Tubuhku membeku sebentar—lalu pelan-pelan aku menoleh. Dengan ngeri kulihat semua tamu sudah berjajar rapi di tengah-tengah taman bunga, selagi sang fotografer mengatur tripod.

"Sehun, mana Kai?" tanya Jiyeon ketus, "Kami ingin mengikutsertakan semua orang."

Sial. Sial.

"Mmm…" aku menelan ludah, kulirik Gongchan yang sudah merubah model rambutnya menjadi bentuk lurus tak menarik, jambulnya menghilang entah kemana. No way. Aku juga tidak mungkin melompat kesana dan memperkenalkan Gongchan sebagai Kai lagi. Terlalu kentara bodohnya. Lagipula Hyomin dan yang lain sudah lihat rupa Kai di majalah. "Barangkali sedang di toilet."

Sunyi. Seluruh hadirin saling bertukar pandang satu sama lain.

"Kita tunggu saja, lagipula acara foto-fotonya tidak buru-buru kan?" tanya Kris oppa.

Jiyeon hanya mengangguk sambil pasang senyum sok manis lagi, "Eh, i-iya sih. Baiklah, kita tunggu."

Tapi dua puluh menit lewat batang hidung Kai tidak muncul-muncul juga. Semua orang sudah kedinginan dan mati beku di taman bunga.

Aku melirik Kris oppa, menuntut. "Oppa… gimana sih? Kai mana? Katanya mau datang?" desisku di kupingnya.

Kris oppa yang biasanya kalem dan tenang kini terlihat panik, "Entahlah… tapi tadi Rudy sudah mengabariku, gimana sih mereka? Pasti ada apa-apanya nih."

Pliiis, jangan tabrakan, pliiis. Jangan kecelakaan. Apa saja, ban mobil kempes juga boleh. Atau mereka terjebak macet karena ada iring-iringan pawai tolol. Tapi jangan tabrakan mobil pliiis!

"Hei, Sehun!" panggil Jiyeon, "Manaaa? Katanya ke toilet? Apa yang dia lakukan di toilet sampai dua puluh menit?"

MANA KUTAHU. Banyak hal yang bisa dilakukan di toilet selama 20 menit. Buang air besar sambil main Criminal Case, mungkin?

Sebelum aku sempat melontarkan alasan, Jiyeon sudah menyuruh dua pramusaji untuk mengecek langsung di toilet pria. Gawat, gawat, gawat! Wanita ini mimpi buruk! Apa dulu Tao menemukannya sedang bertapa di gua kelelawar lalu mereka jatuh cinta? Maksudku, apa yang dipikirkan Tao, sih?!

"Tidak ada siapa-siapa," tukas salah satu pramusaji, "Kami baru mencari dari sana."

"Well… kalau begitu…" aku melirik ke semua teman-temanku, tapi mereka malah melirik gugup ke arah lain. "Kalau begitu… pasti ada di halaman depan."

"Kau 'kan baru dari halaman depan tadi." Jiyeon memicingkan mata, "Kau tidak melihat dia?"

"Mmm… aku tidak tahu," mataku jelalatan ke sekeliling tenda, barangkali bisa pura-pura melihatnya dari jauh. Tapi keadaannya lain kalau tak ada kerumunan orang.

"Dia tak pernah ada disini, bukan?" suara lantang Jiyeon penuh kemenangan, "Kau menyuruh semua temanmu untuk berpura-pura agar kami percaya cowokmu ada disini. Aku tidak bodoh, Sehun! Dan kau adalah penipu! Kau hidup di dalam dunia khayalan yang menyedihkan! Berani bertaruh kau bahkan tidak pacaran dengan Kai!"

"Tidak!" pekikku dengan suara gemetar, air mataku mulai menggenang. "Tidak! Aku bukan penipu! Aku mem—"

"Perempuan sinting!" sela Jiyeon kejam, "Terus terang saja, Tao, aku tidak mengerti kenapa kau dulu begitu tergila-gila dengan perempuan sinting ini."

"KAU YANG SINTING!" bentak Ibuku marah. "Kyu, aku tak mengerti bagaimana kau bisa membiarkan menantumu bersikap kasar! Sehun adalah teman baik putramu selama bertahun-tahun ini. Dan kau juga, Tao, diam saja seperti orang dungu. Seolah ini semua tak ada hubungannya denganmu. Lalu seperti ini perlakuan kalian terhadapnya? Ayo, kita pulang saja." dengan wajah kesal Mama menarik tangan Papa dan berjalan menjauh dari taman. Menyusul kemudian teman-teman dan keluargaku mengekor di belakang mereka.

Kris oppa mengacak-acak rambutku pelan lalu merangkul pundakku, menggiringku pergi dari tatapan orang-orang.

"Hei! Lihat itu!" aku mendengar suara ribut-ribut di belakang. Ketika menoleh, kulihat semuanya sedang memandang ke langit. Ya ampun, kenapa lagi sih mereka?

"Pangeranmu sudah datang," ucap Kris oppa sambil ikut-ikut memandangi langit. Ada apa sih? Memangnya di langit ada ap—

Helikopter?! Mataku membulat takjub melihat benda langit besar itu terbang agak rendah di atas gereja. Baling-balingnya berputar keras sekali hingga menyebabkan semua rumput, pohon, semak-semak, taplak meja, rok-rok para tamu, dan perabot-perabot lainnya bergoyang heboh. Bahkan aku bisa melihat rambut palsu seorang bapak terbang ke udara dan menghilang entah kemana. Terdengar suara-suara panik, orang-orang berlarian dan beberapa tamu malah bersembunyi di dalam gereja.

Yang membuatku melotot semakin takjub karena ada sesosok pria berdiri di tengah-tengah pintu helikopter sambil melambaikan tangan kearahku.

"KAI?!" pekikku histeris. Mau apa dia? Aku melirik Kris oppa menyalahkan, pasti ini salah satu ide gilanya.

"Oppa, kau ini gila ya? Kenapa Kai tidak dijemput pakai mobil saja? Coba lihat itu, kau mau lihat dia patah kaki?" aku mengguncang-guncang pundak Kris oppa berlebihan.

Kris oppa mengernyit, "Pakai mobil? Kai ada di Guatemala tadi. Mana mungkin dijemput naik mobil. Sudah tenang saja, dia pakai parasut kok."

Di tengah suara bising baling-baling helikopter dan suara kasak-kusuk orang panik, aku melihat Kai, dibantu oleh pria lain, sedang memasang tas parasut di punggungnya.

Oh my ghost. Ini akan jadi pesta nikahan paling gila dalam hidupku.

Kris oppa tetap bermuka datar, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. "Santai, Hun. Tidak perlu tegang. Kai sudah terlatih. Ini dulu salah satu kegiatan iseng-iseng kami kalau pas lagi bosan."

Apa? Terjun bebas dari Helikopter?! God. Ternyata aku dikelilingi orang-orang tidak waras.

Begitu Kai ambil ancang-ancang, aku langsung memejamkan mata. Tak sanggup melihatnya. Sambil berdoa semoga parasutnya tidak tersangkut di tiang listrik dan dia bisa mendarat dengan selamat tanpa kekurangan satu bagian tubuh-pun.

Pekikan dan suara tertahan membahana. Detik-detik mendebarkan berlangsung secara LIVE di depan mata semua orang. karena penasaran, aku mengintip sedikit dari celah-celah jari.

Disana. Tepat diatas sana. Kai meloncat dari Helikopter. Gaya gravitasi bekerja, tubuhnya terus meluncur turun. Seluruh dunia mendadak hening. Daun – daun yang lagi asik bergoyang, burung – burung yang lagi terbang mondar mandir, semut – semut yang lagi asik bercengkrama, pokoknya semua hening total. Seorang wanita bertopi lebar tiba-tiba pingsan dan tak ada seorangpun yang perduli. Zhuyi mengabadikan aksi Kai dalam ponsel. Sementara duo predator Hyomin dan Jiyeon melongo dalam ekspresi paling jelek yang pernah kulihat. Mulut dan lubang hidung mereka lebar sekali. Aku bersumpah akan memotretnya kapan-kapan.

Setelah satu menit dua puluh detik yang menegangkan, akhirnya aku bisa bernapas lega melihat parasut Kai mengembang cantik di udara dan dia berhasil menjejakkan kaki-kakinya diatas tanah.

Ladies and Gentleman, kita bisa lihat Tuan Kim Kai berdiri tegar disana. Tersenyum tampan setelah membuatku terjebak berjam-jam dengan para bitches dan datang dengan cara super heboh. Terjun payungnya sukses besar dan hampir semua tamu memberi dia standing applause yang meriah. Sekilas mirip Superman dengan parasut yang melambai-lambai dibelakangnya.

Wow. That's my man. That's maaaiii Incredible Man!

Mula-mula kupikir Jiyeon benar, bahwa aku suka hidup dalam dunia khayalan. Kalau ini semua hanya mimpi di siang bolong. Mungkin aku jatuh tertidur di suatu tempat dan memimpikan Kai datang dengan cara spektakuler. Tapi aku tahu ini semua nyata ketika Kai membalas lambaian tangan dari Kris oppa, hatiku terlonjak dan leherku terasa sesak. Aku tak percaya.

Itu dia.

Benar-benar dia.

I want to kiss him right now.

Uhmm… or maybe next time. In our little private time.

Kai sedang berjalan kearahku. Dia mengenakan sweater abu-abu tua diatas kemeja putih berkerah. Terlihat luar biasa tampan meski beberapa helai rambutnya agak berantakan sehabis melakukan atraksi lompat indah dari Helikopter.

"Hai," sapanya memperlihatkan deretan gigi putih cemerlang.

