COMING HOME
DONGHAE X HYUKJAE
.
.
Fanfic ini diremake dari sebuah novel yang juga berjudul COMING HOME karya Sefryana Khairil dari penerbit Gagas Media. Dijadikan dalam bentuk versi Boys Love dengan sedikit perombakan, pengurangan dan penambahan disana-sini disesuaikan dengan kebutuhan alur cerita.
Bagi yang kurang berkenan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Remake dan Boys Love/Yaoi harap segera menyingkir demi kenyamanan bersama.
.
.
Thank You
.
.
Happy Reading
.
.
BAB 3
In a time and place where you don't wanna be
You don't have to walk along this road with me
My yesterday, won't have to be your way
-"If I Could", Michael Bolton—
Tidak selamanya hidup berputar satu arah.
Hyukjae berdiri di depan kelas, menyambut murid-muridnya. Satu persatu anak memasuki kelas dengan sebelumnya membungkuk ke sang guru. Para orang tua yang mengantar hingga pintu, melambaikan tangan dan sebagian berpesan agar si anak bersikap baik.
Udara pagi itu terasa hangat. Angin yang biasanya menerbangkan debu, kini bersikap lebih ramah. Hari yang cerah, seperti wajah-wajah mungil yang ceria. Mereka duduk tenang menunggu guru memulai pelajaran. Beberapa tampak bicara. Hyukjae senang anak muridnya belajar bersosialisasi satu sama lain.
"Pagi, Sonsengnim." Haru membungkuk ke Hyukjae.
Senyum Hyukjae berubah ragu-ragu melihat kehadiran anak itu. Begitu mengadahkan kepala, pandangannya bertemu dengan Donghae. Hyukjae mendesah kesal dalam hati. Selalu saja, ketika menatap wajah itu, serentetan peristiwa berlintas di kepalanya.
"Kau mau tahu satu rahasiaku, Hyuk?" Donghae berbisik di lehernya, mencium perlahan lalu meletakkan kepala di bahunya.
"Apa?" Hyukjae sedang sibuk mengetik di laptopnya, melirik suaminya sekilas.
Donghae mendekatkan mulut ke telinga lelaki manis itu. "Aku mencintaimu." Lalu, memberi gigitan kecil di telinga Hyukjae.
Hyukjae tersenyum dan berusaha menjauhkan diri agar tetap berkonsentrasi. "Itu rahasia?"
"Selalu menjadi rahasia. Antara kau dan aku."
"Sonsengnim?" Haru masih berdiri didepan Hyukjae.
Hyukjae tersadar dan merasa konyol. Semua itu sudah selesai. Ia memberi senyum ke Haru, berganti mengusap rambut gadis kecil itu yang hari ini menggunakan bando pink berpita, berusaha menyembunyikan kegusarannya. "Pagi, Haru." Sekilas sempat dilihatnya laki-laki itu masih berdiri disana, menatap dengan kegalauan yang sama.
Donghae tersenyum simpul. Tangannya dimasukkan ke saku celana. Matanya beralih ke arah lain, menghindari gemetar yang dirasakannya.
Hyukjae menghela napas dan ikut membuang muka. Ada gemuruh di dadanya. Segala kenangan berhamburan. Ia tidak bisa berbohong, dadanya berdebar ketika kedua mata sendu laki-laki itu lurus menatapnya, seakan mengunci untuk terdiam.
Setelah semua anak-anak masuk ke kelas, Hyukjae berdiri di hadapan mereka. Memulai pelajaran dengan doa dan ucapan 'selamat pagi'. Suara-suara itu terdengar keras penuh semangat, membuat Hyukjae senang dan tidak kalah semangat.
"Anak-anak, sudah hafal satu sampai sepuluh yang Sonsengnim ajarkan?'
"Sudah!" Tidak semua anak terdengar menjawab.
"Ayo, siapa yang sudah hafal? Tunjuk tangan!" Hyukjae tersenyum riang agar menambah semangat murid-muridnya.
