We are MARRIED or NOT?

Main Cast: GS!Sehun, Kai

Support Cast: Banyak

Rating: M

Warning: Mature content in some parts

Genre : Romance, AU, OOC, yadong, genderswitch for uke, comedy, family, friendship, dll

Length: Chaptered

Bahasa: Indonesia campur aduk

Summary Lengkap: Park Sehun, bungsu dari tiga bersaudara. Bekerja sebagai WO memberinya banyak keuntungan, lingkar pertemanan dengan orang-orang sukses, para klien papan atas dan bisnis barternya laris manis. Jika kita gambarkan, rute hidup Sehun adalah kantor-belanja-nongkrong-kantor-belanja-nongkrong-dan-belanja lagi. Si maniak belanja yang tak pernah bisa tahan godaan kalau lihat kata 'DISKON' terpampang besar-besar di depan matanya. Seluruh hidupnya dia habiskan untuk memikirkan obral tas dan sepatu hingga dia tak sempat cari cowok. Sangat boros juga yaaah… bisa dibilang, matrealistis. Namun rute hidup Sehun berubah ketika di ultah yang ke-28, seorang Pria tak diundang bernama Kim Kai tiba-tiba datang ke acaranya dan memberi dia buku 'Manfaat Kerang Bagi Kehidupan'. WTF?!

Sehun yang tadinya ogah menikah malah tergila-gila dan bersedia membuka paha lebar-lebar demi Tuan Kim Kai Yang Terhormat. Demi memuaskan sisi liar terpendam pria itu. Biarpun mereka baru kenal beberapa hari, biarpun Kai pelit dan terlalu hemat. Tapi bukan Sehun namanya kalau tidak silau sama sesuatu yang serba wow. Paket liburan ke Laut Karibia? Seminggu? Bersama suami? Oh, No…

Sehun tidak punya suami! Dia juga sudah terlanjur menolak lamaran aneh Kai. Terus sekarang dia harus bagaimana?! Apa Kai masih berminat melamarnya? Apa Sehun berhasil mendapatkan paket liburan fantastisnya? Well, semoga.


Chapter 8

Sebulan kemudian…

Aku tak percaya bisa sampai sejauh ini. Sejujurnya aku tak bisa percaya ini betul-betul terjadi. Aku sudah memakai gaun pengantin dan rambut extension-ku dihiasi tiara gemerlapan.

Aku seorang pengantin.

Selagi aku diantar Wendy melewati lorong-lorong gedung yang lengang, aku merasa seperti presiden wanita dalam film-film Hollywood.

"Beauty sedang bergerak," gumam Wendy ke headset selagi kami berjalan diatas karpet merah empuk. "Beauty sudah hampir tiba." Kami berbelok di sudut dan aku melihat bayangan diriku di cermin antik besar, sedikit terperangah. Tentu saja aku tahu bagaimana penampilanku. Aku sudah menghabiskan setengah jam di depan cermin suite diatas. Tapi toh, bila melihat bayanganku tanpa sengaja, aku tak bisa berhenti terperangah bahwa gadis menakjubkan dibalik cadar putih nan indah itu adalah aku. Itu aku.

Sebentar lagi aku akan berjalan menuju altar di ruang ballroom yang megah. Empat ratus pasang mata mengamati setiap langkahku. Ya Tuhan.

Ya Tuhan. Apa yang kulakukan?

Ketika melihat pintu ganda ballroom, aku dilanda panik dan perasaan deg-degan luar biasa, jari-jari tanganku menggenggam buket bunga erat-erat. Aku tak mampu melakukannya. Rasanya kepingin kabur saja.

Tapi ini pernikahanku. Impianku sejak lama. Tak ada yang bisa kulakukan selain berjalan maju. Sudah terlambat untuk mundur. Sebentar lagi aku akan menyongsong kehidupan baru. Sebagai istri Tuan Kim Kai. Bukan Park Sehun yang lama lagi. Oke, mungkin aku akan sedikit bersenang-senang di Mall sesekali. Cuma sesekali kok.

Yixing, Jinyoung, Baekhyun dan Sungjong (sepupu Jinyoung) yang bertugas sebagai pendamping pengantin wanita sudah menunggu di dekat pintu, dan waktu aku mendekat, keempat orang itu langsung berdesah kagum bersamaan, kompak terpukau memandangi gaunku.