Walaupun masih diliputi rasa shock, aku mencoba tersenyum. Senyumku mungkin terlihat kikuk, "Hai juga."

"Maafkan aku," ujar Kai tampak sangat menyesal, "Aku tidak tahu kau akan menghadiri acara nikahan. Maksudku, yaa… kau tidak bilang apa-apa semalam."

Aku curi-curi lirik ke Papa dan dia terlihat serius sekali. Matanya menyipit memandangi Kai dari atas ke bawah. Seperti seorang hakim agung yang menilai terdakwa dihadapannya pantas masuk penjara atau tidak.

"Ya, tidak apa-apa. Maaf juga tidak memberitahumu sebelumnya. Aku baru akan menelpon tapi nomormu tidak aktif."

Kai menggosok-gosok belakang lehernya, "Waktu kau hubungi aku sudah dalam pesawat, sayang sekali ada aturan untuk mematikan ponsel. Aku baru baca pesanmu begitu tiba di bandara. Kris menghubungiku dan dia mengancam akan memutuskan kontrak jika aku tak cepat-cepat kembali ke Seoul sekarang juga. Lalu tiba-tiba dua orang pria berkacamata hitam muncul dan menyeretku ke helikopter."

Sudah kubilang. Kris oppa dan ide gilanya.

"Tapi aku tadi sudah membalas pesanmu begitu ponselku aktif. Kau belum lihat?"

Aku merenggut ponselku dari dalam tas, menyesal karena tidak memeriksa kembali benda itu. Dan tentu saja, ada ikon pesan berkedip-kedip gembira di layarnya.

"Tidak, aku tidak lihat," kataku, bengong menatap ponsel. Kupikir dia tidak akan datang. Aku kira tadi Kai tidak akan datang sama sekali…

"Sweety? Are you alright?" tanyanya lembut sambil membelai wajahku.

Pipiku bersemu-semu pink karena salah tingkah. Aku mengangguk kecil dan hanya melempar senyum simpul.

Dia melayangkan pandangannya ke setiap orang, lalu tatapannya berhenti di Tao dan Jiyeon, "Hai, aku Kim Kai. Aku lapar sekali. Apa kalian punya puding?"

.

.

.

.

Kakak-kakak dan teman-temanku sudah pulang. Hanya tinggal Bibi Ryeo di dalam, berbincang-bincang dengan Mama sekalian bantu-bantu di dapur menyiapkan makan malam. Aku memutuskan untuk berlama-lama dulu di rumah orangtuaku. Tadinya sih Kai mengajakku jalan-jalan ke Pantai Hyundai, tapi gara-gara dia keburu dibajak Papa, imbasnya aku terpaksa nonton acara karaoke konyol yang isinya manusia-manusia bersuara sumbang. Bantu Mama memasak? Makasih deh. Aku ini dijuluki si penghancur dapur. Waktu pertama kali belajar bikin sup telur, entah bahan-bahan apa yang kumasukkan dan jadinya malah sup bubur hitam asam manis.

"Saya rasa para ahli dan teknologi korut belum mampu membuat bom hidrogen karena negaranya yang terisolir, selain itu pembuatan bom jenis ini memerlukan biaya besar yang tidak mungkin dibiayai oleh pemerintah Korut yang miskin," ujar Papa masih berputar di topik Korea Utara.

"Memang kelihatannya tidak mungkin Korut mampu. Tapi Korut tidak semisterius yang kita kira. Akan ada saja pihak luar yang lebih dulu tahu dan menyebarkannya. Saya rasa desas-desus ini bukan sekedar hoax. Memang tindakan Korut kali ini sangat berbahaya dan menurut saya bisa sangat merugikan. Apalagi bom hidrogen itu kekuatannya 25 ribu kali lebih kuat dari bom nuklir, Negara itu melanggar hukum internasional dan pantas dijatuhi sanksi oleh PBB," jawab Kai.

"Ck. Bedebah-bedebah itu! Peradaban akan jatuh! Ini perang!" aku mendengar Papa seperti orang kebakaran jenggot. "Mereka jelas-jelas melanggar Traktat Larangan Uji Coba Nuklir."

"Tapi di sisi lain saya sempat berpikir wajar saja Korut uji coba nuklir karena selama ini orang selalu mencibir mereka tidak mampu buat bom sendiri," sahut Kai merubah sudut pandangnya.

"Jadi sekarang kau pendukung mereka, huh?" Papaku terdengar tidak suka.

"Oh, bukan, bukan. Bukan pendukung," sambar Kai buru-buru, takut dicakar Papa. "Lebih tepatnya, mencoba menarik opini melalui dua kacamata yang berbeda. Menurut saya beginilah cara mereka untuk show off pada dunia, menunjukkan kepada semua orang, kalau mereka juga mampu. Bahwa Korea Utara adalah kekuatan yang harus diperhitungkan, dan mereka ingin seluruh dunia untuk melihat mereka dengan lebih serius."

Papa malah tertawa, "Sepertinya Kim Jong-Un baru saja menonton film Star Wars yang baru dan merasa perlu menciptakan senjata mutakhir," ledeknya skeptis. "Diperhitungkan sebagai apa? Ancaman? Cih. Dibanding AS mereka hanya setitik noda di lautan luas. Amerika itu sarangnya konspirator dunia, mereka bisa berperang tanpa senjata, kalahkan musuh tanpa pasukan. Bahkan sesuatu yang belum terpikirkan negara lain, sudah mereka ciptakan lebih dulu. Lihat saja, Soviet porak poranda bukan karena perang, tapi karena politik dan ekonomi mereka. Dan siapa lagi biang keladi di balik itu semua kalau bukan propaganda AS dan Inggris?"

Kai mengangguk-angguk, dahinya berkerut-kerut serius. "Ya, dua Negara itu seperti punya kendali total pada seluruh dunia. Tentu saja dengan menempuh berbagai macam cara. Kebanyakan mereka pakai cara halus yang tak kasat mata. Amerika Serikat mendorong kudeta terhadap Kolonel Khadaffi, tapi apa yang terjadi kemudian? Libya bangkrut total! Kekacauan dimana-mana. Di Mesir juga terjadi hal yang sama, kini Suriah yang mereka guncang. Tapi untungnya ada Rusia yang dari dulu sudah bertolak belakang dengan AS, mereka bersedia berkoalisi dengan Suriah, memerangi terorisme."

Papa menggeleng-geleng, "Putin saja jengah dengan permainan Amerika Serikat yang ingin terus mendominasi dunia."

Daripada nonton acara karaoke payah, mending gabung di forum, "Ehmmm… soal Korea Utara…"

Dua pengamat politik dadakan itu kompak menoleh.

Kai dan Papa menyahut bersamaan. Kai menjawab: "Ya, kenapa, Sayangku?", sedangkan Papa menjawab: "Ya, kenapa, Nak?". Tadinya aku hampir senang karena mereka kelihatan akrab sekali, tapi ketegangan yang awkward kembali mencuat diantara keduanya. Bahkan, aku bisa melihat ada sinar laser yang terpancar dari sorot mata Papa. Sinar laser untuk membumi-hanguskan Kai.

Ada apa sih dengan para pria? Kenapa mereka harus selalu berkompetisi terhadap semua hal? Papa dengan anggapan aku adalah putri kecilnya yang lemah dan harus dilindungi, sementara Kai dengan anggapan kami semacam pasangan kekasih karena dia telah membuatku mencapai kepuasan berkali-kali.

Aku berdehem, mencoba mengalihkan perhatian mereka. "Engg… guys, can I speak first?"

Cukup ampuh. Mereka tidak saling adu tatap sadis lagi.

"Aku pernah baca di sebuah situs, dan menurut beberapa analis barat, katanya agak sulit bagi Korea Utara untuk menguasai dasar-dasar dari senjata fisi. Ada kemungkinan yang mereka miliki hanya boosted weapon, mirip bom hidrogen, hanya saja ini dalam skala lebih 'kecil'. Meski bukan bom hidrogen yang asli, tetap saja dapat menyebabkan banyak korban jiwa berjatuhan di kota padat penduduk seperti Seoul. Barangkali sebanyak dua ratus ribu orang bisa tewas dalam serangan tersebut. Kurasa kita memang harus lebih waspada," jelasku terdengar sangat ilmiah. Sekalian membuktikan pada Kai kalau aku bukan cewek berotak sempit yang cuma bisa hapal merk bulu mata palsu atau kacamata anti badai.

Kai mengangguk-angguk lagi, "Aku juga pernah dengar. Katanya senjata jenis ini, secara teori bisa digunakan untuk membawa korban yang tinggi tanpa menghancurkan infrastruktur dan hanya membuat fallout yang kecil."

"Kalau soal konflik di Suriah, aku juga sependapat dengan kalian. Rusia memiliki kesamaan ideologi dengan Korut, mereka tertinggal jauh dari AS dalam bidang ekonomi, tapi mereka ingin membuktikan sesuatu pada dunia. Sebagai Negara adikuasa penerus Uni Soviet, Rusia ingin diperhitungkan sebagai Negara yang memiliki politik dan militer terkuat. Lagipula hubungan Rusia dan Suriah memang sangat erat. Itulah sebabnya Presiden Vladimir Putin tidak segan-segan mengirimkan pesawat tempur ke Suriah untuk membantu pasukan pemerintah memerangi kelompok-kelompok pemberontak," tambahku, biar Tuan Kim Kai sadar dan buka mata lebar-lebar. Dia tidak boleh menganggapku remeh. Bisa dibilang, aku ini sehati dengan Rusia dan Korut. Tidak ingin dipandang sebelah mata.