"Haru!" Lee Haru mengangkat tangan pertama diikuti dengan yang lain.
Hyukjae mendenguk ludah. Kenapa selalu anak itu? Kenapa keadaan semakin menyiksanya? Ia ingin memilih anak lain, tetapi batinnya melarang melakukan itu. Disuruhnya Haru maju ke depan kelas.
"Kajja, Haru sebutkan angka satu sampai sepuluh." Hyukjae menunduk di sampingnya. Entah mengapa ia merasa tubuhnya begetar meskipun berusaha agar tidak tampak.
Haru melafalkan cukup cepat membuat Hyukjae tersenyum. Anak itu memang cepat tanggap setiap di berikan materi. "Haru boleh kembali ke tempat duduk, sekarang gantian Jion yang maju. Kajja Jion-ah!"
Pelajaran terus berlanjut. Anak-anak bergntian maju untuk menyebutkan bilangan-bilangan itu. Mendengar temannya menyebutkan, yang lain ikut bersemangat mengikuti.
Hyukjae tertawa gembira bersama anak-anak. Ia merasa dunianya tidak pernah sepi mendengar celoteh-celoteh itu. Dan untuk kesekiaan kali, saat ia menyuruh salah satu anak maju menggambar bulatan, Haru yang kali pertama mengangkat tangan
"Haru bisa?" ujar Hyukjae saat gadis kecil itu sudah berdiri di depan papan tulis,
"Ne, Sonsengnim!' Haru mengangguk mantap.
Tuhan... Hyukjae meremas tangannya sendiri. Kenapa ia tidak bisa menghindari anak ini? Setelah selesai menggambarkannya, Haru memberikan spidol kepada Hyukjae, gurunya itu. Melihat langkahnya pergi, debaran di dada Hyukjae semakin terasa.
.
.
.
Donghae melihat lagi surat-surat lamaran dan CV yang baru diprintnya di penyewaan komputer. Miris sekali. Saat lulus kuliah dia pernah melakukan ini, dan tanpa disangka, sekarang dia harus melakukannya lagi. Kalau bukan karena Haru, mungkin ia sudah menjadi gila atau mati.
Disandarkannya punggung di jok mobil. Dadanya merasa luruh. Hidup dan dunianya terasa runtuh. Tidak disangka pembenahan diri harus berlangsung begitu panjang.
Saat ini, semua terlihat abu-abu. Buram dan sangat tidak jelas. Sebelumnya, ia seorang general manager. Belasan tahun ia bangun kariernya. Semua fasilitas ia miliki. Namun, sekarang, ia harus menjalani hidup sendiri, merawat anak, merelakan barang-barang miliknya. Ia kehilangan hampir semuanya. Tak ada lagi bayangan serba ada. Tak ada lagi kesibukan meeting. Tak ada lagi karier yang dikejar. Tak ada. Segalanya sudah lenyap. Gelap. Kesibukan berganti dengan keheningan.
Donghae meremas kuat-kuat setir, terasa seperti sedang melupat habis-habis dirinya. Pikirannya seperti benang kusut yang tidak tahu lagi bagaimana mengurainya. Benar, yang harus berlalu biarkan berlalu. Benar, yang harus terjadi biarkan terjadi. Tetapi, dari semua itu, ia butuh keajaiban setelah jauh berlari.
Apa yang kurang dalam hidupnya sebelum ini? Hampir tidak ada. Terasa begitu sempurna hingga hari kelahiran Haru mengubah semuanya. Sohyun harus pergi—benar-benar pergi, meninggalkan dunia—karena terjadi pembengkakan pembuluh darah. Semua berawal dari itu. Atau, jauh sebelum itu? Donghae tidak pernah memikirkannya.
Sajak saat itu, hidupnya berjalan tidak tentu arah. Semua semakin rumit. Satu pertemuan terakhir dengan bosnya membuatnya berpikir panjang, bahwa proses memaafkan bukan melupakan, tetapi memberi ruang dalam diri sendiri. Lucu! Gila! Donghae menertawakan dirinya sendiri dengan getir.
