We are MARRIED or NOT?
Main Cast: GS!Sehun, Kai
Support Cast: Banyak
Rating: K+
Genre : Romance, AU, OOC, yadong, genderswitch for uke, comedy, family, friendship, dll
Length: Chaptered
Bahasa: Indonesia campur aduk
Summary Lengkap: Park Sehun, bungsu dari tiga bersaudara. Bekerja sebagai WO memberinya banyak keuntungan, lingkar pertemanan dengan orang-orang sukses, para klien papan atas dan bisnis barternya laris manis. Jika kita gambarkan, rute hidup Sehun adalah kantor-belanja-nongkrong-kantor-belanja-nongkrong-dan-belanja lagi. Si maniak belanja yang tak pernah bisa tahan godaan kalau lihat kata 'DISKON' terpampang besar-besar di depan matanya. Seluruh hidupnya dia habiskan untuk memikirkan obral tas dan sepatu hingga dia tak sempat cari cowok. Sangat boros juga yaaah… bisa dibilang, matrealistis. Namun rute hidup Sehun berubah ketika di ultah yang ke-28, seorang Pria tak diundang bernama Kim Kai tiba-tiba datang ke acaranya dan memberi dia buku 'Manfaat Kerang Bagi Kehidupan'. WTF?!
Sehun yang tadinya ogah menikah malah tergila-gila dan bersedia membuka paha lebar-lebar demi Tuan Kim Kai Yang Terhormat. Demi memuaskan sisi liar terpendam pria itu. Biarpun mereka baru kenal beberapa hari, biarpun Kai pelit dan terlalu hemat. Tapi bukan Sehun namanya kalau tidak silau sama sesuatu yang serba wow. Paket liburan ke Laut Karibia? Seminggu? Bersama suami? Oh, No…
Sehun tidak punya suami! Dia juga sudah terlanjur menolak lamaran aneh Kai. Terus sekarang dia harus bagaimana?! Apa Kai masih berminat melamarnya? Apa Sehun berhasil mendapatkan paket liburan fantastisnya? Well, semoga.
Mummy & Kiddie
Chapter 9 (Extra Story)
Rabu, 26 Desember 2018…
Oke. Tenang. Jangan panik.
Aku Kim Sehun, wanita dewasa berusia 31 tahun. Aku bisa mengendalikan keadaan. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Bukan putraku yang baru berusia dua tahun dan punya jurus tangisan maut berkekuatan delapan skala richter.
"Mauu! Obotkuuu!"
"Taeoh, sayang… berikan robotnya ya?" aku berusaha terdengar sebijak dan sesabar mungkin. Ini selalu berhasil pada anak-anak Yixing dan Jinyoung. Ayolah, seburuk apa sih anakku sampai dia tidak luluh melihat ibunya yang cantik ini pasang wajah memelas?
"Obotkuuuuu!" dia tetap ngotot sambil memeluk kotak mainan robot lebih kencang.
Sial. Tidak luluh rupanya. Akkhhh! Aku sedang membawa jutaan tas belanja, keringat membanjiri wajahku dan aku benar-benar tidak ingin terjebak dalam situasi ini!
Tadinya semua berjalan lancar. Aku berkeliling mall untuk membeli barang-barang dalam daftar hadiah Natalku untuk semua orang yang kukenal, ralat… mungkin tidak semua juga sih, hanya beberapa. Saat kami dalam perjalanan menuju Rumah Santa, aku melihat rumah boneka Barbie yang cantik dan terpikir akan menghadiahkan itu untuk Sophia, lalu masuk ke dalam toko untuk melihat-lihat. Nah, di toko mainan inilah Taeoh tiba-tiba menemukan belahan jiwanya—robot Transformer warna kuning—yang sampai sekarang dia peluk dan tak mau dilepaskan lagi.
Seorang ibu yang mengenakan skinny jeans J Brand bersama putrinya yang berpakaian apik lewat, memberiku sapuan ala ibu-ibu, dan aku mengernyit kesal. Sapuan ala ibu-ibu jauh lebih keji daripada Sapuan ala wanita gaul metropolitan. Sapuan ala ibu-ibu bukan sekedar memandang dari atas ke bawah dan menaksir harga pakaianmu dalam satu kali pandangan. Tidak. Bukan seperti itu. Sapuan ala ibu-ibu ini juga menilai pakaian anakmu, merk kereta dorongnya, merk popok yang digunakan, pilihan makanan kecil, dan apakah anakmu murah senyum, ileran, atau hobi menjerit-jerit.
Aku tahu semua itu terlalu banyak untuk dinilai dalam satu kali pandangan, tapi percayalah padaku, ibu-ibu sangat jago multitasking.
Dari segi penampilan, Taeoh jelas mendapat skor yang sangat tinggi. Atasan kemeja putih lengan panjang dari Scotch & Soda Boys, celana pendek denim dari Armani Junior, dan sepatu kets Burberry Children. Tapi bukannya tersenyum bak malaikat kecil di foto-foto, dia meronta-ronta seperti banteng liar yang merasa depresi dan ingin kabur dari kandang. Alisnya bertaut penuh amarah, pipinya merah menyala, dan dia bersiap-siap menarik napas untuk mengeluarkan jeritan neraka ronde kedua.
"Sayang," aku berjongkok dan kupeluk Taeoh supaya dia merasa tenang. Seperti yang dianjurkan Ibu-ibu bahagia dalam buku: Menjinakkan Balita yang Sulit. Maksudku, bukan berarti Taeoh sulit dijinakkan, tapi dia itu… apa ya, terlalu bersemangat. Dia memiliki opini yang tegas mengenai banyak hal. Seperti kaos kaki wool (dia tidak mau pakai kaos kaki yang terbuat dari wool), atau sayur (Taeoh agak susah disuruh makan sayur-mayur). Toh, itu bukan salahnya. Bukan cuma dia satu-satunya balita di dunia ini yang tak mau makan sayuran.
"Taeoh sayang, aku sayang sekali padamu," kataku dengan nada lembut dan membujuk sambil mengusap-usap punggungnya. "Mummy akan lebih senang kalau Taeoh berikan mainan robot itu pada Mummy. Ya? Sini mainannya. Oke, anak pintar…" Yes. Yes. Aku hampir berhasil. Jari-jariku sudah hampir mencapai ujung kotak robot…
"Obotkuuuu!" dia melepaskan diri dan berlari menyebrangi ruangan secepat halilintar.
"TAEOHH!" aku menjerit berusaha mengejarnya dengan ribuan kantong belanja di tanganku, dan nyaris terpeleset diatas sepatu clementine hak delapan senti. "Kemari! Berikan itu pada Mummy! Taeoh!"
Taeoh menghilang dengan sangat cepat dan berpindah dari satu celah ke celah lain, gerakannya begitu gesit dan lincah, dia berlari menuju bagian Action Man tanpa menghiraukan teriakanku. Gila! Kalau tahu begini untuk apa para atlit-atlit olimpiade itu capek-capek latihan mengelilingi lapangan setiap hari? Solusinya gampang. Cukup datangkan saja segerombolan balita.
Sementara aku mengejarnya, napasku mulai tersengal-sengal. Oh, itu dia! Akhirnya aku berhasil menangkap pundaknya. "Taeoh! Berikan itu padaku! Dengarkan Mummy!" Ya ampun. Dia memeluk robot kuning konyol itu pakai tenaga super. Sulit sekali dilepaskan!
"Mauuuuuuuuu!" mata hitamnya yang gelap itu berkilat ngotot menghujam mataku. Terkadang aku terkejut ketika menyadari betapa miripnya dia dengan ayahnya. Sorot mata menakutkan yang sama. Wajah yang sama…
Ngomong-ngomong dimana sih Kai? Seharusnya kami berbelanja keperluan Natal bersama sebagai keluarga. Tetapi dia malah menghilang satu jam yang lalu dengan alasan ingin mengangkat telpon dari seorang teman dan sejak saat itu aku belum melihat batang hidungnya lagi sampai sekarang. Barangkali dia sedang duduk-duduk bersantai di suatu tempat, minum cappuccino sambil baca Koran. Dasar!
"Taeoh, kita tidak boleh membelinya." ucapku tegas, masih berusaha adu tarik-tarikan dengan anakku sendiri. "Kau sudah punya banyak sekali mainan robot-robotan dan kau tidak butuh satu robot berwarna kuning lagi."
Seorang wanita dengan rambut gelap berantakan, memakai sweater kelabu, dan membawa balita di kereta kembarnya, mengangguk setuju padaku. Mau tak mau aku ikut-ikut memberikan sapuan ala ibu-ibu kearahnya.
"Mengerikan sekali, bukan?" ucap wanita itu. "Robot itu harganya tujuh puluh ribu won lebih! Anak-anakku sudah tahu sebelum bertanya," tambahnya sambil melirik bangga dua anak laki-lakinya yang duduk merosot di kereta dorong dan kompak menyedot jempol. "Sekali kau menyerah dan lemah terhadap anak-anak, mereka tak akan berhenti. Malah semakin manja. Anak-anakku sudah sangat terlatih."
Dasar tukang pamer.
"Tentu saja," ucapku penuh konspirasi. "Aku setuju sekali."
"Ada saja orangtua yang akan membelikan mainan-mainan mahal untuk anaknya agar supaya mereka diam dan berhenti merengek. Tidak ada disiplin! Sungguh menjijikkan." komentarnya pedas.
"Benar. Mengerikan sekali," aku asal mengangguk sambil diam-diam melirik Taeoh, menunggunya lengah. Pelan-pelan kujulurkan tanganku ke kotak mainannya dan… shit! Anak ini gesit sekali. Dia mengelak lebih cepat.
"Kesalahan terbesar adalah menyerah pada mereka," wanita itu memandangi Taeoh tajam dan dingin. "Itulah yang memulai mimpi buruk."
"Well, aku tak akan menyerah pada putraku." Lalu kupelototi Taeoh, "Kau tidak akan bisa mendapatkan robot itu, Taeoh. Titik!" tukasku galak.
"Obooooot." teriakan ngotot Taeoh berubah menjadi isak tangis yang memilukan hati. Dia memang Drama King! (pasti turunan dari Papa dan Mamaku).
"Semoga berhasil ya," Wanita itu beranjak pergi. "Selamat natal."
"Taeoh, hentikan!" desisku jengkel begitu wanita itu dan dua anak kembarnya menghilang dari pandangan. "Kau bikin malu kita saja! Memang apa bagusnya robot kuning idiot itu?"
"Oboooottt. Mauu…" Taeoh kembali memeluk robot kesayangannya seperti bocah di film-film drama waktu tahu umur anjing peliharannya hanya tinggal dua hari. Bedanya, anak-anak itu terlihat manis dan mengharukan, kalau anakku terlihat menjengkelkan.
"Ini cuma mainan konyol," omelku tak sabar. "Apa bagusnya sih?"
Dan untuk pertama kalinya aku melihat robot di dalam kotak itu secara seksama. Yaa… sebenarnya memang bagus sih. Dominasi warna kuning dan hitamnya menempel dengan sangat apik, robot ini juga tak terbuat dari plastik biasa seperti mainan-mainan kebanyakan. Tapi dari stainless steel yang dipoles hingga berkilauan jika diterpa cahaya lampu, itu yang membuatnya terlihat ekslusif dan 'beda'. Belum lagi set perlengkapan senjata laras panjang milik robot itu semuanya tampak sangat keren dan canggih.
Oke. Aku tidak boleh gampang menyerah. "Kau tidak perlu robot-robotan itu, Taeoh." ucapku tapi tidak sengotot tadi. Masih memperhatikan robot-robotan di pelukan Taeoh.
Hah? Apa aku tidak salah baca? Apa robot ini juga bisa berganti warna dan bertransformasi ke berbagai macam bentuk mobil? Bisa digerakkan juga?
Untuk tujuh puluh ribu won lebih, robot ini lumayan sekali. Kuperhatikan setiap inci dan detail dari si robot kuning. Setelah kupikir-pikir lagi, Taeoh belum punya mainan robot Transformer. Masih ada celah kosong dalam lemarinya.
