We are MARRIED or NOT?
Main Cast: GS!Sehun, Kai
Support Cast: Seungri, GS!Taemin, oc, dll
Rating: M
Warning: Mature content in some parts
Genre : Romance, AU, OOC, yadong, genderswitch for uke, comedy, family, friendship, dll
Length: Chaptered
Bahasa: Indonesia campur aduk
Summary Lengkap: Park Sehun, bungsu dari tiga bersaudara. Bekerja sebagai WO memberinya banyak keuntungan, lingkar pertemanan dengan orang-orang sukses, para klien papan atas dan bisnis barternya laris manis. Jika kita gambarkan, rute hidup Sehun adalah kantor-belanja-nongkrong-kantor-belanja-nongkrong-dan-belanja lagi. Si maniak belanja yang tak pernah bisa tahan godaan kalau lihat kata 'DISKON' terpampang besar-besar di depan matanya. Seluruh hidupnya dia habiskan untuk memikirkan obral tas dan sepatu hingga dia tak sempat cari cowok. Sangat boros juga yaaah… bisa dibilang, matrealistis. Namun rute hidup Sehun berubah ketika di ultah yang ke-28, seorang Pria tak diundang bernama Kim Kai tiba-tiba datang ke acaranya dan memberi dia buku 'Manfaat Kerang Bagi Kehidupan'. WTF?!
Sehun yang tadinya ogah menikah malah tergila-gila dan bersedia membuka paha lebar-lebar demi Tuan Kim Kai Yang Terhormat. Demi memuaskan sisi liar terpendam pria itu. Biarpun mereka baru kenal beberapa hari, biarpun Kai pelit dan terlalu hemat. Tapi bukan Sehun namanya kalau tidak silau sama sesuatu yang serba wow. Paket liburan ke Laut Karibia? Seminggu? Bersama suami? Oh, No…
Sehun tidak punya suami! Dia juga sudah terlanjur menolak lamaran aneh Kai. Terus sekarang dia harus bagaimana?! Apa Kai masih berminat melamarnya? Apa Sehun berhasil mendapatkan paket liburan fantastisnya? Well, semoga.
Chapter 6
Mula-mula aku sudah bisa mencium sesuatu yang tak beres. Aku terbangun di pagi hari dengan pandangan kabur, dan kulihat Kai sudah berpakaian lengkap—pakaian formal ala Kai—kaos hitam lengan panjang dan celana panjang biasa. Rambutnya sudah tersisir rapi kebelakang dan ada ponsel menempel di telinga kanannya.
"Oh hai. Aku harus menemui temanku pagi ini," ujarnya sambil duduk di sofa, memakai kaos kaki.
Aku bangkit dari kasur sambil mengusap-usap mataku yang nyut-nyutan dan kepalaku juga rasanya masih agak berputar sedikit. Damn. Minuman yang semalam efek alkoholnya kuat sekali. "Sepagi ini?" tanyaku memicingkan mata.
"Ya, ya, ini lagi siap-siap. Baik, sepuluh menit. Oke. Jadi ketemu di rumahmu?" alih-alih menggubrisku, Kai malah asik telponan. Dasar sok sibuk.
Aku berdecak jengkel lalu menyampirkan selimut dari atas tubuh telanjang bulatku. Menunduk mengamati lantai kemudian memunguti pakaian kami yang berceceran.
"Emm…Hun, bisa pakai sesuatu? Aku tidak sanggup melihatmu keluyuran dengan tubuh begitu."
Aku menyeringai tengil, "Uh, maaf, tidak bisa. Hari ini aku memang berniat tidak pakai apa-apa."
Kai hanya mengedipkan mata lalu melanjutkan telpon-telponannya di kamar mandi. Ya ampun. Siapa sih temannya ini? Presiden Obama?
Iya ya, penasaran juga aku. Siapa sih temannya Kai? Semenjak kami tiba disini dia belum pernah bercerita apapun soal orang itu. Juga soal Taemin. Aku tidak keberatan sih. Habis baru mendengar namanya saja sudah membuatku gatal ingin mencakari tembok.
Aku berjinjit pelan mendekati kamar mandi. Mengendap-endap, pelan sekali, berusaha tidak menimbulkan suara sedikitpun, lalu menempelkan telingaku ke pintu. Kalau Kai tidak mau memberitahuku, aku akan cari tahu sendiri. Dia pikir fungsiku disini cuma sebagai figuran?
"Oke, baiklah, Seung…" aku tersentak kaget dan nyaris roboh gara-gara pintu yang kusenderi tiba-tiba terkuak lebar. "Hun? Apa yang kau lakukan?" tanya Kai mengamatiku heran.
Mulutku bergerak-gerak seperti pintu garasi korslet. "Mm… ehh… itu, aku mau mandi. Ya, tadi aku lupa kau ada di dalam. Aku hanya ingin mandi. Serius. Aku tidak bermaksud menguping..ehm, lupakan. Maksudku, aku cuma mau mandi. Ya, begitulah…mandi. Heheheh." aku cengengesan aneh dan Kai masih terheran-heran melihatku.
Dengan dahi terlipat, Kai menyingkir dari pintu, "Baiklah. Selamat mandi."
"Yep. Sure. Selamat menelpon." balasku berusaha bersikap biasa. Buru-buru kututup pintunya sebelum Kai sempat bertanya yang aneh-aneh.
Pfuuh! Yang tadi nyaris saja.
Aku berbalik dan terpana takjub mengamati kamar mandinya. Aku sudah memakai kamar mandi ini dua kali dan tak pernah berhenti takjub sampai sekarang. Seluruh permukaannya berlapis marmer, sangat luas biasa besar dan showernya cukup untuk memuat lima orang sekaligus. Dan kalau menoleh ke sisi lain, aku bisa melihat Jaccuzi berbentuk segiempat yang letaknya di dekat layar monitor besar. Jika panel-panel tombolnya diatur, kita bisa pilih sendiri mau mandi dengan latar-belakang seperti apa. Apalagi yang lebih nyaman daripada berendam di Jacuzzi sambil memandangi ikan-ikan tropis berwarna cerah berenang-renang diantara sulur rumput laut?
Tidak hanya itu, seluruh ruangannya pun sama-sama keren dengan kamar mandinya. Kamar yang kami tempati katanya yang paling terbaik karena kalau kita berdiri di balkonnya, maka seluruh view area pantai beserta cahaya temaram lampu-lampu kota bisa terekspos dengan jelas. Digabung dengan langit malam yang terang bertabur bintang dan suara deburan ombak menghantam batu karang. Menakjubkan? Hell yeah, baby! Bayangkan, hanya sekali melangkah ke beranda dan kau bisa melihat hampir segalanya dari atas sini.
Aku juga suka sofa krem besar berbentuk L di ruang tengah. Saking sukanya, aku sampai tak berani menempelkan pantatku di sofa selembut sutra itu. Mungkin aku hanya akan menahan pantatku di udara tanpa benar-benar mendudukinya, pasti bagus untuk melatih otot-otot kaki dan pantatku. Selain sofa, aku juga dibuat takjub oleh bar koktailnya. Pokoknya bar koktail paling keren yang pernah kulihat. Seolah semua itu belum cukup membuatku pingsan karena bahagia, concierge-nya bilang kalau tiap-tiap kamar dilengkapi fasilitas remote control yang bisa mengendalikan pemanas ruangan, AC, ventilasi, penerangan, pintu, tirai dan semua perangkat yang bisa kita akses tanpa perlu repot-repot jalan. Hanya sekali klik. Beres. Tipe smart room yang hanya bisa kubayangkan dalam mimpiku. Honestly, ini bukan mimpi. Ini kenyataan. Karena sekarang aku disini. Berada di kamar ini, bersama cowok impianku.
Tapi si cowok impian tidak terkesan sama sekali dengan segala tetek bengek smart-home-living. Dia malah terus mengeluh sepanjang perjalanan dari lobi menuju kamar. Waktu di meja resepsionis, Kai minta kamar biasa yang lebih kecil. Untung saja seluruh kamar disini modelnya seperti ini. Kita perlu merogoh kocek 17000 dolar untuk sebuah kamar atau setara dengan tujuh juta lima ratus ribu won per malam. Aku bisa melihat Kai seperti ingin meledak hingga mengeluarkan pernyataan konyol: "Kenapa mahal sekali? Harga rumahku saja tidak semahal itu. Apa kamarnya terbuat dari kulit zebra? Apa Rolling stones akan datang mengunjungi kami tiap malam? Atau ada tanda tangan Madonna di kesetnya?" yang terus terang membuatku mati-matian ingin tertawa terbahak-bahak.
At least, si cowok impian sudah mengajakku kencan. Kencan paling mewah dan paling indah dalam hidupku. Dan aku berharap masih ada kencan-kencan seperti itu kedepannya nanti. Tidak cuma kemarin malam. Yaa… tahu sendirilah betapa randomnya Kai.
Saat sedang asik-asiknya mencelupkan kaki ke air hangat, aku mendengar derit pintu di belakangku terbuka. "Oh, syukurlah kau belum pakai sabun."
Aku terlompat kaget. "Kai! Apa kau tidak pernah diajari mengetuk pintu?"
Dia melenggang santai kearahku, "Cuma mau mengingatkan kalau tadi aku sudah pakai sabun dan sampo yang kubawa dari rumah Kris. Berarti kau tak perlu buka yang ada disini, pakai saja sabun dan sampo yang kupakai tadi. Toh baunya mirip-mirip."
"Kau mencuri properti mandi milik kakakku?"
Kai tertawa jengah, "Tidak, tidak. Bukan mencuri. Aku sudah minta izin."
Aku berkacak pinggang menatapnya dengan raut muka kesal. "Memangnya kenapa kalau aku pakai sabun dan sampo disini? Lagipula itu gratis. Aku juga bisa bawa pulang sendalnya diam-diam kalau aku mau. Atau sekalian sikat giginya juga. Pihak hotel tidak akan bangkrut jika mereka kehilangan satu sikat gigi."
"Bukan itu masalahnya, Hun. Lebih baik kita pakai yang ada dulu daripada buka yang baru lagi. Pemborosan. Jika semua tamu hotel punya pola pikir seperti itu, pasti lama-lama hotel ini akan beneran bangkrut. Coba pikir, satu tamu membawa pulang satu sendal. Bagus kalau cuma sendal. Bagaimana kalau mereka mau handuk dan keset kaki juga?"
Really? Diakah pria yang semalam mengajakku kencan impian?
Aku berbalik memunggunginya sambil mematikan keran air. "Well, itu bukan urusanku. Untuk itulah kita bayar mahal."
"Tapi itu 'kan pemborosan."
"Tapi itu 'kan sabun cowok!" balasku sengit.
"Itu bukan sabun—"
"Ups!" tanganku secara sengaja menyenggol sabun cair hingga tumpah ruah ke dalam bak. Kai melotot horor. Ketahuan sekali dia ingin berteriak sambil menjambaki rambutnya sendiri. "Sorry, babe. Aku terpaksa pakai sabun disini." Habis aku sebal dikuliahi soal sabun dan sampo tidak penting. Apalah artinya itu bagi hotel semewah ini?
Cowok itu menarik napas pasrah kemudian melengos pergi. "Terserah."
Tuh kan? Mana bisa dia menang berdebat melawanku?
.
.
.
.
Harusnya aku tahu. Aku sudah bisa mengendus bau-bau tidak enak waktu meninggalkan pintu kamar. Sangat tidak enak. Ini buruk. Pasti ada sesuatu yang tidak beres. Waktu tiba di lobi hotel, tiba-tiba saja jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya begitu melihat punggung seorang pria. Rasanya dia tidak asing. Dan semakin langkah kaki kami mendekat, debar jantungku semakin bertambah ekstrem. Suara orang itu juga tampak familier. Aku pernah mendengarnya di suatu tempat. Entah kapan. Tapi dimana? Apa aku mengenalinya?
Firasat burukku terbukti. Begitu orang itu menoleh, aku tak bisa menyembunyikan wajah terperangah shockku. Sudah sangat terlambat untuk bersembunyi. Dia sudah melihatku.
"Hei, Kai… apa kabar?" dia bertos ria dan salaman ala cowok dengan Kai. Lalu dengan ekspresi kaget yang wajar dia menoleh kearahku, senyumnya mengembang. "Sehun? Hai."
Aku juga berusaha terlihat wajar. "Hai."
"Tak kusangka kita akan bertemu lagi." Dia masih sama. Senyumnya masih sama. Aku tidak akan tertipu lagi kali ini. "Sudah lama sekali ya."
Aku mengendikkan bahu acuh. "Yeah. Lumayan."
"Lho? Kalian saling kenal?" tanya Kai menunjuk kami bergantian.
"Ya, kami—"
"Satu kampus," sambarku cepat-cepat sebelum bedebah ini mengatakan yang aneh-aneh. Goddamnit! Diantara semua hari, diantara semua bulan, dan diantara semua tahun, kenapa aku harus bertemu dengannya di pulau ini?! Aku cuma mau menikmati liburan. Bukan bernostalgia dengan iblis dari masa lalu.
"Benar, satu kampus dan saling mengenal," tambahnya tak menggubris pelototan sinisku.
Kai mengangguk-angguk, sepertinya dia tidak punya prasangka apapun dan tidak menyadari ada sesuatu yang aneh diantara kami. "Baguslah. Aku jadi tak perlu repot-repot mengenalkan kalian."
