We are MARRIED or NOT?

Main Cast: GS!Sehun, Kai

Support Cast: Seungri, GS!Taemin, GS!Baekhyun, GS!Jinyoung, oc, dll

Rating: M

Warning: Mature content in some parts

Genre : Romance, AU, OOC, yadong, genderswitch for uke, comedy, family, friendship, dll

Length: Chaptered

Bahasa: Indonesia campur aduk

Summary Lengkap: Park Sehun, bungsu dari tiga bersaudara. Bekerja sebagai WO memberinya banyak keuntungan, lingkar pertemanan dengan orang-orang sukses, para klien papan atas dan bisnis barternya laris manis. Jika kita gambarkan, rute hidup Sehun adalah kantor-belanja-nongkrong-kantor-belanja-nongkrong-dan-belanja lagi. Si maniak belanja yang tak pernah bisa tahan godaan kalau lihat kata 'DISKON' terpampang besar-besar di depan matanya. Seluruh hidupnya dia habiskan untuk memikirkan obral tas dan sepatu hingga dia tak sempat cari cowok. Sangat boros juga yaaah… bisa dibilang, matrealistis. Namun rute hidup Sehun berubah ketika di ultah yang ke-28, seorang Pria tak diundang bernama Kim Kai tiba-tiba datang ke acaranya dan memberi dia buku 'Manfaat Kerang Bagi Kehidupan'. WTF?!

Sehun yang tadinya ogah menikah malah tergila-gila dan bersedia membuka paha lebar-lebar demi Tuan Kim Kai Yang Terhormat. Demi memuaskan sisi liar terpendam pria itu. Biarpun mereka baru kenal beberapa hari, biarpun Kai pelit dan terlalu hemat. Tapi bukan Sehun namanya kalau tidak silau sama sesuatu yang serba wow. Paket liburan ke Laut Karibia? Seminggu? Bersama suami? Oh, No…

Sehun tidak punya suami! Dia juga sudah terlanjur menolak lamaran aneh Kai. Terus sekarang dia harus bagaimana?! Apa Kai masih berminat melamarnya? Apa Sehun berhasil mendapatkan paket liburan fantastisnya? Well, semoga.


Chapter 7

Aku berharap menemukan wajah Kai pertama kali ketika membuka mata. Tapi wajah pertama yang muncul di hadapanku malah Taemin. Aku menoleh kesana-kemari. Kukira monster-serigala-kadal-buaya-darat itu juga ada disini mendampingi Taemin untuk bersatu membunuhku, ternyata perempuan itu cuma sendirian. Aku juga tak menemukan Kai dimanapun.

"Sehun." tukas Taemin setelah puas melihat raut muka kebingunganku. "Boleh kita bicara sebentar? Dari wanita ke wanita."

"Dari wanita ke wanita?" tiruku gugup.

"Ya, bicara. Berdua saja. Bicara empat mata. Kalau kau tidak keberatan?" dia tersenyum dengan nada yang dipaksa ramah. Aku tahu ada sesuatu yang tidak beres. Aku bisa membaca gerak-geriknya, kening Taemin berkerut-kerut dan dia mengetuk-ngetukkan jarinya ke tangkai gelas. Terlihat seperti ibu kepala sekolah yang hendak menegurku karena telah memakai rok mini dan menyemprotnya dengan warna pelangi.

"Boleh," jawabku memaksakan diri membalas senyumnya. Berusaha tetap tenang. Aku memang tenang di luar, tapi terbakar di dalam. "Ngomong-ngomong, gimana pesta dansanya semalam?"

Dia berdehem. "Begini ya, Sehun…" Taemin menenggak habis isi gelasnya. "Tidak usah sok basa-basi norak deh!"

Kutatap dia dengan pandangan shock. Apa perempuan ini baru saja mengataiku "norak"?

"Tadinya aku hanya berusaha menjaga perasaanmu sebagai pasangan baru." Kerutan di dahi Taemin semakin dalam. "Aku ingin bersikap… entahlah. Sedamai mungkin. Tapi kalau begini tindakan yang kau pilih…"

Oke. Aku tidak mengerti sama sekali. Dia ini bicara apa sih?

"Apa maksudmu?" tanyaku parau.

Ia memasang wajah prihatin, ekspresinya penuh rasa simpatik. "Kai benar-benar pria yang baik. Dia tidak tega menyakitimu. Saking tidak teganya, dia sampai berkeluh kesah padaku. Padahal yang istrinya 'kan kau. Aneh, bukan?"

Kubalas tatapannya dengan pandangan paling menusuk yang kumiliki. "To the point saja. Tidak usah basa-basi norak."

Taemin mendengus sinis, lalu mencondongkan badan lebih dekat. Wangi Allure yang memualkan menerpa hidungku. "Semalam Kai sudah menceritakan semuanya. Dia bilang… dia telah melakukan kesalahan."

Aku mengernyit, "Kesalahan?"

"Ya. Kesalahan terbesar dalam hidupnya. Dia menikahi orang yang salah. Tapi tenang saja, Sehun, itu bukan sepenuhnya salahmu kok. Setiap pria di dunia ini pasti pernah gagal dan membuat pilihan yang salah."

Sesuatu mulai menikam dadaku.

"Kai tidak menikahi orang yang salah!" balasku kasar. "Dia menikahi orang yang tepat. Dia sangat mencintaiku, oke? Dia mencintaku. Jadi berhentilah berkhayal yang bukan-bukan." tandasku penuh penekanan.

Taemin tak menggubris jawaban sinisku, malah melontarkan pertanyaan lain. "Kalian bertemu tepat setelah dia putus dariku, kan?" Sejurus kemudian dia mengangguk-angguk, padahal aku belum bilang apa-apa. "Dia menceritakan semuanya. Kai sendiri yang bilang padaku bahwa kau adalah selingan yang menyegarkan, Sehun. Kau membuat dia tertawa. Tapi kalian sebenarnya tidak seimbang. Kau tidak benar-benar memahami dia yang sebenarnya."

"Itu tidak benar!" leherku tercekat. "Aku justru sangat memahami Kai! Kami pergi liburan bersama-sama—"

"Sehun, aku kenal Kai sejak dia berumur lima tahun," Taemin memotongku dengan sikap tak bisa ditawar-tawar lagi. "Aku jauh lebih mengenalnya daripada kau. Hubungan kami sangat dekat, dulu maupun sekarang. Tidak ada yang bisa merubah itu. Sangat dekat. Dia cinta sejatiku yang pertama. Kai juga menganggap aku cinta sejatinya."

Kakiku seakan berubah menjadi debu. Wajahku kebas. Tanganku mencengkram pinggiran ranjang besi kuat-kuat. Berusaha membalas dengan komentar pedas dan cerdik… apa saja.

Aku menyipitkan mata menantangnya. "Oh ya? Kalau kau merasa dia adalah cinta sejatimu, kenapa malah menikahi pria lain?"

Sesaat aku melihat Taemin seperti ingin mencekikku dengan selang infus.

"Baiklah, kalau begitu, aku juga pernah melakukan kesalahan. Dan kesalahan terbesarku adalah membiarkan pria-pria seperti Minho dan Seungri memasuki kehidupanku." Dia melempar senyum memuakkannya lagi. "Tapi asal kau tahu saja, jauh sebelum kalian bertemu, Kai datang mengunjungiku disini dan…"

"Dan apa?!" aku berseru marah.

"Kau tahu…" Taemin mengendikkan bahu, ekspresi sinisnya menjadi sangat lemah dan sedih. "Dialah yang melakukan ini padaku. Ayah dari bayi dalam kandunganku. Bukan Seungri. Itu sebabnya aku berusaha mati-matian membujuk pria bodoh itu untuk berpartner dengan Kai lalu mengajaknya kesini. Kami sudah merencanakan ini dari lama. Maafkan aku, Sehun. Aku sudah bilang pada Kai untuk berhenti ragu. Masalahnya dia tidak percaya kalau bayi dalam kandungannya ini benar-benar perbuatan kami. Jadi kemungkinan besar dia menikahimu sebagai selingan untuk mengalihkan stress di kepalanya. Dia tidak siap harus menjadi seorang ayah. Kami berkhianat di belakangmu, Sehun. Aku berkhianat di belakang Seungri. Tapi aku tidak menyesal telah melakukannya. Karena semalam Kai telah sadar dan berjanji padaku. Dia ingin hubungan lama kami kembali."

Cukup. Sudah cukup! Omong kosong! Aku tidak percaya!

"Waktunya memang tidak tepat." Taemin tersenyum manis. "Kai tidak ingin menceritakannya padamu sampai setelah bayi ini lahir. Tapi menurutku, kau berhak mengetahui hal yang sebenarnya. Sudah saatnya kami bersikap jujur dan buka-bukaan. Mending tahu kebenarannya lebih cepat daripada sakit dibelakang."

"Pembohong." geramku dipenuhi kebencian. "Kau bahkan tidak punya bukti kalau bayi sialan itu benar-benar hasil perbuatan Kai. Jangan harap aku termakan bualanmu mentah-mentah."

Senyum manis Taemin berubah jadi senyum penuh kemenangan. "Akui sajalah, Sehun. Kenyataan itu memang menyakitkan. Kalau aku ada di posisimu, mungkin aku juga akan melakukan penyangkalan."

Aku tidak sanggup lagi mendengar suaranya yang manis tapi beracun. Aku lelah sekali dan butuh istirahat. Kepalaku pusing dan rasanya mau meledak.

"Kau salah, Taemin." ujarku sambil menggeleng. "Kau salah mengira. Hubunganku dengan Kai sangat kokoh dan penuh cinta. Kami tertawa, mengobrol, bermesraan…"

Taemin memandangiku dengan iba. "Sehun… Kai hanya pura-pura supaya kau bahagia. Hubungan kalian sudah bubar. Sudah tidak ada lagi."

.

.

.

.

Kusangka hubunganku akan langgeng seumur hidup. Sungguh. Kusangka Kai dan aku akan bersama sampai tua dan ubanan. Atau paling tidak, sampai tua. (Jangan harap aku akan membiarkan rambutku ubanan!)

Tapi kami tidak akan menjadi tua bersama. Kami tidak akan duduk-duduk bersama di bangku taman, atau menonton cucu-cucu kami bermain. Aku bahkan tidak akan melewati usia tiga puluh bersamanya. Hubungan kami gagal.

