"Jadi, apa aku boleh datang ke kamarmu lagi?"
•••••
Suatu perspektif yang buruk apabila menyamakan Wonwoo dengan orang-orang di luar sana. Meski kenyataan pahit menghampiri kesehariannya pada masa-masa sulit waktu itu, Wonwoo tetap berusaha melepaskan belenggu yang menyiksa batinnya. Perlahan, segala sesuatu yang menyangkut pemuda Kim itu ditampik keras. Menyisakan cukup banyak ruang kelegaan dalam lubuk hati Wonwoo. Ia mencoba menghadapi dunia yang baru lagi. Tetap mencoba tegar akan setiap rintangan yang mampir, tidak lagi bersikeras menumpahkan air matanya yang telah lama mengering. Wonwoo sudah cukup dewasa untuk paham terhadap dirinya sendiri. Ia selalu menanamkan dalam hati bahwa yang lalu telah berlalu, tidak perlu untuk mengungkit balik segala kenangan yang tersisa, karena hal itu akan semakin membuat lukanya menganga dan luapan kekecewaan yang lebih besar lagi.
Semua tidak lagi sama. Maka begitu pula dengan Jeon Wonwoo. Ia tidak sama seperti yang dulu. Setelah kepercayaannya dipatahkan begitu saja, ia tidak mudah melimpahkan kepercayaan kepada orang lain. Sudah cukup dia saja untuk yang terakhir kali. Tetapi Wonwoo sama sekali tidak bisa menyangkal segala bentuk gejolak dan debaran aneh setiap kali mendengar namanya lagi. Rasa bersalah langsung memupuk di dasar paru-parunya, menyumbat jalur pernapasannya dan membuat kerongkongannya tercekat.
Pria itu tidak pernah sekalipun dalam rentang waktu dua bulan ini berpapasan atau hanya sekedar melihat batang hidungnya. Sedikit banyak rasa penasarannya mendominasi tentang apa yang terjadi pada Mingyu setelah insiden tak menyenangkan kala itu. Semuanya seakan kembali terekam jelas dalam ingatannya. Tetapi sekali lagi Wonwoo berusaha meleburkan memori pahit itu. Ia hanya cukup beralih mengingat suatu hal menyenangkan yang pernah singgah dalam kehidupannya. Dan beruntungnya itu selalu berhasil.
Pagi itu, ketika Wonwoo baru saja menginjakkan kaki di koridor kampus, terdengar sayup-sayup berita tentang hubungannya dengan Mingyu. Wonwoo tahu jika selama ini pemuda tan itu lumayan terkenal seantero kampus. Jelas tidak ada seorangpun yang bisa menolak visualnya, bakat nonakademiknya, serta prestasi membanggakan yang pernah diraihnya. Namun mereka tidak pernah sedikitpun mengetahui tentang kisah asmara pemuda itu. Terlebih, Mingyu itu terlihat seperti tipe pemilih yang sulit didekati. Kini mereka harus ditampar dengan kenyataan bahwa Mingyu pernah menjalin kasih dengan seorang pria menyedihkan seperti Wonwoo. Semua terdengar sangat tidak masuk akal. Pertanyaan terbesar dalam pikiran mereka adalah, mengapa mantan kekasih dari Kim Mingyu adalah seorang pria?
Wonwoo justru tertawa miris. Kenapa mereka begitu peduli dengan hal demikian? Toh, Wonwoo yakin mereka akan bahagia setelah mengetahui bahwa Kim Mingyu sudah tidak terikat oleh siapapun.
Dunia memang tidak adil, tetapi semua terasa sudah terlalu adil menurut versinya.
•••••
Wonwoo mendapat panggilan mengejutkan pada malam pertengahan musim gugur.
Saat itu ia tengah sibuk berkutat dengan laptopnya demi mengejar deadline tugas yang dikumpul esok lusa. Jarum jam di kamarnya menunjukkan pukul dua belas tengah malam lewat sepuluh menit ketika ponselnya mengeluarkan dering nyaring. Wonwoo tidak segera menerimanya, sejenak menghafal nomor asing itu di layar ponselnya. Bola matanya menjadi bulat ketika sadar jika ia mengenal nomor itu dengan baik. Meski telah lama hilang dari deretan kontaknya, tetapi ia ingat betul nomor itu milik Mingyu.
