COMING HOME
DONGHAE X HYUKJAE
.
.
Fanfic ini diremake dari sebuah novel yang juga berjudul COMING HOME karya Sefryana Khairil dari penerbit Gagas Media. Dijadikan dalam bentuk versi Boys Love dengan sedikit perombakan, pengurangan dan penambahan disana-sini disesuaikan dengan kebutuhan alur cerita.
Bagi yang kurang berkenan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Remake dan Boys Love/Yaoi harap segera menyingkir demi kenyamanan bersama.
.
.
Thank You
.
.
Happy Reading
.
.
BAB 2
I looked away
then I looked back at you
You tried to say
the things that you can't undo
-"Fall to Pieces", Avril Lavigne—
.
.
.
Ketika jejak kakimu bergema dalam ingatanku.
Sebuah ruangan kelas penuh warna dengan hiasan langit-langit dari kertas origami, meja dan bangku mungil berwarna-warni, dan beberapa rak yang diberi warna senada untuk menyimpan buku dan mainan, terdengar ramai oleh suara nyanyian.
Lee Hyukjae-sang guru-berkeliling sambil bertepuk tangan, memperhatikan satu-satu anak muridnya bernyanyi mengikutinya. Anak-anak itu terlihat semangat, suara mereka terdengar nyaring. Mereka duduk rapi-melipat tangan di meja dan duduk tegak-dan membuka mulut lebar saat bernyanyi.
Hyukjae tersenyum senang melihat anak-anak itu menampakkan wajah ceria. Berpasang mata mungil itu menyimpan perjalanan panjang dengan cahaya-cahaya lembut yang terpancar. Melihat cahaya itu salah satu alasannya tetap bertahan di Kindergaten sederhana bersama seorang sahabatnya-yang juga guru disini- dan seorang kepala sekolah. Meskipun Hyukjae seorang lelaki, tetapi keputusannya menggantikan guru yang pindah ke kota lain, ternyata bukan hal yang buruk.
Anak-anak dan Kindergaten ini menawarkan sesuatu yang lain untuk hidupnya. Penggambaran hidupnya sempat pupus lima tahun lalu, sebuah titik dimana dia harus benar-benar berhenti atau bertahan dengan sisa kepingan hidupnya. Hyukjae memilih berhenti untuk kali pertama, tetapi terasa sia-sia. Hingga sahabatnya mengundang masuk ke dunia yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Setelah lagu berakhir, Hyukjae tersenyum senang. "Ayo, tepuk tangan!" ujarnya riang. Ia bahagia melihat mata di wajah-wajah mungil di hadapannya berbinar. Lalu, ia mengambil mistar plastik panjang dan menunjuk ke kotak-kotak warna di papan tulis. "Nah, jadi warna pelangi apa saja, Adeul?"
"Merah!" seru anak-anak serentak.
"Lalu, yang ini?" Hyukjae menunjuk kotak warna di sebelahnya.
"Kuning."
"Yang ini?"
"Hijau."
"Kajja, sama-sama sebutkan lagi!"
"Merah, Kuning, Hijau."
"Aigoo~ Charanda!" Hyukjae kembali bertepuk tangan.
Di saat bersamaan, Hyukjae melihat sekilas sepasang ayah dan anaknya sedang berjalan memasuki Kindergaten dari arah halaman sekolah. Siapa? pikirnya. Ia merasa tidak asing dengan wajah yang tengah menunduk, berbicara dengan anak yang digandengnya. Lalu , Hyukjae melanjutkan pelajaran. Ia menunjuk warna lain di papan tulis. "Nah, tadi warna pelangi sudah. Kalau warna langit apa? Ayo diingat-ingat."
"Biru!"
"Kita nyanyikan sekali lagi sambil sebutkan warnanya, ne."
Hyukjae mulai bernyanyi sambil menunjuk kotak-kotak dipapan tulis. Suara anak-anak kembali menyemarakan suasana kelas.
"Permisi, Hyukjae Sonsengnim," Terdengar suara Kim Taeyeon Sonsengnim di pintu berbarengan dengan ketukan.