Donghae mengambil rokok di jok sebelahnya. Bunuh diri pelan-pelan, itu yang Hyukjae katakan ketika melihatnya merokok. Delapan tahun lalu.
Kenapa jadi memikirkan lelaki manis itu? Tangan Donghae yang hendak menyalakan korek gas terhenti di depan batang rokok. Ia tidak mengerti mengapa harus bertemu kembali dengan mantan istrinya itu. Tidak ada apa-apa lagi antara mereka. Mungkin, Hyukjae sudah berumah tangga lagi sekarang, sudah mempunyai keluarga yang bahagia. Diakuinya, lelaki manis itu lebih segar, semakin terlihat cantik dan berbinar. Keelokan yang membuatnya tidak bisa melepaskan pandangan saat mereka kali pertama bertemu.
Tidak ada yang istimewa dari seorang Lee Hyukjae. Begitu sederhana dengan rambut hitam mengilap lurus seleher, kulit putih bersih, dan mata bulatnya. Tinggi tubuhnya hampir sejajar dengannya sehingga tampak begitu pas ketika dulu berdampingan dengannya. Senyumnya menapakkan lekuk bibirnya yang tebal. Pinggangnya ramping. Aroma manis strawberry begitu khas dari tubuhnya. Masih seperti dulu, begitu menarik.
Hyukjae bukan orang yang banyak bicara, terkesan kaku. Pembawaannya pemalu. Begitu datar dan tenang, seperti telaga. Tapi, itu yang dulu membuat Donghae tertarik untuk mengenalnya lebih jauh. Ingin menyelami apa yang ada di hatinya. Ingin memilikinya. Ingin menaklukkannya. Tidak ada seseorang pun yang tidak bertekuk lutut kepadanya karena ia mempunyai segala apa yang diinginkan orang pada umumnya.
Namun, Hyukjae tidak sama dengan perempuan atau lelaki yang pernah ada dalam hidupnya. Bukan tipe lelaki yang bisa diajaknya menikmati wine, lalu bercinta sampai pagi, atau tipe lelaki yang rela menyenangkannya demi mendapatkan hal yang diinginkan. Ia hampir kehabisan akal mendapatkan Hyukjae. Tidak pernah ia merasa begitu penasaran dan tergila-gila lepada seorang Lee Hyukjae. Membuatnya semakin-semakin tertantang, semakin memikirkan cara-cara yang mungkin dengan mudah menembus hatinya.
"Hae..." Hyukjae mendesah kesal. "Jadi aku meninggalkan kelas di bimbingan belajar untuk main-main denganmu?"
"Aku sedang tidak main-main." Donghae berkata pelan. Diciumnya telapak tangan Hyukjae dan kembali digenggamnya. "Aku yang mengadakan makan malam ini. Khusus untukmu."
Hyukjae memandangi lelaki yang tampak begitu serius. Tangannya tanpa terasa membalas genggamannya. Senyumnya terlihat malu-malu, membuat rona merah di wajahnya semakin terpancar. Tubuh rampingnya dibalut setelan Sweater warna putih yang terlihat kebesaran dibadannya dan celana jeans hitam. Mata hitam bulatnya bersinar. Rambutnya ditata seperti biasa yang memperlihatkan leher dan kulitnya yang halus. Aroma manis menguar dari tubuhnya. Begitu menggoda.
Donghae mempererat genggaman tangannya. Ia tahu lelaki manis iu juga menginginkannya. Ia tahu pasti mendapatkannya. Dimajukan tubuhnya hingga membuat jarak antara wajah mereka menjadi semakin mendekat. Napas Hyukjae begitu hangat menerpa wajahnya. Dengan suara sedikit berbisik, ia berkata, "Menikahlah denganku, Lee Hyukjae?"
