We are MARRIED or NOT?


Main Cast: GS!Sehun, Kai

Support Cast: Kris, GS!Chanyeol, Sophia, Donghae, GS!Taemin, oc, dll

Rating: M

Warning: Mature content in some parts

Genre : Romance, AU, OOC, yadong, genderswitch for uke, comedy, family, friendship, dll

Length: Chaptered

Bahasa: Indonesia campur aduk

Summary Lengkap: Park Sehun, bungsu dari tiga bersaudara. Bekerja sebagai WO memberinya banyak keuntungan, lingkar pertemanan dengan orang-orang sukses, para klien papan atas dan bisnis barternya laris manis. Jika kita gambarkan, rute hidup Sehun adalah kantor-belanja-nongkrong-kantor-belanja-nongkrong-dan-belanja lagi. Si maniak belanja yang tak pernah bisa tahan godaan kalau lihat kata 'DISKON' terpampang besar-besar di depan matanya. Seluruh hidupnya dia habiskan untuk memikirkan obral tas dan sepatu hingga dia tak sempat cari cowok. Sangat boros juga yaaah… bisa dibilang, matrealistis. Namun rute hidup Sehun berubah ketika di ultah yang ke-28, seorang Pria tak diundang bernama Kim Kai tiba-tiba datang ke acaranya dan memberi dia buku 'Manfaat Kerang Bagi Kehidupan'. WTF?!

Sehun yang tadinya ogah menikah malah tergila-gila dan bersedia membuka paha lebar-lebar demi Tuan Kim Kai Yang Terhormat. Demi memuaskan sisi liar terpendam pria itu. Biarpun mereka baru kenal beberapa hari, biarpun Kai pelit dan terlalu hemat. Tapi bukan Sehun namanya kalau tidak silau sama sesuatu yang serba wow. Paket liburan ke Laut Karibia? Seminggu? Bersama suami? Oh, No…

Sehun tidak punya suami! Dia juga sudah terlanjur menolak lamaran aneh Kai. Terus sekarang dia harus bagaimana?! Apa Kai masih berminat melamarnya? Apa Sehun berhasil mendapatkan paket liburan fantastisnya? Well, semoga.


Chapter 4

"Kok cepat sekali?" tanya Chanyeol eonni berkerut heran melihatku memasuki kamarnya tergesa-gesa.

Aku mengabaikan pertanyaan Chanyeol eonni dan mengobrak-abrik lemarinya seolah itu milikku. Sudah biasa. Namanya juga kakak-adik.

"Hun, aku sedang bertanya padamu lho, bukan sama kuman-kuman di udara."

Aku menoleh malas, "Apa sih? Aku tidak dengar."

Chanyeol eonni memutar bola mata, "Kayaknya bercinta dengan Kai bisa merusak sistem pendengaran telingamu ya?"

Aku menyambar celana dalam milik Chanyeol eonni yang karetnya bisa ditarik melar. Maklum, meskipun postur tubuh Chanyeol eonni lebih tinggi, tapi masalah tingkat 'kesuburan' badan, jelas aku lebih unggul sedikit darinya. Sedikit.

"Tolong jangan bertanya," aku melarang Chanyeol eonni, padahal dia baru mau mangap.

Wanita itu mencibir, "Aku tidak bodoh. Malah aku lebih berpengalaman dari kau, bocah ingusan! Mau kuajari gaya apa, hm? Apa kau pernah menduduki wajah seseorang dalam keadaan naked? Nah, kalau dengan Kris aku sering men—"

"STOP!" telunjukku menabrak bibir Chanyeol eonni, "Aku tidak mau dengar." Aku benar-benar tidak mau dengar! Ya ampun, perlu ya dia menyombongkan diri soal itu juga? Bikin orang emosi saja!

Dia malah tertawa, "Sudah cepat pakai dan lanjutkan kegiatan kalian. Aku masih punya banyak persediaan celana dalam kok. Tenang saja. Apa perlu bra cadangan juga? Atau mungkin… cambuk dan stocking hitam?"

GOD. Kakakku yang satu ini sudah gila. Kris oppa jago sekali membuat orang gila. Gila seks! Aku heran Chanyeol eonni masih bisa berjalan tegak sampai sekarang. Harusnya dia sudah pakai kursi roda atau apa. Bayangkan saja harus meladeni binatang buas setiap malam. Kalau aku jadi Chanyeol eonni, aku pasti sudah menyerah duluan dan memilih jalan hidup sebagai seorang biksu wanita. Tinggal menyendiri di puncak gunung Tibet tanpa benda-benda duniawi dan tidak berkontak dengan manusia (oke, mungkin aku perlu satu atau dua majalah untuk bacaan iseng-iseng).

"Aku tidak butuh apa-apa, dan plis jangan berbicara menjijikkan lagi," tukasku sambil memakai celana dalam secepat kilat.

Tapi kakakku yang gila ini belum mau menyerah juga. Dia terus-menerus menggodaku dan melontarkan kalimat-kalimat 'panas' yang membuatku gerah ingin menduduki wajah Kai juga.

Astaga. Sejam bersama Chanyeol eonni bisa-bisa aku ketularan gila. Mending cepat-cepat kembali keatas. Bertemu Kai lalu menduduk—ehmm, maksudku, berbincang-bincang atau apalah. Tidak enak membiarkan cowok itu sendirian, apalagi aku masih penasaran dengan sikap ganjilnya tadi.

"Selamat mencobaaaa!"

Aku tak menggubris Chanyeol eonni, melangkah cepat-cepat menuju ke tangga. Berpapasan dengan Sophia di perjalanan.

"Bibi Hunnie, aku tadi habis menggambar lho, mau lihat gambarku?"

Sophia kelihatan riang sekali, pipi mulusnya bersemu-semu merah muda, aku tidak tega bilang tidak pada anak kecil semanis dia.

"Baiklah, memangnya kau menggambar apa?" tanyaku berusaha kelihatan tertarik.

Dengan gaya malu-malu imut, Sophia menyodorkan secarik kertas gambar ke tanganku. Well… gambar yang… oh-mai-god. Ini apa?

"Itu gambar Mommy lagi jadi koboi, terus Daddy jadi kudanya," jawaban polos Sophia membuatku ingin menangis. Bukan karena terharu, tapi karena ingin tertawa terbahak-bahak. Astaganaganaganaga! Bahkan Sophia yang belum cukup umur bisa menggambar sesuatu yang seperti 'ini'. Terkutuklah dua orang itu. Ckckck. Sophia kecil yang malang, kuharap di masa depan dia tidak menjadi pelukis beraliran sesat yang hobi menggambar alat kelamin manusia.

"Apa sebaiknya kuperlihatkan pada Daddy dan Mommy?"

Ya, ya, perlihatkan saja! Biar mampus mereka! Hahaha.

Aku tersenyum bijak pada Sophia sambil mengelus kepalanya, "Daddy dan Mommy pasti senang sekali. Gambarmu bagus kok, sayang. Sungguh… inspirasional." Sophia mungkin tidak akan mengerti apa itu 'inspirasional'. Masa bodoh. Kuharap setelah melihat gambar ini, dua orang gila itu bakal kapok dan berhenti nge-seks selama-lamanya.

Sophia tersenyum girang dipuji-puji. "Okey, aku kebawah dulu ya, Bibi."

Begitu Sophia menghilang dari pandangan, aku balik badan dan lanjut jalan menyusuri tangga, sampai di lantai empat dengan selamat dan tanpa terpeleset, kemudian membuka pintu kamar paling pojok.

Kai sudah tidak makan ramen lagi, sekarang dia makan jeruk sambil berbaring diatas sofa. Membaca buku tebal yang judulnya panjang tak karuan. Raut wajahnya serius sekali. Aku jadi tidak tega mau mengganggu dia.

Mataku terpaku ke komputer jadul diatas meja kayu mahoni. Duduk di depannya lalu menekan tombol On. Chatting sambil lihat-lihat situs belanja online kayaknya seru. Eh, tunggu dulu… tabunganku kan sisa sedikit. Aku juga belum gajian. Haaaaaish! Betapa tersiksanya jadi cewek berdompet kering.

Ya sudah, terpaksa main game saja.

Baru saja aku mau buka game solitaire ketika suara deheman seseorang membuat fokus perhatianku teralih kebelakang.

"Hun, ada yang ingin kubicarakan."

Aku memutar kursi hingga tepat berhadapan dengan Kai. "Apa? Kelihatannya urgent sekali."

