We are MARRIED or NOT?
Main Cast: GS!Sehun, Kai, Taeoh
Support Cast: GS!Luhan (as Nanny Lu), GS!Yixing, Julien, Yunho (Papa/Grandpa Yun), GS!Jaejoong (Mama/Grandma Jae), GS!Kyungsoo, GS!Chanyeol, GS!Kris, oc, dll
Genre : Romance, AU, OOC, yadong, genderswitch for uke, comedy, family, friendship, dll
Length: Chaptered
Bahasa: Indonesia campur aduk
Summary Lengkap: Penantian Sehun dan keluarganya akhirnya menemui titik Finish, bayi perempuan mereka akan segera lahir ke dunia^^.
Welcome To The World
Chapter 12
Aku dirawat di kamar pribadi St. Mary's Hospital, tempat mereka membawaku kemarin malam. Kalau ingin jadi pusat perhatian di rumah sakit, datang saja bersama dokter top sekelas Dr. Sooman. Belum pernah kulihat begitu banyak perawat dan petugas rumah sakit berlarian kesana kemari di bawah komandonya.
Dua puluh menit berlalu dan kamarku sudah dipenuhi orang. Jimin, ahli refleksologi, sudah datang dan sibuk mengurut-urut jari kakiku. Dongwoo, ahli homeopathy, mengukur jumlah pil yang perlu kuminum. Hyoyeon mengatur alat-alat pembakar minyak di sekeliling tempat tidurku.
Kyungsoo eonni dan Mama duduk di satu sisi, sementara Kai di sisi lainnya. Keningku dikompres dan tanganku memegang semprotan aromaterapi. Aku memakai T-shirt longgar yang tadi dipakaikan Mama dan Kyungsoo eonni secara paksa ke tubuhku. Aku rileks, musik mengalun, dan sejauh ini aku baik-baik saja. Hanya tinggal menunggu kapan bayinya mau keluar.
"Sehun, kau membutuhkan gas dan udara?" Minah menghampiriku, membawa masker yang dihubungkan ke tabung. "Untuk menghilangkan rasa sakit."
"Eh…" aku ragu-ragu. Kelihatannya kurang ajar kalau menolak. "Oke. Trims."
"Hirup setiap kali kau merasa ada kontraksi," pesan Minah, menyerahkan masker itu padaku. "Jangan sampai terlambat!"
"Oke," kupasang masker itu menutupi hidung dan mulut, lalu kuhirup dalam-dalam. Wow. Fantastis. Aku merasa seperti menghirup kokain yang dicampur ganja dan heroin. Aku memang belum pernah mencoba ketiganya, tapi pasti rasanya senikmat ini…
"Hei." aku membuka masker dan menyunggingkan senyum kuda yang terlalu lebar pada Kai. "Rasanya sangat menyenangkan. Ada baiknya kau juga coba ini…"
"Sehun, kau sangat luar biasa," Kai menggenggam tanganku erat-erat, tidak mengalihkan pandangan sekejap pun dariku. "Semua beres? Semua ini berjalan sesuai rencana persalinanmu kan?"
"Ya… sebagian besar…" jawabku lalu cepat-cepat menghirup gas dan udara lagi. Ah… begini lebih baik. Ya Tuhan… seharusnya kami punya tabung seperti ini di rumah.
"Ini," Hyoyeon menyodorkan wadah berisi minyak untuk dihirup. "Minyak clary sage untuk menghilangkan stress."
Kali ini aku menghirup minyak clary sage untuk menghilangkan stress.
Pintu diketuk dan kakakku mendongak. "Ooh, itu pasti teman-temanmu. Mereka barusan kirim sms katanya sedang dalam perjalanan kesini."
"Masuk!" seru Hyoyeon. Pintu terbuka lebar dan masuklah Dokter Sooman dengan gaya sok penting, seperti habis menyelamatkan nyawa banyak orang sepanjang hari. Dia sudah siap dengan segala perkakas ajaibnya, baju operasi, masker putih dan penutup kepala hijau. Bersama asisten-asistennya yang lain, mereka semua juga mengenakan baju operasi. Siap menggeledah aku.
"Sehun, bagaimana keadaanmu?" tanya Dr. Sooman. "Kontraksinya semakin kuat dan sering? Sudah bukaan keberapa?"
"Tiga, Dok." jawab Minah mewakili aku. "Sekitar tiga puluh menit yang lalu Nyonya Kim mengalami kontraksi."
"Dan kau bisa menahan sakit?" tanya Dr. Sooman.