"Orkes gesek, bersiap untuk Beauty," ujar Wendy sekali lagi berbicara pada headset di kerah bajunya.

"Sehun!" seru Baekhyun sambil memelukku. Keempat wanita itu kompak mengenakan gaun panjang dan mengembang ala gadis-gadis cantik di abad pertengahan, yang tentu saja disesuaikan dengan tema acara. "Kau sangat memukau, dear!"

"Sungguh? Aku oke?"

Baik Jinyoung maupun Sungjong mengangguk bersemangat.

"Spektakuler." tambah Yixing tak berhenti berdecak kagum. Dia merapikan ekor gaunku, mundur sedikit untuk mengamati penampilanku secara keseluruhan, lalu mengeluarkan gunting dan memotong secuil benang yang mencuat.

Wendy maju kedepan pintu dan menatap kami bergantian. "Kalian sudah siap?"

"Sepertinya begitu," aku mewakili menjawab. Masih merasa mual dan grogi berat.

Pintu ganda berayun membuka dan kudengar gemerisik empat ratus tamu berputar di kursi jerami mereka. Para pemain orkestra mulai mengalunkan musik indah yang menjadi theme song Sleeping Beauty, dan keempat pengiring pengantin mulai berjalan mengekor di belakangku. Mengikutiku masuk ke hutan ajaib, sambil diiringi alunan musik lembut. Sedikit kerlap-kerlip pencahayaan diatas kepala kami. Aroma segar pinus menguar dan tercium tepat di bawah kaki kami dan suara burung-burung terdengar riang gembira, sementara di sisi lain ada pemandangan air terjun kecil yang menawan. Entah bagaimana caranya ruangan ballroom yang megah dalam sekejap berubah menjadi suasana di hutan peri dalam Negeri Fantasi. Bunga-bunga di sisi kanan dan kiri bermekaran secara ajaib setiap kali aku melangkahkan kaki, dan daun-daun raksasa berbentuk bulat membentang terbuka di atas kepala kami. Para tamu yang hadir melongo kagum ketika mereka melihat ke sekeliling.

Dan aku bisa melihat Kai di depan sana. Pangeran tampanku. Sedang berdiri menunggu sang putri.

Aku menarik napas sebentar sambil melambatkan langkah, mencoba untuk lebih rileks dan santai. Menikmati enchanted forest yang indah di sekelilingku.

Saat aku melangkah, aku merasa seperti seolah-olah aku seorang primadona balerina yang berhasil melakukan tarian sempurna di atas panggung. Semua mata tertuju padaku. Atau bintang film saat menerima piala Oscar. Aku tahu hal seperti ini tidak akan pernah datang dua kali. Setidaknya tidak dalam hidupku. Tidak akan pernah.

Ketika berhasil mencapai ujung jalan setapak hutan, aku menarik napas dalam-dalam lagi, menghirup atmosfer dari pohon-pohon dan aroma bunga-bunga yang indah. Mencoba menghapalkan setiap detailnya di pikiranku. Menghayati setiap jengkal view-view magisnya. Lalu membuka mata dan tersenyum manis kearah Kai.

Aku berhasil tiba di sisi Kai lalu menyerahkan buket bunga ke tangan Yixing. Melempar senyum hangat untuk Kris oppa, yang hari ini tampak seperti pengawal kerajaan yang rapi dan tampan. Pendeta Han melangkah maju, dia memberi kami senyum simpul, kemudian mengambil napas dalam-dalam saat menghadap ke jemaat.

"Para hadirin yang berbahagia. Kita berkumpul di sini bersama-sama untuk menyaksikan dua anak manusia yang saling mencintai ini mengikrarkan janji suci mereka satu sama lain. Dan untuk bergabung dengan mereka dalam merayakan kebahagiaan itu. Tuhan memberkati semua yang mencintai, dan Tuhan juga tentu memberkati Kai dan Sehun hari ini karena mereka akan bertukar sumpah mereka."

Kai berbalik menghadapku, dan aku bisa mendengar suara-suara berisik dari orang-orang yang mencoba mencari angle-angle yang pas dan mengabadikan momen emas kami dalam kamera.