"Memang iya, ini soal…"

"Soal?" ulangku mengernyit penasaran.

"Soal semuanya."

"Oh," aku mengangguk-angguk, "Dan semuanya itu menyangkut?"

Kai beringsut maju dan duduk berjongkok di depan lututku, "Pertama, soal pembicaraan kita semalam. Barusan aku sudah memikirkannya baik-baik, dan aku sangat setuju dengan apa yang kau katakan."

Aku menelan ludah. Bayangan pantai impian perlahan-lahan berubah menjadi buram, seburam kaca yang ditutupi embun dan terhalangi kabut.

"Oh ya?" tanyaku terdengar tak yakin.

Kai mengangguk mantab, "Ya. Sudah kuputuskan, mungkin sebaiknya kita menjalani dulu masa penjajakan pelan-pelan. Kau benar, menikah itu sesuatu yang sakral. Ada banyak hal yang harus kita pikirkan. Dan untuk menjalani kehidupan berumah-tangga yang awet, kita tidak boleh main-main dan asal-asalan. Saling menyelami kepribadian masing-masing dan mempelajari baik-baik sifat pasangannya. Itu kan yang kau maksud semalam?"

YA AMPUUUN! Kenapa Kai semudah ini kupengaruhi sih?! Kenapa dia langsung menelan bulat-bulat saja apa yang kukatakan semalam?! Jangan bilang dia mau menjalani masa pacaran yang lama dulu? Padahal bukan itu yang kumau… aduh! Betapa bodohnya mulutku. Untuk apa ya aku menolak dia semalam? Sekarang cowok ini malah membuatku merasa terpojok dan serbasalah.

Kurasa aku harus tegas.

"Aku memang bilang begitu semalam. Tapi kan perjanjian kita cuma sebulan. Satu bulan masa penjajakan, ingat? Selain itu aku sudah lelah menjalani hubungan pacaran ala anak abg. Lihatlah kita sekarang, Kai. Maksudku, berapa usiamu? Berapa usiaku? Kita sudah bukan remaja lagi. Jika dari awal kau tidak ingin serius, maaf saja, aku tidak punya waktu menunggu terlalu lama. Dan kalau ternyata niatmu memacariku hanya untuk kepuasan biologis semata, sebaiknya aku mundur saja dari sekarang." Baiklah, kuharap aku tidak terdengar seperti wanita tua menyedihkan yang begitu ngebet pengen menikah. Habisnya aku gemas sekali melihat para pria suka mengurung wanitanya dalam status pacaran lama yang tidak jelas ujungnya mau dibawa kemana. Bukannya bahagia, malah pihak wanitanya yang tersakiti.

Kai mengangkat kedua tangannya tanda kalah, "Oke, oke, oke. Just chill, baby. Aku tidak akan menggantungmu kok, tenang saja. Fine, jadi sebulan kalau begitu?"

Aku menaikkan alis dengan ekspresi wajah luar biasa menantang, "Maumu berapa lama? Dua bulan? Aku tidak janji. Bisa saja saat itu aku sudah duduk di café bersama pria lain."

Kai berdecak-decak sambil menggelengkan kepala, memandangiku takjub. Huh. Dikiranya aku bakal takut kehilangan dia? Walaupun takut aku tidak boleh menunjukkannya terang-terangan, nanti bisa-bisa dia malah ge-er dan berubah jadi cowok idiot brengsek yang suka menginjak-injak harga diri wanita. Seperti… ah, sudahlah! Malas mengingat orang itu.

Setelah satu tarikan napas panjang, Kai bangkit berdiri dan berjalan mondar-mandir sambil berkacak pinggang, seperti orang kepanasan plus kebingungan. Kaget ya dia? Baru kali ini bertemu cewek seperti aku?

"Ckckck. Tidak kusangka, kau jauh lebih sulit dari yang kubayangkan. Aku salut." Dia berhenti dan melempar seringai miring yang misterius sekaligus keren.

Alisku melenting lebih tinggi menanggapi reaksi bercanda Kai yang berlebihan, "Sudah? Cuma itu saja atau masih ada lagi?"

"Ada satu lagi. Ini soal temanku. Sama-sama pentingnya. Aku yakin kau akan buru-buru menjawab iya setelah kuceritakan."

"Hm…" kepalaku manggut-manggut. "Baiklah, apa itu?"

Kai mendekat dan jongkok di depanku lagi, "Lusa aku akan berangkat, ada teman lama sekaligus mitra kerja yang ingin kutemui. Berani bertaruh kau bakal tertarik dan tidak mau melewatkan kesempatan ini."

Wait… what?

"Kai, kau mau mengajakku? Memangnya kemana?" tanyaku to the point. Habis apalagi maksudnya dia cerita begitu kalau tidak berniat menawariku ikut?

Kai menggenggam kedua tanganku, "Aku mau ke Karibia. Jika kau bersedia, aku langsung pesan tiket untukmu malam ini."

FOR GOD' SAKE. KA-RI-BI-A?! Apa aku salah dengar lagi? Kayaknya tidak, sistem pendengaran telingaku masih sangat oke.

"Tunggu, tunggu… kita menginap dimana dulu nih? Terus berapa lama?" tanyaku mengantisipasi, jangan sampai asal terima tawaran tanpa tahu info lengkapnya.

Alis Kai bertaut heran, "Memangnya penting ya menginap dimana? Kan yang penting suasana liburannya. Bukan menginap dimananya."

Aku bersedekap sambil menyipitkan mata, "Apa maksudmu? Jelas penting! Disitulah letak seni-nya. Percuma liburan di tempat bagus kalau kita menginap di wisma jelek yang kamar mandinya bau tokek mati. Kita tidak bersungguh-sungguh menikmati perjalanan. Setiap pagi kita bakal uring-uringan dan keluar hotel dengan bau bangkai tokek yang masih menempel di hidung kita. Bahkan menghantui di sepanjang perjalanan! Mood juga pasti rusak dan kita akan malas ngapa-ngapain. Makan juga tak berselera, minum juga tak berselera, selfie juga tak berselera, buang air besar juga tak bers—hmmpph!" tiba-tiba tangan Kai nemplok di mulutku.

Kai melepas bekapannya dengan tampang datar, "Kita tidak akan menginap di wisma bau tokek mati. Tidak usah hiperbola begitu."

Ugh! Dasar kurang ajar. "Heh, dengar ya! Tidak ada yang boleh seenaknya membungkam mulutku kecuali Mama, Papa, Chanyeol eonni, Kyungsoo eonni, Suho oppa, Kris oppa, Kakek, Nenek, Bibi Ryeo, Paman Yesung, Paman Zhoumi, Bibi Kyu, Wendy, Krystal, Yixing, Baekhyun, Jinyoung, Nenek Suho oppa…" aku malu sendiri begitu sadar nyaris semua orang yang kukenal pernah membungkam mulutku yang katanya suka berisik dan menyebabkan serangan amnesia dadakan. Bahkan Pak Donghae pernah menyumpal mulutku pake gumpalan kertas.

Aku terpaksa diam. Yang lebih menyebalkan, Kai mengulum senyum, seperti setengah mati menahan tawa.

"Apa senyum-senyum?" ucapku galak. "Sudah cepat cerita, kita akan menginap dimana?"

Kai buru-buru menghapus senyumannya. "Turks and sesuatu, aku tak terlalu ingat. Temanku ini salah satu penanam modal disana. Dia punya arena main golf sendiri di pulau itu. Yaah… barangkali seminggu, bisa lebih."

Turks and…Turks & Caicos?! OMG. Baru semenit yang lalu kepalaku pusing memikirkan cara untuk memanipulasi Kai, eh sekarang dia beneran mengajakku. That's fucking good. Aku jadi tak perlu bersusah payah lagi. Yihaaa!

"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu disini? Apa Kris oppa tidak keberatan? Bukankah kontrak kalian belum selesai? Memangnya boleh ya mengurusi mitra lain kalau kontrak kalian belum selesai? Atau jangan-jangan Kris oppa beneran memecatmu? Astaga, biar kub—hmmphh! Hmmmpph!"

Lagi-lagi kena bungkam!

"Dengar dulu bisa kan?" Kai melepaskan tangannya.

Bibirku mengerucut cemberut.

"Dia tidak memecatku. Lagipula aku masih bisa tetap menghandel kedua-duanya. Tugasku yang sebenarnya baru dimulai bulan depan, disini aku hanya membantu Kris menyiapkan dan menyusun beberapa hal."

Oh, syukurlah.

