Genre: Fantasy and Mystery (?)

Pairing: Taoris/Kristao/Fantao, others

Cast: - Huang Zitao

Wu Yifan

Zhang Yixing

Xi Luhan

EXO Member's

Jung Yunho (DBSK)

Shim Changmin (DBSK)

Park Yoochun (JYJ)

Rate: M (for save)

Summary : Mereka para manusia, menyebutnya demikian. Makhluk mitologi kuno bertaring yang memiliki kekuatan supranatural yang eksistensinya hingga kini masih dipertanyakan oleh manusia. Banyak yang percaya mereka ada, tapi tidak sedikit pula yang menolak jika makhluk terkutuk itu pernah hidup.

Warning: OOC, Boyslove a.k.a Yaoi, alur loncat, typo(s), misteri, dll

Darkness Fear

(3 of 4)

.

.

Silahkan tinggalkan page ini jika anda tidak berkenan

Dengan para cast dan warning-nya

.

Menerima Segala kritikan dan saran yang bersifat membangun

Tanpa menghancurkan semangat dan imajinasi author

.

Enjoy the story

.

.

.

Yixing terbangun dari tidurnya dengan nafas memburu. Keringat dingin menetes deras dari sekujur tubuhnya, terutama bagian pelipis yang saat ini begitu berkeringat, mengucur turun ke arah pipi putihnya. Gemetar, ia mengambil posisi duduk di ranjangnya dengan kedua netra kembar menjelajah kesekeliling kamar. Mencari eksistensi lain yang seharusnya satu ruang dengan dirinya malam ini, atau juga malam sebelumnya. Namun, raut wajah itu seketika pucat saat tidak mendapati 'penampakan' Zitao di dalam kamarnya. Turun dari ranjang, Yixing menyeret kaki telanjangnya menuju ke arah balkon kamar yang terbuka lebar. Ia mengernyit, baru sadar jika pintu itu ternyata menjeblak terbuka hingga mengirim hawa dingin yang basah ke seluruh penjuru kamar.

Dengan sedikit menggigil, Yixing menghampiri sosok Zitao yang saat ini termenung di dekat pagar. Mengamati dengan cermat bagaimana angin malam memainkan rambut hitam milik Zitao dari belakang. Untuk yang kesekian kalinya, Yixing terpanah. Ia tidak akan menyangkal lagi jika dirinya secara utuh telah tertawan oleh sosok rupawan tersebut. Ia mengakui jika seberapa kalipun mereka lahir kembali dan bertemu lagi untuk kesekian kalinya dalam keadaan yang berbeda atau dengan jarak yang sebegitu jauh-pun, Yixing akan selalu 'jatuh' untuk Zitao.

Seperti dulu...

Bibirnya seketika melengkung naik, hingga dengan hati-hati ia memperpendek jarak diantara mereka, dan berdiri sunyi tepat di samping Zitao. Diiringi dengan sapuan mata yang semakin intens memandangi wajah indah Zitao dari samping. Dan semakin memperlebar senyumnya tatkala Zitao menoleh ke arahnya dengan raut wajah yang sulit untuk diartikan, bahkan oleh Yixing sendiri.

"Gege, seseorang memanggilku... "

DHEG

Yixing mengalihkan pandangan ke arah samping dengan perasaan sesak yang entah datang darimana menghujam detak jantungnya. Ia tersenyum getir lalu kembali menatap sosok Zitao.

"Siapa?" tanyanya perlahan.

Zitao melangkah sunyi ke arah sudut pagar, berdiri dalam keheningan di sana bersamaan dengan angin malam yang kembali berhembus pelan, hingga beberapa menit kemudian suara lembut milik Zitao mengalun diantara mereka berdua.

"Aku tidak tahu, tapi entah bagaimana aku sangat merindukan suara ini, gege."

Yixing terdiam sebentar, sebelum dengan ragu-ragu bibirnya terbuka ingin mengatakan sesuatu hal yang sejak ia terbangun tadi, selalu berkocol di kepalanya dan mengganggu pikirannya untuk berkonsentrasi.

"Wu Yifan, seperti apa sosoknya?" Zitao bergeming, lalu berbalik menghadap Yixing dengan sedikit binar mata yang tersembunyi. Dan Yixing melihat itu semua dengan begitu jelas. Meskipun ia baru saja mengenal dekat sosok Zitao, bahkan tanpa pemuda panda itu sadari, hanya Yixinglah yang mengenal baik segala tindak tanduknya. Karena memang hanya Yixing yang sejak dulu 'melihat' dan mengamati. Semuanya masih sama, senyum, tawa khas-nya, pancaran mata yang begitu lugu hingga kehangatan tubuhnya. Ia tetap seperti Zitao yang dulu, yang pernah Yixing kenal.

"Dia kejam, menakutkan dan sering membuatku takut. Aku tidak suka tatapan matanya, gege. Seolah-olah ia mengerti semua hal tentang diriku yang bahkan diriku sendiri tidak begitu tahu." Zitao berujar lemah sekaligus menerawang. Namun binar mata itu masih setia di sana, tersembunyi apik di balik bayang-bayang keraguan. Dan Yixing, sekali lagi, ia paham.

"Kau membencinya?"

