We are MARRIED or NOT?


Main Cast: GS!Sehun, Kai

Support Cast: GS!Heechul (Kai's mom),Kris, GS!Chanyeol, Sophia, Dennis, Zhuyi, GS!Kyungsoo, Suho, Junkyu, Yunho, GS!Jaejoong, GS!Yixing, Julien Kang, oc, dll

Rating: M

Warning: Mature content in some parts

Genre : Romance, AU, OOC, yadong, genderswitch for uke, comedy, family, friendship, dll

Length: Chaptered

Bahasa: Indonesia campur aduk

Summary Lengkap: Park Sehun, bungsu dari tiga bersaudara. Bekerja sebagai WO memberinya banyak keuntungan, lingkar pertemanan dengan orang-orang sukses, para klien papan atas dan bisnis barternya laris manis. Jika kita gambarkan, rute hidup Sehun adalah kantor-belanja-nongkrong-kantor-belanja-nongkrong-dan-belanja lagi. Si maniak belanja yang tak pernah bisa tahan godaan kalau lihat kata 'DISKON' terpampang besar-besar di depan matanya. Seluruh hidupnya dia habiskan untuk memikirkan obral tas dan sepatu hingga dia tak sempat cari cowok. Sangat boros juga yaaah… bisa dibilang, matrealistis. Namun rute hidup Sehun berubah ketika di ultah yang ke-28, seorang Pria tak diundang bernama Kim Kai tiba-tiba datang ke acaranya dan memberi dia buku 'Manfaat Kerang Bagi Kehidupan'. WTF?!

Sehun yang tadinya ogah menikah malah tergila-gila dan bersedia membuka paha lebar-lebar demi Tuan Kim Kai Yang Terhormat. Demi memuaskan sisi liar terpendam pria itu. Biarpun mereka baru kenal beberapa hari, biarpun Kai pelit dan terlalu hemat. Tapi bukan Sehun namanya kalau tidak silau sama sesuatu yang serba wow. Paket liburan ke Laut Karibia? Seminggu? Bersama suami? Oh, No…

Sehun tidak punya suami! Dia juga sudah terlanjur menolak lamaran aneh Kai. Terus sekarang dia harus bagaimana?! Apa Kai masih berminat melamarnya? Apa Sehun berhasil mendapatkan paket liburan fantastisnya? Well, semoga.


Chapter 5

Kai bilang ibunya akan datang menjemputku, jadi untuk sementara ini dia yang bawa mobilku pulang. Dari kedai udon, Kai membawaku ke kantor pusat Kogas, aku disuruh menunggu sebentar di ruangan kerjanya. Tapi tak sampai lima menit, ibunya sudah mengabari kalau dia sudah tiba. Ya Tuhan, apa wanita itu segitu bersemangatnya ingin bertemu calon menantu? On time juga rupanya! Di sepanjang perjalanan menuju kantor aku kebanyakan diam dan tidak bisa tenang sama sekali memikirkan seperti apa rupa Ibu Kai. Kuharap dia wanita tua yang ramah dan tidak punya hobi memangsa gadis-gadis lemah sepertiku.

"Ayo, ibuku sudah menunggu dibawah." Kai mengamit lenganku jadi aku tak bisa kabur lagi. Aku terseok-seok pasrah dibelakangnya sementara tatapan para pegawai pria menatapku seperti ada sesuatu yang menempel di bokongku. Aku sih tidak masalah, selama mereka tidak bertindak lancang dan melakukan lebih dari sekedar meraba.

Kai mengelus-ngelus punggung tanganku supaya aku tenang, tapi tidak mempan. Aku masih merasa grogi bukan main. "Santai saja, honey. Jangan tegang. Ibuku memang awalnya agak pendiam, tapi kalau sudah kenal dekat, dia banyak bicara juga kok. Anggap saja kau sedang hangout dengan salah satu temanmu."

Pendiam? Itu bukan sinonim dari 'jutek' kan?

Aku tersenyum, "Tidak tegang kok. Malah aku bersemangat sekali. Mencari bahan obrolan tidak sulit bagiku." Aku menjawab ekstra pede, meski kedengarannya seperti menghibur diri sendiri.

Begitu sampai di lantai dasar, bola mataku berpindah dari satu wanita ke wanita lain. Di lantai dasar ini ada empat ibu-ibu yang kucurigai Ibu Kai. Pertama, wanita dengan topi kupu-kupu dan kacamata hitam trendy itu, gayanya terlihat sangat borjuis namun murah senyum. Kedua, seorang wanita dengan setelah jas kerja rapi yang sibuk berbicara pada layar ponsel. Ketiga, wanita dengan mantel bulu-bulu tebal motif totol-totol dalmation yang lebih mirip pencuri anjing daripada ibu rumah tangga. Keempat, wanita tua yang sibuk menyuapi seorang anak di kereta dorongan.

Wanita keempat sudah jelas tidak masuk kualifikasi, karena ternyata dia hanya seorang babysitter. Wanita ketiga juga terlalu menyeramkan untuk jadi ibu-ibu, dia lebih mirip Cruella, bos pencuri anjing. Serius. Coba lihat gayanya. Jika wanita itu dan Cruella disuruh berdiri berdampingan, mereka bisa dikira saudara kembar yang akhirnya bersatu kembali.

Berarti kemungkinan yang tersisa hanya wanita pertama dan kedua.

Tiba-tiba saja ibu bertopi kupu-kupu menoleh kearah kami lalu melambaikan tangan.

Oh, masa bodoh. Sudah jelas dialah ibu Kai. Aku harus kesana dan menunjukkan padanya kalau aku calon menantu yang baik hati.

Kai tercekat kaget saat aku melepas gandengannya kemudian berlari kearah ibu bertopi kupu-kupu.

"Haai." Aku memeluk wanita itu dengan pelukan beruang terbaikku lalu menjulurkan tangan menyalaminya. "Saya Park Sehun, baru dua hari yang lalu jadian dengan anak anda. Apa kabar? Anda pasti Nyonya Kim."

Hei? Apa? Kenapa ibu ini diam saja? Apa dia sakit gigi?

Aku celingukan mencari Kai. Dimana sih? Aku lagi memeluk ibunya dia malah keluyuran. Oh, disana dia! Sedang berdiri-berdiri di sebelah kembaran Cruella. Ekspresi mereka kompak sekali, sama-sama bengong menatapku. Ya ampun… jangan bilang…

Aku meringis aneh ke wanita yang baru saja jadi korban pelukan mautku, "Eh… maaf. Saya kira—"

"Eomma, tadi aku ada… lho? Siapa cewek ini? Apa eomma kenal?" seorang pria berkepala botak dengan tahi lalat besar di hidungnya tiba-tiba datang.

Ibu bertopi kupu-kupu menggeleng, "Tidak. Tapi katanya dia sudah jadian dua hari denganmu." Kemudian dia menatapku sambil tersenyum ramah. "Nona, apa benar kau pacar anakku?"

HAH?! BUKAN! Aku bukan pacar monster tuyul bertahi lalat itu! Tidak maauuuu!

Aku menggeleng sambil gelagapan takut. Mana si botak terus menerus memandangiku seperti harimau kelaparan. Aku harus cepat-cepat kabur!

"Bukan. Tadi kesalahpahaman. Maaf. Permisi, saya harus pergi."

Terlambat. Si botak berhasil menyambar tanganku. Gila! Cepat juga gerakannya! "Mau kemana? Buru-buru sekali. Kita 'kan belum ngobrol-ngobrol, sayang."

Hoeek. Sayang?! Sayang gigimu! Ingin sekali aku berteriak begitu. "Pak. Tolong lepaskan saya. Saya harus kesana," pintaku sopan karena sungkan dengan ibunya.

"Kesana mana? Sudah disini saja. Kita ngobrol-ngobrol dengan ibuku." ucapnya sambil mengedip-ngedipkan mata genit dan jijaynya minta ampun.

Tidak mau! Aku tidak mau menikahi orang botak! Ini mimpi buruk! Tolong…

"Ada apa ya?" Kai datang dan melempar tatapan dingin ke si botak.

Ooh, pahlawan penyelamatku~

Pria botak itu buru-buru melepaskan tanganku. Muka mesum perayu ulungnya berubah jadi muka hormat. Dia membungkuk sopan dihadapan Kai. "Selamat siang, Tuan Kim. Apa anda kenal wanita ini?"

Kai menyilangkan tangan di dada. Raut wajahnya tenang namun mematikan. "Ya. Dia calon istri saya. Kenapa memangnya?"

Si botak dan ibunya terperangah bareng.

"Oh..m-maaf, saya tidak tahu. Maafkan saya. Habis tadi saya lihat dia langsung meluk ibu saya. Saya kira kenapa. Eh, ternyata salah paham," Si botak terkekeh sok asik. Aku mendesis malas lalu berlari ke belakang punggung Kai. Memeluk lengan cowok itu. Pelajaran yang bisa kita petik hari ini: Jangan pernah lepaskan tangan kekasihmu dan berlari memeluk ibu-ibu tak dikenal. Bahaya. Siapa tahu wanita yang kau peluk punya anak playboy gagal dengan tahi lalat besar di hidungnya. Pokoknya aku tidak akan mengulanginya lagi. Tidak akan!

"Ayo, sayang." Kai merangkul pundakku lalu menggiringku menjauh dari si botak sialan, "Makanya jadi orang jangan suka asal, main peluk sembarangan. Enak kan digodain om-om?" ledek Kai begitu kami sudah jauh.

Aku menampar lengannya dengan perasaan malu bercampur dengusan sebal, "Kau juga om-om!"

Senyum narsis Kai mengembang, dia mengeratkan rangkulan posesifnya saat seorang pria bule tinggi lewat dan menatapku terpesona. "Yeah, but I'm the best one, not the rotten like him."

Aku terkikik mendengarnya. Rotten? Iya sih. Dasar botak tak tahu diri. Di depan ibunya sendiri bersikap seperti lintah menjijikkan.

"Sehun ya?" suara bernada aristokrat menyela acara cekikikanku. Ketika memfokuskan pandangan kedepan, aku melihat wanita jangkung dan anggun dalam setelan mahal dan mantel putih bulu-bulu tebal dengan motif polkadot hitam. Barangkali ibunya Kai benar-benar mengidolakan Cruella De Vil. Sampai terinspirasi segala. Tapi mantelnya bagus juga. Mungkin kapan-kapan aku bisa memakai itu tanpa sepengetahuan Ibunya.

Sepatu kulit buaya, tas kulit buaya dan… apakah yang di lehernya itu kalung batu zamrud asli?

"Halo." kataku canggung sambil mengulurkan tangan, "Saya Park Sehun."