Kai tersenyum penuh arti selama beberapa detik. Kayaknya aku berhasil bikin dia kagum atau apa

"Siapa yang mau Kimbap!" seru Mama dari arah dapur.

Kami seperti bayi burung yang bahagia melihat induknya pulang, langsung melesat ke dapur dan lupa apa itu Rusia dan siapa itu Putin. Pokoknya isi perut dulu.

Tak sampai sepuluh detik, kami sudah duduk mengelilingi meja. Sumpit-sumpit digenggam erat di tangan, siap turun di 'medan perang'. Aku selalu menyebutnya 'medan perang', karena keluargaku punya semacam tradisi aneh. Saat waktu makan tiba, selalu saja ada perang sumpit diantara kami dalam memperebutkan lauk paling enak. Di meja makan kami tidak pandang bulu, intinya siapa cepat dia dapat. Bakalan lebih seru kalau Chanyeol eonni dan Kyungsoo eonni juga hadir. Aku biasanya paling sering perang sumpit dengan Chanyeol eonni.

Bola mataku bergerak-gerak lincah, membidik kimbap yang paling banyak isi dagingnya. Nah, itu dia! Hap! Bibi Ryeo kalah cepat. Sumpitku berhasil mencurinya lebih dulu. Bibi Ryeo cemberut melihatku mengunyah kimbap incarannya dengan gaya lahap dan sangat menikmati, seolah itu makanan terenak di dunia. Tapi memang sih masakan buatan Mama selalu jadi makanan terenak di dunia. Sambil mengunyah aku menikmati pertandingan adu panco sumpit Papa dan Mama. Seru sekali. Sumpit milik Papa nyaris terlempar dari tangan. Papa tak menyerah, dia tetap bertahan. Ujung-ujungnya Mama menyerah dan Papa berhasil menyambar kimbap paling besar incaran Mama.

"Ah, curang! Daridulu tidak pernah mau mengalah sama istri sendiri." protes Mama dengan bibir monyong-monyong.

Papa santai mengunyah sambil menaik-naikkan alis, mengejek Mama. Aku paling suka kalau lihat orangtuaku konyol begini, jadi hiburan tersendiri.

Kai awalnya bengong melihat keluargaku makan dengan cara berisik dan aneh, tapi lama-lama dia ikut menikmati. Dia sempat terlibat adu piting sumpit dengan Bibi Ryeo. Tidak sampai lima menit, Kai kalah telak karena tangannya belum selihai tangan Bibi Ryeo.

"Kau harus lebih banyak berlatih, Nak." Bibi Ryeo menggeleng-geleng penuh kemenangan.

Saat hendak mengambil potongan kimbap terakhir, sumpitku di hadang sumpit milik Kai. Aku menyeringai kearahnya, dan dia balas menyeringai lebih lebar.

"Langkahi dulu mayatku," ujar Kai seperti sheriff koboi di arena duel senjata.

Aku angkat dagu sambil mencibir, "Kau tidak akan menang melawanku."

Kai mengusap ujung hidungnya sok jago, "Kita lihat saja nanti."

Pertarungan sengitpun dimulai. Sumpitku berkelit lincah kesana-kemari menghindari sumpit Kai. Aku sengaja membuatnya pusing supaya dia lengah. Ternyata Kai cepat belajar. Sumpitnya juga tak kalah lincah menjepit sumpitku dan memutarnya sampai nyaris terlempar dua ratus meter. Eits. Tidak semudah itu! Aku tak terkalahkan, jadi aku berbuat curang dengan mencubit tangannya. Kai meringis dan sumpitnya terlepas. Yes! Aku berhasil.

"Bukankah mencubit termasuk pelanggaran? Kenapa kalian diam saja?" protes Kai pasang ekspresi memelas.

Tiga orangtua itu cuma menggeleng-geleng.

"Sekali-sekali melanggar itu perlu, Nak." jawab Papa diplomatis.

Kai melotot tak terima, "Apa? Tidak boleh begitu. Harusnya tidak boleh ada diskriminasi."

"Yang terakhir meninggalkan meja cuci piring, yaa!" Mama ngibrit ke dapur sambil terkikik. Bagai digampar siluman banteng, aku langsung berdiri dan membawa piring-piringku ke bak cuci. Papa dan Bibi Ryeo juga cepat-cepat melenyapkan diri dari ruang makan. Tinggal Kai sendirian di meja, tercengang idiot, baru sadar kalau dikerjai. Hahaha. Biar tahu rasa!

.

.

.

.

Aku berjalan sedikit terantuk-antuk, menuju halaman belakang rumahku. Duduk di ayunan kayu tua yang usianya sudah dua puluh tahun. Aku ingat sekali ayunan ini dulu dibuat waktu ulangtahunku yang ke-8. Tiga hari sebelum hari-H aku pulang ke rumah sambil menangis minta dibuatkan ayunan karena bedebah-bedebah kecil di taman menguasai ayunan dan aku tidak boleh naik kalau belum bayar lima won. Untuk apa aku bayar lima won kalau bisa punya ayunan sendiri yang gratis? Ayunan milikku. Tak ada seorangpun yang boleh melarangku naik. Jadi aku minta dibuatkan Papa.

Aku duduk tak bergerak, lebih tertarik memandangi rumput dan sepatuku. Dari tenda besar di halaman sebelah kudengar musik band dan suara Jiyeon memberi perintah. Beberapa anak bermain bola di kebun milik Ibu Tao dan bolanya melambung terlalu tinggi hingga menyebrangi pagar, jatuh di dekat kakiku. Tapi aku diam tak bereaksi. Aku hanya ingin duduk disini selamanya, tanpa harus melihat orang-orang itu lagi.

Pasti setelah hubugan pertemanan Mama dan Bibi Kyu tidak akan sama lagi. Kuharap sih mereka cepat membaik, meskipun ini gara-gara aku, tapi aku tidak pernah ada niat merusak hubungan pertemanan keluargaku dengan Paman Zhoumi dan Bibi Kyu. Mereka orang-orang baik, meskipun menantu mereka brengsek, aku berharap semoga Mama dan Bibi Kyu masih tetap berteman baik setelah semua kesalahpahaman ini.

"Bibi, tolong ambilkan bola kami, dong?" Dua anak kecil, kira-kira sebaya Dennis, senyam-senyum di dekat pagar.

Aku cuma memperhatikan mereka, terlalu malas mengangkat bokongku dari kursi ayunan.

"Bibi… Bibi yang cantik…" salah seorang dari mereka nyengir lebar, sehingga aku bisa melihat diantara dua gigi depannya ada jarak dua senti, "Bibi… kami mau main, bisa ambilkan bola itu?" Apa? Raut wajah macam apa itu? Apa dia sedang ber-aegyo?

Aku cemberut, "Bibi? Aku bukan bibi kalian. Lagipula aku baru dua delapan."

Dua bocah itu saling tatap sebentar.

"Baiklah, kalau begitu, 'Nuna'. Nuna yang cantiiik…" si gigi berjauhan kembali melempar seringai menyeramkan.

"Nuna yang cantik dan sepatunya bagus…" tambah si anak bertopi.

Oh, baiklah. Sudah cukup. Aku benar-benar luluh. Apalagi mereka sudah memuji aku cantik dan sepatuku bagus.

Aku memungut bola di dekat kakiku kemudian bangkit berdiri.

"Biar aku saja," Kai muncul secara ajaib bagaikan jin botol dan mengambil alih bola di tanganku, melemparnya hingga menyebrangi pagar, "Itu bola kalian, anak-anak. Jangan ganggu Nuna yang cantik dan bersepatu bagus ini, cari 'Nuna' kalian sendiri."

Tawaku hampir meledak. Kai cemburu sama bocah ingusan? Okelah dia memang bercanda waktu mengatakannya, tapi kan tetap saja ketahuan kalau dia jealous.

Bukannya pergi, dua bocah itu malah saling tatap lagi.

"Paman, Paman yang tadi terjun dari helikopter itu kan?" tanya si anak bertopi.

Kai mengangguk-angguk narsis, "Ya, ya, ya. Itu memang aku."

"Dan Nuna ini istrinya Paman?" dia bertanya sambil menunjukku.

Eh?

Aku gelagapan salah tingkah dituduh 'istri Kai'. Sial. Kenapa anak-anak itu tidak jadi main bola sih? Kenapa malah mengepoi kami? Kenapaaa?

Kai terkekeh pelan lalu menggeleng, "Bukan."

Itu jawaban jujur kan? Kami memang bukan suami-istri sih… tapi rasanya agak kecewa juga dengar Kai menjawab seenteng itu. Iya sih, kami bukan suami-istri. Ya sudahlah.

"Oooo." bocah-bocah itu kompak manggut-manggut di pagar.

Si gigi depan berjauhan menatapku, "Nuna, ibuku pernah bilang, kualitas organ reproduksi wanita akan menurun setelah usia tiga puluh dua. Bentuk badan juga jadi jelek. Jadi sebelum nuna berubah jadi jelek, sebaiknya cepat-cepat saja."

WHAT?! Aku tidak tahu harus melempari kepala anak itu dengan sepatu atau mewek sambil guling-gulingan di rumput, berani sekali dia?!

Aku melotot seram, "Kalian…"

"Terima kasih, Paman." Mereka kabur secepat kilat sambil tertawa-tawa puas.

"Lho? Lho? Heeeeii! Jangan lari!" teriakku jengkel.

Kai tertawa keras sambil memegangi perut. Lihat kan? Kai juga membuatku kesal. "Anak-anak jaman sekarang cerdas-cerdas."

Aku mendengus seperti kuda liar penyeruduk pantat orang, "Cerdas katamu?! Anak-anak nakal itu baru saja menghinaku!"

