Genre: Fantasy and Mystery (?)

Pairing: Taoris/Kristao/Fantao, others

Cast: - Huang Zitao

Wu Yifan

Zhang Yixing

Xi Luhan

EXO Member's

Jung Yunho (DBSK)

Shim Changmin (DBSK)

Park Yoochun (JYJ)

Rate: M (for save)

Summary : Mereka para manusia, menyebutnya demikian. Makhluk mitologi kuno bertaring yang memiliki kekuatan supranatural yang eksistensinya hingga kini masih dipertanyakan oleh manusia. Banyak yang percaya mereka ada, tapi tidak sedikit pula yang menolak jika makhluk terkutuk itu pernah hidup.

Warning: OOC, Boyslove a.k.a Yaoi, alur loncat, typo(s), misteri, dll

Darkness Fear

(2 of 4)

.

.

Silahkan tinggalkan page ini jika anda tidak berkenan

Dengan para cast dan warning-nya

.

Menerima Segala kritikan dan saran yang bersifat membangun

Tanpa menghancurkan semangat dan imajinasi author

.

Enjoy the story

.

.

.

Awalnya Huang Zitao mengira bertemu dengan seseorang yang menyadari keberadaannya adalah sesuatu yang paling ia harapkan. Tapi semakin lama ia semakin merasa jika menyeret Zhang Yixing ke dalam permasalahan hidupnya kemungkinan besar adalah kesalahan. Zitao tidak ingat kapan terakhir kali ia bisa merasakan terpaan hangat sinar matahari melingkupi setiap jengkal pori-pori kulitnya, ia tidak ingat kapan pastinya terakhir kali ia bercengkrama dengan keluarga, berangkat sekolah setiap paginya ataupun pergi jalan-jalan bersama sang kakak sepupu. Sejujurnya ia bahkan lupa dimulai dari kapan ia sampai tidak bisa berinteraksi dengan siapapun. Zitao lupa kapan tepatnya semua kejadian ini menimpa hidupnya yang semula ia kira begitu tenang dan baik-baik saja. Zitao berpikir ia telah melupakan segalanya dan ia memilih untuk tidak ingin berusaha mengingatnya kembali. Karena bagaimanapun, ada beberapa titik ingatan kusut yang tidak ingin ia ingat ataupun ia simpan di sel-sel otaknya. Begitu menyakitkan, terlanjur rusak, dan ia ketakutan.

Tapi ada saat-saat tertentu dimana semua ingatan-ingatan itu bergulir pelan, merambat, mengalir di setiap aliran gradasi warna-warna pucat di bawah kulitnya, hingga memaksa pendar mata miliknya meredup, dengan tetesan bening turun melewati pipinya. Zitao kemudian tersadar jika banyak sekali kesalahan yang masihlah tertinggal di belakang tanpa adanya pelurusan sedikitpun. Sewaktu-waktu, Ia mengamati kehidupan yang telah ia tinggalkan dan mulai merasa buruk manakala melihat kekosongan besar yang ada di sana. Kelurganya, Baba dan Mama Huang mencoba untuk menutupi setiap lubang yag menganga walau segala cahaya di hidup mereka telah di bawa pergi oleh Zitao sendiri. Kawan-kawan di sekolahnya, teman sekelas, bahkan Luhan sebagai kakak sepupu dan sahabat satu-satunya yang pernah ia punya, -mereka menjalani hidup sebagaimana mestinya. Jikalau ada ruang kosong yang disediakan oleh mereka sebagai tempat untuk ia tinggali, rasa kehilangan itu hanyalah berada di sudut-sudut ruang tergelap, tidak nampak.

Seharusnya seperti itu.

Sampai pada suatu ketika, Zitao pernah melihat Luhan menangis di kamarnya yang gelap, dengan bibir meracau akan rindunya sang kakak pada sosok dirinya, ataupun pemandangan bangku kosong dan sunyi tempatnya ia duduk di kelas. Teman-temannya membiarkan bangkunya tetap utuh, bersih tanpa penghuni lain yang menempatinya, meskipun ada sekitar 2 anak baru ditambahkan di kelasnya.

Zitao setelahnya tahu...

Mereka semua menunggu ia untuk kembali

Mereka percaya ia akan pulang walaupun sudah 3 bulan lebih tanpa kabar apapun

Dan Zitao memutuskan untuk berhenti bersembunyi dengan adanya sosok Zhang Yixing sebagai harapan terakhirnya. Ia ingin pulang dan kembali menjalani hidup seperti sedia kala. Meskipun ia harus menghadapi sesosok eksistensi lain yang hingga kini entah apa alasannya, begitu terobsesi untuk mengurungnya dalam sangkar besi dan melakukan berbagai usaha agar Zitao tetap berada dalam genggaman tangannya.

.

.

.

"K-kau ini sebenarnya apa?" bisik Yixing dengan mata terbelalak syok mengarah pada sosok Zitao. Wajahnya pucat pasi seolah ia tengah berhadapan dengan hantu atau sejenisnya. Padahal penampilan Zitao tidaklah seburuk itu.

"Aku Huang Zitao."

"BUKAN!"

Zitao terlonjak kaget mendengar teriakan Yixing yang begitu tiba-tiba tersebut. Ia menunduk karena merasa bersalah dengan diikuti remasan-remasan kecil pada ujung seragam sekolah yang ia kenakan.

"Setahuku, Huang Zitao yang asli telah hilang 3 bulan yang lalu. Lantas kau ini apa? Orang pendek tadi bahkan tidak bisa melihat sosokmu ini." sambung Yixing dengan nada naik turun. Mulai frustasi menghadapi situasi yang menurutnya sangat ganjil tersebut. Ia bahkan sampai melupakan sosok 'pendek' yang sebelumnya telah memergoki dirinya hingga dengan mudahnya menyebut sosok itu menggunakan panggilan sesuka hati.

Tadi tahu-tahu saja, ia pergi tanpa mengucapkan apapun, langsung berjalan pulang menuju rumah dikarenakan hujan sudah mereda hanya menyisakan gerimis-gerimis kecil, dengan sosok Huang Zitao yang entah sejak kapan dengan setia mengikutinya dari belakang. Yixing merasa ia sudah tidak waras karena membiarkan sesosok 'makhluk' tanpa tahu jenisnya apa, mengintili dirinya sampai rumah dan bahkan sekarang tengah berada di kamarnya.

"Gege... " cicit Zitao dengan nada bersalah. Yang sejujurnya telah sukses (lagi-lagi) meluluhkan perasaan Yixing. Sejak kapan Zitao pandai menjinakkan hatinya?

Yixing mengernyit kemudian menggelengkan kepalanya pelan. Merasa bodoh sendiri karena tadi ia sempat berpikiran bahwa ia mengalah karena tanpa sadar telah menyimpan hati untuk Zitao. Hey, ia hanya terpesona bukan karena tertarik atau sejenisnya.

"Baik. Ceritakan semuanya dari awal kenapa kau bisa berubah menjadi makhluk transparan seperti ini. Kau tidak benar-benar sudah mati-kan?" tuturnya melunak. Bibirnya melengkung naik, memberikan senyum tipis pada Zitao. Dan tidak bisa mencegah debaran jantungnya tatkala Zitao membalas senyumnya dengan tak kalah manis.