"Kim Heechul," ujarnya dengan mimik muka bangsawan. Tangannya dingin, pucat dan kurus, jarinya dihiasi dua cincin berlian yang menusuk kulit tanganku. Dan rambutnya bagaikan helm yang dipernis mengilat. "Senang berkenalan denganmu, Sehun."

Senang? Dia tidak terlihat senang sama sekali. Sekarang aku tahu darimana Kai mewarisi ekspresi wajah datarnya.

"Kalian tadi habis makan dimana?" tanya Nyonya Heechul pada anaknya.

"Oh itu, kedai sushi, Ma. Biasa, yang dekat stasiun." ucap Kai super santai.

Nyonya Kim menurunkan kacamata hitamnya lalu menatap sang anak dengan alis kiri terangkat, "Kedai? Kau makan di tempat murahan lagi? Kai, sudah kubilang berkali-kali, makan di tempat yang belum terjamin kualitasnya sangat tidak bagus untuk orang-orang seperti kita. Jangan biasakan dirimu bertingkah seperti rakyat jelata."

Wow. Rakyat jelata? Itu agak…

Kai hanya senyam-senyum kalem, tidak merasa terganggu sama sekali. "Ma, justru orang-orang seperti kita butuh makanan sehat organik di tempat-tempat rakyat jelata. Bukan makanan sampah di tempat mahal yang tidak jelas apa campurannya."

Wanita itu kelihatan seperti ingin menjatuhkan bom di kantor ini.

"Sudahlah, aku masih ada banyak kerjaan. Kalian jalan-jalan saja," ujar Kai tepat sebelum ibunya sempat membalas. "Sampai jumpa, Ma." Lalu waktu menoleh kearahku, wajah kakunya berubah jadi luar biasa manis. "Hei, sayang. Aku masuk dulu ya. Nikmatilah perjalanan kalian."

Aku punya firasat tak akan menikmati 'perjalanan' ini. Apalagi tatapan Ibu Kai yang terus menilaiku dari ujung kaki ke ujung kepala. Sehingga membuatku merasa seperti kuman kecil dibawah mikroskop. Aku takut bernapas. Aku takut bergerak. Bahkan aku takut menggaruk titik gatal di bawah hidungku. Aduh. Bagaimana ini? Semakin kupikirkan malah semakin gatal. Bibirku sengaja kumencongkan ke kiri dan ke kanan, berharap gatalnya bisa hilang. Tapi malah makin parah! Aarghhh… lama-lama aku bisa mati frustasi kalau begini!

"Kenapa?" tanya Kai mengernyit heran, "Sariawan?"

Cepat-cepat aku menggeleng, "Tidak. Sudah masuk sana, nanti kau bisa terlambat ikut rapat."

Kai mengecup keningku sesaat, kemudian melirik ibunya sekilas. "Oke. Selamat bersenang-senang."

"Byeeee!" aku melambaikan tangan riang.

Begitu Kai menghilang dibalik lift, praktis sudah, aku akan terjebak bersama saudara kembar Cruella selama beberapa jam kedepan. Ramah-tamah bareng camer dimulai!

"Mobil sudah menunggu, kita pergi sekarang." tukas Nyonya Kim jalan duluan, tanpa berniat basa-basi atau melempar senyum setitikpun. Dengan patuh bercampur perasaan gondok aku membuntutinya dibelakang.

Cadilac hitam sudah terparkir manis di dekat tangga utama begitu kami melangkah keluar. Sopir berparas tampan dan berpakaian rapi membukakan pintu belakang untukku dan untuk Nyonya Besar Kim Heechul Your Highness.

Amazing. Mobil mewah plus sopir. Kakak iparku yang kaya-kaya saja malas pakai jasa sopir. Ckckck.

Selama di perjalanan, aku tak bisa menahan diri untuk tidak melirik-lirik sedikit kearah sang Nyonya borju. Aku duduk rapat seperti orang terjepit dan mobil yang seharusnya dingin jadi terasa gila-gilaan dinginnya. Kim Heechul punya aura yang luar biasa! Apabila diajak ke medan perang, dia tidak perlu repot-repot bertarung dan menembak kiri kanan, cukup berdiri diam dan memasang ekspresi dingin. Berani jamin diktator sekelas Hitler bakal lari kocar-kacir.

Walaupun kelihatan hebat, dia tampak seperti wanita bangsawan dalam foto glamor yang terlalu lama kena sihar matahari dan warnanya luntur. Bukan bermaksud menghina, tapi… dia ini apa ya… terlalu… ajaib.

Aku mencuri-curi pandang lagi. Mengamati bulu matanya yang dibalut maskara hitam tebal, eyeshadow biru tebal, rambut super pendeknya mengilap hasil polesan, lipstiknya merah menyala dan kukunya dicat warna merah darah.

Ibu Kai sangat… menor. Berdandan habis-habisan dengan cara yang tidak mungkin kusamai.

"Sehun, siapa yang mengecat rambutmu?" tanya Nyonya Kim memecah kesunyian dingin dan mencekam diantara kami.

Tak bisa kupercaya. Setelah lama saling diam-diaman hal pertama yang dia tanyakan adalah cat rambutku?

"Mmm… ini… saya juga tidak ingat siapa namanya, tapi hanya di… salon biasa." jawabku terbata-bata. Terus terang sudah lama sekali. Aku benar-benar lupa. Terakhir kali aku ganti gaya rambut tiga tahun yang lalu dan sampai sekarang model rambutku begini-begini terus. Panjang, berwarna dark brown dengan ikal-ikal bergelombang di bagian tengah hingga ke ujungnya.

"Oh, begitu?"

Aku mengangguk garing. Apa maksudnya "begitu"?

"Kalau begitu mulai sekarang kau harus ganti salon, warna itu terlalu umum." komentar Nyonya Kim seenaknya, "Aku kenal salon-salon bagus yang bisa menata ulang rambutmu."

Heh? Apa yang salah sih dengan rambutku? Dari sekian banyaknya orang, cuma dia sendiri yang komplain. Heran.

"Rambutmu terlihat seperti gadis-gadis kecil dalam vokal grup."

What the—slash! Dia baru saja menghinaku kekanak-kanakan atau apa? Gadis-gadis kecil dalam vokal grup katanya?! Memangnya salah ya kalau aku mirip anggota girlband? Toh, aku memang pernah bermimpi jadi anggota girlband. Tidak ada yang salah. Mereka tenar kok. Dia saja yang terlalu sentimen. Bisa jadi waktu muda dulu dia sering ditolak audisi, makanya sekarang jadi wanita tua yang sinis dan gampang sensi dengan model rambut.

Sebenarnya aku bisa saja membalas, "Rambut anda juga seperti helm yang kebanyakan disemir." Tapi aku takut ditendang dari mobil.

"Ya, anda benar sekali, model ini sudah agak ketinggalan jaman." jawabku buru-buru, berusaha menyenangkan hatinya. "Lagipula saya juga sudah bosan dan ingin ganti gaya rambut."

Sudut-sudut bibirnya naik beberapa milimeter membentuk senyuman. Sejujurnya aku agak ragu dia sedang tersenyum. Habis ekspresi wajahnya tetap kaku dan dingin.

"Hobimu apa?"

Dari cat rambut ke hobi? Well, dia adalah manusia random kedua yang pernah kutemui. Like mother like son.

"Mmm…" aku berpikir keras. Otakku mendadak blank. Ayolah, masa sih aku tak punya hobi lain selain berbelanja, barter barang dan nongkrong-nongkrong? Apa saja yang biasanya kulakukan untuk mengisi waktu luang? "Aku… tentunya aku suka… bersosialisasi dengan banyak orang," jawabku bimbang. "Dan juga… mempelajari mode melalui..mm majalah."

"Apa kau suka olahraga?" tanya Nyonya Kim, menatapku dingin. Lebih mirip interogasi daripada bertanya. "Atau suka bermain musik?"

"Eh… tidak terlalu sih. Tapi akhir-akhir ini aku agak suka berkuda." tambahku penuh semangat. Aku sudah punya sepatu botnya, kan? Sisa jaket dan sarung tangan. "Aku juga pernah belajar main gitar waktu SMP." Ya, aku main gitar selama dua menit dan berhenti di menit berikutnya karena senar gitar membuat jari-jariku kapalan.

"Begitu," kata Nyonya Kim melempar senyum masam. "Apa kau pernah bertemu Taemin?"

Aku mengernyit, "Siapa?"

"Sepupu Kai. Tapi hubungan mereka lebih dari itu. Aku sebenarnya tidak masalah, tapi almarhum suamiku melarang hubungan mereka. Anak bodoh itu terlalu pasrah. Sayang sekali… hubungan mereka berakhir."

Tubuhku menegang dan kepalaku seperti dihantam palu raksasa. Tunggu, tunggu, TUNGGU! Apa maksudnya wanita ini menyinggung soal si Taemin-entah-siapa-itu di tengah-tengah topik tentang hobi lalu menceritakan hubungan terlarang anaknya? Kai tidak pernah bercerita apapun soal Taemin-Taemin ini. Tidak pernah. Aku harus menanyakannya nanti.

"Taemin sangat berbakat. Dia pintar bermain musik dan suaranya sangat bagus. Dia sudah mengadakan resital piano sonata di London tahun lalu, kalau tidak salah disiarkan di televisi swasta korea juga. Kau pernah nonton?"

Aku menggeleng pelan. "Belum."

"Taemin gadis yang berprestasi." tambahnya membuatku nyaliku menyusut jadi setipis kulit kentang. "Sering ke luar negri memenangkan medali dalam pertandingan anggar, dia juga pernah mewakili Korea Selatan untuk polo air tingkat internasional. Kau pernah melihatnya?"

Kalau tadi nyaliku menyusut, sekarang harga diriku yang terbanting-banting. "Belum. Belum pernah."

Taemin sialan. Dengan resital piano keparat dan polo air keparat. Kalau ketemu nanti semoga aku bisa menebas lehernya dengan pedang samurai.

Heechul menatap santai keluar jendela tanpa memperdulikan ekspresi kecutku. "Nah, kita sudah sampai."

.

.

.

.

Suasana hatiku agak terhibur begitu melihat tempat spa dan salon langganan Heechul. Dia memang patut dipuji. Spa dan salon kecantikan ini betul-betul menakjubkan! Area resepsionis sangat luas sekali dengan lantai pualam, tiang-tiang yunani, musik lembut serta aroma minyak esensial di udara. Seorang pria yang sepertinya seorang hairstylist tenar di tempat ini mendekati Heechul lalu melempar cipika-cipiki. Aku tak menyangka. Ternyata masih ada juga yang nekat mau cipika-cipiki dengan makhluk itu.