Mereka menikah enam bulan setelah itu. Donghae puas, ia mendapatkan apa yang diinginkannya. Mereka membangun rumah sendiri dan merencanakan semua dalam hidup mereka dengan sempurna. Sayangnya, perlahan Donghae merasa hidupnya terlalu hambar, terlalu monoton, terlalu tidak menarik. Ia bosan. Jenuh.
Hyukjae masih mengajar, terkadang juga mengisi jam malam. Namun, Donghae tidak mempermasalahkan itu. Ia ingin kehidupan yang dinamis, ingin sesuatu yang baru dalam hidupnya, ingin sesuatu yang berbeda, ingin mengejar lebih dari apa yang sudah didapatkannya, ingin banyak hal. Sampai suatu saat, ia bertemu dengan Sohyun, perempuan yang menawarkan sesuatu yang lain.
Selingkuh. Sebenarnya, ia tidak ingin sejauh itu dengan Sohyun. Hanya ingin hubungan bebas dan menyenangkan. Namun, Donghae merasa jatuh cinta—jenis perasaan ini tidak dikenalinya pasti. Sohyun tidak lebih menarik daripada Hyukjae, tetapi seakan-akan mengerti apa yang diinginkannya. Selera humornyan cerdas. Pintar dalam bisnis. Mereka berbagi banyak hal dan menemukan kesamaan. Apakah salah mendapatkan apa yang tidak pernah dirasakan sebelumnya? Apakah salah menginginkan lebih dari apa yang sudah dimiliki?
Pelan-pelan, Donghae menemukan dirinya berada di satu titik yang menentukan ke mana semua harus berjalan. Sohyun menunjukan sebuah surat keterangan laboratorium yang menunjukan hasil positif—ia hamil. Donghae sadar betul dengan perbuatannya dan tidak bisa mengindari apa pun. Itulah dunia yang dipilihnya.
"Ada pepatah, tiga orang terlalu banyak dalam sebuah pernikahan, Hae" ujar Sohyun seraya menggenggam erat tangan laki-laki di hadapannya. "Harus ada salah satu yang mundur. Dan, dipandang dari segi mana pun, akulah orangnya."
Donghae tidak bisa menjawab cepat apa yang dituturkan Sohyun. Ia harus mencari waktu yang tepat untuk mendapatkan jawabannya. Donghae berpikir untuk melepaskan Hyukjae karena ia bukan lelaki yang ingin mempunyai lebih dari satu istri. Ia merasa sudah lama kehilangan rasa terhadap Hyukjae. Namun, ia salah karena yang ia butuhkan bukan waktu yang tepat, melainkan cepat.
Ruangan itu gelap. Sunyi. Suram. Dingin—meskipun pendingin ruangan tidak dinyalakan. Tidak ada suara, kecuali hembusan napas yang menderu. Hyukjae berdiri di tengah, terlihat siluet tubuhnya lewat sedikit cahaya lampu taman. Sementara itu, Donghae bersandar di pintu. Wajahnya sama kusut dengan kemejanya.
"Kau dan Sohyun sering pergi ke luar kota berdua, kan? Kalian menginap beberapa malam dan..." Hyukjae tidak sanggup melanjutkan. Suaranya bergetar karena tangis dan amarahya. "Kenapa kau begitu tega, Hae?!" tanyanya parau.
Donghae menghembuskan napasnya berat. Hawa dingin membuatnya sulit bernapas. Ia benci keadaan i ni. Kalau sepanjang hidupnya, segala hal sepele, mengapa kali ini terlihat seperti sesuatu besar dan sulit? "Aku sudah mengatakannya padamu, semuanya terjadi begitu saja!"
"Kau pembohong!" Hyukjae tak kuasa menahan emosinya. "Dari awal, kau memang tidak menganggap aku ada! Kau tidak pernah mencintaiku!"
"Kau yang tidak pernah mengerti aku, Hyuk! Kau tidak pernah pedulii kepadaku!" Mata Donghae berkilat-kilat. Dari semua alasan yang dikumpulkannya, hanya itu yang terlontar untuk membela diri.
