We are MARRIED or NOT?
Main Cast: GS!Sehun, Kai, Taeoh
Support Cast: GS!Heechul, oc, dll
Warning: Mature content in some parts
Genre : Romance, AU, OOC, yadong, genderswitch for uke, comedy, family, friendship, dll
Length: Chaptered
Bahasa: Indonesia campur aduk
Summary Lengkap: Kim Sehun, bungsu dari tiga bersaudara, istri dari konsultan geologi tampan Kim Kai, dan Wedding organizer tenar se-antero Korea, masih tidak ada apa-apanya kalau sudah berhadapan dengan Kim Taeoh, anaknya sendiri yang liar bukan main. Menginjak usia kehamilannya yang ke-8 bulan, hubungan Ibu-Anak antara Kai dan Heechul masih menemui jalan buntu. Sehun yang merasa putus asa menerima usul sahabatnya untuk 'menjebak' Kai dan Sang Ibu Mertua tersayang dalam suatu acara jalan-jalan sekeluarga yang tak terduga-duga.
Family-Fun Trap
Chapter 10 (Part II)
Jadi begini rencananya.
Aku akan menguncikan Kai di kamar mandi, lalu cepat-cepat menjejalkan baju-bajunya ke koper, mengangkatnya ke mobil diam-diam, sebisa mungkin mengendap-endap seperti pencopet. Begitu Kai selesai mandi, aku akan mengalihkan perhatiannya dengan mengajaknya mengobrol ini-itu sampai dia tidak sadar aku berniat menculiknya ke Bandara. Yap. Tepat sekali. Aku yang akan menyetir dan entah bagaimana Kai tidak bakal protes dan malah anteng-anteng saja mengamati wanita hamil mengemudi di jalan tol. Saat kami tiba di bandara, aku segera menyuruh Heechul melompat keluar dari persembunyiannya—mungkin aku bisa menyuruh dia bersembunyi dibalik troli barang nanti—lalu saat Kai menyadari ternyata aku berniat membawa dia liburan bersama ibunya…
Kami akan bertengkar hebat di bandara.
Tidak. Tidak. Itu rencana yang buruk.
Buruk sekali!
Tapi…
Mari kita coba dulu. Habisnya aku betul-betul kehabisan ide. Kepalaku buntu! Yang kupikirkan saat ini adalah bagaimana cara menculik Kai ke bandara dan dia sendiri dalam keadaan tidak sadar. Atau bagaimana misi ini bisa sukses sehingga Taeoh bisa akur dengan semua neneknya dan hubungan Kai dengan ibunya tidak seperti batu bara lagi.
Aku benar-benar putus asa. Keadaannya genting sekali. Aku juga tidak punya teman untuk diajak berdiskusi disaat-saat begini (Kadang-kadang aku berharap Taeoh adalah cowok dewasa yang enak diajak berkomplot).
Oh…
Oh iya. Mungkin aku bisa mementung kepala Kai, tepat saat dia melangkah keluar dari pintu kamar mandi. Aku bisa membawa botol wiskinya sebagai senjata kemudian bersembunyi dibelakang pot kaktus, menunggu dia selesai mandi.
Tidak. Tidak. Tidak bisa. Terlalu beresiko!
Dammit.
Aku akan menelpon Yixing dulu untuk meminta saran—
"Sehuuun? Sayaaang? Aku tidak bisa keluar. Tolong buka pintunya."
Astaga…
Aku belum menyiapkan baju-baju Kai! AKU BELUM SIAP! Duh… bagaimana ini?
Kenapa dia mandinya cepat sekali sih?!
"Hah? Aku tidak dengar kau bilang apa!" sahutku setengah berteriak.
Kai mengetok-ngetok pintu lebih keras. "Sayang, jangan main-main ya. Aku sedang tidak mood. Apa kau merencanakan sesuatu lagi?" suaranya teredam air yang mengalir dari kran.
"Kai, gosok gigi dulu, apa kau sudah gosok gigi?" tanyaku sambil buru-buru ngibrit ke lemari kemudian menarik tas koper hitamnya.
"Tentu saja aku sudah gosok gigi! Sekarang cepat buka pintunya."
"Kalau begitu cuci muka, aku sudah beli sabun anti-jerawat dan kulit berminyak, apa kau sudah mencobanya?" aku berharap dia mau menurut sekalian mengulur waktu sementara aku memasukkan pakaiannya dalam koper dengan kecepatan manusia super.
"Sayang…" dia mulai kedengaran tidak sabar. "Kau merencanakan sesuatu kan?"
"Demi Tuhan, Kai! Cuci muka saja kenapa sih?" pekikku berlagak jengkel. "Kau tidak perlu mencurigaiku yang aneh-aneh."
"Bagaimana aku tidak curiga kalau kau menguncikan aku seperti ini!?" balasnya tak kalah jengkel.
"Bukan aku, Taeoh yang melakukannya!"
"Berhentilah menyalahkan anak kita!"
"Aku tidak menyalahkan. Tadi Taeoh memang masuk sebentar untuk menguncimu dalam kamar mandi."
"Demi apa dia melakukan itu?"
"Entahlah!" balasku sambil mengerang ngotot, berusaha sekuat tenaga merisleting tas koper Kai yang isinya acak-acak tak karuan. Aku tak punya waktu untuk melipat. Hanya asal comot benda secara random, jadi aku tidak heran bila sesampainya disana Kai tidak punya stok celana dalam sama sekali. Masa bodoh. Dia kan masih bisa beli yang baru. Lagipula ini bukan acara liburan keluarga biasa. Aku tegang dan gemetar, sensasinya bagai dikejar-kejar pembunuh bayaran dan kami harus cepat-cepat meninggalkan Korea agar bisa selamat dari teror.
"Cepat buka pintunya sebelum aku mendobrak benda sialan ini!"
Bulu kudukku merinding. Kai kelihatannya marah sekali. Gawat. Aku kan belum mengangkat kopernya ke mobil. Tak bisakah dia patuh sedikit dan cuci muka?
"Hei, Taeoh! Jangan memanjat naik ke jendela! Turun dari sana! Anak nakal!" aku berimprovisasi meneriakkan nama Taeoh untuk membuat pikiran Kai kacau balau.
"Apa? Taeoh naik ke jendela?!" sekarang Kai kelihatan panik dan kaget sekali. Yes. Taktikku berhasil.
"Iya, dia naik ke jendela!" pekikku secemas mungkin. "Tunggu ya sayang? Biar kuturunkan dulu anak itu. Heiii Taeoh! TURUN!"
"Sehuun? Heiii! Keluarkan aku dulu!"
Aku tidak menggubris dia. Aku harus cepat-cepat menyeret kopet ini ke mobil. Tapi… tunggu, kunci mobil…
Kunci mobil dimana ya?
Shit. Diatas meja nakas.
Aku cepat-cepat berlari lagi ke kamar dan terperangah shock mendapati Taeoh sudah berdiri di depan pintu kamar mandi. Oh, tidak. Seharusnya dia kan sedang di jendela saat ini!
"Daddy?" kata Taeoh ke pintu kayu.
Aku menepuk jidatku keras sekali.
"Taeoh?" Kai terdengar kaget. "Sehun, kau bilang tadi Taeoh naik ke jendela?"
Aku bersusah payah menelan ludah, "Memang… sekarang dia sudah turun."
Hening sejenak. Aku menggunakan kesempatan itu untuk mengendap-endap ke meja nakas. Mudah sekali. Aku hanya tinggal mencari alasan lain untuk mengalihkan fokus perhatian Kai.
"Sehun, apa aku sudah bisa keluar sekarang? Aku mulai kedinginan di dalam sini."
Aku merasa serbasalah. Kalau kubilang 'tidak', maka citra diriku sebagai seorang istri yang baik akan tercemar. Kalau aku bilang 'iya', rencana yang sudah kususun rapi bisa berantakan dan Kai akan langsung tahu aku berniat menculik dia.
Jadi aku terpaksa mengambil pilihan yang paling aman. Diam. Diam itu adalah emas. Sedangkan membuat Kai berbaikan lagi dengan ibunya adalah setitik permata di lautan yang luas. Dan aku… Kim Sehun, bertekad akan mengerahkan segala upayaku untuk mencari 'permata' itu.
"Sehun, ayolah sayang. Aku tak punya waktu untuk ini. Kalau kau memang tidak berniat mengajakku jalan-jalan, setidaknya jangan bertingah kekanakan. Aku sedang tidak mood."
"Aku memang mengajakmu jalan, sir!" ya ampuuun… cerewet sekali sih dia!
"Kalau begitu cepat buka pin—"
"TAEOH!" mendadak aku berteriak keras. "Taeoooh! Sudah Mummy bilang kan jangan naik ke jendela! Ya Tuhan, Kai. Dia naik ke jendela lagi!" aku buru-buru menyambar kunci mobil dan menggendong Taeoh keluar sebelum dia sempat bermulut ember.
Setelah menutup pintu kamar dan mengabaikan rintihan minta tolong Kai yang menyayat hati, sekarang aku menguncikan Taeoh di dalam kamarnya, untuk berjaga-jaga supaya dia tidak mengacau. Lalu secepat mungkin aku menyeret koper ke menuju ke depan halaman, tempat mobil kami terparkir manis.
Sial! Sial! Sial! Seharusnya tadi aku menceritakan ide ini ke orangtuaku juga, supaya aku tidak tersiksa sendirian seperti ini.
Setelah menekan tombol kunci, terdengar suara 'bip' dan lampu mobil mulai berkedip-kedip. Aku membuka bagasi belakang, dan dengan segenap kekuatan alam, berhasil menaikkan koper yang mahaberat itu ke bagasi, lalu membantingnya kuat-kuat sampai tertutup. Nah. Beres.
Sisanya hanya tinggal meyakinkan Kai agar dia mau diam dan tidak banyak cing-cong.
Dengan satu kali helaan napas panjang, aku memutar kunci dan keluarlah sosok tubuh setengah telanjang Kai dari kamar mandi. Raut wajahnya dipenuhi kecurigaan dan dia memandangi aku lekat-lekat.
"Mana Taeoh?"
Aku angkat bahu santai. "Di kamar. Kenapa?"
Kai menyilangkan tangan di dada. Tatapan matanya makin tajam dan kian menusuk. Aku berusaha keras balik menatapnya dan tidak menundukkan kepala. Karena itu akan semakin menegaskan kepada 'lawan' kalau aku memang pihak yang bersalah disini.
"Dia tidak sungguh-sungguh naik ke jendela kan?" tanyanya bagai hakim agung yang hendak memvonis penjahat.
"Dia benar-benar naik ke jendela tadi," jawabku tenang. "Kalau tidak percaya tanya sendiri padanya."
Kai mengangguk. "Baiklah."
"Eh, eh…" secepat kilat aku merentangkan tangan, berdiri menghalangi jalan keluar. "Tunggu!"
"Menyingkir, Hun. Aku ingin memeriksa keadaan anak kita."
"Tidak, tidak. Tidak ada yang perlu diperiksa," aku menggeleng tegas. "Dia baik-baik saja kok. Sungguh. Tidak usah cemas begitu. Saat ini aku sedang memakaikan Taeoh baju."
Kai memelototiku. "Tidak usah cemas katamu? Dia baru saja naik ke jendela! Bagaimana aku bisa tenang saja?"
"Sudah, tenang saja. Dia tidak kenapa-kenapa kok. Tidak kekurangan satu bagian tubuhpun. Aku berhasil menurunkan dia tepat waktu. Sekarang cepat ganti baju yang rapi, sebelum Lotte World tutup, dan ini semua salahmu kalau anak kita tidak jadi liburan." Aku menggiring dia ke depan lemari.
Alis Kai bertaut, "Kita ke Lotte World?"
"Yap, Lotte World," jawabku sambil membuka lemari lalu berdoa dalam hati semoga Kai tidak sadar mengapa baju-bajunya jadi sedikit.
"Kayaknya… ada yang berbeda dari lemari ini."
Untuk pertama kalinya aku berharap suamiku orang bodoh yang tidak cepat tanggap.
Tapi Kai bukan orang bodoh. Dan aku sangat mengenalnya. Dia mungkin terlihat apatis di mata orang, tapi dapat kulihat benaknya bekerja. Aku bisa melihat kapan tepatnya kebenaran itu akan mendarat. Sekarang wajahnya tampak kosong, ada sesuatu di matanya. Aku bisa menyadari itu. Jantungku berpacu di luar normal saat Kai mendongak keatas lemari dan tidak menemukan koper hitam kesayangannya disana.
Kai sudah tahu. Dia pasti tahu kan?
Benar saja dugaanku. Tiba-tiba dia menoleh dan tersenyum.
"Sehun, apa Lotte World sudah pindah dari Korea?"
Dia tahu.
Aku merasa kebas.
.
.
.
.
Perdebatan kami sangat alot dan berlangsung selama hampir satu jam lebih.
Waktu aku bilang kita sebenarnya tidak pergi ke Lotte World tapi ke Milan, Kai menatapku tajam lalu berkata "KAU SUDAH GILA YA?"
Tak ada jalan lain selain jujur. Tentu saja aku tidak jujur-jujur amat. Aku sengaja tidak menjelaskan soal Heechul karena ingin membiarkan itu jadi suatu kejutan.
Untunglah aku berhasil memenangkan hati Kai dengan beribu macam sumpah dan janji surgawi disana-sini kalau mulai sekarang aku akan lebih berhemat, mau belajar memasak, mau belajar menjahit, dan mendaur ulang gorden menjadi sesuatu yang lebih berguna.
Aku tidak sembarangan bersumpah, oke? Aku benar-benar akan menepatinya kok setelah kepulangan kami dari Milan. Lihat saja.
Jadi setelah berkemas-kemas dan memasukkan barang-barang ke bagasi mobil, kami berpamitan pada Papa, Mama serta Paman Zhoumi dan Bibi Kyu yang langsung membungkuskan Taeoh kue coklat chip bikinannya dalam kantong plastik bermotif hati. Jika saja Tao ada di Korea, dia pasti bakal minta oleh-oleh yang aneh. Seperti waktu tahun lalu kami bulan madu ke Tokyo, disaat semua orang minta barang-barang normal seperti kimono atau sandal bakiak kesehatan, cuma dia sendiri yang minta boneka jerami milik setan wanita pembawa palu yang sudah kulupa namanya.