Setelah tawanya mereda, Kai duduk di kursi ayunan kayu lalu menepuk-nepuk tempat kosong didekatnya, "Duduk dulu. Ngobrol-ngobrol. Biarkan saja mereka. Omongan anak kecil jangan diambil hati."

Meskipun masih agak gondok, mau tak mau aku ikut menghempaskan diri disamping Kai. Tercenung. Mulai dicekam rasa takut. Bagaimana kalau mereka benar? Bagaimana kalau aku benar-benar jadi jelek di usia 33, dan Kai baru melamarku di usia 34? Apa aku bisa punya anak? Bagaimana kalau ternyata aku mandul dan susah punya anak? Bagaimana kalau ternyata Kai yang mandul? Bagaimana kalau ternyata aku menopause di usia 35? Aku tidak sempat punya anak. Aku tidak akan punya keturunan selama-lamanya. Lalu karena kecewa, tiap malam Kai pergi mabuk-mabukan di bar, mencari gadis-gadis muda sebagai pelampiasan lalu menghamili mereka. Ya Tuhaan… baru dipikirkan saja sudah membuatku merinding sampai ke tulang rusuk.

Aku melirik Kai. Apa dia juga berpikiran sama? Kenapa ekspresinya lempeng begitu?

"Masih memikirkan perkataan anak tadi?" tanya Kai, mungkin diam-diam dia seorang cenayang dan punya ilmu pembaca pikiran.

Aku mengendikkan bahu, "Tidak juga. Kau benar, omongan mereka tak penting. Jangan diambil hati," dustaku berlagak cool.

Kai menundukkan kepala sambil menyeringai lebar. Awas saja kalau dia masih berniat ketawa sampai kram perut.

"Ngomong-ngomong, urusanmu di Guatemala sudah selesai?" tanyaku mengalihkan topik.

Cowok itu berdehem sambil mengusap-usap ujung hidung, "Sebenarnya sih belum, cuma persoalan kecil biasa. Aku masih bisa kesana besok-besok. Kenapa?"

Aku jadi merasa bersalah. Dia jauh-jauh terbang kemari demi menghadiri acara pernikahan tidak penting dan mengabaikan urusannya, itupun dijemput paksa. Aku membayangkan orang-orang suruhan Kris oppa mencengkram kerah baju Kai lalu menentengnya seperti anak kucing dihadapan ribuan mata. Kelihatannya sangat tidak layak.

"Maaf ya, aku merepotkan," gumamku pelan sekali.

Kai malah senyam-senyum dengan tampang kocak. Aku yakin sekali dia bukan cowok gila, terus apanya yang lucu sih? Jangan bilang dia betul-betul diseret seperti anak kucing?

"Kau mengaku kita sudah bertunangan di depan mereka?" tanyanya membelokkan topik dan sukses membuatku gelagapan salting lagi.

"Hmm… aku, aku terpaksa mengarang-ngarang. Supaya terbebas dari tuduhan."

Kai mengernyit, "Tuduhan?"

"Ya, tuduhan… mereka mengira aku masih naksir pengantin pria," bibirku mengerucut kalau ingat perlakuan kasar Hyomin dan Jiyeon tadi. Jika kapan-kapan aku tak sengaja melihat mereka sedang berjalan-jalan santai di taman, aku berjanji akan berhenti sebentar untuk meludahi mereka lalu cepat-cepat kabur supaya mereka tidak sempat menggamparku.

"Pengantin pria?" timpal Kai tak percaya, "Maksudmu pria mirip panda pucat bukan siapa-siapa yang namanya Tao itu?"

"Ya, dia." Mau tak mau aku terkikik melihat ekspresi Kai, "Apa dia mengatakan sesuatu waktu kalian bersalaman?"

Kai menggeleng, "Tidak, dia hanya melongo seperti orang bodoh. Kris bilang kalian pernah berciuman di kebun tomat milik Ibunya dulu?"

Bertambah lagi. Bertambah satu lagi orang yang tahu aib masa remajaku.

Aku mengangguk malu-malu sambil menyumpahi Kris oppa dalam hati. Dasar mulut ember.

"Omong-omong, pengantin wanita dan ibunya kaget sekali waktu aku menyalami mereka. Mereka melihatku seperti melihat utusan alien atau semacamnya. Apa mereka berbuat sesuatu yang… kurang pantas terhadapmu?"

Untuk ukuran cowok, aku cukup kagum ternyata dia peka. "Mmm…" aku berdehem. "Tidak juga. Makhluk-makhluk tidak penting, abaikan saja." jawabku berusaha untuk tidak jadi pengadu cengeng.

"Oke, baiklah." Kai mengangguk-angguk paham, "Lalu adik si mempelai pria berteriak, "Astaga, ternyata dia benar-benar datang!" waktu aku jalan mendekati mereka. Mungkin dia hanya…"

"Menyalak," sambungku tanpa menoleh.

"Right," Kai mengangguk-angguk lagi, "Menyalak," ulangnya lalu menoleh menatapku. Tapi aku malah menatap burung kecil yang terbang berputa-putar diatas kepala kami.

Kai bergeser lebih dekat sambil meraih tanganku, dan aku membiarkannya. Untuk sesaat kami saling berdiam diri. Menikmati angin malam yang sejuk menerpa wajah kami. Kemudian aku menggigil kedinginan. Baru ingat kalau saat ini sedang musim dingin. Aku tersentak ketika menyadari seseorang meletakkan jaket kulit di bahu telanjangku, ternyata Kai pelakunya.

Dia tersenyum lembut. "Aku tidak akan kedinginan, sweater rajut ini turun-temurun, pemberian mendiang ayahku, cukup ampuh melindungi dari udara dingin."

Tatapanku beralih ke sweater abu-abu yang membungkus tubuh kokoh Kai. Tak percaya kalau itu sweater turun-temurun. Terlihat masih sangat bagus dan terawat, tak ada lubang bekas sobekan sedikitpun. Berani bertaruh sweater bermerk yang dijual di butik mahal kalah jauh dibanding sweater itu. Apa benar-benar murni rajutan tangan? Bagus sekali. Siapa yang membuat? Ibunya Kai? Atau Ibu ayahnya? Tiba-tiba aku didorong keinginan kuat untuk mengenal lebih jauh latar belakang Kai. Seperti apa ayahnya? Seperti apa ibunya? Seperti apa paman dan bibinya? Seperti apa sepupunya? Dan seperti apa kakek-neneknya? Aku diserang keinginan kuat untuk… masuk dalam lingkaran keluarganya.

Aku merapatkan jaket Kai, "Thanks. Sweatermu bagus."

"Sama-sama, sepatumu juga bagus." puji Kai gantian.

"Hanya sepatu?" tanyaku berpura-pura tersinggung.

Kai nyengir lebar. "Maaf, maksudku semuanya. Tapi lebih bagus kalau tidak pakai apa-apa sih…ups!" dia refleks membekap mulut, sok keceplosan.

Aku terkikik kecil sambil meninju pelan pundaknya, "Dasar om-om mesum."

Kai menaik-naikkan alis penuh percaya diri, "Tapi kau suka kan?"

Aku menggosok-gosok pipiku, mencoba menutupi kegugupan. Jantungku berpacu kencang, sekilas tadi aku betulan berkhayal kami ada di kamar dan sama-sama tidak pakai apa-apa. Aku salut pada Kai. Baru kali ini ada yang berhasil meracuni otak polosku. Biasanya aku akan bersembunyi atau menghilang dari peredaran jika pria yang kukencani mulai lancang menyinggung-nyinggung hubungan intim. Baik secara verbal maupun non-verbal. Entah dari segi mana yang membuat pria ini berbeda.

"Sehun, aku menyesal terlambat datang." Suaranya tiba-tiba serius, "Aku jadi tak bisa berbuat apa-apa."

"Aku tahu." Aku mendesah keras, "Aku tahu. Sudah jangan dipikirkan lagi. Ada hal-hal yang memang terjadi begitu saja. Salahku juga sih mengaku-ngaku punya tunangan."

Kami berdiam diri lagi. Well, bukan respon yang kuinginkan. Apa dia menangkap pesan tersamar dari ucapanku tadi? Kok sepertinya cowok ini menyembunyikan sesuatu?

"Puding coklatnya enak," Kai akhirnya bersuara setelah kami saling diam-diaman selama puluhan tahun.

"Ya," kataku agak heran dia malah membahas puding. "Memang enak sekali."

Sebagian dari diriku ingin berlama-lama duduk disini, mengobrol omong kosong selama mungkin. Membicarakan apa saja. Tapi diriku yang lain terus mendesakku untuk tidak menunda-nunda lagi, sudahi basa-basi dan langsung masuk ke inti. Apa gunanya berputar-putar? Bukankah kami sama-sama orang dewasa? Berbelit-belit itu salah satu sifat kekanak-kanakan.

"Ehm, Kai…ada yang… ingin kukatakan."

Kai menoleh, "Ya?"

Aku mencoba bersikap tenang dan menguasai diri, tapi bibirku mulai gemetar, dan kedua tanganku terkepal erat. "Ini mengenai… hubungan kita. Maksudku, emm, semalam kita…" Argh! Susah sekali sih mengatakannya! "Aku ingin tahu bagaimana pendapatmu sebenarnya tentang… aku."

Hening sesaat.

"Sehun…" ujar Kai setelah menarik napas panjang-panjang. "Dengar, aku bukan orang yang gampang akrab dengan wanita. Tapi menurutku kau berbeda, waktu pertama kali melihatmu, aku berpikir kau sangat unik dan konyol."

Unik dan konyol? Aku tidak salah dengar kan? Barusan Kai menyebut aku cewek konyol? Konyol? For god's sake… KONYOL?!

