Halo halo! Aku bawain chapter 2 nih buat kalian yang sudah baca chapter 1 nya. Xixixi.. Arigatou buat yang udah review. Kalian penyemangatku. Aku sayang kalian. :* :') Dan makasih buat silent reader karena udah baca Fict ini. So review too please! #aneh# Yohoho.. Silakan dibaca guys.

Disclaimer: Naruto belong to Masashi Kishimoto dan semua karakter yang ada disini. Tapi cerita ini punya saya. :v

Rating: T+

Warning: AU, OOC, Typo mungkin banyak. XD

Pairing: Naruto x Hinata

Story by: OtomeKiku

Happy Reading!

-_-_-C.L.O.C.C-_-_-

"Jangan membuka mulutmu begitu! Apa kau mau lagi?"

Lagi, Hinata hanya bisa terbelalak kaget mendengar kata kata seberani itu dari seorang siswa yang baru mengenalnya.

.

.

.

.

.

Careless Love Of Chocolate Candy

.

..

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

Happy Reading:D

Keep Enjoy!

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

..

.

Hinata tak habis pikir dengan pria yang seberani itu padanya. Buru-buru ia menutup mulutnya dan mengernyitkan kedua alisnya. Seakan bertanya 'Kau menghinaku?'

"Hahahaha:) lihat ekspresimu. Kau terlihat..."

PLAKK

Sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi kanan Naruto. Pria itu mengelus bagian yang sedikit memerah karena tamparan gadis di depannya.

"Hey! Kau sudah gila ya?!" Ucap Naruto.

Si Hyuuga hanya tersenyum sinis. Ia nampak bahagia melihat seorang mahasiswa baru yang kesakitan karna 'hadiah' darinya. Masih kurang puas, dengan cekatan kakinya menginjak kaki Naruto secara bergantian. Membuat sang empu kaki yang diinjak itu meringis.

"Awwh.."

"Dasar pencuri. Kau bukan hanya mencuri permen ku, tapi juga ciuman pertama ku. Kau menyebalkan! Harusnya ini untuk kekasihku nanti. Issh.. kau menjijikan" Remeh Hinata. Ia langsung menyentuh bibirnya dan menyapunya dengan jari jari tangannya.

Naruto berhenti meringis dan menatap gadis di depannya. Ia jadi semakin tertarik dan sepertinya ia mulai menyukainya. Gadis itu nampak cantik dan selalu membuatnya penasaran. Bahkan setelah ia meringis seperti tadi.

"Sebentar lagi kan aku menjadi kekasihmu. Jadi tidak masalah kalau kita melakukannya lagi." Ucap Naruto dibarengi dengan seringai nakalnya. Satu alisnya naik.

"A..apa, jangan coba-coba!" Hinata mundur beberapa langkah. Tapi Naruto terus mengikutinya.

"Hey! Berhenti!"

"Berhenti sekarang! Atau aku akan..." Gadis itu tak melanjutkan langkah nya seperti kalimatnya yang belum selesai. Ia sudah tak bisa mundur lagi, punggung nya sudah bersandar di dinding. Dan pria itu juga semakin dekat. Salah, sangat dekat sampai ia bisa merasakan nafas pria itu.

"Kau akan apa?" Tanya Naruto sambil mengunci gadis itu dengan kedua tangannya. Ah, apa yang bisa dilakukan Hinata sekarang selain menahan degup jantungnya kala mencium bau keringat Naruto yang bercampur dengan sabun, parfume atau apalah itu. Ya, Hinata kini menatap lantai agar ia bisa fokus dan dapat mengatakan kalimat terbaik yang mungkin akan membuat pria di depannya kalah.

"Aku akan membunuhmu besok."