Hyukjae meletakan mistar dan mendekati pintu. "Ya Kim Sonsengnim?" Namun, tiba-tiba saja, tenggorokannya tercekat mendapati dua orang yang berdiri di samping kepala sekolah. Benar dugaannya, ia mengenal laki-laki yang tingginya sama dengannya, berkulit agak kecoklatan, dan bermata sendu itu.
"Ini Lee Haru, anak baru yang saya ceritakan. Panggilannya Haru." Kim Sonsengnim merangkul gadis berambut lurus dikucir dua, bermata sendu pekat jernih, dan berkulit putih bersih. Kemudian, Kim Sonsengnim beralih ke laki-laki disampingnya. "Ini ayahnya Haru, Lee Donghae."
Ini mimpi, kan? Hyukjae merasakan tubuhnya menegang dan lidahnya kelu. Tidak mungkin dia. Tidak! Ia sudah melupakan laki-laki itu dan berhenti memikirkannya. Ia pun sudah membuang jauh-jauh kenangan pahitnya. Kenapa Donghae muncul begitu tiba-tiba dihadapannya? Benar-benar nyata.
"Hyukjae?" Suara laki-laki itu pun terdengar berat dan terbata, tidak kalah terkejut. Tangannya terulur perlahan.
Hyukjae tidak tahu harus bersikap seperti apa. Ia menjulurkan tangannya, menempelkan di telapak tangan lelaki itu sekenanya, lalu menarik kembali. Ia ingin bersuara, tetapi kalah dengan debaran jantungnya. Ia juga dapat merasakan wajahnya mendingin tanpa ekspresi karena bimbang dan emosi campur aduk.
Hyukjae mengingat segala apa yang terjadi antara mereka. Detik bahagia, detik sedih, hingga detik kecewa, semua tergambar jelas dalam memorinya. Ia kira setelah ketukan palu, semua selesai. Tak ada yang sulit, tak ada yang harus di khawatirkan lagi. Tetapi, ia salah besar karena semua tidak terhenti sampai disitu.
"Apa, Mr. Donghae kenal dengan Lee Sonsengnim?" Kim Sonsengnim memandang kedua orang itu dengan bingung.
"Iya, Kami..." Donghae menelan ludah susah payah. Wajahnya memucat ketika matanya bertemu dengan mata Hyukjae. "Kami... teman lama."
"Betulkah begitu, dunia sempit betul ternyata" Mata Kim Sonsengnim melebar.
Donghae menatap Hyukjae sejenak, tetapi segera menjatuhkan pandangannya, berusaha memalingkan muka.
Hyukjae masih mematung. Suaranya pun masih tertahan di tenggorokan. Ia memperhatikan setiap detail laki-laki itu. Lekuk senyumnya dihiasi rahang kuat. Cara berdirinya begitu menarik. Hanya saja, penampilannya sangat jauh berbeda dengan kali terakhir ia melihatnya. Kemeja biru tua yang warnanya sedikit pudar, celana kain berwarna hitam, dan sepatu yang tak lagi terawat. Tubuhnya pun jauh lebih kurus dari lima tahun lalu, kali terakhir mereka bertemu. Donghae memang tidak pernah gemuk-selalu proporsional untuk tingginya-tetapi kali ini, lebih kurus.
Donghae mengalihkan perhatian dengan melihat sejenak ke dalam kelas. Anak-anak sedang ribut bermain ke sana kemari. Lalu, ia melirik ke Hyukjae sekilas dan menunduk ke putrinya itu. "Haru, ayo salam sama Sonsengnim."
Haru menurut menyalami tangan Hyukjae, membuat dadanya tidak menentu. Melihat Haru tersenyum, mau tidak mau ia mngakui, anak itu ramah pada orang lain. Pandangannya masih menampakkan rasa tak percaya. Perasaannya tiba-tiba tidak karuan. Ada sesuatu dalam hatinya yang menggeliat dan jantungnya berdegup lebih cepat.
Hyukjae menatap sepasang sendu jernih itu, persis seperti mata Donghae. Menggemaskan melihat pipi gembulnya. Semakin diperhatikan, Hyukjae semakin teringat Sohyun. Perempuan yang memutarbalikkan dunianya, mengubah kebahagiannya, dan mengambil apa yang paling berharga dalam hidupnya.