"Kau menarik, Sehun. Intinya ada daya tarik yang membuatmu berbeda dari cewek-cewek lain. Itu sebabnya aku penasaran ingin mendekatimu. Meskipun kau itu yaaah, agak… berlebihan dalam hal membelanjakan barang," ujar Kai menyindirku boros, secara halus. "Kebanyakan aku mengenal wanita-wanita sepertimu sangat manja, dan hanya tahu berdandan. Aku tidak keberatan dengan wanita yang berdandan total, asal ada nilai positif yang mengimbangi. Kau juga berwawasan luas, percaya diri dan mau berusaha keras. Aku suka perempuan-perempuan sepertimu begini. Bikin penasaran dan nggak sombong kayak cewek-cewek yang cuma menang gaya."

Wow. Kai bisa menilaiku hanya dalam beberapa hari? Tidak mungkin. Pasti Kris oppa yang gembor-gembor promosi. Tidak salah lagi, memang dia pelakunya! Eh, tapi… mendengar Kai memujiku begitu rasanya senang juga. Sudah lama aku tidak dipuji seorang pria (jika Papa dan kakak-kakak iparku tidak dihitung).

"Darimana kau bisa tahu begitu banyak? Pasti Kris oppa cerita? Apa saja yang dia ceritakan kepadamu?" tanyaku penasaran.

Kai tertawa pelan, "Ya, dia cerita banyak sekali. Awalnya kuanggap angin lewat. Tapi Kris pantang menyerah, selalu menyelipkan topik tentang 'adik ipar kesayanganku' di setiap pertemuan. Pertama-tama sedikit, lama-lama jadi random. Saking seringnya, sampai-sampai bahan obrolan kami tidak ada hal lain, cuma tentang kau saja."

Pipiku memerah karena malu. Kris oppa norak! Dalam sekejap imejku sebagai wanita anggun hancur total. Aku berubah jadi wanita tua cengeng yang suka mengemis ke kakak ipar minta dipromosikan ke teman-teman bujangnya. Astaga! Kenapa tidak sekalian saja dia pasang spanduk besar di gedung kantornya dengan tulisan: 'Wanita ini ingin cepat-cepat menikah, kasihan belum ada yang mau. Tolong kasihanilah dia. Berminat? Hubungi nomor dibawah ini', supaya seluruh penduduk Negeri ini tahu aku begitu memelas dan putus asa.

"Gara-gara dia, aku yang tadinya bosan jadi penasaran," Kai asik terus menyerocos. "Begitu dia menawariku untuk ikut memberi surprise ultah, aku bersemangat ingin bertemu langsung denganmu sampai lupa mandi dan langsung terbang dari Guatemala."

Baru kali ini ada cowok yang begitu bersemangat ingin bertemu denganku sampai lupa mandi. Aku bingung mau berkomentar bagaimana.

"Percayalah, Sehun. Delapan dari Sembilan wanita yang pernah kukencani, cuma kau saja yang marah-marah karena kamar mandinya kupakai. Sampai mengusirku segala."

Aku berusaha terlihat sepede mungkin. "Well, sudah pasti delapan wanita lain itu keliru, fasilitas pribadi seperti kamar mandi memang tidak boleh dimasuki orang sembarangan. Apalagi oleh pria yang bukan siapa-siapanya."

Kai ber-Ooo ria dengan tampang menyebalkan. "Begitu ya?" lalu dia mendekatkan wajahnya sampai aku spontan beringsut mundur karena kaget, "Karena sekarang aku adalah 'siapa-siapamu', apa aku boleh pakai kamar mandi itu lagi sepuasnya? Kau tidak bakal mengusirku lagi kan?"

"Yaa… itu sih tergantung…" aku menelan ludah dan mendorong wajahnya agar menjauh.

"Tergantung?"

"Tergantung si pria-nya. Sanggup berkomitmen serius apa tidak."

Kai terdiam sebentar, seperti sedang berpikir keras. Kemudian meraih kedua tanganku dan meremasnya erat, "Nah, Sehun. Supaya kau tidak kaget, biar kuberitahu dari sekarang."

Aku bengong menatap pria dihadapanku. Jadi sekarang kami resmi berkencan? Kok tidak ada perayaan kembang api atau apa? Entahlah, barangkali ini memang gaya berpacaran ala barat, mengingat Kai sudah terlalu lama tinggal di Negara asing dan pasti sudah terkontaminasi oleh budaya luar. Tidak ada ucapan I Love You dan segala macam trik kuno lainnya, hanya saling mengobrol sebentar, begitu merasa cocok, langsung menyalurkan perasaan tertarik kami diatas ranjang, dan endingnya dia bilang "sekarang aku adalah siapa-siapamu". Terus terang saja ini hal baru buatku, tapi kalau Kai memang berniat serius menjalani…yaa… why not? Terlalu jual mahal kadang tidak bagus juga. Aku harus sadar umur.

"Jujur, aku bukan pria romantis yang terbiasa menghujani pasangannya dengan rayuan, candlelight dinner di tempat mahal, puisi gombal dan kata-kata cinta. Aku lebih suka menunjukkannya lewat tindakan yang berbeda. Nanti kau akan tahu sendiri."

Oh ya? Tindakan seperti apa? Mengajakku keliling kota naik sepeda tua sambil menikmati bintang-bintang di langit? Kedengarannya seru sekaligus unik. Tidak masalah sih. Beda orang, beda gaya kencan.

"Dan kalau sedang sibuk, aku sering mengabaikan segala macam jenis pesan dan panggilan di ponselku, kalau semua urusan sudah beres, aku lebih suka menelpon balik untuk mengabari langsung daripada bertele-tele lewat pesan singkat. Teruss…oh iya, aku juga sangat blak-blakan dan terbuka, jika suka aku akan terang-terangan mengatakan iya, jika tidak, aku juga akan terang-terangan menegurmu, jadi komplain saja kalau misalnya ada perkataan maupun sikapku yang tidak kau senangi."

Aku mengangguk-angguk, "Beres. Aku juga tipe blak-blakan kok."

Kai tersenyum, "Ya, aku tahu."

Dia tahu? Ya iyalah, Kris oppa pasti sudah cerita semuanya.

"Hei, ngomong-ngomong, aku sudah baca majalah VoA. Disitu ada segelintir kisah hidupmu, bersosialisasi, mencukur rambut sendiri, yang ingin kutanyakan, apa kau benar-benar… se-hemat itu?"

Senyuman penuh arti Kai melebar. "Sayang sekali. Berita di majalah bukan isapan jempol belaka. Aku memang se-hemat itu. Jadi maaf saja, kau mungkin tidak akan pernah dapat kado ultah barang-barang bermerk. Aku juga sangat malas kalau diajak kencan di bioskop."

Tidak ada belanja bareng. Tidak ada kado mewah. Tidak ada nonton berdua di bioskop. Cowok ini benar-benar sempurna. Kehidupanku akan kembali ke jaman purba jika aku berpacaran dengannya. Di satu sisi bagus juga sih, aku bisa belajar menabung dan mengurangi kebiasaan boros. Di sisi lain, hidungku bisa gatal-gatal kalau sehari tidak menghirup aroma enak baju-baju bagus di butik-butik ekslusif. Apa aku sanggup?

"Apa kau tidak keberatan?"

Aku meyakinkan diriku sekali lagi. Apa aku benar-benar sanggup?

Aku bukan wanita pengangguran. Aku wanita mandiri. Independent lady. Gajiku lumayan besar dan aku bisa memenuhi kebutuhanku sendiri. Laki-laki mungkin cuma pelengkap. Maksudku, siapa sih yang tidak bosan dengan rutinitas yang itu-itu saja? Belanja-kerja-belanja-kerja-belanja-kerja. Aku butuh variasi baru. Dan yeah, kurasa pria ini sangat menjanjikan untuk menghadirkan sebuah 'variasi baru'. Mungkin aku bisa sekalian belajar berhemat dan lebih low profile setelah berpacaran dengan Kai.

Engg… berhemat tapi belanja juga dong sekali-sekali. Kai tidak perlu tahu semua hal kan? Tentunya aku tidak akan terlalu sering cerita pada Kris oppa atau Chanyeol eonni lagi. Supaya mereka tidak bermulut ember. Kalau soal nonton, aku pasti bisa membujuk Kai, dengan cara apapun. Dia harus mau.

"Hun, bagaimana? Aku tidak memaksa sih. Ters—"

"Oke, siapa takut?" sambarku mantab. "Aku tidak keberatan. Why would I?" jawabku tanpa keraguan secuilpun.

Kai menggenggam dua tanganku semakin erat, wajahnya berbinar-binar cerah. "Bagus. Dan aku sungguh-sungguh berharap… kau mau menikah denganku."

Aku nyaris terjungkal dari ayunan saking kagetnya. Wait… wait… tunggu dulu… Tadi dia bilang apa?

MENIKAH?!

Pasti ada yang salah. Ekspresi Kai bukan seperti seorang pria yang hendak melamar kekasihnya, dia terlihat seperti seorang pria yang hendak mengajakku liburan ke taman safari.

Aku menyipitkan mata ragu. "Kai… bukankah ini agak terlalu terburu-buru? Kau bercanda atau lagi mabuk? Apa disuruh Kris oppa?"

Kai menggeleng, "Tidak, tidak ada yang menyuruhku. Ini murni keputusanku sendiri. Aku sudah memikirkannya matang-matang, bahkan sebelum kita bertemu."

Ya ampun… gila. Gila. Dia ini gila, terlalu terobsesi, polos atau apa? Ternyata cowok inilah si jomblo putus asa yang ingin cepat-cepat menikah, bukan aku.