Sejujurnya, aku juga tak mau repot-repot mengenal dia lagi.
Seungri tidak terlalu banyak berubah. Hanya saja, dibandingkan dulu, sekarang tubuhnya lebih padat berisi dan lebih atletis. Aku bisa melihat itu melalui otot-otot lengan dan bahunya yang terbentuk dengan baik. Tapi masalahnya, Seungri terlalu banyak memakai parfum. Mungkin dia tidak menyemprotkannya secara biasa, tapi dipakai mandi berendam di bathub bersama bebek-bebek karet. Astaga. Menyengat sekali! Dia seperti bapak-bapak metroseksual yang aroma tubuhnya lebih mematikan daripada polusi udara.
"Terima kasih untuk tumpangannya," kataku seramah mungkin—layaknya istri bos—waktu dia membukakan pintu mobil.
"Bukan masalah," padangan Seungri tertuju ke rambutku. "Tumben rambutmu pendek."
"Kenapa memangnya?" tanyaku mengernyit. Dalam hati bertanya-tanya mau apa orang ini mengomentari rambutku?
"Menurutku kurang cocok. Kau jadi terlihat lebih tua dari usiamu."
Wtf?! Kami baru bertemu beberapa detik dan dia sudah berani menghinaku tua?! "Thanks. Kuanggap itu pujian," sahutku kalem.
Seungri melempar senyum yang jauh lebih kalem. "Sama-sama."
Iuughh! Ingin sekali kubenturkan kepala Seungri ke kaca mobil, tapi nanti Kai pasti mengira aku cewek bar-bar. Lebih baik bersikap santai. Biasaaa… like nothing happen. Everything is fineee.
Saat mobil bergerak maju, Seungri mengemudikan mobil sambil menyesap kopi panas starbucks. "Jadi apa pekerjaan cewekmu?" dia bertanya pada Kai.
"Wedding organizer, di Royal Event," jawab Kai.
"Royal event? Aku pernah dengar. Perusahaan yang direktur utamanya korupsi itu ya?"
Ya Tuhan. Jangan dia juga. Mengapa semua orang mengira Pak Donghae korupsi? Dia orang baik. Kalau tidak, mungkin sekarang aku masih duduk-duduk di ruang kerja lamaku dan mendengarkan curahan hati orang-orang sepanjang hari. So? Korupsi my ass! Aku tidak melihat ada tampang-tampang culas dari wajahnya. Lagipula aku yang orang dalam saja tidak pernah dengar berita yang aneh-aneh tentang dia. Mau korupsi juga masa bodoh, selama kehidupanku masih sejahtera dan aku masih tetap dapat bonus untuk liburan.
"Tidak, itu hanya berita picisan bodoh. Hanya orang-orang berotak sempit yang percaya."
Dalam beberapa detik, aku mengira Seungri akan meremas gelas starbuck-nya sampai jadi serpihan debu. Kalau jadi dia, aku juga pasti gerah dihina 'berotak sempit'. Tapi Seungri benar-benar menyebalkan. Dia tidak bisa dikasih hati. Anggap saja balasan karena sudah menghina rambutku.
"Tetap saja, menurutku jadi wedding organizer itu bukankah agak… terlalu sia-sia? Bisa dibilang, terlalu menghambur-hamburkan duit. Untuk apa sewa WO kalau kita bisa me-manage acara pernikahan kita sendiri? Mereka ini cuma pihak ketiga kan? Okelah, dari segi tenaga mungkin lumayan untuk meringankan beban," repetnya tanpa memberiku kesempatan menjawab. "Tapi apa gunanya kita punya keluarga banyak? Atau pelayan banyak? Mengapa tidak minta bantuan mereka saja? Kenapa musti percaya pada orang luar? Kita-lah yang tahu persis seperti apa pesta pernikahan yang kita inginkan."
Shit. Dia berniat cari ribut atau apa?
Baiklah, akan kuladeni. Siapa takut?! "Yaa.. memang sih, di jaman yang serba sulit seperti ini, bayar jasa WO itu cukup mahal." jawabku ekstra ramah, padahal dalam hati isinya sumpah serapah.
"Nah—"
"Tapi apa kau pernah berpikir: "mengapa harus bayar mahal untuk dokter kandungan? saya kan bisa melahirkan sendiri..". Sebetulnya, pola pikir itulah yang keliru." potongku penuh penekanan. "Banyak orang yang menganggap semua pekerjaan untuk persiapan pernikahan bisa dilakukan sendiri. Lihat endingnya gimana? Kebanyakan pesta mereka malah berantakan. Itu karena orang-orang awam tidak punya keahlian khusus atau pengetahuan yang cukup tentang dunia wedding organizer. Banyak orang yang merasa bingung dan tidak tahu harus memulai darimana untuk mempersiapkan pesta pernikahan mereka. Untuk itulah kami—para wedding organizer—diciptakan. Intinya, kami ini membantu meringankan beban orang-orang di tengah kesibukan dan jadwal padat mereka. Cukup mulia, bukan?" aku tersenyum bangga.
Seungri berdecak-decak sok kagum. "Ya, ya, mulia sekali. Sangat mulia. Sampai terkadang banyak dari mereka yang rela menjual seluruh jiwanya hanya untuk mengurusi pernikahan orang lain."
Herghhh. Bedebah! Secara tidak langsung dia mengataiku cewek menyedihkan yang sibuk mengurusi orang lain, tapi diri sendiri gagal melangkah ke pelaminan.
Seungri sudah keterlaluan. Aku tidak bisa diam saja meringkuk dibelakang sementara dia tertawa-tawa senang karena berhasil merendahkan aku. Pokoknya dia tidak bisa dibiarkan!
TIADA AMPUN BAGIMU!
Aku hapal tabiat Seungri. Dulu aku menganggap dia jenius dengan segala argumen dan wawasannya. Tiap kali ketemu, kami sering terlibat dalam diskusi-diskusi kecil dan forum kami sendiri. Serasa dunia milik berdua. Itulah yang membuat kami dekat hingga akhirnya memutuskan untuk berpacaran. Dia berhasil membuatku kepincut lewat pesona dan daya tariknya. Begitulah cara seorang Lee Seungri menarik perhatian. Seperti sekarang, aku tahu dia berusaha menarik perhatianku kembali. Lewat argumen-argumen tololnya yang seolah-olah ingin membuatku terpancing emosi.
Well… nice try, dude. Tapi maaf maaf saja. Tidak bakalan mempan! Aku sudah bukan gadis kecil yang sama. Aku sudah bukan Park Sehun bodoh yang dulu pernah tergila-gila padanya. Aku tidak gampang tertipu lagi. Itu semua cuma sandiwara. Seungri hanya sandiwara. Dia dengan segala tingkah lakunya justru membuatku muak setengah mati.
Kau ingin 'perhatian', hm? Bagaimana dengan ini?
"Hei, tahu tidak, kayaknya kau ketinggalan satu abad deh. Soalnya aku dan Kai sudah menikah lho. Apa dia tidak pernah memberitahumu?"
Seungri batuk-batuk tersedak kopi. Hahahah! Rasakan!
Kai kontan menoleh kebelakang, menatapku kebingungan dan penuh tuntutan. Oh. Aku lupa mengajak Kai berkomplot dulu. Habis dia tidak bilang sih kalau temannya si bedebah ini!
"Iya kan, Kai? Masa sih kau lupa? Pernikahan kita sederhana tapi indah sekali. Kita mengucapkan janji suci di teras rumahmu. Dan tamu-tamu yang datang hanya keluarga dan teman-teman dekat kita. Ingat? Oh, I'm kidding! Tentu saja Kai ingat. Manusia macam apa yang lupa hari pernikahannya sendiri? Benar kan? Hahah." cerocosku tidak memberi Kai kesempatan menjawab. Setelah itu aku melempar kedipan tanda persekongkolan sebanyak enam kali agar Kai mau bergabung dalam 'permainan'.
Bukannya mengerti Kai malah menyahut, "What?!" tanpa suara. Astaga. Haruskah dia telmi disaat yang tidak tepat?
"Kai, seumur-umur aku tak akan pernah lupa saat-saat bahagia kita… di teras rumahmu. Disaksikan semua orang. Terima kasih, sayang. Kuharap anak-anak kita nanti tumbuh menjadi anak yang baik dan cerdas," aku mengelus pipi Kai dan pasang wajah terharu membayangkan pernikahan khayalan kami. Beneran lho, di dalam kepalaku aku dan Kai sudah menikah. Malah kami sudah punya bayi-bayi kecil yang sangat lucu. Kami jalan-jalan sore di taman sambil mendorong kereta bayi. Bayi kami kembar. Yang satu cantik sepertiku, yang satu lagi tampan seperti Kai.
Kai menatapku seolah aku punya tiga lubang hidung.
Ayolah. Apa dia tipe manusia yang tidak bisa diajak bersenang-senang? Membosankan! Biar aku saja dulu yang tangani. Penjelasan untuk Kai bisa menyusul belakangan.
"Intinya kami sudah menikah. Bulan lalu. Kami memang tidak terlalu suka pamer ke orang-orang. Kecuali orang-orang terdekat. Tapi kalau kau sampai tidak tahu itu aneh sekali, berarti informasinya tidak sampai atau kau yang memang… kurang dekat?"
Respon Seungri sungguh diluar dugaan. Dia malah tertawa terbahak-bahak sambil menggebrak-gebrak setirnya.
"Kurang dekat, huh? Sayangnya aku dan Kai berteman cukup dekat. Dan kalau aku sampai tidak tahu berita membahagiakan ini, well… berarti memang aneh sekali." Kemudian dia beralih ke Kai yang masih terdiam seperti orang dungu. "Kai, kita berteman kan? Kau tidak pernah bercerita padaku kau sudah menikah. Kau juga tidak mengundangku. Pasti ada kesalahan, mungkin beritanya yang tidak sampai ke telingaku, atau… hubungan pertemanan kita yang patut dipertanyakan?"
Licik! Berusaha mengintimidasi aku lewat Kai. Aku bisa menangkap ada ancaman tersembunyi dari kata-katanya barusan.
Come on, Kai. Bantu aku. Please… Jangan jadi pria cemen….
Kai menghela napas. Ini adalah lima detik terpanjang dalam sejarah detik. Gerakan saat Kai menarik napas, lalu membuangnya itu terasa seperti slow motion yang menyiksa. Aku harus menunggu Kai tarik-buang napas selama lima detik. Dan rasanya begitu mendebarkan! Lima detik yang sangat berharga. Lima detik yang sangat menentukan nasib harga diriku mau dibawa kemana nanti.
Akhirnya, setelah memijat kening sebentar, Kai buka mulut. "Sehun benar. Maaf kawan, tadinya aku ingin memberitahu, tapi setelah kupikir-pikir, mungkin lebih bagus disampaikan secara langsung, sekalian ketemu. I'm sorry. I hope you don't mind."
YEAHHH! Bendera kemenangan untukku! How about that, huh? Eat that, bitch!
Aku tersenyum penuh arti menatap Kai. Benar-benar ingin menangis karena rasa bahagia dan terharu. Lagi-lagi dia melakukan sesuatu yang membuatku merasa aman dan terlindungi.
That's maiii man. Kai pantas dapat hadiah setelah ini.
Seungri hanya terdiam sepanjang perjalanan itu. Kapok dia. Biar tahu rasa! Kuharap orang itu akan bungkam selama-lamanya dan berhenti mengusik ketenanganku.
.
.
.
.
Kai menarik tanganku ke bawah pohon, menepi sebentar dari Seungri.
"Jadi… apa-apaan 'aku dan Kai sudah menikah' tadi?" tuntutnya sambil berkacak pinggang.
Aku berusaha santai, mencoba meraih tangan Kai. "Hei, hei, dengar dulu… Seungri itu… dia laki-laki brengsek. Tadi aku terpaksa berbohong karena dia menyebalkan. Aku tahu pasti kau merasa tidak nyaman. Maaf. Tapi kalau ada hal yang tidak ingin kulakukan di dunia ini adalah bertemu dengan pria itu. Aku tidak mau melihat dia lagi. Selama-lamanya," jawabku begitu pelan sehingga diriku sendiri nyaris tidak bisa mendengarnya.
"Berarti kalian lebih dari sekedar saling mengenal dan teman satu kampus?" sekarang Kai memicingkan mata, tatapannya berubah ekstra kaku dan serius.
Aku meremas jari-jari tanganku. Menunduk, tidak berani menatap sorot tajam Kai langsung. "Ehm.. ya, begitulah."
"Well, Sehun… Ceritakan saja, sayang. Ada problem apa diantara kalian? Dia tidak mencapakkanmu kan?" Kai agak lebih melunak kali ini. Dia memegangi kedua pundakku lalu mengangkat daguku agar tatapan kami bisa bertemu.
Aku tersenyum tipis, "Dia melakukan lebih dari itu Kai. Lebih buruk."
Kai hanya menatapku, menunggu penjelasan.
"Aku dan dia memang pernah berhubungan semasa kuliah, awalnya kupikir akan berjalan lancar. But then…" aku tarik-buang napas. "He did that shit. He did that to me."
"Did what?"