"Secara teknis, se-sebenarnya aku masih hidup dengan ragaku tertidur di tempat yang berada jauh dari sini. Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba aku bisa terpisah dengan ragaku t-tapi berkat hal inilah aku sedikit merasa bebas." jelas Zitao dengan gumaman pelan di kalimat terakhir. Ia duduk gelisah di sebuah kursi tepat di depan Yixing yang saat ini duduk dengan posisi menegang di pinggir ranjang.

"Dimana ragamu? Apa yang sebenarnya terjadi, Tao-er?" tanyanya setengah menuntut. Ia tidak tahu kenapa bisa bersikap seperti ini kepada orang asing, terlebih seseorang yang baru di kenalnya beberapa jam yang lalu. Ia hanya, merasa ia perlu mengambil tanggung jawab akan masalah yang tengah Zitao hadapi. Kenapa?

Entahlah, Yixing juga tidak tahu.

"Di kastil. Kastil para vampire."

Yixing tidak begitu mengerti apa maksud dari perkataan Zitao. Vampire katanya? Jikalau ia tidak mengingat untuk menghargai pemuda rupawan di depannya ini, Yixing sudah tertawa keras dengan diiringi seruan 'konyol' atau yang lebih parah lagi 'gila'.

"A-aku tidak berbohong, gege. Benar-benar ada vampire. Mereka-ah tidak, salah satunya saat ini tengah mengejarku untuk menangkapku. Aku takut, gege. Aku takut dia menemukanku dan mengurungku lagi." imbuh Zitao dengan wajah putus asa yang begitu kentara. Ia sudah tidak tahu harus bercerita dengan cara apalagi pada Yixing karena khawatir pemuda berdimple itu tidak mempercayainya. Ia takut, ia cemas jika Yixing menganggapnya gila karena bagaimanapun hanya Yixing-lah satu-satunya manusia yang bisa ia mintai tolong.

"Baik, jika memang vampire benar-benar ada, kau punya buktinya? Ini abad 21, Tao-er. Hal-hal mistis seperti itu sudah lama hilang dalam peradaban manusia modern seperti sekarang ini. Kau mengerti maksudku-kan?"

Sudah Zitao duga, pemuda di depannya ini tidak mempercayai ucapannya sedikitpun. Diam-diam Zitao tersenyum getir, mulai merasa jika semua hal ini sia-sia saja. Ia telah menemukan satu orang, tapi seseorang itu tidak mau percaya padanya.

"Geraman. Gege mendengarnya saat di sekolah." balasnya nyaris berbisik, kembali gelisah di tempat duduknya.

"Suara geraman itu?"

Anggukan pelan yang diberikan oleh Zitao membuat tubuh Yixing mendadak sekaku es. Ia ingat tentu saja. Masih segar di ingatannya jika berkat suara mengerikan itulah yang menyebabkan Zitao meringkuk ketakutan begitupula dirinya. Tapi benarkah? Bagaimana jika itu hanya suara-suara ilusi ciptaan halusinasi saja? Karena bagaimanapun, saat itu hujan dengan petir menggelegar keras.

"Dia mencariku, gege. Dia-Ukkhh!"

"Zitao!"

Tiba-tiba saja tubuh Zitao jatuh kesamping dan tersungkur dari tempat duduknya. Kedua tangannya gemetaran mencengkeram dada sebelah kiri. Yixing panik setengah mati hingga memaksanya untuk berdiri dan menghampiri Zitao yang kini meringkuk di lantai keramik.

"Z-zitao, hey... Kau tidak apa-apa?"

Zitao mengerang pelan diikuti remasan pada dadanya yang semakin keras. Ia merasakan jantungnya seperti tengah dicabut paksa hingga menyebabkan rasa sakit yang begitu menyiksa.

"Yi-yixing-gehh, ukhhh..."

"Bertahanlah, Tao-er. K-kau kenapa?"

Yixing ingin menangis sungguh. Ia gemetaran memangku kepala Zitao di pahanya dengan dibarengi elusan-elusan lembut di rambut hitam malamnya. Yixing tidak tahu harus berbuat apalagi, hatinya ikut perih melihat Zitao seakan menderita seperti itu.

"Wu Yi-Yifan... "

Setelah mendengar hal itu, Yixing mendengar suaranya sendiri berteriak histeris melihat tubuh Zitao lunglai di atas pangkuannya.

.

.

.

"Hen-hentikan! Ukhh, Kumohon... "

Zitao mendongak pasrah, mengiba dengan tetesan bening meluncur melewati pipi putihnya. Suhu tubuhnya naik, badannya panas, dan yang paling membuatnya tersiksa ialah sesuatu yang mengonyak kulit lehernya. Sesuatu itu menghujam semakin dalam diiringi geraman-geraman kecil sebagai tambahan. Ia ingin sekali memberontak namun apa daya kekuatan tubuhnya melemah drastis, lumpuh perlahan demi perlahan dengan rasa kesakitan yang semakin dalam.

"GRRRGGHHH - "

Kalung miliknya bersinar tiba-tiba. Semakin terang, semakin membutakan mata tepat bersamaan dengan tubuh yang sedari awal mengekangnya terlempar keras hingga menabrak dinding. Sosok itu menggeram kuat, mencoba untuk mendekat kembali namun lagi-lagi terlempar menabrak pintu.

Di ambang kesadarannya yang kian menipis, Zitao melihatnya. Dia melihat Wu Yifan mengangkat telapak tangannya ke depan, sedikit demi sedikit membentuk sebuah sinar kemerahan pekat layaknya darah. Sinar tersebut merasuk ke dalam tubuhnya hingga ia tidak lagi merasakan sakit seperti sebelumnya, namun berganti dengan rasa sakit lain yang berbeda, lebih dalam dan semakin menyakitkan. Diiringi dengan sepasang mutiara kembar merah darah memantulkan refleksi asing dari sebuah emosi yang sekalipun tidak pernah Zitao sangka.

"Sepertinya memang bukan aku yang selama ini kau harapkan untuk bisa menyentuhmu." bisik suara itu.

Dan tiba-tiba saja, sesuatu di dalam dirinya seperti terenggut paksa, menenggelamkannya dalam keabu-abuan yang rumit juga membingungkan tepat ketika matanya terbuka dengan langit malam sebagai latarnya.

.

.

.

Sesosok siluet tubuh bermahkotakan perak tampak terbias samar di bawah sinar cahaya lilin-lilin kecil. Tubuh kokohnya yang terbalut kemeja hitam dengan celana kain warna senada tengah sibuk menandai sosok lain di bawah kungkungannya. Bibirnya yang berwarna merah darah dengan hati-hati menyusuri setiap jengkal demi jengkal kulit lembut bagai bayi yang dimiliki oleh sosok sempurna tanpa cacat, sosok di atas ranjang empuk yang kini terpejam sunyi. Suara geraman lembut terdengar memantul di keramangan kamar ketika pria itu mulai mengendus, menjilat lalu menggigit kecil-kecil leher mulus milik sosok itu hingga dipastikan tidak akan lama lagi timbul bercak-bercak merah keunguan di sana. Namun, pria yang berperan sebagai pihak dominan itu sepertinya tidak peduli sedikitpun terbukti dengan tindakannya kini yang mulai membuka satu persatu kancing kemeja putih milik sosok dibawahnya menggunakan sebelah tangan, sedangkan tangannya yang lain sibuk membelai pipi putih bagaikan pualam walau sejujurnya sedikit tampak pucat.