Orangtuaku sempat kaget karena ini mendadak sekali, padahal dari kemarin aku selalu bilang tidak berminat kemana-mana karena Kai sibuk, bahkan aku menolak tawaran Suho oppa waktu dia mengajak kami sekeluarga berlibur ke Amsterdam tiga hari, terang saja Papa dan Mama bingung mengapa aku tiba-tiba berubah pikiran. Tapi setelah kujelaskan pada mereka soal rencanaku untuk membuat Kai dan Ibunya akur dengan liburan jebakan ini, mereka setuju sekali dan ikut mendukung niat muliaku seratus persen.
Aku duduk dibalik kemudi dan memajukan kursi untuk memberi ruang bagi perutku. Sudah lama sekali aku tidak mengemudi, rasanya agak kangen.
Kai bersalaman dengan Papa dan Paman Zhoumi untuk terakhir kalinya, dan muncul di pintu kemudi dengan wajah penuh tanya.
"Kau yang menyetir rupanya?"
"Setengah jalan saja," ujarku sambil memasang sabuk pengaman.
"Yakin? Bisa menyetir dengan sepatu seperti itu?" dia menunjuk sepatu Christian Louboutin-ku. Harus kuakui haknya memang terlalu tinggi untuk menginjak pedal. Tapi aku tak bakal mengakuinya. "Itu sepatu baru kan?" tanyanya sambil mengamati lebih cermat.
Aku hampir menjawab "ya" ketika teringat terakhir kali kami pergi bersama, aku juga memakai sepatu baru. Padahal baru dua menit yang lalu aku berjanji akan hidup sebagai Ibu rumah tangga yang lebih hemat.
"Tidak." jawabku cepat-cepat menggeleng. "Sepatu ini sudah lama sekali tersimpan di lemari. Wajar saja kau baru lihat sekarang. Bahkan…" aku berdehem. "Sebetulnya ini sepatu mengemudiku."
"Sepatu mengemudimu?" ulang Kai tak percaya.
"Ya," ujarku sambil menyalakan mesin mobil sebelum dia sempat berkomentar lagi. Astaga, mobil ini sangat menakjubkan. Suaranya berdebum hebat dan agak berdecit ketika persneling kumasukkan. Sudah lama sekali aku tidak duduk di belakang kemudi. Rasanya tanganku begitu gatal dan bersemangat.
Dengan tidak iklas, Kai masuk melalui pintu di sebelah sana, "Sehun—"
"Aku baik-baik saja." tandasku, dan pelan-pelan memundurkan mobil dari halaman menuju ke jalan.
"Dahhh! Dahh!" Taeoh tersenyum lebar sambil melambaikan tangan riang melalui kaca jendela. Aku juga ikut berdadah-dadah sebentar lalu melajukan mobil penuh gaya.
"Sayangku," ujar Kai membuyarkan konsentrasi. "Kau membuat jalanan macet."
Aku melirik ke spion belakang—dan ada tiga mobil merambat di belakang mobil kami. Tidak masuk akal. Perasaan mobil ini tidak selambat itu.
"Cobalah sedikit lebih cepat," usulnya. "Mungkin, sepuluh mil per jam?"
"Sedang kulakukan," tukasku mendengus kesal. "Kau kan tak bisa mengharapkan aku langsung ngebut sejuta mil per jam. Ada batas kecepatan di komplek ini. Selain itu, aku cuma wanita hamil biasa."
Saat mobil kami mencapai pintu gerbang perumahan, aku melempar tersenyum tak acuh pada penjaga gerbang yang menatapku heran, kemudian melajukan mobil ke jalan raya. Aku memberi tanda ke kiri dan melirik ke belakang untuk terakhir kalinya, ketiga mobil itu masih berbaris dibelakang. Ketika salah satunya membunyikan klakson panjang, dengan hati-hati aku minggir ke trotoar.
"Nah," ujarku ringan. "Sekarang giliranmu."
"Giliranku?" Kai terpana bingung. "Kok cepat sekali?"
"Sekarang aku mau merapikan kuku-kukuku dulu," terangku acuh. "Lagipula, aku tahu kau menganggapku tak bisa mengemudi. Aku tak mau kau mencibir padaku sepanjang jalan menuju Incheon."
"Sayang, aku tidak menghina kemampuan mengemudimu," protes Kai setengah tergelak. "Kapan aku pernah bilang begitu?"
"Kau tak perlu mengucapkannya. Aku bisa melihatnya keluar dari kepalamu seperti gelembung dialog: 'Sehun istriku tidak bisa mengemudi'."
"Well, disitulah kau keliru," cetus Kai. "Gelembung-gelembung itu sebetulnya berkata: 'Sehun istriku tidak bisa mengemudi dengan sepatu barunya yang terlalu runcing dan terlalu tinggi'." alisnya melejit naik menantangku.
Bisa kurasakan rona pipiku berpendar menjadi warna merah. "Ini sepatu mengemudi," aku misah-misuh sambil pindah ke kursi penumpang. "Aku sudah memilikinya selama bertahun-tahun."
Selagi aku merogoh tas untuk mencari kikir kuku, Kai pindah ke kursi kemudi, menunduk sebentar untuk memberiku ciuman lembut di bibir. "Terima kasih karena telah membantuku mengurangi rasa capek," ucapnya tulus.
"Sama-sama," aku balas tersenyum dan mulai mengukir kuku. "Kau perlu menyimpan tenaga untuk jalan-jalan besok."
Untuk sejenak tak ada suara, ketika menengadah, aku melihat raut datar Kai kembali menguasai.
"Sayang," ujar Kai, senyumnya sirna. "Soal besok…" dia diam sebentar dan aku menatapnya dengan senyum yang juga mulai sirna.
"Ada apa?" kataku sambil berusaha menyembunyikan kekhawatiran.
Kai menghela napas keras-keras. "Begini. Ada kesempatan bisnis yang ingin kumanfaatkan. Dan aku perlu berbicara dengan beberapa klien dari Amerika. Penting sekali."
"Oh," jawabku bimbang. "Well… tidak apa-apa," aku memaksa diriku untuk tersenyum. "Kalau kau mau menelpon—"
"Bukan lewat telpon," potong Kai sambil melirikku sekilas. "Aku bermaksud mengadakan meeting besok."
"Besok?" ulangku, kemudian tertawa kecil. "Tapi kau tak bisa datang ke meeting besok. Kita kan sedang berlibur."
"Begitu juga orang-orang yang ingin kuajak bicara itu," timpal Kai. "Aku telah mengundang mereka semua kesana."
A-a…
Apa tadi dia bilang?!
"Kau mengundang relasi bisnismu ke tempat kita berlibur?" tanyaku terperangah.
"Hanya untuk pertemuan satu hari itu," ujar Kai tanpa menoleh dari jalanan. "Kau tak mengerti, Sayang. Meeting itu penting sekali dan aku tak bisa melewatkan hal sepenting itu begitu saja. Hanya sekali itu. Selebihnya aku berjanji hanya ada kau, aku dan anak kita."
Sebenarnya masih ada satu orang lagi, tapi tidak ada gunanya dibahas sekarang. "Berapa lama meetingnya berlangsung?" tanyaku cemberut. "Jangan bilang sepanjang hari?"
Aku betul-betul tak bisa percaya. Dia tega sekali. Setelah bersusah payah merencanakannya diam-diam, setelah menanti dengan begitu berdebar, setelah beradu mulut selama sejam, setelah mengemasi barang-barang…
"Sehun," tatapan Kai melembut saat dia menoleh. "Tidak akan seburuk itu."
"Kau sudah berjanji padaku kau akan berlibur! Kau bilang kita akan melewatkan saat-saat bahagia bersama keluarga."
"Kita akan melewatkan saat-saat bahagia bersama keluarga."
Aku mencibir sinis. "Oh ya, tentu saja. Bersama semua teman bisnismu, bersama klien-klien menyebalkan, berkumpul bersama kita seperti… seperti belatung!"
"Mereka tak akan berkumpul bersama kita," ujar Kai tenang. "Sehun—" dia meraih tanganku yang langsung kutepis secepat kilat.
"Sejujurnya, menurutku tak ada gunanya aku ikut kalau kau hanya mau bekerja," ujarku murung. "Lebih baik…" aku membuka pintu mobil. "Lebih baik aku pulang saja."
Kubanting pintu mobil keras-keras dan mulai melangkah di sepanjang jalan dengan sepatu hak tinggi yang berbunyi klik-klak-klik-klak diatas trotoar. Aku sudah hampir tiba di gerbang komplek sewaktu mendengar suara Kai berteriak keras, "Sehun! Tunggu sebentar!"
Aku berhenti dan pelan-pelan berbalik, kulihat dia berdiri di sisi mobil sambil memencet nomor pada ponselnya.
"Apa yang kaulakukan?" tanyaku curiga.
"Aku sedang menelpon klien-klienku yang menyebalkan untuk membatalkan rencana," balas Kai.
Aku bersedekap dan menyipitkan mata kearahnya.
"Halo," tukas Kai. "Jackson, batalkan saja penerbangan klien-klien kita yang menyebalkan karena istriku melarang aku ikut rapat. Tidak apa-apa. Ini kan cuma bisnis tidak penting. Hanya kontrak biasa yang sudah lama sekali kuingin—"
"Oh… hentikan!" seruku marah. "Hentikan! Adakan saja meeting tolol itu!"
"Kau yakin?" ujar Kai sambil menutup ponselnya. "Betul-betul yakin?"
"Yakin," jawabku sambil mengangkat bahu sedih. "Kalau memang begitu penting…"
"Memang penting," Kai menatapku sungguh-sungguh. "Percayalah, kalau tidak, aku tak akan repot-repot mengundang mereka semua kesana."
Aku menghentak-hentakkan kaki berjalan kembali ke mobil selagi Kai menyimpan ponselnya.
"Terima kasih atas pengertiannya, sayang." dia mengecup keningku ketika aku memasang sabuk pengaman. "Aku bersungguh-sungguh terima kasih." dia menyentuh pipiku lembut, lalu meraih kunci mobil untuk menyalakan mesin.
Aku menyunggingkan sedikit senyum. "Apa kau tadi betul-betul menelpon bawahanmu?"
"Apa kau tadi betul-betul mau pulang?"
Ini jeleknya punya suami seperti Kai. Kau sama sekali tak bisa mengelabui dia.
Mobil melaju di jalan sekitar satu jam lamanya, berhenti untuk makan di sebuah restoran keluarga, lalu mengemudi lagi setengah jam menuju ke Incheon. Waktu kami tiba di bandara, perutku mendadak mulas dan mataku bergerak waswas mengamati sekeliling. Jangan sampai Heechul ketahuan sekarang… jangan sampai Kai bertemu dengannya sekarang…
"Mummy?" tarikan kecil di tanganku membuatku sedikit tersentak. "Mummy, kue?" Taeoh mengulurkan kue yang paling besar dan banyak coklatnya. "Mamam kue." saat aku berjongkok, dia langsung memasukkan kue itu ke dalam mulutku.
"Nyam!" aku tertawa ketika remah-remah kue berjatuhan dari daguku. "Mmm…enak."
Taeoh tersenyum riang begitu aku mengeluarkan sapu tangan dan membersihkan pipinya yang cemong-cemong dipenuhi coklat.
"Ayo, ke ruang tunggu." Kai muncul sambil menyerahkan dua tiket pesawat.
"Sudah selesai check in-nya?"
Dia mengangguk singkat, "Sudah. Taeoh, sini sama Daddy." Kai menggendong anak itu dan menyampirkan tas kecil milik Taeoh di pundaknya. Dalam perjalanan menuju ke ruang boarding, diam-diam aku merogoh saku dan mengeluarkan ponselku. Benar saja, sudah ada kabar dari ibu mertua tersayang.
Aku baru saja tiba di Milan.
Kabari aku jika kalian sudah sampai.
Trims.
Yes. Dia sudah tiba disana. Sejauh ini rencanaku berjalan mulus. Aku sengaja menyuruh Heechul terbang duluan supaya dia bisa menyambut kami nanti. Jaga-jaga saja, dengan begini Kai tidak punya alasan untuk kabur dan pulang naik taksi.
.
.
.
.
Aku tahu, aku tahu, aku tidak memberitahu kalian. Maaf.
Sebenarnya kepingin sekali sih. Tapi aku takut kalian akan membocorkannya pada Kai.
.
.
.
.
Taeoh asik membuka-buka halaman majalah Travel sementara mulutnya sibuk mengoceh "Daddy? Apa ini? Daddy? Apa ini?". Kai yang duduk tepat disampingnya secara sukarela menjelaskan satu-persatu gambar-gambar yang ditunjuk Taeoh. Masalahnya anak itu menunjuk semua gambar di semua halaman, termasuk gambar pendaki gunung berkumis tebal yang sedang tersenyum sambil memegang bendera. Jika dalam satu majalah ada 238 halaman, aku tidak heran mereka belum tidur-tidur daritadi.
Aku tidak bisa santai, oke? Aku tegang sekali! Menunggu saat-saat Kai menoleh dan menginterogasiku dengan pertanyaan-pertanyaan yang dapat memancing perdebatan panas. Tapi aku tidak bisa lari. Aku tidak bisa bersembunyi. Ujung-ujungnya dia juga bakal tau tujuan utama liburan dadakan yang sangat ganjil ini. Sebenarnya sudah dari lama aku kepingin berlibur ke Milan. Mustinya aku bahagia impianku terwujud, tapi aku sama sekali tidak bisa. Jantungku berpacu keras dan perutku melilit saking tegangnya. Dalam waktu 45 menit pesawat akan mendarat dan aku tak mau terus-menerus diselimuti perasaan bersalah. Kai harus tahu. Aku harus memberitahu dia kenyataan yang sebenarnya. Terserah dia mau terima apa tidak. Yang penting aku sudah jujur tanpa membuatnya kecewa lebih dalam.
Nah. Sekarang persoalannya… aku harus mulai dari mana?
"Sayang."
Ini dia… ini dia…
"Perasaan kau masih punya utang 340 juta, dapat duit darimana bisa mentraktirku tiket ke Milan?"
"Mmm…" aku menggigit bibir, lalu meringis. "Coba tebak? Sebenarnya utang 340 juta itu sudah lunas. Seseorang…" aku berdehem gugup. "Salah seorang teman Chanyeol eonni bersedia memborong semuanya. Eh, tidak semuanya juga sih, Baekhyun memborong satu."
Kai menatapku penuh selidik, yang justru malah bikin risih.
Kubalas tatapannya dengan sedikit menantang. "Kenapa? Tidak percaya? Coba saja tanya Chanyeol eonni!" tukasku pede. Aku memang sudah mewanti-wanti Chanyeol eonni sebelumnya, jadi aku tak takut kalau Kai beneran menelpon dia.
