COMING HOME

DONGHAE X HYUKJAE

.

.

Fanfic ini diremake dari sebuah novel yang juga berjudul COMING HOME karya Sefryana Khairil dari penerbit Gagas Media. Dijadikan dalam bentuk versi Boys Love dengan sedikit perombakan, pengurangan dan penambahan disana-sini disesuaikan dengan kebutuhan alur cerita.

Bagi yang kurang berkenan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Remake dan Boys Love/Yaoi harap segera menyingkir demi kenyamanan bersama.

.

.

Thank You

.

.

Happy Reading

.

.

BAB 4

Tears of hope run down my skin

Tears for you that will not dry

-"Remember When It Rained", Josh Groban-

Karena Tuhan menunjukkan jalan ke arahmu.

Donghae ingin meraung. Langkahnya sedikit limbung ketika keluar kantor sambil melonggarkan dasi. Ini adalah perusahaan kesekian yang didatanginya untuk melamar pekerjaan, tetapi lagi-lagi tidak berhasil. Satu persatu tiang dalam hidupnya patah. Dia seperti gila bergegas entah hendak ke mana. Apa yang harus ia lakukan? Di mana tempatnya bersandar.

Sesampainya di mobil, Donghae langsung menyandarkan punggung, membuat tubuhnya relaks setelah beberapa lama di ruangan wawancara. Kepalanya kembali diserang denyut-denyut yang membuat pening. Dalam pikirannya, terbayang bagaimana jika ia benar-benar gagal membangun hidupnya kembali? Dari mana uang sekolah dan biaya hidup Haru?

Donghae benar-benar merasa seluruh dunia sia-sia. Ia menyesali betapa pengecutnya dia selama ini. Betapa dia terlalu buta mengejar segalanya, terlalu gegabah mengambil sikap, dan terlalu hanyut dalam kehidupannya. Tiba-tiba, ia sangat benci kepada dirinya sendiri.

Perlahan-lahan, Donghae menjalankan mobilnya keluar dari parkir kantor. Ia merasa begitu asing dengan sekitarnya. Sangat asing. Orang-orang seperti biasa bergegas berlalu lalang memenuhi jalan. Semua bergerak begitu cepat, sementara dirinya berdiri di tempat, tanpa tujuan.

Mungkin benar, selama ini terlalu banyak waktu yang terbuang sia-sia, yang seharusnya dapat ia gunakan untuk mempertahankan sesuatu. Hampir separuh hidupnya, ia tidak memahami banyak hal. Mengikuti arus ke mana hidup membawa hingga ia tersadar dan tersiksa sendiri. Akhirnya, ia mengerti mengapa semua menghilang dari dirinya, tetapi terlambat. Semua terlanjur pergi.

Di depan sebuah minimarket, Donghae menghentikkan mobilnya. Ia teringat harus membeli beberapa makanan instan untuk persediaan. Hanya sepersekian yang ia bisa lakukan untuk Haru, tetapi ia mampu menukar hidupnya untuk melihat putrinya bahagia.

Dengan cepat, Donghae memasukkan beberapa ramen instan, bubur instan dan nugget. Waktu menjemput Haru tidak lama lagi dan ia berharap jalan tidak terlalu padat. Otaknya terus mengingat-ingat apa yang dibutuhkannya di rumah, tapi memikirkan banyak hal, membuatnya tidak bisa mengingat optimal. Sialnya juga, kertas catatan kebutuhan tertinggal di rumah.

Setelah merasa cukup, dibawanya keranjang tersebut ke kasir. Hari itu minimarket terlihat sepi, hanya ada dua perempuan sedang berkeliling dan dirinya.

"Selamat siang, Tuan." sapa perempuan di meja kasir.

Donghae hanya tersenyum sambil mengeluarkan barang belanjaannya dari keranjang. Sekilas dilihatnya jam dinding dan terkejut. Waktu menjemput Haru sudah lewat! Bagaimana bisa ia tidak memperhatikan jarum panjang dan jarum pendek jam tangannya. Buru-buru dikeluarkan dompetnya. "Jadi berapa?"

Perempuan di meja kasir itu menyebutkan nominal dan menerima uang dari pelanggannya yang tampak tergesa membuka dompetnya. "Terima kasih, Tuan." ucapnya sambil memberikan uang kembalian.