"Kenapa kita tidak menjalaninya saja pelan-pelan? Saling mengenal satu sama lain. Menikah tidak segampang yang kita kira. Apalagi kepribadian kita banyak yang bertolak belakang."

Kai melepaskan genggaman tangannya, "Jadi aku ditolak nih? Padahal kalau kau mau cincinnya bisa menyusul."

Aku menatapnya tak mengerti. "Kai, ini bukan masalah cincin!" Apa pria ini benar-benar paham prinsip berumah tangga? Enteng sekali dia mengucapkan: "Maukah kau menikah denganku?". Apa dia tahu 'menikah' tidak segampang mencukur bulu kaki sendiri? Ayolah, kami kan baru saja saling kenal. Ketemuan keluarga saja belum. Dia baru berdiskusi sekali dengan Papa soal bom hidrogen milik Korea Utara, dikiranya Papaku akan merestui dia semudah itu?

"Oke. Tentu saja aku mau menjalani hubungan yang lebih serius… suatu hari nanti, tapi ini terlalu cepat." tambahku buru-buru. "Kita belum memulai apapun. Bagaimana kalau setelah menikah kita ternyata tidak begitu cocok? Aku tidak ingin pernikahan kawin-cerai yang main-main seperti yang dijalani para selebritis. Ada terlalu banyak hal-hal yang harus kita pertimbangkan sebelum melaju ke jenjang yang lebih tinggi. Mengerti, kan?"

Kai mengendikkan bahu, "Ya sudah, terserah. Sebenarnya kita masih bisa menjalani masa penjajakan setelah menikah, aku hanya ingin yang terbaik. Tapi kau maunya begitu."

"Ya, aku memang mau begitu," jawabku sambil menyilangkan tangan di dada.

Aku benar-benar tak mengerti dengan pola pikir Kai. Ini semacam tradisi mencari jodoh ala penduduk Guatemala ya? Kenalan dua hari, menikah, terus pacaran. Serius. Aku benar-benar bingung dan tidak habis pikir. Entah apa yang dikatakan Kris oppa sampai dia berhasil menghasut pria baik-baik tak berdosa ini untuk menikahi perempuan yang penuh intrik sepertiku.

"Hm, bagaimana kalau… berikan aku waktu sebulan? Kita coba jalani saja dulu sebulan. Kalau ternyata kau sanggup meyakinkan aku dan membuatku nyaman dalam waktu segitu. Aku akan mempertimbangkan ulang lamaranmu tadi," ucapku memberi keringanan. Kasihan Kai. Takut dia bunuh diri dengan cara-cara kreatif, seperti menelan gabah kering bulat-bulat. Atau membungkus kepalanya sendiri dengan karung gandum lalu mati kehabisan napas. Bukannya tenang, aku malah dihantui.

Kai menerawang ke angkasa, dahinya berkerut-kerut, ciri khas Kai kalau sedang berpikir keras. "Sebulan…"

"Gimana? Setuju kan?" desakku.

Kai mengendikkan bahu santai, "Baiklah. Aku yakin sekali tidak akan mengecewakan. Aku janji."

Oh ya? Aku melempar senyum berjuta makna, "Kita lihat saja nanti."

Begitu Kai pamit pulang, aku berganti pakaian dan naik ke ranjang dengan pikiran yang berkecamuk dan perasaan campur aduk. Sejarah baru terukir malam ini. Tepat, di halaman belakang rumah, dan diatas ayunan kayu berusia puluhan tahun. Aku dilamar seorang Pria. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, ada seseorang yang berniat mengajakku menikah. Di halaman belakang rumah. Diatas ayunan kayu. Dan disaksikan oleh seekor burung kecil yang daritadi terbang mondar-mandir diatas kepala kami. Ini hari teraneh sepanjang masa. Kai cowok teraneh sepanjang masa yang pernah kutemui.

.

.

.

.

Sebulan? Harusnya sih begitu. Apa susahnya sih sebulan? Aku bisa dengan mudah menganalisis latar belakang orang hanya dalam waktu seminggu. Jadi kurasa waktu segitu sudah lebih dari cukup untuk mengenal pria itu lebih dalam, termasuk kebiasaan dan warna kaos kaki favorit keluarganya.

Tidak ada yang sulit kalau kita benar-benar yakin sama diri sendiri. Itu prinsipku. Tak ada yang mustahil, aku dan Kai pasti akan melangkah ke hubungan yang lebih serius. Apalagi dia kayaknya bersungguh-sungguh dan begitu antusias. Bersabar selama sebulan sudah pasti bukan masalah.

Yaa… tadinya sih kupikir begitu.

Sampai di suatu sore yang cerah, setelah pulang dari beribadah, Kyungsoo eonni mendatangi apartemenku sambil membawa Junkyu.

Tidak, tidak. Bukan Junkyu yang membuatku berubah pikiran. Tapi sebuah selebaran yang dibawa Kyungsoo eonni.

Tebak apa?

Romantic getaway for couples alias paket liburan gratis untuk pasangan yang baru menikah, ke Laut Karibia! Coba lihat ini, pasangan tolol macam apa yang mau melewatkan paket liburan fantastis dan menginap di resort mewah selama seminggu?

Aku terpesona. Langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Ini luar biasa. Pantai biru yang cerah dan jernih, pasir putih, fasilitas amazing yang semuanya berlokasi di satu pantai yang sama. Di Turks & Caicos, Caribbean's largest water theme park Beaches!

Setelah kutelusuri official website-nya, aku jadi makin jatuh cinta lagi. Betapa menakjubkannya resort ini, mereka punya 4 theme resorts di satu pulau. Carribean Village dengan garden oasis yang cantik dan berhadapan langsung sama pemandangan laut, Italian Village dengan gedung hotel bergaya eropa yang sungguh berkelas dan kolam ala seleb red carpet hollywood di bagian belakang, Key West Village dengan ciri khas kasual elegannya yang sangat klasik tapi menarik, tinggal disini seolah-olah kalian tinggal di rumah sendiri bergaya vintage dan kamar-kamar tidur di lantai dua. Yang terakhir French Village, perpaduan antara surga Karibia dengan aksen prancis yang menawan.

Ya Tuhan, Ya Tuhan, Ya Tuhan. Surga ini bahkan menyediakan fasilitas kamar tidur anak dengan Xbox gratis di kamar sendiri. Xbox?! Mereka betul-betul tidak main-main dalam hal memuaskan pengunjung. Jika aku punya anak, anakku juga pasti akan jatuh cinta dengan hotel ini. selain Xbox, anak-anak juga bisa bermain-main riang bersama tokoh-tokoh lucu dari Sesame Street. Ya Tuhan, sekarang aku jadi ngiler kepingin punya anak. Tidak hanya, anak-anak, pengunjung-pengunjung remajanya juga bisa bersenang-senang di Nightclub dan game center khusus remaja. Ckckck.

Gigantic waterslides, kolam anak, swim-up soda bars, water cannons, whirlpools, surf simulator dan sungai malas, semuanya bisa ditemukan di Pirate Island Waterpark yang masih merupakan bagian dari pulau ini. Dan oh, oh jangan lupa Scuba Diving-nya. Dan… dan… dan spa! Oh, spa pasangan! Asik juga. Belum lagi 20 macam jenis restoran enak dan bar exclusive tersedia disini dan kita bebas memilih sendiri mau makan dimana. Waaah…

Mataku menari-nari lincah diatas layar, membaca pelayanan khusus yang mereka tawarkan untuk para pasangan berbahagia.

Ideal Locatios For Romance

No worrying about bills

Exotic locations and perfect beaches

Ultra-luxurious and spacious accommodations

Plush king-size beds available in most categories

Gourmet dining with candlelight tables for two

Intimate ambiance at all resorts

Many choice of sports on land and sea

Sparkling entertainment under the sun and stars

Plenty of secluded facilities for romance

Super-attentive and friendly staff

Aku mau, mau, mau! Mau semuanyaaaaa! Kapan lagi bisa bermewah-mewah dengan modal 450 ribu won? Cukup bayar 450 ribu! Itu sudah termasuk tiket PP, sewa tour guide plus berlayar dengan kapal pesiar menuju lokasi. Empat ratus lima puluh dan kalian bisa menikmati semua surga ini. Selama seminggu! Rasanya seperti mimpi indah jadi kenyataan. 450 ribu won untuk sepuluh pasangan yang mendaftar paling cepat. Bahkan harga gaun hitam yang kupakai semalam lebih mahal daripada 450 ribu won.

Aku merinding membayangkan gaun malam milikku. Ternyata masih banyak hal-hal lebih berguna yang bisa kudapatkan dan aku malah menghabiskan duit sebanyak itu untuk satu gaun? Really?

"Itu cuma untuk pasutri baru menikah lho," perkataan Kyungsoo eonni seperti palu martil yang menghujam kepalaku. Aku langsung terlempar dari angan-angan indah beromantis ria bareng Kai di pantai paling eksotis di Karibia.

Aku memutar bola mata. Dasar perusak mimpi.

Segera kuhampiri Kyungsoo eonni di dapur, dia sibuk membuat pancakes sementara Junkyu main game Assasin creed di PSP.

"Ini masa berlakunya sampai kapan?" aku mengacung-acungkan selebaran itu di depannya. "Apa ada persyaratan khusus? Bagaimana cara pendaftarannya?"

Kyungsoo eonni melirikku curiga. "Hun, aku tahu kau mau paket liburan gratis, tapi kau kan belum punya suami. Mau liburan sama siapa? Kai? Memangnya kalian berencana akan menikah dalam waktu dekat?"