"Baik hati sekali dia mau memborong semuanya, memangnya kalian berteman akrab? Apa mantan klienmu?" Tuh kan, interogasi beruntun.
"Kai…" aku memijat keningku, berlagak lelah. "Tidak penting dia siapa, oke? Yang jelas utang kita lunas dan masalah selesai. Uangnya sudah kutransfer tadi ke rekeningmu. Sudah kan? Masalah beres."
Kai mengusap-usap dagunya. "Jadi, kau memotong uang yang kau transfer untuk membeli tiket atau apa? Karena seingatku satu tiket ke Milan itu harganya sekitar tujuh ratusan. Kalau kau memotongnya dari jumlah uang yang kau transfer, berarti totalnya bukan 340 lagi." tukas Kai seperti detektif yang hendak menelanjangi tersangka. "Bukannya mau main itung-itungan atau apa, aku sungguh-sungguh tidak paham. Bisa diterangkan lebih lengkap?"
Ya ampun. Belum menyerah juga. "Hmm… ya." jawabku terbata-bata. "Tapi…" aku menundukkan kepala, melipat-lipat brosur panduan penyelamatan diri menjadi bentuk segitiga. "Itu… y-ya, aku memotongnya dari—"
"Sehun, ada apa?" mata hitam Kai berkilat lebih tajam dan aku buru-buru buang muka. "Apa tiketnya benar-benar dari kocek kita berdua? Jujur."
"Eh… tentu saja itu dari kocek…mu, nanti kuganti kok." aku melipat brosur lain menjadi bentuk segiempat.
"Sayang, bukan masalah gantinya, aku tidak keberatan, aku cuma kepingin tahu. Karena…"
Aku mendongak, "Karena apa?"
Kai angkat bahu. "Karena… ini aneh. Pertama, kau merencanakan liburan keluarga ke tempat yang jauh tanpa meminta persetujuanku. Kedua, kau tidak kelihatan sengotot dan sesemangat biasanya."
Cepat-cepat aku menyetel muka ke mode sumringah. "Siapa bilang? Asal kau tahu, aku sangat sangat sangat begitu bersemangat. Bahkan, aku tak pernah merasa seantusias ini. Maksudku, ini Milan gitu lho! Tempat dimana kita bisa melihat karya-karya seni bertebaran. Kota yang sangat indah dan… artistik."
Kai menatapku lekat-lekat, "Sehun… aku tahu kita akan tiba di Milan sebentar lagi. Tapi tolonglah, jangan berlaku gila-gilaan nanti."
"Gila-gilaan?" ulangku sedikit tersinggung. "Apa maksudmu?"
Dia mendekatkan wajahnya hingga ujung hidung kami nyaris bersentuhan, "Aku tahu kau pasti mau pergi belanja."
Ugh! Terus terang ya, Kai ini berani sekali. Bagaimana dia bisa tahu aku tidak tertarik melihat-lihat patung bersejarah di museum?
"Aku tidak mau pergi belanja," tandasku angkuh. "Lagipula barang-barang disana bentuknya sama saja dengan di Korea."
"Oh, begitu." Kai sok mengangguk-angguk. "Jadi kau tidak berniat mengunjungi toko desainer apapun?"
Aku memutar bola mata. "Kai, aku ini sudah kenyang melihat barang-barang branded setiap hari. Kaukira aku akan langsung nafsu melihat toko desainer?"
Kai nyengir meledek. "Yakin?"
Menyebalkan! Bukankah kami sudah saling mengucapkan sumpah? Bukankah dia sudah berjanji tak akan meragukan janjiku?
"Kaupikir tujuanku ke Milan cuma untuk belanja?" balasku ketus. Kemudian aku merogoh tasku dan mengeluarkan dompet untuk menunjukkan kesungguhan. Biar tutup mulut dia. "Nih. Ambil ini."
Kai mendengus geli. "Sehun, jangan konyol."
"Ambil!" desakku ngotot. "Toh niatku cuma ingin berkeliling dan berfoto-foto di depan katedral tua."
"Ya sudah." dengan entengnya Kai mengambil dompetku terus dia kantongi.
Dammit. Aku tak menyangka dia benar-benar menyitanya.
Anyway, it doesn't matter. Lagipula aku masih punya simpanan kartu kredit rahasia di dalam tas—yang tentu saja—tidak diketahui oleh Kai.
"Oke," ujarku sambil melipat tangan di dada. "Simpan saja dompetku. Aku tidak perduli."
"Kau pasti bisa selamat hidup di Milan tanpa dompetmu, sayang." tukasnya kalem. "Apalagi masih ada kartu kredit rahasia yang selalu tersimpan di dalam tasmu."
DAMMIT. Lagi-lagi dia tau?! Aaarghhh! Tuan Kim Kai memang selalu tahu segala-galanya! Jangan-jangan dia memata-matai aku sepanjang waktu.
Tanganku merogoh-rogoh kesal kedalam tas. "Ambil saja!" kulempar kartu itu ke pahanya. "Ambil semuanya dariku! Yang jelas tujuanku ke Milan hanya ingin mencari inspirasi dan melihat-lihat artefak lokal."
"Artefak lokal?" Kai mengusap-usap dagu lagi. "Artefak lokal itu maksudnya 'Sepatu Versace'?"
"Bukan." kilahku setelah berpikir agak lama. "Sok tahu."
"Sweety, dengar… kita mungkin akan membeli beberapa souvenir sebelum pulang, tapi aku tidak mau kau belanja berlebihan, oke?" kali ini nadanya melembut. "Garasi di rumah kita sudah tidak muat menampung enam pasang sepatu bot baru."
Ha-ha. Lucu.
"Terus…" Kai memungut kartu kreditku dari pahanya, mengamati benda itu baik-baik, lalu disodorkan ke tanganku. "Ini. Simpan saja. Lumayan tujuh belas ribu untuk ongkos naik kendaraan."
Fuck.
Tidak hanya tahu aku punya kartu kredit rahasia, dia juga tahu isinya tujuh belas ribu?!
"Ini kartu rahasiaku! Seharusnya kau tidak tahu apa-apa soal ini!"
Kai menciumku sekilas, lalu menampilkan seringai lebar yang berarti hinaan di mataku. "Makanya, lain kali jangan simpan surat tagihannya dibawah bantal."
Usai bertingkah sok jago, dia langsung berbalik memunggungiku dan kembali menekuri majalah Travel bersama Taeoh.
Ckckck. Suamiku sayang, dia kira dirinya sepintar itu? Okelah dia berhasil menemukan kartu rahasia dalam tasku. Baru segitu saja bangga! Apa dia tidak tahu kalau sebenarnya aku masih punya ribuan kartu rahasia lain?
Ehm… ralat, bukan ribuan sih. Hanya satu. Dan itupun tempat persembunyiannya sangat jenius. Berani sumpah Kai pasti tidak tahu soal yang itu.
.
.
.
.
Aku benar-benar kesulitan tidur di pesawat. Pikiranku terus melayang kembali ke kamar megah di Ritz Carlton, Heechul duduk di depan Taeoh, matanya mengamati puzzle, tapi mulutnya diam-diam menggumamkan sesuatu yang tak disangka-sangka. Untuk pertama kalinya aku melihat dia begitu buka-bukaan padaku. Tentang perasaannya, tentang pendapatnya soal Kai dan aku bisa melihat dari caranya menerawang kedepan, aku bisa lihat dia masih punya hati. Dia masih kenal kata 'menyesal' dan dia masih ingin punya keluarga normal. Dikelilingi anak-cucu-cicit, tidak merana sendirian di istana mewahnya. Dibalik tampilan kulit luarnya yang bak Ratu Es, dia hanya seorang manula biasa yang rapuh dan kesepian. Aku menyadari itu.
"Kai dan aku berselisih paham," kepala Heechul tetap tertunduk diatas keeping-keping puzzle.
"Aku tahu," jawabku pendek.
"Ada elemen-elemen dalam karakter Kai yang menurutku…" dia terdiam lagi. "Sulit dimengerti."
"Mom, aku benar-benar tidak bisa membahas ini," ujarku kikuk. "Aku tidak bisa membicarakannya. Ini antara kau dan Kai. Aku bahkan tidak tahu persis apa yang telah terjadi dan apa saja yang kalian bicarakan, kecuali bahwa kau mengatakan sesuatu tentang almarhum suamimu yang membuat Kai tersulut."
Apakah ini perasaanku saja, atau Heechul tadi berjengit sedikit? Tangannya masih sibuk dengan kepingan puzzle, tapi matanya menerawang. "Kai sangat sayang pada… orang itu," tukasnya.
Orang itu? Asal tahu saja, itu juga sebutan Kai untukmu! Ingin rasanya aku berteriak begitu. Bagaimana mungkin dia menganggap suaminya sendiri sebagai 'orang itu'? Toh pihak yang bersalah disini dia. Bukan Kai. Bukan juga ayahnya. Mereka bahagia-bahagia saja hidup berdua sampai Heechul tiba-tiba kembali lagi setelah mendepak Pria Bule Inggris yang sempat dia ajak kawin lari. Gara-gara melihat kesuksesan Tuan Kim, dengan tak tahu dirinya dia mengemis-ngemis pada ayah Kai untuk dinikahi lagi. Anehnya, setelah pengkhianatan yang dia lakukan, ayah Kai masih mau berbaik hati menerima dia dengan tangan terbuka. Dan setelah semua pengampunan yang diberikan padanya, dia masih saja menjuluki suaminya sendiri sebagai 'orang itu'? Aku tidak mengerti apa yang salah dari wanita ini!
Tentu saja aku tetap bungkam. Duduk sambil menyesap teh, mengamatinya dengan rasa penasaran yang membengkak. Siapa yang tahu apa yang ada di bawah rambut disemprot hairspray itu? Apakah selama ini dia memikirkan pertengkarannya dengan Kai? Apakah akhirnya dia menyadari bahwa dia salah? Apakah akhirnya dia menyadari apa yang telah dilewatkannya?
"Aku hanya tidak habis pikir dengan kelakuan dua orang itu," Heechul mengangkat kepala dengan ekspresi bertanya. "Ayah dan anak sama saja. Pola pikir orang-orang bawah."
"Itukah yang Anda katakan pada Kai?" mau tak mau aku terbawa emosi. "Kalau begitu aku tidak heran dia marah sekali padamu."
"Tidak," kata Heechul, dan sekarang terlihat jelas kedutan di bawah matanya. Pasti area itu yang satu-satunya tak tersentuh jarum Botox. "Bukan itu yang kukatakan. Aku hanya berusaha memahami sikapnya yang anti-konsumerisme itu, dia sangat berlebihan."
"Kai tidak berlebihan." bantahku pedis. Oke, tidak terlalu jujur juga sih. Harus kuakui, Kai memang suka berlebihan dengan sikapnya yang perhitungan itu. Tetapi mendengar itu keluar dari mulut ibunya sendiri, entah kenapa membuatku gemas bukan main. Apa salahnya jadi orang perhitungan? Apa salahnya dia punya anak perhitungan?
"Kai lebih menyayanginya," gumam Heechul pelan. "Sampai dia meninggal dunia, aku tak pernah melihat Kai memajang satupun foto-fotoku di kamarnya. Hanya ada foto ayahnya."
Aku tak bisa menebak wanita ini sedih atau sinis, habis kelihatannya sama saja. Tapi dari matanya yang menerawang, aku tahu dia tampak agak sedih.
"Tentu saja Kai sangat menyayanginya," aku mengangguk-angguk sambil menyesap tehku. "Tentu saja." Sudah jelas kan apa alasannya? Tidak perlu dipertanyakan lagi. Malah, kalau aku jadi Kai, aku akan memajang potret besar gambar wajah ayahku di ruang tamu dan memajang gambar wajah Heechul dalam bentuk pin hanya untuk memberinya sedikit… apresiasi. Setiap minggu aku akan memoles potret besar ayahku secara teratur dan mencolek sedikit pin bergambar Heechul dengan ujung kemoceng.
"Mengapa?"
Mengapa? Dia ini bercanda atau buta? Atau tidak peka? Manusia jenis apa yang sedang kuhadapi saat ini? Baru kali ini aku menghadapi 'misteri' macam Nyonya Kim Heechul.
"Apa maksudnya 'mengapa'?" tanyaku frustasi. "Bagaimana Anda bisa bertanya 'mengapa'? Dia itu kan ayahnya! Suami Anda sendiri! Orangtua Kai juga. Kalian sudah hidup bersama selama bertahun-tahun, sedangkan aku…" aku mengendikkan bahu. "Aku baru hadir tiga tahun di hidup Kai. Seharusnya Anda-lah yang punya jawabannya."
Ayah Kai tahu betul cara menjalankan tugasnya sebagai orangtua. Sedangkan Heechul tidak tahu menjadi orangtua itu seperti apa. Kalau dia mengerti, dia pasti tidak akan tega meninggalkan Kai dan ayahnya saat sang anak masih kecil. Kalau dia mengerti, dia tidak akan membuang muka ketika Kai datang ke London pada umur empat belas tahun khusus untuk menemuinya. Aku tidak pernah lupa raut wajah Kai saat dia bercerita bagaimana rasanya kedinginan menunggu di luar gedung apartemen Heechul, ingin sekali bertatap muka dengan sang ibu kandung yang glamor dan tidak pernah dilihatnya, lalu Heechul melangkah keluar dari pintu, penampilannya cantik dan sempurna bak Ratu Inggris. Kai bercerita padaku bahwa Heechul melihatnya di seberang jalan, bahwa dia pasti tahu siapa Kai… tapi malah buang muka dan pura-pura tidak tahu. Hingga akhirnya mereka tidak pernah bertemu lagi sampai Kai dewasa, sampai karier ayahnya sukses besar, dan sampai saat itu pula dia baru memandang Kai dan mantan suaminya sebagai manusia, sebagai suatu 'keluarga'.
Jika kalian berpikir Kai sangat membenci ibunya, kalian salah besar. Justru karena itu Kai selalu berusaha keras, mati-matian bekerja, agar sang ibu mau—sekali saja—menoleh padanya, mengakui kehebatannya, bakatnya dan segala prestasi yang sudah susah payah dia kumpulkan, hanya untuk membuat sang ibu terkesan. Tapi yang diterima Kai tiap hari adalah tekanan demi tekanan yang semakin kuat.
Heechul tidak tahu apa-apa. Sama sekali tidak tahu apa-apa.