Mereka berbicara sebentar dengan suara pelan, dan pria kemayu itu sesekali melirik-lirikku sambil mengangguk-angguk paham. Aku berusaha menajamkan pendengaran tapi gagal, suara mereka pelan sekali. Mereka tak merencanakan yang aneh-aneh kan?

Heechul tiba-tiba berjalan kearahku dan bertanya apa aku mau rambutku ditata dulu atau langsung di spa. Dia bersedia membayar semua biaya perawatanku hari ini. Wow. Asik juga. Kayaknya aku memang lagi butuh model rambut baru. Tidak apa-apa deh. Spa-nya nanti saja.

Begitu mendengar jawaban sepakatku, seorang wanita berseragam putih membawa Heechul ke ruang spa, meninggalkanku berdua saja dengan pria melambai ini.

"Mau gaya rambut seperti apa?" tanya hairstylist itu lemah lembut. Dia lebih kemayu dari perempuan manapun, apalagi dengan badan super ramping dan rambut panjang yang dikuncir kebelakang.

"Em…" aku gelagapan bingung. Tadinya aku ingin model rambut ungu seperti Katy Perry waktu dia datang acara Grammy Awards ke-57. Tapi si penata rambut sudah lebih dulu menyahut.

"Saya punya model terbaru, lho. For wonderful 2016. Kemarin lihat model seperti itu di Tv dan pengen cepat-cepat praktek. Kalau kamu tertarik saya bisa coba. Gress deh pokoknya! Pasti suka."

Praktek? Coba?

"Wait… modelnya seperti apa? Apa ada contoh gambar?" tanyaku menahan pergerakan gunting si pria kemayu. "Beneran bagus kan?" tanyaku ragu.

"Bukan bagus lagi, tapi masterpiece! Udah percaya deh." ujarnya berhasil menyetop "tapi, tapi" yang berhamburan dari mulutku. Dia terus menyerocos sambil mengalungkan kain putih ke leherku dan menyisir rambutku. Baru saja aku ingin protes lagi, guntingnya sudah bergerak memangkas rambutku sepanjang sepuluh senti. Sepuluh senti! Oh Tuhan. Entah bagaimana reaksi Mama ketika melihat ini. Dia tidak pernah mengizinkan aku memotong rambut terlalu pendek. Dia pasti akan membunuhku. Kenapa tadi aku mau-mau saja dibodohi si Cruella?

Penyesalanku sudah terlambat. Banci ini tangkas sekali, sekali potong lima senti. Aku sampai curiga model rambut terbaru yang dia maksud ternyata model rambut gundul sebelah yang lagi populer di kalangan artis barat. NOOOO! I hate that style!

"Eh, bisa jangan terlalu pendek?" tahanku waktu dia berniat menggunting rambutku yang sudah tinggal sepundak. Ampun. Orang ini, main potong seenaknya.

"Bawah tengkuk gimana? Bawah tengkuk pas ya?" dia bertanya dengan senyum super manis yang membuatku tak tega untuk protes.

Aku menelan ludah kering di tenggorokan. "O..oke."

Tiga puluh menit rambutku dibabat kiri kanan depan belakang. Benar-benar dibabat. Sial! DAN INI HASILNYA?! Ya ampun, rasanya aku ingin pulang ke rumah lalu bersembunyi dibawah selimut sampai pergantian millennium. Model gress apanya?! Aku jadi mirip Megaloman salah pergaulan yang mencoba jadi anak punk tapi gagal. Pokoknya kacau! Malah seperti rumput yang tak sengaja tersabit. Asimetris dan mencuat-cuat kayak kemoceng tidak jelas. Arghhh! Kembalikan rambut indahkuuuuuu!

"Wow…" Heechul sudah terlihat segar seperti bayi yang baru keluar dari lubang pantat. Sementara aku terlihat jelek seperti nenek tiri Cinderella yang baru keluar dari cerobong asap.

"Bagus sekali."

BAGUS DENGKULMU!

.

.

.

.

Heechul lumayan melunak kali ini. Selagi mobil meluncur di jalanan, dia mengobrol tentang banyak hal, terutama produk-produk make up yang dia sukai dan butik baju langgangannya. You know what? I FUCKING don't care! Aku cuma mau pulang dan bersembunyi di bawah kolong tempat tidur.

Untungnya dia mengajakku berbelanja. Aku terpaksa membeli baju baru untuk merubah penampilan karena sangat tidak matching dengan kepala baruku. Aku hampir menangis ketika mencoba gaun-gaun feminim, biasanya aku terlihat luar biasa cantik dalam berbagai macam mode, tapi kali ini aku terlihat luar biasa aneh. Aku tidak mengenali bayanganku sendiri di cermin. Hampir semua gaun tidak ada yang cocok dengan rambut sialanku. Aku bahkan tidak pantas lagi mengenakan rok pendek yang sangat cute itu. Aku lebih pantas pakai stocking jala-jala di tangan, lipstick hitam, tanktop hitam, jeans robek-robek, lalu berdiri di pinggir jalan, menunggu pria hidung belang lewat.

Tapi Nyonya Kim sialan berulang kali melontarkan kalimat-kalimat pujian menjijikkan untuk rambut payahku, sehingga mengundang perhatian orang-orang dan mengira kami pasangan lesbian.

Dari semua pilihan, akhirnya pilihanku jatuh pada Colorbox. Aku keluar dari toko dengan gaya yang sama sekali berbeda. Tadi aku adalah wanita anggun dewasa yang siap menghadapi dunia. Sekarang aku adalah remaja kacau yang terlalu banyak nonton konser rock dan nilainya jeblok.

Ketika Heechul ke toilet, aku diam-diam membeli rambut wig yang modelnya sangat mirip dengan gaya rambut lamaku, coklat panjang bergelombang. Aku tidak mau keluar rumah dengan rambut begini. Bisa-bisa aku jadi topik lelucon semua orang.

Heechul mampir di butik-butik kesayangannya, satu-satunya fakta yang membuatku terhibur adalah dia lebih gila belanja dariku. Lebih parah! Kasihan sopirnya disuruh mengangkut seabrek barang-barang itu, aku hampir tak bisa menikmati wajah gantengnya gara-gara tertimbun barang belanjaan. Sudah belanja segunung, dia masih belum puas juga. Dia mampir di Ferragamo membeli tiga pasang sepatu kemudian berpindah ke butik lain, memborong tas Kelly dan tas Birkin, lalu ke butik lainnya membeli setelan jas hijau mint.

Syukurlah Nyonya Kim tidak sejahat itu, dia tidak menyuruhku membantu sopirnya membawakan barang-barang atau menyikati debu di sol sepatunya. Aku benar-benar hanya sebagai tempat berkeluh kesah. Dari perjalanan ini, ada satu lagi yang bisa kupetik. Rupanya Heechul benar-benar suka dengan anjing. Dia memelihara sekitar dua puluh ekor ras anjing di rumahnya dan memiliki kandang khusus yang dijaga ketat oleh dua security. Katanya dia juga membayar pelayan-pelayan khusus untuk mengurusi semua anjing-anjingnya. Dan dari dua puluh itu, lima diantaranya sedang hamil besar. Astaga. Saking antusiasnya, dia menyebut satu-satu nama anjingnya mulai dari Simon, Sam, Ven, Ruby, dan lain-lain yang terlalu malas kuingat.

Tapi yang mengherankan, daritadi Heechul tak pernah sedikitpun menyinggung-nyinggung soal anak semata wayangnya. Dia terus membangga-banggakan anjingnya yang ikut lomba ini dan lomba itu. Aneh kan? Kesannya dia lebih sayang anjing daripada anak sendiri.

Aku berdehem, mencari akal untuk mengalihkan pembicaraan dari topik tentang kolam anjing. "Nah, anda pasti juga bangga sekali pada Kai." Kuharap Heechul akan mengatakan sesuatu dengan wajah gembira seperti tadi. Ternyata dia cuma menatapku tanpa bersuara, seolah-olah aku mengucapkan omong-kosong.

"Y-yaa, maksudku, dengan… dengan jabatannya dan keberhasilan yang dia raih," ucapku agak salah tingkah ditatap begitu. "Dia sangat sukses. Dan Kai juga cerita dia punya cita-cita untuk membuat perusahaan konsultan sendiri suatu hari nanti."

Heechul tersenyum meremehkan. "Orang tak bisa dikatakan berhasil kalau belum berhasil di Amerika dan Jepang. Meksiko bukan tempat yang bagus untuk berbisnis."

Ini buruk. Bukan respon yang kuinginkan. Masa sih dia tidak punya perasaan bangga sama sekali pada anaknya?

Heechul melihat kearah lain sebelum aku sempat bertanya. "Sehun, bukankah kau mau mampir ke Roxy?"

Roxy? Oh iya, aku memang mau beli baju-baju pantai dan beberapa bikini untuk kupakai di pulau nanti.

Aku menyambar semua benda di gantungan yang kulewati tanpa melihat-lihat lagi. Ini akibat terlalu banyak hal-hal yang malang melintang di kepalaku. Brazilian short pants warna kuning, celana pendek motif daun warna-warni, hotpants pink garis-garis hitam, surf legging, bikini motif tribal, bikini motif pohon kelapa, wet suit alias baju penyelam, kacamata bersantai, kacamata renang, tanktop, jumpsuit, printed dress, jaket hoodie, topi kupluk, pokoknya hampir seisi toko kuborong. Lalu tergopoh-gopoh kubawa ke depan mata penjaga kasir.

Sementara gadis dibelakang mesin kasir sibuk menghitung, aku masih memikirkan perkataan Heechul tadi. Rupanya ada terlalu banyak hal mengejutkan di diri Kai. Mulai dari hubungan Kai dengan Ibunya yang kurang akur, sampai hubungan terlarang Kai dengan sepupunya. Apalagi yang tidak kuketahui? Sepertinya masih banyak. Mungkin memang sebaiknya aku tidak usah terlalu terburu-buru. Bukan berarti aku tidak mau menikahi Kai, tapi aku masih belum yakin Ibunya betul-betul menyukaiku. Dia lebih mendukung Kai bersatu kembali dengan si Taemin-Taemin itu. Aku berasumsi mungkin sifat hematnya Kai gara-gara dia trauma punya Mama yang terlalu 'nyentrik'.

"Semuanya satu juta delapan ratus tiga puluh ribu won."

Apa? Satu juta?! Ck. Gajiku yang cuma tiga juta won bisa ludes sebelum tiba di pulau. Beda negara, beda valuta asing. Aku harus lebih berhemat. Belum beli sunblock, spray lotion dan segala macam. Tapi… kayaknya aku masih punya lotion di rumah. Berarti sunblock saja.