"Yang itu kena potongan khusus harga Natal, jadi sisa lima puluh lima ribu won saja." tambah si petugas tiba-tiba muncul dibelakangku. "Harga normalnya tujuh puluh sembilan ribu. Ini asli karya pembuat robot-robot terkenal di Jepang."
Wah. Diskonnya besar juga. Mainan canggih yang tidak terlalu mahal tapi keren.
Ternyata si wanita bermata tajam tadi masih berdiri disana dengan kereta bayinya, menyoroti kami.
"Kau akan membelinya begitu saja?" kata wanita itu dengan nada tak percaya.
Ya ampun. Apa urusannya sih? Aku benci ibu-ibu lain! Mereka seolah punya hak untuk selalu ikut campur dalam semua tetek-bengek anakmu.
"Konyol sekali." Si wanita berwajah judes membelokkan kereta dorongnya dan berjalan menjauh. "Kau adalah contoh orangtua yang tidak mendidik. Tak heran anakmu sangat manja." tambahnya sambil menoleh kebelakang. "Sepatunya itu merk apa? Gucci?"
Manja?!
Darah panas menderu naik ke wajahku dan kutatap dia pandangan emosi. Apa-apaan dia? Taeoh tidak manja!
Dan Gucci bahkan tidak membuat sepatu seperti ini.
"Dia tidak manja!" aku balas meneriakinya. Tetapi wanita itu sudah menghilang di tikungan rak depan sana.
Well. Ya sudah. Biarkan saja. Aku tak akan mengejar dia lalu menjambaki rambutnya sambil berseru marah, "Paling tidak anaku sudah bisa jalan dan tidak duduk-duduk saja di kereta dorong seperti anak-anakmu yang pemalas dan suka menghisap jempol!"
Aku tidak akan merendahkan diriku melakukan hal itu. Tidak di depan Taeoh. Karena itu bukan contoh yang baik baginya.
"Ayo, Taeoh." Aku berusaha menguasai diri. "Kita pergi saja menemui Sinterklas. Dan berikan robot itu ke paman ini, biar dibungkuskan."
.
.
.
.
Aku masih tidak bisa menerima kenyataan. Sungguh mustahil. Ada orang yang terang-terangan menghina anakku manja.
Okelah dia memang kadang-kadang suka merajuk. Tapi kita semua pernah begitu kan? Dia tidak manja. Aku pasti tahu kalau Taeoh manja. Yang ibunya kan aku, bukan dia!
Dalam perjalanan menuju ke Rumah Santa, pikiranku tidak tenang dan aku dihantui perasaan gusar. Bagaimana bisa orang itu bersikap kasar? Di depan anak-anak pula.
"Tunjukkan pada semua orang betapa manisnya kau, sayang," tukasku lembut sementara kami jalan bergandengan tangan. "Baik-baiklah pada Sinterklas ya? Supaya kau dapat banyak permen."
Theme song Jingle bells mengalun dari pengeras suara yang tersebar di seluruh sudut Mall, mau tak mau perasaanku berubah jadi gembira ketika kami semakin mendekati area Rumah Santa. Aku ingat sekali dulu juga sering diajak kesini waktu masih kecil.
"Lihat, Taeoh!" aku menunjuk penuh semangat. "Lihat kijang-kijang itu! Lihat semua tumpukan kado itu! Pohon natalnya juga besar sekali ya."
Ada miniatur kereta salju antik, empat kijang berukuran normal, dan gadis-gadis elf berkostum hijau dengan telinga kurcaci panjang. Aku mengerjap kaget di pintu masuk melihat para elf-elf cantik nan seksi itu. Bahkan beberapa diantaranya mempertontonkan belahan dada super rendah. Apa Sinterklas jaman sekarang menemukan elf-elf-nya di agensi majalah Playboy?
"Selamat Natal!" Wanita berambut pirang itu menyambut di pintu masuk, "Jangan lupa datang ke Sumur Harapan dan tulis harapan Natal-mu. Sinterklas akan membacanya nanti!"
"Wah, kaudengar itu, Nak? Kita boleh menyampaikan permintaan kita!" aku menunduk melihat Taeoh yang hanya menatap kakak-kakak peri dengan pandangan kagum.
Lihat kan? Sikapnya manis dan tenang kali ini.
"Sehun! Sini!" aku berpaling dan melihat Mamaku berdiri beberapa meter tak jauh dari kami. Mengenakan scarf dan mantel yang agak ngepas badan sambil memegang kereta dorong Taeoh yang berisi tumpukan kantong dan bingkisan kado. "Sinterklas-nya sedang istirahat minum teh, Jadi kita masih punya banyak waktu untuk mengobrol-ngobrol dulu."
Aku menggandeng Taeoh dan melangkah mendekati Mama, "Lho? Kemana yang lain?"
"Papamu sedang di toko kaset bersama Kris, kakak-kakakmu masih belanja keperluan bahan-bahan makanan, dan Suho sedang menemani Kai. Entahlah mereka dimana. Kalau anak-anak itu lagi main."
Aku mengikuti arah telunjuk Mama dan mendapati Junkyu sedang asik membangun boneka salju bersama Sophia, Dennis main seluncuran dan Zhuyi hanya berdiri tenang di pinggir, merekam tingkah laku adik-adiknya. Yah, aku tak akan heran lagi sekarang. Anak itu kan sudah resmi jadi murid SMP beberapa bulan yang lalu. Oh iya, aku lupa soal Yichan. Putri bungsu Kris oppa dan Chanyeol eonni yang lahir beberapa hari lebih cepat dari Taeoh. Dimana ya anak itu sekarang? Barangkali menempel di kaki ibunya seperti lintah sawah. Habis Yichan itu kebalikannya dari Taeoh. Anak yang sangat sangat sangat pemalu sekali. Aku pernah melihat salah seorang kerabat jauh Kris oppa datang dan menyodorkan Yichan uang dua ribu won, bukannya melompat-lompat senang, anak itu malah berlari kebelakang punggung Kris oppa sambil menangis. Agak aneh sebenarnya. Kalau anak-anak pada umumnya dikasih uang pasti senang, tapi Yichan malah menangis. Aneh kan? Cek-percek ternyata Yichan tidak memiliki gejala phobia langka terhadap uang, dia takut pada orang asing yang berjenis kelamin laki-laki. Kalau melihat siapa saja yang tidak dikenalinya dan berjenis kelamin laki-laki, Yichan pasti menangis sambil bersembunyi dibelakang punggung orangtuanya. Well… syukurlah Taeoh normal. Aku juga pasti kerepotan kalau Taeoh menjerit histeris setiap kali melihat ibu-ibu tak dikenal.
"Kissmas! Kissmaas! Kado!" Taeoh menarik-narik tanganku dengan tenaga supernya lagi sampai-sampai aku mengira tanganku akan copot.
"Pergilah main dengan kakak-kakakmu, Taeoh sayang. Mummy masih ingin mengobrol dengan Grandmuff." Aku memanggil Mamaku dengan panggilan 'Grandmuff' bukan untuk menghinanya, memang begitulah cara Taeoh memanggil Mamaku. Dan ajaibnya Mama tidak protes sama sekali. Malah berusaha meracuni Taeoh untuk memanggil Papaku dengan sebutan 'Granduff', yang langsung dapat penolakan keras dari Papa karena 'Granduff' terdengar sangat bodoh dan jelek sekali katanya.
Taeoh kecil berlari riang memasuki pintu gerbang sambil menyanyikan Jingle Bells dalam versi tupai cempreng. Oh, anakku… Betapa menggemaskannya dia.
"Jadi, apa yang kau beli untuk Kai?" tanya Mama mengalihkan pandanganku dari Taeoh yang sedang mengagumi boneka salju bikinan kakak-kakak sepupunya.
Aku kebingungan mencari-cari kantongan belanja yang berisi kado untuk Kai. Saking banyaknya, semua kantong terlihat mirip di mataku. "Aduh… kayaknya tadi yang ini deh." aku membuka salah satu kantong dan mengeluarkan dasi bermotif garis-garis yang sangat keren. Mama melotot terpana melihatnya. See? Mama saja yang buta motif bisa tahu kalau dasi ini berkualitas. Aku bisa mengarang-ngarang ke Kai dengan mengatakan dasi ini hasil buatan tangan wanita-wanita di pedalaman Guatemala yang kupesan secara online. Dia tak akan curiga. Toh, mana mungkin dia mau mengeceknya?
Masalahnya, sampai sekarang, Kai masih anti memakai produk-produk mahal atau baju-baju rancangan desainer. Agak susah memilihkan kado untuk suamiku itu. Satu-satunya dasi kesukaan Kai cuma dasi turun-temurun dari almarhum ayahnya, yang terus terang agak membosankan juga kalau dipandangi lama-lama. Untung selama setengah tahun terakhir aku berhasil membujuk Kai untuk bergonta-ganti dasi, dengan catatan: harus dibeli di toko murah dan harganya tidak lebih dari seratus won!
Hm… soal kado valentine tumpukan dasi dari penggemar-penggemar rahasianya? Tenang saja. Semua dasi-dasi itu sudah laku terjual di teman-teman kantorku. Dan hasilnya lumayan! Aku bisa beli jaket hoodie baru untuk Taeoh, sepasang anting-anting yang lucu untuk Yichan dan sepatu Prada untuk diriku sendiri.
"Dimana kau membelinya, dear?" tanya Mama.
Aku celingukan lalu membisikkan "Armani" di telinga Mama. Ibuku malah memandang was-was dasi di tanganku seolah-olah benda itu bisa meledak kapan saja.
"Kau yakin Kai tidak bakalan tahu?"
Aku terkikik pelan. "Tenang saja, Ma. Dia kan buta mode. Tapi, Mama jangan bilang-bilang ke Kai ya?"
"Bilang apa?" tiba-tiba Kai muncul dari arah belakang bersama Suho oppa. Diam-diam aku menyusrukkan dasi kedalam kereta dorong Taeoh, sebelum Kai sempat melihatnya.
"Halo, sayang." aku mengecup kedua pipi Kai. "Aku lagi berdiskusi dengan Mama soal baju yang akan dipakai Taeoh pada saat pembaptisannya nanti."
Kai hanya ber-Ooo dengan muka datar. "Pakai saja yang ada. Tidak bakal ada juga yang memperhatikan."
Beginilah suamiku tersayang. Selalu berpikiran 'Apapun yang kau kenakan, orang tidak akan menyadarinya' atau 'Baju bermerk itu tidak akan ketahuan merk-nya kalau sudah menempel di badan'. Bagi Kai semua benda itu sama saja. Tapi jelas bagiku tidak. Karena menurutku, tiap benda itu punya nilai seni tersendiri. Semakin bagus kualitasnya, semakin menentukan seberapa kuat tingkat ketahanannya.
"Ngomong-ngomong, kalian habis darimana?" tanyaku mengalihkan topik.
Suho oppa mengamati tas-tas belanjaanku sambil menggeleng-geleng. "Kami baru saja—"
"Mengobrol dengan Sinterklas?" sambarku asal.
Dia tertawa, "Jangan konyol. Eh iya, ngomong-ngomong mana yang lain?"
Baru saja Mama hendak menjawab ketika Zhuyi berlari-lari panik mendekati kami. "Bibi! Paman! Taeoh! Taeoh!"
Kami menatap Zhuyi dengan kening berkerut.
"Ada apa, sayang? Taeoh kenapa?" tanyaku berusaha santai meski dalam hati sudah siaga satu. Kalau Zhuyi yang super kalem sampai lari-lari begini, berarti anak itu…
Tubuhku kontan membeku begitu menyadari Taeoh sedang melompat-lompat diantara tumpukan kado dibawah pohon Natal. Kemudian naik ke kereta lalu melompat-lompat diatasnya.
"Sial! Lihat itu." aku menarik lengan Kai dan menunjuk kearah Taeoh dengan tatapan ngeri.
"Permisi…" aku langsung melesat maju dan berusaha melewati kerumunan orangtua dan anak-anak. "Taeoh, turun dari sana!"
Taeoh memang turun. Kukira dia akan patuh dan menuruti perintahku. Ternyata anak itu berpindah sasaran ke patung-patung kijang.