Donghae mengambil kantong plastik belanjaannya dan langkah cepat ke pintu kaca. Namun, belum sempat ia menarik pintu, perempuan penjaga kasir itu memanggilnya,

"Fotonya jatuh, Tuan." Perempuan itu melambaikan sebuah foto kecil yang tampaknya tadi terjatuh dari dompetnya.

Foto? Foto siapa? Donghae mengingat-ingat. Ia kembali ke kasir dan menerima fotoitu. Ternyata foto Hyukjae sedang tertawa dengan kembang gula di tangannya. Foto koleksi Hyukjae yang dulu diam-diam dipotongnya karena ia begitu menyukai ekspresinya.

"Pasangan Tuan cantik," ujar perempuan di meja kasir itu.

Donghae tersenyum. "Terima kasih."

Dengan sisa tenaga, Donghae masuk ke mobil dan menyandarkan tubuhnya. Sesaat, ditatapnya foto itu. Pasangan? Foto itu sudah lama ingin dikeluarkannya dari selipan dompetnya, sejak mereka berpisah, tetapi selalu lupa—atau mungkin di bawah sadarnya, ia sengaja membiarkannya disana? Lucu! Kenapa ia merasa ingin terus menyimpan foto itu?

"Kau pernah tidak, membayangkan kehidupan kita berubah, Hae?" Hyukjae menggampit tangannya seraya menatap pegunungan Bugaksan di depan mata mereka. "Atau..., suatu hari kita berpisah?"

Donghae menggenggam tangan kekasihnya itu, satu tahun mereka berpacaran hari itu. "Tidak, aku tidak ingin berpikir seburuk itu, Hyuk."

"Pasti ada hal yang paling buruk, Hae." Hyukjae menyandakan kepalanya di bahu bidang laki-laki itu. "Dan, kalaupun kita berpisah..."

Donghae menempelkan telunjuk di bibir lelaki manis di sampingnya "Tidak ada yang akan berubah, Sayang. Kau ingat kataku, kan? Semua seperti lomba lari, sejauh apa pun kita berlari, pasti akan kembali ke titik awal kita memulainya. Selalu begitu."

Donghae memejamkan matanya kuat-kuat. Dadanya terasa nyeri. Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia memasukkan foto itu kembali ke selipan dompetnya dan men-stater mobil.

.

.

.

Hyukjae membentangkan kedua tangan, merenggangkan ototnya yang terasa kaku setelah sekian lama bergerak kesana kemari membereskan kelas. Lalu, ditumpuknya buku-buku dan dibawanya ke luar kelas. Hari ini kelas lebih tenang dan tidak ada sesuatu yang khusus terjadi. Perlahan-lahan, ditutupnya pintu kelas. Sekolah sudah sepi, rapat untuk pengajaran besok sudah selesai, dan kelas sudah rapi.

Dengan langkah tenang, Hyukjae menyusuri lorong pendek menuju ruang guru. Dalam pikirannya, sudah terbayang susu strawberry atau teh hangat yang akan menyegarkan pikirannya. Tetapi, langkahnya harus terhenti mendengar Pak Byun, petugas bersih-bersih sekolah, memanggilnya.

"Lee Sonsengnim, tadi saya lihat ada murid main di belakang sekolah," ujar Pak Byun dengan mimik cemas.

Hyukjae langsung merasakan detak jantungnya berhenti. "Murid? Siapa, Pak Byun?"

"Saya tidak tahu, Sonsengnim. Coba ditengok saja. Anaknya masih dibelakang."

Tanpa berkata-kata lagi, Hyukjae berjalan cepat ke belakang sekolah. Siapa? Jantungnya berdetak cepat karena begitu cemasnya. Pelajaran berakhir satu jam lalu, tetapi kenapa bisa ada anak yang masih di sekolah tanpa sepengetahuannya atau Sungmin. Hyukjae menyesali dirinya.

Halaman belakang sekolah sebagian masih berupa kebun yang belum sempat ditanami. Banyak semak-semak dan alang-alang. Menyadari hal itu, Hyukjae semakin khawatir. Bagaimana jika anak itu main tanah? Bagaimana jika anak itu dan jatuh dan terluka? Hyukjae menggeleng cepat, tidak mau menduga-duga hal buruk.