Hening,

Masih Hening,

Krik.. 1 jangkrik

Krik... 3 jangkrik

Krik... 5 jangkrik

Krik... 7 jangkrik

Krik... 8 jangkrik

Krik... 15 jangkrik

Krik... 17 jangkrik

Krik... 19 jangkrik

Krik... 21 jangkrik

(Ett, nih FF apa pembudidayaan jangkrik sih?#TUK#dilempar batukali sama reader#Abaikan. Oke! Lanjut ceritanya)

Naruto bengong melihat ekspresi gadis di depannya, ia melepaskan tangannya dari dinding. Menoleh kesamping. Mencoba menyembunyikan tawa manisnya, tapi ia benar benar tak tahan.

"Ahahah, kau bercanda? Kenapa tidak kau bunuh saja aku sekarang." Ucap Naruto masih dengan tawa ngakaknya (?).

"Cih..Kau meremehkanku? Lihat saja besok!" Hinata menyilangkan lagi kedua tangannya di depan perutnya.

Pria itu berhenti tertawa. Ia menatap Hinata lagi. Seakan bertanya 'Kau serius?' Tapi, pertanyaan itu lebih seperti pertanyaan retoris. Ya, siapa yang akan percaya kalau Hinata bisa membunuh.

"Kenapa tidak sekarang?" Tanya Naruto, mengejek.

"Hari ini aku ada perlu denganmu. Kau kan harus berbohong pada Kakashi-sensei kalau aku membaca buku buku tebal itu. Kau juga harus membantuku menyelesaikan laporanku. Dan besok baru aku akan membunuhmu. Jadi.. kau siap siap saja." Jelas Hinata sejelas jelasnya. (Duh, ko Hinata gak gagap sih.. OOC banget ya)

"Ck.. Bagaimana bisa kau membunuhku? Aku kan kekasihmu di masa depan? Eh, tunggu.. mungkin sebentar lagi kita akan jadian." Ucap Naruto sambil tersenyum bangga.

"Hey! Itu tak akan terjadi. Kau bukan tipe ku." Timpal Hinata.

"Tapi ciuman pertama itu kan untuk kekasihmu? Berarti itu untukku." Balas Naruto.

(Re: Yang ada tanda serunya berarti Hinata.)

"Tidak!"

"Iya."

"Tidak!"

"Kau harus percaya."

"Kubilang tidak ya tidak!"

"Iya tetaaap iya."

"Kau menyebalkan!"

"Kau bodoh."

"Kau menjijikan!"

"Kau gila."

"Kau lebih gila!"

"Kau sangat sangat gila."

"Kau sangat sangat sangat dan sangat gila!"

"Kau orang paling gila, bodoh, menyebalkan yang pernah aku temui."

"Kau! Arggh... Aku ingin sekali membunuhmu!" Hinata mengepalkan tangannya dan menoleh sebentar lalu kembali menatap pria yang baru saja berdebat dengannya.

"Kau kalah ya?"

"Tidak." Hinata membuang mukanya, rasa muak pada pria itu benar benar semakin bertambah.

"Kenapa tidak membentak lagi?" Tanya Naruto lagi.

Shit. Benar juga, sedari tadi di perdebatan Hinata selalu membentak. Sementara orang di depannya selalu menanggapi santai.

"Kau... aku membencimu." Ucap Hinata sambil menunjuk Naruto. Lagi, lalu pria itu dengan ringan menyingkirkan tangan si nona Hyuuga.

"Benarkah? Tapi aku..." Naruto menggantung ucapannya.

"Apa?" Lagi lagi Hinata menoleh. Tak ingin melihat wajah Naruto.

"Aku menyukaimu Hinata." lanjutnya. Ekspresi nya datar. Tapi, nampak keseriusan di wajahnya. Meski tak nampak sangat jelas.

"A.. apa?" Yap, kalimat singkat itu sukses membuat Hinata tergagap. Matanya terbelalak kaget memandang Naruto yang tengah menatapanya dalam.

"Aku bilang aku menyukaimu dan sebentar lagi akan mencintaimu." Jelas Naruto lagi. Ah, wajah itu entah kenapa membuat Hinata terhanyut akan keadaan. Tapi, tetap saja. Hinata tidak bisa langsung percaya begitu saja. Ia bukan orang yang mudah dibohongi.