Aku menggigiti bibir bawah, gusar. "Menikah? Y-ya, em, tidak sih. Maksudku, kami bisa saja langsung menikah besok, tapi aku tidak yakin Kai bisa mengerti. Nanti aku dikira mau menikahi dia demi paket liburan, padahal aku sudah menolak lamarannya kemarin."

Mata Kyungsoo eonni terbelalak, "Kai melamarmu kemarin? Serius?"

Aku mengangguk, "Iya. Silahkan tanya sendiri orangnya kalau tidak percaya."

Kyungsoo eonni berdecak-decak, "Kai baru saja melamarmu, dan kau menolaknya. Lalu sekarang kau ingin merengek ke Kai lagi demi paket liburan ke Karibia? Ckckck. Kau adalah contoh wanita modern yang menyeramkan."

"Sembarangan, aku tidak merengek." elakku kesal. "Dan jangan sebut aku menyeramkan."

Kecut juga aku diperingati begitu, kalau aku betulan mendatangi Kai lalu minta dia melupakan semua yang kukatakan semalam, rasanya aku seperti cewek labil egois berotak sempit. Itu menjilat ludah sendiri namanya.

"Kalau aku jadi Kai, aku pasti akan berusaha kabur sejauh mungkin dari wanita menyeramkan sepertimu. Pergi ke Guatemala selama-lamanya dan tidak pernah kembali lagi." Kyungsoo eonni terus berkomentar ketus tanpa menghiraukan perasaanku yang selembut kapas sutra. Oke, ini bohong sih.

"Apa di Karibia ada lumba-lumba?" tanya Junkyu agak tidak nyambung.

Aku tersenyum. "Maybe. Di laut seluas dan seindah itu pasti ada."

Junkyu berwajah polos seperti biasa, "Aku pernah dengar dari Bibi Chanyeol katanya Paman berkulit coklat itu suka lumba-lumba."

Paman berkulit coklat? Maksudnya Kai? Tunggu dulu… Kai suka lumba-lumba? Oh my— Kurang imut apalagi cowok itu?

Aku menarik benang merah dari permasalahan ini. Solusinya: aku masih tetap bisa mengajak Kai tanpa mengatakannya secara langsung, serta tanpa membuatku terkesan murahan dan plin-plan di matanya. Cukup 'tiupan-tiupan' kecil yang dibumbui sedemikian rupa hingga alam bawah sadar Kai merekamnya dengan baik. Slowly but sure, dia akan kembali tergoda melontarkan lamaran seperti kemarin malam. Entah itu keceplosan atau salah sebut. Pokoknya giring terus menuju ke tempat tujuan. Never give up. Women always know how to use their power and get what they want, right ladies?

Sejenak aku mempertimbangkan memanggil Kai dengan nama panggilan sayang 'Dolphin'. Walaupun agak norak tapi tidak apa-apa kan kalau dia punya nama panggilan lain? Menurutku 'Kai' terlalu formal dan pasaran. Selain itu aku bisa mengingatkan dia pada makhluk imut bermoncong panjang itu dan membuat Kai kangen ingin bertemu saudara kembar beda spesiesnya. Atau minta bantuan Kris oppa menyinggung-nyinggung topik yang ada hubungannya dengan 'liburan', 'bulan madu' dan 'Laut Karibia' sebanyak ribuan kali supaya Kai termotifasi. Terus aku juga akan mendesah "Oh, Dolphin~ Oh, Dolphin~!" beberapa kali saat kami bercinta, mungkin Kai bakal semakin rindu dan beneran mengajakku ke laut Karibia untuk melihat lumba-lumba. Setelah dia setuju, aku akan menunjukkan brosur ini dan pura-pura keceplosan bilang: "Ups, maaf, aku tidak tahu ini untuk pasangan yang baru menikah."

Toh, bocah-bocah semalam bisa membuat Kai melontarkan lamaran dadakan itu. Mengapa aku tidak? Barangkali berhasil. Barangkali…

Kalau tidak, aku tetap akan pergi kesana sendirian dan meng-upload foto-foto mengenaskan dengan berpura-pura mati digigit lumba-lumba. Mungkin Kai akan iba dan cepat-cepat menyusulku.

Astaga, opsi kedua lebih menyedihkan dari yang pertama.

Pokoknya coba dulu deh. Kalau Kai luluh itu bonus namanya. Aku mengusap-ngusap puncak kepala Junkyu. "Terima kasih, handsome. Kau pintar sekali!"

"Lho? Mau kemanaa? Ini pancake-nya baru jadi!" pekik Kyungsoo eonni dengan suara melengking cempreng.

Aku balik lagi dan mencomot sepotong pancake dari piring, takut dia mengamuk. "Ehmm… enak. Makasih, eonni. Aku mau jalan-jalan dulu."

"Kemana?" tanya Kyungsoo eonni mengernyit, "Tidak ganti baju dulu? Tumben."

Aku mengibaskan rambut panjang ikal-ikalku, "Sudah cantik kok. Masih harum lagi. Iya kan, Jun?"

Junkyu mengacungkan dua jempol penuh dukungan.

Kyungsoo eonni menyentil hidungku tanpa ampun.

"Auw! Sakit, eonni!" sungutku sambil mengusap-usap hidung. "Apaan sih?"

"Kerjanya keluyuran terus. Jangan bilang kau mau mendatangi ahli geologi itu terus merengek padanya?"

Aku menggoyang-goyangkan telunjukku sambil menyeringai super tengil, "Ra-ha-sia…aduh! Kenapa disentil lagi?!"

"Bonus. Sentilan kasih sayang. Sudah pergi sana. Tapi jangan terlalu lama, soalnya aku dan Jun mau pulang jam tujuh."

Aku menatap kakakku penasaran, "Oh ya? Kemana?"

"Ra-ha-sia," dia balas menggoyang-goyangkan telunjuk, kuharap aku bisa balas menyentil hidungnya. Bercanda. Tentu saja aku tidak bisa. Menyentil hidung Kyungsoo eonni bagaikan menyentil hidung ratu kingkong darah tinggi. Aku masih sayang nyawa.

"Aku pergi dulu ya, eonni. Daah, Jun sayang!" aku mengecup pipi keponakanku lalu mengusap kepalanya, kemudian menyambar tas LV di atas meja. Terburu-buru keluar dari pintu dan berlari-lari kecil menyusuri lorong apartemen. Nyaris tersandung lantai karpet dan menabrak petugas angkut sampah, aku lebih cepat berkelit menghindar dari marabahaya.

Pas. Pintu lift terbuka waktu aku tiba. Aku masuk dan berdiri di samping seorang nenek bergaya borjuis. Berusaha mengabaikan tatapan heran nenek itu, aku merogoh tas dan mengeluarkan ponsel. Menghubungi nomor Kai. Lalu seorang nenek lagi masuk dan kembali melempar tatapan heran. Waktu berhenti di lantai tiga, ada wanita tua masuk dan langsung terpaku ke wajahku. Ada apa sih dengan nenek-nenek ini? Apa tiba-tiba saja aku punya jerawat kembar di pipi? Penasaran, aku menoleh ke dinding lift. God, itu apa yang kuning-kuning di pipiku? Saus pancake? Herghhh Kyungsoo eonni! Sudah tahu tampangku cemong berantakan dia malah diam saja!

.

.

.

.

"Hai," sapa Kai begitu melihatku di pintu.

Aku tersenyum kikuk karena dia selalu kelihatan tampan, dan selalu bertambah tampan semenjak terakhir kali kami bertemu.

"Boleh aku…?"

"Kau datang kemari bukan untuk menemui kakakmu?" tanya Kai lebuh dulu.

Aku mendengus, "Buat apa aku menemui dia?"

Kai tertawa pelan. Dia meraih bahuku lalu merangkulku menyebrangi ruang tamu rumah keluarga Wu yang sangat megah dan dipenuhi barang-barang antik dalam lemari kaca. Kalau main kesini aku merasa seperti sedang berkunjung ke museum, bukan ke rumah kakakku sendiri.

"Itu… bawa apa?" tunjuk Kai kearah kantung plastik yang kubawa.

"Oh, ini." aku mengangkatnya, "Beberapa makanan dan buah dari supermarket. Kau belum makan dari siang, kan?"

Kai mengecup pipiku. "Pacar cantikku yang perhatian. Bisa tahu kalau cacing-cacing di perutku lagi berdemo minta jatah."

Penipu mesum. Katanya dia tidak pandai merayu, itu yang barusan apa namanya?

"Halo, adik kecil. Kangen padaku ya?" suara heboh Chanyeol eonni begitu menggelegar dan merusak suasana.

Aku menjulurkan lidah. "As you wish!"

"Itu yang di kantong plastik buat aku kan?" tebak Chanyeol eonni ke-geeran. "Waah makasih, adikku yang jelek. Aku memang belum sempat masak dan lapar sekali. Janin di perutku sedang butuh asupan gizi dan berdemo minta jatah." Dia melirik Kai, sengaja memplagiat ucapannya.

"Enak saja. Ini buat pacar baruku, kakakku yang culun!" Aku menyembunyikan kantong di belakang punggung, supaya tidak direbut Chanyeol eonni.

Chanyeol eonni malah tertawa-tawa lebar sampai mulutnya seperti hampir sobek. Dia memang selalu begitu. Padahal tidak ada yang lucu.

"Itu sudah cerita lama. Sekarang aku Ratu cantik jelita yang tinggal di dalam istana besar," ujarnya pamer deretan gigi, bangga.

Astaga. Belagu sekali. Masih sempat-sempatnya meyombongkan diri.

"Baiklah, Baginda Ratu, Rajamu mana?" aku celingukan kesana-kemari, mencari Kris oppa.