"Sejauh ini baik-baik saja. Tadi perut saya kram… terus kembung… saya juga mual-mual dan pusing… sekarang sudah tidak…" suaraku terdengar teler gara-gara efek gas dan udara sialan. Sudah begitu, senyumku bolak-balik merekah tanpa sebab, dan itu agak menjengkelkan. Tapi sudahlah. Yang penting maksud ucapanku tersampaikan dan para dokter ini mengerti.
"Sayangku, kau sungguh tabah." Kai tampak benar-benar terkesima. "Padahal kau akan melahirkan."
"Oh… ini bukan apa-apa kok…" aku berusaha rendah hati. "Kau tahu…"
"Siapa bilang ini bukan apa-apa, ini luar biasa. Ya, kan?" Kai bertanya pada para petugas medis lainnya.
"Ya, istri anda sangat istimewa, Tuan." jawab Dongwoo menyeringai lebih lebar dari aku, padahal dia tidak menghirup gas apapun daritadi.
"Itu sebabnya kami semua ingin mengobservasi dia setelah persalinan ini," timpal dokter ahli paling muda bernama Jimin. "Hanya mengajukan beberapa pertanyaan simpel. Karena Nyonya Kim sangat tabah, dia tidak berteriak, hanya meringis saja."
Para dokter memandangiku takjub, seakan-akan mereka mengharapkan menyampaikan pidato, menarik sedikit atau apa.
"Kami datang!" pintu mendadak terbuka dan semua orang menoleh, melihat Chanyeol eonni masuk, disusul Kris oppa dan keempat anak-anak mereka.
"Mana bayinya?" Kris oppa memandangi seluruh manusia di ruangan ini dengan tampang penuh harap.
"Oh!" aku menjerit tiba-tiba bersamaan dengan suara tangisan Yichan yang mulai pecah. Sesuatu dibawah sana juga mulai pecah. Aku bisa merasakannya. Aku merasakannya! "Oh! Ketubanku pecah!"
Meskipun ini sudah kedua kalinya, rasanya tetap saja aneh. Seperti ada balon yang meletus di perutku dan sejurus kemudia, air mulai menggenangi kakiku. Tolong… aku tidak dapat menghentikan ini.
"Ya Tuhan!" seru Chanyeol eonni sambil menutupi mulutnya. "Oke. Aku tidak kepingin lihat. Ayo, anak-anak. Sebaiknya kita cari minum." dia menggiring keempat anaknya keluar lalu diseretnya Kris oppa yang masih terpaku di tempat sambil melongo bodoh.
Para dokter mulai sibuk sendiri begitu Keluarga Wu menghilang dibalik daun pintu yang tertutup. Aku sendiri masih dalam keadaan terguncang shock hingga tidak menyadari apa-apa saja yang dilakukan orang-orang di ruangan ini. Yang paling jelas wajah Kai, Kyungsoo eonni dan Mamaku karena mereka berdiri paling dekat dalam jangkauan mata.
"Kai…" aku mencengkram kerah baju Kai dengan panik. Sampai-sampai Kai tampak tersiksa karena cengkramanku. "Ini sungguh-sungguh terjadi!"
"A-a..kku…." Kai berusaha melepas tanganku dari kerahnya yang kini compang-camping. "Aku tahu, sayang. Dan kau sangat luar biasa—"
"Tidak!" rengekku. "Kau tidak mengerti…" aku berhenti bicara, tiba-tiba merasa sesak napas. Apa itu tadi? Rasanya seperti ada yang meremas perutku, meremasnya lebih kuat, dan semakin kuat. Walaupun aku sudah memohon-mohon pada makhluk apapun yang ada dalam perutku untuk berhenti melakukannya.
"Enghh…" napasku mendadak putus-putus. "Aku tidak yakin aku sanggup…" apalagi waktu melihat Dr. Sooman menyusun perkakas ajaibnya yang tajam-tajam. Apa dia sudah mengasah semua itu? Ya ampun…
"Kau pasti bisa, kau pasti kuat." Kyungsoo eonni mengusap-usap pundakku dengan gerakan berirama.
Mama menggenggam kedua tanganku. "Kau adalah gadis yang kuat, Sehun. Kau pernah melalui ini, sayang. Bertahanlah."
"Kayaknya aku mau disuntik epidural…" gumamku sambil menelan ludah, sekujur tubuhku gemetaran takut.
"Tentu saja!" seru Minah bergegas pergi. "Aku akan langsung ke ruangan dokter anestesi! Secepat mungkin!"