"Kris juga tidak keberatan, malah dia yang menyarankan aku untuk mengajakmu. Karena katanya kau sudah lama kepingin liburan ke pantai di Karibia."

Wow! Rasanya aku ingin mencium Kris oppa sekarang juga. Mataku membulat senang, "Kris oppa yang menyuruhmu? Astaga. Aku sayang sekali kakak iparku yang satu itu."

Kai menatapku lamaaaaaa sekali, kemudian berdecak, "Tidak jadi."

"Hah? Lho? Kok tidak jadi?" pekikku protes.

Kai tidak menjawab, dia berjalan ke pinggiran ranjang sambil meraih kaus putih polos dan dengan tenang membuka kancing baju kemeja birunya. Gawat. Jangan bilang dia beneran ngambek? Ck. Umur saja yang tua, tapi kelakuan mirip bocah.

Aku mau ikut. Liburan kesana adalah impianku. Aku harus ikut. Bagaimanapun caranya.

Kai memasang ikat pinggang dan memperbaiki lipatan-lipatan di celana jeansnya. Sebentar lagi dia akan keluar dari pintu dan meninggalkanku sendirian. Meninggalkan aku dengan perasaan patah hati. Itu tidak boleh terjadi!

Oke, aku butuh satu tindakan nekat. "Kaai~ aku berubah pikiran. Maaf. Aku menyesal sekali. Aku betul-betul menyayangimu," ujarku sambil berjalan mendekatinya dengan pinggul yang sengaja kuliuk-liukkan.

Kai menengadah heran. Aku membalasnya dengan melempar senyum paling menggoda. "Mau kemana sih? Yang tadi kan belum selesai, kita harusnya sering-sering menghabiskan waktu berdua. Saling… menyelami kepribadian masing-masing…" aku terus melangkah mendekatinya sambil menggigit bibir bawah dan mulai melepas baju atasanku. "… tadi Chanyeol eonni sudah mengajariku gaya baru lho."

Jreng-jreng, sekarang aku terlihat seperti The Real Bitch sejati.

Kai masih terpana menatapku. Dia berubah jadi batu disaat yang tidak tepat.

"Lepas bajumu, darling, aku ingin mempraktekkan sesuatu," ujarku parau, jari-jari lentikku menari-nari diatas dada bidang Kai, "Apa gunanya pakai baju lengkap kalau yang kita inginkan adalah saling mempelajari baik-baik tubuh pasangannya?"

Seulas senyum merekah di wajah tampan Kai, matanya berkilat-kilat dan dipenuhi hasrat.

"Anak nakal, kau memplesetkan kata-kataku tadi," Kai melepas kaos putihnya dan menjatuhkan kaos itu ke lantai. Lalu dia meraih tali bra-ku. "Tapi tidak apa-apa sih, aku memang senang mempelajari tubuh pasanganku. Mata pelajaran paliiing favorit."

Yes! Yes! Berhasil. Pikiranku lega kembali saat Kai menarik turun tali-tali bra di pundakku kemudian membuka kaitan di belakang punggungku. Benda itu melorot turun dan segera bergabung dengan kaos putih Kai.

Aku melayang menikmati sensasi tubuh telanjang Kai mendekapku begitu erat hingga payudara montokku bergesekan dengan kulit hangatnya. Dia menyerang bibirku sementara satu tangannya menelusup ke bawah, terus turun hingga mencapai pahaku, mendorong satu tangannya masuk dibalik rokku.

"Kai? Apa yang kau lakukan?" desahku terengah-engah di bibirnya, jari-jari Kai terus bergerak ke tempat tujuan. Dia memaksa kakiku terbuka sehingga ia mendapatkan apa yang ada di antara pangkal pahaku.

"Hanya menyentuh apa yang menjadi milikku, sayang." Tangan Kai menelusuri lipatan celana dalam kemudian mendorongnya kesamping hingga terkuak sedikit. Jari telunjuknya menemukan clit-ku dan mulai menggosok dengan cara memutar-mutar diatas sarafnya yang sekarang sudah licin. Berhasil membuatku kacau seperti biasanya.

Aku hampir tidak bisa mengeluarkan kata-kata, Kai selalu membuatku terperangkap oleh kenikmatan yang dimiliki oleh tangan-tangan professionalnya. Dan disaat aku hampir pingsan karena merasa keenakan, bibir Kai kembali beraksi melumat habis bibir basahku yang memerah.

Aaaah~ ini sempurna sekali.

Ooohh. Mmmmm.

Benar-benar sangat sempurna.

.

.

.

.

Pada pukul 19.20 malam harinya, aku masih belum terbangun juga dari ranjang. Aku terlalu malas untuk mengangkat tubuhku barang sejengkal pun. Aku mau tetap begini, dibalut selimut tebal putih yang sangat indah. Harusnya sih, sesuai perjanjian, aku sudah tiba di rumah dari jam tujuh tadi. Kyungsoo eonni pasti sedang ngomel-ngomel sekarang. Whatever. Paling-paling nanti dia kirim sms.

"Mau sampai kapan baringan begitu?" tukas Kai sambil tersenyum padaku.

Aku malah semakin membenamkan kepalaku diantara tumpukan bantal, pura-pura tak mendengarnya. Aku tidak mau bangun. Aku sangat nyaman, hangat, dan bahagia disini.

Mendadak aku teringat ingin mengabari Kyungsoo eonni, barangkali dia mengirimiku 9 pesan ancaman dan 20 teror miscall, ketika merogoh di bawah bantal, aku mengernyit heran tidak mendapati benda itu dimanapun. Hah? Perasaan tadi kuselipkan di salah satu bantal ini.

"Mencari ini?" tanya Kai.

Tatapanku beralih ke tangannya, disitu kulihat ponsel manisku sedang bergelantungan ria diantara jari tengah dan ibu jarinya.

Sejak kapan… astaga, dia mulai lancang rupanya.

Aku menatapnya curiga. "Kai, apa yang kau lakukan dengan ponselku?"

"Cuma mau main game, kok. Aku bosan sekali. Ternyata yang masuk hanya pesan-pesan dari orang-orang yang menanyakan soal sepatu, tas dan... jaket berkuda? Kau bisa berkuda juga?"

Buru-buru kusambar ponselku dari tangan Kai. Sepasang kekasih tidak mesti saling menggeledah hp, kan? Kami belum genap empat hari jadian, demi Tuhan!

"Kenapa?" tanya Kai agak bingung melihat muka masamku.

Aku mendengus sebal. "Tidak ada video pornonya kok. Mustinya bilang-bilang dulu kalau mau pinjam."

Kai mengangkat dua tangannya, "Ya deh, ya deh, maaf. Jangan galak-galak begitu dong. Tadi niatnya kan mau main game sama buka internet."

Ya ampun. Orang kaya ini. Saking kayanya kuota internet minjam punya pacar.

"Eh, ngomong-ngomong, tadi aku sempat lihat foto-foto lamamu pas wisuda."

Aku menatap Kai sambil memunguti bra dan baju atasanku, "Terus?"

Kai angkat bahu, "Kudengar-dengar kau lulusan arsi, kenapa tidak cari pekerjaan yang sesuai bidang studi? Sayang lho ilmu yang kau pelajari pas kuliah kalau tidak didalami. Aku juga awalnya berniat jadi arsitek, cuma sayang waktu tes pendaftaran dulu tidak lulus, malah diterima di pilihan kedua."

Kai pernah bercita-cita jadi arsitek? Ada perasaan bangga luar biasa waktu mendengarnya. Bukan bangga karena Kai tidak lolos tes, tapi bangga pada diriku sendiri yang berhasil lolos tes. Padahal aku kuliah di jurusan arsi cuma untuk iseng-iseng sekaligus menyalurkan bakat seniku, ternyata jadi arsitek tidak semudah yang kubayangkan. Aku pernah kerja dulu di kantor yang bergerak di bidang desain interior rumah, tapi bosnya sering uring-uringan melihatku lebih mementingkan cat kuku daripada kerjaan dan dia sering mengataiku cewek lamban gara-gara keberatan di hak sepatu. Kayaknya wanita sialan itu punya dendam pribadi atau apa, sampai-sampai aku dipecat tanpa alasan yang jelas. Tak masalah. Toh aku juga tidak kepingin-kepingin banget jadi arsitek.