Setiap kali mencoba bicara dengannya, aku kepingin menangis, jadi aku benar-benar berhenti bicara dan memilih buang muka, menghindari tatapannya.

Awalnya dokter dan para perawat mengira aku menderita penyakit parah, namun setelah diperiksa, mereka memvonis aku hanya terlalu lelah karena banyak pikiran dan mengalami dehidrasi. Mereka membaringkan aku di ranjang ini, lengkap dengan selang infus.

Kai menemaniku sepanjang malam. Namun aku masih belum sanggup bicara dengannya. Jadi aku terus berpura-pura tidur. Bahkan tadi pagi waktu Kai bertanya pelan: "Sehun? Kau sudah bangun?", alih-alih menjawab, aku malah memejamkan mata lagi.

Sekarang dia sedang mandi, jadi aku bisa membuka mata. Kamarnya sangat bagus, dengan dinding-dinding dicat hijau lembut dan bahkan ada sofa kecil. Tapi siapa yang peduli kalau hidupku sudah berakhir? Apa artinya semua ini?!

Jujur saja, aku benar-benar mengira—

Kusangka kami—

Dengan kasar kuseka air mataku. Aku tidak boleh menangis!

"Halo?" pintu terbuka dan seorang perawat masuk sambil mendorong kereta. "Sarapan, miss?"

"Trims," ujarku serak. Lalu duduk sementara perawat merapikan bantal-bantal. Kulahap tiga roti panggang sekaligus bulat-bulat, hanya supaya cacing-cacing di perutku tetap mendapat asupan gizi.

Aku mengecek bayangan wajahku di cermin kotak bedak. Ya Tuhan, kacau sekali. Wajahku masih belepotan make up sisa semalam. Tetesan infus sama sekali tidak membantu apapun.

Aku tetap terlihat seperti orang yang terdepak.

Kupandangi bayangan diriku dengan getir. Inilah yang terjadi pada hampir seluruh pasangan di dunia ini. Saat kau mengira semua baik-baik saja dan merasa altar pernikahan sudah di depan mata, tiba-tiba calon suamimu membelot dan menjalin affair kembali dengan mantannya.

Penipu. Betapa bodohnya aku segampang itu percaya pada janji-janji surgawi Kai.

Seorang pria di masa lalu baru saja berniat melecehkan aku dan sekarang pria yang sangat kupercaya berniat membuangku bersama cincin kawin bullshitnya. Apalagi yang lebih sempurna dari itu?

Seharusnya sejak dulu kuprediksi. Seharusnya aku tidak lengah sedikitpun.

Tampak gerakan lain di pintu kamar mandi dan aku langsung menegang. Sejurus kemudian pintu terbuka dan Kai pelan-pelan masuk. Kulihat bayangan hitam di bawah matanya gara-gara semalaman begadang, dan ada luka lecet kecil di dagunya akibat tergores pisau cukur.

Kapok. Biar tahu rasa.

"Kau sudah bangun!" serunya sambil menghampiri ranjang. "Bagaimana keadaanmu?"

Aku mengangguk, mengatupkan bibir rapat-rapat. Aku tidak mau membuat Kai puas melihatku bersedih hati. Aku akan mempertahankan harga diriku, walau itu artinya aku hanya bisa berbicara sepatah dua patah.

"Kau kelihatan lebih sehat," Kai duduk di pinggir tempat tidur dengan wajah yang sangat cemas seolah-olah aku berniat minum cairan pembersih lantai untuk bunuh diri. "Aku mengkhawatirkanmu."

Sekali lagi, suara dingin bernada meyakinkan yang dilontarkan Taemin bergema di benakku: Kai hanya berpura-pura supaya kau bahagia. Aku mendongak menatap mata Kai, dalam hati memintanya agar mengaku, mencari-cari kepalsuan di wajahnya. Tapi akting Kai bagus sekali. Calon suami yang prihatin dan penuh cinta, di sisi pembaringan calon istrinya.

Aku paham betul Kai jago dalam urusan humas. Itulah yang membuatnya jadi jutawan seperti sekarang. Tapi baru sekarang aku sadar dia bisa sehebat ini. Baru sekarang aku tahu dia bisa… bermuka dua.

"Sehun?" Kai menatap wajahku dengan pandangan menyelidik. "Semua baik-baik saja?"

Aku memicingkan mata, "Tidak. Sama sekali tidak. Aku sudah tahu semuanya."

"Kau sudah tahu?" Nadanya tetap tenang, namun sorot matanya langsung waspada. "Tahu apa?"

"Jangan pura-pura, oke?" aku menelan ludah dengan susah payah. "Aku sudah melihat yang semalam."

Ekspresi waspada Kai meningkat. "Hun, tenang sayang. Dengar dulu. Yang semalam itu—"

"Taemin juga sudah menceritakan semuanya padaku. Dia menceritakan semua yang terjadi diantara kalian." tatapanku kian tajam dan menusuk.

"Dia menceritakannya padamu?" Kai kontan berdiri dan terperanjat. "Dia tidak berhak—" Kai menghentikan kata-katanya lalu berbalik. Aku merasakan tamparan paling menyakitkan jauh di lubuk hatiku.

Mendadak aku merasa tak sanggup melakukannya lagi. Aku tidak bisa lagi bersikap berwibawa dan dewasa. Aku ingin menjerit dan berteriak-teriak. Aku ingin menangis sejadi-jadinya sambil melempar barang-barang.

"Kai… pergi sajalah!" suaraku nyaris menyerupai bisikan. "Aku tidak mau membicarakannya. Aku lelah."

"Baiklah."

Baiklah?

Itu saja?!

Entah bagaimana aku masih berharap Kai akan merangkulku, menjelaskan semuanya, dan menyatakan cinta padaku. Namun secuil harapan itu lenyap sudah. Semua sudah berakhir.

"Sehun—"

"Pergilah. Aku tidak apa-apa." aku berbalik memunggunginya lalu menarik selimut sampai ke kepala.

"Sayang—"

"Kau tidak dengar aku bilang apa? Pergi." usirku masih betah memandangi dinding rumah sakit yang bercat hijau.

"Kita harus membicarakan masalah ini. Aku harus menjelaskan!" Ngotot juga dia.

Tidak. Tidak. Aku tidak mau dengar penjelasan tentang bagaimana dia tiba-tiba jatuh cinta kembali pada Taemin, bahwa dia tidak pernah bermaksud menyakiti hatiku tapi tak berdaya, dan bahwa dia akan tetap menganggapku sebagai teman baik setelah kejadian ini.

Aku lebih suka tidak mengetahui semuanya, sampai kapanpun!

"Kai tinggalkan aku sendiri!" semburku tanpa menoleh. "Sudah kubilang aku tidak ingin membicarakannya. Lagipula staminaku sedang tidak stabil, harusnya kau tidak boleh membuatku gusar."

"Oke, oke. Kau benar. Baiklah. Aku akan pergi. Puas?"

Aku mendengarnya melintasi kamar, langkah-langkah kakinya lamban dan enggan.

"Nanti aku akan datang lagi menemuimu setelah kau benar-benar baikan. Mungkin sekitar jam makan siang."

Apa maksudnya dia akan menemuiku? Untuk meminta kembali cincin di jariku dan memasangkannya di jari Taemin? Untuk bilang padaku bahwa dia akan tetap bertanggung jawab dengan mengirimi uang bulanan dan rajin-rajin mengunjungi anak hasil perbuatan kami di pantai semalam?

Aku tidak menyahut. Suasana sunyi, aku tahu Kai masih disana, menunggu. Tapi akhirnya aku mendengar pintu dibuka dan ditutup, disusul kemudian suara langkah kaki pelan menjauhi koridor.

Kutunggu sepuluh menit sebelum mengangkat kepala. Aku merasa seperti melayang dan tidak nyata. Rasanya seperti bermimpi.

Hubungan kami berakhir. Kata-kata itu berputar-putar lagi dalam kepalaku. Kedengarannya tidak masuk akal. Otakku seperti tidak bisa menerimanya. Rasanya baru kemarin malam kami bermesra-mesraan, membicarakan masa depan, bermalas-malasan di tepi pantai…

Hatiku berdenyut nyeri dan tiba-tiba saja air mata mengalir deras di pipiku. Kubenamkan wajahku yang basah ke bantal. Tega benar Kai meninggalkan aku! Apa dia tidak menikmati hubungan singkat kami? Bukankah kami bersenang-senang bersama?

Tanpa bisa dicegah, suara dingin Taemin yang penuh kebencian menyusup ke kepalaku, "Kau selingan yang menyegarkan, Sehun. Kau membuatnya tertawa. Tapi kalian sebenarnya tidak seimbang."

Sapi tolol. Jahat! Jahat… sok keren…

Aku tidak boleh menyerah semudah ini. Entah mengapa aku merasa hubungan kami masih bisa diselamatkan. Jika dengan ucapan tidak mampu… maka aku harus menulisnya lewat pesan singkat. Menuliskannya lewat barisan paragraf. Aku tidak tahu itu ilham darimana, tapi kayaknya bakal ampuh. Aku akan menulis sms terbaik dan tercengeng yang pernah kutulis sepanjang hidupku. Aku akan mencurahkan semua perasaanku disitu.

Aku akan menyelamatkan hubungan kami. Kai juga pasti tidak mau jadi perusak dalam rumah tangga orang. Aku tahu itu. Aku yakin dia tidak mau.

.

.

.

.

Semalam kau berjanji akan mencintaiku selamanya. Aku tahu ada banyak wanita lain di luar sana yang mungkin lebih pandai bermain polo air atau mengadakan konser piano besar-besaran.

Aku tahu kau menjalin…

Aku tidak sanggup menulis kata "affair", benar-benar tidak sanggup. Aku akan membuat tanda garis saja, seperti yang dulu sering dijumpai di buku-buku kuno.

Aku tahu kau menjalin_ Tapi itu tidak harus menghancurkan segalanya. Aku bersedia melupakan masa lalumu, Kai. Karena aku yakin bahwa kita ditakdirkan untuk selalu bersama. Kau, aku dan calon bayi kita.

Kita bisa menjadi keluarga bahagia. Aku yakin itu. Kumohon, jangan tinggalkan aku. Mungkin diam-diam kau takut menjadi orangtua, tapi bersama kita pasti bisa! Seperti yang pernah kau katakan waktu kapan itu di pesawat, sebelum aku tertidur, kau bilang ini petualangan terbesar yang akan kita jalani.

