COMING HOME

DONGHAE X HYUKJAE

.

.

Fanfic ini diremake dari sebuah novel yang juga berjudul COMING HOME karya Sefryana Khairil dari penerbit Gagas Media. Dijadikan dalam bentuk versi Boys Love dengan sedikit perombakan, pengurangan dan penambahan disana-sini disesuaikan dengan kebutuhan alur cerita.

Bagi yang kurang berkenan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Remake dan Boys Love/Yaoi harap segera menyingkir demi kenyamanan bersama.

.

.

Thank You

.

.

Happy Reading

.

.

BAB 5

And after all that's been said and done

You're just the part of me I can't let go

-"Hard to Say I'm Sorry",Chicago-

Luka yang tak pernah ingin digoreskan.

"Jadi, Lee Sonsengnim sudah memutuskan siapa satu murid lagi yang akan ikut lomba menggambar?" tanya Kim Sonsengnim sambil menulis sesuatu di bukunya.

Sejak pembicaraan ini dimulai, Hyukjae menggigit bibir bawahnya sedemikian sering dan keras hingga terasa tidak akan pernah bisa kembali ke bentuknya semula. Otaknya berpikir keras menemukan sebuah nama, tetapi tidak berhasil, hingga merasa tak tahan lagi dan menarik napas panjang. "Belum, Sonsengnim."

"Saya punya satu nama. Lee Sonsengnim bisa mempertimbangkannya." Kim Sonsengnim mengangkat wajahnya dengan pulpen masih ditangannya.

"Siapa, Sonsengnim?"

"Lee Haru."

Hyukjae tertegun dengan mata lurus menatap perempuan cantik didepannya. Ruangan kepala sekolah yang cukup luas terasa menyempit. Ia tak mempercayai pendengarannya. "Anak baru itu?"

Kim Sonsengnim mengangguk seraya meaih gelas berisi teh di dekatnya. Diteguknya beberapa kali dan kembali menatap salah satu guru di sekolah yang dipimpinnya itu. "Waktu kali pertama datang kesini, anak itu bawa buku gambar. Bagus-bagus. Anak itu juga bilang kalau dia suka menggambar."

"Mungkin saya kurang memperhatikan." Bola mata Hyukjae bergerak menelusuri meja kayu di depannya. Gusar. Darahnya berdersir cepat, tetapi ia menjaga suara dan sikapnya tetap tenang.

"Bukan salah Lee Sonsengnim." Kim Sonsengnim tersenyum menenangkan. "Saya tahu, melihat kemampuan seorang anak tidak mudah. Kalau Lee Sonsengnim punya pendapat atau calon lain, tidak masalah."

"Saya belum bisa memutuskannya sekarang, Kim Sonsengnim." Hyukjae merasakan jantungnya berdetak semakin cepat dan semakin cepat. Ia tidak dapat memikirkannya satu cara pun. "Dalam satu minggu ini, saya akan melihat bagaiman perkembangan anak-anak." Hanya itu yang bisa dilontarkannya.

"Saya terserah Lee Sonsengnim saja." Kim Sonsengnim kembali meraih pulpen yang sepat di letakkannya dan masih tersenyum. "Untuk saya pribadi, Lee Sonsengnim, memberikan kesempatan untuk Lee Haru tidak ada salahnya meski ia anak baru. Mengarahkan anak sesuai bakat dan minatnya akan menjadi bekal yang cukup untuk anak itu kelak, kan?"

Hyukjae mengangguk. Tangannya saling meremas dengan gelisah. Mulutnya ingin mengucapkan alasan, tapi akan terlalu pribadi dan tidak adil. Ia menatap resah Kim Sonsengnim yang kini kembali menulis, lalu melirik jam tangannya. Tidak lama lagi, waktunya untuk mengajar. "Kalau begitu, saya permisi, Kim Sonsengnim."