"Tidak, tidak sia-sia kok, malah bermanfaat," jawabku sambil mengenakan kembali rok dan celana dalam, "Aku bisa mendesain ruang dekorasi acara, terus sketsa-sketsaku pernah muncul di majalah Future Wedding. Pokoknya profesiku yang sekarang jauuuh lebih seru! Aku sangat menikmatinya. Dibandingkan kerja di perusahaan desain interior. Membosankan! Klien-klienku om-om tua payah yang tidak bisa membedakan mana motif tribal dan mana motif polkadot. Pokoknya bikin frustasi deh! Kalaupun ada klien yang ibu-ibu, mereka biasanya sangat angkuh dan pelit senyum. Pegawai-pegawainya cuek dan bisanya hanya memperbudak. Seharusnya mereka menggajiku dengan upah lebih karena posisiku disitu juga sebagai tukang bikin kopi dan tukang foto copy. Tapi semuanya kurang ajar. Office boy-nya super malas. Tidak ada yang becus. Kerja dikelilingi orang-orang seperti itu membuatku tertekan. Aku ingin sukses dan menghasilkan uang sendiri, bukan mendekam di rumah sakit jiwa. Jadi waktu dipecat, aku malah senang sekali. Langsung kutraktir Yixing di restoran sushi."

Kai manggut-manggut. "Bagus, bagus. Kalau aku ada di posisimu, pasti aku juga akan melakukan hal yang sama. Orang-orang seperti itu tidak cocok dijadikan partner kerja, bukannya mendukung, malah menghambat."

Aku tersenyum lega dapat dukungan dari dia. "Ya, dan setelahnya aku ditawari kerja di Royal Event oleh salah satu kenalan Suho oppa, syukur ternyata diterima. Klien-klien serta partner kerjaku rata-rata usianya sebaya, plus kebanyakan dari mereka sangat loyal. Kalau cuma bergantung sama gaji pokok, pasti susah mau beli ini-itu, mau minta sama orangtua juga tidak mungkin, meskipun uang pensiunan Papa dan Mama banyak, tapi aku tidak tega kalau mau shopping, jalan-jalan, makan, nonton dan lain-lain masih minta disubsidi mereka. Habis itu aku berusaha keras, gimana caranya biar bisa diangkat jadi PM, kan gajinya lumayan besar. Dengan gaji segitu, aku bisa betul-betul lepas dari ketek orangtua. Terus bisa beli apapun yang kumau tanpa ada embel-embel ceramah panjang lebar. Uang uangku, terserah dong mau diapain."

Duh. Apalagi yang salah dari penjelasanku? Kenapa Kai malah cengo begitu? Dia tidak ilfil kan?

.

.

.

.

Jawaban Sehun sukses bikin Kai melongo habis-habisan. Benar-benar cewek manja metropolitan parah! Niatnya kerja keras bukan untuk membantu meringankan beban orangtua, tapi semata-mata untuk memenuhi kebutuhan material cewek itu! Tapi harus diakui, usaha Sehun boleh juga. Kalau kesadarannya buat mencari uang muncul, berarti nalar cewek manja ini masih jalan. Paling tidak, kekasihnya ini punya semangat untuk berusaha. Tidak berleha-leha di rumah, mengemis sama cowoknya, atau menunggu hujan duit jatuh secara ajaib dari langit.

Kagum dan salut. Dia tidak salah memilih calon pendamping hidup. Kai suka cewek-cewek yang mandiri dan mau berusaha keras. Jeleknya, ya sifat boros Sehun itu tadi. Kayaknya perlu sedikit dibenahi. Kai tidak mau istrinya nanti hobi menumpuk-numpuk barang alias 'nyampah' di rumahnya, cuma gara-gara dia sebagai suami, tidak becus mengarahkan pasangan hidupnya ke jalan yang benar. Belanja sih boleh. Namanya juga cewek, pasti banyak kebutuhannya dibanding laki-laki. Asal jangan too much lah.

"Hei, honey. Aku punya buku yang bagus, mungkin bisa kau baca selagi ada waktu luang," Kai berjalan ke meja komputer dan membongkar-bongkar lacinya, "Seingatku aku pernah taruh buku disini. Judulnya Happy Lifestyle for Creative Mom."

Sehun terperangah tak percaya, "Mom? Kau baca buku untuk ibu-ibu?"

"Bukan, bukan aku, tadinya buat kado ultah Ibuku, tapi dia kurang suka baca buku, jadi sengaja kutinggalkan disini…nah, ini dia! Nih bukunya, sangat bagus dan bermanfaat," Kai menyodorkan buku dengan sampul bergambar seorang wanita bule tersenyum ceria sambil menggendong boneka gurita yang kayaknya terbuat dari keset kaki lusuh.

Mata Sehun kedap-kedip loyo memandangi buku di tangan Kai, kemudian menatap Kai dengan ekspresi bengong yang nggak banget, lalu kembali mengedip-ngedipkan mata ke si ibu-ibu bule dan gurita jeleknya.

"Ayo baca! Jangan cuma dipandangi," keluh Kai karena telapak tangannya mulai gatal megang buku kelamaan.

Sehun masih ragu, "Emmm… harus ya dibaca sekarang? Tidak bisa tahun depan saja?"

Kai memasang raut datar. Cewek ini bercanda terus kerjanya.

"Okey…" tangan Sehun bergerak patah-patah meraih buku itu. "Kayaknya seru. Apa aku bisa bahagia setelah membaca buku ini?"

Tuh kan. Bercanda terus kerjanya.

"Aku sudah lihat-lihat sekilas. Di buku ini, ada beragam cara untuk menyiasati barang-barang bertumpuk di rumah, seperti baju dan lain-lain yang sudah jarang dipakai dan tidak dibutuhkan lagi. Namanya recycle, rubah sesuatu dan ciptakan sesuatu yang baru dari barang-barang yang sama. Jadi tidak perlu beli baru, sebenarnya kita masih bisa menggunakan kembali barang-barang lama tanpa harus dibuang atau dibiarkan jadi sampah begitu saja," cerocos Kai berusaha mengabaikan ekspresi ngeri Sehun saat memelototi gambar celana jeans yang digunting-gunting terus dirubah jadi taplak meja. "Tentunya selain bagus dan melatih kreatifitas, hemat pengeluaran juga kan?"

Sehun tersenyum ganjil. "Eh, iya sih. Bagus. Iya, inspiratif. Makasih bukunya."

Cowok itu menepuk-nepuk paha Sehun, "Nah kan? Bagus kan? Ya iyalah, siapa dulu dong yang milih?" Kai kelihatan bangga sekali, dia tidak tahu kalau sebenarnya Sehun lagi mati-matian berusaha untuk tidak menjerit histeris melihat gambar-gambar menyedihkan ini.

.

.

.

.

Aku sama sekali tidak bahagia! Ini mengerikan! Siapa yang mau pakai tas dari bungkus detergen? Aku tidak mau pakai benda begitu di pundakku lalu berkeliling kota! Dan… oh apa ini? Tas dari celana jeans? Taplak meja dari celana jeans? Mereka beneran mengguntingnya?! Celana jeans Hérmes dijadikan telapak meja?! Lebih baik aku makan di lantai atau tidak usah punya meja sekalian daripada celana jeans mahal begitu harus digunting-gunting. Ide bikin tas dari celana jeans sebenarnya cukup funky dan unik, tapi aku tetap tak rela melihat celana jeansku dijamah oleh gunting rumput sebesar ini.

Terus ini… lihat ini! Celana kolor jadi saputangan? Ckckck. Aku membayangkan menyeka mulutku pakai celana kolor bekas Papa yang masih ada noda kuning-kuningnya. Hiiiy! Mending kusiram mukaku dengan air kobokan.

Ada juga foto-foto bayi memakai baju dari bekas karung terigu. Baru melihatnya saja aku sudah depresi. Jangan harap aku mau membaringkan bayiku di ember bekas cucian piring. Yang kuinginkan adalah boks bayi mungil dengan kelambu putih yang dilengkapi mainan-mainan lucu.

"Itu kayaknya bisa dicoba, membuat lap seka bayi dari kain bekas," telunjuk Kai membuatku berhenti membuka-buka halaman, "Kita tinggal merebus dan merendamnya dalam cairan minyak dan sabun. Katanya jauh lebih ramah lingkungan juga lembut untuk kulit bayi. Bisa digunakan berulang kali pula. Jadi sekalian bisa berhemat dalam jangka panjang."

"Wow… hebat." aku menelan ludah. Meratapi kain-kain lusuh itu, salah satunya bertuliskan "Pusat Penangkaran Kuda Nil" tercetak samar-samar di bagian pinggir. Sampai mati pun tidak akan kubiarkan bayiku memakai kain bekas kuda nil.