"Heh? kau bercanda? Kita bahkan baru bertemu hari ini." Ucap Hinata. Ia sadar sekarang degup jantungnya bertambah cepat.

"Apa salahnya?" Tanya Naruto.

"Kau harus menemukan alasan yang tepat untuk menyukaiku." Hinata mengalihkan pandangannya pada gedung sekolah konoha.

"Apa cinta butuh alasan? Yang aku tahu, aku hanya menyukai mu." Jawab Naruto ringan.

Hinata tersenyum meremehkan. Ia kemudian melihat Naruto yang tak berhenti menatapnya. Tatapan yang rasanya berbeda. Manik saphire itu seakan menyihirnya. Sejuk, teduh, Hinata, ada apa dengan mata itu? Kenapa kelihatan begitu.. Sampai ia..

DEG

Apa ini? Ada sensasi aneh menjalar diseluruh tubuhnya. Menggetarkan hatinya dan membuat lidahnya mendadak kelu. Wajah di depan nya jadi nampak sangat tampan. Dan bahunya yang tegap. Ia yakin pria itu punya bentuk tubuh yang bagus. Seperti nya ia jadi ingin bersandar disana. Hey! Barusan apa yang Hinata pikirkan!

"Hey! Jangan memandangku begitu, aku tahu aku mempesona." Gumam Naruto. Ia justru membalas tatapan Hinata.

Hinata tersadar dari lamunannya, buru buru ia menghapus semua yang baru saja dipikirkannya. Tapi.. tidak bisa, ia bahkan tidak bisa berhenti menatap wajah Naruto yang bahkan benar benar kelihatan tampan. Apa ia masih akan mengelak disaat seperti ini?

"Apa kau juga menyukaiku?" Tanya Naruto.

Jantung Hinata jadi berdegup lebih cepat, sangat cepat, lebih cepat dari sebelumnya. Ia mencoba menghentikannya. Sampai ia tak sadar seseorang mengambil kesempatan saat ia tengah bingung. Sesuatu yang lembut menempel di bibirnya. Yang sebelumnya pernah dirasakannya. Naruto menciumnya?

Naruto melumat bibir ranum milik Hinata. Ia melumatnya perlahan dengan penuh kasih. Perlahan namun pasti. Ia memasuki mulut gadis yang tengah membelalakan kedua matanya. Lidahnya menjajah mulut gadis itu.

Hinata terkejut, kenapa ia tak bisa melawan sama sekali. Ia merasa sangat menikmatinya. Semua perlakuan lembut di bibirnya yang sempat membuatnya tersentak. Ia benar benar menikmatinya, saat lidah itu mengabsen gigi gigi putih nya. Perlahan ia menutup matanya, membalas ciuman hangat itu.

'Rasanya lebih manis dari pada coklatku.' Gumamnya dalam hati.

Hinata mengalungkan tangannya di leher Naruto. Dan kali ini Naruto memeluk pinggang gadis itu. Begitupun Hinata yang semakin mengeratkan dirinya pada Naruto. Seakan tidak ingin mengakhiri ciuman mereka.

Naruto melepaskan ciumannya. Walau ia masih belum puas, tapi ia sudah kehabisan nafas. Ia menghirup nafas dalam dalam lalu melepaskan kalungan tangan Hinata darinya dan tangannya yang sempat memeluk pinggang Hinata.

"Huft.. Boleh aku melakukannya lagi? Aku.."

Belum selesai Naruto bicara, Hinata sudah memotongnya dengan sebuah kecupan singkat di bibir Naruto. Pipi Naruto merona. Begitupun Hinata. Gadis yang sekarang sudah tak bisa lagi membohongi perasaanya. Ia harus mengatakan yang sejujurnya juga kan? Yah, sedikit sikap gengsi tetap membuatnya kelihatan seperti gadis yang dihormati.

