Forget-me-not

Ansatsu Kyoushitsu

Rated : T

Disclaimer : Ansatsu Kyoushitsu hanya milik Matsui Yuusei. saya hanya meminjam beberapa propertinya saja

WARNING! : Typo,kesalahan huruf kapital, penggunaan tanda baca dan lain-lain.

Enjoy!

Sinar mentari pagi yang menyelinap masuk lewat ruas-ruas jendela kamar gadis cantik bersurai biru itu, begitu hangat untuk menyambut hari-harinya. Suara nyanyian burung-burung pun tersengar sampai ke telinganya walau hanya beberapa bait saja.
Shiota Nagisa, gadis itu lekas menyikat giginya lalu mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke sekolah.
Dia menuruni anak tangga lalu berjalan menuju dapur untuk bertemu dengan bibinya yang sesang memasak sarapan pagi. Tanpa di komando, Nagisa dengan segera membantu bibinya mengoleskan menyega pada roti sebelum dipanggang.
"Ohayou nagisa chan..." Sapa bibinya, mereka pun saling bertegur sapa dan saling melempar senyum.

Sejak kecil, Nagisa di rawat serta dibesarkan oleh paman dan bibinya, karena orang tua Nagisa bercerai dan tidak pernah datang kembali.

Setelah roti-roti itu selesai dipanggang, Nagisa membawanya menuju meja makan.
Pamannya sibuk membaa koran pagi seraya menyeruput secangkir kopi hangat dari cangkir.
"Selamat pagi paman" sapanya manis.
"Ah selamat pagi Nagisa..." Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari koran.

Ketika hidangan sarapan telah siap, ketiganya mulai menyantap makanannya. Sarapan pagi di pagi yang hangat karena diselingi oleh canda dan tawa.
"Ah aku rasa aku harus berangkat" ujar nagisa setelah menghabiskan roti panggangnya.
"Kotak bento mu..." Ujar bibinya sembari menunjuk kearah tempat makan yang di bungkus kain berwarna biru. "Ah terima kasih bibi" jawabnya semangat.
Nagisa berjalan setengah berlari menuju rak sepatu lalu mengambil sepatunya.
"Aku berangkat" pamit Nagisa.
"Hati-hati dijalan" jawab paman dan bibinya.
Sekonyong-konyong Nagisa lalu mulai meninggalkan halaman rumahnya untuk menuju sekolah dengan berjalan setengah berlari.
Ketika di tengah perjalanannya, ada seorang yang menepuk kepalanya "hai pendek!" Seru pemuda bersurai merah itu. Dia bernama Akabane Karma, kawan sekelas Nagisa.
Kemudian Nagisa merasa kesal dan mengejar pemuda keren tersebut. "Jangan lari kau!"
Karena kejar mengejar itu mereka berdua sampai di sekolah tepat waktu saat bel sekolah berdenting.

Mobil mewah berwarna hitam itu berhenti depan sekolah, sang supir pun turun dari mobilnya untuk membukakan pintu belakang tepat dimana majikannya berada.
Asano Gakushuu, pemuda bersurai oranye itu turun dari mobilnya seara terhormat. Tubuh yang ditegakkan dan lambang sebagai ketua osis di sekolah ternama itu sebagai simbol betapa tersohornya dia.
"Selamat pagi Shiota" sapa Asano dengan ramah disertai decihan Karma yang memandang bahwa Asano hanya ingin cari muka saja.
"Ah... Se-selamat pagi Asano-kun" jawabnya sambil menunduk.
Karma menghela napas. "Hmm begitu ya...saa Nagisa aku duluan" dia meninggalkan Asano dan Nagisa berdua. Kemudian kepala Nagisa segera menoleh kearah Karma.
"Ehh... Karma-kun! Tunggu! Urusanmu belum selesai denganku!" Ujarnya sembari mengejar pemuda bersurai merah itu.
Sementara itu Asano hanya tersenyum lalu senyumnya memudar ketika melihat Nagisa bersama lelaki bersurai merah itu dan terlihat begitu ceria. Ketika wajahnya menoleh kearahnya disertai senyum cerah membuat Asano terkaku. "Apa yang aku pikirkan darinya?" Batin Asano.

Hari-hari di kelas berjalan dengan biasa, malah membosankan.
TENG! TENG! TENG!
Bel istirahat yang ditunggu2 oleh anak2 kelas pun akhirnya datang.