"Lee Sonsengnim, ajak masuk Haru dan kenalkan ke teman-temannya," Ujar Kim Sonsengnim.
Hyukjae mengangguk seraya mengulurkan tangan ragu pada anak itu, "Haru, kajja kita masuk,"
Donghae menatap putrinya masuk sambil memasukan tangan ke saku celananya. Wajahnya terlihat gelisah. Ia tersenyum tipis dan mengangguk-anggukan kepala saat mendengarkan Kim Sonsengnim memberinya pengarahan.
Hyukjae sempat melirik laki-laki itu sambil berjalan masuk ke kelas. Perasaan yang menggeliat itu terus meliputi hatinya. Sesaat, kilasan masa lalunya yang tiba-tiba muncul bercampur dengan simpul-simpul kekecewaan yang terlepas. Hatinya terus mempertanyakan kehadiran laki-laki itu disini. Kenapa dan untuk apa?
Ah, kenapa dia tiba-tiba memikirkannya?
Tuhan, apakah rahasia-Mu mempertemukan kami kembali?
.
.
.
Kenyataan apa yang dibawa hidup untuknya saat ini? Hyukjae melihat Donghae yang tengah memainkan smartphone di sisi halaman sekolah sendirian, sementara itu orang tua lain menunggu di kedai yang berada persis di depan Kindergaten. Kemudian, Hyukjae menatap Haru yang duduk tenang membuat bentuk dengan lilin mainan.
Jika ini mimpi, ini adalah mimpi terburuk dalam hidupnya! Matanya berkilat menahan kekesalan hatinya. Mungkinkah laki-laki itu sengaja datang untuk mengungkit masa lalu mereka? Untuk mengacaukan hidupnya? Senangkah Donghae melihatnya benar-benar terpuruk atau bunuh diri karena tidak dapat menahan rasa sakit yang pernah di torehkannya?
"Sonsengnim!" Haru mengangkat tangannya.
Ini baru hari pertama anak itu, tetapi mampu membuatnya benar-benar resah. Hyukjae menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri, lalu melangkah ke meja anak itu. Sepatunya seakan dilem, begitu berat untuk melangkah dan terasa begitu jauh. Senyumnya dipaksakan setenang mungkin, "Kenapa, Haru?"
Hatinya masih tak percaya dimana ia menundukkan tubuh kini. Masih berharap ini mimpi yang akan berakhir ketika ia terbangun keesokan hari. Wajah mungil Haru mau tidak mau menyeretnya ke masa lalu. Anak yang membuat segalanya berakhir. Anak yang menempatkannya di titik terberat dalam hidupnya. Anak yang tidak pernah ingin ditemui atau bahkan diketahuinya. Tanpa sadar, Hyukjae meremas tangannya sendiri, sama kuat dengan remasan diperutnya.
"Haru tidak bisa membuat daun." Haru menunjuk ke badan pohon yang telah dibuatnya dari lilin mainan berwarna cekelat.
Hyukjae berjongkok mengambil lilin mainan warna hijau. "Kita buat bola-bola saja, ne." Ia berusaha menjaga batinnya. Matanya menghindari tatapan bola mata jernih anak itu, sementara tangannya membuat bulatan. Kemudian, bulatan kecil yang dibuatnya ditempelkan di badan pohon. "Jadi kan daunnya?"
"Ne, Bagus!" Anak itu tersenyum penuh semangat. Diambilnya lilin mainan dan dibentuknya persis seperti yang dicontohkan Sonsengnimnya. "Tadinya, Haru mau buat bunga, Sonsengnim. Tapi, warna merahnya tidak ada."
Hyukjae menanggapi dengan senyuman. Remasan tangannya semakin kuat. Seandainya ia bisa mengungkapkan keenggannya. Seandainya anak itu bisa mengerti bagaimana ia sulit bernapas menatapnya. Seandainya ia bisa melakukan sesuatu untuk menghindari anak itu.
Haru kembalii serius dengan kegiatannya. Tangannya dengan cepat membuat bulatan dan menempelkan di batang pohonnya. Sorot matanya begitu serius, memperlihatkan ketelitiannya mengerjakan sesuatu. Begitu mirip Donghae.
"Selesai!" pekik Haru senang melihat pohon dengan bulatan –bulatan hijau yang rapi.