Setelah menutup pintu ruang kepala sekolah, Hyukjae memejamkan mata sambil mengatur napas dan detak jantungnya. Percakapan yang baru saja berlalu membuat kecemasannya semakin bertambah. Ia tidak tahu bagaimana anak itu begitu menarik perhatian banyak orang—diam-diam, termasuk dirinya. Kenapa dan ada apa dengan Haru?

Hyukjae menghela napas panjang dan mulai melangkah menuju ruang kelas. Setiap anak memang memiliki kesempatan yang sama, juga daya tarik yang tidak kalah menarik satu sama lain. Tetapi, Haru membuat dirinya sendiri berbeda dengan temannya. Dan, Hyukjae semakin resah ketika langkahnya semakin dekat dengan pintu kelas. Anak-anak sudah ramai. Langkahnya kian melambat dan dipastikan napasnya tercekat ketika benar-benar berada di dalam.

.

.

.

Sudah berapa lama Donghae tidak bertemu dengan Yesung, sahabatnya sejak kecil? Donghae menatap cafe yang berada di sepanjang jalan Busan. Masih sama dengan beberapa tahun lalu. Kesan klasik sungguh terasa disini.

Sejak sekian malam, Donghae berpikir, mungkin Yesung bisa ia mintai tolong. Memang terkesan janggal. Ia tidak mau ada orang peduli dengan kehidupannya saat ini. Tidak mau ada orang yang mengasihaninya. Tidak mau ada orang yang menganggapnya begitu tak berdaya. Tetapi, saat ini, ia tidak peduli. Ia ingin keluar dari masalah ini secepatnya.

Donghae mengeluarkan ponselnya. Banyak telepon dan pesan masuk dari sang Eomma yang tidak dijawabnya. Tanpa mengecek satu-satu, Donghae mencari nomor Yesung dan langsung meneleponnya.

"Yesung-ah? Ini aku, Donghae. Aku sudah didekat cafemu. Bisa ketemu? Jangan dicafemu. Kita keluar saja. Oke, aku tunggu."

Donghae memutuskan sambungan telepon dan berdiri di dekat mobilnya. Beberapa orang melewatinya. Ada yang menatap sambil lalu atau sekedar memberikan senyum. Donghae tampak tidak ingin merespons.

Beberapa lama kemudia, seorang laki-laki lebih tinggi darinya keluar dari dalam cafe. Wajahnya terlihat senang saat melihat Donghae mendekat.

"Kita akan mengobrol dimana, Hae?" tanya Yesung.

"Di kedai tteobokki itu saja." Donghae menunjuk salah satu kedai yang berjajar di tepi jalan

Yesung mengangguk setuju. Mereka berjalan dalam keheningan. Donghae memasukan tangan ke saku celananya, sementara Yesung memperhatikannya dari atas sampai bawah, tampak heran.

"Apa kabar?" ujar Yesung.

"Buruk!" ucap Donghae. Pandangannya lurus ke jalan.

Yesung mengernyit. "Kenapa?"

"Sohyun, istriku meninggal dan belum lama ini, aku dipecat." Donghae tersenyum masam. "Hidupku benar-benar parah."

"Aku turut berduka cita untuk istrimu."

"Thanks." Donghae mendesah pelan. ia tidak tahu harus bercerita dari mana. Perasaannya masih digelayuti malu. Untuk datang menemui sahabatnya ini pun ia berpikir panjang. Ia tidak ingin merepotkan orang lain, tetapi ia tidak berbohong baahwa saat ini, ia membutuhkan pertolongan.

"Hae?" Yesung memperhatikan wajah sahabatnya. Ia bisa menangkap ada sesuatu pada laki-laki ini karena seorang Donghae yang dikenalnya jauh berbeda dengan yang ada saat ini. Tidak ada lagi kesan arogan, begitu menganggap enteng, dan penuh keinginan—meski mungkin keras kepala masih tertinggal.

"Ternyata kau benar, Yesung-ah. Semakin jauh kita mengejar sesuatu, semakin sesuatu itu tidak tergapai." Donghae berbicara dengan nada putus asa. Seringai dan tatapannya kosong.

