"Hei, bukankah upacara penerimaan tadi benar-benar membosankan?"

Satu hal yang semua orang tahu dari dirinya, bahwa ia bukan orang yang ramah yang akan dengan senang hati memulai percakapan dengan orang lain, meski itu hanya sekedar menjawab pertanyaan singkat. Sasuke tak keberatan ia tak memiliki banyak teman karena sifatnya karena ia tak membutuhkan semua orang, sehingga ia lebih memilih mengabaikan seorang pemuda yang duduk di sampingnya di kursi panjang yang ada di halaman setelah upacara penerimaan dan semua orang sibuk untuk memilih klub yang akan mereka masuki.

"Menurutmu klub apa yang menyenangkan untuk diikuti?"

Sasuke menolehkan kepalanya, menatap datar pada sosok asing yang ada di hadapannya. Mata yang terlalu biru, rambut yang terlalu terang, dan senyum itu… membuatnya merasa kesal. Dalam sekali hentakan ia berdiri dan berjalan menjauh dengan suara tawa sumbang dan teriakan yang mengiringinya.

"Aku Naruto. Senang mengenalmu!"


Naruto © Masashi Kishimoto


.

Sasuke menghela napasnya pelan dan meletakkan tasnya di atas meja, sebelum suara pintu terbuka menarik perhatiannya dan wajah muramnya terlihat semakin dalam melihat siapa yang berjalan masuk.

"Kenapa aku harus sekelas lagi denganmu?" Shikamaru berjalan gontai sambil menguap.

"Bukankah itu kalimatku," Sasuke mengerutkan alisnya saat Shikamaru duduk di belakangnya, sebelum ia berbalik hanya untuk mendapati Shikamaru yang telah memejamkan mata beralaskan kedua tangannya di meja. Ia berdecak pelan dan kembali berbalik menghadap ke depan, saat Ino berdiri di sisinya dan meletakkan sebuah lollipop di atas mejanya sambil tersenyum dan membuat tanda peace dengan jarinya.

"Kita sekelas lagi, Sasuke. Mohon bantuannya."

Sasuke kembali berdecak. "Kalau begitu berhenti meletakkan permen di laci mejaku, Ino. Tidak semua orang menyukai gula sepertimu," Ino hanya tertawa lalu duduk di deretan kursi di sisinya.

Teriakan abstrak yang menggema di ruang kelas saat seseorang berjalan masuk membuat pokerface Sasuke semakin jelas. Lee, lalu siapa lagi. Sepertinya tidak ada gunanya mengacak siswa di semester ketiga ini jika lebih dari separuh orang yang ada di kelasnya sekarang adalah teman sekelasnya di tahun pertama. Mungkin ia tetap seperti yang dulu, mungkin sama sekali tak ada yang berubah dari dirinya. Namun jika sesaat saja seseorang mau memerhatikan, Sasuke tak seangkuh dan seegois dirinya yang dulu, teman-teman barunya di tahun pertama tak seburuk yang ia bayangkan dan tanpa sadar ia mulai dapat beradaptasi dengan baik, membuka diri meski masih sering ia menyangkalnya.

Shikamaru bisa menjadi pendengar dan penasihat yang baik meski terkadang ia mendengarkan apa yang ia katakan sambil tidur. Ino bisa menjadi teman yang sangat peduli seperti saat ia hujan-hujan mengantarkan obat ke rumahnya setelah pulang sekolah saat Sasuke berkata ia sedang flu dan tidak dapat masuk. Masih banyak hal lain yang mengejutkan tapi Sasuke tak ingin terlalu terlena di sana. Ia benci perpisahan.

Suara pintu yang terbuka membuat semua siswa diam seketika, Sasuke menutup buku yang dibacanya dan mendongak, bukan untuk mendapati wali kelas mereka untuk tahun ini namun orang lain, yang memiliki mata sebiru langit musim panas, yang dulu memiliki senyum secerah surya, yang dulu selalu menyapanya setiap kali ia melewati kelas itu saat ia menuju ke laboratorium kimia, yang kini berjalan seolah membawa beban berat yang tak terlihat, yang kini tak pernah menunjukkan senyum itu lagi pada siapapun, bahkan tak pernah memperdengarkan suaranya yang dulu terdengar selalu bahagia.