"Kuda! Kuda!" Taeoh menendang-nendang kaki salah satu kijang hiasan, meninggalkan bekas penyok yang sangat buruk.
"Kami mohon kepada orangtua anak ini, segera maju dan jauhkan dia dari properti taman bermain," kata salah seorang elf ke Mikrofon. Wajahnya pucat pasi. "Orangtua anak ini? Haloo? Siapa saja?"
Aku dan Kai berlari memasuki area Winter Wonderland dan berusaha menurunkan Taeoh dari panggung hiasan.
"Oke, Taeoh. Pesta sudah usai," tegur Kai. Tungkai kakinya naik keatas panggung. Kedua tangannya terjulur kedepan, berusaha menangkap Taeoh. "Ayo sini. Kemari, Nak."
"Kuda!" Taeoh kembali naik dan menunggangi kijang gabus berkaki penyok itu. "Mau kuda!"
"Ini bukan kuda dan sekarang kau harus turun," Kai memegangi pinggang Taeoh dan berusaha menariknya agar terlepas dari kijang yang malang. Tapi Taeoh malah mengaitkan kedua kakinya di perut si kijang dan menempel dengan kekuatan superhero lagi.
"Bisakah anda turunkan?" tanya si elf yang kesabarannya sudah di ujung tanduk.
Dengan tenaga berlebih, Kai akhirnya sukses melepas cengkraman neraka Taeoh dari si kijang penyok. Menggendong anak itu turun dari panggung sementara Taeoh menangis dan berteriak "Kuda! Kuda! Mau kudaaa!" di telinga Kai.
"Kuda! Mau kudaaaaaaa!" jeritan Taeoh semakin membahana waktu kami melewati pohon Natal.
"Taeoh, jangan!" omelku sambil memandanginya galak. Tidak mempan. Tidak akan pernah mempan. Karena Taeoh malah menendang dada Kai kuat-kuat, kemudian hinggap di pohon Natal.
"Taeoh! Dengarkan Mummy. Lepaskan sekarang juga! Nanti Mummy belikan mainan lagi ya? Taeoh mau apa, sayang?" bujukku sambil berusaha membantu Kai menyingkirkan Taeoh yang memeluk si pohon kuat-kuat. Aku melihat Mama dan Suho oppa juga berlari mendekat dan membantu kami.
Anakku benar-benar luar biasa! Tenaga empat orang dewasa masih belum cukup membuatnya lepas dari Pohon Natal. Dia masih menempel dengan sangat kuat dan erat, seperti Koala. Well, monster Koala.
"Oke," Suho oppa memandangi aku dan Kai penuh konspirasi. "Kalian berdua pegang kakinya, kita akan menariknya secara paksa. Siap? Pada hitungan ketiga. Satu-dua-tiga…"
Oh, tidak. Oh… brengsek. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi mendadak batang pohon Natal itu condong ke kanan. Suara teriakan panik membahana dan aku melihat para orangtua yang takut ketiban pohon langsung mengungsikan anak-anak mereka dari taman bermain. Sebelum aku sempat berkedip, tau-tau saja pohon besar itu tumbang dan seluruh permen-permen koin yang digantung di Pohon Natal berhamburan diatas salju buatan. Lautan anak-anak manusia yang tadinya berdiri di pinggir, kini kembali menghambur kedalam untuk menyerang tumpukan permen-permen koin beserta kado-kadonya.
Ini…
Huru-hara.
"Pemeeen!" jerit Taeoh sambil meronta dan menendang-nendang dada Kai. "Hadiaaahh!"
"Bawa anak itu keluar dari sini!" si elf berteriak garang dan memelototi kami satu-persatu. Kris oppa yang muncul entah darimana tak luput dari pelototan galak si elf. Bahkan Chanyeol eonni dan Kyungsoo eonni, yang mendekati kami dengan kantong berisi daging dan bumbu-bumbu masak, juga kebagian jatah pelototan. "Saya minta seluruh keluarga anda keluar dari taman bermain ini! Sekarang juga!"
"Tapi… kami sungguh-sungguh minta maaf dengan kijang dan pohonnya," ucapku dengan tatapan memohon. "Kami bersedia membayar kerusakan…"
"Tentu saja." timpal Kai.
"Pleasee. Putraku masih ingin bertemu dengan Paman Sinterklas…" aku mengiba. Berharap si elf bakal luluh.
"Sayangnya kami punya peraturan disini," ucap si gadis elf sinis. "Anak yang merusak kijang dan Pohon Natal milik Sinterklas dilarang masuk lagi ke area bermain ini."
Aku beserta seluruh keluargaku kompak melotot kecewa.
"Tidak boleh masuk? Maksudnya?" tanya Kyungsoo eonni membelalakkan mata bola pingpongnya.
"Ya! Anda semua dilarang masuk kesini." tangannya telentang dan menunjuk kearah pintu keluar.
"Wow, anda peri bertelinga lebar yang sangat murah hati sekali!" sindir Mama mendengus sebal. "Ini bukan sepenuhnya salah cucuku. Pohon natal dan kijang sialan itu yang buruk kualitasnya."
Kris oppa berdecak-decak. "Demi Tuhan, anak ini cuma bocah dua tahun dan kau memperlakukannya seperti teroris. Apa masalahmu?"
"Ya, mana bisa begitu?" protes Chanyeol eonni berkacak pinggang. "Aku dan keluargaku adalah para pelanggan loyal disini! Kami tak terima diperlakukan kasar. Akan kami laporkan kau ke Trading Standars!"
"Pergi sajalah." dia masih menunjuk ke pintu keluar dengan ekspresi kesal gara-gara dapat setumpuk komplain. Apapun yang kami katakan keputusannya sudah bulat. Keluarga kami resmi di-black list oleh taman bermain ini. Terserah. Siapa yang butuh Winter Wonderland konyol?
Dengan perasaan malu yang tak tertandingi, kutarik pengangan kereta dorong Taeoh, sementara kakak-kakakku menggiring anak-anak mereka keluar sambil mengomel tidak jelas. Kai berjalan sambil menggendong Taeoh dalam keheningan. Bahkan Mama yang biasanya bawel, kini tak bersuara. Kalau biasanya orang keluar dari taman bermain wajahnya ceria dan bersinar, kami justru sebaliknya, murung dan diliputi aura hitam kesedihan.
Kami disambut oleh Papa yang datang menghampiri dalam jaket tahan airnya, rambutnya yang sudah banyak beruban tersisir rapi.
"Aku ketinggalan, ya?" tanya Papa sambil mengusap-usap rambut Taeoh. "Kau sudah bertemu Sinterklas, Taeoh? Bagaimana Rumah Santa-nya?"
"Tidak jadi," jawabku tersenyum kecut. "Kami semua dilarang masuk ke Rumah Santa."
"Bukan cuma Rumah Santa, tapi seluruh taman bermain." ralat Kyungsoo eonni, menggandeng Junkyu dan langsung jalan duluan, tanpa menoleh lagi. Terus terang aku merasa tak enak pada kakak-kakakku. Anak-anak mereka jadi kena getahnya juga.
Wajah Papa berubah kecewa. "Oh, tidak. Jangan lagi."
Kai mengangguk-angguk sambil mendesah berat. "Begitulah."
"Sudah berapa kali kita diusir?" tanya Chanyeol eonni mengingatkan aku. Entah dia sengaja atau pura-pura lupa.
"Empat." Aku menunduk memandangi Taeoh, yang sekarang tengah berdiri menggandeng tangan Kai dengan manisnya, tampak seperti malaikat kecil.
"Apa yang terjadi kali ini?" Papa menatap kami prihatin. "Dia tidak menggigit telinga Sinterklas lagi, kan?"
"Tidak." jawabku buru-buru. "Tentu saja tidak."
Insiden menggigit-Sinterklas-di-Lotte-World itu sebenarnya kesalahpahaman belaka. Dan Sinterklas-nya benar-benar manja. Maksudku, Taeoh kan cuma bocah dua tahun biasa, bukan anak hasil mutasi yang ganas, sesakit apa sih gigitannya? Dia tak perlu sampai digotong ke pos P3K segala!
"Taeoh memang… agak liar, bukan?" komentar Chanyeol eonni hati-hati sambil merangkul Dennis di kanan dan Sophia di kiri, si kecil Yichan sekarang digendong Kris oppa. Zhuyi tetap seperti biasa, asik sendiri dengan ponselnya, bertingkah seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
"Anak badung," Suho oppa terkekeh sambil menggelitiki dagu Taeoh. "Kau memang biking repot ya."
Mungkin aku yang terlalu sensitif, aku tahu Suho oppa mengatakannya sekedar bercanda dan Chanyeol eonni terlihat sangat cemas memikirkan nasib Taeoh, tapi kosakata 'liar', 'badung' dan 'bikin repot' ini mendadak menyinggung bagian saraf yang rawan.
"Jadi kalian juga beranggapan kalau Taeoh itu manja?" tanyaku memicingkan mata tersinggung. "Jujur saja."
Chanyeol eonni menarik napas panjang. "Well…" dia mulai melirik suaminya, seperti mencari dukungan. "Aku tak mau berkomentar banyak, tapi—"
"Manja?" potong Mama tertawa santai. "Ah, jangan berlebihan begitu. Tidak ada yang salah dengan Taeoh cucu kecilku, ya kan sayang?" dibelainya rambut Taeoh dengan lembut. "Sehun, dear, kau persis Taeoh waktu seumur dia. Persis sama."
Hah? Aku juga pernah mengacaukan seisi taman bermain? Ck. Mama pasti salah. Aku tidak ingat pernah melakukannya. Dahulu kala, diantara ibu-ibu tetangga, aku ini dikenal sangat manis dan baik hati. Oke, mungkin… agak sedikit… terlalu aktif. Tapi seingatku tidak sampai menggigit telinga orang segala.
Waktu menoleh kebelakang, melirik Kai, kulihat dia tercenung dan pikirannya seperti sedang berada di tempat yang nun jauh disana. Dia hanya menatap kosong kedepan. Seolah-olah ada pikiran baru yang membuatnya terbebani.
Astaga.
Hanya gara-gara satu bocah, satu sekeluarga bisa sepusing ini. Kayaknya ini semacam karma atau kutukan dari masa lalu. Barangkali aku memang pernah menggigit telinga seseorang waktu berumur dua tahun dan dia menyumpahiku.
God. Aku tak mau kejadian yang sama terulang kembali pada Taeoh. Semoga Sinterklas yang waktu itu tidak ikut-ikutan mengutuknya juga.
.
.
.
.
Pada saat Taeoh tertidur, aku sudah kembali gembira. Bahkan, aku merasa penuh semangat perayaan. Kami menggantung jejeran kaus kaki Taeoh di tembok dekat perapian dan membungkus hadiah-hadiah Natal untuknya di ruang tengah.
Fyi, Kai memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya di Meksiko, menjual rumah miliknya dan menjalin kerja sama dengan Kris oppa yang berbaik hati mau mensponsori Kai membangun kantor konsultan kecil-kecilan yang lokasi lahannya masih tergabung dalam area Kogas. Jadi, setelah semua persoalan ribet dan lika-liku yang kami jalani, disinilah kami sekarang. Punya rumah sendiri disamping rumah orangtuaku, yang meskipun tak terlalu besar dan mewah, tapi sangat apik dan minimalis. Jenis-jenis rumah idaman yang selalu muncul di majalah dekorasi dan arsitektur.
Sebenarnya kami membeli rumah tepat di sebelah rumah orangtuaku bukan tanpa alasan, aku ingin Taeoh tumbuh dikelilingi saudara-saudara dan kakek-nenek yang sangat menyayanginya. Mengingat kakak-kakakku dan anak-anak mereka sering datang berkunjung kemari, otomatis intensitas kumpul keluarga juga jadi semakin sering dan tali silaturahmi diantara kami terjalin semakin kuat. Lebih bagus begini, dikelilingi keluarga besar, daripada tumbuh besar sendirian di Negeri orang. Kasihan nanti Taeoh tidak punya sanak saudara yang dikenalnya.