"Zitao... " bisiknya disela-sela kegiatan sensualnya, dengan bibir penuh itu perlahan turun meninggalkan jejak-jejak kemerahan yang begitu kentara. Kedua bola mata yang awalnya berwarna emas berubah menjadi merah tatkala merasakan sebuah eksistensi lain berada di satu tempat dengannya. Geraman penuh ancaman terdengar, hingga pria berpakaian serba hitam itu menyingkir perlahan dari posisinya kemudian bergerak cepat ke arah sudut ruangan yang gelap.

"Apa alasanmu mengganggu kesenanganku, Oh Sehun?" desisnya berbahaya. Matanya berkilat tajam di keremangan, menyebarkan aura hitam yang meremangkan bulu kuduk bagi orang-orang yang merasakan. Namun tidak untuk eksistensi yang baru muncul tersebut. Ia sudah terbiasa tentu saja.

"Hyung, berhentilah. Kau bisa membunuhnya."

Brakk!

Sesosok tubuh terlempar dan menabrak meja hingga hancur. Sosok itu meringis kesakitan manakala tubuhnya terangkat membentur dinding, dengan sebuah tangan mencengkeram lehernya.

"K-kau hanya akan membunuhnya, Kris-hyung. Kalung itu melindunginya."

"Diam!"

Cengkeraman dipererat, hingga Oh Sehun merasakan lehernya seakan ingin patah karena tercekik kuat. Tapi bukan itu masalahnya. Ia berani berbuat nekat seperti sekarang, melawan pimpinan kelompok mereka, karena merasa tindakan ketuanya sudah diambang batas kali ini. Ia hanya ingin menyadarkan sang leader jika perbuatannya salah dan bisa saja mengancam keberadaan bangsa mereka. Benarkah hanya itu? Matanya yang berwarna abu-abu melirik sekilas ke arah ranjang, dimana terdapat sesosok tubuh tergolek pasrah dengan kemeja putih berantakan memperlihatkan bercak-bercak merah di bagian atas tubuhnya yang semula polos. Pemuda tampan berambut merah gelap itu akhirnya menatap miris. Hingga suara geraman syarat akan ancaman menyadarkannya dari lamunan singkat.

"Apa tujuanmu?"

Oh sehun memekik merasakan tubuhnya terlempar kembali dan kali ini menabrak dinding. Badannya remuk dan ia mengutuk keberaniannya tadi yang dengan nekatnya mengganggu sang pimpinan yang sangat sulit untuk diusik jika sedang bersama 'pasangannya'. Ganas dan kuat, Oh sehun sudah tahu hal itu. Jadi ia haruslah memberi alasan yang bagus jika tidak ingin kehilangan hidupnya.

"Dia hanya akan sadar jika kalungnya terlepas. Dan hanya Zitao sendirilah yang memiliki kehendak untuk melepaskannya atau tidak. Jangan memaksanya untuk kembali dengan menyentuh raga murninya, hyung. Kau tahu itu akan membahayakan nyawa Zitao."

Oh Sehun mencoba untuk tidak melakukan gerakan yang mencurigakan ketika mata tajam Kris menghunus dingin kearahnya. Ia bukannya takut, hanya mengikuti instingnya saja. Seorang vampire dibekali insting yang tajam untuk mengetahui mana yang lebih luat dan bukan tandingannya. Mereka bertahan dengan cara seperti itu.

"Aku tidak tahu kau begitu peduli dengan pasanganku." perkataan dengan nada berbahaya itu sedikitnya mampu membuat seorang Oh Sehun berdiri tidak nyaman di posisinya. Wu Yifan adalah satu-satunya vampire yang sanggup menggertaknya sedemikian rupa hanya dengan satu tarikan nafas (jika ia masihlah bernafas). Tidak heran jika anggota keluarga mereka bahkan vampire lain di luar sana tunduk begitu saja pada sosoknya yang mengerikan.

"Maaf aku mengganggu waktumu, Kris-hyung."

Mereka berdua menoleh bersamaan kearah pintu dimana terdapat seorang pria tinggi berambut hitam berdiri kaku dengan menggaruk lehernya pelan. Dan seketika ia terkejut saat matanya yang berwarna coklat terang menangkap siluet 2 orang dalam satu ruangan pribadi milik pimpinan mereka, minus satu orang lagi yang masih terpejam damai.

"Sehun, kenapa kau ada di sini?" ujarnya setengah berbisik. Matanya kembali fokus kearah Kris yang kini memandanginya dengan sorot mata menuntut. Pria tinggi itu sadar, jika ia tidak segera buka mulut, pimpinan mereka yang terkenal kejam itu tidak akan segan menghabisinya segera. Pria yang identik dengan naga merah itu tidak suka diganggu jika tengah berduaan dengan pasangannya.

"Kami mencium darah hunter, hyung. Aku dan Kai merasakannya saat kami berburu tadi malam. Aku ingin memberitahu segera tapi kau masih sibuk dengan ritual pribadimu dan tidak ingin diganggu." jelasnya dengan mata mengarah ke samping, tidak berani menatap langsung ke arah Kris.

"Ada hunter di kota ini." sambungnya setelah terjadi keheningan beberapa saat.

Hawa yang menyesakkan bercampur dengan suhu udara yang mendadak turun drastis membuat dua orang yang berada di sana selain Kris, ingin segera berlalu dan pergi secepatnya dari ruangan tersebut. Jujur saja, satu ruangan dengan Wu Yifan bukanlah perkara yang mudah jika sang empunya tidak dalam mood yang bagus.

"Chanyeol, ikut aku."

Kris perlahan menggerakan kakinya menjauhi Sehun setelah sebelumnya sempat melirik sejenak kearah Zitao yang terbaring sunyi di ranjangnya. Kedua kaki menapak tanpa suara ke arah pintu, tanpa apapun, melangkah melewati Chanyeol yang masih berdiri kaku di ambang pintu.

"Panggil Baekhyun dan Kyungsoo untuk menjaga Zitao. Aku tidak ingin seekor lalat kecil mencoba untuk mengambil pasanganku."

Dan tidak ada yang tahu jika Sehun berdiri diam dengan kedua tangan terkepal erat.

.

.

.