Untuk apa dia menelepon tengah malam seperti ini?
"Yeoboseyo," setelah mengalami sedikit konfrontasi dalam hatinya, Wonwoo akhirnya dengan ragu menerima panggilan tersebut.
"Apa kau teman dari pemilik nomor ini?" suara asing terdengar dari seberang, menimbulkan guratan jelas di kening Wonwoo.
Ia terkesiap, "Y-ya?" katanya terbata.
Seseorang di sana kembali bersuara, Bisakah kau menjemput temanmu ini di kedai biru persimpangan Daehak-ro? Aku ingin menutup kedai tetapi dia tidak segera beranjak dari kedaiku."
Wonwoo terdiam cukup lama, terlalu sibuk memproses segala ucapan yang dilontarkan barusan.
"Hei, apa kau mendengarku?" suara itu kembali menginterupsi.
Tersadar, reflek Wonwoo menjawab, "Y-ya, saya akan segera kesana." sedikit tersirat keraguan dalam nada bicaranya.
Sambungan diputus sepihak. Wonwoo langsung terpaku, pikirannya berubah kacau.
Helaan napas kasar terdengar, terasa sangat frustrasi. Wonwoo menatap jam duduk yang ada di atas nakas sekali lagi, mengedik ketika mengetahui jarum jam telah menyentuh angka setengah satu dini hari. Persimpangan Daehak-ro tidaklah jauh, hanya saja sesuatu menahannya untuk tetap tinggal.
Akhirnya tubuhnya beranjak turun. Menyanggah ego yang terus menggerayapi perasaannya. Mengabaikan tugas-tugasnya yang memanggil untuk segera diselesaikan, lalu meraih jaketnya yang tergantung di belakang pintu. Bergegas membawa langkahnya pergi menuju tempat yang dimaksud.
Udara malam ini terasa sangat dingin, merasuk hingga ke dalam arterinya dan membuat darahnya berdesir. Di sepanjang jalan Wonwoo berusaha untuk mengumpulkan keberanian. Merapalkan segala bentuk pertahanan diri agar tidak mudah goyah terhadap sesuatu yang menanti. Retinanya telah lebih dulu menemukan tempat yang dituju, berada di sisi kanan persimpangan jalan. Ia berlari kecil untuk sampai di sana, sama sekali tidak membutuhkan waktu lama untuk menemukan sosok yang sangat lekat dalam ingatannya.
"Kau temannya?" sang pemilik kedai mengacung kepada seseorang yang tergeletak tak berdaya di meja kedai. Wonwoo memandang surai biru tuanya nanar. Sedikit terperangah ketika mendapati botol-botol hijau soju yang telah kosong di atas mejanya.
"Y-ya." Napasnya nyaris terdengar lirih.
"Cepat bawa dia pergi dari kedaiku. Aku ingin segera pulang." tukasnya lagi, sedikit mendesak.
Perlahan Wonwoo mendekat dengan langkah gusar. Bau alkohol langsung menyergap masuk ke dalam indera penciumannya. Matanya terasa memanas, debaran gila dalam dadanya sama sekali tak bisa membantu saat jemari kurusnya mulai menyentuh punggung yang terbalut kemeja hitam itu.
"Mingyu."
Punggung Mingyu bergerak, mencoba bangkit dari rasa sakit yang mendera tulang belakangnya karena terlalu lama membungkuk. Pria itu meracau tidak jelas di bawah titik sadarnya. Ia mendongak, menatap Wonwoo dengan mata sayunya yang memerah seperti baru menangis hebat.
Ia mendesis, "Wonwoo?"
Wonwoo menggigit bibir bawahnya keras. "Ayo pulang," ia menjeda, "Kau sudah mabuk berat."
Seringai berbahaya tercetak jelas di bibir Mingyu yang memerah. "Ugh—bukankah kau tak lagi peduli?" bahunya tampak bergetar. "Kau—ugh—terlihat ... sangat bahagia."
