We are MARRIED or NOT?
Main Cast: GS!Sehun, Kai, Taeoh
Support Cast: GS!Luhan (as Nanny Lu), GS!Yixing, Yunho (Papa/Grandpa Yun), GS!Jaejoong (Mama/Grandma Jae), GS!Baekhyun, Daehyun, GS!Jinyoung, oc, dll
Genre : Romance, AU, OOC, yadong, genderswitch for uke, comedy, family, friendship, dll
Length: Chaptered
Bahasa: Indonesia campur aduk
Summary Lengkap: Kai yang masih kurang begitu setuju soal gagasan "Lady Heechul's Baby Daycare", dengan seenak udelnya memanggil pakar anak ternama ke rumah untuk mengamati tingkah laku Taeoh. Terang saja itu mendapat penolakan keras dari Sehun, mengingat Nanny Lu ini punya program acara TV lebay dan kamp penyiksaan anak di tempat terpencil, menurut otak lebay Sehun, tentunya. Namun siapa sangka justru kedatangan Nanny Lu—yang cuma sekali lewat—berpengaruh begitu besar pada hidupnya?
Brand New Me
Chapter 11
Aku membuatkan teh untuk Taeoh dan memutarkan kaset film kartun Peppa Pig. Babi-babi pink jelek yang bentuk kepalanya mirip hairdryer. Tapi Taeoh suka sekali Peppa Pig. Dan biasanya dia tidak mau disuapi kalau belum diputarkan kaset Peppa Pig.
Aku duduk di sofa dekat perapian. Dengan sedih ikut nonton Peppa Pig sambil menyuapi Taeoh. Belakangan ini dia jadi suka sekali minum teh. Yah, lagi-lagi gara-gara siapa kalau bukan berkat Nenek Lady-nya?
Kai baru pulang dari kantor dan masuk ke ruang tengah, selama beberapa detik dia hanya berdiri disana sambil menatapku serius.
"Ada apa?" tanyaku risih.
"Ada sesuatu yang ingin kukatakan," Kai berjongkok disamping kursiku.
"Shhh!" desis Taeoh kesal, lalu menunjuk TV. "Peppa!"
"Penting atau tidak?" tanyaku.
"Shhh! Peppa!"
Kai menarik kursi plastik milik Taeoh dan aku mengamatinya dengan agak cemas. "Ini sangat penting, Sehun." kata Kai terus terang. "Maaf aku telah menyembunyikan sesuatu darimu selama beberapa hari ini. Tapi aku ingin memastikan segalanya dulu sebelum mengatakan apa-apa."
Apa-apaan ini? Tiba-tiba suamiku pulang dengan wajah kusam dan mengaku kalau dia menyembunyikan sesuatu? Hawa dingin yang tidak enak merambat naik ke tulang punggungku.
"Jangan khawatir." jawabku mencoba menjadi seorang istri yang berbesar hati. "Katakan saja."
"Belum lama ini aku menghubungi kontakku, orang yang… biasa menangani anak-anak para selebriti," tukas Kai perlahan.
Siapa? Siapa yang biasa menangani anak-anak selebriti?
"Pernahkah kau mendengar tentang Nanny Lu? Rupanya dia pakar pendidikan anak," Kai mengangkat bahu. "Dia punya acara TV, katanya. Aku sendiri belum pernah nonton sih."
Aku benar-benar jengkel sampai-sampai ingin menamparnya. Jadi dia benar-benar memanggil pakar anak ke rumah kami? Tanpa meminta persetujuanku dulu?!
"Ya pernah," sungutku sebal. "Aku pernah baca bukunya. Ada apa dengan dia?"
"Aku sudah mencari informasi tentang dia dan katanya dia akan mendirikan usaha swasta baru. Semacam…" Kai terlihat bimbang, bolak-balik menghindari mataku. "Kamp manajemen perilaku anak."
Kai pasti bercanda.
"Maksudmu, kau mau mengirim Taeoh ke kamp pelatihan?" kata-kata itu nyaris tersangkut di leher. "Tapi… tapi… itu konyol! Dia baru dua tahun! Mana mungkin mereka mau menerima dia?"
"Shhh, Mummy!" Taeoh menempelkan telunjuk ke bibir. Pipinya gembung seperti hamster dan dia nonton Peppa Pig serius sekali. Kalau kondisinya tidak begini, aku pasti bakal tertawa melihatnya.
Kai melonggarkan dasinya, "Sepertinya dalam kasus-kasus khusus, mereka mau menerima anak-anak sedini itu."
"Shh, Daddy!"
Otakku berputar dalam keadaan shock. Tak menyangka suamiku punya pemikiran seperti itu. Dia ingin mengirim anaknya sendiri pergi…
"Apakah…" aku menelan ludah. "Tempatnya semacam asrama?"
Jantungku mencelos memikirkan itu. Kai ingin mengirim Taeoh ke sekolah khusus anak-anak nakal? Tiba-tiba melintas sebuah bayangan menyedihkan di kepalaku. Taeoh mengenakan blazer, kepalanya tertunduk sedih, berjongkok di sudut sambil mengacungkan kertas bertuliskan: "Saya tidak akan memesan dua puluh gaun lagi dari internet."
"Tentu saja tidak begitu." Kai tampak kaget. "Itu hanya program untuk anak-anak dengan isu perilaku khusus. Dan ini baru gagasan." Dia menggosok tengkuknya dan masih belum berani menatap mataku. "Aku sudah bicara dengan Nanny Lu ini. Kujelaskan situasinya, dan sepertinya dia sangat mengerti. Dia akan datang untuk mengobservasi Taeoh kalau kita mau, kemudian membuat rekomendasi. Jadi aku sudah membuat janji temu—"
"Janji temu?!" aku melotot tidak percaya. "Kau sudah bicara dengannya?"
"Aku cuma ingin tahu apa saja opsi yang dia miliki," untuk pertama kalinya Kai sanggup membalas pandanganku. "Sehun, aku sendiri juga tidak menyukai ide ini. Tapi kita harus melakukan sesuatu."
Tidak, tidak harus! aku ingin berteriak begitu. Apalagi mengundang orang tak dikenal ke rumah untuk membawa pergi Taeoh dan mendikte kita apa yang harus kita lakukan!
Tapi bisa kulihat sorot mata Kai yang dipenuhi ketetapan. Seperti pada bulan madu kami ketika dia memutuskan kami harus naik kereta api ke Tokyo, bukannya naik pesawat.
Keputusannya sudah bulat. Tidak bisa diganggu gugat lagi. Aku bisa membacanya dari sorot mata Kai yang membuatku merinding.
"Tak-umpet!" Taeoh sudah berhenti nonton dan berlari ke tengah ruangan (petak umpet adalah permainan kesukaan Taeoh. Hanya saja, caranya tidak seperti biasa. Aku hanya menghitung sampai tiga dan harus memberitahu Taeoh dimana aku akan bersembunyi. Ketika tiba gilirannya, dia selalu bersembunyi di tempat yang sama, yaitu di tengah-tengah ruangan).
Well, terserah. Dia boleh mempekerjakan semua ahli anak yang dia mau. Tidak ada yang boleh merebut Taeoh dariku. Biar saja Nanny Lu datang dan berbuat sesuka hati. Akan kuusir dia. Lihat saja.
Sejenak kami hanya saling pandang. Napasku memburu dan tanganku masih menggenggam pegangan kursi dengan kuat.
"Temu?" suara Taeoh memecah ketegangan. Dia berdiri di tengah-tengah ruangan sambil menutup matanya dengan kedua tangan (begitulah cara Taeoh bersembunyi).
Kutatap Kai dengan pandangan terluka. "Aku tidak percaya ini. Kau memanggil orang ke rumah tanpa persetujuanku dulu."
"Bagaimana dengan liburan dadakan kita waktu itu? Apa kau pernah meminta persetujuanku?" balas Kai tak mau kalah.
"Itu kan demi kebaikanmu!"
"Ini juga demi kebaikan anak kita!"
"Temu?" suara Taeoh meninggi menjadi lengkingan. "Temu?"
"Ketemu!" Kai dan aku berseru berbarengan sambil memeluknya dari sisi kanan dan kiri. "Bagus sekali, Taeoh!" tambahku ketika dia membuka mata dan menyeringai senang pada kami.
Saat mendongak, aku melihat Kai mengusap kepala Taeoh dengan tatapan kosong yang menerawang jauh. Seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu.
"Masih berniat mengirim anakmu pergi?" cibirku sinis sambil melengos ke kamar.
"Hun, sayang, dengar… aku tidak akan—"
"Aku capek sekali," sambarku tanpa repot-repot menoleh. "Tolong mandikan Taeoh ya. Kalau kau masih bersedia melakukannya."
Kai buka mulut hendak membela diri tapi aku terlalu malas melihat wajahnya. Lebih baik tidur dan mengistirahatkan pikiran. Aku butuh tenaga ekstra dan mental yang kuat untuk 'menyambut' kedatangan tamu spesial besok.
.
.
.
.
Xi Luhan benar-benar hebat sekali. Meskipun aku masih belum sepenuhnya menerima dia di Rumahku, tapi harus kuakui dia sukses membuatku berdecak salut. Dia punya gelar Sarjana Psikolog dari Harvard dan Master dalam bidang perawatan anak, dia juga guru bahasa Mandarin, tenis, flute, gitar, menyanyi, dan… banyak sekali. Saking banyaknya aku lupa. Tapi kayaknya dia juga bisa main Harpa.
Satu hal penting lainnya, sebelum jadi pakar, dulu Luhan adalah pengasuh anak top jebolan Super Nannies—sebuah situs dimana kita menyewa jasa nanny-nanny handal serba bisa yang punya senyum menawan, rambut melambai, perut rata bak Miss Universe dan sanggup merubah anakmu yang paling bobrok menjadi anak paling berprestasi di sekolah. Sayang harga sewanya mahal sekali, Kai pasti tidak bakal setuju.
Tidak apa-apa. Aku juga kurang setuju ada gadis berambut berkilau menari-nari di dapurku dalam balutan jins ketat untuk membuat sushi. Bagaimana kalau dia dan Kai saling tertarik? Bagaimana kalau Kai juga ingin diajari membuat sushi?
Oke, intinya bukan itu. Aku percaya kok Kai tidak bakal main serong dengan seorang nanny. Aku yakin dia tahu info soal si Nanny Lu ini lewat istri temannya yang kebetulan punya anak dengan tingkah laku yang sama.
Terus… apa ya… oh iya, acara TV! Nanny Lu ini punya acara TV sendiri sewaktu dia masih menjadi pakar anak ternama di Taiwan sana. Sekarang dia menetap sementara di Korea dan menurut asistennya, dia tidak lagi membuat acara reality show seperti itu lagi disini. Pembualan! Aku tahu mereka tidak bisa buka-bukaan kepada orang awam. Aku punya firasat Nanny Lu telah mengatur semua ini dibelakang. Dia bermaksud memilih keluarga kami untuk dijadikan 'Opening episode' acara TV terbarunya. Darimana aku bisa tahu? Karena aku sudah melakukan riset.
Pertama, aku mencari official site Nanny Lu dan membaca semua halaman (sayangnya belum ada keterangan lengkap mengenai kamp pelatihan itu, cuma segelintir yang ditulis: "Seri baru program manajemen perilaku untuk anak-anak dan dewasa akan segera diluncurkan". Huh, aku tidak heran dia bersikap tertutup).
Kemudian aku membeli semua DVD-nya dan menontonnya berturut-turut. Polanya selalu sama. Ada keluarga dengan anak-anak berlari-larian di halaman, orangtua yang bertengkar, kemudian Nanny Lu muncul entah darimana, mengenakan seragam biru andalan dan raut wajah heroik. Menyaksikan keluarga yang kacau itu dengan seksama, sambil berkata "Aku ingin melihat seperti apa keluarga kalian sebenarnya…"
Para orangtua itu pada akhirnya selalu bertengkar hebat, lalu menangis di pundak Nanny Lu dan menceritakan sejarah hidup mereka padanya. Setiap minggu dia akan mengeluarkan sekotak tisu dan berkata dengan muram, "Kalian punya masalah lain disamping perilaku anak, bukan?"kemudian para orangtua itu akan mengangguk-angguk dan menceritakan kehidupan seks atau tragedi keluarga mereka yang terlalu banyak dibumbui drama, lalu musik sedih mengalun dan pada akhirnya para penonton di studio kompak ikut menangis juga.
Setelah berhasil menggali drama, dia akan membawa pergi anak-anak itu jauh sekali dari orangtua mereka untuk 'dikurung' di kamp pelatihan yang medannya berat seperti Utah atau Arizona (mungkin sengaja dipilih supaya anak-anak kecil itu tidak kabur diam-diam), dan coba tebak? Peringkat acara TV-nya akan semakin melonjak sesudah mereka dipertemukan kembali dengan orangtua mereka sebagai anak alim yang sama sekali berbeda.
Well, hal semacam itu tidak akan pernah terjadi di keluarga ini. Tidak akan!
Jangan harap.
Bel pintu berdering dan tubuhku menegang.
"Ayo, Taeoh." bisikku sambil menggandeng Taeoh menuju pintu depan. "Mari kita usir si pakar anak-anak kejam itu."
Aku membuka pintu—dan berdirilah dia disana, Nanny Lu, sangat cantik dan kelihatan lebih awet muda daripada yang di TV. Rambut merah panjangnya diikat kebelakang dengan jepit kulit penyu yang chic. Datang kemari hanya bermodalkan celana jins, kaos berkerah, serta jaket berbantalan seperti yang dikenakan orang berkuda. Kupikir dia akan datang dengan seragam biru dan topi resmi kayak di TV. Bahkan aku sempat berharap ada suara latar belakang muncul tiba-tiba: "Hari ini Nanny Lu dipanggil ke rumah Keluarga Kim…"
"Sehun-ssi? Saya Nanny Lu," katanya dengan suara merdu mengalun bak suara Penyihir Baik dari Utara. Pfrrt. Aku tidak semudah itu dikelabui.