"Ada apa, Sehun? Kenapa lama sekali?" aku mendengar langkah sepatu Heechul mendekatiku.

Aku meringis garing sambil menggaruk kepala. "Tidak apa-apa, hanya sedang berpikir. Masih banyak keperluan yang mau dibeli."

Tatapan Heechul beralih ke si gadis kasir. "Berapa totalnya?"

"Satu juta delapan ratus tiga puluh ribu, Nyonya." ujar gadis itu.

Heechul mengeluarkan kartu emas berkilauan yang membuatku ngiler kepingin punya juga. "Biar aku saja."

Heh?! Apa aku tidak salah dengar? Barusan…

Nyonya Kim mentraktirku?

Aku dibayari… lagi?!

"Eh, maaf, tidak perlu repo—"

"Sudah terima saja, anggap tanda terima kasih karena kau bersedia menemaniku hari ini," dia menarik sudut-sudut bibirnya menyerupai senyuman.

Really? Ohh senangnyaaa!

"Saya suka mengobrol denganmu, Sehun. Walaupun kau tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Taemin dan beberapa mantan Kai, tapi kita punya banyak kesamaan."

Aku bingung harus bereaksi bagaimana. Yang barusan itu pujian atau hinaan?

"Kapan-kapan kita bisa meluangkan waktu bersama jika saya ada kesempatan," lagi-lagi sudut bibirnya bergerak sedikit.

Aku tersenyum riang. "Wah. Terima kasih banyak, tentu saja saya bersedia."

Aku berubah pikiran. Mungkin Nyonya Kim sudah bisa menerima kenyataan kalau anaknya berkencan denganku, bukan dengan si gadis polo air. Mungkin kelakuan sama mulutnya saja yang memang agak menyebalkan. Lupakan soal rambut, aku masih bisa pakai wig kan?

Baiklah. Masalah selesai. Kasus ditutup.

.

.

.

.

Yixing datang malam harinya setelah kuteror dengan dua sms ancaman dan lima sms S.O.S bernada darurat yang intinya meminta dia segera datang untuk menolongku.

Aku baru ingat punya teman ahli penata rambut. Bodoh sekali aku tadi. Apa yang kupikirkan? Kenapa tidak minta Yixing saja yang merubah tatanan rambutku? Percuma di salon mahal kalau kepalaku seperti habis tersengat listrik.

"Bwahahahah! Kau seperti habis tersapu badai Katrina. Terinspirasi sama landak ya? Atau Goku si super saiyan?"

Ughh… sabaar, sabaaar. Bukan salah Yixing. Ini salahku. "Bisa potong dan tenang? Aku tidak butuh komentar apapun." dengusku.

"Ya deh, ya. Sini, sini. Jangan jelek begitu dong mukanya." Yixing menepuk-nepuk karpet di dekat kakinya, menyuruhku duduk. Di tangannya sudah ada gunting kecil.

Ketika aku bersiap-siap duduk, dia nyeletuk lagi. "Ngomong-ngomong… kena angin topan dimana? Bwahahaha."

Aku berdecak dengan bibir bawah maju lima senti. "Silahkan ketawa saja sana! Ketawa sepuasnya! Dasar tidak setia kawan. Aku menyuruhmu datang kesini bukan untuk tertawa! Rambut konyolku ini bukan tontonan gratis!" omelku sebal. "Besok aku harus sudah ke Pulau bareng Kai dan aku tak mau dia melihatku sebagai wanita setengah kemoceng. Mengerti, kan? Dia bisa saja mencampakkanku! Padahal ini gara-gara ibunya si Heechul de Cruella itu! Ini darurat, Yixing! Darur—hmp!" tangan Yixing sukses menghentikan aksi protesku.

"Oke, oke, can you please be quiet? Just chill out. I got this. Okay? Damn!" Dengan telaten, Yixing mulai menyisir rambutku dan memasang hairpin di beberapa sisi. Dia juga membawa semprotan rambut yang tidak terlalu kupahami. Aku tidak perduli dia menyemprotkan apa. Asalkan rambutku bisa kembali 'anggun' seperti semula.

"Tapi, dibandingkan wanita setengah kemoceng. Kau lebih mirip wanita setengah pohon cemara. Hahahah!"

Aku mendesis jengkel. "Can you please be quiet?"

"Pfrrtt…" Yixing setengah mati menahan tawa sampai ngeden-ngeden segala. Kurang ajar. "Aku baru saja terpikir mau memanggilmu rambut riap-riapan."

Aku menoleh cepat dan menabrakkan telunjukku ke hidungnya, "DON'T YOU DARE…"

"Fine, fine. I won't, okay? I promise. Now please calm down so I can make you pretty as princess again." Dia memutar kepalaku menghadap ke depan lagi.

Dibawah tangan handal Yixing, tak sampai sepuluh menit, rambut 'total big crap'-ku dalam sekejap berubah jadi potongan rambut bob Keira Knightley yang super hot. Tiga kata: Wow, wow, dan wow. Aku berlari ke depan cermin, menatap diriku yang baru sambil terkagum-kagum. Sekarang aku tampak jauuh dua kali lipat lebih seksi dan terlihat dewasa dari sebelumnya. Leher putih mulusku kelihatan lebih jenjang dan terekspos jelas. Seperti dalam variety show Before-After-Before. Sebelum masuk salon aku Anne Hathaway, setelah keluar salon aku Jaiko, dan setelah ditangani Yixing aku Keira Knightley.

"Bagus, Yixing. Bagus sekali. Ini hebat. Rasanya aku seperti terlahir kembali." Aku memegangi kepalaku dan meremas rambutku penuh rasa haru. "Thank you sooo much. Aaaaaa!" jeritku girang setengah mati lalu menubruk Yixing dan memeluknya. "You rock, girl! You the best!"

Yixing menepuk-nepuk punggungku. "Yes. I knew it, sis. I knew it."

Aku melepas pelukan, "Nah. Sekarang bantu aku berkemas-kemas."

"What? Heeei! Aku sudah janji dengan Julien mau pulang cepat!" protes Yixing sementara aku menyeretnya secara paksa menuju kamar harta karun.

"Ah, Julien pasti mengerti kok. Apa kau tidak mau kangen-kangenan dulu denganku? Besok aku sudah mau pergi lho."

Yixing memutar bola mata, "Terserah…. eh, apa lagi ini?" dia tercengang dan melotot dramatis mendapati tumpukan belanjaan di depan lemari. Jumlahnya lebih dari lima belas kantong.

"Dari Roxy." jawabku sumringah. "Untuk kubawa kesana."

Yixing berdecak-decak sambil berkacak pinggang menatapku. "Kau mau tinggal di Karibia berapa abad sih? Cuma seminggu kan?"

Aku mengibaskan tangan, "Jangan lebay begitu. Ini masih wajar."

"Kau yang lebay!" tuding Yixing gemas. Dia merobek salah satu kantong dan melongo melihat isinya. "Ya ampuun. Kau beli bikini lagi? Banyak banget! Ada satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh? Tujuh bikini sekaligus?!" Yixing melotot. "Perasaan tiga bulan lalu kau sudah beli."

Aku menggaruk-garuk kepala, "Yang mana? Aku tidak pernah beli bikini lagi tahun ini. Jangan mengada-ada."

Yixing mengobrak-abrik isi lemariku dengan bar-bar, lalu melempar sesuatu ke wajahku, "Tuh! Bikinimu!"

"Tapi ini konyol dan memalukan sekali. Aku tidak mungkin pakai bikini bertuliskan 'Fuck Me Hard' kemana-mana. Entah kenapa aku dulu membelinya," jawabku pura-pura lupa ingatan. "Lagipula aku tidak mungkin pakai satu bikini. Come on, itu kan pantai. Laut! Bikini seperti pakaian sehari-hari yang sudah wajib dan harus ada di setiap kesempatan." celotehku tak mau kalah.

Yixing menutup telinganya. "Tidak mau dengar, tidak mau dengar, tidak mau dengar." dia bersenandung seperti orang gila.

"Ya sudah." ucapku cuek sambil berjalan ke lemari pakaian, berjinjit sedikit, berusaha meraih tumpukan tas koper diatas lemari. "Bisa bantu aku ambilkan koper?"

"Tidak bisa." Dia geleng-geleng sok asik. "Tapi aku bisa bantu menyarankan. Bagaimana kalau koper kecil yang krem? Atau tas serbaguna yang merah?" telunjuk Yixing menunjuk keatas lemari.

"Kupikir yang ini saja," ujarku sambil menarik koper keras berwarna hijau muda yang sangat cantik. Aku baru membelinya akhir pekan lalu karena jatuh cinta melihat warna dan desainnya.

"Wow! Sehun, koper itu bagus sekali! Dimana kau mendapatkannya?" seru Yixing dengan mata melebar.

"Antler," jawabku menyeringai lebar sambil berkeliling ruangan menarik koper hijau itu. "Menakjubkan sekali, bukan? Ringan dan dapat bertahan dengan baik terhadap perlakuan yang kasar."

Yixing nemplok di koperku. "Koper paling keren yang pernah kulihat!" ujar Yixing sambil mengelus-elus koper itu dengan kagum. Kalau dipikir-pikir tingkah kami ini seperti cewek-cewek dalam iklan koper.

"Jadi kau mau minum teh atau mocca latte?" tanya Yixing masih menempel di koperku.

Aku berpikir sambil mengetuk-ngetukkan telunjuk ke bibir. "Mmm… teh. Teh lemon."

"Oke," dia bangkit berdiri lalu berjalan kearah pintu. Tapi langkahnya mendadak berhenti dan dia berbalik menghadapku. "Besok rencananya Julien mau ikut mengantarmu juga ke bandara. Tidak apa-apa kan? Sekalian menjemputku."

Aku mengangguk. "Tidak apa-apa. Tidak masalah." Lagipula Julien 'kan memang kerjanya mondar-mandir di bandara. Sebagai pilot dengan tas koper hitam. Ya jelas saja dia tidak keberatan ikut mengantarku.

Pernah sekali aku iri melihat kemesraan mereka berdua. Habis Julien benar-benar sangat tampan. Mirip jelmaan Dewa Yunani yang diturunkan langsung dari Khayangan. Saking terlalu seringnya Yixing naik pesawat, dia sampai cinlok sama pilotnya. Tak tanggung-tanggung, mengincar yang paling ganteng pula!

Untung sekarang aku sudah punya Kai. Jadi tidak terlalu iri lagi.

