Forget me not

Ansatsu Kyoushitsu

Rated : T

Disclaimer : Ansatsu Kyoushitsu hanya milik Matsui Yuusei-sensei. saya hanya meminjam beberapa Propertinya.

Warning : Kesalahan tanda baca, tidak sesuai dengan EYD, typos, penggunaan huruf kapital.

Don't like Don't Read

ENJOY!

Hari Ujian matematika tiba

"Ukh... Hari ini aku harus mengalahkan Karma" ujar Nagisa sembari memakaikan pita pada rambutnya.

Kemudian setelah bersiap-siap dia berangkat ke sekolah lebih awal dan berharap semoga tidak bertemu dengan pemuda bersurai merah tersebut.

Pada saat ujian

Beberapa soal Nagisa lalui, walaupun ada beberapa soal yang mengganggunya Nagisa dapat menyelesaikan semua soal dengan lancar.

Ujian itu langsung di koreksi oleh guru matematika dan masing masing murid mendapatkan hasilnya. Banyak wajah wajah yang terlihat senang dan muram. Nagisa melihat hasil ujiannya "85?" Timbul berbagai pertanyaan dalam benaknya. Apakah sensei salah memberikan nilai atau Nagisa kurang menyelesaikan soal atau yang lain-lain.

"heh…Nagisa-chan dapat nilai segitu bagus… aku hanya dapat 60"ucap Kayano dengan lemas sembari menunjukkan angka 60 yang ditulis oleh tinta merah. Nagisa hanya setengah tersenyum karena bingung bagaimana cara menunjukkan ekpresi di depan sahabatnya.

Kemudian si Setan Merah menghampiri gadis itu "bagaimana Nagisa chan? Kau dapat berapa?" Tanya Karma dengan senyum menggoda. Walaupun Karma sudah tahu dialah yang menang, tapi tetap saja jiwa jahilnya sudah mendarah daging hingga sulit untuk dipisahkan.

Nagisa tertunduk lalu. "Aku tahu kau yang menang… aku tahu aku tidak akan bisa mengalahkanmu. Baiklah aku akan menuruti keinginanmu selama keinginan mu tidak macam-macam"ujar Nagisa Pasrah sesekali menghela Napas. Senyum terlukis pada kedua sudut bibir Akabane Karma, Senyum Sarkastis.

"Heeh kau pasrah sekali... Padahal baru saja aku mau memujimu karena kesungguhanmu" ujar Karma "tapi kalau dari hasil sih sudah pasti aku yang menang" ujar karma sembari menunjukkan hasil ujian matematikannya dengan nilai 100.

Nagisa mendecakkan lidah "Cih, tukang pamer" gerutu Nagisa.

"Saa...Nagisa, aku punya Tiga permintaan..." Karma melanjutkan topic mengenai kesepakatan yang telah mereka setujui sebelum ujian Matematika.

Nagisa tertegun dan jelas dari mimic mukanya Nampak ketidaksetujuan atas keputusan Karma. "Ehh Tiga permintaan bukankah itu terlalu banyak?"pekik Nagisa.

"Heeh, hanya tiga loh. Pilih tiga atau lima ?" Godanya sembari tersenyum menggoda gadis itu. Sepertinya Karma sangat senang menggoda gadis tersebut, seperti anak kecil yang baru saja menemukan mainan yang sangat menyenangkan. Namun Nagisa bukanlah mainan.

"Baiklah baik... Ucapkan saja..." Nagisa menjawab dengan pasrah dan bersiap untuk sesuatu yang mungkin saja aneh.

"Hmmm... Berkencanlah denganku lusa, pada tanggal 24 desember" ujar Karma serius.

Wajah nagisa memerah "ke-kencan?" Tanya Nagisa yang hanya direspon oleh anggukan pemuda bersurai merah di depannya. Aneh, dia tidak melihat ekspresi jahil terpapang pada wajah seorang Akabane Karma. Ajakan ini malah seperti seorang lelaki mengajak gadisnya untuk menghabiskan waktu senggang hanya berdua.

"Jangan telat ya, aku akan tunggu kau di depan stasiun jam 7 malam" ujar Karma.

Lusa.

"Pakai baju apa ya?" Gumam Nagisa sembari memilah-milah pakaian namun belum ada yang cocok untuk hari ini. "Ah, kenapa aku jadi memedulikan pakaian padahal hanya pergi dengan setan merah itu"gerutunya. Nagisa mengembungkan pipinya sembari meremas-remas baju yang menurutnya tidak cocok.

Sekilas terbayang wajah Karma tersenyum padanya. Kemudian dia teringat pada Karma saat pertama kali mereka pertama kali bertemu.