"Nanny Lu! Syukurlah! Oh ya ampun! Aku senang sekali bisa bertemu denganmu," ucapku menggebu-gebu berlebihan. "Kami sudah kehabisan akal! Kau harus menolong kami, sekarang juga! Ini gawat darurat!"
"Benarkah?" Nanny Lu terperanjat kaget.
"Ya! Bukankah suamiku sudah menjelaskan betapa putus asanya kami? Ini putra kami yang berusia dua tahun, Taeoh."
"Halo, Taeoh. Apa kabar?" Nanny Lu berjongkok untuk berbicara dengan Taeoh dan aku tak sabar menunggunya berdiri kembali.
"Kau tidak akan percaya masalah rumit apa yang kami hadapi. Ini… benar-benar memalukan! Aku nyaris tak sanggup mengakuinya…" kusetel raut wajahku ke mode sedih yang traumatis. "Coba bayangkan.. dia tidak mau disuruh menyetrika bajunya sendiri! Aku sudah mencoba… suamiku sudah mencoba… semua orang sudah mencoba. Bahkan pilot pesawat pun sudah turun tangan membujuk anakku… tapi… tapi… dia tetap tidak mau disuruh…menyetrika…" kubiarkan suaraku bergetar sedih.
Suasana hening sejenak, selama itu aku tetap menjaga ekspresi ibu-yang-khawatir.
Nanny Lu berdiri dan tampak bingung setengah mati. HaHa, rasakan!
"Sehun-ssi," katanya. "Taeoh masih kecil sekali. Bukan masalah besar kalau anak dua tahun tidak mampu menyetrika bajunya sendiri."
"Oh!" wajahku langsung berbinar gembira. "Ooo, begitu? Well, ya sudah. Bereslah kalau begitu! Kami tidak punya masalah apa-apa lagi dengan dia. Terima kasih banyak, Nanny Lu, kirimkan tagihannya ke suamiku, aku tidak akan menahanmu lebih lama lagi, selamat tinggal!"
Buru-buru kututup pintu sebelum dia sempat menyahut.
Berhasil! Aku menepuk tangan Taeoh dan hendak berjalan ke dapur untuk merayakan kemenangan kami dengan KitKat besar, ketika bel pintu berdering lagi.
Dia belum pergi?
Aku mengintip dari peephole di pintu dan dia masih ada disana rupanya, menunggu dengan sabar di teras depan.
Mau apa lagi sih orang itu? Dia sudah membereskan persoalan keluarga kami. Dia sudah boleh angkat kaki dari rumah ini.
"Sehun-ssi?" suaranya sayup-sayup terdengar dari balik pintu. "Kau masih ada disana?"
Tidak perlu dijawab. Aku tinggal pura-pura mati saja sampai Nanny Lu bosan sendiri dan perg—
"HALOO!" seru Taeoh.
"Shhh!" desisku sambil melotot. "Jangan berisik!"
"Sehun-ssi, suamimu memintaku melakukan pengamatan. Aku tidak bisa melakukannya hanya dalam pertemuan satu menit."
"Taeoh tidak perlu diamati!" balasku dengan intonasi tinggi.
Nanny Lu tidak bereaksi, hanya menunggu dengan senyum sabar khas Penyihir Baik Hati. Memangnya dia tidak ingin libur satu hari?
Sejujurnya, aku merasa agak kalah. Kupikir dia akan pergi. Bagaimana kalau dia melapor pada Kai aku tidak mengizinkan dia masuk dan akhirnya kami malah bertengkar hebat?
Astaga. Mungkin lebih sederhana kalau aku mengizinkan dia masuk, membiarkannya melakukan "pengamatan", lalu mengusirnya secepat kilat.
"Baik," kubuka pintu agak terpaksa. "Masuklah. Tapi putraku tidak punya masalah besar. Dan aku tahu benar apa yang hendak kaulakukan dan apa yang akan kaukatakan."
"Wow." mata Nanny Lu berkilat sebentar. "Wah, kalian sudah siap sekali, bukan?" dia melangkah masuk dan tersenyum lebar pada Taeoh, lalu padaku. "Tidak perlu merasa bimbang atau khawatir. Yang ingin kulakukan hanyalah mengamati kegiatan sehari-hari kalian berdua. Bersikap wajar saja, dan lakukan apa yang biasanya kalian lakukan. Aku ingin melihat siapa keluarga Kim sebenarnya."
Showtime! Dia sudah membuka perangkap pertama.
"Oh… well…" aku mengendikkan bahu lalu berusaha mengukir senyum manis. "Bagaimana kalau mengamati Taeoh bermain Play-Doh? Dia suka sekali bermain Play-Doh. Aku suka memberinya permainan yang konstruktif di pagi hari," jawabku berdusta.
"Bagus sekali," Nanny Lu manggut-manggut. "Dulu aku sering memberian proyek Play-Doh pada Bobby, anak tanggunganku, ketika aku masih berprofesi sebagai pengasuh. Dia begitu berbakat, sering memenangi penghargaan di kompetisi lokal untuk salah satu kreasinya. Kami semua sangat bangga padanya," tukas Nanny Lu sambil tersenyum penuh nostalgia.
"Bagus," aku membalas senyumnya sembari menggandeng Taeoh menuju kamar. "Nah, ini dia…" aku membuka pintu dengan gaya, berharap Nanny Lu bakal terkesan atau apa melihat dekorasi kamar Taeoh, tapi ternyata dia cuma celingukan tidak jelas.
Mengabaikan Nanny Lu, aku menggiring Taeoh masuk, menyuruhnya duduk di karpet dan mulai mengeluarkan satu set lilin-lilin Play-Doh dilengkapi cetakan kue-kue berbentuk binatang.
"Nah ayo kita main, Taeoh." aku meletakkan perlengkapan tepat di hadapannya. "Nanny Lu mau lihat kreasimu. Mummy semalam sudah mengajarimu cara membuat keluarga beruang, kan?"
Taeoh hanya duduk dan memandangi lilin-lilin itu.
Aku tertawa renyah pada Nanny Lu, "Taeoh sering main Play-Doh kok." ucapku meyakinkan dia. "Mungkin hari ini dia agak tidak mood."
"Apa dia juga bermain Lego?" tanya Nanny Lu tampak berminat. "Itu juga salah satu permainan konstruktif buat anak-anak. Dulu aku mulai dengan Bobby pada usia delapan belas bulan. Tapi dia memang anak yang luar biasa. Sangat cerdas dan cepat tanggap."
"Sepertinya dia hebat," kataku sopan.
"Oh, Bobby memang anak yang pintar." Nanny Lu mengangguk-angguk. "Dia masih menghubungiku lewat Skype setiap hari untuk belajar Kalkulus dan berlatih Bahasa Mandarin. Terakhir aku dapat kabar dia mulai aktif ikut latihan atletik. Dia juga pesenam lantai sekarang."
Jika saja dunia ini melegalkan hukuman gantung bagi anak-anak, makhluk yang pertama kali akan kugantung adalah Bobby.
"Well, Taeoh juga sangat cerdas dan cepat tanggap. Anak kami memang tidak bermain Lego. Tapi minggu lalu dia menulis puisinya yang pertama, lho!" dustaku sambil tersenyum luar biasa bangga.
"Dia menulis puisi?" Nanny Lu terperangah takjub. "Dia sudah bisa menulis?!"
"Uhmm… dia mengatakannya padaku dan aku yang menuliskannya di kertas," ralatku setelah diam sejenak.
"Bawakan puisimu, Taeoh!" seru Nanny Lu gembira. "Aku ingin mendengar puisimu."
Taeoh memasukkan lilin Play-Doh ke lubang hidungnya.
Aku meringis. "Dia mungkin sudah tidak ingat lagi," selaku cepat-cepat. "Tapi puisinya sangat indah dan simpel. Judulnya…" aku berdehem. "Mengapa Hujan Harus Jatuh?"
"Wow," sepertinya Nanny Lu kagum setengah mati. "Indah sekali."
"Aku tahu," ucapku mengangguk-angguk penuh semangat. "Kami akan mencantumkannya di Kartu Tahun Baru."
"Ide bagus!" dukung Nanny Lu. "Bobby pernah membuat kartu-kartu Tahun Baru buatan sendiri yang bagus, dia menjualnya untuk amal dan memenangkan penghargaan dari sekolah."
Oke. Aku sudah muak sekali dengan Bobby ini. Kalkulus, mandarin, ekskul atletik, pemain Lego, pemain Play-Doh, pembuat kartu, dan pesenam lantai? Dasar tukang pamer. Dia bisa semua hal sementara anakku hanya duduk dan… memasukkan lilin ke lubang hidung…
"Hebat! Apa sih yang tidak bisa dilakukan Bobby?" ada sindiran tajam dari nada suaraku, tapi aku tidak yakin Luhan menyadari itu.
Nanny Lu menjentik bawah dagu Taeoh. "Dia jelas anak yang sangat pintar. Apakah ada hal lain yang harus kuketahui tentang dia? Dia punya keunikan? Masalah kecil?"
Aku memasang senyum berpikir selama beberapa saat. Aku ingat Kai menyuruhku untuk bersikap jujur dan buka-bukaan pada Nanny Lu. Tapi mana tega aku bilang "Ya, sebenarnya anakku sudah diusir empat kali dari Rumah Santa dan semua orang menganggap dia liar. Bahkan, baru-baru ini aku terlilit utang gara-gara dia". Aku tidak mungkin menjelek-jelekkan anakku sendiri seperti itu! Apalagi setelah mendengar segala hal tentang Bobby.
Lagipula, mengapa aku harus berterus-terang soal kasus Taeoh pada si Nona Sempurna? Kalau nanny ini memang bagus, dia akan mengetahui sifat-sifat 'unik' Taeoh dengan sendirinya lalu mencarikan solusi. Memang untuk itulah gelar sarjananya, iya kan?
"Tidak," jawabku mantab. "Tidak ada masalah. Taeoh anak yang sangat menyenangkan, rajin, penuh perhatian dan kami sangat bangga menjadi orangtuanya."
"Bagus!" Luhan menyeringai, memamerkan senyum Miss Universe atau apalah.
Begitu aku menoleh, Taeoh sudah menghilang dari hadapanku. Sialan. Kemana perginya anak itu? Bagaimana mungkin dua orang dewasa di ruangan ini tidak ada yang menyadari dia telah berpindah tempat? Jadi itukah keahlian anakku? Teleportasi?
"Taeoh?" aku bangkit dari karpet dan berjalan keluar kamar. Menoleh kesana-kemari. "Taeoh! Dimana kau?" aku melangkahkan kaki menuju ke kamarku. Seketika melotot shock mendapati Taeoh sedang mengetuk-ngetuk laptop dengan riang gembira.
Oh, tidak! Jangan ini lagi!
"Taeoh! Apa yang kaulakukan?" aku tertawa dengan nada tinggi. "Itu punya Mummy!" aku bergegas mendekat. Dan ketika mataku terfokus pada layar, darahku langsung membeku.
Taeoh hendak menawar keranjang sampah itu dengan harga milyar…
"Taeoh!" kusambar laptop dari tangannya.
"Mauuuu!" teriak Taeoh marah. "Punyakuuuu!"
"Taeoh sedang apa?" Nanny Lu menghampiriku dengan senyum ingin tahu dan buru-buru kusingkirkan laptop itu dari penglihatannya.
"Ah, bukan apa-apa. Hanya sedang bermain dengan… angka." jawabku berlagak tenang. "Oh iya, gimana kalau kita jalan-jalan menikmati pemandangan saja? Anda tidak keberatan kan, Nanny Lu?" tanyaku, mendadak dapat inspirasi.
Dia mengangguk singkat. "Tidak apa-apa. Silahkan lakukan saja rutinitas kalian."
"Baiklah. Ayo kita siap-siap, sayang." aku mencungkil lilin coklat dari lubang hidung kirinya kemudian menggendong Taeoh kembali ke kamar.
.
.
.
.
Aku cukup bangga dengan gagasan jalan-jalan menikmati pemandangan. Kegiatan ini termasuk pendidikan yang baik dan gampang dilakukan. Kau hanya perlu berjalan-jalan di sekitar komplek sambil berkata, "Itu pohon! Lihat! Itu awan!" sesekali. Biar si Nanny Lu bosan lalu menyerah kalah. Kemudian dia akan memberi nilai penuh dan berkata tidak dapat menyempurnakan keluarga yang sudah sempurna. Setelah itu Kai akan diam.
Kubimbing Taeoh keluar rumah dan menuju ke jalur trotoar.
"Lihat, Taeoh! Ada kucing!" aku menunjuk kucing belang yang sedang bermalas-malasan di atap rumah Bibi Kyuhyun. "Kita harus melindungi mereka supaya tidak punah," tambahku serius.
"Sehun-ssi, kucing tidak akan punah." timpal Luhan kalem.
Sok tahu sekali dia. "Aku hanya bersikap peduli lingkungan," kulayangkan pelototan galak. Tidakkah dia tahu tentang masalah lingkungan?
Kami berjalan selama beberapa saat dan aku menunjuk beberapa burung yang sedang bersantai di dahan-dahan pohon. Sekarang kami sudah dekat ke area pertokoan di luar komplek perumahan. Jujur, agak susah menahan diri untuk tidak melirik ke kanan dan ke kiri. Pasti banyak barang-barang baru di toko antik itu.
"Toko!" Taeoh menarik-narik tanganku.
"Tidak, kita tidak akan belanja, Taeoh." aku tersenyum tegas padanya. "Kita berjalan-jalan melihat pemandangan, ingat? Melihat alam…"
"Toko! Taksi!" dia berteriak keras sambil mengacungkan tangan dengan percaya diri kearah jalanan. "TAKSI! TAKSIIII!"
Dalam sekejap sudah ada taksi yang berhenti di depan kami.
"Taeoh, kita tidak akan naik taksi!" lalu aku menoleh ke Nanny Lu dengan seringai aneh. "Maaf ya. Aku juga bingung mengapa dia begitu. Ini tidak biasany—"
"Halo, Taeoh anakku!" terdengar suara lantang yang ceria. "Bagaimana kabarmu, pelanggan cilik?"
Shit. Sopir taksi itu ternyata Yoon ahjusi, yang biasa mengantar kami ke COEX mall saat aku ingin pergi berbelanja (tanpa sepengetahuan Kai). Tentu saja Nanny Lu tidak boleh tahu soal ini.