Hening. Zitao mematung. Ia menggiti bibir bawahnya berulang kali dengan sorot mata melirih. Seolah dirinya-pun tidak begitu yakin akan isi hatinya sendiri. Sejujurnya, seperti itulah yang Yixing tangkap dari gerak-gerik Zitao.

"Tao-er, jika Wu Yifan benar-benar ditidurkan. Apakah nantinya kau akan bahagia? Ah, tidak. Maksudku, apakah hatimu akan baik-baik saja?" tanyanya lagi.

Zitao memejamkan matanya perlahan sebelum berbisik lirih.

"Mungkin... Mungkin juga tidak."

.

.

.

Zitao berjalan tertatih-tatih dengan seekor anak kucing warna coklat yang berada di gendongannya. Ia meringis, menundukkan kepalanya untuk melihat luka gores yang cukup dalam di bagian lutut akibat benturan dengan aspal hitam tadi. Darah merah mengalir disela-sela celana seragam sekolahnya, yang tanpa Zitao sadari, sedikit robek di bagian lutut. Mencoba untuk mengabaikan rasa sakitnya, ia melangkah kembali untuk segera cepat-cepat sampai rumah dan membersihkan luka tersebut. Ia tidak mau orang rumah cemas dengan keadaan dirinya dan berakhir ia kena marah hanya karena menolong seekor anak kucing yang hampir tertabrak mobil. Sungguh, itu sama sekali tidak lucu. Terlebih ia tidak ingin makhluk lucu digendongannya menjadi sasaran.

Meong Meong

Zitao tersenyum. Semakin mengeratkan pelukannya pada si kucing manis saat merasakan tubuh kecilnya mengeliat. Namun, tiba-tiba saja langkahnya terhenti. Ia berbalik mencoba untuk mematahkan rasa awas yang sejak tadi menghantui pikirannya. Ada orang yang diam-diam mengikutinya di belakang, atau yang lebih parah, tengah mengawasi langkahnya.

Seketika Zitao merinding. Kembali mengedarkan pandangannya ke sekitar jalanan yang sepi. Terang saja, saat ini sudah waktu senja dimana matahari sebentar lagi kembali ke peraduannya, tidak heran jika jalanan di sekitar sana nyaris sepi. Tidak ada apapun yang mencurigakan, Zitao menelan ludah susah payah lalu berbalik untuk melanjutkan langkah sebelum...

"Aaaaaaaa..." ia berteriak kaget. Kakinya yang sakit dipaksa mundur kebelakang akibat adanya penampakan entitas lain yang tiba-tiba saja berdiri menjulang tepat di depan wajahnya sendiri. Zitao menatap horror sosok itu.

"K-kau, apa yang kau lakukan, hah?! Berhenti membuat orang jantungan!" bentaknya tanpa sadar. Lupa jika orang itu adalah orang asing yang baru pertama dilihatnya. Seperti tertiban bongkahan es, Zitao langsung tersadar.

"Ah, eung~ maafkan aku." imbuhnya merah padam, malu. Ia memberanikan diri untuk mendongak dan seketika langsung tertegun. Sosok itu, adalah entitas yang paling sanggup mencuri pandangannya dalam sekejap semenjak ia mengenal dunia. Wajah rupawan, perawakan sempurna, Rambut perak menawan, manik mata berwarna kuning keemasan yang begitu berkilauan, padahal jujur saja Zitao sendiri heran karena di sana cukup gelap, dan yang terakhir adalah tatapan mata miliknya. Tatapan itu...

Seolah memanggil jiwanya yang tertidur. Ia seperti terbangun setelah sekian lama terlelap dalam mimpi yang tak berujung. Hingga, memaksa detak jantungnya bertalu-talu lembut dengan perasaan hangat yang mengalir selaras ke seluruh bagian tubuhnya. Zitao mengernyit, ia kebingungan.

"Kakimu kenapa?"

Kembali tersadar, Zitao meringis pelan sebelum bedehem kecil, mengusir kecanggungan yang entah sejak kapan tercipta diantara mereka. Ia lalu mengeratkan pelukan pada si kucing dan setelahnya berujar pelan.

"Hanya terjatuh ke aspal karena kecerobohanku. Tapi sekarang, sudah tidak sakit kok." bohong besar. Terjatuh? Kecerobohan? Dan lagi, tidak sakit katanya? Hell. Zitao rasanya ingin segera kabur dan menyembunyikan diri.

Sosok di depan Zitao membisu. Matanya semakin intens mengamati Zitao, sedikitpun tidak peduli walaupun sadar telah membuat pemuda panda itu tidak nyaman karena tatapannya.

"Perlu kugendong?" tawarnya tanpa pikir panjang.

HAH? Zitao tuli mendadak. Manik hitamnya membola sempurna apalagi dengan gerakan tiba-tiba, sosok itu mengangkat tubuhnya bridal style. Lalu dengan tampang datar miliknya itu, melangkahkan kedua kakinya menuju perumahan tempat tinggal Zitao.

"He-hey, apa-apaan ini? Turunkan aku, orang asing!" teriak Zitao ketakutan. Mulai khawatir jika sosok misterus nan tampan itu akan menculiknya nanti, bukannya mengantarkan Zitao pulang. Siapa tahu, benarkan? Lihat saja penampilannya yang mencurigakan itu. Bukan tidak mungkin ia seorang penculik ulung atau bahkan seorang psikopat gila yang sedang mencari korban.