Aku berhenti menulis untuk menyeka mata dan ingusku yang berleleran. Aku harus mengirim sms cengeng ini sekarang. Aku ingin Kai luluh saat membacanya dan berpikir dua kali sebelum bertekad mencampakkan aku.

Kai, kalau kau masih mencintaiku dan ingin menyelamatkan hubungan kita, temui aku di pantai tempat kau mengucapkan janji setia. Pukul enam sore hari ini. Aku akan menunggumu.

Kekasihmu tercinta, Sehun.

Bersamaan dengan gerakan jempolku menekan tombol 'Send', mendadak layar ponselku berkelap-kelip. Ada panggilan masuk dari Baekhyun.

Baekhyun?

Tumben. Ada apa ya dia menelpon disaat begini? Mau minta oleh-oleh?

"Hai!" seruku dengan nada dipaksa ceria. "Apa kabar?"

"Aku baik-baik saja. Kudengar-dengar dari Yixing kau sedang liburan di Karibia?"

Aku mengangguk, begitu sadar Baekhyun tak bisa melihatnya, aku buru-buru menjawab. "Iya. Kenapa memangnya? Mau menagih oleh-olehmu sekarang?"

Dia tertawa merdu. "Bukan, ah! Jangan berprasangka jelek begitu, dong. Belum apa-apa kau sudah memfitnahku. Aku kan cuma mau mengabari kalau kami sudah tiba di Turks and Caicos."

Hah? Kami?

Aku berkerut bingung. "Kami?"

"Iya, kami. Aku dan Jinyoung." jawabnya enteng.

Astaganaga. Mereka terbang menyusulku kesini? Tak mungkin! Dia bercanda kan?

"Tunggu, tunggu… kalian sudah tiba… disini? Beneran? Untuk apa?" tanyaku tanpa sadar terdengar ketus.

"Ya liburanlah! Ini kan Karibia, helooo!"

Sadar aku tidak mungkin menyuruh Baekhyun dan Jinyoung pulang kembali ke Korea, jadi aku memberi ucapan selamat. "Wow, selamat ya."

Perempuan itu berdecak. "Ucapan selamatnya bisa nanti saja? Jemput kami di bandara sekarang, ya? Kami ling-lung dan tampak bodoh seperti anak hilang. Tadi aku sempat digoda bapak-bapak tukang kereta keledai. Aku takuuut. Mungkin dia masih memata-matai kami. Aku takut diculiiik!" Baekhyun merengek dengan suara mencicit cemprengnya. "Cepat. Ini situasi darurat. Jemput sekarang! Oke? Bye."

Kuletakkan ponsel di tempat tidur, berusaha menghimpun semangat. Seumur-umur, belum pernah aku merasa tidak semangat bertemu teman-teman baikku.

Aku jelek dan berantakan, wajahku belepotan air mata dan ingus, rambutku awut-awutan, hubunganku diambang kehancuran… aku bergetar sedih… kemudian bayanganku tertumbuk pada cermin yang tertempel di tembok. Membungkuk, kepala tertunduk, terlihat lemah dan kecil sekali. Aku tampak kalah. Aku tampak menyedihkan.

Bagai disambat gledek, lima detik kemudian aku spontan duduk tegak.

Apa-apaan sih? Memangnya hidup harus berakhir hanya karena cowokku selingkuh? Tak usah ya! Aku tidak mau mengasihani diriku sendiri. Aku tidak mau menyerah. Mungkin hubunganku hancur berkeping-keping, tapi aku tetap bisa menjadi cewek gaul yang energik dan penuh semangat. Itu dia! Aku akan jalan-jalan sepuasnya bersama teman-temanku dan melupakan semua ini. Dari semenjak datang aku sama sekali belum pernah mengunjungi waterparknya. Aku akan kesana dan berjemur diatas ban karet sambil pakai kacamata hitam, bersantai-santai di sungai malas. Melupakan semuanya seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Kuangkat ponsel ke telingaku lagi. "Hei, Baekhyun?" suaraku berubah riang gembira. "Aku bisa kok menjemputmu. Kalau perlu kita menjelajahi pulau ini. Pasti seru!"

.

.

.

.

"Hun, lagi-lagi kau menggertakkan gigi," tegur Jinyoung sabar. "Hentikan. Kau harus berhenti memikirkan Kai dan wanita itu, tidak baik buat kesehatan."

Mereka sudah tiba beberapa menit yang lalu dan aku langsung buru-buru merapikan diri, menyemprotkan parfum dan memakai lip gloss, hanya agar bibirku tidak terlihat sepucat zombie anemia. Kemudian kabur ke bandara sembunyi-sembunyi seperti orang kalap yang takut ketahuan suami sintingnya. Di sepanjang perjalanan dari bandara ke hotel, aku segera menumpahkan segala unek-unekku ke mereka, padahal tadinya aku berencana menyimpan masalah ini dan melupakannya. Berharap itu akan meluap terbawa angin atau hanyut bersama ombak. Tapi aku tidak bisa. Seperti ada batu bata seberat seribu ton yang mengganjal di dalam. Begitu sudah kulampiaskan semuanya, sekarang perasaanku agak mendingan meskipun sisa-sisa rasa gondoknya masih ada.

"Jinnie benar, karena kita sudah ada disini, sebaiknya mari kita bersenang-senang dan lupakan tetek bengek soal lelaki." tukas Baekhyun sambil memonyongkan bibir dan mengolesinya dengan lipbalm warna pink. "Aku juga sedang ribut dengan Daehyun. Yaa… tahu sendirilah. Persoalan remeh tentang nama anak yang cocok sama zodiak dan golongan darah, pokoknya tidak penting. Kukira dengan datang kemari dan melihat temanku bahagia, aku bisa ikut tertular kebahagiaan kalian. Eh, ternyata kalian juga lagi tidak terlilit masalah."

Aku menunduk murung, "Maaf mengecewakan."

Baekhyun menutup cermin bedak setelah puas mengagumi muka mulus bebas jerawatnya. "Nah, tidak perlu minta maaf. Just… have fun, darling. Jangan bersedih lagi. Sudah tidak jaman bersedih karena cowok. Cowok-cowoklah yang harusnya bersedih karena kita. Betul tidak?" dia menoleh ke Jinyoung.

Jinyoung mengangguk-angguk, "Betul banget! Lupakan saja para jerk sok keren itu. Kita akan bersenang-senang sepuasnya. Yuhuu!" jeritnya norak dan mengundang pelototan dari beberapa pejalan kaki.

Aku menatap Jinyoung penuh tanya. "Memangnya kau juga sedang ribut?"

Dia meringis malu sambil menurunkan kedua ketiaknya yang terangkat. "Mmm… tidak sih. Aku malah mau menikah dua bulan lagi."

Wah. Semua orang disekelilingku ramai-ramai akan membina rumah tangga bahagia, sementara aku? Rasanya ingin kulempar cincin ini ke laut.

Aku tak boleh egois, aku harus menunjukkan perasaan bahagia. Biar bagaimanapun ini teman gengku sendiri, aku harus ikut bersenang-senang untuknya. "Wow! Really? Congratz! Selamat ya, dear!" aku memeluk Jinyoung histeris.

Jinyoung menepuk-nepuk punggungku dengan ekpresi berbinar-binar haru. "Thank you. Semoga cepat nyu—maksudku, semoga kau cepat menemukan ganti yang terbaik."

Aku tidak yakin aku bisa mendapatkan pengganti yang lebih baik dari Kai. Tapi aku tetap memaksakan diri tersenyum cerah. "Iya. Amin. Terima kasih. Kuharap kalian langgeng selamanya."

.

.

.

.

Baekhyun menyarankan kami mencoba wahana yang bisa menghilangkan stress dengan cara berteriak sekeras-kerasnya. Jadi kami bertiga—dengan bikini paling minim dan paling seksi yang pernah kami miliki—berdiri di depan seluncuran paling ekstrem dan paling besar di taman waterparks ini. Gigantic Waterslides.

Bak komandan pasukan garis depan yang siap mati di medan perang, Baekhyun menatap aku dan Jinyoung bergantian, "Kalian siap?"

"Siap!" kami menjawab kompak dan mantab.

Waktu naik meniti tangga pelan-pelan, aku berusaha keras tidak melihat kebawah. Prinsipku: pokoknya naik dulu, takut belakangan. Rasanya begitu jauh dan begitu tinggi. Seumur hidup aku memang belum pernah memanjat naik ke menara Eiffel, tapi sensasinya pasti tidak jauh beda dengan ini. Capek dan menegangkan.

"Heeeii, lihat aku!" seru Jinyoung melambaikan tangan di depan mulut seluncuran di seberang sana. Sementara seorang petugas membawakan pelampung raksasa berbentuk punggung kura-kura yang ada pegangannya. Jinyoung duduk diatas pelampung, sudah siap menerima takdirnya. Ketika petugas mendorong pelampungnya kedepan, Jinyoung berteriak penuh semangat dan meluncur secepat kilat, melesat terbang lalu menghilang di tikungan depan.

Pas tiba gilirannya Baekhyun, hormon adrenalin berpacu semakin deras ke seluruh tubuhku. Sebentar lagi giliranku akan tiba. Sudah terlambat. Sudah tidak bisa mundur lagi.

"Kyaaaaaaaaaaaaaaaa!" lengkingan Baekhyun menampar gendang telingaku. Astaga. Apa dia tidak bisa lebih kalem sedikit?

"Ini, silahkan." Petugas mengangsurkan pelampung di dekat kakiku dan selama beberapa detik aku hanya terpaku seperti patung batu. Tak bergerak sama sekali.

Aku menelan ludah gugup. "Apa kira-kira ini… aman? Aku tidak bakal geger otak kan?" tanyaku memastikan.

Si petugas tertawa ringan. "Tidak, miss. Saya jamin seratus persen. Jika anda geger otak, anda bisa melayangkan surat protes langsung ke pihak kami. Nanti kami yang bayar biaya rumah sakitnya."

Ha. Ha. Lucu sekali.

"Bisa cepat sedikit, miss? Dibelakang anda masih banyak antrian yang menunggu."