Aku mendongak memandangi Kai, "Waktu pertemuan pertama kita, kau ingat dulu pernah bertanya apa aku sudah lama berhubungan seksual atau tidak. Nah, asal kau tahu saja, dia-lah orang yang membuatku sempat trauma untuk menjalin hubungan. He took mine in the first place and dumped me like an idiot. Ternyata aku hanya bahan taruhan dan semacamnya, dia tidak benar-benar menyukaiku. Dan yang lebih menyebalkan, dia tidak pernah meminta maaf sama sekali. Dia melakukannya dengan enteng dan pergi begitu saja. Aku benci dia, Kai. Aku benci orang itu."
Kai membelalak padaku, dia memandang nanar dengan ekspresi wajah yang agak sulit kubaca. Yang paling kentara raut muka suramnya. "Dia orang yang pertama kali mengambil keperawananmu?"
"Benar," kataku dengan nada pelan, nyaris menyerupai bisikan. "Aku tahu, itu buruk sekali. Tidak seharusnya aku percaya semudah itu. Dan apa kau sadar perkataannya waktu di mobil tadi? Dia seperti merendahkan aku, aku tidak mau diperlakukan begitu."
Kai meraihku dalam pelukannya. "Shh, shh, shh, baby, hei… sweety, tenang. Ini bukan salahmu. Terkadang kami, para pria, memang sangat brengsek dan tidak bisa ditoleransi. Aku paham. Dia memang keterlaluan. Kau tidak usah cemas lagi, ada aku disini. Kau tidak sendiri. Aku tidak akan membiarkan dia bertindak semena-mena lagi dihadapanmu. Aku akan melindungimu."
Aku tersenyum lega menatapnya, belum pernah aku merasa selega dan senyaman ini. "Janji?"
Dia mengangguk lalu mengecup keningku. "Promise."
"Lovebirds!" tepat disaat kami hendak berciuman, Seungri muncul dan merusak momen. "Bukannya berniat mengganggu adegan drama kalian, tapi kita masih ada tugas yang harus diselesaikan. Kontraknya, Kai. Kontraknya. Ingat?"
"Tunggu! Just give me a sec, bro." Kai menatapku lagi, mendaratkan ciuman mesra dan lumatan-lumatan kecil di bibirku. Aku tersenyum dalam hati, pasti dia sengaja melakukan ini dihadapan Seungri.
"Ayo sayang…" dia mengusap-usap kepalaku. Lalu menggandeng tanganku mengekor Seungri masuk kedalam rumah. "Maaf tadi, agak sedikit terbawa suasana. Maklum. Pasangan baru. Yaah… kau tahulah." ujar Kai bangga setengah mati, sementara Seungri hanya tertawa-tawa santai mendengarkan. Benar-benar aktor yang sangat professional. Seungri mungkin bisa membodohi Kai dan semua orang. Tapi dia tidak bisa membodohiku.
"Ah, tidak apa-apa, aku sangat-sangat mengerti. Aku punya ruangan khusus di rumah ini kalau kalian mau bersenang-senang sebentar," dia melempar kedipan mata samar kearahku. Aku melengos buang muka.
Kai terkekeh, "Tidak perlu repot-repot. Kami masih mau jalan habis ini, iya kan, sayang?" dia menatapku.
"Ya, menikmati suasana dan menjauh dari yang buruk-buruk." ujarku sopan namun menusuk. Kalau Seungri sadar diri, dia pasti menangkap sindiranku tadi.
Tapi Seungri malah bercerita soal furniture rumahnya yang dia beli dari lelang e-bay tahun lalu. Terus terang aku juga ikut salut melihat rumahnya. Ruang depannya sangat luas. Aku terpaksa harus menahan diri agar tidak melongo dan meneteskan air liur seperti kuda bodoh. Tak kusangka-sangka orang yang paling kubenci bisa punya rumah sehebat ini. Dengan tangga melingkar seperti rumah-rumah di Hollywood. Aku langsung berkhayal menuruni tangga itu dalam balutan gaun malam fantastis, sementara Kai memandangiku penuh kagum dari kaki tangga.
"Tempat ini sering digunakan untuk pemotretan majalah mode," jelas Seungri, melambai ke tangga melingkar. "Marmernya diimpor dari Italia dan lampu kristalnya Murano antik." Dia terdiam sebentar. Kentara sekali menunggu reaksi kami.
Kai mengangguk-angguk santai. "Bagus."
Cool. Aku harus menunjukkan sikap cool. "Gitu ya?" jawabku sambil menguap tanda bosan.
Seungri tidak berhenti show off. Dia mengajak kami ke dapurnya yang harus kuakui sungguh luar biasa. Ada meja bar besar untuk sarapan, atap kaca, dan dilengkapi piranti masak canggih yang pernah diciptakan manusia. Aku berusaha keras berakting super datar saat Seungri memperlihatkannya pada kami. "Oven tiga tingkat kesayangan istriku, penyedot asap yang baru kami beli, dan ini talenan dengan permukan berlapis yang bisa diputar. Maklum, istriku jago sekali masak dan akhir-akhir dia sangat fanatik terhadap peralatan dapur."
"Lumayan," kuraba permukaan meja dapur dengan mimik cuek. "Apalagi yang anda punya? Alat pemanggang sushi elektrik?"
"Tentu," jawabnya tegas dan jelas.
Sial. Dia benar-benar punya alat pemanggang sushi elektrik!
"Oh iya, aku lupa mengenalkan istriku pada kalian. Sayaaang?" panggilnya sambil menengok ke tangga. "Bisa turun sebentar? Ada tamu-tamu spesial yang mau bertemu denganmu."
"Siapa?" sahut suara setengah berteriak dari atas sana.
"Kenalanku. Yang kuceritakan kemarin," balas Seungri tak kalah tinggi.
"Oh, tunggu sebentar."
Tak sampai dua menit, aku mendengar suara langkah kaki berjalan menuruni tangga. Tadinya aku biasa-biasa saja melihat istri Seungri, begitu waktu menoleh dan melihat ekspresi tegang tak terbaca Kai. Aku langsung sadar siapa wanita ini.
"Perkenalkan, dia Taemin. Istriku."
Taemin? Rupanya dialah Taemin yang legendaris itu. Si cewek polo air yang bahkan tidak ada cantik-cantiknya sama sekali.
Oke, aku bohong. Taemin cantik sekali. Dia luar biasa cantik. Dia bahkan masih terlihat cantik dalam daster kembang-kembang. Sialan. Aku tak pernah terlihat secantik itu dalam daster kembang-kembang. Ralat, aku tak pernah terlihat cantik dalam daster motif apapun! Aku malah tampak seperti wanita tiga puluhan yang putus asa mengurusi rumah tangganya. Tapi Taemin berwajah baby face. Dia seperti baru lulus SMA kemarin sore. Padahal berani bertaruh usianya sudah kepala tiga juga.
"Hai," dia mengulurkan tangan menyalamiku. "Aku Taemin, dan kau pasti—"
"Istri Kai," sambarku berhasil menghapus senyuman sok manisnya. "Aku Park..eng, Kim Sehun. Senang berkenalan denganmu." Rasanya aneh sekaligus bikin jantung berdebar-debar saat menyebut marga Kim di depan namaku. Seakan aku benar-benar telah menikah dengan Kai dan pernikahan kami sangat bahagia.
"Oh, kau istri Kai? Astaga Kai, mengapa kau tak pernah bilang kalau sudah menikah? Aku ini kan sepupumu! Kau juga tidak mengundangku." reaksi ceria Taemin sempat membuat kecurigaan memudar. Kok dia tidak mengajakku bertarung?
Kai menggaruk belakang kepalanya salah tingkah. "Sori, habis kata Ibuku kau lagi sibuk, aku tidak mau mengganggu."
"Ya, tapi kan kalian bisa kirim undangan," dia menatap aku dan Kai bergantian.
"Masalahnya, aku tidak tahu kau tinggal dimana sekarang. Minho bilang kalian sudah bercerai, padahal aku mengirimi dia undangan. Kupikir kalian akan datang bersama. Ternyata dia cuma sendiri." Kai kelihatan sangat santai dan meyakinkan sekali, seolah kami memang mengadakan pernikahan di teras rumahnya.
"Wah, Minho keterlaluan. Dia sangat kekanakan!" dumel Taemin. "Harusnya menelpon atau mengabari lewat pesan singkat kalau memang dia terlalu malas dengar suaraku. Bukan malah datang sendiri. Aku 'kan jadi melewatkan momen paling penting sepupu terbaikku." Taemin berdecak-decak sambil menggeleng. Aku tak percaya wanita ini tipe agresif yang sudah menikah dua kali. Padahal dari segi muka, dia seperti gadis-gadis polos yang sengaja dikurung di menara tinggi oleh ibunya sampai ada laki-laki yang datang melamar.
Wajah cuek-cuek kalem Kai patut kuacungi jempol, dia juga lumayan hebat bersandiwara. "Tidak apa-apa. Aku masih punya album fotonya kalau kau mau lihat."
"Ya, tapi sensasinya beda," Taemin ngotot. "Kita 'kan sudah lama sekali tidak bertemu, Kai." Dia membuat gerakan melepas ikat rambut tampak lebih indah dari iklan sampo manapun. Rambut pirang kuning keemasannya tergerai kembali dengan sempurna tanpa berubah bentuk, bagai air terjun. "Ngomong-ngomong, kau masih sering bertemu teman-teman se-gengmu dulu? Kris? Atau Jessica?"
"Kalau Kris masih sering," ujar Kai. "Kalau yang lain-lain sudah kehilangan kontak. Kau?"
"Aku sempat kontak dengan beberapa diantara mereka sewaktu masih tinggal di London. Setelah kembali dari London, beberapa diantara kami berusaha sedapat mungkin bertemu di sela-sela kesibukan."
Tunggu dulu, kenapa mereka malah asik bernostalgia sendiri? Jadi fungsiku benar-benar cuma sebagai figuran?
"Hebat sekali, bukan?" Taemin mengumandangkan tawa merdu. "Dari ratusan mitra kerja Seungri, baru sekarang dia bekerja sama dengan mantan pacar merangkap sepupuku. Aku sedang mengingat-ingat berapa lama kita pacaran, Kai. Empat tahun kalau tidak salah?"
Senyumku kontan membeku di wajah. Empat tahun?
"Aku tidak ingat," jawab Kai enteng. "Sudah lama sekali sih."
Ini menarik. Kalau kuperhatikan lebih seksama, Kai sepertinya tidak begitu antusias bertemu Taemin. Malah kayaknya… cowok ini punya dendam tersembunyi.
Cukup sudah. Aku tidak tahan jadi figuran.
"Darling, seingatku kau tidak pernah sekalipun menyebut-nyebut nama Taemin," kataku sambil tertawa rileks. "Lucu juga ya?"
"Jangan khawatir, Sehun." Taemin mencondongkan badan, membuat gerakan seperti ingin berbisik di telingaku. "Aku sadar diri, aku tidak pernah menjadi cinta sejati Kai."
Aku merasakan kehangatan merasuki hatiku. "Oh, begitu. Well—"
"Cinta sejatinya Kang Seulgi," sambung Taemin.
Apa? Apa!?
Cinta sejati Kai jelas bukan Kang Seulgi atau cewek manapun yang bullshit-bullhsit itu! Tapi aku! Calon istrinya!
Dammit! Sebenarnya Kai ini punya berapa mantan sih? Apalagi yang tidak kuketahui dari dia?
"Bercanda, tentu saja cinta sejatinya kau, Sehun!" seru Taemin, tertawa dengan nada meminta maaf. "Maksudku, itu dulu. Diantara geng Cambridge kami. Sudah cerita lama." kata Taemin sambil mengibaskan rambut berharganya.
"Oh, oke. Baiklah." jawabku menunjukkan sikap rendah hati.
"Sehun," ujar Taemin memperlihatkan raut simpati. "Aku sepenuhnya paham kalau kau merasa tidak nyaman dengan apa yang terjadi diantara kami dulu. Aku tidak akan tersinggung. Tapi aku dan Kai sudah tidak ada perasaan apa-apa lagi. Iya kan, Kai?"
Kai merangkul pundakku lalu menggenggam jari-jemariku. "Yap. Tidak perlu diragukan lagi."
"Lagipula kami sebentar lagi akan punya anak." Taemin mengelus-elus perutnya sambil tersenyum kearah Seungri. Masuk akal kenapa dia pakai daster, rupanya untuk menutupi perutnya yang agak membuncit. Tidak terlalu besar sih. Mungkin baru sekitar tiga bulanan.
Deheman Seungri membuyarkan lamunanku. "Mari kita lanjut ke topik yang sebenarnya," lalu dia menoleh ke Taemin. "Honey, kau mau kan menemani Sehun mengobrol-ngobrol? Sekalian berkeliling. Ada banyak pemandangan bagus disekitar sini. Apa kau tidak keberatan, Sehun?"
"Boleh saja." jawabku singkat.
"Kalau begitu kami mau ke pasar souvenir di dekat-dekat sini. Kau pasti suka berbelanja kan, Sehun?" tanya Taemin.
Aku mengendikkan bahu. "Lumayan."
"Wah, asyik! Akhirnya aku punya teman yang bisa diajak hangout. Kau tahu, Seungri sangat menyebalkan dan tidak bisa diajak berbelanja biar cuma semenit," keluhnya seperti mengajakku berkomplot.