Separuh diriku ingin berkata, "Apa kau tahu, Ibu mertuaku sayang? Sudahlah, kau tidak akan pernah mengerti." Tapi separuhnya lagi ingin berusaha membuatnya mengerti.
Aku menarik napas dalam-dalam, menata pikiranku. Seolah-olah aku hendak menjelaskan bahasa asing padanya. "Ayah Kai sangat menyayangi anaknya sendiri tanpa pamrih. Dia mencintai Kai untuk semua kelebihan dan kekuranganya. Dan dia tidak menginginkan apapun sebagai imbalan."
Selama aku kenal Kai, Heechul hanya menaruh minat padanya apabila Kai bersedia melakukan sesuatu untuknya atau menggalang dana untuk badan amalnya, atau menciprati dirinya dengan ketenaran. Segala hal selalu demi kepentingannya dan posisinya di mata masyarakat awam.
"Ayah Kai bersedia melakukan apapun untuk Kai." aku menatap mata tanpa ekspresi itu lekat-lekat. "Dan dia tidak pernah mengharapkan imbalan atau hasil. Dia bangga atas kesuksesan anaknya, dia tetap akan menyayangi Kai apapun pekerjaannya. Apapun yang dicapainya. Kai adalah putra semata wayangnya dan dia sangat mencintai Kai apa adanya. Jika Anda bertanya padaku 'mengapa', itulah jawaban yang bisa kuberikan."
Leherku tercekat. Walaupun aku sendiri belum pernah ketemu dengan ayah kandung Kai, tapi mendengar cerita kepergian ayahnya mau tak mau berhasil memengaruhiku juga. Jika ayah Kai masih hidup saat ini, dia pasti bakal jadi ayah mertua yang sangat asik.
Wah, gawat. Mataku basah. Sapu tangan… mana sapu tangan…
"Apa aku belum terlambat?"
Hah?
Melawan kehendak hati, aku mendongak menatapnya. Heechul masih duduk tegak lurus disana, wajahnya pucat tanpa ekspresi seperti biasa. Aku tidak yakin apakah dia benar-benar meresapi omonganku tadi.
Setelah terdiam lama sekali, wanita itu akhirnya buka mulut lagi. "Apa masih ada kesempatan untukku?"
.
.
.
.
Aku sudah menjelaskan semuanya pada Kai. Mulai dari pertemuan rahasia kami di Hotel sampai perbincangan-perbincangan yang terjadi. Kai memang tidak membentak aku atau mengatakan betapa bodohnya aku dan segala macam hal-hal nyolot yang bikin kuping panas, tapi tetap saja dia merasa kecewa selama ini aku menyembunyikan rahasia sebesar itu darinya. Kami memang sempat terlibat adu mulut panas lagi sesuai dugaanku. Apalagi saat aku bilang "Ayolah, sayang. Biar bagaimanapun dia kan tetap nenek Taeoh, kita tidak mungkin menyingkirkan dia sama sekali dari hidup kita" yang malah ditanggapi sinis oleh Kai dengan jawaban "Ya, bisa saja". Tapi aku sadar betul akulah pihak penengah disini, akulah yang berpikir dengan logika, akulah yang harus sabar, jadi aku harus bertindak lebih dewasa. Anggap saja ini sama dengan melerai anak umur lima tahun yang sedang berkelahi di taman. Bedanya, anak umur lima tahun bisa disogok dengan lollipop bundar, sedangkan permasalahan Kai dan Ibunya tidak mungkin beres hanya dengan dua lollipop bundar. Mereka harus bicara, mereka harus bertatap muka, dan mereka harus bertemu.
Sepanjang jalan menyusuri terminal kedatangan, aku menggandeng Taeoh sambil mengelus lembut punggung Kai, berusaha membuatnya tenang. Pelan-pelan aku bilang padanya "Ibumu hanya ingin kesempatan. Dia tulus mengharapkan anaknya bisa memberi dia kesempatan kedua. Usianya mungkin tidak akan lama lagi, Kai. Siapa yang tahu? Bagaimana kalau dia keburu 'pergi' sebelum sempat berbaikan denganmu?", trik yang selalu diajarkan Mama: pakailah kalimat-kalimat yang ada hubungannya prediksi kematian untuk menggugah hati seseorang. Lalu Taeoh mulai rewel karena haus dan ingin minum susu, terpaksa aku mencari bangku untuk membongkar tas ransel yang sudah digembok demi mengeluarkan alat-alat perkakas pembuat susu. Tapi Kai mendadak berubah jadi patung dungu, dia hanya duduk dan bengong, tidak responsif sama sekali. Malah dia ikut-ikutan rewel ingin minum kopi. Aku begitu frustasi sampai-sampai rasanya seperti sedang mengasuh dua bocah berusia dua tahun.
Setelah duduk di kedai kopi sebentar, aku memtuskan sudah saatnya kami menghadapi kenyataan. Kenyataan yang sedang menunggu di pintu depan. Menunggu kedatangan kami dengan wajah kakunya. Kai tidak akan lari. Aku yakin dia juga sudah siap untuk menemui 'kenyataan'.
Dan inilah dia… Sang Kenyataan. Berdiri disana, memakai setelan warna krim dengan kancing-kancing hitam besar, menggenggam dompet clutch warna hitam yang serasi, dan menatap kami dari balik pagar pembatas besi. Sorot matanya tetap penuh misteri seperti biasa. Hanya saja kali ini ada yang berbeda dari penampilan Heechul, aku tak yakin itu apa… tapi… kalau mataku tidak salah lihat, riasan makeup-nya tidak semenor kemarin.
Oh my god. Bukankah ini kemajuan yang bagus?
"Ladeeee!" Taeoh langsung menghambur kearah neneknya dengan gembira, sementara Heechul membungkuk sedikit untuk menggendongnya.
Wajah Kai masih sekeras batu karang, tapi aku memperhatikan ada seulas tarikan kecil di bibirnya yang tadi tak terlihat.
"Puzzle?" Taeoh menarik-narik lengan baju Heechul penuh harap. "Puzzle?"
"Ini, Taeoh." Heechul meraih kedalam tas kecil yang dia genggam dan mengeluarkan potongan-potongan puzzle, lalu memberikannya pada Taeoh. Kemudian dia menatap kami berdua lurus-lurus. "Kalian sudah makan di pesawat?"
"Belum," jawabku mewakili Kai yang bisu.
"Kalau begitu…" dia menunduk, lalu berdehem sebentar. "Kalau begitu… terserah kalian mau makan dimana. Aku ikut saja."
Dengan terperangah, aku memusatkan pandangan pada Heechul. Dia berdiri di sana, menggendong Taeoh diantara kedua tangannya, rambutnya sedikit terhembus angin, tampak pucat, tua, dan berbayang-bayang. Juga sangat… rendah hati.
Ini mungkin yang paling mengagetkan. Nyonya Kim Heechul, wanita paling agung dan paling sombong di dunia, sekali ini tidak memerintah kami, menyuruh-nyuruh kami, atau menguliahi Kai soal perbedaan batas-batas antara kaum jetset dengan rakyat jelata. Dia bilang "terserah kalian". Dan sekarang dengan kecil hati dia bersedia menunggu jawaban.
Ketika menoleh, aku juga melihat Kai sama terperangahnya melihat perubahan Heechul. Meski di detik berikutnya dia cepat menguasai diri.
"Kita cari penginapan dulu, nanti baru cari makan," tukas Kai tetap bermuka datar. Tidak masalah. Yang penting dia sudah agak luluh melihat kesungguhan ibunya. Malah, jujur saja ini agak diluar ekspektasiku. Tadinya aku mengira mereka akan saling cakar-cakaran atau apa, ternyata Kai dengan dewasanya membiarkan Taeoh berlari ke pelukan Heechul lalu berkata akan mencari taksi untuk ke penginapan dulu. Tapi untungnya Heechul sudah memesankan kami kamar di Hotel Dei Cavalieri. Dia sampai bela-belain bawa sopir plus mobilnya pula! Padahal kami disini hanya beberapa hari.
Kai tidak protes dan menurut saja waktu ibunya menawarkan tumpangan. Meski aura di dalam mobil tetap canggung dan tidak enak. Satu-satunya hiburanku adalah suasana langit malam Milan yang terang benderang. Kalau aku menatap keluar jendela cukup lama, lampu-lampu jalanan menjadi kabur seperti kaleidoskop. Seperti sedang berada di taman ria.
Coba tebak, kami baru saja melewati alun-alun Piaza Dumo! Piaza Dumo yang legendaris dan selalu jadi destinasi awal para turis. Dari sini aku bisa melihat Milan Cathedral berdiri kokoh, begitu memikat mata. Kai bilang kalau mau keliling-keliling besok saja, setelah dia selesai meeting, karena malam ini kami semua butuh istirahat. Harus kuakui dia benar juga, kami semua capek, apalagi Taeoh yang biasanya rewel kini duduk merosot di pangkuan Kai, dot susu menempel di mulutnya, dalam lima detik lagi dia akan terbang ke negeri dongeng. Heechul menyarankan kami untuk memesan makanan lewat layanan kamar, dengan acuh Kai bilang lebih suka makan di kedai pinggir jalan karena harganya berkali-kali lipat lebih murah. Kukira Heechul akan meradang lalu mengusir kami dari mobilnya, ternyata dia menyuruh si sopir berhenti di depan restoran keluarga "Galleria", yang menghidangkan pizza, spaghetti, pasta, roti panggang, dan menu-menu Italia rumahan.
"Kita bisa makan disini." ujar Heechul kaku.
"Ide bagus!" seruku terdengar seriang mungkin, dan mendorong pintu restoran hingga terbuka. Kai mengekor dibelakang sambil menggendong Taeoh. Dot susunya terlepas dari mulut dan nyaris terjun ke aspal kalau tidak keburu ditangkap Raehwa, sopir pribadi Heechul.
"Thanks," tukasku tersenyum ramah, dan dia membalasnya dengan anggukan sopan. "Eh iya, apa kau lapar? Ayo sini makan sama kami."
Pria berkacamata itu agak kaget ditawari gabung, lalu melirik Heechul dengan takut-takut. Waktu menoleh, aku melihat sorot mata Heechul galak sekali, berdiri di pintu, dan menakuti para pejalan kaki. Ya ampun. Dia malah membuat turis-turis kehilangan selera makan.
"Silahkan, Nyonya saja. Tadi saya sudah makan roti." tolak Raehwa sopan.
Aku ingin mengatakan hal lain untuk memaksa Raehwa masuk, tapi aku takut dilempari sesuatu oleh wanita galak di pintu, jadi aku terpaksa meninggalkan dia sendirian di luar.
Kami duduk di meja kayu dan seorang pelayan memberikan buku menu pada kami masing-masing, lalu suasana berubah sehening kuburan lagi.
Bahkan setelah kami selesai menghabiskan Pasta pepperoni, Spaghetti, dan Macaroni Cheese di meja, setelah Kai tambah Frapelatte gelas kedua, dan setelah Taeoh minta diantara ke kamar kecil tiga kali, Heechul masih saja diam seperti patung es. Ini makan malam keluarga paling buruk dalam hidupku. Malapetaka! Kumpul bareng narapidana di penjara tak mungkin seburuk ini. Aku menempuh segala upaya untuk memulai pembicaraan, bergurau serta melucu, tapi Kai malah sibuk menerima telpon, dan ngeloyor pergi entah kemana, yang paling parah Heechul juga tetap seperti… patung es. Tidak ada yang berubah.
Ya Tuhan. Sampai kapan sih kami diam-diaman begini?!
Kulayangkan tatapan tegas ke ibu mertuaku. "Mom, jika kau ingin hubungan kalian membaik, minta maaflah padanya, katakan apa saja, puji dia, bilang dia hebat dan sebagainya, pokoknya apa saja deh, demi Tuhan! Dia anakmu sendiri kan? Sesulit itu kah?"
Heechul menghela napas. "Kau tidak mengerti, ini tidak sesimpel itu."
"Ya, tentu saja ini sesimpel itu." jawabku meyakinkan dia. "Hanya ada satu kuncinya: kejujuran. Nah, itu Kai datang." aku tersenyum biasa waktu Kai duduk kembali di dekatku. "What's up, honey? It's everything alright?"
Kai mengantongi ponsel, "Tidak selancar itu. Sudah semua kan?" dia menatap aku dan Taeoh namun masih menghindari kontak mata dengan Heechul. "Kalau begitu ayo kita ke Hotel."
"Eh, Kai, tunggu sebentar." aku menahan tangannya waktu dia bangkit dari kursi. "Duduk dulu sini. Ibumu mau bicara."
Kai menatap Heechul dengan pandangan kosong. "Oh," lalu angkat bahu sekilas. "Oke."
Cuma 'oke'? Tak bisakah dia bersikap lunak sedikit dengan ibunya? Ingin sekali aku melayangkan tempat sendok ini ke kepala Kai.
Aku melirik ke Heechul, memberinya kode mata untuk segera bicara.
"Kai, aku merasa…" Heechul berhenti sebentar. "Aku merasa… mungkin selama ini aku tidak… mungkin aku tidak selalu memperhatikan…" dia cepat-cepat meraih serbet untuk menyeka keringat fiktif di dahinya. Tangannya gemetar. Ada apa? Apa dia gugup? Aku menyadari dengan terkejut. Dia pasti gugup. Kejadian langka! Baru kali ini aku melihat Ratu Es sekaliber Kim Heechul segugup itu. Ternyata dia bisa salah tingkah juga ya.
Heechul kembali fokus menatap Kai setelah tarik napas panjang-panjang. "Kai, yang ingin kukatakan adalah… aku sangat… sangat bangga padamu. Sebagai seorang ibu, aku merasa bersalah… karena aku telah… intinya, aku ingin minta maaf."
Ya ampun. Ya ampun, kurasa aku bakal menangis.
"Begitu," sahut Kai pendek.
"Dan aku…" Heechul bersuara lagi. "Aku selalu… dan akan selalu…" dia berdehem. Lalu terdiam, napasnya tidak teratur. "Yang ingin kukatakan adalah… seperti yang aku yakin… dan kita semua yakini…" dia terdiam lagi, dan menyeka wajahnya yang berkeringat. "Maksudnya adalah… adalah…"
"Oh! Katakan saja, pada putramu bahwa kau menyayangi dia, Mom. Jujur saja untuk sekali dalam hidupmu! Please?" seruku gemas dan frustasi. Kalau dia gagap begitu bisa-bisa kami semua akan tidur di restoran ini.