"Jangan banyak bergerak, nanti kau berserta kucing kecilmu bisa 'terjatuh' ke aspal. Tenang saja, aku tidak akan macam-macam, hanya ingin mengantarmu pulang." tutur sosok itu dengan begitu tenangnya. Matanya melirik wajah Zitao yang saat ini memerah. Mungkin malu akibat mendengar ucapannya yang sedikit menyindir. Sosok itu samar-samar tersenyum lembut lalu melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.

Terjadi keheningan panjang selama perjalanan. Dan itu sungguh membuat Zitao tidak nyaman sama sekali. Apalagi dengan orang asing yang kelihatannya baik hati tersebut. Ia merutuk karena mau-mau saja digendong memalukan begini, kenapa tidak dipunggung saja tadi? Terlihat lebih 'normal'. Tapi bukan berarti dirinya sudi digendong oleh orang asing lagi. Ia hanya, entahlah... Zitao juga bingung menjelaskannya.

"Sudah sampai." ucapan singkat itu (lagi-lagi) menyadarkan lamunan singkat Zitao. Setelah diturunkan, tanpa aba-aba Zitao langsung mundur menjaga jarak. Ia sempat menggigiti bibirnya sebelum berbisik malu-malu.

"Terima kasih."

Hening

"Tidak masalah." lalu sosok itu berbalik dan hendak beranjak pergi. Zitao yang masih mematung di depan pagar rumahnya seketika gelagapan. Merasa tidak rela saat melihat punggung kokoh itu mulai menjauh dari jangkauan matanya.

"Siapa namamu?"

Sosok itu berhenti berjalan dan terdiam. Setelah menunggu beberapa detik yang rasanya lama sekali untuk Zitao, akhirnya pria itu membuka suara.

"Wu Yifan." dan setelahnya sosok itu seperti menghilang terbawa angin. Meninggalkan Zitao yang berdiri kaku di belakang. Matanya sempat melebar untuk beberapa saat sebelum menyorot sendu.

Meongg

Zitao menunduk dan mengelus pucuk kepala si kucing. Ia mengernyit samar lalu menggumam sesuatu.

"Ah, kau benar kucing kecil~ bagaimana dia tahu rumahku?"

.

.

.

Kris, Chanyeol dan Kai mendarat di tanah tepat sesosok eksistensi lain mendarat tidak jauh dari mereka bertiga. Kris seketika menarik kedua sisi bibirnya membentuk seringai, memperlihatkan sepasang taring yang berkilat tajam. Ia sempat mendesis sebelum membuka suara yang bagi kebanyakan entitas lain, seperti lantunan sebuah lagu kematian.

"Kim Jongdae, betapa terkejutnya aku melihat keberadaanmu di tempat ini... "

Jongdae atau Chen balas tersenyum tipis kemudian membungkuk singkat. Ketika ia menegakkan tubuhnya kembali ternyata tanpa disangka-sangka olehnya, Kai langsung menerjang hingga tubuhnya membentur tanah. Pemuda berambut pirang pucat itu menggeram berbahaya, menyembulkan sepasang taring dengan mata miliknya berubah menjadi merah darah.

"Sudah aku duga, kau memang pengkhianat, hyung." desisnya marah. Ia seketika mengangkat tangan kirinya yang berhias kuku-kucu panjang sebelum suara berat Kris mengintrupsi pergerakannya. Kai dengan terpaksa, menggertakkan gigi lalu mendorong Chen kuat. Ia menoleh kearah Kris dan berujar tidak senang.

"Hyung! Dia ini pengkhianat di kelompok kita. Aku sudah curiga dengan tingkah lakunya belakangan ini. Dia, tidak lagi pantas menjadi bagian dari kita."

Kris mengeraskan ekspresinya sebelum mendekat ke arah Chen yang masih setengah terbaring di tanah. Tatapan pemuda itu seketika gentar mengetahui sang pimpinan berdiri dengan tinggi menjulang tepat di depan tubuhnya. Sungguh, jika ia tidak ingat bahwa semua misi ini untuk kebaikan Zitao dan juga Kris sendiri (menurutnya), maka ia lebih memilih untuk mengalah, dan membeberkan semuanya. Tapi tidak, ia tidak akan pernah melakukannya. Sebelum melihat Zitao benar-benar terbebas dari jerat Kris.

"Mencari seseorang, eh?" sebuah suara menyela diantara 'reuni' singkat mereka. Dari arah belakang gedung kosong, terlihat setidaknya 5 orang dengan ekspresi tenang masing-masing. Hingga desisan berbahaya dari Chanyeol-lah sebagai penyambut kedatangan sekelompok orang tersebut.

"Oh Sehun... "

Kris perlahan mundur untuk membuat jarak, diikuti Kai yang langsung menempatkan diri di samping Chanyeol dengan raut wajah garang. Sepertinya, ini tidak lagi pantas disebut main-main apalagi dengan segala senjata yang saat ini mereka pegang.