"Ya, aku tahu dia menyebalkan. Sudah terbaca kok." jawabanku sukses membuat alis Seungri melejit tinggi, penuh tantangan.
"Oke deh, aku mau ganti baju dulu." Taemin bangkit dari sofa dan tampak berbinar-binar mengecup pipi Seungri dan Kai.
Dan Kai…
Anehnya cowok itu tidak protes sama sekali. Seungri juga kelihatan biasa-biasa saja melihat istrinya mengecup pipi cowok lain. Apa karena mentang-mentang mereka punya hubungan darah?
Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Kai.
Aku tidak tahu apa yang kupikirkan, terus terang saja.
.
.
.
.
Aku berusaha berkonsentrasi, tapi semua bayangan mengganggu ini terus bermunculan dalam benakku. Seperti Kai dan Taemin memakai jaket dan sweater Cambridge yang sama, berciuman penuh gairah diatas kano. Atau gondola? Entahlah, pokoknya perahu yang dikayuh pakai galah itu.
Kemudian, berulang kali terbayang olehku Kai membelai-belai rambut pirang panjang itu. Dan membisikkan kata-kata, "Taemin, aku cinta padamu."
Dasar tolol. Kai pasti tidak pernah menyatakan cinta pada Taemin.
Taruhan deh… seribu won.
"Sehun?"
"Oh," lamunanku buyar dan tiba-tiba aku sadar lagi berada di toko barang-barang antik bersama Taemin.
"Jadi kau mau beli yang mana?" tanya Taemin dengan suara mendayu-dayu merdunya. "Eh, vas kucing mesir itu bagus juga."
Aku mengamati vas bunga yang dimaksud Taemin. Memang bagus. Kalau suasana hatimu sedang tidak kacau dan kau tidak pergi berbelanja dengan rival cintamu yang ternyata sudah empat tahun memacari kekasihmu yang sekarang.
"Ya, bagus sekali," jawabku sekenanya.
"Kalau kau tidak mau ambil, itu akan masuk di kantong belanjaku," Taemin menyeringai lebar. Sekilas, dari luar, kami tampak akrab sekali. Dua wanita yang sepertinya sudah berteman lama dan pergi belanja bareng. Tapi sebenarnya aku cuma berpura-pura antusias.
"Aku akan ambil yang ini," balasku tersenyum.
"Bagus!" seru Taemin ceria. "Jadi yang itu saja atau kau masih mau melihat-lihat yang lain?"
"Cukup yang ini dulu," aku lagi tidak mood berbelanja hari ini. Aku hanya ingin pulang dan berendam air hangat. Menenangkan pikiranku.
"Wah, sayangnya." Taemin berjalan ke kasir dan di dalam keranjangnya banyak barang-barang unik yang terlalu malas kusebutkan. "Padahal aku masih mau mengajakmu melihat-lihat bangunan bersejarah disekitar…eh… mendadak aku teringat ada janji dengan masseur-ku. Apa kau mau menemaniku spa?"
Spa? Uh, yeah. Boleh juga. Sampai kiamat pun Kai tidak bakal mau diajak spa bareng. Jangan harap.
Taemin mengajakku ke tempat spa langganannya naik kereta keledai. Dia bilang ingin membiasakan janinnya menghirup udara segar alam, bukan udara di dalam mobil yang sumpek. Jujur saja aku tak terlalu menyimak apa yang dia katakan setelah itu. Pikiranku berlari kesana-kemari dan tahu-tahu saja kami sudah tiduran di dipan. Tubuhku telanjang dan hanya terbalut handuk putih sebatas paha.
Saat gadis berseragam putih memanjakan saraf-saraf tubuhku dengan pijat aromaterapi yang nikmat. Aku melihat ada panci berisi campuran madu dan lilin cair panas di dekat Taemin. Perutku mulas melihat asap putih mengepul dari panci itu. Aku tak pernah suka di-wax. Bukannya aku takut sakit. Tapi…
Well, oke. Aku memang takut sakit. "Jadi, apakah perawatanmu termasuk waxing?"
"Ya, waxing lengkap. Ujung kepala sampai ujung kaki. Tungkai, lengan, alis dan Brazillian," jawab Taemin bernada biasa. Seolah-olah dia sudah di-waxing seumur hidupnya.
Lengan? Alis?
Bulu kudukku merinding. "Brazillian? Apa itu?" tanyaku parau.
"Itu semacam bikini wax. Untuk seluruh tubuh." Ahli kecantikannya yang menjawab.
Aku terpana, otakku bekerja keras. Bikini wax untuk orang hamil?
"Hei, eng…eonni…" gumamku cemas. "Apa itu aman untuk ibu yang sedang mengandung? Apa bayinya tidak akan kenapa-kenapa?"
Taemin malah memejamkan mata, terlihat siap sekali menghadapi lilin-lilin panas itu. "Aku sudah kebal, Sehun. Hampir setiap minggu aku di-wax dan tidak ada apa-apa yang terjadi. Memang banyak yang mengeluh kulit mereka rusak segala macam. Tapi aku berbeda. Bisa dibilang, aku ini satu banding seratus. Bayiku juga nanti pasti jadi manusia pemberani."
Astaga. Memangnya dia berharap bayinya akan jadi apa? Volcanoman?
Mau tak mau aku ikut meringis waktu cairan kecoklatan nan kental itu mulai dioleskan di sekitar lengan Taemin. Aku kesini untuk bersantai, bukan untuk merasakan penderitaan orang lain, jadi aku mencoba untuk rileks dan memfokuskan pikiran tentang betapa nikmatnya pijatan-pijatan kecil yang diterima tungkai kakiku.
Sembari memejamkan mata, tiba-tiba aku teringat tanggal ulang tahun Kai bulan April nanti. Kado apa ya kira-kira yang dia sukai? Apa sebaiknya kutanyakan saja pada Taemin?
"Eonni…"
"Hm?"
"Menurutmu, apa yang disukai Kai? Aku berencana membelikan dia kado ultah tapi bingung. Aku juga tak mungkin bertanya padanya kan?"
Sejenak aku merasa ada keheningan panjang diantara kami. Apa Taemin tertidur? Kayaknya tidak. Seenak apa sih bikini wax sampai dia bisa ketiduran? Itu kan panas dan sakit.
"Okey, jangan belikan dia dasi."
Oh, belum tidur toh.
"Dia punya 100 dasi kado valentine dari gadis-gadis pemujanya dan tidak pernah dipakai. Satu-satunya dasi favorit Kai adalah dasi warna ungu tua yang selalu dia pakai. Itu seperti benda keramat bagi Kai. Dasi turun temurun dari ayahnya. Dia sangat mencintai ayahnya dan segala barang kesayangan milik ayahnya sudah dia anggap barang-barang miliknya juga," jelas Taemin lengkap dan jelas.
Aku mengangguk-angguk khidmat, "Terus apalagi?"
"Gir pancing, Kai suka memancing. Dia suka itu tapi jarang dipakai karena dia tak bisa melepas ikan dari kailnya, jadi dia hanya mengoleksi pancingan bersama ikan-ikannya. Aku pernah melihat dia memajang itu di tembok untuk hiasan."
Oke, jadi selain memanah dia juga suka memancing? Interesting. Nature man banget.
"Kai juga suka permen Jelly Belly. Itu makanan favoritnya sejak kecil. Tapi dia cuma suka rasa caramel corn dan cappuccino, jadi kau harus membelikannya tempat kecil khusus untuk memisahkan caramel corn dan capuccino. Semacam kantong ziploc yang bisa kau beli di toko-toko biasa."
Taemin menoleh, "Terus…oh, musik. Kai suka musik. Tapi musik apapun setelah era '90-an jangan kau belikan. Dia tidak akan suka."
Prfft. Dia suka musik tahun 90-an? Dasar kakek-kakek!
"Genre seperti apa yang dia sukai?" tanyaku. Habis aku tidak punya pilihan. Menjadikan Taemin sebagai informan memang satu-satunya pilihan yang kumiliki saat ini. Meskipun di sisi lain aku dihantui pemikiran-pemikiran dangkal yang berseliweran di kepalaku tentang: "Mengapa Kai tidak ditakdirkan jatuh cinta denganku duluan? Mengapa harus Taemin?" dan "Kalau kami bertemu lebih awal, apa aku dan Kai masih bersama saat ini? Atau aku juga akan bernasib sama seperti Taemin? Berada di rumah cowok kaya lain dan memakai daster ibu hamil?"
No! Biar begini-begini aku ini tipe setia. Pilihan kedua jelas mustahil. Kecuali si pria yang bajingan. Nah, itu baru lain ceritanya.
"Rock. Kai suka band-band rock yang berjaya di tahun itu. Red Hot Chili Peppers, Radiohead, Smashing Pumpkins, The Offspring, The Cranberries, Nirvana, Silverchair, Pearl Jam, Goo Goo Dolls, Soul Asylum, Oasis, Gun N' Roses…"
Wait, wait, wait, aku harus mengeluarkan buku catatan atau bagaimana? Itu banyak sekali! Semuanya terdengar seperti nama monster di planet Uranus. Tidak mungkin aku ingat!
Harus kuakui Taemin hebat juga bisa mengingat semua hal-hal remeh temeh soal Kai. Dia tahu semua detail-detailnya. Dia mengenali Kai seperti mengenali bagian-bagian tubuhnya sendiri. Sementara aku? Aku tidak tahu apa-apa soal Kai kecuali yang kubaca di majalah dan dia suka pakai sweater abu-abu pemberian almarhum ayahnya. Yaah, memang sih.. hubunganku dan Kai belum ada apa-apanya dibandingkan empat tahun milik Taemin.
Jadi kenapa kau harus jealous?
Fine. Aku memang jealous. Sedikit. Puas?
"Eonni tahu banyak sekali tentang dia," ucapku menampilkan senyum biasa.
Taemin mengehela napas, pandangannya terasa dalam dan menerawang jauh ke langit-langit. "Ya…aku sudah lama kenal dia. Lama sekali."
Wow. That's… deep.
Sekarang aku menyesal telah bertanya.
.
.
.
.
Rupanya urusan Kai tidak terlalu lama, jadi sepulang dari rumah Seungri, kami memutuskan untuk berkeliling lagi. Tadinya Seungri berusaha jadi pria baik hati dengan menawarkan diri mengantar kami keliling kota. Tapi Kai berhasil mengarang-arang alasan untuk menolaknya. Aku suka punya pacar kompak dan pengertian seperti dia. Tahu saja kalau aku muak berlama-lama melihat wajah orang itu.
Kalau tadi aku tidak bersemangat ditemani Taemin, sekarang aku sangat bersemangat ditemani Kai. Kami berjalan-jalan di Market Square yang letaknya tidak jauh dari rumah Seungri. Melewati deretan toko souvenir dan pasar makanan tradisional. Melihat-lihat souvenir apa yang bagus untuk oleh-oleh. Kai bilang aku tidak perlu membeli terlalu banyak, karena kami masih lama disini. Lagipula nanti bakal repot bawanya. Tapi aku berhasil mendebatnya kali ini dengan bilang itu tidak akan merepotkan, karena barang-barang berat bisa dibagasikan. Kai kurang gigih, jadi dia kalah berdebat melawanku. Aku berhasil membeli topi-topi jerami untuk Mama, Bibi Ryeo dan Bibi Kyu, lima mug cantik bergambar peta dunia untuk Papa, Kris oppa, Paman Yesung, Paman Zhoumi dan Suho oppa, gantungan kunci marakas beraneka warna dan kepala tengkorak mini dari keramik untuk orang-orang yang kukenal—kubeli masing-masing lima puluh biji, buah guavaberry liar dalam kemasan Natal yang unik dan katanya dipetik langsung dari lembah St. Maarten, boneka Barbie kulit hitam yang memakai pakaian tradisional untuk Sophia, serta miniatur mobil-mobilan kayu untuk Zhuyi, Junkyu dan Dennis.
Tadinya aku bertekad untuk berhenti membeli apapun begitu sadar aku hampir membeli seluruh barang yang ada di pasar ini. Tapi waktu kami melewati toko Food Souvenir, aku tertarik melihat minuman warna-warni yang dipajang di etalase. Ternyata rhum rasa buah. Wah, aku belum pernah minum rhum rasa buah-buahan! Aku mau coba. Barangkali enak dan mengandung nol persen alkohol. Apa ada tulisannya 'Kids can drink this'? Kurang jelas dari luar sini. Aku harus masuk dan melihat labelnya lebih dekat. Mungkin aku juga akan beli beberapa untuk Mama serta kakak-kakakku. Murah lagi! Cuma 10 XCD (dolar karibia) per botol.
Kai berdecak-decak sambil geleng-geleng kepala melihatku keluar dari toko membawa beberapa kantung tambahan.
"Sehun…" dia memandangi tas-tas di tanganku dengan tak percaya. "Barusan kau sudah janji mau lebih berhemat. Ingat tidak?"
Aku memutar bola mata, dongkol. "Aku sudah menghemat uang. Kau tidak lihat? Ini semua harganya tidak ada yang lebih dari 30 dolar! Aku kurang hemat apa?"
Kai menepuk jidatnya keras-keras. "Ya, ya, memang, tapi kau membeli semua barang dan pengeluarannya lebih dari tiga ratus dolar. Bahkan tujuh ratus? Kalau aku tidak salah hitung. Itu bukan berhemat namanya."
