Terima kasih sudah mengikuti fanfic kami. Berapa lama kami sudah hiatus dari FFn? Sepertinya sangat lama ya?
Nah, kita akan membuka kembali fanfic lama dan melanjutkannya. Bagi kalian yang masih penasaran bagaimana nasib malang manusia serba narsis dan pak tua yang tak dianggap, kalian berada di fanfic yang benar. Beberapa gaya penulisan akan berubah mengingat kami juga punya pekerjaan orific di Wattpad. So, mari kita lanjutkan!
.
Dynasty Warriors series, belongs to KOEI-Tecmo.
Warning!
This fic might contains strong language, OOC, gore, and pixelated vomit. Viewer discretion advised.
Genre: Humor/Drama
Starring: Zhong Hui and Guo Huai
Summary: Sesuai saran Xiahou Ba, Zhong Hui dan Pak Guo Huai harus menjalani kehidupan mereka masing-masing yang tertukar hingga ada kabar tentang hujan badai susulan. Zhong Hui dengan pasrah harus tinggal satu atap bersama Xiahou Ba dan ayahnya yang ternyata punya bisnis kos-kosan. Bagaimana lanjutannya ya?
.
.
.
Mr. Narcississtic and the Old Fencing Master
.
How Deep is Your Life?
.
"Kau ini gila atau apa? Rumahmu menjijikkan, Zhongquan. Dan kenapa ada banci tinggal disini juga." Zhong Hui ngedumel sendiri sembari Xiahou Ba mengantarnya ke kamar tempatnya akan tinggal dimana rumah tersebut tampak sangat kecil hingga anggota keluarganya pun tak bisa memasukinya karena badannya terlalu besar.
"Kalau dia banci, kau metroseksual. " balas Xiahou Ba berbisik. "Ini kos-kosan ayahku. Kakek sempat menolong ayahku membesarkanku sejak meninggalnya ibuku. Sampai sekarang, Kakek yang lebih sering merawatku mengingat Ayah juga guru olahraga sekaligus atlit memanah."
"Aku tak peduli dengan omong kosongmu-uhuk!"
"Kusarankan jangan terlalu membawa emosimu. Darah tinggi Kakek bisa kumat karena ulahmu." bisik Xiahou Ba.
Tak lama kemudian, sebuah buntalan berjaket ungu menghampiri mereka berdua.
"Hei, kalian berdua. Ayo sini peluk Papa!" buntalan tersebut memeluk Xiahou Ba dan Zhong Hui dengan sangat erat hingga ada bunyi retakan yang sangat keras.
KRAAAAK! KRIUK,KRIUK!
"Lepaskan sentuhan tubuhmu! Punggungku..." Zhong Hui megap megap dipeluk si buntalan ungu. Mengingat dirinya sedang terjebak dalam tubuh Guo Huai, pelukan erat itu seperti mesin penggiling daging yang sangat kuat menghancurkan tulangnya. 'Tubuh lemah ini hanya akan menyusahkanku...' batinnya.
"Aduh, maaf..." buntalan tersebut melepaskan pelukannya. "Akan kuantar ke kamarmu. Xiahou Ba, kamu tagih utang dulu tuh ke Zhang He. Udah lima bulan nunggak terus, padahal salonnya di Kalijodo udah mau digusur."
"Ayah, gimana caranya Zhang He nyalon di Kalijodo kalau sekolahnya di Cina?" Xiahou Ba garuk kepala.
"Kata pepatah, tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Kalijodo ga akan kemana, saingan dimana-mana."
"Yang kedua itu bukan pepatah, Ayah." Xiahou Ba hanya melengos pergi menuju kamar ungu berhias kupu-kupu emas untuk menagih hutang kos-kosan.
"Pak Xiahou Yuan, anda hanya merepotkan. Saya bisa jalan sendiri-uhuk!" Zhong Hui meninggalkan buntalan yang dipanggil Xiahou Yuan itu dan berjalan menuju sebuah kamar yang berwarna ungu tua dengan aura penuh kegelapan seakan kematian akan menjemputnya. Dimulai dengan menelan ludah dan membaca kitab suci, dibukanya pintu tersebut.
Tampak seorang lelaki berambut hitam gaya Super Saiyan memiliki mata kiri yang picek sedang memotong bola yang disensor demi kenyamanan pembaca untuk dijadikan limun dingin. Lelaki itu menatap sang pria tua di ambang pintunya dengan sorot mata tajam dan mencekam. Dengan penuh merinding, Zhong Hui menutup pintunya kembali.