"Jadi, sejak kapan kau mulai berkhianat eh, Oh Sehun?" tambah Chanyeol dengan geraman pelan. Mulai merasa ada kejanggalan jika semua ini terlalu tiba-tiba dan diluar prediksi mereka sebelumnya, bahkan Kris sendiri. Ia tidak menyangka Chen dan Sehun bekerja sama dengan para Hunter untuk melawan mereka, yang sejauh Chanyeol tahu adalah kaum mereka sendiri.

"Itu tidak penting. Ah Kris-hyung, berniat untuk mengenal satu persatu 'rombonganku' ini?" ujar Sehun dengan nada yang sedikitnya membuat Kai menggeram emosi. Ia bersiap untuk maju tapi tertahan tatkala kedua manik darahnya melihat Kris sudah melangkah maju dan berdiri di tengah-tengah. Melihat bagaimana sang hyung tetua tetap bersikap tenang dan santai disaat genting seperti ini.

Sesungguhnya, mereka semua yang ada disana - secara tidak sadar telah dibuat bungkam dan tidak berkutik diwaktu bersamaan oleh sosok rupawan tapi berbahaya tersebut. Wu Yifan hanya berdiri, namun aura kuat nan penuh dominasi yang dikeluarkannya sudah sanggup membuat mereka gentar dan berpikir ulang kembali untuk menyerang. Seperti inikah wujud sang Vampire melegenda itu?

Suho tiba-tiba mulai ragu. Ia melirik kawanannya singkat sebelum dengan berani melangkah maju beberapa langkah, berniat menantang Kris.

"Aku memberikan penawaran kecil untukmu, Wu Yifan. Lepaskan Zitao secara sukarela dan aku serta teman-temanku tidak akan lagi mengusik keberadaanmu." jelasnya dengan susah payah, karena sungguh, apa yang dikatakan Chen ada benarnya, berhadapan dengan Wu Yifan secara langsung memang menguras energi.

"Aku tidak akan melepaskan sesuatu yang sudah menjadi milikku, tuan hunter. Apa hubunganmu dengan Zitao?" ucapan itu mengalun datar namun benar-benar mengancam. Terlebih dengan sosok Kris kini kembali tersenyum (menyeringai) dengan gaya angkuh yang begitu natural. Seolah memang seperti itulah pembawaan sang vampire yang sebenarnya. Seolah hal itu memang sudah melekat kuat di dirinya semenjak awal. Dan semua orang yang ada di sana-pun menyadarinya.

"Hanya, lepaskan dia jika memang kau peduli pada kelangsungan hidupnya. Kau tahu apa yang aku maksud."

Tiba-tiba Yunho melangkah maju.

"Cukup, Suho. Bernegosiasi dengan makhluk kejam seperti mereka memang tidak ada gunanya. Lebih baik kita jalankan rencana semula."

Tepat dia menyelesaikan ucapannya, pria itu langsung melompat ke arah Kris dengan sebuah pedang menghunus tajam ke arahnya. Diikuti Yoochun dan Changmin yang melakukan hal yang sama namun dihadang oleh Chanyeol dan Kai. Dalam waktu singkat, mereka semua sudah saling menyerang satu sama lain tanpa keraguan sedikitpun.

Suho memutuskan untuk masuk dalam pertarungan dan menyerang Chanyeol setelah melihat Yoochun kewalahan menghadapi sosoknya. Chen? Ia mendadak bimbang. Ia sangat ingin membantu Changmin untuk melumpuhkan Kai, namun sisi lemahnya menolak. Benar, ia lemah saat harus melawan saudaranya sendiri. Tapi Matanya yang berwarna merah seketika menoleh awas, mengawasi Oh Sehun yang masih berdiri tidak jauh darinya. Ucapan Zitao beberapa waktu lalu tiba-tiba terngiang di benaknya seperti sebuah rekaman kaset.

'Jongdae-hyung, tolong awasi gerak-gerik Sehun. Aku merasakan ada hal yang aneh dalam dirinya'

Chen mendadak sadar. Ia langsung menerjang ke arah vampire termuda itu tepat Sehun ingin masuk dalam pertarungan antara Yunho, sang hunter senior dan Kris, vampire terkuat yang pernah ada.

DUGH

Kris menendang perut Yunho hingga membuat sang empunya merengsek mundur menabrak pohon yang ada di sana. Pedang peraknya seketika terlempar tidak jauh dari lokasi. Kris menoleh lalu memundurkan kepalanya tepat sebuah tendangan kaki diarahkan kepadanya. Matanya langsung berkilat tajam melihat siapa orang yang berani menyerang dirinya disaat seperti ini. Seketika bibirnya mendesis.

"Sudah berani menantangku, Oh Sehun?"

"Kita tidak tahu sebelum mencoba, hyung."

Sehun menyeringai. Ia kembali melompat namun pergerakannya terhenti karena Chen menangkis gerakannya dengan sebuah tendangan hingga membuat tubuh Sehun tersungkur ke tanah. Ia berdiri dan menggeram keras.

"Kau tidak perlu ikut campur, Kim Jongdae!"

Chen mendengus keras dan melirik ke arah Kris yang kembali menghadapi Yunho yang sudah berdiri menjulang. Matanya terbelalak melihat Kris mengeluarkan cahaya merah dari telapak tangannya. Ini gawat. Para vampire dibatasi untuk tidak menyerang atau menyakiti kaum manusia menggunakan kekuatan supranatural, meski itu hunter sekalipun. Itu sudah perjanjian. Karena jika itu dilanggar, maka...

