Disclaimer ; BTS punya diri mereka masing-masing, seluruh ide cerita murni dari saya, dan saya sama sekali tidak mengambil keuntungan dalam bentuk apapun

Pair(s) ; Jimin x Jungkook, slight!Taehyung x Yoongi

Warning ; Kemungkinan besar OOC, AU, BL, typo(s) probably?

.

.

Jungkook tidak tahu apa yang salah dengan dirinya akhir-akhir ini. Seminggu yang lalu ia dan Ayah angkatnya baru saja pindah dari rumah lamanya di Busan ke sebuah apartemen yang bisa dibilang cukup mewah di Seoul. Jungkook yang baru saja lulus dari SMP setuju mengikuti ayahnya itu yang dipindah tugaskan di Seoul, jadi remaja lima belas tahun itu akan melanjutkan sekolahnya di kota yang sama tempat ayahnya bekerja sekarang ini, padahal sebenarnya Jungkook bisa saja memutuskan untuk tetap tinggal di Busan bersama nenek angkatnya, kedua orang tua ayahnya itu juga masih sehat-sehat saja kok. Tapi Jungkook sudah melekat bagai prangko pada surat dengan Namjoon, jadi, dia lebih memilih untuk mengikuti ayahnya yang merantau ke Seoul.

"Kook-ah, bisakah kau bawakan kardus itu ke atas? Ayah akan mengangkat koper-koper ini." Ayahnya yang baru saja turun dari mobil langsung bergegas menurunkan barang-barang yang mereka bawa pindah dari Busan. Hanya beberapa koper berisi pakaian dan kardus yang Jungkook yakin bahwa kotak itu berisi peralatan kerja milik Ayahnya. Sementara sisanya, seperti perabot rumah lainnya akan sampai besok pagi, kata ayahnya.

Jungkook hanya mengangguk sambil bergumam 'hm' lalu melepas sabuk pengaman dan ikut turun dari mobil, membuka pintu penumpang bagian belakang dan mulai mengeluarkan dua kardus berukuran sedang yang ditumpuk untuk dibawanya ke atas. Remaja itu mengerucutkan bibirnya saat merasakan bahwa ternyata kardus itu tidak seringan yang ia kira.

"Ugh, ayah masukkan apa ke dalam sini? Batu bata?" Ia menggerutu sambil berjalan melewati Ayahnya memasuki gedung apartemen terlebih dahulu, meninggalkan Ayahnya yang hanya tertawa sambil menyeret dua koper besar di kedua tangannya, menyusul anak semata wayangnya itu memasuki apartemen.

Kaki jenjang Jungkook yang hanya terbalut celana pendek berbahan jeans melangkah dengan hati-hati saat memasuki elevator, Ayahnya yang memperingati. Kedua ayah dan anak itu memasuki elevator dan tangan besar Namjoon sudah menekan angka lima di deretan tombol saat seseorang berusaha menahan pintu elevator yang hampir tertutup sambil berkata, "tunggu dulu,", lalu dengan cepat mengambil tempat di samping Jungkook, mengejutkan kedua orang yang sudah terlebih dahulu berada di dalamnya.

"Hehe, maafkan aku menginterupsi, aku hanya tidak tahan menunggu," orang itu terkekeh pelan membuka pembicaraan.

"Bukan masalah, selama tujuanmu sama dengan kami."

Jungkook hanya diam, mendengarkan percakapan singkat Ayahnya dan si orang-asing-yang tidak-tahan-menunggu di sebelahnya itu. Kedua mata besarnya melirik, memperhatikan orang asing di sebelahnya dengan seksama. Dari rambutnya yang berwarna oranye, kedua mata sipitnya yang berbentuk bulan sabit terbalik saat ia tersenyum kepada Ayahnya, hidung mancungnya, bibir mungilnya yang terisi penuh yang sekarang sedang tersenyum dengan manisnya, dan bahu tegapnya. Jungkook tidak melanjutkan pengamatannya saat sebuah tangan besar melingkari pundaknya, itu tangan Ayahnya. Ia mengalihkan perhatiannya untuk menatap Ayahnya yang juga berada di sampingnya, sedikit mendongak, lalu Namjoon tersenyum kepadanya, entah apa maksudnya.

"Kook-ah kenalkan, calon rekan kerja Ayah juga calon tetangga kita,"

Jungkook mengerutkan keningnya, oh, tetangga, pikirnya.

"Halo, aku Park Jimin, semoga kita bisa akur sebagai tetangga, ya, adik kecil!" Senyuman secerah mentari masih menghiasi wajah calon tetangganya itu. Jungkook hanya bergeming memperhatikan bagaimana kedua mata sipit itu menghilang saat ia tersenyum, jujur saja, ia merasa gemas sekarang.

"Aku Jeon Jungkook, mohon bantuannya, om Jimin!"

Jimin terkesiap saat mendengar panggilan yang Jungkook sertakan untuk memanggil namanya. Apakah ia terlihat setua itu? Oh, Tuhan.