Ada dua hal di dunia ini yang ditambahkan Yixing dalam daftar 'tidak terduga' sebagai hal yang tidak ingin ia lalui karena jelas-jelas merubah hidupnya. Pertama, pertemuannya dengan Zitao di hari pertama ia pindah sekolah yang kabar baiknya, itu terjadi kemarin. Kedua, keberadaan Zitao yang selalu membuntutinya setiap saat kemanapun ia pergi bahkan di sekolah, dan itu dimulai hari ini. Yixing nyaris saja berteriak layaknya orang gila jika tidak mengingat ia masih berada di jalanan umum menuju sekolahnya. Dengan lagi-lagi Zitao yang mengikutinya dengan wajah menunduk. Sejak semalam ia tak sadarkan diri dan bangun keesokan paginya (Yixing belum pernah mendengar ada roh yang pingsan, jadi ia agak ragu) pemuda itu berubah menjadi pendiam dan tidak mengatakan sepatah katapun pada Yixing. Walau sejujurnya sejak awal ia tak banyak bicara, namun Yixing sadar jika ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi pada Zitao.

Haruskah Yixing yang bertanya terlebih dahulu? Tapi itu pastilah ide yang terdengar buruk karena ia sadar mereka masih berada di tengah keramaian.

Diam-diam Yixing menghela nafas pelan dan mulai sakit kepala memikirkan berbagai peristiwa ajaib yang telah menimpa dirinya kurang dari 48 jam. Jadi selanjutnya apa?

"Selamat pagi, Zhang Yixing."

Pemuda berdimple itu menoleh ke arah samping kiri dan mendapati seorang pemuda pendek berjalan menghampiri dirinya. Rasanya Yixing familiar dengan sosoknya yang tampak berwibawa namun sedikit angkuh tersebut. 'Oh, orang yang kemarin.' batinnya dengan senyum puas karena telah berhasil mengingat.

"Ah maaf, aku belum memperkenalkan diri ya? Aku Kim Junmyeon, siswa tingkat dua sama sepertimu. Kau bisa memanggilku Suho. Aku menjabat sebagai ketua OSIS di sekolah ini jadi jangan salah sangka darimana aku mengetahui nama lengkapmu." pemuda yang mengaku bernama Suho itu melempar senyum ramah ke arahnya. Sedangkan Yixing? Ia terlihat kalem. Bukan apa-apa hanya saja pertemuan pertama mereka tidaklah terlalu baik. Bahkan terkesan sedikit buruk.

"Salam kenal, Suho-ssi."

Setelahnya Yixing berlalu begitu saja, seperti kemarin. Tidak sadar jika pemuda satunya sedikit kesal menghadapi tingkahnya yang semaunya sendiri.

"Aku melihatnya, dibelakangmu."

DHEG

Yixing membeku ditiga langkah pertamanya. Wajahnya memucat dan secepat kilat ia berbalik dan menghadap Suho yang masih berdiri tenang.

"Zitao? Maaf jika selama ini aku berpura-pura tidak menyadari keberadaanmu."

Dan sekarang, giliran Zitao yang mengangkat kepalanya dan terbelalak kaget. Ada apa ini? Dimulai sejak kapan pemuda yang sedikit mengenal dekat dirinya itu mengetahui keberadannya? Kenapa ia tidak pernah menunjukkannya sedikitpun?

"Kau berusaha melucu ya, Suho-ssi. Aku masih mengingat ucapan sarkastikmu kemarin yang seolah-olah menuduhku gila. Dan sekarang kau mencoba untuk menguji kewarasanku?" ujar Yixing hampir terdengar datar. Ia menatap sinis ke arah Suho yang kini lebih memilih mengarahkan fokus kedua mata ke belakang tubuhnya, tempat Zitao berada.

"Tidak, aku bersungguh-sungguh. Jadi kumohon berhentilah menebar aura permusuhan padaku, Yixing-ah. Aku tahu aku sudah keterlaluan kemarin tapi lebih baik kita lupakan saja masalah itu sekarang demi kebaikan Zitao."

Yixing tidak tahan untuk tidak memutar kedua bola matanya mendengar pengakuan tiba-tiba tersebut. Kalau bukan pemuda dihadapannya ini seorang ketua OSIS, sudah sejak tadi ia bersikeras dan memberinya pelajaran. Dia fikir semudah itu melupakannya? Kemarin saja Yixing sempat menganggap dirinya sudah gila hanya karena dirinya seorang yang mampu melihat keberadaan Zitao.

"Bisa bicara sebentar? Kita pindah ke tempat lain yang lebih tenang."

Yixing mengerjapkan matanya pelan. Sungguh, ia baru saja bersikap bodoh dengan hanya berdiri mematung diikuti pikiran yang berseliweran kemana-mana. Setelah menghela nafas singkat, ia berbalik menghadap Zitao dan menggaruk lehernya canggung. Matanya memberi kode untuk meminta persetujuan dan selanjutnya ia hanya bisa merutuk dalam hati manakala melihat Zitao mengangguk, menerima usulan Suho yang dirasa Yixing tidak perlu. Baiklah, ia hanya kurang nyaman berada dekat dengan pemuda itu. Jika bukan demi Zitao, ia tidak sudi melakukannya.

"Kenapa Suho-hyung baru mengakuinya sekarang?"

Itu adalah kalimat pertama yang Zitao lontarkan setelah mereka bertiga pindah ke tempat yang sepi, taman sekolah. Mata pemuda itu menyorot sendu mengetahui kenyataan yang begitu mengejutkan itu.

"Sebelum kita membahas hal itu lebih jauh, aku ingin memperkenalkan seseorang padamu, Yixing-ah. Karena aku yakin Zitao sudah mengenalnya terlebih dahulu. Chen, keluarlah..."

Yixing nyaris saja memekik nyaring karena kaget mendapati seseorang yang tiba-tiba saja berdiri di samping Suho. Sosok pemuda berkacamata itu melambaikan tangannya pelan dengan senyum ramah menghiasi bibirnya.

"Halo, nama asliku Kim Jongdae, salam kenal Yixing-ah. Maaf karena telah mengejutkanmu seperti itu." ucap pemuda berseragam sama seperti mereka tersebut. Matanya beralih untuk mengerling singkat ke arah Zitao dengan lengkungan bibir yang sama.

"Halo, Zitao-er."

Apa yang bisa Zitao lakukan selain melebarkan matanya karena terkejut? Ia tidak menyangka seorang Kim Jongdae yang dikenalnya sebagai siswa pindahan tingkat dua beberapa bulan yang lalu itu mengetahui eksistensinya juga.

"Kalian berdua pasti bingung-kan? Dengan alasan yang berbeda tentu saja. Aku berharap setelah ini kalian tidak menganggapku gila atau semacamnya, terutama untukmu, Yixing-ah." Suho nampak menghela nafas singkat sebelum kembali menatap Yixing dan Zitao dengan pandangan serius.

"Sebenarnya aku adalah keturunan hunter dan Chen adalah seorang vampire."

Hening

Yixing membatu, begitu pula Zitao. Tapi bedanya Zitao hanya membulatkan matanya sebagai respon sedangkan Yixing harus terperangah dengan membuka mulutnya lebar-lebar. Yixing tetap bertahan di posisi itu selama hampir 10 detik hingga akhirnya ia tertawa keras dengan nada yang sedikitnya mampu membuat Suho emosi.