"Apa katamu?" Hyukjae membalikkan tubuhnya, menatap suaminya nanar. Mata bulatnya memerah dan penuh air mata. "Kau bilang aku tidak pernah mengerti dirimu? Tidak peduli? Kapan dan dimana letak aku tidak mengerti, tidak peduli?!"
"Kau sadar tidak, Hyuk, hidup kita aneh! ANEH!" emosi Donghae semakin menjadi.
"Apanya yang aneh?!" Sorot mata Hyukjae semakin tajam.
"Banyak hal!" Donghae semakin tersulut emosinya. "Kau tidak bisa mengerti aku! Tidak bisa mengimbangiku! Kau hidup di duniamu sendiri! Kau tidak tahu apa yang aku inginkan!" Ia mencoba mengatur napasnya, tetapi tidak berhasil. "Aku tidak bisa hidup dalam situasi seperti ini!"
Hyukjae menggeleng tak percaya. "Kau menyalahkan aku? Kau pikir, semua keanehan hidup kita, keadaan kita begini, karena aku?" Emosinya semakin meluap-luap. "Aku tidak percaya kau bisa melakukan semua ini kepadaku, Hae!"
Donghae menghirup udara dalam-dalam. Ia ingin membuka suara tetapi tercekat. Tidak tahu kata-kata seperti apa yang bisa diucapkannya . Sekujur tubuhnya seakan berdenyut-denyut.
"Kau selalu bilang, kita harus memikirkan banyak hal sebelum mempunyai anak! Tapi, apa yang terjadi sekarang? Semuanya omong kosong!" Hyukjae berapi-api.
Donghae diam, ia sulit berpikir saat ini. Sesaat ia memejamkan mata. Ia berada di arah yang ia tidak pernah kira. Ia selalu bisa mengendalikan segalanya, tapi kenapa tidak kali ini? Kenapa justru ia tidak bisa menentukan arah yang mana yang ia tuju?
Hyukjae mengusap matanya meskipun air matanya terus mengalir. Dadanya terasa semakin penuh dan sesak. "Selama ini aku terus percaya kepadamu, Hae! Aku tidak peduli apa omongan orang! Aku kira kau benar akan memberikanku kebahagiaan selamanya! Aku kira kau benar-benar mencintaiku! Tapi, kenyataannya aku salah, Hae!" Hyukjae kehabisan kata-kata.
Donghae mengusap wajahnya, tidak kalah frustasi. "Aku lelah, Hyuk!"
"Kau pikir aku juga tidak lelah!?" Hyukjae menatap suaminya tegas. "Aku mendengar omongan orang-orang! Aku berusaha menyembunyikan masalah dari keluarga kita! Menurutmu, itu tidak melelahkan? Apa maumu sekarang, Hae?"
Donghae menghela napas. Ia menguatkan diri, lalu berkata, "Aku pikir, aku membutuhkan pembetulan, Hyuk! Pernikahan kita tidak berhasil!" Ia menatap dengan sorot sulit di jelaskan.
Hyukjae kembali menggeleng, tidak percaya dengan apa yang dikatakan suaminya. Pembetulan macam apa? Air matanya masih terus mengalir. Ia mundur beberapa langkah dan duduk di pinggir tempat tidur.
Donghae mendekatinya, berusaha menggapai tangannya, tapi Hyukjae menepis kasar. Lelaki manis itu mengalihkan wajahnya, tidak ingin mereka bertatapan. Donghae meremas seprai tempat tidur mereka kuat-kuat.
"Maaf, Hyuk..." Donghae berkata sangat pelan. Kata-katanya tercekat di kerongkongan. "Aku tidak bisa meninggalkan Sohyun."
Drrrrrrtttttt
Dering ponsel mengalihkan pikiran Donghae. Ia meraih benda kecil itu. Nama "Eomma" tertera di layar.
Donghae hendak mereject, tapi segera memutuskan untuk tidak menjawabnya. Ia ingin sendiri, ingin semua bisa kembali atas kendalinya, ingin seperti sebelumnya. Ingin, ingin, ingin...