Kusambar masker gas dan udara, lalu mulai kuhirup lagi dalam-dalam. Kini Dr. Sooman dan kedua dokter lain mengitari aku. Sementara para dokter ahli yang menangani aku menyingkir dari ranjang sambil meneriakkan kata-kata penyemangat. Aku merasa seperti atlit pelari nasional yang sedang berjuang untuk mengalahkan ke-99 peserta lainnya. Seluruh adrenalinku berpacu dan nyawaku dipertaruhkan disini.
"Kau pasti bisa, Sehun… rileks… tarik napas…"
Ayolah, Nak. Aku ingin melihatmu.
"Bagus sekali… tarik napas terus, Nyonya…"
"Terus… berjuanglah! Kau pasti bisa!"
Tentu saja aku bisa. Ayolah, Nak. Kita berdua pasti bisa melalui ini.
.
.
.
.
Perempuan.
Bayi kami perempuan, dengan bibir bagaikan kelopak bunga mengerut, seberkas rambut gelap, dan kedua tangan mengepal mungil di dekat telinga. Selama ini dialah yang ada di perutku. Dan sungguh aneh, pertama kali melihatnya, aku langsung berpikir: Itu kau. Tentu saja itu kau.
Kini dia terbaring di boks kaca di samping tempat tidurku, memakai babygro putih mungil rancangan Baby Dior. Aku ingin mencoba memakaikan beberapa baju yang baru kubeli beberapa hari lalu, hanya untuk melihat mana yang paling pas untuknya, tapi bidan bersikap tegas padaku, katanya kami berdua sama-sama butuh istirahat.
Aku memandangi bayiku dengan kepala nyut-nyutan karena kurang tidur. Dadanya naik-turun. Jemarinya yang mungil menggeliat dan bolak-balik menyentuh pipi dengan gerakan tak terarah.
"Sayang, kau sudah bangun." Kai mendongak dari kursi tempatnya tidur, lalu mengucek-ngucek mata. Dia belum sempat cuci muka, ada belek di sudut matanya, rambutnya acak-acakan dan kemejanya kusut.
Aku berusaha tersenyum di tengah-tengah denyutan nyeri di kepala. "Hm-hm."
"Bagaimana dia?" Kai menyeret kursinya mendekati boks bayi.
"Baik." Aku menoleh dan senyumku merekah lebih lebar ketika melihat betapa cantiknya makhluk mungil dalam boks itu. Kai bilang wajahnya seperti aku dan ibuku kalau kami digabung jadi satu. "Dia sempurna," gumamku.
"Dia memang sempurna. Kau sempurna." Kai tampak tersaput kegembiraan. Dia memandangiku seakan tengah mengenang kembali peristiwa semalam.
Pada akhirnya hanya Kai yang menemaniku di ruang bersalin, yang lain menunggu di luar. Kemudian orangtua, teman-teman dan kakak-kakakku juga disuruh pulang oleh Dr. Sooman karena menurutnya aku butuh ketenangan setelah melalui proses persalinan yang boleh dibilang… agak horror untuk dibayangkan.
Bayiku lahir pukul setengah dua pagi. Begitu keluar, matanya sudah tampak cemerlang dan waspada. Dia pasti berbakat jadi party girl. Aku yakin itu.
Dan dia belum punya nama. Daftar nama yang kubuat terjatuh ke lantai di samping tempat tidurku. Aku mengeluarkannya tadi malam waktu bidan bertanya. Tapi semua nama dalam daftarku tidak cocok. Pokoknya… tidak ada yang cocok. Bahkan Dolce Valentino Kim. Maupun Christine Tiffany Dior.
Terdengar suara ketukan pelan sebanyak dua kali. Pintu terbuka perlahan dan Yixing melongokkan kepala. Tangannya memegang buket bunga bakung putih raksasa dan balon pink.
"Hai," desahnya, dan pandangannya langsung tertumbuk ke boks. Yixing refleks menutup mulut dengan tangan, kedua matanya melotot kagum. "Oh Tuhan. Lihat itu. Cantik sekali dia."
"Memang," tahu-tahu air mataku merebak. "Dia memang cantik."
"Hun?" Terlihat cemas, Yixing bergegas menghampiriku, bunga-bunga yang dibawanya bergemerisik. "Kau baik-baik saja?"
"Baik. Aku hanya…" aku menelan ludah sambil menyeka hidungku dengan selimut. "Aku tidak mengira sama sekali."
"Apa?" Yixing duduk di pinggir tempat tidur, wajahnya kelihatan sangat khawatir. "Sehun… separah itukah?"
Aku menggeleng, berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan ini. "Tidak, bukan itu. Aku tidak mengira sama sekali aku akan merasa begitu… bahagia."