Pertama kalinya Karma memanggil Nagisa dengan sebutan "si pendek"

Sampai saat ini… Namun lama kelamaan ada sesuatu yang tidak sadari…

Mengenai perasaan ini…

Kemudian tatapannya tersorot pada sisa baju yang belum dia lihat; blus sailor berwarna biru muda dan putih dan rok pendek kotak-kotak. "bagus juga..."

Akhirnya dia memakai baju itu dan memakai lipgloss juga parfum. Dia menatap jam dinding yang ada di kamarnya. "Ah Gawat! Aku bisa terlambat!" Ujarnya lalu segera menyambar tas kecil, jas berwarna cokelat dan syal berwarna merah.

"Bibi, aku pergi dulu ya!" Seru Nagisa.

"Baiklah, bersama Kayano?" Tanya bibinya. Kemudian Nagisa menghentikan langkahnya.

"Uhm...bukan..." Nagisa menggeleng pelan.

"Bersama Akabane?" Tanya bibinya sambil tersenyum menggoda.

Wajah Nagisa kemudian memerah.

"Kalau begitu, semoga beruntung ya!" seru bibinya.

"Ah bibi, aku berangkat dulu..." Tanpa ba-bi-bu Nagisa melanjutkan langkahnya.

"Hati-hati di jalan!"Seru bibinya

Nagisa berjalan setengah berlari menuju stasiun. Asap mengepul dari mulutnya karena suhu sangat dingin. Sepanjang perjalanan suasana natal terlihat. Sesampainya di stasiun Nagisa melihat pemuda bersurai merah yang sudah tidak asing lagi. Akabane Karma, dia sedang mendengarkan lagunya dengan earphone melalui ipod. nagisa memperhatikan Karma. Kemudian Karma memasukan tangannya kedalam saku celana lalu menyapu rambut merahnya dengan kelima jarinya "Kerennya..."batin Nagisa, kemudian tersadar. "Aku mikir apa..."

Kemudian Nagisa berjalan menuju Karma "Karma-kun" panggilnya.

"Ah, Nagisa-chan kau sudah sampai" ujar Karma sembari melepaskan earphonenya. senyum terlukis di bibir pemuda itu.

"Ah... Maaf sudah menunggu lama"ujar Nagisa sembari menunduk.

"Tak apa...ngomong-ngomong tumben kau tidak mengikat rambutmu seperti biasanya" tegur karma.

"Uhm... Aku tadi buru-buru" jawab Nagisa dengan Alibi-nya.

"Dan, kau dandan ya..." Ujarnya sembari menunjukkan devil smile nya.

Wajah Nagisa merona "ukh..."

Kemudian Karma tersenyum tenang memperhatikan gadis yang ada di depannya. "Tak apa.. Nagisa-chan cantik kok."

Lagi-lagi pemuda Akabane itu membuat gadis di depannya tersipu malu.

"Kau belum pernah kencan kan?"tanya Karma lalu di respon oleh gelengan kepala dari Nagisa. "Kalau begitu aku akan mengajarimu..." karma tersenyum bersemangat sambil menarik tangan Nagisa dan berjalan dengan langkah yang cukup cepat. Mereka pun menaiki kereta, entah kemana Karma mengajak Gadis itu. Nagisa terlihat canggung dan sedikit pendiam karena dia baru kali ini berkencan. Berbeda sekali ketika berangkat sekolah bersama.

"ne… Nagisa-chan, coba kau dengarkan lagu ini" ujar Karma sambil mencoba untuk memecah keheningan. Karma memberikan earphone sebelah kirinya pada Nagisa lalu musik klasik mengalun dengan lembut. 'hmm… begini selera musik Karma-kun' Nagisa tersenyum senang, ternyata seorang Karma bisa menghangatkan suasana walaupun ini adalah musim dingin.

Kereta pun berhenti di stasiun. "Nagisa-chan, sepertinya kita sudah sampai" ujar Karma. Nagisa mengangguk sambil mengikuti Karma turun dari kereta.

Pertama-tama Karma mengajak Nagisa makan. "Karma-kun, kau yakin kita akan makan disini?" Tanya Nagisa sambil melihat daftar menu disertai harganya yang makan.

"Heeh tidak usah sungkan, aku yang mengajakmu kesini, jadi aku yang bayar" ujar Karma santai.

Selanjutnya mereka pergi berjalan melewati toko-toko yang menjajakan souvenir. "hei, lihat itu! Ada photoboth. Ayo kita ke sana Karma-kun" ajak Nagisa bersemangat menuju tempat photobooth.

Karma berkomat-kamit terhadap gadis yang ada di depannya ini. "anak-anak perempuan suka yang seperti ini ya? Baiklah satu foto saja ya…" Ujar Karma yang dijawab oleh anggukan Nagisa.