Tepat saat aku memikirkan cowok itu, tiba-tiba ponselku berbunyi nyaring. Tanda ada telpon masuk dari… Kai!

"Halo, baby." sapa Kai diseberang sana. "Sudah selesai berkemas-kemas?"

Aku senyam-senyum ganjen sambil menyisipkan beberapa helai rambut dibelakang telingaku. "Belum, ini baru mau. Untungnya ada Yixing datang membantu."

"Hm, baguslah. Jadi bagaimana acara jalan-jalan kalian tadi?"

Oh, ya. Tentu saja. Pasti Kai akan bertanya soal itu. Aku menceritakan semuanya dan melewatkan kejadian salah potong rambut dan kalimat-kalimat sindiran yang diucapkan Nyonya Kim. Tetapi aku menekankan betapa senang dia mempunyai anak sehebat Kai.

Oke, aku mungkin sedikit membual. Seperti misalnya tentang ibunya yang mengatakan: "Kai anakku adalah putra terbaik di seluruh dunia," sambil menyeka air mata dengan sapu tangan. Aku menambahkan itu supaya terkesan kalau Heechul memang sangat bangga. Ayolah, mana bisa aku menceritakan reaksi wanita itu yang sebenarnya? Aku tak bisa bilang kalau ibunya hanya menarik ujung bibir sedikit dan dia sama sekali tidak terkesan dengan semua prestasi yang diraih Kai kalau dia belum sukses di Amerika dan Jepang. Dan sebetulnya aku senang telah berbohong, karena belum pernah aku mendengar Kai segembira itu.

"Baby, aku mau menelpon ibuku. Sudah dulu ya? Bye. Eh, ingat besok jam 9 kita harus sudah siap. Aku akan menjemputmu dengan… mobilmu."

"Oh, ok. Sip deh!" sahutku riang. "Bye, sayang. Sampai ketemu besok. Love yoouu!"

Kai berdehem dulu, "Err..ya, ngg, love you."

Aku segera memutuskan sambungan. Menatap layar ponselku yang memajang wallpaper foto Kai. Senyam-senyum sendiri dengan pipi bersemu merah. Aku menikmati ini. Menikmati sensasi jantungku yang berdebar-debar. Siapa bilang deg-degan hanya bisa dirasakan oleh remaja? Nih, buktinya aku dua delapan dan aku masih deg-degan seperti gadis remaja yang baru menstruasi.

Ini foto resmi Kai yang terbaru, dia menatap kamera, tampak sangat serius dan tanpa ekpresi. Tapi kalau kalian lihat baik-baik matanya, kalian bisa melihat ada seulas senyum disana. Ketika memandangi wajah Kai dengan seksama, aku diserang rasa sayang dan langsung melupakan semua perkataan Heechul di mobil. Aku harus percaya padanya. Dia tidak mungkin meninggalkan aku demi si cewek polo air. Maksudku, sebagus apa sih cewek itu? Aku juga bisa mengadakan konser piano di London kalau aku mau. Lagipula cewek itu cuma bisa main piano dan polo air. Terlalu umum! Apa dia bisa mendesain ruangan dam me-manage acara pernikahan megah seperti aku? Well, sudah pasti tidak bisa.

.

.

.

.

Tidak ada seorangpun yang bilang kalau seluruh keluargaku akan ikut mengantar hari ini.

Ya Tuhan. Aku seperti Princess Lady Diana yang diantar oleh iring-iringan keluarga kerajaan menuju tempat peristirahatan terakhir.

Memangnya aku mau kemana? Aku tidak percaya kakak-kakakku sampai menyuruh anak-anak mereka bolos sehari demi mengantarku. Aneh sekaligus bikin terharu sih. Yaah, beginilah resiko punya keluarga lebay.

Ketika datang menjemput, kukira Kai hanya sendiri, ternyata yang duduk manis di dalam mobil itu sudah ada Papa, Mama, Kyungsoo eonni, Suho oppa dan Junkyu. Mereka semua nyengir bersamaan waktu aku buka pintu. Kaget melihat rombongan sirkus di dalam mobil, kepalaku nyaris kejedot atap mobil.

"Siap berangkat?" tanya Kai masih menyeringai.

Aku menatap anggota keluargaku satu-persatu dengan pandangan heran. "Kenapa tidak bilang kalau mau bawa pasukan?"

"Kenapa memangnya?" tanya suara galak Papa dari kursi belakang. "Kau mau berniat tak senonoh dalam mobil? Untunglah aku ikut."

Aku menepuk jidatku keras sekali. "Astaga, Papa! Yang mau berniat tak senonoh siapa? Maksudku, aku kan cuma mau ke Karibia. Bukan ke kutub utara atau semacamnya."

"Sehun dear, apa yang kau lakukan?!" sambar Mama sebelum Kai sempat buka mulut. "Kau memotong rambutmu? Siapa yang bilang kau boleh potong rambut, hah?! Demi Tuhan, itu pendek sekaliiii!" suara histeris Mama membuatku refleks tutup telinga.

Eh… iya. Aku lupa pakai wig.

"Habis bosan sih Ma rambut panjang, sekali-sekali pendek 'kan keren juga. Ganti suasana. Mama tidak bosan apa lihat rambutku panjang terus?" jawabku membela diri.

"Aku tidak pernah bosan dengan rambut anakku sendiri," tegas Mama dengan sorot mata yang sanggup membangkitkan bulu kuduk.

Ups. Wrong move.

"Sudahlah, kapan kita berangkatnya ini kalau rambut terus yang dibahas?" keluh Suho oppa berdecak tak sabar. "Jam dua belas aku harus membagikan soal ujian ke Mahasiswaku."

Aku langsung menuju ke bagasi mobil. Kai membantuku mengangkat koper dan memasukkannya. Tapi dia sampai ngeden dan tahan napas, mengeluarkan seluruh tenaga dalam gara-gara mengangkat benda hijau itu. "Ber..rat se-sekali… isinya apa?"

"Baju." jawabku polos.

"Hanya baju? Seberat itu? Aku penasaran bagaimana caramu menyeretnya dari tangga," alisnya bertaut heran. Dia memutar dan naik ke bangku kemudi. Sedangkan aku membuka pintu mobil disampingnya.

"Dibantu Yixing dan suaminya, tuh mereka." telunjukku mengarah ke mobil kijang Innova yang terparkir tak jauh dari gedung diseberang jalan, disana Yixing melambaikan tangan lewat jendela sementara Julien tersenyum lebar dibelakangnya.

Kai mengangguk-angguk, "Okey… jadi…" dia memutar kunci kontak dan memasukkan persneling. "Kita berangkat sekarang. Sudah siap semuanya?" tanya Kai menoleh kebelekang.

Bagai peserta rombongan tur taman kanak-kanak, semuanya menyahut, "Siappp!"

"Eh iya, Kris oppa dan Chanyeol eonni ikut juga?" tanyaku sambil meraih seat-belt.

"Ya, mereka lagi di perjalanan. Mau jemput Zhuyi dan Dennis dulu katanya," kata Kyungsoo eonni sambil menjejalkan kue brownis kedalam mulut anaknya.

"Oh…" aku manggut-manggut. "Sepertinya bakal seru."

Yeah, dan heboh tentu saja. Pasti orang-orang di bandara Incheon akan merasa terhibur hari ini.

.

.

.

.

Benar dugaanku. Orang-orang di Bandara Incheon dapat 'hiburan' baru. Bagaimana tidak? Ini semua gara-gara Junkyu si biang kerok memulai keributan, dia mencuri jepit rambut Sophia, lalu berlari berputar-putar diantara celah-celah kaki orang-orang yang duduk hingga mengundang protes dari semuanya. Kyungsoo eonni yang malu ikut mengejar Junkyu sambil berteriak meminta jepit rambut Sophia dikembalikan. Sophia menangis keras, anak kecil di sampingnya juga tertular dan ikut menangis. Para orangtua geleng-geleng kepala dan menyuruh Kris oppa dan Chanyeol eonni mendiamkan anak mereka. Dennis berkeliling dengan sepatu rodanya, bermanuver dan meluncur ke segela sisi dengan berbagai macam atraksi, tapi kereta barang milik seseorang menabraknya hingga Dennis terjungkal dan kepalanya membentur lantai. Akhirnya dia ikut bergabung dalam regu 'paduan suara', meramaikan suasana bandara. Zhuyi yang tadinya tenang juga menangis karena pipinya dicakar kucing peliharaan salah satu pengunjung.

Seolah-olah itu belum cukup, Mama memperparah keadaan dengan terus merecokiku lewat omelan sepanjang sungai Nil-nya soal perempuan dan mahkota rambut serta betapa bagusnya rambutku dulu. Katanya aku tanpa rambut panjang sama saja seperti tidak punya kepala. Bawel! Belum move on juga rupanya?

Aku memijat keningku lemas. "Kenapa keluargaku berisik sekali sih?" aku bergumam sendiri, masih agak keras jadi kedengaran Kai.

Kai tertawa-tawa. Dia tak pernah berhenti tertawa dari semenjak tiba tadi. "Tidak apa-apa, lumayan untuk mengurangi rasa jenuh."

"Pesawatnya jam 11 kan? Ini sudah jam berapa?" tanyaku sambil melirik jam tangannya.

Kai mendekatkan jam tangannya jadi aku supaya aku bisa melihat lebih jelas. "Baru jam setengah sepuluh."

Aku menghela napas, cemberut. "Tiga puluh menit lagi. Masih lama."

"Tidak lama. Semoga tidak delay."

"Amen." sahutku.

"Rambutmu bagus. Cantik. Kelihatan lebih dewasa." pujinya sambil mengambil beberapa helai rambutku.

Aku tersipu-sipu. "Terima kasih. Ibumu yang menyarankan aku potong rambut," ujarku entah kenapa kembali mengangkat-angkat Nyonya Kim. Tapi memang dia sih yang menyuruhku mengubah gaya rambut. Tidak sia-sia. Aku dipuji anaknya. Yihaa!

Dia menaikkan alis, "Oh ya? Ibuku?"

Aku mengangguk semangat. Kemudian teringat sesuatu. "Eh, ngomong-ngomong, kau sudah menelpon Ibumu semalam?"

Senyum Kai agak pudar sedikit. "Sudah. Tidak diangkat."

"Ohh…" otakku bekerja keras mencari kalimat hiburan yang pas dan tidak menyinggung perasaannya. "Barangkali dia masih sibuk." akhirnya hanya itu yang bisa kuucapkan.

Kai mengendikkan bahu singkat. "Mungkin."

Hening selama beberapa menit.