"Oh, yeah… tentu, dear." Wajah Yixing berbinar penuh nostalgia. "Tentu. Kita semua pernah begitu," sejenak dia menerawang, lalu tiba-tiba tangannya terbuka lebar-lebar dan dia menghambur ke pelukanku. "Luar biasa. Selamat. Selamat Kai!" kini Yixing menyalami suamiku.
"Trims." Kai tersenyum. Walaupun capek, wajahnya berseri-seri. Dia menatap mataku dan aku merasakan dadaku berdesir hebat. Seolah-olah kami memiliki semacam bahasa tubuh atau ikatan batin yang hanya dipahami oleh kami berdua, tak ada seorangpun yang tahu.
"Lihatlah jari-jarinya yang mungil…" Yixing membungkuk diatas boks. "Halo, darling." Dia menoleh ke kami. "Apa anak kalian sudah punya nama?"
"Belum." Aku membetulkan posisi berbaringku diatas bantal-bantal, meringis sedikit. Aku merasa badanku remuk redam setelah tadi malam. Untungnya aku diberi obat-obat penghilang rasa sakit.
Pintu terbuka lagi, dan Mamaku muncul. Dia sudah melihat bayiku jam delapan tadi pagi, waktu dia membawakanku susu hangat dalam termos. Sekarang dia membawa tas-tas kado bersama Papa dibelakangnya.
"Pa, sini, lihat cucumu!" panggilku bersemangat.
"Oh, nak, selamat ya." Papa memelukku hangat dan erat. Kemudian dia melongok kedalam boks, berkedip-kedip lebih keras daripada biasanya. "Wah, wah. Halo, anak manis."
"Ini baju-bajumu, Sehun dear." Mama mengangkat tas besar berisi baju, menyodorkannya ke tanganku "Aku tidak yakin baju mana yang mau kau pakai, jadi aku ambil sembarang saja. Pilihlah sendiri."
"Trims, Ma." Kubuka risleting dan kukeluarkan kardigan butut yang sudah lima tahun tak pernah kupakai. Kai membantuku memasangkan kardigan itu dan rasanya… sama saja. Tidak ada bedanya dengan baju-baju bermerk yang baru. Mendadak aku dapat pencerahan seperti pertapa suci dalam perjalanan jauh. Baru sadar betapa bodohnya aku menumpuk baju-baju sebanyak itu di lemari. Untuk apa aku selalu membeli baju setiap minggu? Rasanya sama saja kok. Kardigan ini juga tetap apik dan nyaman dipakai. Selama ini aku terlalu memikirkan pendapat orang. Padahal, tidak bakal ada juga yang ambil pusing pakaian yang menempel di tubuhku baru dibeli kemarin atau sudah tertimbun selama berabad-abad di lemari.
Kai benar. Mulai besok aku akan menyusun dan memilah-milah semuanya.
Papa masih terkesima memandangi bayiku. Dia mengulurkan jarinya ke dalam boks, dan si kecil menggenggam jari Papaku erat-erat dengan tangan-tangan mungilnya.
"Nah, gadis kecil. Kau akan dinamai siapa?"
"Kami belum memutuskan," jawab Kai, mewakili aku. "Agak sulit memilih nama."
"Kami membawa buku nama-nama bayi untuk kalian." tukas Mama, mengaduk-aduk tas besarnya dan mengeluarkan buku '1000 Nama anak perempuan'. "Bagaimana kalau Sooyoung atau Hayoung?"
Aku spontan menggeleng. "Terlalu umum. Di kantor ada dua yang bernama Sooyoung dan Hayoung."
"Mau nama yang tidak umum dan jarang dipakai orang? Bagaimana kalau… kurasa mungkin…" Papaku mendongak, keningnya berkerut-kerut. "Rhapsody?"
Kulirik Kai. Mulutnya menirukan "Rhapsody?" dengan ekspresi aneh bercampur ngeri sampai-sampai aku ingin tertawa.
"Rhapsody?" Mama cemberut protes. "Bisa-bisa nanti dia dipanggil 'Rapso' sama teman-temannya! Itu nama perempuan terkonyol dan terjelek yang pernah kudengar."
"Well, maumu apa?" Papa memicingkan mata, sedikit tersinggung.
"Aku punya ide," cetus Yixing. "Nama-nama buah sudah sering dipakai, tapi nama-nama tanaman bumbu belum. Bagaimana kalau Tarragon? Tarragon Kim. Nama pendeknya jadi Tara atau Ara."
"Tarragon?" Mama terperangah. "Kenapa tidak sekalian saja Bubuk Cabe?"
Ya ampun. Mengapa tak ada saran nama yang lebih normal sedikit?