Tadinya rumah ini sebelum kami tempati, masih terkesan sangat flat dan boring. Kemudian kami memutuskan untuk merenovasinya dan menggabungkan rumah ini dengan rumah orangtuaku, merobohkan pagar pembatas dan tembok penghalang lalu memasang pintu penghubung yang membuat kami selalu bisa 'bertamu' ke rumah sebelah tanpa harus repot-repot lewat pintu depan. Satu-satunya kekurangan, aku tak punya kamar khusus lagi untuk menyimpan lemari-lemari harta karunku. Gara-gara Kai belum menandatangani proposal 'Mari-Buat-Lemari-Walk-In' milikku, jadi aku mesti bersabar menunggu dan untuk sementara menumpuk semuanya di garasi. Honda terpaksa kami parkir di garasi milik orangtuaku. Salah sendiri Kai tidak setuju aku punya lemari walk in! Padahal ini demi kebaikan bersama juga. Aku punya lemari, dan dia punya tempat untuk memarkir mobil. Selesai.
Aku sudah tiga tahun menikah dengan Kai, tapi sampai sekarang masih belum benar-benar memahami cara berpikirnya.
Kai selesai membungkus puzzle, lalu mengambil Magic Drawing Easel untuk melukis sambil melihat ke sekeliling ruangan, mengerutkan kening di detik berikutnya.
"Berapa banyak hadiah yang didapat Taeoh tahun ini?"
"Sebanyak yang biasa," sahutku malas bertele-tele. Walaupun sesungguhnya, kalau mau jujur, aku sendiri sudah lupa berapa banyak yang kubeli dari katalog dan pameran kerajinan.
"Yang ini sifatnya mendidik!" dengan cepat kusambar Magic Drawing Easel dari tangan Kai dan kucabut label harganya sebelum dia sempat mengintip. "Harganya murah kok. Nih, minum lagi." Kutuang jus Blueberry ke gelas Kai untuk mengalihkan perhatiannya, lalu meraih topi pompom lucu berwarna merah. Topi ini menggemaskan sekali… ada untuk ukuran bayinya juga.
Kalau kami punya bayi lagi, dia bisa mengenakan topi pom-pom kembar yang sangat serasi dengan milik Taeoh. Dan orang-orang di komplek perumahan ini akan memanggil anak-anakku dengan julukan 'Kakak-beradik Bertopi Pom-Pom'.
Mendadak sekelebat bayangan itu muncul dibenakku. Taeoh pakai topi pom-pom berjalan-jalan sore di suatu taman sambil mengendarai sepeda roda empatnya, sementara aku berjalan disampingnya sambil menggendong bayiku yang sedang mengenakan topi pom-pom juga. Oh, itu dia! Kami bisa memberi Taeoh adik perempuan. Mungkin dengan begitu sikap hiperaktifnya bisa hilang dan jiwa bijak ala kakak bertanggung jawabnya akan muncul. Seperti Zhuyi. Dulu dia nakal waktu seumuran Taeoh, walaupun jenis kenakalan yang bisa dilakukan Zhuyi hanya jatuh dari pohon karena ingin menyelamatkan seekor kucing…
Itu bukan kenakalan ya? Baiklah.
"Sehun? Huun? Selotip!"
Aku tersentak sadar dan baru menyadari kalau Kai sudah memanggil-manggil namaku daritadi. "Oh iya, ini. Maaf." Sambil menyerahkan selotip ke tangan Kai, tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepalaku. Kugoyangkan-goyangkan topi pom-pom itu di depan wajah Kai. "Bagus sekali kan? Ada untuk bayinya juga lho."
Aku sengaja menciptakan kesan hening. Membiarkan kata 'bayi' menggantung di udara dan berusaha mentransfer pesan telepati 'suami-istri' ke kepala Kai.
"Ck, selotipnya habis. Apa kita punya selotip lain?"
Percuma. Kekuatan telepati jelas-jelas tak akan mempan pada Kai.
Mungkin aku harus memperkenalkan wacana ini secara 'halus'. Yixing pernah membujuk suaminya untuk pergi liburan ke Disneyland, dan Yixing benar-benar sukses melaksanakan 'niat tersembunyi' itu secara halus. Saking halusnya, sampai-sampai Julien baru sadar telah dikibuli begitu mereka sudah duduk di pesawat. Asal kalian tahu, Julien ya Julien (manis, perhatian dan tidak curigaan). Beda dengan Kai yang selalu waspada aku merencanakan sesuatu padahal sebetulnya TIDAK.
Apa gunanya meninggalkan jeda penuh arti dalam percakapan kalau tidak ada yang perduli? Sudah cukup pakai strategi telepati, ternyata tidak semulus yang kukira.
"Kai, ayo kita membuat bayi lagi!" semburku tanpa bisa kutahan. "Malam ini!"
Sunyi senyap selama beberapa saat.
Kai mendongak dari kesibukannya mencari selotip, menatapku tercengang. "Sehun. Apa kau sudah gila?"
Aku membalas tatapannya, tersinggung. "Tentu saja aku tidak gila! Kalau dipikir-pikir, lebih bagus kita memberikan adik perempuan untuk Taeoh. Iya kan?"
"Sweety," Kai berjongkok di depanku. "Kita bahkan tak bisa mengendalikan satu anak. Bagaimana jadinya kalau dua? Kau lihat sendiri kan perilaku Taeoh tadi?"
Oh, jangan dia juga.
"Apa maksudmu?" aku tak bisa menahan nada terluka dalam suaraku. "Kau juga beranggapan anak kita manja?"
Kai menghela napas dalam-dalam sambil duduk dalam posisi bersila. "Aku tidak bilang begitu. Tapi kau harus mengakui fakta kalau anak kita memang… tidak terkendali." ucapnya hati-hati.
"Itu tidak benar!" bantahku defensif.
"Sayang, lihat saja fakta-fakta yang ada. Dia dilarang masuk di empat Rumah Santa," Kai mulai menghitung dengan jari-jarinya. "Juga Katedral Myeongdong. Dan termasuk insiden di tempat kerjamu. Belum lagi kekacauan di Harvey Nichols waktu itu."
Argh! Apakah dia akan selama-lamanya menyalahkan Taeoh atas itu semua? Kalau yang di Katedral Myeongdong itu gara-gara Ravi yang meletakkan remote kontrol lampu di sembarang tempat, jadi bukan sepenuhnya salah Taeoh 'kan kalau efek lampu berubah jadi laser waktu Daehyun dan Baekhyun mengucapkan janji suci?
"Dia hanya terlalu bersemangat!" aku membela dengan penuh defensif. "Mungkin ada baiknya kalau dia punya adik bayi."
"Dan membuat kita gila," sambung Kai sambil menggeleng. "Sehun, ada baiknya kita menahan diri dulu untuk urusan yang satu ini, oke?"
Aku merasa kecewa sekali mendengar pernyataan Kai. Aku tidak ingin menahan diri. Aku ingin punya dua anak dengan topi pom-pom kembar.
"Kai, aku sudah memikirkan ini matang-matang. Aku ingin Taeoh punya sahabat sepanjang hidupnya dan tidak tumbuh besar sebagai anak tunggal. Aku juga tidak mau usia anak-anak kita terpaut terlalu jauh. Dan aku masih punya banyak voucher di Baby World yang nyaris habis masa berlakunya karena tidak pernah kupakai!"
Kai memutar bola mata. "Sayang, kita tidak boleh membuat bayi hanya gara-gara kau masih punya banyak voucher di Baby World. Bukan begitu caranya."
Oh, sudahlah. Tuan Kim Kai selalu punya alasan untuk membantah argumenku. Dia memang tidak kepingin punya anak lagi! Hanya saja dia terlalu banyak menghindar dan berkelit.
"Jadi apa intinya?" aku memicingkan mata. "Kita tidak akan pernah punya bayi lagi seumur hidup?"
Kai menampilkan ekspresi berhati-hati. Sesaat dia tidak menjawab, tapi hanya melipat dan membungkus kado, merapikan tiap sudut dengan sempurna dan menghaluskan selotip dengan jempolnya. Dia mirip orang yang sedang menunda pembicaraan karena itu topik yang rawan.
Aku memandangi Kai dengan rasa kecewa yang besar. Sejak kapan punya anak lagi termasuk topik rawan?
"Mungkin…" dia menghela napas dalam. "Suatu saat nanti aku ingin punya anak lagi."
Bohong. Dia tak pernah terdengar selesu itu. Berarti benar dugaanku.
"Begitu ya," aku menelan ludah, tak kalah lesu. "Aku mengerti."
"Sayang, jangan salah paham dulu. Memiliki Taeoh… sangat sempurna. Aku menyayangi Taeoh. Sangat sayang padanya. Tapi… dua anak? Aku ragu bisa membagi kasih sayangku nanti dengan sama rata dan sama adilnya."
Mata Kai menatap mataku lurus-lurus dan aku terlalu jujur sehingga akhirnya memilih mengangguk tanpa suara.
"Pokoknya kita tidak siap untuk memiliki bayi lagi. Tahun ini bisnisku agak kurang stabil, ada banyak tagihan kartu kredit yang harus dibayar, Taeoh merepotkan, dan kita kewalahan. Kita lupakan saja dulu ide itu. Mari kita nikmati Natal tahun ini bertiga saja dulu. Soal bayi, kita bicarakan saja lagi pas Natal tahun depan."
Tahun depan?
"Itu masih lama sekali!" sungutku dengan suara bergetar. "Aku berharap kita sudah punya bayi sebelum Natal tahun depan! Aku bahkan sudah punya nama yang bagus kalau kita membuat anak malam ini. Yuna atau… Selly."
"Sayang..." Kai menggenggam kedua tanganku. "Kalau kita bisa melalui satu hari saja tanpa insiden, mungkin pikiranku akan berubah."
"Kita bisa melalui satu hari tanpa insiden. Taeoh tidak separah itu!" tandasku.
"Memangnya pernah ada satu hari berlalu di keluarga kita tanpa kekacauan?" tanya Kai skeptis.
"Oke," sentakku dengan agak marah. "Kalau begitu aku akan membuat 'Buku Insiden Taeoh' dan aku berani bertaruh besok tidak akan ada isinya. Taeoh pasti bisa bersikap manis dalam sehari! Lihat saja besok!"
.
.
.
.
Kamis, 27 Desember 2018…
Aku menyesap kopi dan dengan riang menikmati gigitan demi gigitan coklat Chunky Bar putih. Astaga, aku sangat menyukai Natal. Di rumah tercium aroma kalkun panggang dan remah-remah kue yang lezat, lagu-lagu Natal terdengar melalui pengeras suara, dan Papaku memecah kacang di dekat perapian. Kurasakan pendar hangat ketika aku menatap ke sekeliling ruang duduk, sejauh mata memandang ada lampu kelap-kelip dan patung-patung kaca hiasan meja yang sudah dimiliki keluargaku sejak aku masih kecil.
"Ya, aku punya dokumennya…" Kai berjalan melewatiku menuju tangga sambil berbicara di telponnya. "Kalau kau bisa memeriksa perjanjian Tuan Anderson sebentar… Oh, ya, ya. Baiklah. Aku akan tiba di kantor pukul tiga. Ada beberapa hal yang perlu kita bereskan disini. Thanks infonya, kawan."
"Kai!" tegurku marah ketika dia mematikan ponsel. "Tak bisakah kau bersantai sebentar tanpa ponsel ditelingamu? Ini Natal!"
Kai tidak melambatkan langkahnya sedikitpun di tangga. "Ini bukan Natal, sayang."
"Ini Natal." Aku kekeuh.
"Di keluarga Park, barangkali. Di tempat lain sekarang tanggal 27 Desember dan orang-orang sudah melanjutkan aktivitas mereka masing-masing."
Geez! Apa dia harus sesaklek itu ya?
Saat Kai menghilang ke lantai dua, aku mendengar suara bel pintu berbunyi dari arah depan. Segera saja aku melangkah menuju pintu utama untuk membukanya.
"Sehun!" Yixing menghambur ke pelukanku.