Yesung tertawa pelan mendengarnya sambil menepuk bahu sahabatnya.

Mereka sampai di kedai tteobokki dan memesan dua botol cola. Di antara mereka, ada jeda senyap cukup lama. Aroma pedas tteobokki memenuhi -suara di sekeliling terdengar lebih nyaring berpadu dengan ketukan jari Yesung.

"Ini mungkin teguran dari Tuhan untuk hidupku. Aku terlalu menyepelekan. Jika Eomma bilang tidak baik, tetap saja aku lakukan." ujar Donghae.

Yesung kembali menepuk bahu sahabatnya. "Apa rencanamu selanjutnya?"

Donghae meneguk cola-nya, "Aku tidak tahu Yesung-ah. Jadi gelandangan mungkin."

Yesung mendengus. "Ya! Tidak mungkin menjadi gelandangan. Jangan mengasal, ada-ada saja kau ini!"

Donghae tertawa getir. "Tentu saja tidak mungkin. Aku punya anak. Tidak mungkin aku rela jika anakku tidur dijalan." Ia melayangkan tatapan ke luar tenda dan berkata dengan nada datar. "Aku akan memulai hidup dari nol, Yesung-ah. Mengumpulkan uang. Aku membutuhkan pekerjaan."

"Kalau kau mau, untuk sementara kau bisa ikut denganku, bantu-bantu di cafe." Yesung menatap mantap.

"Aku tidak mau membuatmu repot, Yesung-ah." Donghae tersenyum tidak enak dengan sahabatnya itu. Sesungguhnya, ia tidak mau melihat tatapan iba yang terpancar dari mata sahabatnya itu.

"Tidak ada yang direpotkan, Hae. Santai saja. Kebetulan orang keuangan berhenti minggu lalu." Yesung membalas senyumnya dengan senyum meyakinkan bahwa semua akan berjalan baik-baik saja.

Donghae terdiam memikirkan tawaran Yesung. Ia tahu batas. Tetapi, ia menginginkan pekerjaan—apa pun itu. Ragu-ragu, ia menatap kembali sahabatnya, kemudian mengangguk. "Terima kasih, Yesung-ah."

"Tidak perlu begitu jika denganku." Yesung merangkulnya singkat.

"Aku harap kau tidak bosan melihatku karena aku akan sering meminta bantuanmu." ucap Donghae.

Yesung tertawa. "Sahabat akan selalu menjadi tempat yang nyaman, kan?"

Percakapan mereka terhenti ketika tteobokki dan jajanan pendamping lainnya datang dihadapan mereka.

Sambil mengaduk tteobokki, Yesung menatap sekilas sahabatnya. "Ah matta! Kau sudah bertemu dengan Hyukjae lagi setelah berpisah. Dia berada disini juga."

Donghae yang hendak meneguk cola-nya jadi terhenti. Dia tersenyum masam, tidak tahu harus menanggapi apa. Mau tidak mau, ia membayangkan kembali pertemuan mereka. Mengurai lagi perasaan bersalah dan penyesalannya. "Begitulah." Ia tidak ingin menjelaskan apa pun.

Yesung tidak berkomentar apa-apa. Sekilas, ia melirik sahabatnya yang terdiam merenungi sesuatu, tetapi ia urung bertanya.

"Hyukjae..." Donghae ragu-ragu untuk menanyakannya. Ia menelan ludah. "Dia... apakah sudah menikah lagi, Yesung-ah?"

Yesung menggeleng. "Belum. Aku sering bertemu dengannya dan sedikit mengobrol jika dia membantu bibinya membawa bunga." Lalu menatap sekilas sahabatnya. "Kenapa?"

"Tidak apa-apa." Donghae mulai menyantap tteobokkinya. Ternyata Hyukjae masih sendiri selama lima tahun ini. Donghae semakin menyesali dirinya. Mungkin, harga semahal apa pun tidak mampu membayar kesalahannya. Ia lekas menyuap tteobokkinya ketika menyadari Yesung mulai menyelidiki matanya.