Hyukjae hanya melihat sejenak seraya melangkah menjauhi meja anak itu. Dengan tenang, ia membantu anak lain mengerjakan tugasnya. Dalam hati, ia ingin hari ini cepat berakhir. Ingin tahun cepat berganti dan menghilangkan jejak-jejak masa lalu dalam hidupnya.
.
.
.
Terbang dengan sayap terkoyak.
Mengalah bukan berarti kita kalah kan, chagi? Barang siapa berani mengalah, dialah yang lebih luruh. Hyukjae ingat betul ucapan Eomma-nya saat ia membicarakan perceraiannya dengan Donghae. Ia yang merasa semuanya bisa abadi, tetapi hanya tiga tahun pernikahannya dengan laki-laki itu. Ia yang merasa begitu mengenal Donghae, tetapi perempuan lain yang bisa mengambil hatinya.
Sebuah foto ukuran postcard bergambar dirinya dan Donghae dalam balutan busana tuxedo, dipegangnya dengan gemetar. Hyukjae menatap dengan sorot mata penuh amarah, kesal, kecewa dan berbagai emosi yang membuat sekujur tubuhnya seaakn dilumat kuat-kuat.
Sudah hampir sepuluh tahun lalu saat ia kali pertama bertemu dengan Donghae. Pertemuan yang begitu tiba-tiba. Mereka sama-sama menunggu taksi di depan sebuah gedung di pinggir jalan kota Seoul. Lalu lintas siang itu sangat padat dan langit mendung. Beberapa tetes air terasa ditangannya. Sialnya, Hyukjae lupa membawa payung dan hampir semua taksi yang melintas sudah terisi, sedangkan ia harus sudah sampai di tempat bimbingan belajar kurang dari satu jam.
Ketika hujan merintik perlahan dan tetesnya semakin nyata, Hyukjae berusaha melindungi kepalanya dengan map plastik yang dibawanya. Baru saja ia hendak menyingkir dari jejeran orang yang menunggu bus, ketika sebuah taksi kosong berhenti. Ia bergegas menghampiri. Namun, ketika tangannya meraih handle pintu, ada tangan lain yang juga meraihnya. Hyukjae menoleh, seorang laki-laki yang tingginya hampir sama dengannya, dan juga harum sitrun yang sangat kental, menatao sesaat. Sebuah daya tarik misterius yang membius.
"Ingin memakai taksi ini juga?" tanya laki-laki itu. Pandangannya serius. Ketampanan dengan aura karismatik menambah pesonanya.
Bodoh! umpat Hyukjae. Tentu saja laki-laki itu bisa melihat tangannya yang lebih dulu meraih handle pintu. Hyukjae mengangguk tanpa suara. Ia kesal dan juga gugup. Baru pernah jantungnya berdebar seperti ini—pada seseorang yang belum dikenalnya!
"Kau ingin ke daerah mana?"tanya laki-laki itu kemudian. Sekilas, ia melihat jam tangannya dan mendecak. Pandangannya lurus ke mata lelaki manis di depannya.
"Myeongdong."Bodohnya lagi, Hyukjae terus memperhatikan gerak bola mata sendu itu. Jernih. Ada sesuatu yang lain, yang dirasakannya memancar dari laki-laki di sampinnya. Jarak mereka sangat dekat dan tangan mereka masih bersentuhan.
Laki-laki itu berpikir sesaat, lalu berkata. "Kita searah. Bagaimana kalau kita sama-sama naik taksi ini saja?"
Hyukjae terkejut mendengar tawaran itu. "Itu bukan ide yang baik. Lebih baik Anda menunggu taksi yang lain."
"Terserah." Laki-laki itu mengangkat bahu, sikapnya sangat santai. "Saya buru-buru. Kalau mau, silakan masuk, kalau tidak, silakan menunggu lagi."Ia berkeras. Lalu, menatap langit. "Hujan sebentar lagi deras."
Hyukjae ikut menatap langit. Tetes-tetes air semakin lebat. Beberapa kendaraan di belakang membunyikan klakson dan sopir taksi ikut membuka kaca jendela, menanyakan apakah jadi menggunakan jasanya. Hyukjae tidak mempunyai pilihan. Dibukanya pintu taksi.