Tapi Kai terlihat sangat antusias. Aku tidak ingin melukai perasaannya dengan mengatakan buku ini konyol sekali. Bahkan cenderung aneh dan diluar batas kewajaran manusia. Tak ada seorangpun yang mau punya boneka gurita dari keset kaki. Tidak ada!

Oh iya, satu lagi, lebih baik aku kehujanan dan disambar petir daripada harus pakai payung yang terbuat dari bungkus mie instan.

.

.

.

.

Kyungsoo eonni beneran mengomeliku lewat telpon, katanya dia dan keluarganya jadi terlambat ke acara Dies Natalis gara-gara menungguiku pulang. Astaga. Dia kan tidak perlu seserius itu. Cuma acara dies natalis. Berani bertaruh, tidak ada yang ambil pusing Kyungsoo eonni mau datang apa tidak. Malah kayaknya semua dosen pada ramai-ramai berdoa semoga Kyungsoo eonni tidak datang. Habisnya kakakku itu jualan pulsa elektrik dan kerjanya tiap hari menagih utang ke orang-orang. Itulah sebabnya dia selalu tampak menua setiap minggu, mungkin karena kebanyakan ngomel dan memikirkan utang orang lain.

Begitu sampai di kamar apartemen, aku tidak melihat ada tanda-tanda kehadiran manusia. Berarti dua orang itu sudah pergi. Waah, leganya! Aku terbebas dari pidato Ibu Tiri Neptunus gelombang kedua.

Aku membaringkan tubuhku diatas sofa. Berpikir sebentar. Menerawang ke langit-langit. Menyadari satu hal. Iya, ya. Aku harus pakai alasan apa untuk minta izin pada Pak Donghae? Sementara masih banyak klien yang menunggu untuk kutangani. Aku masih punya kira-kira…eng, satu, dua, tiga, enam… delapan! Delapan lagi yang kasusnya masih belum beres!

Aku mengusap-usap jidatku gemas. Gilaa! Tidak ada yang lebih membuat frustasi daripada tuntutan pekerjaan. Heran juga aku bisa bertahan hidup di Royal Event sampai sejauh ini.

Jadi pegawai kantoran tidak seperti mahasiswa yang punya batas kehadiran sebanyak delapan puluh lima persen, yang artinya kita bisa pakai tiga kali kesempatan untuk tidak menghadiri perkuliahan. Di Royal Event ada aturan tersendiri buat para pegawainya. Mana semua alasan sudah kupakai untuk kesempatan libur cutiku. Tidak ada lagi yang tersisa! Oke, jangan panik. Marilah berpikir jernih dan mempertimbangkan beberapa pilihan.

Pilihan Pertama: Bilang yang sejujurnya pada Pak Donghae kalau aku mau liburan ke Laut Karibia bersama pacar baruku yang sangat tampan.

Tak mungkin, kecuali aku ingin dirajam sampai mati dengan vas bunga.

Pilihan Kedua: Sewa agen FBI untuk menyamar dan menggantikanku selama seminggu.

Klien-klienku bakal sadar dan entah bagaimana caranya mereka bisa melacakku lalu melaporkannya ke Pak Donghae. Aku akan dipecat dan posisiku akan dilimpahkan ke Wendy.

Pilihan Ketiga: Membayar ilmuwan pintar dari Jepang, minta dibuatkan robot Doraemon.

He-lo. Aku tidak sekaya itu. Jika aku minta dibuatkan robot Doraemon, palingan yang mereka buat hanya robot biru gendut yang bisa menari dan berjoget. Bukan itu yang kuinginkan!

Aku menghela napas. Semua pilihan tidak ada yang bagus.

Tunggu, aku masih punya pilihan. Pilihan terakhir yang baru-baru saja berseliweran di kepalaku setelah menonton berita di Tv. Tentang seorang kakek yang tinggal di pinggiran sungai amazon. Kakek malang yang terpaksa merelakan satu kakinya demi sekawanan piranha agresif.

Ya Tuhan. Kenapa tidak terpikir daritadi sih? Aku kan bisa saja beralasan ada Kakek angkatku yang meninggal dunia gara-gara kakinya digigit hiu sampai putus lalu dia mati kehabisan darah sebelum nyawanya sempat tertolong. Tinggal bilang saja Kakek angkatku itu tinggal di salah satu pulau di Karibia. Gampang. Aku bisa mengarang-ngarang tempatnya nanti. Lagipula Pak Donghae tidak mungkin mau mengecek kebenarannya dengan ikut terbang menyusulku ke Karibia. Kurang kerjaan amat! Sudah pasti dia tidak bakal mengecek. Iya kan?

Hmmm… bukan ide terbaik sih, tapi kita tidak akan pernah tahu kalau belum mencoba. Siapa tahu Pak Donghae bersedia memberi tambahan bonus karena luluh mendengar ceritaku. Plus, aku bisa minta gajiku bulan ini langsung dibayar di muka.

Fix. Sudah kupertimbangkan. Sekarang tinggal cari orang yang bersedia menghandel tugasku dulu selama beberapa hari. Dari sekian banyak pilihan, kuputuskan untuk mempercayakannya pada Wendy. Terlalu beresiko melimpahkan semuanya pada orang sesibuk Krystal. Setidaknya kalau Wendy aku bisa betul-betul menikmati liburan tanpa harus pusing memikirkan klien-klienku ada yang terlantar dan acara mereka harus dibatalkan karena WO-nya asik sendiri dengan proyek lain.

Aku meraih ponsel dari dalam tas dan mencari nomor telpon Wendy di buku kontak.

"Hai, Wen. Bisa ke apartemenku sekarang? Kita pesan Jjangmyeon sambil ngobrol-ngobrol."

.

.

.

.

Kris menoleh dari layar laptop begitu sebuah benda jelek dan kuno berbentuk oval bergetar sambil bernyanyi-nyanyi riang diatas meja. "Oi, ada telpon tuh."

Sementara yang punya ponsel cuek menekuri tumpukan kertas dan file-file penting bergambar peta wilayah dan bebatuan. "Biarkan saja, paling dari pers yang berusaha memerasku. Aku sudah capek diteror mereka."

Kris menggeleng-geleng, "Dasar seleb tenar," tukasnya dengan senyum menyindir, "Aku saja yang lebih kaya namanya tidak pernah muncul di majalah manapun."

"Itu karena kau sudah pernah mencoba seluruh hotel di dunia ini hanya untuk meniduri istrimu," balas Kai tak kalah menyindir.

Pria berambut pirang itu tertawa lepas. Tapi sedetik kemudian dia berhenti tertawa begitu keingat sama gambar kontroversi Sophia tadi. Sekarang gambar beracun itu sudah berubah jadi serpihan kecil-kecil di tong sampah.

Kris mengusap-ngusap wajahnya sambil menghembuskan napas panjang, "Kayaknya kami mau berubah."

Dahi Kai berkerut bingung, "Siapa?"

"Yaa… aku dan Chanyeol. Kayaknya kami mau merubah kebiasaan. Sangat… tidak bagus untuk perkembangan otak anak."

Giliran Kai yang tertawa lepas, "Baru sadar sekarang kau, hah? Daridulu kemana saja? Sembunyi dalam gua?"

Kris hanya berdecak keki dan kembali menghayati pekerjaannya di laptop.

Ponsel milik Kai kembali bernyanyi-nyanyi riang. Si empunya masih berusaha tidak perduli. Ketika benda menyebalkan itu bernyanyi untuk yang ketiga kalinya, barulah Kai bereaksi dan menyambar ponselnya dengan perasaan jengkel.

Panggilan dari nomor tak dikenal? Siapa ini yang menelponnya sampai tiga kali? Kok kayaknya tidak asing? Ragu-ragu, Kai menekan tombol call dan menelpon balik. Ketika sambungan diseberang sana diangkat, tahulah Kai kenapa nomor ini serasa tidak asing begitu mendengar suara si pemilik nomor.

"Halo, Kai. Ini aku, Taemin. Kau masih ingat aku, dolphin?"

Taemin? Mau apa wanita ini menelponnya?

Kai buru-buru menekan tombol end dan melempar ponselnya ke lantai sampai baterainya mental dan melesat ke kolong meja.