"Kadang-kadang Yoon ahjusi mengantar kami ke… ke… pusat edukasi," aku buru-buru menjelaskan pada Nanny Lu.
"Taksiiiiii!" wajah Taeoh sudah merah padam dan marah. Ya Tuhan. Aku tidak boleh membiarkan dia ngambek di depan Nanny Lu. Mungkin kami bisa naik taksi ke tempat lain.
"Nah," Yoon ahjusi menatapku. "Mau kemana hari ini?"
"Sta-baks," Taeoh mengeja dengan hati-hati sebelum aku sempat menjawab. "Stabaks-toko."
"Seperti biasa?" kata Yoon ahjusi riang. "Oke deh. Ayo naik!"
"Kami tidak akan pergi ke Starbucks, Taeoh!" pekikku gelagapan malu bercampur panik. "Itu… ide gila! Bisakah paman mengantar kami ke pusat edukasi? Yang itu… yang biasanya kami datangi," mataku menatapnya tajam dan penuh permohonan. Berharap dia tidak akan berkata: "Kau ngomong apa sih?"
"Muffin?" Taeoh berpaling penuh harap padaku. "Muffin? Stabaks?"
"Tidak, Taeoh! Jangan nakal." Aku membuka pintu taksi dan mendudukkan Taeoh agar dia tidak banyak bicara lagi. Taksi melaju membelah jalanan kota Seoul setelah semua sabuk pengaman terpasang rapat.
"Sehun-ssi," kata Nanny Lu ramah. "Kalau kau memang harus melakukan tugas rumah, lakukan saja, tidak perlu merasa terkukung dengan kehadiranku. Aku akan dengan senang hati ikut berbelanja, atau melakukan apapun yang bisa kaulakukan."
"Ya seperti ini," aku berusaha tetap wajar. "Ini rutinitas kami sehari-hari! Permainan edukasional. Mau kue, sayang?" tambahku pada Taeoh, lalu mengeluarkan biskuit gandum yang kubeli dari toko makanan sehat.
Taeoh memandangi biskuit dengan curiga, dijilat sedikit, terus dibuang ke lantai mobil. "Muffin! Muffin! STABAKS!"
Wajahku membara.
"Stabaks itu nama kucing tetangga," aku berimprovisasi sebisanya. "Dan muffin nama kucing yang lain. Taeoh kan pecinta hewan, iya kan sayang?"
"Kalian sudah lihat mall besar yang baru?" suara Yoon ahjusi terdengar dari depan. "Akhirnya hari ini dibuka."
Kami sampai di persimpangan dengan dua jalur besar, dan kami berhenti di tengah lalu lintas. Aku menoleh ke kanan dan melihat mall yang tadi ditunjuk Yoon ahjusi.
SEOUL IFC MALL
GRAND OPENING!
Wah. Sudah lama sekali mereka berjanji akan membuka mall itu. Pandanganku turun membaca tulisan berikutnya.
PENAWARAN ISTIMEWA HARI INI
HADIAH GRATIS UNTUK SETIAP PENGUNJUNG!
Hadiah gratis untuk setiap pengunjung?
Ah. Barangkali hadiahnya hanya lilin kecil atau sebatang coklat. Tidak perlu terlalu berlebihan. Dan mall itu mungkin biasa saja. Untuk apa kami kesana? Kami kan tidak berniat belanja. Hari ini kami pergi untuk melakukan kegiatan yang mendidik.
"Lihat awan itu," kataku pada Taeoh, dengan gerakan kaku menunjuk keluar jendela. "Kau tahu awan itu terbuat dari apa, Taeoh? Itu terbuat dari…air… eh?"
Tunggu, bukannya tetesan air? Atau… uap air? Ck. Kenapa aku jadi pikun begini? Ini semua salah Nanny Lu. Dia membuatku bingung.
"Burberry," ujar Yoon ahjusi dengan semangat. "Nah, itu barang berkualitas tinggi. Menantuku, dia mendapat barang tiruannya dari Hongkong, dan dia bilang…"
Burberry? Kepalaku langsung tersentak dan kulihat layar proyektor besar menampilkan daftar semua butik desainer yang ada di mall ini.
Burberry. Matthew Williamson. Dolce & Gabbana. Anya Hindmarch. Temperley. Vivienne Westwood? Oh Tuhan. Semua didiskon?!
G-I-L-A.
Oke, pikirkan semuanya masak-masak. Mari bersikap rasional. Aku tahu kami seharusnya pergi ke pusat edukasi anak dan melompat-lompat di kolam bola. Masalahnya tadi Nanny Lu bilang dia tidak keberatan kalau kami harus belanja. Dia benar-benar mengatakannya.
Bukan berarti aku akan belanja untuk diriku sendiri, tentu saja. Aku menaati janjiku kok. Tapi itu mall diskon yang baru dan canggih. Kami tidak bisa melewatkan kesempatan ini begitu saja. Karena… karena…
Itu salah! Tidak bersyukur namanya. Melawan hukum alam. Lagipula aku masih diperbolehkan belanja keperluan untuk anak-anak, kan? Salah satu kewajiban ibu adalah memberi pakaian kepada anak-anaknya.
Kulirik daftar desainer itu lagi. Paul Smith Junior. Ralph Lauren Kids. Young Versace. Junior Gaultier. Baby Dior. Little Marc Jacobs. Armani Junior. Burberry Children.
Rasanya aku mulai susah bernapas.
"Eh, aku baru ingat, aku perlu membelikan kaus kaki untuk Taeoh dan juga bayiku nanti." ujarku spontan. "Kita ke mall baru itu saja. Tidak jadi ke pusat edukasi. Bagaimana?"
Nanny Lu mengangkat kedua tangannya. "Terserah."
Kepalaku melongok sedikit kedepan. "Mm… paman, bisakah kau mengantar kami ke mall saja?"
"Lebih baik sepatuku kubersihkan, ya?" goda Yoon ahjusi sambil menyeringai padaku. "Siap membawakan tas-tas belanjaan."
Aku menyunggingkan senyum lemah. Nanti saja kuberitahu pada Nanny Lu kalau sopir taksi langgananku memang selera humornya agak aneh.
"Kau senang berbelanja, Sehun-ssi?" tanya Nanny Lu sopan.
Aku diam, berusaha merenungkan pertanyaan itu.
"Bukan senang," aku mengoreksi. "Aku tidak suka menggunakan istilah 'senang'. Maksudku, itu sudah tugas yang harus dilakukan seorang ibu yang bertanggung jawab, bukan? Menjaga isi lemari tetap penuh."
Kami berhenti di depan pintu masuk, dengan pintu kaca besar mengarah ke atrium yang besar dan lapang. Ada pohon-pohon palem dan hiasan air terjun di dinding baja, dan ketika kami masuk, aku sudah bisa melihat Valentino dan Jimmy Choo sedang mengedip padaku dari kejauhan. Udara semerbak aroma kue pastri kayu manis dan mesin cappuccino yang sedang berdesing, bercampur bau kulit mahal dan parfum desainer serta… segala sesuatu yang baru.
Atmosfirnya… aku suka atmosfir ini!
"Jadi kita langsung mencari kaus kaki, kan?" tanya Nanny Lu sambil melihat berkeliling dengan ekspresi biasa-biasa saja. Tidak terkesan sama sekali dengan bling-bling-cling di sekelilingnya. Aneh. Kenapa sih wanita itu? Apakah dia barbar?
"Eh… mmm..." susah sekali berpikir jernih. Mulberry ada di depan mataku persis dan aku bisa melihat tas yang bagus banget di etalasenya. "Mmm…" aku menelan ludah, kupaksa diriku untuk fokus. "I-iya… kaus kaki."
Kaus kaki anak-anak. Bukan Valentino. Bukan Jimmy Choo. Bukan Mulberry. Oh my… aku ingin tahu berapa harga tas itu…
Stop. Jangan melihat kesana. Aku tidak boleh membeli apapun untuk diriku!
"Ayo kita cari kaus kaki, sayang." kugandeng Taeoh.
Oh, aku suka sekali Scotch and Soda Boys. Mereka mengubah dekorasi toko setiap musim, dan hari ini tempat itu dihias seperti ladang pak tani, lantainya dipenuhi daun musim gugur sintetis berwarna coklat, kuning dan merah, ada buah labu hiasan dimana-mana, tiang-tiang kayu dan boneka-boneka jerami tiruan.
Pakaian anak-anak kasualnya bagus sekali. Contohnya hoodie pullover yang itu, diskon setengah harga jadi tinggal enam puluh ribu won saja. Aku menemukan kaus kaki imut bergambar pohon kaktus pakai kacamata hitam. Aku mengambilnya dari gantungan dan memasukkannya dalam keranjang.
"Nah," kata Nanny Lu cepat. "Selamat. Sekarang kita ke kasir?"
Aku tidak menjawab. Perhatianku tersita oleh shirt-shirt keren dan jaket-jaket di gantungan sebelah. Woollen Bomber Jacket warna biru navy. Aku ingat pernah melihat ini di katalog. Didiskon tujuh puluh persen khusus hari ini! Aku langsung memeriksa di gantungannya satu-persatu. Tidak ada yang untuk usia 2-3. Pasti sudah habis disambar orang. Sial.
"Permisi," kataku pada pramuniaga yang lewat. "Ini ada yang untuk anak umur 2-3 tahun?"
Seketika wajahnya mengernyit. "Maaf. Sudah habis. Model itu sangat populer."
"Apakah Taeoh juga membutuhkan jaket baru?" tanya Nanny Lu menginterupsi dari belakang.
Terus terang, aku mulai bosan dengan Nanny Lu dan pertanyaan-pertanyaannya yang tak terarah.
"Ini sangat hemat," jawabku enteng sambil membentangkan jaket itu lebar-lebar. "Aku selalu berpendapat, orangtua yang bertanggung jawab sebaiknya mencari barang yang murah. Iya kan, Nanny Lu? Bahkan…" mendadak sebuah terobosan baru muncul di kepalaku. "Betul juga! Aku akan membeli jaket ini untuk persiapan tahun depan."
Kuambil bomber jaket ukuran anak usia 3-4 tahun. Bagus! Kenapa tidak dari dulu aku berpikir begini? Aku bergeser lagi dan langsung jatuh cinta pada printed sweater merah dengan tulisan 'LET'S GO TACO' itu. Tidak ada ukuran kecil—tapi aku menemukan ukuran 7-8. Kalau mau berpikir realistis, Taeoh pasti akan berumur tujuh tahun kan? Berani bertaruh dia bakal membutuhkan sweater warna merah saat usianya tujuh tahun.
Dan itu disana ada kardigan rajut warna hitam yang keren, untuk anak umur 12 tahun, harganya cuma enam puluh tiga ribu won, turun dari seratus empat puluh tiga ribu! Salah sekali kalau tidak dibeli.
Sulit dipercaya aku bisa berpikir begitu jauh dan begitu efisien. Boleh dibilang, aku membeli baju-baju penting Taeoh untuk sepuluh tahun ke depan, dengan harga rendah sekali! Jadi nanti sepuluh tahun kemudian aku tidak perlu membelikan Taeoh baju lagi.
Sambil membayar tumpukan baju-baju dalam keranjang rotan, aku merasakan pendar rasa puas. Aku pasti telah menghemat ratusan ribu won.
"Wah!" Nanny Lu sepertinya tak bisa berkata apa-apa ketika petugas kasirnya memberikan tiga kantong besar belanjaan. "Kau membeli lebih banyak dari sekedar kaus kaki."
"Hanya berpikir untuk masa depan," aku menggunakan nada bijak dan keibuan. "Anak-anak cepat sekali besar, kita sebagai orangtua harus siap. Bagaimana kalau minum kopi setelah ini?"
"Stabaks?" timpal Taeoh seketika sambil menarik-narik jari telunjukku. "Muffin stabaks?"
"Kayaknya kita harus ke kedai kopi biasa di food court-nya," ujarku ke Nanny Lu, berusaha terdengar menyesal. Mengabaikan Taeoh si muffin stabaks.
Aku mencari lokasi food court di peta petunjuk mall. Untuk ke food court kami harus melewati 'rintangan' berupa jejeran butik-butik desainer. Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, aku tidak akan melihat ke etalase-etalase itu.
Tidak apa-apa. Sungguh kok. Aku sudah mulai terbiasa tidak belanja untuk diriku sendiri. Bahkan aku nyaris tidak merindukannya…
Oh ya ampuuun, itu kan mantel Burberry dengan hiasan kerut-kerut yang dipamerkan di peragaan busana. Itu… yang di etalase… aku ingin tahu berapa harganya…
Tidak. Terus berjalan, Sehun. Jangan lihat. Jangan lihat.
Aku menyipitkan mata hingga tinggal satu setengah garis. Nah, dengan begini butik-butiknya jadi tidak kelihatan.
"Kau tidak apa-apa?" Nanny Lu tiba-tiba kelihatan cemas. "Sehun-ssi, apa kau sakit?"
"Aku baik-baik saja," suaraku agak tercekik. Kurasakan semacam tekanan mendesak dalam diriku, seperti rasa putus asa yang bergejolak hebat.
Aku harus tahan godaan. Aku sudah berjanji pada Kai. Aku sudah berjanji.
Pikirkan sesuatu yang lain. Ya. Seperti ketika aku berlatih senam kehamilan dan mereka menyuruhku mengatur napas untuk mengalihkan perhatian dari rasa sakit. Aku akan mengatur napas untuk mengalihkan perhatianku dari belanja.
Tarik napas… keluar… tarik napas… oh god, itu gaun Temperley…
Kakiku berhenti melangkah secara ajaib. Gaun resmi Temperley warna putih dan emas. Ada bordiran cantik di seputar garis leher, panjangnya mencapai lantai, dan mirip gaun yang pantas dikenakan diatas karpet merah. Dengan tulisan disebelahnya "Extra 20% off today".
Jemariku mencengkram tas-tas belanjaan sementara aku masih menatap ke etalase itu.
Aku tidak boleh membeli gaun itu. Aku bahkan tidak boleh melihatnya.