"Yixing!" aku mengulurkan lengan memeluknya.
Hari ini Yixing tampak menawan dengan mantel shearling hitam, rambutnya yang pirang panjang tergerai indah. Julien tetap terlihat tampan meski hanya memakai jaket Barbour lama, dan Anson—anak mereka yang lebih mewarisi tampang Yixing hanya saja ini versi cowoknya—mengenakan sweater bergambar rusa kutub berhidung merah.
"Selamat Natal, Bibi Sehun." seru Anson ceria, memperlihatkan kedua lesung pipitnya yang manis. Aku menggendong dan memelukya erat-erat kemudian mendaratkan kecupan gemas bertubi-tubi di pipinya sampai Anson terkikik-kikik karena geli.
"Selamat Natal, ya." Julien menyalamiku khidmat.
Aku membalas jabat tangannya. "Ya, sama-sama."
"Yixing honey! Selamat Natal!" Mama tiba-tiba muncul dari pintu dapur dan langsung menghambur memeluk Yixing. Lalu dia menoleh ke Julien, "Dan Jul—" dia terdiam sebentar. "Sir Julien Kang…" dia melirik kearahku dengan gugup. "Sir Mister Pilot Julien Kang. Atau… Mister Sir Pilot Julien Kang?"
Julien tertawa sambil menggeleng-geleng geli. "Sudahlah, Nyonya Park. Julien saja tidak apa-apa." Mungkin Mamaku mengira para awak di pesawat punya semacam panggilan kehormatan untuk pilot mereka.
"Kau mendapat hadiah Natal yang bagus, oppa?" tanyaku.
Aku membelikan dia satu set alat mandi aromaterapi yang keren sekali, dia pasti akan menyukainya. Atau paling tidak, Yixing yang akan menyukainya.
"Tentu." Julien mengangguk penuh semangat. "Yixing membelikanku Domba Merino yang bagus sekali. Surprisee!"
Domba? Maksudnya mantel bulu domba?
"Wah, sepertinya bagus!" seruku. "Merino memang sedang trendi sekarang. Kau juga harus melihat koleksi Smedley, kau pasti akan suka."
"Smedley?" Julien tampak kebingungan. "Aku baru dengar jenis domba seperti itu. Apa ras yang baru diciptakan para ilmuwan?"
Astaga! "Smedley, John Smedley, desainer itu! Pasti keren sekali kalau dipadukan sama sweater berleher tinggi."
Julien melongo bengong dan tawa Yixing meledak.
"Hun, aku tidak membelikan suamiku mantel bulu domba. Aku membelikan dia domba yang asli. Domba yang belum disunat."
Domba yang belum disunat? Hadiah natal macam apa itu?
"Bagaimana kalau anak-anak kumpul di dapur untuk minum jus dan makan biskuit?" Mama mengambil alih Anson dari tanganku. "Taeoh? Dimana Taeoh? Taeoh sayang, kemarilah! Ini ada temanmu datang."
Seperti bola api, Taeoh melesat cepat keluar dari dapur dengan topi pom-pom dan kostum Superman berjubah merah yang tidak mau dia lepaskan sejak dia temukan dalam kaos kaki hadiahnya.
"Mayo!" teriaknya penuh kemenangan sambil mengacungkan botol Mayonaise ke mantel Yixing yang cantik. "Mayo! Mayo! Mayo!"
Aku kontan membeku.
Oh, tidak. Jangan, jangan, jangaan! Darimana dia bisa mendapatkan botol itu? Kami selalu menaruh semua botol-botol di rumah ini di tempat yang sangat tinggi supaya Taeoh tidak bisa meraihnya. Dan entah bagaimana caranya dia bisa mendapatkan botol Mayonaise itu…
"Taeoh jangan!" aku hendak menyambar botol di tangannya, tapi anakku lebih cepat menghindar.
"Mayoooo!" cairan kuning nan kental itu menyembur di udara sebelum aku sempat menarik napas. Segala-galanya berlangsung slow motion seperti dalam film Matrix. Yixing beringsut mundur ke pintu untuk menjauh dari marabahaya sementara Julien melompat kedepannya dengan gaya heroik. Akhir dari semua itu, cairan kuning mayo mendarat dengan sangat cantik di jaket Bourbon miliknya. Seisis ruangan kontan membelalak waktu Taeoh berlari kesana-kemari sambil menyemburkan isi cairan Mayonaise ke udara, disini kejadiannya kembali berputar secara slow motion. Aku bisa melihat Kai berlari turun dari tangga dengan mulut menganga, Mama hampir tersandung kotak kado gara-gara mengejar Taeoh, Anson bertepuk tangan senang dalam gendongan Mama, Yixing dan Julien masih betah melongo di pintu.
"Sini!" akhirnya aku berhasil menjebak Taeoh dan merebut botolnya. "Anak nakal! Duh, maaf ya…" aku membungkuk meminta maaf pada Yixing dan Julien, tidak berani menatap mata Kai.
"Oh, tidak apa-apa," ujar Yixing santai. "Aku yakin dia tidak sengaja. Ya kan sayang?" dia mengelus-elus kepala Taeoh.
"Tentu saja," celetuk Julien tenang. "Toh tidak kenapa-kenapa, cuma jaket…" dengan kikuk dia memandangi cairan kuning kental di jaketnya yang menetes-netes turun ke lantai.
"Biar kucucikan," segera kuraih jaket itu dari tangan Julien waktu dia melepasnya. "Spontanitas yang bagus, oppa. Kau gesit juga." pujiku.
"Oh, bukan apa-apa." dia garuk-garuk kepala salah tingkah dan tampak agak merona. "Siapapun bisa melakukannya."
Itu menunjukkan betapa cintanya Julien pada Yixing. Dia meluncur kedepan istrinya tanpa keraguan sedikitpun. Sebenarnya romantis juga.
Aku bertanya-tanya apakah juga Kai akan menghadang peluru saus Mayonaise demi aku? Nanti kutanyakan. Sambil lalu saja.
"Aku benar-benar minta maaf atas perilaku putra kami," tukas Kai ikut membungkuk dalam-dalam, ada nada tertahan dalam suaranya.
Hancur sudah kesempatanku untuk punya anak lagi.
.
.
.
.
Jumat, 28 Desember 2018…
Aku selesai memulas lipgloss dan berdiri untuk mengamati pantulanku di cermin. Kuharap Kai bisa lebih gembira dan rileks hari ini, bagaimanapun ini 'kan hari istimewa anaknya.
Kurapikan pakaianku dan aku berputar sedikit di depan cermin. Aku mengenakan gaun biru tua menakjubkan dengan tepian bulu buatan, sepatu bot tinggi berkancing, serta sarung tangan bulu-bulu tebal. Plus, mantel panjang yang tepiannya dihiasi kepangan, serta topi bulu buatan yang besar.
Taeoh duduk di ranjang sambil mencoba-coba koleksi kacamata hitam milikku, kegiatan yang paling disukainya. Dia mengenakan jaket hoodie keren yang pinggiran bawahnya ada sedikit aksen bulu-bulu tebal, celana denim panjang, dan sepatu bot coklat. Pokoknya penampilan Taeoh hari ini seperti anak-anak penduduk di kutub selatan. Disesuaikan temanya, Rusia, jadi kami sengaja memakai pakaian yang didominasi bulu-bulu tebal.
"Ayo, Taeoh. Sudah saatnya berangkat untuk dibaptis! Lepas kacamata itu."
"Mau." pipinya menggembung cemberut. "Kacamataku."
Ya ampun. Dia mulai lagi.
Tapi Taeoh tampak sangat lucu sekaligus menggemaskan dengan kacamata hitam itu. Bingkai kacamata yang bulat dan besar berkali-kali melorot di hidung mininya. Wajah mungil Taeoh tenggelam dibalik kacamata. Lucu sekali kan? Aku jadi tidak sampai hati untuk merebut. Memangnya jadi masalah ya kalau dia dibaptis pakai kacamata hitam?
"Oke, darling." Aku mengalah. "Kau bisa pakai kacamata. Sekarang, kita berangkat." Kuularkan tangan, berniat menggendongnya.
"Mauu!" tiba-tiba dia memeluk tas koper hitam milik Kai yang tergeletak diatas ranjang. Sekarang Taeoh tenggelam dibalik koper besar. "Mau. Mauuuu."
"Taeoh sayang, itu tas milik Daddy." tegasku sambil berkacak pinggang. "Kau punya tasmu sendiri yang kecil. Bagaimana kalau kita cari?"
"Mauuuuu! Tas! Mauuuuuuu!" jeritnya marah sambil beringsut mundur menjauhiku. Dia memegangi tas koper itu seperti pelampung terakhir di lautan dan dia tidak akan menyerahkannya pada siapapun.
"Taeoh…" aku mendesah lelah. Jujur saja aku sedang tidak mood untuk main tarik-ulur hari ini dengan anakku. "Well, baiklah. Kau boleh membawa yang itu. Tapi hanya untuk hari ini. Sekarang, berikan topi itu…"
"Mauuuu! Mau topiiiiii!"
Dia memakai topi koboi hadiah ulang tahunku untuk Kai tahun lalu, meskipun sampai sekarang tak pernah dipakainya dan hanya dibiarkan tergeletak digantungan. Dan Taeoh baru saja memanjat naik dari meja rias demi untuk meraih topi kobi lebar itu.
"Taeoh, kau tidak boleh pergi ke baptisanmu pakai topi koboi! Jangan konyol!" omelku berusaha terdengar galak. Walaupun sebenarnya, penampilan Taeoh oke juga. Topi koboi kebesaran, kacamata hitam kedodoran, koper hitam raksasa… dia jadi mirip anggota mafia yang salah minum ramuan dan akhirnya menyusut jadi bocah dua tahun.
"Well… baiklah," ujarku mengalah lagi. "Asal jangan dirusak."
Sementara kami berdiri di depan cermin dengan pakaian Rusia kami, mau tak mau ada semburan rasa bangga di dalam diriku. Mungkin hari ini akan bisa mengubah pendapat Kai. Dia akan melihat betapa menggemaskannya Taeoh lalu hatinya akan langsung melembut, bisa jadi dia akan langsung minta sepuluh anak.
Ngomong-ngomong, dimana suamiku? Tadi katanya ada urusan yang harus dia bereskan di kantor dan dia berangkat pagi-pagi sekali. Dia bilang sih mau pulang sebelum pukul sebelas. Tapi sampai sekarang aku belum mendapat kabar darinya.
.
.
.
.
Gereja sudah hampir dipenuhi oleh tamu ketika kami masuk, dan aku berkeliling, menyapa teman-teman Papa dan Mamaku yang duduk diseberang sana. Lalu Mama menggandeng tangan Taeoh, dipamerkan ke ibu-ibu tetangga, dan semuanya memuji-muji dia. Terkadang aku merasa iri pada Taeoh, jadi bocah dua tahun kayaknya membahagiakan sekali, kau bisa berbuat apapun dan semua orang tetap memuji-muji dirimu sambil bilang, "Duuuh lucunyaa!". Coba kalau Taeoh di usia dua puluh, datang ke Gereja mengenakan topi koboi, kacamata hitam dan tas koper hitam, dia pasti akan langsung diusir karena dikira penjahat.
"Hunnie!" aku berpaling dan melihat Jinyoung datang tergopoh-gopoh menggendong bayi sementara Gongchan menggandeng Jeongmin yang juga sebaya Taeoh. Dia terlihat sangat menawan dengan mantel border ungu dan bot berhiaskan bulu-bulu. Tapi sayang rambutnya digelung pakai pengaduk plastik Starbucks.
"Itu…"
Jinyoung meringis. "Sori, habisnya aku sedang kehabisan jepit rambut. Jeongmin mendadak punya kebiasaan baru, dia suka menyembunyikan barang-barang milikku dan Gongchan, termasuk jepit rambut. Aku cemas dia akan jadi pengutil kelas kakap di masa depan nanti." ujarnya sambil menatap khawatir kearah Jeongmin.
Jika dibandingkan dengan Jeongmin, Taeoh berarti masih termasuk dalam kategori 'aman'. Aku tak bisa membayangkan apa jadinya kalau anakku punya hobi menyembunyikan barang-barang.