Tepat saat aku menoleh kebelakang, dua puluh lebih pasang mata sedang menatapku dengan pandangan sadis.

Sambil berusaha untuk tidak gemetaran, aku duduk diatas pelampung karet. Inilah saatnya. Aku akan didorong. Aku akan melewati kelokan-kelokan tajam nan mematikan itu. Tubuhku akan terlempar kesana-kemari. Aku harus tutup mata. Aku bertekad tidak akan membukanya kalau belum sampai dibawah. Atau bisa jadi aku akan tutup mata sambil berteriak dengan wajah secantik mungkin. Jaga-jaga saja siapa tahu ada candid cam tersembunyi yang memotretku diam-diam. Jangan sampai ekspresi mangap konyol super anehku dipajang dan diperlihatkan ke turis-turis lain.

"Are you ready?" pertanyaan si petugas terdengar bagai ledakan pistol.

"Y-yes…?" jawabku mencicit seperti tikus gepeng terlindas ban mobil.

"Satu… dua… TIGA!"

"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!"

.

.

.

.

Ya Tuhan.

Mulutku lebar sekali.

"Ayo kita coba yang lain." Jinyoung terlihat paling semangat dan antusias daritadi.

Baekhyun mengipasi dirinya dengan kipas berbentuk buah semangka. Semangka gaul yang bisa pakai kacamata hitam ala Brad Pitt. "Oke, apa saja, tapi jangan sungai malas."

Aku melotot tak terima, "Kenapa? Itu kan asik. Kita bisa berjemur diatas ban karet bundar sambil minum soft drink."

Baekhyun mencibir. "Lebih enak berjemur di pinggir pantai sambil cuci mata, menonton bule-bule cakep lewat. Aku sudah bawa persediaan sunblock satu botol. Kau belum mengunjungi pantainya atau sudah?"

Aku masih belum siap menceritakan bagian aku dan Kai menghabiskan waktu berdua di pantai sambil diam-diam bikin anak.

"Belum." jawabku sambil menggeleng pelan. Secara harfiah aku tidak berbohong kan? Toh, aku memang belum mengunjungi bagian pantainya yang penuh sesak manusia. Kalau yang sepi senyap sih sudah. Hehe.

"Ke pantainya nanti saja!" Jinyoung mengibaskan tangan tak setuju. "Kita belum benar-benar menikmati waterpark. Ayo coba flying fox dulu."

Kami bertiga mencoba flying fox sesuai perkataan Jinyoung. Dan harus kuakui aku berteriak keras lagi kali ini.

"Hei, hei… itu surf simulator kayaknya seru!" Jinyoung menarik tangan kami berdua sebelum Baekhyun sempat protes.

Surf simulatornya payah! Aku tergelincir terus dan kebanyakan surfing dengan gaya jongkok daripada berdiri. Well, at least, cukup menghibur. Baekhyun dan Jinyoung malah lebih parah lagi, kalau aku bisa surfing dengan gaya jongkok, mereka cuma bisa surfing dengan gaya tengkurap, alias berpelukan ke papan surfing kuat-kuat.

Kami lomba lari dari surf simulator ke water cannons seperti bocah-bocah kelainan jiwa lalu berteriak sambil melompat-lompat girang begitu meriam-meriam raksasa berbentuk mulut dinosaurus menembakkan bom air secara bertubi-tubi ke tubuh kami. Kami mengulanginya sebanyak tujuh kali sampai ditegur oleh seorang petugas karena terlalu berisik.

Setelah capek lari-larian, kami bersantai di swim-up bar. Memesan minuman tiga melon squash yang langsung disambung dengan tiga mixberry dan tiga Tropical juice. Gara-gara kebanyakan minum perutku jadi kembung.

Baekhyun menyesap habis minumannya lalu menggebrak meja bar dengan gelas. "Beach time, bitches!"

.

.

.

.

Ahhh…

Enaknya jadi wanita bebas. Berbaring di pantai beralaskan tikar dengan teman-teman gengmu yang cantik. Memandangi sang mentari bersinar cerah dari balik kacamata kami. Merasakan tiupan angin pantai yang lembut menerpa rambutmu dan menerbangkan beberapa helai. Mendengar suara anak-anak kecil tertawa dan bermain-main pasir. Menatap ke langit biru cerah dengan burung-burung camar yang kelihatan sangat bahagia bersama keluarga mereka. Berlindung dibawah bayang-bayang payung sambil sesekali makan snack keripik kentang dan mendengarkan musik hiphop dari radio portable milik Jinyoung. Tertawa cekikikan saat sekelompok bule-bule muda lewat dan menggoda kami. Menggosipkan model-model berkaki kurus di majalah fashion.

Senangnya…

Inilah yang dinamakan hidup!

Tidak ada cowok psikopat mesum brengsek dari masa lalu, tidak ada calon suami tukang selingkuh, tidak ada wanita hamil tukang rebut cowok orang dan tidak ada cincin kawin. Aku bahkan lupa menyimpan benda itu dimana tadi. Barangkali ada di saku jaket Baekhyun. Aku sempat menitipkannya waktu kami beli gulali tadi. Atau… waktu kami main voli? Ah, terserahlah.

"Sehun, tadi kau sudah pesan es kelapa kan?" tanya Baekhyun masih mengipas-ngipasi dirinya dengan semangka gaul.

Aku mengangguk sambil senyam-senyum bahagia. "Sudah tadi. Mungkin lima menit lagi datang."

"Awas ya, kalau lebih dari lima menit, kau yang bayari kami." ancam Jinyoung sambil mengunyah keripik.

"Beres deh," jawabku asal. "Oh iya, ngomong-ngomong, aku lupa bertanya kenapa Yixing tidak ikut."

"Kalau Yixing jangan ditanya deh." Baekhyun mendengus. "Ibu pilot yang satu itu sibuknya bukan main. Terbang sana-sini tidak pernah mengajak-ajak kita."

Jinyoung terkekeh. "Itu 'kan sudah tugasnya. Kalau aku jadi dia, aku juga malas mengajak bebek betina bawel."

"Oi! Aku bukan bebek betina bawel! Rubah genit!"

"Aku bukan rubah genit! Kau memang bebek bawel! Berisik!"

"Kau yang berisik! Bawel!"

Haaa… anginnya enak. Mataku sayup-sayup. Sebentar lagi aku akan berada di alam mimpi, bersama keluarga burung-burung camar yang bahagia itu.

Oh… aku… sudah… tidak… tahan… lagi.

Waktunya tidur.

Tunggu dulu… perasaan aku belum benar-benar terlelap, kenapa aku bisa memimpikan Kai datang? Itu Kai atau tukang es kelapa? Kenapa ekspresinya seperti itu? Apa? Apa yang dia katakan?

"Sehun."

Wah, tempat ini luar biasa. Tukang es kelapanya bisa tahu namaku.

"Sehun!"

Aku terlonjak bangun begitu merasakan tepukan keras di bahuku.

Raut wajahku kontan membeku begitu sadar siapa oknum yang saat ini tengah berdiri di depan kami.

Sial. Bukan penjual es kelapa. Tapi KAI!

Dia memakai kaos asal-asalan. Rambutnya berantakan. Risleting celananya belum tertutup dengan benar. Wajahnya berkeringat. Dan napasnya ngos-ngosan. Kelihatan seperti orang yang habis berlari mengejar kereta.

God, jangan bilang dia sudah berlari mengelilingi pulau untuk mencariku?

"Apa-apaan ini?" sergahnya tanpa basa-basi, mengacungkan ponsel ke mataku.

Kubalas tatapannya, kaget bukan kepalang. Ini tidak benar. Seharusnya dia menemuiku di pantai yang satunya jam enam sore nanti! Bukan disini, di pantai yang penuh sesak manusia, dengan penampilan awut-awutan dan tidak ada romantis-romantisnya sama sekali.

"Aku… aku…" mendadak aku terjangkit penyakit gagap. "Apa yang kau lakukan disini?"

"Apa yang kau lakukan disini?" ulang Kai tak percaya. "Aku bereaksi terhadap sms ini! Setiap kali kutelpon kau tidak pernah mengangkat, aku sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apa-apaan 'temui aku di pantai jam enam sore'? Omong kosong macam apa ini?"

Omong kosong?

"Itu bukan omong kosong!" pekikku tersinggung. "Aku berusaha menyelamatkan hubungan kita—"

"Menyelamatkan hubungan kita?" dia menatapku bengong. "Di pantai?"

Ya ampun. Kai lemot disaat yang tak tepat. "Di film-film kan begitu! Seharusnya kau datang kesana, kita melihat sunset bersama lagi dan suasana menjadi indah, seperti di film-film!"

Suaraku tercekat karena kecewa. Padahal aku benar-benar mengira ini akan berhasil. Kusangka Kai akan datang kesana, lalu kami menghambur ke pelukan masing-masing, dan kembali menjadi pasangan utuh yang bahagia.

"Oke. Jelas ada sesuatu yang tak kupahami disini," Kai menggaruk-garuk kepalanya sambil mengerutkan kening pada layar ponsel. "Isinya tidak ada yang masuk akal sama sekali. 'Aku tahu kau menjalin_'. Apa? Aku menjalin apa? Simpul? Benang? Tali sepatu?"

Si kunyuk ini meledekku! Tujuannya datang kesini cuma untuk mengkritik isi pesan yang sudah kutulis dengan segenap jiwa raga. Aku tak tahan lagi!

"Affair!" teriakku emosi. "Affair! Kau menjalin affair dengan Taemin! Aku sudah mengetahui semuanya! Kupikir tujuanmu datang kesini untuk memperbaiki lagi hubungan kita, ternyata tidak, jadi silahkan pergi sekarang." aku mendengus kesal sambil buang muka.

"Aku apa?!" Kai benar-benar melotot lebar, bola matanya seperti akan berhamburan keluar. "Sehun, kau bercanda ya?"

"Ya, kau benar. Aku memang bercanda." Aku buru-buru beranjak pergi tapi tangan Kai lebih sigap menyambar pergelangan tanganku kuat-kuat.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi," ucapnya dengan tatapan menakutkan. "Mendadak aku dikirimi sms begini dan kau menuduhku punya affair. Jangan kira aku akan membiarkanmu kabur lagi kali ini tanpa penjelasan."

Omg. Memangnya Kai habis ditabrak kereta keledai? Atau ada orang yang iseng-iseng memukul kepalanya?