Ketika melihat seorang gadis kecil berkucir dua sedang memperhatikan sesuatu di kebun, Hyukjae sudah bisa menebaknya. Haru. Anak itu untuk kesekian lakinya membuat napasnya nyaris berhenti. Hyukjae bingung untuk menarik napas lega melihat murid yang di maksud penjaga sekolah baik-baik saja atau justru merasakan sesak karena merasa tak bisa mengindari anak itu. Diam-diam Hyukjae menghela napas panjang. Ia semakin gelisah terus menghadapi keadaan ini.

"Haru sedang apa disini?" katanya, mencoba menahan emosi, meski sedikit terdengar diantara napasnya yang tidak teratur.

"Mengejar kupu-kupu." Haru menunjuk ke kupu-kupu di atas bunga mawar.

Hyukjae mendesah pelan. Ia berjongkok di depan anak itu. Dalam pikirannya berkecamuk, tidak mengerti mengapa anak ini tidak bisa berhenti mengusik ketenangannya. Setiap hari, selalu ada saja yang dilakukannya untuk menarik perhatiannya. Dipegangnya lengan Haru. "Haru, kalau Appa belum jemput, Haru tunggu di depan kelas atau di halaman sekolah saja, ne? Arrachi?"

Anak itu mengangguk "Ne, Sonsengnim."

Hyukjae menggandeng tangan Haru, mengajaknya ke halaman depan sekolah. Pandangan gadis kecil itu masih tertuju ke kupu-kupu yang terbang ke bunga lain. Haru memang hanya seorang anak kecil. Muridnya. Tapi, tidak istimewa. Dan, ia tidak tertarik menjadikan Haru spesial. Sekuat tenaga, ia mencegah menoleh ke anak itu meskipun ternyata, hal itu tidak dapat menghindari hangat kulit Haru mengalirkan energi lain ke dalam dirinya,

Mereka duduk di bangku panjang di halaman sekolah Hyukjae sempat melihat Sungmin berdiri di lorong dengan mimik terkejut. Ia sendiri tidak tahu bagaimana mendeskripsikan perasaannya pada sahabatnya lewat ekspresi wajah dan sorot matanya. Sungmin mengulas senyum, seakan-akan mengatakan bahwa dia mengerti, lalu memberi tanda bahwa dia menunggu di ruang guru.

"Seonsengnim, mau menemani Haru, kan?" ujar Haru kepadanya.

Hyukjae mengangguk sambil menarik tangannya perlahan. Ia memang tidak akan ke mana-mana, untuk tugasnya sebagai guru. Kemana Donghae? Kenapa belum datang juga? Ingin sekali rasanya bisa memutar waktu lebih cepat agar anak ini cepat berlalu dari sisinya.

"Sonsengnim pernah dengan cerita Ratu Bunga?" Perkataan Haru memecahkan keheningan diantara mereka.

Hyukjae menggeleng. "Balum, Haru."

"Sonsengnim mau menderang ceritanya?" Haru menatap Sonsengnimnya dengan pandangan polosnya.

"Boleh." Hyukjae mengembangkan senyum tipis.

Cerita Haru begitu mengalir, seakan menggambarkan kesadaran baru tentang anak disampingnya. Ada rasa yang tidak dikehendakinya hadir, tetapi langsung ditepisnya jauh-jauh. Tawa Hyikjae berderai, membuatnya ikut merasakan kekacauan. Hyukjae menatapnya lekat. Jari-jari tangannya mengejang. Batinnya bergelut.

.

.

.

Dan, satu hal mampu menghentikan detak jantungku.

Saat memarkir mobil di depan Kindergaten, sekolah sudah sepi. Donghae menutup pintu mobil agak kasar dan setengah berlari memasuki halaman sekolah. Sepanjang jalan, ia hampir gila mengkhawatirkan keadaan putrinya, ditambah dengan ramainya lalu lintas saat makan siang.

Langkah Donghae terhenti seketika mendapati putrinya sedang berbicara dengan Hyukjae. Seseorang yang baru saja menyelinap dalam angannya. Seseorang yang pernah mempercayainya dan berbagi hidup bersamanya. Tidak peduli berapa tahun berlalu sejak perpisahan mereka, lelaki manis itu tetaplah pernah menjadi bagian dalam kehidupannya.

"Appa!" pekik Haru gembira menyadari kehadirannya. Kaki kecilnya langsung berlari menghampiri sang Ayah. Hyukjae di sampingnya ikut menoleh ke arahnya dengan sorot sulit diterka.