Aku menguap lebar saking bosannya, tidak adalagi soundtrack tangisan para bocah. Aku bisa tidur nyenyaaak…

"Disini saja." tangan Kai mengarahkan kepalaku untuk bersandar di pundaknya. "Memang bukan bantal terbaik di dunia, tapi aku jamin kau bakal ketagihan ingin tidur di pundakku terus."

Aku terkekeh kecil. "Dasar narsis. Ini nyaman kok. Lebih dari nyaman."

Kai menatap mataku. Jarak mata kami dekat sekali. Terlalu dekat. Aku sampai takut tiba-tiba terhisap ke dalam matanya. Habis tatapan Kai benar-benar menggetarkan. Nyaris membuatku terbakar gairah. Ugh, bukan sikon yang tepat. Sadarlah, Sehun bodoh!

Di detik berikutnya, sebelum aku benar-benar sadar ini mimpi atau kenyataan, bibir Kai pelan-pelan bergerak maju menghampiri bibirku. Oh, dia akan membuatku terbuai lagi. Aku suka ini. Momen dimana Kai melumat bibirku dan membuat perasaanku melayang. Bagai burung camar yang terbang tinggi di udara. Bebas… lepas…

"Aduh!"

Aduh?

"Berani sekali kau! Aku lengah sedikit saja sudah mau menyosor bibir anakku! Kau pikir ini dimana? Ini tempat umum!" Papa mendaratkan serangan bertubi-tubi di kepala Kai pake Koran yang dia gulung menjadi tongkat bisbol.

Plak-plok-plak-plok-plak-plok! Papa menyerang Kai tanpa ampun. Aku sampai cemas Kai akan naik ke pesawat dengan kepala bengkak seperti penderita hydrocephalus. Mama, Kyungsoo eonni dan Chanyeol eonni kelabakan berusaha memegangi Papa yang kebakaran jenggot.

Aku menguap lebar sekali, antara ngantuk bercampur sebal. Papa perusak suasana!

.

.

.

.

Tas koper hijauku yang maha berat sudah kubagasikan. Jadi aku cuma bawa postman bag motif tribal berisi barang-barang yang selalu kubawa kemanapun, seperti iPad mini, ponsel, dompet, peralatan make up, permen pil untuk dikunyah, dan kamera khusus untuk foto-foto. Style-ku hari ini juga cukup simpel, skinny jeans, T-shirt putih bergambar burung hantu gemuk plus kalung rantai dengan bandul bulu elang dan miniatur gading gajah. Sepatu kets yang kukenakan warna cokelat madu. Untuk outerwear, aku memakai jaket hoodie baru yang kemarin kubeli dari Roxy. Ya, ya, aku tahu. Remaja banget kan?

Ini namanya style berpergian ke pulau. Simpel. Tidak ribet yang penting modis. Boring juga bergaya anggun terus. Toh, aku tetap anggun meski tidak pakai baju. Iya kan?

Waktu melepas kepergian kami, Mama sampai menangis-menangis segala. Kakak-kakakku dan anak-anak mereka bergantian memelukku, Yixing dan Julien juga sempat mengajakku berfoto selfie sebelum aku dan Kai menghilang dibalik pintu bandara. Papa lebih heboh lagi, dia mengancam akan menyunat 'adik kecil' Kai sampai habis jika dia berani menghamiliku diluar nikah. Ya Tuhan. Aku sayang sekali Papaku. Tapi itu kelewat sadis. Tak ada yang lebih parah daripada membayangkan Kai disunat dua kali. Untung Kai pria yang easy going dan rada cuek, dia hanya mesam-mesem sambil mengacungkan jempol waktu Papa bilang begitu.

"Kita di kursi nomor berapa?" tanyaku waktu kami berjalan di lorong penuh penumpang yang berdesak-desakan, sibuk menjejalkan tas dalam kabin.

Kai menarikku untuk menepi waktu ada seorang pramugara lewat, "Nomor 23 B dan C."

Kelas ekonomi. Biasa. Kai terlalu malas memesan tiket first class atau business class. Dia bilang untuk apa? Terlalu pemborosan. Tujuan kita naik pesawat 'kan untuk sampai di Negara tujuan dengan selamat, bukan untuk piknik di dalam pesawat. Kai selalu berhasil membuat segala sesuatu terdengar tidak nyaman di telinga. Jika berdebat dengannya pasti membutuhkan waktu dua jam sendiri. Lebih baik aku tidur saja.

"Ahh… akhirnya!" seruku menghempaskan bokong di kursi sambil menghela napas lega. Berhasil nyelip diantara punggung-punggung para penumpang.

Kai duduk di dekatku, sementara posisiku berada di tengah. Sebenarnya aku paling suka dekat jendela. Jadi kalau bosan tidur, aku biasa menghitung jumlah awan-awan putih hingga tanpa sadar aku ketiduran lagi. Oke, mungkin ngemil dan melihat-lihat produk di katalog pesawat bisa jadi hiburan lain.

Aku merogoh kantung dibelakang kursi penumpang, membuka-buka halaman majalah katalog. Kai merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel yang sudah dia non-aktifkan jaringannya lalu memakai earphone. Dia kelihatan siap terbang ke alam mimpi dalam waktu tiga detik. Aku mendongak begitu seseorang berusaha lewat diantara paha-paha kami, dia penumpang kursi A. Ternyata seorang ibu dengan anaknya yang masih bayi.

Aku mengamati bayi mungil itu mengoceh 'ba-bu-bu-di-du-do' dan bahasa planet bayi lainnya yang tidak kupahami. Di pipinya ada air liur dan di hidungnya ada ingus. Ckck. Kenapa sih bayi-bayi selalu menjijikkan? Kalau aku punya anak nanti aku tidak mau anakku keluyuran dengan muka belepotan ingus dan air liur.

Bayi berpakaian piglet itu terus menggigiti jempolnya dan mata-mata bulatnya balik menatapku.

Senyum ramahku melebar. "Halo, cewek kecil. Namamu siapa?"

Si bayi ikut tersenyum, gigi atasnya sudah tumbuh dua biji. Omo. Dia lucu sekali~

"Namanya Hyunmi." jawab Ibu si bayi. Masih belum terlalu tua, kira-kira seumuran Yixing. Aku heran temanku yang satu itu belum mau punya anak sampai sekarang. Padahal tangan Julien sudah gatal sekali ingin menimang sesuatu. Kalau kutanya dia selalu beralasan mau menungguku hamil dulu baru dia termotifasi.

Aku mencubit pelan pipi tembem Hyunmi. "Hai, Hyunmi. Hai. Senang berkenalan denganmu. Aku Sehun. Se-hun." aku menyalami tangan mungil Hyunmi. Berharap Kai melihat sisi lembutku ini dan dia akan berpikir untuk cepat-cepat melamarku.

"Dia belum bisa bicara," ujar Ibu si bayi meringis aneh.

Aku melempar senyum kalem. "Tentu saja, saya tahu dia belum bisa bicara." Ya ampun! Dia kira IQ-ku mines lima ya?

Tiba-tiba terlintas ide yang cukup brilian di kepalaku. Memperlihatkan sisi keibuanku pada Kai. Rencana yang cukup bagus, sekalian membuat dia terkesan.

"Hmm… maaf, apa anda tidak keberatan kalau saya…?"

Ibu si bayi langsung mengerti dan menyodorkan anaknya padaku. "Tentu. Hyunmi anakku sangat anteng dan ramah pada orang asing."

"Oh ya? Wah, Hyunmi anak baik. Kakak bangga pada Hyunmi." Aku mendekap Hyunmi dalam pelukanku.

Ibunya mengernyit. "Lho? Kakak? Kukira tadi kita seumuran."

Ck. Wanita ini berisik juga.

Aku pura-pura budek dan mulai bermain ciluk-ba dengan Hyunmi. Membuat ekspresi muka paling lucu dan paling kocak yang pernah kupelajari dari Ibu-Ibu tetangga. Ternyata cukup ampuh, Hyunmi tertawa-tawa riang sambil berceloteh 'ba-da-du-di' lalu memukul-mukul hidungku.

Aku tahu Kai diam-diam melirik. Aku tahu! Dia pasti cuma pura-pura tidur. Pfuh. Taktik kuno.

"Hyunmi…" aku menutup mukaku. "Satu, dua, tiga…" aku menggembungkan pipi dan menjulingkan mata. Hyunmi cekikikan keras sekali. Sampai-sampai kepala semua penumpang menoleh ke kursiku.

Tuh kan. Gampang sekali membuat anak kecil tertawa. Duh. Aku juga jadi kepingin punya anak kalau begini.

Tapi… apa ini cuma perasaanku saja? Kok kayaknya pantat Hyunmi hangat sekali? Kehangatan bayi bisa menular atau gimana? Karena sekarang kehangatan Hyunmi juga menjalar ke kaosku.

Ini kehangatan atau…

OMPOL BAYI!?

Kaos Roxy-kuuuuu! Toloong! Siapa saja! Bunuh bayi ini!

"Prffft…. Prfttt…" aku melihat wajah Kai berubah jadi aneh. Antara ingin meneruskan akting tidurnya atau menertawaiku dulu. Kurang ajar.

"Waah, maaf ya, maaf, saya lupa pakaikan Hyunmi popok. Duh, anak ini," Ibu si bayi langsung mengambil alih anaknya. "Menyusahkan saja kamu, Nak."

Memang! Bakar saja sekalian! Huweee kaosku. Bagaimana ini? Aku tidak mungkin duduk di pesawat selama 13 jam dengan kaos bekas pipis bayi dan aroma bau pesing yang mengganggu kenyamanan para penumpang. Arrghhhh! Masa iya hanya pakai bikini dan jaket? Ini masih di Korea. Aku bisa dikira cewek vulgar.

Aku melihat beberapa penumpang yang kursinya berdekatan mulai melirik-lirik kearahku sambil mengumbar senyum simpati. Aku tidak butuh simpati. Aku butuh pakaian!

Dengan perasaan tidak nyaman aku melepas seat-belt ditengah-tengah teori pemasangan pelampung dan berlari secepat kilat menuju kamar kecil. Mengunci diriku. Melepas jaket dan kaos sambil meringis jijik lalu melemparnya ke wastafel. Menarik tissue dengan gerakan kalap, lalu membasahinya.

"Sehun? Sayang?" aku mendengar ketokan pelan di pintu.

Kai? Mau apa dia?

"Kelihatannya kau butuh bantuan. Aku bisa membantumu."

Membantu? Jantungku berdesir hebat lagi. Membantu itu maksudnya…?

Ragu-ragu aku menuruti keinginannya, "Apa?" tanyaku, memandangi wajah Kai diantara celah pintu.