"Aku tak bisa bilang aku juga menyukaimu. Tapi kurasa kita bisa mencobanya bukan? Dan kau harus berjanji tidak akan bertindak lebih dari ini. Tak akan menyakitiku. Kau mengerti kan?" Ucap Hinata. Ada sedikit unsur kegengsian nya disana. Dan juga, terdengar seperti sebuah permintaan. Apa seorang Naruto Uzumaki bisa menepati janjinya?

"Yah, tak lama lagi aku akan membuatmu mengatakan kalau kau juga m

enyukai ku."

Naruto tersenyum. Dengan lembut, Naruto mencium gadis itu lagi. Ia memeluknya erat, seakan tak ingin ada jarak yang memisahkan mereka. Mereka benar benar dekat.

Wajah Hinata merona merah, ia membalas ciuman Naruto. Sedikit membuka mulutnya, sampai lidah Naruto kembali memasuki mulutnya. Membiarkan pertukaran saliva terjadi saat lidah mereka sama sama bertemu. Naruto tersenyum dalam hatinya. Sementara Hinata, ia benar benar menikmatinya. Meski ia masih tak paham mengapa ia bisa jatuh cinta secepat ini pada seorang pria. Hanya karena sebuah ciuman. Ya, Hinata memang menyukainya. Tapi, apa sudah sejauh perasaan istimewa itu? Kenapa pikirannya begitu berani mengucap kata 'Cinta' yang bahkan baru kali ini dirasakannya.

"Aaaaaaaa... Apa ini?" Suara cempreng seorang perempuan terdengar jelas di telinga dua insan yang tengah merasakan cinta. Buru buru mereka menghentikan ciuman mereka.

"Ka-ka-kalian? Kalian bisa dihukum karena ciuman di tempat umum tahu gak. Oh Gosh.. " Sakura mendekati Naruto dan Hinata, diikuti dengan pria bersurai merah di belakang Sakura.

Naruto menggaruk tengkuk lehernya. Sementara Hinata mengulum senyumnya mencoba mencari alibi yang tepat.

Sakura menggelengkan kepalanya. Ia benar benar tak menyangka akan seperti ini jadinya.

"Selamat ya," Ucap Gaara Sabaku. Teman lama Hinata sekaligus rekan kerja sama Sakura.

"What? Gaara, mereka itu baru aja ciuman di tempat umum. Kenapa dikasih selamat?"

"Mereka kan jadian. Iya kan? Sudahlah Sakura. Mereka dimaafin aja." Gaara menerka tapi tak ada yang mengangguk.

"Ok. Kali ini aku tidak akan laporkan pada Kakashi-sensei. Tapi, kalau sampai ketahuan lagi. Kalian akan.."

"Iya Haruno, si asisten Do-sen." Potong Naruto. Sakura mengerucutkan bibirnya dan melipat tangannya di depan perut.

Entah sejak kapan ada seorang mahasiswi yang lewat menuju perpustakaan. Gaara menariknya dan langsung mencium bibir gadis itu. Mata gadis itu membulat. Begitupun Sakura dan Hinata yang super terkejut. Sementara Naruto hanya menyeringai kecil.

PLAKK

Satu tamparan tepat mengenai pipi kiri Gaara. Ia meringis kesakitan. Mahasiswi itu pergi begitu saja tanpa pamit (helou! Ngapain juga pamit-,-). Hanya satu kata yang sempat terdengar.

"Brengsek!"

PLAKKK

Satu tamparan lagi tepat mengenai pipi kanan Gaara. Sekarang wajah Gaara sudah semerah tomat.

"Sakura! Kenapa ikutan menamparku?" Ucap Gaara sambil meringis memegang kedua pipinya. Naruto dan Hinata terkekeh melihatnya.

"Kau membuatku malu tahu. Perempuan yang tadi kau cium itu anak kepala sekolah. Ino Yamanaka. Bagaimana jika dia mengadukanmu dan dia juga melibatkan aku. Aku bisa dipecat dari jabatan ku." Sakura meluapkan amarahnya. Ia benar benar kesal.