Tatapan Pendeta Han mengarah ke Kai. "Apakah saudara bersedia dan mau menerima Saudari Park Sehun sebagai istri saudara satu-satunya dan mengasihinya sama seperti anda mengasihi diri sendiri, mengasuh dan merawatnya, menghormati dan memeliharanya dalam keadaan susah dan senang, dalam keadaan kelimpahan atau kekurangan, dalam keadaan sakit dan sehat, serta menaruh kepercayaan padanya mulai dari sekarang dan untuk selama-lamanya?"

"Ya." jawab Kai tegas. "Saya bersedia."

Sekarang Pendeta Han menatapku. "Apakah saudari bersedia dan mau menerima Saudara Kim Jongin sebagai suami saudari satu-satunya dan mengasihinya sama seperti anda mengasihi diri sendiri, mengasuh dan merawatnya, menghormati dan memeliharanya dalam keadaan susah dan senang, dalam keadaan kelimpahan atau kekurangan, dalam keadaan sakit dan sehat, serta menaruh kepercayaan padanya mulai dari sekarang dan untuk selama-lamanya?"

Aku mengangguk, "Ya. Saya bersedia." ucapku, tak dapat menghentikan getaran kecil dalam suaraku.

Setelah itu Pendeta Han menyuruh kami untuk saling bertukar cincin dan berciuman. Seluruh kerabat, keluarga besar, orangtuaku, teman-teman, beberapa klien yang kukenal, teman-teman sekantor Kai, Kris oppa, Chanyeol eonni, teman-teman dosen Suho oppa dan Kyungsoo eonni dan hampir seluruh tetangga kami undang—termasuk Paman Zhoumi, Bibi Kyu, dan Tao—mereka semua berdiri dan sontak memberikan tepuk tangan yang meriah. Bahkan ada suara siulan-siulan iseng yang entah keluar dari mulut siapa.

Fotografer wedding kami mendekat lalu memotret beberapa gambar-gambar kami, lalu teman-temanku maju dan bergantian memelukku. Yixing menyerahkan buket bunga dan aku langsung melemparnya ke para tamu-tamu undangan. Dari sekian banyak tangan dan ketiak yang terangkat, tak disangka-sangka malah Wendy yang berhasil menangkap buket bunga itu.

Aku berdadah-dadah ria ke asisten terbaikku. "Good job, Wen! Semoga cepat menyusul."

Gadis itu cuma senyam-senyum malu, pipinya blushing parah. Tanpa repot-repot membalas lambaian tanganku, dia kembali sok sibuk dengan walkie-talkienya.

Papa dan Mama menyeruak ke depan dan tak mau ketinggalan memberi pelukan kasih sayang. Terutama Mama, ibuku itu sampai menitikkan air mata segala.

"Akhirnya… Sehunku yang cantik, akhirnya…" dia menyeka matanya yang berleleran dengan sapu tangan. "Aku lega sekali. Akhirnya anakku yang paling bungsu laku juga."

Tunggu sebentar. Itu terharu atau menghina?

Fotografer menyuruh keluarga dan teman-temanku berdiri mengelilingi aku dan Kai, lalu menyuruh kami berpose dalam berbagai macam gaya.

Setelah kami puas berfoto-foto, ucapan selamat mengalir deras dan berdatangan dari berbagai lapisan, mulai dari teman-teman kuliah Kai yang tidak kukenali, sampai teman-teman dosen Kyungsoo eonni yang semuanya kelewat akrab dan bolak-balik mengajakku foto bareng. Aku melihat keponakan-keponakan tersayangku bersama teman-teman mereka berlarian-larian menjelajahi hutan fantasi. Sudah kubilang ini bukan ide yang buruk. Tidak sama seperti di acara pernikahan pada umumnya yang membosankan dan dimana kita selalu mendapati anak-anak kecil mulai rewel menarik-narik ujung baju ibu mereka, disini aku melihat mereka semua main kejar-kejaran dan berpetak umpet dibalik pohon-pohon imitasi yang kelihatan seperti asli. Bahkan aku bisa melihat Junkyu melempari burung-burung yang nongkrong di dahan pohon dengan potongan-potongan roti. Dasar anak itu.