"Tidak apa-apa, hanya ingin membantu."

Aku mengernyit. "Membantu apa? Kau tidak bisa membantu apa-apa, Kai. Semua kaosku ada di dalam koper. Aku tidak mungkin keluar dalam keadaan setengah telanjang. Mereka bisa mengira aku perempuan gila dan akhirnya kita diturunkan dari pesawat. Aku tidak mau penumpang-penumpang lain melihat bra bikini baruku. Ini memalukan sekali. Pokoknya aku mau duduk disini saja," repetku tanpa bernapas dan tanpa spasi.

"Sayang, tenang dulu. Kau tidak akan memperlihatkan apa-apa." tukasnya. "Tapi kalau kau tidak keberatan apa aku boleh jadi orang pertama yang melihatnya?" dia menyeringai.

Mesum! Sempat-sempatnya berpikiran mesum disaat begini!

Aku mendengus, ketika tanganku bergerak mau menutup pintunya, tangan Kai lebih cepat menyambar handel pintu dan membukanya lebar-lebar hingga tubuhku tersentak kedalam. Nyaris jatuh terduduk diatas kloset.

"Kai!" protesku melotot galak.

Dia cepat-cepat menutup pintu lalu berbalik menatapku. "Sorry, babe. tapi aku terpaksa melakukan ini, kalau bukan karena kau, aku juga tak mungkin mendesak pramugari dan berbuat senekat tadi."

Hah? Berbuat nekat apa? Aku terbengong-bengong tidak mengerti. "Mendesak pramugari? Kenapa?"

Alih-alih menjawab, Kai malah melempar sesuatu ke pangkuanku. "Tuh, pakai."

Aku menatap kaos di pangkuanku lalu menatap Kai lagi. "Kaos? Dapat darimana?"

"Beli. Sudah pakai saja. Jangan banyak tanya." dia bersandar di pintu, menungguiku berpakaian. Aku jadi merasa risih sekaligus malu. Memang sih Kai sering melihat tubuhku lebih daripada ini, tapi sekarang ini 'kan kasusnya beda…

Oh, aku baru mengerti! Rupanya Kai-Si-Tuan-Hemat terpaksa membeli kaos merchandise yang dijual di pesawat. Padahal harga barang-barang itu sungguh diluar perhitungannya. Satu-satunya barang yang kemungkinan besar bakal dia beli dari pesawat adalah air mineral. Terharu juga aku membayangkan Kai mengemis-ngemis pada pramugari sambil bilang. "Agassi, tolonglah, pacar saya sedang butuh bantuan. Saya harus dapat kaos itu sekarang juga. Pleasee."

Baru kali ini ada pria yang sungguh-sungguh mau berkorban untukku. Nah, sudah jelas kan? Akutidak akan menyerahkan Kai pada siapapun. Dia milikku. Titik.

Saat aku hendak membuka tutup plastik pembungkus, tangan Kai bergerak lincah merampasnya. "HEI!"

"Aku berubah pikiran," dia tersenyum miring sambil mengerling nakal. "Kaos ini tidak gratis."

Aku tersenyum menantang sambil memiringkan kepala. "Oh ya? Terus… aku harus membayarnya dengan apa? Aku tidak bawa duit~" ujarku dengan nada manja dan wajah penggoda.

Telunjuk Kai mengarah ke bibirnya. "Maybe… one kiss?"

Aku bangkit dari kloset, beringsut mendekat, kemudian melingkarkan tanganku di lehernya. "Just kiss? Are you sure?"

Bibir Kai bergerak menciumi sepanjang leherku, menghirup aromaku, lagi-lagi aku berhasil dibuat melayang. "Just kiss." gumamnya pelan namun berhasil membuatku mendesah. "Aku senang kau potong rambut. Tidak ada lagi penghalang yang mengganggu bibirku. Atau hidungku. Atau lidahku. Tidak ada." dia terus mendaratkan ciuman-ciuman basah di leherku.

Tanpa memberi aba-aba, Kai menarik kepalaku lebih dekat dan menciumi bibirku. Aku agak terpekik karena kaget karena tindakan spontannya, tapi Kai berhasil meredam segala protes dengan mendesakkan lidahnya ke dalam mulutku. Lidahnya bergerak-gerak liar merasakan kehangatan yang tadi tidak sempat dia dapatkan gara-gara keburu dilarang Papa. Pria itu menggeram ketika aku membalas lumatan bibirnya dan berusaha mengimbangi pertarungan lidah kami. Sayangnya pertandingan hanya berlangsung selama beberapa menit, karena Kai dengan susah payah mencoba melepaskan tautan bibirnya di tengah-tengah pergulatan, padahal aku masih belum terlalu puas.

Dia menarik napas dalam-dalam, tersenyum takjub kearahku. "Wooow… yang tadi seru. Kau lumayan tangguh juga."

Aku mengangkat dagu. "Iya dong. Baru tau? Sekarang mana kaosku?"

Kai menyerahkan bungkusan berisi kaos dan aku cepat-cepat memakainya. Agak kedodoran di bagian lengan, tapi lumayanlah, bisa digulung. Daripada harus pakai kaos laknat tadi. Setelah selesai berpakaian, Kai menyambar kaos bernoda pipis di wastafel lalu memasukkannya dalam plastik, tidak merasa jijik sama sekali.

"Yang ini akan kusimpan di ransel, nanti sampai disana baru laundry."

Aku mengacungkan jempol, "Oke. Thanks ya, sayang." aku mendaratkan kecupan kilat di bibirnya sebagai bonus.

"Sama-sama." dia merangkulku keluar dari toilet. "Masih mau beramah-tamah dengan teman baru?" Kai menyeringai jahil.

"No, trims. Mending aku tidur saja." jawabku serta merta.

Kai tertawa sambil mengusap puncak kepalaku. "Kenapa? Padahal aku masih ingin lihat wajah cilukba-mu."

Aku memutar bola mata. "Tidak mau. Aku kapok."

Begitulah, kami duduk tenang di kursi seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Kai kembali dengan kesibukannya mendengarkan musik, dan aku memilih untuk menyibukkan diri membaca majalah Asian & World Travel. Sempurna. Tak ada seorangpun yang menyadari kami sudah berciuman tadi.

.

.

.

.

Perjalanan yang sangat-sangat panjang dan membosankan akhirnya terbayarkan juga dengan pemandangan langit malam kota New York City. This is America, man! Kerlap-kerlip cahaya lampu gedung-gedung pencakar langit, patung liberty, gedung Empire State, Jembatan Brooklyn, dan… oh, aku bahkan bisa melihat Times Square dari atas sini. Semuanya menakjubkan! Apa kami bisa berkeliling sebentar?

Aku nyengir kearah Kai.

"Tidak," jawab Kai singkat, padat dan menyebalkan. Lalu dia menutupi wajahnya dengan jaket. Sudah? Begitu saja? Ukh! Jangan bilang dia tidak tertarik melihat-lihat keindahan kota New York?

"Aku sudah pernah melihatnya," sahut Kai seperti bisa membaca isi pikiranku.

Mukaku tertekuk dan kedua tanganku terlipat di dada. "Itu kan kau. Aku belum pernah."

Kai menatapku sayu. "Lain kali saja ya, sayang. Waktunya terlalu mepet," ucapnya sambil melirik jam tangan. "Habis ini kita langsung transit ganti pesawat, naik interCarribean airways dan… bam! Sampai. Tidak sempat keliling lagi."

Baiklah. Sudah kuputuskan, liburan selanjutnya aku ingin mencicipi kedasyatan kota New York dulu. Hawaii bisa belakangan, nanti pas libur cuti melahirkan… Oh iya! Benar juga! Aku akan melahirkan anak pertamaku di New York. Keren juga kalau tempat tanggal lahir yang tercantum di biodata anakku nanti adalah 'New York'. Dengar-dengar dari Baekhyun, anak-anak jaman sekarang katanya gampang dapat kerjaan di dunia industri hiburan kalau tempat lahir mereka ada di Negara luar. Apalagi kalau sudah pernah mengenyam pendidikan di Negara tersebut selama beberapa tahun.

Yah, katanya.

Setelah turun dari pesawat, Kai betul-betul tidak mengizinkanku beristirahat untuk mengambil napas sejenak. Dia menarik tanganku dan kami setengah berlari mengejar pesawat berikutnya. Haaa… lagi-lagi duduk. Rasanya pantatku sudah kebas gara-gara kelamaan duduk. Aku juga menggigil kedinginan gara-gara AC pesawat yang sepertinya sengaja disetel gila-gilaan.

Ketika kami kembali menghempaskan diri di kursi pesawat kecil interCarribean, aku menatap keluar jendela. Memandangi bandara John F. Kennedy dengan perasaan sedih. Waktunya untuk mengucapkan salam perpisahan.

Goodbye New York.

Goodbye Manhattan.

.

.

.

.

Ternyata pulau ini jauuuh lebih hebat dari yang kubayangkan. Waktu datang, para turis seperti kami disambut oleh penduduk lokal dan kami dipakaikan kalung dari bunga-bunga. Ada juga tarian-tarian daerah dengan iring-iringan musik pulau tropis yang membuatku tergoda untuk ikut bergoyang pinggul bersama mereka. Dan rupanya di pulau ini penduduknya masih menggunakan sarana transportasi yang sangat tradisional. Kereta yang biasanya ditarik kuda, ini ditarik oleh keledai. Kami mampir di toko exchange untuk menukarkan mata uang lalu melanjutkan perjalanan ke penginapan. Aku bercerita pada Kai tentang beberapa hotel mewah yang kuketahui dan dia tidak protes waktu kubilang mau menginap di Carribean atau Italian Village. Dia malah menyarankan sebaiknya menginap di Carribean Village saja. Ya sudah. Toh tempat itu juga sama-sama indah.

Seseorang yang sepertinya kenalan Kai menyapa kami dan datang mendekat begitu kami tiba di kota Cockburn, Ibu Kota pulau. Dia bersedia jadi pemandu wisata kami selama disini secara cuma-cuma. Wow! Saat aku bertanya pada Kai kenapa pria berkulit hitam dan berjanggut kepang itu baik sekali, Kai bilang pria itu sudah banyak berutang budi pada almarhum ayah Kai dulu dan mau mengabdi seumur hidup untuk menunjukkan kesetia-kawanan dan loyalitas.

"Nama saya Noue, young lady." Bapak itu tersenyum ramah dan menyalamiku. "Dan anda pasti…"

"Park Sehun…"

"Pacar saya," sambar Kai yang disambut tawa berderai pria itu. Gila! Suara ketawanya menggemparkan juga. Mirip suara ketawa Chanyeol eonni, hanya saja ini versi laki-lakinya.