"Hei, aku belum setua itu untuk kau panggil om, tahu!"

"Tapi semua rekan kerja ayah itu om-om, jadi om Jimin adalah om-om."

Namjoon hanya tertawa mendengar percakapan itu, tidak berusaha menghentikan anaknya yang sudah seenaknya mengambil keputusan.

"Tidak-tidak, kau salah, aku masih begitu muda untuk kau panggil om,"

"Memangnya usiamu berapa?" Namjoon menginterupsi sambil masih tertawa geli.

"Aku? Dua puluh delapan, kalau hyung?"

"Darimana kau tahu kalau aku 'hyung' di sini?" Tawa Namjoon mengisi seluruh ruang di elevator yang masih merangkak naik menuju lantai lima.

"Jangan tersinggung, tapi kau sudah punya Jungkook." Jimin menggusak rambut Jungkook yang tertata rapi, tidak memikirkan apakah dia akan suka diperlakukan seperti itu atau tidak.

Namjoon tidak menjawab dan hanya tertawa mengiyakan.

Mereka mengobrol ringan dengan sesekali Jimin yang ngotot tetap tidak mau dipanggil om oleh Jungkook. Dan anak itu terus saja mengelak dengan berkata, "om sudah om-om," atau "om teman ayah, teman ayah itu om-om,". Asal kau tahu, sepanjang elevator itu berjalan, sepanjang itu pula Jimin berusaha menahan dirinya untuk tidak menggigit Jungkook yang sangat menggemaskan dengan kedua gigi depannya yang besar seperti kelinci itu.

Saat terdengar bunyi 'ting' yang memenuhi seluruh dinding elevator, tak lama pintu besi di hadapan mereka perlahan terbuka. Sebelum keluar, Jimin menawarkan bantuannya kepada Jungkook untuk membawa kardus-kardus yang sedang diangkatnya, Jungkook menolak dengan alasan dia masih kuat, walau sebenarnya kedua lengannya itu sudah sangat pegal sekarang.

"Baiklah kalau begitu, aku duluan, Namjoon-hyung, Kookie!" Jimin tersenyum sambil menepuk bahu Jungkook pelan, berjalan mendahului kedua ayah anak itu.

"Oke, Jimin-ah."

Sebelum benar-benar memasuki apartemennya yang ternyata terletak tepat bersebelahan dengan apartemen Jungkook dan Ayahnya, Jimin menoleh dan berkata, "oh, kalau butuh bantuan, jangan sungkan untuk menekan bel ku, hyung.", dan Namjoon hanya tersenyum sebagai balasannya.

.

Jungkook menggantung baju terakhir yang ia ambil dari dalam kopernya di dalam lemari. Tangannya bergerak untuk mengemasi kembali koper-kopernya yang sudah kosong melompong dan menaruhnya di sudut ruangan. Hari sudah sore saat ia mendudukkan dirinya di ranjang berkasur empuk di kamar miliknya. Wow, rasanya Jungkook langsung jatuh cinta dengan apartemen ini. Tidak sebesar rumahnya di Busan memang, tapi, entahlah, ia bisa merasakan kenyamanan saat memasuki apartemen ini walaupun untuk pertama kalinya.

Ia beranjak menuju dapur, menemukan Ayahnya yang sedang mengisi kulkas dengan berbagai macam kebutuhan pangan sehari-hari seperti daging dan sayuran yang baru saja ia beli di supermarket yang ada di dekat sini. Jungkook meraih seplastik penuh sayuran dari atas counter dapur lalu membantu Ayahnya merapihkan isi kulkas dua pintu tersebut.

"Kau ingin makan apa untuk makan malam?" Ayahnya bertanya sambil masih sibuk dengan kegiatannya.

"Entahlah, Ayah mau makan apa memangnya?"

Lelaki yang dipanggilnya Ayah itu mendengus pelan sebelum membalas, "hei, aku yang bertanya lebih dulu,"

"Ugh, aku ingin makan di luar saja, Yah,"

"Ramen,"

"Kita tidak punya ramen, kan?"

"Yah?"

"Baiklah, ramen, apa yang tidak untuk anakku tersayang, hm?" Ayahnya bangkit dari posisinya yang sedari tadi berjongkok di depan kulkas lalu menggusak rambut Jungkook sayang, sementara remaja itu hanya terkekeh sambil tetap memasukkan berbagai jenis sayuran ke dalam kulkas.

.

Jungkook merasa waktu berjalan begitu cepat saat kalender di rumahnya menunjukkan bahwa sudah sebulan ia dan Ayahnya tinggal di apartemen barunya ini. Tempat tinggal baru, dan jangan lupakan, sekolah baru juga untuknya.