"Beauty and Prince, berpindah tempat." perintah suara gaib tanpa tubuh.

Holly earth! Darimana datangnya suara itu?!

Tiba-tiba bola mataku membesar mendapati mikrochip yang sengaja dipasang seseorang dibalik kancing. Apa Wendy yang menanam ini di gaun pengantinku?

"Oi Putri tidur pemalas! Bergeraklah!"

"Oke," aku berbicara pada kancing. "Siap, laksanakan!"

Aku meraih lengan Kai dan menggandenganya berjalan menyusuri hutan.

Saat kami berjalan bersama bergandengan tangan, kami dikejutkan oleh sinar matahari tiba-tiba datang dan menyoroti sesuatu di depan sana, ada suara mendesing, dan aku berkerut heran melihat cabang-cabang pohon di depan kami tersingkap secara otomatis, memunculkan pelangi ber-glitter di langit-langit. Sebuah chorus lagu klasik lembut menerobos masuk disertai awan-awan berbulu turun dari langit. Dan bersamaan dengan itu semua, muncul dua burung merpati warna pink terbang mengitari kepala kami.

Oh Tuhan. Aku cekikikan. Ini terlalu berlebihan. Jadi ini tambahan kecil yang dimaksud Wendy tadi?

Aku menatap Kai, dan kulihat mulutnya berkedut-kedut seperti menahan tawa.

"Apa pendapatmu tentang hutan dan semua ini?" tanyaku. "Keren kan ideku? Oke, kecuali pelangi dan burung-burung itu sih. Tapi tetap saja feelnya berasa nyata, iya kan? Mereka terbang dari pohon ke pohon. Berkicau riang."

"Sangat." Kai mengangguk-angguk sok paham. "Apa orang-orangmu yang membuat burung-burung merpati ini? Mereka terlalu besar untuk jadi merpati. Mereka lebih cocok jadi kalkun." ledek Kai.

Aku terkikik sambil memukul lengannya. "Mereka bukan kalkun!"

"Hidup Kalkun!" Kai berseru sambil meninju udara.

"Shut up!" aku memukul lengannya lagi. "Pokoknya mereka merpati."

Kami melewati barisan tamu-tamu yang berpakaian rapi, semuanya tersenyum pada hangat dan tidak ada seorangpun yang kukenal.

"Siapa sih orang-orang ini?" tukas Kai, mengamati deretan orang asing yang tersenyum pada kami.

Aku mengangkat bahu. "Entahlah. Kukira tadi teman-teman kantormu. Mungkin kenalan-kenalannya Chanyeol eonni."

Kami dan para tamu undangan berpindah ke ruangan lain untuk mengisi perut, disitu sudah tehidang sushi dan kaviar. Kami memotong kue dengan pisau perak besar dan semua orang bersorak. Aku dan Kai makan sushi sebentar kemudian bersulang dengan kakak-kakakku dan teman-teman kami. Band mulai bermain 'The Way You Look Tonight' dan Kai membawaku ke lantai dansa. Kami mulai menari. Dan ini merupakan salah satu momen paling favorit dalam hidupku. Lengan Kai merangkul tubuhku dan kami berdansa seromantis mungkin. Band berganti memainkan musik rockabilly dan mendadak lantai dansa yang tadinya hanya diisi segelintir orangtua, kini dipenuhi pasangan-pasangan muda. Aku hampir bisa mengenali satu-persatu wajah-wajah mereka. Jinyoung dengan Gongchan, Minseok eonni dengan suaminya, Baekhyun dengan Daehyun, Sandeul dengan Baro, serta beberapa mantan klienku yang lain bersama pasangan mereka masing-masing yang tak mungkin kusebutkan karena terlalu banyak. Aku juga melihat Yixing bersama si bule tampan dan Joy—staff marketing di divisiku—mengobrol di dekat patung cupid dengan salah satu pengiring pria yang masih sanak keluarga Suho oppa juga. Lalu aku melihat Tao menari sangat penuh semangat dengan... Wendy! Wow. Kuharap mereka beneran cinlok. Aku lebih mendukung Tao jadian dengan Wendy.