"Yo Nagisa, ada apa hubungan mu dengan Asano?" Tanya Karma jahil.
Nagisa tersentak "ti...tidak ada... Dia hanya temanku. Aku bertemu dengannya saat penerimaan siswa baru." Ujar nagisa pelan.
"Ceeeh begitu ya, ngomong-ngomong lusa adalah hari terakhir sekolah sebelum liburan musim dingin. Dan pada saat hari itu, ada ujian matematika. Bagaimana kalau kita taruhan, Nagisa..." Gumam Karma sambil tersenyum sarkastis pada gadis bersurai biru itu.
Nagisa terdiam sebentar, tentu bukan ide bagus karena Karma adalah anak yang Pintar dalam segala hal serta Jenius dalam ujian matematika.
"Heeh... Taruhan? Yang benar saja?!" Nagisa tersentak. Karma kini menyeringai ke arah Nagisa, dan mendekati wajahnya. Entah mengapa gadis bersurai itu terasa panas dan jantungnya berdegup kencang.
"Jaa... Kalau begitu selamat berjuang" ujarnya lalu berjalan menuju keluar kelas.
"Apa-apaan sih dia" gumam Nagisa dalam hati.
"Ah Karma itu memang selalu seenaknya ya" ujar Kayano pelan. Namun Nagisa menanggapinya dengan pasti.
"Aku sangat setuju!" Gumamnya kesal, bukan pada Kayano namun kepada Karma. Namun gadis bersurai hijau itu malah mendekatkan diri pada Nagisa dan membisikan sesuatu. "Kalau dilihat dari tingkah lakunya, Karma mungkin menyukai Nagisa lho" ujarnya sembari tersenyum jahil. Nagisa yang mendengar itu secara langsung dari mulut Kaede pun tertegun. "Heee! Tidak mungkin!" Teriaknya tidak setuju.

"Jangan teriak dong! Eh..." Protes Kaede sembari mendekatkan mulutnya kearah telinga Nagisa. "Atau kau juga suka pada Karma?" Pertanyaan Kaede barusa malah semakin membuat Nagisa semakin terbelalak. "HEEEH! TI-" sebelum Nagisa menyelesaikan kalimatnya jtu, Kayano segera menutup mulut Nagisa dengan menggunakan telapak tangannya. "Heeh jujur saja...dari tadi wajahmu memerah lho..."goda Kayano sementara itu Nagisa tidak sempat menjawab karena mulutnya masih dalam keadaan tertutup.

Sepulang sekolah, Nagisa berjalan memasuki Koridor sekolah lantai dua, namun kedua iris birunya tersorot ke arah perpustakaan. "Ah benar, aku harus belajar agar bisa mengalahkan Karma" ujarnya. Kemudian dia memasuki ruangan itu.
Sesampainya di ruangan yang disesaki oleh buku, Nagisa mulai sibuk untuk memilah-milah buku mana yang akan menjadi referensi belajarnya. Namun diantara buku-buku itu ada satu buku yang mungkin penting buatnya untuk di pelajari. Namun buku itu ada di rak paling atas. Menyadari bahwa tubuhnya pendek, dia pun berusaha untuk berjinjit menggapai buku itu. "Sepertinya kau nampak kesulitan ya..." suara yang tidak asing ditangkap oleh indera pendengarannya "biar aku bantu..."
Asano Gakushuu, rupanya putra dari pimpinan SMA kunugigaoka sedang memperhatikannya dari tadi.
Tubuh tinggi Asano pun berhasil menggapai buku yang di maksud oleh Nagisa. Kemudian Asano memberikannya pada Nagisa. "Te...terima kasih" ujarnya. Asano mengangguk seraya tersenyum hangat. "Mau belajar bersama?" Ajaknya, tanpa berpikir panjang Nagisa mengangguk tanda mengiyakan tawaran dari Asano.

Sebuah meja yang di apit oleh dua bangku. Gadis bersurai biru langin duduk berhadapan lelaki bersurai oranye itu. Hening menemani Atmosfir keduanya walaupun perpustakaan saat itu banyak dikunjungi orang.

Beberapa soal Nagisa mampu mengerjakannya dengan lancar, namun ada beberapa juga yang membuat kinerja tangannya berhenti lalu giliran otaknya untuk berpikir. "Soal ini..." Gadis bersurai biru langit itu berkomat kamit.
"Ada apa Shiota, ada yang tidak mengerti?"
"Ah... Aku masih bingung tentang soal ini..." Ucap Nagisa sembari menunjuk soal itu dengan ujung pensil.
Asano langsung bangun dari tempat duduknya lalu menghampiri Nagisa.
"Oh... Yang ini, pertama-tama kau faktorkan terlebih dahulu lalu selanjutnya kau gunakan rumus ini" ujar Asano.
Kemudian Nagisa mulai menuruti kata-kata Asano. Asano tersenyum dan lebih mendekat kearah Nagisa.
"Ah... Kau hebat... Sekarang aku mengerti" ujarnya menoleh kearah Asano namun sedikit terkejut dengan jaraknya yang cukup dekan dengannya itu. Lalu semburat rona merah mewarnai wajahnya yang merah "asano-kun... Kau terlalu dekat..."ujar Nagisa pelan.
"Ah... Maaf" jawab asano masih tersenyum pada Nagisa.

"ah tidak apa-apa... lebih baik panggil Aku Nagisa" ucap Nagisa sambil tersenyum manis dan sempat membuat Asano salah tingkah.

Seorang Figur bersurai merah itu berjalan melewati perpustakaan lalu melirik kearah gadis bersurai biru yang tengah sibuk belajar. Senyum terukir di kedua sudut bibirnya. Namun ketika di sorot lagi, ada seorang figur yang tidak dia sukai, ya Asano, kini sedang berdua dengan Nagisa. Karma mendecakkan lidah kemudian menghentakkan lantai dengan kaki kanannya lalu berjalan melewati perpustakaan itu dan tidak mempedulikan apa yang barusan dia liat.