Arghh! Donghae memukul stir. Saat ini, rasanya dia benar-benar ingin mencabik-cabik dirinya sendiri.
.
.
.
Menuju jalan yang berlawanan.
Dering bel menggema di seluruh bangunan Kindergaten. Kelas berubah berisik oleh anak-anak yang mengeluarkan kotak makan. Mereka bercanda-tawa satu sama lain, bersorak gembira, berteriak, dan terlihat beberapa anak menangis karena makanannya jatuh atau berebut dengan temannya. Hyukjae berkeliling, sibuk menengahi, mengganti makanan dengan dengan roti kecil, dan menenangkan anak yang ikut menangis karena ketakutan.
Hyukjae memegang tangan salah satu muridnya, memberi tahu cara yang benar makan roti isi meises agar tidak berjatuhan butir cokelatnya. Tapi, anak itu tetap kelolosan meises dari rotinya. Hyukjae tersenyum dan mengusap rambutnya, kemudian melangkah ke meja-meja lain, memperhatikan satu-satu anak muridnya mengunyah.
"Sonsengnim!" Haru mengangkat tangannya.
Suara anak itu membekukan Hyukjae seketika. Ia tidak pernah keberatan menghampiri anak muridnya, tetapi Haru soal lain. Langkah kakinya terasa berat menuju meja Haru dan memaksakan diri tersenyum setenang mungkin. Ketika sudah dekat, tanpa perlu bertanya, ia melihat donat tergeletak di lantai. Hyukjae memungut donat itu, membalutnya dengan tissu, sebelum menyingkirkannya ke tempat sampah. "Ini, Haru makan, ya." Ia menyodorkan roti kecil.
"Tangan Haru kotor, Sonsengnim." Gadis kecil itu menunjukkan kedua telapak tangannya.
Hyukjae meremas bungkusan tisu dalam tangannya. Haru adalah salah satu dari sekian muridnya yang aktif. "Cuci tangan dulu ya, baru makan roti ini." Hyukaje terus memaksakan senyumnya.
Haru menganggu. Namun, tidak bebarapa lama, Haru kembali ke kelas masih dengan tangan kotor. "Tempat cuci tangannya penuh, Sonsengnim."
Hyukjae menarik napas dalam dan menahannya. Dengan sedikir semangat, diantarnya Haru ke kamar mandi. Dilihatnya anak itu mencuci tangan dengan tertib. Donghae dan Sohyun mendidiknya dengan baik. Mereka bahagia. Hati Hyukjae teriris menyadari hal itu.
Saat kembali ke kelas, anak-anak sudah selesai makan dan bersiap-siap pulang. Hyukjae mengantar kembali ke mejanya dan menyerahkan roti kecil untuk Haru.
"Kamsahamnida, Sonsengnim," Ucap Haru sopan.
Hyukje berusaha memperkuat pertahanan dirinya. Harum anggur menguar dari tubuh gadis kecil ini. Ketika Haru menengadahkan wajah sambil makan roti, mata Hyukjae bertemu dengan bola mata sendu itu. Sungguh, ia tidak suka suasana seperti ini antara mereka. Mata sendu itu memancarkan pesona khas. Hyukjae tidak mengerti mengapa dirinya terhipnotis. Haru mengembangkan senyumnya, memperlihatkan dua lesung pipi yang dalam.
"Sama-sama, Say—" Hyukjae menyadari kata-katanya dan lekas memperbaiki. "Sama-sama Haru." Kemudian, ia berjalan ke depan kelas. Namun, seakan kesialan belum berakhir, matanya bersiborok dengan Donghae yang berdiri bersama dengan orangtua lain di depan kelas. Hyukjae merutuk dalam hati.