"Aku… aku menyayangimu, Kai." lanjut Heechul dengan suara tercekik. "Aku menyayangimu…" sejurus kemudian dia mendesah lega sambil mengusap setitik air di matanya, "Ya Tuhan…"
"Aku juga menyayangimu, Ma." tak disangka-sangka Kai langsung menjawab dengan lancar tanpa tersendat-sendat. "Aku juga minta maaf karena bersikap kasar kemarin-kemarin."
"Tidak. Akulah yang minta maaf karena terlalu menekanmu. Sebagai seorang ibu, aku hanya ingin membantu, walaupun aku sadar caranya…kurang baik…" dia menghela napas. "Kai, aku sangat bangga. Sangat, sangat bangga padamu. Maaf sudah bersikap keras. Kalau kalian semua tidak keberatan, mari kita pulang."
Hah? Begitu saja? Tidak ada high five, pelukan mesra, ayo-kita-bersenang-senang-lagi?
"Ma… tunggu." Kai langsung bereaksi begitu tahu Heechul sudah siap-siap kabur ke mobil, dia ikut berdiri lalu mengulurkan kedua tangannya. Tapi Heechul hanya mematung bodoh dan sepetinya tidak paham apa yang sedang dilakukan Kai. Jadi pria itu beringsut lebih dekat dan langsung melingkarkan lengannya ragu-ragu di tubuh sang ibu.
Aku tidak percaya ini terjadi. Kai berpelukan dengan ibunya! Setelah sekian tahun hidup dalam perang dingin, setelah semua yang telah mereka lalui. Diam-diam aku memotret mereka terus kukirim ke Yixing lewat instagram. Kai tidak akan tahu, dia tidak punya akun instagram.
"Terima kasih," tukas Kai dengan senyum lembut. "Terima kasih untuk segalanya, Ma."
Heechul menjauh, kelihatan sangat shock dan kaku dari biasanya. Dia mengangguk singkat padaku dan Kai, lalu buru-buru menyelinap keluar dari pintu. Aku yakin setelah ini dia akan menghabiskan selusin kotak tisu di kamar suite mewahnya.
Kupikir bakal sesulit apa. Ternyata mudah saja. Problem solved! Akhirnya kita semua bisa tidur nyenyak malam ini.
.
.
.
.
Ini adalah busana yang patut kukenakan untuk berkeliling di kota Milan yang menakjubkan:
Blus kaftan tunik warna putih yang panjang lengannya tiga perempat
Jins khusus ibu hamil dari 7 for All Mankind
Pakaian dalam rancangan Elle MacPherson
Sepatu bot Alexander Wang
Shoulder bag mungil warna coklat tua rancangan Fendi
dan scarf Burberry yang kuikat dileher dengan gaya Eropa
Menurutku, aku terlihat sangat keren dan cewek Milan banget. Kurapikan tali bra-ku yang nongol sedikit dan kukibaskan rambutku di depan cermin. Meraih perona pipi dan memulasnya ke wajahku untuk terakhir kali.
"Sayaang, kau sudah siap?" seruku.
"Ya," dia melongok dari kamar mandi, ponsel dijepit dibawah dagu. "Hm. Tunggu sebentar, Jackson." Kai menutup telpon dengan tangan. "Sehun, kau yakin mau jalan-jalan sendiri?"
"Seratus persen yakin," jawabku sambil mengoleskan lip liner warna fuscia lalu membubuhkan lipstick party pink, kurapikan sedikit dengan telunjukku. "Jadi kontrakmu ini tentang apa? Sesuatu yang mendebarkan?"
"Kontrak yang… cukup besar," gumam Kai sesudah diam sebentar. Dia mengacungkan dua dasi di depanku. "Dasi mana yang akan memberiku keberuntungan?"
Aku berpikir sebentar. "Mmm… yang merah."
Kubantu dia memasang dasi itu di lehernya, aku sudah biasa, jadi sudah cekatan. "Ayolah, katakan padaku. Klienmu ini bergerak di bidang apa? Tambang minyak? Gas? Batubara?"
Kai tersenyum penuh rahasia. "Bisa dibilang begitu. Pokoknya ini kontrak yang sudah lama sekali kuinginkan. Nah… kalau kau pergi, apa Taeoh akan dititipkan ke ibuku?" dia sengaja mengubah topik. "Kau tak apa-apa sendirian?"
"Tidak apa-apa. Aku bisa dengan mudah mencari hiburan sendiri."
Hening sejenak, saat mendongak, aku melihat Kai sedang mengamatiku dengan bimbang. "Mau kupesankan taksi untuk membawamu ke area pertokoan? Ada jejeran toko suvenir tidak jauh dari sini."
Aku menggeleng, "Tidak, Kai. Aku tidak ingin belanja. Aku cuma ingin jalan-jalan selayaknya turis. Kau tahu, kan? Mengepit gulungan peta, membawa teropong, pokoknya hal-hal yang dilakukan turis."
Kai menaikkan alis. "Hal-hal yang dilakukan turis itu seperti?"
"Seperti… memotret patung, melempar uang koin ke kolam, dan… berfoto dengan apa saja."
"Oh, begitu." sebersit senyum bermain di bibir Kai.
"Apa?" tukasku curiga. "Apa maksudnya 'oh begitu'?"
"Tidak ada." Kai menyeringai. "Well, selamat bersenang-senang." dia menunduk sedikit dan mengecup bibirku. "Aku betul-betul menyesal karena harus rapat. Mulai nanti sore sampai seterusnya kita akan menghabiskan saat-saat bahagia bersama keluarga. Aku janji. Pasti kutebus."
"Baiklah. Kupegang janjimu," tukasku sambil menyodok pelan dadanya. "Pastikan kontrak misterius ini memang pantas dilakukan." aku berharap Kai akan tertawa, atau setidaknya tersenyum—tapi dia cuma mengangguk kecil, meraih tas kerja, lalu berjalan ke pintu. Astaga, kadang-kadang dia terlalu serius kalau sudah menyangkut pekerjaannya.
.
.
.
.
Dari lantai lima, aku naik lift ke lantai enam hanya untuk menitipkan Taeoh di kamar ibu mertuaku, tadinya dia hampir menelpon Raehwa untuk menemaniku, tapi aku menolak dengan mengatakan lebih rileks kalau jalan kaki. Toh kebanyakan turis disini juga begitu. Malah lebih asik, kita bisa lebih meresapi udara kota dan menikmati pemandangan sekitar. Dua belas menit kemudian, aku sudah sampai di meja resepsionis tempat penukaran mata uang asing.
"Ciao!" sapaku tersenyum ramah pada wanita dibalik loket. "Come sta?" kuharap pelafalanku benar, tadi sempat belajar sedikit sama petugas hotel yang membersihkan kamar kami. "Ich bin…" tunggu dulu, "Ich bin" itu bukannya bahasa Jerman? Ah, sudahlah. Hanya karena aku sudah mempelajari dua kosakata, bukan berarti kosakata lainnya bisa meluncur dari mulutku dengan sendirinya kan?
"Saya ingin menukar uang dengan euro, please." ucapku dalam bahasa Inggris. Nah, lebih enak begini.
"Sure." wanita itu tersenyum. "Mata uang mana?"
"South Korea Won," jawabku sambil mengeluarkan sejumlah uang kertas yang baru-baru ini kutarik dari kartu rahasia. "Ini semua tujuh belas ribu won."
Harap-harap cemas aku mengamati wanita itu menghitung uang yang kubawa dengan komputer kecil. Barangkali nilai tukar mata uang korea bernilai besar dan jumlahnya menguntungkan! Aku merasa sangat bergairah. Jadi tidak sabar—
"Sesudah dipotong komisi…" wanita itu menengadah dari komputer. "Sepuluh lima sembilan."
Aku terpaku gembira. "Sepuluh ribu lima puluh sembilan euro?" Wonderful! Aku tak mengira isi kartu rahasiaku ternyata nilainya sebanyak itu di Italia. Siapa sangka? Berarti aku bisa beli sabuk kulit buat Kai, kemeja baru untuk Taeoh, ruffled dress Marie Chantal untuk bayi—
"Bukan, bukan sepuluh ribu lima puluh sembilan euro." dia menggeleng singkat, kemudian menunjukkan hasil hitungannya. "Tapi sepuluh euro lima puluh sembilan sen."
"Apa?" senyum gembiraku pudar tersapu gelombang shock.
"Sepuluh euro lima puluh sembilan sen." ulang wanita itu sabar. "Mau diambil dalam bentuk apa?"
.
.
.
.
Cuma Sepuluh euro? Bagaimana uang asli sebanyak itu hanya bernilai Sepuluh euro?! Sama sekali tak masuk akal! Sudah begitu orang tadi acuh tak acuh pula, padahal aku sudah susah payah buang ludah menjelaskan kalau di Korea tujuh belas ribu won itu bisa tambah udon sebanyak lima kali. Tetapi dia bergeming. Bahkan, katanya dia sudah bermurah hati.
Huh. Ya sudahlah. Barangkali seluruh butik di Milan sedang diskon 99,99 persen.
Aku menyusuri jalan sambil dengan cermat mengikuti peta pemberian concierge hotel. Orang itu sangat membantu! Aku tadi menjelaskan bahwa aku ingin meresapi kebudayaan kota Milan, dan dia langsung mengoceh tentang lukisan Leonardo Da Vinci. Jadi dengan sopan aku menambahkan kalau aku lebih tertarik pada seni kontemporer Italia, kali itu dia mulai mengoceh tentang beberapa seniman yang membuat film-film tentang kematian. Jadi aku memperjelas lagi kalau 'seni Italia kontemporer' yang kumaksud adalah ikon-ikon kebudayaan seperti Prada dan Gucci, seketika matanya langsung berbinar mengerti. Dia menandai jalan-jalan di peta sambil memaparkan secata detail pusat-pusat belanja strategis di Milan, salah satunya adalah Quadrilatero della Moda. Di sepanjang jalan Via Montenapoleone juga katanya banyak berjajar butik-butik para desainer dan rumah mode ternama. Terus dia menandai area lain seperti Via Borgospesso, Via Santo Spirito, Via Manzoni dan Via della Spiga yang juga merupakan kawasan yang dipenuhi oleh butik-butik mewah dari para desainer. Untuk permulaan, aku putuskan mulai dari Quadrilatero dulu.
Hari itu cerah dan angin bertiup sepoi-sepoi. Sinar matahari menantul dari jendela-jendela serta mobil-mobil, dan banyak wisatawan asing berseliweran kesana kemari. Ya Tuhan, Milan keren sekali! Setiap orang yang kutemui memakai kacamata bermerk dan tas bermerk—bahkan kaum prianya! Sejenak aku berpikir untuk membelikan Kai tas tangan dan bukannya sabuk. Aku membayangkan dia pergi ke kantor sambil mengepit tas kecil yang pernah dipakai Christian Ronaldo di ketiaknya…
Tidak cocok. Sabuk saja deh.
Aku berhenti sebentar untuk memandangi peta. Tanda panahnya menunjuk kearah sini, berarti aku sudah hampir dekat dengan tujuan. Katanya concierge tadi, Quadrilatero tidak jauh dari Hotel tempat kami menginap. Tepat saat aku mendongak, seorang wanita lewat sambil membawa kantong belanjaan dari Versace.
Tidak salah lagi! Pasti aku sudah dekat dari lokasi.
Aku berjalan ke depan sedikit dan disana ada wanita lain yang juga menggenggam kantong belanja Versace ditambah enam kantong belanja Armani. Dia berbicara ke temannya lalu meraih kedalam salah satu kantong untuk mengeluarkan toples selai berlabel… Armani?!
Selai Armani? Armani memproduksi selai?
Oh, mungkin di Milan semua kebutuhan rumah tangga diproduksi oleh brand fashion. Barangkali Dolce & Gabbana memproduksi tusuk gigi, dan Prada memproduksi saus tomat.
Ketika aku melangkah lebih kedepan lagi. Betul saja…
Akhirnya, inilah dia… Quadrilatero della Moda.
Sejauh mata memandang. Hanya ada toko, toko, toko dan toko!
Selagi aku berjalan diantara keramaian orang, kepalaku menoleh ke kiri dan ke kanan, nyaris merinding. Terlalu banyak pilihan. Harus kuralat, barang-barang ini tidak ada yang mirip dengan yang ada di Korea. Bahkan, seumur-umur aku baru pertama kali melihat bentuk mantel seperti itu, atau sepatu yang disana itu….
Gosh!
Aku tak mampu bergerak. Mematung di tengah jalan seperti keledai yang dikutuk oleh ibunya dan para arkeolog akan menemukan jasadku bertahun-tahun kemudian, masih mematung disini, sambil menggenggam kartu kredit.
Tiba-tiba pandanganku jatuh pada deretan sabuk dan dompet kulit yang dipajang di jendela butik di dekatku.
Sabuk Kai. Karena itulah tujuanku kesini. Fokus.
Aku bergerak menuju toko itu dan membuka pintunya. Langsung saja bau kulit mahal menyergap hidungku. Toko ini menakjubkan. Lantainya ditutup karpet abu-abu muda kecoklatan dan lemari-lemari pajangannya diterangi sinar lembut. Aku berhenti di samping boneka pajangan yang mengenakan mantel cokelat tua yang terbuat dari kulit dan lapisan satin. Kuelus mantel itu dengan perasaan sayang, memeriksa label harganya, lalu pingsan.
Tentu saja angka nolnya lebih dari satu.
Aku cepat-cepat pergi menjauhi si manekin.
Selagi aku mulai memeriksa deretan sabuk, seorang pria tambun setengah baya keluar dari ruang ganti, mengenakan mantel kasmir hitam. Di mulutnya ada cerutu yang selalu dihisap bos-bos Mafioso di film-film. Disusul kemudian, keluarlah seorang karyawan toko yang mengenakan setelan jas hitam dan kacamata persegi yang sepertinya asisten manajer toko ini.
Karyawan dengan kacamata itu melirikku dan aku sadar betul sorot mataku sedang menangkap pembicaraan mereka.
"Oh, hai!" sapaku cepat. "Aku ingin yang ini, terus kalau bisa minta dibungkus kado." aku menunjuk sabuk yang telah kupilih.
"Silvia akan membantu Anda." dia melambai tak acuh ke arah kasir lalu kembali melayani pelanggan setianya.
Aku menyerahkan sabuk itu pada karyawan toko lainnya bernama Silvia, sementara aku terpana kagum mengamati jari-jari lincah Silvia membungkus sabuk, aku juga separuh mendengarkan pria tambun yang kini mencari diantara deretan tas kerja.