Tapi entah mengapa… aku juga tidak dapat bergeming. Kakiku seperti terpaku ke lantai marmer.
"Sehun-ssi?" Nanny Lu juga berhenti melangkah ketika melihatku. Dia melirik ke etalase dan berdecak tidak setuju. "Gaun-gaun seperti itu mahal sekali. Bahkan kalaupun harganya sudah didiskon."
Cuma itu yang bisa dia katakan? Itu gaun paling cantik sedunia! Dan hanya sepersekian dari harga aslinya. Kalau saja aku tidak mengucapkan janji tolol itu pada Kai…
Ya ampun! Aku baru ingat!
Gaun itu pasti cocok sekali untuk anak kedua dalam perutku. Dia bisa mengenakan gaun itu saat ulang tahunnya yang kedua puluh satu. Siapa sih yang tidak mau pakai gaun Temperley untuk ultah ke-21? Dan saat bayi dalam kandunganku menginjak usia 21, gaun itu akan menjadi barang vintage yang langka! Semua temannya pasti akan sangat iri! Mereka akan ramai-ramai berkata, "Astaga, kuharap ibuku dulu membelikan aku gaun waktu aku masih berada dalam perut." Orang-orang akan menyebutnya 'Gadis dengan Gaun Temperley Vintage'.
Ya, ya, tentu saja aku bisa meminjamnya sesekali untuk pergi ke pesta.
"Muffin?" kata Taeoh masih berusaha.
"Gaun," ujarku mantab. "Ini untuk adikmu, Taeoh. Untuk pesta ulang tahunnya yang kedua puluh satu." Kugandeng dia sambil kuelus-elus perutku, berharap si bayi akan menendang-nendang untuk mengekspresikan rasa senang atau apa. Aku mengabaikan tatapan Nanny Lu yang terkejut saat aku melangkah memasuki butik.
"Hai," kataku penuh semangat pada pramuniaga. "Aku mau gaun yang dipajang di etalase itu. Ehm… untuk putriku yang ada di dalam perut," tambahku sambil tertawa kecil. "Supaya bisa dia pakai saat ulang tahunnya yang ke-21."
Si pramuniaga menatap perutku, lalu melirikku, kemudian berpaling pada temannya, lalu menatap perutku lagi, kemudian melirik temannya lagi.
Kurang asem, mereka tidak mengira aku sinting, kan?
"Aku yakin ukuran badannya akan sama denganku saat dewasa nanti," tambahku percaya diri. "Jadi aku yang akan mencobakan gaun itu untuknya."
"Muffiiiiin!" Taeoh berlari menyebrangi ruangan dan mulai memanjat laci pajangan.
"Taeoh!" aku berseru. "Turun dari situ! Maaf…" tambahku sambil menoleh pada pramuniaga toko.
"Muffin!" teriak Taeoh meronta-ronta ketika aku berusaha mengangkatnya. "Mau muffin!"
"Kita akan membeli muffin setelah membeli gaun itu," bujukku menahan sabar. "Cuma sebentar kok—"
"Nggak mauuuuuuu!" entah bagaimana dia berhasil melepaskan diri dari cengkramanku dan memanjat naik ke etalase. "Muffin! Mau muffin!" sekarang dia menempel di kaki manekin telanjang.
"Taeoh, jangan begitu sayang," aku berusaha tidak memperlihatkan rasa panik. "Ayo sini."
"Muffinnnn!" ditariknya manekin itu dari panggung lalu dia peluk kuat-kuat, "Mauuuu!"
"Lepaskan, Taeoh!" perintahku. "Itu bukan muffin, Taeoh. Itu manekin. Dia pikir itu muffin." Aku menoleh pada si pramuniaga sambil tergelak kecil. "Anak-anak memang lucu ya?"
Pramuniaga itu tidak tertawa, bahkan tidak tersenyum.
"Bisakah Anda menyuruh dia melepaskannya?" kata wanita itu bermuka datar dan tanpa perasaan.
"Oh, tentu. Maaf…" dengan wajah membara menahan malu, aku berusaha melepaskan Taeoh sekuat tenaga. Tapi dia menempel seperti lintah. "Ayolah, Taeoh!" aku berusaha terdengar santai dan membujuk. "Ayo, sayang. Lepaskan."
"Nggak mau!" jeritnya. "Muffin!"
"Ada apa?" tanya seseorang di belakangku. "Apa yang dilakukan anak itu? Tidak adakah yang dapat mengendalikannya?!"
Perutku langsung mulas. Kayaknya aku kenal suara pengeluh itu.
Aku berbalik cepat, dan surprise… benar saja. Itu si elf yang dulu melarang kami masuk ke Rumah Santa. Kukunya masih dicat ungu dan belahan dadanya masih terekspos kemana-mana. Bedanya, sekarang dia mengenakan setelan jas hitam dengan papan nama bertuliskan "Asisten Manajer".
"Kau…" matanya menyipit dendam.
"Oh, hai." kataku berbasa-basi gugup. "Senang bertemu denganmu lagi. Bagaimana kabar Sinterklas?"
"Maukah Anda menurunkan anak Anda?" tanyanya dengan nada ketus.
Aku menelan ludah takut. Mengapa Nanny Lu cuma jadi penonton setia saja di pojokan sana? Jangan-jangan dia justru menikmati semua ini? Jangan-jangan dia malah merasa terhibur melihat kami? Jadi dia benar-benar hanya menganggap kami sekedar objek pengamatan?!
"Eh… oke. Tidak masalah."
Aku menatap Taeoh yang masih memeluk kaki si manekin malang erat-erat. Satu-satunya cara adalah dengan melepaskan jarinya satu per satu. Dan untuk mendukung keberhasilan itu, aku membutuhkan kekuatan sepuluh tangan.
"Mungkinkah kami… membeli manekin itu?" tanyaku bodoh.
Melihat ekspresi bengis si Elf berdada montok, kuharap aku tidak pernah menanyakannya.
"Ayo, Taeoh. Turun dari sana." ucapku tegas tapi riang, seperti ibu-ibu di iklan detergen waktu tau baju anak mereka dipenuhi noda. "Dah, boneka!"
"Nggak mauuuuuuuuu!" Taeoh memeluk manekin lebih erat.
"Ayo!" dengan segenap kekuatan dan kengototanku, aku berhasil melepaskan satu tangan Taeoh, tapi dia langsung mencengkramnya lagi secepat kilat.
"Punyakuuuuu!"
"Turunkan anak Anda dari manekin itu!" bentak si elf. "Sudah banyak pengujung! Turunkan dia!"
"Aku sedang berusaha!" jawabku putus asa. "Taeoh, aku akan membelikanmu muffin. Aku janji akan memborong semua muffin untukmu. Sekarang cepat lepas bonekanya, plis?" bujukku ingin menangis saking putus asanya.
"Begini saja deh!" si elf tahu-tahu saja meledak. "Bawa manekin itu! Bawa saja manekin keparat itu!"
"Bawa saja?" kupandangi dia, bingung.
"Ya! Terserah deh! Pokoknya keluar! KELUAR!"
Taeoh masih tiarap memeluk manekin itu seperti mempertahankan nyawanya. Dengan kikuk, aku menyeret keluar Taeoh bersama si manekin seperti mayat. Nanny Lu mengikuti kami keluar sambil membawakan tiga kantong belanjaanku. Dia masih menyaksikan kami, mimiknya tak terbaca.
Mendadak aku tersadar dan melihat segala sesuatunya dari kacamata Nanny Lu. Aku menelan ludah beberapa kali, berusaha memikirkan komentar ringan, "Anak-anak…" Tapi tidak ada yang terlintas di benakku, lagipula, mulutku kering karena masih dilanda panik. Bagaimana aku bisa membiarkan ini terjadi? Di TV tidak pernah ada kasusnya keluarga diusir dari toko hanya gara-gara sepotong kecil muffin. Kasusku lebih parah daripada keluarga-keluarga yang pernah ditangani Nanny Lu.
Apa yang akan dikatakan Nanny Lu dalam laporan pengamatannya? Apakah dia akan memberitahu Kai? Apa Taeoh akan dikirim ke kamp pelatihan di tempat terpencil?
"Sudah selesai belanjanya?" tanya Nanny Lu dengan suara normal dan menyenangkan, seolah-olah kami tidak sedang ditonton orang-orang yang lewat.
Aku menunduk dalam-dalam, wajahku merona parah karena tengsin.
"Taeoh," ujar Nanny Lu lembut. "Kurasa kau menyakiti boneka malang itu. Gimana kalau kau lepaskan dulu kakak bonekanya terus kita beli makanan yang enak-enak? Kita bisa beli satu untuk kakak boneka juga."
Taeoh berpaling dan selama beberapa saat memandang penuh kecurigaan pada Nanny Lu—lalu pelan-pelan merayap turun dari manekin.
"Anak pintar," puji Nanny Lu. "Nah, sekarang kita akan tinggalkan kakak boneka disini, di rumahnya sendiri," katanya tersenyum sabar. Luhan mengangkat boneka itu dan menyenderkannya ke dekat pintu. "Sekarang, mari kita mencari makanan. Bilang 'Ya, Nanny Lu!'."
"Ya, Nanny Lu," Taeoh membeo patuh.
Ha? Kok?
Nanny Lu menggandeng Taeoh lalu mengobrol ringan dengan anak itu, tapi aku tidak menyimak percakapan mereka. Aku terlalu mual karena takut. Dia pasti akan menulis laporannya dan mengatakan Taeoh membutuhkan penanganan khusus di kamp pelatihan. Aku yakin sekali. Pasti! Dan Kai sudah pasti akan lebih mendengarkan kata-kata si pakar anak.
God… apa yang harus kulakukan?
.
.
.
.
Pukul Sembilan malam itu, aku sudah panik total, mondar-mandir di rumah, menunggu Kai pulang.
Ini saat paling buruk dalam perkawinan kami. Yang paling gawat! Karena bila keadaannya mendesak, aku harus menyembunyikan Taeoh di tempat aman supaya dia tidak akan pernah bertemu dengan Kai lagi.
Kalian tahu kan. Skenario terburuk.
Begitu mendengar bunyi kunci pintu depan, aku kontan menegang.
"Sehun?" Kai muncul di pintu dapur. "Aku menunggumu menelpon. Bagaimana tadi?"
"Eh, baik kok. Kami pergi belanja dan kami… engg… minum kopi," suaraku terdengar palsu dan kaku, tapi Kai sepertinya tidak menyadari itu.
"Jadi apa yang dikatakannya tentang Taeoh?"
"Tidak banyak. Kau tahulah," sahutku berlagak santai. "Kuharap dia akan melapor nanti. Kalau sudah sampai pada kesimpulan."
"Hmm," Kai mengangguk sambil melonggarkan dasinya. Dia menuju kulkas, lalu berhenti di dekat meja. "Ponselmu berkedip-kedip."
"Oh ya?" kataku kembali menegang. "Pasti ada pesan masuk. Bisakah kau dengarkan? Aku capek sekali."
"Oke. Kalau kau mau," Kai melontarkan tatapan menyelidik padaku, mengambilnya, dan menekan tombol voicemail ketika mengambil botol bir dari kulkas. "Dari Nanny Lu."
"Benarkah?" aku pura-pura terdengar kaget. "Dengarkan lewat pengeras suara saja."
Ketika suara beraksen Taiwan yang familier itu memenuhi dapur, kami berdua diam mendengarkan.
"… laporan lengkap akan menyusul. Tapi harus kukatakan, Taeoh anak yang sangat menakjubkan. Senang sekali melewatkan waktu bersama dia dan istri Anda. Keahlian Sehun sebagai ibu tidak dapat diragukan lagi dan aku tidak mendiagnosis ada masalah apapun dalam keluarga Anda. Selamat! Dan sampai jumpa."
"Wow," desahku lega ketika pesan suara itu berakhir. "Hebat sekali kan? Sekarang kita bisa melupakan peristiwa ini dan melanjutkan hidup kita."
Kai tetap bergeming. Lalu dia menoleh dan menatapku tajam. "Sehun..."
"Ya?" aku melayangkan senyum tegang.
"Apakah itu tadi tetangga kita, Bibi Kyu yang berbicara dengan aksen khas Nanny Lu? Kalian berkonspirasi ya?"
Bisa-bisanya dia menuduhku begitu!
Maksudku, yaa… itu memang Bibi Kyuhyun, tapi logatnya bagus kok. Suaranya juga mirip-mirip. Aku sangat terkesan.
"Bukan kok!" semburku galak. "Itu Nanny Lu, dan aku sangat tersinggung kalau kau mencurigaiku seperti itu."
"Bagus. Kalau begitu aku akan menelpon Nanny Lu langsung untuk bertanya padanya," dia mengeluarkan ponselnya sendiri dan aku buru-buru merebut benda itu dari tangannya.
Mengapa dia tidak percayaan sih? Ini cacat karakter yang parah. Aku akan memberitahu dia jika sikonnya tepat.
"Nanti mengganggu," aku berimprovisasi. "Menelpon terlalu malam adalah sikap antisosial."
"Hanya itu yang kau pedulikan, bukan?" Kai menyipitkan mata. "Sikap antisosial?"
"Ya. Kenapa memang?" sahutku nyolot.
Kai selangkah lebih maju dan merebut kembali ponselnya. "Well, kalau begitu aku akan mengirim e-mail."
Ini tidak berjalan seperti yang kurencakan! Oke… baiklah…
"Fine! Itu memang Bibi Kyu!" kataku menyerah saat Kai mulai mengetik. "Tapi aku tidak punya pilihan lain, Kai! Tadi buruk sekali. Bencana! Taeoh diusir keluar dari toko dan dia nyaris membawa pulang patung manekin telanjang. Nanny Lu memang tidak bilang apa-apa, tapi dia menatap kami dengan pandangan itu. Aku tahu apa yang akan dia tulis dilaporannya. Dan aku tidak bisa mengirim Taeoh ke kamp pelatihan di Utah, pokoknya tidak bisa! Kalau kau coba-coba memaksaku, kita akan maju ke meja hijau! Taeoh bakal trauma dan dia akan tumbuh jadi berandalan yang hobi memukuli kita sehingga kita harus bersembunyi di dalam lemari seumur hidup dan tidak bisa berhubungan seks lagi!" repetku tanpa sempat bernapas.