"Taemin sendiri yang bilang padaku!" bentakku saking frustasinya. "Dia bilang bahwa selama ini kau cuma berpura-pura untuk membahagiakan aku. Waktu aku menyinggung soal Taemin di rumah sakit, tiba-tiba kau berdiri dengan raut muka bersalah. Rahasia gelap apalagi yang kau sembunyikan dariku, Kai?"

"Yang kumaksud bukan affair!" Kai ikut meledak. "Aku memang bercerita pada Taemin waktu kau dan Seungri menghilang ke toilet, tapi bukan soal hubungan! Aku menceritakan tentang rencana pernikahan kita pada Taemin. Aku meminta sarannya dimana tempat yang bagus untuk melangsungkan acara pernikahan. Aku kaget waktu kau bilang Taemin sudah bercerita semuanya padamu, padahal aku menyuruh dia berjanji untuk merahasiakannya dulu. Kukira soal pernikahan itu. Ternyata hanya omong kosong lainnya."

"Aa…" kemarahan dan emosiku meluap begitu saja. "Apa?"

Tiba-tiba aku melihat seorang anak bersin sambil menjatuhkan es krimnya di istana pasir. Lalu seluruh pengunjung pantai—termasuk Jinyoung dan Baekhyun—memandangi kami seolah sedang menonton siaran telenovela gratis. Suasana hening. Tidak ada lagi yang bermain-main bola voli atau layangan. Kayaknya kami memang pasangan yang paling mencolok dan menarik perhatian.

Kai menghela napas. "Ayo kita pulang. Ini bukan tempat yang pas untuk mengobrol serius."

"Aku setuju. Kita pulang saja," aku menoleh ke teman-temanku dan memasang senyum bersahabat. "Maaf ya aku tidak bisa lama-lama menemani kalian."

Baekhyun mengibas-ngibaskan tangan berlebihan. "Ah, tidak apa-apa. Santai saja! Kami biasa kok keluyuran berdua."

Jinyoung sumringah. "Iya, jangan khawatir. Selesaikan dulu masalah kalian. Nanti kalau sudah beres baru kita jalan-jalan lagi, oke?"

Aku mengacungkan kedua jempolku. "Oke."

"Eh, eh, Sehun!" seruan Baekhyun membatalkan niatku untuk melangkah. "Ini. Jangan lupa. Ditunggu lho undangannya."

Aku mendengus geli melihat cincin yang diserahkan Baekhyun. Kutatap dua wajah nyengir di depanku bergantian.

"Ssst!" aku meletakkan telunjuk di bibir sambil membungkukkan badan seperti pemain sepakbola yang hendak membisiki teman-teman setimnya strategi rahasia. "Kami memang akan menikah dalam waktu dekat ini."

"Sehun." deheman Kai membuyarkan acara gosip-gosip tetangga kami. "Ayo cepat."

"Bye, girls!"

Dua orang itu kompak melambaikan tangan heboh.

"Daaahh, Hunnie sayang!"

"Jatah es kelapamu untukku ya!"

.

.

.

.

Kai masuk ke dalam kamar dan aku menutup pintunya. Sesaat tidak ada yang berbicara. Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Ini benar-benar diluar perkiraanku.

"Sehun…" akhirnya Kai buka mulut juga. "Aku tidak tahu darimana kau punya pikiran seperti itu." Kai menghembuskan napas panjang dan keras. "Aku sedang mengurusi pekerjaanku dan berbagai macam masalah kontrak tapi kau malah menuduh aku punya affair dengan Taemin."

Aku memutar bola mata. "Taemin sudah mengakuinya."

Kai tampak agak terkejut. "Tidak mungkin dia bilang begitu."

"Mungkin saja!" bantahku. "Dia bilang kau akan meninggalkan aku demi bayi dalam perutnya. Dia bilang—" aku menggigir bibir. Terlalu menyakitkan mengingat semua yang dikatakan Taemin.

"Ini… benar-benar… gila." Kai menggeleng-geleng takjub, kelihatan terpukul.

Aku menatap wajah Kai, sangsi. "Jadi kau benar-benar tidak menjalin hubungan dengannya? Sama sekali tidak?"

Kai mencengkram rambut dan memejamkan mata sebentar. Seperti mati-matian menekan kesabarannya. "Mengapa kau mengira ada apa-apa?"

"Mengapa?" kupandangi dia tak yakin. "Kai… are you serious? Aku harus mulai darimana? Dari pertemuan diam-diam kalian jauh sebelum kau mengenalku atau dari dansa waltz intim, garis miring, ciuman mesra yang kalian lakukan?"

"Hun, kami tak pernah bertemu diam-diam. Aku juga tidak mengerti kenapa dia mengaku-aku bayi itu hasil hubungan kami. Aku tidak tahu Taemin akan bertindak senekat itu. Please, berhentilah menuduhku yang aneh-aneh," Kai memohon dengan tatapan sayu dan lembut. "Ciuman yang semalam bukan sesuatu yang kuharapkan, tiba-tiba dia memajukan wajahnya padahal niat awal kami hanya berdansa. Dan kemudian aku menemukanmu pingsan…." Kai menghela napas lagi sambil mengusap-usap keningnya. "Maafkan aku, sayang. Kalau tahu ini semua akan terjadi, harusnya aku tidak mengajakmu kesini." Dia tidak berbohong. Aku bisa melihat itu dari raut wajahnya yang penuh penyesalan.

Tapi kalau begitu, mengapa Taemin berkata… mengapa dia bilang begitu…

"Taemin bilang, kau akan meninggalkan aku demi dia." Suaraku bergetar dan naik-turun. "Katanya kau tidak ingin menyakitiku dengan berpura-pura membahagiakan aku. Dia bilang aku cuma selingan…" Tak bisa ditahan lagi. Air mataku mengalir turun dan aku terisak di depan Kai.

"Meninggalkanmu? Sayangku, kemarilah." Kai memelukku erat-erat dan aku langsung membenamkan kepalaku di dadanya, air mataku menyebar dan membasahi kaosnya. "Aku cinta padamu," ucap Kai tegas. "Aku tidak mungkin meninggalkanmu. Atau calon bayi kita."

Kai mengeratkan pelukannya, mengusap-usap rambutku dan mencium puncak kepalaku penuh kasih sayang, disitulah aku sadar dia tak pernah bermaksud meninggalkan aku. Dia tak pernah menjalin hubungan terlarang atau menciptakan monster dalam perut Taemin. Semua itu cuma akal-akalan iblis wanita beracun itu untuk membalasku. Untuk… astaga…

Betul juga!

Jangan bilang Taemin melihat apa yang Seungri lakukan padaku kemudian salah paham dan mengira kami bermain api dibelakangnya?

"Ehm… sayang," aku mendongak menatap Kai dengan mata sembab dan hidung meler. "Ada yang ingin kutanyakan."

"Apa?" dia menyeka pipiku yang belepotan pakai jempol.

"Waktu… waktu aku dan Seungri ke toilet, apa Taemin juga sempat minta izin ke toilet?"

Kai berpikir sebentar kemudian mengangguk. "Ya. Dia memang sempat ke belakang sebentar. Setelah dari situ tiba-tiba datang lalu mengajakku berdansa. Agak aneh juga sih perubahan moodnya itu."

Gotcha! Semua terasa masuk akal sekarang. Benang merah yang putus dan potongan puzzle yang hilang seperti tersambung kembali dengan sendirinya. Ya ampun. Kenapa baru terpikir sekarang ya?

"Sehun? Ada apa? Apa masih ada yang tidak kuketahui?"

Aku mengangguk sambil memandangi jari-jari kaki cowokku, tidak berani menatap langsung matanya. "Kai, sejujurnya… masih ada satu masalah lagi."

.

.

.

.

Gawat.

Harusnya aku tidak menceritakan itu pada Kai.

Sekarang dia terlihat sebelas-dua belas dengan kaki tangan boneka SAW yang siap menculik manusia untuk dijadikan kelinci percobaan alat-alat pemutilasi tubuh.

Kayaknya aku telah membuat suatu kesalahan. Karena waktu berulang kali kutanya apa dia masih punya niat untuk menggelar pertandingan tinju, smackdown atau semacamnya, Kai hanya menggeleng sambil tersenyum miring penuh rahasia. Jenis senyuman yang hanya bisa kalian dapatkan di toko obat-obatan terlarang. Bukan berarti aku pernah mengunjungi toko obat-obatan terlarang, tapi… aduh, apa ya, pokoknya raut wajah Kai terlihat mengerikan sekali. Aku saja tidak sanggup memandanginya berlama-lama. Sampai-sampai aku jadi paranoid sendiri membayangkan Kai diam-diam menyusupkan seperangkat alat perkakas pembunuhan di tas koper hitamnya. Kalau tidak, untuk apa coba dia bawa-bawa tas koper ke rumah Seungri?

Oke. Tenang, Sehun. Tenang. Kemarin Kai juga bawa-bawa tas koper hitam, berarti itu bukan apa-apa. Cuma tas koper biasa. Tidak ada alat perkakas pembunuhan di dalamnya.

Tenang, tenang, tenang.

Aku membisikkan kalimat 'tenang, tenang, tenang' sebanyak-banyaknya bagaikan mantra penghipnotis ajaib, berharap dengan begitu aku akan tenang dan terbebas dari pikiran negatif.

Tapi tetap saja tidak bisa!

Aku tak bisa tenang!

Kai pasti akan bertindak. Dia pasti akan melakukan sesuatu. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku punya rencana lain yang lebih brilian untuk membalas Seungri. Yang jelas, rencana ini pastinya akan membuat Seungri betul-betul kapok dan berpikir dua kali untuk bertindak nekat lagi.

Jadi begitu dia membalas smsku yang intinya menyuruhku untuk datang menemuinya sendirian tanpa membawa pasukan atau mata-mata kepolisian, tanpa pikir panjang aku langsung menerima tantangannya. Aku tahu ini darurat dan pasti dia sedang merencanakan niat busuk lain. Seungri tidak akan melepaskanku semudah itu.

Mungkin agak nekat datang menumbalkan diri sendiri kedalam kandang siluman buaya. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku tak boleh kabur atau bersembunyi lagi seperti gadis kecil yang lemah dan ketakutan. Sudah saatnya untuk 'memukul' balik. Hanya inilah satu-satunya jalan agar aku bisa terbebas dari terror mimpi buruk. Selama-lamanya! Habis gara-gara dia aku sampai berselisih paham dengan Taemin si wanita ular itu.

