COMING HOME
DONGHAE X HYUKJAE
.
.
Fanfic ini diremake dari sebuah novel yang juga berjudul COMING HOME karya Sefryana Khairil dari penerbit Gagas Media. Dijadikan dalam bentuk versi Boys Love dengan sedikit perombakan, pengurangan dan penambahan disana-sini disesuaikan dengan kebutuhan alur cerita.
Bagi yang kurang berkenan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Remake dan Boys Love/Yaoi harap segera menyingkir demi kenyamanan bersama.
.
.
Thank You
.
.
Happy Reading
.
.
BAB 6
And I Can feel her like a memory
From long ago.
-"Puzzle of My Heart", Westlife-
Waktu mengajarkanku untuk menata hati.
Oh Tuhan, ini semakin aneh!
Donghae tidak mengerti mengapa saat melihat kembali foto Hyukjae di selipan dompetnya untuk mengambil uang makan siangnya, ia merasakan sebuah sensasi membingungkan. Donghae memejamkan mata dan melihat wajah mantan istrinya dalam benaknya. Garis wajahnya tampak kecewa, terluka, dan tidak percaya.
Perlahan, ia kembali membuka matanya. Kenapa Hyukjae jadi selalu terbayang di pelupuk matanya? Donghae menggeleng-nggelengkan kepala, berusaha mengenyahkan bayangan lelaki manis itu. Apakah karena begitu bersalah sehingga tidak mampu melupakannya? Mungkin. Donghae menatap tumpukan pekerjaan di mejanya, berharap kertas-kertas laporan keuangan bisa mengalihkan pikirannya tentang Hyukjae.
Hari ini merupakan minggu pertamana bekerja di cafe Yesung. Hidupnya dimulai disini. Segala hal yang semula dipikirnya buruk, ternyata tidak juga. Mengalihkan diri dari kebisingan dan kesibukan Seoul, begitu terasa dengan Busan yang mempunyai harinya sendiri. Kota ini mempunyai hiruk-pikuk dan ramai yang sama, tetapi kekentalan suasana memberikan kesan berbeda.
Yesung keluar-masuk ruangannya untuk mengecek bagaimana sahabatnya sejauh ini. Donghae menanggapi dengan senyuman. Ia tidak mau ada yang khawatir atau memperhatikannya secara lebih. Ia meyakinkan Yesung bahwa semua berjalan dengan lancar dan baik. Semua bisa ia nikmati. Mungkin, ini yang dinamakan ketenangan dan kenyamanan, ketika melihat dan merasakan semuanya bukan hanya dari pikiran dan penglihatan, tetapi juga perasaan.
Matanya tertuju pada lembar-lembar yang harus dikerjakannya, tetapi tanpa bisa ia hindari, ia mendengar suara Hyukjae dan tertegun. Dalam benaknya, langsung muncul bayangan Hyukjae yang berdiri depan etalase toko kue. Hyukjae yang ramah bertegur sapa dengan sang pelayan. Juga Hyukjae yang tampak dingin terhadapnya.
Donghae menghela napas panjang. Ia ingin melakukan apa saja untuk menebus rasa , bagaimana jika tidak ada tempat untuk penyesalannya? Bagaimana jika semua menjadi tidak mungkin? Donghae meletakkan pulpennya dan mengusap wajahnya. Apa yang sebenarnya diisyaratkan Tuhan kepadanya? Batinnya resah.
.
.
.
Selesai menulis sebuah kata di papan tulis, Hyukjae berbalik menatap murid-muridnya yang tampak serius belajar menuliskannya. Pensil di tangan mereka bergerak perlahan, sesekali mereka menghapus. Hyukjae berjalan melihat meja mungil itu satu persatu. Tulisan mereka besar-besar dan banyak yang belum berbentuk sempurna. Sesekali Hyukjae menghampiri salah satu muridnya dan memberi contoh bagaimana menulis yang benar.