"Tak suka teksturnya…" cetusnya kritis. "Rasanya lain. Ada yang tak beres…"
Pria itu menengadah, melihatku mengamati dia, kemudian mengedipkan mata. "Ini tempat terbaik di dunia untuk barang-barang kulit. Tapi jangan mau dikibuli."
"Tidak akan." aku tersenyum membalasnya. "Ngomong-ngomong, aku suka sekali mantel itu."
"Thank you. Kau sangat baik." Dia mengangguk setuju. "Apa kau aktris? Model?"
Aku dikira artis? "Eh, tidak." gelengku sambil tertawa gugup. "Bukan keduanya."
"Bagaimana Anda membayarnya, Signorina?" Silvia menyela percakapan kami.
"Oh. Ini dia." sambil mengulurkan kartu Visa, hatiku dilanda sukacita. Membeli sesuatu buat pendamping hidup kita jauh lebih memuaskan daripada membeli untuk diri sendiri. Ditambah lagi, pembelian ini akan menghabiskan jatah kartu Visa-ku, jadi otomatis aku tak akan membeli apa-apa lagi.
Ketika melirik ke sisi lain toko, jantungku mendadak berhenti berpacu.
Tak mungkin. Itu kan…
Aku yakin sekali tidak salah lihat. Itu benar-benar tas Gadino! Tas simpel nan elegan rancangan Hilde Palladino. Tas kulit buaya putih bertabur 39 butir berlian. Kupikir benda itu sudah habis terjual di seluruh dunia. Ternyata masih ada satu disini.
Ini benar-benar menakjubkan.
Kakiku goyah dan tanganku berkeringat.
Aku harus membelinya, kata-kata itu melintas di benakku. Harus!
"Madam? Signorina? Can you hear me?" suara lain menembus pikiranku dan ketika berkedip, aku mendapati telapak tangan Silvia hanya berjarak beberapa senti dari depan mataku.
"Oh," kataku kikuk. "Maaf." aku buru-buru mencoretkan tanda tangan diatas struk. "Jadi… apakah itu tas Gadino asli?"
"Ya, itu asli." jawab Silvia agak bosan, seakan aku orang keseribu satu yang menanyakan keaslian tas itu.
"Berapa?" mataku berbinar penuh harap. "Berapa harganya?"
"Tiga puluh empat ribu euro."
Fuck. Tiga puluh empat ribu euro. Untuk satu tas.
Tetapi jika aku memiliki tas itu, aku tak akan membutuhkan rok baru lagi. Janji. Sumpah. Seumur-umur… tidak akan pernah! Siapa yang butuh rok baru kalau kita sudah punya tas paling wow di kota ini?
Aku tak perduli berapa harganya. Aku harus memiliki tas itu!
"Aku mau beli yang itu juga." kataku terburu-buru. "Bisa sekalian kau bungkuskan?"
Semua karyawan di toko ini tertawa terbahak-bahak. Hei… apanya yang lucu sih?! Tidak sopan. Turis diketawain!
"Anda tidak bisa langsung membelinya," tukas Silvia menggeleng iba. "Ada daftar tunggu untuk tas itu."
Daftar tunggu. Aku lupa soal daftar tunggu. Tentu saja ada daftar untuk tas sebeken itu. Dasar aku idiot.
"Apa Anda ingin bergabung dalam daftar?" tanyanya sambil menahan kartu Visa-ku kembali.
Oke. Coba berpikir sehat. Kunjungan kami kesini hanya tiga hari. Aku kan tidak mungkin masuk daftar tunggu di Milan. Maksudku, pertama-tama, bagaimana nanti aku mengambilnya? Bagaimana jika mereka baru mengabariku tiga bulan kemudian? Apa aku harus kembali ke Milan cuma untuk mengambil tas kemudian pulang? Atau—
"Ya," kudengar suaraku menjawab sebelum sempat kusaring baik-baik. "Yes, please."
Selagi aku menulis alamat, jantungku berdebar keras. Aku masuk daftar tunggu. Aku masuk daftar tunggu tas Gadino! Di Milan!
"Ini." aku mengembalikan formulir yang telah kuisi seakurat dan selengkap mungkin.
"Baik." Silvia menyimpan formulir itu di dalam laci. "Kami akan menelpon Anda kalau ada tas yang tersedia."
"Dan… kira-kira kapan tepatnya?" tanyaku penasaran.
"Tak bisa diramalkan."
Waduh. Aku belingsatan gelisah. "Ada berapa banyak orang yang mendaftar sebelum aku?"
"Mi scusi, Signorina. Kami tidak bisa membocorkan informasi itu ke pengunjung awam."
Aku dilanda keputusasaan. Tas itu ada di sana. Hanya berjarak beberapa meter dariku… dan aku masih belum bisa memilikinya?
Ya sudah. Toh aku sudah ada dalam daftar mereka. Tak ada lagi yang bisa kulakukan.
Aku meraih kantong belanja berisi sabuk dan pelan-pelan berjalan pergi, berhenti sebentar di dekat tas Gadino, mengamatinya lebih seksama.
Ya Tuhan, tas ini menawan sekali. Tas paling elegan yang pernah kulihat. Selagi mengaguminya, mendadak aku diserang perasaan marah. Bukan salahku kalau aku baru mendaftar sekarang, selama ini aku terkurung di Korea bagaikan seekor katak dalam tempurung!
Tenang… tenang. Yang penting, aku bakal memilikinya nanti. Begitu…
Tiba-tiba suatu ide tercetus di kepalaku.
"Aku ingin tahu," tukasku buru-buru kembali ke meja kasir. "Apakah semua orang di daftar tunggu itu betul-betul ingin membeli tas Gadino?"
"Tentu saja. Mereka kan masuk daftar tunggu," jawab Silvia mengernyit heran seolah aku tolol sekali.
"Memang, tapi barangkali semuanya sudah berubah pikiran? Atau mungkin sudah lupa? Barangkali banyak dari mereka yang cuma iseng-iseng daftar untuk gaya-gayaan?" terangku bersemangat. "Nah, sekarang giliranku! Kau mengerti? Aku bersedia kok langsung membayar tas ini!"
"Kami akan menghubungi masing-masing pelanggan. Dan kami akan menghubungi Anda kalau ada tas yang tersedia," dia tetap keras kepala.
"Kalau begitu biar aku saja yang melakukannya," aku menawarkan bantuan. "Asal kau mau memberi nomor-nomor mereka padaku."
Silvia terdiam sesaat.
"Tidak, terima kasih. Biar kami saja yang menghubungi mereka."
Ck. Dia tidak berubah pikiran. Tak ada lagi yang bisa kulakukan. Aku akan berhenti memikirkannya dan menikmati sisa hariku di Milan. Tepat sekali.
Sekali lagi aku melirik penuh damba pada tas Gadino di pajangan, lalu melangkah keluar toko.
Aku ingin tahu apakah dia sudah mulai menelpon nama-nama di daftar itu.
Tidak. Hentikan. Berjalanlah terus. Aku tak akan terobsesi lagi! Aku bahkan tak mau memikirkannya. Aku akan memusatkan pikiran pada… kebudayaan atau mencari inspirasi untuk dekorasi pernikahan. Betul.
Baru lima langkah aku berjalan, mendadak aku terpaku di tempat.
Bagaimana kalau aku meninggalkan nomor yang salah?
"Hai!" seruku terengah-engah habis berlari. "Aku akan memberimu nomor telpon lain, kalau-kalau nomor yang itu tidak bisa dihubungi." aku mengorek-ngorek tasku dan mengulurkan salah satu kartu nama Kai. "Ini nomor telpon kantor suamiku."
"Baiklah," ujar Silvia malas-malasan.
"Tapi ingat ya… kalau kau bicara dengannya, jangan sebut-sebut tas." aku merendahkan suara sedikit. "Bilang saja, 'Buaya Putih telah tiba'."
"Buaya Putih telah tiba," tiru Silvia sambil menulis dibelakang kartu nama. Sepertinya dia sudah sering menelpon dengan kata sandi.
"Mintalah berbicara langsung dengan suamiku. Kim Kai. Dia atasannya."
Di seberang toko kulihat si pria tambun menengadah dari kumpulan sarung tangan kulit.
"Kim Kai," ulang Silvia. "Baiklah." dia menyimpan kartu nama itu sambil mengangguk.
"Jadi, apa kau tadi sudah menelpon orang-orang dalam daftar?" tanyaku tak sabar.
Silvia memasang wajah datar. "Belum."
"Dan apa kau biasa menelpon tengah malam? Aku tak keberatan—"
"Signorina Kim!" gertak Silvia kesal. "Anda harus menunggu! Saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi!"
"Kau yakin sekali," sela suara serak, dan kami berdua menoleh, mendapati pria tambun itu menghampiri kami dari seberang.
Aku ternganga heran. Apa maunya orang ini?
"Maaf?" ujar Silvia angkuh.
Pria itu mengedipkan matanya padaku. "Jangan biarkan mereka mengakalimu, Nak." kemudian dia menoleh pada Silvia. "Daritadi aku mendengarkan percakapan kalian. Kalau mau, kau bisa saja menjual tas itu padanya. Jika kau belum menelpon siapapun, mereka tidak akan tahu tas ini sudah datang. Mereka bahkan tidak tahu tas ini ada…" dia sengaja berhenti sejenak untuk meninggalkan efek dramatis. "Mengapa menunggu orang-orang yang tidak pasti kabarnya kalau disini ada satu yang berniat membeli?"
"Bukan itu masalahnya, Signore." Silvia tersenyum masam padanya. "Ada tata cara ketat—"
"Kalian kan punya pertimbangan. Jangan menyangkal. Oy, Roberto!" panggilnya tiba-tiba. Pria berkacamata kotak tadi bergegas datang.
"Signore Graham?" katnya lancar sambil melirikku. "Apakah semuanya beres?"
"Kalau aku menginginkan tas ini untuk temanku, apakah kau mau menjualnya?" Pria itu meniupkan segulung asap lalu menatapku.
Roberto melirik Silvia yang kontan memutar bola matanya. Kulihat Roberto sedang berpikir keras.
"Signore Graham." Dia menoleh pada pria itu sambil tersenyum menawan. "Anda pelanggan yang sangat berharga. Tapi ini persoalannya beda…"
"Mau tidak?"
Ada keheningan yang sangat panjang. "Ya." jawab Roberto setelah berpikir keras sekali lagi.
Oh.. my… telingaku tidak salah dengar kan? Apa dia baru saja bilang 'ya'?
"Silvia," panggil Roberto akhirnya, "Bungkus tas itu untuk Signorina."
Ya ampun. YA AMPUN!
"Dengan senang hati," ujar Silvia sambil melirik benci padaku.
Aku tak percaya ini betul-betul terjadi!
"Tuan, aku… aku tak tahu bagaimana harus berterima kasih," aku tergagap pada pria tua yang tadinya kukira seorang mafia. "Ini tindakan paling baik yang pernah dilakukan orang padaku. Aku sungguh-sungguh berterima kasih atas petolongan Anda."
"With my pleasure," pria itu mengulurkan tangan. "Albert Graham."
"Park Sehun," aku menjabat tangannya. "Ehmm… maksudku, Kim."
"Kau benar-benar berkemauan keras dan pantang menyerah, Nak." dia tersenyum penuh apresiasi. "Aku baru kali ini melihat orang yang begitu ngotot untuk sebuah tas."
"Saya memang sudah kepingin sekali." aku mengakui sambil tertawa. "Sudah lama melihat itu di sebuah majalah dan baru kesampaian sekarang."
Pria itu mengisap cerutunya lagi lalu menghembuskannya pelan-pelan. "Kim Kai ya… berarti kau istrinya?"
"Anda kenal suami saya?" tanyaku tertegun kaget. "Wah, kebetulan sekali!"
"Ya, saya tahu dia. Pria yang sangat berbakat. Memiliki dedikasi tinggi. Aku adalah mitra kerjanya yang sekarang."
Mitra kerjanya yang sekarang? Berarti… dia salah satu klien-klien Amerika yang menyebalkan itu?
Tidak. Kutarik kembali ucapanku, orang Amerika tidak menyebalkan. Malah sangat baik hati dan peduli.
"Wait!" tahanku buru-buru waktu melihat dia siap-siap melangkah keluar. "Tolong biarkan saya membalas kebaikan Anda dengan segelas minuman. Atau… atau makan siang. Atau apapun."
"Unfortunately," dia memperbaiki letak topinya. "I have to go. Nice offer, though."
"But I want to thank you for what you did. I'm so incredibly grateful!" balasku tulus.
Dia berpikir sejenak, lalu tersenyum padaku. "Who knows? Maybe one day you can do a favor for me."
"Anything!" jawabku sumringah dan dia kembali tersenyum ramah.
"Well, Sehun." tukas Albert. "See you later. Enjoy the bag."
Setelah pria itu pergi, wajahku masih berseri-seri dipenuhi kebahagiaan. Aku memiliki tas itu! Aku memilki tas Gadino yang legendaris!
"Totalnya tiga puluh empat ribu euro," terdengar suara si muka masam dari arah belakang.
Oh iya, aku lupa soal tiga puluh empat ribunya.
Disitulah aku baru sadar aku tidak punya dompet dan kantongku kering. Aku bokek berat.
Silvia menaikkan alisnya penuh ancaman, "I swear to god If you have trouble paying—"
"I don't have trouble paying!" potongku ikut kesal. "I just... need a minute."
Silvia melipat tangannya tampak sinis ketika aku merogoh tasku lagi dan mengeluarkan tempat bedak Etude.
"Kau punya palu?" tanyaku. "Atau benda berat lainnya?"
Silvia menatapku seakan-akan aku baru kabur dari rumah sakit jiwa.
"Apa saja boleh…" tiba-tiba aku melihat batu bata pengganjal pintu. Aku menyambar batu bata itu, berjongkok di lantai dan mulai memukuli tempat bedakku secara barbar. Bunyi berdebum yang keras membuat para pengunjung histeris dan lari pontang-panting keluar dari toko karena takut, tidak jadi belanja.
"Oddio!" teriak Silvia.
"Tak apa-apa," kataku dengan napas terengah-engah. "Aku hanya perlu…" DUAKKK!
"Please, stop, signorina…"
"Nah!" seruku bangga saat tempat bedaknya terbelah jadi dua. Dengan penuh kemenangan, aku mengeluarkan MasterCard yang tadinya kutempel di bagian dalam tempat bedak. Ini 'Kartu Gawat Darurat'. Hanya digunakan jika keadaannya benar-benar mendesak. Kai sama sekali tidak tahu tentang kartu ini. Kecuali dia punya mata sinar-X.