Kenapa ya cowok-cowok hanya bisa mengeluh kalau dimintai tolong menemani kita belanja? Ya ampun, mereka kan cuma menemani.
"Dengar ya, aku belum tentu akan kembali kesini lagi tahun depan. Jadi ini kesempatan untuk membeli barang-barang yang tidak ada di tempat tinggalku. Coba lihat ini, tas lucu dari bahan anyaman ini, cuma 12 dolar! Di Korea aku pernah menemukannya dan dihargai lebih dari dua puluh ribu won. Bayangkan, Kai! Berapa kali lipat harganya." jelasku berapi-api.
Kai menghela napas keras sambil mengacak-acak rambutnya, mirip orang frustasi. "Aku tidak mau dengar teori perbandingan harga omong kosong. Terus itu tadi beli apalagi? Botol-botol minuman? Apa masih ada sisa di dalam sana?"
Pipiku memerah menahan kesal. "Ya sudah! Besok aku tidak akan belanja lagi. Kalau perlu kita membusuk di kamar saja selama seminggu."
Dia mengambil alih beberapa kantung-kantung barang dari tanganku. "Aku perlu bukti. Kita lihat saja besok. Yaa… dua hari lah. Apa kau sanggup bertahan?"
Apa dia meremehkan aku? "Tentu saja aku sanggup bertahan." ketusku sambil menyilangkan tangan di dada. "Aku pernah tidak belanja apapun sama sekali selama tiga hari. Dua hari kecil saja buatku."
"Yakin tidak beli apapun?" pancing Kai.
Aku menelan ludah dan cepat-cepat menunduk salah tingkah. "Ehm… entahlah, siapa tahu besok ada keperluan mendadak yang harus kubeli seperti…misalnya.. pelentik bulu mata? Aku lupa bawa pelentik bulu mata dari rumah."
Cowok itu mengernyit. "Sayang, tidak ada yang memperhatikan bulu matamu sudah lentik apa belum.
"Jelas ada! Masa kau tidak mau aku tampil cantik? Pelentik bulu mata itu penting, Kai. Tanpa itu bulu mataku akan terlihat membosankan."
Kai menatapku seakan aku bocah keterbelakangan mental. "Aku tidak mengerti. Membosankan dari segi mana? Bulu matamu tidak membosankan. Menurutku semua bulu mata manusia itu sama saja. Fungsinya untuk memantulkan cahaya."
Geez! Percuma berdebat tentang bulu mata dengan cowok buta mode seperti Kai. Sampai kapanpun otak hematnya tidak bakal menangkap soal beginian.
"Kau juga tadi beli vas bunga, memangnya kau benar-benar lagi butuh vas bunga? Tidak kan? Kalau tidak salah ingat, aku tak melihat vas bunga satupun di kamarmu."
"Justru itu masalahnya!" aku menjentikkan jari. "Justru itu! Karena aku sama sekali belum punya vas bunga, makanya aku butuh satu vas bunga untuk menghiasi kamar apartemenku yang terlalu membosankan."
Kai mungkin kelelahan meladeni omonganku yang seperti tidak ada habisnya, karena dia cuma menghela napas dan berjalan dalam keheningan. Seperti pikirannya sedang melayang-layang di suatu tempat yang sangat jauh. Aku jadi merasa tidak enak.
"Sayang…"
Aku melihat Kai tiba-tiba berbelok dan jalan menghampiri ibu-ibu pengemis yang duduk-duduk di bawah pohon. Pengemis itu kurus kerempeng dan lusuh sekali. Mungkin sudah bertahun-tahun tidak mandi. Kenapa aku bisa tahu? Soalnya ada banyak lalat terbang diatas kepalanya.
Mau apa sih dia?
"Ini vas bunganya, semoga bermanfaat."
Dia menyumbangkan vas bungaku ke pengemis?!
Kai lewat di depanku sambil melempar senyum polos. "Ibu itu lebih membutuhkan vas bunga daripada kau."
"Kau bercanda ya? Ibu itu lebih membutuhkan makanan daripada vas bunga!" bantahku gusar.
Kai terus melenggang santai tanpa merasa berdosa. "Kalau begitu dia bisa menjualnya untuk beli makanan."
HEEERGHHHH! Menyebalkan! Awas ya! Tidak ada jatah untukmu malam ini!
.
.
.
.
Tidak mungkin.
Tuan Kim Kai selalu bisa mendapatkan jatah-nya. Dengan cara apapun. Aku curiga dia punya mantra gaib yang dia pelajari dari guru spiritualnya di hutan Kilimanjaro. Lalu diam-diam Kai selalu memantraiku saat tidur supaya aku tidak bisa membencinya. Kecurigaanku bukan tak beralasan, habis sewaktu dia bertindak menyebalkan dan membuatku nyaris meledak karena emosi, dia berbuat sesuatu yang manis sehingga aku jadi lupa marah dan terpaksa mengiklaskan vas bunga itu dengan lapang dada.
Anyway, aku masih bisa beli lagi kapan-kapan. Tanpa sepengetahuan Kai, tentu saja.
Sore harinya, menjelang malam, Kai mengajakku berjalan-jalan di pantai untuk melihat sunset. Tapi aku sempat mendapati dia menyelundupkan kondom ke dalam saku celana pendeknya. Jadi untuk berjaga-jaga, aku memakai bikini terbaikku yang belahan dadanya rendah. Aku mengikat tali simpulnya tidak terlalu kencang, supaya Kai bisa langsung menariknya tanpa ribet membuka tali simpul.
Kai tidak mau pantai di dekat hotel. Katanya kurang private. Jadi dia minta diantar Mr. Noue ke pantai yang jauh dari lokasi penginapan dan jarang didatangi turis-turis. Aku tidak perlu menebak-nebak apa yang akan kami lakukan nanti. Sudah jelas sekali. Untung aku juga sudah mempersiapkan diri untuk ini.
Pasti bakal amazing sekali. Bercinta diatas pasir putih dengan latar belakang langit jingga dan matahari terbenam. Duuh… aku jadi tidak sabar.
Pantai yang diceritakan Mr. Noue ternyata hanya berupa pasir dan laut. Tidak ada kursi-kursi lounge yang keren, perahu layar, atau tenda-tenda cantik berwarna putih.
Sama sekali tidak masalah. Karena justru di tempat ini benar-benar tidak ada manusia. Itu artinya, aku dan Kai bisa menguasai pantai ini! Yeaahh!
"Baiklah, anak muda." Mr Noue tersenyum pada kami, "Saya tinggal kalian disini. Hubungi saya apabila urusan kalian sudah…ehem, selesai." kemudian dia mengedipkan mata penuh arti. "Selamat menikmati."
Begitu pria berjanggut itu pergi dan betul-betul raib dari lokasi, Kai segera melepas kemeja biru lengan pendeknya kemudian meraih tanganku. "Mau melihat-lihat sebentar?"
Aku mengangguk, pipiku merona. "Dengan senang hati."
Rasanya menyenangkan dan romantis sekali, selagi kami berjalan pelan menyusuri sepanjang pantai sambil menikmati pemandangan langit yang mulai berubah warna, ombak kecil nan jernih datang bergelung seperti menggelitiki telapak kaki kami. Aku terkikik-kikik waktu Kai menceritakan pengalaman lucunya semasa kuliah bersama teman-teman gengnya. Cerita demi cerita mengalir lancar dari mulut Kai. No more secret. Bahkan, belum pernah dia memercayakan begitu banyak padaku. Dia juga bercerita tentang hubungannya dengan Taemin yang sempat kandas dua tahun lalu, jujur saja agak nyeri melihat ekspresi sayu Kai waktu menyebut-nyebut nama Taemin, tapi begini lebih baik daripada disembunyikan. Aku ingin mendengarnya langsung dari mulut Kai, bukan Taemin atau orang lain.
"Cintakah kau padanya?" kata-kata itu keluar begitu saja tanpa sempat kuproses.
"Cinta?" Kai tertawa pendek. "Kami kan saudara."
Aku menunggu Kai menjabarkan maksudnya—tapi dia malah terpaku memandangi matahari yang perlahan-lahan merayap turun di ujung dunia.
Itu bukan jawaban yang kuinginkan. "Kami kan saudara" tidak menjawab pertanyaanku. Aku sebenarnya masih ingin menuntut "Apa maksudnya itu?", tapi setelah kupikir-pikir, kok kayaknya kekanak-kanakan sekali.
Kai menghembuskan napas. "Sweetheart. Darling. Kalau kau merasa terancam dengan hubungan lamaku dengan Taemin, perlu kutegaskan bahwa—"
"Terancam?" potongku dengan mimik muka konyol. "Jangan bodoh! Aku tidak merasa terancam."
Oke, mungkin aku memang merasa sedikit terancam. Tapi mana mungkin aku mengatakannya pada Kai? Itu semakin membuktikan kalau aku tidak berpikiran dewasa. Lagipula Kai tidak pernah benar-benar mencintai Taemin. Toh, buktinya mereka putus. Kai lebih memilih aku untuk dijadikan pasangan hidupnya. Padahal kalau dia mau, bisa saja kan dia mengejar Taemin sampai titik darah penghabisan? Malah aku curiganya justru Taemin yang selalu mengemis-ngemis pada Kai minta balikan, makanya mereka bisa berpacaran begitu lama.
Sudahlah. Tidak perlu dipermasalahkan. Niatku datang kemari kan ingin bersenang-senang, bukannya meribetkan wanita-tak-penting dari masa lalu.
Langsung saja kuambil segepok pasir basah dan kulempar ke wajah Kai. "Hah! Kena kau! Ayo balapan, Mr. Warrior!" aku tertawa-tawa keras sambil berlari secepat dan sejauh mungkin dari Kai yang gelagapan mengusap matanya yang ketutupan pasir.
"Akan kurobek bikinimu!" ancam Kai dengan suara auman monster harimau.
Aku tertawa-tawa sambil menjulurkan lidah meledeknya, "Pecundang! Coba tangkap aku kalau bisa!"
"Akan kubuat kau kesulitan berjalan selama sebulan!" ancam Kai berlari kesetanan seolah-olah ada harimau sungguhan yang merasuki tubuhnya. Tolong! Dia mengerikan sekali!
"Ampun tuan harimau! Jangan terkam aku!" semakin kupercepat langkah kakiku dan buru-buru menunduk saat Kai hendak memelukku, akibatnya dia hanya memeluk udara. "Harimau payah!" seruku sambil menoleh.
"Aku The Warrior! Bukan harimau! The Warrior tak terkalahkaan!" pekik Kai dengan suara pahlawan di film-film kartun.
Aku terkikik geli sambil terus berlari. Napasku memburu dan aku mulai kepayahan. Kakiku melemas. Staminaku hampir habis… oh, shit! Apa itu yang barusan menyandung kakiku? Arghhh, aku akan jatuh!
Sepasang tangan kokoh menangkap pinggangku dari belakang. "Tertangkap kau sekarang!" seru Kai penuh kemenangan.
Aku meronta-ronta dalam pelukannya tapi Kai malah menyerang bibirku habis-habisan. Kami sama-sama ambruk ke pasir dengan posisi Kai yang berada diatasku, berusaha mendominasi dan menguasaku lagi. Seluruh tubuh kami basah terkena percikan ombak. Begitu bibir Kai menjauh, tawaku spontan meledak ketika melihat kepiting kecil terdampar diatas kepala Kai. Pasti karena terbawa ombak tadi. Gara-gara tertawa kelebaran, gulungan ombak datang dan langsung tertelan ke mulutku. Aku tersedak sambil batuk-batuk heboh.
Sekarang gantian Kai yang tertawa melihatku kalap melepeh-lepehkan air garam dari mulut.
"Eh, eh KAAIII!" jeritku saat pria itu mengangkat tubuhku dan menggendongku sambil berlari. "Turunkan aku! Lepaskan, bodoh! Lepaskan!" kakiku menendang-nendang asal dan aku mendaratkan cubitan maut bertubi-tubi dadanya.
Bukannya menurut, dia malah tertawa kejam sambil berlari kearah laut.
"Apa yang kau lakukaaaaaa!"
Kai membuangku ke laut.
Tamat.
Cerita ini habis.
Bercanda. Cerita ini belum habis. Aku berenang-renang cepat ke tepian dan berlari mengejar cowok itu, hendak mendorong Kai sebagai balasan karena dia melemparku seenaknya. Tapi Kai bergerak lebih sigap menangkapku lagi dan memenjarakan aku dalam pelukan beruang sekuat bajanya.
"Kaii~aenghh…" aku batal protes karena mulutku keburu dibungkam oleh lumatan-lumatan cepat bibir Kai. Bisa dibilang agak brutal karena dia menggigiti bibirku tanpa ampun dan membuatnya merah. Terus menghisap dan menggigitnya, tanpa memberiku kesempatan untuk bernapas.
"Berlutut, sayang." bisiknya lirih. Aku langsung menangkap apa maksudnya. Aku merosot ke pasir dan berlutut, menghadap selangkangannya. Aku meletakkan tanganku di pinggulnya lalu mendongak keatas dan melihat tatapan bergairah di matanya.
"Kai... bolehkah aku ingin mengisap-"
"Yes, please." potong Kai terburu-buru.