"Terima kasih." Hyukjae tersenyum tipis. Ia merasa debarannya semakin kencang. Aneh. Ia melihat laki-laki di sebelahnya yang tengah mengusap rambut depannya dari tetes-tetes air. Lelaki ini tipe perayu, pikirnya. "Sering memakai taksi bersama seperti ini?"
"Tidak, ini kali pertama." Laki-laki itu membalas senyumnya. Matanya seperti menangkap kegugupan lelaki manis di sampingnya. "Mobil saya sedang di bengkel, sopir saya tidak masuk. Padahal, saya harus mengejar meeting. Anda sendiri ada kerjaan penting?"
Hyukjae mengangguk. Hatinya masih setengah percaya pada laki-laki itu. Sengaja ia menjauhkan duduknya "Ya. Saya mengajar di bimbingan belajar."
"Lee Donghae."Laki-laki itu mengulurkan tangannya melihat lelaki manis di sampingnya waspada dengan kehadirannya. Ia tersenyum.
Lelaki manis itu sempat menggantung tangan itu sesaat sebelum akhirnya menjabat. "Lee Hyukjae."
Donghae memang memilliki daya pikat yang kuat dengan alis mata tebal, hidung bertulang tinggi, lekuk bibir tipis yang seimbang, dan rahang yang kokoh. Matanya memiliki tatapan sendu yang sempurna, menyimpan jerat. Dan, Hyukjae adalah salah satu yang terjerat di dalamnya. Lelaki manis itu tersenyum getir menyadarinya.
Mereka bertemu kembali di tempat yang sama beberapa hari setelahnya. Donghae menghentikan mobilnya di depan Hyukjae dan menawarinya tumpangan. Lelaki tampan itu juga menawarkan dunianya untuk tempat berteduh. Dunia yang belum pernah Hyukjae temukan sebelumnya. Donghae mewujudkan mimpi-mimpi kecilnya, membuat kejutan untuknya, memberikan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan.
Donghae dengan sifat dan sikapnya, mudah dekat dengan orang lain. Tipe pekerja keras yang memiliki obsesi dan menganggap sesuatu yang diinginkannya pasti menjadi miliknya. Hyukjae bisa melihat itu dari kegigihan Donghae mendapatkan dirinya. Lelaki itu mau melakukan segala hal asalkan bisa bersamanya. Dan, Hyukjae tahu lelaki itu adalah tempatnya berlabuh.
Setelah pemberkatan di gereja, Hyukjae merasa memasuki dunia khayal yang menyediakan kebahagiaan tanpa batas. Donghae terkadang pulang lebih cepat untuk bertemu dengannya, begitu juga Hyukjae yang rela meninggalkan kelas malam di bimbingan belajar agar bisa membuat sesuatu untuk suaminya. Semua berlangsung sempurna.
Hingga di pertengahan tahun kedua, Donghae sesekali terlihat tidak begitu peduli padanya. Terkadang mereka makan sendiri atau tidur pisah kamar kalau salah satu pulang larut. Pertengkaran-pertengkaran tanpa alasan jelas sering terjadi. Janggal memang, namun Hyukjae tetap mencintainya. Begitu cintanya sampai ia tidak mempercayai omongan miring tentang Donghae yang mengatakan laki-laki itu sering terlihat bersama seorang perempuan, ia tahu pergaulan Donghae saat masih lajang, dan ia percaya saat itu semua baik-baik saja.
Bagi Hyukjae, hari-harinya dengan Donghae tetap indah, meski tanpa tangis bayi di rumah mereka. Betapapun Donghae sibuk, ia tetap menyiapkan kebutuhannya sehari-hari dan menunggu hingga larut. Tidak ada yang berubah dari Donghae di matanya. Masih lelaki sama yang menjadi tempatnya bertahan. Sosok karismatik yang bertanggung jawab dengan pesona gelapnya.