"Hai, nuna." sapa Gongchan menyalami tanganku. Terkadang berdiri di dekat pria itu membuatku merasa berpuluh-puluh tahun lebih tua. Habis dia selalu memanggil semua teman-teman istrinya dengan 'Nuna' yang membuat aura daun mudanya menguar semakin kental. Gongchan melakukannya bukan karena dia ingin sok dianggap muda, tapi memang ada jarak enam tahun yang cukup jauh antara dia dan istrinya. Sangat tidak mengherankan sebenarnya, mengingat selera Jinyoung daridulu adalah brondong-brondong fresh berwajah cute.
"Halo juga," aku balas menyalaminya.
"Apa—"
"Eh iya, tadi Yixing dan Baekhyun mengabariku, katanya mereka lagi di jalan. Mungkin lima menit lagi tiba," sambar Jinyoung, membuat Gongchan batal buka mulut.
Aku tersenyum antusias. "Oh, baguslah. Kakak-kakakku juga barusan mengabari, mereka lagi di perjalanan juga."
Mendadak Pendeta Han muncul, tampak keren dengan jubah putihnya.
"Oh, halo." Aku tersenyum sambil menjabat tangannya formal. "Bagaimana kabar anda?"
"Kabarku baik. Senang bertemu denganmu lagi, Sehun." Pendeta Han sangat hebat. Dia bukan pendeta supersuci yang membuatmu-bersalah-atas-semuanya. Dia tipe pendeta yang ayo-minum-gin-dan-tonik-sebelum-makan-siang. Istrinya bekerja sebagai Manager di sebuah Departemen Store, dan Pastor Han sendiri selalu mengendarai jaguar kemana-mana.
"Nah, kudengar-dengar Kai ada halangan hari ini?"
"Dia akan segera datang," kusilangkan jariku dibelakang punggung. "Sebentar lagi pasti datang."
Dia menyeringai. "Bagus. Karena waktu kita agak mepet."
"Apa-apaan tema sialan bulu-bulu ini?" aku mendengar seseorang mengumpat dari arah belakang. Ternyata rombongannya Baekhyun dan Yixing sudah tiba. Aku bergerak hendak memeluk Baekhyun, tapi dia malah mengangkat sebelah tangan menahanku. "Eits! Kau tahu? Gara-gara tema ini aku harus beli baju baru serba bulu-bulu, apa kau lupa aku alergi pada bulu?" dumelnya cerewet seperti biasa.
Yixing mengibaskan tangan sambil memutar bola mata. "Ah, lebay! Palingan besok bekas ruamnya sudah hilang." dia menoleh ke aku. "Jangan dengarkan nenek bawel ini, Sehun. Oh iya, ngomong-ngomong, dimana putra baptisku?"
Aku celingukan kesana-kemari. "Dia ada di suatu tempat bersama Papa dan…" aku mengedarkan pandanganku mencari Taeoh, dan melihatnya sekitar sepuluh meter dariku, berdiri dengan sekelompok bapak-bapak yang sepertinya teman kantor Papa dulu. Ya ampun, apa yang dia lakukan disana? Tangannya terjulur kedepan dan salah seorang bapak hanya tertawa-tawa sambil menyerahkan ponselnya. ASTAGA. Apa anakku baru saja memeras sekumpulan orangtua? Ampun. Aku tahu dia sedang berdandan jadi koboi jahat aneh hari ini, tapi 'kan tidak harus menjiwainya juga dengan merampok ponsel orang-orang!
Kemudian Taeoh berpindah lagi ke bapak-bapak lain yang sedang menggenggam ponsel touch screen sambil berteriak, "Punyakuuuu!"
"Manis sekali." Kudengar pria berkumis putih itu tertawa ringan. "Ini jagoan, pinjam sebentar saja ya."dia menyerahkan ponselnya ke tangan Taeoh, dan bocah itupun terhuyung-huyung pergi sambil berusaha menjejalkan semua ponsel dalam tas kopernya.
"Kacamata yang bagus," komentar Baekhyun. "Aksesori yang tepat kalau akan dibaptis."
Aku mengangguk-angguk, "Karena itulah kubiarkan dia memakainya."
"Mungkin semuanya bersedia mengambil tempat duduk?" suara Pendeta Han yang membahana mau tak mau menggiring kami untuk duduk. "Jadi kita bisa mulai."
Mulai? Sekarang?
Kutarik-tarik pelan jubah putihnya dengan panik waktu dia lewat disebelahku. "Mmm… Kai belum datang. Barangkali kita bisa menunda sebentar lagi."
"Sehun, kita sudah menunda dua puluh menit," ujarnya tersenyum agak kaku. "Kalau suamimu tidak datang—"
"Tentu saja dia akan datang!" aku langsung merasa tersengat. "Dia sudah dalam perjalanan sekarang. Dia akan tiba—"
"Mauuuuuuuuuuuu!" lengkingan bernada tinggi dan pecah memenuhi udara. Sekujur tubuhku kontan mengeras. Kepalaku menoleh kearah datangnya suara dan merasakan isi perutku seperti jatuh ke lantai.
Taeoh memanjat pagar altar dan sekarang berdiri disamping altar, membalik tas koper ajaibnya dan mengguncang-guncangnya hingga seluruh ponsel jatuh berhamburan ke lantai. Dibelakangku, kudengar pekik-jerit ngeri teman-teman Papa dan Mama ketika mereka melihat ponsel mereka berjatuhan membentur ubin lantai yang keras.
"Taeoh!" bentakku emosi sambil berjalan cepat-cepat. "HENTIKAN!"
"Mauuuuu!" dengan riang gembira dia terus mengguncang-guncang isi koper, tak menggubris ekspresi menakutkan di wajahku.
"Ini acara baptisanmu!" tukasku marah di telinga Taeoh. "Kau harus bersikap manis! Kalau tidak, kau tidak akan pernah punya adik!"
Taeoh kelihatan tidak menyesal sama sekali, bahkan ketika teman-teman orangtuaku mulai berdatangan, berseru, berdecak-decak, bergumam pelan sambil memunguti ponsel mereka masing-masing.
Yaa, paling tidak huru-hara itu berhasil menunda acaranya. Meski cuma untuk beberapa menit, karena Pastor Han segera menggiring semua orang kembali ke bangku.
"Anda semua bersedia duduk? Kita benar-benar harus memulai—"
"Maaf, maaf, permisi." Horeee itu Kai! Menerobos masuk melalui pintu ganda dan berjalan tergesa-gesa kearahku. Duduk disampingku dan mendaratkan ciuman kilat di bibir. "Hei, sayang. Maaf membuatmu menunggu lama. Tadi ada urusan sebentar yang…" dia berhenti bicara waktu melihat Taeoh duduk di dekat altar, pakai kacamata hitam, topi koboi dan tas koper miliknya.
"Apa dia berbuat sesuatu yang aneh-aneh lagi?" tanyanya sambil menunjuk Taeoh, tapi matanya berkilat menatapku.
Aku menunduk sambil memuntir-muntir bulu-bulu di rok dengan jariku. "Emm… t-tidak kok. Maksudku, hanya… beberapa keisengan kecil. Bukan apa-apa."
"Wah, gimana ini? Ponselku layarnya tergores. Ckckck. Padahal ini kan cicilannya belum lunas!" celetuk salah seorang wanita disusul kemudian suara berisik keluhan-keluhan lain terbang mengisi ruangan dan berdatangan secara beruntun ke telinga kami.
Kilatan tajam Kai kembali menyorotiku. "Sehun… itu yang namanya 'bukan apa-apa'?"
Aku menelan ludah yang terasa berat dan lengket di tenggorokan. Ya Tuhan. Posisiku semakin sulit dan terjepit. Sudah tidak ada harapan lagi. Waktunya untuk mengucapkan selamat tinggal pada impianku: 'Adik perempuan untuk Taeoh'.
.
.
.
.
Sabtu, 29 Desember 2018…
Yang menyebalkan dari pekerjaan lembur adalah, aku harus duduk-duduk seharian di kantor menyelesakan semua rancangan ini ke Event Manager tepat jam dua belas malam sebelum deadline. Padahal, demi Tuhan, ini kan masih terhitung hari libur dalam kalenderku! Tentunya aku bisa mengerjakan semua ini di rumah, tapi mengingat ada Taeoh yang berkeliaran… tahu sendirilah. Terlalu beresiko.
Ada beberapa staff yang menemaniku dan membantu mengerjakan beberapa detail disini, salah satunya Wendy asistenku, yang kini resmi menjalin hubungan dengan Tao. Aku sedang berkutat dengan laptop dan beberapa aplikasi komputer yang ribet ketika Wendy mengetuk pintu ruangan dan mengabari ada seorang ibu-ibu mencurigakan yang ingin bertemu denganku.
Ibu-ibu mencurigakan?
Tunggu dulu…
Jangan-jangan…
"Sehun."
Suara angkuh yang familier itu menyela lamunanku. Sejenak aku tak bisa bereaksi. Aku seperti sedang bermimpi. Bulu kudukku meremang. Pelan-pelan aku berputar di kursiku dan… itu dia. Tak tercela seperti biasa, dengan setelan berwarna kacang pistachio, rambut kaku, wajah tak bergerak, serta tas Birkin kulit buaya yang tergantung di lengan kurusnya.
Itu memang DIA!
"Oh, hai…" akhirnya aku mampu bersuara setelah terperangah selama berabad-abad. "Hai, Mom." Nyonya Kim Heechul memintaku memanggilnya dengan sebutan 'Mom' sekarang. Aku sudah tiga tahun memanggilnya dengan sebutan 'Mom' tapi entah kenapa rasanya masih terdengar janggal dan aneh.
"Halo, Sehun." Heechul menatap berkeliling ke ruang kerjaku dengan pandangan mencela, seperti mengatakan, "Sudah kuduga seleranya hanya begini." Dan jujur saja itu kurang ajar sekali, karena ruangan ini baru saja kudekorasi ulang dengan susah payah.
"Mm… ada yang bisa kubantu?" tanyaku menyeringai seperti orang sakit perut. Oke, ini senyuman. Aku sedang tersenyum, oke? Meskipun jadinya gagal.
"Aku ingin…" Heechul terdiam dan terciptalah keheningan yang dingin dan membeku. Seolah-olah kami berada dalam panggung sandiwara dan sama-sama melupakan dialog kami.
"Apa anda mau… minum?" aku menawarkan, berusaha tetap bersikap normal dan relax. "Mau kuambilkan cappuccino? Secangkir teh? Segelas sampanye?"
Heechul tetap berdiri diam disana, kepalanya agak tertunduk, tangannya mencengkram pegangan tasnya kuat-kuat. Belum pernah aku melihat dia begitu murung. Hampir menakutkan. Dan aku baru sadar dia belum menghinaku sama sekali. Dia belum mengatakan betapa lusuhnya sepatuku atau betapa vulgar-nya warna cat kukuku. Ada apa dengannya? Apa dia sakit?
Akhirnya, dengan upaya yang sangat berat, Heechul mengangkat wajahnya. "Sehun."
"Ya?" tanyaku gugup. "Ada apa?"
Sewaktu dia berbicara lagi, suaranya begitu lirih, aku hampir tak bisa mendengarnya.
"Aku ingin bertemu dengan cucuku."
.
.
.
.
Oh, Tuhan. Oh, Tuhan. Oh, Tuhan. Apa yang harus kulakukan?
Sepanjang perjalanan pulang kepalaku berputar-putar. Dalam sejuta tahun pun aku tak pernah membayangkan ini akan terjadi. Aku tak pernah mengira Heechul akan menaruh minat pada Taeoh.
Ketika Taeoh lahir, dia bahkan tak mengunjungi kami selama tiga bulan. Kemudian pada suatu hari dia mampir sebentar, melirik boks bayi sekilas, lalu bertanya, "Apakah dia normal?" dan sesudah kami menjawab "Ya", dia langsung pergi.