Sudah cukup main-mainnya. Aku segera menarik turun celana pendeknya dan langsung menemukan 'hadiah'-ku. Ya Tuhan, dilihat dari dekat begini bentuknya sangat indah. Kai mendesis ketika aku menggenggamnya dan menjilat ujungnya, menyukai rasa khas dari miliknya yang besar. Aku menarik lidahku kesana-kemari, dari ujung ke pangkalnya. Tidak melewatkan satu celahpun. Inilah yang sudah pernah berada didalam diriku—beberapa kali—dan aku belum pernah benar-benar melihatnya dengan baik. Milik Kai besar dan keras serta halus seperti beludru. Kuputar-putar jari telunjukku di lubang kencingnya lalu tersenyum menggoda kearah Kai.
"Kau begitu sempurna," gumamku, dan kemudian aku memasukkan penis besar itu ke dalam mulutku. Kai mencengkeram kepalaku dan mendorong miliknya masuk semakin jauh ke dalam ke tenggorokanku. Aku mengisapnya sambil mendorong kepalaku maju-mundur dengan tempo lambat namun pasti. Aku menjilatinya dengan gerakan sensual seakan benda itu adalah lollipop pisang paling besar dan paling enak, membuat Kai ereksi dan mengerang. Aku tidak mau berhenti sampai disini. Aku ingin dia sampai ke garis finish dengan kekuatan mulutku. Kai pasti bisa membaca bahasa tubuhku karena tangannya menahan kepalaku saat aku kembali memasukkan miliknya dalam mulutku. Aku menelan semuanya tanpa tersedak sama sekali dan ketika bolanya menegang, aku tahu dia sudah hampir mencapai klimaks, aku mencengkeram keras pinggulnya dengan kedua tanganku hingga dia tidak bisa menarik mundur.
"Shit!" Dia mengejang dengan kuat dan menumpahkan cairan hangat ke tenggorokanku, sambil menahan kepalaku dengan kedua tangannya saat ia mencapai klimaks. "God..." Dia terengah-engah mengambil napasnya dalam-dalam. Menunduk sambil bersiul panjang. "Not bad for the Baddas Queen."
Dia menarik tubuhku dari pasir, lalu mulai menciumiku lagi. Kali ini pelan dan dalam, rasanya begitu menyenangkan, aku seakan melambung. Merasa lega bisa memuaskan dirinya untuk kesekian kali. Jari-jari Kai menelusuri rambutku sambil menggigit lembut leherku. Aroma yang aku kagumi mengalir ke sekitar tubuhku. Tangan Kai menyelinap ke belakang punggungku dan membebaskan payudara telanjangku dari bra bikini yang ketat. Benda itu jauh ke pasir dan aku hanya bisa berharap semoga tidak dicuri oleh ombak.
Kai sudah telanjang daritadi. Payudaraku sedang dinikmati oleh bibirnya, lidahnya menggelitik daging sensitifku, menggoda puting payudaraku dengan tarikan hisapan sampai aku mendesah, menggeliat dan menggelinjang kegelian dipelukannya. Aku menguburkan tanganku di rambutnya dan merasakan gerakan kepalanya saat dia mengulum puting payudaraku dan meremas yang satunya. Kai berhenti menjilati puting dan memandang kepadaku.
"Kau adalah hal satu-satunya hidangan yang ingin aku cicipi saat ini." Belum sempat aku mencerna apa maksudnya, Kai sudah membopong tubuhku lagi, membawaku menjauh sedikit dari jangkauan ombak. Merebahkan tubuhku di atas pasir, sementara dia sendiri duduk di depan pahaku yang terbuka lebar, menarik turun pertahanan terakhirku. Kini kami sama-sama telanjang bulat dan Kai memandangiku dengan puas. Dia membelai lembut paha dalamku dan membukanya lebar-lebar.
"Ahhh, Kai~" aku mendesah sambil mengalungkan tanganku di lehernya saat lidah Kai bekerja di clitku, memutar dan bergerak-gerak lincah di atas daging panas yang terbuka untuknya. Orgasme datang kepadaku dengan cepat, bahkan aku mendengar diriku sendiri berteriak. Kai menggeram diatas bibir vaginaku dan menjauh sebentar. Tanpa basa-basi dia langsung mengambil kejantanannya, mengangkat kakiku keatas bahunya dan masuk ke dalam vaginaku dengan keras dan dalam. Kai mengeluarkan suara desahan saat penisnya mengisiku.
"Enghh… pelan-pelan sayang…" aku meringis menahan sakit.
"Sorry." Bibirnya melumat milikku lagi untuk meredam rasa sakit di bagian bawah. Lidah kami bertarung dan aku membiarkan Kai menang. Aku selalu membiarkan dia mendominasi. Aku senang melihatnya diatasku, melihat kulit kami bersatu, sementara dia menatap balik ke dalam mataku dengan penisnya yang bergerak cepat dan lihai. Seks kami bergelora dan Kai terus-menerus berbisik di telinga, membuatku horny dengan kalimat-kalimat sensual tentang betapa nikmatnya rasa vaginaku, betapa cantiknya aku dan betapa dia ingin aku terus berada di ranjangnya seumur hidup. Bukan orang lain. Bukan Taemin. Bukan Seulgi atau siapapun. Cuma aku. Dia hanya menginginkan aku. Aku tahu itu.
Kai menusuk lebih cepat dan dalam ke vaginaku, mendorongnya keluar masuk dengan kekuatan super banteng liar, membuatku berteriak histeris dan menggelinjang gila-gilaan. Sambil menggenjot yang dibawah sana, dia menjilati dan mengulum kedua putingku yang menegang dan memerah gara-gara dihisap dan diemut secara brutal. Penis miliknya bengkak padat, menjadi tulang keras tepat sebelum dia mengalami orgasme. Dia menyelipkan jari telunjuk ajaibnya di atas clitku dan aku nyaris menjerit karena sensasi nikmatnya, dia menggigit bibirku untuk menjaga agar aku tidak berteriak. Kai membungkam mulutku dengan mulutnya untuk menjaga agar kami berdua tidak berteriak. Dia berhasil membuat aku klimaks lagi untuk kedua kalinya. Aku diselimuti kenikmatan dan kebahagiaan tiada tara. Tapi kenikmatan itu semakin berlipat ganda saat dia mengisiku dengan ledakan orgasmenya sendiri.
Tatapan tajam pria itu terkunci kemataku. Kai memindahkan kakiku dari bahunya dan mendekatkan wajahnya, mengelus bibirku dengan jari-jemarinya.
"Kau milikku, Sehun sayang." dia berbisik dalam.
"Aku tahu," aku berbisik kembali kepadanya.
Dia mencium leherku dan menggigit daun telingaku. "Bisakah kita bicara tentang komitmen?" bisiknya.
Alisku terangkat sedikit, "Komitmen?"
"Bagaimana jika kau menerima seorang 'bodyguard' seumur hidup?" Jari-jarinya sekarang menelusuri puncak payudaraku. "Tidak ada lagi jalan-jalan ke stasiun sendirian dan menghentikan taksi dalam gelap. Karena setelah kita bersama, kau akan memiliki 'supir pribadi' untuk membawamu kemana pun yang kau inginkan."
Aku tersenyum penuh arti. "Sayangnya aku juga butuh pria yang selalu ada untukku dan buah hatiku selama dua puluh empat jam. Tidak hanya sekedar jadi sopir dan bodyguard pribadi."
Senyum Kai lebih lebar, "Deal. Jadi kau menerima lamaranku?"
Aku pura-pura cemberut. "Ini lamaran? Mengapa tak ada cincin?"
"Emm… ketinggalan… di toko. Besok kubeli. Atau sekarang juga boleh kalau kau sebegitu terobsesinya pada cincin."
"Tentu saja aku terobsesi," jawabku tegas sambil memutar bola mata. "Itulah inti dari lamaran. Kau tidak pernah nonton sinetron, apa?"
Dia tertawa. "Oke, oke, baiklah, Tuan putri korban sinetron. Kita ke toko perhiasan sekarang. Asal…"
Dahiku berkerut bingung. "Asal?"
Kai menyeringai lebar sambil mengerling jahil. "Pilih cincin yang paling murah ya?"
Ckckck. Masih sempat-sempatnya perhitungan disaat begini!
Aku menggeplak dadanya gemas. "KAI!"
Cowok itu tertawa kecil lalu menciumi leherku dan meninggalkan satu bitemark lagi, kemudian dia kembali mengekplorasi bibirku. Menciumiku dengan lembut sebelum akhirnya berguling ke sisi lain, berbaring di samping tubuhku yang masih menegang.
"Maaf soal vas bunga, otakku selalu bergerak di luar kendali jika melihat para pengemis di jalan."
Aku memeluk tubuh Kai sambil merebahkan kepalaku di dadanya. "Tapi kau juga selalu bergerak di luar kendali bila bersamaku."
"Berarti kau mirip pengemis."
Kupukul perutnya keras-keras. "KAI!"
Dia meringis kesakitan sambil batuk-batuk minta ampun. Rasakan itu! Masa cantik-cantik begini dibilang mirip pengemis?
"Lupakan vas bunganya, kau benar, aku yang harusnya lebih berhemat. Kapan-kapan aku bisa membeli vas bunga lain, kalau memang benar-benar butuh," ujarku ringan.
Kai mengelus-elus rambut basahku. "Hei, sudah kubilang kita masih bisa berhemat tanpa harus kehabisan akal, kalau perlu, membeli barang itu kita jadikan alternatif terakhir. Hanya kalau lagi kepepet saja. Kau 'kan wanita kreatif, bekerja di WO, diterima di arsitek yang notabene tempatnya orang-orang dengan tingkat kreatifitas tinggi. Kurasa soal kemampuan kau tak perlu dipertanyakan lagi."
Aku mengangguk-angguk narsis. "Betul, betul banget. Syukurlah kau sadar."
"Masih ingat buku Happy lifestyle for Mom yang pernah kutunjukkan dulu?"
Aku menelan ludah. Sudah ketebak kemana arah pembicaraan ini. "Ya, aku ingat."
"Kalau tidak salah di halaman berapa itu aku lihat ada pembuatan vas bunga dari botol air mineral dan kaleng susu, coba kau perhatian. Hasilnya lumayan bagus. Malah si penulis buku itu sekarang penghasilannya banyak cuma dari pekerjaan sampingan berjualan barang-barang recycle."
Kupandangi Kai dengan muka heran, "Memang kau kenal penulisnya?"
"Tidak sih," ucapnya jujur. "Tidak perlu kenal penulisnya. Cukup baca di biografi singkat penulis."
"Bisa saja biografi berbohong," cibirku skeptis.
"Biografi tak pernah berbohong, sayang. Logikanya saja begini, kau ingin orang membaca tulisanmu, mengagumi karyamu dan mengikuti gaya hidupmu. Nah, bagaimana kau berharap para pembaca akan mengikuti niat baik yang kau tulis kalau dari awal saja kau sudah tidak jujur pada khalayak umum?"
Astaga. Kai benar-benar orang suci. Salah besar aku bilang begitu tadi. Sekarang aku terdiam tak berdaya dan hanya menggumamkan sesuatu seperti: "Baiklah, akan kuusahakan." Padahal aku tidak seratus persen yakin bisa berubah sedrastis itu.
"Kalau tidak sibuk," tambahku. "Lagipula aku tak ada niat untuk berjualan barang-barang recycle."
Jari-jari Kai menelusuri wajahku seperti kaki laba-laba raksasa. Rasanya geli-geli enak. "Yang menyuruhmu jualan siapa? Aku 'kan cuma bilang, di halaman berapa itu ada cara pembuatan vas bunga. Coba saja praktek bikin satu dulu. Kelihatannya cukup seru. Nanti kubantu."
Aku tersenyum lebar kearahnya, "Kau mau membantu?"
"Ya. Why not?"
Aku mengendikkan bahu tanda no problem, "Okey. Malah lebih bagus kalau ada yang bantu."
Kai mengusap-usap lenganku lembut, "Pelan-pelan saja. Aku tahu pasti sulit bagimu untuk memulai hal yang berbeda. Berhemat itu bukan sesuatu yang buruk, malah banyak keuntungannya," tukas Kai seperti mengajari anak TK untuk rajin menabung. "Aku tahu itu gajimu dan aku tidak berhak melarang. Tapi untuk mendapatkan gaji tiga juta perbulan itu 'kan perjuangan yang panjang dan penuh titik darah penghabisan."
Aku terkikik sambil memukul perutnya, "Lebay!"
"Lho? Memang iya. Penuh titik darah penghabisan. Coba kita flashback lagi, berapa orang yang harus kau eliminasi demi mendapatkan posisi PM di kantormu? Pasti banyak."
"Banyak sekali. Salah satunya asisten kepercayaanku sendiri."
"Nah, itu. Tidak mudah kan? Dunia kerja itu keras dan penuh tantangan. Gaji dan jabatan tertinggi adalah piala dari keberhasilan yang kau raih. Aku tidak mau kau menyesal di hari tua gara-gara gigimu keropos dan kau tidak sanggup beli gigi palsu baru."
Lagi-lagi kupukul perutnya sambil mendengus geli. "Kai! Yang serius dong!"
Dia tertawa kecil. "Bercanda sayang. Itu cuma contoh. Intinya belum terlambat untuk berubah pelan-pelan. Mulai dari hal yang kecil-kecil dulu. Kau mau berubah kan?" dia menatapku serius. "Apa mau boros terus sampai tua?"