Seungri mengajakku ketemuan di sebuah mess atau kos-kosan? Wisma? Atau entah apalah namanya. Yang jelas ini penginapan paling terburuk yang pernah kulihat di pulau ini. Berdiri menjulang dengan angkuhnya di tengah-tengah permukiman kumuh masyarakat kelas bawah dan gerbang masuknya hanya bisa dilewati via lorong sempit yang bau kaki tikus mati.

Lokasinya cukup sulit dicari sampai-sampai kusir kereta keledai yang kutumpangi harus bertanya di empat kedai kecil, kios makanan, bengkel tambal ban, dan seorang pemuda berambut afro yang duduk-duduk bengong menunggu pacarnya yang tak kunjung tiba.

Apa benar ini alamatnya? Aku mengamati bangunan di balik tembok dan gerbang tinggi di depanku. Masih merasa kurang yakin. Mending cek langsung ke orang yang bersangkutan.

Cuma dua kali nada tunggu Seungri dan langsung mengangkat panggilan masuk dariku.

"Halo, sweety? Sudah sampai dimana? Ini sudah jam delapan lewat lho, sayang. Jangan coba-coba kabur ya."

Aku meringis mual. Ya ampun orang ini. Makin tua makin bertambah kadar kenorakannya. "Saya sudah di depan gerbang. Saya tidak akan kabur. Hanya mau memastikan saya tidak berada di tempat yang salah." jawabku dingin dan jutek.

Seungri tertawa picik. "Kalau dindingnya tinggi dan gerbangnya hitam, itu sudah betul. Tinggal masuk dan tanya kamar B8 sama satpamnya."

"Tunggu, tunggu, saya tidak mau menemui anda di dalam kamar!" tegasku galak.

Dia berdecak kesal dan kayaknya tersinggung. "Ya sudah. Kalau begitu masuk dulu, saya tunggu di koridor depan kamar. Cepat! Awas ya kalau coba-coba—"

"Tidak akan. Saya tidak akan lari." sahutku mantab dan penuh tekad.

Dia tertawa picik lagi. "Oke, kalau begitu." dan sebelum aku sempat menekan tombol end, sambungan telponnya sudah berakhir.

Herghhhhhh! Dasar cowok sialan. Kalau saja ini bukan demi Kai, aku juga tidak akan sudi jauh-jauh kemari untuk berhadapan muka dengan Seungri.

"Cari siapa, nona?" tanya penjaga gerbang berjaket kulit yang sepertinya orang latin. Pria itu duduk di pos kecil sambil menengguk kopi dan mata jelalatannya berlari menelusuri tubuhku dari atas sampai bawah. Bikin risi dan tidak nyaman.

Aku refleks menarik tas besarku ke depan sebagai penghalang biar si mata jelalatan tidak keenakan memelototi payudaraku. Satpam macam apa dia? Biasanya satpam itu kan melindungi orang dan bikin kita merasa aman. Tapi pria ini justru kebalikannya. Ditambah penampilannya yang tidak berseragam security resmi dan mukanya yang lebih mirip bos pengedar narkoba, aku jadi ragu dia adalah petugas keamanan.

"Saya mencari kamar Tuan Lee Seungri, B8." jawabku tersenyum enggan.

Laki-laki itu memuntir-muntir kumisnya. "Kamar B8? Mr. Lee? Ohh, silahkan, silahkan. Sepertinya dia sudah menunggumu daritadi. Dari ruang resepsionis itu belok kanan, terus lurus saja. Pasti ketemu."

"Thank you." Aku mengangguk basa-basi dan buru-buru melangkah ke gedung utama.

Ternyata ini bukan penginapan khusus pria. Melainkan campuran. Karena di depan kamar-kamar yang berderet aku bisa melihat perempuan berpakaian minim sedang menjemur baju sambil merokok, malah ada juga yang lagi asyik rangkul-rangkulan mesra dengan laki-laki hidung belang. Di depan kamar-kamar lain aku melihat sekelompok pria bertampang suram dan berbadan kekar sedang main kartu sambil minum-minum, merokok dan tertawa keras. Tatapan mata awas mereka mengikuti gerak-gerikku, seperti hendak menyeretku ke salah satu kamar itu untuk dicabuli beramai-ramai…

Ya Tuhan. Apa yang kupikirkan sih tadi? Tidak seharusnya aku datang sendiri.

"Hey, pretty. Where are you going, honey?" tanya salah satu dari mereka.

"Yeah, why so hurry?" timpal yang lain.

Dengan cuek aku melewati preman-preman itu, pura-pura jadi gadis tuli.

Pfiuh. Selamat, selamat! Untunglah mereka tidak berdiri menghadangku atau menarikku secara paksa ke dalam kamar.

Langkahku mulai melambat ragu gara-gara diselimuti perasaan tidak nyaman. Dari risi, sekarang berganti menjadi ketakutan. Semua orang yang kulewati tampak seperti ingin memangsa dan menelanjangiku bulat-bulat. Para perempuannya menatapku seperti sedang menilai aku lebih layak dari mereka atau tidak. Sedangkan para laki-lakinya seperti siap meloncat kedepan untuk memelukku kapan saja.

God… seharusnya aku tidak datang sendiri. Semoga Kai dan yang lain tidak terlambat nanti.

Aku refleks mundur selangkah begitu melihat pintu kamar di sampingku tiba-tiba terkuak lebar dan memunculkan wajah makhluk yang sudah mengincarku sejak lama.

"Oh, hai. Kebetulan sekali. Kok bisa bersamaan begini ya? Aku buka pintu, kau muncul. Berarti mungkin kit—"

"Cepat katakan ada keperluan apa, jangan banyak basa-basi busuk." potongku menatapnya tanpa minat.

Dia balas memicingkan mata, terlihat sangat dingin persis pembunuh haus darah. "Apa kau tidak pernah diajari sopan santun? Bukan begini cara bertamu yang baik dan benar."

Aku mengatupkan rahang menahan emosi. "Maaf ya, tujuan saya kesini bukan untuk bertamu."

Seungri tampak sangat kesal dan menyipitkan matanya ke ukuran yang lebih ekstrem. "Oh ya? Kalau begitu aku juga tidak sedang menerima tamu. Tapi kalau teman untuk bersenang-senang boleh lah."

What?! "Hei, apa-apaan… lepaskan! Tolooongg! Saya harus segera pulang! Ini tidak sesuai dengan perjanjian kita!"

"Persetan perjanjian!" dia berseru marah sambil menyeretku masuk ke dalam kamar secara paksa. Tidak menggubris teriakan minta tolong atau penolakanku dan kata-kata kotor yang kuteriakkan secara lantang di telinganya.

Teriakanku tidak membuat Seungri gentar, justru laki-laki itu menyeringai licik. "Teriak saja sepuasnya, sayang. Apa kau lupa tembok bangunan ini tinggi? Tidak akan ada yang perduli dengan teriakanmu. Disini sudah biasa."

"LEPASKAN! BAJINGAN! TOLOONG!"

Dengan satu kali sentakan kuat, dia mendorongku kasar hingga tubuhku limbung dan jatuh menimpa kasur. Secepat kilat dia menutup pintu dan menguncinya sebelum aku berhasil meloloskan diri.

"Minggir! Jangan macam-macam kau ya! Akan kulaporkan ke polisi!"

Tampangnya yang mengerikan dan mesum terlihat semakin berbahaya dan menjijikkan. Dia beringsut maju tiga langkah dari pintu, sedangkan aku beringsut mundur lima langkah menjauhi kasur. Merapat di tembok. Menempel ketakutan. Merasa terpojok sekali.

Disaat aku merasa nyawaku sebentar lagi akan tamat, tiba-tiba Seungri tersenyum dan sikapnya melunak. "Sini, sini. Jangan tegang begitu lah. Kita disini niatnya kan mau ngobrol-ngobrol baik-baik."

Aku menggeleng kuat dengan ekspresi waspada. "Saya berdiri disini saja."

Dia hanya mendengus pendek sambil mendudukkan dirinya diatas ranjang. "Oh iya, sesuai kemauanmu, kita akan langsung ke inti saja." dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan secarik kertas yang dilipat kecil-kecil. "Tau ini apa?"

Aku menggeleng lagi, tetap cemas dan waspada.

Seungri membuka lipatan-lipatannya hingga tulisan-tulisan di kertas itu terlihat semakin jelas dan kelihatannya aku bisa melihat nama dan tanda tangan Kai tertera di pojok kiri bawah.

Oh, tidak.

Itu surat perjanjian kontraknya.

Mau apa orang ini?

"Sudah tahu ini apa?" tanyanya dengan senyum licik tertahan.

Aku menatapnya nanar. "Apa itu surat perjanjian kontrak?"

"Aha!" dia berseru sambil menjentikkan jari. "Good question." Seungri beranjak dari kasur dan melangkah menghampiriku. Lagi-lagi aku terpaksa menahan napas sambil memalingkan wajah saat bau parfum memuakkannya menguasai udara di sekelilingku.

"Ini… adalah… impian Kai," ucapnya lambat dan penuh makna tersirat. "Dia pasti sudah bercerita soal perusahaan konsultan di tujuh Negara. Jadi, sudah tahu kan seberapa pentingnya kertas ini bagi kekasih… ralat, 'suamimu'?" dia mengacungkan dua jari membentuk tanda kutip. "Ini adalah nyawa Kai. Masa depannya, Sehun. Apa kau tidak mau membantu dia?"

Alisku berkerut dan mataku menatap nyalang, penuh tantangan. "Saya masih tidak mengerti, maksud anda apa?"

"Begini, yang namanya kontrak perjanjian itu, hitam diatas putih, pasti masih bisa dibatalkan. Bagaimanapun caranya. Betul tidak?"

Aku menelan ludah getir. For God's sake, jangan bilang dia berniat memerasku dengan cara mempertaruhkan kontrak kerja Kai!? Ckckck. Iblis macam apa yang sedang kuhadapi saat ini?