Hyukjae melanjutkan langkahnya, melihat anak-anak yang lain. Suasana sedikit ramai, tetapi kebanyakan dari murid-murid terlihat serius menulis. Ada yang melihat ke buku temannya, ada yang mengusap-ngusap hidung, ada yang menunduk, dan banyak lagi. Hyukjae kembali berdiri di depan, memperhatikan murid-murid di sudut kelas.
"Aku mau pensil itu!"
Hyukjae langsung berpaling ke arah suara itu, melihat Taejun sedang berusaha merebut pensil yang sedang digunakan Haru. Ia menggeleng sambil berjalan ke arah mereka. Bocah laki-laki itu memang usil. Setiap hari, selalu ada saja ulahnya.
"Taejun-ie, Tidak boleh memaksa pada teman." Hyukjae berusaha melerai.
"Aku mau pensil itu!" Taejun masih mencengkram kuat ujung pensil.
"Pensil ini punya Haru!" Haru juga tetap mempertahankan.
"Pokoknya, aku mau pensil itu!" Taejun setengah berteriak, membuat suasana dibelakangnya ikut gaduh.
Hyukjae melihat kedua anak itu bergantian. Ia berusaha melepaskan tangan mereka dari pensil itu, tetapi kekuatan Haru dan Taejun tidak kalah kuat. "Haru, Taejun, lepas pensilnya!" Ia mulai kehilangan kesabaran.
Secara refleks, Haru dan Taejun langsung melepaskan pensil. Wajah mereka masih cemberut satu sama lain. Taejun menjulurkan lidah pada Haru, membuat bocah perempuan itu menahan tangis karena kesal.
"Taejun, Haru, ayo kalian salaman." Hyukjae berjongkok , meraih tangan keduanya untuk bersalaman. " Anak baik, tidak boleh berkelahi."
Haru mulai membuka tangan untuk menyentuh tangan bocah laki-laki di hadapannya. Tetapi, tanpa disangka, Taejun mendorongnya hingga hampir terjengkang. Beruntung Hyukjae cepat menangkap tubuh gadis kecil itu. Haru menangis dalam pelukannya.
"Taejun, tidak boleh mendorong-dorong. Ayo sayang, minta maaf." Hyukjae mengusap rambut Haru.
"Shirreo! Habis, Haru tidak kasih pensilnya!" Taejun masih kelihatan kesal.
Hyukjae mendesah pelan melihat bocah laki-laki itu. Ia melonggarkan pelukannya mendengar Haru merintih sakit. "Ada yang luka, Haru?"
Haru menunjukkan lengannya yang baret dan sedikit bardarah, mungkin terkena gesekan meja kayu di belakangnya. Matanya sudah penuh oleh air dan isakannya seperti tertahan karena sakit.
"Kajja, Sonsengnim obati." Hyukjae tersenyum sambil mengusap pipi anak itu.
.
.
.
Hyukjae membasuh luka dengan sapu tangan yang diberi sedikit air sambil ditiu-tiupnya pelan agar mengurangi rassa sakit. Baretnya cukup panjang dan merah, meski darahnya sudah tidak keluar lagi. Haru masih meringis kesakitan. Wajahnya terlihat pucat kerena terlalu banyak menangis.
"Appo, Sonsengnim..." Ujar Haru di sela-sela isakannya.
Hyukjae menanggapinya dengan senyum. Ia mengambil plester dari lacinta dan menunjukkannya ke anak itu. "Haru suka warna apa?"
"Biru." Haru menunjuk salah satu plester.
"Kenapa?" Hyukjae membuka plester, membubuhkan obat luka, lalu merekatkannya di lengan gadis kecil itu perlahan. Sempat dilihatnya Haru meringis, tetapi Hyukjae dengan cepat membawa lengan yang luka itu ke pangkuannya untuk diolesi balsam di sekitarnya.
"Biru itu cantik." jawab Haru masih dengan napas tidak teratur.
"Oh ya?" Lelaki manis itu menatap bola mata yang basah itu sembari mengusap pipinya. "Sonsengnim juga suka warna biru."