"Cckck. Emosi ya emosi saja, tapi tidak usah merusak hp segala," ujar Kris, tapi pria itu tetap bungkam dengan raut wajah mengeras. Kris langsung mengerti. Dia tidak berniat bertanya-tanya lagi. Kai selalu begini jika memikirkan orang yang pernah dia sayangi. Pernah. Dulu sekali. Sayangnya orang itu malah membelot dan meninggalkannya demi pria lain yang lebih sukses.

"Relax, wanita itu ibarat ikan di lautan luas, mati satu lahir seribu."

Kai memutar bola mata. Dia lagi tidak mood dengar perumpaan ikan di lautan luas, "Ya, ya aku tahu."

Kris menepuk-nepuk pundak teman baiknya, memberi semangat. "Aku yakin Sehun tidak akan melakukan hal yang sama. Dia tidak akan mengecewakanmu. Aku sudah mengenalnya sejak dia masih SMA, dan dia mengingatkan aku pada almarhum adik perempuanku yang sudah meninggal sepuluh tahun lalu. Begitu melihat Sehun untuk pertama kali, entah kenapa aku ingin melindunginya seperti melindungi adik perempuanku sendiri."

Kai bisa melihat senyum getir dan ada perasaan sedih tertahan dari nada bicara Kris. Perasaan sedih yang berusaha dia tutup-tutupi. Kai jadi merasa tidak enak bikin Kris jadi teringat adik perempuannya yang jadi korban tabrak lari sepuluh tahun yang lalu.

"Biarpun lebih banyak sisi negatifnya daripada positifnya, tapi sebenarnya dia itu anak baik. Dia juga sangat care pada keluarga. Aku jamin kau tidak akan menyesal."

Kai mendengus geli, "Lebih banyak sisi negatifnya? Kau sedang promosi atau menjelek-jelekkan dia?"

"Memang begitu kok. Kenyataan." jawab Kris ringan.

.

.

.

.

Aku berdiri bimbang di depan pintu ruangan Presiden Direktur.

Ayolah, Sehun. Ayolah. Ini mudah sekali. Tinggal masuk dan bilang. Semalam aku sudah berlatih mengarang alasan di depan cermin bareng Wendy, dan gadis itu yang berpura-pura sebagai Pak Donghae. Cukup manjur kok. Walaupun kami lebih banyak cekikikannya gara-gara Wendy terlalu feminim memperagakan Pak Donghae. Membayangkan Presdirku memperbaiki tali beha-nya atau mengibas-ngibaskan rambut ala model iklan sampo, mana sanggup aku tahan ketawa? Jadi kalau hari ini aku gagal di depan Pak Donghae, Wendy-lah yang harus kusalahkan.

Setelah komat-kamit berdoa memohon perlindungan, aku tarik-buang napas. Mempersiapkan diriku sebaik mungkin dan merapikan lipatan-lipatan di bajuku. Kemudian berdehem singkat, lalu mengetuk pintu ruangan Pak Donghae sebanyak empat kali.

Jantungku berdegup gila-gilaan waktu ada suara Pak Donghae menyahut dari dalam sana, "Masuk!"

Masuk? Di telingaku, ucapan Pak Donghae terdengar seperti bunyi aba-aba "Tembak!".

Oke, bukan saatnya panik. Bukan saatnya. Aku harus kuat. Harus!

"Selamat pagi, Pak." Aku mengangguk-angguk sopan di ambang pintu.

"Sini, sini." panggil Pak Donghae, "Ada apa, Sehun? Jangan berdiri di pintu, kamu seperti office boy kalau begitu."

Nah. belum apa-apa aku sudah diledeki mirip office boy. Tapi kok kayaknya mood Pak Donghae sedang bagus hari ini? Firasatku mengatakan rencanaku bakal berhasil.

Aku mendekat dan duduk di kursi hitam di depan meja atasanku. Meski canggung dan gemetar, aku berusaha tetap terlihat sopan dengan menebar senyum ramah.

"Permisi, pak. Maaf sebelumnya kalau mengganggu. Ada yang mau saya bicarakan," tukasku ekstra formal.

Pak Donghae berhenti membubuhkan tanda tangan lalu menatapku serius, "Hm? Soal apa?"

Aku menarik napas dalam-dalam. Here we go again.

"Jadi, saya baru saja dapat kabar berduka cita, Pak, dari pihak keluarga jauh saya. Katanya semalam kakek angkat saya meninggal dunia. Dia meninggal karena…" aku memasang raut muka sesedih mungkin, "Karena kakinya putus, Pak…" Sekarang suaraku bergetar, seolah-olah batinku begitu tersiksa punya kakek yang kakinya putus, "Kasihan sekali dia, Pak. Kakinya putus. Kematiannya tragis, dia digigit ikan hiu sampai kehabisan darah. Saya sangat menyayangi beliau, Pak. Waktu dengar berita ini, saya sampai pingsan dua kali."

Pak Donghae memperhatikan wajahku sampai nyureng sekali. Apa aktingku berhasil?

"Jadi… kakek angkat saya ini dulu yang mengajarkan saya banyak hal, Pak. Termasuk persaudaraan dan rasa solidaritas yang tinggi terhadap sesama manusia. Berkat dia, mata saya jadi terbuka lebar-lebar. Saya meninggalkan perusahaan desain interior dan melamar disini, itu karena saran dari beliau juga, Pak. Lalu sekarang dia pergi begitu saja, padahal saya belum sempat mengucapkan terima kasih… saya belum berbuat apa-apa untuk membalas kebaikan Kakek saya… ini…ini tidak adil! Kenapa orang baik-baik seperti justru cepat mati… saya…saya…" srooottt! Aku menyambar tissue milik Pak Donghae lalu menyeka ingus khayalan di hidungku. Kemudian menempelkannya ke mata, menghapus air mata fiktif di mataku.

Pak Donghae melepas kacamatanya lalu ikut-ikut mengusap matanya. Lihat kan? Sepertinya aku pantas dapat piala Oscar.

"Terus, almarhum kakekmu ini tinggalnya dimana?"

"Dia… dia…" ucapku sesenggukan, "Dia tinggal di pulau Haiti, Pak."

Pak Donghae mengernyit, "Haiti? Kakek angkatmu ini bukan orang Korea?"

Aku menggeleng, "Bukan, Pak. Namanya juga kakek angkat, masa harus orang Korea? Kan bosan, Pak. Malah saya juga punya Nenek angkat orang Hawai." Dalam hati aku sudah berencana akan pergi ke Hawai dan menyusun alasan baru lagi. Mungkin membunuh Nenek angkatku ini dengan cara yang lebih sadis, barangkali… jatuh dari pesawat dan tenggelam di Samudra pasifik?

Pria itu tidak langsung merespon, dia memasukkan tumpukan amplop dalam lacinya, barulah kemudian memajukan badan dan menatapku serius.

"Saya turut berduka cita mendengar berita duka ini. Saya paham bagaimana perasaan kamu, soalnya saya dulu juga pernah punya kakek angkat dan dia…" Pak Donghae menghela napas dalam-dalam sebanyak tiga kali, "Dia mati ketika sedang berkebun."

Lho? Mati karena berkebun? Kok bisa?

"Ke..kenapa, Pak?" tanyaku mau tak mau penasaran.

"Ya, dia mati digigit ular."

Oh.

Wajah kelabu Pak Donghae berubah sumringah, "Kalau ada yang bisa saya lakukan untuk membantu, tinggal bilang saja."

Diam-diam aku tersenyum samar. Rencanaku berhasil. Membohongi presdir tidak sesulit yang kubayangkan.

.

.

.

.

"Aku akan segera bertunangan."

Sebuah sendok sup terhenti secara tiba-tiba dan batal mendarat di mulut seseorang. Kedua bola mata di depan sendok sup itu melebar selama lima detik, lalu kembali ke ukuran normal saat wajah gadis dihadapannya menampakkan senyum manis dari ujung ke ujung.

Kai meletakkan sendok sup kembali ke tempatnya. "Benarkah?"

Cewek manis berambut panjang itu mengangguk antusias. Kuncir kudanya ikut bergoyang-goyang mengikuti gerakan kepalanya. "Ya, dalam waktu tiga bulan lagi, rencananya kami mau menikah di luar negeri. Bagaimana menurutmu?"

Perasaan emosi meletup-letup di dada Kai, "Bagaimana menurutmu?! Jadi kau datang kesini cuma untuk meminta restu dariku?" BRAKKK! Kai menggebrak meja sampai-sampai semua orang berloncatan dari kursi, "Dengar ya, aku tidak setuju! Lihat, hubungan kita. Kita sudah empat tahun jadian dan kau lebih memilih orang itu?!"