"Di pulau warganya terdiri dari banyak bangsa, jumlahnya….yah, paling sekitar lima ribu orang. Panjang pulaunya cuma enam mil dan biasanya dilewati kapal selama beberapa jam sekali. Di kota ini kalian juga bisa menemukan berbagai macam bangunan kolonial yang beraneka warna." Mr. Noue langsung menyerocos dengan bahasa inggris fasih. "Tapi Providenciales adalah tujuan wisata paling populer di Turks dan Caicos, dengan fasilitas akomodasi standar internasional, kalian bisa menyicipi berbagai macam masakan kelas dunia, mau bersantai sambil spa juga boleh. Makanan khas yang paling terkenal disini itu terbuat dari campuran ikan segar, beras dan kacang polong. Oh, saran saya sebaiknya kalian tidak melewatkan Grand Turk, kalian bisa melihat-lihat warisan sejarah pulau ini juga banyak Museum. Siapa tahu kalian penasaran ingin melihat-lihat seperti apa bangkai kapal secara langsung, atau… kalian tahu Columbus? Nah, disini juga ada museum yang memamerkan penemuan arkeologi bawah laut bersama dengan artefak yang berkaitan dengan pendaratan pertama Columbus di Amerika," jelas Mr. Noue panjang-lebar. Aku memperhatikannya dengan seksama sementara Kai asik memotret-motret pemandangan kota dan jalanan yang kami lewati selagi kereta keledai melaju.

"Terus disini biasanya turis-turis kegiatannya apa saja?" tanyaku antusias.

"Wah, disini para turis banyak kegiatannya. Kalau mau main tenis atau golf bisa, naik kuda, bersepeda keliling pulau, berlayar, surfing, naik kayak, banana boat, menonton atraksi ikan paus, parasailing. Banyak pokoknya! Nanti anda bisa keliling sekaligus cari tahu sendiri. Tapi Snorkelling dan scuba diving itu kegiatan yang paling populer disini."

Aku sempat melihat deretan toko pernak-pernik, baju-baju, souvenir dan juga pasar malam, mau berniat mampir tapi Kai diam saja, tidak menawariku. Okelah, besok saja aku kesini. Kalau Kai ogah menemani, aku akan jalan-jalan sendiri.

Saking asiknya mendengar Mr. Noue mendongeng, aku sampai tidak sadar kereta keledai yang kami tumpangi sudah tiba di lokasi penginapan. Amazing! Ternyata aslinya lebih bagus daripada yang di gambar.

Kai mengucapkan terima kasih dan sampai jumpa pada teman karib ayahnya itu kemudian menggandeng tanganku menyusuri area penginapan. Bottom of FormArea ini luas sekali! Kami sampai kesasar di sebuah taman dengan kolam ikan besar dan terpaksa bertanya pada pegawai serta pengunjung lain. Salah satu mau turis berbaik hati memberi kami peta penginapan lalu pergi begitu saja.

Di sepanjang perjalanan menuju gedung utama, tak henti-hentinya aku berdecak kagum menikmati view hotel yang sangat mewah. Ckckck. Tidak menyesal aku membohongi Pak Dongahe. Semuanya sudah terbayarkan sekarang.

"Kau suka?" tanya Kai pelan dan lembut di telingaku.

Aku mengangguk-angguk seperti boneka anjing diatas dashboard mobil. "Suka banget! Ini luar biasa! Kita tidak langsung tidur kan?"

Kai menggeleng, "Tentu saja tidak, sayang. Kita belum pernah nge-date kan? Aku akan mengajakmu nge-date malam ini. Nge-date yang sebenarnya. Berpesta seperti yang dilakukan kebanyakan pasangan. Tidak usah pusing biaya dan lain-lain. Nikmati saja."

Mataku membulat takjub. Nyaris pingsan karena shock. "Serius?"

Kai mengangguk mantab lalu mengecup keningku. "Yap. Sangat serius."

Malam itu menjadi malam paling menakjubkan, paling mewah dan berkilau sepanjang hidupku. Aku mengenakan gaun Vera Wang-ku dan Kai mengenakan setelan jas keren untuk pertama kali dalam hidupnya, dan kami pergi ke restoran hebat yang menghidangkan lobster, diiringi band yang memainkan lagu-lagu jazz, persis seperti di film-film. Kai memesan Bellini dan kami saling bersulang. Ketegangan Kai mengendur dan bahkan dia bercerita banyak soal kontrak kerjanya.

"Proyek itu," kata Kai sambil menggeleng. "Proyek-proyek itu sangat menuntut. Seperti… main ski di tebing curam. Kalau kau melakukan satu kesalahan ya sudah, kau akan jatuh. Tamat."

"Tapi kalau tidak melakukan kesalahan?" pancingku.

"Kau menang," Kai menenggak minumannya. "Kau memenangkan semuanya."

Aku menggenggam kedua tangan Kai. "Kau akan menang," ucapku menyemangati dia. "Kau pasti bisa membuat semua orang kagum dengan kemampuanmu."

Ketika pramusaji datang ke meja kami membawa hidangan pertama, ia menuang anggur di gelas kosong kami. Dan Kai mengangkat gelas tinggi-tinggi untuk bersulang.

"Untukmu, Sehun sayang. Kau bakal sukses besar dan naik pangkat secepatnya."

"Tidak, kaulah yang akan sukses besar," jawabku dengan wajah merah berseri gembira, setengah mabuk.

Kai tersenyum lebar lalu menabrakkan gelasnya ke gelasku. "Kalau begitu, kita berdua akan sukses besar."

Mungkin gara-gara Bellini yang naik ke kepalaku, kali ini pun aku merasa kepalaku berputar-putar hebat, seperti waktu di Fallout Hive. Aku merasa telah menjadi manusia yang baru, wanita gemerlapan dengan kekasihnya yang tampan dan kaya raya. Diam-diam aku melirik bayanganku di kaca, dan merasa sangat gembira. Lihatlah aku! Park Sheun, sangat anggun dan keren, duduk di restoran bintang lima di pulau paling eksotis di Karibia, mengenakan gaun bernilai jutaan bersama pacarku yang hebat dan sukses.

Kami keluar dari hotel sampai larut malam. Berdansa mengikuti irama jazz, makan parfait stroberi dan membicarakan berbagai macam hal di dunia selain pekerjaan. Ketika tiba kembali di hotel, kami tertawa-tawa, berjalan menyusuri lobi dengan gaya sempoyangan sambil berangkulan dan menyanyi-nyanyi seperti gelandangan gila, lalu saat kami masuk di dalam lift. Tangan ahli Kai berpindah dengan cepat. Bukan lagi di pundak, tapi merayap naik ke balik gaunku.

"Gaun ini hebat sekali," kata Kai sambil mengelus-ngelus daerah kewanitaanku. "Meskipun sebenarnya terlalu tertutup. Seharusnya kau melepas yang ini…" dia menarik turun tali spaghetti di pundak kiriku, "Dan yang ini…" kemudian yang di pundak kanan.

"Malam ini…" aku mendekatkan wajahku sampai hidung kami nyaris bersentuhan. "adalah malam paling indah dalam hidupku. Yang paling indah."

"Masih belum berakhir," balas Kai dengan mata berkilau penuh arti. "Aku merasa perlu memberimu hadiah lagi, Nona Park yang cantik. Kau memang benar-benar… sanggup membuat…" aku merasakan sesuatu yang menonjol dibawah sana. Tepat di daerah kemaluan. Diantara selangkangan Kai. Aku tersenyum puas mendapati fakta Kai sangat terangsang denganku.

"Tuan Kim kecil…" gumamnya sambil menciumi leherku penuh nafsu. "Sangat…ingin… berpesta."

Aku tidak sadar lagi bagaimana cara kami sampai di kamar tanpa kesasar, tahu-tahu saja tubuhku sudah terhempas diatas ranjang. Bibir Kai mengulum bibirku, dan benakku menari-nari karena alkohol dan rasa bahagia. Selagi Kai melepas kemejanya, aku melihat bayangan diriku sediri di cermin yang tampak sangat bahagia. Sebuah suara dalam otakku terus berbisik: "Ingatlah malam sempurna ini untuk selamanya, Sehun. Ingatlah."

Sisa malam itu berlalu dengan gelora memabukkan penuh kenikmatan. Hal terakhir yang kuingat adalah Kai mengecup kelopak mataku, menyuruhku tidur nyenyak, dan mengatakan ia begitu mencintaiku. Itulah yang terakhir kuingat.

Tapi siapa sangka ketika terbangun keesokan paginya aku mendapati sosok manusia yang paling tidak ingin kutemui di muka bumi ini?

Orang yang telah membuatku menderita dan menyiksa batinku selama bertahun-tahun selama di perguruan tinggi.

Siapa lagi kalau bukan dia?

.

.

.

TBC—

Waktu bikin ini, saya terpikir gimana kalau kakak seniornya Sehun itu si Seungri aja? Gara-gara baca beritanya yang dia duduk di pangkuan Sehun waktu acara MAMA 2015. Tadinya bingung mau make siapa. Habis si Tao udah kepake. Donghae juga udah. Terus Luhan juga rencananya saya gak munculin dalam cerita ini. Ya udah, Seungri lah yang kebagian peran. Saya harap temen-temen gak keberatan :D. Toh kayakanya dia cocok juga untuk meranin cowok yang agak… preman. Hehe.

Terus juga di chap2 depan saya berencana mau munculin Taemin, entah bagaimanapun caranya :D.

Dan just info aja yang jadi suaminya si Yixing itu Julien Kang, soalnya waktu itu ada reader yang 'nyaranin', terus saya langsung kepikiran, oh iya ya, kenapa bukan dia aja sih? Pada awalnya bingung mau nyariin bule yang kayak gimana buat Yixing xD.

Terus buat yang nyaranin spesial side story Krisyeol (from Lulu auren, haaii makasihh akhirnya kamu nongol juga ({})). Saya pertimbangin lagi, entah itu masuk di dalam cerita atau justru di luar cerita saya gak tahu. Intinya. Saya pertimbangin. Baru rencana hehe. Dan kalaupun masuk dalam cerita, entahlah bakal nyelip di chapter berapa. Makasih udah review^^. Dan juga thx buat pembaca yang ngishipperin krisyeol dan udah like ff ini^^. KaihunxKrisyeol forever yooww! (^o^)

Oke, udah gitu aja. Next project rencananya Bedeviled :D

#sekian and makasih banyak buat yang udah dukung saya hingga cerita ini bisa berjalan sampai sejauh ini^^. Happy reading and hope u guys like it.

#Mind for RnR? ;D