Telapak tangan Wonwoo mengepal, berusaha menahan emosi yang timbul akibat perkataan Mingyu barusan. Setetes air mata telah berhasil menembus dinding pertahanannya. "Aku akan mengantarmu pulang." Dan tanpa basa-basi Wonwoo membopongnya. Menahan lengannya agar tetap menopang di bahunya yang lebar supaya tubuh Mingyu tidak terhuyung. Kemudian Wonwoo segera menyimpan barang-barangnya yang tercecer.
Ia sempat membungkuk minta maaf kepada sang pemilik kedai sebelum membawa Mingyu pergi. Seumur hidup tidak pernah terlintas dalam pikiran Wonwoo untuk berurusan dengan orang mabuk, karena mereka pasti sangat merepotkan. Dan, ini bahkan jauh lebih buruk dari sekedar orang mabuk-perasaannya turut ambil bagian dalam hal ini.
Mingyu terus meracau sepanjang jalan. Berlaku berlebihan sampai dia terjerembab jatuh terduduk di trotoar dan Wonwoo membiarkannya sebentar dalam posisi itu. Bahunya seperti mati rasa menahan bobot tubuh pemuda tan itu yang dua kali lebih berat dari bobot tubuhnya sendiri. Ketidakberuntungan menimpa Wonwoo yang baru saja menyadari kalau apartemen Mingyu masih beberapa meter jauhnya.
"Tae—sialan!" tiba-tiba Mingyu berteriak dalam ketidaksadarannya. "Kau menipuku, brengsek—," intonasi suaranya merendah, "Dia tidak pergi."
Wonwoo terperangah saat ekspresi wajah Mingyu berubah dalam sepersekian sekon. Tatapan mata pria itu berubah teduh, lalu dalam keheningan air matanya mengalir. Saat ini Mingyu benar-benar terlihat menyedihkan.
Lengan Wonwoo kembali menggapainya. Menuntun langkahnya dengan benar sampai akhirnya tiba di depan pintu apartemen dengan nomor 1702 tertera di sana. Sepertinya Mingyu sudah tidak sadar sama sekali. Pria itu benar-benar terkulai lemas dalam rangkulan Wonwoo.
Sementara itu, Wonwoo menatap tombol-tombol passcode apartemen Mingyu dengan ragu. Berpikir sejenak apakah ia telah mengganti kombinasi angka-angka tersebut atau masih sama seperti yang sebelumnya.
Ia mengangkat tangannya gemetar, mengarahkan telunjuknya pada tombol-tombol itu, mencoba untuk menekan passcode dengan angka yang diingatnya baik sampai saat ini. Tepat setelah terdengar suara pintu terbuka, Wonwoo langsung bungkam. Mingyu sama sekali tidak mengubah kombinasi passcode-nya barang se-angkapun.
Wonwoo membaringkan pemuda itu di atas sofa panjangnya. Membiarkan segala sesuatu yang melekat pada tubuh Mingyu seperti sedia kala. Hanya berinisiatif untuk melepas sneakers putih gading yang Mingyu pakai. Kemudian mengakhirinya dengan helaan napas kasar.
Mingyu tampak meringkuk di atas sana. Jemarinya bergetar menahan dingin yang menyerang. Sementara Wonwoo sudah kehilangan akal. Tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan terhadap pemuda itu. Tangannya mengepal, menahan egonya yang terus bergejolak. Perlahan, jaket yang membalut tubuhnya dilepaskan. Mengalihfungsikannya sebagai selimut yang menutupi tubuh atas Mingyu. Ia terkesiap kala Mingyu bergerak dalam tidurnya, mencari kenyamanan. Jantungnya berdegup kencang saat menatap wajah itu lagi yang kini dipenuhi oleh lebam biru dan plester di pelipisnya. Mata yang pernah menatapnya penuh kasih, namun sekarang sarat akan kesedihan.
Ia tidak tahu kapan penyesalan ini akan berakhir. Selalu ada saja celah terbuka untuk kembali. Lidahnya terasa kelu. Tanpa sadar jemari lentiknya terangkat, mengarah pada permukaan rahang Mingyu yang kokoh. Namun urung dilakukannya. Ia akhirnya menyadari bahwa sejauh apapun dia melangkah, hatinya masih tetap sama. Wonwoo akan mendapati dirinya pulang menuju penghujung senja, dengan kemilau cahaya yang menjerat hatinya, menaungi setiap langkah gontainya, dan kembali membuatnya merasa jatuh cinta sampai palung yang terdalam. Dadanya berdenyut, sakit yang teramat sangat.