"Hyung, berhenti!"

Tepat Chen berteriak, Kris melompat untuk menghindari tebasan pedang dari Yunho, namun seketika ia mundur terhuyung tatkala sebuah belati kecil menancap di perutnya. Sebuah pisau yang ditancapkan oleh Oh Sehun dengan begitu cepat ketika konsentrasi Kris sedang terbelah.

Kris jatuh terduduk dengan kedua lutut bertumpu pada tanah. Disela-sela bibirnya menyembur darah hitam pekat, darah vampire.

"Bajingan kau, Oh Sehun. Kau apakan pisau-nya?" teriak Chen dan langsung menerjang Sehun. Vampire muda itu menyeringai keji sebelum menjawab.

"Air suci. Aku melumurinya dengan air suci. Bagaimana, hm?"

"Ggrrgghhhhhh... "

Mereka masih sibuk menyerang satu sama lain. Chanyeol dan Kai, yang mendengar teriakan Chen seketika memfokuskan pandangan dan langsung terbelalak melihat pimpinan mereka berlutut dengan sebelah tangan memegangi perutnya yang tertancap pisau. Wajah Kris memucat, seputih kapas dan dari bibirnya keluar erangan yang begitu menyakitkan. Ditambah dengan darah hitam yang sekarang ini mengalir deras dari perutnya yang terluka dan di sela-sela bibir pucatnya.

"UHUKK...! Zitao..."

.

.

.

Kris diam-diam tersenyum tulus. Melihat bagaimana Zitao berjalan sambil melompat-lompat kecil seperti seorang bocah. Ia memilih untuk bersembunyi di kegelapan setiap waktu agar leluasa mengamati dan menjaga sosok itu dari jauh. Hatinya yang sudah lama beku sedikit demi sedikit mencair karena pengaruh pemuda lugu itu di hidupnya. Mengawasi hari demi hari dimana dalam kurun waktu sesingkat itulah, Kria menyadari betapa murni dan lugu-nya pemuda panda itu. Ia selalu tersenyum, menyapa hangat setiap orang yang dikenalinya serta tidak takut untuk mengekspresikan dirinya sendiri. Ia layaknya burung bebas, dan Kris dengan segenap jiwanya ingin memiliki burung menawan itu untuk dirinya seorang.

Karena bagaimanapun, Perasaan asing ini, gelenyar aneh yang ia rasakan kini, sama persis seperti dulu yang pernah ia rasakan. Namun dulu ia tidak sempat mencicipnya lebih jauh, karena sebelum ia menelan kenikmatannya, semua perasaan itu sudah terenggut paksa darinya tanpa sisa. Namun kini ia telah diberikan kesempatan untuk merengkuh sosok itu. Memiliki kesempatan untuk melihatnya meskipun itu dari jarak jauh seperti ini. Tidak masalah, karena lambat laun ia juga bisa dengan leluasa mengamatinya dari jarak dekat suatu saat nanti.

Kris lagi-lagi tersenyum tipis, ia kembali membuntuti sosok Zitao yang kini sudah sampai di persimpangan gang sempit. Ia seketika menggertakkan giginya pelan saat melihat beberapa preman mulai menghadang pemuda rupawan tersebut. Ia marah melihat sosok 'milik'nya diganggu manusia-manusia tidak berguna seperti mereka. Dengan itu, Kris tanpa pikir panjang segera mendekat dan menampakkan diri.

"Lepaskan dia."

Mereka, seketika tertawa meremehkan. Satu diantaranya yang memegangi lengan Zitao, meludah tepat di depan Kris. Bermaksud menghina, belum sadar akan bahaya apa yang sebentar lagi mendatangi mereka.

"Cuih! Bertindak layaknya pahlawan, anak muda? Atau kau memang punya hubungan khusus dengan anak polos ini?" tanyanya dengan nada mengejek. Ia menarik lengan Zitao kuat membuat pemuda panda itu meronta-ronta hebat. Dan berubah menjadi teriakan ketakutan tatkala salah satunya mulai menjambak surai kelamnya.

"Lepaskan! Atau aku akan mengoyak tubuh kalian satu persatu."

Lagi, mereka hanya tergelak dengan nada penuh cemoohan. Namun tawa itu seketika lenyap tanpa sisa ketika merasakan aura berat yang menyebar di sekitar sana. Kris berdiri dengan mata semerah darah, kuku jarinya memanjang, dan ia mulai menggeram penuh ancaman. Tanpa keraguan ia langsung menerjang ke arah salah satunya dengan cakar tajam miliknya langsung mengoyak dada pria tersebut. Dua yang tersisa beserta Zitao langsung syok dan pucat pasi.

Kembali, tanpa ampun Kris menerjang lagi dan membenturkan kepala sang korban ke arah tembok hingga menimbulkan bunyi yang begitu memekakkan telinga. Dan sisa yang terakhir, pria yang tadi memegangi lengan Zitao, seketika mundur kebelakang, ketakutan.

"Siapa kau?" jeritnya panik. Ia perlahan mundur saat mendapati Kris melangkah mendekatinya dengan begitu tajam, seperti seekor singa yang tengah mengincar korban.