"Oh, kupikir guru."

"Duh, lapar."

"Wao, dia keren. Siapa namanya?"

"Siapa yang keren? Lee?"

"Eww."

"Apa-apaan 'eww'mu itu, TenTen?!"

Sasuke tak memedulikan teman-temannya yang kini kembali ribut, ada banyak bising itu mengudara namun ia hanya terus saja menatap pada sosok itu yang kini berjalan mendekat sebelum ia menunduk dan kembali membuka bukunya. Saat melewati sisinya dan merasakan tatapan kedua iris biru itu padanya, Sasuke tak dapat mencegah untuk tak mendongak, bertanya-tanya sejak kapan kesedihan terlihat begitu pekat di kedua mata itu.

Beberapa menit berlalu hingga Kakashi memasuki kelas dan melambaikan tangan pada mereka. Saat Sasuke berbalik ke belakang untuk membangunkan Shikamaru, ia melihat sosok itu di ujung belakang deret yang sama dengannya tengah menumpu dagu di tangannya dan menatap keluar, entah pada halaman sekolah, atau pada langit, atau ia hanya menatap pada ketiadaan, namun Sasuke tak berhenti bertanya-tanya pada dirinya sendiri mengapa ia peduli.


I See You © Kei

[—kau tidak sendiri, karena 'kan kutemukan senyummu lagi.]

a very late requested story by Artemisaish

italic is flashback


.

"Oi, Sasuke, di sini," Sasuke mengangguk pada Shikamaru dan Chouji yang melambai padanya dan berjalan ke sana untuk meletakkan nampan makan siangnya di meja di samping Neji. Kantin begitu penuh sesak dan ia hampir saja putus asa menemukan tempat untuk duduk, biasanya ia akan meletakkan kembali makanannya dan berjalan ke luar untuk menghirup udara segar. Lagipula Ino selalu punya makanan di tasnya.

"Bagaimana?" Chouji dan Lee menatapnya dengan bingung, Neji mengangkat bahu dan Shikamaru menyangga dagu di tangannya sambil menjawab santai.

"Tidak ada banyak orang yang mau duduk di samping Lee."

Sasuke mengangguk, mengabaikan Lee yang mengoceh dengan tidak jelas dan mulai memakan makan siangnya. Shikamaru selalu mengerti apa maksudnya hanya dengan ekspresi atau satu kata tanya, dan mungkin itu yang membuatnya tak keberatan untuk berteman lebih dekat, meski ia sering kesal saat nilai ujian Shikamaru lebih bagus darinya padahal yang anak itu lakukan hanyalah tidur.

Sudah hampir tiga minggu semester baru dimulai, dan segalanya berjalan seperti biasanya. Menjadi ketua OSIS dan ketua kelas pada saat bersamaan sedikit melelahkan (salahkan semua orang yang ingin ia menderita), namun Neji selalu membantunya dan ternyata tidak terlalu buruk. Ia dapat meminta izin pada guru dengan alasan ia memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan saat ia sedang tidak ingin di kelas dan menggunakan ruang OSIS untuk tidur atau membaca buku, setidaknya ia tidak akan pernah tidur di kelas seperti seseorang. Segalanya berjalan seperti yang seharusnya, selain fakta bahwa Sasuke secara tanpa sadar selalu mencari keberadaan seseorang saat berada di keramaian.

Bunyi gelas yang terjatuh menarik beberapa perhatian siswa di sana, termasuk Sasuke yang meletakkan garpunya dan menoleh ke sumber suara.

"Ah, maaf. Aku tidak sengaja. Apa kau baik-baik saja?" Gadis berambut cokelat itu terlihat panik dan mengambil sapu tangan dari sakunya, namun orang yang ditabraknya hanya mengambil kembali kaleng minumannya yang terjatuh di lantai dan kembali berjalan menjauh seolah tidak terjadi apa-apa, membuat sang gadis merengutkan wajahnya sambil menggumamkan sesuatu.

"Teman?"

Sasuke menatap Shikamaru lalu menggeleng pelan.

"Seingatku Naruto dulu tidak seperti itu. Aku masih ingat terakhir kali aku melihatnya normal, dia membelikanku ramen karena tidak sengaja melemparku dengan bola basket."

Sasuke menatap Chouji sesaat lalu mengelap bibirnya.