"T-tolong jangan berbuat seenaknya ya, kau tidak bisa seperti itu. Tidak fair namanya. Mencampur-adukkan antara urusan pribadi ke pekerjaan. Sungguh tidak professional sama sekali," ketusku berusaha tetap tenang meskipun sebenarnya mataku berkeliling mencari-cari gagang sapu atau apapun yang bisa dipakai menggebuki kepala Seungri.

Wajah Seungri bergerak mendekat dan tanganku diam-diam menelusup masuk ke saku celana. "Jangan sok menguliahi soal profesionalisme ya. Justru sekarang ini aku sedang bersikap sangat professional dengan memberikan bantuan kepada rival kerjaku yang payah dan tidak ada apa-apanya. Kalau saja aku tidak tahu kalian sedang menjalin hubungan, mungkin tak akan kubiarkan Kai mendapatkan kontrak kerja ini."

What-the-hell…?!

"See? Sekarang kau sudah tahu kan Sehun? Aku masih menginginkanmu, sayang. Selama ini aku mencarimu kemana-mana. Aku menyesal sekali dulu telah meninggalkanmu, dan kuharap kita bisa memulai semuanya lagi dari awal. Mulai saat ini aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Kita bisa bersatu kembali dan jadi sepasang kekasih, suami-istri atau apapun yang kau inginkan. Tinggalkan kehidupan lama dan mulai lembaran baru. Aku akan memberikan apapun untukmu. Uang, kekayaan, kehormatan, semuanya! Aku lebih baik dari Kim Kai payah dan idiot itu, sayang. Tidakkah kau sadar?"

GILA! Orang ini gila! Dia tidak waras! Apa maksudnya dia berkata begitu sementara dirinya sendiri masih berstatus suami orang?! Apa tadi katanya? Mau memulai semuanya lagi dari awal? Silahkan bermimpi! Yang idiot, payah dan naif itu dia, kan? Bukan Kai.

"Maaf. Terima kasih tawarannya, sangat menggiurkan sekali, tapi sayangnya saya tidak sudi. Pokoknya saya tidak tertarik." jawabku tegas. "Apa saya sudah bisa pergi?"

Waduh. Gawat. Seungri kayaknya mau membunuhku. Wajah memelasnya berganti ke mode menyeramkan lagi.

"Tidak tertarik? Berani sekali kau. Baru kali ini ada perempuan yang menolakku. Sombong sekali! Kalau kontrak kerja ini kubakar apa kau masih tidak tertarik, hm? JAWAB!" dia mencengkram dan menyentak daguku keras-keras.

Pilihan apa yang harus kupertaruhkan disini? Jadi wanita simpanannya Seungri dan merendahkan harga diriku atau membiarkan impian Kai musnah selama-lamanya? Pasti Kai akan merasa kecewa sekali. Dia sudah bekerja keras untuk ini dan aku tak bisa melihat mimpi Kai terbakar di depan mataku begitu saja.

Tapi aku tidak mau hidup bersama serigala dari planet kegelapan ini!

"Tolong jangan macam-macam." tegasku lamat-lamat. "Terimalah kenyataan kalau kita tidak ditakdirkan bersama. Kita sudah punya kehidupan masing-masing sekarang."

Aku meringis menahan sakit saat cengkraman tangan Seungri semakin kuat.

"Dengar ya, sayang. 'Takdir' itu tidak ada dalam kamusku. Apa kau lupa, hah?"

Lupa? Yang kuingat hanya segala kebobrokan yang Seungri semakin menumpuk dan bertambah seiring dengan perkembangan zaman.

"Atau begini saja deh..." ucapnya kaku dan angkuh. "Kalau kau memang segitu takutnya pisah dari Kai tersayangmu…" cibirnya mengejek. "Kita bisa mulai menjalani hubungan ini diam-diam. Pelan-pelan saja dulu. Nikmati. Kita jalani secara professional. Tidak boleh ada yang tahu, bahkan kau tidak perlu mengkhawatirkan istriku yang bodoh itu. Jadi untuk sementara hubungan kita aman dan kita bisa menjalan kehidupan masing-masing sesuai keinginanmu. Dan.. yang paling penting, kontraknya juga aman."

Sampai kiamatpun aku tidak bakalan sudi. Oh my god! Apa laki-laki ini tidak waras, tuli atau apa?

Aku menepis kasar tangannya. "Tadi kan sudah kubilang 'saya-tidak-tertarik'. Tolong jangan memaksa! Anda ini bodoh atau tuli?"

"Kurang ajar! Dasar perempuan sombong!" bentaknya marah sambil melemparku ke ranjang keras-keras. "Sudah cukup bicara baik-baiknya. Perempuan sepertimu tidak bisa dikasih hati!"

"TOLONG! LEPASKAN AKU SIALAN! LEPAS-hmpp! Hmpph!" Kingkong buluk! Buaya bejat! Dia malah membekap mulutku dengan dasi garis-garis bau parfum selusinnya! Aaaarghhh! Seolah belum puas melihatku menderita, Seungri merobek selimut menjadi dua bagian dan dengan cekatan langsung mengikat tangan kanan dan kiriku. Tangan-tangannya seperti sudah terampil sekali dan dia memang diciptakan di dunia ini untuk menyekap wanita-wanita muda di dalam kamar.

Seungri mengikat tanganku kuat-kuat ke tiang kasur sehingga aku hanya bisa meronta-ronta dan menggeliat seperti anak kucing tak berdaya yang tinggal menunggu nasib. Aaaakh! Kemana semua orang? Tolong! Tolong aku! Bedebah ini kuat sekali!

Seungri berusaha menanggalkan seluruh pakaian di tubuhnya. Dia melakukannya super cepat dan terlihat kesetanan. "Tenanglah sayang. Kalau kau diam saja, aku akan bersikap lembut."

Penjahat mesum! Orang gila! AKU TIDAK SUDIIII!

Air mataku sudah tak bisa dibendung lagi. Seungri benar-benar kuat dan mengerikan. Aku sudah tamat. Tidak ada seorangpun yang datang menolongku.

"Kau tidak akan bisa kemana-mana lagi, sayang. Kai tersayangmu tidak akan datang. Sudah kubilang lupakan saja suami palsumu itu." dia tertawa-tawa sinis sambil membuka kancing bajuku satu-persatu. "Aku tahu kalian tidak benar-benar menikah. Ini buktinya dia tidak datang. Apa suami pengecutmu itu sedang bersembunyi? Ckckck. Sehun yang malang…"

Wajah Seungri mulai kabur karena tertutup air mata. Napasku terasa sesak dan pengap karena panik. Bodoh. Betul-betul bodoh. Setelah ini namaku mungkin akan muncul di koran-koran sebagai korban pemerk—

"Sehun!"

Aku tersentak kaget mendengar suara teriakan orang dan pintu yang terbanting keras dibelakang punggung Seungri.

Begitu melongok kearah pintu, aku dikuasai perasaan lega luar biasa melihat Kai beserta teman-temanku dan dua aparat keamanan sudah berdiri disana. Tidak hanya itu, aku juga melihat Taemin, tampak mematung shock dan speechless. Biar tahu dia kalau suaminya ini pria kurang ajar. Bukan aku yang gatal dan tukang penggoda suami orang.

Kai masuk dengan langkah cepat dan wajah merah padam terbakar amarah. Lalu dengan sekali tarikan kuat di kerah baju, Kai berhasil membuat Seungri menjauh dariku dan satu bogem mentah bertenaga maksimal berhasil dia daratkan di wajah Seungri. Aku sempat memekik ngeri melihat darah segar bercucuran dari hidung pria itu. Ternyata Kai jago juga mematahkan hidung orang.

Begitu Seungri bangkit berdiri dan berniat membalas pukulan Kai, dua polisi di pintu menghambur masuk dan lebih sigap menahan tangannya. Memasangkan borgol sementara Seungri meronta-ronta sambil mengeluarkan seluruh isi kebun binatang, sumpah serapah beserta kata-kata ancaman yang sebaiknya tidak usah kita jabarkan demi kepentingan umum.

Aku bisa melihat Taemin datang mendekati Seungri. Menatapnya sebentar dengan ekspresi kaku lalu PLAK! Memberikan tamparan paling keras dan paling terbaik dalam hidupnya, aku berani jamin.

"Akan kuambil semua barang-barang dan mobilku, silahkan tinggalkan rumah itu sekarang juga." desis Taemin persis anggota mafia kejam.

Seungri ketakutan dan kalap sekali, "Sayang, sayang, tungggu. Ini salah paham! Aku tidak mungkin punya niat aneh-aneh. Dengar dulu! Saayaang!"

Taemin hanya diam tak berkutik saat polisi menyeret suaminya pergi dari lokasi. Kalau aku jadi dia, Seungri tidak cuma kuberikan tamparan 'kasih sayang' dan kalimat 'kita cerai', tapi juga tendangan super bertubi-tubi yang mematikan di selangkangannya. Biar sekalian impoten seumur hidup. Dasar penjahat perempuan!

Baekhyun dan Jinyoung berlari kearahku dan melompat memelukku dari kiri dan kanan.

"Sehuuuuun! Kau tidak apa-apa kan? Kau baik-baik saja kan? Apanya yang luka? Apa ada yang sakit? Sudah dibilang jangan datang sendirian masih ngotot sih!" repet Baekhyun bagaikan kompor gas bocor.

Jinyoung melepas ikatan tanganku. "Sehun, kami cemas sekali tahu! Untung ada saksi mata yang melihatmu masuk ke gedung ini. Main pergi duluan saja tidak bilang-bilang."

"Lain kali jangan begitu lagi! Kami tidak mau kau disakiti orang. Apa nanti kata orangtuamu kalau sampai terjadi kenapa-napa? Kan kita juga yang merasa bersalah." dumel Baekhyun setengah jengkel dan khawatir.

Begitu tanganku terbebas, aku melepehkan dasi norak dari mulutku dan melemparnya sembarangan. "Iya deh, maaf, maaf. Habis terpaksa. Yang penting sekarang 'kan aku tidak kenapa-kenapa. Ya… hampir sih. Tapi untung kalian datangnya lebih cepat. Heheh…aduh! HEI!" aku memelototi Baekhyun yang seenak perutnya menoyor jidatku.

"Siapa suruh! Orang khawatir malah ketawa-ketawa." tukasnya galak.

"Apa kau sudah merekam semua perkataannya?" tanya Kai menerobos diantara Jinyoung dan Baekhyun yang mengerubutiku, lalu duduk di sisi ranjang. "Itu bisa jadi bukti kuat di pengadilan nanti."