Wonwoo mendapati dirinya telah jatuh cinta sedalam ini kepada sosok brengsek yang bahkan telah meruntuhkan kebahagiaannya.
•••••
Pukul empat lewat lima belas Mingyu terbangun dengan denyut hebat yang mendera kepalanya. Matanya mengerjap, melirik sekilas situasi tempatnya berada. Begitu terkejut ketika mendapati dirinya terbangun di atas sofa apartemennya sendiri. Karena dia tidak mungkin pulang dengan selamat menuju tempat tinggalnya dalam keadaan tak sadarkan diri.
Ia terkesiap tatkala merasakan gejolak tiba-tiba dari dasar perutnya. Seperti ada sesuatu yang mendesak ingin dikeluarkan. Dengan segera pria itu beranjak menuju toilet. Memuntahkan liur berwarna kuning menjijikkan bekas hasil minumnya kemarin malam. Kerongkongannya seperti terbakar hebat kala itu. Tangannya bergerak memijit-mijit tengkuknya ringan. Mencoba meminimalisir rasa sakit yang mendera tulang lehernya.
Mingyu memuntahkan cukup banyak. Ia minum terlalu berlebihan semalam akibat rasa frustrasi yang menghujam kepalanya. Seluruh sarafnya bagaikan mati rasa karena efek hangover parah. Tubuhnya semakin melemas, sudah tidak sanggup lagi menahan kakinya yang bergetar di atas permukaan kabin. Ketika itu pula ia merasakan pijatan mendadak entah dari mana. Mingyu sempat melirik, namun denyut di kepalanya malah semakin menjadi-jadi.
"Berdirilah," sosok itu mengulurkan tangannya, lalu menuntunnya berdiri di depan wastafel. Dengan hati-hati ia membersihkan mulut Mingyu, membasuh wajah kusamnya, dan mengarahkannya dengan sabar menuju dapur.
Ia menyodorkan segelas teh ginseng dengan asap yang masih mengepul. "Minumlah. Bisa meredakan sakit tenggorokanmu." tukasnya lembut.
Sosok itu telah sukses membuat Mingyu bungkam. Kedua bola matanya sama sekali tak bisa lepas dari setiap gerak-gerik yang dilakukan olehnya. Masih menatapnya intens, seolah tidak percaya dengan apa yang ditangkap oleh retinanya.
Mingyu mengerdip, matanya segera berpendar pada objek lain. Kemudian dengan santainya meneguk teh ginsengnya sedikit demi sedikit. Rasa hangat yang menyapa cukup membantu memulihkan tenggorokannya. Mingyu berdehem kecil, membersihkan kerongkongannya. Dalam kesunyian dia mencoba melirik sosok itu lagi.
"Aku membuat omelet untuk sarapan—kau bisa memakannya jika sudi. Aku juga membeli beberapa bahan untuk kulkasmu, juga obat sakit kepala. Dan—jangan minum terlalu banyak jika tubuhmu tidak sanggup." tuturnya seraya membenarkan letak kacamatanya yang sedikit turun.
Betapa rindunya Mingyu mendengar suara itu. Setelah hampir satu tahun tidak melihatnya, Mingyu rasa dia tidak banyak berubah. Ia masih menjadi sosok yang merenggut seluruh lubuk hatinya. Menyimpannya seorang diri dan menjadi alasan Mingyu khawatir setiap menjalani aktivitas sehari-harinya. Semuanya jelas masih terlihat sama—begitupun dengan perasaannya.
"Won—hyung," Mingyu memanggilnya lirih. "Terima kasih."
Wonwoo tersenyum tipis menanggapinya, "Tidak masalah."
Mingyu cukup lega mendengarnya.
"Um, aku akan ... pulang. Jaga dirimu baik-baik." Wonwoo segera beranjak dari hadapan Mingyu. Bergegas pulang karena ia sama sekali tidak mengabarkan kepergiannya sejak kemarin malam. Juga tugas-tugasnya yang menanti. Dan, semua itu serta merta dijadikannya sebagai alasan yang begitu spesifik.