"Ada tuh di ruang kerjanya, kalau kalian berniat tak senonoh di rumahku, sebaiknya pakai lantai empat saja. Anak-anak sedang mengerjakan PR di lantai dua. Aku tidak mau ketenangan mereka dirusak oleh manusia-manusia penuh birahi."

Gejolak panas menjalar naik ke dada dan pipiku. Duh. Haruskah dia sejujur itu? Ngomong di depan orangnya langsung pula.

Kai merangkulku menuju ke tangga. "Baiklah, kalau begitu kami pakai lantai empat ya? Aku tidak mau ketenangan kami dirusak oleh ibu hamil sensitif dan siluman naga yang sedang uring-uringan." Kai mengikuti kata-kata Chanyeol eonni. Balas dendam nih ceritanya?

Kami berhenti di pintu salah satu kamar begitu tiba di lantai paling atas. Aku mendorongnya hingga terbuka lebar dan Kai mengikutiku masuk. Dan seperti biasa, pintu akan selalu tertutup untuk memberikan kami privasi. Seorang pria yang berbeda muncul. Seorang pria yang memiliki rasa lapar atas diriku. Aku tau, aku juga tidak rela berkata 'Tidak" kepadanya. Punggungku menabrak dinding dan kakiku terangkat dalam dua detik. Mulut Kai ada pada mulutku, dia meraih kantong plastik di tanganku dan melemparnya ke atas ranjang. Dari sudut mata aku bisa melihat bungkus ramen penyok dan dua jeruk menggelinding ke kolong tempat tidur gara-gara lemparan bar-bar Kai.

Kai merengkuh wajahku di tangannya dan menciumku, membuatku terperangkap di mulutnya, mendorong masuk lidahnya, menuntutku untuk memberikannya jalan. Aku mengerang dan balas menciumnya, mencicipi rasa mint dan sedikit bir. Aku masih tidak percaya dia adalah seorang perokok. Aku tidak pernah bisa mencium bau rokok padanya. Meskipun aku ingin menolak ciumannya, mengatakan tidak pada Kai adalah hal yang mustahil. Aku selalu menginginkannya.

"Tidak tertarik mencicipi ramen dan jeruk dulu?" tanyaku menggoda.

Dia tersenyum, dalam sekejap wajah tenang dan serius Kai lenyap tanpa bekas, berganti jadi wajah mengerikan dan penuh nafsu.

"Aku lebih tertarik mencicipimu. Aku ingin berada di dalam dirimu. Aku sangat ingin bercinta denganmu, Aku ingin datang di dalammu dan melakukannya lagi, lagi dan lagi. Aku ingin vagina manismu membungkus penisku ketika kau meneriakan namaku. Aku ingin bercinta bersamamu sepanjang malam sampai kau tidak akan mengingat hal lain kecuali diriku," dia berbisik lirih di pundakku.

Hatiku tergagap karena tatapannya dan kata-kata yang baru saja ia ucapkan. Tubuhku bergetar, aku yakin orgasme kecil baru saja keluar dari tubuhku. Celanaku begitu basah dan aku bergerak sedikit tidak nyaman.

"Lilitkan kakimu padaku," perintahnya, mengencangkan cengkramannya pada pantatku.

Aku melakukan apa yang ia katakan. Menempel di dinding, seperti katak yang menunggu pembedahan, aku menyerah pada apapun yang sudah di rencanakan olehnya. Dia bertanggung jawab untuk setiap tombol perintah atas tubuhku, dan aku terlalu menginginkan sentuhannya hingga lupa apa tujuanku datang kemari.

"Buka risletingku dan keluarkan penisku,"

Aku melakukannya. Ia menarik pinggulnya sedikit ke belakang untuk membiarkan tangan-tangan terampilku bekerja. Tetapi mulut dan lidahnya masih mencimku ketika aku melepaskan risleting celana jeansnya dan mengeluarkannya. Keras seperti tulang namun lembut dilapisi sutra. Aku membelai kulit yang membungkus benda kokoh itu dengan tanganku sebaik mungkin dan ia mendesis menikmati sentuhanku. Kai menarik rokku dan jari-jarinya di bawah celana thongku. Dia merobek sisi belakangnya. Merobeknya seperti karet gelang sebelum mengisiku dengan ereksi besarnya. Aku berteriak ketika ia mengisiku, tubuh bagian bawahku meregang karena ukuran kemaluannya dan aku terguncang karena sensasinya. Dia membiarkanku sebentar, tubuh kami akhirnya bersatu.

Dia mengencangkan cengkramannya di bawah pantatku dan mulai memompaku. Keras. Dalam. Benar-benar terasa perih tetapi aku tidak peduli. Aku menginginkannya sejak aku menatap mata hitamnya yang menyala.

"Kai," erangku, menggeliat di dinding seperti cicak sekarat. Kai terus mendorong miliknya, keluar-masuk-keluar-masuk. Aku terus menatapnya. Bahkan ketika aku merasakan munculnya sebuah tekanan di dinding rahimku, dan ujung penisnya menusuk di tempat terdalam yang ia bisa, aku terus menatapnya. Keintimannya diluar batas dan aku tidak bisa memalingkan wajahku, meskipun ingin. Aku perlu membuka mataku lebar-lebar.

Penis Kai berhasil menemukan klit-ku dan membebaskan orgasmeku, menabrak keras, sekeras gelombang lautan menabrak pantai. Aku menangis karena menikmati sensasinya, aku masih menempel pasrah di dinding, Kai masih keras di dalam diriku merasakan kenikmatanku. Tatapan matanya nyaris menakutkan, pasti sebentar lagi Kai akan mencapai klimaks. Dia mendorong keras untuk terakhir kalinya, mengubur hingga ke pangkalnya untuk meredam diriku. Dia menempelkan bibirnya kebibirku dan menciumku. Tangan kuatnya masih menahanku, mencengkram pantatku.

"Ahhhh~ terus, Kaaiii… dolphinku sayaang!"

Kai berhenti mendorong, lalu menatapku bingung, "Dolphin?"

Aku mengernyit, "Iyaa, kenapa? Salah ya aku panggil dolphin?" tanyaku bernada manja.

Bukannya merespon, dia menurunkanku dari pelukannya hingga kakiku menyentuh lantai, dan kemudian menarik keluar penisnya dari lubangku, terengah-engah. Aku bersandar ke dinding untuk menopang tubuhku dan melihatnya kembali memakai celana jeansnya. Ada apalagi sih cowok ini? Dia tiba-tiba berhenti di tengah-tengah kesenangan kami. Lalu berjalan ke kasur dengan gaya santai, seolah-olah semuanya hanya ilusi. Seolah-olah kami tak pernah melakukan apa-apa. Sementara dia mulai mengubrak-abrik kantung plastik, aku masih berdiri diam di dinding. Menatap Kai seperti orang linglung.

"Maaf yang tadi… aku kelepasan. Tidak ada pengaman. Kita belum suami-istri sah. Ayo duduk sini, makan ramen. Apa mau jeruk?"

Apa mau jeruk? Itukah pertanyaan yang pantas ditanyakan pada wanita yang baru saja dia cabuli?

Tuhan. Kenapa Kai jadi aneh lagi? Tidak sekarang. Jangan sekarang. Apa yang salah sih dengan panggilan dolphin? Apa Junkyu menipuku dan ternyata Kai sangat trauma pada lumba-lumba?

Tidak. Junkyu anak yang manis. Biarpun nakal dia tak pernah berbohong padaku, apalagi katanya dia dengar cerita dari Chanyeol eonni. Terus… cowok mesum korslet ini kenapa sih?! Sedetik yang lalu dia begitu berhasrat untuk menghamiliku, detik ini dia seperti penderita busung lapar yang menyantap ramen seakan itu makanan terenak di dunia.

"Kenapa? Tidak lapar?"

Tidak! Aku tidak lapar for motherfucking sake!

Aku menggeleng dan merapikan rokku yang ujung-ujungnya terangkat. Gara-gara Kai, aku resmi kehilangan celana dalam sekarang. Mungkin Chanyeol eonni punya yang seukuran pantat dan pinggangku. Lebih baik aku pinjam saja.

"Mau kemana?" tanya Kai, mie-mie kuning menjuntai keluar dari mulut berlendirnya. Yek! Menjijikkan.

Aku tersenyum malas, "Mandi. Merapikan diri. Terima kasih sudah merobek celanaku."

Kai hanya mengangguk dan kembali mengunyah ramen tanpa perasaan berdosa. Stupid! Jerk! Stupid! Jerk!

Aku menutup pintu terlalu keras, agak terlalu keras sampai menyerupai bantingan orang kalap. Taktik panggilan 'dolphin' gagal total. Hari ini tidak berhasil. Lain kali harus. Aku tak boleh menyerah semudah itu. Tentu saja ini bukan soal paket liburan murah, aku benar-benar mencintai Kai, begitu ingin mematenkan pria itu seutuhnya. Kai milikku. Hanya milikku. Dan kalau dipikir-pikir, masa penjajakan setelah menikah kedengarannya seru juga. Kami akan menjalani hubungan pasutri layaknya pasangan remaja yang baru berpacaran dan masih mesra-mesranya. Malah aku bisa lebih leluasa masuk dalam lingkaran keluarganya jika sudah berstatus 'Istri' sekaligus 'Nyonya Kim'.

Maksudku, sesulit apa sih berumah tangga dan punya anak? Chanyeol eonni saja tidak puas dan masih ingin tambah. Kalau orang-orang itu bisa, kenapa aku tidak? Aku sudah sangat siap menapaki kehidupan baru. Fase yang lebih tinggi dalam siklus hidup manusia. Menjadi Ibu rumah tangga dan seorang istri.

.

.

.

TBC—

reviewww please? (^^)v