Kenalkan, ini putri kami, Rhapsody Tarragon Kunyit Bawang Cabe Kim.
Tidak.
Tidak mau!
Kami serempak menoleh begitu pintu terkuak lagi. Kali ini aku melihat Julien masuk sambil menggendong Anson dan menggandeng Taeoh di tangan kanan. Oh pantas saja Taeoh menghilang kemarin malam, rupanya dibawa pulang Yixing sekeluarga.
"Helo, guys." sapa Julien memperlihatkan senyum tampan dan gigi putih cemerlang. "Taeoh ikut kami. Untungnya dia tidak rewel mencari-cari kalian. Mungkin keasikan main sama Anson."
"Sini jagoan Daddy!" Kai merentangkan tangan dan Taeoh terhuyung-huyung berlari ke pelukannya. "Hop! Anak pintar. Jagoan kecilku." dia mengelus-elus kepala Taeoh sambil mendudukkan anak itu di pangkuannya. Kemudian dia tersenyum penuh terima kasih pada Yixing dan Julien. "Thanks, guys. Maaf merepotkan."
"Ah, jangan khawatir. Tidak merepotkan sama sekali. Taeoh manis sekali kok. Dia suka sekali main puzzle ya? Malahan waktu kutawari kue, dia menggeleng malu-malu."
Aku melongo kaget. Rada tak percaya. Bocah sekaliber Taeoh? Malu-malu ditawari kue? Terakhir kali ditawari cake oleh Grandma Lady dia makan rakus bagai seekor gorilla. Gorilla mutan cilik.
"Masa sih? Jangan bohong."
"Serius!" tukas Yixing sungguh-sungguh. "Anson malah jadi suka main puzzle juga sekarang."
Ow…key. Berarti ini artinya… kemajuan besar! Kalau dipikir-pikir agak ganjil juga sih. Sangat ganjil malah. Taeoh yang biasanya hiper jadi lebih kalem sekarang. Entah jurus-jurus penakluk macam apa yang digunakan ibu mertuaku. Justru disitulah bagusnya kan? Taeoh sudah mengalami banyak perubahan semenjak sering-sering dititipkan ke ibu mertuaku. Aku menyadarinya, dan aku yakin Kai juga begitu. Aku tahu persis. Hanya saja, dia masih gengsi mengakui itu.
"Lihat!" kata Mama, perhatian kami semua tertumbuk ke boks. Ternyata bayiku sedang membuka mulut lebar-lebar. "Umurnya baru delapan jam, tapi dia sudah bisa menguap. Cerdas sekali!"
Selama beberapa menit, pekerjaan kami hanya memandangi makhluk kecil itu. Terkesima. Berharap dia akan melakukan hal-hal luar biasa lain. Seperti… bersin? Menggaruk perut?
"Mungkin suatu saat nanti dia bakal jadi perdana menteri. Keren banget kan? Kita bisa menyuruhnya melakukan segala hal yang kita inginkan." tukasku berangan-angan.
"Tapi dia pasti tidak mau." Kai menggeleng. "Kalau kita suruh dia melakukan sesuatu, dia justru akan melakukan hal sebaliknya. Dia punya pikiran sendiri. Lihat saja, dia mengabaikan kita sekarang."
Sambil tersenyum aku menyentuh keningnya yang halus dengan ujung jariku. "Benar-benar pemberontak."
"Gimana kalau anak ini nantinya akan menjuarai olimpiade?" tanya Papa penuh harap. "Bisa saja kan? Atau pegulat profesional."
Pegulat?
"Anak perempuanku tidak boleh jadi pegulat!" protesku tak terima. "Dia harus jadi penari balet, pemain cello, pianist, pemain biola, penyanyi opera sabun, DJ ternama, pokoknya segala profesi keren yang ditonton jutaan orang diatas panggung."
Papa angkat tangan tanda menyerah. "Iya deh, terserah cucuku dan ibunya saja. Bagaimana, anak manis?" dia kembali memasukkan jari telunjuknya dalam boks, mencolek-colek pipi si bayi.
"Jadi namanya siapa?" tanya Kai ikut melongok ke dalam boks. "Jangan Rhapsody."
Baru saja Papaku mau buka mulut protes, aku sudah keburu mendahuluinya. "Jangan Tarragon juga."
Julien mengernyit jijik. "Tarragon? Ide siapa itu?"
Yixing pura-pura tuli.
Sementara yang lain sibuk berdebat soal nama, aku masih memandangi wajah bayiku yang tertidur pulas. Daritadi ada nama yang bolak-balik muncul dalam benakku setiap kali aku memandangi wajahnya. Seolah-olah bayi itu sendiri yang membisikkan nama ini ke telingaku.