Kebahagiaan yang di rasakan Hyukjae ternyata tidak cukup untuk Donghae. Di tahun ketiga pernikahan mereka, Hyukjae merasakan Donghae mulai tidak dikenalinya—atau justru mulai mengenal siapa laki-laki itu sebenarnya. Wajah dan fisik tidak ada beda, tetapi ia mulai merasa kehilangan sisi hangat dari lelaki itu. Ia istrinya, namun merasa sangat asing di dekatnya. Pertengkaran lebih sering terjadi dibandingkan sebelumnya. Sikap Donghae tak acuh, lebih banyak diam, dan jadwal meetingnya semakin padat. Mereka menjelma menjadi dua patung bernyawa tinggal di bawah satu atap.
Hyukjae mencoba mengambil sisi positif, suaminya hanya sibuk dengan proyek-proeknya. Suaminya masih memiliknya, masih mencintainya, masih menginginkannya. Tetapi sebuah penuturan membeturkannya ke sisi lain...
"Sebenarnya sudah lama, Tuan. tetapi saya tidak berani mengatakannya. Tuan Donghae sering pergi dengan Nyonya Sohyun. Mengemudi sendiri. Saya ditinggal di kantor." Itu yang diungkapkan Pak Hwan, mantan sopir pribadi Donghae,
Kemudian, banyak penuturan-penuturan lain tentang hubungannya dengan Donghae dan perempuan yang menjadi rekan kerja lelaki itu. Seandainya bisa, saat itu, dia tetap ingin tidak percaya. Donghae melengkapi hidupnya. Donghae mengajarkannya banyak hal, termasuk menjadi bahagia dan rasa sakit. Semakin memikirkannya, membuatnya ingin bertemu dengan perempuan yang membelah hati suaminya.
Dengan hati terhempas, Hyukjae menatap Ju Sohyun, perempuan bertubuh semampai dengan rambut pirang sebahu yang tampak modern, cantik dan cerdas. Hyukjae merasa memerlukan cermin besar yang mampu memperlihatkan detail-detail yang tak pernah disadarinya sehingga terlewat begitu saja. Sohyun seorang perempuan yang sangat dewasa. Dia tahu Donghae sudah menikah. Namun, dia tetap mengatakan dengan jujur bahwa dia mencintai lelaki itu, tetapi tidak akan memaksakan kehendak untuk memilikinya. Hyukjae ingin meminta suaminya kembali, tetapi tahu itu mustahil karena kenyataan melemparnya pada selembar kertas hasil tes kehamilan yang ditunjukkan di hadapannya. Sohyun mengandung—buah cintanya dan Donghae.
Ternyata, Hyukjae memang benar-benar keliru melihat sosok suaminya. Donghae, pemdamping hidupnya—yang dia kira menepati janji mencintainya selamanya—tega memorak-porandakan mimpi dan harapannya. Donghae menghancurkan seluruh hidupnya, menghancurkan perasaan yang ia pupuk, dan membuatnya merasa sangat terpuruk. Hyukjae merasa begitu bodoh terpedaya lelaki itu, terpengaruh oleh segala pesonanya dan menganggap Donghae benar-benar mencintainya. Padahal, sebenarnya, ia hanya mainan bagi Donghae.
Kenyataan tidak menyediakan pilihan untuknya saat itu. Ia dihadapkan pada sebuah kenyataan bahwa pernikahan mereka berada disebuah persimpangan dan jalurnya tertutup batang kayu besar yangmengharuskannya berhenti, berpindah mencari jalurnya sendiri. Hatinya terlanjur hancur. Harapan-harapan yang dibangunnya menguap/
Hyukjae hampir meremas foto yang berada di tangannya, tetapi lekas memasukkan kembali ke laci. Sejak mereka bercerai, Hyukjae menarik diri dari banyak orang yang mengenalnya. Sakit tidak bisa bertahan. Dan, pada tahap sekarang ini, harusnya ia sudah bisa merasakan kebahagiaan, ketenangan, kedamaian. Tetapi, kehadiran Donghae dan putrinya memupus semua yang dibangunnya.
Hyukjae merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Matanya penuh oleh air. Sakit dan nyeri merambati sekujur tubuhnya. Ia tidak ingin melihat mantan suaminya lagi. Tidak ingin bertemu dengan Haru. Tuhan seandainya Engkau mau mengubah kenyataan ini. Air matanya menetes perlahan-lahan.
.
.
.
TBC
.
.
.
Big Love
Cutie Monkey