'...rumah ini lebih mengerikan.' Ia hanya mampu menjerit dalam diam.
"Kakek Guo Huai salah buka pintu. Itu kamar sepupu saya, Xiahou Dun. Kamar Kakek ada di sebelahnya." Xiahou Yuan menghampiri Zhong Hui dan menunjuk kamar yang berwarna biru langit dengan aroma yang lebih menyengat dan menjijikan bagai masuk rumah sakit. Sontak, Zhong Hui berlari keluar dan muntah hingga tanpa sengaja mengotori jemuran Zhang He.
"AMSYONG JEMURAN EIKEEEEE! BAYAR AIR MAHAL WOY!" jerit sang tetangga dengan nada melambai dilanjutkan dengan sahutan yang sangat jantan.
Zhong Hui berjalan dengan lemah lunglai menuju kamar tidur yang dimaksud dan segera membaringkan tubuhnya di kasur.
"Pak tua bangkotan itu harus mulai berolahraga atau tubuhnya akan bau tanah-uhuk!"
.
.
Sementara itu...
.
.
Guo Huai dibawa(baca: diseret) Sima Yi ke dalam mobil dan duduk di sebelah Sima bersaudara; Sima Shi dan Sima Zhao. Sima Yi melirik ke kursi penumpang lewat kaca spion dan melihat Zhao dengan pulasnya tertidur hingga membuat tempat duduknya menjadi sangat sempit. Ia hanya bersabar dengan mendorong kepala Sima Zhao agar tak menindihnya, yang berakhir jatuh ke pundak Sima Shi. Sima Shi juga merasa tak nyaman dengan adik besarnya dan kembali mengoper kepala Sima Zhao. Yak, pertandingan semakin sengit. Sima Shi oper kepala ke Guo Huai, Guo Huai ke Sima Shi, Sima Zhao masih tertidur pulas seakan tanpa gangguan. Akhirnya Sima Shi dengan rasa kesal melempar kepala Sima Zhao hingga menghantam perseneling mobil, dan...
BUAK!
GOOOOOOOOOOOOOOOOL!
"ANAK-ANAK SIALAN!" Sima Yi kaget ketika kepala sang anak kulit hitam manis dengan rambut ikal berantakan itu menghantam perseneling mobilnya. Sima Shi dengan santai hanya melahap bakpao yang disimpannya di jok mobil dengan tenang. Pria berkulit pucat dan berambut hitam legam yang gayanya sulit digambarkan dengan tangan menampar wajahnya hingga menampakkan wajah yang babak belur akibat terus dioper kesana kemari.
"...eh? Sudah sampai?" celetuknya tersadar dari mimpi indahnya. "Jia Chong, kenapa aku nyium rem tangan?"
Pria yang disebut sebagai Jia Chong itu berkata datar, "Tidurmu pulas. Badanmu berat sampai jatuh kesini".
"ANAK PUNGUT, MINGGIR KAMU!" Sima Yi dengan lantang menggeser kepala Sima Zhao untuk mengganti gigi perseneling.
"Papa jahat banget sama anak kandung sendiri..." Sima Zhao pasrah dan mencoba mengambalikan posisi kepalanya, namun kepalanya tersangkut di antara dua jok mobil.
"Papa...kepalaku nyangkut."
CIIIIT!
Sima Yi mendadak ngerem ketika mengetahui kepala sang anak tersangkut di antara jok mobil. Beruntungnya, di saat bersamaan ada ibu-ibu penguasa jalan yang sedang melintas.
"ANAK SIALAN! LO MAKAN APA SAMPE BADAN LO LEBIH GEDE DARI KAKAK LO?! KITA HAMPIR NABRAK IBU-IBU YANG BELOK KIRI WAKTU NYALAIN LAMPU SEIN KANAN!" Sima Yi berusaha mendorong kepala Sima Zhao agar bisa kembali ke tempatnya. Tak lupa Jia Chong dan Sima Shi yang ikut membantu. Guo Huai melihat kejadian itu. Namun mengingat dirinya terjebak sebagai Zhong Hui, Ia harus menjaga citra sang murid yang suka mementingkan dirinya sendiri. Pertarungan batin pun merajalela.
"Zhong Hui, bantu kami! Kenapa diam saja?" sahut Sima Shi padanya.