Sudah dua minggu ia mulai bersekolah di sekolah barunya, pilihan Ayahnya, benar-benar special. Hari pertamanya berjalan begitu lancar, bahkan ia sudah bisa memikat banyak hati teman-teman sekelasnya dengan obrolan seru beserta candaan yang dia buat di kelas. Jungkook menikmati hari-harinya sebagai siswa SMA yang selalu diceritakan Ayahnya bahwa, masa SMA adalah masa paling bahagia sepanjang hidupmu. Ah, Jungkook jadi tidak sabar, dibagian mananya masa itu akan menjadi yang paling bahagia dalam hidupnya.

"Yakin tidak mau pulang bersama, Jungkook-ah?" Itu Jihyun yang menawarinya untuk pulang bersama-sama dengan teman-temannya yang lain.

Jungkook hanya menggeleng sebagai jawaban, lalu anak itu melambaikan tangannya, "kalau begitu sampai jumpa!"

Kedua kaki Jungkook berjalan melintasi lorong sekolah yang mulai sepi di jam-jam pulang sekolah seperti ini, sementara kedua tangannya sibuk mengotak-atik handphone silver yang ada di genggamannya, mengetik cepat dengan wajah yang terus ditekuk masam.

Tak lama, handphone itu bergetar panjang dan layarnya memunculkan nama Ayah, Jungkook berdecak pelan sebelum mengangkat panggilan tersebut.

"Ayah,"

"Kook-ah, Ayah sudah minta tolong om Jimin untuk menjemputmu di sekolah, oke, tunggulah di sana, jangan kemana-mana,"

Anak itu menghela napasnya sejenak sebelum menjawab, "baiklah," dengan nada gusar.

"Hei, jangan marah begitu, Ayah juga tidak tahu jika akan diadakan rapat dadakan begini," Ayahnya memperingati, sementara ia hanya memberikan 'hm' malas-malasan sebagai jawaban.

"Baiklah, Ayah akan membelikanmu pizza untuk makan malam nanti,"

Kedua bola mata Jungkook langsung berbinar, bibirnya menyunggingkan senyum tipis sebelum mengangguk dengan cepat, "dua!", ujarnya kelewat semangat.

"Tsk, dasar perampok kecil." Sementara Jungkook hanya tertawa mendengarnya.

"Ya sudah, tunggulah om Jimin, oke, Ayah akan masuk ke ruang rapat sebentar lagi, handphone Ayah matikan, kalau perlu apa-apa minta tolong saja dengan om Jimin, mengerti?"

"Iyaaa, Ayah, aku mengerti, aku sudah SMA lagipula."

"Baguslah, kalau begitu, hati-hati, Kook-ah."

"Hmm." Dan sambungan telepon itu terputus.

Katakanlah Jungkook anak manja yang kemana-mana harus selalu diantar-jemput Ayahnya, tapi dia memang tidak bisa dan tidak akan pernah terbiasa jika tidak seperti itu. Saat kelas tujuh SMP dia pernah tersesat saat mencoba pulang sendiri saat Ayahnya bilang bahwa ia akan terlambat menjemputnya di sekolah. Ayahnya panik setengah mati mencari keberadaan anak semata wayangnya itu. Jungkook sangat sulit menghapal jalanan, dia akan seperti anak anjing yang tersesat jika dibiarkan begitu saja berkeliaran setelah pulang sekolah. Makanya Ayahnya selalu melarang ia untuk pulang sendirian, meskipun itu bersama teman-temannya, tetap saja tidak boleh.

Tidak lama, Jimin sudah muncul di hadapannya dengan pakaian semi formalnya, merekahkan senyum secerah matahari yang Jungkook senangi, tanpa sadar ia membalas senyuman itu sama lebarnya.

"Maaf membuatmu menunggu, Kookie,"

"Tidak juga, om, salahkan Ayah."

"Haha, oke-oke, ayo kita pulang, kalau begitu."

TBC

HAHAHA

HAHAHA

Sebenernya ini nulis ngebut banget, saking pengen update huhu gatau kenapa pengen aja update gitu walaupun gada yang nungguin sih lol

Pusing dengan tugas sekolah, aku tidak sanggup lagi ;A; pengennya tuh, libur tiga hari ini dipake buat nulis fic aja, tapi, ya gitu deh

Aku tau ini belum ada apa-apanya, plotnya berantakan sana-sini, ceritanya mudah ditebak, diksinya ancur, tapi setidaknya aku mencoba menumpahkan segala ideku ke sini ;A; maunya lebih panjang dari ini tapi aku udah gak kuat lagi/?. Ini diketik ngebut-sengebut-ngebutnya karena aku sendiri juga gak sabar liat perkembangan Jikook di sini haha

Dan kemaren ada yang tanya, ini jikook atau bukan?

Yes, dear, this fic is definitely Jikook. Jungkook as Uke/Bottom. Karena aku memang penggemar Kook as bottom ya hehehe. Jangan tanya kenapa ada kata Kookmin juga di sana, hanya Tuhan yang tau jawabannya.

Oh, kata terakhir/? Review?