.

.

.

Sebuah rasa yang demikian sederhana.

Sekolah kembali sepi seperti pagi hari. Halaman terasa sangat luas saat angin menerbangkan daun-daun kering. Lorong sekolah begitu lengang meski masih terasa jejak-jejak mungil melintasinya.

Di kelas, mainan anak-anak, kertas origami, dan buku-buku berserakan di segala sudut. Hyukjae mulai menumpuk buku dan memasukkanya ke rak. Biasanya, ia bisa dengan cepat membereskan ruangan sebelum diskusi dengan guru lain untuk persiapan kelas esok hari. Namun, matanya tertumbuk pada kertas gambar berukuran sedang yang tertinggal di meja Haru.

Entah ada dorongan dari mana, Hyukjae mengulurkan tangan meraih kertas gambar itu. Dilihatnya gambar pemandangan penuh warna yang sangat jarang ia temukan di kertas gambar murid-muridnya. Anak itu bukan hanya manis dalam bersikap tapi juga pintar.

Gambarnya sangat hidup. Gadis kecil itu menggambar dengan baik untuk anak seusianya. Garis-garis, guratan-guratan, pewarnaan, hingga bayangan, semua tergambar detail.

Hari-hari sebelumnya, Hyukjae tidak memperhatikan jelas, hanya tahu di jam bebas, Haru selalu duduk tenang, menggambar sesuatu di buku gambar yang dibawanya. Kenapa bisa tidak berpikir untuk melihatnya? Kenapa ia begitu keras kepala menyikapi hal ini dengan egonya?

Haru memang memberi kesan lain untuknya. Sikap tanggapnya, sikap ramahnya, senyum manisnya, kepintarannya, keriangannya, keramahannya.

Belum pernah Hyukjae menemukan anak yang pandai dan sangat menarik perhatian seperti Haru. Tapi, mungkin, itu hanya karena ia baru mengenalnya. Mengetahui sifat seseorang tidak secepat itu, kan? Atau, iya?

"Hyuk, masih lama?" Sungmin melongokkan kepala di pintu kelas.

Hyukjae menghela napas panjang. "Sepertinya begitu, Ming." Ia melepaskan kertas gambar dan meletakkanya di tumpukkan kertas.

Sungmin duduk di hadapannya. Melihat yang ditanya sibuk dengan membereskan buku-buku, ia jadi ingin tahu ada apa di gambar yang dilihatnya tadi. "Ini gamabr siapa, Hyuk?"

"Haru."

"Haru? putrinya Lee Donghae?"

Hyukjae mengangguk. Ia merasa jiwanya luruh seketika.

"Hmmm..." Sungmin menatap sahabatnya sejenak, lalu beralih kembali pada kertas gambar itu. Suaranya terdengar ragu-ragu. "Aku setuju dengan keputusan Kim Sonsengnim yang ingin mengikutsertakan Haru dalam lomba."

"Kau tahu soal itu?"

"Kim Sonsengnim sempat menayakan hal ini padaku juga."

Sungmin menyentuh kertas gambar di tangannya. "Hyuk, cobalah mempertimbangkan secara lebih objektif."

Hyukjae menghela napas panjang dan berkata, "Aku tidak tahu, Ming." Ia melayangkan tatapannya pada kertas gambar itu. "Aku mencoba melupakan semuanya lima tahun ini. Dan tidak mudah melakukan semua itu."

Sungmin tidak mengatakan apa-apa. Tangannya masih memegang kertas gambar, menunggu sahabatnya kembali bicara.

"Ming, aku..." Hyukjae menatap lelaki cantik yang terdiam di dekatnya. "Katakan sesuatu mengenai hal ini."

"Kau harus melihat Haru, jangan libatkan Donghae." Sungmin tersenyum.