"Malaikat pencabut nyawa untukmu."

Tepat Kris menyelesaikan ucapannya, ia bergerak cepat nyaris tak terlihat lalu mencengkeram leher pria bernasib malang tersebut. Menekannya kuat-kuat hingga berbunyi 'krakk' kemudian tanpa perasaan langsung membantingnya ke atas tanah. Persis di dekat kaki Zitao yang saat ini berdiri gemetar dengan wajah nyaris pucat layaknya mayat.

Merasa terancam, Zitao perlahan mundur menjauhi sosok Kris. Dan ketika Kris berbalik, nafasnya nyaris tercekat di tenggorokan akibat melihat rupa orang yang sudah menolongnya. Wajah itu, Zitao ingat dengan jelas garis wajah itu karena sudah beberapa hari ini, bayangan sosok itu selalu setia menghantui mimpi-mimpinya.

Benar. Zitao tidak mungkin salah mengenali seseorang. Terlebih seseorang dengan wajah nyaris sempurna seperti itu.

"K-kau... " bisiknya nyaris kehilangan kata. Melihat pria itu perlahan mendekatinya, Zitao buru-buru mundur kembali, menjaga jarak sejauh-jauhnya dari sosok itu. Setidaknya, itulah salah satu perintah otak yang sanggup Zitao turuti. Tapi tidak dengan perasaan bahagia atau senang yang tiba-tiba ia rasakan kini, berbanding terbalik dengan jeritan otaknya jika pria didepannya tersebut sangatlah berbahaya dan pantas untuk ditakuti. Zitao bingung, kenapa ia bisa seaneh ini?

"Huang Zitao..." panggilan pelan itu menyadarkan Zitao. Ia mendadak gugup saat tiba-tiba saja wajah pria itu berada tepat di depan wajahnya sendiri. Sangat dekat, bahkan hidung mereka sudah saling bergesekan serta bibir mereka berdua nyaris bersentuhan. Dan lagi-lagi, bukannya takut, Zitao malah menatap intens manik kuning keemasan milik Kris. Iris yang indah, memukau hingga Zitao terhipnotis dibuatnya.

"Makhluk apa kau?" bisiknya perlahan.

Kris tersenyum tipis sebagai balasan. Tangan kirinya perlahan terangkat dan menyentuh sisi wajah Zitao. Mengelusnya lembut takut-takut kulit itu lecet atau sejenisnya.

"Mau ikut bersamaku?"

Pikiran Zitao seketika kosong. Matanya tanpa berkedip terus memandangi iris memukau milik sosok misterius di depannya. Ia sudah terjerat, ia terlanjur terperosok oleh jebakan mematikan itu, hingga tanpa sadar, ia mengangguk patuh sebagai jawaban.

"Anak pintar,"

Menyeringai, Kris merengkuh erat tubuh ramping Zitao ke dalam dekapan tubuhnya.

.

.

.

DHEG

Zitao seketika jatuh berlutut memegangi sebelah dadanya. Sakit, ia merasakan jantungnya seperti terenggut paksa dari rongganya. Ia mengerang kesakitan, menarik perhatian Yixing yang sebelumnya sudah kembali memasuki kamar.

"Zitao, Ya tuhan! Ada apa denganmu?!" jerit Yixing panik. Deja Vú. Yixing seperti pernah menghadapi situasi seperti ini sebelumnya.

"Ge-gegeh, sakit... " racaunya serak. Ia kembali mengerang diiringi rasa panas dikedua pelupuk matanya. Dan tiba-tiba saja beberapa tetes air mata mengalir turun melewati pipi pucat miliknya tanpa ia sadari.

Yixing tertegun, ia mengerjapkan matanya pelan tepat sosok Zitao tiba-tiba berpendar dengan cahaya kemerahan melingkupi tubuhnya. Cahaya itu semakin lama semakin terang hingga secara sempurna menyembunyikan sosok Zitao.

"Zii..." Yixing berbisik, namun tetap terpaku di tempatnya. Ia hanya menatap intens bagaimana cahaya itu sedikit demi sedikit berangsur memudar dengan keberadaan Zitao sendiri yang telah lenyap tanpa sisa, seperti tertelan cahaya merah tadi.

Sunyi. Berjalan perlahan-lahan mendekati pagar, Yixing seketika mendongak menatap langit kelam tanpa bintang dengan tiupan angin malam yang kembali membelai tubuhnya.

Ia kemudian berbisik tenang namun terdengar tajam.

"Oh Sehun, apa yang kau lakukan?"

.

.

.

Tersentak kaget, Zitao seketika membuka kelopak matanya lebar-lebar. Ia mulai beranjak bangun dan menatap sekeliling. Kamar Kris. Masih di ruangan yang sama, tempat terakhir kali ia bisa mengingat dengan jelas sebelum kabut-kabut tipis memblokade setiap jaringan sarafnya sehingga ia mulai salah dalam mengingat kembali setiap memory yang pernah ia miliki. Seketika tubuhnya membeku dan perasaan tidak nyaman mulai menggelayuti relung hatinya.

Cepat-cepat Zitao beranjak dari kasur lalu berlari ke arah pintu kamar. Menyusuri koridor demi koridor dengan perasaan kalut, ia berlari sekuat tenaga untuk menuruni tangga tepat dua sosok eksistensi lain tertangkap oleh manik hitamnya.