"Aku serius, Zhang Yixing." desisnya menahan kekesalan. Sekarang ia tahu apa yang Yixing rasakan saat kemarin ia terang-terangan meremehkan pemuda manis tersebut. Sial, seharusnya ia tidak memperdalam peran hanya untuk menjahili Yixing kemarin.

"Baiklah, aku mengerti. Jika kalian adalah Roh, keturunan hunter dan seorang Vampire maka aku adalah jelmaan siluman kuda putih bertanduk satu. Apa sebutannya? Unicorn?" balas Yixing sarkastik. Mulai mempertanyakan kewarasannya karena telah bertemu orang-orang aneh yang sama tak warasnya. Ia bisa gila bahkan belum genap 2 hari ia pindah ke sekolah barunya. Bagaimana jika bertahan sampai lulus nanti? Yixing tidak sanggup membayangkan bagaimana masa depannya kelak.

"Gege... " bisik Zitao pelan, menyadarkan Yixing akan reaksi berlebihannya tadi. Tangannya dengan perlahan menggenggam telapak tangan halus milik Zitao. Mengeratkan tautan tangan mereka tatkala Yixing menatapnya dengan pandangan minta maaf. Zitao tersenyum dengan begitu manisnya. Hingga tanpa sadar telah membuat Suho dan Chen yang ada di sana bersemu merah.

"Lalu kenapa kalian juga memberitahukan hal ini padaku? Aku hanya orang asing dan bukan siapa-siapa. Jika kalian sudah tahu keberadaan Zitao sejak lama, kenapa baru bertindak sekarang?" tanya Yixing. Dahinya berkerut dengan kedua mata mengunci intens kedua sosok di hadapannya. Suho sempat melirik ke arah Chen sebelum menjawab singkat.

"Kurasa kau dan Zitao bertemu bukan karena kebetulan, Yixing-ah. Apa kau seorang indigo?"

Yixing mengangkat sebelah alisnya lalu dengan ragu-ragu menggeleng pelan. Ia cukup yakin jika ia sebelumnya adalah manusia biasa. Ia tidak memiliki kekuatan supranatural layaknya para pemilik indera keenam. Lantas, kenapa ia bisa melihat sosok Zitao yang berbentuk roh? Benar. Ada sesuatu hal yang tidak beres.

"Dan untuk pertanyaan kenapa kami baru bergerak sekarang adalah karena ini sudah sampai pada batasnya. Awalnya aku memilih bersembunyi karena aku merasa masih belum siap untuk bertindak. Tapi sekarang, aku ingin mencoba untuk melakukannya, yaitu menyelamatkan Zitao." jelasnya dengan senyum menenangkan. Sebuah senyum tulus yang Suho berikan untuk sosok yang sudah ia anggap seorang adik.

"Terima kasih, Suho-hyung." balas Zitao dengan senyum tipis di paras rupawannya.

Chen berdehem singkat.

"Lebih baik kita bahas lanjutannya nanti. Aku takut ada seseorang yang memergoki kita di sini dan aku tidak punya kesempatan lagi untuk membantumu, Zitao-er." ujarnya dengan nada resah. Pemuda berkacamata itu tampak gelisah dengan mata coklatnya sesekali mengedar ke sekililing taman. Tindakannya itu sedikit banyak mempengaruhi mereka yang ada di sana hingga ikut merasakan hal yang sama.

Namun, tanpa mereka berempat sadari ada kilatan terang berwarna merah darah yang mengawasi mereka di kejauhan.

"Berkhianat eh, Kim Jongdae?" desisnya.

.

.

.

Kris melangkah tanpa suara menuju ke sebuah ruangan besar dengan banyak kursi-kursi empuk namun klasik dimana di sana sudah terdapat beberapa penghuni yang menempati. Ada setidaknya 4 orang duduk tenang dengan berpasang-pasangan. Mereka seketika berhenti saling 'mengganggu' manakala visual mereka menangkap bayangan sang pemimpin yang perlahan mendekat.

"Kemana Sehun?" pertanyaan berintonasi datar itu mau tidak mau membuat mereka saling pandang dengan perasaan was-was. Tidak sekali dua kali magnae mereka itu pergi diam-diam hingga menyebabkan Kris murka.

"A-aku kurang tahu, Kris-hyung. Semalam dia sempat pamit padaku untuk berburu sebentar. Tapi dia belum kembali sampai sekarang." jawab Baekhyun, Pemuda bermahkotakan pirang dengan iris biru gelap. Sekilas terlihat seperti seorang yeoja, jika tidak melihat tonjolan dibalik celana jins panjang yang dikenakannya. Dia adalah pasangan Chanyeol.

"Aku sempat bertemu dengannya di hutan tidak jauh dari kastil ini. Dia mengatakan ingin jalan-jalan sebentar sekaligus melihat situasi selagi Kris-hyung menyuruh kami untuk segera melacak keberadaan hunter." Kyungsoo menambahkan. Pemuda yang duduk tidak jauh dari Baekhyun itu melirik sekilas ke arah samping, tempat pasangannya duduk tenang.

Kris memejamkan matanya sejenak lalu beralih ke arah dua sosok yang tersisa di sana.

"Chanyeol, Kai ikut denganku malam ini." perintahnya mutlak. Tapi tidak dengan sesosok pemuda berambut pirang pucat yang tampak ingin sekali protes terlihat dari tatapan matanya saat ini.

"Jangan membantah, Kai." sela Kris sebelum sosok itu membuka mulut. Kai diam-diam mendengus lalu berdecak pelan. Merasa ia tidaklah memiliki kesempatan untuk membantah sedikitpun. Padahal ia telah merencanakan sesuatu hal untuk dilakukan malam ini.

"Ada apa, hyung?" tanya Chanyeol. Pemuda yang sudah seperti tangan kanan bagi Kris itu semakin bertanya-tanya dalam penasaran manakala kedua visualnya melihat manik keemasan milik sang leader berubah menjadi merah darah yang familiar.

"Kita akan 'berburu'."

.

.

.

Hidupnya saat ini memang biasa-biasa saja, namun Yixing mulai merasa yakin jika dirinya pernah melakukan kesalahan tak termaafkan di masa lalu. Jika tidak, kenapa harus dirinya yang terlibat dalam semua kekacauan ini terhitung hampir 48 jam ia baru beradaptasi dengan suasana asing di sekitarnya? Ia menduga bila semua kejadian yang menimpa dirinya sekarang adalah kutukan. Mengesampingkan akan keberadaan Zitao yang hampir setiap waktu menempel padanya, Yixing menyebut itu sebagai rasa syukur. Jika tidak bisa disebut sebagai anugrah yang sendirinya Yixing paham, telah membuat perasannya melunak. Bagaimana tidak? Senyum bak mentari itu menghangatkan setiap inchi bagian tubuhnya yang dingin akibat suhu udara yang minim dibawah rata-rata.