Aku dulu mendapat ide menyembunyikan kartu kredit di tempat bedak kosong lalu dilem rapat setelah membaca artikel pintar tentang cara mengatur keuangan. Ide ini betul-betul menarik hatiku. Yang perlu kaulakukan hanya menyimpan kartu kreditmu di tempat yang betul-betul tak bisa diambil semisal… dibekukan di dalam balok es atau dijahit di keliman tas. Jadi kau punya waktu untuk menimbang-nimbang lagi sebelum belanja. Rupanya taktik ini berhasil membuatku jadi bisa menabung sebanyak-banyaknya dalam kartu ini.
"Here it is!" kuacungkan kartu kredit itu dan Silvia memandangiku seolah aku teroris tak waras yang berbahaya. Dengan gemetar dia menggosok kartu di mesinnya. Satu menit kemudian aku menandatangani nota pembelian.
"Silahkan," jawabnya gondok sambil menyerahkan kantong belanja berwarna krem.
Tanganku mencengkram tali tas dengan perasaan bahagia tak terkira.
Finally… tas ini resmi milikku!
Ini adalah salah satu hari paling indah dalam sejarah hidup! Sambil mondar-mandir di Via Montenapoleone, aku serasa melayang di udara. Tas Gadino baruku tersampir anggun di bahu… dan semua orang mengaguminya. Bahkan, mereka bukan hanya mengaguminya… mereka ngiler melihatnya. Seluruh mata tertuju padaku. Aku tiba-tiba jadi selebriti!
Sekitar dua puluh turis wanita menghampiriku dan bertanya dimana aku membeli tas seperti ini. Seorang wanita dengan kacamata hitam yang pasti seorang bintang film Italia menyuruh sopirnya mendatangiku dan menawar tas ini seharga lima puluh ribu euro. Dan, yang paling hebat, aku bolak-balik mendengar orang bergumam, "La donna con le borse di angelo", yang setelah kurenungkan artinya "Wanita dengan tas bercahaya seperti malaikat"! Ya, pasti begitu! Itulah nama julukanku di Italia.
.
.
.
.
Saat tiba di kamar hotel sore itu, aku mengintip sedikit di kamar dan kulihat sudah ada Kai duduk di meja kerja, tampak serius memelototi layar laptop. Taeoh meloncat-loncat di kasur sambil bernyanyi soundtrack lagu Spongebob Squarepants versi kumur-kumur. Waktu melihat kepalaku nongol sedikit di pintu, Taeoh berhenti meloncat dan berlari menghampiriku.
"Shhh!" aku meletakkan telunjukku di bibir.
"Shhh!" balas Taeoh seketika, jarinya diangkat ke bibir. "Shh, Mummy!" dia tampak serius sekali, aku jadi ingin tertawa.
Saking seriusnya menghayati laptop, Kai tidak sadar aku sudah pulang, aku menggunakan kesempatan itu untuk mengendap-endap ke dapur dan menyurukkan kantong belanja berisi tas Gadino di balik kulkas, tempat yang tak akan diketahui Kai. Taeoh mengikutiku kemana-mana sambil makan roti selai nanas, pipi tembemnya cemong-cemong. Ketika aku mendengar langkah kaki menuju dapur, aku mendesis "Shhh!" padanya, agar semakin seru.
"Shh!" balasnya dengan bibir monyong penuh remah-remah roti.
Begitu Kai masuk, aku refleks terlompat. "Hai! Kau membuatku kaget, Kai." kataku sambil mengelus dada. "Aku baru jalan-jalan tadi… mm… keliling kota. Aku sudah foto-foto juga kok." tukasku nyaris mengeluarkan ponsel sebagai barang bukti.
Kai mengamatiku dengan bingung lalu menghampiri kulkas.
Oh, tidak, tidak! Bisa ketahuan nanti!
"Hei, sayang." aku spontan melingkarkan tangan di pinggangnya, menubruk punggung Kai dari belakang. "Bagaimana kalau kita mandi dulu? Kau sudah tidak sibuk kan? Kita sudah bisa jalan?"
Kai menoleh lewat bahunya. "Tinggal sedikit lagi. Pelukannya bisa ditunda dulu? Aku haus sekali dan belum minum selama empat jam."
Oh, pantas mulutnya agak bau.
"Shhh, Daddy!" kata Taeoh sok serius, jarinya masih di bibir. "Tak-umpet."
Dia pikir itulah yang sedang kami lakukan.
"Nanti ya main petak umpetnya." Kai membuka pintu kulkas dan mengambil botol air mineral. Kayaknya aku harus memindahkan pot yang di dekat TV untuk menutupi sisi belakang kulkas. Semoga saja jiwa kepo Kai tidak kambuh hari ini.
"Terus gimana rapatmu tadi?" tanyaku berusaha mengalihkan perhatiannya.
Wajah Kai berubah sumringah. "Sangat lancar. Uhm, Sehun. Ada kabar gembira yang ingin kusampaikan…" dia menuang air di gelas lalu menenggaknya. Aku bisa melihat jakunnya naik-turun jelas sekali dari jarak sedekat ini. "American Shale Oil sudah berada dalam genggaman," dia tersenyum bangga padaku. "Mereka bersedia menandatangani kontrak kerjasama untuk proyek pembangunan kilang minyak di wilayah lepas laut Florida, selama lima tahun."
"Wow." aku mendesah kagum lalu memeluknya. "Congratz, honey!" Ini hebat! Itu artinya kami semua bisa ikut pindah ke Amerika dan tinggal disana selama lima tahun.
"Dan… aku juga punya kabar gembira untukmu." gumam Kai sambil menciumi pundakku. "Kau sudah bertemu dengan Mr. Graham?"
Graham? Albert Graham? Ups. Jangan bilang dia membocorkan pertemuan kami tadi siang. Kalau begitu sia-sia saja aku menyembunyikan tas di balik kulkas.
"Hmm, ya." jawabku. "Tadi ketemu di… di suatu tempat. Orangnya sangat menyenangkan dan begitu baik."
Kai mengangguk-angguk. "Pantas. Tadi dia juga bilang kau wanita yang penuh ambisi dan pantang menyerah. Kalau boleh tahu apa saja yang kalian lakukan sampai-sampai dia berbaik hati mau menawarimu kerjaan di New York?"
Apa? Aku tidak salah dengar kan? Albert Graham menawariku kerjaan di New York? Kenapa aku baru tahu?! Dia tadi tidak menyebut-nyebut soal kerjaan.
"Kerjaan apa di New York? Dia menawariku apa?"
"Bukan dia, tapi temannya, Preston siapa gitu. Kau pasti tahu, katanya orang itu sudah wara-wiri di dunia Event Organizer selama tiga puluh enam tahun dan paling top di Amerika sana. Mr. Albert bilang klien-klien sahabatnya itu kalau tidak salah artis-artis, anggota keluarga kerajaan, CEO, dan atlit-atlit."
Preston? Preston Bailey? For-God-Fucking-Sake, Preston Bailey?! Tidak salah lagi, yang dibicarakan Kai pasti dia! Bukan tahu lagi, Preston itu panutanku! Semacam inspirasi hidup jika aku sedang berada di jalan buntu dan tak tahu harus bagaimana lagi. Bahkan, aku pernah 'meminjam' beberapa karya desainnya. Hanya beberapa sih. Kalau sedang kepepet saja.
"Aku sempat merasa aneh waktu dia bertanya ini-itu soal kau dan pekerjaanmu, begitu aku bilang istriku seorang PM di perusahaan Event Organizer terkenal di Korea, dia langsung tertarik dan menelpon temannya. Kelihatannya si Preston Preston itu sedang melakukan rekrut besar-besaran terhadap orang-orang bertalenta dari seluruh dunia."
Dan dari seluruh penduduk di Korea Selatan… akulah yang terpilih. Akulah yang dia rekrut! Diantara sekian ratus penduduk, akulah yang dia tawari kerjasama!
"Selamat ya," kali ini giliran Kai yang memelukku. "Aku sangat bangga padamu. Istriku yang cantik dan hebat. Jadi, kau bersedia menerima tawarannya?"
Aku senyam-senyum kegirangan dalam pelukan Kai. "Kau bercanda ya? Hanya orang gila yang menolak kesempatan dari Preston Bailey."
Kai mencium bibirku, "Begitu. Nah sekarang, apa kau sudah siap jalan?" bisiknya.
"Gimana kerjaanmu?"
Kali ini dia mencium keningku. "Cuma mau mengirim e-mail penting ke beberapa orang. Mandi duluan saja, nanti aku menyusul."
"Oke." tapi saat aku berbalik dan ingin melangkah ke kamar, Kai langsung sigap menahan pergelangan tanganku. Aku menoleh dan menatapnya heran. "Ada apa?"
"Tidak jadi."
"Hah?"
"Jalan-jalannya tidak jadi. Besok saja. Malam ini aku mau merayakan keberhasilan kita dengan cara yang spesial." dia menciumi ceruk leherku lalu memutar-mutar tali bra-ku. "Hanya kita berdua saja. Kau dan aku."
Kai tersenyum seksi menatap wajahku yang merona. Aku membalas tatapannya, jantungku berdebar diluar batas, darah menderu-deru di telingaku. Dia tiba-tiba menunduk dan menciumiku lebih bernafsu. Mulutnya membuka mulutku, dan tau-tau saja Kai berhasil menyingkirkan blus kaftan, tangannya melingkari punggung dan melepas kaitan bra-ku. Aku geragapan membuka kancing kemejanya. Bibir Kai bermanuver lincah bergerak turun mencapai buah dadaku dan aku terkesiap penuh gairah ketika dia menghisap putingku dan memainkan yang satunya dengan jari.
"Mummy? Daddy?"
Shit. Aku lupa masih ada Taeoh disini.
Kami menoleh serentak dan si kecil Taeoh sedang menonton kami dengan mata melotot penuh tanya.
Ya ampun. Bisa-bisa Taeoh tercemar otaknya. Aku harus menitipkan dia di ibu mertuaku lagi.
"Aku mau keatas dulu," tukasku sambil buru-buru memakai bra-ku kembali.
Kai mengangguk mengerti sambil mengedipkan mata. "Kalau begitu izinkan aku menyiapkan sesuatu. Kalian jalan-jalan dulu sebentar beberapa menit."
.
.
.
.
Ketika membuka pintu kamar, musik jazz mengalun pelan dan aku melihat Kai duduk disana, mengenakan mantel kamar sambil membawa gelas sampanye.
"Well, hello. Sudah puas jalan-jalan?" dia menghampiriku lalu menciumiku lagi. Irama suaranya jauh lebih lambat, lebih dalam dan lebih malas. Aku tidak pernah melihatnya serileks ini sejak bulan madu kami. Kamar ini juga menakjubkan, dengan lilin-lilin kecil di beberapa sudut, wangi aromaterapi yang menenangkan, dan taburan bunga mawar di atas seprai dan ada juga di lantai. Kai benar-benar telah menyiapkan semuanya. Kami seperti sedang bulan madu lagi untuk kedua kalinya.
Oh Tuhan. Ini lebih ekstrem daripada dugaanku.
"Hai," aku melepaskan diri dari pelukannya, lalu menatap sekeliling dengan terpesona. "Wah, kejutan besar!"
"Benar-benar mengikuti dorongan hati." Kai menyeringai. "Bahkan, ini gara-gara kau," tambahnya sambil menghampiri bar koktail. "Selama ini kau mengatakan kita harus lebih rileks, menikmati waktu kita, bersantai… kau benar. Kuharap kau terkesan melihat ini."
"Ya," jawabku antusias. "Ini indah sekali."
"Nah, mari kita bersantai. Kita punya waktu sepanjang malam." dia memberikan gelas sampanye dan mulai menciumi leherku. "Bagaimana kalau aku menyiapkan bak mandi?"
"Ide bagus! Biar aku saja." segera aku menuju kamar mandi pualam dan menampar kerannya. Oh, wow. Dia bahkan telah menyiapkan peralatan mandi yang ekslusif dari Asprey. Aku tergoda untuk membuka tutup botol minyak mandi dan menghirup aromanya. Hmmmm…
"Asyik ya?" Kai sudah berada di belakangku dan melingkarkan lengannya di tubuhku, kuat dan mantap. "Hanya kita berdua, sepanjang malam. Tidak tergesa-gesa, tidak terburu-buru…"
"Bak mandi sudah siap!" pekikku begitu melihat air hangat sudah memenuhi Jacuzzi. Secepat kilat kulepas atasanku. "Ayo!"
Oke, aku tidak akan menjelaskan secara detail apa yang terjadi sesudahnya. Lagipula, tidak ada banyak detail kok. Kecuali kami hanya kebanyakan 'duduk' dibawah pancuran sambil mengoleskan sabun cair wangi ke tubuh pasangan masing-masing. Untuk mengisi kekosongan obrolan, kami melakukan foreplay sedikit dan Kai memberi kissmark di beberapa titik lemah di tubuhku. Dan semua itu hanya makan waktu selama empat belas menit. Aku tidak ingin sesumbar, tapi kurasa kami bisa mendapat medali Olimpiade untuk "formasi bawah air" atau "gaya bebas serasi".
Setelah kami selesai mandi, aku merasa berbinar-binar hingga tidak membutuhkan perona pipi.
"Kau mau makan?"
Ketika aku menuju ruang duduk sambil dengan cepat mengeringkan tubuh dan rambutku, Kai sudah kembali mengenakan mantel kamarnya, bersantai di sofa.
"Lihat ini," Kai memberi isyarat ke arah meja. "Fashion cake!"
Fashion cake?
Dengan rasa penasaran, aku menghampiri meja untuk melihat lebih jelas—dan mau tak mau aku terkesiap gembira. Piring itu penuh kue mungil berbentuk tas dan sepatu. Lucu dan unik!
"Masing-masing menggambarkan benda fashion yang berbeda." Kai tampak puas sekali mengamati ekspresiku. "Kupikir kau pasti menyukainya. Coba saja." dia mengulurkan kue berbentuk sepatu bot berlapis gula.
Yummmm. Enaknyaaa! Sampai-sampai aku ingin menangis karena terharu. Ini malam paling sempurna…
Oh, ada yang sama bentuknya dengan tas yang sedang kukenakan! Aku harus mencicipinya juga.
"Sampanye?" kini Kai mengisi ulang gelasku.
"Asyik sekali, bukan?" Kai menarikku mendekat kearahnya, dan aku duduk di pangkuan Kai sambil bersandar di bahunya, merasa dibuai suasana santai, merasakan detak jantungnya di kulitku. "Hari yang luar biasa," tambahnya.