"Bacon-hyung, Soo-hyung!"

Merasa terpanggil, mereka berdua serentak menoleh dan melebarkan mata tidak percaya, melihat sosok yang belakangan ini ditunggu-tunggu oleh semua orang untuk bangun. Saat ini, sosok tersebut berdiri menjulang dihadapan mereka.

"Tidak mungkin, Tao!" teriak Baekhyun penuh haru lalu tanpa aba-aba langsung memeluk pemuda menawan tersebut. Diikuti oleh Kyungsoo yang melakukan hal yang serupa. Merasa sesak, Zitao cepat-cepat melepaskan pelukan mereka dan mengedarkan matanya ke sekeliling.

"Dimana yang lain, hyung? Dimana Kris-gege?" tanyanya perlahan. Perasaan itu lagi-lagi datang meracuni hatinya. Ia tiba-tiba saja merasa tidak tenang dan seperti ada sesuatu yang tengah tejadi namun ia sendiri tidak tahu apa. Yang pasti Hatinya mengatakan, hal buruk telah terjadi.

"Ah, mereka sedang pergi keluar sebentar. Dan Kris-hyung bersama dengan mereka juga." jelas Baekhyun.

Berdiri dengan raut wajah cemas yang tidak pada tempatnya, mereka berdua seketika saling pandang dengan dahi mengernyit samar. Mulai khawatir menghadapi tingkah Zitao yang tidak seperti biasanya sebelum ia 'tertidur' dulu dalam jangka waktu yang terbilang cukup lama untuk ukuran seorang manusia.

"Tao-er, ada apa?" tanya Kyungsoo Penasaran.

Mereka terkejut bukan main saat melihat Zitao sudah berlari ke arah pintu utama kastil dengan beberapa tetesan air mata yang jatuh dari pelupuk matanya yang cantik. Pemuda itu mulai terisak sambil mendorong-dorong pintu lalu setelahnya berlari keluar kastil. Tidak sekalipun peduli saat Baekhyun dan Kyungsoo memanggil namanya berulang kali.

"Gege... " bisiknya bagai mantra. Sosoknya dengan kaki telanjang, mulai memasuki hutan lebat sebagai akses satu-satunya untuk segera keluar dari wilayah tersebut. Ia tidak peduli sekalipun telapak kakinya lecet ataupun terjatuh beberapa kali akibat akar-akar pohon hingga membuat lututnya berdarah, yang ia pedulikan sekarang, saat ini, adalah Kris-gegenya. Sosok yang ia tahu pasti, sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.

Zitao tahu. Ia akan selalu tahu.

"Gege... " bisiknya lagi dengan nada serak. Ia tetap mempertahankan larinya meskipun keadaan tubuhnya sudah tergores dibagian sana-sini dan terlihat memprihatinkan. Ia masih terisak, menangisi seseorang yang begitu berarti di hidupnya. Ia ketakutan setengah mati, Hingga laju kakinya perlahan melambat saat mata basahnya melihat sesosok makhluk putih menghampiri dirinya yang seketika mematung. Terlalu syok mendapati seekor kuda putih bertanduk satu, yang terlihat begitu indah dan cantik, berjalan mendekati dirinya.

"Kau cantik sekali... " bisik Zitao dengan telapak tangan terangkat dan mulai mengusap helaian lembut milik binatang indah tersebut. Tersenyum samar, Zitao mengusapnya sekali lalu setelahnya mundur.

"Maaf, tapi aku sedang terburu-buru. Kita bisa berjumpa lagi lain waktu." hendak berbalik, namun gagal tatkala bajunya ditarik oleh makhluk itu. Zitao menoleh dan langsung bersiborok dengan manik kelam milik sang kuda putih. Seperti mengirim sinyal jika dirinya bisa membantu Zitao apapun yang Zitao perlukan saat ini.

"Kau bisa mengantarku?" bisiknya dengan senyum. Melihat sang kuda putih menundukkan kepalanya singkat, sudah cukup menjadi bukti jika ia tidak keberatan dengan permintaan Zitao.

"Terima kasih."

Dengan itu, Zitao dengan hati-hati naik di punggung sang kuda lalu setelahnya mahluk itu melesat, membelah suasana hutan yang sunyi.

.

.

.

"Hiks, hiks... Jangan sakiti Tao." bocah kecil itu meringkuk dipinggiran hutan dengan penampilannya yang begitu mengenaskan. Bajunya compang camping karena terkoyak dengan beberapa luka gores di tubuhnya. Ia ketakutan. Ia takut melihat bagaimana mahluk bertaring itu lagi-lagi menyerang desanya. Ia takut melihat makhluk-makhluk itu mengoyak tubuh-tubuh polos warga desa tempat ia tinggal. Zitao sudah menjadi anak baik, ia rajin berdoa ke kuil, dan ia juga patuh pada perintah kedua orang tuanya. Namun mengapa makhluk-makhluk kejam itu masih saja terus memburu orang-orang di desanya?

"Menjauh! Ja-jangan mendekat!" teriaknya lagi. Ia semakin meringkuk, ketakutan tatkala sesosok entitas lain berdiri diam tidak jauh darinya. Sosok berjubah hitam itu menatap intens sosok Zitao kecil sebelum bergerak untuk mendekat lagi.