Donghae berjongkok, mengusap rambut putrinya. "Mian, Appa lama, ya?"

Haru mengangguk. "Haru ditemani Sonsengnim." Ia menunjuk lelaki manis yang masih berdiri di tempatnya.

Donghae kembali berdiri, menguatkan hati untuk mendekatinya. Berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya, terlebih menatap sepasang mata bulat itu lurus didepannya. Tangannya menggenggam erat tangan mungil putrinya. "Terima kasih sudah menemani Haru." Nadanya terdengar formal.

Hyukjae mengulas senyum ragu-ragu. "Sudah menjadi kewajiban saya, Tuan."

Rasanya, seperti bertahun-tahun lalu. Berdiri, terdiam, bertatapan. Angin yang berhembus membawa aroma manis lelaki bergummy smile itu yang dulu sangat disukainya. Dunia sekitarnya seakan-akan menyedot kesadarannya, berubah menjadi pusaran yang berputar di sekeliling mereka.

Ini mungkin hanya khayalannya saja, pikir Donghae. Ia menelan ludah. Terasa pahit. Mulutnya sudah terbuka ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba saja membeku tak berdaya. Wajahnya memucat karena begitu tegang.

Kali ini Donghae tidak dapat membaca apa yang tersembunyi di mata bulat itu. Wajahnya semakin kaku dan bibirnya terkatup rapat. Ia begitu mengenal setiap tatapan dan lekuk wajah Hyukjae, namun sosok dihadapannya sangat berbeda.

Hyukjae memalingkan wajahanya cepat. Masih bungkam. Angin menerbangkan poni yang menutupi jidatnya. Semakin menatapnya, Donghae merasa sesuatu telah menembus jauh kegetiran hatinya. Ia berusaha mengebalkan diri dari ketertaikan yang mengendap pada lelaki manis itu.

"Appa, Haru lapar." Gadis kecilnya menggoyang-goyangkan tangannya.

Donghae merasakan pusaran di sekililingnya mereda dan mengembalikan kesadarannya. Ia menunduk pada Haru. "Iya, Sayang." Kemudian, beralih kembali kepada lelaki manis didepannya."Kalau tidak keberatan, ka...maksud saya, Lee Sonsengnim, ingin ikut makan siang dengan kami.?" Sesungguhnya, ia benci basa-basi semacam ini.

Hyukjae tertegun, tetapi menggeleng dengan cepat. "Tidak usah. Terima kasih."

Mendengar jawaban itu, Donghae hanya mengangguk-anggukan kepala. "Kalau begitu, kami permisi."

Hyukjae memberikan senyum tipis, mempersilakan keduanya pergi.

Donghae menggandeng Haru keluar gerbang sekolah. Ia tidak menoleh lagi sampai berada di dekat pintu mobil. Hyukjae sudah berjalan meninggalkan halaman sekolah. Hanya ada sisa angin menghembuskan aroma manis yang masih sangat terasa.

.

.

.

Hyukjae mengusap wajahnya. Tak sepenuhnya ia siap menghadapi kenyataan yang baru saja terjadi. Berbagai emosi bergumul dalam jiwana, bersulur-sulur seperti benang kusut memenuhi pikirannya. Ia menyesali menatap mata pekat itu, menyesali menikmati aroma khas laki-laki itu. Tuhan... Hyukjae kembali menutup wajahnya dengan keduan tangannya. Keseimbangan dirinya belum kembali sepenuhnya.

Kalau ditanya apakah ia masih mencintai Donghae? Jawabannya tidak. Ia sama sekali tidak mencintai laki-laki itu. Perasaan itu sudah dihapusnya sejak lama. Ia sudah menutup hatinya rapat-rapat dan membuang kuncinya jauh-jauh. Sudah terlalu banyak luka dan rasa sakit yang ia yakin tidak akan tahan menambahnya.

Tanpa bisa ia cegah, matanya memanas. Gelombang amarah dan frustasi menyerangnya. Hyukjae menyadari benar, mereka bukan menjadi bagian satu sama lain. Laki-laki itu sudah milik orang lain! Air matanya bergulir. Kenapa Donghae begitu tega menyakitinya lagi? Sampai kapan Donghae membuatnya begini? Benar-benar belum puaskah laki-laki itu?

"Hyuk..."