Kai tercengang bingung. Begitulah kalau jarang nonton TV. "Apa?"
"Ada kok di sinetron! Aku pernah melihatnya."
"Apa?" Kai masih terbengong-bengong. "Tadi kau bilang apa? Utah?"
Aku gelagapan. "Mm.. mungkin arizona. Atau dimanapun itu. Pokoknya aku tidak sanggup, Kai…" kuusap mataku yang mulai berair. "Jangan renggut Taeoh dariku…"
"Aku tidak berniat merenggut Taeoh darimu! Demi Tuhan!" Kai meremas kepalanya seperti ingin meledak. "Siapa yang menyebur-nyebut Utah sih?"
"Eh…" siapa ya? Pokoknya ada yang bilang. Entah siapa. Mungkin aku salah informasi.
"Aku meminta bantuan wanita itu karena menurutku dia dapat memberi kita nasihat tentang cara mendidik anak. Kalau memang berguna, kita akan terus memakai dia, kalau tidak ya tidak."
Kai mengucapkannya dengan lugas, selama beberapa saat, aku mengerjap tak percaya.
"Aku percaya pada pendapat profesional," ujar Kai tenang sambil duduk dan merangkul pundakku. "Aku ingin mendengar bagaimana pendapat seorang psikolog anak tentang kelakukan Taeoh. Hanya sebatas itu. Tidak ada acara renggut-merenggut, sayang. Kenapa kau bisa berpikiran begitu sih?"
"Pokoknya aku tidak sanggup mengirim Taeoh pergi," suaraku masih bergetar. "Kau harus melangkahiku dulu kalau masih tetap ngotot membawanya."
"Sehun, sudah kubilang tadi, tidak ada acara renggut-merenggut," kata Kai mati-matian menekan emosinya. "Kita hanya akan bertanya pada Nanny Lu apa yang bisa kita lakukan tanpa harus mengirim Taeoh pergi. Oke? Sudah mengerti kan sekarang? Drama selesai!"
Napasku berembus panjang sekali. Aku telah merasa kalah langkah.
"Oke," sahutku akhirnya.
"Sehun… kau tidak sungguh-sungguh berpikir aku akan mengirim Taeoh jauh-jauh dari kita, kan? Kaupikir aku ini ayah macam apa?"
Kai terlihat sangat terpukul, dan seketika aku dikuasai perasaan bersalah. Iya sih… aku tadi sempat berpikiran negatif padanya. Ya Tuhan, kehamilan membuatku paranoid.
"Maaf," aku memeluk Kai lalu menciumi pundaknya. Dilanda perasaan sayang. "Aku tidak tahu mengapa bisa berpikiran begitu. Bodoh sekali aku tadi. Maaf ya?"
Kai tersenyum simpul, "Tidak apa-apa. Salahku tidak membicarakannya baik-baik dulu dan meminta pendapatmu. Itu tidak akan terulang lagi, aku janji."
Dia mendaratkan kecupan lembut di bibir. Kupejamkan mataku dan aku bersandar di dada Kai, merasa hangat dan bahagia dalam pelukannya. Besok semua masalah ini akan selesai. Kai benar, kami cukup duduk dan mendengarkan saran-sarannya. Tidak lebih.
.
.
.
.
Hari ini Nanny Lu mengenakan seragam biru resminya. Duduk di sofa, dengan secangkir teh dan laptop terbuka di depannya, dia seperti polwan yang mau menangkap kami.
"Jadi," Nanny Lu berdehem, menatapku dan Kai bergantian, lalu tersenyum pada Taeoh yang duduk di lantai bermain puzzle. "Senang sekali kemarin bisa melewatkan waktu bersama istri dan anak Anda."
Aku tidak menanggapi. Aku tidak akan jatuh ke perangkapnya yang tampak bersahabat. Beginilah dia, selalu memulai acara TV-nya. Dia bersikap manis, lalu dia merengsek, dan pada akhirnya semua orang menangis di pundaknya sambil berkata, "Nanny Lu, bagaimana kami bisa menjadi orang yang lebih baik?"
"Nah," dia mengetuk laptopnya dan muncul layar video dengan tulisan "Taeoh Kim" dalam huruf-huruf hitam. "Seperti yang kalian ketahui, aku sudah merekam semuanya kemarin. Tenang saja, ini tidak akan dipublikasi, hanya untuk rekaman pribadiku."
"Apa?" aku melongo tak percaya. "Serius? Dimana kameranya? Perasaan kemarin tidak ada kameramen seorangpun."
"Kameranya kutempel di kancing jaketku, jadi Sehun-ssi baru tahu?" Nanny Lu tampak sama kagetnya. Lalu menoleh pada Kai. "Saya kira Anda sudah memberitahu istri Anda soal itu."
Aku berpaling pada Kai, "Kau tahu soal kamera? Mengapa kau tidak memberitahu apapun soal itu! Selama ini aku dimata-matai lewat rekaman video dan kau tidak memberitahu aku?" suaraku meninggi beberapa oktaf karena emosi.
"Kupikir lebih baik tidak usah diberi tahu dulu…" ujar Kai ragu-ragu. "Nanti takutnya kau malah berakting. Bersikap tidak wajar…"
"Aku tidak akan pernah berakting," bantahku gusar.
"Bagaimana menurut pendapat Anda, Nanny Lu?" tanya Kai mengacangiku. "Apa Anda melihat masalah yang cukup penting?"
"Honestly, aku memang memperhatikan sesuatu yang membuatku prihatin," Nannya Lu mengangguk-angguk dengan raut serius. "Akan kutunjukkan rekamannya sekarang."
Dia memperhatikan apa?
"Tunggu!" seruku tiba-tiba hingga Nanny Lu spontan menghentikan rekaman dengan ekspresi kaget. "Banyak anak yang memiliki semangat tinggi, Nanny Lu. Tapi bukan berarti mereka manja. Bukan berarti mereka punya masalah. Sifat manusia itu bervariasi dan itulah yang membedakan kita, itulah yang menjadi ciri khas setiap orang, itulah yang membuat dunia ini tidak berasa hampa dan monoton. Beberapa anak ada yang pemalu, sementara yang lainnya penuh energi. Kalau boleh jujur, aku merasa Taeoh termasuk dalam golongan yang luar biasa penuh energi. Dan aku tidak mau semangat masa kanak-kanaknya itu dipadamkan oleh… kamp pelatihan yang opresif! Suamiku juga sudah sependapat denganku."
Nanny Lu menarik senyum tipis yang terlihat bijaksana. "Kalau begitu aku juga sependapat."
Hah? Dia bilang apa tadi?
"Apa?" aku mengernyit bingung. Tak menyangka dia setuju.
"Menurutku Taeoh sama sekali tidak memiliki masalah. Dia masih bisa di-didik dengan disiplin yang lebih tegas, selain itu dia hanya balita normal yang penuh semangat."
"Normal?" kupandangi Nanny Lu dengan bego.
"Normal?" seru Kai tak mengerti. "Apakah normal menyemprotkan mayo ke baju orang lain?"
"Untuk anak umur dua tahun, itu kasus yang normal." Nanny Lu tampak geli. "Percayalah, anak Anda bukan satu-satunya balita di dunia ini yang pernah melakukan itu. Dulu ada sebuah keluarga di Taiwan yang pernah saya tangani dan anak mereka dua kali menyemprotkan saus tomat ke baju teman bermainnya." dia geleng-geleng kepala dengan senyum mengenang. "Itu masih normal. Taeoh hanya sedang menguji 'batas-batasnya'. Coba ingat, kapan terakhir kali dia menyemprotkan mayonaise lagi ke orang lain? Apa baru sekali itu?"
"Uhmm…" Kai menatapku, agak ragu-ragu. "Sebenarnya… aku sudah tidak ingat lagi. Belakangan tidak pernah. Hanya sekali itu saja."
"Anak pada usia seperti Taeoh umumnya memeliki rasa ingin tahu yang sangat besar, itu yang membuatnya senang bereksplorasi, mencari hal-hal baru dan bertindak semau mereka. Berikan contoh yang baik dan benar untuk ditiru, karena pada usia ini anak belajar dengan cara meniru lingkungan di sekitarnya. Bersikaplah tegas terhadap anak untuk mengajarkan hal mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Mulai usia 13 bulan, anak sudah mulai mengamati hal-hal di sekitarnya. Banyak 'keajaiban' di sekitarnya yang mendorong rasa ingin tahu anak. Si anak kemudian melakukan hal-hal nekat yang sering mereka anggap sebagai 'permainan', padahal dia sendiri sedang mencari tahu apa yang akan terjadi kemudian atau bagaimana respon orang-orang setelah dia melakukan 'permainan' itu, hanya untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Ya salah satu contoh nyatanya menyemprot mayo ke baju orang."
Aku dan Kai terpana bagai murid taman kanak-kanak yang terlalu asik mendengarkan dongeng putri duyung.
"Sekitar usia 17 bulan, anak sudah mulai mengembangkan kemampuan mengamati menjadi meniru. Hal yang ditirunya adalah hal-hal yang umumnya dilakukan orangtua. Pada usia 19 bulan, anak sudah banyak meniru perilaku orangtua. Balita juga mesin pendeteksi kebohongan yang ampuh, jadi jangan coba-coba melakukan hal yang berbeda sementara kenyataan yang biasa mereka lihat justru berbanding terbalik dengan apa yang diucapkan orangtuanya."
Pipiku merona karena malu. Seharian kemarin aku berusaha mengibulinya dengan mengatakan kami sering ke pusat edukasi, tapi Taeoh terus menerus berteriak "Muffin! Muffin! Toko!".
Sudah jelas Nanny Lu sedang menyindirku.
"Taeoh memang punya kemauan keras. Dan dia menggunakan cara-cara yang 'keras' pula untuk menang. Itu biasanya faktor gen, tapi selama anak-anak seperti Taeoh masih bisa diarahkan, dia bisa jadi lebih melunak. Jika boleh aku mengusulkan untuk melewatkan satu hari lagi bersama kalian, untuk memberi saran tentang cara mengendalikan dia. Tapi sungguh, aku tidak ingin kalian berpikir bahwa kalian memiliki anak yang bermasalah. Taeoh anak yang normal. Bahkan, dia sangat menyenangkan."
Aku begitu terkesima hingga tidak bisa menemukan jawaban.
"Taeoh sangat cerdas, terbukti dia sudah mampu mengerti dan mempelajari banyak hal di sekelilingnya. Dia cepat tanggap." tambah Nanny Lu. "Dan itu akan menjadi tantangan seiring dia tumbuh besar. Anak-anak cerdaslah yang biasanya paling menguji kesabaran orangtua…"
Nanny Lu mulai berbicara tentang 'batas-batas' lagi, tapi aku terlalu gembira untuk menyimak. Taeoh cerdas! Nanny Lu mengatakan anakku cerdas! Pakar sungguhan yang punya acara TV baru saja memuji anakku cerdas!
"Jadi, Anda tidak akan menyarankan kamp pelatihan?" aku menyela penjelasannya dengan riang.
"Tidak, tidak, aku tidak bilang begitu." Wajah Nanny Lu berubah lebih serius. "Seperti yang kukatakan tadi, aku melihat sesuatu dalam pengamatanku. Dan itulah yang membuatku khawatir. Lihat ini."
Dia menekan tombol dan rekaman itu berjalan itu, tapi yang mengejutkan, bukan Taeoh yang muncul di layar. Tapi aku. Aku berada di taksi dalam perjalanan ke mall diskon, dan kamera terfokus ke tanganku.
"Kau dimana?" Kai mengerutkan kening kearah monitor. "Di taksi?"
Jantungku berpacu keras. Mati. Kai bisa tahu! "Kami… kami pergi keluar. Apakah kita perlu melihat ini?" tanganku terulur hendak menutup laptop itu, tapi Nanny Lu dengan halus menjauhkannya dari jangkauanku.
"Kita bisa ke mall baru itu saja, tidak jadi ke pusat edukasi." Aku berpaling kearah lain namun masih bisa mendengar suaraku dari layar.
"Sehun-ssi, aku mau kau melihat tanganmu." Nanny Lu menunjuk layar dengan pensil. "Tanganmu gemetar. Lihat jari-jarimu yang berkedut-kedut itu. Seperti itulah keadaanmu ketika pertama kali kita melihat iklan promosi yang terpajang di mall itu, dan aku yakin getaran itu tidak berhenti sampai kau membeli sesuatu."
"Jari-jariku memang suka begitu," aku tertawa kecil agar kelihatan rileks.
Nanny Lu menggeleng tegas. "Aku tidak ingin membuatmu khawatir, Sehun… tapi pernahkah terpikir olehmu bahwa kau mungkin kecanduan belanja?"
Terdengar dengusan mencemooh dari Kai yang tak kuacuhkan.
"Kecanduan belanja?" ulangku seolah tidak memahami makna kata itu. "Kurasa tidak…"
"Lihat rahangmu yang kaku," dia memberi isyarat ke monitor. "Lihat bagaimana kau mengetuk-ngetuk tempat duduk."
Astaga. Memangnya salah ya kita mengetuk-ngetuk tempat duduk?
"Ada atmosfer putus asa pada dirimu," Nanny Lu terus 'menelanjangi' aku di depan Kai tanpa ampun. "Dalam pandanganku, itu reaksi yang tidak proporsional."
"Tidak!" kusadari suaraku terlalu defensif, jadi buru-buru aku meralatnya. "Dengar. Sudah cukup lama aku menahan diri tidak membeli baju-baju untuk diriku sendiri, plus, itu mall diskon baru. Mereka memberikan hadiah gratis! Mereka menjual Jimmy Choo separuh harga! Dan Burberry! Semua orang pasti gemetaran!"
Nanny Lu memandangiku sejenak, seakan-akan aku baru saja berceloteh tanpa makna seperti orang mengigau, lalu menoleh pada Kai. "Aku sedang membuat program seri baru untuk orang dewasa. Kami akan meliput segala macam kelainan dan kecanduan dari beberapa orang yang kami kumpulkan di satu tempat, dan akan mencarikan solusi bagi mereka."