"PERGII...!"

Sosoknya mematung. Tiba-tiba merasa tak kuasa untuk sekedar menyentuh seujung rambut milik sosok rapuh tersebut. Matanya yang berwarna kuning keemasan berkilat sendu, tatapan yang jarang sekali ia suguhkan pada orang lain, terlebih dengan status dirinya saat ini yang disebut-sebut sebagai makhluk penghisap darah atau makhluk bertaring.

"Aku tidak akan menyakitimu, percayalah... " lirihnya perlahan. Ia kembali memberanikan diri untuk mendekat dan berlutut di depan sosok mungil itu. Telapak tangannya dengan ragu terangkat dan diletakan di pucuk kepala Zitao, mengusapnya lembut hingga membuat sang empunya terdiam dan mengangkat kepalanya perlahan.

Hening

Zitao dengan takut-takut menggenggam tangan besar nan dingin yang berada di pucuk kepalanya lalu seketika tersiap, merasakan aliran es merambat cepat di telapak tangannya yang mungil.

"Iblis! Lepaskan dia!" teriakan itu mengintrupsi. Mereka berdua langsung menoleh bersamaan ke arah hutan dan mendapati seorang anak kecil lain berdiri dengan gaya menantang.

"Kau kembali?" bisik Zitao bahagia. Melihat seorang teman yang dulu pernah ditemuinya sekali di sungai namun tidak lagi muncul setelahnya. Padahal Zitao sudah sering menunggunya di sungai yang sama.

"Kubilang, lepaskan dia!" gertaknya lagi. Sosoknya seketika melompat dan ketika mendarat, ia berubah menjadi unicorn ukuran sedang berwarna putih lembut.

Sosok berjubah hitam di depan Zitao seketika berdiri dan menatap waspada. Terlebih ia mendengar suara-suara aneh dikejauhan yang menandakan tidak hanya satu makhluk yang muncul, mungkin banyak jumlahnya dan sedang menuju ke arah sini. Ia seketika sadar, para unicorn ini berniat untuk melawan bangsa mereka, para vampire. Sesuai dugaan tepat ia berbalik, segerombolan unicorn menerjang memasuki wilayah desa.

"Kau tidak akan bisa mengalahkanku, unicorn muda." ujarnya datar. Ia melangkah maju dan bersiap untuk menerjang tepat sebuah tarikan baju menghentikannya. Ia menoleh ke bawah dan mendapati tangan mungil Zitao memegangi ujung jubahnya. Menggeser pandangannya sedikit ke atas dan melihat Zitao menatapnya dengan pandangan memohon. Ia tertegun, ia tidak sadar jika seekor unicorn sudah menerjang ke arahnya diikuti gigitan kuat dibahunya.

Sosok itu terseret menghantam tanah dengan luka menganga dibagian bahunya. Merasa salah kaprah karena telah meremehkan kekuatan unicorn muda tersebut. Ia mendesis lalu berdiri, namun raut wajahnya seketika pucat pasi melihat sosok kecil Zitao terangkat dari tanah dengan leher tercekik kuat.

"Apa yang kau lakukan?" teriaknya murka bersamaan dengan tubuh kecil Zitao terlempar kuat menghantam pohon besar. Menggeram, ia berlari menghampiri Zitao yang saat ini kondisinya begitu miris.

"Ge-gege, kau sangat tampan... " bisik Zitao nyaris putus-putus. Nafasnya perlahan menyusut dengan diiringi kelopak mata yang kian menutup. Sosok berjubah itu langsung meraung pilu melihat bagaimana sosok kecil itu terkulai lemas di dekapannya.

"Kau akan mati, keparat! Tidak peduli sekalipun kau adalah bangsaku sendiri."

Sosok itu menggeram marah sebelum menerjang satu-satunya entitas yang telah berani mencelakai sosok murni nan polos seperti malaikat kecil yang telah kehilangan jiwa tersebut.

Sementara sang unicorn muda diam-diam meratap menghampiri tubuh kecil Zitao dan menangis di sampingnya. Hingga seorang bocah lain berteriak histeris memanggil nama Zitao dan memeluk erat tubuh dinginnya.

Mata itu, mata yang berkilat penuh amarah dan dendam, mengamati bagaimana dua makhluk penghisap darah saling menyerang satu sama lain. Saling melukai, seperti mereka yang telah melukai Zitao dan merenggut bocah polos itu dari sisinya. Ia bersumpah, tidak akan pernah memaafkan siapapun itu.

.

.

.

.

.

And all along I believed

I would find you

Time has brought your heart to me

I have loved you for a Thousand years

I'll love you for a Thousand more

(A Thousand Years – Christina Perri)

.

.

.

.

.

.

.

.

.

T.B.C.

Note: Sori, banyak plesbek ye? Ini semata-mata buat menunjang jalannya cerita. Jadi, maafkan saya jika masih bnyak orang yang bingung. Kalau tidak ada perubahan rencana, chap. Depan bakalan tamat kok. Ciyus, :3 :3

Okelah, saya pamit dulu ya? Paipai~~

:: Sign. Semarang. 00.20 AM ::