"Kajja anak-anak, kita berdoa dulu." ujar Hyukjae setelah melihat anak-anaknya tenang, siap-siap pulang. Ia mengambil sikap berdoa, diikuti oleh semua anak muridnya. "Berdoa mulai." Kelas menjadi hening. Anak-anak menundukkan kepala. Hingga beberapa saat, Hyukjae kembali mengangkat wajah. "Berdoa selesai. Kajja, sekarang kita bernyanyi sambil berbaris rapi, ya."
Anak-anak bernyanyi seraya bangkit dari kursi, berbaris rapi keluar kelas. Hyukjae mengusap kepala mereka satu-satu. Ia kesal karena tidak mampu mengabaikan perasaannya sendiri saat menatap Donghae. Hyukjae merasa tegang menatap laki-laki itu. Sempat dilihatnya Donghae tersenyum tawar sebelum mengalihkan muka. Pipinya merah padam mengingat tatapan Donghae yang membuatnya ingin mengeluarkan jerat di mata itu. Ia tidak mau tampak menderita di adapan Donghae. Sesaat dipejamkan mata, menenangkan pikiran dan perasaannya. Dalam hati ia bersungguh-sungguh tidak ingin mengenal lelaki itu lagi—kalau bisa—selamanya
.
.
.
"Appa, sayurnya tidak enak! Haru tidak mau!" Haru membawa piring berisi nasi dan sayur keruang tengah. Wajahnya menunjukkan rasa mual.
Donghae mengangkat tangan, menyuruh putrinya menunggu. Ia sedang menelepon temannya di Seoul, membicarakan kesempatan bekerja di kantor yang dipimpin temannya itu cabang Busan. Sesekali terdengar tawa. Tangannya mengetuk-ngetuk pulpen di meja.
"Appa, Haru tidak mau makan ini!" Haru berubah kesal melihat sang Ayah yang acuh padanya. Ia mendekati Donghae, meletakkan piring di dekat tumpukan kertas ayahnya. "Haru, tidak mau makan ini, Appa!"
"Sebentar, Siwon-ah. Biasa anakku." Donghae menjauhkan ponselnya, beralih pada putrinya. "Haru, dimakan ya. Tadi Appa beli makanan ini ditempat biasa kok."
"Sayurnya tidak enak, Appa! Batangnya masih keras-keras!"
"Makan daunnya saja, Haru. Masih bisa, kan?!" Donghae mulai tak sabar.
"Tidak mau! Tidak enak juga! Sayurnya tidak enak! Haru ingin makan yang lain saja, Appa!"
Donghae kembali dengan ponselnya. "Jadi, bagaimana, Siwon-ah? Kau bisa membantuku, kan? Ya, aku benar-benar menjadi pengangguran sekarang, Kenapa? Tidak bisa menjamin? Tolong diusahakan lah..."
"Appa!" Haru berteriak.
Donghae menarik napas dalam-dalam. Ia mengatakan pada sahabtnya untuk menunggu, tetapi sahabatnya memilih mengakhiri percakapan. Kali ini, ia benar-benar kesal. "Haru, makan!" Ia menunjuk ke piring.
"Shirreo!"
"Membuang-buang makanan itu tidak baik, Haru!"
"Pokoknya Haru tidak mau makan!" Gadis kecil itu meninggalkan ayahnya. Terdengar suara pintu ditutup keras-keras dan dikunci.
Donghae melempar ponselnya ke meja. Kepalanya terasa pening. Ia kehilangan kesempatan mendapatkan pekerjaan, bertemu dengan mantan istrinya, dan sekarang putrinya marah-marah. Bising dan membingungkan sekali semua ini. Donghae menyandarkan kepalanya dan menyisiri rambutnya ke belakang.
Ia bertahan hidup hanya untuk Haru. Melihatnya tumbuh dan belajar banyak hal. Setiap hari ia mengantar ke sekolah, menunggu sampai Haru duduk nyaman, dan memandangi putrinya untuk beberapa saat. Bukan hanya untuk memastikan bahwa putrinya baik-baik saja tetapi juga untuk memperoleh semangat bila menatap senyum dan keriangan gadis kecil itu.