Tetapi belum sempat ia mencapai kenop pintu besi itu, tubuhnya terhempas dan punggungnya menghantam dinding dengan cukup keras. Wonwoo terperangah mendapati Mingyu berada tidak jauh dari wajahnya. Merasa terintimidasi akan tatapan intens yang dilayangkan oleh pria itu, seolah tengah menguliti seluruh bagian tubuhnya tanpa terkecuali. Tubuh Mingyu yang menjulang benar-benar membuat nyalinya menciut.
Napas Wonwoo tercekat tatkala hembusan panas menerpa permukaan bibirnya yang pucat. Separuh kesadarannya berkata tidak, namun nalarnya terlampau jauh berkecamuk untuk berpikir jernih. Karena itu, Wonwoo menerima dengan patuh ketika Mingyu mendaratkan bibirnya, dengan perlahan dan berhati-hati, menyapu kedua belah bibirnya dengan lembut. Wonwoo merasakan seluruh sistem otaknya mati saat kerinduan mendalam menyergap tiba-tiba memenuhi akal sehatnya. Jantungnya berdentam hebat ketika Mingyu mulai menggerakkan bibirnya penuh antisipasi. Terkesiap kala Mingyu menyelinapkan lengannya di tengkuk Wonwoo, lalu menyisipkan lidahnya sedikit menggoda, sebagai isyarat agar Wonwoo bersedia membuka mulutnya. Wonwoo sungguh mengingat seluruhnya. Hal yang sering Mingyu lakukan ketika mereka masih menjadi sepasang kekasih.
Maka Wonwoo memberikan segala apa yang Mingyu inginkan. Membiarkan lidah Mingyu menelisip ke dalam mulutnya, melumat dan membelai deretan gigi-giginya. Wonwoo merasakan kehangatan yang telah lama hilang dalam lubuk hatinya hanya dengan sentuhan itu. Entah sejak kapan, tangannya bertumpu di kedua pundak Mingyu, melingkari leher jenjangnya yang kokoh. Membawanya lebih dekat, melimpahkan seluruh bobot tubuhnya di sana. Wonwoo membalas pagutan itu. Merasa bahwa dia telah melakukan hal yang benar. Dan, semua ini terasa sangat benar.
Pagutan itu terlepas, menghasilkan jembatan liur di antara bibir mereka. Mingyu mengecup singkat sudut bibir itu lagi. Memutuskan sisa kontak bibir mereka. Perlahan menaikkan pandangannya, menatap manik Wonwoo yang tampak shock. Mingyu terperangah, menyadari jika dia melakukan suatu hal yang tidak benar. Rasa rindu teramat dalam telah melumpuhkan rasionalitasnya. Membuat segalanya terjadi begitu saja tanpa ada pemikiran lebih lanjut tentang sesuatu yang akan terjadi setelah ini.
Mingyu mengulum bibirnya kelu. "M-maafkan aku." katanya menyesal. "Aku tidak bermaksud—"
Wonwoo yang menangkap guratan rasa bersalah pada kedua bola mata Mingyu segera membungkamnya. Setengah berjinjit untuk bisa menggapai bibir Mingyu yang bergetar. Tatapannya meneduh, penuh kilat-kilat kerinduan tersirat untuk kemudian Mingyu sadari bahwa dia tidak merasa keberatan sama sekali. Sebelum Mingyu tahu akan makna tersembunyi yang disinyalkan Wonwoo kepadanya, telapak tangan basah penuh kegugupan itu telah mendarat dengan sempurna pada rahang tegas Mingyu. Membagi perasaan rindu yang telah lama hilang, kini melebur bersama aliran darah mereka yang tenang, kontras dengan pacuan jantung yang menggila.
"Tidak sepatutnya kau meminta maaf padaku," Wonwoo bertutur sendu. "Aku—aku yang terlalu egois. Aku memutuskan segala hal tanpa berpikir panjang—semua ini salahku. Aku sadar tidak bisa melenyapkanmu dari pikiranku, dan—aku tak membencimu. Sama sekali tidak." katanya penuh tekanan frustrasi.