"Kenapa?"
"Karena biru itu seperti laut. Ada ombaknya, ada anginnya, ada langitnya, ada awannya."
Haru mengembangkan senyumnya. "Haru juga suka laut, Sonsengnim. Appa pernah bercerita, di laut ada putri duyung cantik dan pengeran bertemu. Sonsengnim tahu, kan, cerita putri duyung? Setiap malam Appa dan Halmonie mendongeng cerita putri duyung, untuk Haru."
"Eomma juga sering mendongeng untuk Haru?"
Haru menggeleng, "Eomma di surga, Sonsengnim. Kata Appa kalau Haru jadi anak yang baik, di surga bisa bertemu dengan Eomma. Terus nanti Eomma bisa mendongeng untuk Haru."
Hyukjae tercekat, tidak percaya pada pendengarannya. Sohyun sudah meninggal? Dalam hati, ia sedikit bersyukur perempuan itu menerima hukumannya. Puas. Tetapi kepuasan itu tidak membuat hatinya lebih lapang. Tidak memberinya ketenangan. Apalagi melihat makhluk mungil ini. "Haru pernah ketemu Eomma?"
"Tidak pernah, Sonsengnim. Haru hanya lihat fotonya."
Hyukjae menarik napas dalam. Apakah Sohyun meninggal saat melahirkan anak ini? Berarti pernikahannya dengan Donghae hanya terjalin enam bulan—waktu yang sangat singkat. Dan Donghae mengurus Haru sendiri? Atau... lelaki itu sudah menikah lagi? Menyadari pikiran terakhirnya, mambuat ngilu meremang. "Haru dirumah dengan siapa?
"Berdua dengan Appa."
"Tidak bersama Halmonie?"
Haru kembali menggeleng. "Rumah Halmonie jauh. Kata Appa, sekarang rumah Haru disini. Tapi, Haru rindu Halmonie."
Berarti mereka benar-benar tinggal berdua? Hyukjae mendengar kabar mantan Ayah mertuanya meninggal beberapa tahun lalu. Apa itu yang membuat Donghae terpuruk? Atau terjadi sesuatu dengan pekerjaannya? Hyukjae tidak mengerti kenapa ia begitu ingin tahu, tapi ia merasakan betul kekhawatiran pada gadis kecil ini membayangkan Donghae mengasuhnya sendirian.
"Haru hobinya apa?" Hyukjae mengalihkan perhatiannya sendiri dari Donghae.
"Gambar"
"Kenapa suka gambar, Sayang?"
"Haru suka diajarin Halmonie melukis setiap hari. Terus Haru diajari gambar bunga, gambar awan, gambar gunung. Banyak!"
Hyukjae kenal bentul mantan ibu mertuanya yang sering menghabiskan waktu di halaman belakang rumah untuk melukis. Bukan pelukis profesional, tapi setidaknya, pencampuran warna yang disapukan memiliki arti tersendiri. Ia tidak menyangka, bakatnya menurun pada Haru.
"Haru lebih suka gambar apa?"
"Haru suka semuanya."
Hyukjae terus memperhatikan mimik wajahnya yang serius sekali. Lucu dan menggemaskan. Hyukjae tersenyum mendengarkan anak itu berceloteh panjang. Manis sekali. Seandainya Haru tidak berhubungan dengan masa lalunya...
.
.
.
Diantara semua mimpi, satu hal yang nyata adalah ketika aku menyadari tak lagi ada tanganmu dalam genggamanku.
"Bagaimana hari ini di sekolah?" Donghae berjongkok menatap putrinya. Perasaannya terhibur melihat wajah mungil itu tampak riang saat menghambur padanya. Meski diam-diam, matanya melihat ke pintu kelas, memperhatikan Hyukjae yang masih berdiri di sana, berbicara dengan orangtua murid.