"Kau tahu, waktu dapat mengubah segalanya. Termasuk sifat seseorang," Shikamaru membaringkan kepalanya di meja.

"Tapi masa muda tidak harus dihabiskan dengan seperti itu. Ia bahkan tidak mau menjawab siapapun yang bicara padanya. Ah, bagaimana bisa hal jahat seperti itu terjadi di dunia ini!"

Sasuke menghela napasnya pelan, hanya semakin pusing berada di sini. Ia mengangguk pada Neji dan Shikamaru sekilas sebelum berjalan keluar area kantin menuju ke kelas. Ada banyak hal lebih penting yang dapat dipikirkan selain hal itu.

Getaran di saku celananya membuatnya menghentikan langkah untuk mengambil ponselnya, menemukan satu notifikasi dari salah satu chat room di aplikasi yang ada di sana.

Sasuke, ada kegiatan setelah pulang sekolah?

Tidak. Kenapa?

Mau melakukan sesuatu yang menyenangkan?

Sasuke mendengus samar sambil mengetikkan balasan, ia tidak percaya berapa puluh kali ia tertipu oleh kalimat itu saat ia kecil dulu.

Aku tidak akan membersihkan kamarmu.

Lol, kau belajar banyak dari pengalaman. Ayah mengajak kita pergi memancing. Mau?

Hn.

Okay. Love you, Otouto.

Ewww.

Sasuke memasang ekspresi jijik sambil menatap layar ponselnya sebelum ia menyadari betapa bodohnya ia terlihat dan langsung memasukkan kembali ke saku celananya. Saat ia sampai di ujung tangga menuju ke kelas, ia melihat Naruto berjalan ke arahnya, menatapnya sesaat sebelum kembali memandang lurus.

Beberapa langkah setelah mereka berpapasan, Sasuke tak dapat menahan dirinya untuk tak menoleh ke belakang, saat Naruto berbelok ke tangga menuju ke atap sekolah. Dan ia kembali menelan kebodohannya sendiri karena tak dapat berhenti peduli pada orang yang bahkan tak dikenalnya.


.

"Naruto tidak di kelas. Apa ada yang tahu di mana ia sekarang?" Kurenai meletakkan daftar hadir siswa di meja dan menatap pada siswa yang semuanya hanya menggeleng.

Sudah terlambat baginya untuk menyesali perbuatannya saat ia telah mengangkat tangan. "Biar saya yang mencarinya. Saya ketua kelas."

Sasuke merasakan Shikamaru menatapnya dengan aneh, namun ia tak memedulikan itu dan berjalan keluar kelas, menuju tempat yang pertama kali terpikirkan. Dia tidak tahu apa yang salah dengan dirinya, ia bukan orang yang akan peduli pada orang lain, bukan seseorang yang akan rela membuang waktu dengan percuma pada sesuatu yang tidak menguntungkan. Namun di sinilah ia, membuka pintu menuju ke atap sekolah untuk mencari seseorang yang bahkan dulu dibencinya saat pertama kali bertemu setahun yang lalu.

"Kurenai-sensei memintaku untuk mencarimu," Sasuke berjalan mendekati Naruto yang tengah duduk bersandar di pagar besi sambil memegangi rokok dengan satu tangannya. Naruto menatapnya selama beberapa detik namun kembali mengabaikannya seolah ia tidak ada di sana.

Sasuke berdecak pelan dan berjalan mendekat untuk mengambil rokok dari tangan Naruto yang hendak menghisapnya sebelum ia membuangnya di lantai dan meginjaknya.

"Dilarang merokok di area sekolah."

"Fuck off, Uchiha."

Sasuke berdiri di hadapan Naruto sambil menatap dingin pada Naruto yang kini terlihat kesal karena seseorang mengganggu ketenangannya.

"Kupikir kau bisu."

Saat Naruto kembali mengabaikannya tanpa menjawab apapun, dahi Sasuke berkedut karena kekesalan, ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri apa yang membuatnya tetap berdiri di sini dan tidak memilih untuk kembali ke kelas setelah ia tidak diacuhkan seperti ini.

"Apa masalahmu, Uzumaki?"

"Sejak kapan kau peduli pada orang lain."

Sasuke memutar bola matanya dan mendengus. "Kau pikir aku peduli padamu? Jangan bermimpi."