Kelainan?!
"Tunggu." Kupotong dia dengan pelototan tidak terima. "Maksudmu, kau ingin aku yang masuk ke kamp pelatihan? Kai, kau percaya ini?" aku berpaling padanya, menunggu dia tertawa dan mengatakan, "Ide yang sangat konyol". Tapi Kai malah mengerutkan kening dengan raut prihatin. Persis orang yang sudah kena tipu mentah-mentah.
"Sehun, katanya kau tidak akan belanja untuk sementara ini? Kau sendiri yang berjanji. Kupikir kita sudah sepakat."
"Aku tidak belanja untuk diriku sendiri," jawabku tak sabar. "Aku hanya membeli pakaian-pakaian yang memang dibutuhkan anak-anak kita. Lagipula semuanya diskon!"
"Tentu saja, hidupmu adalah urusanmu sendiri," ujar Nanny Lu. "Meski demikian, aku khawatir Taeoh akan meniru kebiasaanmu. Dia sudah memiliki pengetahuan tentang beberapa nama-nama itu. Contohnya Starbucks."
Habis sudah kesabaranku.
"Maksudmu, kalau kami tidak menyembuhkan Sehun, Taeoh bisa menjadi shopaholic juga?"
Aku belum pernah melihat Kai seprihatin itu.
"Well, perilaku adiktif bisa diwariskan dalam keluarga…" Mereka asik bercakap-cakap seolah aku tidak ada disini.
"Aku tidak kecanduan!" timpalku marah. "Taeoh juga tidak! Lagipula Taeoh memang suka rasa muffin yang ada di Starbucks. Itu tidak membuktikan apapun!"
Taeoh yang sejak tadi tenang-tenang mencicipi kue sambil main puzzle, langsung merangkak mendekati kami. Matanya bersinar-sinar. "Toko?" dia mulai menarik-narik tanganku. "Stabaks-toko?"
"Tidak sekarang," potongku segera.
"Toko! Toko!" Taeoh menarik-narik tanganku lebih frustasi. "Toko.."
"Tidak, Taeoh!" bentakku. "Diam dulu!"
Taeoh terdiam sebentar, seperti sedang memutar otak untuk mencari cara lain untuk mengutarakannya—kemudian wajahnya berbinar lagi. Dia menyodorkan telapak tangan. "Uang? Visa? Visa?"
Kai memandangi Taeoh, terperanjat. "Apakah dia baru saja mengatakan 'Visa'?"
"Pintar sekali ya?" kulontarkan tawa yang terlalu ceria. "Dasar anak-anak…"
"Sehun, ini sudah gawat sekali! Gawat sekali."
Baru kali ini aku melihat Kai semarah itu. Rongga dadaku terasa hampa.
"Tidak gawat," bantahku putus asa. "Dia tidak… aku tidak…" suaraku melemah tak berdaya. Mencoba mencari kalimat pembelaan lain tapi tak ada satupun yang lewat di kepalaku. Aku mendadak blank dan merasa idiot sekali. Ruangan berubah hening, tidak ada yang mengatakan apapun, kecuali Taeoh yang masih menarik-narik lengan bajuku sambil berkata, "Visa! Uang! Toko!"
Akhirnya aku menghela napas panjang sekali. "Ya, oke, baiklah. Aku menyerah. Bawa saja aku ke kamp pelatihan. Kalau kalian merasa akulah sumber masalahnya."
"Jangan khawatir, Sehun-ssi." Nanny Lu tertawa santai. "Tidak seburuk itu kok. Hanya program diskusi dan modifikasi perilaku, dilakukan di kantor pusat kami di Taiwan, dengan pilihan penginapan bagus untuk mereka yang rumahnya jauh. Akan ada lokakarya, wawancara, berganti peran. Nanti Anda pasti akan menyukainya."
Menyukainya?
Nanny Lu memberiku brosur yang huruf-hurufnya tidak sanggup kulihat. Sulit dipercaya aku setuju ikut kamp pelatihan. Sudah kuduga kami seharusnya tidak memperbolehkan Nanny Lu kembali ke rumah ini.
Dia 'menangkapku'. Aku akan dibawa pergi…
Tidak bisa. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi!
Aku harus mencari solusi untuk mengatasi masalahku sendiri. Siapa bilang hanya seorang pakar yang mampu menyembuhkan orang? Akulah yang lebih tahu soal diriku sendiri. Bukan si Nona Sempurna yang baru kemarin sore muncul di pintu depan rumah kami.
Ini mudah sekali. Aku pasti bisa mengatasinya!
.
.
.
.
Moto baruku adalah "Hanya Beli Apa yang Kauperlu". Aku tahu, kedengarannya terlalu sederhana—tapi sebenarnya sangat manjur. Sebelum membeli apapun, aku mengajukan pertanyaan ini pada diriku sendiri, "Apakah aku memerlukan benda ini?" Dan aku baru membelinya kalau jawabanku "ya". Ini hanya persoalan disiplin diri. Aku yakin aku bisa mempertahankan prinsip itu dan menerapkannya mulai dari sekarang.
Jadi ketika Kyungsoo eonni minta tolong dibelikan sepatu sandal karena dia sedang ada studi tour dengan mahasiswa-mahasiswanya, aku melenggang masuk ke LK Bennett dengan pikiran yang betul-betul terarah. Ketika aku berjalan masuk, mataku hinggap pada sepatu bot merah bertumit tinggi, tapi aku cepat-cepat mengalihkan pandangan, dan berjalan langsung menuju rak sepatu sandal. Begitulah caraku berbelanja belakangan ini. Aku menerapkan formula 3T. Tanpa mampir. Tanpa melihat-lihat. Tanpa melirik benda lain.
Bahkan tanpa mendekati jajaran baru sepatu pantofel bermanik-manik di seberang sana. Tujuanku hanya satu. Berjalan langsung ke bagian sepatu sandal yang kuinginkan, mengambilnya dari rak dan cepat-cepat kabur ke kasir sebelum semua benda gemerlapan ini berhasil meracuni niat muliaku.
Langsung pada tujuan. Hanya beli apa yang kauperlukan, itu saja. Inilah kunci berbelanja yang terkendali. Aku bahkan tidak melirik sepatu pink bertumit stiletto yang keren itu, walau sepatu itu akan sangat serasi dengan kardigan Jigsaw-ku.
Atau melirik sepatu gladiator dengan hak kaca yang berkilau itu.
Tapi sepatu itu manis sekali, bukan? Aku ingin tahu bagaimana jadinya bila sepatu itu berada di kakiku…
YA AMPUN.
Ini sulit sekali!
Sepatu-sepatu itu memang begitu menggoda hingga aku merasa sayang kalau tidak dipakai cuci mata. Kadang-kadang, bila di rumah sedang tidak ada siapa-siapa, aku membuka lemari dan memandangi semua koleksi sepatuku bagai kolektor gila. Dan suatu kali aku pernah menjejerkan semua sepatuku di ranjang lalu memotretnya. Memang kedengaran aneh, tapi kalau dipikir-pikir, aku punya banyak foto orang-orang tidak jelas di hpku, jadi mengapa tidak memotret sesuatu yang benar-benar kusayangi?
"Ini dia!"
Syukurlah, si penjaga konter sudah datang membawa sepatu sandal lila pesanan kakakku di dalam kotaknya. Dan sewaktu aku memandangi sepatu itu, hatiku bagai tersengat listrik ribuan volt. Aduh, betapa indahnya. Dengan tali dan hiasan blackberry mungil. Mungkin aku bisa beli…
Tidak. Aku tidak bisa beli apa-apa. Ingat saja: Kamp pelatihan. Di negara orang. Jauh dari suami, keluarga, teman-teman dan anakku.
Sangat manjur lho, niatku untuk belanja surut seketika.
Kata kunci: KAMP PELATIHAN.
Oke. Ini mudah. Aku hanya tinggal menggesek kartu, menenteng belanjaan keluar dari toko, lalu menagih uang ganti rugi ke Kyungsoo eonni.
Aku terus berupaya mengalihkan perhatianku dari rak aksesori. Bahkan, aku hampir tidak melirik tas ungu dengan manik-manik hitam itu. Aku sedang merogoh ke dalam tas untuk mengambil dompet sambil memuji diri sendiri karena begitu tak tergoyahkan ketika si penjaga kasir berkata sambil lalu, "Anda tahu, kami juga punya sepatu sandal seperti ini, tapi dengan warna clementine."
Clementine?
"Oh…" aku menelan ludah. "Begitu."
Aku tidak tertarik. Aku sudah mendapat apa yang ingin kubeli. Sepatu sandal lila. Bukan yang clementine.
"Sepatu sandal clementine itu baru saja datang," tambahnya sambil menunduk dan mencari-cari di dalam laci. "Kurasa sepatu itu lebih keren dari yang lila."
"Masa?" kataku sebisa mungkin bersikap tak perduli. "Yaah, aku tetap ingin yang ini…"
Dan tubuhku membeku ketika wanita itu meletakkan sepatu sandal paling indah diatas konter. Warnanya oranye-krem pucat, juga bertali seperti yang lila, tapi sebagai ganti hiasan blackberry, ada hiasan buah clementine mungil di ujungnya.
Ini cinta pada pandangan pertama. Aku tak bisa melepaskan pandanganku.
"Anda mau mencobanya?" kata gadis itu, dan perutku mulas saking kepinginnya.
Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak.
Aku tidak membutuhkan sepatu sandal clementine. Aku tidak memerlukannya. Sepatuku sudah banyak di rumah. Aku juga ingat masih punya sepatu hak delapan senti dengan warna yang sama.
Ayolah, Sehun. Tinggal. Bilang. Tidak.
"Sebetulnya hari ini aku ambil yang lila saja," kataku setelah merenung selama triliun tahun. "Terima kasih."
Aku berhasil! Aku berhasil! Aku sudah bisa mengendalikan keinginan belanjaku! Aku hanya membutuhkan sepasang sepatu sandal—dan hanya membeli satu. Masuk, lalu keluar dari toko, betul-betul sesuai rencana awal. Lihatlah apa yang bisa kulakukan kalau keinginanku memang kuat.
Ladies and gentleman… Inilah dia…
Kim Sehun yang baru!
.
.
.
.
Aku ingin sepatu clementine itu.
Aku ingin sepatu clementine itu…
Aku ingin—
DIAAAAM!
Stop. Hentikan. Pikirkan hal-hal lain. Aku pasti bisa! Ingat: Kamp pelatihan. Di negara orang. Jauh dari suami, keluarga, teman-teman dan anakku.
Oke. Berhasil. Aku berhasil menahannya dan duduk di mobil tanpa mengetuk-ngetuk tempat duduk. Aku sudah sampai di pintu depan rumahku. Yuhuu!
Lihat kan? Siapa yang butuh kamp pelatihan!
"Sehun?" Mama melongok dari pintu dapur. "Tumben kantong belanjamu cuma satu. Kau tidak beli apa-apa untuk dipakai ke pentas menarinya temanmu?"
"Tidak," jawabku penuh tekad. "Aku tidak beli apa-apa. Aku akan memilih sesuatu dari koleksi pakaianku sendiri."
"Sayang…" Mama menghampiriku dan rautnya kelihatan heran bukan main. "Aneh sekali. Kau tidak seperti biasanya."
"Aku tahu." kuhempaskan bokongku ke kursi lalu melepas sepatu. "Tapi aku tidak boleh belanja. Aku sudah berjanji pada Kai."
Mama duduk di kursi lain. "Apa Kai tidak membuat pengecualian? Ini kan hari spesialnya Baekhyun."
Aku menggeleng kemudian menghela napas. "Aku tidak bisa mengambil resiko. Kai menganggap semua ini sangat serius. Nanny Lu bilang, aku ini shopaholic," tambahku murung. "Dia bilang, aku perlu masuk ke kamp pelatihan, kalau tidak, Taeoh akan jadi seperti aku."
"Apa?!" Mama tampak marah. Puas sekali melihatnya. "Omong kosong! Jangan dengarkan dia. Mereka semua itu penipu. Kamp pelatihan itu hanya alasan untuk merampok. Kau tidak akan pergi kan, dear?" tanyanya cemas sambil menggenggam satu tanganku.
Papa muncul dari dapur sambil menggenggam mug oleh-olehku dari Karibia. "Ya, jangan pergi. Memangnya kenapa kalau kau shopaholic? Toh itu bukan semacam penyakit parah yang harus disembuhkan oleh sekelompok orang hebat. Masih ada kemungkinan untuk ditanggulangi sendiri. Yang penting kesadaran. Tidak ada pengaruhnya kamp kamp itu kalau tak ada kemauan dari diri sendiri untuk sadar. Papa yakin kau pasti bisa, Sehun. Tanpa harus jauh-jauh ke kamp konyol."
Ya Tuhan, betapa aku mencintai orangtuaku. Jika seandainya aku memberitahu mereka kalau aku baru saja membunuh seseorang, mereka akan menemukan alasan untuk membelaku dan si korbanlah yang bersalah sehingga pantas dibunuh.
Aku menampilkan seulas senyum untuk menenangkan orangtuaku yang panas. "Entah. Mungkin tidak. Kai percaya padanya. Tapi kalian tenang saja, aku tidak akan pergi kok."
"Ya baguslah, nak." Mama mengelus dadanya, lega. "Begini saja, bagaimana kalau kita sekarang melihat-lihat isi lemarimu? Mama bantu untuk memilihkan pakaian. Ayo, ayo."
"Nah, ada ide?" tanya Mama ketika kami masuk kamar. "Apa yang ada di lemarimu?"
"Mungkin gaun lace hitam?" aku berusaha memompa semangat. "Atau gaun biru yang kupakai sebelum Natal? Atau mungkin…" kubuka lemari pakaian dan mencari diantara gantungan yang berbaris rapat tanpa celah saking banyaknya gaunku. Aku menarik keluar gaun ketat warna biru, lalu kupakai, mengira bahwa paling tidak ini akan membuatku merasa terhibur. Namun entah kenapa, gaun ini kelihatannya tidak sebagus dulu. Bukan menempel ketat, malah mengerut sesak. Kutarik risletingnya, tapi benda bodoh itu tidak bergerak.