"Justru, anak itu selalu terlibat dengan Donghae, Ming. Terlibat denganku. Masa lalu kami."

"Hyuk, ketika seseorang berselingkuh, dialah satu-satunya yang bersalah dan seseorang lain yang selalu tersakiti. Bukan begitu?" Melihat anggukan Hyukjae, Sungmin menghela napas panjang. "Kau selalu melihatnya dari satu sisi, Hyuk. Terkadang, perselingkuhan bukan hanya karena salah pada satu orang, Hyuk."

"Ming, menurutmu, aku juga salah? Dia yang tidak peduli denganku dan pendapatku! Dia hanya memikirkan dirinya, kepentingannya! Dia tidur dengan perempuan lain! Bahkan dia meyalahkan aku atas semuanya!" Hyukjae merasa tersulut emosinya membayangkan masa lalunya.

"Hyuk..." Sungmin mengusap tangannya. "Pernikahan bukan hanya ada satu orang, kan?" Sebelum Hyukjae buka suara, Sungmin segera menahannya. "Aku tahu, seharusnya tidak ada yang perlu dibahas lagi tentang masa lalu. Menghadirkan orang lain diantara kalian memang salah. Sangat salah. Donghae terlalu pendek memikirkan hal itu."

"Dia egois, Ming! Aku membencinya! Sangat membencinya!" ucap Hyukjae penuh emosi.

"Dan, begitu benci juga pada Haru?"

Hyukjae mengangkat bahu. "Aku tidak tahu, Ming." Matanya tertuju keluar kelas, melihat langit biru luas dan kehampaan di sana. Ia mulai menyukai Haru, hal itu tidak bisa dipungkiri. Ingin rasanya dia membuka hati selapang mungkin. Tetapi, menyadari kenyataan masa lalu pada diri anak itu, selalu ada perasaan bimbang, yang menginginkan dirinya hanya berdiri disana. Semakin ia mendekat, semakin membayang.

"Kau harus belajar memaafkan, Hyuk." Sungmin menggenggam jemarinya erat.

"Tidak sesedarhana itu, Ming." Hyukjae merasa perlawanannya berujung sia-sia. Ia kembali terhempas di ujung yang sama.

Sungmin tersenyum. "Tidak ada yang lebih sederhana dari memaafkan, kan?"

Hyukjae menatap sahabatnya. Perasaannya memberontak dan pikirannya terus menolak. Ia kembali terdiam, memikirkan segala kemungkinan, keputusan yang akan diambil, wajah-wajah yang muncul silih berganti, dan banyak hal.

.

.

.

Bersamaan dengan semilir angin yang mengantarkan sayap seekor burung meninggalkan dahan, Hyukjae mengendarai sepedanya menyusuri jalan tidak begitu luas yang ramai. Kendaraan-kendaraan melintas disekitarnya dan banyak anak-anak bermain di pinggir jalan. Seorang laki-laki paruh baya yang juga mengendarai sepeda, melemparkan senyum padanya.

Hyukjae masih mengingat jelas bagaimana tetangga dan orang-orang yang mengenalnya di Seoul dulu selalu bertanya tentang dirinya. Tentang status pernikahannya. Tentang alasan perpisahannya. Ia lelah dengan rasa sakitnya, dengan pembicaraan orang. Dan, setelah apa yang diusahakannya, apakah ia harus memafkan Donghae? Apakah masih bisa mengatakan tidak ada yang lebih sederhana daripada memafkan?

Hyukjae menghentikan sepedenya didepan toko kue dipinggir jalan. Tempat langganannya. Seperti biasa, toko kue itu terlihat ramai. Beberapa orang keluar dari dalam membawa bungkusan. Tanpa menunggu lama Hyukje bergegas masuk dan memilih kue-kue favoritenya.

"Nona, kue yang ini lima,ya."