"Kalau begitu menyingkir dari hadapanku."

Sasuke berbalik dan melangkah, namun segera berhenti dan menarik napas dalam. Kepalaku pasti terbentur sesuatu.

"Apa yang kau lakukan?"

Sasuke hanya mengangkat bahunya dan berdiri bersandar pada pagar beberapa meter di samping Naruto.

"Apa ini caramu menyelesaikan masalah?"

Sasuke tidak menjawab dan hanya mendongak menatap langit sambil menyilangkan kedua tangannya. Ah, ingin segera pulang dan tidur. Eh—huh? Damn, aku pasti tertular virus dari Shikamaru.

Saat ia mendengar Naruto berdecak, berdiri dan melangkah menjauh menuju pintu, Sasuke hanya mengangkat alisnya sekilas sebelum ia menegakkan tubuhnya dan berjalan di belakang Naruto. Ada seribu tanya yang berputar-putar di kepalanya, ada keraguan pada dirinya sendiri terhadap apa yang sedang dilakukannya, namun Sasuke memilih untuk tak memikirkannya.

"Dari mana saja kau, Naruto?"

Tatapan Kurenai dan semua siswa menuju ke arah mereka saat pintu terbuka. Saat Naruto menghentikan langkahnya namun tidak mengatakan apapun, Sasuke menutup pintu dan menjawab dengan bantuan kata pertama yang terpikirkan di otaknya.

"Dia ketiduran di atap, Sensei…?" Naruto berbalik menatapnya dengan alis yang berkerut dan ia hanya mengangkat bahu tak peduli.

"Baiklah, duduk dan lanjutkan pelajaran."

"Ketiduran di atap di cuaca sepanas ini? Does it make sense?"

Sasuke mendengar suara Shikamaru sedetik setelah ia duduk di tempatnya. Ia melihat ke luar dan menyipitkan mata saat cahaya matahari yang begitu panas bahkan membuat kaca jendela menjadi sangat silau.

"Are you really Sasuke?"

"Shut up."


.

Hanya ada beberapa orang di kelas siang itu, Sasuke harus menandatangani beberapa proposal dan terlalu malas untuk berjalan ke ruang OSIS sehingga ia lebih pilih melakukannya di kelas, Neji tengah sibuk memeriksa laporan penelitiannya, Shikamaru sedang menumpu wajahnya di bingkai jendela sambil mungkin menghitung jumlah awan yang ada di langit, dan beberapa gadis yang tengah mengobrol sambil memakan bekal mereka, saat salah satu guru BK mendatangi kelas dan memanggil Naruto. Semua mata langsung tertuju pada sang objek—kecuali Shikamaru yang hanya menguap tanpa bergerak sedikit pun—yang melepas headphones dan meletakkan buku sketsa dan pensil yang tadi dipegangnya lalu berjalan menuju pintu.

Sasuke menghentikan kegiatannya dan memerhatikan ke arah pintu, pada guru yang sepertinya sedang menanyakan sesuatu pada Naruto dan hanya dijawab dengan anggukan pelan. Hingga tiba-tiba saja Naruto menoleh ke arahnya dengan tatapan itu, dan Sasuke tak dapat berpaling. Saat Naruto mengacungkan jari tengahnya sebelum berjalan menjauhi kelas, Sasuke hanya mengernyit sekilas sebelum kembali melanjutkan kegiatannya.

"Apa?"

Sasuke menarik napas dalam tanpa menoleh ke Shikamaru yang mengajaknya berbicara.

"Apanya yang apa."

"Kau melakukan sesuatu?"

"Kalau maksudmu yang berhubungan dengan makhluk idiot itu, jawabannya tidak," ia merapikan tumpukan proposal dan kertas yang ada di mejanya.

"Dia terlihat kesal padamu."

"Lalu?" Sasuke memutar tubuhnya dan menatap Shikamaru dengan datar.

"Hanya penasaran apa yang membuatmu tertarik padanya."

"Aku tidak—," Sasuke berdecak kesal dan berdiri untuk mengantarkan semua dokumen yang telah diselesaikannya. "Berhenti membaca pikiran orang lain, sialan."

"Aku bukan cenayang. Hanya menebak, dan kau mengakuinya," Shikamaru tersenyum dengan malas.