Mendengar suara Sungmin, Hyukjae mengusap cepat matanya yang basah. Ia kembali melihat-lihat majalah yang sebenarnya sedang tidak ingin dibacanya, tapi ia tidak ingin terlihat terluka. Dalam hati, ia berdoa agar menemukan kekuatan menghadapi semua ini.

Sungmin meletakan kantong kertas yang cukup besar. "Untukmu, dari Chansung."

"Chansung?" Hyukjae mengerutkan kening.

"Itu lho, yang mempunyai toko roti. Yang dua minggu lalu bertemu denganmu. Ingat tidak?" Sungmin tampak bersemangat mengingatkan. "Itu dia bawakan macam jenis roti."

Hyukjae menganggukan kepala tanpa minat. Ia tidak kenal siapa Chansung itu. Hanya bertemu, menyapa sebentar, dan bicara basa-basi sekedarnya. Kantong kertas itu sama sekali tidak disentuhnya. Pikirannya masih berada di peristiwa sebelum ini.

Sungmin duduk disampingnya. "Jadi diantara Chansung, Nickhun dan Zhoumi, siapa yang sudah menarik perhatianmu?"

Hyukjae terdiam sejenak, lalu menggeleng. "Tidak ada."

"Memangnya kau punya tipe khusus?" Sungmin terus menyelidik.

"Tidak ada kok." Hyukjae menghela napass panjang. "Aku hanya berpikir, cinta datang dari hal-hal yang lebih sederhana."

"Itu yang dulu Donghae lakukan?"

Hyukjae terkesiap. Bayangan peristiwa tadi muncul di kepalanya. Mata sendu itu, aroma parfum yang khas itu. Ia menatap sahabatnya, seperti melihat kilasan yang usang. Tubuhnya terasa kaku. Hyukjae seakan-akan melihat kilasan yang usang. Tubuhnya terasa kaku. Hyukjae seakan-akan melihat Donghae disana.

"Hyuk." Sungmin menunggu jawabannya.

"Oh-eh..." Hyukjae tergagap sesaat dan tertawa tanpa makna. "Kau ini aneh-aneh saja, Ming"

Sungmin menatap Hyukjae penasaran. Baru kali ini dilihatnya lelaki manis itu memancarkan sorot lain di matanya, entah emosi macam apa yang bergulat didadanya.

"Oh, iya, tadi Donghae bicara apa denganmu?" Mengingat mantan suami sahabatnya, raut wajahnya berubah serius. Sungmin tahu bagaimana terpuruknya Hyukjae setelah perpisahan. Lelaki manis itu mengundurkan diri dari bimbingan belajar, mengurung diri karena tidak mau mendengar pertanyaan orang-orang. Sungmin tidak mau melihat Hyukjae menjadi gila dan mengajaknya mengajar, berharap Hyukjae bisa memulai hidup yang baru. Namun, nasib membawa laki-laki itu kembali dalam hidup Hyukjae, membuat luka kembali terlihat di wajahnya.

"Basa-basi biasa." Hyukjae membalik halaman majalah tanpa minat.

"Kau tidak masalah mengajar Haru sejauh ini?" Sungmin memandangnya cemas.

Hyukjae menghela napas panjang dan tersenyum getir. "Mau tidak mau. Tidak mungkin aku meminta ke Kim Sonsengnim untuk memindahkan Haru ke sekolah lain hanya karena masalah pribadi. Aku tidak senaif itu, Ming." Dimatanya, terbayang wajah mungil itu. "Haru tetap anak kecil yang tidak tahu apa-apa." ujarnya lirih.

Sungmin mengusap pelan pundak sahabatnya. "Aku tahu ini berat bagimu, Hyuk. Aku juga tahu masa lalumu dengan Donghae pahit. Tapi, aku harap kau jangan menutup mata terlalu rapat juga. Kita tidak tahu maksud Tuhan mempertemukan kalian lagi, kan? Mungkin saja perjalanan waktu mengubah Donghae menjadi lebih baik."

Hyukjae mencoba lebih relaks dengan mengambil sepotong kue isi selai strawberry di kantong kertas itu. "Aku tidak mau terlihat dengan Donghae lagi, Ming. Cukup sekali aku disakiti. Aku tidak kuat kalau harus merasakan sakit sekali lagi." Ditahannya napas untuk mengendalikkan panas matanya. "Perjalanan waktu memang bisa mengubah banyal hal, Ming. Tapi..." matanya menatap lekat mata Sungmin. "...bisa juga tidak merubah satu pun."