"Lauren," kataku tegas.
"Lauren," ulang Kai seperti berusaha keras mengukir nama itu di otaknya. "Lauren… Lauren Kim. Kim Lauren. Kau tahu? Aku suka nama itu." Kai menoleh sambil tersenyum kearahku. "Aku benar-benar menyukainya. Simpel dan indah."
"Lauren Kim." senyumku merekah. "Kedengarannya manis, bukan? Miss Lauren Kim. Cocok dan anggun sekali." kepalaku manggut-manggut yakin.
"Diambil dari nama… Ralph Lauren, tentunya?" Kai mengangkat sebelah alis.
Oh iya! Betul juga. Jika orang-orang bertanya aku bisa menjawab terinspirasi dari brand 'Ralph Lauren' supaya keren. Kok aku tidak kepikiran sampai kesana ya?
Dasar suami, mereka sangat mengenal istri mereka.
"Tentu saja," aku terkikik.
Yang Mulia Lauren Kim
Miss Lauren Kim tampak berbinar-binar saat berdansa bersama pangeran inggris dalam ballgown semata kaki rancangan Valentino…
Lauren Kim tampil menggebrak dunia…
"Lauren Kim," gumam Papa menerawang. "Boleh juga."
Mama menyalami tangan imut Lauren. "Hai, Lauren cucuku sayang."
"Yap," aku mengangguk-angguk mantab. "Itulah namanya." Kemudian aku menunduk diatas boks dan memandangi dadanya naik-turun setiap kali dia menarik napas. Kuusap rambutnya dan kukecup pipinya yang mungil. "Selamat datang ke dunia, Lauren."
Taeoh tiba-tiba melompat turun dari dekapan Kai dan berjalan mendekati boks. "Luen? Luen?" matanya membulat imut. Ekspresinya agak mirip Minion waktu melihat hujan pisang jatuh dari langit.
"Iya sayang, dia adikmu." aku mengusap-usap kepala Taeoh. "Beri salam pada, adikmu, Lauren. Ayo bilang halo."
Taeoh memandangi Lauren dengan curiga.
"Dia itu adikmu, sayang. Adik Lauren," kataku sabar. "Bilang halo padanya."
Taeoh masih memandangi Lauren dengan curiga.
"Ayo!" desakku sambil meringis menahan gondok. "Bilang 'Halo Lauren'."
"Halo Luen," Taeoh melambaikan tangan, cengiran lucu khasnya diapit dua pipi tembem. "Halo Luen."
"Namanya Lauren, sayang. Bukan Luen. Ayo bilang 'Lauren'?"
"Luen?"
"Lau-ren."
"Luen?"
"L-a-u-r-e-n. La-u-ren."
"Luen?"
"Coba bilang 'R', 'Errr', La-U-Ren."
"Luen?"
Oh, masa bodoh lah.
.
.
.
.
Sekarang Lauren sudah berusia empat minggu dan dia benar-benar berbakat jadi cewek dugem. Sudah kuduga dia bakal seperti itu. Saat-saat favoritnya adalah tengah malam sampai menjelang petang. Jika bayi-bayi kebanyakan bangun di siang atau pagi hari yang cerah, Lauren justru suka terbangun pukul satu dini hari, saat dia mulai berceloteh "Ra ra ra" itu seperti alarm yang menandakan aku harus turun dari tempat tidur untuk melaksanakan kewajiban utamaku. Menyusui dan mengganti popok. Padahal aku baru tidur selama beberapa detik. Tambahan lagi, dia juga suka bangun jam tiga subuh dan jam lima pagi. Jujur saja, kepalaku pusing dan badanku selalu kelelahan setiap pagi.
Tapi untungnya, siaran TV kabel berlangsung sampai malam. Dan Kai sering bangun menemaniku. Dia mengecek e-mail, aku nonton film dengan suara dikecilkan dan pencahayaan mata yang hanya tinggal dua watt, sementara Lauren menyusu seperti bayi kelaparan.
Yang mengagumkan, bayi benar-benar tahu apa yang mereka inginkan. Dan aku respek akan hal itu. Misalnya, Lauren ternyata tidak menyukai boks bayi berhias kanopi, kupu-kupu dan gorden pink cantik berwiru-wiru yang baru kupesan dari Posh Tots. Dia mengamuk dan menggeliat-geliat bila kuletakkan disana. Sayang sekali, mengingat harganya satu juta enam ratus tujuh puluh ribu won. Dia juga tidak terkesan pada keranjang putih berukir bunga lily meskipun sudah dialasi seprai 400 jalinan benang. Dia paling suka digendong sepanjang hari dan sepanjang malam. Kesukaannya yang kedua adalah keranjang bayi tua yang dulu pernah kupakai. Diturunkan oleh ibuku dari loteng, tapi tetap lembut dan nyaman. Walaupun kelihatannya sudah usang. Jadi mau tak mau aku mengembalikan barang-barang yang lain termasuk boks bayi apik itu dan mendapatkan uangku kembali. Karena Lauren sudah terlanjur kerasan tidur di boks bayi Taeoh. Walaupun modelnya simpel dan tidak menarik sama sekali.