Emm…oh iya, kayaknya aku lupa cerita kalau istri… maksudku, mantan istri Tao yang menyebalkan itu sudah kabur bersama cowok baru yang lebih tampan dan lebih kaya. Syukurlah, semoga proses perceraian mereka cepat selesai. Supaya aku tidak perlu berurusan lagi dengan wanita penyihir dan ibunya yang super judes.

Tatapan kami beralih ke Nyonya Kim, yang duduk di meja VVVIP yang sengaja diletakkan disitu untuk diduduki oleh ibu-ibu pejabat kalangan atas. Ibu Kai mengenakan gaun panjang warna hijau pucat, dan tumpukan kalung berlian besar melingkari lehernya. Sekilas dia tampak seperti toko obral kalung di pinggir…oke, Sehun. Stop! Berhenti menghina ibu mertuamu sendiri.

Dari sini aku masih bisa mendengar sepenggal percakapan-percakapan para ibu-ibu selebriti itu, seperti: "Ini spektakuler..." dan "Sangat imajinatif..."

Mereka tersenyum pada kami. Aku balas tersenyum tapi gigiku terasa agak kering gara-gara kebanyakan pamer senyum ke orang-orang tak dikenal.

Dan kemudian Papaku berdiri di tengah-tengah ruangan, berpidato tentang aku dan Kai. Papa mengatakan bahwa dia dan Mama sering berbicara tentang jenis pria yang nanti akan kunikahi, dan mereka akan selalu setuju pada pilihanku. Lalu ia menatap Kai, Papa mengatakan meskipun pernikahan kami mungkin terlalu cepat, dia akan pelan-pelan menyukai Kai dan mengganggapnya sebagai anak sendiri mulai sekarang. Menurut Papa, ini semua lebih dari sekedar sebuah pesta pernikahan, ini adalah sebuah 'jembatan' yang mempersatukan dua ikatan keluarga. Lalu dia melirik kearahku sambil memberi nasihat-nasihat kecil bahwa aku harus jadi istri yang setia dan selalu mendukung suaminya.

Terakhir, Ibu Kai juga berdiri, dan memperkenalkan dirinya dengan hangat, lalu berbicara tentang Kai. Tentang bagaimana fantastisnya sang anak selama ini tapi juga sangat membutuhkan seorang pendamping untuk menyembuhkan putranya dari sifat terlalu pelit dan perhitungan, hampir semua teman-teman Kai tertawa sambil mengangguk setuju. Nyonya Kim bilang merupakan suatu kehormatan bisa bertemu dengan orang tuaku, dan mengatakan betapa ramahnya mereka pada sekumpulan orang asing. Nyonya Kim lalu bercerita tentang pertemuan pertama kami dulu dan mengatakan dia langsung menyukaiku setelah aku menghabiskan uang satu juta di toko baju-baju pantai, semua orang tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Kemudian dia berkata telah menghadiri banyak acara pernikahan, tapi belum pernah merasakan kepuasan seperti sekarang ini. Dia bilang Kai dan aku ditakdirkan untuk bersatu dan dia sangat menyukai kami berdua. Dan apabila kami dikaruniai anak, mereka akan tahu betapa beruntungnya punya orangtua seperti kami.

Jujur saja, aku cukup shock Ibu Kai yang kaku ternyata bisa mengucapkan pidato sepanjang dan seindah itu, aku nyaris menitikkan air mata.

Seluruh rangkaian acara berlangsung dengan lancar dan tanpa hambatan. Semua orang berbahagia, semua orang tertawa dan semua orang berdansa untuk kami. Merayakan momen paling bahagia yang sudah lama kunanti-nantikan. Kai menggenggam tanganku dan mendaratkan satu ciuman paling manis di depan teman-teman kami yang bersorak heboh. Berebut berusaha mengabadikannya dalam kamera.

Oh, rasanya aku tak ingin ini cepat-cepat berakhir. Bisakah kami menikah lagi dengan tema Aladin?

.

.

.

.

Kami sudah menikah.

Kami benar-benar telah menikah!