Terkadang, dalam beberapa kesempatan Wonwoo mengacak kardus besar di gudang rumahnya. Menemukan lagi foto Mingyu di sana, sedang mendekapnya erat, seolah perpisahan akan menghampiri apabila mereka melepaskannya. Dan Wonwoo akan mendapati pelupuk matanya penuh genangan air mata, merasa terharu saat mengingat mereka pernah jatuh cinta sedalam Pasifik, saling merasa egois untuk memiliki satu sama lain, selalu punya satu detik untuk merasa cemburu. Mingyu masih merangkap sebagai bagian dari hidupnya-bahkan sampai saat ini. Jika hanya dengan menatap matanya Wonwoo merasa jatuh cinta, maka dia telah jatuh berkali-kali pada orang yang sama. Jika memang hanya Mingyu penantian terakhirnya, maka mulai detik ini Wonwoo akan memutuskan untuk berhenti berlari.
Deru napas yang terdengar bersahutan bagaikan menjadi backsound menenangkan selama mereka menyelami pikiran masing-masing. Mingyu menyatukan kening mereka dengan antusias, terbawa situasi untuk kembali jatuh cinta seperti pertama kali. Bibirnya menyunggingkan senyum penuh makna. Obsidiannya mengarah tepat pada kedua bola mata berbingkai yang selalu menjadi favoritnya.
"Apa aku pernah mengatakan jika matamu selembut pasir di pantai?" Mingyu sama sekali tidak melepaskan senyumannya. Mencoba memecah kesunyian yang mengudara di antara mereka.
"Apa-apaan," Adalah reaksi Wonwoo atas pertanyaan konyol yang Mingyu katakan. Ia tergelak ringan, membuat sentuhan kening mereka bergetar. "Kau mendadak berubah tiga ratus enam puluh derajat dari sikapmu sebelumnya." sindirnya.
Gigi taring menyembul malu-malu dari balik bibir Mingyu. Lalu tanpa aba-aba dia mencuri kesempatan menyentuh bibir Wonwoo lagi dengan mulutnya. Menyeringai berbahaya ketika telapak tangan Wonwoo menggapai kepala belakangnya dan memberantaki surai biru tuanya tanpa arah. Kemudian merengek kecil saat Mingyu menggigit bibir bawahnya gemas.
"Jadi, apa aku boleh datang ke kamarmu lagi?"
Mingyu melontarkan pertanyaan di telinganya yang sensitif. Bernapas secara sensual pada belakang telinganya, menggoda setiap titik kelemahan Wonwoo. Tubuh ringkih dalam dekapannya terkesiap ketika Mingyu dengan kurang ajarnya mengulum daun telinganya penuh afeksi.
"Jika aku menjawab 'ya', apa aku akan berakhir di ranjangmu—sekarang?" Wonwoo berujar enteng, seolah tidak menyadari jika perkataannya terdengar begitu ambigu.
Mingyu tergelak, "Tergantung." katanya menantang.
Semburat merah samar-samar muncul pada kulit pipi Wonwoo. Bibirnya menyungging senyum geli. Ia mengeratkan lengannya pada leher Mingyu. Menghirup aroma samar aftershave yang menyapa indera penciumannya, lalu tanpa aba-aba menggigit tulang selangka pria itu gemas. Bibirnya naik mencium rahang Mingyu kemudian berujar lirih.
"Maka lakukanlah."
—END—
Jadi, aku udah publish ini juga di wattpad. Semalam aku nonton lagi svt project, dan aku terkejut ternyata Daehak-ro itu tempat yang mereka pake buat misi tiap unit. Padahal aku ngasal milih daerahnya lol.
Btw, aku bukan penganut sad endingjadisay no to sad ending. Apalagi ini cast-nya meanie hm. Udah cukup hidup aja yang miris, di ff jangan.
Tapi, terima kasih buat yang udah menyempatkan diri me-review. Dan, yah, balikan sama mantan itu kayak baca novel untuk yang kedua kalinya alias udah ketebak endingnya. Tapi ya gitu deh hehe. Terima kasih! Jangan lupa review lagi yah!
xoxo