Malam hari. Sebuah bangunan kecil dekat persimpangan jalan, antara bangunan motel dan minimarket. Mereka berempat, dibawah biasan sinar lampu yang temaram, berdiri dibagian luarnya. Tampilannya seperti sebuah bar mini yang kerap kali dikunjungi orang 'baik-baik' karena Yixing menduga, tidak mungkin sebuar bar illegal dan tanpa perizinan berdiri dengan tenang di keramaian seperti ini. Yah, keramaian jika mereka tidak memilih waktu tengah malam untuk berkunjung.

Berikan satu alasan untuk Yixing kenapa ia harus ikut ambil bagian dalam kunjungan ini. Terlepas akan fakta jika mereka besok libur sekolah sehingga ia tidak perlu merasa dirugikan.

"Luhan-ge ada di dalam?" tanya Zitao untuk kesekian kalinya, dengan mata berbinar penuh harap disertai lengkungan bibir yang cantik.

Ah, benar...

Yixing ingat sekarang, karena Zitao-lah ia rela untuk bergabung.

"Ya, Tao-er. Kau akan bertemu dengannya sebentar lagi. Tapi ingat dengan apa yang sudah kita bicarakan sebelumnya. Kau mengerti kan?"

"Baik, Suho-hyung."

Mereka beriringan melangkah masuk. Dan kesan pertama yang bisa Yixing simpulkan adalah suram sekaligus hening. Sedikit menakutkan sebenarnya, ini akhir pekan dan tidak ada pelanggan sedikitpun? Bar macam apa ini?

"Selamat datang, Kim Junmyeon. Kau membawa teman-temanmu?" seorang pria tinggi berwajah tampan nan tegas, melangkah mendekati mereka.

"Bagaimana kabarmu, Yunho-hyung? Maaf aku sudah mengundangmu jauh-jauh kesini. Ah ya, mereka semua temanku. Salah satunya ingin bertemu dengan tamu istimewa-mu malam ini."

"Aku baik-baik saja. Kalau begitu kita langsung saja ke belakang. Dia sudah menunggu."

Pria bernama Yunho itu sekilas melempar senyum tipis, sebelum berbalik dan menuntun mereka ke arah bagian yang lebih dalam dari bar. Yixing awalnya merasa ragu untuk mengikuti, tapi melihat Zitao yang sejak tadi begitu antusias untuk segera bertemu dengan kakaknya, ia merasa tidak tega. Jadi meskipun hatinya menjerit-jerit untuk segera pergi dari sana ia tetaplah mengikuti. Toh, sebelumnya Suho dan Chen sudah berjanji jika mereka semua akan aman di tempat ini dan ia tidak perlu cemas ataupun takut. Jikalau memang itu hanya jebakan, ia bersumpah akan menghantui mereka berdua seumur hidup. Siapa tahu ia nanti pulang tinggal mayat?

"Tempat apa ini sebenarnya?" bisik Yixing dengan pandangan mengedar ke sekeliling.

"Tempat rahasia." jawab Suho singkat.

"Rahasia?"

"Kau akan tahu sebentar lagi, Yixing-ah."

Mereka berhenti di sebuah ruangan dengan satu set sofa berada di sudut. Ada setidaknya 5 orang yang berada di sana dan Yixing mengenali salah satunya.

"Zitao, babypanda? Kau-kah itu?" Luhan berdiri dengan linangan air mata.

"Luhan-gege... " bisik Zitao. Mereka berdua perlahan-lahan mendekat kemudian berpelukan satu sama lain. Ruangan mendadak penuh haru, hingga tak ada satupun dari mereka yang berniat mengusik adegan kecil tersebut. Sampai sebuah suara datar mengintrupsi kegiatan mereka.

"Kenapa aku tidak terkejut melihatmu berada di sini, Oh Sehun?" ujar Chen dengan senyum dingin terpoles.

"Tidak perlu melakukannya, Jongdae-hyung. Karena aku juga tidak berniat untuk mencari tahu kenapa hyung lebih memilih datang bersama mereka daripada menjadi anak manis yang seharusnya diam di apartement seperti apa yang diperintahkan leader."

Secepat kilat Chen melompat dan menerjang sosok Sehun, hingga mereka jatuh terguling membentur lantai hingga retak. Mata Chen berkilat merah terang, taringnya memanjang dengan geraman yang tertahan.

"Tutup mulutmu, bocah. Kau berencana untuk mengkhianati kelompok kita?" desisnya berbahaya.

"Katakan itu pada dirimu sendiri, hyung. Kau berniat menusuk pemimpin kita dari belakang, benar? Oh ayolah hyung, jangan munafik di hadapanku. Kita sama-sama kotor di sini."

Bertukar posisi, Chen menggeram keras saat dirinyalah yang sekarang terbanting dengan Sehun mencekik kuat lehernya di lantai.

"Kkhhh! Aku tidak pernah mengkhianati siapapun. Tidak seperti kau yang terobsesi ingin mengambil alih kekuasan milik Wu Yifan."

Secepat kedipan mata, Sehun melempar tubuh Chen hingga menabrak tembok. Suara pekikan keras yang sejak awal terdengar sama sekali tidak mampu membuat mereka berhenti. Hingga dua diantara mereka bertindak cepat dengan mencekal lengan Sehun kuat. Satu diantaranya menghunuskan pedang warna perak ke leher Sehun. Bergerak sedikit, lehernya akan terpotong.

"Bertindaklah sesukamu, Oh Sehun. Tapi aku tidak menjamin kepalamu masih berada di tempatnya. Kau yang menawarkan diri pada kami, kau yang meminta, seharusnya kau yang mengikuti semua perintah kami. Jangan berfikir untuk bertindak bodoh dengan mengacau di tempat ini."

Yixing syok dan pucat pasi. Ia tidak mengerti kenapa semua hal di dekatnya berjalan tidak normal seperti sekarang ini. Ia mengedarkan pandangan dan melihat semua orang berdiri kaku, siaga dan waspada. Ia melihat Zitao gemetar ketakutan di pelukan Luhan, dan perasaan iri mendadak datang entah darimana. Ia gila! Semua ini membuatnya gila! Ia adalah pihak yang merasa terasingkan ditempat yang sama-sama asing pula. Ia berniat akan mengatakan sesuatu tapi seseorang mendahului niatnya.

"Yoochun, Changmin, sudah cukup. Lepaskan dia sekarang. Kita masih membutuhkan kekuatannya untuk nanti." perintah Yunho tanpa ingin dibantah. Dua orang yang dimaksud mendengus kasar sebelum menarik diri dari sisi Sehun. Sedangkan Chen dibantu oleh Suho untuk berdiri.

Mendadak hening

"Jadi adakah seseorang di ruangan ini yang bersedia membantuku keluar dari sini secepatnya? Aku merasa salah tempat."

Dan Yixing merasa dia benar-benar ingin mati saja tatkala semua orang memandanginya dengan raut wajah khas masing-masing. Terlebih Zitao yang entah sejak kapan sudah berdiri di depannya dan menyentuh tangannya lembut.

"Apa gege baik-baik saja?"

.

.

.