Aku mengangguk, "Sudah. Ini." aku menggoyang-goyangkan ponselku di depan Kai. "Semuanya tersimpan aman disini."

Dia tersenyum kemudian meraihku dan memelukku erat-erat. "Ya Tuhan, syukurlah kami masih sempat menyusul sebelum terlambat. Tenang saja. Tidak akan ada lagi yang bisa menyakitimu. Aku akan memastikan orang itu benar-benar membusuk di penjara."

Aku menghirup aroma khas di leher Kai, perasaan takut berganti jadi perasaan aman dan terlindungi. Memejamkan mata dan bersandar di dadanya. "Maaf ya. Gara-gara aku impianmu rusak."

Kai mengernyit, "Hah? Impian apa?"

"Tadi Seungri mengancamku, jika aku mau menuruti nafsunya, kontrak kerjamu akan aman dan mimpimu untuk buka kantor cabang di tujuh negara juga bisa terlaksana. Tapi karena aku menolak jadi… yaah, beginilah hasilnya." Aku meringis tanda permohonan maaf yang sangat dalam.

Kai memutar bola mata, cuek. "Persetan kontrak kerja. Aku masih bisa berusaha lagi kapan-kapan. Impianku sekarang adalah menikahi seorang gadis bernama Park Sehun secepatnya."

Aku menengadah, memandangi Kai, pura-pura tidak terkesan dengan lamaran blak-blakannya untuk yang kesekian kali. "Ah? Masa?" cibirku.

"Iya. Yang itu harusnya sudah jelas. Apa perlu dipertanyakan lagi? Atau masih belum percaya?" tanya Kai dengan kening berkerut.

"Percaya kok. Sangat percaya." kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.

Setelah mengucapkannya, barulah aku sadar itu benar. Aku bisa saja menuntut lebih banyak bukti bahwa Kai tidak berselingkuh dan bayi dalam perut Taemin adalah bukan hasil dari perbuatan sesat mereka. Aku bisa saja menyuruh orang memata-matai Kai, lalu menjadi paranoid dan merana seumur hidup.

Pada akhirnya, kita memang harus memilih apakah harus percaya atau tidak. Dan aku sudah memilih. Aku percaya.

.

.

.

.

"Sebenarnya kalian belum menikah?" Taemin memandangi kami takjub.

Aku dan Kai kompak menggeleng.

"Belum, ini ideku." Aku mengakui jujur. "Aku sengaja berbohong di depan Seungri untuk membuat dia mundur dan menjauh. Tapi kayaknya tidak mempan."

Taemin menatap kami bergantian, speechless.

"Damn. Padahal chemistry kalian kuat sekali lho. Aku sudah yakin sekali kalian pasangan suami istri. Makanya… aku… ah, sudahlah." Taemin menghela napas berat. "Aku ingin minta maaf pada kalian, terutama padamu, Sehun." dia tersenyum bersalah kearahku. "Tidak seharusnya aku bersikap kasar seperti waktu di rumah sakit itu. Mengucapkan kalimat-kalimat buruk yang tidak pantas. Aku sadar tindakanku waktu itu sangat sangat sangat keliru sekali. Tidak tahu apa yang kupikirkan, waktu melihat Seungri dan kau di depan toilet aku langsung panas dan… yaa, bertindak… tak masuk akal."

Nah. Itu membuktikan betapa kekanak-kanakannya Taemin. Tapi aku tak bisa sepenuhnya menyalahkan dia. Kyungsoo eonni bilang perasaan dan naluri wanita hamil bisa dua kali lipat lebih sensitif daripada wanita yang sedang datang bulan.

Taemin pasti merasa malu berat, karena dia kebanyakan menunduk meratapi gelas teh di tangannya. Bayangkan saja, dengan pedenya dia telah mengaku-aku bayi dalam perutnya adalah hasil perbuatan mesum Kai sementara orangnya sendiri dengan tegas dan tenang menolak semua itu. Siapa yang tidak malu kalau dibegitukan?

"Tidak apa-apa, eonni." Aku membalas senyumnya seramah dan semaklum mungkin. "Sebagai sesama wanita aku mengerti perasaanmu. Jika suamiku brengsek dan mencium gadis muda di depan toilet, mungkin aku akan bertindak lebih ekstrem seperti… membakar kemaluannya." Aku melirik Kai penuh sindiran tapi dia malah tenang-tenang saja baca Koran. Sial. Cowok ini kelewat santai, sok pura-pura cuek atau apa?

"Dan soal chemistry yang kuat, itu membuktikan bahwa hubunganku kami sangat kokoh, penuh cinta dan tak tergoyahkan." tambahku yang disambut dengan suara batuk-batuk keseleknya Kai. Ada apa sih? Memang benar kan?

Aku bisa melihat Taemin hanya tersenyum lemah memandangi kami. Kasihan juga dia. Salah sendiri mau-maunya dikibuli siluman buaya darat.

"Jadi, apa yang akan eonni lakukan setelah ini, maksudku… setelah kejadian ini? Dengan kehamilan dan sebagainya?" tanyaku hati-hati.

Taemin menyesap tehnya lagi kemudian tersenyum simpul, "Entahlah, aku belum berpikir lebih jauh. Tapi kemarin aku sempat melihat ada brosur liburan ke Hawaii dan berencana akan tinggal disana. Mungkin menetap seumur hidup dan menikahi penjaga pantai."

Aku tergelak. Penjaga pantai?

"Kenapa penjaga pantai?" tanyaku penasaran.

Dia mesam-mesem sambil mengedipkan mata genit. "Ada. Kenalanku di instagram. Sangat tampan. Kami bertemu enam bulan yang lalu saat aku liburan disana."

Ya ampun. Suami-istri ini sama-sama ganjennya!

Setelah mengobrol-ngobrol selama satu jam lebih, nyaris dua jam malah, aku bisa menilai kalau Taemin adalah orang yang cepat bosan dan jarang terikat dalam satu hubungan khusus lebih dari dua tahun (masa berpacarannya yang paling lama baru dengan Kai saja). Kukira dia akan cemas memikirkan bagaimana nasibnya pasca-cerai atau bagaimana kalau sang anak nanti mencari-cari ayah kandungnya, tapi Taemin kelihatan enjoy-enjoy saja tuh. Dia malah berterima kasih pada kami karena telah menyelamatkan hidupnya dari alligator berbahaya seperti Seungri.

Begitu Taemin pamit, aku memesan Rainbow Sundae Ice Cream dan kunikmati berdua dengan Kai.

"Ngomong-ngomong, soal mantan suami Taemin yang sebelumnya, apa kau kenal?" tanyaku sambil menyuapi sesendok es ke mulut Kai.

"Ya." jawab Kai sambil membuka mulutnya lebar-lebar, sekilas mirip bayi kuda nil yang menunggu diberi makan oleh induknya. "Minho. Teman SMA-ku dulu, aku yang mengenalkan mereka."

"Hmm." gumamku setelah beberapa saat. "Begitu. Jadi… apakah Minho yang menceraikan dia? Atau Taemin?" tanyaku berlagak biasa-biasa saja.

"Aku tidak tahu persis," Kai menyeka sudut-sudut bibirnya pakai jari. Aku heran kenapa dia malas sekali menggunakan tisu. Padahal cuma tinggal tarik, selesai. "Yang kudengar-dengar rupanya Minho sudah kembali ke istri lamanya."

"Istri lamanya?" suaraku melengking tinggi seperti roket. "Apa maksudmu… Minho sudah..?"

"Ya. Sebelum sama Taemin, temanku itu sudah pernah menikah dengan orang lain. Taemin mengira mereka sudah berpisah, walaupun belum resmi."

Aku menelan es krim sambil terdiam dan menerawang, berusaha mencerna kalimat Kai barusan.

"Dalam urusan asmara, dia tidak pernah beruntung. Sepertinya dia selalu jatuh cinta pada suami orang dan terjebak dalam situasi rumit."

Aku berusaha tetap tenang. Tarik napas pendek-pendek. Jangan berlebihan.

"Situasi apa?" tanyaku sok enteng.

"Entahlah." Kai membolak-balik Koran tanpa menggubris sendok kedua yang kulayangkan ke mulutnya. "Proses perceraian, skandal dengan dokter senior, macam-macam pokoknya. Seingatku, dulu Seungri juga sudah pernah menikah, aku agak kaget waktu melihat istri Seungri yang turun dari tangga ternyata Taemin. Kusangka dia masih bersama istri lamanya."

Kalau ku-flashback kembali ucapan-ucapan kejam Taemin tempo hari, mendadak aku diserang perasaan mual dan mulas.

Aku berusaha menunjukkan sikap percaya diri dan santai. "Oh… begitu. Jadi… apa aku perlu khawatir?"

Syukurlah, akhirnya Kai berhenti juga menghayati Koran-koran bodoh. Dia menoleh ke wajahku. "Maksudnya?"

"Yaaa… mungkin… dia bisa mencoba pacaran dengan laki-laki yang masih lajang. Maksudku, yang beneran masih single, bukan cowok orang, tunangan orang atau suami orang. Dengan begitu, dia tidak akan terlibat persoalan rumit." Aku tertawa kecil, namun kulihat kening Kai masih berkerut.

"Barangkali dia memang tipe wanita yang gampang kasmaran."

Tipe yang gampang kasmaran? Oh, aku berharap saat sudah menikah nanti, wanita itu betul-betul terjebak dalam pesona si penjaga pantai kemudian lenyap tersapu dasyatnya gelombang Tsunami. Pokoknya apa sajalah! Yang penting dia tidak kembali.

Perebut suami orang, pikiran itu berkelebat di otakku tanpa sempat kucegah.

Well, dia tidak akan bisa merusak rumah tanggaku. Tidak akan kubiarkan! Kai dan aku sudah berjanji untuk saling setia dan butuh lebih dari sekedar cewek berambut kuning untuk memisahkan kami. Aku yakin 101 persen.

.

.

.

TBC—

A/N: Just info saya gak bikin cerita ini jadi terlalu panjang. Maybe bakal ending di chap depan dan ada extra chapter yang nyeritain soal kehidupan Sehun bersama keluarga barunya :)

Udah sampai segini dulu ya. RnR jika berkenan :D