Aku mengagumi cincin berkilauan di jariku. Yah, setidaknya cincin yang ini lebih bagus sedikit dari cincin tunangan yang waktu itu. Walaupun harganya tidak terlalu mahal. Ini saja Kai setuju mengadakan pesta pernikahan ala negeri dongeng setelah kubujuk dia berkali-kali dengan embel-embel 'ada potongan harga besar-besaran khusus karyawan Royal Event'. Jadi betapa beruntungnya aku tidak jadi menikah di teras rumahnya. Tentu saja aku menggabungkannya dengan unsur alam karena aku tahu Kai pria yang suka bertualang, meskipun katanya masih lebih bagus hutan sungguhan daripada hutan pohon warna-warni. Duh. Apa suamiku tak bisa diajak sedikit berfantasi?

Taemin tidak datang dan beralasan perutnya sakit, tapi aku punya firasat dia sedang bersenang-senang diatas papan surfing dengan penjaga pantai berotot.

Ah, masa bodohlah dia.

Aku mematut diriku sendiri di depan cermin. Memandangi lingerie berbahan silk yang sengaja kupersiapkan untuk hari ini. Tersenyum percaya diri sambil melatih ekpresi wajah horny terbaikku. Ini malam pertama kami. Dan akan kubuat Kai merasa puas semalaman penuh.

Setelah menyemprot parfum di titik-titik tertentu dan menghiasi bibirku dengan lipstick berwarna lembut, aku merapikan rambut sekali lagi kemudian membuka pintu.

"Ohh… sayaang~" aku berteriak super merdu diambang pintu kamar mandi. "Aku merasa sangat…" mataku membulat kaget melihat Kai sudah terbang ke alam mimpi duluan lengkap dengan kostum pangerannya.

Ya ampun.

Apa kami benar-benar pasangan suami-istri? Kok orang ini malah enak-enakan tidur? Helooo, ini kan malam pertama kami! Dia itu robot atau apa?!

Dengan langkah menghentak-hentak kesal, aku berjalan menghampiri kasur dan memukuli kepala Kai menggunakan bantal paling besar. Pria itu terlonjak bangun sambil megap-megap persis ikan koi sekarat.

"Are you kidding?! Kai, kita ini sudah menikah apa belum sih? Kenapa kau tidak antusias? Ini malam pertama kita! Demi Tuhan." dumelku berkacak pinggang.

Kai mengusap-usap wajahnya sambil menguap lebar, "Ini bukan malam pertama, sayang. Kita sudah melakukan ini lebih dari tiga kali." dia kembali menguap lebar. "Jadi bisakah kita melakukannya nanti-nanti saj..ADUH! Sakit!" protes Kai waktu aku menyerang kepalanya lagi.

"Tidak ada nanti, aku maunya sekarang! Pokoknya ini adalah malam pertama kita." keluhku mengerucutkan bibir, cemberut. Menyilangkan kedua tangan di dada.

"Hun, berhentilah. Kau malah membuatku bergairah dengan pose begitu."

Aku menaikkan alis penuh tantangan, "Oh ya? Bagaimana dengan ini?" kuturunkan dua tali di pundakku hingga mengekspos dua payudaraku dengan jelas, bulat, penuh, dan besar, di depan mata Kai. Aku bisa melihat dia menelan ludah dan mata mengantuknya seperti lampu korslet yang tiba-tiba dialiri tenaga listrik jutaan watt.

"Kaii… apa kau tidak mau menjelajahi pucak gunung yang indah ini bersamaku?" tanyaku sambil menggigiti bibir, sensual.

Sadar Kai masih belum bereaksi, aku semakin memanas-manasinya dengan mendesah sambil memuntir ujung kedua putingku sendiri dengan ibu jari. Aku bisa merasakan bibir vaginaku berkedut-kedut dan celanaku mulai basah hanya dengan melakukanya.

"Enghh… sayaaang~ ini enaak… masa kau tidak mau mencicipi ini?"

Aku sedikit memekik waktu tangan Kai bergerak cepat mencengkram pinggangku dan melemparku keatas ranjang. Berhasil! Sudah kuduga dia tak akan tahan godaan.

Kai melepas semua atribut kerajaannya dengan gerakan maskulin lalu merangkak naik diatas tubuhku.

"Terus terang saja aku sudah bosan dengan gaya bercinta yang ini," dia mengulum senyum. "Tertarik mencoba gaya lain?"