Kalau semua orang memberikan hadiah-hadiah yang wajar seperti mobil-mobilan, robot, tank, dan sepatu bayi yang imut, Heechul mengirimkan boneka antik paling menyeramkan, dengan rambut keriting bergelung-gelung dan mata menakutkan yang tadinya kukira semacam boneka sihir. Boneka itu benar-benar mengerikan! Mamaku bahkan tidak mau benda itu ada di dalam rumahnya karena dia selalu bermimpi buruk tiap kali memandangi mata si boneka. Pada akhirnya aku menjual boneka itu di eBay, berharap Heechul akan lupa dan tidak pernah menanyakannya lagi.
Semua itu terjadi sebelum pertengkaran besar antara dia dan Kai. Heechul sangat kecewa waktu Kai memutuskan mundur dari pekerjaan lamanya, memulai usaha baru yang payah dan tak bakal dilirik orang (menurut pemikiran sinis Heechul) dan menolak tawaran sang ibu untuk mempekerjakan dirinya di perusaahan asing milik Amerika. Bukan hanya itu, Kai juga menolak istana mewah yang ditawarkan Heechul dan malah membeli rumah minimalis disamping rumah orangtuaku. Heechul yang merasa tersinggung mengatakan kalau Kai tidak ada bedanya dengan gembel dan dia menyesal telah membiarkan Kai hidup dalam didikan 'rakyat jelata' almarhum suaminya. Kai begitu menyayangi ayahnya jelas tak terima. Mereka malah bertengkar dan sejak saat itu kami nyaris tak pernah menyebut-nyebut namanya lagi. Sekitar dua bulan sebelum Natal, aku sempat bertanya ke Kai soal kado apa yang bagus untuk ibunya dan Kai hampir menggigit kepalaku sampai putus. Sejak saat itu aku tak berani menyinggung-nyinggung tentang ibu mertuaku lagi di depan Kai lagi.
Tentu saja aku bisa membuang kartu namanya ke tempat sampah dan berpura-pura tidak pernah bertemu dengannya, itu solusi yang paling aman agar aku terhindar dari konflik. Tapi entah bagaimana, aku tidak tega melakukan itu. Aku tak pernah melihat Heechul begitu rapuh seperti tadi. Selama detik-detik menegangkan ketika dia menunggu jawabanku, aku tidak lagi melihat Heechul sang Ratu Es, melainkan hanya Heechul si wanita tua kesepian dengan tangan kering berkeriput.
Lalu begitu aku berkata, "Oke, aku akan bertanya dulu pada Kai," mendadak ekspresi lemah Heechul kembali ke sikapnya yang dingin seperti biasa. Dia mulai mengkritik kalau Royal Event tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan wedding organizer di Manhattan, dan bahwa orang Korea tidak memahami budaya pelayanan yang baik. Dia juga berkomentar ada banyak bercak-bercak menjijikkan di karpet ruanganku.
Namun, entah bagaimana, dia berhasil mempengaruhi hati nuraniku. Aku tak bisa mengabaikan dia begitu saja. Dia mungkin memang si ratu es menyebalkan, tapi tetap saja dia nenek Taeoh.
Setelah sekian lama, aku berharap, mungkin saja pendirian Kai sudah tidak sekuat dulu. Yang perlu kulakukan adalah mengangkat topik ini dengan sangat hati-hati. Dengan amat sangat halus, seperti melambaikan ranting tanda perdamaian di udara. Aku ingin lihat apa yang terjadi.
"Sayang…" gumamku ragu-ragu waktu kami duduk berdua di ruang makan. "Aku hanya berpikir tentang… suatu… ikatan keluarga." ucapku hati-hati. "Dan sifat-sifat turunan." Aku terdiam sejenak, memberi jeda agar Kai bisa meresapi kata-kataku dengan baik. "Menurutmu, Taeoh lebih mirip siapa? Sifat dramatisnya itu jelas menurun dari Mama, dan wajahnya begitu mirip dengan wajahmu… atau, sebenarnya, dia mungkin mengambil sedikit sifat setiap orang dalam keluarga. Bahkan…" jantungku berdebar kencang. Inilah saatnya. "Bahkan… ibu kandungmu."
"Kuharap tidak," sela Kai tajam dan meletakkan piring di lemari dengan suara berdebam yang nyaris membuatku terlonjak.
Oke. Jadi pendiriannya masih sekeras baja.
"Tapi biar bagaimanapun dia kan tetap nenek Taeoh." desakku. "Pasti Taeoh mewarisi bagian dari dirinya—"
"Aku tidak melihat itu." Kai memotongku dengan ekpresi dingin.
Waduh.
"Begitu ya," gumamku lemah.
Aku tak mungkin begitu saja mengatakan, "Jadi bagaimana kalau kita mengajak Taeoh berkenalan dengan nenek yang satunya?" Tidak. Tidak. Tidak sekarang. Sementara ini aku harus menundanya dulu.
.
.
.
.
Minggu, 30 Desember 2018…
Dengan gugup aku menunduk memandang penampilanku sendiri, lalu menepiskan debu di mantel kecil Taeoh. Aku masih tak percaya aku melakukan ini! Aku telah mengatur pertemuan rahasia di belakang Kai dan aku tidak memberitahukan apapun padanya waktu keluar rumah tadi. Aku bilang kami hanya ingin jalan-jalan sebentar. Waktu Kai menawari untuk mengantar, aku beralasan sudah kangen tidak naik Taksi dan mau merasakan bagaimana rasanya naik Taksi setelah sekian lama.
Jadi disinilah kami sekarang, berdiri di depan pintu masuk Ritz Carlton yang megah.
Rasanya seperti melakukan pengkhianatan besar. Tapi aku tak punya pilihan lain. Aku harus memberi Heechul kesempatan untuk mengenal cucunya. Satu kali saja.
Hotel Ritz berdiri megah dan indah seperti biasa, dan mendadak pikiranku bernostalgia tentang kencan pertamaku dengan Kai sebelum kami resmi berpacaran. Bayangkan jika waktu itu aku tahu bahwa kami akan menikah dan memiliki anak laki-laki. Bayangkan jika waktu itu aku tahu aku akan mengkhianatinya dengan mengadakan pertemuan rahasia…
Tidak. Stop. Jangan berpikiran begitu.
Ketika kami berjalan masuk ke Ritz, seorang mempelai wnaita berambut gelap sedang berdiri tak jauh dari kami, mengenakan gaun pas badan yang bagus, dan cadar panjang berhiaskan tiara. Tiba-tiba saja aku diserang hasrat ingin menikah lagi.
Ya tentu saja dengan Kai.
"Pincess." Taeoh menunjuk pengantin itu dengan jarinya yang gendut, matanya membulat sebesar cawan. "Pincess!"
Pengantin itu menoleh dan tersenyum manis kepada Taeoh. Dia melangkah bergemerisik kearah kami, dan menyodorkan buket bunga ke depan Taeoh, sepertinya menyuruh anakku mencabut sekuntum mawar sebagai hadiah atau apa. Taeoh balas tersenyum dan meraih kuntum mawar yang bentuknya paling besar di tengah-tengah.
"Jangan, Taeoh!" kugeplak tangannya sebelum dia berhasil menarik mawar yang paling besar. "Terima kasih banyak ya." tambahku tersenyum manis pada sang mempelai. "Cantik sekali. Anakku sampai mengira kau putri raja."
"Pince?" Taeoh memandang berkeliling, mencari sang pangeran. "Pince?"
Pengantin itu menoleh ke Taeoh lagi dan tertawa pelan. "Itu dia pangeranku, sayang." dia menuding seorang pria dengan jas resmi pagi yang mendekat menyebrangi permadani.
Idih. Pria itu pendek, gempal, dan kepalanya botak. Mungkin umurnya lima puluhan. Dia lebih mirip kodok.
Dari kerutan bingung di dahi Taeoh, aku tahu dia tidak percaya. "Pince?" Taeoh bertanya lagi pada si pengantin. "Mana pince?"
"Selamat, dan semoga harimu menyenangkan!" ujarku cepat-cepat menggandeng Taeoh pergi sementara mulutnya masih mencicit, "Mana pince? Mana pince?" sambil celingukan bingung.
Setelah berjalan cepat-cepat dan berdiri di dalam lift selama beberapa detik, tahu-tahu saja aku sudah menyusuri koridor elegan berkarpet tebal, mengetuk pintu kamar yang ditujukan di kartu, dan tanganku mendadak gemetar.
Mungkin ini gagasan yang buruk. Ya Tuhan. Ini gagasan yang amat sangat buruk…
"Sehun." tiba-tiba dia membuka pintu dan aku tak bisa menahan diri untuk tidak terpekik kaget.
"Hai." Kugenggam tangan Taeoh lebih erat dan sejenak kami hanya saling tatap. Heechul mengenakan wol putih bertekstur, dengan mutiara-mutiara besar di sekeliling lehernya. Mungkin ini cuma perasaanku saja, tapi kayaknya ibu mertuaku ini bisa bertambah kurus hanya dalam waktu semalam. Matanya melotot besar dan aneh ketika dia memandangiku dan Taeoh bergantian.
"Masuklah," Heechul menepi dan dengan lembut kubimbing Taeoh masuk. Ruangan ini indah, dengan perabotan mewah dan pemandangan langsung ke taman kota. Di meja sudah tersaji poci teh dengan nampan kue bertingkat, berisi cake-cake enak yang menggoda untuk disambar.
Aku membimbing Taeoh kearah sofa yang kaku dan mendudukkanya disampingku. Heechul duduk di sofa yang berhadapan dengan kami. Suasana sunyi senyap dan begitu canggung. Sampai-sampai aku ingin menjerit karena frustasi.
Akhirnya wanita itu menarik napas. "Kau mau minum teh?" dia bertanya pada Taeoh.
Taeoh hanya memandanginya dengan mata bulat besar.
"Ini teh Earl Grey," Heechul menerangkan pada Taeoh. "Aku akan memesan jenis lain kalau kau mau."
Holly goat! Dia bertanya pada anak umur dua tahun teh apa yang dia inginkan? Memangnya wanita ini tidak pernah menghadapi anak umur dua tahun?
Well. Barangkali belum pernah.
"Mom…" selaku pelan. "Dia tidak minum teh. Dia bahkan tidak tahu teh itu apa. Panas, Taeoh!" dumelku tajam waktu tangan lincah Taeoh bergerak meraih poci teh.
"Oh." Heechul tampak kecewa.
"Tapi dia mau makan biskuit," tambahku segera.
Dengan ujung jarinya yang paling ujung, Heechul meletakkan biskuit di cawan berhias ornamen emas dan memberikannya pada Taeoh.
Dia gila ya? Piring porselen yang mahal dari Ritz… diberikan pada anak balita? Aku refleks menutup mataku, tidak sanggup membayangkan Taeoh menjatuhkan piring itu, melemparnya ke tembok, meremukkan biskuit sampai jadi serpihan kecil, pokoknya apa saja. Yang penting berbuat kekacauan.
Namun, yang membuatku kaget, Taeoh duduk tegak lurus seperti malaikat manis, piringnya berada di pangkuan, biskuit itu masih belum dia sentuh sama sekali. Pandangannya masih terpaku pada Heechul. Seperti tersihir. Dan wanita itu juga tampaknya sama-sama tersihir melihat Taeoh.
"Aku nenekmu, Taeoh." ucap Heechul kaku. "Kau boleh memanggilku… Grandma."
"Glana?" tukas Taeoh ragu-ragu.
Mendadak hatiku dicekam kepanikan. Aku tak bisa membiarkan Taeoh mengucapkan "Grana." Kai pasti bertanya-tanya apa atau siapa "Grana" itu.
Aku bahkan tidak bisa berpura-pura itu berarti Mamaku, karena Taeoh memanggilnya "Granmuff". Itu jelas-jelas beda jauh.
"Tidak," kataku buru-buru. "Dia tidak bisa memanggilmu Grandma atau Grana atau apapun yang mirip-mirip itu. Taeoh pasti akan keceplosan mengucapkannya di rumah dan Kai bakal tahu. Kai tidak tahu aku datang kemari." Kurasakan ketegangan merayapi suaraku. "Dan dia tidak boleh tahu, oke?"