"Hey, bukannya teman mu juga harus dihukum, dia berciuman di tempat umum." Ucap Naruto yang kini tanpa ragu merangkul Hinata. Gadis itu juga sama sekali tidak keberatan. Meski ia sempat menyembunyikan rona merah pada wajahnya.

"Issh.. kalian semua harus banyak minum air putih, agar pikiran kalian itu sejernih air putih." Timpal Sakura sambil menunjuk kepalanya sendiri. Gaara mendengus kesal dan menarik Sakura lalu mendekatkan wajah mereka.

"Hey! Lepas." Sakura menggeleng kencang saat tangan Gaara menyentuh dagunya.

"Wah, sebaiknya kita pergi ya. Ayo Uzumaki-kun jangan mengganggu mereka." Hinata langsung menarik tangan Naruto dan pergi begitu saja meninggalkan Sakura dan Gaara disana.

"Kau mau apa?" Tanya Sakura dengan susah payahnya ia bicara. Gaara masih menggenggam tangan kanan Sakura erat. Yah, wajah mereka sangat dekat. Sekarang, hawa panas menjalar di kedua pipinya.

"Menciummu. Itu saja." Jawab Gaara.

"Pft.. Kau tak bisa melakukan itu, kau lupa ya.. kau kan suka pada Hinata. Iya kan?" Sakura mendecih meremehkan.

Gaara menurunkan tangannya. Dan kini Sakura bebas.

"Jangan bersikap munafik. Aku tahu kau masih menyukainya sampai sekarang. Kau tak bisa dengan mudah berhenti menyukainya. Dan sekarang dia sudah jadi milik orang lain." Ucap Sakura lagi. Yes, iya menang sekarang. Tapi seringai itu.. Harusnya ia melarikan diri setelah berkata seperti tadi. Perasaanya benar benar tidak enak. Apa sesuatu akan terjadi padanya?

"Kau salah, ia akan jadi milikku nanti." Jawab Gaara sambil menyeringai. Matanya tak pernah lepas menatap gadis yang sempat tersenyum meremehkannya. Ia pun mendekatkan lagi wajahnya ke wajah gadis itu. Menguncinya dengan kedua tangannya di dinding. Benar benar dekat sampai gadis itu hanya bisa terkejut sambil membelalakan matanya.

"Dan kau terlalu banyak bicara." Lanjut Gaara, perlahan ia membenamkan wajahnya pada wajah gadis itu. Lalu mengunci mulut itu dengan mulutnya dan sebuah ciuman singkat.

"Shit. Whataya...?" Kesal, Sakura menginjak kaki Gaara dengan sangat kencang. Gaara meringis kesakitan untuk kesekian kalinya.

"Hih.. Kau mengerikan, pantas ia tak mau denganmu." Sindir Sakura tanpa menatap Gaara. Ia tidak tahu apa sekarang pipinya sudah merona merah karna hawa panas kembali menjalar di wajahnya. Menyadari Gaara telah berhenti meringis, matanya membulat waspada. Dengan cepat ia berlari ke arah tangga. Menyusul Hinata dan Naruto yang mungkin telah sampai di lantai 3.

"Cih... Awas saja dia." Gumam Gaara, lalu berjalan pelan berniat menyusul mereka juga. Entah apa yang direncanakannya. Seringai itu tak pernah lepas dari wajahnya.

.

.

THE END

.

.

.

.

.

or TBC ?

..

...

...

...

...

...

...

...

...

...

Thanks For Reading. Thanks For Reviewers. Thanks For Silent Readers. Thanks For All. I love You All so much! :* XD.

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

..

See you in another Stories.

.

..

..

..

Jangan lupa buat kasih komentar di kotak review nya ya! Yang mau tambahan chapter mana suaranya? Fict ini bakal aku lanjutin kalo banyak yang minta tambahan chapter. Arigatou Minna-san!