Jika Kai emosi, lain halnya dengan Taemin, dia memesan Sundae ice cream porsi kedua dengan santainya lalu melempar senyum cerah pada Kai. Benar-benar wanita psikopat! desis Kai dalam hati

"Dengar Kai, aku juga merasa senang berada di dekatmu. Tapi lihatlah hubungan kita, maksudku, apakah ini normal? Apa yang kita lakukan? Tidur bersama, ciuman, melakukan hubungan seks, kita ini sepupuan. Ini tidak normal. Mengertilah, sayang."

BRAKKK! Kai menggebrak meja lagi. Kali ini bukan cuma pengunjung yang berloncatan, tapi polisi tua yang barusan datang juga ikut terloncat kaget di pintu.

Taemin tidak gentar, dia tetap bersikap setenang permukaan danau. "Aku suka kau sebagai teman dan sepupu terbaikku, Kai. Dan ya, aku juga senang jalan bersamamu sebagai teman. Jadi bisakah kita tetap seperti ini selamanya?"

KrakKrakKrak. Kai bisa mendengar suara retak-retak di dalam dadanya. Apapun itu, pasti sekarang sudah hancur berkeping-keping. Kai yang biasanya ceria, kini terlihat mendung. Taemin tahu dia sudah merontokkan hati seseorang lagi hari ini, tapi dia memang tidak merasakan apapun dengan pria ini. Hanya teman. Dan sepupu. Merangkap teman saling 'berbagi' sesaat. Itu saja. Tidak lebih.

"Aku sudah bilang padamu, dari awal aku tidak ingin hubungan serius. Kau bilang kau tidak masalah dengan itu." tukas Taemin tanpa merasa bersalah.

Langit yang cerah tiba-tiba terasa mendung di mata Kai. Suara tawa anak-anak kecil yang lagi asyik main kejar-kejaran tiba-tiba menghilang dari pendengarannya. Suara gemerisik daun terdengar seperti soundtrack lagu patah hati di telinga Kai. Suara napasnya sendiri pun rasanya jadi berisik. Tapi Kai tidak boleh menunjukkan sisi cemennya di hadapan wanita ini. Apalagi sampai menangis layaknya seorang pecundang. Gengsi. Harga diri mau dikemanakan?

Seulas senyum terukir di bibir Kai, "Ya kau benar. Maaf. Kurasa… sebaiknya kita tidak usah 'berteman' lagi saja."

Taemin tampak terkejut.

"Terima kasih banyak. Mungkin aku harus cari teman lain. Teman yang tidak takut dengan hubungan serius dan tidak mencium pria yang tidak disukainya lalu memberi harapan-harapan palsu sampah demi mengejar pria lain yang sudah beristri."

Jleb! Kata-kata terakhir Kai bagai sebilah kapak yang menancap keras di dada Taemin. "Kai, Kai… tunggu… kau masih mau datang ke pesta pertunanganku, kan?"

Apa wanita ini gila? Atau tidak punya hati? Dia sadar tidak sih sudah melukai orang lain?!

Kai buru-buru meraih tasnya dari meja dan beranjak pergi.

"Kai, kau salah. Aku menyukaimu. Kai! Kau salah! Kau masih mau jadi temanku kan? Hei!"

Kai tidak menoleh dan membanting pintu keras-keras. Selesai sudah. Hubungan 'pertemanannya' dengan Taemin resmi kandas begitu saja. Tidak berjalan dengan baik.

.

.

.

.

Oke, kejadian itu sebenarnya sudah dua tahun yang lalu. Tapi herannya sampai sekarang Kai agak susah melupakan wanita merangkap sepupu merangkap teman merangkap bekas pacar merangkap perebut suami orang dan merangkap musuh bebuyutannya itu.

Entah apa bagusnya si Taemin. Kai sendiri juga bingung. Apa karena mereka sudah sering sama-sama dari bayi? Ahh, sudahlah! Daripada pusing-pusing mending dia fokus ke hari ini. Masa sekarang. Menata ulang masa depannya dengan wanita yang baru-baru ini mengisi hati Kai. No time for flashback.

Kai merapikan dokumen-dokumen dan map-map lalu menjejalkannya secara sekaligus ke dalam tas, setelah semuanya beres, dia buru-buru keluar ruangan sambil memakai mantel kulit tebalnya. Kayaknya Kai tidak perlu acara pamit segala dengan pak Direktur Wu. Palingan Kris sudah bisa menebak dengan sendirinya kemana tujuan Kai jika pria itu mendadak raib dari kantor.

Makan bareng Sehun pasti asik dan bikin dia merasa terhibur. Telpon dulu ah. Kangen juga dengar suara cewek bawel itu.

"Hai, sayaang! Tebak deh aku ada kabar gembira. Coba tebak apa?"

Kai cengar-cengir sendiri, "Apa? Bosmu mengizinkanmu liburan?"

"Ahhh… kok tahu sih? Tidak seru ah!" sungut Sehun sebal. Tanpa terasa bibir bawahnya sudah maju dua senti. Habis kebiasaan, di rumah kalau keinginannya tidak dituruti, atau kalau dia tidak suka sama sesuatu, Sehun langsung mengeluarkan jurus merengut manja. Papa dan Mamanya sempat bilang agak menyesal membiarkan Sehun begitu karena kebiasaan Sehun sempat mereka anggap lucu. Hingga terbawa sampai sekarang. Waktu kecil memang lucu, tapi semakin besar mereka sadar Sehun sudah kelewat manja dan susah banget dirubah.

Sementara di sisi lain, Kai terkekeh membayangkan wajah cemberut Sehun, pasti lucu dan imut sekali. "Hei, aku lapar nih, tertarik mencoba udon di dekat stasiun? Rasanya enak. Meskipun bukan tempat elit sih, tapi kau pasti bakal suka. Ayo ikut, aku yang traktir."

"Boleh juga. Kapan?" Tanpa disangka-sangka, kekasihnya itu bersedia. Padahal Kai tadi sudah berpikiran Sehun akan menolak dan merengek-rengek minta makan di restoran bintang lima. Sungguh gadis yang agak sulit diprediksi.

"Ya, sekaranglah. Aku jemput atau kita ketemuan disana langsung?"

Suara dengusan keras berdenging di telinga Kai, "Sok banget! Padahal mobil saja tidak punya. Mau jemput pakai apa? Bis kota?"

Kai tertawa pelan, "Bis kota? Kedengarannya asik. Sudah hemat, dingin pula."

Sehun misah-misuh di seberang sana, tapi suaranya masih lumayan keras jadi masih kedengaran. Cowok itu hanya tertawa tanpa suara.

"Jadi fix kan ya? Naik bis kota?" tanya Kai meyakinkan.

Sehun berdecak malas, "Silahkan naik sendiri sana! Aku mau pakai mobil. Atau gimana kalau aku yang jemput?"

Dijemput cewek? Kai pantang dijemput, disopirin dan dibonceng cewek. Mending dia pakai rok sekalian.

Cowok itu mengacak-acak rambutnya gemas. Arrgghhh! Ya sudahlah. Batal deh romantis-romantisan di bis kota. Apa boleh buat.

"Kita ketemuan disana saja," jawab Kai pasrah.

"Okey deh, bye, bye, honey. Love youuu!" ujar Sehun cempreng dan riang gembira.

Kai meringis. Love you? Dia melirik ke kanan dan ke kiri sebentar, begitu di sekelilingnya aman dan tidak ada orang memperhatikan, barulah dia menjawab canggung. "Okey, mm…love.. you juga."

Sambungan terputus setelahnya. Kai menatap foto Sehun di wallpaper ponselnya. Foto Sehun memakai toga yang diam-diam dia kirim waktu Sehun tidur.

Kai tersenyum lega, dia tidak perlu merasa terpuruk lagi. Kai sudah memiliki Sehun. Persetan masa lalu. Persetan wanita bernama Taemin yang merangkap sepupu merangkap teman merangkap bekas pacar merangkap perebut suami orang dan merangkap musuh bebuyutannya itu.

Persetan.

.

.

.

.

Ternyata warung udon langganan Kai betul-betul enak, plus kita bisa wifian gratis sepuasnya asal sudah membayar bill makanan, pelayanan akan memberimu password dan kau akan dapat cemilan salad buah gratis satu mangkok jika pembelianmu diatas sepuluh ribu won. Hanya sepuluh ribu! Wah. Kenapa ya aku tidak datang ke tempat ini daridulu? Tempatnya kecil sih, hanya memanfaatkan garasi si pemilik kedai. Tidak ada AC, yang ada cuma kipas angin yang kecepatan berputarnya super lambat. Makanan yang tadinya biasa-biasa, jadi terasa pedas dan bikin gerah di tempat ini. Habis panas sih!