Aku mengangguk lalu mengelus pipi pangeran tampan diatasku. "With my pleasure, daddy…"

Kami tak perlu terlalu banyak embel-embel foreplay seperti kebanyakan orang, Kai selalu berhasil membuatku orgasme berkali-kali hanya dengan permainan sodokannya yang keras namun nikmat tiada tara. Dan terus terang aku lebih menyukai itu. Simpel. Straight to the V.

Dia langsung melucuti pelindung terakhirku dan memutar tubuhku hingga posisi kami terbalik, aku diatas dan Kai dibawah.

"Really? Cowgirl style?" godaku mengerling jahil.

Kai tersenyum miring, "Kenapa? Mau langsung ke doggy?" tantangnya.

Aku balas tersenyum menggoda. "Anything for you, babe."

Perlahan-lahan aku mengarahkan lubang vaginaku keatas penis Kai yang sudah ereksi besar dan siap beraksi. Memasukkan semuanya sambil menggigit bibir menahan rasa perih, dan dengan hati-hati menggerakkan tubuhku naik-turun. Meski kami sudah sering melakukan ini, tak bisa kupungkiri rasanya selalu sakit di awal-awal.

Yeah, di awal-awal.

Sekarang rasanya enak bukan main.

"Ahhh…enghh… ahh… penismu hebat pangeranku sayang!" aku menjerit sambil mendesah sejadi-jadinya. Memompa tubuhku naik turun di selangkangan Kai. Penis kerasnya terus mendorong dan melesat masuk dengan sentakan keras sesuai tempo gerakanku.

"Wooohooo! Terus, tuan putri! Teruus!" Kai balas berteriak hingga nuansa kamar itu beraroma seks kental, bercampur bau keringat dan suara desahan bergelora kami yang bergabung jadi satu.

Selagi aku meloncat-loncat naik-turun di kemaluannya, Kai terus memainkan payudaraku yang bergerak-gerak heboh dan memuntir-muntir putingnya, membuat siksaan yang nikmat ini jadi terasa berlipat-lipat ganda. Sambil meremas dan bermain di puting, tangan Kai yang lain hinggap di bokongku lalu menamparinya. Berhasil membuatku mengeluarkan cairan orgasme.

"Ahhh, sialan! Pegang putingku lagi, daddy! Enaak~emhh…" aku menjerit sambil merubah gerakanku, kalau tadi meloncat-loncat, sekarang berputar searah jarum jam. Penis Kai terus bergesekan disana-sini. Melumasi dinding-dinding rahimku dengan cairan pre-cumnya.

Kai malah menarikku hingga payudaraku menempel di dadanya, lalu meraup bibirku secara brutal dan tanpa ampun. Berusaha membuatnya bengkak dan memerah. Dia mendesahkan namaku berulang kali sambil menggerak-gerakkan bagian bawah tubuhnya naik-turun di dalam lubang kewanitaanku. Aku tak mau kalah dengan menggesek-gesekkan putingku secara kasar ke dada bidangnya yang basah dan beraroma khas. Aroma keringat yang sangat kusukai dan akan jadi wangi favorit nomor dua setelah bau sabunnya.

"Akh! Fuck! Ini nikmat! Lubangmu ketat, sayang…" Kai bergumam di telingaku, mengulum, menjilati cupingnya kemudian mengerang panjang ketika dia berhasil menembakkan peluru-peluru spermanya di dalam diriku.

Aku terengah-engah keras dan ambruk begitu saja diatas tubuh Kai. Oh God. Tidak ada yang senikmat seks kasar diatas ranjang.

"Masih belum selesai," Kai menyeringai licik dan secepat kilat mengganti posisi tubuh kami. Tahu-tahu saja aku sudah menungging dan Kai menepuk-nepuk pantatku hingga menimbulkan bunyi yang lantang.

Tanpa peringatan lagi, pria itu menghujamkan seluruhnya kedalam vaginaku dan kami mendesah keras bersama-sama. Dia memompanya keluar-masuk-keluar-masuk, semakin lama semakin cepat, makin cepat, makin cepat, makin keras hingga aku tak tahan lagi menampung semua sensasi nikmat ini dan membasahi kejantanan Kai dengan cairan orgasme kedua.