Boros sampai tua? Kedengarannya menakutkan.
Aku menggeleng ragu, "Tidak. Aku tidak mau."
Kai menghembuskan napas keras, aku bisa merasakan perutnya ikut bergerak naik turun waktu dia melakukannya. "Baiklah…" dia bangkit dari posisi rebah lalu menarikku sampai terduduk. Sambil menatapku lekat-lekat, Kai menggenggam kedua tanganku. "Dengar. Aku peduli padamu, Sehun. Sangat peduli. Aku tidak mau kelalaianmu di masa muda akan berdampak buruk di masa tua nanti."
Aku menunduk memandangi pasir, merasa gugup bukan main dibawah tatapan intensnya. "Terus?"
Kai mengeratkan genggaman tangannya. "Jadilah istriku, supaya aku bisa terus mendampingimu dan memastikan kau tidak akan lalai lagi."
Ini lamaran teraneh kedua setelah yang diatas ayunan waktu itu. Kami sama-sama telanjang, basah kuyup, duduk di tepi pantai dan tak ada seekor makhluk pun disini.
Dengan segenap keberanian yang kumiliki, aku menatap balik sorot mata dihadapanku. "But, the real question is, what if I can't change, forever… would you still love me the same?"
"You should change," jawabnya yakin.
"What if I'm not?" tantangku.
Kai menghela napas lagi, kemudian sorot matanya menjadi lebih tajam dan yakin dari sebelumnya. "Well... I still love you then."
Barangkali warna pipiku sekarang sudah berubah jadi ungu terong saking deg-degan dan bahagianya. Persetan perjanjian. Aku mencintai pria ini dan bagaimana mungkin aku tega menolaknya dua kali?
"Tapi…"
"Tapi?" ulang Kai.
"Aku tidak mau bayi kita nanti pakai baju karung terigu dan tidur di keranjang buah."
Tawa Kai meledak lagi, kali ini dia terbatuk-batuk norak sambil memegangi perut. Ada apa sih? Memang itu niatnya, kan? Melihat buah hati kami keluyuran di depan rumah tetangga pakai baju karung terigu yang memalukan? Pokoknya aku tidak sudi. Tak akan kubiarkan! Masa kecil tidak datang dua kali dan aku tidak mau anakku mengalami sindrom 'Masa kecil kurang bahagia' lalu dihantui mimpi buruk seumur hidup gara-gara dipakaikan baju-baju tidak layak.
"Oke, oke." Kai mengangkat kedua tangannya ke udara. "I'm done. Only mom know the best…" kata-katanya terputus dering ponsel yang berbunyi nun jauh disana. Di dalam kantong celananya. "Tunggu sebentar." Dia berjalan menghampiri celananya lalu mengeluarkan ponsel. "Halo. Oh, hai."
Kayaknya itu telpon dari Seungri. Karena Kai langsung sumringah dan senyum-senyum sendiri. Mungkin membicarakan masalah kontraknya yang beres atau apa.
"Bagus sekali! Ya, ya, tentu. Tentu saja kami bisa datang. Barangkali agak terlambat beberapa menit karena aku dan Sehun harus ke suatu tempat dulu. Oke. Thanks, buddy. See ya."
Begitu Kai selesai menelpon, aku berdiri dan langsung mengenakan kembali celana thong putihku. "Dari siapa?"
"Seungri."
Kubilang juga apa. "Oh, jadi, apa itu kabar baik?"
"Kami baru mendapat kepastian dari kantor pusat tempat Seungri bekerja," Hidung Kai berkedut-kedut, seperti yang selalu terjadi bila dia sedang sangat gembira tapi ingin terlihat cuek. "Aku menandatangani perjanjian kontrak kerjasama dengan Napoleon Oil Company yang menjadi sponsorku, mereka bilang bersedia mengabulkan impianku untuk buka kantor konsultan di Korea plus kantor cabang yang tersebar di beberapa Negara seperti London, New York, Sydney, Paris, Tokyo dan Hongkong."
Baru sekarang aku tahu kalau dia akan buka kantor di tujuh Negara! Tiba-tiba aku teringat ucapan Nyonya Kim soal kesuksesan putranya. Apa gara-gara itu Kai sekarang jadi sangat berambisi? Bekerja tanpa kenal lelah. Agar dia bisa diakui Ibunya?
"Hebat. Sungguh luar biasa. Aku ikut senang." pujiku kagum. "Bagaimana dengan jabatanmu di Meksiko?" tanyaku hati-hati.
Dia tersenyum simpul, "Aku bisa mundur kapan saja. Toh sebentar lagi aku akan punya perusahaan konsultan sendiri."
Aku memeluknya penuh rasa haru bercampur bangga. "Berarti semuanya beres?"
"Semua lebih dari sekedar beres. Kekayaan kita akan berlipat ganda."
"Wow," kucerna perkataannya sesaat. "Apakah kita akan menjadi triliuner?"
Kai mengangguk-angguk, "Bisa jadi."
Wah, keren sekali! Sejak dulu aku memang ingin menjadi triliuner. Kami bisa membangun gedung di tengah-tengah kota Seoul dan menamainya Kim Tower! Dan Kai bisa membuat acara reality show di Korea yang mirip-mirip The Apprentice tapi khusus untuk fresh graduated yang memiliki niat menjadi pengusaha atau memiliki usaha sendiri.
"Bisakah kita membeli pulau?" Chanyeol eonni punya pulau sendiri di Skotlandia dan terus-terang itu membuatku sedikit minder padanya.
Kai melepaskan pelukan kami, "Mungkin. Kita bisa menampung para homeless dan pengangguran disana lalu memberi mereka lapangan pekerjaan dengan membuka taman hiburan atau semacamnya."
Agak jauh dari ekspetasiku, tadinya aku ingin buka casino atau resort mewah. Tapi taman hiburan bukan ide yang buruk.
Aku baru mau berkata mungkin kami juga butuh jet pribadi supaya tidak repot-repot beli tiket pesawat, waktu mendadak Kai berlari mengejar bra bikini-ku yang nyaris hilang tersapu ombak.
"Pakai cepat," dia melempar bra-ku dan dengan sigap kutangkap. "Kita pulang ke penginapan sebentar lalu bersiap-siap. Seungri mengundang kita makan malam bersama."
.
.
.
.
Kalau ingat apa yang kami lakukan tadi, aku jadi merinding. Baru sadar kami bermain tanpa mengenakan 'sabuk pengaman'. Astaga. Apa itu artinya sebentar lagi perutku akan berisi makhluk kecil tukang menendang-nendang?
Pikiran mendung berawanku langsung berganti ke mode cerah bersinar saat kupandangi cincin perak yang melingkari jari manisku. Mulai detik ini aku sudah jadi tunangan orang. Aku bukan Park Sehun wanita tua kesepian lagi. Dalam hitungan hari aku adalah Kim Sehun istri triliuner terkaya nomor dua dibawah nama Kris Wu. Bukankah itu fantastis?
Aku tidak gentar lagi. Aku tidak takut menghadapi dunia maupun bedebah dari masa lalu bernama Seungri dan istrinya yang ternyata mantan kekasih tunanganku.
"Selamat malam dan selamat datang di acara kami," Seungri menyambut dengan seringai lebar ala kuda kerajaan begitu kami turun dari kereta keledai. Jujur saja agak tidak matching pakai gaun pesta bagus-bagus turunnya dari kereta keledai. Harusnya kami datang naik kereta labu Cinderella. Ya masa bodohlah, aku harus terbiasa dengan segala kesederhanaan ini.
Aku memandang berkeliling dan cukup terpukau oleh desain interior restorannya yang lebih menonjolkan tema rustic digabung dengan ocean dan tropical garden. Rada nyeleneh tetapi menjadi ciri khas tersendiri. Di tengah ruangan ada panggung untuk perform yang dihiasi bunga-bunga bak taman firdaus dan aku bisa melihat aliran air turun berkelok-kelok mengikuti pahatan di pilar-pilar emasnya. Pencahayaan dan keseluruhan tata letak dekorasinya benar-benar pas. Tidak kurang dan tidak berlebihan. Ini bisa jadi bahan referensiku untuk merancang pesta pernikahan.
Seungri menggiring kami ke meja di dekat aquarium persegi panjang raksasa dengan ikan pari paling besar yang pernah kulihat sedang berenang mondar-mandir di dalamnya.
Pelayan wanita berseragam floral datang membawakan buku menu. Kami membuka halaman-halaman menu diiringi alunan musik reggae berbahasa spanyol. Aku tidak tahu jelas dia pakai bahasa apa, hanya menebak-nebak. Tapi Mr. Noue bilang penduduk di sekitar sini banyak yang menggunakan bahasa spanyol.
Sambil melihat-lihat menu, aku melihat Seungri dan Taemin asik berdebat sendiri tentang Verite Cabernet yang tadinya kukira nama presiden di planet Pluto.
"Bukankah Cabernet terlalu berasa anggur?" aku mendengar Taemin bertanya ke pelayan. "Maksudku, aku suka anggur tapi tidak terlalu berlebihan."
Oh, abaikan saja mereka.
Ngomong-ngomong, aku tertarik dengan Apple and Fennel Slaw. "Maaf, yang ini apa ya?"
Pelayan melongokkan kepala ke buku menuku. "Itu minuman yang terbuat dari apple cider, lemon juice dan diblender bersama bawang, red peppers, tabasco dan mustard."
Ya tuhan, lemon juice dicampur bawang? Seperti apa rasanya?!
Tadinya aku ingin pesan Roasted Asparagus with Fresh Herb Gremolata. Berhubung aku tidak tahu apa itu Gremolata, aku tidak jadi memesan yang itu. Jangan sampai jadinya makanan aneh juga.
Pesan yang paling aman saja, "Aku mau sup kepiting ini."
Pelayan mencatat pesananku. "Minumnya?"
"Lemon juice saja ya, jangan ditaburi bawang, please?" aku nyengir.
Pelayan itu mencatat pesananku sambil senyam-senyum menahan geli, mungkin dia ingin menertawaiku tapi takut dipecat bosnya.
"Saya juga sup kepiting sama Lancaster lemonade." tukas Kai sambil menutup buku menu.
"Sudahlah. Beri kami minuman yang paling mahal," ujar Seungri mengakhiri perdebatan. "Terserah. Apapun."
"Baik, Tuan." Begitu selesai mencatat pesanan, pelayan berbaju bunga-bunga itu langsung pamit dari meja kami.
Taemin mencondongkan badan sambil menumpukan dagunya di tangan kanan. "Lihatlah, Sehun. Aku dan Seungri adalah pasangan yang berbahagia. Maksudku…"
Aku tak terlalu menyimak ocehan Taemin selanjutnya karena satu pesan masuk di ponselku yang ternyata dikirim oleh Kai. Aku melirik pria itu diam-diam. Konyol sekali. Dia hanya berjarak lima senti dariku, kenapa kirim sms segala?
Begitu kubuka isinya, barulah aku paham.
Anggap saja lagu nina bobo.
Jangan dimasukkan dalam hati.
Aku terkikik sambil buru-buru mengetik balasan.
Hei, kayaknya aku mulai ngantuk.
Suara Taemin lebih ampuh dari lagu nina bobo.
Kai balas terkikik dan kami tampak seperti pasangan remaja labil yang pacaran lewat sms di tengah-tengah teori membosankan tentang bagaimana kera berevolusi.
Seungri berdehem dan baik aku maupun Kai, kami sama-sama terloncat dari kursi. Pasang ekspresi salah tingkah, persis ketika gurumu memergoki kalian nonton film porno bareng di tengah-tengah penjelasan.
"Jadi, aku ingin tahu kalian berdua bertemu dimana?" tanya Seungri menatap mata kami bergantian. "Apa ada yang mengenalkan?"
Aku berpikir keras. Kalau kubilang kami bertemu di pesta ulang tahun kecil-kecilan gara-gara kakak iparku yang norak mempromosikan aku sebanyak ribuan kali di depan Kai, maka aku akan terdengar sangat menyedihkan dan payah sekali. Meskipun iya tapi sebaiknya jangan ditunjukkan. Seungri tidak perlu tahu yang sebenarnya.
"Kita—"
"Kita bertemu di sebuah konser musik," sambarku cepat sebelum mulut jujur Kai membongkar imej 'Perempuan tua menyedihkan'-ku.
"Oh…" Kai menatapku clueless selama dua detik dan syukurlah dia cepat tanggap. "Oh iya, konser musiknya Sting."
Holly cow! Apa dia tidak bisa mengarang nama band yang lebih umum dan lebih keren? Siapa pula itu Sting?
"Ya, aku ingat, itu adalah konser buat kepetingan hutan lindung," tambah Kai sambil melempar senyum manis penuh konspirasi kearahku.
Aku bisa apalagi selain membalas senyumnya? Dasar Kai payah!
Seungri dan Taemin sepertinya tidak mengerti apa hebatnya konser hutan lindung. Karena mereka cuma memandangi kami penuh selidik. Masih belum yakin rupanya.
"Kai, bukankah kau mau menunjukkan foto-foto pernikahan kalian? Apa kalian membawanya?"
Seungri tersenyum lebar. "Ide bagus. Sekalian mengisi waktu kita bisa melihat-lihat foto bersama."