Gaunku kekecilan.
Gaun yang sempurna ini kekecilan. Badanku pasti sudah membengkak. Entah di perut, paha, bokong, atau di tempat lain. Sekujur tubuhku tiba-tiba menggelembung besar.
Heechul benar…
Aku mengalami peningkatan yang sangat pesat. Aku… si monster putih gembrot yang berjalan terseok-seok.
Benar-benar suatu anugrah Kai masih mencintaiku sampai detik ini.
"Jangan dipaksa, dear. Lepas saja. Kasihan perutmu. Tunggu ya, Mama punya ini…" aku belum sempat bertanya, ibuku sudah keburu ngeloyor keluar. Semenit kemudian, dia kembali lagi sambil membawa kantong pakaian yang dilengkapi gantungan.
"Nih," dia menyodorkannya padaku. "Coba yang ini. Pasti muat."
Sambil melontarkan tatapan curiga, aku membukanya. Ada kilasan sutra hijau mewah dan aku pun terkesiap. Tidak. Tidak mungkin…
Kubuka risletingnya sampai ke bawah, hanya untuk meyakinkan… dan gaun itu meluap keluar dari kantong pakaian, seperti sungai hijau gelap yang gemerlapan.
Ini… gaun vintage diatas lutut dengan bentuk rok yang menyamarkan area perut dan satu lengan berhias bros.
"Ma…" kupandangi ibuku dengan raut shock bercampur terharu. "Bukankah ini gaun yang kaukenakan saat ulang tahun perkawinan kalian yang pertama?" Aku ingat sekali gaun ini! Kalau tidak salah, Mama memakai ini waktu perutnya lagi besar-besarnya karena mengandung anak pertama.
Mama mengangguk bangga. "Yap, gaun yang selalu kau inginkan, sayang. Yang dulu selalu kau tunjuk di foto album saat kau masih kecil dan kau selalu bilang ingin memakai ini suatu hari nanti jika perutmu besar dan badanmu jadi lebih… segar."
Ternyata dia masih ingat.
"Tapi ini kan gaun kenangan kalian," kalau aku berhati lemah, aku pasti sudah menangis terisak-isak sekarang. "Simpan saja. Ini gaun berharga milikmu, Ma. Aku tidak sanggup—"
"Ah, tidak apa-apa." potongnya sambil mengibaskan tangan. "Kau kan anakku, sejuta kali lebih berharga daripada gaun itu. Perlu bantuan?" sebelum aku sempat protes, tau-tau Mama sudah memakaikan gaun itu secepat kilat ke tubuhku dan jujur saja—setelah melihat bayanganku di cermin—aku jadi tampak menakjubkan. Bukannya bermaksud berlebihan, tapi… aku tidak terlihat seperti monster putih gembrot lagi.
Aku adalah tuan putri.
Tuan putri yang gemerlapan!
"Terima kasih, Mamaku yang cantik." Kupeluk dia erat-erat. "Ini hebat sekali. Gaun vintage paling hebat yang pernah kulihat. Aku janji tidak akan menyemprotnya dengan mayoinase."
Mama tertawa. "Eh iya, ngomong-ngomong, aku tadi meninggalkan Taeoh di rumah sebelah dengan Kyuhyun. Tidak apa-apa kan?"
"Tidak apa-apa, asalkan ada puzzle dan muffin. Pasti keadaan akan aman terkendali."
"Baguslah, tadi aku sudah meninggalkan dua jenis puzzle disana. Teman-teman arisan Kyuhyun sampai memuji-muji Taeoh. Katanya Taeoh pintar sekali padahal masih sekecil itu. Dia berguru darimana sih?"
"Ibunya Kai," jawabku sambil terkikik geli. "Kayaknya Taeoh mewarisi bakat pemain puzzle handal dari dia."
Aku lega sekali mengetahui anakku punya bakat alamiah itu. Walaupun dia tidak bisa menulis puisi, bermain Play-Doh atau menyusun Lego, setidaknya, Taeoh masih bisa berkutat dengan puzzle, kan? Malah, kedengarannya lebih keren dan berkelas. Permainan anak-anak bangsawan jaman dulu.
.
.
.
.
Pertunjukan tari Baekhyun diselenggarakan di sebuah teater di Ulsan. Ketika tiba disana, aku mendapati tempat itu penuh pengacara yang mengenakan setelan mahal dan menelpon dengan ponsel hitam canggih. Mereka semua jadi telihat sama.
"…jika klien tidak bersedia menerima syarat-syarat kesepakatan…"
"…pada klausul empat, koma, walaupun…"
Belum ada yang bergerak masuk ke dalam auditorium, jadi aku pergi sebentar ke belakang panggung, untuk memberi Baekhyun buket bunga yang telah kubeli. (Tadinya aku mau langsung melempar bunga mawar ini ke panggung setelah Baekhyun selesai menari, tapi aku khawatir durinya akan menancap di stoking Baekhyun).
Ketika aku berjalan di koridor yang suram untuk menuju ke ruang rias, suara musik terdengar dari sound system dan orang-orang berjalan melewatiku dengan kostum-kostum yang gemerlapan. Seorang pria dengan bulu-bulu biru di rambutnya sedang meregangkan kaki kanannya ke dinding dan berbicara pada seseorang di telpon.
"Jadi kujelaskan pada jaksa penuntut idiot itu, bahwa pada kasus yang terjadi di tahun 1983 merujuk pada…" tiba-tiba dia berhenti bicara. "Sialan! Aku lupa langkah-langkah pertamaku," wajahnya pucat pasi. Kemudian dia menoleh dan memandangi aku seolah-olah aku punya jawabannya. "Apa lagi yang kulakukan setelah berputar dua kali?"
"Mm…" aku berpikir sejenak. "Sikap lilin?" sahutku asal-asalan.
Dengan salah tingkah aku buru-buru pergi, nyaris tersandung seorang gadis yang sedang melakukan split di depan pintu. Ketika melongok kedalam ruang rias, aku melihat Baekhyun sedang duduk di salah satu meja rias yang letaknya paling ujung. Matanya lebar berkilauan dan dia juga pakai bulu-bulu biru di rambutnya.
"Oh my god, Baekki!" seruku terpana di ambang pintu. "Kau tampak menakjubkan! Aku suka—"
"Aku tidak bisa melakukannya."
"Apa?"
"Aku tidak bisa melakukannya!" ulang Baekhyun putus asa sambil menarik mantel katun birunya lebih erat. "Aku tidak bisa mengingat apapun. Otakku kosong!"
"Hei, hei, tenanglah." aku mendekati dia. "Kau tidak sendiri. Ada seorang pria di luar sana yang mengatakan hal sama."
"Tidak. Aku benar-benar tidak ingat apapun!" Baekhyun menatapku dengan mata nyalang. "Kakiku terasa seperti kapas, aku tidak bisa bernapas…"
Dia meraih kuas pemerah pipi, menatap kosong, lalu meletakkanya kembali. "Kenapa aku bersedia melakukan hal gila ini? Kenapa?"
"Karena asyik?" jawabku tidak yakin.
"Asyik?!" suara Baekhyun meninggi hingga aku terpaksa melindungi keselamatan telingaku. "Kaupikir ini asyik? Ya Tuhan…"
Mendadak eskpresi wajahnya berubah, lalu dia berdiri dan berlari keluar ruangan. Berikutnya aku mendengar Baekhyun muntah-muntah. Entah dimana dia melakukannya. Semoga bukan diatas kepala gadis split tadi.
Baekhyun muncul di pintu lagi, pucat dan gemetaran seperti orang sekarat.
Aku merasa iba padanya. "Yakin tidak apa-apa?"
"Aku tidak bisa," katanya dengan suara tercekik. "Aku tidak bisa. Aku mau pulang!" Baekhyun menghampiri pakaiannya di gantungan. "Bilang pada mereka asmaku kambuh."
"Kau tidak boleh pulang!" kataku melotot panik sambil berusaha merebut pakaian di tangannya. "Baekki, tidak apa-apa kok. Pasti tidak akan seburuk bayanganmu. Anggap saja kau sedang berdiri di ruang pengadilan yang besar. Anggap saja kau sedang berpidato di depan banyak orang, bukan menari."
Baekhyun menatapku seakan-akan aku orang dungu, "Itu dua hal yang berbeda. Berpidato jelas lebih gampang daripada menari, aku hanya perlu berdiri dan berbicara. Tapi kalau menari… aku harus menggerakkan semua anggota tubuhku!"
Ya ampun. Namanya juga menari. Kalau cuma berdiri kaku saja itu bukan menari namanya, tapi latihan baris-berbaris.
"Well…" aku menggenggam tangan Baekhyun, menyalurkan kekuatan apapun yang mungkin kumiliki. Demam panggung itu kayaknya bisa menular deh. Terbukti sekarang aku ikut-ikut gemetaran. Walaupun berusah kututupi dengan senyum ceria. Aku tidak ingin Baekhyun tambah panik kalau melihatku gelisah. "Baekki, kalau kau mundur sekarang, kau akan selalu menyesal di kemudian hari. Kau akan selalu menengok ke belakang dan berharap kapan dapat kesempatan emas seperti ini lagi."
Sunyi. Aku bisa melihat otak Baekhyun bekerja keras dibalik bulu-bulu dan segala riasan tebal itu.
"Kau benar," gumam Baekhyun akhirnya, ada senyuman tipis disana. Ketegangannya mengendur. "Oke. Akan kulakukan. Tapi dengan satu syarat, aku tidak mau kau menonton. Temui saja aku sesudah acara selesai—tidak, jangan! Lebih baik kau pergi saja. Pergi jauh-jauh."
"Ya sudah," jawabku agak tidak iklas karena diusir. "Aku akan pergi—"
"Jangaan!" tahan Baekhyun sigap. "Kau tidak boleh pergi. Aku berubah pikiran. Aku membutuhkanmu."
Kenapa dia jadi plin-plin begitu sih? Sedasyat inikah efek demam panggung?
Aku mengendikkan bahu. "Baiklah kalau itu maumu."
"Sehun." Baekhyun mencengkram lenganku dan menatapku tajam. Dia memegangiku begitu erat sampai-sampai kulitku sakit. "Sehun, kalau suatu saat nanti aku bilang ingin melakukan yang seperti ini lagi, hentikan aku. Apa pun yang kukatakan. Berjanjilah kau akan mencegahku."
"Aku janji," ujarku sambil dengan lembut melepas cengkramannya. "Aku janji."
.
.
.
.
"Sehun!"
Itu dia, Yixing dan Jinyoung, datang bersamaan tanpa membawa anak dan suami. Kami memang sudah janjian sih. Hari ini akan menjadi hari kumpul-kumpul spesial kami saja.
"Haiii!" aku balas melambaikan tangan.
"Ciao, girl!" Yixing berlari lalu menubrukku dengan pelukan beruangnya.
"Hei, sweety darling, bagaimana kabarmu?" tanya Jinyoung sambil bercipika-cipiki denganku.
"Seperti yang kau lihat…" aku berputar dengan gaya dan rokku ikut berputar dengan sangat elegan.
Keduanya kompak mendesah kagum.
"Wow…"
Yixing menyentuh sejumput kainnya, masih takjub. "Lembut. Bagus sekali! Gaun baru ya? Beli dimana?"
Aku tersenyum sok rahasia. "Ada deh." kalau aku bilang ini gaun milik ibuku nanti mereka kepingin juga.
"Pelit!" Yixing mencibirku.
Jinyoung mengelus-elus perutku. "Gimana kabar baby? Udah delapan bulan kan ya? Rencana nanti mau melahirkan di rumah sakit mana?"
Aku angkat bahu tanda terserah, "Mungkin St. Mary's hospital, supaya tidak terlalu jauh dari rumah."
Keduanya manggut-manggut sambil membeo.
Bunyi gemuruh gendering yang dalam dan tegas mulai terdengar dari pengeras suara, kami sontak menuju ke kursi penonton supaya tidak kehabisan tempat duduk. Auditorium itu sudah gelap seluruhnya, dan di sekitar kami para penonton diam menanti. Bunyi genderang semakin keras, tapi tidak terlihat apa-apa di panggung, masih gelap gulita.
Gemuruh gendering itu bertambah keras, dan aku mulai tegang. Ini agak menyeramkan. Kapan mereka akan mulai menari? Kapan mereka akan membuka tirainya? Kapan mereka akan—
DAR! Tiba-tiba terdengar tarikan napas dari seluruh manusia yang ada di ruangan ini ketika cahaya terang benderang muncul bagai kilatan petir, sangat menyilaukan. Irama musik yang cukup keras berdentam-dentam memenuhi udara, dan sesosok tubuh muncul di panggung mengenakan kostum yang berkilauan, berputar, kemudian melompat.
Astaga, siapapun itu, dia pasti hebat sekali. Aku mengerjap-ngerjap di antara cahaya menyilaukan, berusaha melihat lebih jelas. Aku tidak tahu itu laki-laki atau perempuan atau—
Holly heaven. Itu Baekhyun!
Aku terpaku di tempat duduk karena tercengang. Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari Baekhyun. Aku tidak tahu dia bisa melakukannya. Tidak tahu sama sekali! Maksudku, kami pernah berlatih balet bersama, tap dance juga, tapi kami tidak pernah… aku tidak pernah… bagaimana mungkin aku mengenal seseorang selama dua puluh tahun dan baru tahu sekarang ternyata dia jago menari?
Jinyoung dan Yixing juga sama-sama belum bisa berkedip daritadi. Keduanya melongo lebar sekali sampai-sampai aku takut dagu mereka terlepas.
Baekhyun melakukan tarian lambat yang rumit dan luwes dengan seorang pria yang mengenakan topeng—pasti Daehyun yang ada dibalik topeng itu—dan sekarang Baekhyun melompat serta berputar dengan sesuatu yang mirip pita. Seluruh penonton menatapnya, takjub, dan Baekhyun tampak bersinar dibawah sorot lampu itu. Bagai seorang diva.
Sudah lama aku tidak melihat dia sebahagia itu. Aku begitu bangga padanya. Kami semua sangat bangga menjadi temannya.