Kai membungkukkan badan kedepan lalu menelusupkan kedua tangannya untuk meraih payudaraku, meremasnya dan memutar ujung putingku dengan kedua ibu jari. Aku paling suka kalau dia melakukan itu. Salah satu titik kelemahanku. Aku juga suka waktu Kai menyentil dan menekan-nekan ujungnya dengan jempol-jempolnya yang terampil.

"Ahhh… ahhh…enghhh~ terus, lagi, ahhh… aku akan keluar lagi sayaang!" jeritku mengeluarkan suara mencicit.

"Kita sama-sama ya, aku juga…argh.." Kai terus menusuk dengan cepat sementara dia tak melepaskan cengkraman tangannya di payudaraku.

Sementara menunggu dirinya mencapai klimaks, Kai menciumi punggungku dan mendaratkan kissmark disana-sini. Menjilatinya kemudian mendaratkan satu gigitan lagi. Aku mengejang dan mencengkram seprai kuat-kuat waktu Kai mendorong miliknya lebih dalam, menahannya dengan penuh tekanan dan menembakkan benih-benih hangat bersamaan dengan keluarnya orgasme ketigaku.

Kami sama-sama menghela napas lega dan tiga detik kemudian Kai ambruk menindih punggungku. Menciumi pundakku bertubi-tubi hingga berakhir di tengkuk.

"Yang tadi hebat sekali. Malam yang luar biasa." gumamnya lambat dan dalam.

Aku mendengus geli. "Ya, kalau bukan karena aku, kau pasti melewatkan malam luar biasa ini."

Kai berguling ke samping dan memberiku spasi untuk bernapas lebih leluasa. Dia mengeratkan pelukannya di pinggangku. "Sudah siap jadi ibu?"

Senyumku melebar. "Siap untuk segalanya."

.

.

.

.

PERJANJIAN PRANIKAH

Antara Park Sehun dan Kim Kai

1. Rekening Bank Gabungan

-Rekening gabungan akan digunakan untuk pengeluaran rumah tangga yang diperlukan. Yang dimaksud dengan "keperluan rumah tangga" termasuk rok Miu Miu, sepatu, dan barang-barang lain yang dianggap perlu oleh Mempelai wanita.

-Keperluan Mempelai Wanita tentang pengeluaran semacam itu harus selalu dianggap benar

2. Tanggal-tanggal penting

-Mempelai pria harus selalu mengingat tanggal-tanggal ulang tahun dan peringatan khusus, dan tidak boleh lupa memberikan 'kado kejutan'. Kado kejutan terdiri atas benda-benda yang diam-diam diberi tanda oleh Mempelai Wanita pada katalog dan majalah, kemudian akan disebarkan di tempat-tempat tertentu dalam rumah beberapa minggu sebelum tanggal-tanggal yang dimaksud.

-Mempelai wanita akan memperlihatkan rasa kaget dan senang pada pilihan kado Mempelai pria

3. Rumah Tangga

Mempelai wanita akan berusaha sebaik-baiknya dan sebisanya untuk menjaga kerapian serta kebersihan dalam rumah. TETAPI, kalau tidak berhasil, tak boleh dianggap sebagai pelanggaran kontrak.

4. Transpor

Mempelai pria tak boleh berkomentar apapun tentang kemampuan mengemudi Mempelai wanita dan harus selalu siap sedia kalau dimintai tolong mengantar kemanapun pada hari libur

5. Kehidupan Sosial

-Mempelai wanita berjanji tak akan meminta Mempelai pria bernostalgia atau mengingat semua sejarah cinta dan teman-teman Mempelai pria.

-Mempelai pria wajib memberikan cukup waktu untuk bersenang-senang dan melakukan kegiatan-kegiatan santai

-Berbelanja termasuk kegiatan santai

PS: APA-APAAN INI?!

PPS: Sudah, tanda tangan saja

.

.

.

fin—

A/N: akhirnya tamat jugaaaaa \(^o^)/, happy ending as always. Apa? Gaje? Heheh biarin :p~! Yeahhh! Hope you guys like it and… extra chapternya nyusul belakangan