Mereka pun mulai mengambil gaya masing-masing. Foto selesai diambil selanjutnya mereka menunggu beberapa menit untuk foto itu selesai di cetak. "hasilnya bagus…" gumam Nagisa. "satu untukmu satu untukku" ujarnya semangat. Karma hanya tersenyum sambil memperhatikan wajah gadis itu.

Kemudian pada jam setengah 12 malam Karma mengajak Nagisa menuju dekat kuil. Pada saat itu kuil tidak begitu ramai orang. Hening menemani mereka berdua. "Nagisa-chan..."

"Uhm?" Sahut Nagisa. Kemudian Karma dan Nagisa saling berhadapan. Sekonyong-konyong Karma menyentil dahi Nagisa pelan.

"Duh,sakit. Ada apa Karma-kun?"ujarnya mengembungkan pipi. Imut sekali.

"Kau pendek"Ujar Karma"kau bodoh"tambah Karma "kau ceroboh"

"Eh?! Apa maksudmu bicara seperti itu Karma-ku-" sebelum Nagisa menyelesaikan kalimannya Karma meletakan jari telunjuknya pada bibir Nagisa. "Namun melihatmu berjuang dengan gigih, membuat banyak orang tersenyum, dan selalu terlihat bersemangat…."Karma Menatapi gadis bersurai biru itu sambil mengunci tatapannya "Aku tersadar bahwa ternyata aku telah jatuh cinta dengan orang seperti itu" ujar Karma. Nagisa kini diam bergeming dan berusaha mencerna perkataan Karma. Namun semburat rona wajah Nagisa sudah tidak bisa dipungkiri lagi. "Ka-Karma-kun..." Ucap Nagisa

Pip

Jam tangan digital milik Karma berbunyi menandakan telah jam 12 malam.

"Ne... Nagisa-chan... Sekarang adalah ulang tahunku. Kalau begitu permintaan ku yang kedua adalah hadiah ulang tahun" ujar Karma sambil tersenyum kearah Nagisa.

Nagisa tersentak, dia tidak memikirkan apa-apa saat berangkat. "E-etto... Maafkan aku" kemudian dia membungkuk "aku lupa membawakan hadiah untukmu...kalau begitu aku akan memberikanmu saat masuk ke sekolah" ucap Nagisa.

"Haah... Apalah arti hadiah di hari lain..." Karma menghela nafas kecewa.

"Baiklah kalau begitu kau boleh meminta padaku apa saja yang kau inginkan selama aku sanggup" ujar Nagisa mencari cara agar dia tidak membuat Karma kecewa.

"Hmm... Baiklah... Aku mau kau memejamkan mata" ujar Karma sembari menyunggingkan senyum.

"Heh, untuk apa?" Nagisa merakan sesuatu yang tidak enak, dia takut dirinya akan dijahili oleh Karma.

"Lakukan saja." Ujar Karma dengan tenang.

Nagisa pun mengikuti perintah Karma lalu memejamkan kedua matanya dengan Ragu.

Setelah itu Karma mengangkat dagu gadis itu lalu mendekati wajahnya pada wajah Nagisa serta segera menghapus jarak antara mereka kedua. Kedua bibir mereka saling bersentuhan, nagisa terkejut namun dia terasa hangat ketika Karma menariknya pada dekapannya. Tercium aroma Parfum Strawberry yang manis dari tubuh pemuda surai merah itu. Nagisa pun membalas ciuman yang diberikan Karma. Karma kembali memperkuat ciumannya, Namun Nagisa segera melepaskannya dan segera mengambil napas, sepertinya dia kehabisan Oksigen.

"Kau tidak menyukainya?" Tanya Karma sembari melihat Nagisa dengan tatapan gusar.

"Eh, bukan begitu Karma-kun aku-" belum selesai dalam kalimatnya, Karma memotongnya.

"Ayo pulang...aku akan mengantarmu" ujar Karma dingin. Nagisa terhenyak melihat Karma berubah drastis setelah ciuman itu.

Dalam perjalanan pulang pun mereka tidak berbincang-bincang sepatah katapun. Tidak seperti saat berangkat Tadi.

Akhirnya mereka sampai di depan rumah Nagisa. "Karma-kun terima kasih "ucap Nagisa sambil tersenyum lembut. Karma buru-buru membalikan badannya sambil melambaikan Tangannya. Dia tidak mengucapkan sepatah katapun.

"Karma-kun, selamat ulang tahun." Ucap Nagisa lirih, air mata keluar dari sepasang matanya.

WOAH akhirnya selesai chapter 2. sebenarnya Author ingin mem-publishnya lebih cepat namun mencari tempat untuk Wifi hehehe

oh iya ada Review dari Shinraa-san terima kasih banyak atas reviewnya. iya disini Nagisa mirip banget sama bunga Forget-me-not. untuk konflik munkin akan Author kembangkan. terima kasih