Seluruh hidup Donghae selama lima tahun ini berputar di sekeliling putrinya dan dunia penuh warna anak itu. Pergi dan pulang kerja tidak lengkap bila tidak mendengar suara nyaringnya, tidak melihat putrinya menari-nari kecil. Ia tahu tanggung jawab yang dipikulnya membesarkan anak seorang diri. Banyak ia dengar menjadi single parent bukan hal yang mudah. Dan, memang tidak sesedarhana memberinya makan, uang, dan tempat tidur nyaman, Haru membutuhkan lebih banyak.
Donghae mendekati pintu kamar. Handlenya masih dikunci. Ia mendesah pasrah. Haru memang sama kerasnya dengan dirinya, susah sekali mengatur emosinya. Donghae mengetuk pintu kamar gadis kecilnya. "Haru. Sayang buka pintunya ya..."
Tidak ada sahutan.
"Haru, Appa minta maaf. Tadi, kan Appa sedang mencoba mencari kerja, demi Haru juga."
Masih tidak ada sahutan.
"Haru... Appa akan membuatkan ramen untuk kita. Kita makan bersama, bagaimana?"
Masih hening.
"Haru..." Dongha melagukan saat memanggilnya seraya menggerakkan handle pintu.
Hingga beberapa saat, Haru akhirnya membuka pintu. Ia tidak menangis, hanya saja masih cemberut. "Haru mau makan ramen."
Donghae berjongkok dan mengusap rambutnya. "Kita berdamai?" Ia menyodorkan kelingkingnya.
"Baikan!" Haru melingkarkan kelingkingnya di kelingking sang Ayah dan tersenyum.
"Ini baru anak Appa!" Donghae mencium puncak kepala gadis kecil itu.
Mereka berjalan bergandengan. Rumah ini memang terlalu besar untuk mereka tinggali berdua. Halaman cukup luas yang memisahkan bangunan utama dengan dapur dan kamar mandi terasa sangat lenggang. Lampu-lampu tama sebagian besar padam.
"Appa, ini!" Haru menyerahnkan dua bungkus ramen yang ada ditangannya.
"Oke, ayo masak!" Donghae menuang air kedalam panci kecil dan memanaskannya. Haru membantunya membuka bungkus-bungkus ramen, sementara sang Ayah memasukkan ramen ke air yang mulai mendidih.
"Haru, tidak mau pedas!" ujar Haru sambil berjingkat-jingkat melihat ayahnya membuka bumbu ramen.
"Siap!" Donghae berlagak memberi hormat. Diam-diam, dia meringis, apakah hidupnya akan begini selamnya?
"Appa, Haru ingin menonton TV ne..."
"Oke!" Donghae menatap kepergian putrinya, lalu beralih pada jendela dapur. Tidak ada apa-apa disana, hanya langit gelap, lampu remang, daun-daun bergoyang tertiup angin, selebihnya sunyi.
Donghe menarik napas dalam-dalam. Ia bisa mengatasi semua ini, pikirnya. Segalanya pasti akan lebih mudah tanpa kenangan dan pertemuan dengan mantan istrinya. Namun, itu bukan masalah besar. Ia pasti dapat mengatasinya. Pasti.
Dari jendela dapur, Donghae mencoba memandang lebih jauh. Sama jauhnya dengan harapan yang terburai kini.
.
.
.
TBC
.
.
.
Apakah ini aneh? Hyukjae yang notabene seorang lelaki menjadi guru TK? Maaf kalau kurang nyaman. Soalnya dicerita aslinya, Hyukjae menggantikan karakter seorang perempuan. Dan ini aku update per-bab jadi yang merasa kurang panjang yang sabar aja. Aku juga ini juga harus ngetik ulang satu novel, saolnya aku cari-cari file pdf-nya nggak nemu.
Terima kasih temen-temen udah mau review. Cuma mau mengingatkan kalau cerita ini milik Sefryana Khairil, aku Cuma me-remake nya.
.
.
.
Big Love
Cutie Monkey