Aku dan Kai saling berpandangan.
Kami tak punya album foto pernikahan! Jangankan foto pernikahan, foto-foto berdua-pun belum pernah!
"Eh… kayaknya ketinggalan deh. Iya kan, sayang?" aku menyikut Kai.
"Betul. Kami tidak bawa, tidak terpikir sih." jawab Kai tersenyum garing.
Taemin berdecak sambil geleng-geleng kepala, "Sayang sekali. Padahal kami waktu bulan madu bawa-bawa album foto pernikahan segala, lho. Malah sempat disita petugas bandara karena melebihi muatan." Dia tertawa keras. Aku ikut tertawa walaupun tidak mengerti dimana lucunya.
"Kalau begitu pasti tersimpan di salah satu ponsel milik kalian. Ayolah, jangan bilang kalian tidak memotret pernikahan kalian sendiri?" Seungri seperti kucing hitam yang menyudutkan dua tikus kecil tak berdaya, mengukur seberapa lemah mangsa-mangsa di depannya.
Dia mengetahui sesuatu.
Segera setelah pikiran itu timbul, aku merasa tolol sekali. Menyesal karena tidak menduga lebih awal. Pria ini terlihat lebih lihai dari penampilannya. Aku terlalu menganggap dia remeh. Seharusnya aku tidak berbohong dengan mengatakan kami sudah menikah. Astaga. Ini bisa jadi senjata makan tuan. Semoga dia belum melacak Kai sampai ke akar-akarnya.
"Tunggu dulu, mungkin masih tersimpan…" aku pura-pura mencari foto pernikahan kami di antara ratusan foto dalam galeri. "Kalau tidak salah, rasanya ada di folder ini. Honey, apa kau belum menghapus foto-foto kita?"
Taemin terbelalak shock. "Kau menghapus foto pernikahanmu sendiri?"
Kai dan aku kompak menggeleng patah-patah.
"Ti-tidak, bukan, maksudku, biasanya, ini… ponselku sudah mulai error. Maklum, terjangkit virus, belum sempat diperbaiki. Dan foto apapun yang usianya lebih dari satu minggu akan terhapus sendiri secara otomatis. Buzz! Hilang tak berbekas," jawabku berhasil mengarang satu kebohongan diatas kebohongan lain.
"Ooh." Taemin menatap kami dengan alis berkerut-kerut. Kayaknya 'kucing' yang ini lebih mudah dikelabui daripada 'kucing' satunya.
"Ya, ponsel Sehun sudah bermasalah," dukung Kai. "Foto-foto kami semuanya ada di dalam situ dan barangkali sudah dimakan virus sekarang. Iya kan, sayang?" dia menoleh lagi.
"Betul. Ponsel Kai juga rusak kameranya karena tercelup di kloset waktu dia mendengarkan musik Pepper hot chili."
"Red hot chili peppers." ralat Kai.
"Oh iya, Red hot chili peppers." timpalku buru-buru. "Semenjak tercelup itu hasilnya selalu agak buram kalau dipakai memotret."
Taemin mengangguk-angguk prihatin dan Seungri memasang senyum yang maknanya sulit kutangkap.
Aku tidak boleh lengah padanya.
.
.
.
.
"Hai, mantan pacar."
Aku memekik kaget melihat wajah memuakkan Seungri dan tubuh besarnya menghalangi seluruh akses jalan keluar dari pintu toilet.
"Mau apa kau disini?! Ini kan area toilet wanita!" bentakku sekeras mungkin, berharap ada satpam atau pelayan yang mendengar suaraku dan menyeret orang ini ke penjara. Dia pasti berniat buruk. Aku terjebak.
"Santai, oke? Aku cuma ingin ngobrol-ngobrol. Ada apa sih denganmu? Dari pertama bertemu kau sudah bersikap tidak ramah, masih terbawa dendam masa lalu, hm?"
"Oh, jangan khawatir, tuan. Itu sudah lama sekali. Aku bukan wanita pendendam. Permisi." Aku mengambil jalur ke kiri, Seungri lebih sigap bergeser menghalangiku. Aku pindah ke kanan, dia juga mengikuti gerakanku. MOTHERSILLY! Apa maunya orang ini?!
"Bisakah anda bergeser? Wangi parfum anda membuat hidung saya pendarahan."
Seungri tertawa keras sambil berpaling ke sisi lain. Yes! Dia sudah lengah. Ini kesempatanku untuk kabur!
Tepat disaat aku ambil berusaha mengambil celah untuk berlari melewati ketiak kirinya, Seungri berhenti tertawa dan menahan langkahku lagi. "Mau kemana, hm? Ngobrol-ngobrolnya kan belum selesai. Berhentilah memperlakukanku seperti sampah, Hun. Kau telah melukai harga diriku dengan sikap kerasmu ini."
"Kau memang sampah, Lee Seungri. Enyahlah. Aku tidak ingin cari gara-gara denganmu," desisku tajam diantara rahang terkatup.
Dia tidak pergi. Harusnya aku tahu percuma saja berbicara pada psikopat.
Dengan ekpresi yang semakin mesum dan menjijikan, pria nekat itu beringsut maju hingga aku terpaksa menempelkan punggungku rapat-rapat ke pintu toilet, tanganku refleks menahan tubuhnya yang terus bergerak mendekat, memojokkanku. Mengurungku dalam tubuh besar dan wangi parfum selusinnya.
"Sudah cukup penghinaannya, kenapa sih kau belum move on juga dari masa lalu?" Seungri kelihatan tersinggung. "Aku cuma mau minta maaf. Itu saja."
"Tidak segampang itu dan aku tidak akan pernah memaafkanmu!"
Wajah Seungri hanya beberapa inci dari pipiku. Kalau aku nekat memutar wajah dan menatap matanya, bibir kami pasti akan saling menempel. Yekks! Hal pertama yang kuinginkan di dunia ini adalah melihat Seungri bunuh diri, bukan malah menciumnya.
"Oh ya? Kau tidak mau memaafkanku?"
Aku mengatupkan rahang rapat-rapat, menahan emosi yang membludak. "Bukan begini cara minta maaf, sialan."
Pria sinting ini malah memajukan hidungnya untuk mengendusku. "Aromamu masih sama, sayang. Stroberi. Aku menyukainya. Kenapa kau tidak memanggilku oppa lagi? Dulu kau selalu memanggilku oppa, melompat ke pelukanku, lalu menciumku. Kita tidur bersama… apa kau masih ingat semua itu?" suara tajam Seungri berusaha menginvasi pikiranku. Seolah belum puas melihatku ketakutan dan menderita, tangan kurang ajarnya bergerak naik mengelus pipiku lalu turun ke leher.
Aku jadi korban pelecehan! Kemana semua orang? Ya Tuhan. Aku tidak ingin mimpi buruk ini terulang lagi.
"Pergi, pergi, pergi. Jangan ganggu kehidupanku. Aku sudah istri orang. Kau juga sebentar lagi akan punya anak dari Taemin. Kenapa kau tidak bisa menerima kenyataan itu, pecundang?" gumamku masih tidak berani menatap matanya. Aku menyadari suaraku agak bergetar dan aku mati-matian menahan diri untuk tidak menangis.
Seungri terkekeh sinis. "Wow, makin tua makin berlagak ya. Bagus, bagus." dia bersiul panjang. "Aku suka wanita-wanita dengan harga diri tinggi sepertimu. Malah semakin bikin penasaran."
Serigala biadab! Sampai kiamat tidak akan kumaafkan!
"Tubuhmu juga semakin seksi. Dan payudara ini…" tangannya merangkak turun lebih rendah. "Aku ingat pernah merasakan kelembutannya. Mencengkramnya dengan kedua telapak tanganku… apa kau tidak kangen padaku, hm? Kalian tidak pernah menikah kan? Kau tak bisa membohongiku, sayang. Aku sudah tahu trik basimu."
.
.
.
.
Taemin melotot tak percaya. Seluruh dunia seperti berputar dan seisi langit jatuh menimpa kepalanya. Tidak. Tidak ada yang salah dengan penglihatannya. Disana. Tepat disana. Dia melihat Seungri, pria yang baru-baru dia nikahi sedang berciuman dengan wanita lain. Istri Kai! Taemin tidak terlalu mendengar dan melihat apa yang 'kedua sejoli' itu lakukan. Tapi dari jarak sedekat itu dan posisi tubuh se-vulgar itu, apa ada kemungkinan lain?
Tidak ada. Sudah pasti mereka berbuat tak senonoh. Berciuman? Pegang-pegangan? Apa lagi?!
Perempuan tak tahu diri! Masuk dalam kehidupan rumah tangganya dan berusaha mencuri suami orang?! Jangan dikira dirinya bakal diam saja. Menusuk dari belakang setelah semua keramahan dan sikap percaya yang dia tunjukkan?! Pengkhianat. Ini perang namanya! Dia tak akan membiarkan seorang gadis kecil menggagalkannya pernikahan keduanya. Wanita itu harus diberi pelajaran.
Taemin berjalan kembali ke mejanya dengan perasaan murka dan cemburu luar biasa. Dan secepat kilat mengganti wajah murungnya dengan senyuman manis begitu dia melihat punggung Kai. Pria itu tampak asik makan sup kepiting tanpa menyadari medan di sekelilingnya sudah berubah.
"Hei… maaf menunggu lama. Mau menemaniku berdansa sebentar?"
.
.
.
.
Bedebah sialan ini tidak bisa dibiarkan.
"PERGILAH KE NERAKA!" kutendang selangkangannya kuat-kuat dengan nafsu angkara murka seluruh alam semesta.
Begitu Seungri ambruk di lantai sambil merintih seperti banci tak berdaya, aku buru-buru kabur ke ruangan utama. Biarkan saja psikopat bejat seperti itu. Kusumpahi dia impoten seumur hidup!
Waktu memasuki ruang utama, aku menyadari para tamu yang tadinya duduk di meja masing-masing kini telah berdiri berkelompok. Mengobrol dan mengambil makanan dari meja prasmanan, beberapa bahkan berdansa mengikuti irama waltz zaman dulu. Aku memandang berkeliling, berusaha mencari Kai atau Taemin diantara kerumunan orang yang berdansa. Tapi seluruh ruangan dipenuhi wanita bergaun indah dan lelaki-lelaki berjas resmi yang tampak mirip dilihat dari belakang.
Kemudian aku melihat mereka. Berdansa bersama.
Tak kusangka Kai bisa berdansa waltz sebaik Fred Astaire. Dengan ahli, diputarnya Taemin di lantai dansa. Rok wanita itu berputar-putar anggun, kepalanya terlontar ke belakang, senyumnya mereka ceria dan penuh cinta. Gerakan mereka seirama alunan musik. Pasangan paling gemerlap di ruangan ini.
Lalu aku melihat itu dengan mata kepalaku sendiri. Momen paling indah yang terasa seperti mimpi buruk di mataku.
Mereka berciuman.
Tepat di bibir.
Aku terpaku di tempat memandangi mereka. Semua perasaan campur aduk ini bergemuruh dan menghujamkan rasa sakit, seakan merobek dadaku menjadi serpihan-serpihan kecil.
"Anda baik-baik saja?" tanya pelayan menghampiriku, tapi suaranya seperti berasal dari tempat yang berkilo-kilometer jauhnya. Seumur-umur tak pernah sekalipun aku berdansa waltz seintim itu dengan Kai.
Sekarang semuanya sudah terlambat…
"Dia pingsan!" aku merasakan tangan-tangan meraihku saat kakiku terkulai lemas. Lenganku membentur sesuatu dan telingaku berdenging-denging, kemudian aku mendengar seorang wanita berteriak di dekatku tapi wajahnya samar-samar, "Panggilkan petugas medis! Ada yang pingsan disini!"
Di detik berikutnya, wajah-wajah samar itu berubah gelap gulita.
.
.
.
—TBC—
A/N: Maaf kalau mengecewakan (-.-) saya malah ngerjain yang ini lagi. Habisnya ide untuk nulis yang ini lagi lancar2nya berseliweran di kepala, jadinya merasa bersalah kalau ditinggalin lama2, takutnya kayak ff yang lain, kelamaan ditinggal akhirnya saya sendiri lupa gimana cara ngelanjutinnya. (T_T) tapi bakal tetep saya lanjut :D, Cuma yang ini lagi jadi prioritas karena pengen cepet2 saya habisin. Biar gak kelamaan nanggung lagi. Yang bedeviled baru saya ketik 2k (;-.-). Gak mungkin saya upload.
Oh iya, di chap kemarin banyak yang salah paham dengan kalimat "di pagi hari itu" dan ngirain seungri bobo-boboan sama Sehun. hehehe. Bukan kok tenang aja. Terus jangan sampai ada yang gagal paham lagi, saya mau jelasin aja, jadi Taemin itu ngeliat seungri sama sehun posisinya agak jauh, sembunyi dibelakang tembok kek vas bunga kek terserah, yang penting dia cuma bisa ngeliat punggung seungri doang yang mepet badannya sehun ke pintu, gak kedengaran apa yang mereka obrolin karena ceritanya seungri-sehun ini melakukan 'bisik-bisik mesra'. Terus Taemin ngira mereka ehem-eheman :D.
Udah gitu aja. Hope you like it guys^^. And RnR yaa?