"Seru, Appa!" Haru menunjukkan sesuatu di tangannya. "Tadi, Sonsengnim mengajarkan Haru membuat burung kertas." Ia menggerakkan benda-benda kecil itu seakan-akan terbang,
"Cantik sekali burung kertasnya." Donghae meraih satu burung kertas itu. Ia jadi teringat dulu Hyukjae bermimpi untuk menghias kamar anak mereka dengan bentuk-bentuk dari kertas origami. Seandainya dulu ia tidak punya banyak pertimbangan. Seandainya dulu ia tidak menyarankan Hyukjae menunda mempunyai anak.
"Appa, tadi ada anak nakal. Namanya Taejun. Dia mau ambil pensil Haru," cerita Haru sambil mendengus kesal membayangkan kejadian tadi. "Terus..."
"Tapi, pensilnya tidak jadi diambil, kan?"
"Appa dengarkan cerita Haru dulu!" sergah Haru cepat. "Nah, terus Sonsengnim coba ambil pensilnya dari Haru sama Taejun. Pad sudah diambil, Sonsengnim suruh maaf-maafan. Haru mau maafin, tapi didorong sama Taejun." Ia menunjukkan lengannya. Suaranya terdengar lebih manja. "Tangan Haru berdarah, Appa. Lihat ini. Masih merah, kan?"
Wajah Donghae langsung berubah cemas. "Hah? Haru sempat jatuh tadi? Seperti apa? Duduk atau tengkurap?"
Haru menggeleng. "Haru tidak jautuh, Appa. Soalnya, Sonsengnim membantu Haru. Terus Sonsengnim juga yang obatin Haru."
Perasaan Donghae berubah menjadi hangat, sekaligus menambah rasa bersalahnya. "Haru sudah bilang terima kasih sama Sonsengnim?"
"Sudah." Haru mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya. "Sonsengnim juga kasih permen. Katanya, kalau Haru makan permen ini, sakitnya pelan-pelan hilang, Appa."
"Sonsengnim baik, ne?"
Haru mengangguk penuh semangat. "Sonsengnim baik. Haru suka sama Sonsengnim."
Donghae tersenyum tipis. Dia tidak pernah menyangka Hyukjae bisa begit berlapang dada menghadapi gadis kecilnya. Ia jadi tidak tahu harus bagaimana menghadapi perempuan itu jika bertemu lagi.
"Appa, Eomma baik seperti Sonsengnim tidak?" ujar Haru, menghetikan permainnya sejenak. Ia menatap ayahnya, meminta jawaban.
Dinghae menelan ludah. Bola matanya bergerak mencari jawaban. Apakah ia harus menjelaskan? Tetapi, anak secekil Haru tidak akan mengerti kondisi yang terjadi. Ia hanya mengangguk dan menjawab. "Ya."
"Eomma pintar cerita juga?"
"Tidak, sayang. Eomma pintar berhitung."
"Eomma sayang tidak sama Haru?" Mata mungil itu menatap lekat sang Ayah.
"Tentu, Haru." Donghae mencuil hidung putrinya. Ia tertawa kecil. Lucu sekali mendengar pertanyaan putrinya dan menyadari bahwa hidup mereka pun tidak kalah lucu.
.
.
.
Hyukjae menghempaskan tubuh di atas kursinya. Badannya terasa benar-benar lelah seharian ini. Dengan sisa tenaga, ia melihat-lihat kertas dihadapannya dan menemukan lembar formulir pendaftaran lomba menggambar. Tangan kanannya menggenggam pulpen erat-erat, belum, belum mampu bergerak menuliskan nama disana. Jantungnya berdetak kencang, sama cepat dengan desiran darahnya.
Dalam benaknya, muncul wajah Haru. Anak yang mengingatkannya bahwa waktu berjalan cepat sejak kejadian pahit itu terjadi. Anak yang membuat hidupnya berubah. Namun, kini Hyukjae merasa aneh. Haru tampak sebagai seorang anak yang begitu manis, begitu ingin disentuh.