"Gimana? Enak kan?" tanya Kai lalu menyeruput teh ocha-nya sampai habis. Dia juga sama-sama kepanasan dan kepedesan.

Aku mengangguk sambil menyeka keringat di dahiku. Memang rasanya enak kok. Mau menyangkal bagaimana? Cuma sayang tidak ada AC. Itulah kekurangannya tempat ini. Dan… oh, satu lagi, para pelayannya kelihatan kayak orang terlilit utang dan menanggung beban hidup yang sangat berat, mereka harus lebih sering-sering tersenyum.

"Ada lagi tambahan?" tanya pelayan wanita berbadan gemuk yang kayaknya punya kerjaan sampingan jadi tukang pukul.

Tatapan Kai beralih ke wajahku, "Masih mau tambah?"

Aku menggeleng.

Begitu pelayan itu pergi, Kai mengamatiku lagi. Akhir-akhir dia sering membuatku salah tingkah hanya lewat tatapan. Ugh, mana bisa fokus makan kalau dilihatin begitu?

"Apa lihat-lihat?" tanyaku risih.

Kai tersenyum geli, "Kirain cewek-cewek sepertimu cuma mau makan di café dan mall saja."

Pipiku berpendar jadi warna merah padam. "Kai, aku tidak se-elit itu. Berhentilah men-judgeku. Terkadang aku makan es krim jagung di pinggir jalan dekat kantor kalau sedang kepepet sekali. Garisbawahi, hanya kalau dompetku lagi sekarat."

"Kau makan es krim jagung di pinggir jalan?" mata Kai membulat tak percaya. Astaga. Apa aku memang kelihatan seborjuis itu?

Aku berdecak, "Iya, kenapa memangnya?" tanyaku nyolot sambil melotot galak.

"Tidak, hanya saja… penampilanmu terlalu… wow. Tidak cocok."

Ugh! Cowok ini! Kebanyakan berteman sama manusia batu sih. Yang namanya pegawai kantoran pasti harus tampil rapi dan perfect. Masa dia tidak tahu? Jadi semua bawahannya kalau di kantor pakai kaos oblong dan sandal jepit tiap hari? Aku pernah bekerja bareng orang-orang lapangan yang memang berkecimpung di dunia teknik, tapi mereka tidak gitu-gitu amat. Malah masih mau pakai dasi dan jam tangan mentereng kemana-mana.

"Kai, penampilan itu sangat penting sebagai penunjang, kalau aku tampil acak-acakan seperti gembel jelmaan nenek lampir malas mandi, nanti klien-klienku pada lari semua karena menganggapku tidak becus."

Kai mengangkat tangannya tanda menyerah. "Iya, iya. Terserah mau pakai baju apa. Selama kau merasa nyaman."

Bibirku mencebik, "Tentu saja aku merasa nyaman!" dilihat dari sisi manapun tidak ada yang salah dengan penampilanku. Kulot hitam panjang high waist yang kupakai ini jelas-jelas pilihanku sendiri. Terus untuk atasan juga aku hanya memakai tank top putih polos plus blazer pas badan berwarna abu-abu tua dengan aksen hitam di kerahnya. Tidak wow kan? Wow darimananya? Penampilanku yang sekarang jelas-jelas menggambarkan aku memang berniat ke kantor, tapi tetap tak mengurangi kesan ingin terlihat santai. Formal but effortless.

Tiba-tiba ponsel Kai berbunyi. Kai mengangkat telunjuknya memberi tanda padaku untuk diam. "Sebentar ya." pria itu menatap layar ponselnya sekilas lalu menghela napas berat. "Halo, Ma. Aku lagi di… lagi makan. Ada apa? Apa? Mau ketemu? Sekarang? Ya, ya. Oke, Ma. Iya, iya." Ekspresi Kai kelihatannya agak bingung dan seperti mempertimbangkan sesuatu. Kenapa sih?

Kai mengantongi ponselnya kembali lalu menatapku dengan pandangan seperti merasa bersalah. "Sayang, setelah ini aku dan Kris harus menemui beberapa orang, jadi aku tak bisa ikut menemani ibuku jalan. Maaf ya. Bagaimana kalau kalian berdua saja? Girl and girl only."

What?

"Emm…" aku menatap Kai, keringat gugup berseluncuran di pipiku. Aduh, sial. "Tapi aku belum siap Kai. Style-ku bukan style untuk ketemu calon mertua."

Kai memanggil pelayan sambil melirikku. "Menurutku, style-mu sudah sangat pas untuk memberikan pidato di depan gedung putih."

Ha-Ha-Ha. Bercanda ya?

"Tidak bisakah ibumu mengatur jadwal kembali? Supaya kita berdua bisa pergi." usulku deg-degan luar biasa. Aku belum mempersiapkan rompi anti peluru. Oke, maksudku, ini mendadak sekali! Aku benar-benar belum siap batin, jasmani dan rohani! Bagaimana kalau ternyata Ibu Kai super killer?

"Tidak bisa, sayang." ucap Kai tersenyum sebentar, lalu menyerahkan beberapa lembar uang ke pelayan. "Jadwal ibuku padat sekali. Kau tahu, dia bukan sekedar wanita sosialita pengangguran. Dia punya banyak tanggung jawab penting. Dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya semudah itu. Ini saja katanya kebetulan lagi ada waktu kosong."

"Ohhh… begitu. Tapi tak apa-apa sih." tambahku buru-buru, takut Kai tersinggung. Lagipula semenakutkan apa seorang calon ibu mertua? Mereka kan juga sama-sama manusia. "Jadi aku jalan-jalan berdua saja dengannya nih?"

"Dia harus ke spa dulu," ujar Kai tersenyum, "Dan dia mau kau ikut menemaninya."

Spa? Oh, oke. Tak masalah! Aku juga sudah lama tidak menginjakkan kaki di tempat spa.

"Baiklah," ujarku mengendikkan bahu tanda no problem. "Pasti menyenangkan."

Kai mengusap lembut puncak kepalaku, "Kesempatan bagi kalian berdua untuk saling mengenal satu sama lain. Aku sungguh-sungguh berharap kalian bisa cocok."

"Tentu saja," kataku terlihat antusias. "Pasti akan menyenangkan sekali." Aku bersandar di pundaknya sambil memeluk pinggang Kai.

Kai tersenyum tipis lalu mencium tanganku, "Sudah siap, nona cantik?"

Aku mengangguk-angguk, "Sure."

Ketika kami hendak berdiri, tiba-tiba aku teringat sesuatu. "Sayang, apa kau punya pulpen sama kertas?"

Kai mengernyit heran, "Yaaa… ada sih. Kenapa memangnya?"

"Sudah, keluarkan saja. Ada yang ingin kusampaikan pada pemilik kedai ini, sebagai tanda terima kasih," ujarku tersenyum rahasia.

"Ohh…" meskipun penasaran dan agak ragu, dia mengeluarkan kertas kecil dan pulpen dari saku celananya. "Ini. Sampaikan dengan baik ya."

Aku sibuk menulis sesuatu jadi tidak menggubris omongan Kai. Pokoknya ini harus masuk di kotak saran.

Dear owner, Saya sangat suka kedai ini. Udonnya enak ank has. Tapi sayang kipas anginnya kecil dan lambat, kalau memang budget-nya belum cukup Untuk beli AC, saya mohon bapak/ibu bersedia menggantinya dengan kipas angin besar yang lebih baru. Oh iya, terus pelayan-pelayannya tolong disuruh senyum ya pak/bu, kan sayang makanannya enak tapi kalau muka pelayan-pelayannya tidak bahagia.

Salam hormat, Park Sehun ;)

.

.

.

TBC—

A/N: sori baru sempet nulis segini, bukan berniat untuk mangkas. Just wanna let you know, I'm stay strong guys B-). Selamat membaca aja, kirim komentar boleh tapi tolong jangan…

Plis. Udah. Udah cukup, makasih saran dan kritiknya tapi udah cukup. Saya udah kapok. Ampun. Terima kasih.

terus adegan nc-nya saya potong soalnya saya males juga ngetiknya kalau di tiap chapter ada

dan sehun itu maniak belanja yang random, dia gak cuma suka brang2 branded kelas atas tapi semua, jadi jangan di permasalahin lagi :)