"Fuck you and your stupid theories."

"Well, you're welcome."

Sasuke berjalan menyusuri koridor sekolah sambil meminkan pena di satu tangannya setelah menyelesaikan rapat, Neji pulang bersama TenTen jadi ia harus pulang sendirian, saat ia mendengar sesuatu yang menarik perhatiannya. Dia menghentikan langkahnya, berpikir sejenak sebelum ia memutuskan untuk mengecek sumber suara. Di sana di halaman belakang sekolah, Naruto sedang duduk bersandar pada sebuah pohon sambil melepas sarung tangan di kedua tangannya bersama seseorang yang duduk di sampingnya. Sasuke bersandar pada dinding sambil melipat kedua tangannya, memerhatikan kedua orang yang hampir membelakanginya jadi ia tak perlu khawatir ketahuan dan dianggap menguping, meski sebenarnya itulah yang sedang ia lakukan.

"Apa kau sudah makan siang?"

Saat Naruto mengangguk, seseorang di sampingnya—yang Sasuke ingat adalah seniman kebanggan sekolah bernama Sai dari kelas 2-C—tersenyum dan mengeluarkan sebuah buku.

"Gaara menanyakanmu. Dia bilang kau tidak mengangkat telpon darinya, dia akan ke sini bersama kakak-kakaknya akhir minggu ini karena sedang tidak banyak tugas sekolah. Dia menyuruhku bertanya apa kau mau pergi ke pantai bersama?"

Naruto diam sejenak sebelum kembali mengangguk. "Kau tidak pulang?"

"Aku akan menemanimu, kau masih harus menjalani hukumanmu setengah jam lagi 'kan? Sudah kubilang jangan merokok di sekolah, kau tidak pernah mendengarkan," Sai membuka buku sketsanya.

"Bukan urusanmu."

"Baiklah, terserah. Oya, dia sudah menerimaku."

"Apa?"

"Gadis yang kuceritakan padamu. Namanya Ino, dia teman sekelasmu. Apa kau kenal?" Sai berbicara sambil menggambar di buku sketsanya.

Naruto menggeleng sambil menyisipkan rokok di bibirnya.

"Bagaimana di kelasmu? Menyenangkan?" Sai menoleh ke samping saat Naruto menyalakan rokoknya dan hanya mengangkat bahu menjawab pertanyaannya.

Menghela napas pelan, Sai membuka tas Naruto dan mengambil salah satu buku yang ada di sana sebelum membukanya.

"Gambaranmu semakin bagus, pasti di kelas tidak pernah memerhatikan guru," Naruto menarik sudut bibirnya untuk tersenyum mendengar komentar Sai.

"Kenapa semua hanya pemandangan?"

"Memangnya apalagi yang bisa digambar selain itu."

"Baiklah, baiklah. Lebih cepat lebih baik, aku akan menunggumu di sini sampai kau selesai."

Saat Naruto berdiri sambil menghembuskan asap rokok dari bibirnya, Sasuke segera memundurkan langkahnya dan berbalik berjalan menjauh. Tak ada tanyanya yang terjawab, segalanya masih berbentuk abstrak dan semakin menimbulkan rasa penasaran yang tak dapat ia lupakan begitu saja. Jika Naruto dapat bebicara dengan orang lain, artinya ada banyak celah yang dapat ia temukan. Lalu Sasuke menarik napas dalam, menyadari bahwa hal yang tidak masuk akal dapat terjadi pada siapapun, dan ia sedikit menyesal telah menjadi salah satu korban kebodohan itu.

Jadi, dia masih bisa tersenyum.

.

.

.

[TBC]


If you're going to complain about the characterization, no need to. Yes, they're out of character, saya tahu dan saya mohon maaf untuk itu. Lalu bagi yang meminta m-preg di fict saya sebelumnya, saya tidak yakin bisa membuatnya, tapi suatu hari, mungkin saja saya mendapat inspirasi.

Untuk Ai, maaf kalau tidak sesuai permintaan kamu dulu, kakak lupa detailnya bagaimana jadi dibuatkan versi kakak saja, ya. /slapped/

Semoga suka *gloms everyone*

.

ps: cover taken from 10-Rankai's doujinshi titled Goshiki no niji ga oriru toki volume 2