Manik biru laut itu menangkap sesuatu yang terselip di jok mobil. Ia merogohnya dan mendapatkan sebuah botol transparan dengan gel biru mengkilap di dalamnya. Sebagai orang tua, Ia tak paham benda apa yang dipegangnya, tapi mungkin bisa berfungsi. Rasa ibanya lebih tinggi dari menjaga citra asli Zhong Hui.
"Shi, menyingkirlah. Kita pakai benda aneh dalam botol ini untuk keluarkan Zhao." usulnya.
"Zhong Hui, itu gel rambutmu yang paling mahal. Kau yakin akan menghabiskannya?" kata Sima Shi ragu.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Kita bisa terus terjebak dalam mobil ini!"
Dikeluarkannya benda yang ternyata adalah gel rambut itu dan dioleskannya pada kedua tangannya. Kemudian diselipkan kedua tangannya pada kepala Sima Zhao dan menariknya perlahan hingga kemudian terlepas.
Seisi mobil pun akhirnya merasa lega. Sima Zhao dapat kembali duduk tegak di kursinya. Namun Sima Shi hanya menatap Guo Huai penuh curiga.
"Tidak biasanya kau mengorbankan seisi gel rambut mewahmu untuk menolong orang. Seperti ada yang lain darimu..."
"Aku hanya ingin membantu. Itu saja. Jangan pertanyakan aku. Aku hanya merasa istimewa jika tak menjadi orang angkuh..." jawab Guo Huai seraya melirik ke arah jendela.
Mereka pun sampai di rumah yang megah. Warna putih gading yang mempesona, air mancur berbentuk Qilin, dan taman yang luas. Itulah ciri khas rumah keluarga Sima. Tampak seorang pria bertubuh besar dan berambut gondrong mengawasi pintu masuk rumah tersebut.
"Selamat siang, Tuan Sima Yi." Pria itu membuka pintu gerbang masuk menuju tempat tinggal sang tuan rumah. Mereka pun parkir tepat di depan rumah dan segera keluar dari mobil sedan tersebut.
"Jia Chong, apa jadwal kita hari ini?" tanya Sima Yi pada Jia Chong.
"Kita akan ada latihan untuk konser akbar menghebohkan piala Oscar bersama Joey Alexander, jumpa pers untuk album kedua Sima Bros, wawancara khusus untuk Zhong Hui, dan sesi pemotretan untuk Wen Yang." jawab Jia Chong sang manajer pribadi menyebutkan jadwal itu.
"Bagaimana dengan waktu istirahat?"
"Tiga puluh menit, Tuan. Dan ada tambahan waktu khusus untuk Zhong Hui."
'Tiga puluh menit? Tambahan waktu?' batin Guo Huai.
"Anak sialan. Jika bukan karena suaranya yang bagus dan wajahnya yang tampan hingga mengenalkan perusahaanku, aku bisa memecatnya." gumam Sima Yi sembari melepas topinya dan meletakkannya di gantungan topi."Anak-anak, istirahat tiga puluh menit. belas menit untuk Zhong Hui."
"Ayah, itu tidak adil!" rengek Sima Zhao sembari berjalan dengan malas.
"Zhao, nasib baik Zhong Hui mau menolongmu tadi. Aku bisa saja meninggalkanmu tersangkut di mobil sementara aku membeli mobil baru."
"Tapi, Ayah..." Sima Zhao menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Tak ada tapi. Dan tak ada tangan yang menggaruk kepala! Kau seharusnya lebih sering merawat rambutmu seperti Zhong Hui. Ketombemu di jok mobil selalu sulit dibersihkan!"
Sima Zhao hanya melengos sembari berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Guo Huai hanya mengikuti langkah Sima bersaudara menuju kamar masing-masing dan melangkah menuju kamar yang tak ditempati mereka berdua-kamar Zhong Hui sendiri.
Dibukanya pintu kayu jati yang diukir dengan sangat apik tersebut, menampakkan kamar berwarna hijau toska yang bersih dan berkilau. Lukisan Zhong Hui terpampang sangat jelas di setiap dinding kamar. Tak lupa sebuah cermin besar di sudut ruangan yang memberi kilauan pada kamar tersebut.
'Wow, Zhong Hui pasti sangat terobsesi dengan dirinya sendiri...' batinnya. 'Setidaknya, aku dapat kamar luas, hidup mewah, dan tubuh sehat. Aku akan sangat betah menjadi Zhong Hui...'
To be continued...