"Tidak salah lagi." aku meneguk sampanye. "Menurutku kau harus menerapkan satu hari bebas ponsel dalam seminggu. Pasti akan baik untuk kesehatanmu."
"Saran yang bagus," sahut Kai, tangannya menyusuri bagian dalam betisku lagi. Mengelus bagian kewanitaanku dan aku hampir saja kehilangan kewarasan kalau bukan karena kue-kue ini. "Mungkin kita bisa menginap di hotel setiap minggu. Itu akan baik untuk kesehatanku."
"Tentu!" aku terkikik geli. "Mari bersulang!" ketika kuangkat gelas sampanye, ponselku berdering, dan aku langsung dihinggapi waswas begitu melihat nama 'Mommy Lady Heechul' tertera di layar ponselnya.
"Abaikan saja," ucap Kai santai.
"Tapi ini dari Mom," ujarku cepat. "Barangkali tentang Taeoh. Aku mendadak khawatir. Sebaiknya kuangkat… Halo?"
"Sehun," suara Heechul terdengar agak panik dan gugup. "Taeoh… Taeoh menghilang. Aku sudah mencarinya kemana-mana, padahal baru kutinggal sebentar saja tapi—"
"APA?!" aku melengking tanpa sadar dan Kai ikut terlompat kaget sampai jidatnya terantuk pinggiran kursi.
Taeoh hilang? Dia tidak main-main kan? Rasa takut merambatiku. Oh Tuhan. Apa yang kulakukan disini, minum sampanye dan makan kue? Sementara anakku keluyuran entah kemana.
"Tunggu, kau ada di lantai berapa, Mom? Nanti biar kami kesana."
"Ada apa sih?" tanya Kai, segala keromantisannya lenyap, raut wajahnya berubah khawatir.
"Taeoh hilang," ujarku buru-buru mengobrak-abrik tas, memakai pakaian yang layak, "Dia hilang!"
"HILANG?!" gantian Kai yang memekik.
"Ayo temui ibumu di lantai bawah."
Kai pakai celana sambil misah-misuh tidak rela. Astaga. Jadi dia lebih mementingkan ini daripada anaknya sendiri?
Begitu kami sampai di lantai bawah, aku tidak melihat Heechul disana, sebagai gantinya, aku melihat beberapa karyawan hotel tengah sibuk merangkak-rangkak di bawah meja, membungkuk di depan tempat sampah, mencari dibelakang jam tua, dan menyerukan nama "Taeoh!" ke segala penjuru. Ampun deh. Dia sampai mempekerjakan seisi hotel untuk mencari anak kami.
"Apa kalian sudah menemukan anak saya?" tanyaku terengah-engah menghampiri seorang gadis berambut paling pirang.
Dia menggeleng. "Belum. Kami sedang berusaha. Anda orangtuanya?"
"Ya, kami orangtuanya. Perkenalkan, saya…"
"Kim Kai," Kai mendahuluiku menyalami si gadis pirang. Kupelototi dia. Dasar ganjen! Tidak bisa lihat yang bening sedikit.
"Oiiii, anak kecil!" kami semua tersentak dan kompak menoleh kearah sumber suara. Di depan sana, aku melihat sosok manusia kerdil berlari melintasi halaman Hotel yang luas menuju ke parkiran mobil.
Aku terkesiap. Sialan. Taeoh memanjat naik ke mobil orang.
"Taeoh!" aku langsung melesat keluar dari lobi Hotel sambil menarik tangan Kai. "Itu Taeoh!"
"Ngeeeng!" pekiknya kesenangan, tangannya memutar-mutar setir sembarangan. "Ngeng-ngengkuuuu!"
"Maaf," aku melempar senyum bersalah pada si pemilik mobil lalu cepat-cepat menurunkan Taeoh. "Taeoh, ayo turun! Apa yang kau—" mataku kontan terbelalak begitu menyadari kekacauan dalam mobil. Roda kemudinya berlumuran selai nanas dan remah-remah roti menghiasi bangku, jendela, dan gagang persneling.
"Taeoh!" tegurku marah, tapi dengan suara pelan. "Anak nakal! Apa yang telah kaulakukan?" pikiran buruk tiba-tiba menghantamku. "Dimana rotimu? Kaupakan rotimu? Dimana—" pandanganku tertumbuk pada tape di dasbor. Ada roti nanas lengket tersangkut tak wajar di lubangnya.
Oh… sudahlah.
.
.
.
.
Pengemudi mobil boks itu sungguh baik, mengingat dia baru saja mencuci mobilnya tadi pagi, kemudian seorang anak tak dikenal kembali mengotori mobilnya dan menjejalkan roti nanas ke tape-nya. Perlu waktu setengah jam untuk membersihkan mobil itu, meski tetap saja Kai harus menyerahkan uang ganti rugi agar orang itu bisa beli tape baru yang lebih canggih.
"Kai…" aku berlari masuk kamar dengan wajah berseri-seri. "Coba tebak? Aku sudah menghubungi nomor kontak asisten Preston, dia bilang akan mengatur pertemuan di Korea dalam waktu empat hari lagi! Aku juga sudah menghubungi orangtuaku dan kakak-kakakku, mereka semua mensupport aku!"
"Baguslah," jawab Kai yang aneh sekali kurang bersemangat.
Aku duduk di pinggiran ranjang, "Kai. Aku berpikir akan memberi nama Amerika untuk Taeoh. Bagaimana kalau Asher? Apa kau setuju? Keren kan? Baru terpikirkan tadi lho!"
Kai hanya angkat bahu sedikit, "Bagus juga."
Kenapa lagi sih dia?
"Ada apa?" tanyaku beringsut mendekat. "Apa kau sakit? Kepalamu pusing?" kutempelkan tanganku di dahinya, yang mengejutkan Kai malah menepisnya pelan. Mood Kai jungkir balik secepat roller coaster. Semenit yang lalu kami bermesraaan, sekarang dia tampak seperti wanita tua yang sedang datang bulan.
"Bicara soal Taeoh…." dia menghela napas lalu menatapku lekat-lekat. "Apa yang akan kita lakukan dengan dia? Seharusnya kau prihatin dengan apa yang baru saja terjadi."
"Maksudmu, tentang roti nanas tadi?" kataku kaget. "Ayolah, Kai. Tenang saja. Anak-anak memang begitu—"
"Kau terus-menerus menyangkal kenyataan, Sehun! Sadarlah, dia semakin liar setiap hari. Kurasa kita perlu mengambil tindakan ekstrem. Kau setuju, kan?"
Tindakan ekstrem!?
"Tidak, aku tidak setuju!" tandasku sengit. Ada rasa dingin merambati tulang punggungku. "Kurasa dia tidak membutuhkan 'tindakan ekstrem', apapun artinya itu."
"Well, menurutku perlu." Kai tampak murung dan tidak menatap langsung ke mataku. "Aku akan menelpon beberapa orang."
"Kai, anak kita bukan semacam problem berat." kataku gemetar. "Dan siapa yang akan kau telpon? Kau tak tidak boleh menelpon siapapun! Ibu mertuamu sudah cukup bagus untuk menangani Taeoh. Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Dia hanya harus lebih sering ditinggal bersama Nenek Lady-nya. Lama-lama dia pasti disiplin."
Kai menggeleng. "Tidak. Ibuku bukan pilihan, Sehun. Aku tak mau terlalu sering menitipkan anak kita di orang-orang. Selama masih ada kita sebagai orangtua kandungnya. Kau kira aku tidak sanggup mendidik anakku sendiri?"
"Tapi kau tidak boleh menelpon siapapun tanpa memberitahuku dulu!"
"Sudah kuduga kau pasti akan melarangku," dia terdengar gusar. "Sehun, salah satu dari kita harus melakukan sesuatu." dia mengeluarkan ponsel lalu mengecek kontaknya, dan detik itu juga aku merasa naik darah.
Aku merebut ponselnya. "Mau telpon siapa? Tidak boleh!"
"Kembalikan!" suaranya meninggi dengan parau dan direbutnya kembali ponsel itu dari genggamanku.
Kutatap dia dengan emosi menggelegak, darah panas menderu-deru di pipiku. Dia menganggap Taeoh bermasalah dan sekarang dia tidak ingin aku—istrinya sendiri—mencampuri urusannya.
"Kai, aku tahu kita ini pasangan! Seharusnya kita tidak saling menyimpan rahasia!"
Kai mendongak dari layar dan tertawa. "Rahasia? Coba lihat dirimu sendiri! Sayangku, aku tidak tahu apakah itu soal belanja, atau utang yang banyak, atau kartu kredit rahasia lebih dari satu, tapi pasti masih ada rahasia lain yang tidak boleh kuketahui, iya kan? Kau juga belum menjelaskan pertemuanmu dengan Albert."
"Sudah kan tadi?" jawabku ketus. "Aku bilang tadi kami bertemu di katedral Milan."
"Oh ya?" Kai menggaruk kepalanya. "Aneh sekali, Albert bilang dari semenjak datang tadi pagi dia belum pernah ke Katedral itu sama sekali."
Sialan.
"Pokoknya tidak ada! Tidak ada rahasia sama sekali."
Ada jeda aneh yang menggelitik, lalu Kai mengangkat bahu. "Baiklah, kalau begitu… kita sama-sama tidak menyembunyikan sesuatu."
"Baik." kuangkat daguku. "Setuju."
.
.
.
.
Beberapa hal yang terjadi selama kami di Milan:
Kami tidak hanya menikmati keindahan desain interior katedral duomo seperti kebanyakan turis, tapi juga berjalan-jalan di atapnya dan berfoto-foto dengan latar belakang pemandangan kota Milan.
Mengunjungi gereja Santa Maria delle Grazie untuk melihat lukisan Leonardo tanpa perlu memesan tiket dari jauh-jauh hari, karena ternyata Heechul kenal baik dengan salah satu penjaganya dan kami cukup mentraktir dia dan teman-temannya makan siang.
Taeoh nyaris menempelkan 'cap tangan' di mahakarya terkenal milik Leonardo.
Berjalan-jalan di Galleria Vittorio Emanuele II yang mewah tanpa membeli apapun.
Aku berputar mengelilingi lantai keramik di Galleria Vittorio Emanuele II, mengikuti tradisi turun temurun di kota ini yang katanya bisa mendatangkan keberuntungan, setelah berputar aku diam sejenak menunggu keberuntungan yang datang. Namun tak sampai semenit aku menunggu, Taeoh jatuh setelah menabrak kaki seorang turis dan es krimnya tumpah di sepatu mahal orang itu. Aku bersumpah tak akan lagi percaya pada takhayul.
Berjalan-jalan di Via della Spiga tanpa membeli apapun, dan hanya merana memandangi ibu mertuaku keluar masuk butik-butik ternama sambil menenteng kantong-kantong belanjaan. Untunglah dia cukup berbaik hati membelikan sepatu baby boy Gucci untuk Taeoh.
Menonton pertunjukan opera di La Scala. Kami semua kompak tertidur selama pertujukan berlangsung, hanya Heechul yang terjaga dan dia langsung menceramahi kami bertiga yang katanya tidak punya sopan santun dan tidak menunjukkan rasa hormat terhadap budaya lokal.
Berfoto-foto di Menara Pisa
Berfoto-foto di Colosseum
Berfoto-foto bersama Charlie Chaplin palsu
Kai masih tidak tahu soal tas bertabur 39 berlianku yang baru
Di suatu pagi yang cerah, bola plastik milik Taeoh tersangkut di balik kulkas. Kai berhasil menarik keluar bola itu tapi sebagai gantinya dia mendapatkan kejutan lain. Hanya orang bodoh yang tidak tahu apa isi kantong belanja itu. Akhirnya uang belanjaku dipotong selama tujuh bulan berturut-turut sebagai hukuman. Akhirnya terungkaplah cerita pertemuanku yang sebenarnya dengan Mr. Graham.
Aku memberi kado sabuk kulit pada Kai, namun dia tetap tidak mau meringankan hukumanku menjadi tiga bulan (Sial. Tahu begitu sabuknya kukasih ke tukang bersih-bersih hotel saja!)
Aku meminjam sendal Ferragamo milik Heechul dan aku memutuskan sebelah talinya tanpa sengaja
Kami akhirnya membeli sesuatu untuk oleh-oleh, tapi Kai masih melarangku bersentuhan dengan toko apapun, jadi dia yang membeli semua pesanan.
Sepatu titipan Chanyeol eonni ternyata kekecilan dua nomer dan tas tangan titipan Kyungsoo eonni ternyata warnanya broken white, sementara Kai dengan begonya bertanya, "Apa sih bedanya putih biasa dengan broken white? Sama-sama putih kan? Aku tak mengerti jalan pikiran wanita!"
Preston membatalkan kunjungan ke Korea minggu depan karena jadwalnya yang padat, namun dia bersedia menghubungiku langsung lho! Malah dia dengan baik hatinya mau menunggu sampai proses persalinanku selesai dan kesehatanku kembali prima.
Malam harinya, ketika Kai berkata, "Sedang memikirkan apa?" dan aku bilang, "Oh, tidak apa-apa…" sebenarnya aku bohong. sesungguhnya aku sedang memikirkan nama anak kedua kami nanti.
Aku terjaga di pelukannya sampai pagi. Kami bercinta sekitar sembilan puluh lima kali dan rasanya… amazing! (Entah bagaimana gaya jadi tidak penting lagi). Ini bukan hanya soal seks, tapi segalanya. Caranya menyediakan teh untukku ketika aku terbangun. Caranya menciumi perutku sambil berkata, "Apa kabar anak Daddy yang cantik?". Caranya memutar film keluarga di laptop agar kami bisa menghabiskan detik-detik terakhir di Milan tanpa merasa bosan. Dia tahu segala hal bodoh dan memalukan tentang diriku, dan dia tetap mencintaiku.
Syukurlah Taeoh tidak berulah yang aneh-aneh lagi sampai kami tiba dengan selamat di Bandara Incheon.
.
.
.
—TBC—
A/N: maap… (-_-)
Jadinya malah ber-ekstra ekstra ektsra ekstra. Sesuai tebakan salah satu teman reader xD. Mungkin ini ff yang paling gaje. Banyak banget ekstra ekstra ekstra ekstranya. Oh iya yang di chap sblmx saya lupa ngehapus nama Luhan heheh. Dia akan muncul di chap 11. :D bagi yang penasaran silahkan baca aja. Terus ini ff bakal end di chap 12. Udah segitu aja. met baca and thank you^^