Hyukjae mengenali suara itu. Ia menoleh dan melihat Donghae bersama dengan Haru berdiri tidak jauh darinya. Dirinya langsung dilanda kesal. Kenapa bisa bertemu dua orang itu disini. Kenapa ia tidak bisa satu hari saja tanpa kehadiran mereka di sekitarnya?

"Sonsengnim." Haru memanggilnya riang.

Hyukjae menegakkan tubuhnya dan menatap gadis kecil itu. "Annyeong, Haru." Ia mengembangkan senyum. Tapi, tidak tahu kenapa, tubuhnya bereaksi lain dihadapan Haru. Ada aura damai yang membuatnya menikmati tatapan berbinar itu.

"Langsung kemari dari Kindergaten?" tanya Donghae.

"Ne." Hyukjae berusaha menghindari mata laki-laki itu dan beralih ke pelayan di balik etalase. Ia harus secepatnya pergi dari toko kue ini sebelum tubuhnya menjadi tegang. "Hanya kue strawberry, Nona. Berapa semuanya?"

"lima belas ribu won, Tuan. Tidak ingin kue cokelatnya Tuan? Bukankan kue ini kesukaan Tuan juga?" Ujar pelayan itu sambil menunjuk kue cokelat yang baru keluar dari oven.

"Kue cokelatnya lima, Nona, untuk Tuan Hyukjae. Nanti biar semuanya sekalian saya yang bayar." sergah Donghae cepat.

Hyukjae meliriknya. Ia merasa kekesalannya semakin menjadi-jadi. "Kue cokelatnya tidak perlu, Nona." Ia buru-buru mengeluarkan uang dan mengambil bungkusan. "Saya permisi." ujarnya tanpa menoleh lagi.

Apa maksud Donghae? Ingin menarik perhatiannya? Hyukjae mendengus kesal seraya menggerakkan sepedanya. Ia tidak akan terpengaruh dengan cara laki-laki itu menarik perhatiannya. Ia kenal siapa Donghae dan ia tahu mantan suaminya itu sedang merencanakan perangkap untuknya. Tapi, ia tidak akan terjerat lag!

.

.

.

Donghae memandangi kepergian Hyukjae. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dan ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menguasai resah yang menjalarinya.

Diam-diam—walau sesaat—Donghae ingin Hyukjae melihat ke arahnya tadi. Tidak tahu untuk apa. Tapi, kalau pandangan mereka benar-benar bertemu, hal itu hanya mencari-cari masalah. Matanya terus menatap keluar, sementara pikirannya berkecamuk.

"Tumben sekali Tuan Hyukjae tergesa seperti itu." gumam si pelayan.

"Tuan Hyukjae sering kesini, Nona?" Donghae mengeluarkan bebarapa lembar won untuk membeli kue yang dibelinya.

"Lumayan sering, Tuan. Biasanya sekalian melihat-lihat buku di toko sebelah." Pelayan itu menunjuk ke arah kirinya.

Donghae mengangguk-angguk kepala seraya meraih jemari Haru. Keduanya melangkah keluar toko dalam diam. Donghae tidak mengerti, apakah masa lalu memiliki relevansi dengan masa kini? Mengapa ia berpikir tentang sebuah perasaan dari masa lalu yang sudah sangat jauh?

Sebelum menyalakan mesin, Donghae menghela napas panjang. Kalau kata orang, melupakan perpisahan yang pahit itu mudah, ternyata salah. Kemarahan dan kebencian bukan berarti selesai, melainkan membutuhkan penyelesaian.

.

.

.

TBC

.

.

Untuk kali ini mohon maaf atas banyaknya typo yang bertebaran. Dan untuk bab selanjutnya mungkin akan lebih lama di publish, karena belum masuk tahap pengetikan dan aku harus pintar-pintar cari waktu ditengah-tengah tugas kuliah. Jadi mohon maaf sebelumnya. Tapi aku usahakan minggu depan bab selanjutnya udah di publish. Terima kasih untuk semua teman-teman yang sudah me-review fanfic remake ini ^^

.

.

.

Big Love

Cutie Monkey