Zitao diam dan mendengarkan. Selebihnya ia hanya bergerak-gerak tidak nyaman ditempat duduknya manakala kedua netra hitamnya mengamati orang-orang itu berdiskusi. seperti merencanakan sesuatu untuk berbuat kejahatan namun diperhalus dengan belaian 'demi kebaikan manusia' ataupun 'untuk kedamaian'. Ia tahu, ia sudah menduga jika hampir semua orang di ruangan ini akan membantunya lepas dari belenggu Wu Yifan. Ia sebagai pihak alasan dasar di ruangan ini. Alasan untuk mereka percaya jika vampire seperti Wu Yifan haruslah disingkirkan di dunia ini. Alasan untuk meyakinkan mereka jika vampire kuat dan berbahaya seperti Wu Yifan, entitasnya harus dihilangkan. Hanya Wu Yifan seorang. Karena bagaimanapun, sebuah persekutuan akan mudah dikendalikan jika sang pimpinan tidak ada. Kejam, tapi hanya itulah satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk situasi di sebuah dunia dimana isinya berpenghuni dua makhluk beda jenis yang aslinya saling memburu satu sama lain.

Dengan bibir tergigit pelan, mata Zitao bergulir kearah kiri, tempat seorang Oh Sehun duduk lalu menoleh ke samping kanannya, dimana terdapat Kim Jongdae duduk diam dengan raut wajah datar. Zitao mengenali mereka berdua. Seingat Zitao, Oh Sehun adalah bagian dari kelompok vampire walau saat ia dikurung di kastil itu dulu, ia hampir tidak pernah berbicara dengannya. Entahlah, sesuatu di dalam hatinya mengatakan jika Oh Sehun layak untuk dihindari. Ia mengenal hampir semua vampire yang tinggal di kastil, namun ia tidak pernah ingat jika Kim Jongdae adalah bagian dari mereka juga. Sebenarnya, Ia tidak ingat atau sudah melupakan?

"Gunakan ini. Tusuk jantungnya dengan pisau ini maka dia akan tertidur untuk jangka waktu yang lama. Kita semua di sini sudah sepakat untuk tidak membunuhnya karena tujuan kita hanya untuk menyelamatkan Zitao jadi melumpuhkan Wu Yifan untuk sementara sudah cukup." ujar Yunho dengan tenang, cukup membuat Zitao tersentak kecil dari lamunan singkatnya.

"Kenapa kita tidak menghabisinya saja? Itu terdengar lebih baik."

"Silahkan kau mencobanya seorang diri, Shim Changmin-ssi, karena aku tidak berniat membantu jika kau benar-benar melakukannya. Asal kalian tahu, Kris-hyung bukan vampire biasa seperti pada umumnya. Aku sarankan untuk berpikir ribuan kali untuk membunuhnya jika bertindak tanpa bantuan kami, para vampire juga. Kabar baiknya adalah vampire tidak mungkin bekerja sama dengan para hunter untuk membunuh bangsanya sendiri kecuali ada persekongkolan di belakangnya. Dan aku tidak berniat untuk melakukan hal itu." jawab Chen dengan nada datar.

"Berapa lama ia akan tertidur?" tanya Yixing, mencoba ikut masuk dalam pembicaraan. Matanya mengedar singkat sebelum jatuh ke arah Zitao yang tengah menunduk.

"Entahlah. Mungkin seratus tahun atau lebih. Cukup untuk memisahkannya dari Zitao. Waktu seratus tahun termasuk singkat untuk para vampire yang kenyatannya bisa hidup hingga berabad-abad." jelas Suho dengan mata melirik ke arah Chen dan Sehun.

Zitao semakin kuat menggigiti bibir bawahnya tanpa sadar. Ada desiran aneh di dadanya ketika mengetahui jika Wu Yifan akan segera ditidurkan. Itu terdengar lebih baik daripada harus membunuhnya, benar-kan? Ia akan segera bebas setelah ini karena pria itu tidak akan lagi mengurungnya. Lagipula, 100 tahun adalah waktu yang panjang untuk umat manusia seperti dirinya. Jika Wu Yifan terbangun, Zitao sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Benar, itu begitu melegakan. Lantas kenapa seperti ada batu sebesar kepalan tangan yang mengganjal relung hatinya? Menyumbat aliran tenang perasannya? Ini membingungkan.

"Hey Tao-er, kau tidak apa-apa?" bisik Yixing dengan nada khawatir. Matanya sempat bertukar pandang dengan Luhan sebelum kembali menatap ke arahnya. Tidak ingin menambah kekhawatiran, Zitao mengangguk lemah.

Setelah beberapa lama terjadi keheningan yang ganjil, seorang pemuda berambut coklat akhirnya bersuara.

"Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu, Tao-er?" Zitao menoleh ke arah Kim Minseok atau Xiumin kemudian mengangguk. Satu lagi hal yang mengejutkan, Xiumin adalah sahabat Luhan di sekolah dan ia baru tahu jika pemuda manis itu adalah seorang keturunan hunter juga, sama seperti Suho. Mereka saudara sepupu.

"Kapan pertama kali kau bertemu dengan Wu Yifan?"

Zitao membatu. Dahinya berkerut samar dengan pandangan tiba-tiba hilang fokus. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum mendadak kosong mengarah ke depan.

"Aku tidak tahu." bisiknya.

"Katakan padaku, Tao-er. Apa kau mengingat segala sesuatu yang berhubungan dengan hidupmu? Dengan sangat jelas?" tanyanya lagi.

"A-aku... "

Hening

"Aku tidak begitu ingat, hyung. Aku bahkan tidak yakin dengan semua ingatan yang aku miliki belakangan ini apakah seluruhnya benar atau hanya sekedar ilusi." jawaban itu membuat Xiumin menghela nafas pelan sebelum beralih ke arah Suho.

"Waktunya sudah hampir habis. Jika kita tidak segera bergerak maka aku tidak bisa menjamin Zitao sanggup bertahan lebih lama lagi atau tidak. Jiwanya terlalu lama terpisah dari raganya, akan sangat berbahaya jika hal itu terus berlanjut." jelasnya.

"Aku tahu, hyung. Maka dari itulah aku dulu menyarankanmu untuk meminta bantuan pada mereka. Untuk sementara, selama ada kalung itu, Zitao akan baik-baik saja." Suho menatap sekilas ke arah Yunho, Yoochun dan Changmin yang sekarang ini tengah memisahkan diri dari mereka.

"Kalung apa?" tanya Yixing penasaran.

"Kalung turun temurun keluarga Huang. Berkat Xiumin, aku tahu jika kalung itu akan selalu menjaga Zitao dari segala macam gangguan." jelas Luhan.

"Maafkan aku, Lu. Aku telah menyembunyikan semua ini darimu setelah sekian lama. Kami sengaja melakukannya untuk keberhasilan rencana kami nanti." Xiumin menatap Luhan penuh penyesalan.

"Tidak apa-apa asalkan Zitao bisa sepenuhnya selamat, tapi apa kalian percaya pada mereka bertiga?" tanya Luhan dengan nada kurang yakin.

"Tidak. Tapi hanya mereka-lah yang bisa kita percayai untuk saat ini. Lagipula, ada sesuatu hal yang ingin aku pastikan." Suho menatap dengan penuh perhitungan ke arah Zitao yang kini sosoknya terdiam membisu.

