.

.

Aku terus mencari. Aku terus menuliskan angka-angka ke sebuah kertas berwarna abu-abu sedikit kecoklatan dengan pensil, sesekali aku akan mengalihkan mata ku kearah monitor dan kembali ke kertas untuk mencocokan si angka yang terdapat di kertas dengan yang ada dikomputer.

Aku membaringkan kepala ku keatas meja dengan lengan kanan sebagai bantalannya, memejamkan mata untuk meredakan pertikaian dan perdepatan didalam kepala ku. Pusing. Kepala ku sangat pusing rasanya. Inginnya aku menyerah, tapi apa yang akan terjadi jika aku menyerah? Walau sebenarnya tertebak, tapi aku masih akan berusaha sekuat yang aku bisa.

Tepat dua meter kearah kanan, aku bisa melihat seorang pemuda yang sudah pasti seumur dengan ku dengan pipi chubby dan bibir yang sedikit melengkung kebawah, sedang berdiri sambil memegang sebuah kartu yang juga aku miliki. 'apa dia sudah sepenuhnya menyerah?' tanya ku pada diri sendiri. Sebenarnya sudah jelas, dia tak akan berdiri jika belum menyerah. Aku kembali menelungkupkan kepala ku diatas meja dengan wajah menghadap sebelah kiri yang langsung menampilkan perut buncit milik seorang pria paruh baya.

"Daniel-ah," aku mengangkat kepala ku dan mendapati seorang pemuda chubby tadi kini berada tepat disebelah ku "waktunya sudah hampir habis, kau tidak berniat me-logout?" oh sial, kenapa dia harus mengatakan itu sih? Aku bahkan belum menemukan satu pun jawaban yang sedari tadi aku cari.

Aku bisa merasakan beberapa bulir keringat mengalir dipunggung ku, padahal aku yakin suhu udara disini jauh lebih dingin dibandingkan diluar sana. Aku sangat panik, apa yang harus aku lakukan?

"aku belum selesai, gimana nih?" tanya ku setengah memelas. Jaehwan atau pemuda chubby tadi menepuk pundak ku dan sedikit meremasnya

"pejamkan mata mu, klik pilihannya dan sebut nama tuhan dalam hati mu," aku mengernyit "sudah lakukan saja, hasilnya juga pasti nggak akan jauh berbeda dengan ku," kata jaehwan meyakinkan, walau sebenarnya itu sama sekali tidak membantu "aku duluan," dia berjalan meninggalkan ku dan memberikan kartu itu pada pria berperut buncit.

Aku menatap selembar kertas yang penuh dengan simbol dan angka. Sekilas kau mungkin akan berpikir betapa pintarnya, tapi percaya lah tak ada satu pun hasil perhitungan ku yang sama dengan pilihan yang ada.

"kang daniel, waktu mu dua menit lagi"

Aku meghela napas kasar. Kalau sudah begini tak ada cara lain selain mengikuti saran Jaehwan.

.

.

.