Hyukjae memajukan sedikit tubuhnya, meraih gelas berisi air putih diatas meja, dan meneguk isinya yang tinggal setengah hingga tandas. Ia perlu menyegarkan pikiran dan hatinya. Setelah meletakan gelas kembali, ia menyandarkan punggungnya. Kalau saja ia punya kekuatan untuk mengenyahkan Haru dan Donghae dari hidupnya. Kalau saja ada pilihan menghilang, ia akan memilih tanpa pikir panjang.
Sudut mata Hyukjae mengarah ke pintu ruang guru ketika mendengar ketukan. Sekilas, ia melihat jam tangannya. Siapa yang mau menemui guru setelah dua jam pelajaran berlaku? Apakah ada anak yang belum dijemput lagi? Dengan berat. Hyukjae bangkit dari kursinya menuju pintu seraya merapikan pakaiannya.
Hyukjae sudah membuka mulut untuk menyambut orang di balik pintu. Namun, seseorang itu membuatnya tercengang. Donghae berdiri disana bersama Haru yang tengah menyendok eskrim. Mata sendu itu. Senyum itu. Hyukjae nyaris tidak bisa bernapas.
"Selamat siang."
Sapaan Donghae membuat jantungnya berdegup cepat. Apa yang diinginkan laki-laki ini? Hyukjae menarik napas dalam-dalam dan menahannya, berusaha mengendalikan diri. "Selamat siang." jawabnya datar.
Donghae menyodorkan kantong plastik berisi kotak makanan. "Sebagai ucapan terima kasih karena mengobati Haru. Bimbibap dan Japchae." Matanya bersorot lembut.
"Saya baru makan siang." Hyukjae tenang. Ia menguatkan hatinya, berusaha mengabaikan sikap baik laki-laki itu—meski hatinya resah. Ia tidak boleh terpengaruh oleh aliran aneh yang dipancarkan tatapan lelaki itu padanya.
Donghae tampak berpikir cepat dan berkata, "Lee Sonsengnim bisa memakan japchaenya. Masih suka japcahe, kan?"
"Sekarang, saya tidak suka lagi japchae." Hyukjae tidak menunjukan ekspresi apapun.
"Tapi, dulu..."
"Ada yang bisa saya bantu lagi, Tuan Lee?" Hyukjae lekas menyela ucapannya. Ia meremas tangannya sendiri. Benar-benar tidak mengerti permainan seperti apa yang dimainkan mantan suaminya. Sama sekali tidak tertarik.
Donghae seakan kehabisan kata-kata. Tangannya diturunkan perlahan, diikuti dengan pandangannya.
Satu-kosong, pikir Hyukjae sat kembali menutup pintu ruang guru. Ia tidak akan menyerah dalam peramainan laki-laki itu. Kalau Donghae berpikir dirinya adalah lelaki lemah setelah ditinggalkannya, lelaki itu salah besar! Betapa pun bodoh dirinya, ia tidak akan masuk dalam jebakan yang sama.
"Percaya denganku, Hyukjae. Kita akan bahagia. Selamanya."
Selamanya? Hyukjae menyeringai masam. Donghae memuntahkan kata-katanya sendiri. Penipu! Jika ingin membuatnya bahagia tidak mungkin tega mengkhianatinya! Tertatih Hyukjae membangun hatinya dengan kehampaan. Saat itui atau kapan pun, ia tidak akan mengizinkan Donghae menginjakkan kaki dalam dunianya.
.
.
.
TBC
.
.
.
Sorry kalau makin banyak typo yang mengurangi kenyamanan teman-teman membaca novel remake ini. Dan untuk yang meminta setiap chapter-nya di panjangin, maaf ya tidak bisa, soalnya aku updatenya per-bab sesuai novel aslinya. Kalau chapter depan di update sekaligus 2 bab pada setuju? Tapi resikonya ya harus sabar menunggu, soalnya ini aku harus ngetik ulang perbabnya. Bagaimana? hihihi~ ^^ Terakhir, Terima kasih yang udah kasih apresiasi novel karya Sefryana Khiril ini.
.
.
.
Big Love
Cutie Monkey