Aku juga mengembalikan kereta bayi Bugaboo lalu menggunakan kereta bayi abu-abu model lama yang pertama kali dibeli Kris oppa untuk Zhuyi. Lagipula menurut Mama ini yang terbaik untuk menyangga punggung rapuh Lauren, "tidak seperti kereta belanja gaya-gayaan macam itu" katanya. Aku berencana akan menyemprot kereta abu-abu dengan cat pink menyala begitu Kai punya waktu—sayangnya dia super sibuk akhir-akhir ini, menuntaskan proyek dan segala macam. Aku jadi kasihan dan merasa tidak enak pada suamiku, semenjak aku diliburkan kantor dengan alasan 'cuti melahirkan', kerjaanku di rumah hanya duduk-duduk, mengurusi anak dan menumpuk lemak saja. Untung Kai suami yang pengertian, meski dia lelah bagaimanapun, tetap menyempatkan diri untuk menggendong Lauren, memandikan Taeoh sambil bermain dan menemaniku begadang. Bahkan, masih sempat-sempatnya pula dia membeli pesanan-pesanan yang kuminta setiap pulang kantor.
Yaah, kabar baiknya, uang dari hasil pengembalian barang-barang itu totalnya cukup banyak lho! Sudah kutabung untuk biaya pendidikan Lauren di masa depan.
Konon, menjadi ibu bakal mengubah seseorang, dan itu memang benar! Aku tidak melulu memikirkan diriku sendiri. Aku menyisihkan beberapa persen pendapatanku dan menggabungkannya dengan hasil jerih payah Kai untuk tabungan pendidikan anak-anakku kelak. Pokoknya semua itu demi kesejahteraan mereka di masa mendatang.
Pagi ini, setelah Kai berangkat kerja sambil menggendong Taeoh untuk diantar ke Playgroup, aku membantu Mama menata ulang kamar Lauren sedangkan Papa membantuku mengecat temboknya menjadi warna pink. Memang agak sedikit terlambat karena selama ini Lauren tidur bersama di kamarku, tapi Kai bilang sudah saatnya kita mempersiapkan kamar sendiri untuk Lauren dan kami semua menyetujui idenya. Jadi pagi-pagi tadi sebelum berangkat, Kai bolak-balik minta maaf pada Papa dan Mama karena tidak bisa membantu merapikan kamar. Mertua mana yang tidak lumer melihat menantunya se-Sweet itu?
"Pa, Ma, kayaknya aku mau membawa Lauren jalan-jalan," kataku setelah kami semua bersantai di ruang makan. "Kurasa dia butuh udara segar. Dia terperangkap di dalam rumah sepanjang hari."
"Ide bagus." Papa mengangguk-angguk kemudian menyesap kopi dalam mug bergambar peta dunia.
Mama menoleh dari buku resep yang dibacanya. "Ya sudah. Hati-hati ya sayang."
Kukenakan mantel Marc Jacobs hadiah Natal Kai tahun lalu, dan kulilitkan scarf Louis Vuitton hadiah ultah dari Jinyoung yang baru kali ini kupakai. Mulai sekarang aku akan mengenakan semua benda-benda dalam lemariku sebanyak tiga kali dulu, baru membeli yang baru. Karena aku sudah berjanji pada Kai.
Kurebahkan Lauren di keretanya, terbungkus rapat dan nyaman. Saat dia menguap sedikit, aku mengusap bibirnya yang mungil sambil mesam-mesem sendiri.
Ada alun-alun, taman untuk bersantai dan deretan toko di dekat komplek perumahan kami. Tanpa sadar langkahku menuju kesana. Bukan karena aku ingin belanja atau apa, tapi karena rutenya menyenangkan. Ketika tiba di toko agen Koran dan majalah, aku memperhatikan suasananya hangat, terang dan mengundang, jadi aku mendorong kereta Lauren kesana. Lauren sudah tertidur pulas dan aku menuju rak majalah. Aku akan membelikan majalah Good Housekeeping untuk Mama, dia pasti senang.