Wanita itu hanya terdiam seribu bahasa. Menungguku melanjutkan.
"Mungkin… dia bisa memanggilmu…" aku berpikir keras, mencari-cari panggilan apa yang tepat dan terdengar anggun bagi wanita seperti Heechul. "Lady. Taeoh, ini Lady. Bisakah kau mengatakan 'Lady'?"
"Lady?" Taeoh menatap Heechul ragu.
"Aku Lady." Heechul kembali memperkenalkan dirinya sendiri. Jujur saja aku merasa agak iba padanya. Itu nama panggilan konyol. Salah sendiri kenapa dia harus menjadi ratu es yang dingin. Kalau dipikir-pikir, tragis juga dia duduk di suite hotel mewah, tapi diperkenalkan pada cucunya sendiri sebagai "Lady".
"Aku punya mainan," Heechul beranjak tiba-tiba dan menuju kamar tidur. Aku mengambil kesempatan ini untuk mencomot potongan kue paling besar dan menjejalkannya dalam mulutku.
Tuhan… enak sekali!
Beberapa menit kemudian, setelah potongan cake berhasil kutelan habis, Heechul keluar sambil membawa sesuatu.
"Ini dia." Dengan kaku Heechul mengangsurkan kotak puzzle bergambar lukisan Impresionis. Dua ratus keping.
Demi Tuhan. Mana mungkin Taeoh sanggup menyusun puzzle seperti ini! Lebih besar kemungkinan dia memakannya.
"Bagus sekali!" komentarku tak ingin membuatnya tersinggung. "Mungkin kami bisa menyusun ini bersama."
"Aku menyukai puzzle," kata Heechul pada Taeoh. Dan rahangku ternganga lebar. Ini pertama kalinya aku mendengar wanita ini berkata tulus pada seorang anak manusia bahwa dia menyukai sesuatu!
"Well… biar kubuka." Aku membuka kotak dan mengguncang-guncangkannya diatas meja. Sudah siap melihat Taeoh menyambar kepingannya dan membuangnya kedalam gelas teh atau apa.
"Satu-satunya cara menyusun puzzle adalah melakukannya dengan metodis," ujar Heechul pada Taeoh. "Pertama, kita membalik semua kepingannya."
Ketika Heechul mulai melakukannya, Taeoh tiba-tiba bergerak meraup kepingan-kepingan itu.
"Tidak." Heechul menghujamkan salah satu lirikan dinginnya yang selalu berhasil membuatku mengerut takut. "Bukan begitu caranya."
Sesaat, Taeoh tetap bergeming, kepingan-kepingan puzzle itu masih digenggam tangannya yang mungil, seolah-olah sedang mengukur seberapa seriusnya Heechul. Pandangan mereka saling terpaku, dan keduanya tampak diselimuti tekad. Bahkan…
God! Mereka sangat serupa.
Kurasa aku nyaris kehabisan napas, atau pingsan, atau apa sajalah. Aku tidak pernah menyadari ini sebelumnya. Tapi Taeoh memiliki mata yang sama, cara menatap yang sama, juga caranya saat mengangkat dagu dan melibas orang-orang dengan pelototan garang.
Ketakutan terbesarku menjadi nyata. Aku telah melahirkan Heechul mini!
Aku meraih cake lagi dan mengunyahnya cepat-cepat. Aku perlu makanan yang manis-manis untuk meredakan guncangan ini.
"Berikan kepingan-kepingan itu padaku," kata Heechul tegas. Dan tidak butuh waktu lama, Taeoh langsung menyerahkannya begitu saja tanpa perlawanan lagi.
Kok bisa-bisanya Taeoh bersikap penurut seperti itu?
"Aku ingin bertemu dengan Taeoh lagi," tukasnya sambil menyusun kepingan puzzle bersama Taeoh. Mereka kelihatan sangat… akur…dan 'normal'.
Aku menatapnya tak yakin. Takut salah dengar. "Hah? Maaf?"
"Aku ingin…" Heechul merenung sebentar. "Aku akan sangat berterima kasih atas kebaikanmu jika kau bersedia mengatur pertemuan lagi antara aku dan Taeoh."
Dia akan "sangat berterima kasih atas kebaikanku"? Astaga. Keadaan memang telah berbalik.
"Entahlah," sahutku sesudah diam sejenak. "Aku tidak janji. Tapi… semoga saja kami ada waktu lagi. Mungkin, kapan-kapan."
Berbagai pikiran berlompatan di dalam benakku. Seharusnya ini hanya pertemuan sekali saja. Aku sudah merasa bersalah karena telah mengkhianati Kai. Namun, pada saat yang bersamaan, aku tak bisa menyingkirkan bayangan itu dari kepalaku: Heechul dan Taeoh saling menatap dalam diam. Pandangan mereka tersihir.
Kalau aku tidak mengizinkan mereka bertemu, apa Taeoh nantinya akan mengalami gangguan psikologis dan menyalahkanku seumur hidup karena tidak pernah diizinkan bertemu dengan neneknya?
Ya Tuhan. Ini semua terlalu rumit!
Ketika melirik jam tangan, mendadak aku bergerak dengan gelisah di tempat duduk. Kami harusnya tak boleh keluar terlalu lama, Kai pasti bakal curiga nanti dan berusaha menjemputku. Tidak peduli apapun alasan yang kukeluarkan.
"Kayaknya kami harus pulang sekarang. Ayo, Taeoh. Terima kasih untuk tehnya, Mom." Geragapan aku mencari tasku. Aku harus keluar darisini. Aku bahkan tidak repot-repot memakaian Taeoh mantel, hanya menyambarnya dari sofa dan bergegas menuju pintu. Heechul memandangi kami sesaat lalu ikut berdiri dengan gerakan kakunya.
"Selamat jalan, Taeoh." Heechul melambaikan tangan kaku seperti ratu.
"Dah-dah, Lady!" seru Taeoh riang.
"Sampai jumpa," kataku menarik seulas senyum, lalu keluar dari pintu dan menutupnya.
.
.
.
.
Dalam perjalanan pulang aku dirundung rasa bersalah dan paranoia. Aku tidak boleh memberitahu siapapun kemana aku pergi hari ini. Kai pasti akan sedih sekali. Atau marah. Atau keduanya.
Ketika masuk ke rumah, aku sudah bersiap-siap menghadapi pertanyaan kemana Taeoh dan aku pergi sepanjang siang, tapi Mama hanya mendongak dari tempat duduknya dan berkata, "Halo, love."
"Hai, Ma. Semua baik-baik saja?" pandanganku jatuh ke kaus kaki biru tua di tangannya. "Sedang apa?"
"Well, kupikir sudah jelas. Aku sedang menjahit kaus kaki Papamu karena kita terlalu melarat untuk beli kaus kaki."
"Aku tidak bilang begitu!" Papa berteriak dari dalam kamar mandi.
Mama melirikku, "Apa menurutmu ini terlihat tidak bisa dipakai, Sehun?"
"Eh…"
Kupandangi kaus kaki yang disorongkannya ke depan wajahku. Bukannya bermaksud menghina tapi… jahitan Mama kasar dan bergelombang. Kaus kaki itu jadi mengkerut tak karuan. Aku tak akan mau memakai benda seperti itu di kakiku.
"Mmm, lumayan." sahutku takut-takut.
"Sehun." suara Kai membuatku terlompat seperti kucing disiram air panas.
Itu dia. Sedang menuruni tangga. Semoga saja Kai tidak mencurigai apapun.
"Oh, hai!" sapaku riang. "Taeoh dan aku baru… berjalan-jalan."
"Ya, aku sudah tahu." jawabnya menatapku bingung. "Bagaimana kabar jagoan kecilku?" Kai menggendong Taeoh kemudian mengusap-usap kepalanya.
"Lady," kata Taeoh dengan serius. Nyaris membuatku terbatuk.
"Lady?" Kai terkekeh kecil sambil menggelitiki dagunya. "Lady yang mana, sayang?"
"Lady." Mata Taeoh membesar dan penuh hormat. "Puzzle."
Aaargh! Sejak kapan Taeoh bisa mengucapkan 'Puzzle'? Mengapa dia harus memperluas kosakatanya sekarang? Habis itu apalagi yang akan terlontar dari mulutnya? Teh Earl Grey? Hotel Ritz?
"Puzzleee." Tahu-tahu dia merogoh kantong celananya, mengambil kepingan-kepingan puzzle dan menyodorkannya pada Kai.
What the… sejak kapan Taeoh mengantongi puzzle itu? Apa tiba-tiba saja dia punya skill khusus mengambil barang-barang tanpa terlihat mata telanjang?
"Kami tadi habis melihat-lihat puzzle di toko mainan dan ada gambar Mona Lisa" buru-buru aku menyela sambil tertawa. "Pasti karena itu dia berkata 'Puzzle' dan 'Lady'."
"Teh." gumam Taeoh menambahkan.
"Ya, dan kami juga minum teh." celetukku putus asa. "Hanya kami. Hanya kami berdua."
Jangan bilang "Grana" demi Tuhan… jangan bilang "Grana"…
"Sepertinya asik," Kai mengangguk-angguk.
"Eh, sayang. Maukah kau memandikan Taeoh? Aku mau membaringkan tubuh sebentar. Kami capek sekali tadi habis berkeliling," tukasku sambil berjalan menuju ke tangga.
"Siap, komandan! Kita bisa main Stars Wars lagi, iya kan Taeoh?" dia tersenyum kocak sambil mengusap-usap kepala Taeoh.
Ada apa ya? Kai terlihat sangat riang gembira. Tidak seperti kemarin-kemarin. Bahkan tadi pagi saja dia masih terlihat murung dan serius. Kenapa moodnya bisa berubah-ubah secepat itu sih?
Curiga melihat perubahan sikapnya, diam-diam aku membuntuti mereka ke kamar mandi atas. Kai jelas sekali sangat menyayangi Taeoh. Kenapa aku bisa berpikir dia membenci anak itu? Lihat saja, mereka mandi bersama di bathtub dan terlihat sangat bahagia. Ayah-anak paling bahagia yang pernah kulihat. Taeoh menerbangkan boneka Luke Skywalker di udara dan Kai membuat boneka Obi-Wan Kenobi melakukan ekspedisi menyelam di bak mandi.
Sekarang aku merasa sedikit bersalah. Aku menarik kembali perkataanku waktu itu. Mungkin dia memang tidak membenci aku dan Taeoh. Hanya saja, tahun ini memang tahun yang agak berat baginya.
Well, siapa yang butuh anak lagi? Kami sudah cukup bahagia bertiga saja melalui malam Natal tiap tahun. Taeoh mendapat banyak kado dan kita berkumpul bersama sebagai keluarga yang utuh.
Taeoh kan baru dua tahun. Mungkin… dia hanya butuh didampingi dan diperhatikan secara tepat. Perjalanan masih sangat panjang untuk anak sekecil itu. Dan manusia bisa berubah kapan saja kan?
Yang perlu kulakukan adalah melakukan percakapan kecil antara Mummy-Kiddie. Menjelaskan pelan-pelan padanya tentang segala sesuatu. Menyuruh Kai untuk lebih meluangkan waktu lagi menemani Taeoh. Barangkali, dengan begitu perilakunya juga bisa berubah pelan-pelan.
Baiklah. Sudah kuputuskan. Tidak ada lagi pembahasan tentang perempuan 'Adik perempuan untuk Taeoh'. Topik itu secara resmi ditutup.
.
.
.
-—END—
A/N: Saya sudah tidak sanggup. Mari kita hentikan sampai disini saja :D. Saya udah gak sanggup buat ff ini jadi lebih panjang. Toh chap ini juga niatnya untuk memberi sedikit gambaran tentang kehidupan Sehun tiga tahun kemudian bersama anaknya yang tak kalah ajaib xD, bagi temen2 yang kemarin penasaran. Yaa… kayak ginilah 'mereka'. HhHAHA.
Thanks udah meluangkan waktu membaca dan… I've spend the whole time to write this. Sampai begadang segala, (-..-)
So Mind for Review? and don't bash. ;D. Oke?