Yang membuatku ngeri, air mataku mulai merebak. Dan sekarang hidungku berair. Padahal aku tidak bawa tisu. Sungguh memalukan. Aku harus mendengus seperti ibu-ibu yang sedang menonton pentas drama anaknya.
Aku merasakan sesuatu menyodok tanganku, saat menoleh, kulihat Yixing menawarkan selembar tisu sementara dia sendiri sibuk menyeka ingusnya.
Yaa… minimal aku tidak sendiri. Dua ibu-ibu ini juga menangis bersamaku.
.
.
.
.
Baekhyun membungkuk di atas panggung, kami bertepuk tangan paling keras sambil menyeringai satu sama lain.
Ketika seluruh penari telah tampil dan pertunjukan itu selesai, kami seperti melayang. Tirai diturunkan untuk terakhir kalinya, dan orang-orang mulai meninggalkan tempat duduk, mengambil jaket dan tas mereka. Dan setelah kami kembali ke alam normal, Yixing menarik tanganku dan kami turun dari bangku penonton menuju ke pesta perayaan keberhasilan yang tempatnya ada di gedung seberang, disana Baekhyun sudah menunggu kami.
.
.
.
.
Pesta itu besar dan meriah dan ribut. Kami mengikuti sekelompok pria yang bersenda gurau ribut memasuki Great Hall sambil menerima begitu saja segelas sampanye gratis yang diulurkan pada kami di pintu masuk. Aku baru kali ini datang kesini dan baru menyadari betapa besarnya tempat ini. Dimana-mana tampak jendela besar berhias kaca patri, patung-patung batu kuno, serta pemain orkstra yang bermain di galeri, suaranya bergema melalui pengeras suara, berpadu dengan riuh rendah suara orang-orang yang ramai mengobrol dan tertawa.
Semua penari ada disini, masih mengenakan kostum, juga para penonton serta beberapa orang yang cuma ikut-ikutan saja. Para pelayan berkeliaran mengedarkan minuman dan bunyi percakapan berisik sekali. Kami mulai menyelusup diantara kerumunan sambil menangkap pembicaraan disana-sini.
"…kostumnya luar biasa…"
"…kok punya waktu untuk latihan?"
"…hakim itu benar-benar tak tergoyahkan…"
Tiba-tiba aku melihat Baekhyun berdiri disamping suaminya, wajahnya merona dan bersinar-sinar, mereka dikelilingi segerombolan pengacara ganteng yang kemungkinan besar teman Daehyun, salah seorang diantara mereka jelas-jelas memandangi tungkai kakinya.
"Baekki!" aku berseru.
"Baekhyun!" Jinyoung berseru.
"Alohaa!" Yixing berseru. Dasar. Mentang-mentang baru pulang dari Hawaii.
Baekhyun berpaling dan langsung bergegas mendekati kami, memeluk kami bertiga sekaligus dan memperagakan pelukan-putar-tepuk-pantat-sambil-tertawa. Ritual yang sering kami lakukan untuk merayakan sesuatu. Biar saja orang-orang mengira kami gila.
"Aku tidak tahu kau bisa menari sehebat itu," ujarku setelah kami selesai melakukan ritual.
"Ya, kau sungguh luar biasa!" puji Jinyoung.
"Oh, tidak. Tidak sehebat itu," sahut Baekhyun merendah, "Aku mengacaukannya—"
"Stop!" selaku. "Baekki, itu tadi sangat fantastis. Kau sangat fantastis."
Baekhyun tetap murung. "Tapi aku payah sekali waktu—"
"Jangan bilang payah!" aku nyaris membentaknya karena jengkel dia begitu tidak percaya diri. Padahal menurutku penampilannya paling memukau diantara yang lain. "Sering-seringlah puji dirimu sendiri. Cepat bilang 'aku fantastis!' Ucapkan. Ucapkan, Baekki!"
"Well…oke," wajah murungnya dengan enggan membentuk sebuah senyuman. "Oke. Aku… fantastis!" Baekhyun tertawa gembira. "Teman-teman, aku belum pernah merasa sebahagia ini! Dan coba tebak, kami berencana mengadakan tur tahun depan."
Jinyoung sumringah, "Waah, selamat ya, say!"
"Kebetulan aku juga mau tur liputan di beberapa Negara, kabari ya kalo tampil, mungkin aku bisa ikut nonton."
Yixing dan Jinyoung menyalami Baekhyun bergantian, sementara aku masih terdiam, berusaha mencerna kalimatnya barusan.
"Perasaan… tadi kau bilang tidak mau melakukan ini lagi, kau bersumpah aku harus mencegahmu kalau kau menyebut-nyebut soal ingin tampil lagi dan sebagainya."
"Oh, itu tadi kan cuma demam panggung," Baekhyun melambaikan tangan, santai.
Daehyun mendekati kami sambil tersenyum keren. "Hei, girls."
"Haiii!" kami kompak menyahut, lalu bergantian menyalaminya. Daehyun terlihat sangat tampan malam ini, dengan kostum berjubah ala Zoro-nya dan topeng hitam yang masih terikat di belakang kepala. Dia langsung menawarkan diri jadi volunteer untuk memotret kami. Kebetulan sekali. Kami memang ingin foto-foto daritadi, cuma tidak mungkin kan aku menarik orang sembarangan dan meminta dia untuk jadi tukang foto? Apalagi gaya kami aneh bin ajaib semua. Daehyun sempat tersedak dan tertawa keras waktu Yixing berpose di depan perutku sambil membuka mulut lebar-lebar seolah dia adalah siluman penghisap bayi, Baekhyun di sisi satunya menjulurkan lidah panjang sekali seolah ingin menjilati perutku, dan Jinyoung memelukku sambil berpose seakan-akan dia ingin menggigit pipiku.
Wanita bermantel bulu yang posisi berdirinya paling dekat dengan kami, daritadi bolak-balik melirik sambil mencibir judes. Mungkin dia kira kami cewek-cewek kampung yang baru pertama kali diundang ke pesta mewah. Bodo amat.
Di sesi pemotretan yang keseratus dua puluh satu, tiba-tiba saja perutku mengejang, seperti ada yang meremasnya dengan dua tangan. Aku baru mau menyalahkan Yixing, tapi dia sudah tidak di depan perutku lagi.
"Ooh," keluhku sambil meringis saat remasannya semakin menjadi-jadi.
"Apa?" Baekhyun langsung terlihat waspada.
"Tidak apa-apa, mungkin cuma sakit perut biasa," jawabku cepat.
Tak ada seorangpun yang percaya ini sakit perut biasa.
"Ada apa?" Jinyoung memandangiku cemas. "Sehun, ada masalah apa? Apakah ini…" dia refleks membekap mulut. "Ya ampun! Sudah saatnya ya? Hari ini?"
"Mungkin dia sudah bukaan lima," aku mendengar ibu-ibu tak dikenal ikut nimbrung dengan sok tahunya.
"Bukaan lima?" Yixing melotot kaget. "Kita harus panggil ambulans! Daehyun cepat telpon ambulans! Sebentar lagi Sehun akan melahirkan!"
Harus ya dia mengumumkannya ke semua orang?
Orang-orang yang tadi asyik minum, makan, ngobrol, dan tertawa, kini semuanya fokus menonton aku yang sedang dilanda mulas-mulas. Duh, betapa memalukannya ini…
Daehyun langsung mengeluarkan ponsel dan memencet serangkaian tombol dengan panik. "Halo? Layanan ambulans? Cepat!"
Saat pria itu menyebutkan alamat dan namaku, tiba-tiba kurasakan lututku goyah. Seharusnya aku baru melahirkan sekitar tanggal 19. Kukira aku masih punya waktu tiga minggu lagi.
Yixing meremas tanganku sambil pelan-pelan menggiringku menuju pintu keluar, "Kau baik-baik saja? Masih bisa tahan kan?" sedangkan Baekhyun berdiri di depan persis bodyguard artis yang berusaha membantuku lewat diantara kerumunan fans-fans maniak.
"Minggir! Minggir! Wanita ini mau melahirkan! Maaf, Tuan, tolong menyingkir ya… maaf Nyonya, minggir dulu ya. Minggir! Minggir!"
"Kelihatannya semakin parah," gumam Daehyun sambil melirik jam tangannya. "Mana sih ambulans sialan itu?"
Jinyoung tergopoh-gopoh mengikuti kami dibelakang sambil menghubungi Kai.
Aku bernapas pendek-pendek persis seperti yang diajarkan DVD senam pernapasan. "Rasa sakitnya semakin bertambah," aku masih bisa berbicara di sela-sela rasa sakitku. "Kayaknya ini sudah bukaan enam atau tujuh."
"Hei, ambulansnya datang!" seorang security melongokkan kepala di ambang pintu depan. "Baru saja datang. Cepat bawa dia kemari!"
Kami keluar dari pintu dan berhenti di puncak tangga, ambulans sudah terparkir manis dan siap mengangkutku pergi, bisa kulihat beberapa tamu yang penasaran ikut menonton di belakang kami.
Inilah saatnya. Saat aku keluar dari rumah sakit nanti… aku sudah punya bayi!
"Selamat ya," seru Baekhyun menggenggam tanganku. "Kuharap persalinanmu berjalan lancar."
Yixing meremas pundakku. "Aku sangat bangga padamu. Kau hebat sekali. Kau sangat tenang, kau bisa mengendalikan diri…"
Dua paramedis turun dari pintu belakang ambulans dan menghampiri kaki tangga sambil menyeret ranjang besi rumah sakit.
"Kau sudah siap?" tanya Jinyoung.
"He-eh." aku menghela napas dalam-dalam dan mulai menuruni anak tangga pelan-pelan. "Ayo."
.
.
.
.
Hah. Tidak bisa dipercaya. Ternyata aku belum akan melahirkan bayi.
Benar-benar tak masuk akal, bahkan aku masih menganggap pihak rumah sakit keliru. Semua gejalanya ada! Kontraksi teratur, sakit pinggang (ya pegal-pegal sedikit sih), pokoknya persis yang pernah kualami dulu.
Sudah jauh-jauh kemari malah disuruh pulang. Dokter bilang aku belum mengalami mulas melahirkan, mendekati pun tidak. Kata mereka, itu bukan mulas melahirkan yang sesungguhnya.
Agak memalukan memang untuk ukuran seorang wanita yang sudah punya anak bisa salah mengira hal-hal seperti ini. Terutama waktu aku meminta obat penghilang rasa sakit, mereka langsung tertawa. Mereka kan tidak perlu tertawa. Atau menelpon teman-teman mereka untuk menggosipi aku. Aku dengar sendiri si bidan melakukannya, walaupun dengan cara berbisik-bisik.
Baiklah. Sudah kuputuskan. Aku tidak akan melahirkan di rumah sakit yang isinya bidan-bidan penggosip.
Seminggu berlalu. Tidak terjadi apa-apa lagi sejak itu, kecuali perutku semakin membesar dan gerakanku menjadi lebih lambat daripada siput. Aku bahkan nyaris tidak bisa berjalan lagi, atau tidur. Semuanya serba salah. Kemarin aku terbangun jam tiga pagi dan merasa sangat tak nyaman, berbaring pun tidak enak, mau ngemil juga malas, jadi aku menyalakan TV dan menonton tayangan di Geographic Channel tentang seekor Harimau Sumatra yang sedang berjuang mati-matian mengeluarkan bayi-bayi harimau mungil dari perutnya. Aku langsung membayangkan bagaimana jika seandainya aku yang melahirkan di tengah-tengah padang rumput luas seperti itu. Sendirian. Kesepian. Tak ada seorangpun yang menemani. Ditinggal suami. Pasti miris sekali. Pikiran itu membuat mataku panas dan tau-tau saja sebulir air mata gemuk mengalir di pipiku.
Kai sangat pengertian, dia pantas mendapat medali 'Best Husband Of The Year', karena dia memperbolehkan aku memakai semua metode penghilang rasa sakit tanpa perlu memusingkan biaya. Maka aku langsung menyewa jasa ahli refleksologi, ahli pijat batu panas, ahli aromaterapi, ahli tusuk jarum, ahli homeopathy, dan ahli doula. Aku juga menelpon pihak rumah sakit St. Mary's setiap hari, hanya untuk memastikan dokter ahli anestesi tidak sakit mendadak atau terperangkap di dalam lemari pas hari-H tiba.
Sisi baiknya, disamping rasa sakit yang sejuta kali lipat bertambah, Kai dan aku juga jadi sejuta kali lebih intim daripada bulan-bulan sebelumnya. Kami membicarakan semua hal seminggu belakangan ini. Perusahaan Kai, rencana-rencana masa depan… suatu malam kami bahkan mengeluarkan foto-foto bulan madu kami dan melihat-lihat semuanya lagi.
Memikirkan betapa baiknya punya suami seperti Kai, semangatku langsung menguap kembali ke permukaan. Mendadak aku ingin melihat-lihat kamar bayi yang sudah kami siapkan. Aku terseok-seok menuju ke kamar bayi, dengan lembut menyentuh boks berhias lukisan tangan, serta keranjang putih mungil. Semua ini persis dekorasi panggung. Hanya tinggal menunggu 'pemain utamanya' datang.
Kutepuk perutku, bertanya-tanya dalam hati apakah bayiku terbangun di dalam sana. Mungkin aku akan memainkan musik klasik untuknya, supaya dia jadi genius dalam bidang musik. Kuputar mainan kotak musik yang baru kupesan dari katalog bulan lalu dan kutempelkan di perut.
Nak, dengat itu! Itu karya Mozart.
Kalau tidak salah…
Atau Beethoven…
Atau… entah siapa…
Ya Tuhan, aku membuat bayiku bingung!
.
.
.
—TBC—
A/N: Akhirnya Luhan muncul di chap ini as a Nanny xD! Trus yang jadi anaknya Sehun nanti ulzzang baby Lauren Lunde. Entah kenapa langsung jatuh cinta pas pertama kali lihat fotox di mbah google, searching2 kagak nemu yang pas, Cuma Lauren aja yang ngesreg di hati saya xD
Still wanna review? Silahkan ehhehe^^