.

.

.

"Kau ingat kataku, kan? Semua seperti lomba lari, sejauh apa pun kita berlari, pasti akan kembali ke titik awal kita memulainya. Selalu begitu."

Ada sebuah perasaan menggelayut, membuat bayangan sepasang mata bulat Hyukjae hadir dalam benaknya. Penyesalan mulai berbaris, mengutuki keegoisan, kekasaran, emosi yang meluap berlebihan lima tahun lalu. Sorot mata lelaki manis itu dingin dan datar, tersimpan sesuatu yang beku di dalamnya.

"Pasangan Tuan cantik."

Wajah itu terus memburunya. Mendera rasa bersalahnya penyesalannya. Maukah Hyukjae sebentar saja mendengar maafnya? Bukan untuk hal lain, hanya satu kata itu, maaf.

Donghae mengangkat chicken nugget yang selesai digorengnya ke piring. Seperti biasa, ia tidak menggoreng dengan baik. Beberapa potong daging ayam olahan berbalut tepung itu berwarna kehitaman. Donghae meletakkan piring itu putus asa dan menghela napas panjang. Hidupnya terus carut marut. Berbagai hal tidak mungkin tergapai. Tapi, ia harus melakukkan sesuatu, tidak tahu apa, dan mengubah semua ini.

"Appa, sudah selesai gorengnya?" Haru muncul di sudut pintu dapur.

Donghae mengangkat wajahnya, sedikit terhibur melihat putrinya. Senyumnya terlulas. "Sudah, Sayang."

Haru mendekat ke ayahnya, berjinjit melihat nugget di piring. "Haru mau yang itu, sama itu." Ia menunjuk potongan yang tergoreng sempurna.

"Oke! Kajja kita bawa kedalam." Donghae mengangkat piring dan menggiring anaknya keluar dari dapur.

Haru dengan semangat duduk di kursi makan, mengambil sendok dan garpunya. Dua lesung pipinya terlihat bersama dengan binar matanya. "Haru mau pakai saus tomat!" Jari mungilnya menunjuk botol disamping tempat sendok.

Donghae hanya mengangguk pelan. Diambilkannya empat potong nugget ke piring putrinya, lalu menuangkan saus tomat. Ia sendiri hanya mengambil dua potong yang kehitaman. Sudah beberapa lama ia lupa bagaimana enaknya makan karena semua makanan terasa hambar di lidahnya.

"Appa, tadi Haru menceritakan cerita Ratu Bunga ke Sonsengnim." ujar Haru sambil menyuap makanannya.

Donghae mengernyit. "Ratu Bunga?"

"Cerita tentang Ratu yang jelek dan bau, yang pernah Appa ceritakan ke Haru."

Donghae buru-buru mengambil minumnya karena hampir tersedak. Cerita itu adalah cerita konyol buatannya sendiri untuk Haru, kenapa anak itu menceritakannya ke Hyukjae? Donghae kembali meneguk minumnya banyak-banyak, meredakan jantungnya yang sempat berdegup cepat.

"Sonsengnim bilang ceritanya lucu." Haru terus berbicara dengan lugunya.

"Sonsengnim bilang begitu?" Donghae menelan makanannya susah payah.

"Ne." Haru mengangguk. "Sonsengnim juga menceritakan cerita Gadis Berkerudung Merah. Tapi, Sonsengnim ceritanya tidak semangat, terus tidak selesai karena Appa datang."

Donghae menatap putrinya seraya mengulas senyum. Ia diam memperhatikannya. Terasa tubuhnya bergetar semakin menyadari kenyataan ini. Hyukjae dan putrinya—ia dan Sohyun. Penyesalan dan serbasalah menyesaki dadanya. Betapa kehidupan benar-benar membawanya ke tempat dimana ia memulainya.

Haru masih berceloteh riang. Masih bercerita tentang sekolahnya, tentang imajinasinya. Donghae meletakkan sendoknya dengan perasaan tak enak. Dihelanya napas berat. Hingga pikiran itu datang. Suatu waktu, mungkin tak salah mengejar pintu maaf. Mengejar sesuatu yang seharusnya sejak lama ia lakukan.

.

.

.

TBC

.

.

.

Big Love

Cutie Monkey