Kubawa majalah itu ke kasir dan kuletakkan di konter. Si gadis penjaga kasir mendongak dari komik yang sedang dibacanya.
"Hai," sapaku ramah. "Aku mau beli yang ini."
"Anda pernah datang kesini sebelum ini kan?" tanya si gadis kasir sambil mengamatiku lekat-lekat. "Kami sering memperhatikanmu." Dia memasukkan majalah kedalam kantong plastik. "Kami menjuluki anda Wanita yang—" dia mendadak terdiam dan aku diliputi was-was. Apa? Aku dijuluki wanita apa?
"Ssh!" desis petugas lain, seorang pemuda kira-kira berusia dua puluhan.
"Jangan khawatir, tidak apa-apa kok." dengan santai kukibaskan rambutku kebelakang. "Apakah kalian menjulukiku… Wanita anggun dengan mantel Marc Jacobs bagus?"
"Bukan," si gadis menatapku kosong. "Kami menjulukimu 'Wanita dengan Kereta Dorong Lusuh'."
Oh.
Sial. Julukan tidak keren macam apa itu?! Kereta dorong ini tidak lusuh! Hanya belum disemprot cat pink. Nanti pasti keren banget.
"Majalahnya lima ribu seratus sembilan puluh sembilan won," kata petugas kasir mengacungkan telapak tangan. Aku baru hendak mengeluarkan dompet, ketika aku melihat liontin batu kuarsa warna salem, tergantung diantara rak hadiah dekat meja kasir.
Woow. Cantiknya. Aku suka sekali...
"Itu didiskon," kata petugas kasir mengikuti pandanganku. "Bagus sekali. Satu-satunya yang paling menarik di rak itu."
"Ya, kau benar." aku mengangguk terpukau.
Seharusnya kami sedang berhemat saat ini. Kai dan aku berbicara panjang-lebar sepulangnya kami dari rumah sakit, tentang tabungan, tentang tagihan, dan sebagainya. Dan kami sepakat untuk mengurangi kebiasaan belanja barang yang tidak perlu mulai saat ini.
Tapi sudah lama sekali aku tidak pernah membeli sesuatu untuk diriku sendiri. Aku juga sudah lama ingin memiliki liontin batu kuarsa warna salem. Di rumah belum punya yang jenis dan modelnya seperti itu. Lagipula ini kan harganya cuma dua puluh lima ribu won. Lumayan banget kan? Bagus dan terjangkau kocek.
Tambahan lagi, aku bisa menggunakan fasilitas tarik dana lebih dari rekening rahasiaku di Indonesia—yang sama sekali tidak diketahui Kai. Kalau Chanyeol eonni punya lima belas rekening di Negara orang, kenapa aku tidak?
Tidak. TIDAK BOLEH.
Sadarlah, Sehun! Jangan khianati kepercayaan suamimu lagi. Kau kan sudah bersumpah padanya!
INGAT: Kamp pelatihan. Di negara orang. Jauh dari suami, keluarga, teman-teman dan anakku.
Aku melempar senyum manis pada si gadis kasir. "Maaf ya, mungkin lain kali saja."
Kudorong kereta keluar dari toko sambil melirik arlojiku. Tidak perlu buru-buru pulang. Sebentar lagi Lauren butuh disusui, dan aku akan pergi ke kafe Italia yang menyediakan ruangan khusus ibu-ibu menyusui.
Aku berbelok ke kafe, masuk ke meja dalam ruangan khusus. Kuangkat Lauren dari keretanya, berhati-hati dengan kepalanya yang lembut, dan aku merasakan gelombang perasaan bangga ketika dua wanita melongok dari meja sebelah dan berbisik pada yang lain. Suara bisikan mereka agak terlalu keras sehingg masih sampai ke telingaku.
"Aduh, sungguh menggemaskan!"
"Cantik sekali…"
"Bajunya juga lucu."
"Apakah menurutmu itu kasmir sungguhan?"
"Aku juga mau belikan untuk anakku. Aku pernah melihat yang mirip…"
Sementara aku membuka kancing mantel sambil berusaha keras menahan seringai bangga, Lauren mulai mengeluarkan suara-suara yang artinya "Mana makananku?", kuciumi pipinya yang bearoma wangi. Aku pasti Ibu dengan Anak-Anak Paling Hebat Sedunia. Aku yakin itu.
.
.
.
—END—
A/N: Yeeees akhirnya END juga. udah. Udah cukup. Ini yang terakhir xD. Suer. Byeeeee!
Thanks for keep supporting me and makasih juga yg udah mau baca ff ini dan menyempatkan diri kirim review. Love u all guys ({}) 3 3 3