"Hal apa?"

"Luhan-hyung, apa kau sudah mengenal Oh Sehun sebelumnya?"

"Tidak, aku baru mengenalnya tadi. Jujur dia membuatku gelisah dan tidak nyaman. Apa dia selalu seperti itu, Jongdae?" Luhan menoleh ke arah Chen yang kini fokus matanya terus tertuju pada sosok Sehun yang juga ikut menyingkir, sedang bersandar di daun pintu dengan mata tertutup. Pemuda itu menaikkan kaca matanya sebelum balas menatap Luhan.

"Aku tidak terlalu dekat dengannya. Di kelompok kami hanya dia yang tertutup dan tidak banyak berbicara. Baru-baru ini pemimpin kami menyuruhku untuk tinggal di luar kastil guna memantau aktivitas kalian, para manusia. Jadi aku semakin jarang bertemu dengan dia." jelasnya.

"Aku seperti mengenal wajahnya. Terasa familiar tapi entahlah, aku sedikit kurang yakin." gumam Yixing pelan. Dahinya mengernyit samar dengan pandangan menilai diarahkan ke Sehun, sang vampire termuda.

Zitao yang merasakan kegelisahan datang tiba-tiba, ikut melakukan hal yang sama. Ada sesuatu di dalam dirinya yang tidak ia pahami maksudnya seolah menggeliat tidak nyaman, tidak terkendali, dan ia setelahnya sadar jika keberadaan pemuda itu di ruangan ini sangatlah salah. Tidak seharusnya sang vampire berada di satu ruang dengan dirinya. Apa motifnya? Untuk ikut menyelamatkan dirinya-kah? Itu lagi-lagi terdengar salah.

"Chen-hyung, apa aku boleh meminta sesuatu?"

"Apa itu, Zitao-er?"

.

.

.

Seorang anak kecil melangkah begitu hati-hati dengan sebelah tangan menyibak sekumpulan semak belukar yang mengganggu pandangannya. Tidak jauh dari posisinya, terdapat seorang anak kecil lain yang tengah menangis di pinggiran air sungai kecil yang jernih. Duduk di atas sebuah batu besar dengan kedua tangan kecilnya sesekali mengusap mata dan pipinya yang basah. Anak kecil yang pertama, sempat memandang ragu sebelum dengan berani melangkah mendekati sosok kecil lain tersebut.

"Hey, kenapa kau menangis?" tanyanya penuh perhatian. Sang anak kecil berambut hitam menoleh terkejut mendapati ada orang lain yang bersama dirinya.

"Jangan menangis, nanti ikan-ikannya juga ikut sedih juga lho." sambungnya diiringi senyum lebar. Memperlihatkan dimple manis di masing-masing pipinya.

"Kau siapa?" balas anak yang satunya, tertegun.

"Aku penghuni hutan ini. Apa kau tinggal di perkampungan seberang sana?" anak manis berdimple itu langsung berbinar mendapati sang lawan bicara mengangguk kecil. Dia mendekat dan ikut duduk di sampingnya.

"Kenapa menangis?"

Hening

"Orang-orang bertaring itu menyerang lagi. Hiks, hiks... Mereka menyakiti para warga desa. Tadi malam banyak yang terluka dan meninggal." jawabnya dengan isakan lirih. Anak kecil yang baru datang terdiam sejenak sebelum jari telunjuk tangan kanannya terangkat dan diarahkan ke air sungai. Membuat air itu bergerak-gerak kecil hingga membentuk bulatan kecil terangkat dari permukaan air.

"Aku membuatkanmu gelembung-gelembung air, ini lihatlah, Indah sekali kan? Tapi jangan bersedih lagi. Aku tidak suka melihatmu menangis." ujarnya lembut. Si anak kecil mengangguk patuh lalu memandangi gelembung-gelembung itu dengan mata bersinar cerah.

"Iya, indah sekali. Bagaimana kau melakukannya?"

"Aku bisa melakukan hal lainnya juga. Lihat?" ia menggerakkan tangannya lalu membentuk sebuah gelembung besar dengan beberapa ikan di dalamnya, melayang-layang di udara.

"Wahhh hebat, aku bahkan tidak bisa melakukannya. Terima kasih sudah menghiburku eung... Siapa namamu?" ucapan yang polos diiringi senyuman manis itu membuat sang anak satunya terpanah hingga tanpa berkedip sampai beberapa detik. Senyum itu adalah senyum terbaik yang pernah ia lihat seumur hidup.

"Panda kecil, dimana kau~" sebuah seruan samar-samar terdengar. Sang bocah berdimple manis terlihat panik sebelum turun dari batu besar itu, diikuti anak di sebelahnya.

"Kau mau pergi?" tanyanya tidak rela dan terselip nada kecewa.

"Aku harus pergi sebelum temanmu melihat."

"Tapi kenapa? Bukankah kita juga teman?"

Ada rasa bahagia yang membuncah mendengar ia disebut sebagai teman. Bocah berambut coklat itu melepas sebuah kalung yang dikenakannya lalu ia kalungkan di leher anak kecil berambut hitam di depannya.

"Terima kasih sudah menganggapku teman. Kalung itu adalah tanda pertemanan kita. Berjanjilah untuk tidak melepasnya apapun yang terjadi. Sampai bertemu lagi, panda kecil..." setelah memberikan ciuman singkat di pipi, sang anak berlari memasuki hutan meninggalkan bocah satunya yang masih terdiam kebingungan.

"Kau berada di sini rupanya. Ayo pulang sebelum gelap, di sini berbahaya."

Sesosok anak kecil lain muncul tidak lama setelahnya. Anak berwajah datar itu langsung mengernyit mendapati temannya terpaku, seolah sibuk dengan dunianya sendiri. Mereka berdua tidak menyadari jika ada sepasang mata lain mengamati mereka dari kejauhan. Mata itu berkilat sendu melihat interaksi dekat keduanya.

"Seandainya aku bisa berada disampingmu sama seperti dirinya." bisiknya penuh harap.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Note : Ada beberapa yg tanya kenapa fic ini memakai sudut pandang Yixing juga? Well sebenarnya, ia memiliki pengaruh yg cukup besar dalam jalannya cerita ini. Sy sudah menyelipkan beberapa clue agar kalian semua tidak terlalu kebingungan dalam menghubungkan garis satu ke garis yg lain #opoiki -_-

Yah intinya, sy minta maaf jika moment Taoris-nya masih seupil tapi tenang saja deh, nantinya mereka bakal bermoment ria kok :v :v

Ah selain itu jgn pada bacok author ya? jika diri ini kemungkinan sudah tidak lagi sekilat dulu. Belakangan ini sy sibuk masalah ini itu di RL jadi kesempatan untuk ngetik dan berlanglang buana di dumay berkurang. Tapi akan sy usahakan... :')

Sankyuu buat perhatian dan partisipasinya~ sayang kalian guys :) :)

P.S. silahkan tinggalkan P.M bagi siapa saja yg berkeinginan utk ngebagi uneg2nya

Mind to Review?

- Semarang. 11:10 P.M -